MAKALAH
Problem Based Learning ( PBL ) Pada Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam
Dosen pengampu: D. Sukandar Yusuf, [Link]
Disusun Oleh :
Reres Resti Fauziah
Ripal Mauludin
UNIVERSITAS AL-IHYA KUNINGAN
PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU KEISLAMAN
TAHUN AJARAN 2024/2025
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada proses pembelajaran di kelas hingga saat ini masih juga
ditemukan pengajar yang memposisikan peserta didik sebagai objek belajar,
bukan sebagai individu yang harus dikembangkan potensi yang dimilikinya.
Hal ini dapat mematikan potensi peserta didik. Dan dalam keadaan tersebut
peserta didik hanya mendengarkan pidato guru di depan kelas, sehingga
mudah sekali peserta didik merasa bosan dengan materi yang diberikan.
Akibatnya, peserta didik tidak paham dengan apa yang baru saja
disampaikan oleh guru.
Pada model pembelajaran berbasis masalah berbeda dengan model
pembelajaran yang lainnya, dalam model pembelajaran ini, peranan guru
adalah menyodorkan berbagai masalah, memberikan pertanyaan, dan
memfasilitasi investigasi dan dialog. Guru memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk menetapkan topik masalah yang akan dibahas, walaupun
sebenarnya guru telah menetapkan topik masalah apa yang harus dibahas.
Hal yang paling utama adalah guru menyediakan perancah atau kerangka
pendukung yang dapat meningkatkan kemampuan penyelidikan dan
intelegensi peserta didik dalam berpikir. Proses pembelajaran diarahkan
agar peserta didik mampu menyelesaikan masalah secara sistematis dan
logis. Model pembelajaran ini dapat terjadi jika guru dapat menciptakan
lingkungan kelas yang terbuka dan jujur, karena kelas itu sendiri merupakan
tempat pertukaran ide-ide peserta didik dalam menanggapi berbagai
masalah.
Jika dilihat dari sudut pandang psikologi belajar, model
pembelajaran ini berdasarkan pada psikologi kognitif yang berakar dari
asumsi bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku berkat adanya
pengalaman. Melalui model pembelajaran ini peserta didik dapat
berkembang secara utuh, artinya bukan hanya perkembangan kognitif, tetapi
peserta didik juga akan berkembang dalam bidang affektif dan psikomotorik
secara otomatis melalui masalah yang dihadapi.
Model pembelajaran berbasis masalah mengambil psikologi kognitif
sebagai dukungan teoritisnya. Fokus pembelajaran pada model ini
menekankan pada apa yang peserta didik pikirkan selama mereka terlibat
dalam proses pembelajaran, bukan pada apa yang mereka kerjakan dalam
proses pembelajaran.
Seperti halnya model pembelajaran kooperatif, model pembelajaran
berbasis masalah ini menemukan akar intelektualnya dalam karya John
Dewey. Di dalam Democracy and Education (1916), Dewey
mendiskripsikan pandangan tentang pendidikan dengan sekolah sebagai
cermin masyarakat yang lebih besar dan kelas akan menjadi laboratorium
untuk penyelidikan dan pengentasan masalah kehidupan nyata. Pedagogis
Dewey mendorong guru untuk melibatkan peserta didik dalam berbagai
proyek berorientasi masalah dan membantu mereka menyelidiki berbagai
masalah sosial dan intelektual penting.
B. Perumusan Masalah
1. Bagaimanakah pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah?
2. Bagaimanakah ciri-ciri Pembelajaran Berbasis Masalah?
3. Apa komponen-komponen yang mendukung Pembelajaran Berbasis
Masalah?
4. Bagaimanakah konsep dasar Pembelajaran Berbasis Masalah?
5. Bagaimanakah langkah-langkah serta sintaks
(implementasi/pelaksanaan) dalam Pembelajaran Berbasis Masalah?
6. Bagaimanakah penilaian serta evaluasi Pembelajaran Berbasis
Masalah?
7. Apa kelebihan serta kekurangan Pembelajaran Berbasis Masalah?
C. Tujuan
1. Mengetahui pengertian Pembelajaran Berbasis Masalah.
2. Mengidentifikasi ciri-ciri Pembelajaran Berbasis Masalah.
3. Mengetahui fitur-fitur yang mendukung Pembelajaran Berbasis
Masalah.
4. Mengetahui konsep dasar Pembelajaran Berbasis Masalah.
5. Mengetahui langkah-langkah serta sintaks (implementasi/pelaksanaan)
dalam Pembelajaran Berbasis Masalah.
6. Mengetahui penilaian serta evaluasi Pembelajaran Berbasis Masalah.
7. Mengidentifikasi kelebihan serta kekurangan Pembelajaran Berbasis
Masalah.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pengajaran berdasarkan masalah ini telah dikenal sejak zaman John
Dewey. Menurut Dewey (dalam Trianto, 2009:91) belajar berdasarkan
masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan
antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan
kepada peserta didik berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf
otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah
yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya
dengan baik.
Pembelajaran Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris
Problem-based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang
dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan
masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat
menyelesaikannya.
Pendekatan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning
/ PBL) adalah konsep pembelajaran yang membantu guru menciptakan
lingkungan pembelajaran yang dimulai dengan masalah yang penting dan
relevan (bersangkut-paut) bagi peserta didik, dan memungkinkan peserta
didik memperoleh pengalaman belajar yang lebih realistik (nyata).
Pembelajaran Berbasis Masalah melibatkan peserta didik dalam
proses pembelajaran yang aktif, kolaboratif, berpusat kepada peserta didik,
yang mengembangkan kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan
belajar mandiri yang diperlukan untuk menghadapi tantangan dalam
kehidupan dan karier, dalam lingkungan yang bertambah kompleks
sekarang ini. Pembelajaran Berbasis Masalah dapat pula dimulai dengan
melakukan kerja kelompok antar peserta didik. peserta didik menyelidiki
sendiri, menemukan permasalahan, kemudian menyelesaikan masalahnya di
bawah petunjuk fasilitator (guru).
Pembelajaran Berbasis Masalah menyarankan kepada peserta didik
untuk mencari atau menentukan sumber-sumber pengetahuan yang relevan.
Pembelajaran berbasis masalah memberikan tantangan kepada peserta didik
untuk belajar sendiri. Dalam hal ini, peserta didik lebih diajak untuk
membentuk suatu pengetahuan dengan sedikit bimbingan atau arahan guru
sementara pada pembelajaran tradisional, peserta didik lebih diperlakukan
sebagai penerima pengetahuan yang diberikan secara terstruktur oleh
seorang guru.
Pembelajaran berbasis masalah (Problem-based learning),
selanjutnya disingkat PBL, merupakan salah satu model pembelajaran
inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada peserta didik.
PBL adalah suatu model pembelajaran vang, melibatkanpeserta didik untuk
memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga
peserta didik dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan
masalah tersebut dan sekaligus memiliki ketrampilan untuk memecahkan
masalah.
Untuk mencapai hasil pembelajaran secara optimal, pembelajaran
dengan pendekatan Pembelajaran Berbasis Masalah perlu dirancang dengan
baik mulai dari penyiapan masalah yang yang sesuai dengan kurikulum
yang akan dikembangkan di kelas, memunculkan masalah dari peserta didik,
peralatan yang mungkin diperlukan, dan penilaian yang digunakan. Pengajar
yang menerapkan pendekatan ini harus mengembangkan diri melalui
pengalaman mengelola di kelasnya, melalui pendidikan pelatihan atau
pendidikan formal yang berkelanjutan.
Oleh karena itu, pengajaran berdasarkan masalah merupakan
pendekatan yang efektif untuk pengajaran proses berfikir tingkat tinggi.
Pembelajaran ini membantu peserta didik untuk memproses informasi yang
sudah jadi dalam benaknya dan menyusun pengetahuan mereka sendiri
tentang dunia sosial dan sekitarnya. Pembelajaran ini cocok untuk
mengembangkan pengetahuan dasar maupun kompleks.
B. Ciri-ciri Pembelajaran Berbasis Masalah
1. Pertama, strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian
aktivitas pembelajaran artinya dalam pembelajaran ini tidak
mengharapkan peserta didik hanya sekedar mendengarkan, mencatat
kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi
pembelajaran berbasis masalah peserta didik aktif berpikir,
berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya
menyimpulkannya.
2. Kedua, aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah.
Strategi pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai
kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak
mungkin ada proses pembelajaran.
3. Ketiga, pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan
pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan
metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses
berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris, sistematis artinya
berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan
empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan
fakta yang jelas.
Ciri-ciri khusus Problem-Based Learning adalah sebagai berikut.
1. Pengajuan pertanyaan atau masalah, Problem-Based Learning diawali
dengan guru mengajukan pertanyaan dan masalah yang secara sosial
dianggap penting dan secara pribadi bermakna untuk siswa.
2. Terintegrasi dengan disiplin ilmu yang lain, meskipun Problem-Based
Learning berpusat pada mata pelajaran tertentu (IPA, matematika, dan
ilmu-ilmu sosial), masalah yang akan diselidiki telah ditentukan secara
pasti agar dalam pemecahannya siswa meninjau dari banyak mata
pelajaran.
3. Penyelidikan autentik, Problem-Based Learning menuntut siswa
melakukan penyelidikan autentik untuk mencari penyelesaian nyata
terhadap masalah nyata.
4. Menghasilkan produk atau karya dan memamerkannya, Problem-Based
Learning menuntut siswa untuk menghasilkan produk yang mewakili
bentuk pemecahan masalah yang mereka temukan. Produk itu dapat
berupa laporan, model fisik, video, maupun program komputer.
5. Kerjasama atau kolaborasi, Problem-Based Learning mempunyai ciri
khusus yaitu siswa bekerja sama dalam kelompok kecil. Adapun
keuntungan bekerja sama dalam kelompok kecil di antaranya siswa
dapat saling memberikan motivasi dalam tugas-tugas kelompok dan
dapat mengembangkan keterampilan sosial dan keterampilan berpikir.
C. Komponen-Komponen Pembelajaran Berbasis Masalah
Komponen-komponen pembelajaran berbasisi masalah dikemukakan oleh
Arends, diantaranya adalah :
1. Permasalahan autentik. Model pembelajaran berbasis masalah
mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara sosial dan
bermanfaat bagi peserta didik. Permasalahan yang dihadapi peserta
didik dalam dunia nyata tidak dapat dijawab dengan jawaban yang
sederhana.
2. Fokus interdisipliner. Dimaksudkan agar peserta didik belajar berpikir
struktural dan belajar menggunakan berbagai perspektif keilmuan.
3. Pengamatan autentik. Hal ini dinaksudkan untuk menemukan solusi
yang nyata. Peserta didik diwajibkan untuk menganalisis dan
menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat
prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan
eksperimen, membuat inferensi, dan menarik kesimpulan.
4. Produk. Peserta didik dituntut untuk membuat produk hasil
[Link] bisa berupa kertas yang dideskripsikan dan
didemonstrasikan kepada orang lain.
5. Kolaborasi. Dapat mendorong penyelidikan dan dialog bersama untuk
mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan sosial.
D. Unsur-unsur Problem-Based Learning
Problem-Based Learning mempunyai beberapa unsur-unsur yang
mendasar pada pendidikan, yaitu:
1. Integrated Learning, pembelajaran mengintegrasikan seluruh bidang
pelajaran. Pembelajaran bersifat menyeluruh melibatkan aspek-aspek
perkembangan anak. Anak membangun pemikiran melalui pengalaman
langsung.
2. Contextual Learning, yaitu anak belajar sesuatu yang nyata, terjadi, dan
dialami dalam kehidupannya. Anak merasakan langsung manfaat
belajar untuk kehidupannya.
3. Constructivist Learning, yaitu anak membangun pemikirannya melalui
pengalaman langsung (hand on experience).
4. Active Learning, yaitu anak sebagai subyek belajar yang aktif
menentukan, melakukan dan mengevaluasi.
5. Learning Interesting, yaitu bahwa pembelajaran lebih menarik dan
menyenangkan bagi anak karena anak terlibat langsung dalam
menentukan masalah.
D. Konsep Dasar Pembelajaran Berbasis Masalah
Model pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang
menekankan padaproses penyelesaian masalah. Dalam implementasi model
pembelajaran berbasis masalah, guru perlu memilih bahan pelajaran yang
memiliki permasalahan yang dapat dipecahkan. Model pembelajaran
berbasis masalah ini dapat diterapkan dalam kelas jika:
1. Guru bertujuan agar peserta didik tidak hanya mengetahui dan hafal
materi pelajaran saja, tetapi juga mengerti dan memahaminya.
2. Guru mengiginkan agar peserta didik memecahkan masalah dan
membuat kemampuan intelektual siswa bertambah.
3. Guru menginginkan agar peserta didik dapat bertanggung jawab dalam
belajarnya.
4. Guru menginginkan agar peserta didik dapat menghubungkan antara
teori yang dipelajari di dalam kelas dan kenyataan yang dihadapinya di
luar kelas.
5. Guru bermaksud mengembangkan kemampuan peserta didik dalam
menganalisis situasi, menerapkan pengetahuan, mengenal antara fakta
dan pendapat, serta mengembangkan kemampuan dalam membuat tugas
secara objektif.
E. Langkah-langkah Model Pembelajaran Berbasis Masalah
John Dewey seorang ahli pendidikan berkebangsaan Amerika
memaparkan 6 langkah dalam pembelajaran berbasis masalah ini :
1. Merumuskan masalah. Guru membimbing peserta didik untuk
menentukan masalah yang akan dipecahkan dalam proses pembelajaran,
walaupun sebenarnya guru telah menetapkan masalah tersebut.
2. Menganalisis masalah. Langkah peserta didik meninjau masalah secara
kritis dari berbagai sudut pandang.
3. Merumuskan hipotesis. Langkah peserta didik merumuskan berbagai
kemungkinan pemecahan sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki.
4. Mengumpulkan data. Langkah peserta didik mencari dan
menggambarkan berbagai informasi yang diperlukan untuk
memecahkan masalah.
5. Pengujian hipotesis. Langkah peserta didik dalam merumuskan dan
mengambil kesimpulan sesuai dengan penerimaan dan penolakan
hipotesis yang diajukan
6. Merumuskan rekomendasi pemecahan masalah. Langkah peserta didik
menggambarkan rekomendasi yang dapat dilakukan sesuai rumusan
hasil pengujian hipotesis dan rumusan kesimpulan.
Sedangkan menurut David Johnson & Johnson memaparkan 5
langkah melalui kegiatan kelompok :
1. Mendefinisikan masalah. Merumuskan masalah dari peristiwa tertentu
yang mengandung konflik hingga peserta didik jelas dengan masalah
yang dikaji. Dalam hal ini guru meminta pendapat peserta didik tentang
masalah yang sedang dikaji.
2. Mendiagnosis masalah, yaitu menentukan sebab-sebab terjadinya
masalah
3. Merumuskan alternatif strategi. Menguji setiap tindakan yang telah
dirumuskan melalui diskusi kelas.
4. Menentukan & menerapkan strategi pilihan. Pengambilan keputusan
tentang strategi mana yang dilakukan.
5. Melakukan evaluasi. Baik evaluasi proses maupun evaluasi hasil.
Secara umum langkah-langkah model pembelajaran ini adalah :
1. Menyadari Masalah. Dimulai dengan kesadaran akan masalah yang
harus dipecahkan. Kemampuan yang harus dicapai peserta didik adalah
peserta didik dapat menentukan atau menangkap kesenjangan yang
dirasakan oleh manusia dan lingkungan sosial.
2. Merumuskan Masalah. Rumusan masalah berhubungan dengan
kejelasan dan kesamaan persepsi tentang masalah dan berkaitan dengan
data-data yang harus dikumpulkan. Diharapkan peserta didik dapat
menentukan prioritas masalah.
3. Merumuskan Hipotesis. peserta didik diharapkan dapat menentukan
sebab akibat dari masalah yang ingin diselesaikan dan dapat
menentukan berbagai kemungkinan penyelesaian masalah.
4. Mengumpulkan Data. peserta didik didorong untuk mengumpulkan data
yang relevan. Kemampuan yang diharapkan adalah peserta didik dapat
mengumpulkan data dan memetakan serta menyajikan dalam berbagai
tampilan sehingga sudah dipahami.
5. Menguji Hipotesis. Peserta didik diharapkan memiliki kecakapan
menelaah dan membahas untuk melihat hubungan dengan masalah yang
diuji.
6. Menetukan Pilihan Penyelesaian. Kecakapan memilih alternatif
penyelesaian yang memungkinkan dapat dilakukan serta dapat
memperhitungkan kemungkinan yang dapat terjadi sehubungan dengan
alternatif yang dipilihnya.
F. Sintaks Pembelajaran Berbasis Masalah
Tahap TingkahLaku guru
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
menjelaskan logistik yang dibutuhkan,
Tahap-1
mengajukan fenomena atau demonstrasi atau
Orientasi peserta didik
cerita untuk memunculkan masalah,
pada masalah
memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam
pemecahan masalah yang dipilih.
Guru membantupeserta
Tahap-2
didikuntukmendefinisikandanmengorganisasitu
Mengorganisasi peserta
gasbelajar yang
didik untuk belajar
berhubungandenganmasalahtersebut
Guru mendorongpeserta
Tahap-3
didikuntukmengumpulkaninformasi yang
Membimbing
sesuai,
penyelidikan individual
melaksanakaneksperimenuntukmendapatkanpe
maupun kelompok
njelasandanpemecahanmasalah.
Guru membantupeserta
Tahap-4 didikdalammerencanakandanmenyiapkankarya
Mengembangkan dan yang sesuaisepertilaporan, video, dan model
menyajikan hasil karya sertamembantumerekauntukberbagitugasdenga
ntemannya.
Tahap-5 Guru membantupeserta
Menganalisis dan didikuntukmelakukanrefleksiatauevaluasiterhad
mengevaluasi proses appenyelidikanmerekadan proses-proses yang
pemecahan masalah merekagunakan.
G. Penilaian dan Evaluasi
Prosedur-prosedur penilaian harus disesuaikan dengan tujuan
pengajaran yang ingin dicapai dan hal yang paling utama bagi guru adalah
mendapatkan informasi penilaian yang reliabel dan valid.
Prosedur evaluasi pada model pembelajaran berbasis masalah ini
tidak hanya cukup dengan mengadakan tes tertulis saja, tetapi juga
dilakukan dalam bentuk checklist, reating scales, dan performance. Untuk
evaluasi dalam bentuk performance atau kemampuan ini dapat digunakan
untuk mengukur potensi peserta didik untuk mengatasi masalah maupun
untuk mengukur kerja kelompok. Evaluasi harus menghasilkan definisi
tentang masalah baru, mendiagnosanya, dan mulai lagi proses penyelesaian
baru.
H. Keunggulan dan Kelemahan Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Sebagai suatu model pembelajaran, model pembelajaran berbasis
masalah memiliki beberapa keunggulan, diantaranya :
1. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih
memahami isi pelajaran.
2. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan peserta didik serta
memberikan kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi
peserta didik.
3. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta
didik.
4. Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik bagaimana
mentrasfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam
kehidupan nyata.
5. Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik untuk
mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam
pembelajaran yang mereka lakukan.
6. Melalui pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai
peserta didik.
7. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan peserta didik
untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk
menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
8. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada peserta didik
untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia
nyata.
9. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat peserta didik untuk
secara terus menerus belajar.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran
berbasis masalah harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang
harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing peserta didik pada
kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau
lingkungan sosial. Kemampuan yang harus dicapai oleh peserta didik, pada
tahapan ini adalah peserta didik dapat menentukan atau menangkap
kesenjangan yang terjadi dari berbagai fenomena yang ada. Disamping
keunggulannya, model ini juga mempunyai kelemahan, yaitu :
1. Manakala peserta didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai
kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan,
maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba.
2. Keberhasilan strategi pembelajaran melalui problem solving
membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3. Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan
masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa
yang mereka ingin pelajari.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembelajaran Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris
Problem-based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang
dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan
masalah itu siswa memerlukan pengetahuan baru untuk dapat
menyelesaikannya.
Model pembelajaran berbasis masalah adalah pembelajaran yang
menekankan pada proses penyelesaian masalah. Pembelajaran Berbasis
Masalah melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran yang aktif,
kolaboratif, berpusat kepada peserta didik, yang mengembangkan
kemampuan pemecahan masalah dan kemampuan belajar mandiri yang
diperlukan untuk menghadapi tantangan dalam kehidupan dan karier, dalam
lingkungan yang bertambah kompleks sekarang ini.
DAFTAR PUSTAKA
Burg, Oudlaan. 2010. The Interdisciplinary Journal of Problem-based Learning.
Spring. Vol. 4, no. 2
Akmar, S. N., Sew, Lee. Integrating Problem-Based Learning (PBL) in
Mathematics Method Course. Spring. Vol. 4, no. 2
Sudarman. 2007. Problem Based Learning : Suatu Model Pembelajaran Untuk
Mengembangkan dan Meningkatkan Kemampuan Memecahkan Masalah.
Jurnal Pendidikan Inovatif. Vol. 2 no. 2. PP. 68-73
Muhson, A. 2009. Peningkatan Minat Belajar dan Pemahaman Mahasiswa
Melalui Penerapan Problem-Based Learning. Jurnal Kependidikan. Vol. 39,
No. 2. PP. 171-182.
Suci, N. M. 2008. Penerapan Model Problem Based Learning Untuk
Meningkatkan Partisipasi Belajar dan Hasil Belajar Teori Akuntansi
Mahasiswa Jurusan Ekonomi Undiksha. Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Pendidikan. Vol. 2 no. 1. PP. 74-86.
[Link]
[Link]