0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan26 halaman

Pengetahuan Keluarga dan Penanganan Stroke

Dokumen ini membahas hubungan antara pengetahuan keluarga dan perilaku keluarga dalam penanganan awal kejadian stroke di RSUD Depati Bahrin Sungailiat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan dan perilaku keluarga terkait stroke, serta pentingnya penanganan cepat untuk mengurangi kecacatan dan kematian. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan bagi keluarga pasien dan institusi pendidikan tentang peran penting pengetahuan dalam penanganan stroke.

Diunggah oleh

Komariah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan26 halaman

Pengetahuan Keluarga dan Penanganan Stroke

Dokumen ini membahas hubungan antara pengetahuan keluarga dan perilaku keluarga dalam penanganan awal kejadian stroke di RSUD Depati Bahrin Sungailiat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan dan perilaku keluarga terkait stroke, serta pentingnya penanganan cepat untuk mengurangi kecacatan dan kematian. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan wawasan bagi keluarga pasien dan institusi pendidikan tentang peran penting pengetahuan dalam penanganan stroke.

Diunggah oleh

Komariah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HUBUNGAN PENGETAHUAN KELUARGA DAN PERILAKU

KELUARGA PADA PENANGANAN AWAL KEJADIAN


STROKE DI RSUD DEPATI BAHRIN
SUNGAILIAT

Dosen Pengampu : Ns. Kurniawan, [Link]., [Link]

Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian

Disusun Oleh :

Komariah ( 2210255P )

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN CITRA DELIMA

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

PROGRAM KONVERSI / SEMESTER V

TAHUN AJARAN

2023
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat
dan Rahmat-Nya lah tugas proposal ini dapat terselesaikan.

Melalui tugas proposal ini kita dapat mengetahui tentang “Hubungan Pengetahuan
Keluarga Dan Perilaku Keluarga Pada Penanganan Awal Kejadian Stroke Di Rsud Depati
Bahrin Sungailiat”. Pembuatan tugas proposal ini menggunakan metode data-data yang kami
peroleh dari beberapa sumber dan pemikiran yang kami gabungkan menjadi sebuah proposal
yang semoga dapat bermanfaat bagi pembaca.
Kami menyadari akan kelemahan dan kekurangan dari tugas proposal ini. Oleh sebab
itu, kami membutuhkan kritik dan saran yang sifatnya membangun, agar tugas proposal ini
akan semakin baik sajiannya

Pangkalpinang, Juni 2023

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..............................................................................................................i


KATA PENGANTAR.............................................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG.......................................................................................................1
1.2 RUMUSAN MASALAH...................................................................................................3
1.3 TUJUAN PENELITIAN..................................................................................................3
1.4 MANFAAT PENELITIAN..............................................................................................4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................................5
2.1 KONSEP DASAR STROKE............................................................................................5
2.2 PERILAKU KELUARGA PENANGANAN STROKE................................................12
BAB III KERANGKA KONSEP...........................................................................................17
3.1 KERANGKA KONSEP....................................................................................................17
3.2 DEFINISI OPERASIONAL............................................................................................17
3.3 HIPOTESIS.......................................................................................................................17
BAB IV METODOLOGI PENELITIAN.............................................................................18
4.1 DESAIN PENELITIAN....................................................................................................18
4.2 POPULASI DAN SAMPEL.............................................................................................18
4.3 TEMPAT DAN WAKTU.................................................................................................19
4.4 ETIKA PENELITIAN......................................................................................................19
4.5 VARIABEL PENELITIAN..............................................................................................20
4.6 TEHNIK PENGUMPULAN DATA................................................................................20
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Stroke saat ini harus dipandang sebagai kedaruratan medis selain serangan
jantung. Keterlambatan untuk mendapatkan pertolongan medis dapat meningkatkan
jumlah kematian dan kecacatan. Data yang didapat dari WHO tahun 2016, stroke
membusnuh satu orang setiap enam detik di dunia. Dengan perkiraan setiap tahun 15
juta orang menderita stroke. Dimana lima juta penderita mengalami kematian dan lima
juta penderita stroke lainnya mengalami kecacatan.
Data dari Riskesdas tahun 2018 ditemukan prevalensi stroke di Indonesia
sebesar 10,9 per 1.000 penduduk. Stroke lebih banyak menyerang pada penderita usia
>75 tahun 50,2 per 1.000 penduduk, pada jenis kelamin laki-laki 11,0 per 1.000
penduduk, penduduk daerah perkotaan 12,6 per 1.000 penduduk, tidak/belum pernah
sekolah 21,2 per 1.000 penduduk dan tidak bekerja 21,8 per 1.000 penduduk.
Berdasarkan profil kesehatan provinsi Jawa Tengah tahun 2015, proporsi kasus baru
penyakit tidak menular khususnya penyakit stroke sebanyak 2,22 %.
Gejala klinis stroke yang timbul tergantung pada berat ringannya gangguan
pembuluh darah dan lokasi. Kejadian stroke diawali dengan gejala berupa muka terasa
tebal, telapak kaki dan tangan kebas/mati rasa, secara mendadak merasa lemas di
bagian lengan atau kaki terutama di satu sisi tubuh saja, kesulitan berjalan, pusing,
hilangnya keseimbangan / koordinasi tubuh secara mendadak, kesulitan untuk
berbicara, mengerti, atau bingung secara tiba-tiba, kesulitan untuk melihat dengan satu
atau dua mata secara mendadak, dan nyeri kepala mendadak tanpa penyebab yang jelas.
Gejala-gejala awal stroke tersebut perlu dikenali agar penanganan stroke
secara dini dapat dilakukan dengan baik dimulai dari penanganan prahospital yang
cepat dan tepat. Keberhasilan penanganan stroke akut dimulai dari pengetahuan
masyarakat dan petugas kesehatan, bahwa stroke merupakan keadaan gawat darurat
sehingga penanganan stroke dapat dilakukan secepat mungkin. Penanganan stroke
harus dilakukan secara dini oleh keluarga. Keluarga diharapkan mempunyai
pengetahuan dalam mengenali tanda awal stroke sehingga dapat mengambil keputusan
untuk segera membawa pasien ke fasilitas kesehatan atau memanggil tim emergency.
Penatalaksanaan stroke secara umum dilakukan untuk menurunkan angka
kesakitan, kecacatan dan kematian. Stroke yang terlambat mendapat penanganan akan
1
mengakibatkan kelumpuhan luas dan gangguan pada kognitif. Seperempat dari jumlah
penderita stroke iskemik yang dirawat di rumah sakit adalah setelah enam jam
serangan. Efektifitas dari tindakan akan semakin menurun jika semakin lama tenggang
waktu antara serangan stroke dan penanganan awal. Keberhasilan tindakan sangat
tergantung terhadap upaya meminimalkan keterlambatan untuk segera diantar ke
fasilitas kesehatan.
Terlambatnya penanganan terhadap kejadian stroke sekitar 83,9%
disebabkan oleh keterlambatan pra rumah sakit. Penyebab pertama keterlambatan
sebanyak 62,3% karena kurangnya pengetahuan keluarga tentang faktor resiko dan
peringatan gejala stroke sehingga menyepelekan tanda-tanda dini stroke, keluarga dan
penderita berharap gejala dan tanda akan menghilang 2,7% serta sebanyak 7,1%
penderita stroke yang tinggal sendiri, penderita yang tinggal jauh dari sarana
kesehatan/masalah demografi, serta ketiadaan sarana transportasi dan masalah
ekonomi.
Penelitian oleh Hariyanti menjelaskan bahwa peran keluarga dalam
penanganan awal kejadian stroke sangat membantu dalam mengatasi masalah
keterlambatan penanganan stroke. Ada beberapa tindakan yang dilakukan keluarga
pada saat kejadian stroke antara lain penderita langsung diantar kerumah sakit agar
segera mendapatkan penanganan, diantar terlebih dahulu ke petugas kesehatan (dokter,
perawat, bidan) maupun non petugas kesehatan (tukang pijit, pengobatan herbal,
paranormal) sebelum ke rumah sakit, ataukah diantar ke petugas kesehatan dan non
kesehatan tanpa dibawa ke rumah sakit. Keterlambatan manajemen stroke akut dapat
terjadi pada beberapa tingkat. Pada tingkat populasi, hal ini dapat terjadi karena
ketidaktahuan keluhan stroke dan kontak pelayanan gawat darurat. Keterlambatan
pertolongan pada fase prahospital harus dihindari dengan pengenalan keluhan dan
gejala stroke bagi pasien dan orang terdekat. Pada setiap kesempatan, pengetahuan
mengenai keluhan stroke, terutama pada kelompok resiko tinggi (hipertensi, atrial
fibrilasi, kejadian vaskuler lain dan diabetes) perlu disebarluaskan. Seseorang yang
mempunyai pengetahuan yang kurang tentang faktor resiko dan peringatan gejala
stroke cenderung terlambat memberikan penanganan awal terhadap stroke.
Penelitian yang dilakukan oleh Rachmawati didapatkan rata-rata
keterlambatan kedatangan penderita ke instalasi gawat darurat sekitar 23 jam 12 menit
(87,9 %) setelah serangan stroke, hal ini dikarenakan keluarga pasien tidak mengetahui
jika stroke merupakan keadaan gawat darurat yang memerluhkan pertolongan segera
2
sehingga cenderung tidak segera diantar ke fasilitas kesehatan atau mencari
pertolongan. Keluarga diharapkan agar mempunyai pengetahuan yang baik tentang
peringatan gejala stroke, mampu mengenali dan menginterpretasikan stroke dengan
segera mengantar pasien ke fasilitas kesehatan/mencari bantuan kesehatan, segera
mengaktivasi layanan gawat darurat (EMS) dan mengantar penderita ke instalasi gawat
darurat.
Pengalaman aktual dari tempat kerja peneliti didapatkan bahwa pasien yang
diantar ke Puskesmas atau rumah sakit kurang lebih enam jam bahkan sampai satu atau
dua hari setelah serangan stroke. Hal ini dikarenakan ketidaktahuan keluarga yang
mengira bahwa itu hanya gejala lemas pada anggota gerak dan keluarga tidak
mengetahui tindakan apa yang harus dilakukan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang “Hubungan antara pengetahuan keluarga dengan perilaku keluarga
pada penanganan awal kejadian stroke di RSUD Depati Bahrin Sungailiat”.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
“Bagaimana hubungan antara pengetahuan keluarga dengan perilaku keluarga pada
penanganan awal kejadian stroke di RSUD Depati Bahrin Sungailiat”.

1.3 Tujuan Penelitian


a. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan keluarga
dengan perilaku keluarga pada penanganan awal kejadian stroke.
b. Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi gambaran pengetahuan keluarga tentang faktor resiko dan gejala
awal stroke.
2. Mengidentifikasi gambaran perilaku keluarga pada penanganan awal kejadian
stroke.
3. Mengetahui hubungan antara pengetahuan keluarga dengan perilaku keluarga
pada penanganan awal kejadian stroke.

3
1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi Peneliti
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan peneliti dalam merencanakan,
melaksanakan dan menyusun suatu penelitian ilmiah serta memberikan pengalaman
dalam mengaplikasikan ilmu keperawatan berkaitan dengan pentingnya peran
keluarga dalam menangani kejadian awal stroke.
b. Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini dapat dijadikan referensi dalam bidang keperawatan khususnya
mengenai pemenuhan peran keluarga dalam penanganan awal kejadian stroke.
Sehingga mahasiswa dapat memberikan penjelasan kepada penderita dan keluarga
tentang pentingnya penanganan cepat kasus stroke untuk mengurangi kecacatan dan
menghindari kematian.
c. Bagi Keluarga Pasien
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai sebagai gambaran bagi pasien dan keluarga
mengenai pentingnya penanganan cepat terhadap kejadian stroke agar menghindari
kecacatan permanen bahkan kematian.

4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Stroke


1. Definisi Stroke
Stroke adalah gangguan peredaran darah di otak yang menyebabkan terjadinya
kematian jaringan otak sehingga mengakibatkan penderita menderita kelumpuhan
atau bahkan kematian (Batticaca, 2008 dalam Haryono dan Utami, 2019). Stroke
adalah gangguan peredaran darah otak yang menyebabkan defisit neurologis
mendadak sebagai akibat iskemia atau hemoragi sirkulasi saraf otak (Sudoyo Aru
dalam Nurarif dan Kusuma, 2015). Stroke adalah adanya tanda-tanda klinik yang
berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau global) dengan gejala-
gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang menyebabkan kematian tanpa
adanya penyebab lain yang jelas selain vaskular (WHO dalam Nugroho, dkk, 2016).

2. Klasifikasi Stroke
Wijaya dan Putri (2013) stroke dapat diklasifikasikan menurut patologi dan gejala
kliniknya yaitu :
a. Stroke Haemorhagi
Merupakan perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid.
Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu.
Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga
terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun. Stroke haemoragik
adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh perdarahan primer
substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena trauma kapitis,
disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena dan kapiler (Widjaja,
1994 dalam Wijaya dan Putri, 2013).
b. Stroke Non Haemorhagic (CVA Infark)
Dapat berupa iskemia atau emboli thrombosis serebral, biasanya terjadi
saat setelah lama beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadi
perdarahan namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnya
dapat timbul edema sekunder. Kesadaran umumnya baik.
Menurut perjalanan penyakit atau stadiumnya :
1) TIA (Transient Iskemik Attack)
5
Gangguan nuerologis setempat yang terjadi selama beberapa menit
sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan
sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.
2) Stroke Involusi
Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan
neurologis terlihat semakin berat dan bertambah buruk. Proses dapat berjalan
24 jam atau beberapa hari.
3) Stroke Komplit
Gangguan neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen.
Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali oleh serangan TIA
berulang.

3. Etiologi Stroke
Haryono dan Utami (2019), manifestasi klinis stroke yaitu dapat disebabkan
oleh arteri yang tersumbat atau bocor (stroke iskemik) dan dapat disebabkan oleh
pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Beberapa orang mungkin mengalami
gangguan sementara aliran darah ke otak (transient ischemia attack atau TIA) yang
tidak menyebabkan kerusakan permanen.
a. Stroke Iskemik
Stroke 80% kasus stroke adalah stroke iskemik, stroke iskemik terjadi
ketika arteri ke otak menyempit atau terhambat, menyebabkan aliran darah sangat
berkurang (iskemia). Stroke dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut :
1) Stroke trombilitik, stroke trombolitik terjadi ketika gumpalan darah (trombus)
terbentuk di salah satu arteri yang memasok darah ke otak. Gumpalan tersebut
disebabkan oleh deposit lemak (plak) yang menumpuk di arteri dan
menyebakan aliran darah berkurang (arterosklerosis) atau kondisi arteri
lainnya.
2) Stroke embolik, stroke embolik terjadi ketika gumpalan darah atau debris
lainnya menyebar dari otak dan tersapu melalui aliran darah. Jenis gumpalan
darah ini disebut embolus. Stroke embolik berkembang setelah oklusi arteri
oleh embolus yang terbentuk di luar otak. Sumber umum embolus yang
menyebabkan stroke ialah jantung setelah infark miokardium atau fiblirasi
atrium, dan embolus yang merusak arteri karotis komunis atau aorta (Corwin,
2009 dalam Haryono dan Utami, 2019).
6
b. Stroke Hemoragik
Stroke hemoragik terjadi ketika pembuluh darah di otak bocor atau pecah.
Pendarahan otak dapat disebabkan oleh banyak kondisi yang memengaruhi
pembuluh darah antara lain :
1) Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol (hipertensi)
2) Overtreatment dengan antikoagulan (pengencer darah)
3) Melemahnya dinding pembuluh darah (aneurisma)
c. Serangan Iskemik Transien (TIA)
Transient Ischemic Attack (TIA) adalah periode sementara dari gejala yang
mirip dengan gejala stroke. Penurunan sementara pasokan darah ke bagian otak
menyebabkan TIA dan biasanya berlangsung ± 5 menit. Seperti stroke iskemik,
TIA terjadi ketika bekuan atau debris menghalangi aliran darah ke bagian sistem
saraf. Namun, pada kasus TIA tidak ada kerusakan jaringan permanen dan tidak
ada gejala menetap. Mengalami TIA membuat beresiko lebih besar untuk
mengalami stroke yang sebenarnya dan dapat menyebabkan kerusakan permanen.
Jika seseorang mengalami TIA, kemungkinan ada arteri yang tersumbat atau
menyempit yang mengarah ke otak atau sumber gumpalan jantung.

4. Manifestasi Klinis Stroke


Haryono dan Utami (2019), manifestasi klinis stroke adalah sebagai berikut :
a. Kesulitan berbicara dan kebingungan. Pasien mengalami kesulitan untuk
mengucapkan kata-kata dan atau mengalami kesulitan memahami ucapan.
b. Kelumpuhan atau mati rasa pada wajah, lengan atau kaki. Penderita stroke bisa
mengalami mati rasa tiba-tiba, kelemahan atau kelumpuhan di wajah, lengan atau
kaki. Hal ini sering terjadi di satu sisi tubuh.
c. Kesulitan melihat dalam satu atau kedua mata. Penderita stroke akan mengalami
gangguan penglihatan, seperti pandangan kabur atau hitam di satu atau kedua
mata.
d. Sakit kepala. Sakit kepala yang tiba-tiba dan parah, yang mungkin disertai dengan
muntah, pusing atau perubahan kesadaran mungkin menunjukan seseorang
mengalami stroke.
e. Kesulitan berjalan. Penderita stroke mungkin tersandung atau mengalami pusing
mendadak, kehilangan keseimbangan atau kehilangan koordinasi.

7
5. Komplikasi
Pasien yang mengalami gejala berat rentan terhadap komplikasi diantaranya:
a. Pneumonia, aspirasi yang berkaitan dengan kehilangan refleks jalan napas,
imobilitas atau hipoventilasi.
b. Septikemia akibat ulkus dekubitus/ infeksi saluran kemih
Keadaan ini diakibatkan karena berbaring terlalu lama dan malas berpindah posisi yang
menyebabkan luka lecet dan infeksi pada bagian tubuh yang sering menjadi tumpuan
berbaring seperti panggul, pantat dan kaki.
c. Trombosis vena dalam (deep vein thrombosis),
Terhentinya gerakan otot tungkai sehingga aliran didalam pembuluh darah vena
tungkai terganggu yang meningkatkan resiko untuk terjadinya penggumpalan darah
pada tungkai yang mengalami kelumpuhan.
d. Emboli paru, Infark miokard, aritmia jantung, dan gagal jantung
e. Ketidakseimbangan cairan
f. Hipertensi/ hipotensi
Peningkatan TIK pada stroke menyebabkan terjadinya penekanan pada batang otak
sehingga batang otak mengalami iskemik dan neuron penghambat simpatik dibatang
otak menjadi tidak aktif dan kerja saraf simpatik meningkat yang mengakibatkan
tekanan sistemik meningkat.
g. Kejang
Kejang terjadi akibat lepas muatan paroksimal yang berlebihan dari suatu populasi
neuron yang sangat mudah terpicu sehingga mengganggu fungsi normal otak.
h. Peningkatan Tekanan Intra Kranial (TIK)
Ruangan intrakranial ditempati oleh jaringan otak, darah dan cairan serebrospinalis.
i. Kontraktur, tonus otot abnormal
j. Malnutrisi
k. Inkontinentia urine, bowel
Diakibatkan karena konfusi, ketidakmampuan mengkomunikasikan kebutuhan, dan
ketidakmampuan untuk menggunakan urinal/bedpan karena kerusakan kontrol motorik
dan postural. Kandung kemih menjadi atonik, dengan kerusakan sensasi dalam respons
terhadap pengisian kandung kemih. Kontrol sfingter urinarius eksternal
hilang/berkurang.

8
Faktor-faktor yang mempunyai kontribusi pada disabilitas jangka panjang, meliputi:
a. Ulkus dekubitus
Keadaan ini diakibatkan karena berbaring terlalu lama dan malas berpindah posisi yang
menyebabkan luka lecet dan infeksi pada bagian tubuh yang sering menjadi tumpuan
berbaring seperti panggul, pantat dan kaki.
b. Epilepsi
Terjadi akibat jaringan otak normal di bawah kondisi patologik tertentu seperti
perubahan keseimbangan asam-basa atau elektrolit.
c. Jatuh berulang dan fraktur
d. Spastisitas dengan nyeri, kontraktur dan kekakuan sendi bahu (frozen shoulder)
Keadaan ini diakibatkan oleh imobilisasi sendi dalam jangka waktu yang lama karena
tidak adanya perbaikan fungsi motoris mengakibatkan terjadinya pertumbuhan jaringan
ikat pada capsul sendi yang menyebabkan sendi sulit untuk digerakkan.
e. Depresi
Terjadi akibat penderita stroke merasa tidak mampu menjalani hidupnya serta tidak
mendapat dukungan dari keluarga.

6. Penatalaksanaan
Tarwoto (2013), penalaksanaan dari stroke adalah sebagai berikut:
a. Penatalaksanaan Umum
1) Pada Fase Akut
a) Terapi cairan, pada fase akut beresiko terjadi dehidrasi karena penurunan
kesadaran atau mengalami disfagia. Terapi cairan ini penting untuk
mempertahankan sirkulasi darah dan tekanan darah. The American heart
Association sudah menganjurkan normal saline 50 ml/jam selama jam-jam
pertama stroke iskemik akut. Segera setalah hemodinamik stabil, terapi
cairan rumatan bisa diberikan sebagai KAEN 3B / KAEN 3A. Kedua
larutan ini lebih baik pada dehidrasi hipertonik serta memenuhi kebutuhan
hemeostasis kalium dan natrium. Setelah fase akut stroke, larutan rumatan
bisa diberikan untuk memelihara homeostasis elektrolit, khususnya kalium
dan natrium.
b) Terapi oksigen, pasien stroke iskemik dan hemoragik mengalami
gangguan aliran darah ke otak. Sehingga kebutuhan oksigen sangat penting
untuk mengurangi hipoksia dan juga untuk mempertahankan metabolisme

9
otak. Pertahankan jalan napas, pemberian oksigen, penggunaan ventilaor
merupakan tindakan yang dapat dilakukan sesuai hasil pemeriksaan analisa
gas darah atau oksimetri
c) Penatalaksanaan peningkatan tekanan intrakranial, biasanya disebabkan
karena edema serebri, oleh karena itu pengurangan edema penting
dilakukan misalnya dengan pemberian manitol, kontrol atau pengendalian
tekanan darah.
d) Monitor fungsi pernapasan yaitu analisa gas darah.
e) Monitor jantung dan tanda-tanda vital, pemeriksaan EKG.
f) Evaluasi status cairan dan elektrolit.
g) Kontrol kejang jika ada dengan pemberian antikonvulsan dan cegah resiko
injuri.
h) Lakukan pemasangan NGT untuk mengurangi kompresi lambung dan
pemberian makanan.
i) Cegah paru dan tromboplebitis dengan antikoagulan.
j) Monitor tanda-tanda neurologi seperti tingkat kesadaran, keadaan pupil,
fungsi sensorik dan motorik, nervus kranial dan refleks.
2) Fase Rehabilitasi
a) Pertahankan nutrisi yang adekuat.
b) Program managemen bladder dan bowel.
c) Mempertahankan keseimbangan tubuh dan rentang gerak sendi (ROM).
d) Pertahankan integriti kulit.
e) Pertahankan komunikasi yang efektif.
f) Pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
g) Persiapan pasien pulang.
b. Pembedahan
Dilakukan jika perdarahan serebrum diameter lebih dari 3 cm atau volume
lebih dari 50 ml untuk dekompresi atau pemasangan pintasan ventrikulo-
peritoneal bila ada hidrosefalus obstruktif akut.
c. Terapi Obat – Obatan
Terapi pengobatan tergantung dari jenis stroke :
1. Stroke Iskemia
a) Pemberian trombolisis dengan rt-PA (recombinant tissue-plasminogen).

10
b) Pemberian obat-obatan jantung seperti digoksin pada aritmia jantung atau
alfa beta, kaptopril, antagonis kalsium pada pasien dengan hipertensi.
2. Stroke Haemoragik
a) Antihipertensi : kaptopril, antagonis kalsium.
b) Diuretik : manitol 20%, furosemide.
c) Antikonvulsan : fenitorin.

7. Pencegahan Stroke
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk menghindari terjadinya stroke antara
lain:
a. Berhenti merokok
Merokok sangat besar perannya dalam meningkatkan tekanan darah, karena nikotin yang
terdapat didalam rokok yang memacu hormon adrenalin serta menyempitkan pembuluh
darah yang menyebabkan tekanan darah meningkat.
b. Manipulasi diet (rendah lemak hewani, rendah garam, menghindari konsumsi
alkohol berlebihan)
Beberapa penelitian menunjukan bahwa beberapa mineral bermanfaat mengatasi
hipertensi. Kalium dibuktikan erat kaitannya dengan penurunan tekanan darah arteri
dan menurunkan resiko terjadinya stroke.
c. Penggunaan obat- obat penurun kolesterol
d. Rutin mengontrol tekanan darah
e. Sebisa mungkin lakukan pemerisaan darah minimal sebulan sekali. Apabila ditemukan
tekanan darah cenderung meningkat dapat mengantisipasi resiko stroke dengan cepat.
Keluarga perluh diberi edukasi mengenai gejala-gejala stroke serta penatalaksanaan
secara dini. Seringkali pasien yang mengalami tanda dan gejala stroke menunggu
beberapa jam sebelum mencari perawatan karena percaya bahwa gejala tersebut akan
menghilang.24 Keluarga diharapkan agar mempunyai pengetahuan yang baik tentang
peringatan gejala stroke, mampu mengenali dan menginterpretasikan stroke dengan
segera mengantar pasien ke fasilitas kesehatan/ mencari bantuan kesehatan.

8. Konsep Dasar Pengetahuan


Pengetahuan merupakan hasil tahu yang terjadi setelah orang melakukan
pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengetahuan/kognitif merupakan hal yang
sangat penting/mendasari proses perubahan untuk terbentuknya tindakan seseorang
(overt behaviour). Tingkat pengetahuan sesorang secara rinci terdiri dari enam

11
tingkatan, yaitu:
a. Tahu / Know
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya
termasuk mengingat kembali/recall terhadap sesuatu yang spesifik dari seluruh
bahan yang dipelajari/rangsang yang diterima. Tahu merupakan tingkatan
pengetahuan yanag paling rendah.
b. Memahami/ Comprehension
Merupakan suatu kemampuan untuk memjelaskan secara benar tentang obyek
yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi secara benar, dapat
menyebutkan contoh, menyimpulkan dan meramalkan obyek yang dipelajari.
c. Aplikasi/ Apllication
Merupakan suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari
pada situasi/ kondisi real atau yang sebenarnya. Dapat menggunakan rumus,
metode serta prinsip dalam situasi yang lain.
d. Analisis/ Analysis
Merupakan kemampuan untuk menjabarkan materi/obyek didalam struktur
organisasi dan masih ada kaitannya satu dengan yang lain (dapat menggambarkan,
membedakan, memisahkan serta mengelompokkan).
e. Sintesis/ Synthesis
Merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan/ menghubungkan bagian-bagian
didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Kemampuan untuk menyusun suatu
formasi-formasi yang ada.
f. Evaluasi/ Evaluation
Merupakan pengetahuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi/obyek.
Penilaian-penilaian yang dilakukan berdasarkan suatu kriteria yang telah ada.

2.2 Perilaku Keluarga Penanganan Stroke


1. Defenisi Perilaku Keluarga
Perilaku merupakan kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh individu yang
bersangkutan. Aktivitas tersebut ada yang diamati secara langsung dan tidak
langsung. Perilaku merupakan suatu respon organisme/ seseorang terhadap
rangsangan/ stimulus dari luar objek tersebut.
Pengetahuan dan sikap merupakan respon seseorang terhadap
stimulus/rangsangan yang masih bersifat terselubung/covert behavior. Sedangkan
12
tindakan nyata seseorang sebagai respon seseorang terhadap stimulus/praktik yang
disebut over behaviour.

2. Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku


Faktor- faktor yang mempengaruhi perilaku terdiri atas:
a. Faktor predisposisi / Predisposing factors, yang terwuju dalam pengetahuan,
sikap, kepercayaan, keyakinan serta nilai- nilai.
b. Faktor pendukung/Enabling factors, terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia
atau tidaknya fasilitas / sarana kesehatan.
c. Faktor pendorong/Reinforcing factors yang terwujud dalam sikap dan perilaku
petugas kesehatan/ petugas lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku
seseorang yang bersangkutan.

Perubahan perilaku dalam diri seseorang dapat terjadi melalui proses belajar. Sebelum
orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), dalam diri orang tersebut terjadi
proses yang berurutan, yakni:
a. Kesadaran/awareness, dimana orang tersebut menyadari/mengetahui terlebih
dahulu stimulasi/objek.
b. Merasa tertarik/interest terhadap stimulasi/objek tersebut. Dimana sikap subjek
sudah mulai timbul.
c. Menimbang- nimbang/evaluation terhadap baik atau tidaknya stimulus tersebut
terhadap dirinya. Sikap responden sudah lebih baik.
d. Trial, dimana subjek sudah mulai melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang
dikehendaki oleh stimulus.
e. Adoption, dimana subjek telah berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan,
kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus.

3. Perilaku Keluarga dalam Penanganan Awal Stroke


The golden period merupakan waktu yang terbaik untuk memberikan
pertolongan kepada pasien stroke. Setelah tiga jam kejadian awal stroke, diharapkan
pasien yang terserang stroke segera mendapatkan penanganan medis yang memadai
untuk mencegah cacat permanen bahkan kematian.
Sebelum pasien diantar kerumah sakit, keluarga atau orang terdekat pasien
perlu melakukan tindakan pertolongan sementara untuk menyelamatkan nyawa pasien

13
yaitu:
a. Tenangkan diri, periksa napasnya, jika tidak ada pergerakan segera memanggil
ambulance atau tenaga medis untuk memberikan pertolongan kepada pasien
sesegera mungkin di tempat kejadian.
b. Sebelum pertolongan medis datang, keluarga dapat melakukan pertolongan awal
dengan membaringkan pasien di tempat yang aman dan melakukan prosedur
sebagai berikut:
1) Baringkan dengan hati-hati di tempat tidur yang rata dan mengatur posisi
kepala (ditinggikan 300 ) sambil tubuh pasien diselimuti hingga sebatas
pundak
2) Jika pasien dalam kondisi sadar, tenangkan diri pasien sambil menunggu
pertolongan medis datang.
3) Jika stroke didahului jatuh sehingga menyebabkan perdarahan, hentikan
perdarahan dengan menekan pada bagian yang mengalami perdarahan selama
5 menit.
4) Jika pasien memakai gigi palsu, maka lepaskan terlebih dahulu gigi palsu
tersebut untuk memudahkan jalan napas baginya.
c. Ketika seseorang diduga mengalami serangan stroke maka harus dilakukan
pengecekan sederhana yang disingkat FAST (Face, Arms, Speech, Time).
Segera diperhatikan wajah pasien apakah ada yang tertarik sebelah (tidak
simetris), meminta pasien mengangkat tangan, berbicara, serta memperhatikan
kapan dimulainya serangan itu. Apabila ditemukan wajah yang tidak simetris,
tangan yang tidak dapat diangkat dan bicara tidak jelas, maka selanjutnya harus
segera menghubungi petugas kesehatan/mengirim pasien ke sarana kesehatan.
d. Jika pasien tidak sadar, maka Ketika pasien baru mengalami stroke sebelum di
antar ke rumah sakit, yang pertama kali dilakukan oleh keluarga yaitu
melakukan pertolongan darurat dengan cara membaringkan pasien di suatu
tempat yang rata dan keras, misalnya lantai atau kasur yang keras sambil
mengamati tanda- tanda visual pada diri pasien untuk melakukan tindakan ABC
(Airway, breathing and circulation).
1) Airway: Tindakan untuk memperlancar jalan napas pasien, dengan cara:
a) Membuka jalan napas pasien, dengan cara:

14
- Meletakkan satu tangan penolong pada dahi korban, dan ujung
telunjuk dan jari tengah tangan yang lain diletakkan dibawah dagu
pasien.
- Gunakan tangan untuk mendorong kepala ke belakang dan ujung
jari untuk mengangkat dagu pasien dan menyokong rahang bawah.
b) Hilangkan sumbatan, jika ada sumbatan /obstruksi seperti gigi palsu,
makanan, cairan atau lidah yang jatuh kebelakang.
2) Breathing: Menambahkan pasokan oksigen lewat hidung/ mulut, dengan cara:
a) Perhatikan gerakan dada, dengarkan aliran udara.
b) Membuka mulut pasien lebar- lebar, menempatkan mulut penolong
mengelilingi mulut korban.
c) Menekan lubang hidung pasien sehingga hidungnya tertutup
d) Menghembuskan napas ke dalam mulut pasien hingga terlihat
pengembangan dada.
3) Chest compression
Sebelum melakukan chest compression (kompresi dada) perhatikan napas
pasien. Jika pasien tudak bernapas atau bernapas tidak normal maka segera
lakukan kompresi dada, dengan cara:
a) Berlutut disamping pasien
b) Tentukan titik kompresi, yakni di tulang dada setinggi kedua puting pada
laki- laki atau 1/3 bagian bawah tulang dada.
c) Lakukan kompresi dengan kedua tangan yang saling mengunci
d) Posisikan tubuh vertikal diatas pasien dengan lengan lurus dan manfaatkan
berat tubuh penolong sebagai tenaga agar tidak cepat lelah
e) Lakukan 30 kali kompresi dada secara berirama dan tepat dengan
kedalaman minimal 5 cm dan kecepatan lebih dari 100 kali/ menit
f) Kurangi istirahat selama melakukan kompresi
g) Setelah kompresi 30 kali berikan napas buatan dua kali.
h) Rasio yang dipakai 30: 2 baik untuk 2 penolong maupun 1 penolong.
i) Hentikan kompresi jika:
- Bantuan telah datang
- Penolong kelelahan
- Pasien sadar atau meninggal

15
Penanganan stroke harus secepat mungkin. Stroke yang terlambat
mendapat penanganan akan mengakibatkan kelumpuhan luas dan gangguan
pada kognitif, sehingga diperlukan penanganan yang secepat mungkin untuk
menurunkan angka cacat fisik akibat [Link] tim emergency dari
sejak menerima panggilan hingga siap diberangkatkan harus kurang dari 90
detik. Waktu yang dibutuhkan hingga tim emergency tiba di tempat pasien <8
menit.
Pasien harus segera diantar ke rumah sakit yang memiliki unit stroke
agar dapat diberikan penatalaksanaan yang tepat untuk meminimalkan resiko
dan efek dari stroke yang merugikan. Rumah sakit yang tidak mampu
melakukan prosedur penatalaksaan stroke diharapkan agar segera
menghubungi rumah sakit yang mampu dengan tujuan agar pasien segera
dirujuk dan diberikan penanganan.

16
BAB III
KERANGKA KONSEP

3.1 Kerangka Konsep

Variabel Independen Variabel Dependen

Pengetahuan keluarga Perilaku Keluarga pada


tentang penanganan penanganan awal stroke
awal stroke

3.2 Definisi Operasional


Stroke adalah gangguan peredaran darah di otak yang menyebabkan terjadinya kematian
jaringan otak sehingga mengakibatkan penderita menderita kelumpuhan atau bahkan
kematian

3.3 Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara atas pertanyaan dari suatu penelitian yang harus
diuji kebenarannya. Hipotesis dalam penelitian ini adalah ada hubungan antara tingkat
pengetahuan keluarga dengan perilaku keluarga pada penanganan kejadian awal stroke.

17
BAB IV
METODOLOGI PENELITIAN

4.1 Desain Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif non eksperimen dengan


menggunakan rancangan penelitian korelasi yaitu mengkaji hubungan antara variabel atau
penelitian yang mengungkapkan hubungan korelasi antar variabel. Desain yang
digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional dimana waktu pengukuran /
observasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada satu saat dan tidak
ada follow up. Rancangan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
pengetahuan keluarga dan perilaku keluarga dalam penanganan awal kejadian stroke di
RSUD Depati Bahrin Sungailiat.

4.2 Populasi dan Sampel


a. Populasi
Populasi adalah Keseluruhan subyek atau obyek dengan karakteristik tertentu
yang akan. Populasi dari penelitian ini adalah keluarga pasien stroke yang menjalani
pengobatan di instalasi rawat jalan dan rawat inap RSUD Depati Bahrin Sungailiat.
Data yang didapatkan dari rekam medik RSUD Depati Bahrin Sungailiat bahwa
pasien stroke non hemoragik yang berobat di instalasi rawat inap dan rawat jalan
sebanyak 570 orang, jadi rata-rata pasien yang berobat tiap bulan sebanyak 95 orang.
b. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang diambil dengan menggunakan cara- cara
tertentu. Sampel adalah bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari
karakteristik yang dimiliki oleh populasi. kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan
kriteria eksklusi, dimana kriteria tersebut menentukan dapat dan tidaknya sampel
tersebut digunakan.

1. Kriteria Inklusi

Kriteria inklusi adalah kriteria dimana subyek penelitian mewakili sampel penelitian yang
memenuhi syarat sebagai sampel/kriteria yang layak diteliti.

18
Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah:

a) Keluarga dari pasien yang di diagnosa stroke iskemik / non hemoragik yang
dirawat di ruang rawat inap dan rawat jalan.

b) Keluarga dari pasien yang baru pertama kali mengalami stroke

c) Ada bersama pasien saat serangan stroke terjadi

d) Berusia 18 tahun keatas

e) Dapat membaca dan menulis

2. Kriteria Ekslusi
Kriteria ekslusi adalah kriteria dimana subyek penelitian tidak dapat mewakili sampel
karena berbagai hal tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian / mengeluarkan
subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan tidak dapat diikutsertakan dalam penelitian.
Kriteria ekslusi dalam penelitian ini adalah responden yang ada bersama pasien saat
serangan stroke terjadi namun tidak berada ditempat penelitian.

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Umum Depati Bahrin Sungailiat. Penelitian ini
dilakukan pada Tahun 2023.

4.4 Etika Penelitian


Prinsip- prinsip etika penelitian menurut American Nursing Association (ANA) adalah:
1.
Otonomi
Otonomi merupakan kebebasan seseorang dalam menentukan nasibnya sendiri/
independen. Hak seseorang untuk memilih apakah ia disertakan atau tidak sebagai
responden dalam suatu penelitian dengan memberikan persetujuannya atau tidak
dalam informed consent. Informed consent merupakan suatu bentuk persetujuan
antara peneliti dengan subyek penelitian (responden) setelah responden mendapatkan
keterangan yang jelas mengenai perlakuan dan dampak yang timbul pada penelitian
yang dilakukan.31 Dalam penelitian ini ada beberapa responden yang menolak dan
peneliti memberikan kebebasan kepada responden untuk menyetujui atau menolak
Informed consent yang diajukan.
2. Anonymity (Tanpa Nama)
Peneliti tidak mencantumkan nama/ inisial maupun alamat responden pada lembar alat ukur
penelitian yang digunakan agar kerahasiaan dari responden terjaga. Peneliti hanya menulis

19
kode angka pada lembar pengumpulan data.
3. Nonmaleficence
Nonmaleficence merupakan sesuatu yang tidak merugikan orang lain, dengan kata lain
peneliti harus memperhatikan unsur bahaya atau kerugian bagi pasien yang dapat mengancam
jiwa pasien atau responden dari awal penelitian hingga akhir penelitian. Peneliti tidak
memberikan intervensi kepada responden yang membahayakan. Waktu yang dibutuhkan
untuk mengisi kuesioner rata-rata adalah 10 menit.
4. Confidentiality
Peneliti menjaga kerahasiaan dari data-data responden yang sudah dikumpulkan.
5. Veracity
Penelitian yang dilakukan hendaknya dijelaskan secara jujur tantang manfaat, efek dan apa
yang didapatkan.

4.5 Variabel Penelitian


Variabel merupakan karakteristik subyek penelitian yang diamati yang mempunyai nilai dan
merupakan operasionalisasi dari suatu konsep agar dapat diteliti secara empiris atau ditentukan
tingkatannya.27,31 Variabel merupakan konsep dari berbagai level abstrak yang didefinisikan
sebagai suatu fasilitas untuk pengukuran dan manipulasi suatu penelitian. Pada penelitian ini
menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel terikat.
a. Variabel Bebas/ Independen
Variabel bebas adalah variabel yang menjadi sebab perubahan atau mempengaruhi/
dimanipulasi oleh peneliti untuk menciptakan suatu dampak/ sebab perubahan pada variabel
terikat. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat pengetahuan keluarga pasien
stroke.

b. Variabel Terikat/ Dependen

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena variabel bebas/
variabel lain.27,28,31,33 Variabel terikat dalam penelitian ini adalah perilaku keluarga pada
penanganan kejadian awal stroke.

4.6 Teknik Pengumpulan Data


Merupakan suatu proses pendekatan kepada subyek dan proses pengumpulan
karakteristik subyek yang diperluhkan dalam suatu penelitian.
Cara pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
a. Peneliti mengajukan ijin permohonan pengambilan data awal untuk studi
pendahuluan.

20
b. Peneliti mengurus surat ijin pengambilan data awal dari Dinas Kesehatan Kabupaten
Bangka.
c. Peneliti mengurus surat ijin pengambilan data awal dan diajukan kepada pihak RSUD
Depati Bahrin Sungailiat.
d. Peneliti mengajukan ijin penelitian untuk melakukan penelitian di RSUD Depati
Bahrin Sungailiat, dengan melampirkan surat pengantar dari Institute Citra Delima
Pangkalpinang.
e. Peneliti mencari responden yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang
telah ditetapkan oleh peneliti sebelumnya dengan dibantu oleh perawat di ruangan
berdasarkan diagnosa stroke dari catatan medik.
f. Peneliti melakukan informed consent untuk memberikan terkait dengan informasi dan
tekhnis penelitian serta persetujuan dan kesediaan menjadi responden.
g. Setelah responden menyetujui, peneliti memberikan kuesioner kepada responden dan
menjelaskan petunjuk pengisian dan memberikan kesempatan kepada responden
untuk bertanya apabila ada hal yang kurang dimengerti.
h. Peneliti menawarkan untuk membacakan serta mengisikan kuesioner kepada beberapa
responden yang saat penelitian hanya bisa menjawab pertanyaan karena sambil
melayani pasien.
i. Setelah kuesioner selesai diisi, peneliti mengumpulkan dan memeriksa kembali
kelengkapan serta menghitung kuesioner.

21
DAFTAR PUSTAKA

[Link] Keperawatan [Link] : Pustaka Mahardika

Bararah dan [Link] Keperawatan Panduan Lengkap Menjadi Perawat


Profesional Jilid [Link] : Prestasi Pustakaraya

Dion dan Betan.2013. Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep dan [Link] :


Nuha Medika

Haryono dan Utami. [Link] Medikal Bedah [Link] : PT. Pustaka Baru

Herdman & [Link] International Inc. Diagnosis Keperawatan : Definisi


Klasifikai [Link] : EGC

Kementrian Kesehatan RI. Laporan Nasional Riskesdas.2018. (Online)


([Link]
[Link] )

Lukman dan [Link] Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Sistem


[Link] : Salemba Medika

Novieastari & [Link] dasar : Manual Keterampilan [Link] :


Elsevier

[Link] Ajar : Keperawatan Keluarga. Yogyakarta : Nuha Medika

Potter & [Link] Of Nursing Fundamental [Link] :


Salemba Medika

Riyadi & [Link] Operating Procedure Dalam Praktik klinik Keperawatan


[Link] : Pustaka Pelajar

[Link] Asuhan Keperawatan [Link]

[Link] Medikal Bedah Gangguan Sistem [Link] : CV


Agung seto

Tarwoto & [Link] Dasar Manusia dan Proses [Link] :


Salemba Medika

22
Wijaya dan [Link] Medikal Bedah Keperawatan Dewasa Teori dan Contoh
[Link] : Nuha Medika

23

Anda mungkin juga menyukai