0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan15 halaman

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang asuhan keperawatan untuk pasien diabetes melitus, menjelaskan pengertian, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan penatalaksanaan diabetes. Diabetes melitus dibagi menjadi tipe 1 dan tipe 2, dengan penyebab dan gejala yang berbeda, serta penanganan yang meliputi terapi farmakologis dan non-farmakologis. Laporan ini juga mencakup aspek pengkajian keperawatan untuk pasien diabetes.

Diunggah oleh

Ratih Permatasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan15 halaman

Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan tentang asuhan keperawatan untuk pasien diabetes melitus, menjelaskan pengertian, klasifikasi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, komplikasi, dan penatalaksanaan diabetes. Diabetes melitus dibagi menjadi tipe 1 dan tipe 2, dengan penyebab dan gejala yang berbeda, serta penanganan yang meliputi terapi farmakologis dan non-farmakologis. Laporan ini juga mencakup aspek pengkajian keperawatan untuk pasien diabetes.

Diunggah oleh

Ratih Permatasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN DIAGNOSA


DIABETES MELITUS

Disusun Oleh :
ERLANGGA ALDO FAJAR ANUGRAH
NIM. 21142011112

PRODI S1 KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS YPIB MAJALENGKA
TAHUN 2025
LAPORAN PENDAHULUAN

DIABETES MELLITUS

I. KONSEP DASAR MEDIS


A. Pengertian
Diabetes melitus adalah suatu kelompok gangguan metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia atau kadar glukosa darah yang tingi yang dapat terjadi karena kelainan
sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-duanya (Marzel, 2020).
Diabetes melitus (DM) adalah penyakit kronis berupa gangguan metabolik yang
ditandai dengan kenaikan kadar gula darah lebih dari batas norma (Bingga, 2021).
Diabetes Melitus merupakan penyakit kronis yang terjadi apabila pankreas tidak
menghasilkan insulin yang adekuat atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif
menggunakan insulin yang diproduksinya. Hal ini mengakibatkan terjadinya
peningkatan konsentrasi glukosa dalamdarah yang dikenal dengan istilah hiperglikemia
(Nasution, 2021).
B. Klasifikasi
Diabetes Melitus dapat diklasifikasikan kedalam 2 kategori klinis yaitu :
1. DM tipe 1
Diabetes Mellitus (DM) tipe 1 atau yang dulu dikenal dengan nama Insulin
Dependent Diabetes Mellitus (IDDM), terjadi karena kerusakan sel beta pankreas
(reaksi autoimun). Sel beta pankreas merupakan satu-satunya sel tubuh yang
menghasilkan insulin yang berfungsi untuk mengatur kadar glukosa dalam tubuh.
Bila kerusakan sel beta pankreas telah mencapai 80-90% maka gejala DM mulai
muncul. kerusakan sel ini lebih cepat terjadi pada anak-anak daripada dewasa.
Sebagian besar penderita DM tipe 1 sebagian besar oleh karena proses autoimun dan
sebagian kecil non autoimun. DM tipe 1 yang tidak diketahui penyebabnya juga
disebut sebagai type 1 idiopathic dan ditemukan insulinopenia tanpa adanya petanda
autoimun dan mudah sekali mengalami ketoasidosis (Marzel, 2020)
2. DM tipe 2
Penyakit DMT2 merupakan penyakit metabolisme yang disebabkan karena
resistensi insulin dan disfungsi sel beta pancreas (Murtiningsih et al., 2021).
C. Etiologi
Faktor risiko terjadinya DM menurut American Diabetes Association (ADA)
terbagi menjadi dua yaitu faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang
dapat diubah. Faktor-faktor yang tidak dapat diubah meliputi usia >45 tahun, etnik,
riwayat DM pada keluarga, riwayat melahirkan dengan berat badan lahir bayi >4000
gram, riwayat lahir dengan berat badan <2500 gram (rendah), dan riwayat menderita
DM gestasional. Adapun faktor risiko yang dapat diubah adalah hipertensi,
dislipidemia, diet tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, dan obesitas (IMT >25 kg/m2,
lingkar perut >80 cm untuk wanita dan >90 cm untuk laki-laki).
Terdapat pula penyakit yang berkaitan sebagai faktor risiko terjadinya DM yaitu
sindrom metabolik dengan riwayat toleransi glukosa terganggu (TGT) atau glukosa
darah puasa terganggu (GDPT), stroke, riwayat penyakit kardiovaskular, polycystic
ovary syndrome (PCOS), stres, kebiasaan merokok, dan konsumsi alcohol (Bingga,
2021).
D. Patofisiologi
1. DM Tipe 1
Orang yang menderita DM tipe 1 akan mengalami penuruna insulin post
prandial, menurunnya insulin post prandial pada DM tipe 1 akan mempercepat
proses katabolisme. Akibat glukosa yang tidak dapat memasuki hepar ataupun sel
otot, maka akan dikirimkan sinyal bahwa tubuh kekurangan cadangan glukosa. Hal
tersebut akan mengakibatkan tubuh memproduksi glukosa dengan berbagai cara,
yaitu glikogenolisis (pemecahan glikogen dalam hepar untuk diubah menjadi
glukosa) dan glukoneogenesis (proses pembentukan glukosa dari bahan selain
karbohidrat). Kedua proses tersebut memperparah kondisi hiperglikemia yang
sebelumnya telah terjadi. Akan tetapi karena glukosa dalam darah tidak dapat masuk
ke dalam sel hepar ataupun sel otot, maka hepar akan berusaha lebih keras lagi untuk
memproduksi glukosa. Selain itu juga akan terjadi proteolisis (proses pemecahan
cadangan protein dalam sel otot menjadi asam amino) dan lipolisis (proses
pemecahan lipid dalam jaringan adipose menjadi gliserol dan asam lemak bebas).
Semua proses tersebut akhirnya akan menimbulkan kondisi hiperglikemia puasa
terjadi.
Ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring keluar jika
konsentrasi glukosa dalam darah cukup tinggi (>180 mg/dL),. Hal ini
mengakibatkan lolosnya glukosa tersebut dari proses rearbsorpsi ginjal dan glukosa
akan muncul dalam urin (glukosuria). Ketika glukosa yang berlebihan diekskresikan
ke urin, ekskresi ini akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan
pula. Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik yang menyebabkan pasien mengalami
peningkatan dalam berkemih (poliuria). Sebagai akibat dari kehilangan cairan yang
berlebihan, pasien akan mengalami dehidrasi dan rasa haus (polidipsia) (Marzel,
2020).
2. DM Tipe 2
Diabetes melitus tipe 2 disebabkan karena ketidakmampuan sel sasaran dalam
merespon insulin secara normal yang disebut resistensi insulin. Obesitas, kurangnya
aktivitas fisik, dan penuaan dapat menjadi faktor terjadinya resistensi insulin. Pada
DM tipe 2 tidak terjadi perusakan sel-sel B Langerhans secara autoimun seperti DM
tipe 1 namun penderita DM tipe 2 dapat mengalami penambahan produksi glukosa
hepatik yang berlebih. Sifat defisiensi insulin pada DM tipe 2 adalah relatif atau
tidak absolut. Akibat terjadinya resistens insulin, kerusakan sel-sel B pankreas
semakin bertambah yang selanjutnya akan berkembang menjadi defisiensi insulin
(Bingga, 2021).
E. Pathway

Reaksi Autoimun Obesitas, Usia, Genetik

DM tipe I DM tipe II

Sel Beta Pancreas


Sel Beta Pancreas Rusak
hancur

Anabolisme Proses Penurunan


Defisiensi Insulin
pemakaian glukosa
Kerusakan antibodi
Kurangnya
Hiperglikemia
Informasi
Neuropati sensori
perifer
Defisit Polhipagi Viskolita darah
Pengetahuan
Nyeri pada luka
Polidpsi Aliran darah
melambat
Nyeri Akut
Poliuria
Iskemik Jaringan
Susah tidur
Ketidakstabilan
Gangguan Pola Kadar Gula Darah Perfusi Jaringan
Tidur tidak efektif
Lemah
Gangren

Intoleransi
Resiko Infeksi
Aktivitas
F. Manifestasi Klinis
1. DM Tipe 1
Manifestasi klinis yang muncul pada penderita DM tipe 1 yaitu berupan poliuria
(air kencing keluar banyak) dan polydipsia (rasa haus yang berlebih) yang
disebabkan karena osmolalitas serum yang tinggi akibat kadar glukosa serum yang
meningkat. Penderita DM tipe 1 juga akan mengalamai anoreksia dan polifagia (rasa
lapar yang berlebih) yang terjadi karena glukosuria yang menyebabkan
keseimbangan kalori negatif. Penderita DM tipe 1 akan mengalami keletihan (rasa
cepat lelah) dan kelemahan yang disebabkan enggunaan glukosa oleh sel menurun.
Pada kulit pasien DM tipe 1 akan mengalami kering, lesi kulit atau luka yang lambat
sembuhnya, dan rasa gatal pada kulit. Sakit kepala, mengantuk, dan gangguan pada
aktivitas disebabkan oleh kadar glukosa intrasel yang rendah, kram pada otot,
iritabilitas, serta emosi yang labil akibat ketidak seimbangan elektrolit merupakan
Gangguan penglihatan seperti pemandangan kabur yang disebabkan karena
pembengkakan akibat glukosa dan sensasi kesemutan atau kebas di tangan dan kaki
yang disebabkan kerusakan jaringan saraf juga sering di alami oleh penderita DM
tipe . Gangguan rasa nyaman dan nyeri pada abdomen pada penderita DM tipe 1
disebabkan karena neuropati otonom yang akan menimbulkan konstipasi (Marzel,
2020).
2. DM tipe 2
Keluhan yang dapat ditemukan pada penderita DM tipe 2 adalah poliuria (sering
buang air kecil), polidipsia (sering merasa haus), polifagia (sering makan), dan
penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Gejala lainnya
dapat berupa kesemutan, badan lemah, mata kabur, gatal, disfungsi ereksi pada pria,
dan pruritus vulvae pada wanita (Bingga, 2021).
G. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis DM ditegakkan berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah.
Sampel darah yang digunakan dapat berasal dari darah vena maupun kapiler dan
dilakukan pemeriksaan glukosa darah secara enzimatik. Hasil pemeriksaan yang
menunju pada diagnosis DM adalah (Bingga, 2021) :
1. Gejala klasik dengan gula darah puasa (GDP) >126 mg/dl
2. Gjala klasik dengan gula darah sewaktu (GDS) >200 mg/dl
3. Gejala klasik dengan gula darah setelah tes toleransi glukosa oral (TTGO) >200
mg/dl,
4. Tanpa gejala klasik dengan 2 kali pemeriksaan GDP >126 mg/dl
5. Tanpa gejala klasik dengan 2 kali pemeriksaan GDS >200 mg/dl
6. Tanpa gejala klasik dengan 2 kali pemeriksaan gula darah 2 jam setelah TTGO >200
mg/dl, dan (7) HbA1c >6,5%
H. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi pada diabetes yang tidak terkontrol adalah
komplikasi akut dan komplikasi kronis. Komplikasi akut meliputi hipoglikemia yaitu
kadar gula darah terlalu rendah sehingga menyebabkan sel-sel otak tidak mendapatkan
asupan energi yang dapat berujung pada kehilangan fungsi hingga kerusakan, dan
hiperglikemia yaitu kadar gula darah yang meningkat secara tiba-tiba dan
progesivitasnya dapat menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya. Komplikasi
kronis yang dapat terjadi yaitu komplikasi makrovaskuler seperti trombosit otak,
penyakit jantung koroner, gagal jantung, stroke, dan komplikasi mikrovaskuler seperti
nefropati dan retinopati diabetikum (Bingga, 2021).
I. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan penderita DM tipe 2 memiliki tujuan yaitu menghilangkan
keluhan dan tanda DM, mencapai target pengendalian glukosa darah, menghambat
komplikasi, hingga menurunkan morbiditas dan mortalitas DM. Hal-hal tersebut dapat
tercapai melalui pengelolaan secara holistik meliputi terapa farmakologis dan
perawatan mandiri serta perubahan pola hidup. Terapi non farmakologis yang dapat
dilakukan untuk penderita DM tipe 2 adalah monitor kadar glukosa darah sendiri dan
secara berkala serta latihan jasmani teratur (3-4 kali seminggu selama 30 menit/kali).
Olahraga yang direkomendasikan adalah latihan aerobik seperti bersepeda santai, jalan
kaki, joging, dan berenang serta latihannya disesuaikan dengan status kesegaran
jasmani dan usia
Intervensi farmakologis dibutuhkan apabila kadar glukosa darah belum mencapai
sasaran yaitu dengan obat hipoglikemik oral atau suntikan insulin. Golongan obat
sulfonilurea yang sebaiknya digunakan adalah sulfonilurea generasi II (glipizid,
glikazid, glibenklamid, glikuidon, gliklopiramid) atau generasi III (glimepiride) yang
memiliki waktu paruh pendek dan metabolisme cepaT
Golongan obat lainnya adalah penghambat alfa glukosidase yaitu acarbose yang
relatif aman digunakan pada lansia sebab obat ini tidak merangsang sekresi insulin
sehingga tidak menimbulkan hipoglikemi namun mempunyai efek samping berupa
gejala gastrointestinal. Obat antihiperglikemik yang banyak digunakan saat ini adalah
metformin yang merupakan golongan obat biguanid. Metformin menurunkan kadar
glukosa di hepar dan meningkatkan sensitivitas insulin pada jaringan otot dan adiposa.
Masa paruh metformin adalah 2 jam dan penggunaannya aman pada lansia. Penderita
DM dengan gangguan fungsi ginjal dikontraindikasikan dengan metformin (Bingga,
2021).

II. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


A. Pengkajian
1. Anamnesa
a. Identitas diri pasien dan penanggung jawab
Yang terdiri dari nama pasien, umur, jenis kelamin, agama dan lain-lain
b. Keluhan utama
Keluhan utama pada masalah hipertensi yaitu nyeri.
1) Proboking insiden : apa ada peristiwa faktor nyeri
2) Quality of pain : bagaimana rasanya nyeri saat dirasakan pasien. Apakah
panas, berdenyut / menusuk
3) Region Radiation of pain : apakah sakitbisa reda dalam sekejap, apa terasa
sakit menjalar, dan dimana posisi sakitnya.
4) Severity/scale of pain : seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan pasien
berdasarkan skala nyeri
5) Time : berapakah waktu nyeri berlangsung, apa bertambah buruk pada
waktu malam hari atau pagi hari.
1. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan sekarang
Biasanya klien masuk ke RS dengan keluhan nyeri, kesemutan pada esktremitas,luka
yang sukar sembuh Sakit kepala, menyatakan seperti mau muntah, kesemutan, lemah
otot, disorientasi, letargi, koma dan bingung.
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Biasanya klien DM mempunyai Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti
Infark miokard
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah penyakit yang diderita oleh anggota keluarga yang lalu yang
mungkin ada hubungannya dengan penyakit klien sekarang yaitu riwayat
keluarga dengan diabetes.
2. Pemeriksaan Fisik
3. Pemeriksaan Pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi
Pada pasien gangren kaki diabetik terjadi perubahan persepsi dan tatalaksana
hidup sehat karena kurangnya pengetahuan tentang dampak gangren pada kaki
diabetik, sehingga menimbulkan persepsi negatif terhadap diri dan
kecendurangan untuk tidak mematuhi prosedur pengobatan dan perawatan yang
lama,lebih dari 6 juta dari penderita DM tidak menyadari akan terjadinya resiko
kaki diabetik bahkan mereka takut akan terjadinya amputasi
b. Pola Nutrisi metabolic
Akibat produksi insulin yang tidak adekuat atau adanya defisiensi insulin maka
kadar gula darah tidak dapat dipertahankan sehingga menimbulkan keluhan
sering kencing, banyak makan, banyak minum, berat badan menurun dan mudah
lelah. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan terjadinya gangguan nutrisi dan
metabolisme yang dapat mempengarui status kesehatan penderita. Nausea,
vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek , mual muntah
c. Pola Eliminasi
Adanya hiperglikemia menyebabkan terjadinya diuresis osmotik yang
menyebabkan pasien sering kencing(poliuri) dan pengeluaran glukosa pada
urine(glukosuria). Pada eliminasi alvi relatif tidak ada gangguan.
d. Pola Aktivitas dan latihan
Kelemahan, susah berjalan dan bergerak, kram otot, gangguan istirahat dan
tidur,tachicardi/tachipnea pada waktu melakukan aktivitas dan bahkan sampai
terjadi koma. Adanya luka gangren dan kelemahanotot otot pada tungkai bawah
menyebabkan penderita tidak mampu melakukan aktivitas sehari hari secara
maksimal, penderita mudah mengalami [Link]/Cairan
e. Pola Istirahat dan tidur
Istirahat tidak efektif adanya poliuri,nyeri pada kaki yang luka,sehingga klien
mengalami kesulitan tidur
f. Pola Kognitif
Pasien dengan gangren cendrung mengalami neuropati/ mati rasa pada luka
sehingga tidak peka terhadap adanya nyeri. Pengecapan mengalami penurunan,
gangguan penglihatan. Pernapasan
g. Pola Persepsi dan konsep diri
Adanya perubahan fungsi dan struktur tubuh menyebabkan penderita
mengalami gangguan pada gambaran diri. Luka yang sukar sembuh , lamanya
perawatan, banyaknya baiaya perawatan dan pengobatan menyebabkan pasien
mengalami kecemasan dan gangguan peran pada keluarga (self esteem)
h. Peran/Hubungan
Luka gangren yang sukar sembuh dan berbau menyebabkan penderita malu dan
menarik diri dari pergaulan
i. Seksualitas
Angiopati daoat terjadi pada pebuluh darah diorgan reproduksi sehingga
menyebabkan gangguan potensi sek,gangguan kualitas maupun ereksi seta
memberi dampak dalam proses ejakulasi serta orgasme. Adanya perdangan pada
vagina, serta orgasme menurun dan terjadi impoten pada pria. Risiko lebih
tinggi terkena kanker prostat berhubungan dengan nefropatai.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan suatu penilaian klinis mengenai respons
klien terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang dialaminya baik yang
berlangsung actual maupun potensial. Diagnosis keperawatan bertujuan untuk
mengidentifikasi respons klien individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang
berkaitan dengan kesehatan (Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
1. Ketidakstabilan kadar glukosa darah berhubungan dengan hiperglikemia (D.0027)
2. Perfusi Perifer Tidak Efektif berhubungan dengan hiperglikemia (D.0009)
3. Nyeri akut b.d agen cedera fisik (D.0077)
4. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan (D.0056)
5. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kondisi pasca operasi (D.0055)
6. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya terpapar infromasi (D.111)
7. Resiko infeksi berhubungan (D.00142)
C. Intervensi
SLKI-SIKI
DIAGNOSA
No KEPERAWATAN
(SDKI) SLKI SIKI

1. D.0027 Setelah dilakukan tindakan Observasi


Ketidakstabilan kadar keperawatan diharapkan 1. Identifikasi kemungkinan
glukosa darah ketidakstabilan gula darah penyebab hiperglikemia
berhubungan dengan membaik. Dengan kriteria 2. Monitor kadar glukosa darah
hiperglikemia. Ditandai hasil : 3. Monitor tanda dan gejala
dengan : 1. Kadar glukosa dalam hiperglikemia
1. Mengantuk darah meningkat 4. Monitor intake dan output
2. Pusing 2. Jumlah urin membaik Teraupetik
3. Palpitasi 3. Pusing menurun 5. Berikan asupan cairan oral
4. Mengeluh lapar 4. Lelah/ lesu menurun
5. Kadar glukosa dalam 5. Keluhan lapar menurun Edukasi
darah tinggi 6. Anjurkan kepatuhan diet dan
6. Mulut kering olahraga
7. Haus meningkat
Kolaborasi
7. Kolaborasi pemberian cairan
IV
8. Kolaborasi Pemberian Terapi
insulin
2. D.0009 Setelah dilakukan Observasi
Perfusi Perifer Tidak Efektif
intervensi keperawatan 1. Periksa sirkulasi perifer
berhubungan dengandiharapkan perfusi perifer 2. Identifikasi faktor resiko
Hiperglikemia. Dibuktikan meningkat dengan kriteria penggunaan sirkulasi
dengan :
hasil : 3. Monitor panas, kemerahan,
1. Pengisian kapiler >3 1. Warna kulit pucat nyeri atau bengkak pada
detik. menurun ekstremitas
2. Nadi perifer menurun 2. Kelemahan otot
atau tidak teraba. menurun Traupetik
3. Akral teraba dingin. 3. Pengisian kapiler 4. Hindari pengukuran tekanan
4. Warga kulit pucat membaik darah pada area ekestremitas
5. Turgor kulit menurun 4. Nyeri ekstremitas dengan keterbtasan fungsi
6. Nyeri ekstremitas menurun 5. Lakukan pencegahan infeksi
7. Penyembuhan luka 6. Lakukan hidrasi
lambat.
Edukasi
7. Anjurkan mobilisasi
.3. D.0077 Setelah dilakukan Observasi
Nyeri akut berhubungan intervensi keperawatan 1. Idntifikasi lokasi,
dengan agen cedera fisik. diharapkan tingkat nyeri karakteristik, durasi,
Ditandai dengan : menurun dengan kriteria frekuensi, kualitas, intensitas
1. Mengeluh nyeri hasil : nyeri
2. Tampak meringis 1. Keluhan nyri menurun 2. Identifikasi skala nyeri
3. Gelisah 2. Meringis menurun 3. Identifikasi respon nyeri non
3. Gelisah menurun verbal
4. Frekuensi nadi 4. Kesulitan tidur 4. Identifikasi faktor yang
meningkat membaik memperberat dan
5. Sulit tidur 5. Frekuensi nadi memperingan nyeri
membaik

Teraupetik
5. Berikan teknik non
farmakologi untuk
mengurangi rasa nyeri
6. Kontrol lingkungan yang
memperberat rasa nyeri
7. Fasilitasi istirahat dan tidur
Edukasi
8. Jelaskan penyebab, periode
dan pemicu nyeri
9. Jelaskan strategi meredakan
nyeri
10. Ajarkan teknik non
farmakologis

4. D.0056 Setelah dilakukan Observasi


Intoleransi aktivitas b.d intervensi keperawatan 1. monitor kelelahan fisik
tirah baring, kelemahan,. diharapkan toleransi 2. identifikasi kemampuan
Dibuktikan dengan : aktivitas meningkat berpartisipasi dalam aktivitas
Mengeluh lelah dengan kriteria hasil : tertentu
1. Frekuensi jantung 1. kemudahan dalam
meningkat melakukan aktivitas Teraupetik
2. Sianosis sehari-hari meningkat 3. latihan gerak pasif dan aktif
3. Mengeluh lelah 2. kekuatan tubuh bagian 4. libatkan keluarga dalam
4. Merasa tidak nyaman atas dan bawah aktivitas
setelah beraktivitas meningkat
3. keluhan lelah membaik Kolaborasi
4. dispneu saat aktivitas 5. anjurkan melakukan aktivitas
menurun secara bertahap

5. D.0055 Setelah dilakukan Observasi


Gangguan pola tidur intervensi keperawatan 1. Identifikasi pola aktivitas dan
berhubungan dengan diharapkan pola tidur tidur
kondisi pasca operasi. membaik dengan kriteria
2. Identifikasi penyebab susah
Ditandai dengan : hasil :
1. Mengeluh sulit tidur 1. Keluhan sulit tidur tidur
2. Mengeluh sering menurun
terjaga 2. Mengeluh sering terjaga Teraupetik
3. Mengeluh tidak puas menurun 3. Lakukan prosedur untuk
tidur 3. Mengeluh tidak puas meningkatkan kenyamanan
4. Mengeluh pola tidur tidur menurun (posisi tidur)
berubah 4. Melaporkan pola tidur
Edukasi
membaik
5. Mengeluh istirahat 5. Melaporkan istirahat 4. Jelaskan pentingnya tidur
tidak cukup cukup selama sakit
5. Anjurkan pasien untuk tidur
tepat waktu

Kolaborasi
6. Kolaborasi pemberian obat
tidur agar tidak terjaga
6. D.0111 Setelah dilakukan Observasi
Defisit Pengetahuan intervensi keperawatan 1. Identifikasi kesiapan dan
berhubungan dengan diharapkan tingkat tingkat kemampuan meneima
pengetahuan meningkat
kurangnya terpapar informasi
dengan kriteria hasil :
infromasi. Dibuktikan 1. Menunjukan peilaku2. Idetifikasi pengetahuan saat
dngan. : sesuai anjuran ini
1. Menunjukan peilaku 2. Menunjukan persepsi
sesuai anjuran yang tidak keliru Teraupetik
2. Menunjukan persepsi terhadap masalah 3. Sediakan materi dan media
yang keliru terhadap Pendidikan Kesehatan
masalah Edukasi
4. Menjelaskan kepada keluarga
dan pasien tentang keluarga
5. Beri pasien dan keluarga
bertahan

7. D.0142 Setelah dilakukan Observasi


Resiko infeksi intervensi keperawatan 1. Identifikasi tanda dan gejala
berhubungan dengan diharapkan tingkat infeksi infeksi lokal dan iskemik
prosedur invasif (post mneurun dengan kriteria
oprasi). Ditandai dengan hasil :
faktor resiko : 1. Demam menurun Teraupetik
1. Kerusakan integritas 2. Kemerahan menurun 2. Berikan perawatan kulit pada
kulit 3. Nyeri menurun area luka
2. Demam 4. Bengkak menurun 3. Cuci tangan sebelum dan
3. Kemerahan 5. Kebersihan tangan sesudah kontak dengan pasien
4. bengkak meningkat 4. Rawat luka
5. Pertahankan teknik aseptic
pada saat melakukan tindakan
Edukasi
6. Jelaskan tanda dan gejala
infeksi
7. Anjurkan meningkatkan
asupan cairan

Kolaborasi
8. Kolaborasi pemberian
antibiotik

D. Implementasi
Implementasi merupakan pelaksanaan dari rencana asuhan keperawatan yang telah
disusun selama fase perencanaan. Hal ini terdiri dari aktivvitas perawat dalam
membantu pasien mengatasi masalah kesehatannya dan juga untuk mencapai hasil
yang diharapkan dari pasien (Pangkey et al., 2021)
E. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, di mana pada dokumentasi
ini akan membandingnkan secara sistematis dan terencana tentang kesehatan pada
pasien dengan tujuan yang telah diformulasikan dengan kenyataan yang dialami oleh
pasien dengan melibatkan pasien dan tenaga Kesehatan lainnya (Pangkey et al., 2021).
DAFTAR PUSTAKA

Bingga, I. A. (2021). Kaitan kualitas tidur dengan diabetes melitus tipe 2. Jurnal Medika
Hutama, 2(4).

Marzel, R. (2020). Terapi pada DM Tipe 1. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 3(1), 51–
62. [Link]

Murtiningsih, M. K., Pandelaki, K., & Sedli, B. P. (2021). Gaya Hidup sebagai Faktor Risiko
Diabetes Melitus Tipe 2. E-CliniC, 9(2), 328. [Link]

Nasution, L. K. (2021). Pengaruh Riwayat Keluarga Dm Dengan Kejadian Diabetes Melitus


Tipe 2 Pada Wanita Usia Subur Di Wilayah Kerja Lisna Khairani Nasution STIKes
Darmais Padangsidimpuan. Jurnal Kesehatan Ilmiah Indonesia, 6(1), 88–93.

Pangkey, B. C. ., Hutapea, A. D., & Stanggang, I. S. Y. F. (2021). Dasar-Dasar Dokumentasi


Keperawatan. Yayasan Kita Menulis.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standar Diagnosa Keperawatan [Link] Selatan.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta
Selatan.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan [Link] Selatan

Anda mungkin juga menyukai