Pengetahuan Keluarga dan Penanganan Stroke
Pengetahuan Keluarga dan Penanganan Stroke
Disusun Oleh :
Komariah ( 2210255P )
TAHUN AJARAN
2023
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan Rahmat-Nya lah tugas proposal ini dapat terselesaikan.
Melalui tugas proposal ini kita dapat mengetahui tentang “Hubungan Pengetahuan
Keluarga Dan Perilaku Keluarga Pada Penanganan Awal Kejadian Stroke Di Rsud Depati
Bahrin Sungailiat”. Pembuatan tugas proposal ini menggunakan metode data-data yang kami
peroleh dari beberapa sumber dan pemikiran yang kami gabungkan menjadi sebuah proposal
yang semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.
Kami menyadari akan kelemahan dan kekurangan dari tugas proposal ini. Oleh sebab
itu, kami membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, agar tugas proposal ini
akan semakin baik sajiannya
Penyusun
ii
DAFTAR ISI
iii
BAB I
PENDAHULUAN
3
1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan peneliti dalam merencanakan,
melaksanakan dan menyusun suatu penelitian ilmiah serta memberikan pengalaman
dalam mengaplikasikan ilmu keperawatan berkaitan dengan pentingnya peran
keluarga dalam menangani kejadian awal stroke.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam bidang keperawatan khususnya
mengenai pemenuhan peran keluarga dalam penanganan awal kejadian stroke.
Sehingga mahasiswa dapat memberikan penjelasan kepada penderita dan keluarga
tentang pentingnya penanganan cepat kasus stroke untuk mengurangi kecacatan dan
menghindari kematian.
c. Bagi Keluarga Pasien
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sebagai gambaran bagi pasien dan keluarga
mengenai pentingnya penanganan cepat terhadap kejadian stroke agar menghindari
kecacatan permanen bahkan kematian.
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2. Klasifikasi Stroke
Wijaya dan Putri (2013) stroke dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala
kliniknya yaitu :
a. Stroke Haemorhagi
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid.
Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu.
Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga
terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun. Stroke haemoragik
adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer
substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis,
disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena dan kapiler (Widjaja,
1994 dalam Wijaya dan Putri, 2013).
b. Stroke Non Haemorhagic (CVA Infark)
Dapat berupa iskemia atau emboli thrombosis serebral, biasanya terjadi
saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi
perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya
dapat timbul edema sekunder. Kesadaran umumnya baik.
Menurut perjalanan penyakit atau stadiumnya :
1) TIA (Transient Iskemik Attack)
5
Gangguan nuerologis setempat yang terjadi selama beberapa menit
sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan
sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.
2) Stroke Involusi
Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan
neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat berjalan
24 jam atau beberapa hari.
3) Stroke Komplit
Gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen.
Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh serangan TIA
berulang.
3. Etiologi Stroke
Haryono dan Utami (2019), manifestasi klinis stroke yaitu dapat disebabkan
oleh arteri yang tersumbat atau bocor (stroke iskemik) dan dapat disebabkan oleh
pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Beberapa orang mungkin mengalami
gangguan sementara aliran darah ke otak (transient ischemia attack atau TIA) yang
tidak menyebabkan kerusakan permanen.
a. Stroke Iskemik
Stroke 80% kasus stroke adalah stroke iskemik, stroke iskemik terjadi
ketika arteri ke otak menyempit atau terhambat, menyebabkan aliran darah sangat
berkurang (iskemia). Stroke dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
1) Stroke trombilitik, stroke trombolitik terjadi ketika gumpalan darah (trombus)
terbentuk di salah satu arteri yang memasok darah ke otak. Gumpalan tersebut
disebabkan oleh deposit lemak (plak) yang menumpuk di arteri dan
menyebakan aliran darah berkurang (arterosklerosis) atau kondisi arteri
lainnya.
2) Stroke embolik, stroke embolik terjadi ketika gumpalan darah atau debris
lainnya menyebar dari otak dan tersapu melalui aliran darah. Jenis gumpalan
darah ini disebut embolus. Stroke embolik berkembang setelah oklusi arteri
oleh embolus yang terbentuk di luar otak. Sumber umum embolus yang
menyebabkan stroke ialah jantung setelah infark miokardium atau fiblirasi
atrium, dan embolus yang merusak arteri karotis komunis atau aorta (Corwin,
2009 dalam Haryono dan Utami, 2019).
6
b. Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak bocor atau pecah.
Pendarahan otak dapat disebabkan oleh banyak kondisi yang memengaruhi
pembuluh darah antara lain :
1) Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol (hipertensi)
2) Overtreatment dengan antikoagulan (pengencer darah)
3) Melemahnya dinding pembuluh darah (aneurisma)
c. Serangan Iskemik Transien (TIA)
Transient Ischemic Attack (TIA) adalah periode sementara dari gejala yang
mirip dengan gejala stroke. Penurunan sementara pasokan darah ke bagian otak
menyebabkan TIA dan biasanya berlangsung ± 5 menit. Seperti stroke iskemik,
TIA terjadi ketika bekuan atau debris menghalangi aliran darah ke bagian sistem
saraf. Namun, pada kasus TIA tidak ada kerusakan jaringan permanen dan tidak
ada gejala menetap. Mengalami TIA membuat beresiko lebih besar untuk
mengalami stroke yang sebenarnya dan dapat menyebabkan kerusakan permanen.
Jika seseorang mengalami TIA, kemungkinan ada arteri yang tersumbat atau
menyempit yang mengarah ke otak atau sumber gumpalan jantung.
7
5. Komplikasi
Pasien yang mengalami gejala berat rentan terhadap komplikasi diantaranya:
a. Pneumonia, aspirasi yang berkaitan dengan kehilangan refleks jalan napas,
imobilitas atau hipoventilasi.
b. Septikemia akibat ulkus dekubitus/ infeksi saluran kemih
Keadaan ini diakibatkan karena berbaring terlalu lama dan malas berpindah posisi yang
menyebabkan luka lecet dan infeksi pada bagian tubuh yang sering menjadi tumpuan
berbaring seperti panggul, pantat dan kaki.
c. Trombosis vena dalam (deep vein thrombosis),
Terhentinya gerakan otot tungkai sehingga aliran didalam pembuluh darah vena
tungkai terganggu yang meningkatkan resiko untuk terjadinya penggumpalan darah
pada tungkai yang mengalami kelumpuhan.
d. Emboli paru, Infark miokard, aritmia jantung, dan gagal jantung
e. Ketidakseimbangan cairan
f. Hipertensi/ hipotensi
Peningkatan TIK pada stroke menyebabkan terjadinya penekanan pada batang otak
sehingga batang otak mengalami iskemik dan neuron penghambat simpatik dibatang
otak menjadi tidak aktif dan kerja saraf simpatik meningkat yang mengakibatkan
tekanan sistemik meningkat.
g. Kejang
Kejang terjadi akibat lepas muatan paroksimal yang berlebihan dari suatu populasi
neuron yang sangat mudah terpicu sehingga mengganggu fungsi normal otak.
h. Peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK)
Ruangan intrakranial ditempati oleh jaringan otak, darah dan cairan serebrospinalis.
i. Kontraktur, tonus otot abnormal
j. Malnutrisi
k. Inkontinentia urine, bowel
Diakibatkan karena konfusi, ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan
ketidakmampuan untuk menggunakan urinal/bedpan karena kerusakan kontrol motorik
dan postural. Kandung kemih menjadi atonik, dengan kerusakan sensasi dalam respons
terhadap pengisian kandung kemih. Kontrol sfingter urinarius eksternal
hilang/berkurang.
8
Faktor-faktor yang mempunyai kontribusi pada disabilitas jangka panjang, meliputi:
a. Ulkus dekubitus
Keadaan ini diakibatkan karena berbaring terlalu lama dan malas berpindah posisi yang
menyebabkan luka lecet dan infeksi pada bagian tubuh yang sering menjadi tumpuan
berbaring seperti panggul, pantat dan kaki.
b. Epilepsi
Terjadi akibat jaringan otak normal di bawah kondisi patologik tertentu seperti
perubahan keseimbangan asam-basa atau elektrolit.
c. Jatuh berulang dan fraktur
d. Spastisitas dengan nyeri, kontraktur dan kekakuan sendi bahu (frozen shoulder)
Keadaan ini diakibatkan oleh imobilisasi sendi dalam jangka waktu yang lama karena
tidak adanya perbaikan fungsi motoris mengakibatkan terjadinya pertumbuhan jaringan
ikat pada capsul sendi yang menyebabkan sendi sulit untuk digerakkan.
e. Depresi
Terjadi akibat penderita stroke merasa tidak mampu menjalani hidupnya serta tidak
mendapat dukungan dari keluarga.
6. Penatalaksanaan
Tarwoto (2013), penalaksanaan dari stroke adalah sebagai berikut:
a. Penatalaksanaan Umum
1) Pada Fase Akut
a) Terapi cairan, pada fase akut beresiko terjadi dehidrasi karena penurunan
kesadaran atau mengalami disfagia. Terapi cairan ini penting untuk
mempertahankan sirkulasi darah dan tekanan darah. The American heart
Association sudah menganjurkan normal saline 50 ml/jam selama jam-jam
pertama stroke iskemik akut. Segera setalah hemodinamik stabil, terapi
cairan rumatan bisa diberikan sebagai KAEN 3B / KAEN 3A. Kedua
larutan ini lebih baik pada dehidrasi hipertonik serta memenuhi kebutuhan
hemeostasis kalium dan natrium. Setelah fase akut stroke, larutan rumatan
bisa diberikan untuk memelihara homeostasis elektrolit, khususnya kalium
dan natrium.
b) Terapi oksigen, pasien stroke iskemik dan hemoragik mengalami
gangguan aliran darah ke otak. Sehingga kebutuhan oksigen sangat penting
untuk mengurangi hipoksia dan juga untuk mempertahankan metabolisme
9
otak. Pertahankan jalan napas, pemberian oksigen, penggunaan ventilaor
merupakan tindakan yang dapat dilakukan sesuai hasil pemeriksaan analisa
gas darah atau oksimetri
c) Penatalaksanaan peningkatan tekanan intrakranial, biasanya disebabkan
karena edema serebri, oleh karena itu pengurangan edema penting
dilakukan misalnya dengan pemberian manitol, kontrol atau pengendalian
tekanan darah.
d) Monitor fungsi pernapasan yaitu analisa gas darah.
e) Monitor jantung dan tanda-tanda vital, pemeriksaan EKG.
f) Evaluasi status cairan dan elektrolit.
g) Kontrol kejang jika ada dengan pemberian antikonvulsan dan cegah resiko
injuri.
h) Lakukan pemasangan NGT untuk mengurangi kompresi lambung dan
pemberian makanan.
i) Cegah paru dan tromboplebitis dengan antikoagulan.
j) Monitor tanda-tanda neurologi seperti tingkat kesadaran, keadaan pupil,
fungsi sensorik dan motorik, nervus kranial dan refleks.
2) Fase Rehabilitasi
a) Pertahankan nutrisi yang adekuat.
b) Program managemen bladder dan bowel.
c) Mempertahankan keseimbangan tubuh dan rentang gerak sendi (ROM).
d) Pertahankan integriti kulit.
e) Pertahankan komunikasi yang efektif.
f) Pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
g) Persiapan pasien pulang.
b. Pembedahan
Dilakukan jika perdarahan serebrum diameter lebih dari 3 cm atau volume
lebih dari 50 ml untuk dekompresi atau pemasangan pintasan ventrikulo-
peritoneal bila ada hidrosefalus obstruktif akut.
c. Terapi Obat – Obatan
Terapi pengobatan tergantung dari jenis stroke :
1. Stroke Iskemia
a) Pemberian trombolisis dengan rt-PA (recombinant tissue-plasminogen).
10
b) Pemberian obat-obatan jantung seperti digoksin pada aritmia jantung atau
alfa beta, kaptopril, antagonis kalsium pada pasien dengan hipertensi.
2. Stroke Haemoragik
a) Antihipertensi : kaptopril, antagonis kalsium.
b) Diuretik : manitol 20%, furosemide.
c) Antikonvulsan : fenitorin.
7. Pencegahan Stroke
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya stroke antara
lain:
a. Berhenti merokok
Merokok sangat besar perannya dalam meningkatkan tekanan darah, karena nikotin yang
terdapat didalam rokok yang memacu hormon adrenalin serta menyempitkan pembuluh
darah yang menyebabkan tekanan darah meningkat.
b. Manipulasi diet (rendah lemak hewani, rendah garam, menghindari konsumsi
alkohol berlebihan)
Beberapa penelitian menunjukan bahwa beberapa mineral bermanfaat mengatasi
hipertensi. Kalium dibuktikan erat kaitannya dengan penurunan tekanan darah arteri
dan menurunkan resiko terjadinya stroke.
c. Penggunaan obat- obat penurun kolesterol
d. Rutin mengontrol tekanan darah
e. Sebisa mungkin lakukan pemerisaan darah minimal sebulan sekali. Apabila ditemukan
tekanan darah cenderung meningkat dapat mengantisipasi resiko stroke dengan cepat.
Keluarga perluh diberi edukasi mengenai gejala-gejala stroke serta penatalaksanaan
secara dini. Seringkali pasien yang mengalami tanda dan gejala stroke menunggu
beberapa jam sebelum mencari perawatan karena percaya bahwa gejala tersebut akan
menghilang.24 Keluarga diharapkan agar mempunyai pengetahuan yang baik tentang
peringatan gejala stroke, mampu mengenali dan menginterpretasikan stroke dengan
segera mengantar pasien ke fasilitas kesehatan/ mencari bantuan kesehatan.
11
tingkatan, yaitu:
a. Tahu / Know
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya
termasuk mengingat kembali/recall terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari/rangsang yang diterima. Tahu merupakan tingkatan
pengetahuan yanag paling rendah.
b. Memahami/ Comprehension
Merupakan suatu kemampuan untuk memjelaskan secara benar tentang obyek
yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi secara benar, dapat
menyebutkan contoh, menyimpulkan dan meramalkan obyek yang dipelajari.
c. Aplikasi/ Apllication
Merupakan suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari
pada situasi/ kondisi real atau yang sebenarnya. Dapat menggunakan rumus,
metode serta prinsip dalam situasi yang lain.
d. Analisis/ Analysis
Merupakan kemampuan untuk menjabarkan materi/obyek didalam struktur
organisasi dan masih ada kaitannya satu dengan yang lain (dapat menggambarkan,
membedakan, memisahkan serta mengelompokkan).
e. Sintesis/ Synthesis
Merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan/ menghubungkan bagian-bagian
didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Kemampuan untuk menyusun suatu
formasi-formasi yang ada.
f. Evaluasi/ Evaluation
Merupakan pengetahuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi/obyek.
Penilaian-penilaian yang dilakukan berdasarkan suatu kriteria yang telah ada.
Perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat terjadi melalui proses belajar. Sebelum
orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi
proses yang berurutan, yakni:
a. Kesadaran/awareness, dimana orang tersebut menyadari/mengetahui terlebih
dahulu stimulasi/objek.
b. Merasa tertarik/interest terhadap stimulasi/objek tersebut. Dimana sikap subjek
sudah mulai timbul.
c. Menimbang- nimbang/evaluation terhadap baik atau tidaknya stimulus tersebut
terhadap dirinya. Sikap responden sudah lebih baik.
d. Trial, dimana subjek sudah mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang
dikehendaki oleh stimulus.
e. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.
13
yaitu:
a. Tenangkan diri, periksa napasnya, jika tidak ada pergerakan segera memanggil
ambulance atau tenaga medis untuk memberikan pertolongan kepada pasien
sesegera mungkin di tempat kejadian.
b. Sebelum pertolongan medis datang, keluarga dapat melakukan pertolongan awal
dengan membaringkan pasien di tempat yang aman dan melakukan prosedur
sebagai berikut:
1) Baringkan dengan hati-hati di tempat tidur yang rata dan mengatur posisi
kepala (ditinggikan 300 ) sambil tubuh pasien diselimuti hingga sebatas
pundak
2) Jika pasien dalam kondisi sadar, tenangkan diri pasien sambil menunggu
pertolongan medis datang.
3) Jika stroke didahului jatuh sehingga menyebabkan perdarahan, hentikan
perdarahan dengan menekan pada bagian yang mengalami perdarahan selama
5 menit.
4) Jika pasien memakai gigi palsu, maka lepaskan terlebih dahulu gigi palsu
tersebut untuk memudahkan jalan napas baginya.
c. Ketika seseorang diduga mengalami serangan stroke maka harus dilakukan
pengecekan sederhana yang disingkat FAST (Face, Arms, Speech, Time).
Segera diperhatikan wajah pasien apakah ada yang tertarik sebelah (tidak
simetris), meminta pasien mengangkat tangan, berbicara, serta memperhatikan
kapan dimulainya serangan itu. Apabila ditemukan wajah yang tidak simetris,
tangan yang tidak dapat diangkat dan bicara tidak jelas, maka selanjutnya harus
segera menghubungi petugas kesehatan/mengirim pasien ke sarana kesehatan.
d. Jika pasien tidak sadar, maka Ketika pasien baru mengalami stroke sebelum di
antar ke rumah sakit, yang pertama kali dilakukan oleh keluarga yaitu
melakukan pertolongan darurat dengan cara membaringkan pasien di suatu
tempat yang rata dan keras, misalnya lantai atau kasur yang keras sambil
mengamati tanda- tanda visual pada diri pasien untuk melakukan tindakan ABC
(Airway, breathing and circulation).
1) Airway: Tindakan untuk memperlancar jalan napas pasien, dengan cara:
a) Membuka jalan napas pasien, dengan cara:
14
- Meletakkan satu tangan penolong pada dahi korban, dan ujung
telunjuk dan jari tengah tangan yang lain diletakkan dibawah dagu
pasien.
- Gunakan tangan untuk mendorong kepala ke belakang dan ujung
jari untuk mengangkat dagu pasien dan menyokong rahang bawah.
b) Hilangkan sumbatan, jika ada sumbatan /obstruksi seperti gigi palsu,
makanan, cairan atau lidah yang jatuh kebelakang.
2) Breathing: Menambahkan pasokan oksigen lewat hidung/ mulut, dengan cara:
a) Perhatikan gerakan dada, dengarkan aliran udara.
b) Membuka mulut pasien lebar- lebar, menempatkan mulut penolong
mengelilingi mulut korban.
c) Menekan lubang hidung pasien sehingga hidungnya tertutup
d) Menghembuskan napas ke dalam mulut pasien hingga terlihat
pengembangan dada.
3) Chest compression
Sebelum melakukan chest compression (kompresi dada) perhatikan napas
pasien. Jika pasien tudak bernapas atau bernapas tidak normal maka segera
lakukan kompresi dada, dengan cara:
a) Berlutut disamping pasien
b) Tentukan titik kompresi, yakni di tulang dada setinggi kedua puting pada
laki- laki atau 1/3 bagian bawah tulang dada.
c) Lakukan kompresi dengan kedua tangan yang saling mengunci
d) Posisikan tubuh vertikal diatas pasien dengan lengan lurus dan manfaatkan
berat tubuh penolong sebagai tenaga agar tidak cepat lelah
e) Lakukan 30 kali kompresi dada secara berirama dan tepat dengan
kedalaman minimal 5 cm dan kecepatan lebih dari 100 kali/ menit
f) Kurangi istirahat selama melakukan kompresi
g) Setelah kompresi 30 kali berikan napas buatan dua kali.
h) Rasio yang dipakai 30: 2 baik untuk 2 penolong maupun 1 penolong.
i) Hentikan kompresi jika:
- Bantuan telah datang
- Penolong kelelahan
- Pasien sadar atau meninggal
15
Penanganan stroke harus secepat mungkin. Stroke yang terlambat
mendapat penanganan akan mengakibatkan kelumpuhan luas dan gangguan
pada kognitif, sehingga diperlukan penanganan yang secepat mungkin untuk
menurunkan angka cacat fisik akibat [Link] tim emergency dari
sejak menerima panggilan hingga siap diberangkatkan harus kurang dari 90
detik. Waktu yang dibutuhkan hingga tim emergency tiba di tempat pasien <8
menit.
Pasien harus segera diantar ke rumah sakit yang memiliki unit stroke
agar dapat diberikan penatalaksanaan yang tepat untuk meminimalkan resiko
dan efek dari stroke yang merugikan. Rumah sakit yang tidak mampu
melakukan prosedur penatalaksaan stroke diharapkan agar segera
menghubungi rumah sakit yang mampu dengan tujuan agar pasien segera
dirujuk dan diberikan penanganan.
16
BAB III
KERANGKA KONSEP
3.3 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan dari suatu penelitian yang harus
diuji kebenarannya. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara tingkat
pengetahuan keluarga dengan perilaku keluarga pada penanganan kejadian awal stroke.
17
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN
1. Kriteria Inklusi
Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subyek penelitian mewakili sampel penelitian yang
memenuhi syarat sebagai sampel/kriteria yang layak diteliti.
18
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:
a) Keluarga dari pasien yang di diagnosa stroke iskemik / non hemoragik yang
dirawat di ruang rawat inap dan rawat jalan.
2. Kriteria Ekslusi
Kriteria ekslusi adalah kriteria dimana subyek penelitian tidak dapat mewakili sampel
karena berbagai hal tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian / mengeluarkan
subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian.
Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah responden yang ada bersama pasien saat
serangan stroke terjadi namun tidak berada ditempat penelitian.
19
kode angka pada lembar pengumpulan data.
3. Nonmaleficence
Nonmaleficence merupakan sesuatu yang tidak merugikan orang lain, dengan kata lain
peneliti harus memperhatikan unsur bahaya atau kerugian bagi pasien yang dapat mengancam
jiwa pasien atau responden dari awal penelitian hingga akhir penelitian. Peneliti tidak
memberikan intervensi kepada responden yang membahayakan. Waktu yang dibutuhkan
untuk mengisi kuesioner rata-rata adalah 10 menit.
4. Confidentiality
Peneliti menjaga kerahasiaan dari data-data responden yang sudah dikumpulkan.
5. Veracity
Penelitian yang dilakukan hendaknya dijelaskan secara jujur tantang manfaat, efek dan apa
yang didapatkan.
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas/
variabel lain.27,28,31,33 Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku keluarga pada
penanganan kejadian awal stroke.
20
b. Peneliti mengurus surat ijin pengambilan data awal dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Bangka.
c. Peneliti mengurus surat ijin pengambilan data awal dan diajukan kepada pihak RSUD
Depati Bahrin Sungailiat.
d. Peneliti mengajukan ijin penelitian untuk melakukan penelitian di RSUD Depati
Bahrin Sungailiat, dengan melampirkan surat pengantar dari Institute Citra Delima
Pangkalpinang.
e. Peneliti mencari responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang
telah ditetapkan oleh peneliti sebelumnya dengan dibantu oleh perawat di ruangan
berdasarkan diagnosa stroke dari catatan medik.
f. Peneliti melakukan informed consent untuk memberikan terkait dengan informasi dan
tekhnis penelitian serta persetujuan dan kesediaan menjadi responden.
g. Setelah responden menyetujui, peneliti memberikan kuesioner kepada responden dan
menjelaskan petunjuk pengisian dan memberikan kesempatan kepada responden
untuk bertanya apabila ada hal yang kurang dimengerti.
h. Peneliti menawarkan untuk membacakan serta mengisikan kuesioner kepada beberapa
responden yang saat penelitian hanya bisa menjawab pertanyaan karena sambil
melayani pasien.
i. Setelah kuesioner selesai diisi, peneliti mengumpulkan dan memeriksa kembali
kelengkapan serta menghitung kuesioner.
21
DAFTAR PUSTAKA
Haryono dan Utami. [Link] Medikal Bedah [Link] : PT. Pustaka Baru
22
Wijaya dan [Link] Medikal Bedah Keperawatan Dewasa Teori dan Contoh
[Link] : Nuha Medika
23