0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan65 halaman

Asuhan Kebidanan Anemia Ringan COC 2024

Proposal ini membahas asuhan kebidanan komprehensif Continuity of Care (CoC) pada Ny.S yang mengalami anemia ringan selama kehamilan di Klinik RB Mahanum pada tahun 2024. Anemia pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, sehingga penting untuk memberikan perawatan yang berkesinambungan dari kehamilan hingga pasca persalinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan merencanakan asuhan yang tepat bagi ibu hamil dengan anemia untuk memastikan kesehatan ibu dan bayi.

Diunggah oleh

Ragil Wahyuda Abrar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
23 tayangan65 halaman

Asuhan Kebidanan Anemia Ringan COC 2024

Proposal ini membahas asuhan kebidanan komprehensif Continuity of Care (CoC) pada Ny.S yang mengalami anemia ringan selama kehamilan di Klinik RB Mahanum pada tahun 2024. Anemia pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, sehingga penting untuk memberikan perawatan yang berkesinambungan dari kehamilan hingga pasca persalinan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan merencanakan asuhan yang tepat bagi ibu hamil dengan anemia untuk memastikan kesehatan ibu dan bayi.

Diunggah oleh

Ragil Wahyuda Abrar
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai RTF, PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

ASUHAN KEBIDANAN KOMPREHENSIF CONTINUITY OF CARE (COC)


PADA NY.S DENGAN KEHAMILAN ANEMIA RINGAN
DI KLINIK RB MAHANUM
TAHUN 2024

PROPOSAL

DISUSUN OLEH :

NAMA : NADIA
WULANDARI
NIM : 2115401008

PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN FLORA
2024

1
i

LEMBAR PERSETUJUAN

Nama Mahasiswa : Nadia Wulandari

Nomor Induk Mahasiswa : 2115401008

Judul Karya Tulis Ilmiah : Asuhan Kebidanan Komprehensif


Continuity of Care (CoC) Pada Ny.S
Dengan Kehamilan Anemia Ringan di
Klinik RB Mahanum Tahun 2024

Medan, Januari 2024


Menyetujui

Pembimbing

,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
NIDN.

i
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allas SWT, karena atas limpahan
karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan proposal Laporan Tugas Akhir yang
berjudul “Asuhan Kebidanan Komprehensif Continuity of Care (CoC) Pada Ny.S
Dengan Kehamilan Anemia Ringan di Klinik RB Mahanum Tahun 2024” dengan
tepat waktu tanpa halangan suatu apapun sebagai salah satu syarat menyelesaikan
Program Studi Diploma III Kebidanan STIKes Flora.
Dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini penulis menyadari bahwa
tanpa dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak, sulit bagi penulis
untuk menyelesaikan proposal Laporan Tugas Akhir ini. Oleh karena itu, pada
kesempatan ini penulis ingin menyampaikan terima kasih dan penghormatan
setinggi-tingginya kepada, antara lain:
1. (Alm). Bapak dr. Martua Lubis, MSc, selaku Pendiri Yayasan STIKes
Flora.
2. Ibu Dr. dr. Bugis Mardina Lubis, Sp.A(K) selaku Ketua Yayasan STIKes
Flora.
3. Bapak Dr. dr. H. Muara P Lubis, [Link] (OG)., SpOG(K), selaku Pembina
Yayasan Flora.
4. Ibu dr. Fithria Aldy, [Link] (Oph)., SpM(K), selaku Ketua STIKes Flora.
5. Ibu Bdn. Yulia Safitri, SST, [Link], selaku Ketua Program Studi DIII
Kebidanan STIKes Flora yang telah yang telah memberikan pengarahan
dan bimbingan sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal Laporan
Tugas Akhir.
6. Seluruh dosen dan staf kepegawaian STIKes Flora yang telah banyak
memberikan dorongan dan bimbingan selama saya pendidikan di STIKes.
7. Ibu Bd. Mahanum, [Link] selaku pemilik Rumah Bersalin yang telah
mengizinkan penulis melakukan penelitian dan mendapatkan data yang
diperlukan untuk menyelesaikan proposal Laporan Tugas Akhir ini.
8. Ungkapan terima kasih dan penghargaan yang sangat spesial penulis
haturkan dengan rendah hati dan rasa hormat teruntuk orang tua tercinta

ii
iii

Ayahanda Narmin dan Ibunda Sariyani, yang dengan segala


pengorbanannya tak akan pernah penulis lupakan atas jasa-jasa mereka
Bagaimanapun penulis telah berusaha membuat proposal Laporan Tugas
Akhir ini dengan sebaik-baiknya, namun tidak ada kesempurnaan dalam karya
manusia. Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan
proposal Laporan Tugas Akhir ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis
harapkan untuk lebih menyempurnakan proposal Laporan Tugas Akhir ini.

Medan, Januari 2024

Nadia Wulandari

iii
1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Anemia selama kehamilan merupakan salah satu kondisi yang

meningkatkan risiko perdarahan pasca persalinan. Kondisi ini dapat

mengganggu kontraksi rahim saat persalinan akibat gangguan transportasi

oksigen karena kekurangan hemoglobin yang memengaruhi fungsi seluler

sehingga akan terjadi perdarahan (WHO, 2023). Anemia pada kehamilan

terjadi karena peningkatan kebutuhan zat besi yang signifikan selama

periode ini, meskipun menstruasi sementara berhenti selama kehamilan

untuk mendukung kebutuhan janin. (Garzon, et al., 2020)

Anemia adalah kondisi penurunan kadar hemoglobin (Hb) atau

hematokrit (HCT) atau sel darah merah. Menurut WHO, anemia pada

kehamilan terjadi ketika kadar Hb kurang dari 11 g/dl. Secara fisiologis,

anemia dalam kehamilan terjadi karena peningkatan volume darah ibu,

terutama pada trimester kedua dan ketiga. Peningkatan volume ini akan

menyebabkan penurunan konsentrasi hemoglobin sehingga tubuh ibu hamil

meningkatkan penyerapan zat besi dari saluran pencernaan untuk memenuhi

kebutuhan tambahan dalam pembentukan hemoglobin. Keadaan fisiologis

ini dapat berubah menjadi patologis apabila tidak diatasi. (Deshpande, et al.,

2021)

Masalah anemia pada ibu hamil masih dikatakan cukup serius,

meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi anemia,

1
2

termasuk suplementasi zat besi dengan mengonsumsi tablet zat besi (fe).

Penyebab paling umum dari anemia pada ibu hamil adalah kurangnya

nutrisi yang dibutuhkan untuk sintesis sel darah merah, termasuk zat besi,

vitamin B1, dan asam folat. Sisanya adalah akibat dari berbagai kondisi

seperti perdarahan, penyakit genetic, penyakit kronis, keracunan obat, dan

sebagainya. Selain itu anemia pada ibu hamil disebabkan oleh pola makan

(status nutrisi), malabsorbsi, perdarahan antepartum, kehilangan banyak

darah seperti masa nifas, dan penyakit kronis sperti TBC, cacingan, malaria,

dan lain-lain. Status anemia pada ibu hamil berdampak pada kesehatan ibu

dan anak dalam kandungan antara lain peningkatan risiko bayi berat lahir

rendah, keguguran, kelahiran premature, serta kematian ibu dan bayi.

(Venna A H G dkk, 2022)

Menurut World Health Organization (WHO) prevalensi ibu-ibu

hamil di seluruh dunia yang mengalami anemia sebesar 41, 8%. Prevalensi

di antara ibu hamil bervariasi dari 31% di Amerika Selatan hingga 64% di

Asia bagian selatan. Gabungan Asia selatan dan Tenggara turut

menyumbang hingga 58% total penduduk yang mengalami anemia di negara

berkembang. Di Amerika Utara, Eropa dan Australia jarang di jumpai

anemia karena defisiensi zat besi selama kehamilan. Bahkan di AS hanya

terdapat sekitar 5% anak kecil dan 5-10 % wanita dalam usia produktif yang

menderita anemia karena defisiensi zat besi. (World Health Organization,

2021)
3

Adapun prevalensi data ibu hamil menurut data World Health

Organization (WHO, 2020) telah mengalami penurunan 4,5% selama 19

tahun terakhir, dari tahun 2000 sampai 2019, namun di Indonesia pada tahun

2019 angka kejadian anemia pada ibu hamil meningkat 44,2% dari tahun

2015 sebesar 42,1. Berdasarkan hasil riskesdas 2018 menunjukkan bahwa di

Indonesia sebesar 48,9% ibu hamil mengalami anemia, sebanyak 84,6%

anemia pada ibu hamil terjadi pada kelompok umur usia 15-24 tahun

(Purnama Y dkk, 2023). Selain itu, World Helath Organization (WHO)

menyatakan bahwa prevalensi wanita yang mengalami defisiensi besi sekitar

35-75% dan meningkat seiring dengan bertambahnya usia kehamilan. Selain

itu, kematian ibu di negara berkembang sekitar 40% dikaitkan dengan

anemia pada kehamilan. (Omasti N K dkk, 2022)

Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) survei

terakhir tahun 2020 ibu hamil yang mengalami anemia 30,7%, meskipun

demikian angka tersebut masih tertinggi di Asia. Ibu hamil yang anemia

didominasi pada rentang umur 15-24 tahun. Jumlah kematian ibu yang

dilaporkan di Provinsi Sumatera Utara tahun 2020 adalah 185 orang dengan

distribusi kematian ibu hamil 38 orang, kematian ibu bersalin 79 orang dan

kematian ibu masa nifas 55 orang. (Kementerian Kesehatan RI, 2020)

Anemia pada ibu hamil paling sering disebabkan oleh defisiensi

mikronutrien zat besi. Menurut laporan WHO, prevalensi ibu hamil yang

mengalami defisiensi besi sekitar 35-75% dengan peningkatan prevalensi

seiring dengan bertambahnya usia kehamilan (Paendong, et al., 2016).


4

Faktor-faktor yang menyebabkan anemia pada kehamilan di antaranya

adalah Karakteristik ibu meliputi usia ibu, pendidikan, pekerjaan,

pendapatan keluarga, jumlah paritas, dan jarak kehamilan, pengetahuan ibu,

kurangnya asupan zat besi dari makanan, kunjungan Antenatal Care (ANC),

serta kepatuhan mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD). (Nurmasari &

Sumarmi, 2019)

Melihat faktor risiko yang kemungkinan akan tejadi pada ibu dan

bayi, sebagai seorang bidan sudah menjadi kewajiban untuk memberikan

asuhan kebidanan yang berkesinambungan agar ibu dan bayi terhindar dari

segala masalah tersebut. Asuhan Continuity of Care (CoC) sangat

dibutuhkan selama periode ini. Karena dengan asuhan kebidanan tersebut

tenaga kesehatan seperti bidan, dapat memantau dan memastikan kondisi

ibu mulai dari masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir, hingga

pelayanan Keluarga Berencana (KB) untuk menurunkan AKI dan AKB.

Penulis melakukan pengkajian awal pada Ny.S tanggal 03 Januari

2024 ditemukan, ibu hamil usia 30 tahun G3P2Ab0 usia kehamilan 33

minggu 6 hari dan pada saat pemeriksaan fisik ditemukan adanya gangguan

mengenai Hb Ny.S yaitu 8,5 gr/dl. Hal tersebut tidak sesuai dengan batas

normal kadar Hb pada ibu hamil yaitu > 11 gr%. Berdasarkan latar belakang

tersebut penulis tertarik untuk melakukan studi kasus pada Ny. “S” yang

berumur 30 tahun, bertempat tinggal di Suka Ramai, Kecamatan Medan

Area Kota Medan. Ibu tersebut perlu mendapatkan asuhan kebidanan secara

komprehensif oleh tenaga kesehatan mulai dari masa kehamilan, persalinan,


5

nifas, dan bayi baru lahir agar ibu dan bayi sehat. Penulis tertarik untuk

melakukan studi kasus komprehensif dengan judul “Asuhan Kebidanan

Komprehensif Continuity of Care (CoC) Pada Ny.S Dengan Kehamilan

Anemia Ringan di Klinik RB Mahanum Tahun 2024”

1.1. Identifikasi Ruang Lingkup Asuhan

Berdasarkan latar belakang diatas, maka ruang lingkup asuhan

kebidanan komprehensif pada Ny. S di mulai dari kehamilan, bersalin, nifas,

bayi baru lahir, sampai KB dengan kejadian anemia di Klinik RB Mahanum

Tahun 2024 dengan 7 langkah Varney dan Soap.

1.2. Tujuan Penyusunan LTA

1.1.1. Tujuan Umum

Memberikan asuhan kebidanan komprehensif pada Ny. S

dengan kehamilan anemia ringan menggunakan manajemen

kebidanan Varney di dokumentasikan dengan metode SOAP.

1.1.2. Tujuan Khusus

1) Melaksanakan pengkajian dan analisis data dalam asuhan

kebidanan komprehensif Continuity of Care pada Ny. S dengan

kehamilan anemia ringan.

2) Mengidentifikasi diagnosa/masalah atau kebutuhan dalam asuhan

kebidanan komprehensif Continuity of Care pada Ny. S dengan

kehamilan anemia ringan.


6

3) Mengidentifikasikan diagnosa atau masaalah potensial dalam

asuhan kebidanan komprehensif Continuity of Care pada Ny. S

dengan kehamilan anemia ringan.

4) Mengidentifikasikan dan menetapkan kebutuhan yang

memerlukan penanganan segera dalam asuhan kebidanan

komprehensif Continuity of Care pada Ny. S dengan kehamilan

anemia ringan.

5) Merencanakan asuhan kebidanan dalam asuhan kebidanan

komprehensif Continuity of Care pada Ny. S dengan kehamilan

anemia ringan.

6) Melaksanakan perencanaan dalam asuhan kebidanan

komprehensif Continuity of Care pada Ny. S dengan kehamilan

anemia ringan.

7) Mengevaluasi pada asuhan kebidanan komprehensif Continuity

of Care pada Ny. S dengan kehamilan anemia ringan.

1.3. Manfaat

1.4.1 Manfaat Teoritis

Untuk meningkatkan pengalaman, wawasan, pengetahuan dan

penatalaksanaan mahasiswa dalam memberikan asuhan kebidanan

komprehensif secara berkesinambungan pada ibu di mulai dari

kehamilan, bersalin, nifas, bayi baru lahir dan KB terutama dengan


7

kasus kehamilan lewat waktu (post date). Dapat juga menjadi bahan

literatur untuk peneliti laporan tugas akhir selanjutnya.

1.4.2 Manfaat Praktis

Untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam

memberikan asuhan yang berkesinambungan dan menerapkan

manajemen kebidanan menurut Varney dan metode SOAP.


1

BAB II

LANDASAN PUSTAKA

1.1. Kehamilan

1.1.1. Konsep Dasar Kehamilan

1. Pengertian Kehamilan

Kehamilan adalah keadaan hasil konsepsi yang

ditanamkan yang terletak di dalam rahim atau di tempat lain di

tubuh. Selama masa ini, tubuh ibu mengalami perubahan besar

yang melibatkan semua sistem organ untuk menopang

pertumbuhan janin yang melibatkan semua sistem organ dalam

tubuh. Pada tingkat seluler, pembuahan sel telur oleh sperma

menginisiasi proses embriogenesis. Telur yang telah dibuahi akan

membentuk blastokista. Blastokista kemudian memulai implantasi

dengan endometrium ibu. Implantasi memicu stroma uteri untuk

mengalami desidualisasi untuk menampung embrio (Mutter, et al.,

2023).

Proses yang terjadi di uteri mendukung kelangsungan

hidup embrio dan bertindak sebagai penghalang terhadap respons

imunologi. Selain itu, setelah implantasi, human chorionic

gonadotropin (hCG) mulai disekresikan untuk keberlangsungan

kehamilan. Blastokista kemudian memulai proses pembentukan

tiga lapisan yang berbeda yaitu ektoderm, mesoderm, dan

endoderm. Pada tahap ini, blastokista kemudian menjadi embrio.

1
2

Embrio melewati proses yang dikenal sebagai organogenesis, di

mana sebagian besar sistem organ utama berkembang (Pascual &

Langaker, 2023).

Durasi kehamilan dari implantasi sel telur yang telah

dibuahi hingga kelahiran terjadi selama 266 hari. Namun, karena

usia kehamilan biasanya dimulai dari hari pertama periode

menstruasi terakhir, durasi kehamilan rata-rata dianggap 280 hari.

Durasi ini adalah jumlah waktu yang kira-kira setengah dari

semua wanita akan melahirkan bayinya (Paskual & Langaker,

2023). Durasi pada kehamilan akan dibagi berdasarkan

periodenya. Periode kehamilan terbagi menjadi tiga bagian,

dikenal sebagai trimester pertama, trimester kedua, dan trimester

ketiga. Setiap trimester berlangsung selama tiga bulan (Darawati,

2016).

2. Perubahan dan Adaptasi Fisiologis dan Psikologis Kehamilan

Selama kehamilan normal, tubuh wanita mengalami

perubahan fisiologis di hampir setiap sistem organ untuk

menampung unit fetoplasenta yang sedang tumbuh. Sistem

hematologi tidak terkecuali pada konvensi ini yaitu darah ibu

mengalami perubahan baik dalam jumlah maupun susunannya

(Ghandi & Gupta, 2023). Berbagai komponen darah seperti sel

darah merah, sel darah putih, trombosit, plasma, serta komponen-

komponen lain seperti hemoglobin, protein, dan zat-zat lain yang


3

ada dalam darah darah ibu dapat diuji untuk menyaring dan

mendiagnosis berbagai macam kondisi yang berkaitan dengan

kehamilan serta penyakit yang berhubungan dengan kehamilan

(Deshpande, et al., 2021).

Perubahan hematologi yang menonjol adalah anemia

fisiologis, peningkatan volume plasma, trombositopenia ringan,

keadaan protrombotik ringan, dan pada beberapa individu,

neutrofilia ringan. Selama kehamilan, terjadi hemodilusi fisiologis

dengan puncaknya selama 20-24 minggu kehamilan. Faktanya,

sudah diketahui bahwa ada penurunan fisiologis Hb pada

pertengahan trimester. Penurunan fisiologis ini disebabkan

peningkatan volume plasma yang lebih tinggi, dibandingkan

dengan massa sel darah merah, yang sedikit meningkat selama

kehamilan. Proses fisiologis ini menghasilkan viskositas darah

hemodilusi relative yang membantu sirkulasi darah di plasenta

(Renzo, et al, 2015).

Sebelum mencapai masa kehamilan cukup bulan, jumlah

darah dalam tubuh ibu meningkat sekitar 30% di atas level

normal. Peningkatan ini kemungkinan besar disebabkan oleh

peningkatan kadar hormon estrogen dan aldosteron, yang

menyebabkan ginjal untuk menahan lebih banyak cairan

bersamaan dengan peningkatan jumlah sel darah merah serta

sedikit peningkatan ukuran rata-rata sel darah merah dalam


4

kehamilan yang normal. Oleh karena itu, biasanya ada sekitar 1

hingga 2 liter darah tambahan dalam sistem peredaran darah ibu

ketika melahirkan. (Ghandi & Gupta, 2023).

3. Kebutuhan Dasar Kehamilan

a. Kebutuhan oksigen

Perubahan pada system respirasi karena desakan diafragma

akibat dari dorongan Rahim yang membesar sehingga ibu

hamil akan bernafas lebih dalam. Hal ini juga berhubungan

dengan meningkatnya aktivitas paru-paru untuk mencukupi

kebutuhan oksigen iu dan jain. Untuk memenuhi kecukupan

oksigen yang meningkat, ibu disarankan melakukan jalan-

jalan dipagi hari (Tyastuti, 2016).

b. Kebutuhan nutrisi

Pada trimester akhir ibu dianjurkan untuk meningkatkan berat

badan sesuai dengan indeks masa tubuh (IMT) sebelum hamil

dan meningkatkan asupan protein. Selama kehamilan zat gizi

yang dibutuhkan adalah kalori 2.500 perhari, protein 85gram

perhari, zat besi 30 ml/g perhari, kalsium 1,5gram perhari,

magnesium, vitamin B kompleks serta lemak omega 3 dan

omega 6. bila ibu mempunyai berat badan yang berlebihan,

maka makanan pokok dan tepung-tepungan dikurangi dan

lebih banyak mengkonsumsi buah dan sayuran untuk

menghindari sembelit. Total peningkatan berat badan ibu


5

hamil dengan berat badan berlebih sebaiknya tidak lebih dari

7 kg selamla kehamilan. Hendaknya ibu hamil makan secara

teratur minimal 3 kali sehari disertai selingan dua kali

(Rukiyah, 2013).

c. Kebutuhan personal hygiene

Bertambahnya aktivitas metabolisme tubuh maka ibu hamil

cenderung menghasilkan keringat yang lebih, sehingga perlu

menjaga kebersihan badan secara ekstra disamping itu

menjaga kebersihan badan juga dapat memberikan rasa

nyaman bagi tubuh. Personal hygiene yang dapat dilakukan

diantaranya adalah mandi, perawatan vulva dan vagina,

perawatan gigi, perawatan kuku dan perawatan rambut

(Tyastuti, 2016).

d. Kebutuhan istirahat

Perubahan sistem tubuh karena hamil berkaitan dengan

kebutuhan energi yang dibutthkan ntuk menyeimbangkan

kalori dalam tubuh ibu. Ibu hamil khususnya pada trimester

akhir masih dapat bekerja namun tidak dianjurkan untuk

bekerja berat dan mengatur pola istirahat yang baik. Pada

trimester III kehamilan sering di iringi dengan bertambahnya

ukuran janin, sehingga terkadang ibu kesulitan untuk

menentukan posisi yang paling baik dan nyaman untuk tidur.

Posisi tidur yang dianjurkan adalah miring kiri, kaki kiri


6

lurus, kaki kanan sedikit menekuk dan diganjal dengan bantal

(Tyastuti, 2016).

e. Kebutuhan exercise

Aktivitas gerak bagi ibu hamil sangat direkomendasikan

karena dapat meningkatkan kebugaran. Aktivitas ini bisa

dilakukan dengan senam hamil. Senam hamil merupakan

suatu program latihan fisik yang penting bagi ibu hamil untuk

mempersiapkan dirinya secara fisik maupun mental saat

menghadapi persalinan. Waktu yang baik untuk melakukan

senam hamil adalah saat umur kehamilan menginjak 20

minggu (Nugroho, 2014).

f. Pakaian

Ibu dianjurkan untuk menggunaan pakaian yang longgar,

bersih dan tidak ada ikatan yang ketat pada daerah perut serta

mengganti pakaian dalam sesering mungkin agar tidak

lembab.

g. Persiapan persalinan

Ibu hamil sudah mulai perencanaan persiapan persalinan

seperti tempat bersalin, penolong persalinan, jarak menuju

tempat bersalin, transportasi yang akan digunakan, pakaian

ibu dan bayi, pendamping saat bersalin, alat kontrasepsi

(KB), biaya persalinan dan calon donor.


7

h. Kebutuhan seksual

Hubungan seksual dapat dilakukan oleh ibu hamil, namun

pada usia kehamilan belum cukup bulan dianjurkan untuk

menggunakan kondom. Prostaglandin pada sperma dapat

menyebabkan kontraksi yang memicu terjadinya persalinan

1.1.2. Asuhan Kehamilan

1. Definisi Kehamilan

Kehamilan dan persalinan bukanlah sebuah proses

patologis melainkan proses alamiah (normal), tetapi kondisi

normal tersebut dapat berubah menjadi abnormal. Menyadari hal

tersebut, dalam melakukan asuhan tidak perlu melakukan

intervensi-intervensi yang tidak perlu kecuali ada indikasi.

Berdasarkan hal tersebut kehamilan didefinisikan sebagaimana

berikut.

a. Kehamilan merupakan masa yang dimulai dari konsepsi

hingga lahirnya janin. Lama kehamilan ini berlangsung

selama 280 hari (40 minggu atau sama dengan sembilan

bulan tujuh hari) (Situmorang dkk., 2021).

b. Kehamilan merupakan proses yang diawali dengan

pertemuan sel ovum dan sel sperma di dalam uterus tepatnya

di tuba fallopi. Setelah itu terjadi proses konsepsi dan terjadi

nidasi, kemudain terjadi implantasi pada dinding uterus,


8

tepatnya pada lapisan edomentrium yang terjadi pada hari

keenam dan ketujuh setelah konsepsi (Rintho, 2022).

2. Filosofi Asuhan Kehamilan

Filosofi adalah nilai atau keyakinan atau kepercayaan yang

mendasari seseorang untuk berperilaku sehingga memengaruhi

pola kehidupannya. Filosofi juga merupakan pernyataan

mengenai suatu keyakinan dan nilai (value) yang dimiliki oleh

seseorang maupun kelompok (Diki dkk., 2021). Pada prinsipnya

filosofi asuhan kehamilan merujuk pada filosofi bidan dalam

memberikan pelayanan kebidanan antara lain menyatakan

sebagaimana berikut.

a. Kehamilan dan persalinan merupakan proses alamiah

(normal) dan bukan proses patologis, tetapi kondisi normal

tersebut dapat menjadi abnormal. Menyadari hal tersebut

dalam melakukan asuhan tidak perlu melakukan intervensi-

intervensi yang tidak perlu kecuali ada indikasi.

b. Setiap perempuan berkepribadian unik, terdiri atas bio, psiko,

dan sosial yang berbeda, sehingga dalam memperlakukan

pasien/klien satu dengan yang lainnya juga berbeda dan tidak

boleh disamakan.

c. Mengupayakan kesejahteraan perempuan dan bayi baru lahir.

Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai upaya baik promosi

kesehatan melalui penyuluhan atau konseling pemenuhan


9

kebutuhan ibu hamil maupun dengan upaya preventif,

misalnya pemberian imunisasi TT pada ibu hamil serta

pemberian tablet tambah darah dan lain sebagainya.

d. Perempuan mempunyai hak memilih dan memutuskan

tentang kesehatan, siapa dan di mana mendapatkan pelayanan

kesehatan.

e. Fokus asuhan kebidanan adalah untuk memberikan upaya

preventif (pencegahan) dan promotif (peningkatan

kesehatan).

f. Mendukung dan menghargai proses fisiologi, intervensi, dan

penggunaan teknologi dilakukan hanya berdasarkan indikasi.

g. Membangun kemitraan dengan profesi lain untuk

memberdayakan perempuan.

2.1.3 masalah yang ada dalam kehamilan (ini msukan materinya)

1.2. Persalinan

1.1.1. Konsep Dasar Persalinan

1. Pengertian Persalinan

Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin

dan uri) yang telah cukup bulan atau dapat hidup di luar kandungan

melalui jalan lahir atau bukan jalan lahir, dengan bantuan atau

tanpa bantuan (kekuatan sendiri) (Mutmainnah, dkk, 2017).

Persalinan adalah proses di mana bayi, plasenta dan selaput


10

ketuban keluar dari rahim ibu. Persalinan dianggap normal jika

prosesnya terjadi pada usia kehamilan cukup bulan (setelah 37

minggu) tanpa disertai dengan penyulit (APN, 2008; Sulfianti dkk.,

2020).

Persalinan normal adalah proses pengeluaran janin yang

terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu) lahir spontan

dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam,

tanpa komplikasi baik pada ibu maupun pada janin (Sulfianti dkk.,

2020).

2. Perubahan dan Adaptasi fisiologis persalinan

Perubahan fisiologi mempengaruhi jalannya persalinan.

Beberapa perubahan fisiologi yang terjadi sebagai berikut

(Dartiwen dan Yati, 2019)

a. Perubahan Uterus

Pada masa persalinan akan terjadi perubahan dibagian

uterus, perubahan yang terjadi sebagai berikut.

1) Kontraksi uterus yang dimulai dari fundus dan terus

menyebar kedepan dan kebawah abdomen dan berakhir

dengan masa yang terpanjang dan sangat kuat pada fundus

uteri.

2) Segmen atas rahim (SAR), dibentuk oleh korpus uteri yang

bersifat aktif dan berkontraksi. Dinding SAR bertambah tebal

dengan majunya persalinan sehingga mendorong bayi keluar.


11

3) Segmen bawah rahim (SBR), dibentuk oleh istmus uteri

bersifat aktif relokasi dan dilatasi. Dilatasi makin tipis karena

terus diregang dengan majunya persalinan.

4) Dominasi fundus bermula dari fundus dan merembet

kebawah.

5) Perubahan uterus berlangsung paling lama dan paling kuat di

fundus.

6) Perubahan fisiologi mencapai puncak kontraksi bersamaan

pada seluruh bagian uterus dan mereda bersamaan dengan

serviks membuka dan mengalami proses pengeluaran janin.

b. Perubahan bentuk Rahim

Setiap terjadi kontraksi sumbu panjang rahim bertambah

panjang, sedangkan ukuran melintang dan ukuran muka

belakang berkurang. Perubahan bentuk rahim ini adalah sebagai

berikut:

1) Ukuran melintang menjadi turun, akibatnya lengkungan

punggung bayi turun dan menjadi lurus. Bagian atas bayi

tertekan fundus, dan bagian bawah bayi tertekan pintu atas

panggul.

2) Rahim bertambah panjang, sehingga otot-otot memanjang

direnggang dan menarik segmen bawah rahim dan serviks.

Peristiwa tersebut menimbulkan terjadinya pembukaan


12

serviks, sehingga segmen atas rahim (SAR) dan serviks

bawah rahim (SBR) juga terbuka.

c. Ligamentum rotundum

Ligamentum rotundum terletak pada sisi uterus, yaitu di

bawah dan di depan insersi tuba falopi. Ligamentum ini

melintasi atau bersilangan pada lipatan paritoneum, melewati

saluran percernaan dan memasuki bagian depan labia mayora

pada sisi atas perineum. Perubahan yang terjadi pada

ligamentum rotundum ini sebagai berikut.

1) Pada saat kontraksi, fundus yang tadinya bersandar pada

tulang punggung berpindah ke depan mendesak dinding perut

kearah depan. Perubahan letak uterus pada waktu kontraksi

ini penting karena menyebabkan sumbu Rahim menjadi

searah dengan sumbu jalan lahir.

2) Kontraksi yang terjadi pada ligamentum rotundum tersebut

menyebabkan fundus uteri tertambat sehingga fundus tidak

dapat naik ke atas.

d. Perubahan serviks

Pada saat persalinan serviks akan mengalami beberapa

perubahan, diantaranya sebagai berikut:

1) Pendataran serviks (effacement), yaitu pemendekan kanalis

servikalis dari 1-2 cm menjadi satu lubang dengan pinggir

yang tipis.
13

2) Pembukaan serviks, yaitu pembesaran dari ostium eksternum

yang tadinya berupa suatu lubang dengan diameter beberapa

milimeter menjadi bagian lubang kirakira 10 cm dan nantinya

dapat dilalui bayi. Saat pembukaan lengkap, bibir portio tidak

teraba lagi, kepala janin akan menekan serviks, dan

membantu pembukaan secara efisien

e. Perubahan sistem urinaria

Pada akhir bulan ke-9, pemeriksaan fundus uteri menjadi

lebih rendah, kepala janin mulai masuk pintu atas panggul, dan

menyebabkan kandung kencing tertekan sehingga merangsang

ibu untuk sering kencing. Pada kala I, adanya kontraksi uterus

menyebabkan kandung kencing semakin tertekan. Poliuria

sering terjadi selama persalinan. Hal ini disebabkan oleh

peningkatan cardiac output, peningkatan filtrasi glomerolus, dan

peningkatan aliran plasma ginjal. Poliuria akan berkurang pada

posisi terlentang.

f. Perubahan vagina dan dasar panggul

Pada kala I, ketuban ikut meregangkan bagian atas

vagina sehingga dapat dilalui bayi. Setelah ketuban pecah,

segala perubahan yang ditimbulkan oleh bagian depan bayi pada

dasar panggul menjadi sebuah saluran dengan bagian dinding

yang tipis. Ketika kepala sampai ke vulva, lubang vulva

menghadap ke depan atas. Dari luar peregangan oleh bagian


14

depan Nampak pada perineum yang menonjol dan menjadi tipis,

sedangkan anus menjadi terbuka. Regangan yang kuat tersebut

disebabkan oleh bertambahnya pembuluh darah pada bagian

vagina dan dasar panggul, tetapi kalau jaringan tersebut robek

akan menimbulkan pendarahan yang banyak.

g. Perubahan metabolisme karbohidrat dan basal metabolisme rate

Pada saat mulai persalinan, terjadi penurunan hormone

progestron yang mengakibatkan perubahan pada system

pencernaan menjadi lebih lambat. Hal ini menyebabkan

makanan menjadi lama di lambung sehingga banyak ibu bersalin

yang mengalami obstivasi atau peningkatan getah lambung yang

kemudian akan sering mual dan muntah. Pada basal

metabolisme rate (BMR), dengan adanya kontraksi dan tenaga

mengejan yang membutuhkan energi besar, maka pembuangan

juga akan lebih tinggi dan suhu tubuh meningkat. Suhu tubuh

akan sedikit meningkat selama proses persalinan dan akan turun

setelah proses persalinan selesai. Hal ini disebabkan karena

adanya peningkatan metabolisme tubuh.

h. Perubahan pada sistem pernafasan

Dalam persalinan, ibu mengeluarkan lebih banyak CO2

dalam setiap nafas. Selama kontraksi uterus yang kuat, frekuensi

dan kedalaman pernafasan meningkat sebagai responns terhadap


15

peningkatan kebutuhan oksigen akibat pertambahan laju

metabolik.

i. Perubahan pada hematologi

Haemoglobin akan meningkat selama persalinan sebesar

1,2 gr % dan akan kembali pada tingkat seperti sebelum

persalinan pada hari pertama pasca persalinan kecuali terjadi

perdarahan.

j. Nyeri

Nyeri dalam persalinan dan kelahiran adalah bagian dari

respon fisiologis yang normal terhadap beberapa faktor. Selama

Kala I persalinan, nyeri yang terjadi disebabkan oleh dilatasi

serviks dan distensi segmen uterus bawah. Pada kala II, nyeri

yang terjadi disebabkan oleh distensi dan kemungkinan

gangguan pada bagian bawah vagina dan perineum.

3. Kebutuhan dasar persalinan

Kebutuhan dasar ibu bersalin menurut Fitriana dan

Nurwiandani (2018) terbagi menjadi 2 yaitu:

a. Kebutuhan Fisiologis ibu bersalin

1) Kebutuhan oksigen

Suplai oksigen yang tidak adekuat, dapat menghambat

kemajuan persalinan dan dapat mengganggu kesejahteraan

janin. Oksigen yang adekuat dapat diupayakan dengan

pengaturan sirkulasi udara yang baik selama persalinan.


16

Hindari menggunakan pakaian yang ketat, sebaiknya

penopang payudara (BH) dapat dilepas atau dikurangi

kekencangannya. Indikasi pemenuhan kebutuhan oksigen

adekuat adalah Denyut Jantung Janin (DJJ) baik dan stabil.

2) Kebutuhan cairan dan nutrisi

Kebutuhan cairan dan nutrisi (makan dan minum) merupakan

kebutuhan yang harus dipenuhi dengan baik oleh ibu selama

proses persalinan. Asupan makanan yang cukup (makanan

utama maupun makanan ringan), merupakan sumber dari

glukosa darah, yang merupakan sumber utama energi untuk

sel-sel tubuh.

3) Kebutuhan eliminasi

Anjurkan ibu untuk berkemih secara spontan sesering

mungkin atau minimal setiap 2 jam sekali selama persalinan.

Kandung kemih yang penuh, dapat mengakibatkan:

a) Menghambat proses penurunan bagian terendah janin ke

dalam rongga panggul, terutama apabila berada di atas

spina isciadika

b) Menurunkan efisiensi kontraksi uterus atau his

c) Meningkatkan rasa tidak nyaman yang tidak dikenali ibu

karena bersama dengan munculnya kontraksi uterus

d) Meneteskan urin selama kontraksi yang kuat pada kala II


17

e) Memperlambat kelahiran plasenta pasca persalinan, karena

kandung kemih yang penuh menghambat kontraksi uterus.

4) Kebutuhan hygene (kebersihan personal)

Personal hygiene yang baik dapat membuat ibu merasa aman

dan relaks, mengurangi kelelahan, mencengah infeksi,

mencengah gangguan sirkulasi darah, mempertahankan

integritas pada jaringan, dan memelihara kesejahteraan fisik

serta psikis.

5) Kebutuhan istirahat

Istirahat selama proses persalinan (kala I, II, III maupun IV)

yang dimaksud adalah bidan memberikan kesempatan pada

ibu untuk mencoba relaks tanpa adanya tekanan emosional

dan fisik. Hal ini dilakukan selama tidak ada his (disela-sela

his). Ibu bias berhenti sejenak untuk melepas rasa sakit akibat

his, makan atau minum, atau melakukan hal menyenangkan

yang lain untuk melepas lelah, atau apabila memungkinkan

ibu dapat tidur. Namun pada kala II, sebaiknya ibu

diusahakan untuk tidak mengantuk.

6) Posisi dan ambulasi

Posisi persalinan yang akan dibahas adalah posisi persalinan

pada kala I dan posisi meneran pada kala II. Ambulasi yang

dimaksud adalah mobilisasi ibu yang dilakukan pada kala I.

7) Pengurangan rasa sakit


18

Stimulasi yang dapat dilakukan oleh bidan dalam mengurangi

nyeri persalinan dapat berupa kontak fisik maupun pijatan.

Pijatan dapat berupa pijatan/massage di daerah lombosacral,

pijatan ganda pada pinggul, penekanan pada lutut, dan

counterpressure. Cara lain yang dapat dilakukan bidan

diantaranya adalah: memberikan kompres hangat dan dingin,

mempersilahkan ibu untuk mandi atau berada di air

(berendam).

8) Penjahitan perineum

Penjahitan perineum merupakan salah satu kebutuhan

fisiologis ibu bersalin. Dalam melakukan penjahitan

perineum, perlu memperhatikan prinsip sterilitas dan asuhan

sayang ibu.

9) Kebutuhan akan proses persalinan yang terstandar

Mendapatkan pelayanan asuhan kebidanan persalinan yang

terstandar merupakan hak setiap ibu. Hal ini merupakan salah

satu kebutuhan fisiologis ibu bersalin, karena dengan

pertolongan persalinan yang terstandar dapat meningkatkan

proses persalinan yang alami atau normal

b. Kebutuhan psikologis ibu bersalin

1) Pemberian sugesti

Pemberian sugesti dilakukan untuk memberikan pengaruh

pada ibu dengan pemikiran yang dapat diterima secara logis.


19

Sugesti yang diberikan berupa sugesti positif yang mengarah

pada tindakan memotivasi ibu untuk melalui proses

persalinan sebagaimana mestinya.

2) Mengalihkan perhatian

Upaya mengalihkan perhatian bias dilakukan dengan cara

mengajaknya berbicara, sedikit bersenda gurau, mendegarkan

musik kesukaannya atau menonton televise atau film.

3) Membangun kepercayaan

Kepercayaan merupakan salah satu unsure penting yang

dapat membangun citra positif ibu dan membangun sugesti

positif dari bidan.

1.1.2. Asuhan persalinan

Asuhan Persalinan normal, Ibu yang akan melahirkan harus

memenuhi beberapa persyaratan yang disebut penapisan awal. Tujuan

dari penapisan awal adalah untuk menentukan apakah ibu tersebut

boleh bersalin di Praktek Mandiri Bidan (PMB) atau harus dirujuk.

Apabila didapati atau salah satu/ lebih penyulit seperti di bawah ini

maka ibu harus dirujuk ke rumah sakit:

1. Riwayat bedah Caesar

2. Perdarahan pervaginam

3. Persalinan kurang bulan (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)

4. Ketuban Pecah dengan Mekoneum Kental

5. Ketuban Pecah Lama (>24 jam)


20

6. Ketuban Pecah pada Persalinan kurang bulan (usia kehamilan

kurang dari 37 minggu)

7. Ikterus

8. Anemia berat

9. Tanda/gejala infeksi

10. Pre-eklampsi/ Hipertensi dalam kehamilan

11. Tinggi Fundus Uteri 40 cm atau lebih

12. Gawat Janin

13. Primipara dalam fase aktif kala satu persalinan dengan palpasi

kepala masih 5/5

14. Presentasi bukan belakang kepala

15. Presentasi majemuk

16. Kehamilan Gemeli

17. Tali Pusat Menumbung

18. Syok

19. Penyakit penyakit yang menyertai.

1.1.3. Masalah yang ada pada persalinan

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi persalinan adalah:

1. Penumpang (Passanger)

Penumpang dalam persalinan adalah janin dan plasenta. Hal-hal

yang perlu diperhatikan mengenai janin adalah ukuran, presentasi,

letak, sikap, dan posisi janin sedangkan yang perlu diperhatikan

pada plasenta adalah letak, besar dan luasnya


21

2. Jalan Lahir (Passange)

Jalan lahir dibagi atas dua yaitu jalan lahir keras dan jalan lahir

lunak. Jalan lahir keras adalah ukuran dan bentuk tulang panggul

sedangkan jalan lahir lunak adalah segmen bawah uterus yang

dapat meregang serviks, otot besar panggul, vagina, introitus

vagina.

3. Kekuatan (Power)

Faktor kekuatan dalam persalinan dibagi atas dua yaitu:

a. Kekuatan primer, kontraksi berasal dari segmen atas uterus yang

menebal dan dihantarkan ke uterus bawah dalam bentuk

gelombang. Kekuatan primer mengakibatkan servik menipis dan

berdilatasi sehingga janin turun.

b. Kekuatan sekunder, kekuatan ini diafragma dan abdomen ibu

berkontraksi dan mendorong keluar isi jalan lahir sehingga

menimbulkan tekanan intra abdomen. Kekuatan sekunder tidak

mempengaruhi dilatasi servik, tetapi setalah dilatasi servik

lengkap, kekuatan ini cukup penting dalam usaha untuk

mendorong keluar dari uterus dan vagina.

4. Posisi ibu (positioning), Posisi ibu dapat mempengaruhi adaptasi

anatomi dan fisiologi persalinan. Perubahan posisi yang diberikan

pada ibu bertujuan untuk menghilangkan rasa letih, memberi rasa

nyaman, dan memperbaiki sirkulasi, seperti posisi berdiri, berjalan,

duduk, dan jongkok.


22

5. Respons psikologis , Respons psikologis ibu dapat dipengaruhi

oleh:

a. Dukungan suami selama persalinan

b. Dukungan kakek-nenek saudara dekat) selama persalinan

c. Saudara kandung bayi selama persalinan.

1.3. Nifas

1.1.4. Konsep Dasar Nifas

1. Pengertian Nifas

Masa nifas dimulai sejak plasenta lahir dan berakhir

ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum

hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu atau 42 hari,

merupakan waktu yang diperlukan untuk pulihnya alat

kandungan pada keadaan yang normal (Fitri, 2017).

Masa nifas adalah masa sesudah persalinan dan kelahiran

bayi, plasenta, serta selaput yang diperlukan untuk memulihkan

kembali organ kandungan seperti sebelum hamil dengan waktu

kurang lebih 6 minggu atau 40 hari (Dartiwen dan Yati, 2019).

2. Perubahan dan adaptasi fisiologis dan psikologis kehamilan

Perubahan fisik secara umum penting diperhatikan oleh

setiap penolong persalinan. Beberapa perubahan yang terjadi

pada organ tubuh vital yang terjadi segera setelah pengosongan

rahim akibat lahirnya janin dan plasenta perlu dipahami dengan

baik agar kondisi patologis dapat segera dikenali dan


23

mendapatkan pengolaan yang semestinya. Dengan demikian,

perubahan pada alat kandung saja tidak cukup dijadikan

penanda. (Sri astuti dkk, 2018)

a. Masa nifas dini

1) Sistem jantung dan pembuluh darah

2) Sistem pernapasan

3) Perubahan pada uterus

b. Masa nifas lambat

1) Sistem jantung dan pembuluh darah

2) System hematologi

3) System pernapasan

4) Perubahan pada uterus,vagina,dan struktur penyokong

rahim

5) Perubahan pada dinding abdomen dan kontur tulang

belakang

6) Sistem berkemih

c. Lochea

Lochea adalah ekskreasi cairan rahim selama masa

nifas. Lochea mengandung darah sisa desidua yang nekrotik

dari dalam uterus. Pemeriksaan loche meliputi perubahan

warna dan bau karena lochea memiliki ciri khas : bau amis

atau khas darah dan adanya bau busuk menandakan adanya


24

infeksi. Jumlah total pengeluaran seluruh periode lochea

rata-rata kira-kira 240-270 ml (Pusdiklatnakes, 2019).

3. Kebutuhan dasar nifas

a. Nutrisi dan cairan

1) Ibu dalam masa nifas harus mengonsumsi tambahan

500 kalori setiap hari. Makanan tersebut bisa diperoleh

dengan mengonsumsi sayuran berwarna hijau (bayam,

brokoli, katu) dan berwarna kuning (wortel, tomat,

nangka), kacang- kacangan, hati, kuning telur,

gandum/nasi, ikan laut, daging, buah (pepaya, mangga,

melon, jeruk) serta minum susu.

2) Minum sedikitnya 3 liter per hari.

3) Pil zat besi harus diminum untuk menambah zat gizi,

setidaknya selama 40 hari pasca persalinan

(Prawirohardjo, 2016).

b. Pemberian kapsul vitamin A 200.000 IU

Kapsul vitamin A 200.000 IU diberikan sebanyak 2 kali

pertama diberikan segera setelah melahirkan, kedua

diberikan setelah 24 jam pemberian kapsul vitamin A

pertama (Pusdiklatnakes, 2014).

c. Ambulasi dini (Early Ambulation)

Ambulasi dini dilakukan dengan gerakan dan jalanjalan

ringan sambil bidan melaksanakan observasi perkembangan


25

pasien dari jam demi jam sampai hitungan hari. Ambulasi

tidak diperbolehkan pada pasien dengan penyakit tertentu

seperti anemia, jantung, paru-paru, demam, dan keadaan

lain yang membutuhkan waktu istirahat. (Mansyur dan

Dahlan, 2014).

d. Eliminasi

Ibu postpartum diharapkan dapat buang air besar setelah

hari ke-2 post partum. Jika hari ke-3 belum juga BAB,

maka perlu diberi obat pelancar per oral atau per rektal.

(Mansyur dan Dahlan, 2014).

e. Personal Hygiene

Kebersihan diri sangat penting untuk mencegah infeksi.

Anjurkan ibu menjaga kebersihan seluruh tubuh, terutama

perineum. Sarankan ibu untuk mengganti pembalut 2 kali

sehari, mencuci tagan dengan sabun dan air sebelum dan

sesudah membersihkan daerah kelaminnya dan bagi ibu

yang mempunyai luka episiotomi atau laserasi, disarankan

untuk mencuci luka tersebut dengan air dingin dan

menghindari menyentuh daerah tersebut. (Pusdiklatnakes,

2014).

f. Istirahat

Sarankan ibu untuk selalu tidur siang atau beristirahat selagi

bayinya tidur. Pusdiklatnakes, 2014).


26

g. Seksual

Ibu diperbolehkan untuk melakukan aktivitas kapan saja ibu

siap dan secara fisik aman serta tidak ada rasa nyeri.

(Pusdiklatnakes, 2014).

h. Senam nifas

Senam nifas dilakukan secara perlahan dahulu lalu makin

lama semakin sering/kuat. Seam yang pertama paling baik

paling aman untuk memperkuat dasar panggul adalah senam

kegel. Senam kegel bertujuan membantu penyembuhan

postpartum dengan jalan kontraksi dan pelepasan secara

bergantian pada otot- otot dasar panggul. (Mansyur dan

Dahlan, 2014).

i. Perawatan Payudara

Menjaga payudara tetap bersih dan kering dengan

menggunakan BH yang menyokong payudara. Apabila

puting susu lecet oleskan kolostrum atau ASI yang keluar

pada sekitar puting susu setiap selesai menyusui. Untuk

menghilangkan nyeri ibu dapat diberikan paracetamol 1

tablet 500 mg setiap 4-6 jam sehari (Wahyuni, 2018).

j. Keluarga Berencana

Menurut (Barus, 2018) Ibu nifas dianjurkan untuk menunda

kehamilannya minimal 2 tahun agar bayi memperoleh ASI


27

selama 2 tahun. Penjarangan kehamilan juga bermanfaat

untuk kesehatan ibu.

2.3.2. Asuhan Nifas

1. Pengkajian data fisik

a. Melakukan pemeriksaan fisik dan pengkajian psikososial

terhadap ibu, ayah dan anggota keluarga.

b. Mendeteksi adanya penyimpangan dari kondisi yang normal.

c. Dari masa prenatal, kaji masalah kesehatan selama kehamilan

yang pernah timbul, seperti: anemia hipertensi dalam kehamilan

dan diabetes.

d. Kaji proses persalinan, lama dan jenis persalinan kondisi selaput

dan cairan ketuban, respon terhadap persalinan, obat-obatan

yang digunakan respon keluarga khususnya ayah pada

persalinan dan kelahiran.

e. Dilakukan segera pada masa immediate postpartum, seperti:

observasi tanda vital, keseimbangan cairan, pencegahan

kehilangan darah yang abnormal dan eliminai urin.

2. Pengkajian data psikososial.

Respons ibu dan suami terhadap kelahiran bayi Pola hubungan ibu,

suami dan keluarga Kehidupan spiritual dan ekonomi keluarga

Kepercayaan dan adat istiadat. Adaptasi psikologi ibu setelah

melahirkan, pengalaman tentang melahirkan, apakah ibu pasif atau

cerewet, atau sangat kalem. Pola koping, hubungan dengan suami,


28

hubungan dengan bayi, hubungan dengan anggota keluarga lain,

dukungan social dan pola komunikasi termasuk potensi keluarga

untuk memberikan perawatan kepada klien. Adakah masalah

perkawinan, ketidak mampuan merawat bayi baru lahir, krisis

keluarga.

Blues : Perasaan sedih, kelelahan, kecemasan, bingung dan mudah

menangis.

Depresi : Konsentrasi, minat, perasaan kesepian, ketidakamanan,

berpikir obsesif, rendahnya emosi. Angka positif, perasaan tidak

berguna, kecemasan yang berlebihan pada dirinya atau bayinya,

sering cemas saat hamil, bayi rewel, perkawinan yang tidak

bahagia, suasana hati yang tidak bahagia, kehilangan kontrol,

cerasaan bersalah, merenungkan tentang kematian, kesedihan yang

berlebihan, kehilangan nafsu makan, msomnia, sulit berkonsentrasi.

(Feti Kumala D. 2017) Kultur yang dianut termasuk kegitan ritual

yang berhubungan dengan budaya pada perawatan post partum,

makanan atau minuman,meyendiri bila menyusui, pola seksual,

kepercayaan dan keyakinan,harapan dan cita-cita.(Fitriani 2021)

3. Riwayat Kesehatan Ibu

a. Riwayat kesehatan yang lalu.

Kaji apakah ibu pernah atau sedang menderita penyakit yang

dianggap berpengaruh pada kondisi kesehatan saat ini. Misalnya


29

penyakit-penyakit degenerative seperti jantung, DM, hipertensi

dan lain-lain, infeksi saluran kencing.

b. Riwayat penyakit keturunan dalam keluarga.

Kaji apakah di dalam silsilah keluarga Ibu mempunyai penyakit

keturunan. Misalnya penyakit asma, Diabetes Melitus, dan

penyakit keturunan lairnya

c. Riwayat penyakit menular dalam keluarga

Kaji apakah keluarga ibu mempunyai riwayat menular. Misalnya

TBC, hepatitis, dan HIV/AIDS

d. Riwayat KB dan Perencanaan Keluarga

Kaji pengetahuan klien dan pasangannya tentang kontrasepsi,

jenis kontrasepsi yang pernah gunakan, kebutuhan kontrasepsi

yang akan atau rencana penambahan anggota keluarga

mendatang.

4. Kebiasaan Sehari-Hari.

a. Pola nutrisi

Pola menu yang dikomsumsi, jumlah, jenis makan, ( kalori,

protein, vitamin, tinggi serat, frekuensi, [Link] snack

(makanan ringan), nafsu makan, pola minum, jumlah, dan

frekuensi.

b. Pola istirahat dan tidur:

Lamanya, kapan (malam, siang), rasa tidak nyaman yang

mengganggu istirahat, penggunaan selimut, lampu atau remang-


30

remang atau gelap, apakah mudah terganggu dengan suara-

suara, posisi saat tidur (penekanan pada perineum).

c. Pola eliminasi:

Apakah terjadi diuresis, setelah melahirkan, adakah

inkontinensia (hilangnya infolunter pengeluaran urin), hilangnya

kontrol bias, terjadi over distensi blass atau tidak atau retensi

urine karena rasa talut luka episiotomi, apakah perlu bantuan

saat BAK. Pola BAB, freguensi, konsistensi, rasa takut BAB

karena luka perineum, kebiasaan penggunaan toilet.

d. Personal Hygiene :

Pola mandi, kebersihan mulut dan gigi, penggunaan pembalut

dan kebersihan genitalia, pola berpakaian, tatarias rambut, dan

wajah.

e. Aktifitas :

Kemampuan mobilisasi beberapa saat setelah melahirkan

kemampuan merawat diri dan melakukan eliminasi, kemampuan

bekerja dan menyusui.

f. Rekreasi dan hiburan :

Situasi atau tempat yang menyenangkan, kegiatan yang

membuat fresh dan relaks.

5. Pemeriksaan fisik

a. Tanda-tanda vital

1) Tekanan darah
31

Tekanan darah menjadi salah satu patokan untuk mengetahui

kondisi keadaan ibu pasca persalinan atau pada masa nifas.

Yang harus dipantau kerena, jika peningkatan tekanan darah

signifikan disebut preeklamsia pascapartum.

2) Suhu

Yang perlu diperhatikan adanya kenaikan suhu samapi 38

derajat pada hari kedua sampai hari kesepuluh yang

menunjukkan adanya morbiditas puerperalis. Suhu maternal

kembali dari suhu yang sedikit meningkat selama periode

intrapartum dan stabil dalam 24 jam pertama pascapartum.

3) Nadi

Apabila denyut nadi diatas 100 selama puerperium, hal

tersebut abnormal dan mungkin menunjukkan adanya infeksi

atau hemoragi pascapartum [Link] nadi yang

meningkat selama persalinan akhir, kembali normal selama

beberapa jam pertama pascapartum.

4) Pernapasan

Fungsi pernafasan kembali pada rentang normal wanita selama

jam pertama pascapartum. Nafas pendek, cepat, atau

perubahan lain memerlukan evaluasi adanya kondisi - kondisi

seperti kelebihan cairan, seperti eksaserbasi asma, dan emboli

paru.
32

2.3.3. Masalah yang ada pada masa nifas

Menurut Setyo Retno Wulanjani, Mengatakan bahwa

komplikasi masa nifas adalah sebagia berikut :

1. Pendarahan Pervaginam

Perdarahan pervaginam yang melebihi 300 ml setelah bersalin

didefinisikan sebagai perdarahan pasca persalinan. Terdapat

beberapa masalah mengenai definisi ini :

a. Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak yang sebenarnya,

kadang-kadang hanya setengah dari biasanya. Darah juga

tersebar pada spon, handuk dan kain didalam ember dan lantai.

b. Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai

dengan kadar hemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar HB

normal akan berakibat fatal pada anemia. Seseorang ibu yang

sehat dan tidak anemia pun dapat mengalami akibat fatal dari

kehilangan darah.

c. Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu

beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi

syok. Penilaian resiko pada saat antenatal tidak dapat

memperkirakan akan terjadinya perdarahan pasca persalinan.

d. Penanganan aktif kala III sebaiknya dilakukan pada semua

wanita yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insiden

perdarahan pasca persalinan akibat atonia uteri. Semua ibu pasca

bersalin fase persalinan.


33

2. Infeksi Masa Nifas

Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan

alat-alat genetalia dalam masa nifas. Masuknya kemankuman dapat

terjadi dalam kehamian, waktu persalinan, dan nifas. Demam nifas

adalah demam dalam masa nifas oleh sebab apa pun. Mordibitas

puerpuralis adalah kenaikan suhu badan sampai 38ºC atau lebih

selama 2 hari dalam 10 hari pertama post-partum, kecuali pada hari

pertama. Suhu diukur 4 kali secara oral. Infeksi terjadi pada vulva,

vagina, dan serviks.

3. Endometritis

Endometritis adalah infeksi yang terjadi pada endometrium. Jenis

infeksi ini biasanya yang paling sering terjadi. Kuman-kuman yang

masuk endometrium. Biasanya pada luka bekas implantasi plasenta

dan dalam waktu singkat.

4. Septicemia dan Pyemia

Ini merupakan infeksi umum yang disebabkan oleh kumankuman

yang sangat pathogen. Infeksi ini sangat berbahaya dan tergolong

50% penyebab kematian karena infeksi.

5. Peritonitis

Peritonitis (radang selaput rongga perut) adalah peradangan yang

disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum).

Infeksi nifas dapat menyebar melalui pembuluh darah di dalam

uterus, langsung mencapai peritoneum dan menyebabkan


34

peritonitis atau melalui jaringan di antara kedua lembar

lagamentum latum yang menyebabkan parametritis. Peritonitis

yang tidak menjadi peritonitis umum hanya terbatas pada daerah

pelvis.

6. Parametritis

Parametritis merupakan peradangan pada parametrium.

Parametrium merupakan lapisan terluar yang malpisi uterus.

Parametritis juga mempunyai nama lain yaitu sellulitis pelvika.

7. Thrombophlebitis

Thrombophlebitis merupakan kelainan pada masa nifas yaitu masa

setelah melahirkan di mana terjadi sumbatan pembuluh darah yang

disebabkan oleh adanya darah yang membeku.

8. Luka perineum

Perlukaan perineum pada umumnya terjadi unilateral, namun dapat

juga bilateral. Perlukaan pada diafragma urogenitlis dan muskulu

levator ani, yang terjadi pada waktu persalinan normal atau

persalinan dengan alat, dapat terjadi tanpa luka pada kulit perineum

atau pada vagina, sehingga tidak kelihatan dari luar. Perlukaan

demikian dapat melemahkan dasar panggul, sehingga mudah terjadi

prolapses genitalis.

2.4. Bayi Baru Lahir

2.4.1. Konsep Bayi Baru Lahir

1. Pengertian bayi baru lahir


35

Bayi baru lahir harus mampu menyesuaikan diri dengan

keadaan lingkungan di luar uterus. Pada saat di kandungan, bayi

sangat bergantung dengan plasenta (Fitriana dan Nurwiandani,

2018).

Neonatus adalah bayi baru lahir sampai dengan usia 28 hari.

Pada masa tersebut terjadi perubahan yang sangat besar dari

kehidupan di dalam rahim dan terjadi pematangan organ hampir

pada semua sistem (Kemenkes RI, 2018).

2. Adaptasi fisiologi dan psikologis bayi baru lahir

a. Termoregulasi

Mekanisme pengaturan temperature tubuh pada bayi baru lahir

belum berfungsi dengan sempurna, untuk itu perlu dilakukan

upaya pencegahan kehilangan panas pada bayi baru lahir. Hal ini

dikarenakan bayi mengalami hipotermia. Bayi baru lahir

mengalami hipotermia apabila memiliki suhu tubuh dibawah

36°C, sedangkan suhu normal yang harus dimiliki bayi baru

lahir adalah 36ºC sampai 37ºC (Fitriana dan Nurwiandani,

2018).

Menurut Saifuddin (2016), keadaan telanjang dan basah pada

bayi baru lahir menyebabkan bayi mudah kehilangan panas

melalui 4 cara yaitu :

1) Konduksi : melalui benda-benda padat yang berkontak

dengan kulit bayi.


36

2) Konveksi : pendinginan melalui aliran udara di sekitar bayi.

3) Evaporasi : kehilangan panas melalui penguapan air pada

kulit bayi yang basah.

4) Radiasi : melalui benda padat dekat bayi yang tidak

berkontak secara langsung dengan kulit bayi

b. Sistem pernafasan

Pernapasan pertama yang terjadi pada bayi normal adalah 30

detik pertama sesudah lahir. Pertama kali, bayi berusaha untuk

mempertahankan tekanan alveoli. Biasanya, dikarenakan adanya

surfaktan dan adanya tarikan napas serta pengeluaran napas

secara merintih sehingga udara bias tertahan di dalam. Bayi baru

lahir bernapas dengan diafragmatik dan abdominal, sedangkan

untuk frekuensi dan dalamnya pernapasan pada bayi baru lahir

belum bisa teratur (Fitriana dan Nurwiandani, 2018).

c. Sistem pencernaan

Refleks gumoh dan refles batuk yang matang sudah terbentuk

pada saat lahir. Sedangkan sebelum lahir bayi sudah mulai

menghisap dan menelan. Kemampuan menelan dan mencerna

makanan (selain susu) terbatas pada bayi. Hubungan antara

esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang

berakibat gumoh. Kapasitas lambung juga terbatas, kurang dari

30 cc dan bertambah secara lambat sesuai pertumbuhan janin

(Rukiyah, 2018).
37

d. Sistem Kardiovaskuler dan Darah

Pada saat tali pusat dipotong, registrasi pembuluh sistemik

meningkat dan tekanan rahim menurun, tekanan atrium kanan

menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan

menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu

sendiri akan membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit

mengalir ke paru-paru untuk proses oksigenisasi ulang

(Susilawati, 2017). Pernapasan pertama menurunkan resistensi

pembuluh darah paru paru dan meningkatkan tekanan atrium

kanan, oksigen pada pernapasan pertama ini menimbulkan

relaksasi dan terbukanya sistem pembuluh darah dan paru-paru

akan menurunkan resistensi pembuluh darah ke paru-paru

sehingga terjadi peningkatan volume darah pada atrium kanan

menimbulkan penurunan tekanan pada atrium kiri menyebabkan

foramen ovale menutup (Susilawati, 2017).

e. Metabolisme Glukosa

Menurut Rukiyah (2018), Untuk mengfungsikan otak

memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Pada BBL, glukosa

darah akan turun dalam waktu cepat (1-2jam). BBL yang tidak

dapat mencerna makanan dalam jumlah cukup akan membuat

glukosa dari glikogen dalam hal ini terjadi bila bayi mempunyai

persediaan glikogen cukup yang disimpan dalam hati. Koreksi

penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara :


38

1) Melalui penggunaan ASI

2) Melalui penggunaan cadangan glikogen

3) Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak

f. Sistem Ginjal

Bayi cukup bulan, mempunyai cairan didalam paru-paru dimana

selama lahir 1/3 cairan ini diperas dari paru-paru, jika proses

persalinan melalui section cesaria maka kehilangan keuntungan

kompresi dada ini tidak terjadi maka dapat mengakibatkan paru-

paru basah (Rukiyah, 2018). Beberapa tarikan nafas pertama

menyebabkan udara memenuhi ruangan trakea untuk bronkus

bayi baru lahir, paruparu akan berkembang terisi udara sesuai

dengan perjalanan waktu (Rukiyah, 2018)

3. Adaptasi Psikologis pada Masa Bayi

Masa bayi berlangsung selama dua tahun pertama

kehidupan setelah periode bayi baru lahir selama dua minggu.

Masa bayi neonatal merupakan masa terjadinya penyesuaian

radikal. Ini adalah suatu peralihan dari lingkungan (kandungan) ke

lingkungan luar. Seperti halnya semua peralihan, hal itu

memerlukan penyesuaian. Penyesuaian diri radikal pada bayi

neonatal antara lain:

a. Menyesuaikan terhadap perubahan suhu.

b. Menyesuaikan diri terhadap cara bernafas.

c. Menyesuaikan diri terhadap pola makan.


39

d. Menyesuaikan diri terhadap sistem ekresi.

Kemudian beralih kemasa terhentinya perkembangan untuk

sementara waktu kira-kira 1 minggu, seperti berkurangnya berat

badan dan selalu sakit-sakitan. Pada akhir periode neonate

perkembangan dan kesehatan bayi akan berjalan seperti semula.

Sebenarnya terhentinya perkembangan dan pertumbuhan bayi

tersebut merupakan ciri khas dari periode neonatal dan dianggap

normal.

Setelah mengalami penyesuaian tahap neonatal bayi

mengalami periode babyhood secara umum adalah usia 2 minggu

hingga 2 tahun. Periode babyhood merupakan dasar pembentukan

sikap, perilaku dan pola ekspresi. Adanya ketidakmampuan

penyesuaian diri pada masa dewasa merupakan efek pengalaman

periode babyhood dan masa kana-kanak yang kurang baik. Pada

periode babyhood ini bayi sudah memahami senyum, merangkak

dan berdiri. Selain itu bayi senang memegang mainan dengan

kedua tangannya sembari melihat kesana-kemari dan berusaha

untuk mencari-cari suara atau musik yang didengarnya. Bayi juga

sudah mampu membedakan suara ibunya dengan suara orang lain.

Pada akhir periode babyhood bayi seringkali takut didekati orang

yang tidak dikenalnya namun bayi akan merasa senang dengan

anak lain. Kemudian bayi biasanya akan selalu menolak untuk


40

ditidurkan, karena mereka lebih suka menghabiskan waktunya

dengan bermain.

2.4.2. Asuhan Bayi Baru Lahir

Asuhan pada bayi baru lahir menurut (Firmansyah Fery, 2020)

yaitu membersihka jalan nafas dan memelihara kelancaran pernafasan,

dan perawatan tali [Link] kehangatan dan menghindari panas

yang berlebihan. Menilai segera bayi baru lahir seperti nilai APGAR.

Membersihkan badan bayi dan memberikan identitas. Melakukan

pemeriksaan fisik yang terfokus pada bayi baru lahir dan screening

untuk menemukan adanya tanda kelainan-kelainan pada bayi baru

lahir yang tidak memungkinkan untuk hidup. Mengatur posisi bayi

pada waktu menyusui. Memberikan imunisasi pada bayi. Melakukan

tindakan pertolongan kegawatdaruratan pada bayi baru lahir, seperti

bernafas/asfiksia, hypotermi, hypoglikemia. Memindahkan secara

aman bayi baru lahir ke fasilitas kegawatdaruratan apabila dimungkin,

dan mendokumentasikan temuan-temuan dan intervensi yang

dilakukan.

2.4.3. Masalah yang ada pada bayi baru lahir

1. Muntah

Keluar kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yanbg

terjadi secara paksa melalui mulut, disertai kontraksi lambung dan

abdomen. Penyebabnya karena kelainan konginetal saluran

pencernaan makanan atau cara pemberian makanan yang salah.


41

Penatalaksanaannya dengan cara kaji faktoe penyebab, jangan

berikan makanan yang merangsang, perbaiki teknik menyusui,

sendawakan bayi dan rujuk bila ada kelainan.

2. Gumoh

Keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau beberapa

saat setelah minum susu botol atau menyusui dan dalam jumlah

hanya sedikit. Penyebabnya karena bayi sudah kenyang, bayi

terlalu aktif, klep penutup lambung belum berfungsi sempurna,

posisi anak/bayi saat menyusui yang tidak benar, dan fungsi

peristaltik yang belum sempurna. Penatalaksanaannya dengan cara

memperbaiki teknik menyusui/memberikan susu, sendawakan bayi,

dan jangan langsung mengangkat bayi saat gumoh.

3. Diare

Adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih perhari,

disertai perubahannya menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan

darah yang terjadi pada bayi dan anak yang sebelumnya tampak

sehat. Penyebabnya karena bayi terkontaminasi feses ibu yang

mengandung kuman patogen saat dilahirkan, infeki silang dari

petugas kesehatan yang mengalami diare dan hygiene yang buruk,

dot yang tidak disterilkan sebelum digunakan, dan lain-lain.

Penatalaksanaannya dengan cara: untuk pertolongan pertama

dirumah, berikan oaralit karena merupakan pertolongan pertama

sebelum di bawa ke RS/Puskesmas. Penatalaksanaannya di RS:


42

Memberikan cairan dan mengatur keseimbangan elektrolit, terapi

rehidrasi, kolaborasi untuk terapi pemberian antibiotik sesuai

dengan kuman penyebabnya, mencuci tangan sebelum dan

sessudah kontak dengan bayi untuk mencegah penularan, dan tidak

dianjurkan untuk memberikan anti dieare dan obatobatan pengental

feses.

2.5. Keluarga Berencana

2.5.1. Konsep Dasar Keluarga Berencana

1. Pengertian keluarga berencana

Keluarga berencana merupakan usaha suami-istri untuk

mengukur jumlah anak dan jarak anak yang dinginkan. Usaha yang

dimaksud termasuk kontrasepsi atau pencegahan kehamilan dan

perencanaan keluarga. Prinsip dasar metode kontrasepsi adalah

mencegah sperma lakilaki mencapai dan membuahi telur wanita

(fertilisasi) atau mencegah telur yang sudah dibuahi untuk

berimplitasi (melekat) dan berkembang didalam rahim.

Keluarga berencana adalah usaha untuk mengatur

banyaknya jumlah kelahiran sehingga ibu maupun bayinya dan

ayah serta keluarga yang bersangkutan tidak akan menimbulkan

kerugian sebagai akibat langsung kelahiran tersebut (Jitowiyono,

2019). (Purwoastuti, 2015) Kontrasepsi yaitu pencegahan

terbuahinya sel telur oleh sel sperma (konsepsi) atau pencegahan

menempelnya sel telur yang telah dibuahi ke dinding rahim.


43

(Mulyani, 2013) Kontrasepsi pasca persalinan adalah inisiasi

pemakaian metode kontrasepsi dalam waktu 6 minggu pertama

pasca persalinan untuk mencegah terjadinya kehamilan yang tidak

diinginkan, khususnya pada 1-2 tahun pertama pasca persalinan.

(Mulyani, 2013).

2. Tujuan keluarga berencana

Menurut (Sulistyawati, 2013) Tujuan Program Keluarga

Berencana yaitu:

a. Membentuk keluarga kecil sesuai dengan kekuatan social

ekonomi suatu keluarga, dengan cara pengaturan kelahiran anak

agar diperoleh suatu keluarga bahagia dan sejahtera yang dapat

memenuhi kebutuhan hidupnya.

b. Pengaturan kelahiran, pendewasaan usia perkawinan,

peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

Menurut (Pinem, 2013) Tujuan Program Keluarga

Berencana yaitu:

a. Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda

kehamilan anak pertama dan menjarangkan kehamilan setelah

kelahiran anak pertama serta menghentikan kehamilan bila

dirasakan anak telah cukup.

b. Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang

telah menikah lebih dari satu tahun tetapi belum juga


44

mempunyai keturunan, hal ini memungkinkan untuk tercapainya

kelurga bahagia

3. Jenis-jenis Keluarga Berencana

a. Kontrasepsi Alami

Menurut (Mulyani, 2018) pembagian cara kontrasepsi adalah

sebagai berikut:

1) Metode Kalender

Metode kalender atau pantang berkala adalah metode

kontrasepsi sederhana yang dilakukan oleh pasangan suami

istri dengan tidak melakukan senggama atau hubungan

seksual pada masa subur atau ovulasi.

2) Metode Kontrasepsi Suhu Basal

Metode suhu basal adalah suhu yang terendah yang dicapai

oleh tubuh selama istirahat atau dalam keadaan istirahat

(tidur). Pengukuran suhu basal dilakukan pada pagi hari

segera setelah bangun tidur dan sebelum melakukan aktivitas

lainnya. Ibu dapat mengenali masa subur ibu dengan

mengukur suhu badan secara teliti menggunakan termometer

khusus yang biasa mencatat perubahan suhu untuk

mendeteksi, bahkan suatu perubahan kecil suhu tubuh.

3) Metode Lendir Serviks

Metode Lendir Serviks atau Metode Ovulasi merupakan

Metode Keluarga Berencana Alamiah (KBA) dengan cara


45

mengenali masa subur dari siklus menstruasi dengan

mengamati lendir serviks dan perubahan rasa pada vulva

menjelang hari ovulasi.

4) Metode Senggama Terputus

Coitus interruptus atau senggama terputus merupakan

menghentikan senggama dengan mencabut penis dari liang

vagina pada saat suami

menjelang ejakulasi.

b. Kontrasepsi Hormonal

Menurut (Pinem, 2013) pembagian dari kontrasepsi ormonal

adalah:

1) Pil KB

Pil KB adalah suatu cara kontrasepsi untuk wanita yang

berbentuk pil atau tablet di didalam strip yang berisi gabungan

hormone estrogen dan progesterone atau yang hanya terdiri dari

hormone progesterone saja.

2) KB Implant

KB Implant atau alat kontrasepsi bawah kulit (AKBK) adalah

alat kontrasepsi yang disusupkan dibawah kulit. Implant terdiri

dari 6 batang, 4 batang bahkan 1 batang kapsul silastik, dimana

setiap kapsulnya berisi levonorgestrel sebanyak 36 mg.

3) KB IUD
46

KB IUD atau alat kontrasepsi dalam Rahim (AKDR) adalah alat

kontrasepsi yang dimasukkan kedalam rahim yang bentuknya

bermacam-macam, terdiri dari plastic (polyethylene). Ada yang

di lilit tembaga (Cu), ada pula yang tidak, adapula yang dililit

tembaga bercampur perak (Ag). Selain itu ada pula yang

dibatangnya berisi hormone progesterone.

c. Kontarsepsi non hormonal

Menurut (Mulyani, 2018) pembagian kontrasepsi sederhana dengan

alat yaitu:

1) Kondom

Kondom merupakan selubung atau sarung karet yang terbuat

dari berbagai bahan diantaranya karet (lateks), plastic (vinil),

atau bahan alami (produksi hewan) yang dipasang pada penis

untuk menampung sperma ketika seorang pria mencapai

ejakulasi saat berhubungan seksual.

2) Diafragma

Diafragma adalah kap terbentuk bulat cembung, terbuat dari

karet (lateks) yang diinsersikan ke dalam vagina sebelum

berhubungan seksual dan menutup serviks.

3) Spermisida

Spermisida merupakan sediaan kimia (biasanya non oksinol-9)

yang dapat membunuh sperma. tersedia dalam bentuk busa


47

vagina, krim, gel dan suppositoria. Spermisida ditempatkan di

vagina sebelum berhubungan seksual.

d. Kontrasepsi dengan Metode Operasi

Menurut (Pinem, 2013) pembagian dari kontrasepsi dengan metode

operasi adalah:

1) Vasektomi atau medis operatif pria (MOP) Vasektomi

merupakan operasi kecil yang dilakukan untuk menghalangi

keluarnya sperma dengan cara mengikat dan memotong saluran

mani(vas defferent) sehingga sel sperma tidak keluar pada saat

senggama.

2) Tubektomi atau medis operatif wanita (MOW)

Tubektomi atau kontap wanita merupakan suatu kontrasepsi

permanen untuk mencegah keluarnya ovum dengan cara

tindakan mengikat dan atau memotong pada kedua saluran tuba.

2.5.2 Asuhan Keluarga Berencana

Asuhan Kebidanan Pada Keluarga Berencana dalam melaksanakan

asuhan pada ibu dan suaminya langkah-langkahnya meliputi pengkajian

untuk mengumpulkan data subjektif dan objektif. Dalam pengumpulan data

ini harus terjalin komunikasi yang efektif antara petugas dan kedua

pasangan.

1. Data Subjektif

Ibu saat ini tidaksedang haid, ibu menyusui bayi secara ekslusif, ibu

mengatakan ingin menggunakan alat kontrasepsi suntik 3 bulan


48

2. Data Objektif

a. Pemeriksaan umum

1) K/U

2) Kesadaran

b. Tanda-tanda vital

1) TD

2) N

3) P

4) S

c. Pemeriksaan Fisik

1) Mata

2) Payudara

3) Abdomen

4) Genitalia

d. Assasment

Ny....umur ...tahun ingin menggunakan alat kontrasepsi KB

e. Pelaksanaan

Untuk melaksanakan asuhan yang menyeluruh yang berdasarkan

diagnosa dan sesuai keputusan kedua pasangan.

1) Memberitahu klien hasil pemeriksaan

2) Menanyakan pada klien informasi tentang pengalaman dirinya

menggunakan KB

3) Pemberian atau melakukan kb ke pada klien


49

4) Memberitahu pasien agar kunjungan ulang

2.5.3 Masalah yang ada pada keluarga berencana

Bidan berperan penting menjelaskan pada ibu dan suaminya

tentang KB:

1. Idealnya, pasangan harus menunggu sekurang kurang nya 2 tahun

sebelum ibu hamil kembali setiap pasangan harus menentukan sendiri

nkapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan keluarganya. Akan

tetapi petugas kesehatan mampu merencanakan keluarganya dengan

mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang

tidak di inginkan.

2. Biasanya, wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia

mendapatkan lagi haid nya selama menyusui (amenore laktasi). Ole

karena itu, metode amenore laktasi dapat digunakan sebelum haid

pertama kali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru resiko.

3. Penggunaan kontrasepsi tetap lebih aman. Terutama apabila ibu sudah

haid lagi.
50

BAB III

METODE STUDI KASUS

1.1. Jenis Studi Kasus

Dalam penyusunan laporan ini dibuat menggunakan desain studi kasus

dengan pendekatan Continuity of Care yaitu pemberian asuhan yang

dilakukan secara berkesinambungan pada ibu hami, bersalin, nifas, dan bayi

baru lahir. Dalam studi kasus Continuity of Care ini dilakukan dengan cara

meneliti suatu permasalahan melalui kasus yang terdiri dari unit tunggal. Unit

tunggal tersebut dapat berarti satu orang, satu kelompok penduduk atau satu

kelompok masyarakat. Unit yang menjadi kasus tersebut secara mendalam

dianalisis baik dari segi yang berhubungan dengan kasus itu sendiri, faktor-

faktor yang mempengaruhi, kejadian-kejadian khusus yang muncul

sehubungan dengan kasus, maupun tindakan dan reaksi kasus terhadap suatu

perlakuan (Notoadmodjo, 2018).

Asuhan kebidanan yang diberikan dalam studi kasus ini yang bersifat

komprehensif dan Continuity of Care yaitu asuhan yang dimulai dari hamil,

bersalin, nifas, bayi baru lahir, dan keluarga berencana pada Ny. “ S” umur 30

tahun dengan G3P2A0.

1.2. Lokasi Studi Kasus

Lokasi studi kasus kehamilan anemia ringan berada di Klinik RB

Mahanum yang beralamat di Jl. Bromo Gg. Setiabudi No.8.


51

1.3. Subjek Studi Kasus

Subjek yang digunakan dalam studi kasus dengan manajemen Asuhan

Kebidanan ini adalah Ny.S hamil 33 minggu 6 hari di Klinik RB Mahanum

kemudian diikuti sampai dengan ibu bersalin, nifas, bayi baru lahir dan

keluarga berencana.

1.4. Waktu Studi Kasus

Studi kasus dilaksanakan dari masa kehamilan, ibu bersalin, nifas,

bayi baru lahir dan keluarga berencana dengan rentan waktu yaitu januari

2024 sampai dengan selesai.

1.5. Instrumen Studi Kasus

Instrument yang di pakai dalam penulisan laporan studi kasus ini

dengan observasi dan wawancara menggunakan lembaran format pengkajian,

partograf, buku KIA dan format manajemen asuhan kebidanan Varney sesuai

dengan manajemen asuhan kebidanan.

1.2. Pengumpulan Data

1.2.1. Data Primer

Data primer diperoleh dalam bentuk anamnesis dan

pemeriksaan fisik. Pengkajian dapat dilakukan dengan cara

alloanamnesis dan autoanamnesis. Alloanamnesis adalah pemeriksaan

yang diperoleh bukan dari pasien yang bersangkutan seperti keluarga,

orang lain yang memahami riwayat penyakit pasien. Sedangkan

autoanamnesis dapat diperoleh melalui wawancara kepada pasien


52

yang bersangkutan dan observasi pada pasien. Metode yang dilakukan

dalam pengambilan data primer yaitu metode wawancara dan

observasi (Hidayat, 2019).

1. Metode Wawancara

Metode wawancara merupakan metode yang dipergunakan

untuk mengumpulkan data, dimana penulis mendapatkan

keterangan atau informasi secara lisan dari pasien. Jadi data

tersebut diperoleh langsung dari pasien melalui suatu pertemuan

atau percakapan (Sugiyono, 2017). Pengambilan data subjektif

menggunakan metode wawancara pada pasien dan keluarganya

meliputi:

a. Identitas ibu dan suami.

b. Riwayat kehamilan sekarang.

c. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu.

d. Riwayat kesehatan.

e. Riwayat sosial dan ekonomi.

2. Metode Observasi

Menurut Ayudia et al. (2016), observasi merupakan teknik

pengumpulan data, dimana peneliti melakukan pengamatan secara

langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan

yang dilakukan. Metode observasi ini digunakan dalam

pengambilan data objektif dengan pemeriksaan fisik dan

pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium yang


53

bertujuan untuk menilai keadaan kesehatan pada klien, dan

membuat analisis dari data subjektif dan objektif yang telah

didapatkan untuk membuat keputusan yang tepat.

1.2.2. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber yang

sudah ada (Hidayat, 2014). Dalam pengumpulan data sekunder penulis

mendapatkan informasi dari data yang tertera dalam catatan rekam

medis pasien, hasil pemeriksaan USG dan catatan yang diambil dari

Buku KIA mengenai perkembangan pasien sejak awal kehamilan.


54

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat. (2019). Metodee Penelitian Keperawatan dan Teknik Analisa Data.


Jakarta: PT. Salemba Medika.

Anda mungkin juga menyukai