0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
211 tayangan8 halaman

Panduan GSB, KDB, dan KLB dalam Tata Ruang

Dokumen ini menjelaskan tentang GSB, KDB, dan KLB yang merupakan parameter penting dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan. GSB menentukan batas jarak bangunan terhadap jalan, KDB mengatur luas maksimal bangunan berdasarkan luas tanah, dan KLB melibatkan semua lantai bangunan. Selain itu, tata ruang mencakup struktur dan pola pemanfaatan ruang yang harus direncanakan dan dikelola untuk mencapai keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
211 tayangan8 halaman

Panduan GSB, KDB, dan KLB dalam Tata Ruang

Dokumen ini menjelaskan tentang GSB, KDB, dan KLB yang merupakan parameter penting dalam perencanaan tata ruang dan pembangunan. GSB menentukan batas jarak bangunan terhadap jalan, KDB mengatur luas maksimal bangunan berdasarkan luas tanah, dan KLB melibatkan semua lantai bangunan. Selain itu, tata ruang mencakup struktur dan pola pemanfaatan ruang yang harus direncanakan dan dikelola untuk mencapai keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

GSB, KDB dan KLB

GSB (Garis Sepadan Bangunan): Secara umum GSB adalah garis imaginer yang
menentukan jarak terluar bangunan terhadap ruas jalan. Kita dilarang keras
membangunan melibihi batas GSB yang sudah ditentukan. Besarnya GSB ini
tergantung dari besar jalan yang ada di depannya. Jalan yang lebar tentu saja
mempunyai GSB yang lebih besar dibandingkan jalan yang mempunyai lebar yang
lebih kecil. Biasanya jarag GSB ini adalah 3 s.d 5 m. Untuk lebih pastinya saya
sarankan tanya terlebih dahulu ke pihak developer atau tata kota setempat.
KDB (Koefisien Dasar Bangunan): KDB dapat dimengerti secara sederhana adalah nilai
persen yang didapat dengan membandingkan luas lantai dasar dengan luas kavling.
kalau kita mempunyai lahan 300 m2 dan KDB yang ditentukan 60% maka areal yang
dapat kita bangun hanya 60% x 300 m2 = 180 m2. Kalai lebih dari itu artinya kita
melebihi KDB yang ditentukan. Kurangi lagi ruang yang dianggap tidak terlalu perlu.
Sisa lahan digunakan untuk ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai area resapan
air.
KLB (Koefisien Luas Bangunan): Kalau KDB hanya melibatkan luas lantai dasar, maka
KLB melibatkan seluruh lantai yang kita desain termasuk lantai dasar itu sendiri. Cara
perhitungannya tetap sama yauitu membandingkan luasan seluruh lantai dengan luas
kavling yang ada.
PENGERTIAN KDB
Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah nilai prosentase yang diperoleh setelah
membandingkan luas lantai dasar dengan luas tanah. Jadi KDB menyatakan
perbandingan total maksimal dari luas lantai struktur bangunan yang akan Anda dirikan
terhadap luas tanah yang dimiliki.
Standar KDB di suatu kawasan ditentukan oleh pemerintah yang berkuasa di daerah
tersebut. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No. 441 Tahun 1998 menyatakan setiap
area yang dinding pembatasnya memiliki tinggi di bawah 1,2 meter maka tidak
termasuk di dalam perhitungan KDB. Tujuan diberlakukannya KDB antara lain untuk
menciptakan Ruang Terbuka Hijau (RTH), menjaga kelestarian daerah resapan air, dan
membatasi ketinggam bangunan maksimal yang boleh didirikan.
MENGHITUNG KDB
KDB dihitung berdasarkan nilai prosentase yang sudah ditetapkan oleh pejabat
pemerintah setempat. Sebagai contoh yakni daerah A memiliki nilai KDB sebesar 75%.
Artinya luas bangunan yang didirikan di daerah A tersebut tidak boleh melebihi 75
persen dari luas tanahnya. Sehingga apabila Anda memiliki sebidang tanah di daerah A
dengan luas 400 m2, maka luas maksimal lantai dasar bangunan yang diizinkan untuk
dibuat adalah 300 m2, sedangkan 100 m2 sisanya harus dijadikan RTH.
Selain nilai prosentase KDB, pemerintah juga biasanya menetapkan aturan tambahan
tentang ketinggian maksimal bangunan yang diperbolehkan. Contohnya pemerintah
daerah B mengatur bahwa ketinggian maksimal bangunan yang boleh didirikan yaitu 7
lantai. Jadi bangunan-bangunan yang berada di daerah B ini harus memiliki 1-7 lantai
dan tidak diperkenankan melanggar ketentuan yang berlaku dengan mendirikan
bangunan sampai 8 lantai, 9 lantai, 10 lantai, dan seterusnya. Umumnya, aturan
tambahan mengenai ketinggian maksimal bangunan ini diberlakukan di daerah-daerah
yang berdekatan dengan area penerbangan.

CONTOH SOAL
Pak Jack mempunyai sebidang tanah di Kota Gelap dengan ukuran panjang 15 m dan
lebar 20 m. Setelah memperhatikan sertifikat tanahnya, dia mengetahui kalau ternyata
pemerintah setempat telah menetapkan KDB sebesar 80%. Hitunglah luas maksimal
lantai dasar yang boleh dibangun oleh Pak Jack di tanah miliknya itu!
Penyelesain :
Diketahui :
Panjang tanah = 15 m
Lebar tanah = 20 m
Nilai KDB = 80%
Ditanyakan : KDB = ……….?
Jawab :
KDB = nilai KDB x luas tanah = 80% x (15 x 20) = 80 % x 300 = 240 m2
Jadi luas maksimal lantai dasar dari bangunan yang boleh dibuat oleh Pak Charles
adalah 240 m2.
Pengetahuan tentang KDB sangat penting untuk Anda ketahui terutama jika ingin
berinvestasi di bidang properti sehingga bisa memaksimalkan penggunaan lahan. Pada
umumnya, nilai KDB di suatu kawasan bisa dinaikkan secara perlahan seiring dengan
tingkat perkembangan kawasan tersebut. Hal ini dikarenakan semakin matang usia
suatu kawasan, maka semakin banyak pula tingkat kepadatan ruang yang perlu
disesuaikan dengan jumlah penduduknya.
TATA RUANG

Tata ruang adalah wujud struktur ruang dan pola pemanfaatan ruang, baik direncanakan
maupun tidak. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman system jaringan
prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat
yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional.
Pola pemanfaatan ruang adalah distribusi peruntukan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi
peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budidaya. Penataan
ruang adalah proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan pengendalian
pemanfaatan ruang yang dilaksanakan secara sekuensial (berkesinambungan dari masa ke
masa).
Penataan ruang dikelompokan berdasarkan sistem, fungsi kawasan, administrasi, kegiatan
kawasan, dan nilai strategis kawasan.
Penataan ruang berdasarkan sistem terdiri atas sistem wilayah dan sistem internal perkotaan.
Penataan ruang berdasarkan fungsi kawasan meliputi kawasan lindung dan kawasan budidaya.
Penataan ruang berdasarkan administrasi meliputi penataan ruang wilayah nasional, penataan
ruang wilayah provinsi, dan penataan ruang wilayah kabupaten/kota.
Penataan ruang berdasarkan kegiatan kawasan terdiri atas kawasan perkotaan dan kawasan
perdesaan.
Penataan ruang berdasarkan nilai strategis kawasan terdiri atas kawasan strategis nasional,
kawasan strategis provinsi, kawasan strategis kabupaten, dan kawasan strategis kota.
Sebaiknya kita melihat isi dari Undang - Undang No. 24 Tahun 1992 tentang penataan Ruang,
untuk mengetahui lebih pasti definisi dari tata ruang seperti yang terjabarkan dalam uraian
dibawah ini :
Ruang adalah wadah kehidupan yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara
termasuk di dalamnya tanah, air, udara dan benda lainnya serta daya dan keadaan sebagai
suatu kesatuan wilayah tempat manusia dan mahluk lainnya hidup dan melakukan kegiatan
serta memelihara kelangsungan hidupnya.
Tata Ruang adalah wujud struktural dan pola pemanfaatan ruang baik yang direncanakan
maupun yang menunjukkan adanya hirarki dan keterkaitan pemanfaatan ruang.
Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang berupa rencana – rencana
kebijaksanaan pemanfaatan ruang secara terpadu untuk berbagai kegiatan.
Kawasan Lindung adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utamanya melindungi
kelestarian hidup yang mencakup sumberdaya alam dan sumberdaya buatan.
Kawasan Budidaya adalah kawasan yang ditetapkan dengan fungsi utama untuk dibudidayakan
atas dasar kondisi potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan.
Termasuk didalamnya kawasan budidaya antara lain : kawasan permukiman perkotaan,
kawasan permukiman perdesaan, kawasan produksi, sistem prasarana wilayah meliputi :
prasarana transportasi, telekomunikasi dan pengairan dan prasarana lainnya.
Kawasan Permukiman adalah bagian kawasan budidaya baik perkotaan maupun perdesaan
dengan dominasi fungsinya kegiatan permukiman.
Kawasan Perdesaan adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama adalah pertanian
termasuk pengelolaan sumberdaya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
permukiman perdesaan, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
Kawasan Perkotaan adalah kawasan yang emepunyai kegiatan utama bukan pertanian dengan
susunan fungsi kawasan sebagai tempat permukiman perkotaan, pemusatan dan distribusi
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.
Kawasan Tertentu adalah kawasan yang ditetapkan secara nasional mempunyai nilai strategis
yang penataan ruangnya diprioritaskan.
Kawasan Prioritas adalah yang mendapat prioritas paling utama di dalam pengembangan dan
penanganannya dengan memperhatikan kawasan strategis dalam wilayah provinsi dan aspek
lain yang bersifat kabupaten untuk mewujudkan sasaran pembangunan sesuai dengan potensi
dan kondisi geografis.
Kawasan Strategis adalah kawasan yang mempunyai peranan penting untuk pengembangan
ekonomi, sosial budaya, lingkungan maupun pertahanan keamanan dilihat secara nasional dan
provinsi. Penatagunaan Tanah adalah pengaturan penggunaan 5tanah mencakup penguasaan,
pemanfaatan, pengaturan hak – hak atas tanah untuk meningkatkan pemanfaatan, produktivitas
dan kelestarian tanah yang meliputi perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian sebagai satu
kesatuan dengan penataan ruang.
Pengertian Penataan Ruang secara umum adalah merupakan proses yang terpadu tercakup
tiga kegiatan utama yaitu perencanaan, pelaksanaan rencana dan pengendalian rencana tata
ruang.
Perencanaan tata ruang adalah proses penyusunan rencana tata ruang untuk meningkatkan
kualitas lingkungan hidup dan kualitas manusianya dengan pemanfaatan ruang yang secara
struktur menggambarkan ikatan fungsi lokasi yang terpadu bagi berbagai kegiatan.
Perencanaan tata ruang pada dasarnya mencakup kegiatan penyusunan dan peninjauan
kembali rencana tata ruang. Pelaksanaan atau pemanfaatan rencana tata ruang adalah Suatu
proses usaha agar rencana tata ruang yang telah ditetapkan dapat terwujud sesuai dengan
rencana. Dalam hal ini pelaksanaan atau pemanfaatan rencana tata ruang terutama dalam
bentuk Penyusunan program pembangunan kota dan Pemanfaatan ruang kota yang sesuai
dengan rencana. Pengendalian pelaksanaan/pemanfaatan rencana tata ruang yang harus
terkait satu sama lainnya. Pengendalian pelaksanaan adalah merupakan suatu proses usaha
agar pelaksanaan rencana pemanfaatan ruang oleh instansi sektoral, pemerintah daerah,
swasta ataupun masyarakat sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Secara
umum upaya pengendalian pelaksanaan rencan tata ruang dilakukan melalui kegiatan
pengawasan dan penertiban. Kegiatan pengawasan dilakukan dalam bentuk: Pelaporan
pelaksanaan/pemanfaatan rencana. Pemantauan terhadap pelaksanan rencana tersebut
secara kontinyu. Peninjauan kembali dan revisi untuk meninjau sejauh manakah pelaksanaan
rencana dan bagaimana penyesuaian jika terjadi penyimpangan Dari pengertian tersebut di
atas maka dapat ditarik kesimpulan tentang mengapa diperlukan penyusunan rencana tata
ruang, yaitu : Untuk mencegah atau menghindari benturan-benturan kepentingan atau konflik
antar sektor dan antar kepentingan dalam pembangunan masa kini dan masa yang akan
datang Untuk menghindari terjadinya diskriminasi dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber
daya alam. Untuk tercapainya optimalisasi pemanfaatan ruang yang memperlihatkan daya
dukung dan kesesuaian wlayah terhadap jenis pemanfaatannya. Untuk terciptanya kemudahan
pemanfaatan fasilitas dan pelayanan sosial ekonomi bagi segenap masyarakat maupun sektor-
sektor yang terkait. Untuk terjadinya kesesuaian antara tuntutan kegiatan pembangunan di satu
pihak dengan kemampuan wilayah di pihak lain baik secara langsungmaupun tidak langsung.
Untuk dapat terciptanya interaksi fungsional yang optimal baik antara unit-unit wilayah maupun
wilayah lainnya. Menjaga kelestarian dan kemampuan ruang serta menjamin kesinambungan
pembangunan di berbagai sektor. Untuk dapat memberikan arahan bagi penyusunan program-
program [Link] dapat terjadi kesesuaian sosial ekonomi akibat pemanfaatan ruang
terhadap perkembangan ekonomi dan sosial yang sedang maupun mendatang. Untuk dapat
menciptakan kemudahan bagi masyarakat untuk berpatisipasi pada kegiatan-kegiatan produksi.
Terciptanya suatu pola pemanfaatan ruang yang mampu mengakomodir segala bentuk kegiatan
yang terjadi di dalam ruang tersebut. Pembangunan dapat terencana sesuai dengan fungsi
yang di emban oleh ruang. Perencanaan Tata Ruang Kota Perencanaan tata ruang kota adalah
proses penyusunan dan penetapan rencana tata ruang kota. Di Amerika, rencana kota
umumnya disebut sebagai rencana kota komprehensif (comprehensive urban plan). Rencana
kota ini diartikan sebagai kebijaksanaan jangka panjang (20 – 30 tahun) mengenai distribusi
keruangan (spasial) obyek, fungsi dan kegiatan dan tujuan (Catanese dan Snyder, 1979: 194).
Rencana kota mengkoordinasikan kegiatan Pemerintah dan kegiatan swasta atau masyarakat
dalam membangun fisik dan keruangan kotanya. Dalam praktek perencanaan kota di Indonesia
saat ini, para perencana mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1987)
(tentang Pedoman Penyusunan Rencana Kota). Dalam peraturan tersebut, Pasal 1 (butir d)
disebutkan pengertian rencana kota, sebagai berikut:
“Rencana kota adalah rencana pengembangan kota yang disiapkan secara teknis dan non-
teknis, baik yang ditetapkan Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah yang merupakan
rumusan kebijaksanaan pemanfaatan muka bumi wilayah kota termasuk ruang di atas dan di
bawahnya serta pedoman pengarahan dan pengendalian bagi pelaksanaan pembangunan
kota”. Selain itu, peraturan di atas juga menjelaskan bahwa suatu rencana kota bertujuan
supaya kehidupan warga kota menjadi aman , tertib dan lancar dan sehat melalui: Perwujudan
pemanfaatan ruang kota yang serasi dan seimbang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan
daya dukung pertumbuhan dan perkembangan kota. Perwujudan pemanfaatan ruang kota yang
sejalan dengan tujuan serta kebijaksanaan Pembangunan Nasional dan Daerah. Sistem
perencanaan tersebut dikembangkan berdasar gaya perencanaan komprehensif rasional.
Aspek teknis perencanaan tata ruang wilayah dibedakan berdasarkan hirarki rencana. RTRWN
merupakan perencanaan makro strategis jangka panjang dengan horizon waktu hingga 25 - 50
tahun ke depan dengan menggunakan skala ketelitian 1 : 1,000,000. RTRW Propinsi
merupakan perencanaan makro strategis jangka menengah dengan horizon waktu 15 tahun
pada skala ketelitian 1 : 250,000.
RTRW Propinsi Berisi, tentang : Arahan pengelolaan kawasan lindung dan kawasan budidaya
Arahan pengelolaan kawasan perdesaan, kawasan perkotaan dan kawasan tertentu. Arahan
pengembangan kawasan permukiman, kehutanan, pertambangan, perindustrian, pariwisata,
dan kawasan lainnya. Arahan pengembangan sistem pusat permukiman, perdesaan, dan
perkotaan.
Arahan pengembangan sistem prasarana wilayah yang meliputi prasarana transportasi,
telekomunikasi, energi, pengairan dan prasarana pengelolaan lingkungan. Arahan
pengembangan kawasan yang diprioritaskan Arahan pengembangan tata guna tanah, tata
guna, tata guna udara, dan tata guna sumbedaya alam lainnya serta memperhatikan
keterpaduan dengan SDM dan SDB. RTRWP, menjadi pedoman untuk : Perumusan kebijakan
pokok pemanfaatan ruang di wilayah propinsi Mewujudkan keterpaduan, keterkaitn dan
keseimbangan perkembangn anytar wilayah propnsi serta keserasian antar sektor Pengarahan
lokasi investasi yang dilaksanakan Pemerintah dan atau masyrakat Penatan ruang wilayah
kabupaten kota yang merupakan dasar dalam pengawasan terhadap; perijinan lokasi
pembangunan 3. RTRW Kabupaten dan Kota merupakan perencanaan mikro operasional
jangka menengah (5-10 tahun) dengan skala ketelitian 1 : 20,000 hingga 100,000, yang
kemudian diikuti dengan rencana-rencana rinci yang bersifat mikro-operasional jangka pendek
dengan skala ketelitian dibawah 1 : 5,000. Rencana tata ruang kabupaten meliputin tentang :
Tujuan Rencana stuktur dan dan pola pemanfaatan ruang wilayah kabupaten Rencana umum
tata ruang wilayah kabupaten Pedoman pengendalian pemanfatan ruang wilayah kabupaten
RTRWK berisi tentang : Pengelolahan kawasan lindung dan kawasan budidaya Pengelolahan
kawaan pedesaan, kawasan pwekotaan dan kawasan tertentu Sistem kegiatan pembangunan
dan sistem permukiman perkotaan dan perdesaan Sistem prasarana trasnportasi,
telekomonikasi, energi , pengairan dan prasarana pengelolahan lingkungan Penatagunaan
tanah, penatagunaan air, penatagunaan udara dan penatagunaan sumberdaya alam lainnya,
serta memperhatika keterpaduan dengan sumberdaya alam dan sebagainya.
Rencana tata ruang kota menjadi tanggung jawab daerah. Dibedakan menjadi tiga macam :
Rencana Umum Tata Ruang Kota (RUTRK) Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK)
Rencana Teknik Ruang Kota (RTRK).
Tabel 1: Perbandingan antara macam rencana tata ruang Macam Rencana Lingkup Wilayah Isi
Rencana Skala Peta RUTRK Seluruh wilayah adminitrasi kota
• Kebijaksanaan pengembangan kota
• Rencana pemanfaatan ruang kota
• Rencana struktur tingkat pelayanan kota
• Rencana sistem transportasi
• Rencana sistem jaringan utilitas kota
• Rencana pengembangan pemanfaatan air baku
• Indikasi unit pelayanan kota
• Rencana pengelolaan pembangunan kota 1 : 10.000 (untuk kota berpenduduk kurang dari 1
juta jiwa); 1 : 20.000 (untuk kota berpenduduk lebih dari 1 juta jiwa). RDTRK Sebagian atau
seluruh wilayah adminitrasi kota yang dapat merupakan satu atau beberapa kawasan tertentu •
Kebijaksanaan pengembangan penduduk
• Rencana pemanfaatan ruang bagian wilayah kota
• Rencana struktur tingkat pelayanan
• Rencana sistem jarangan fungsi jalan
• Rencana sistem jaringan utilitas
• Rencana kepadatan bangunan lingkungan
• Rencana ketinggian bangunan
• Rencana garis sempadan atau garis pengawasan jalan
• Rencana indikasi unit pelayanan
• Rencana tahapan pelaksanaan pembangunan
• Pengelolaan penanganan lingkungan 1 : 5.000 dengan penggambaran geometrik yang
dibantu dengan titik-titik kendali. RTRK Sebagian atau seluruh kawasan tertentu yang dapat
merupakan satu atau beberapa unit lingkungan perencanaan
• Rencana tapak pemanfaatan ruang
• Pra rencana pola dan konstruksi jaringan jalan
• Pra rencana bentuk dan konstruksi jaringan utilitas
• Pra rencana bentuk dan konstruksi bangunan gedung
• Rencana indikasi proyek 1 : 1.000

RENCANA DETAIL TATA RUANG KOTA


Rencana detail tata ruang adalah arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang
wilayah yang disusun guna menjaga integritas, keseimbangan dan keserasian
perkembangan suatu wilayah kabupaten/kota dan antar sektor, serta keharmonisan
antar ligkungan alam dengan lingkungan buatan untuk meningkatkan kesejahteraan.
Rencana detail tata ruang kabupaten/kota yang sesuai dengan fungsi dan perannya di
dalam rencana pengembangan wilayah provinsi secara kesejahteraan, strategi
pengembangan wilayah ini selanjutnya dituangkan ke dalam rencana struktur dan
rencana pola ruang operasional. Dalam operasional rencana detail tata ruang
dijabarkan dalam rencana rinci tata ruang yang disusun dengan pendekatan nilai
strategis kawasan dan kegiatan kawasan dengan muatan substansi yang dapat
mencakup hingga penetapan blok dan sub-blok atau dengan kedalaman 1:20.000 yang
dilengkapi peraturan zonasi sebagai salah satu dasar dalam pengendalian
pemanfaatan ruang sehingga pemanfaatan ruang dapat dilakukan sesuai dengan
rencana umum tata ruang dan rencana rinci tata ruang. Sehingga dapat dirumuskan
bahwa RDTR merupakan rencana yang menetapkan blok pada kawasan fungsional
sebagai penjabaran kegiatan ke dalam wujud ruang yang memperhatikan keterkaitan
antarkegiatan dalam kawasan fungsional agar tercipta lingkungan yang harmonis
antara kegiatan utama dan kegiatan penunjang dalam kawasan fungsional tersebut.
Contoh peta RDTR antara lain sebagai berikut:
Kedudukan
Sesuai ketentuan Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 2010 tentang
Penyelenggaraan Penataan Ruang, setiap RTRW kabupaten/kota harus menetapkan
bagian dari wilayah kabupaten/kota yang perlu disusun RDTR-nya. Bagian dari wilayah
yang akan disusun RDTR tersebut merupakan kawasan perkotaan atau kawasan
strategis kabupaten/kota. Kawasan strategis kabupaten/kota dapat disusun RDTR
apabila merupakan:
kawasan yang mempunyai ciri perkotaan atau direncanakan menjadi kawasan
perkotaan; dan
 memenuhi kriteria lingkup wilayah perencanaan RDTR yang ditetapkan dalam
pedoman ini.
Kedudukan RDTR dalam sistem perencanaan tata ruang dan sistem perencanaan
pembangunan nasional dapat dilihat pada Gambar 1.2 RDTR disusun apabila sesuai
kebutuhan, RTRW kabupaten/kota perlu dilengkapi dengan acuan lebih detil
pengendalian pemanfaatan ruang kabupaten/kota. Dalam hal RTRW kabupaten/kota
memerlukan RDTR, maka disusun RDTR yang muatan materinya lengkap, termasuk
peraturan zonasi, sebagai salah satu dasar dalam pengendalian pemanfaatan ruang
dan sekaligus menjadi dasar penyusunan RTBL bagi zona-zona yang pada RDTR
ditentukan sebagai zona yang penanganannya diprioritaskan. Dalam hal RTRW
kabupaten/kota tidak memerlukan RDTR, peraturan zonasi dapat disusun untuk
kawasan perkotaan baik yang sudah ada maupun yang direncanakan pada wilayah
kabupaten/kota. RDTR merupakan rencana yang menetapkan blok pada kawasan
fungsional sebagai penjabaran kegiatan ke dalam wujud ruang yang memperhatikan
keterkaitan antar kegiatan dalam kawasan fungsional agar tercipta lingkungan yang
harmonis antara kegiatan utama dan kegiatan penunjang dalam kawasan fungsional
tersebut.
RDTR yang disusun lengkap dengan peraturan zonasi merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisahkan untuk suatu BWP tertentu. Dalam hal RDTR tidak disusun atau RDTR
telah ditetapkan sebagai perda namun belum ada peraturan zonasinya sebelum
keluarnya pedoman ini, maka peraturan zonasi dapat disusun terpisah dan
berisikan zoning map dan zoning text untuk seluruh kawasan perkotaan baik yang
sudah ada maupun yang direncanakan pada wilayah kabupaten/kota. RDTR ditetapkan
dengan perda kabupaten/kota. Dalam hal RDTR telah ditetapkan sebagai perda
terpisah dari peraturan zonasi sebelum keluarnya pedoman ini, maka peraturan zonasi
ditetapkan dengan perda kabupaten/kota tersendiri.

Fungsi
RDTR dan peraturan zonasi berfungsi sebagai:
 kendali mutu pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota berdasarkan RTRW;
 acuan bagi kegiatan pemanfaatan ruang yang lebih rinci dari kegiatan
pemanfaatan ruang yang diatur dalam RTRW;
 acuan bagi kegiatan pengendalian pemanfaatan ruang;
 acuan bagi penerbitan izin pemanfaatan ruang; dan
 acuan dalam penyusunan RTBL.

RDTR dan peraturan zonasi bermanfaat sebagai:


 penentu lokasi berbagai kegiatan yang mempunyai kesamaan fungsi dan
lingkungan permukiman dengan karakteristik tertentu;
 alat operasionalisasi dalam sistem pengendalian dan pengawasan pelaksanaan
pembangunan fisik kabupaten/kota yang dilaksanakan oleh Pemerintah,
pemerintah daerah, swasta, dan/atau masyarakat; ketentuan intensitas
pemanfaatan ruang untuk setiap bagian wilayah sesuai dengan fungsinya di
dalam struktur ruang kabupaten/kota secara keseluruhan; dan
 ketentuan bagi penetapan kawasan yang diprioritaskan untuk disusun program
pengembangan kawasan dan pengendalian pemanfaatan ruangnya pada tingkat
BWP atau Sub BWP.

Anda mungkin juga menyukai