0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan5 halaman

Sejarah Keraton Cirebon dan Sultan-nya

Diunggah oleh

Hendra Saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan5 halaman

Sejarah Keraton Cirebon dan Sultan-nya

Diunggah oleh

Hendra Saputra
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SUNYARAGI

SUNYI sendiri seakan semua mati

Semua keinginan perlahan sirna

Gejolak hasrat tertunduk lunglai

Yang miskin merindukan kekayaan

Yang sengsara merindukan kebahagiaan

Yang gelisah merindukan kedamaian

Semua jiwa hakekatnya merindu

Trus apalagi yang bisa dibanggakan dari RAGA

SATU KOTA EMPAT KRATON

Tahun 1677 Cirebon terbagi, Pangeran Martawijaya dinobatkan sebagai Sultan Sepuh bergelar
Sultan Raja Syamsuddin, Pangeran Kertawijaya sebagai Sultan Anom bergelar Sultan Muhammad
Badriddin. Sultan Sepuh menempati Kraton Pakungwati dan Sultan Anom membangun kraton di
bekas rumah Pangeran Cakrabuwana. Sedangkan Sultan Cerbon berkedudukan sebagai wakil
Sultan Sepuh. Hingga sekarang ini di Cirebon dikenal terdapat tiga sultan yaitu Sultan Sepuh, Sultan
Anom, dan Sultan Cirebon.

2. Keraton Kasepuhan
Keraton Kasepuhan adalah keraton pertama di Cirebon yang merupakan cikal bakal
pemerintahan di kota ini. Arsitektur keraton ini masih dipengaruhi kebudayaan Hindu
meski sudah merupakan kesultanan Islam. Bentuk gapura dan bangunan punya
beragam ornamen dan keramik dengan motif khas, ada juga pengaruh budaya tiongkok
di dalamnya.
Sebelum bernama Keraton Kasepuhan, keraton ini bernama Keraton Pakungwati.
Berubah nama menjadi Keraton Kasepuhan karena pada masa kepemimpinan
Pangeran Raja Martawijaya, wilayah cirebon dibagi dua dan Pangeran Raja Kartawijaya
mendirikan Keraton Kanoman.

3. Keraton Kanoman
Keraton Kanoman yang didirikan Pangeran Kartawijaya terletak tak terlalu jauh dari
Keraton Kasepuhan. Desain arsitektur Keraton Kanoman amat berbeda dari Keraton
Kasepuhan. Bangunan-bangunan Keraton Kanoman didominasi warna putih dengan
hiasan-hiasan keramik di dindingnya. Terdapat berbagai peninggalan bersejarah di
keraton ini seperti kereta kuda, peralatan rumah tangga, dan berbagai jenis senjata
para prajurit keraton.
4. Keraton Kacirebonan
Keraton Kacirebonan adalah pecahan dari Keraton Kanoman yang memiliki nuansa
gabungan arsitektur khas Belanda, Cina, dan Arab. Kekhasan tersebut adalah akibat
dari renovasi, rehabilitasi, dan penambahan bagian-bagian dan bangunan-bangunan
baru di kompleks keraton sepanjang masa pemerintahan yang cukup lama. Hasilnya,
keraton indah yang kini menjadi salah satu destinasi wisata Cirebon.

5. Keraton Kaprabonan
Keraton Kaprabonan juga masih terkait erat dengan Keraton Kanoman. Keraton ini
didirikan oleh pangeran dari Keraton Kanoman yang menolak menjadi penerus raja dan
malah memilih untuk membuah pedukuhan untuk memperdalam ilmu agama Islam.

Sejarah lahirnya Keraton Kasepuhan di Cirebon tidak lepas dari peran Pangeran Cakrabuana yang
berhasil mendirikan keraton ini pada awal perkembangan Islam di kota tersebut. Bahkan, Kerajaan
Cirebon disebut-sebut sebagai kesultanan Islam pertama di Tanah Pasundan. Keraton Kasepuhan
ini terdapat dua kompleks bangunan utama. Pertama, Dalem Agung Pakungwati yang berdiri sejak
1430 oleh Pangeran Cakrabuana. Lalu, kompleks Keraton Pakungwati yang didirikan pada 1529
oleh Pangeran Mas Zainal Arifin. Keraton Pakungwati ini merupakan cikal bakal dari berdirinya
Keraton Kasepuhan.

“Pakungwati” merupakan nama dari Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang
diperistri oleh Sunan Gunung Jati. Kemudian, nama ratu ini diabadikan sebagai keraton baru oleh
cicit dari Sunan Gunung Jati yang bernama Pangeran Mas Zainul Arifin atau sering juga dipanggil
Panembahan Pakungwati I. Keraton baru tersebut berdiri tepat di sebelah barat daya keraton lama
yang didirkan oleh Pangeran Cakrabuana. Sejarah dari Keraton Kasepuhan Cirebon bermula dari
runtuhnya Kerajaan Cirebon pada 1666 saat masa pemerintahan Panembahan Ratu II atau
Pangeran Rasmi. Pada waktu itu, mertua dari Panembahan Ratu II yang merupakan penguasa
Kerajaan Mataram beranama Sultan Amangkurat I memanggil Penembahan Ratu II ke Surakarta.
Panggilan tersebut bukan tanpa sebab. Panembahan Ratu II dituduh melakukan persekongkolan
dengan Banten untuk menjatuhkan Mataram. Karena itu, penguasa Cirebon ini diasingkan hingga
wafat di Surakarta satu tahun kemudian tepatnya pada 1667. Meninggalnya Panembahan Ratu II
membuat kekosongan pemerintahan Cirebon. Melihat hal ini, Kerajaan Mataram tidak ingin
kehilangan kesempatan dan akhirnya mengambil alih kekuasaan di Cirebon. Mengetahui hal
tersebut, penguasa Banten yang bernama Sultan Ageng Tirtayasa merasa marah karena
pengambilan kekuasaan sepihak atas Cirebon. Sultan Ageng Tirtayasa mengambil tindakan untuk
membebaskan putra-putra dari Panembahan Ratu II yang diasingkan oleh Mataram. Putra-putra
tersebut bernama Pangeran Kartawijaya dan Pangeran Martawijaya.

Masih di tahun yang sama, setelah kedua putra dari Panembahan Ratu II dibebaskan, ternyata
masalah Kerajaan Cirebon tidak berhenti. Pembebasan putra penguasa Cirebon justru memicu
perdebatan tentang siapa yang berhak untuk melanjutkan kekuasaan di Kerajaan Cirebon. Konflik
internal inilah yang membuat Sulatan Ageng Tirtayasa kembali turun tangan. Penguasa Banten
tersebut akhirnya memutuskan untuk membagi Cirebon menjadi tiga kesultanan yang diberi nama
berbeda. Kesultanan tersebut yaitu Kesultanan Kanoman, Panembahan Cirebon, dan Kesultanan
Kasepuhan. Pangeran Kartawijaya yang bergelar Sultan Anom I kemudian memerintah Kesultanan
Kanoman. Pangeran Martawijaya bergelar Sultan Sepuh I memimpin Kesultanan Kasepuhan.
Lalu, Pangeran Wangsakerta memimpin Panembahan Cirebon. Saat itulah Sultan Sepuh I
kemudian tinggal di Keraton Pakungwati yang di kemudian hari berganti namanya menjadi Keraton
Kasepuhan. Ciri Khas Bangunan Keraton Cirebon Bangunan keraton Kasepuhan dan Kanoman
masih ada hingga saat ini dan menjadi destinasi wisata Cirebon yang bersejarah. Keunikan
bangunannya membuat tempat ini banyak dikunjungi orang. Keduanya sebenarnya cukup berbeda,
berikut ini penjelasannya: Bangunan Keraton Kasepuhan Keraton ini merupakan yang pertama di
Cirebon dan disebut-sebut sebagai cikal bakal pemerintah kota. Arsitekturnya mendapatkan banyak
pengaruh dari budaya Hindu meskipun keraton ini sebenarnya kesultanan Islam. Ada banyak
ornamen dan keramik dengan motif yang khas dapat terlihat dari gapura bangunannya. Selain
kental dengan budaya Hindu, keraton ini juga memiliki ciri budaya Tiongkok. Pada saat itu banyak
aktivitas perdagangan dengan orang-orang yang datang dari Negeri Panda sehingga terjadi
akulturasi budaya.

Keraton Kanoman Meskipun letaknya tidak jauh dari Keraton Kasepuhan, tapi bangunan ini memiliki
ciri khas. Warna putih mendominasi dan terdapat hiasan keramik di bagian dindingnya membuat
tampilannya sangat mewah. Tidak hanya itu, ada banyak barang-barang bersejarah, seperti kereta
kuda, senjata prajurit, hingga peralatan rumah tangga yang masih tersimpan rapi hingga saat ini.
Itulah sejarah dari Keraton Kasepuhan dan Kanoman, Cirebon. Jika ingin melihat langsung
keduanya, Anda dapat langsung datang ke kota ini dan berwisata sejarah sambil menikmati
makanan khasnya.

Artikel ini telah tayang di [Link] dengan judul "Cerita di Balik Keraton Kasepuhan Tempat
Bersejarah di Cirebon" , [Link]
keraton-kasepuhan-tempat-bersejarah-di-cirebon
Penulis: Siti Nur Aeni
Editor: Sorta Tobing

Raja Kerajaan Cirebon


Selain Sunan Gunung Jati terdapat sejumlah sultan atau raja yang berkuasa di Kerajaan Cirebon.

Berikut raja di Kerajaan Cirebon:

Sunan Gunung Jati 1479-1586


Fatahillah 1568-1570
Pangeran Mas atau Panembahan Ratu I 1570-1649
Pangeran Rasmi atau Panembahan Ratu II 1649-1677
Runtuhnya Kerajaan Cirebon
Setelah Panembahan Ratu II meninggal dunia pada 1677, terjadi kekosongan di Kerajaan Cirebon.
Perpecahan mulai terjadi karena penobatan tiga orang putra. Kesultanan pun terpecah tiga.

Kesultanan ini dapat berjalan dengan baik hingga perpecahan kembali terjadi pada 1807.

Pada masa kolonial yakni sekitar 1906-1926 Kerajaan Cirebon resmi dihapuskan dan diganti
menjadi Kota Cirebon.

Baca artikel CNN Indonesia "Sejarah Kerajaan Cirebon: Masa Kejayaan hingga Raja Berkuasa"
selengkapnya di sini: [Link]
kerajaan-cirebon-masa-kejayaan-hingga-raja-berkuasa.

Download Apps CNN Indonesia sekarang [Link]

KASEPUHAN

1. Kraton tertua, terluas dan terlengkap koleksi sejarahnya


2. Kereta Singa Barong yang konon dipakai Kanjeng Sunan Gunung Jati
3. Singa Barong menunjukkan akulturisasi 4 budaya yang berbeda. Badan berbentuk Singa
melambangkan Eropa, Sayap burung Buroq melambangkan Arab/Timur tengah. Belalai
melambangkan India. Kepala naga melambangkan Cina.
4. Aristek bangunan berwarna merah bata yang dihiasi keramik tak lepas dari pengaruh salah
satu istri Sunan Gunung Jati yang bernama Ong Tien dan merupakan putri Kaisar China
bernama Hong Gie
5. Konon ketika diboyong ke Indonesia, putri China membawa ribuan barang Keramik yang
diangkut dengan kapal tersendiri
6. Fatahillah pernah menaklukan portugis di Sunda kelapa, maka banyak jarahan tentara
portugis yang ada di keratin seperti meriam, pedang, topi dan baju perang

KANOMAN

1. Tradisi Panjang Jimat pada saat peringatan Maulud rutin dilakukan. Panjang/baki ini
merupakan piring Ming bertuliskan kaligrafi arab tempat semua pusaka akan dicuci dengan
air beras yang tidak ditumbuk
2. Belakang komplek terdapat Bangsal Witana tempat istikhoroh Pangeran Cakrabuana yang
dulu berbatasan dengan laut yang depan kamarnya ada Pohon Dewandaru, pohon yang
melambangkan perpindahan Hindu ke Islam
3. Punya dua kereta kerajaan yang bernama Paksi Naga Liman dan Jempana
4. Punya Lonceng Gajah Mungkur dan Gamelan yang dipakai acara penyucian pusaka
kerajaan
5.

KAPRABONAN

1. Julukannya adalah Kraton yang terlupakan


2. Didirikan karena sultan Badrudin memisahkankan dari Kanoman karena tidak setuju
kedekatan keluarga kraton dengan Belanda. Beliau pengin tetap melanjutkan ajaran syech
Syarif Hidayatullah
3. Lambang dalung darma punya arti penerangan dari getah karet
4. Punya Tradisi Suroan untuk penyucian pusaka dan penyajian bubur suro
5. Kraton ini lebih difungsikan sebagai tempat memperdalam agama khususnya ajaran Tarekat
Syatoriyah
KACIREBONAN

1. Kraton ini dijuuki Kraton Termuda


2. Kraton ini didirikan setelah ada perang selama 5 tahun dengan Belanda. Pangeran Hairudin
mendirikan Kacirebonan setelah Belanda mengangkat Imamudin sebagai Raja Kanoman
3. Keraton ini memiliki bagian berupa serambi keraton yang dikenal juga dengan
nama ruang jinem prabayaksa. Di ruangan tersebutlah sultan melakukan
perjamuan dengan kuno
4. Kraton ini dikenal juga sebagai krdaton Hijau karena banyak unsur bangunan
yang diberi warna hijau
5. Terdapat koleksi manuskrip al Quran kuno dari berbagai tipe
6. Punya tradisi Drugdag dalam meyambut datangnya bulan Ramadhan

Anda mungkin juga menyukai