1
ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF CONTINUITY OF CARE (COC)
PADA NY.S DENGAN KEHAMILAN ANEMIA RINGAN
DI KLINIK RB MAHANUM
TAHUN 2024
PROPOSAL
DISUSUN OLEH :
NAMA : NADIA
WULANDARI
NIM : 2115401008
PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN FLORA
2024
1
i
LEMBAR PERSETUJUAN
Nama Mahasiswa : Nadia Wulandari
Nomor Induk Mahasiswa : 2115401008
Judul Karya Tulis Ilmiah : Asuhan Kebidanan Komprehensif
Continuity of Care (CoC) Pada Ny.S
Dengan Kehamilan Anemia Ringan di
Klinik RB Mahanum Tahun 2024
Medan, Januari 2024
Menyetujui
Pembimbing
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
NIDN.
i
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allas SWT, karena atas limpahan
karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan proposal Laporan Tugas Akhir yang
berjudul “Asuhan Kebidanan Komprehensif Continuity of Care (CoC) Pada Ny.S
Dengan Kehamilan Anemia Ringan di Klinik RB Mahanum Tahun 2024” dengan
tepat waktu tanpa halangan suatu apapun sebagai salah satu syarat menyelesaikan
Program Studi Diploma III Kebidanan STIKes Flora.
Dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini penulis menyadari bahwa
tanpa dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak, sulit bagi penulis
untuk menyelesaikan proposal Laporan Tugas Akhir ini. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghormatan
setinggi-tingginya kepada, antara lain:
1. (Alm). Bapak dr. Martua Lubis, MSc, selaku Pendiri Yayasan STIKes
Flora.
2. Ibu Dr. dr. Bugis Mardina Lubis, Sp.A(K) selaku Ketua Yayasan STIKes
Flora.
3. Bapak Dr. dr. H. Muara P Lubis, [Link] (OG)., SpOG(K), selaku Pembina
Yayasan Flora.
4. Ibu dr. Fithria Aldy, [Link] (Oph)., SpM(K), selaku Ketua STIKes Flora.
5. Ibu Bdn. Yulia Safitri, SST, [Link], selaku Ketua Program Studi DIII
Kebidanan STIKes Flora yang telah yang telah memberikan pengarahan
dan bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Laporan
Tugas Akhir.
6. Seluruh dosen dan staf kepegawaian STIKes Flora yang telah banyak
memberikan dorongan dan bimbingan selama saya pendidikan di STIKes.
7. Ibu Bd. Mahanum, [Link] selaku pemilik Rumah Bersalin yang telah
mengizinkan penulis melakukan penelitian dan mendapatkan data yang
diperlukan untuk menyelesaikan proposal Laporan Tugas Akhir ini.
8. Ungkapan terima kasih dan penghargaan yang sangat spesial penulis
haturkan dengan rendah hati dan rasa hormat teruntuk orang tua tercinta
ii
iii
Ayahanda Narmin dan Ibunda Sariyani, yang dengan segala
pengorbanannya tak akan pernah penulis lupakan atas jasa-jasa mereka
Bagaimanapun penulis telah berusaha membuat proposal Laporan Tugas
Akhir ini dengan sebaik-baiknya, namun tidak ada kesempurnaan dalam karya
manusia. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
proposal Laporan Tugas Akhir ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis
harapkan untuk lebih menyempurnakan proposal Laporan Tugas Akhir ini.
Medan, Januari 2024
Nadia Wulandari
iii
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Anemia selama kehamilan merupakan salah satu kondisi yang
meningkatkan risiko perdarahan pasca persalinan. Kondisi ini dapat
mengganggu kontraksi rahim saat persalinan akibat gangguan transportasi
oksigen karena kekurangan hemoglobin yang memengaruhi fungsi seluler
sehingga akan terjadi perdarahan (WHO, 2023). Anemia pada kehamilan
terjadi karena peningkatan kebutuhan zat besi yang signifikan selama
periode ini, meskipun menstruasi sementara berhenti selama kehamilan
untuk mendukung kebutuhan janin. (Garzon, et al., 2020)
Anemia adalah kondisi penurunan kadar hemoglobin (Hb) atau
hematokrit (HCT) atau sel darah merah. Menurut WHO, anemia pada
kehamilan terjadi ketika kadar Hb kurang dari 11 g/dl. Secara fisiologis,
anemia dalam kehamilan terjadi karena peningkatan volume darah ibu,
terutama pada trimester kedua dan ketiga. Peningkatan volume ini akan
menyebabkan penurunan konsentrasi hemoglobin sehingga tubuh ibu hamil
meningkatkan penyerapan zat besi dari saluran pencernaan untuk memenuhi
kebutuhan tambahan dalam pembentukan hemoglobin. Keadaan fisiologis
ini dapat berubah menjadi patologis apabila tidak diatasi. (Deshpande, et al.,
2021)
Masalah anemia pada ibu hamil masih dikatakan cukup serius,
meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi anemia,
1
2
termasuk suplementasi zat besi dengan mengonsumsi tablet zat besi (fe).
Penyebab paling umum dari anemia pada ibu hamil adalah kurangnya
nutrisi yang dibutuhkan untuk sintesis sel darah merah, termasuk zat besi,
vitamin B1, dan asam folat. Sisanya adalah akibat dari berbagai kondisi
seperti perdarahan, penyakit genetic, penyakit kronis, keracunan obat, dan
sebagainya. Selain itu anemia pada ibu hamil disebabkan oleh pola makan
(status nutrisi), malabsorbsi, perdarahan antepartum, kehilangan banyak
darah seperti masa nifas, dan penyakit kronis sperti TBC, cacingan, malaria,
dan lain-lain. Status anemia pada ibu hamil berdampak pada kesehatan ibu
dan anak dalam kandungan antara lain peningkatan risiko bayi berat lahir
rendah, keguguran, kelahiran premature, serta kematian ibu dan bayi.
(Venna A H G dkk, 2022)
Menurut World Health Organization (WHO) prevalensi ibu-ibu
hamil di seluruh dunia yang mengalami anemia sebesar 41, 8%. Prevalensi
di antara ibu hamil bervariasi dari 31% di Amerika Selatan hingga 64% di
Asia bagian selatan. Gabungan Asia selatan dan Tenggara turut
menyumbang hingga 58% total penduduk yang mengalami anemia di negara
berkembang. Di Amerika Utara, Eropa dan Australia jarang di jumpai
anemia karena defisiensi zat besi selama kehamilan. Bahkan di AS hanya
terdapat sekitar 5% anak kecil dan 5-10 % wanita dalam usia produktif yang
menderita anemia karena defisiensi zat besi. (World Health Organization,
2021)
3
Adapun prevalensi data ibu hamil menurut data World Health
Organization (WHO, 2020) telah mengalami penurunan 4,5% selama 19
tahun terakhir, dari tahun 2000 sampai 2019, namun di Indonesia pada tahun
2019 angka kejadian anemia pada ibu hamil meningkat 44,2% dari tahun
2015 sebesar 42,1. Berdasarkan hasil riskesdas 2018 menunjukkan bahwa di
Indonesia sebesar 48,9% ibu hamil mengalami anemia, sebanyak 84,6%
anemia pada ibu hamil terjadi pada kelompok umur usia 15-24 tahun
(Purnama Y dkk, 2023). Selain itu, World Helath Organization (WHO)
menyatakan bahwa prevalensi wanita yang mengalami defisiensi besi sekitar
35-75% dan meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Selain
itu, kematian ibu di negara berkembang sekitar 40% dikaitkan dengan
anemia pada kehamilan. (Omasti N K dkk, 2022)
Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) survei
terakhir tahun 2020 ibu hamil yang mengalami anemia 30,7%, meskipun
demikian angka tersebut masih tertinggi di Asia. Ibu hamil yang anemia
didominasi pada rentang umur 15-24 tahun. Jumlah kematian ibu yang
dilaporkan di Provinsi Sumatera Utara tahun 2020 adalah 185 orang dengan
distribusi kematian ibu hamil 38 orang, kematian ibu bersalin 79 orang dan
kematian ibu masa nifas 55 orang. (Kementerian Kesehatan RI, 2020)
Anemia pada ibu hamil paling sering disebabkan oleh defisiensi
mikronutrien zat besi. Menurut laporan WHO, prevalensi ibu hamil yang
mengalami defisiensi besi sekitar 35-75% dengan peningkatan prevalensi
seiring dengan bertambahnya usia kehamilan (Paendong, et al., 2016).
4
Faktor-faktor yang menyebabkan anemia pada kehamilan di antaranya
adalah Karakteristik ibu meliputi usia ibu, pendidikan, pekerjaan,
pendapatan keluarga, jumlah paritas, dan jarak kehamilan, pengetahuan ibu,
kurangnya asupan zat besi dari makanan, kunjungan Antenatal Care (ANC),
serta kepatuhan mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). (Nurmasari &
Sumarmi, 2019)
Melihat faktor risiko yang kemungkinan akan tejadi pada ibu dan
bayi, sebagai seorang bidan sudah menjadi kewajiban untuk memberikan
asuhan kebidanan yang berkesinambungan agar ibu dan bayi terhindar dari
segala masalah tersebut. Asuhan Continuity of Care (CoC) sangat
dibutuhkan selama periode ini. Karena dengan asuhan kebidanan tersebut
tenaga kesehatan seperti bidan, dapat memantau dan memastikan kondisi
ibu mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga
pelayanan Keluarga Berencana (KB) untuk menurunkan AKI dan AKB.
Penulis melakukan pengkajian awal pada Ny.S tanggal 03 Januari
2024 ditemukan, ibu hamil usia 30 tahun G3P2Ab0 usia kehamilan 33
minggu 6 hari dan pada saat pemeriksaan fisik ditemukan adanya gangguan
mengenai Hb Ny.S yaitu 8,5 gr/dl. Hal tersebut tidak sesuai dengan batas
normal kadar Hb pada ibu hamil yaitu > 11 gr%. Berdasarkan latar belakang
tersebut penulis tertarik untuk melakukan studi kasus pada Ny. “S” yang
berumur 30 tahun, bertempat tinggal di Suka Ramai, Kecamatan Medan
Area Kota Medan. Ibu tersebut perlu mendapatkan asuhan kebidanan secara
komprehensif oleh tenaga kesehatan mulai dari masa kehamilan, persalinan,
5
nifas, dan bayi baru lahir agar ibu dan bayi sehat. Penulis tertarik untuk
melakukan studi kasus komprehensif dengan judul “Asuhan Kebidanan
Komprehensif Continuity of Care (CoC) Pada Ny.S Dengan Kehamilan
Anemia Ringan di Klinik RB Mahanum Tahun 2024”
1.1. Identifikasi Ruang Lingkup Asuhan
Berdasarkan latar belakang diatas, maka ruang lingkup asuhan
kebidanan komprehensif pada Ny. S di mulai dari kehamilan, bersalin, nifas,
bayi baru lahir, sampai KB dengan kejadian anemia di Klinik RB Mahanum
Tahun 2024 dengan 7 langkah Varney dan Soap.
1.2. Tujuan Penyusunan LTA
1.1.1. Tujuan Umum
Memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. S
dengan kehamilan anemia ringan menggunakan manajemen
kebidanan Varney di dokumentasikan dengan metode SOAP.
1.1.2. Tujuan Khusus
1) Melaksanakan pengkajian dan analisis data dalam asuhan
kebidanan komprehensif Continuity of Care pada Ny. S dengan
kehamilan anemia ringan.
2) Mengidentifikasi diagnosa/masalah atau kebutuhan dalam asuhan
kebidanan komprehensif Continuity of Care pada Ny. S dengan
kehamilan anemia ringan.
6
3) Mengidentifikasikan diagnosa atau masaalah potensial dalam
asuhan kebidanan komprehensif Continuity of Care pada Ny. S
dengan kehamilan anemia ringan.
4) Mengidentifikasikan dan menetapkan kebutuhan yang
memerlukan penanganan segera dalam asuhan kebidanan
komprehensif Continuity of Care pada Ny. S dengan kehamilan
anemia ringan.
5) Merencanakan asuhan kebidanan dalam asuhan kebidanan
komprehensif Continuity of Care pada Ny. S dengan kehamilan
anemia ringan.
6) Melaksanakan perencanaan dalam asuhan kebidanan
komprehensif Continuity of Care pada Ny. S dengan kehamilan
anemia ringan.
7) Mengevaluasi pada asuhan kebidanan komprehensif Continuity
of Care pada Ny. S dengan kehamilan anemia ringan.
1.3. Manfaat
1.4.1 Manfaat Teoritis
Untuk meningkatkan pengalaman, wawasan, pengetahuan dan
penatalaksanaan mahasiswa dalam memberikan asuhan kebidanan
komprehensif secara berkesinambungan pada ibu di mulai dari
kehamilan, bersalin, nifas, bayi baru lahir dan KB terutama dengan
7
kasus kehamilan lewat waktu (post date). Dapat juga menjadi bahan
literatur untuk peneliti laporan tugas akhir selanjutnya.
1.4.2 Manfaat Praktis
Untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam
memberikan asuhan yang berkesinambungan dan menerapkan
manajemen kebidanan menurut Varney dan metode SOAP.
1
BAB II
LANDASAN PUSTAKA
1.1. Kehamilan
1.1.1. Konsep Dasar Kehamilan
1. Pengertian Kehamilan
Kehamilan adalah keadaan hasil konsepsi yang
ditanamkan yang terletak di dalam rahim atau di tempat lain di
tubuh. Selama masa ini, tubuh ibu mengalami perubahan besar
yang melibatkan semua sistem organ untuk menopang
pertumbuhan janin yang melibatkan semua sistem organ dalam
tubuh. Pada tingkat seluler, pembuahan sel telur oleh sperma
menginisiasi proses embriogenesis. Telur yang telah dibuahi akan
membentuk blastokista. Blastokista kemudian memulai implantasi
dengan endometrium ibu. Implantasi memicu stroma uteri untuk
mengalami desidualisasi untuk menampung embrio (Mutter, et al.,
2023).
Proses yang terjadi di uteri mendukung kelangsungan
hidup embrio dan bertindak sebagai penghalang terhadap respons
imunologi. Selain itu, setelah implantasi, human chorionic
gonadotropin (hCG) mulai disekresikan untuk keberlangsungan
kehamilan. Blastokista kemudian memulai proses pembentukan
tiga lapisan yang berbeda yaitu ektoderm, mesoderm, dan
endoderm. Pada tahap ini, blastokista kemudian menjadi embrio.
1
2
Embrio melewati proses yang dikenal sebagai organogenesis, di
mana sebagian besar sistem organ utama berkembang (Pascual &
Langaker, 2023).
Durasi kehamilan dari implantasi sel telur yang telah
dibuahi hingga kelahiran terjadi selama 266 hari. Namun, karena
usia kehamilan biasanya dimulai dari hari pertama periode
menstruasi terakhir, durasi kehamilan rata-rata dianggap 280 hari.
Durasi ini adalah jumlah waktu yang kira-kira setengah dari
semua wanita akan melahirkan bayinya (Paskual & Langaker,
2023). Durasi pada kehamilan akan dibagi berdasarkan
periodenya. Periode kehamilan terbagi menjadi tiga bagian,
dikenal sebagai trimester pertama, trimester kedua, dan trimester
ketiga. Setiap trimester berlangsung selama tiga bulan (Darawati,
2016).
2. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis dan Psikologis Kehamilan
Selama kehamilan normal, tubuh wanita mengalami
perubahan fisiologis di hampir setiap sistem organ untuk
menampung unit fetoplasenta yang sedang tumbuh. Sistem
hematologi tidak terkecuali pada konvensi ini yaitu darah ibu
mengalami perubahan baik dalam jumlah maupun susunannya
(Ghandi & Gupta, 2023). Berbagai komponen darah seperti sel
darah merah, sel darah putih, trombosit, plasma, serta komponen-
komponen lain seperti hemoglobin, protein, dan zat-zat lain yang
3
ada dalam darah darah ibu dapat diuji untuk menyaring dan
mendiagnosis berbagai macam kondisi yang berkaitan dengan
kehamilan serta penyakit yang berhubungan dengan kehamilan
(Deshpande, et al., 2021).
Perubahan hematologi yang menonjol adalah anemia
fisiologis, peningkatan volume plasma, trombositopenia ringan,
keadaan protrombotik ringan, dan pada beberapa individu,
neutrofilia ringan. Selama kehamilan, terjadi hemodilusi fisiologis
dengan puncaknya selama 20-24 minggu kehamilan. Faktanya,
sudah diketahui bahwa ada penurunan fisiologis Hb pada
pertengahan trimester. Penurunan fisiologis ini disebabkan
peningkatan volume plasma yang lebih tinggi, dibandingkan
dengan massa sel darah merah, yang sedikit meningkat selama
kehamilan. Proses fisiologis ini menghasilkan viskositas darah
hemodilusi relative yang membantu sirkulasi darah di plasenta
(Renzo, et al, 2015).
Sebelum mencapai masa kehamilan cukup bulan, jumlah
darah dalam tubuh ibu meningkat sekitar 30% di atas level
normal. Peningkatan ini kemungkinan besar disebabkan oleh
peningkatan kadar hormon estrogen dan aldosteron, yang
menyebabkan ginjal untuk menahan lebih banyak cairan
bersamaan dengan peningkatan jumlah sel darah merah serta
sedikit peningkatan ukuran rata-rata sel darah merah dalam
4
kehamilan yang normal. Oleh karena itu, biasanya ada sekitar 1
hingga 2 liter darah tambahan dalam sistem peredaran darah ibu
ketika melahirkan. (Ghandi & Gupta, 2023).
3. Kebutuhan Dasar Kehamilan
a. Kebutuhan oksigen
Perubahan pada system respirasi karena desakan diafragma
akibat dari dorongan Rahim yang membesar sehingga ibu
hamil akan bernafas lebih dalam. Hal ini juga berhubungan
dengan meningkatnya aktivitas paru-paru untuk mencukupi
kebutuhan oksigen iu dan jain. Untuk memenuhi kecukupan
oksigen yang meningkat, ibu disarankan melakukan jalan-
jalan dipagi hari (Tyastuti, 2016).
b. Kebutuhan nutrisi
Pada trimester akhir ibu dianjurkan untuk meningkatkan berat
badan sesuai dengan indeks masa tubuh (IMT) sebelum hamil
dan meningkatkan asupan protein. Selama kehamilan zat gizi
yang dibutuhkan adalah kalori 2.500 perhari, protein 85gram
perhari, zat besi 30 ml/g perhari, kalsium 1,5gram perhari,
magnesium, vitamin B kompleks serta lemak omega 3 dan
omega 6. bila ibu mempunyai berat badan yang berlebihan,
maka makanan pokok dan tepung-tepungan dikurangi dan
lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayuran untuk
menghindari sembelit. Total peningkatan berat badan ibu
5
hamil dengan berat badan berlebih sebaiknya tidak lebih dari
7 kg selamla kehamilan. Hendaknya ibu hamil makan secara
teratur minimal 3 kali sehari disertai selingan dua kali
(Rukiyah, 2013).
c. Kebutuhan personal hygiene
Bertambahnya aktivitas metabolisme tubuh maka ibu hamil
cenderung menghasilkan keringat yang lebih, sehingga perlu
menjaga kebersihan badan secara ekstra disamping itu
menjaga kebersihan badan juga dapat memberikan rasa
nyaman bagi tubuh. Personal hygiene yang dapat dilakukan
diantaranya adalah mandi, perawatan vulva dan vagina,
perawatan gigi, perawatan kuku dan perawatan rambut
(Tyastuti, 2016).
d. Kebutuhan istirahat
Perubahan sistem tubuh karena hamil berkaitan dengan
kebutuhan energi yang dibutthkan ntuk menyeimbangkan
kalori dalam tubuh ibu. Ibu hamil khususnya pada trimester
akhir masih dapat bekerja namun tidak dianjurkan untuk
bekerja berat dan mengatur pola istirahat yang baik. Pada
trimester III kehamilan sering di iringi dengan bertambahnya
ukuran janin, sehingga terkadang ibu kesulitan untuk
menentukan posisi yang paling baik dan nyaman untuk tidur.
Posisi tidur yang dianjurkan adalah miring kiri, kaki kiri
6
lurus, kaki kanan sedikit menekuk dan diganjal dengan bantal
(Tyastuti, 2016).
e. Kebutuhan exercise
Aktivitas gerak bagi ibu hamil sangat direkomendasikan
karena dapat meningkatkan kebugaran. Aktivitas ini bisa
dilakukan dengan senam hamil. Senam hamil merupakan
suatu program latihan fisik yang penting bagi ibu hamil untuk
mempersiapkan dirinya secara fisik maupun mental saat
menghadapi persalinan. Waktu yang baik untuk melakukan
senam hamil adalah saat umur kehamilan menginjak 20
minggu (Nugroho, 2014).
f. Pakaian
Ibu dianjurkan untuk menggunaan pakaian yang longgar,
bersih dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut serta
mengganti pakaian dalam sesering mungkin agar tidak
lembab.
g. Persiapan persalinan
Ibu hamil sudah mulai perencanaan persiapan persalinan
seperti tempat bersalin, penolong persalinan, jarak menuju
tempat bersalin, transportasi yang akan digunakan, pakaian
ibu dan bayi, pendamping saat bersalin, alat kontrasepsi
(KB), biaya persalinan dan calon donor.
7
h. Kebutuhan seksual
Hubungan seksual dapat dilakukan oleh ibu hamil, namun
pada usia kehamilan belum cukup bulan dianjurkan untuk
menggunakan kondom. Prostaglandin pada sperma dapat
menyebabkan kontraksi yang memicu terjadinya persalinan
1.1.2. Asuhan Kehamilan
1. Definisi Kehamilan
Kehamilan dan persalinan bukanlah sebuah proses
patologis melainkan proses alamiah (normal), tetapi kondisi
normal tersebut dapat berubah menjadi abnormal. Menyadari hal
tersebut, dalam melakukan asuhan tidak perlu melakukan
intervensi-intervensi yang tidak perlu kecuali ada indikasi.
Berdasarkan hal tersebut kehamilan didefinisikan sebagaimana
berikut.
a. Kehamilan merupakan masa yang dimulai dari konsepsi
hingga lahirnya janin. Lama kehamilan ini berlangsung
selama 280 hari (40 minggu atau sama dengan sembilan
bulan tujuh hari) (Situmorang dkk., 2021).
b. Kehamilan merupakan proses yang diawali dengan
pertemuan sel ovum dan sel sperma di dalam uterus tepatnya
di tuba fallopi. Setelah itu terjadi proses konsepsi dan terjadi
nidasi, kemudain terjadi implantasi pada dinding uterus,
8
tepatnya pada lapisan edomentrium yang terjadi pada hari
keenam dan ketujuh setelah konsepsi (Rintho, 2022).
2. Filosofi Asuhan Kehamilan
Filosofi adalah nilai atau keyakinan atau kepercayaan yang
mendasari seseorang untuk berperilaku sehingga memengaruhi
pola kehidupannya. Filosofi juga merupakan pernyataan
mengenai suatu keyakinan dan nilai (value) yang dimiliki oleh
seseorang maupun kelompok (Diki dkk., 2021). Pada prinsipnya
filosofi asuhan kehamilan merujuk pada filosofi bidan dalam
memberikan pelayanan kebidanan antara lain menyatakan
sebagaimana berikut.
a. Kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah
(normal) dan bukan proses patologis, tetapi kondisi normal
tersebut dapat menjadi abnormal. Menyadari hal tersebut
dalam melakukan asuhan tidak perlu melakukan intervensi-
intervensi yang tidak perlu kecuali ada indikasi.
b. Setiap perempuan berkepribadian unik, terdiri atas bio, psiko,
dan sosial yang berbeda, sehingga dalam memperlakukan
pasien/klien satu dengan yang lainnya juga berbeda dan tidak
boleh disamakan.
c. Mengupayakan kesejahteraan perempuan dan bayi baru lahir.
Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai upaya baik promosi
kesehatan melalui penyuluhan atau konseling pemenuhan
9
kebutuhan ibu hamil maupun dengan upaya preventif,
misalnya pemberian imunisasi TT pada ibu hamil serta
pemberian tablet tambah darah dan lain sebagainya.
d. Perempuan mempunyai hak memilih dan memutuskan
tentang kesehatan, siapa dan di mana mendapatkan pelayanan
kesehatan.
e. Fokus asuhan kebidanan adalah untuk memberikan upaya
preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan
kesehatan).
f. Mendukung dan menghargai proses fisiologi, intervensi, dan
penggunaan teknologi dilakukan hanya berdasarkan indikasi.
g. Membangun kemitraan dengan profesi lain untuk
memberdayakan perempuan.
2.1.3 masalah yang ada dalam kehamilan (ini msukan materinya)
1.2. Persalinan
1.1.1. Konsep Dasar Persalinan
1. Pengertian Persalinan
Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin
dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan
melalui jalan lahir atau bukan jalan lahir, dengan bantuan atau
tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Mutmainnah, dkk, 2017).
Persalinan adalah proses di mana bayi, plasenta dan selaput
10
ketuban keluar dari rahim ibu. Persalinan dianggap normal jika
prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37
minggu) tanpa disertai dengan penyulit (APN, 2008; Sulfianti dkk.,
2020).
Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang
terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan
dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam,
tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Sulfianti dkk.,
2020).
2. Perubahan dan Adaptasi fisiologis persalinan
Perubahan fisiologi mempengaruhi jalannya persalinan.
Beberapa perubahan fisiologi yang terjadi sebagai berikut
(Dartiwen dan Yati, 2019)
a. Perubahan Uterus
Pada masa persalinan akan terjadi perubahan dibagian
uterus, perubahan yang terjadi sebagai berikut.
1) Kontraksi uterus yang dimulai dari fundus dan terus
menyebar kedepan dan kebawah abdomen dan berakhir
dengan masa yang terpanjang dan sangat kuat pada fundus
uteri.
2) Segmen atas rahim (SAR), dibentuk oleh korpus uteri yang
bersifat aktif dan berkontraksi. Dinding SAR bertambah tebal
dengan majunya persalinan sehingga mendorong bayi keluar.
11
3) Segmen bawah rahim (SBR), dibentuk oleh istmus uteri
bersifat aktif relokasi dan dilatasi. Dilatasi makin tipis karena
terus diregang dengan majunya persalinan.
4) Dominasi fundus bermula dari fundus dan merembet
kebawah.
5) Perubahan uterus berlangsung paling lama dan paling kuat di
fundus.
6) Perubahan fisiologi mencapai puncak kontraksi bersamaan
pada seluruh bagian uterus dan mereda bersamaan dengan
serviks membuka dan mengalami proses pengeluaran janin.
b. Perubahan bentuk Rahim
Setiap terjadi kontraksi sumbu panjang rahim bertambah
panjang, sedangkan ukuran melintang dan ukuran muka
belakang berkurang. Perubahan bentuk rahim ini adalah sebagai
berikut:
1) Ukuran melintang menjadi turun, akibatnya lengkungan
punggung bayi turun dan menjadi lurus. Bagian atas bayi
tertekan fundus, dan bagian bawah bayi tertekan pintu atas
panggul.
2) Rahim bertambah panjang, sehingga otot-otot memanjang
direnggang dan menarik segmen bawah rahim dan serviks.
Peristiwa tersebut menimbulkan terjadinya pembukaan
12
serviks, sehingga segmen atas rahim (SAR) dan serviks
bawah rahim (SBR) juga terbuka.
c. Ligamentum rotundum
Ligamentum rotundum terletak pada sisi uterus, yaitu di
bawah dan di depan insersi tuba falopi. Ligamentum ini
melintasi atau bersilangan pada lipatan paritoneum, melewati
saluran percernaan dan memasuki bagian depan labia mayora
pada sisi atas perineum. Perubahan yang terjadi pada
ligamentum rotundum ini sebagai berikut.
1) Pada saat kontraksi, fundus yang tadinya bersandar pada
tulang punggung berpindah ke depan mendesak dinding perut
kearah depan. Perubahan letak uterus pada waktu kontraksi
ini penting karena menyebabkan sumbu Rahim menjadi
searah dengan sumbu jalan lahir.
2) Kontraksi yang terjadi pada ligamentum rotundum tersebut
menyebabkan fundus uteri tertambat sehingga fundus tidak
dapat naik ke atas.
d. Perubahan serviks
Pada saat persalinan serviks akan mengalami beberapa
perubahan, diantaranya sebagai berikut:
1) Pendataran serviks (effacement), yaitu pemendekan kanalis
servikalis dari 1-2 cm menjadi satu lubang dengan pinggir
yang tipis.
13
2) Pembukaan serviks, yaitu pembesaran dari ostium eksternum
yang tadinya berupa suatu lubang dengan diameter beberapa
milimeter menjadi bagian lubang kirakira 10 cm dan nantinya
dapat dilalui bayi. Saat pembukaan lengkap, bibir portio tidak
teraba lagi, kepala janin akan menekan serviks, dan
membantu pembukaan secara efisien
e. Perubahan sistem urinaria
Pada akhir bulan ke-9, pemeriksaan fundus uteri menjadi
lebih rendah, kepala janin mulai masuk pintu atas panggul, dan
menyebabkan kandung kencing tertekan sehingga merangsang
ibu untuk sering kencing. Pada kala I, adanya kontraksi uterus
menyebabkan kandung kencing semakin tertekan. Poliuria
sering terjadi selama persalinan. Hal ini disebabkan oleh
peningkatan cardiac output, peningkatan filtrasi glomerolus, dan
peningkatan aliran plasma ginjal. Poliuria akan berkurang pada
posisi terlentang.
f. Perubahan vagina dan dasar panggul
Pada kala I, ketuban ikut meregangkan bagian atas
vagina sehingga dapat dilalui bayi. Setelah ketuban pecah,
segala perubahan yang ditimbulkan oleh bagian depan bayi pada
dasar panggul menjadi sebuah saluran dengan bagian dinding
yang tipis. Ketika kepala sampai ke vulva, lubang vulva
menghadap ke depan atas. Dari luar peregangan oleh bagian
14
depan Nampak pada perineum yang menonjol dan menjadi tipis,
sedangkan anus menjadi terbuka. Regangan yang kuat tersebut
disebabkan oleh bertambahnya pembuluh darah pada bagian
vagina dan dasar panggul, tetapi kalau jaringan tersebut robek
akan menimbulkan pendarahan yang banyak.
g. Perubahan metabolisme karbohidrat dan basal metabolisme rate
Pada saat mulai persalinan, terjadi penurunan hormone
progestron yang mengakibatkan perubahan pada system
pencernaan menjadi lebih lambat. Hal ini menyebabkan
makanan menjadi lama di lambung sehingga banyak ibu bersalin
yang mengalami obstivasi atau peningkatan getah lambung yang
kemudian akan sering mual dan muntah. Pada basal
metabolisme rate (BMR), dengan adanya kontraksi dan tenaga
mengejan yang membutuhkan energi besar, maka pembuangan
juga akan lebih tinggi dan suhu tubuh meningkat. Suhu tubuh
akan sedikit meningkat selama proses persalinan dan akan turun
setelah proses persalinan selesai. Hal ini disebabkan karena
adanya peningkatan metabolisme tubuh.
h. Perubahan pada sistem pernafasan
Dalam persalinan, ibu mengeluarkan lebih banyak CO2
dalam setiap nafas. Selama kontraksi uterus yang kuat, frekuensi
dan kedalaman pernafasan meningkat sebagai responns terhadap
15
peningkatan kebutuhan oksigen akibat pertambahan laju
metabolik.
i. Perubahan pada hematologi
Haemoglobin akan meningkat selama persalinan sebesar
1,2 gr % dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum
persalinan pada hari pertama pasca persalinan kecuali terjadi
perdarahan.
j. Nyeri
Nyeri dalam persalinan dan kelahiran adalah bagian dari
respon fisiologis yang normal terhadap beberapa faktor. Selama
Kala I persalinan, nyeri yang terjadi disebabkan oleh dilatasi
serviks dan distensi segmen uterus bawah. Pada kala II, nyeri
yang terjadi disebabkan oleh distensi dan kemungkinan
gangguan pada bagian bawah vagina dan perineum.
3. Kebutuhan dasar persalinan
Kebutuhan dasar ibu bersalin menurut Fitriana dan
Nurwiandani (2018) terbagi menjadi 2 yaitu:
a. Kebutuhan Fisiologis ibu bersalin
1) Kebutuhan oksigen
Suplai oksigen yang tidak adekuat, dapat menghambat
kemajuan persalinan dan dapat mengganggu kesejahteraan
janin. Oksigen yang adekuat dapat diupayakan dengan
pengaturan sirkulasi udara yang baik selama persalinan.
16
Hindari menggunakan pakaian yang ketat, sebaiknya
penopang payudara (BH) dapat dilepas atau dikurangi
kekencangannya. Indikasi pemenuhan kebutuhan oksigen
adekuat adalah Denyut Jantung Janin (DJJ) baik dan stabil.
2) Kebutuhan cairan dan nutrisi
Kebutuhan cairan dan nutrisi (makan dan minum) merupakan
kebutuhan yang harus dipenuhi dengan baik oleh ibu selama
proses persalinan. Asupan makanan yang cukup (makanan
utama maupun makanan ringan), merupakan sumber dari
glukosa darah, yang merupakan sumber utama energi untuk
sel-sel tubuh.
3) Kebutuhan eliminasi
Anjurkan ibu untuk berkemih secara spontan sesering
mungkin atau minimal setiap 2 jam sekali selama persalinan.
Kandung kemih yang penuh, dapat mengakibatkan:
a) Menghambat proses penurunan bagian terendah janin ke
dalam rongga panggul, terutama apabila berada di atas
spina isciadika
b) Menurunkan efisiensi kontraksi uterus atau his
c) Meningkatkan rasa tidak nyaman yang tidak dikenali ibu
karena bersama dengan munculnya kontraksi uterus
d) Meneteskan urin selama kontraksi yang kuat pada kala II
17
e) Memperlambat kelahiran plasenta pasca persalinan, karena
kandung kemih yang penuh menghambat kontraksi uterus.
4) Kebutuhan hygene (kebersihan personal)
Personal hygiene yang baik dapat membuat ibu merasa aman
dan relaks, mengurangi kelelahan, mencengah infeksi,
mencengah gangguan sirkulasi darah, mempertahankan
integritas pada jaringan, dan memelihara kesejahteraan fisik
serta psikis.
5) Kebutuhan istirahat
Istirahat selama proses persalinan (kala I, II, III maupun IV)
yang dimaksud adalah bidan memberikan kesempatan pada
ibu untuk mencoba relaks tanpa adanya tekanan emosional
dan fisik. Hal ini dilakukan selama tidak ada his (disela-sela
his). Ibu bias berhenti sejenak untuk melepas rasa sakit akibat
his, makan atau minum, atau melakukan hal menyenangkan
yang lain untuk melepas lelah, atau apabila memungkinkan
ibu dapat tidur. Namun pada kala II, sebaiknya ibu
diusahakan untuk tidak mengantuk.
6) Posisi dan ambulasi
Posisi persalinan yang akan dibahas adalah posisi persalinan
pada kala I dan posisi meneran pada kala II. Ambulasi yang
dimaksud adalah mobilisasi ibu yang dilakukan pada kala I.
7) Pengurangan rasa sakit
18
Stimulasi yang dapat dilakukan oleh bidan dalam mengurangi
nyeri persalinan dapat berupa kontak fisik maupun pijatan.
Pijatan dapat berupa pijatan/massage di daerah lombosacral,
pijatan ganda pada pinggul, penekanan pada lutut, dan
counterpressure. Cara lain yang dapat dilakukan bidan
diantaranya adalah: memberikan kompres hangat dan dingin,
mempersilahkan ibu untuk mandi atau berada di air
(berendam).
8) Penjahitan perineum
Penjahitan perineum merupakan salah satu kebutuhan
fisiologis ibu bersalin. Dalam melakukan penjahitan
perineum, perlu memperhatikan prinsip sterilitas dan asuhan
sayang ibu.
9) Kebutuhan akan proses persalinan yang terstandar
Mendapatkan pelayanan asuhan kebidanan persalinan yang
terstandar merupakan hak setiap ibu. Hal ini merupakan salah
satu kebutuhan fisiologis ibu bersalin, karena dengan
pertolongan persalinan yang terstandar dapat meningkatkan
proses persalinan yang alami atau normal
b. Kebutuhan psikologis ibu bersalin
1) Pemberian sugesti
Pemberian sugesti dilakukan untuk memberikan pengaruh
pada ibu dengan pemikiran yang dapat diterima secara logis.
19
Sugesti yang diberikan berupa sugesti positif yang mengarah
pada tindakan memotivasi ibu untuk melalui proses
persalinan sebagaimana mestinya.
2) Mengalihkan perhatian
Upaya mengalihkan perhatian bias dilakukan dengan cara
mengajaknya berbicara, sedikit bersenda gurau, mendegarkan
musik kesukaannya atau menonton televise atau film.
3) Membangun kepercayaan
Kepercayaan merupakan salah satu unsure penting yang
dapat membangun citra positif ibu dan membangun sugesti
positif dari bidan.
1.1.2. Asuhan persalinan
Asuhan Persalinan normal, Ibu yang akan melahirkan harus
memenuhi beberapa persyaratan yang disebut penapisan awal. Tujuan
dari penapisan awal adalah untuk menentukan apakah ibu tersebut
boleh bersalin di Praktek Mandiri Bidan (PMB) atau harus dirujuk.
Apabila didapati atau salah satu/ lebih penyulit seperti di bawah ini
maka ibu harus dirujuk ke rumah sakit:
1. Riwayat bedah Caesar
2. Perdarahan pervaginam
3. Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)
4. Ketuban Pecah dengan Mekoneum Kental
5. Ketuban Pecah Lama (>24 jam)
20
6. Ketuban Pecah pada Persalinan kurang bulan (usia kehamilan
kurang dari 37 minggu)
7. Ikterus
8. Anemia berat
9. Tanda/gejala infeksi
10. Pre-eklampsi/ Hipertensi dalam kehamilan
11. Tinggi Fundus Uteri 40 cm atau lebih
12. Gawat Janin
13. Primipara dalam fase aktif kala satu persalinan dengan palpasi
kepala masih 5/5
14. Presentasi bukan belakang kepala
15. Presentasi majemuk
16. Kehamilan Gemeli
17. Tali Pusat Menumbung
18. Syok
19. Penyakit penyakit yang menyertai.
1.1.3. Masalah yang ada pada persalinan
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi persalinan adalah:
1. Penumpang (Passanger)
Penumpang dalam persalinan adalah janin dan plasenta. Hal-hal
yang perlu diperhatikan mengenai janin adalah ukuran, presentasi,
letak, sikap, dan posisi janin sedangkan yang perlu diperhatikan
pada plasenta adalah letak, besar dan luasnya
21
2. Jalan Lahir (Passange)
Jalan lahir dibagi atas dua yaitu jalan lahir keras dan jalan lahir
lunak. Jalan lahir keras adalah ukuran dan bentuk tulang panggul
sedangkan jalan lahir lunak adalah segmen bawah uterus yang
dapat meregang serviks, otot besar panggul, vagina, introitus
vagina.
3. Kekuatan (Power)
Faktor kekuatan dalam persalinan dibagi atas dua yaitu:
a. Kekuatan primer, kontraksi berasal dari segmen atas uterus yang
menebal dan dihantarkan ke uterus bawah dalam bentuk
gelombang. Kekuatan primer mengakibatkan servik menipis dan
berdilatasi sehingga janin turun.
b. Kekuatan sekunder, kekuatan ini diafragma dan abdomen ibu
berkontraksi dan mendorong keluar isi jalan lahir sehingga
menimbulkan tekanan intra abdomen. Kekuatan sekunder tidak
mempengaruhi dilatasi servik, tetapi setalah dilatasi servik
lengkap, kekuatan ini cukup penting dalam usaha untuk
mendorong keluar dari uterus dan vagina.
4. Posisi ibu (positioning), Posisi ibu dapat mempengaruhi adaptasi
anatomi dan fisiologi persalinan. Perubahan posisi yang diberikan
pada ibu bertujuan untuk menghilangkan rasa letih, memberi rasa
nyaman, dan memperbaiki sirkulasi, seperti posisi berdiri, berjalan,
duduk, dan jongkok.
22
5. Respons psikologis , Respons psikologis ibu dapat dipengaruhi
oleh:
a. Dukungan suami selama persalinan
b. Dukungan kakek-nenek saudara dekat) selama persalinan
c. Saudara kandung bayi selama persalinan.
1.3. Nifas
1.1.4. Konsep Dasar Nifas
1. Pengertian Nifas
Masa nifas dimulai sejak plasenta lahir dan berakhir
ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum
hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu atau 42 hari,
merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat
kandungan pada keadaan yang normal (Fitri, 2017).
Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran
bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan
kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu
kurang lebih 6 minggu atau 40 hari (Dartiwen dan Yati, 2019).
2. Perubahan dan adaptasi fisiologis dan psikologis kehamilan
Perubahan fisik secara umum penting diperhatikan oleh
setiap penolong persalinan. Beberapa perubahan yang terjadi
pada organ tubuh vital yang terjadi segera setelah pengosongan
rahim akibat lahirnya janin dan plasenta perlu dipahami dengan
baik agar kondisi patologis dapat segera dikenali dan
23
mendapatkan pengolaan yang semestinya. Dengan demikian,
perubahan pada alat kandung saja tidak cukup dijadikan
penanda. (Sri astuti dkk, 2018)
a. Masa nifas dini
1) Sistem jantung dan pembuluh darah
2) Sistem pernapasan
3) Perubahan pada uterus
b. Masa nifas lambat
1) Sistem jantung dan pembuluh darah
2) System hematologi
3) System pernapasan
4) Perubahan pada uterus,vagina,dan struktur penyokong
rahim
5) Perubahan pada dinding abdomen dan kontur tulang
belakang
6) Sistem berkemih
c. Lochea
Lochea adalah ekskreasi cairan rahim selama masa
nifas. Lochea mengandung darah sisa desidua yang nekrotik
dari dalam uterus. Pemeriksaan loche meliputi perubahan
warna dan bau karena lochea memiliki ciri khas : bau amis
atau khas darah dan adanya bau busuk menandakan adanya
24
infeksi. Jumlah total pengeluaran seluruh periode lochea
rata-rata kira-kira 240-270 ml (Pusdiklatnakes, 2019).
3. Kebutuhan dasar nifas
a. Nutrisi dan cairan
1) Ibu dalam masa nifas harus mengonsumsi tambahan
500 kalori setiap hari. Makanan tersebut bisa diperoleh
dengan mengonsumsi sayuran berwarna hijau (bayam,
brokoli, katu) dan berwarna kuning (wortel, tomat,
nangka), kacang- kacangan, hati, kuning telur,
gandum/nasi, ikan laut, daging, buah (pepaya, mangga,
melon, jeruk) serta minum susu.
2) Minum sedikitnya 3 liter per hari.
3) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi,
setidaknya selama 40 hari pasca persalinan
(Prawirohardjo, 2016).
b. Pemberian kapsul vitamin A 200.000 IU
Kapsul vitamin A 200.000 IU diberikan sebanyak 2 kali
pertama diberikan segera setelah melahirkan, kedua
diberikan setelah 24 jam pemberian kapsul vitamin A
pertama (Pusdiklatnakes, 2014).
c. Ambulasi dini (Early Ambulation)
Ambulasi dini dilakukan dengan gerakan dan jalanjalan
ringan sambil bidan melaksanakan observasi perkembangan
25
pasien dari jam demi jam sampai hitungan hari. Ambulasi
tidak diperbolehkan pada pasien dengan penyakit tertentu
seperti anemia, jantung, paru-paru, demam, dan keadaan
lain yang membutuhkan waktu istirahat. (Mansyur dan
Dahlan, 2014).
d. Eliminasi
Ibu postpartum diharapkan dapat buang air besar setelah
hari ke-2 post partum. Jika hari ke-3 belum juga BAB,
maka perlu diberi obat pelancar per oral atau per rektal.
(Mansyur dan Dahlan, 2014).
e. Personal Hygiene
Kebersihan diri sangat penting untuk mencegah infeksi.
Anjurkan ibu menjaga kebersihan seluruh tubuh, terutama
perineum. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut 2 kali
sehari, mencuci tagan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah kelaminnya dan bagi ibu
yang mempunyai luka episiotomi atau laserasi, disarankan
untuk mencuci luka tersebut dengan air dingin dan
menghindari menyentuh daerah tersebut. (Pusdiklatnakes,
2014).
f. Istirahat
Sarankan ibu untuk selalu tidur siang atau beristirahat selagi
bayinya tidur. Pusdiklatnakes, 2014).
26
g. Seksual
Ibu diperbolehkan untuk melakukan aktivitas kapan saja ibu
siap dan secara fisik aman serta tidak ada rasa nyeri.
(Pusdiklatnakes, 2014).
h. Senam nifas
Senam nifas dilakukan secara perlahan dahulu lalu makin
lama semakin sering/kuat. Seam yang pertama paling baik
paling aman untuk memperkuat dasar panggul adalah senam
kegel. Senam kegel bertujuan membantu penyembuhan
postpartum dengan jalan kontraksi dan pelepasan secara
bergantian pada otot- otot dasar panggul. (Mansyur dan
Dahlan, 2014).
i. Perawatan Payudara
Menjaga payudara tetap bersih dan kering dengan
menggunakan BH yang menyokong payudara. Apabila
puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar
pada sekitar puting susu setiap selesai menyusui. Untuk
menghilangkan nyeri ibu dapat diberikan paracetamol 1
tablet 500 mg setiap 4-6 jam sehari (Wahyuni, 2018).
j. Keluarga Berencana
Menurut (Barus, 2018) Ibu nifas dianjurkan untuk menunda
kehamilannya minimal 2 tahun agar bayi memperoleh ASI
27
selama 2 tahun. Penjarangan kehamilan juga bermanfaat
untuk kesehatan ibu.
2.3.2. Asuhan Nifas
1. Pengkajian data fisik
a. Melakukan pemeriksaan fisik dan pengkajian psikososial
terhadap ibu, ayah dan anggota keluarga.
b. Mendeteksi adanya penyimpangan dari kondisi yang normal.
c. Dari masa prenatal, kaji masalah kesehatan selama kehamilan
yang pernah timbul, seperti: anemia hipertensi dalam kehamilan
dan diabetes.
d. Kaji proses persalinan, lama dan jenis persalinan kondisi selaput
dan cairan ketuban, respon terhadap persalinan, obat-obatan
yang digunakan respon keluarga khususnya ayah pada
persalinan dan kelahiran.
e. Dilakukan segera pada masa immediate postpartum, seperti:
observasi tanda vital, keseimbangan cairan, pencegahan
kehilangan darah yang abnormal dan eliminai urin.
2. Pengkajian data psikososial.
Respons ibu dan suami terhadap kelahiran bayi Pola hubungan ibu,
suami dan keluarga Kehidupan spiritual dan ekonomi keluarga
Kepercayaan dan adat istiadat. Adaptasi psikologi ibu setelah
melahirkan, pengalaman tentang melahirkan, apakah ibu pasif atau
cerewet, atau sangat kalem. Pola koping, hubungan dengan suami,
28
hubungan dengan bayi, hubungan dengan anggota keluarga lain,
dukungan social dan pola komunikasi termasuk potensi keluarga
untuk memberikan perawatan kepada klien. Adakah masalah
perkawinan, ketidak mampuan merawat bayi baru lahir, krisis
keluarga.
Blues : Perasaan sedih, kelelahan, kecemasan, bingung dan mudah
menangis.
Depresi : Konsentrasi, minat, perasaan kesepian, ketidakamanan,
berpikir obsesif, rendahnya emosi. Angka positif, perasaan tidak
berguna, kecemasan yang berlebihan pada dirinya atau bayinya,
sering cemas saat hamil, bayi rewel, perkawinan yang tidak
bahagia, suasana hati yang tidak bahagia, kehilangan kontrol,
cerasaan bersalah, merenungkan tentang kematian, kesedihan yang
berlebihan, kehilangan nafsu makan, msomnia, sulit berkonsentrasi.
(Feti Kumala D. 2017) Kultur yang dianut termasuk kegitan ritual
yang berhubungan dengan budaya pada perawatan post partum,
makanan atau minuman,meyendiri bila menyusui, pola seksual,
kepercayaan dan keyakinan,harapan dan cita-cita.(Fitriani 2021)
3. Riwayat Kesehatan Ibu
a. Riwayat kesehatan yang lalu.
Kaji apakah ibu pernah atau sedang menderita penyakit yang
dianggap berpengaruh pada kondisi kesehatan saat ini. Misalnya
29
penyakit-penyakit degenerative seperti jantung, DM, hipertensi
dan lain-lain, infeksi saluran kencing.
b. Riwayat penyakit keturunan dalam keluarga.
Kaji apakah di dalam silsilah keluarga Ibu mempunyai penyakit
keturunan. Misalnya penyakit asma, Diabetes Melitus, dan
penyakit keturunan lairnya
c. Riwayat penyakit menular dalam keluarga
Kaji apakah keluarga ibu mempunyai riwayat menular. Misalnya
TBC, hepatitis, dan HIV/AIDS
d. Riwayat KB dan Perencanaan Keluarga
Kaji pengetahuan klien dan pasangannya tentang kontrasepsi,
jenis kontrasepsi yang pernah gunakan, kebutuhan kontrasepsi
yang akan atau rencana penambahan anggota keluarga
mendatang.
4. Kebiasaan Sehari-Hari.
a. Pola nutrisi
Pola menu yang dikomsumsi, jumlah, jenis makan, ( kalori,
protein, vitamin, tinggi serat, frekuensi, [Link] snack
(makanan ringan), nafsu makan, pola minum, jumlah, dan
frekuensi.
b. Pola istirahat dan tidur:
Lamanya, kapan (malam, siang), rasa tidak nyaman yang
mengganggu istirahat, penggunaan selimut, lampu atau remang-
30
remang atau gelap, apakah mudah terganggu dengan suara-
suara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum).
c. Pola eliminasi:
Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah
inkontinensia (hilangnya infolunter pengeluaran urin), hilangnya
kontrol bias, terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi
urine karena rasa talut luka episiotomi, apakah perlu bantuan
saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi, rasa takut BAB
karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet.
d. Personal Hygiene :
Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut
dan kebersihan genitalia, pola berpakaian, tatarias rambut, dan
wajah.
e. Aktifitas :
Kemampuan mobilisasi beberapa saat setelah melahirkan
kemampuan merawat diri dan melakukan eliminasi, kemampuan
bekerja dan menyusui.
f. Rekreasi dan hiburan :
Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang
membuat fresh dan relaks.
5. Pemeriksaan fisik
a. Tanda-tanda vital
1) Tekanan darah
31
Tekanan darah menjadi salah satu patokan untuk mengetahui
kondisi keadaan ibu pasca persalinan atau pada masa nifas.
Yang harus dipantau kerena, jika peningkatan tekanan darah
signifikan disebut preeklamsia pascapartum.
2) Suhu
Yang perlu diperhatikan adanya kenaikan suhu samapi 38
derajat pada hari kedua sampai hari kesepuluh yang
menunjukkan adanya morbiditas puerperalis. Suhu maternal
kembali dari suhu yang sedikit meningkat selama periode
intrapartum dan stabil dalam 24 jam pertama pascapartum.
3) Nadi
Apabila denyut nadi diatas 100 selama puerperium, hal
tersebut abnormal dan mungkin menunjukkan adanya infeksi
atau hemoragi pascapartum [Link] nadi yang
meningkat selama persalinan akhir, kembali normal selama
beberapa jam pertama pascapartum.
4) Pernapasan
Fungsi pernafasan kembali pada rentang normal wanita selama
jam pertama pascapartum. Nafas pendek, cepat, atau
perubahan lain memerlukan evaluasi adanya kondisi - kondisi
seperti kelebihan cairan, seperti eksaserbasi asma, dan emboli
paru.
32
2.3.3. Masalah yang ada pada masa nifas
Menurut Setyo Retno Wulanjani, Mengatakan bahwa
komplikasi masa nifas adalah sebagia berikut :
1. Pendarahan Pervaginam
Perdarahan pervaginam yang melebihi 300 ml setelah bersalin
didefinisikan sebagai perdarahan pasca persalinan. Terdapat
beberapa masalah mengenai definisi ini :
a. Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak yang sebenarnya,
kadang-kadang hanya setengah dari biasanya. Darah juga
tersebar pada spon, handuk dan kain didalam ember dan lantai.
b. Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai
dengan kadar hemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar HB
normal akan berakibat fatal pada anemia. Seseorang ibu yang
sehat dan tidak anemia pun dapat mengalami akibat fatal dari
kehilangan darah.
c. Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu
beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi
syok. Penilaian resiko pada saat antenatal tidak dapat
memperkirakan akan terjadinya perdarahan pasca persalinan.
d. Penanganan aktif kala III sebaiknya dilakukan pada semua
wanita yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insiden
perdarahan pasca persalinan akibat atonia uteri. Semua ibu pasca
bersalin fase persalinan.
33
2. Infeksi Masa Nifas
Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan
alat-alat genetalia dalam masa nifas. Masuknya kemankuman dapat
terjadi dalam kehamian, waktu persalinan, dan nifas. Demam nifas
adalah demam dalam masa nifas oleh sebab apa pun. Mordibitas
puerpuralis adalah kenaikan suhu badan sampai 38ºC atau lebih
selama 2 hari dalam 10 hari pertama post-partum, kecuali pada hari
pertama. Suhu diukur 4 kali secara oral. Infeksi terjadi pada vulva,
vagina, dan serviks.
3. Endometritis
Endometritis adalah infeksi yang terjadi pada endometrium. Jenis
infeksi ini biasanya yang paling sering terjadi. Kuman-kuman yang
masuk endometrium. Biasanya pada luka bekas implantasi plasenta
dan dalam waktu singkat.
4. Septicemia dan Pyemia
Ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kumankuman
yang sangat pathogen. Infeksi ini sangat berbahaya dan tergolong
50% penyebab kematian karena infeksi.
5. Peritonitis
Peritonitis (radang selaput rongga perut) adalah peradangan yang
disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum).
Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh darah di dalam
uterus, langsung mencapai peritoneum dan menyebabkan
34
peritonitis atau melalui jaringan di antara kedua lembar
lagamentum latum yang menyebabkan parametritis. Peritonitis
yang tidak menjadi peritonitis umum hanya terbatas pada daerah
pelvis.
6. Parametritis
Parametritis merupakan peradangan pada parametrium.
Parametrium merupakan lapisan terluar yang malpisi uterus.
Parametritis juga mempunyai nama lain yaitu sellulitis pelvika.
7. Thrombophlebitis
Thrombophlebitis merupakan kelainan pada masa nifas yaitu masa
setelah melahirkan di mana terjadi sumbatan pembuluh darah yang
disebabkan oleh adanya darah yang membeku.
8. Luka perineum
Perlukaan perineum pada umumnya terjadi unilateral, namun dapat
juga bilateral. Perlukaan pada diafragma urogenitlis dan muskulu
levator ani, yang terjadi pada waktu persalinan normal atau
persalinan dengan alat, dapat terjadi tanpa luka pada kulit perineum
atau pada vagina, sehingga tidak kelihatan dari luar. Perlukaan
demikian dapat melemahkan dasar panggul, sehingga mudah terjadi
prolapses genitalis.
2.4. Bayi Baru Lahir
2.4.1. Konsep Bayi Baru Lahir
1. Pengertian bayi baru lahir
35
Bayi baru lahir harus mampu menyesuaikan diri dengan
keadaan lingkungan di luar uterus. Pada saat di kandungan, bayi
sangat bergantung dengan plasenta (Fitriana dan Nurwiandani,
2018).
Neonatus adalah bayi baru lahir sampai dengan usia 28 hari.
Pada masa tersebut terjadi perubahan yang sangat besar dari
kehidupan di dalam rahim dan terjadi pematangan organ hampir
pada semua sistem (Kemenkes RI, 2018).
2. Adaptasi fisiologi dan psikologis bayi baru lahir
a. Termoregulasi
Mekanisme pengaturan temperature tubuh pada bayi baru lahir
belum berfungsi dengan sempurna, untuk itu perlu dilakukan
upaya pencegahan kehilangan panas pada bayi baru lahir. Hal ini
dikarenakan bayi mengalami hipotermia. Bayi baru lahir
mengalami hipotermia apabila memiliki suhu tubuh dibawah
36°C, sedangkan suhu normal yang harus dimiliki bayi baru
lahir adalah 36ºC sampai 37ºC (Fitriana dan Nurwiandani,
2018).
Menurut Saifuddin (2016), keadaan telanjang dan basah pada
bayi baru lahir menyebabkan bayi mudah kehilangan panas
melalui 4 cara yaitu :
1) Konduksi : melalui benda-benda padat yang berkontak
dengan kulit bayi.
36
2) Konveksi : pendinginan melalui aliran udara di sekitar bayi.
3) Evaporasi : kehilangan panas melalui penguapan air pada
kulit bayi yang basah.
4) Radiasi : melalui benda padat dekat bayi yang tidak
berkontak secara langsung dengan kulit bayi
b. Sistem pernafasan
Pernapasan pertama yang terjadi pada bayi normal adalah 30
detik pertama sesudah lahir. Pertama kali, bayi berusaha untuk
mempertahankan tekanan alveoli. Biasanya, dikarenakan adanya
surfaktan dan adanya tarikan napas serta pengeluaran napas
secara merintih sehingga udara bias tertahan di dalam. Bayi baru
lahir bernapas dengan diafragmatik dan abdominal, sedangkan
untuk frekuensi dan dalamnya pernapasan pada bayi baru lahir
belum bisa teratur (Fitriana dan Nurwiandani, 2018).
c. Sistem pencernaan
Refleks gumoh dan refles batuk yang matang sudah terbentuk
pada saat lahir. Sedangkan sebelum lahir bayi sudah mulai
menghisap dan menelan. Kemampuan menelan dan mencerna
makanan (selain susu) terbatas pada bayi. Hubungan antara
esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang
berakibat gumoh. Kapasitas lambung juga terbatas, kurang dari
30 cc dan bertambah secara lambat sesuai pertumbuhan janin
(Rukiyah, 2018).
37
d. Sistem Kardiovaskuler dan Darah
Pada saat tali pusat dipotong, registrasi pembuluh sistemik
meningkat dan tekanan rahim menurun, tekanan atrium kanan
menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan
menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu
sendiri akan membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit
mengalir ke paru-paru untuk proses oksigenisasi ulang
(Susilawati, 2017). Pernapasan pertama menurunkan resistensi
pembuluh darah paru paru dan meningkatkan tekanan atrium
kanan, oksigen pada pernapasan pertama ini menimbulkan
relaksasi dan terbukanya sistem pembuluh darah dan paru-paru
akan menurunkan resistensi pembuluh darah ke paru-paru
sehingga terjadi peningkatan volume darah pada atrium kanan
menimbulkan penurunan tekanan pada atrium kiri menyebabkan
foramen ovale menutup (Susilawati, 2017).
e. Metabolisme Glukosa
Menurut Rukiyah (2018), Untuk mengfungsikan otak
memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Pada BBL, glukosa
darah akan turun dalam waktu cepat (1-2jam). BBL yang tidak
dapat mencerna makanan dalam jumlah cukup akan membuat
glukosa dari glikogen dalam hal ini terjadi bila bayi mempunyai
persediaan glikogen cukup yang disimpan dalam hati. Koreksi
penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :
38
1) Melalui penggunaan ASI
2) Melalui penggunaan cadangan glikogen
3) Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak
f. Sistem Ginjal
Bayi cukup bulan, mempunyai cairan didalam paru-paru dimana
selama lahir 1/3 cairan ini diperas dari paru-paru, jika proses
persalinan melalui section cesaria maka kehilangan keuntungan
kompresi dada ini tidak terjadi maka dapat mengakibatkan paru-
paru basah (Rukiyah, 2018). Beberapa tarikan nafas pertama
menyebabkan udara memenuhi ruangan trakea untuk bronkus
bayi baru lahir, paruparu akan berkembang terisi udara sesuai
dengan perjalanan waktu (Rukiyah, 2018)
3. Adaptasi Psikologis pada Masa Bayi
Masa bayi berlangsung selama dua tahun pertama
kehidupan setelah periode bayi baru lahir selama dua minggu.
Masa bayi neonatal merupakan masa terjadinya penyesuaian
radikal. Ini adalah suatu peralihan dari lingkungan (kandungan) ke
lingkungan luar. Seperti halnya semua peralihan, hal itu
memerlukan penyesuaian. Penyesuaian diri radikal pada bayi
neonatal antara lain:
a. Menyesuaikan terhadap perubahan suhu.
b. Menyesuaikan diri terhadap cara bernafas.
c. Menyesuaikan diri terhadap pola makan.
39
d. Menyesuaikan diri terhadap sistem ekresi.
Kemudian beralih kemasa terhentinya perkembangan untuk
sementara waktu kira-kira 1 minggu, seperti berkurangnya berat
badan dan selalu sakit-sakitan. Pada akhir periode neonate
perkembangan dan kesehatan bayi akan berjalan seperti semula.
Sebenarnya terhentinya perkembangan dan pertumbuhan bayi
tersebut merupakan ciri khas dari periode neonatal dan dianggap
normal.
Setelah mengalami penyesuaian tahap neonatal bayi
mengalami periode babyhood secara umum adalah usia 2 minggu
hingga 2 tahun. Periode babyhood merupakan dasar pembentukan
sikap, perilaku dan pola ekspresi. Adanya ketidakmampuan
penyesuaian diri pada masa dewasa merupakan efek pengalaman
periode babyhood dan masa kana-kanak yang kurang baik. Pada
periode babyhood ini bayi sudah memahami senyum, merangkak
dan berdiri. Selain itu bayi senang memegang mainan dengan
kedua tangannya sembari melihat kesana-kemari dan berusaha
untuk mencari-cari suara atau musik yang didengarnya. Bayi juga
sudah mampu membedakan suara ibunya dengan suara orang lain.
Pada akhir periode babyhood bayi seringkali takut didekati orang
yang tidak dikenalnya namun bayi akan merasa senang dengan
anak lain. Kemudian bayi biasanya akan selalu menolak untuk
40
ditidurkan, karena mereka lebih suka menghabiskan waktunya
dengan bermain.
2.4.2. Asuhan Bayi Baru Lahir
Asuhan pada bayi baru lahir menurut (Firmansyah Fery, 2020)
yaitu membersihka jalan nafas dan memelihara kelancaran pernafasan,
dan perawatan tali [Link] kehangatan dan menghindari panas
yang berlebihan. Menilai segera bayi baru lahir seperti nilai APGAR.
Membersihkan badan bayi dan memberikan identitas. Melakukan
pemeriksaan fisik yang terfokus pada bayi baru lahir dan screening
untuk menemukan adanya tanda kelainan-kelainan pada bayi baru
lahir yang tidak memungkinkan untuk hidup. Mengatur posisi bayi
pada waktu menyusui. Memberikan imunisasi pada bayi. Melakukan
tindakan pertolongan kegawatdaruratan pada bayi baru lahir, seperti
bernafas/asfiksia, hypotermi, hypoglikemia. Memindahkan secara
aman bayi baru lahir ke fasilitas kegawatdaruratan apabila dimungkin,
dan mendokumentasikan temuan-temuan dan intervensi yang
dilakukan.
2.4.3. Masalah yang ada pada bayi baru lahir
1. Muntah
Keluar kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yanbg
terjadi secara paksa melalui mulut, disertai kontraksi lambung dan
abdomen. Penyebabnya karena kelainan konginetal saluran
pencernaan makanan atau cara pemberian makanan yang salah.
41
Penatalaksanaannya dengan cara kaji faktoe penyebab, jangan
berikan makanan yang merangsang, perbaiki teknik menyusui,
sendawakan bayi dan rujuk bila ada kelainan.
2. Gumoh
Keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau beberapa
saat setelah minum susu botol atau menyusui dan dalam jumlah
hanya sedikit. Penyebabnya karena bayi sudah kenyang, bayi
terlalu aktif, klep penutup lambung belum berfungsi sempurna,
posisi anak/bayi saat menyusui yang tidak benar, dan fungsi
peristaltik yang belum sempurna. Penatalaksanaannya dengan cara
memperbaiki teknik menyusui/memberikan susu, sendawakan bayi,
dan jangan langsung mengangkat bayi saat gumoh.
3. Diare
Adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih perhari,
disertai perubahannya menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan
darah yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya tampak
sehat. Penyebabnya karena bayi terkontaminasi feses ibu yang
mengandung kuman patogen saat dilahirkan, infeki silang dari
petugas kesehatan yang mengalami diare dan hygiene yang buruk,
dot yang tidak disterilkan sebelum digunakan, dan lain-lain.
Penatalaksanaannya dengan cara: untuk pertolongan pertama
dirumah, berikan oaralit karena merupakan pertolongan pertama
sebelum di bawa ke RS/Puskesmas. Penatalaksanaannya di RS:
42
Memberikan cairan dan mengatur keseimbangan elektrolit, terapi
rehidrasi, kolaborasi untuk terapi pemberian antibiotik sesuai
dengan kuman penyebabnya, mencuci tangan sebelum dan
sessudah kontak dengan bayi untuk mencegah penularan, dan tidak
dianjurkan untuk memberikan anti dieare dan obatobatan pengental
feses.
2.5. Keluarga Berencana
2.5.1. Konsep Dasar Keluarga Berencana
1. Pengertian keluarga berencana
Keluarga berencana merupakan usaha suami-istri untuk
mengukur jumlah anak dan jarak anak yang dinginkan. Usaha yang
dimaksud termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan
perencanaan keluarga. Prinsip dasar metode kontrasepsi adalah
mencegah sperma lakilaki mencapai dan membuahi telur wanita
(fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk
berimplitasi (melekat) dan berkembang didalam rahim.
Keluarga berencana adalah usaha untuk mengatur
banyaknya jumlah kelahiran sehingga ibu maupun bayinya dan
ayah serta keluarga yang bersangkutan tidak akan menimbulkan
kerugian sebagai akibat langsung kelahiran tersebut (Jitowiyono,
2019). (Purwoastuti, 2015) Kontrasepsi yaitu pencegahan
terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi) atau pencegahan
menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim.
43
(Mulyani, 2013) Kontrasepsi pasca persalinan adalah inisiasi
pemakaian metode kontrasepsi dalam waktu 6 minggu pertama
pasca persalinan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak
diinginkan, khususnya pada 1-2 tahun pertama pasca persalinan.
(Mulyani, 2013).
2. Tujuan keluarga berencana
Menurut (Sulistyawati, 2013) Tujuan Program Keluarga
Berencana yaitu:
a. Membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan social
ekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan kelahiran anak
agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat
memenuhi kebutuhan hidupnya.
b. Pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan,
peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.
Menurut (Pinem, 2013) Tujuan Program Keluarga
Berencana yaitu:
a. Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda
kehamilan anak pertama dan menjarangkan kehamilan setelah
kelahiran anak pertama serta menghentikan kehamilan bila
dirasakan anak telah cukup.
b. Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang
telah menikah lebih dari satu tahun tetapi belum juga
44
mempunyai keturunan, hal ini memungkinkan untuk tercapainya
kelurga bahagia
3. Jenis-jenis Keluarga Berencana
a. Kontrasepsi Alami
Menurut (Mulyani, 2018) pembagian cara kontrasepsi adalah
sebagai berikut:
1) Metode Kalender
Metode kalender atau pantang berkala adalah metode
kontrasepsi sederhana yang dilakukan oleh pasangan suami
istri dengan tidak melakukan senggama atau hubungan
seksual pada masa subur atau ovulasi.
2) Metode Kontrasepsi Suhu Basal
Metode suhu basal adalah suhu yang terendah yang dicapai
oleh tubuh selama istirahat atau dalam keadaan istirahat
(tidur). Pengukuran suhu basal dilakukan pada pagi hari
segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas
lainnya. Ibu dapat mengenali masa subur ibu dengan
mengukur suhu badan secara teliti menggunakan termometer
khusus yang biasa mencatat perubahan suhu untuk
mendeteksi, bahkan suatu perubahan kecil suhu tubuh.
3) Metode Lendir Serviks
Metode Lendir Serviks atau Metode Ovulasi merupakan
Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA) dengan cara
45
mengenali masa subur dari siklus menstruasi dengan
mengamati lendir serviks dan perubahan rasa pada vulva
menjelang hari ovulasi.
4) Metode Senggama Terputus
Coitus interruptus atau senggama terputus merupakan
menghentikan senggama dengan mencabut penis dari liang
vagina pada saat suami
menjelang ejakulasi.
b. Kontrasepsi Hormonal
Menurut (Pinem, 2013) pembagian dari kontrasepsi ormonal
adalah:
1) Pil KB
Pil KB adalah suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang
berbentuk pil atau tablet di didalam strip yang berisi gabungan
hormone estrogen dan progesterone atau yang hanya terdiri dari
hormone progesterone saja.
2) KB Implant
KB Implant atau alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK) adalah
alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit. Implant terdiri
dari 6 batang, 4 batang bahkan 1 batang kapsul silastik, dimana
setiap kapsulnya berisi levonorgestrel sebanyak 36 mg.
3) KB IUD
46
KB IUD atau alat kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) adalah alat
kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim yang bentuknya
bermacam-macam, terdiri dari plastic (polyethylene). Ada yang
di lilit tembaga (Cu), ada pula yang tidak, adapula yang dililit
tembaga bercampur perak (Ag). Selain itu ada pula yang
dibatangnya berisi hormone progesterone.
c. Kontarsepsi non hormonal
Menurut (Mulyani, 2018) pembagian kontrasepsi sederhana dengan
alat yaitu:
1) Kondom
Kondom merupakan selubung atau sarung karet yang terbuat
dari berbagai bahan diantaranya karet (lateks), plastic (vinil),
atau bahan alami (produksi hewan) yang dipasang pada penis
untuk menampung sperma ketika seorang pria mencapai
ejakulasi saat berhubungan seksual.
2) Diafragma
Diafragma adalah kap terbentuk bulat cembung, terbuat dari
karet (lateks) yang diinsersikan ke dalam vagina sebelum
berhubungan seksual dan menutup serviks.
3) Spermisida
Spermisida merupakan sediaan kimia (biasanya non oksinol-9)
yang dapat membunuh sperma. tersedia dalam bentuk busa
47
vagina, krim, gel dan suppositoria. Spermisida ditempatkan di
vagina sebelum berhubungan seksual.
d. Kontrasepsi dengan Metode Operasi
Menurut (Pinem, 2013) pembagian dari kontrasepsi dengan metode
operasi adalah:
1) Vasektomi atau medis operatif pria (MOP) Vasektomi
merupakan operasi kecil yang dilakukan untuk menghalangi
keluarnya sperma dengan cara mengikat dan memotong saluran
mani(vas defferent) sehingga sel sperma tidak keluar pada saat
senggama.
2) Tubektomi atau medis operatif wanita (MOW)
Tubektomi atau kontap wanita merupakan suatu kontrasepsi
permanen untuk mencegah keluarnya ovum dengan cara
tindakan mengikat dan atau memotong pada kedua saluran tuba.
2.5.2 Asuhan Keluarga Berencana
Asuhan Kebidanan Pada Keluarga Berencana dalam melaksanakan
asuhan pada ibu dan suaminya langkah-langkahnya meliputi pengkajian
untuk mengumpulkan data subjektif dan objektif. Dalam pengumpulan data
ini harus terjalin komunikasi yang efektif antara petugas dan kedua
pasangan.
1. Data Subjektif
Ibu saat ini tidaksedang haid, ibu menyusui bayi secara ekslusif, ibu
mengatakan ingin menggunakan alat kontrasepsi suntik 3 bulan
48
2. Data Objektif
a. Pemeriksaan umum
1) K/U
2) Kesadaran
b. Tanda-tanda vital
1) TD
2) N
3) P
4) S
c. Pemeriksaan Fisik
1) Mata
2) Payudara
3) Abdomen
4) Genitalia
d. Assasment
Ny....umur ...tahun ingin menggunakan alat kontrasepsi KB
e. Pelaksanaan
Untuk melaksanakan asuhan yang menyeluruh yang berdasarkan
diagnosa dan sesuai keputusan kedua pasangan.
1) Memberitahu klien hasil pemeriksaan
2) Menanyakan pada klien informasi tentang pengalaman dirinya
menggunakan KB
3) Pemberian atau melakukan kb ke pada klien
49
4) Memberitahu pasien agar kunjungan ulang
2.5.3 Masalah yang ada pada keluarga berencana
Bidan berperan penting menjelaskan pada ibu dan suaminya
tentang KB:
1. Idealnya, pasangan harus menunggu sekurang kurang nya 2 tahun
sebelum ibu hamil kembali setiap pasangan harus menentukan sendiri
nkapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan keluarganya. Akan
tetapi petugas kesehatan mampu merencanakan keluarganya dengan
mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang
tidak di inginkan.
2. Biasanya, wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia
mendapatkan lagi haid nya selama menyusui (amenore laktasi). Ole
karena itu, metode amenore laktasi dapat digunakan sebelum haid
pertama kali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru resiko.
3. Penggunaan kontrasepsi tetap lebih aman. Terutama apabila ibu sudah
haid lagi.
50
BAB III
METODE STUDI KASUS
1.1. Jenis Studi Kasus
Dalam penyusunan laporan ini dibuat menggunakan desain studi kasus
dengan pendekatan Continuity of Care yaitu pemberian asuhan yang
dilakukan secara berkesinambungan pada ibu hami, bersalin, nifas, dan bayi
baru lahir. Dalam studi kasus Continuity of Care ini dilakukan dengan cara
meneliti suatu permasalahan melalui kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit
tunggal tersebut dapat berarti satu orang, satu kelompok penduduk atau satu
kelompok masyarakat. Unit yang menjadi kasus tersebut secara mendalam
dianalisis baik dari segi yang berhubungan dengan kasus itu sendiri, faktor-
faktor yang mempengaruhi, kejadian-kejadian khusus yang muncul
sehubungan dengan kasus, maupun tindakan dan reaksi kasus terhadap suatu
perlakuan (Notoadmodjo, 2018).
Asuhan kebidanan yang diberikan dalam studi kasus ini yang bersifat
komprehensif dan Continuity of Care yaitu asuhan yang dimulai dari hamil,
bersalin, nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana pada Ny. “ S” umur 30
tahun dengan G3P2A0.
1.2. Lokasi Studi Kasus
Lokasi studi kasus kehamilan anemia ringan berada di Klinik RB
Mahanum yang beralamat di Jl. Bromo Gg. Setiabudi No.8.
51
1.3. Subjek Studi Kasus
Subjek yang digunakan dalam studi kasus dengan manajemen Asuhan
Kebidanan ini adalah Ny.S hamil 33 minggu 6 hari di Klinik RB Mahanum
kemudian diikuti sampai dengan ibu bersalin, nifas, bayi baru lahir dan
keluarga berencana.
1.4. Waktu Studi Kasus
Studi kasus dilaksanakan dari masa kehamilan, ibu bersalin, nifas,
bayi baru lahir dan keluarga berencana dengan rentan waktu yaitu januari
2024 sampai dengan selesai.
1.5. Instrumen Studi Kasus
Instrument yang di pakai dalam penulisan laporan studi kasus ini
dengan observasi dan wawancara menggunakan lembaran format pengkajian,
partograf, buku KIA dan format manajemen asuhan kebidanan Varney sesuai
dengan manajemen asuhan kebidanan.
1.2. Pengumpulan Data
1.2.1. Data Primer
Data primer diperoleh dalam bentuk anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Pengkajian dapat dilakukan dengan cara
alloanamnesis dan autoanamnesis. Alloanamnesis adalah pemeriksaan
yang diperoleh bukan dari pasien yang bersangkutan seperti keluarga,
orang lain yang memahami riwayat penyakit pasien. Sedangkan
autoanamnesis dapat diperoleh melalui wawancara kepada pasien
52
yang bersangkutan dan observasi pada pasien. Metode yang dilakukan
dalam pengambilan data primer yaitu metode wawancara dan
observasi (Hidayat, 2019).
1. Metode Wawancara
Metode wawancara merupakan metode yang dipergunakan
untuk mengumpulkan data, dimana penulis mendapatkan
keterangan atau informasi secara lisan dari pasien. Jadi data
tersebut diperoleh langsung dari pasien melalui suatu pertemuan
atau percakapan (Sugiyono, 2017). Pengambilan data subjektif
menggunakan metode wawancara pada pasien dan keluarganya
meliputi:
a. Identitas ibu dan suami.
b. Riwayat kehamilan sekarang.
c. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu.
d. Riwayat kesehatan.
e. Riwayat sosial dan ekonomi.
2. Metode Observasi
Menurut Ayudia et al. (2016), observasi merupakan teknik
pengumpulan data, dimana peneliti melakukan pengamatan secara
langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan
yang dilakukan. Metode observasi ini digunakan dalam
pengambilan data objektif dengan pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium yang
53
bertujuan untuk menilai keadaan kesehatan pada klien, dan
membuat analisis dari data subjektif dan objektif yang telah
didapatkan untuk membuat keputusan yang tepat.
1.2.2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber yang
sudah ada (Hidayat, 2014). Dalam pengumpulan data sekunder penulis
mendapatkan informasi dari data yang tertera dalam catatan rekam
medis pasien, hasil pemeriksaan USG dan catatan yang diambil dari
Buku KIA mengenai perkembangan pasien sejak awal kehamilan.
54
DAFTAR PUSTAKA
Hidayat. (2019). Metodee Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data.
Jakarta: PT. Salemba Medika.