ANTOLOGI PUISI
X PERHOTELAN 2
SMK NEGERI 2 CIBINONG
Jl. Raya SKB No.1, Kelurahan Karadenan, Kecamatan Cibinong,
Kabupaten Bogor
SMK NEGER Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bog
Jarak yang Memisahkan
Karya : Anna Fika Dwi C
Jarak membentang seperti lautan luas,
Memisahkan kita dalam ruang dan waktu,
Setiap kilometer mengukir rasa rindu,
Yang terus memanggil dalam kesunyian malam.
Di bawah langit yang sama kita melihat,
Namun bulan dan bintang terasa begitu jauh,
Seperti jembatan tak tampak di antara kita,
Yang menghubungkan hati yang terpisah oleh jarak.
Waktu berlalu, dan jarak terus membentang,
Namun ingatan tentangmu tak pernah pudar,
Setiap kenangan adalah jembatan yang menguatkan,
Membawa kita lebih dekat meski terpisah jauh.
Ketika hari berlalu dan jarak tetap ada,
Aku tahu kita akan selalu terhubung,
Karena dalam setiap doa dan harapan,
Ada kekuatan yang mengatasi segala batas.
Dia
Karya : Aura Kasih
Dia adalah dia adalah senja yang hadir pelan
Membawa hangat meski dalam kesunyian
Setiap tatapnya, menyejukkan hati
Seperti angin yang membisik lembut di tepi
Mungkin dia tak pernah sadar
Bahwa setiap langkahnya adalah dasar angin segar
Yang menyusup ke dalam hati
Memberi warna pada hari-hari yang sepi
Dia adalah cerita yang tak pernah usai
Selalu ku tulis meski tak kumiliki
Dan di setiap bait yang kutulis ini
Ada dia yang selalu abadi
Namun, dia tak pernah tahu
Bahwa di setiap titik yang berlalu
Ada hati yang selalu menunggu
Bertanya-tanya, akankah dia tahu?
KENAPA?
Karya : Callysta Humaira Firdaos
Kenapa langit tak selalu biru,
Saat awan putih berselimut kelabu?
Kenapa malam begitu bisu,
Padahal bintang ada disitu?
Kenapa angin tak pernah tenang,
Selalu berlari, menerpa ruang?
Kenapa hati sering bimbang,
Dalam cinta Yang kadang hilang?
Kenapa waktu terus berlalu,
Membawa cerita yang tak menentu?
Kenapa kita harus bertanya,
Jika jawaban tak nyata?
Mungkin, "Kenapa" adalah misteri,
Yang membuat kita tetap mencari,
Dahm perjalannan ini,
Yang tak pernah benar-benar berhenti.
Si Mata Peneduh
karya : Clara Wilhelmina S
Selir angin dan hamparan pasir
Desiran ombak menebas perahu kertas
Awan biru dari cahaya ufuk timur sana
Tercampur dengan lembayung yang tak kalah indahnya
Aku sungguh ingin mempelajari
Bagaimana ombakmu menghanyutkanku
Agar aku bisa memahami
Setiap pasang dan surut arusmu
Si mata teduh di samping pantai
Biarkan angin mengibas rambutnya
Menerpa wajah dan raut mimiknya
Menerjang seluruh raga dan rasanya
Tiada bisikan yang terucap tiap buka bibirnya
Bahkan setetes air mata yang telah menguras tenaganya pun sirna
Hanya pedihnya luka yang tersisa di matanya
Bersama dengan setiap rasa yang menempati seluruh raga
Malam di Bawah Langit
Karya: Diana Setiana
Di bawah langit yang terbentang luas,
Bintang-bintang berkilau bak permata,
Angin malam lembut menyapa,
Mengalirkan damai dalam jiwa.
Hening malam menyelimut sunyi,
Cahaya bulan temani sepi,
Rembulan tersenyum di balik awan,
Mengiringi tidur bumi yang tenang.
Pepohonan menari dalam gelap,
Dedaunan berbisik pelan,
Menceritakan kisah tentang alam,
Yang abadi dalam keheningan malam.
Biarlah malam ini menjadi saksi,
Tentang keindahan yang tak bertepi,
Dalam setiap hembusan angin,
Tersimpan keajaiban yang tak terhingga.
Sekolah Ku
Karya: Fabian Xaviere
Di pagi hari, mentari menyapa
Menyentuh jendela, kelas bergema
Rasa ingin tahu, hati berdebar
Menjelajahi ilmu, tak kenal lelah
Buku-buku terbuka, kata-kata berbisik
Guru membimbing, ilmu terusik
Teman bercanda, tawa bergema
Menjalin persahabatan, penuh makna
Di lapangan luas, olahraga bergema
Keringat bercucur, semangat membara
Bersama meraih mimpi, tak kenal lelah
Menjadi insan berguna, cita-cita tergapai
Sekolahku, tempatku belajar
Menjadi pribadi yang lebih baik
Menorehkan prestasi, mengharumkan nama
Dengan tekad bulat, meraih cita.
Rasa yang Tak Sempat Tersampaikan
Karya: Febriana Cahya Ningrum.
Di antara kata-kata yang tak pernah terucap,
Ada rasa yang terpendam dalam dada,
Menyimpan harapan dalam diam yang berat,
Tak pernah sempat melintasi batas waktu.
Di setiap tatapan dan senyuman kecil,
Tersembunyi pesan yang tak pernah sampai,
Seperti angin yang membawa bisikan lembut,
Namun hanya menyentuh permukaan yang tipis.
Saat waktu berlalu dengan cepat,
Rasa ini semakin tertutup dalam bayang,
Menyisakan kenangan yang terbungkam,
Dalam ruang yang kosong tanpa jawaban.
Diakhir cerita yang tak pernah selesai,
Ada rasa yang hanya bisa ku simpan,
Menjadi bagian dari cerita yang hilang,
Tak pernah bebar-benar tersampaikan atau terungkap.
BURUNG DALAM SANGKAR
Karya: Ferdi Khalish Fauzan
Wahai kau, burung dalam sangkar
Sungguh nasibmu malang benar
Tak seorang pun ambil tahu
Duka dan lara di hatimu
Wahai kau, burung dalam sangkar
Dapatkah kau menahan siksa
Dari kekejaman dunia
Yang tak tahu menimbang rasa?
Engkau tumbuh tanpa kasih sayang
Dari kedua orang tua maupun keluarga
Tapi apalah hendak dikata
Begitulah kehidupanmu serta nasib mu
Mereka yang di luar sana
Mampu bernapas bebas
Mengepakkan sayap selebar mungkin
Demi menembus lembutnya awan
Bila kau melihat burung lain yang terbang bebas
Engkau merasa iri pada mereka
Karena kau ingin pula seperti mereka
Tapi apa daya kau tak bisa keluar dari sangkar
Bulan di Langit Malam
Karya: Hafizh Alfari
Di langit malam, rembulan yang indah
Nampak bulan yang bersinar cerah
Dingin di malam itu menjadi hangat
Di selimuti kegelapan ketika dunia tertidur lelap
Angin malam mengudara
Sungguh ku nikmati malam ini
Melihat banyak bintang di langit tinggi
Namun hanya bulan yang sinarnya takkan terganti
Bulan yang bersinar amatlah indah
Mengeluarkan cahaya lembut yang menenangkan jiwa
Pesonanya yang luar biasa
Manyiratkan harapan di tengah kesunyian
Bulan, simbol dari sebuah cinta dan harapan
Hatiku, dibuat kagum oleh pesonanya
Mimpi-mimpi indah terpancar dari sinarnya
Menanti cinta yang luar biasa
Melupakanmu
Karya: Isviana Verti Bunga
Dalam hening malam yang sunyi,
Kukenang wajahmu sekejap lagi,
Namun seperti embun pagi,
Kau menghilang, tak lagi berarti.
Satu persatu kenangan sirna,
Seperti daun gugur di musim kering,
Hatiku merangkai cerita lama,
Namun kini terasa asing.
Langkah ini mencoba bergerak,
Meninggalkan bayang yang membayangi,
Meski dalam gelap masih mencari,
Cahaya baru yang lebih berarti.
Kugoreskan luka dengan tinta,
Menyusun hari-hari yang sepi,
Kini aku belajar melupakanmu,
Satu langkah lagi menuju diri.
KUCING KU
Karya: Kemal Khairul Azzam
Aku punya seekor kucing....
Dia terlihat lucu sekali....
Aku suka dengan warna bulunya...
Setiap hari aku memberi mereka makan....
Aku sangat menyayangi mereka....
Aku bermain bersamanya setiap hari....
Sepulang sekolah kalian menyambutku di depan pintu...
Mengajakku untuk bermain....
Warna bulu kalian abu abu dan putih.
Warna abu abu dan putih adalah warna kesukaanku...
Ketika malam kalian terlihat imut dan lucu..
Sehingga aku ingin sekali memeluk kalian...
Kucing ku Suka makan ikan..
Dan suka mengejar tikus...
Kau suka berguling guling..
Suaramu yang imut meong..meong...
Hujan
Karya : Khansa syahla Kharisma
Tahukah kamu
Bahwa jauh di lubuk hatiku
Ada sebuah kenangan yang kusimpan,
Rapi, serapi-rapinya.
Dan hanya kubuka
Saat hujan bergemuruh
Seperti di pagi yang mulia ini.
Saat kusentuh,
Kenangan itu menguncang
Membawa bayang indah
Tentang kamu,
dan senyuman mu yang tak pernah bisa kulupakan
Lalu tiba-tiba
Kenangan itu mengajakku
Masuk kembali, ke masa lalu
dan membawaku, ke bayangan indah itu
ASA DIANTARA NESTAPA
Karya : Kurnia Wulandari
Kala itu diriku terpaku
Tiap simpul langkahku menampikkan ragu
Tak apik membuat langit kelabu
Karena itu titian kertas kini menjadi perahu
Apa yang diharapkan dari padika tanpa kalbu?
Para payoda kini hanya merenggut diterpa abu
Berapa lama lagi aku harus mendayu?
Saat serumpun kayu di ujung sana bertemu deru
Rasanya semesta begitu terburu-buru menciptakan tuju
Sampai beberapa kepala di dunia dipenggal serampangan bulu
Apakah asa dapat mengalahkan pilu?
Kala diri sendiri begitu maju dalam terburu-buru
Kini aku memilih untuk mengacu
Sampai dunia memberiku asa yang baru
Terlalu lama ragu membuatku menjadi pengembala ambigu
Lantas saat aku tahu, bukan dunia yang salah tapi kaki ku yang tak mau melepas
jemu.
Senja
Karya : Lutvi Oktaviana
Dunia di kala senja teduh pelita
Mewarnai langit dengan semburat jingga
Menandakan tenggelam nya sang mentari
Menghancurkan elok tari burung merpati
Keindahan nya terlalu cepat berlalu
Hingga malam merenggut mu
Seketika engkau menjadi gelap
Karena cahaya mu telah lenyap
Senja bergurau asa
Berirama kan senandung tirta
Kehadirannya yang selalu di nanti
Namun dapat pamit seenak hati
Perpaduan mu dengan awan
Menghasilkan ketenangan
Menciptakan kisah yang begitu melekat
Namun menjadi yang teramat singkat
Indonesia, Ibu Pertiwi
Karya: M. Rasya
Indonesia, engkau tanah surga,
Hamparan zamrud di khatulistiwa,
Hutan lebat, lautan luas,
Mengalirkan kekayaan tak terbatas.
Di ujung senja, merah saga,
Langitmu berkisah tentang cinta,
Bakti kami pada bumi pertiwi,
Takkan pernah lekang oleh hari.
Gunung-gunungmu megah menjulang,
Menyimpan sejuta harapan,
Pada setiap langkah anak negeri,
Yang berjuang untuk mimpi-mimpi.
Oh Indonesia, ibu pertiwi,
Dalam pelukanmu kami bersatu,
Ragam bahasa, adat, dan budaya,
Semuanya berpadu dalam satu warna.
Dari Sabang hingga Merauke,
Terselip doa dan cinta abadi,
Indonesia, negeriku tercinta,
Kami akan menjaga namamu selamanya.
Masa Depan Bercahaya
Karya:Mutiara Rizky Prameswarł
Sekolah adalah panggung kehidupan
Dimana perjalanan berawal dari awal
Dalam buku—buku, harta tok ternilai
Pendidikan adalah kilou yang tak pudar
Gurumu adalah pemandu, pembimbłng hati
Membuka Pintu dunia, memandu arah langkah
Kita siswa, menorehkan unta di halaman
Menuju masa depan yang cerah, tok terduga
Belajar adalah petualangan dalam pengetahuan
Membuka mata, mengisł otak dengan berbagai warna
Sekolah adalah ladang impian yang subur
Dalam ilmu, kita menumbuhkan Cita—clta
Pendidikan adalah kekuatan gang membentuk
Kita anak—anak masa depan gang bercahaya
Dengan pena dan pikiran, kita merajut nasłb
Sekolah adalah tonggak, menuntun menuju masa depan
REMAJA
Karya : Nayla azaliyya keira
Remaja, lukisan indah dalam masa,
Warna-warni tawa dengan impian penuh cahaya,
Di antara hari, kita bebas bercanda,
Tak terasa, dewasa menunggu di ujung sana.
Malam-malam panjang penuh rahasia,
Mimpi-mimpi besar kita untuk menggapai angkasa,
Namun di balik awan-awan yang kita lewati,
Ada tanggung jawab yang tak bisa dihindari.
Waktu berjalan, detiknya tak henti,
Perlahan mengikis dunia yang kita kenali,
Dewasa datang mengetuk dengan pelan,
Menggoyahkan harapan lalu menggantinya dengan beban.
Namun remaja tetaplah masa paling berharga,
Di situlah kita akan belajar menjadi dewasa,
Meski akhir datang dengan cepatnya,
Kenangan itu akan selalu ada, dan tak akan pernah sirna.
AWAN
Karya : Novia wulandari
Bertebaran di angkasa
Putih, kelabu, dan hitam
Warna-warna menawan
Bergelombang mengombak-ombak
Tebal dan sangat indah
Bahkan sang bangaskara tak terlihat
Pelangi terlihat tak penuh
Karena sang selimut menutupinya
Jauh di sana
Menyelimuti jagat raya
Tebal tipis
Beredar dimana-mana
Indah bukan buatan
Ingin rasanya memeluknya
Lembut dan menawan
Indah tak terperikan
Luka di Balik Senyuman
Karya: Nur Alisa
Senyuman di wajahku cerah berseri,
Namun hati ini penuh luka tersembunyi,
Di balik tawa yang tampak abadi,
Ada duka yang tak pernah pergi.
Setiap langkah kuukir dengan riang,
Tapi dalam hati ada jeritan,
Senyum ini hanyalah topeng tipis,
Menutupi rasa yang penuh kesedihan.
Di malam sepi, saat dunia tenang,
Luka ini hadir tanpa ampun,
Air mata yang tak tampak di siang,
Mengalir lembut dalam kesendirian.
Jangan tertipu oleh kilau di mata,
Di balik senyum ada cerita,
Tentang hati yang terluka dalam,
Yang berusaha tetap bertahan, meski penuh kesedihan.
Jejak waktu
Karya: Pramudya Pangestu
Di pagi yang tenang, embun jatuh perlahan
Seperti mimpi yang hadir di ujung harapan
Mengingatkan diri tentang perjalanan
Bahwa setiap detik adalah makna perjuangan.
Ada tawa dan air mata
Ada cerita di antara ruang dan masa
Aku adalah penjelajah dalam peta kehidupan
Mencari makna pada setiap persimpangan
Kadang aku tersesat hingga sedikit hilang arah
Namun waktu selalu memberi jawaban yang indah
Ia mengajar diri tentang sabar dan harap
Bahwa di ujung gelap, selalu ada fajar yang singgap
Jejak waktu adalah jejak hati
Menorehkan cinta, luka, dan mimpi
Ia saksi bisu dari perjalanan ini
Mengantar diri menuju tujuan yang sejati.
Belum Siap
Karya: Resti Wulandari
Di batas antara keraguan dan harapan,
Hatiku terjaga dalam penjagaan,
Tak siap untuk membuka jendela,
Pada seseorang yang belum kupercaya.
Setiap tatapan adalah ujian,
Setiap kata terasa seperti angin,
Aku melangkah dalam ketidakpastian,
Menjaga jarak dengan hati yang penuh pertanyaan.
Kebun rasa ini masih sepi,
Belum siap menerima benih cinta,
Dinding-dinding pertahanan ku tegakkan,
Melindungi diriku dari luka yang tak diinginkan.
Namun dalam keheningan, ada keinginan,
Untuk suatu hari nanti, membuka diri,
Ketika saatnya tiba, dan hati merasa siap,
Untuk menerima cinta tanpa rasa takut.
“Bersama”
Karya: Reysha Rifa Yanti
Rambut hitam yang berterbangan
Mata yang berkilau bagaikan berlian
Senyuman manismu begitu menawan
Makhluk terindah yang tuhan ciptakan
Di kehidupan yang terang dan gelap
Terciptalah persahabatan yang harmoni
Dua jiwa yang bersatu dengan erat
Dan tidak akan pernah tertandingi
Di persimpangan jalan kehidupan
Menemani rintangan untuk mengejar mimpi
Berjalan bersama mencapai tujuan
Dengan semangat dan tekad yang tinggi
Oh,sahabatku,
Kisah indahmu membuatku bahagia
Kisah sedihku pun membuatmu menangis
Tawa dan tangis kita akhirnya mengikat janji
Seseorang yang tak bisa dimiliki
Karya: Septio Hermawan
Hilang komunikasi,
Datang melalui mimpi,
Sampai berkali-kali,
Sehebat itukah kamu.
Jangan terlalu berharap
Ingat! Pemenangnya
Orang yang dia
Suka.
Bodoh nya aku tetap
Menunggumu, padahal
Kaupun tidak menoleh
Sedikitpun kearahku.
Lebih suka
Septemberduit kalo,
Septembersamamu
Itu gak mungkin.
Stop Narkoba
Karya: Stevenson Imanuel
Di persimpangan jalan yang kelam,
Kita berdiri, menatap masa depan,
Di tangan terulur, janji dan harapan,
Namun ada godaan mengancam kemanusiaan.
Rasa lega yang sekejap dan semu,
Di balik tirai racun yang membelenggu,
Narkoba, musuh tak tampak namun nyata,
Menghancurkan hidup, merampas asa.
Mari kita lawan, jangan terbuai,
Dengan tekad yang kuat dan penuh kesadaran,
Jangan biarkan gelap merampas cahaya,
Bersama kita bisa, kita pasti bisa.
Kita ambil langkah, hentikan segala,
Jangan ada lagi yang terjerat dalam jaringnya,
Di persimpangan ini, pilihlah jalan terang,
Menuju masa depan yang lebih gemilang.
Pemandangan yang indah
Karya: Syifa Aulia
Wahai Tuhan...
Aku memendam kagumku padamu
Dari malam hingga ketemu malam
Tak pernah terpadam api pesona ku
Hembusan angin gunung
Indahnya tarian tumbuhan
Rasanya nyaman sekali
Bagai taman surga dibumi ini
Sempurnalah alam
Terpana aku...
Terpesona aku...
Harus dijaga selalu
Terjangan laut pun adalah kebiasaan alam
Batu karang terpecahnya
Aneka fauna terhempas
Dari dasar laut yang terdalam
Alam Dengan Keindahannya
Karya: Triza Ayushifa Bylqis
Mataku terbuka
Melihat keindahan alam yang luar biasa
Alam yang begitu manja menyapa
Memberi kenyamanan pada jiwa
Disudut selatan,di bagian utara
Pohon-pohon berseri memancarkan senyuman nya
Lait yang berombak-ombak
Angin yang berhembus dengan santainya
Aku berdiri di tepi waduk
Dibawah langit yang membentang
Merasakan negeri dengan keindahan nya
Indonesia yang ku sayang
Indonesia dengan beribu keindahan alam nya
Memancarkan aura pemikat untuk melestarikannya
Pemberian Tuhan yang harus di jaga
Sebagai rasa syukur kepada nya
Senja
Karya: Zulfa Khuwaidatu Laila
Mentari meredup perlahan menunduk
Menyapa langit dengan warnanya indah
Awan berarak, menari diatas langit yang lepas
Menyambut malam dengan bisikan lembut
Cahaya memudar meninggalkan bayang
Menyisakan rona indah dipadang
Angin berbisik membawa aroma harum
Menyentuh hati, menenangkan jiwa yang gelisah
Burung burung pulang bernyanyi merdu
Menyambut nya dengan syahdu
Bintang berkelap kelip menyapa malam
Menyiratkan keindahan dalam kegelapan
Terbentang diatas cakrawala
Jatuh dipelupuk mata
Keindahan mengartikan makna
Sekejap lekas berlalu
Tak sempat ku rengkuh
Ataupun menahannya lebih lama
Hilangnya pasti berganti
Dengan janjinya ia pasti kembali