0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan9 halaman

Karakteristik Pasien Skizofrenia di Indonesia

Diunggah oleh

sabrina nur
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan9 halaman

Karakteristik Pasien Skizofrenia di Indonesia

Diunggah oleh

sabrina nur
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 13 No.

1 Juni 2020
[Link]

ARTIKEL PENELITIAN

KARAKTERISTIK PASIEN SKIZOFRENIA

Gerhad P. Girsang1, Mawar G. Tarigan2, Edwin A. Pakpahan3

ABSTRACT

Background : Schizophrenia is one of the rising disease in society these days.


Generally, people have little knowledge about this disease, and that this disease can
develop in every age and level of education. Therefore, research is needed to know any
charactheristics in schizophrenia.

Method: This study is a study using the literature study method or literature review.
Data obtained from secondary data using documentation techniques. Data documentation
is carried out based on journals related to research variables.

Conclusion: Based on this literature review about the characteristics of schizophrenia


which is, age, gender, marital status, education, and profession, it is found that male is
more vulnerable to develop schizophrenia than female, and lower education is more
vulnerable to develop schizophrenia. Marital status and profession have little part in the
characteristics of schizophrenia.

Keywords: Schizophrenia.

Gerhad P. Girsang1, Mawar G. Tarigan2, Edwin A. Pakpahan3, Wijaya Taufik4, Ivonne R.


Situmeang5
1
Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Methodist University of Indonesia (UMI), Medan
dr. Mawar Gloria Tarigan, [Link]
2
Department of Psychiatric, Faculty of Medicine, Methodist University of Indonesia,Medan
dr. Edwin Anto Pakpahan, Sp.P
3
Department of Pulmonology, Faculty of Medicine, Methodist University of Indonesia, Medan
dr. Wijaya Taufik Tiji, [Link] (KJ), [Link]
4
Department of Psychiatric, Faculty of Medicine, Methodist University of Indonesia,Medan
dr. Ivonne Ruth Situmeang, [Link], [Link].
5
Department of Public Health, Faculty of Medicine, Methodist University of Indonesia, Medan
Correspondence : Gerhad P. Girsang
Email: gerhard.girsang15@[Link]

58
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 13 No.1 Juni 2020
[Link]

ABSTRAK

Latar Belakang : Skizofrenia merupakan salah satu gangguan dalam bidang kesehatan
jiwa yang saat ini trennya cenderung meningkat dan sering ditemukan di tengah masyarakat.
Masyarakat pada umumnya banyak tidak tahu, bahwa skizofrenia dapat dialami oleh berbagai
usia dan pada tingkat pendidikan yang cenderung tinggi. Maka dari itu, perlu dilakukan
penelitian untuk mengetahui karakteristik apa saja yang terdapat pada pasien skizofrenia.

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian dengan menggunakan metode studi


kepustakaan atau literature review. Data diperoleh dari data sekunder dengan menggunakan
teknik dokumentasi. Dokumentasi data yang yang dilakukan berdasarkan jurnal yang
berhubungan dengan variabel penelitian.

Kesimpulan : Berdasarkan penelitian literature review tentang karakteristik pasien


skizofrenia dengan variabel usia, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan dan
jenis pekerjaan didapatkan hasil bahwa sebagian besar penelitian menunjukkan laki-laki
cenderung lebih rentan menderita skizofrenia dibandingkan perempuan, pasien dengan
pendidikan yang rendah lebih rentan menderita skizofrenia. Status perkawinan dan jenis
pekerjaan tidak begitu berperan dalam menunjukkan ciri penderita skizofrenia.

Kata Kunci : Skizofrenia.

59
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 13 No.1 Juni 2020
[Link]

PENDAHULUAN angka Prevalensi skizofrenia pada tahun


2013 yakni sebesar 1,7 per seribu penduduk
eningkatan tren terjadinya
dan diperkirakan sekitar 1 juta penduduk
skizofrenia masih menimbulkan
Indonesia mengalami skizofrenia. Prevalensi

P
persepsi atau anggapan negatif
skizofrenia di Provinsi Sumatera Utara
pada banyak orang. Faktor kurang
sebesar 0,9 per seribu penduduk.3,6
paparan informasi atau
Di Sumatera Utara sendiri terdapat 3
pengetahuan tentang gambaran
orang per seribu penduduk yang mengalami
karakteristik orang dengan
gangguan jiwa dan 50% adalah akibat dari
skizofrenia dapat menjadi alasan
kehilangan pekerjaan. Dengan demikian dari
timbulnya persepsi negatif. Padahal pengidap
32.952.040 penduduk Sumatera Utara
skizofrenia berhak untuk sembuh dan
terdapat sekitar 98.856 orang yang
diperlakukan secara manusiawi. Namun,
mengalami gangguan jiwa. Sejalan dengan
pengetahuan tentang karakteristik dasar
paradigma sehat yang dicanangkan
orang yang menderita skizofrenia saat ini
Departemen Kesehatan yang lebih
juga belum banyak dipahami.
menekankan upaya proaktif melakukan
Menurut data World Health Organization
pencegahan daripada menunggu di rumah
(WHO) pada tahun 2012 angka pasien
sakit. Kini orientasi upaya kesehatan jiwa
gangguan jiwa mengkhawatirkan secara
lebih pada pencegahan preventif dan
global, sekitar 450 juta orang yang menderita
promotif.7
gangguan mental. Orang yang mengalami
Skizofrenia merupakan salah satu
gangguan jiwa sepertiganya tinggal di
gangguan kejiwaan berat dan menunjukkan
negara berkembang, sebanyak 8 dari 10
adanya disorganisasi (kemunduran) fungsi
pasien gangguan mental itu tidak
kepribadian, sehingga menyebabkan
mendapatkan perawatan. Meskipun pasien
disability (ketidakmampuan). Gangguan jiwa
gangguan jiwa belum bisa disembuhkan
jenis ini dapat terjadi mulai sekitar masa
100%, tetapi para pasien gangguan jiwa
remaja dan kebanyakan pasiennya adalah
memiliki hak untuk sembuh dan
berjenis kelamin pria dan menjadi sakit pada
diperlakukan secara manusiawi.1
usia antara 15-35 tahun, sedangkan pada
Jumlah pasien gangguan jiwa berat
wanita kebanyakan penampakan gejala antara
sebesar 2,3 Juta jiwa, yang diambil dari data
usia 25-35 tahun.26
RSJ se-Indonesia. Sementara itu 10% dari
Skizofrenia terdiagnosis pada usia remaja
populasi mengalami masalah kesehatan jiwa
akhir dan usia dewasa awal. Awal terjadinya
maka harus mendapatkan perhatian karena
skizofrenia pada usia 25-35 tahun untuk
termasuk rawan kesehatan jiwa. Berdasarkan
perempuan dan 15-25 tahun untuk laki-laki.
data hasil Riskesdas 2013 secara Nasional
Skizofrenia merupakan salah satu masalah
terdapat 1,7 % penduduk Indonesia yang
kesehatan yang cukup banyak di Indonesia.
mengalami gangguan mental berat
Pasien skizofrenia masih pada angka yang
(Skizofrenia) atau secara absolut terdapat 400
tinggi yaitu, 80 % tidak ditangani dengan
ribu jiwa lebih penduduk Indonesia. Terdapat
pengobatan oleh keluarga dan tim medis.
12 provinsi yang mempunyai prevalensi
Peningkatan pasien skizofrenia terjadi seiring
gangguan jiwa berat melebihi angka nasional.
dengan banyaknya pasien yang dipasung oleh
Provinsi Sumatera Utara merupakan provinsi
keluarga serta dibiarkan berada di jalanan.33
dengan prevalensi gangguan jiwa berat
Gangguan kejiwaan skizofrenia ini sering
sebanyak 0,9%, untuk prevalensi tertinggi
menyebabkan kegagalan individu dalam
terdapat di Provinsi Jogjakarta dan Aceh
mencapai berbagai keterampilan yang
yaitu 2,7%.2
diperlukan untuk hidup yang menyebabkan
Salah satu negara yang memiliki angka
pasien menjadi beban keluarga dan
kejadian penyakit skizofrenia yang relatif
masyarakat. Prevalensi skizofrenia di
cukup tinggi adalah Indonesia. Di Indonesia
Indonesia diperkirakan 1 permil, meski angka
60
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 13 No.1 Juni 2020
[Link]

yang pasti belum diketahui karena penelitian siapapun termasuk tingkat pendidikan yang
prevalensi skizofrenia secara khusus belum tinggi, karena yang menjadi faktor
dilakukan di Indonesia. Berdasarkan data penyebabnya adalah stres yang berlanjut,
rekam medik Rumah Sakit Jiwa Provinsi integrasi faktor biologis, psikososial dan
Sumatera Utara tahun 2010, diketahui dari lingkungan.25
12.377 pasien yang dirawat jalan yang Pekerjaan seseorang bisa menentukan
menderita skizofrenia paranoid berjumlah kualitas ekonomi, pekerjaan yang sesuai baik
9.532 (96,51%) dengan berbagai tipe dan dari segi kesanggupan dan hasil yang
diketahui dari 1.929 pasien yang dirawat inap diperoleh bisa membuat seseorang hidup
yang menderita skizofrenia paranoid sejahtera, tapi tidak tertutup kemungkinan
berjumlah 1.581 (81,96%).12 dalam bekerja menimbulkan stres yang
Skizofrenia terdiagnosis pada usia remaja berlebihan yang dapat menimbulkan gejala-
akhir dan usia dewasa awal. Awal terjadinya gejala skizofrenia. Skizofrenia bisa juga
skizofrenia pada usia 25-35 tahun untuk terjadi akibat diberhentikan dari pekerjaan
perempuan dan 15-25 tahun untuk laki-laki. yang menimbulkan stres atau tekanan negatif
Skizofrenia merupakan salah satu masalah dari dalam diri individu tersebut. Seseorang
kesehatan yang cukup banyak di Indonesia. yang tidak ada pekerjaan jauh lebih banyak
Pasien skizofrenia masih pada angka yang jumlah pasien skizofrenia, karena tidak dapat
tinggi yaitu, 80 % tidak ditangani dengan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang
pengobatan oleh keluarga dan tim medis. menimbulkan stres. Faktor stres yang
Peningkatan pasien skizofrenia terjadi seiring berkepanjangan dapat menimbulkan
dengan banyaknya pasien yang dipasung oleh gangguan pada otak, dalam hal ini adalah
keluarga serta dibiarkan berada di jalanan.33 skizofrenia.23
Pasien skizofrenia tidak bisa ditentukan Seseorang yang sudah menikah biasanya
jumlah yang paling banyak laki-laki atau hidup bahagia, akan tetapi banyak juga yang
perempuan, bisa jadi dalam suatu Rumah mengalami masalah yang dapat menimbulkan
Sakit Umum Daerah terdapat jumlah laki-laki stres, menimbulkan gejala-gejala gangguan
lebih tinggi dibandingkan jumlah perempuan, jiwa skizofrenia. Seseorang yang tidak
bisa juga jumlah perempuan lebih tinggi di menikah, janda dan duda bisa juga
bandingkan laki-laki, dan bisa juga mengalami gangguan jiwa karena teman
jumlahnya sama. Pasien skizofrenia laki-laki berbagi keluh kesah atau pasienan tidak ada.
lebih menimbulkan gejala-gejala negatif Pasien skizofrenia bisa saja muncul dari
(afek tumpul, perilaku emosional, semua suku khususnya yang ada di
kemiskinan rapport, penarikan diri dari Indonesia. Pengaruh suku terhadap pasien
hubungan sosial, kesulitan dalam pemikiran Skizofrenia ini tidak ada. Gangguan jiwa
abstrak, berkurangnya spontanitas dan arus skizofrenia ini muncul tergantung dari
percakapan, pemikiran stereotipik) individu masing-masing.24
dibandingkan perempuan, perempuan lebih Masyarakat pada umumnya banyak tidak
cenderung menimbulkan gejala-gejala positif tahu, bahwa skizofrenia dapat dialami oleh
(Waham, Halusinasi, Kekacauan proses pikir, berbagai usia dan pada tingkat pendidikan
Gaduh Gelisah, Waham Kebesaran, yang cenderung tinggi. Berdasarkan latar
Kecurigaan/Kejaran, Permusuhan).25 belakang yang disebutkan diatas, maka perlu
Pendidikan yang dicapai seseorang dilakukan penelitian untuk mengetahui
memberikan pengaruh terhadap cara berfikir karakteristik-karakteristik apa saja yang
dan tingkah laku. Semakin tinggi pendidikan terdapat pada pasien skizofrenia.27
maka semakin tinggi mindset seseorang, akan
tetapi banyak orang yang lulusan SD, SMP,
SMA, bahkan sudah Perguruan Tinggi yang
mengalami gangguan jiwa Skizofrenia.
Gangguan Jiwa Skizofrenia bisa terjadi pada METODE
61
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 13 No.1 Juni 2020
[Link]

laki-laki lebih cenderung menderita


Jenis penelitian yang digunakan pada skizofrenia daripada perempuan dengan hasil,
penelitian adalah penelitian dengan metode pria sebanyak 26 orang (65%) dan wanita 14
literature review. Literature review orang (35%). Hal ini sejalan dengan
merupakan penelitian yang mengkaji atau penelitian yang dilakukan oleh Agung
meninjau secara kritis pengetahuan, gagasan, Wahyudi dkk. (2016), dengan jumlah sampel
atau temuan yang terdapat didalam tubuh 62 responden di Wilayah Kerja Puskesmas
literatur berorientasi akademik, serta Pati II, pria lebih banyak menderita
merumuskan kontribusi teoritis dan skizofrenia dibanding perempuan dengan
metodologisnya untuk topik tertentu. hasil, laki-laki 33 orang (53,2%) dan
perempuan 29 orang (46,8%) dimana kondisi
lingkungan di Kecamatan Pati sendiri
HASIL DAN PEMBAHASAN memang mendukung untuk terjadinya
skizofrenia pada pria dikarenakan sedikitnya
lapangan pekerjaan. Berbeda dengan wanita
Karakteristik subjek penelitian yang akan yang lebih sering tinggal dirumah, pria di
dibahas mencakup variabel usia, jenis Kecamatan Pati lebih memilih untuk
kelamin, status perkawinan, tingkat merantau ke daerah lain untuk mencari
pendidikan dan jenis pekerjaan. pekerjaan, hal ini tentu menambah stressor
lingkungan pada pria akibat perbedaan yang
Menurut Aulia Nisa dkk. (2018), dengan ditemukan di lingkungan baru.30,36
total sampel 166 pasien skizofrenia di RSJD
Atma Husada Mahakam Samarinda, pasien Menurut Ice Yulia Wardani et al (2018),
ulangan rentang usia 14-54 Tahun memiliki dengan jumlah responden sebanyak 92 orang
persentase jumlah pasien yang paling tinggi di RSJ Jakarta, pasien skizofrenia yang
yakni sebanyak 159 orang. Tingginya belum menikah lebih banyak menderita
persentase jumlah pasien pada rentang 14-54 skizofrenia daripada pasien yang sudah
Tahun diduga disebabkan tekanan berat yang menikah. Pada penelitian didapatkan hasil,
dialami dalam usia produktif, pada usia inilah menikah 15 orang (16,3%), belum menikah
seseorang dituntut agar dapat menghasilkan sebanyak 72 orang (78,3%) dan cerai
sesuatu baik untuk diri sendiri, keluarga, sebanyak 5 orang (5,4%). Penelitian ini
maupun lingkungan. Sedangkan menurut Ice bertolak belakang dengan penelitian yang
Yulia Wardani et al (2018), dengan jumlah dilakukan oleh Agung Wahyudi et al (2016)
responden sebanyak 92 orang di RSJ Jakarta, dengan jumlah sampel 62 responden di
didapatkan usia pasien 34 Tahun sebanyak 23 Wilayah Kerja Puskesmas Pati II, yang
orang dan usia pasien 24 tahun sebanyak 13 menyatakan bahwa pasien yang sudah
orang. Sementara menurut A. R. Fadilla et al menikah justru lebih rentan menderita
(2016), didapatkan hasil bahwa pasien skizofrenia dengan hasil, menikah sebanyak
dengan usia 26-35 Tahun adalah pasien 37 orang (59,7%) dan belum menikah
paling banyak menderita skizofrenia dari usia sebanyak 25 orang (40,3%).37,36
lainnya, 18-25 Tahun sebanyak 12 orang
Berdasarkan karakteristik tingkat
(20,7%), 26-35 Tahun sebanyak 16 orang
pendidikan, penelitian yang dilakukan oleh
(27,6%), 36-45 Tahun sebanyak 15 orang
Ice Yulia Wardani et al (2018), dengan
(25,9%), 46-55 Tahun sebanyak 10 orang
jumlah responden sebanyak 92 orang di RSJ
(17,2%), 56-60 Tahun sebanyak 5 orang
Jakarta menunjukkan pasien dengan tingkat
(8,6%).29,37
pendidikan SMA lebih rentan menderita
Berdasarkan jenis kelamin, penelitian skizofrenia yaitu sebanyak 50 orang (54,3%)
yang dilakukan oleh Sri Novitayani (2016) sedangkan tingkat pendidikan lainnya, SD
dengan jumlah sampel 40 responden di sebanyak 14 orang (15,2%), SMP sebanyak
poliklinik BLUD RSJA, menunjukkan bahwa 19 orang (20,7%), Perguruan Tinggi
62
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 13 No.1 Juni 2020
[Link]

sebanyak 9 orang (9,3%), penelitian ini sering mengantuk dan lebih banyak tidur
memaparkan bahwa status tidak bekerja semenjak mengkonsumsi obat, sehingga
identik dengan pendapatan yang rendah responden mengurangi dosis obat bahkan
merupakan stressor yang berhubungan tidak mengkonsumsinya sama sekali. Dengan
dengan keefektifan pelayanan kesehatan jiwa tidak patuhnya obat, gejala skizofrenia akan
pada fase akut dan relaps, kedua kondisi ini muncul kembali, sehingga membutuhkan
memerlukan biaya lebih untuk penanganan rehospitalisasi bila gejala yang muncul
pasien skizofrenia. Manfaat dari pendapatan semakin parah.30
hasil bekerja bagi pasien skizofrenia yaitu
guna faktor pencegahan dari relaps yang Pasien skizofrenia yang belum kawin
berhubungan dengan kondisi gangguan jiwa sebesar 78,3%. Perkawinan merupakan salah
berat. Hasil ini sejalan dengan penelitian satu wujud kemampuan membina hubungan
yang dilakukan oleh Sri Novitayani (2016) interpersonal serta menggambarkan bahwa
dengan jumlah sampel 40 responden di pasien skizofrenia membutuhkan dukungan
poliklinik BLUD RSJA, yang menunjukkan sosial dalam mewujudkan kehidupan yang
pasien dengan tingkat pendidikan SMA berarti. Salah satu penyebab stresor
cenderung lebih rentan menderita skizofrenia psikososial yang dialami oleh sebagian orang
dengan hasil 17 orang (42,5%) dan tingkat diantaranya ditimbulkan dari status
pendidikan lainnya, SD sebanyak 5orang perkawinan, mereka yang tidak kawin
(12,5%), SMP sebanyak 9 orang (22,5%), beresiko lebih tinggi mengalami skizofrenia.
Sarjana sebanyak 8 orang (20%). Sementara Status perkawinan dipandang perlu untuk
menurut Agung Wahyudi dkk. (2016) dengan pertukaran ego sehingga tercapai kedamaian.
jumlah sampel 62 responden di Wilayah Perhatian dan kasih sayang sangat
Kerja Puskesmas Pati II, menunjukkan pasien fundamental bagi pencapaian suatu hidup
dengan pendidikan rendah lebih rentan yang berarti dan memuaskan.
terkena skzofrenia dengan hasil 44 orang
(71%) dan 18 orang (29%) untuk pasien
dengan tingkat pendidikan tinggi.37,30 KESIMPULAN
Status pekerjaan merupakan salah satu
faktor resiko terjadinya skizofrenia, Berdasarkan penelitian literature review
penelitian yang dilakukan Aulia Nisa dkk. tentang karakteristik pasien skizofrenia
(2015), pasien yang tidak memiliki pekerjaan dengan variabel usia, jenis kelamin, status
cenderung lebih banyak menderita perkawinan, tingkat pendidikan dan jenis
skizofrenia daripada pasien yang memiliki pekerjaan didapatkan hasil bahwa sebagian
pekerjaan dengan hasil 76,51% sedangkan besar penelitian menunjukkan, rentang usia
memiliki pekerjaan 23,49%. Penelitian ini 14-54 tahun memiliki responden terbanyak
sejalan dengan yang dilakukan oleh Ice Yulia dikarenakan pada usia remaja akhir dan
Wardani dkk. (2018) dengan hasil pasien dewasa awal rentan terkena skizofrenia.
yang tidak bekerja sebanyak 69 orang (75%) Pria cenderung lebih rentan menderita
dan pasien yang bekerja 29 orang (25%). skizofrenia dibandingkan wanita dengan hasil
Sedangkan penelitian Sri Novitayani (2016) penelitian yang mengatakan bahwa wanti
menyatakan pasien yang memiliki pekerjaan memiliki hormon estrogen yang memiliki
justru lebih rentan menderita skizofrenia efek pada aktivitas dopamin di nukleus
dengan hasil 25 orang (62,5%) dan pasien akumben dengan cara menghambat pelepasan
yang tidak bekerja 15 orang (37,5%).29,37 dopamin. Disamping itu terdapat juga
Dalam penelitian Sri Novitayani (2016), penelitian yang menunjukkan bahwa wanita
mayoritas responden memiliki pekerjaan. lebih bisa menerima situasi kehidupan
Pada umumnya, responden mengatakan dibanding pria.
aktivitas pekerjaannya terganggu karena
63
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 13 No.1 Juni 2020
[Link]

Pasien skizofrenia yang belum kawin 2. Antonides, G. 2011. Psychology in


sebesar 78,3%. Perkawinan merupakan salah Economic and Business. Kluwer
satu wujud kemampuan membina hubungan Academic Publisher : Netherland.
interpersonal serta menggambarkan bahwa
pasien skizofrenia membutuhkan dukungan 3. Asmadi. 2012. Gangguan Jiwa di
sosial dalam mewujudkan kehidupan yang Indonesia Masih [Link]
berarti. Salah satu penyebab stresor Psikologi.
psikososial yang dialami oleh sebagian orang
diantaranya ditimbulkan dari status 4. Badan Pusat Statistik. 2015. Medan
perkawinan, mereka yang tidak kawin Dalam Angka 2015. Provinsi Sumatera
beresiko lebih tinggi mengalami skizofrenia. Utara.
Status perkawinan dipandang perlu untuk
5. Bappenas. 2010. Pedoman Evaluasi dan
pertukaran ego sehingga tercapai kedamaian.
Indikator Kinerja Pembangunan. Jakarta:
Perhatian dan kasih sayang sangat
fundamental bagi pencapaian suatu hidup Bappenas.
yang berarti dan memuaskan. 6. Barbato, A. 2011. Schizophrenia and
Hasil penelitian juga menyatakan public health, World Health
bahwa skizofrenia lebih rentan menyerang Organization Division of Mental Health
pasien dengan pendidikan yang rendah, and Prevention of Substance Abuse,
dimana pasien dengan pendidikan rendah WHO/MSA/NAM/97.6, Geneva.
cenderung krang memerhatikan kualitas
hidup sehat yang dapat mempengaruhi terapi. 7. Bustillo JR, Keith SJ, Lauriello J. 2010.
Schizophrenia: psychosocial treatment.
Tidak bekerja dapat menimbulkan Dalam Kaplan dan Sadock:
stres dan melemahnya kondisi kejiwaan Comprehensive text book of psychiatry.
karena orang yang tidak bekerja Jilid 1A. Edisi ke 7.
mengakibatkan rasa ketidakberdayaan dan
tidak optimis terhadap masa depan 8. Cassano, P. & Fava, M. 2012.
Depression and public health. An
overview. Journal of Psychosomatic
SARAN Research, 53, 849–857.
9. Departemen Kesehatan RI. 2015.
Perlunya penelitian lebih lanjut Gangguan Kesehatan Jiwa. Diakses 15
tentang gambaran karakteristik pasien
April 2015, dari
Skizofrenia dengan faktor resiko lain seperti
[Link]
tingkat pendidikan, sosio ekonomi, status
perkawinan dan suku, serta penelitian yang 10. Depkes RI. 2010. Rencana
bisa dilakukan di rumah sakit lainnya agar Pembangunan Kesehatan Menuju
gambaran karakteristik dapat Indonesia Sehat 2010, Jakarta.
tergeneralisasikan dan metode yang dipakai
bisa menggunakan cohort atau case control 11. Depkes RI. 2015. Keperawan Jiwa: Teori
untuk melihat faktor resiko secara luas serta dan Tindakan Keperawatan Jiwa. Depkes
faktor-faktor lain yang berpengaruh. RI.
12. Depkes RI. 2010. Undang-Undang
DAFTAR PUSTAKA Nomor 36 Tahun 2010. Tentang
Kesehatan.
1. Anna. 2010. Kasus Gangguan Jiwa
Meningkat. Jurnal Psikologi.
64
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 13 No.1 Juni 2020
[Link]

13. Dinkes Sumut. 2016. Profil Kesehatan 26. Kaplan et al. Sinopsis Psikiatri. Binarupa
Propinsi Sumatera Utara. Provinsi Aksara Publisher. Jilid 1. Jakarta: 2010.
Sumatera Utara.
27. National Institut of Mental Health. 2014.
14. Durand, et al. 2015. Diagnosis Childhood-onset Schizoprenia. Journal
Gangguan Jiwa, PPDGJ III. Jakarta : PT. of Mental Health.
Nuh Jaya.
28. Nevid dkk. 2012. Psikologi Abnormal.
15. Dwi, B. 2011. Kemiskinan Menjadi Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Faktor Pemicu Utama Gangguan
29. Nisa, Aulia et al. 2015. Karakteristik
Kejiwaan Pada Masyarakat. Jurnal
Gangguan Jiwa.
Pasien Dan Pengobatan Pasien
Skizofrenia Di RSJD Atma Husada
16. Erlinafsiah. 2010. Modal Perawat Dalam Mahakam Samarinda.
Praktik Keperawatan Jiwa. Jakarta :
TransInfo Media. 30. Novitayani, Sri. 2016. Karakteristik
Pasien Skizofrenia Dengan Riwayat
17. Fadilla, A. R. Et al. 2016. Evaluasi Rehospitalasi.
Ketepatan Penggunaan Antipsikotik
Pada Pasien Skizofrenia Rawat Inap. 31. Rao at al. 2012. Mental Health and
Jurnal Skizofrenia. Indian Legislation. JSS Medical College
Hospital.
18. Fausiah, widury. 2013. Psikologi
Abnormal Klinis Dewasa. Jakarta : UI- 32. Sadock. 2014. Psikiatri, Konsep Dasar
press. Dan Gangguan-Gangguan. Bandung:
Refika Aditama.
19. Febriani. 2013. Pasien Gangguan Jiwa
Terus Meningkat. Jurnal Gangguan Jiwa. 33. Stuart, T. Laraia. 2012. Principle &
Practice of Pshychiatric Nursing. St.
20. Ferdinand, A. 2010. Structural Equation Louis: Mosby Year Book.
Modelling dalam Penelitian Manajemen.
Penerbit Universitas Diponegoro, 34. Sujono, Anas. 2013. Metodologi
Semarang. Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka
Cipta.
21. Ferdinand, A. 2012. Metode Penelitian
Manajemen. Penerbit Universitas. 35. Videbeck, S. 2013. Buku Ajar
Diponegoro. Semarang. Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.

22. FKUI. 2015. Farmakologi dan Terapi 36. Wahyudi, Agung et al. 2016. Faktor
edisi 5, Jakarta : Departemen Kedokteran Resiko Terjadinya Skizofrenia (Studi
Universitas Indonesia. Kasus di Wilayah Kerja Puskesmas Pati
II). Public Health Perspective Journal.
23. Hawari, Dadang. 2014. Pendekatan
Holistic Pada Gangguan Jiwa 37. Wardani, Ice Yulia et al. 2018. Kualitas
[Link]: FKUI. Hidup Pasien Skizofrenia Dipersepsikan
Melalui Stigma Diri. Jurnal Skizofrenia.
24. Hawari, Dadang. 2016. Pendekatan
Holistic Pada Gangguan Jiwa 38. WHO. 2012. Schizophrenia. Journal of
[Link]: FKUI. Psychology.

25. Januarti. (2013). Skizofrenia. Bandung :


Refika Aditama.
65
Jurnal Kedokteran Methodist, Vol. 13 No.1 Juni 2020
[Link]

39. Wiramihardja, Sutarjo. 2012. Pengantar


Psikologi Abnormal. Bandung : Refika
Aditama.
40. Wiramihardja, S.A. 2012. Pengantar
Psikologi Abnormal. Bandung : PT.
Refika Aditama.
41. World Health Organization. 2014.
Mental health: Strengthening Mental
Health Promotion. Journal of
Psychology.

66

Anda mungkin juga menyukai