Peningkatan Hasil Belajar Matematika TPS
Peningkatan Hasil Belajar Matematika TPS
Diajukan oleh:
AMIN SRI SEJANI
A 410120028
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa artikel publikasi yang saya serahkan ini
benar-benar hasil karya saya sendiri dan bebas plagiat karya orang lain, kecuali
secara tertulis/dikutip dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka. Apabila
di kemudian hari terbukti skripsi ini hasil plagiat, saya bertanggungjawab
sepenuhnya dan bersedia menerima sanksi peraturan yang berlaku.
PERSETUJUAN
Diajukan oleh:
AMIN SRI SEJANI
A 410120028
Oleh
Amin Sri Sejani1, Sri Sutarni2
1
Mahasiswa Pendidikan Matematika FKIP UMS, aminmuslimah@[Link]
2
Dosen Pendidikan Matematika FKIP UMS UMS
Program Studi Pendidikan Matematika
ABSTRACT
The purpose of this research is to describe the improvement of problem solving
ability and mathematics study achievement by applying cooperative strategy think
pair share. This research is a Classroom Action Research (CAR) collaborative. The
subject of the research that receive the action is grade VII G SMP Negeri 1 Grogol
are 32 students. The data collection techniques are observation, field notes, test,
documentation and interview. The technique of data analysis is interactive analysis
method. The data validity uses triangulation source and technique. Result of the
research is showing the improvement of problem solving ability and mathematical
study achievement in compilation. It can be seen from the increasing student’s
problem solving ability and student’s mathematics study achievement indicator
namely; 1) understand the problem, students can identify the elements that are known,
asked, and the adequacy of the elements that required before action as much as 37.50%
increase to 81.25 %; 2) Plan the settlement, construct a mathematical model, and
implement strategies for solving as much as 31.25% increase to 62.50%; 3) complete the
planning and draw conclusions as much as 22.40% increase to 56.25; students who scored
passing grade ≥ 75 before the action as much as 31.25% increase to 71.87%. The
conclusion of this research is that the adoption of cooperative strategies Think Pair Share
(TPS) can improve problem solving ability and mathematics study achievement class
VII G SMP Negeri 1 Grogol academic year 2016/2017.
Kata kunci: kemampuan pemecahan masalah, Think Pair Share, hasil belajar
PENDAHULUAN
Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari perkembangan
teknologi modern. Perkembangan pesat dalam bidang teknologi informasi dan
komunikasi dewasa ini dilandasi oleh perkembangan matematika untuk dapat
menguasai dan menciptakan teknologi mutakhir di masa depan, diperlukan
penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Oleh karena itu, pelajaran
matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari TK (Taman
kanak – kanak) sampai dengan SMA (Sekolah Menengah Atas) bahkan juga di
Perguruan Tinggi (PT) sehingga diharapakan para peserta didik memiliki
kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif serta mampu
bekerja sama.
Matematika merupakan sistem ilmu yang berjenjang sehingga harus
diajarkan secara bertahap dan berkelanjutan. Cornelius mengemukakan lima
alasan perlunya belajar matematika karena matematika merupakan; (1) sarana
berpikir yang jelas dan logis, (2) sarana untuk memecahkan masalah kehidupan
sehari-hari, (3) sarana mengenal pola-pola hubungan dan generalisasi
pengalaman, (4) sarana untuk meningkatkan kesadaran terhadap perkembangan
budaya. (Mulyono, 2003: 253).
Menurut Cockroft (Mulyono, 2003: 253) menyatakan bahwa matematika
perlu diajarkan kepada siswa karena (1) selalu digunakan dalam segala segi
kehidupan; (2) semua bidang studi memerlukan ketrampilan matematika yang
sesuai; (3) merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat, dan jelas; (4) dapat
digunakan untuk menyajikan informasi dalam bebagai cara; (5) meningkatkan
kemampuan berpikir logis, ketelitian, dan kesadaran keruangan; dan (6)
memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang menantang.
Berbagai alasan perlunya sekolah mengajarkan matematika kepada siswa karena
masalah kehidupan sehari-hari.
Banyak siswa yang takut berhadapan dengan mata pelajaran matematika.
Anggapan bahwa matematika merupakan ilmu abstrak yang membosankan dan
mengerikan, serta sulit dipelajari masih sangat melekat dalam diri siswa sehingga
membuat siswa merasa kurang mampu dalam mempelajari matematika. Hal ini
menyebabkan siswa merasa sulit dalam memecahkan permasalahan dalam
matematika.
Kemampuan pemecahan masalah merupakan salah satu hal yang harus
dimiliki siswa dalam belajar matematika karena kemampuan pemecahan masalah
sangat penting artinya bagi siswa dan masa depannya. Dalam menghadapi
masalah matematika, khususnya soal cerita siswa harus menguasai cara
mengaplikasikan konsep-konsep dan menggunakan ketrampilan komputasi dalam
berbagai situasi baru yang berbeda-beda. Pemberian situasi baru atau pola yang
bermacam-macam akan membantu kemampuan siswa dalam memecahkan
masalah sehingga diharapkan hasil belajar siswa khususnya pada mata pelajaran
matematika akan semakin meningkat.
Menurut Suherman, dkk (2014) Kemampuan pemecahan masalah meliputi:
(1) memahami masalah, siswa dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui,
yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan. (2) merencanakan
penyelesaian yakni, menyusun model matematika, menerapkan strategi untuk
menyelesaikannya. (3) menyelesaikan perencanaan dan mengambil kesimpulan.
Berdasarkan observasi yang telah dilakukan oleh peneliti pada tanggal 20
November 2015 di SMP Negeri 1 Grogol kelas VII yang berjumlah 32 siswa
diperoleh data awal indikator kemampuan pemecahan masalah sebagai berikut: a)
Memahami masalah, siswa dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui,
yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan, sebanyak 12 siswa
(37,50%); b) merencanakan penyelesaian yakni, menyusun model matematika,
menerapkan strategi untuk menyelesaikannya yaitu, sebanyak 10 siswa (31,25%);
dan c) menyelesaikan perencanaan dan mengambil kesimpulan, sebanyak 7 siswa
(22,40%).
Kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal khususnya soal cerita
masih rendah. Hal ini dibuktikan dengan hasil belajar yang diperoleh siswa
kurang dari 50% yang memenuhi batas ketuntasan belajar (KKM) ≥ 75 dan lokasi
sekolah terletak di daerah pedesaan sehingga dalam hal ini pembelajaran
matematika harus diperbaharui guna meningkatkan kemampuan pemecahan
masalah dan hasil belajar matematika siswa menjadi lebih baik, untuk
meningkatkan hal tersebut diperlukan strategi pembelajaran yang aktif dan
inovatif. Salah satu strategi pembelajaran yang dapat digunakan adalah model
pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share.
Menurut Jumanta (2014: 201) Think Pair Share merupakan suatu teknik
sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat
belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan
sebelum disampaikan di depan kelas. Strategi Think Pair Share berarti memberi
waktu kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan atau permasaahan
yang diberikan oleh guru. Siswa saling membantu dalam menyelesaikan masalah
tersebut dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Diharapkan
penggunaan strategi Think Pair Share dapat meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah dan hasil belajar matematika. Strategi kooperatif tipe Think
Pair Share merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk
mempengaruhi pola interaksi siswa. Strategi pembelajaran yang dikembangkan
pertama kali oleh Frank Lyman di University of Maryland pada 1981.
Menurut Jumanta (2014: 201) Think Pair Share merupakan suatu teknik
sederhana dengan keuntungan besar. Think Pair Share dapat meningkatkan
kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat
belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan
sebelum disampaikan di depan kelas. Strategi Think Pair Share berarti memberi
waktu kepada siswa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan atau permasaahan
yang diberikan oleh guru. Siswa saling membantu dalam menyelesaikan masalah
tersebut dengan kemampuan yang dimiliki masing-masing. Diharapkan
penggunaan strategi Think Pair Share dapat meningkatkan kemampuan
pemecahan masalah dan hasil belajar matematika.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom
Action Research (CAR). Menurut Sutama (2012: 134) PTK adalah penelitian
yang bersifat reflektif, berangkat dari permasalahan yang riil, kemudian ditindak
lanjuti dengan tindakan-tindakan nyata yang terencana dan terukur. Penelitian
tindakan kelas ini akan dilaksanakan sebanyak dua siklus. Jika dengan dua siklus
masih belum ada peningkatan maka penelitian di lanjutkan sampai mengalami
peningkatan yang lebih baik lagi.
Penelitian dilaksanakan mulai dari perencanaan sejak bulan Oktober 2015
sampai Februari 2016. Subjek penerima tindakan dari penelitian ini adalah siswa
kelas VII SMP Negeri 1 Grogol.
Metode yang digunakan untuk pengumpulan data yaitu observasi, catatan
lapangan, dokumentasi, tes, dan wawancara. Observasi dalam penelitian ini
digunakan untuk mengamati proses pembelajaran baik pada guru maupun siswa.
Catatan lapangan pada penelitian ini digunakan untuk mencatat kejadian-kejadian
penting yang muncul pada saat proses pembelajaran matematika. Dokumentasi
dalam penelitian ini berupa buku-buku seperti buku presensi, Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), daftar nama siswa serta foto pelaksanaan
tindakan penelitian pada saat kegiatan belajar mengajar dengan strategi kooperatif
tipe Think Pair Share. Tes digunakan untuk memperoleh data hasil belajar dari
siswa. Hasil pekerjaan tes digunakan untuk menilai indikator kemampuan
pemecahan masalah dan hasil belajar matematika pada siklus I dan siklus II.
Validitas data dalam peneltian ini, keabsahan data dilakukan dengan
triangulasi sumber dan teknik, berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan
data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama. Peneliti
menggunakan observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber
data yang sama secara serempak. Teknik analisi data menurut Miles dan
Huberman mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif
dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas,
sehingga datanya sudah jenuh (Sugiyono, 2008: 91). Analisis interaktif terdiri
atas tiga komponen kegiatan yang saling terkait satu sama lain: reduksi data,
beberan (display) data dan penarikan kesimpulan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tindakan pembelajaran matematika di kelas VII SMP Negeri 1 Grogol
tahun ajaran 2016/2017 dengan strategi kooperatif tipe Think Pair Share awalnya
kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa masih rendah. Ini bisa
dilihat dari awal pembelajaran menggunakan strategi Think Pair Share
mendapatkan hasil belum tercapainya target untuk setiap indikator dari
kemampuan pemecahan masalah dan hasil belajar siswa. Sependapat dengan
penelitian menurut Rochmad (2013) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa
penerapan strategi Think Pair Share TPS dengan menggunakan program Mouse
Mischief dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah untuk siswa SMA
dalam kegiatan belajar, kegiatan yang disertai dengan kesopanan, disiplin, dan
tanggung tawab. Pada kondisi awal, guru belum menggunakan strategi kooperatif
tipe Think Pair Share. Metode yang digunakan guru masih konvensional yaitu
dengan metode ceramah dimana pembelajaran masih terpusat pada guru siswa
hanya pasif mendengarkan dan mencatat.
Pembelajaran dengan strategi kooperatif tipe Think Pairs Share yang terlihat
sulit membingunkan siswa dengan berjalanya waktu menjadi pembelajaran yang
mudah, efektif dan membuat siswa paham dengan materi yang disampaikan guru.
Hal tersebut sejalan dengan penelitian Husna, dkk. (2013) dalam penelitiannya
diperoleh kesimpulan bahwa peningkatan kemampuan pemecahan masalah
matematika siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif Think
Pair Share lebih baik dari pada siswa yang memperoleh pembelajaran
konvensional jika dilihat secara keseluruhan siswa, akan tetapi secara kategori
peringkat siswa hanya pada peringkat siswa tinggi dan sedang saja peningkatan
kemampuan komunikasi matematis siswa dengan menggunakan pembelajaran
kooperatif Think Pair Share lebih baik daripada siswa yang memperoleh
pembelajaran konvensional.
Dalam kegiatan pembelajaran guru berkeliling untuk mengamati,
membimbing siswa menyelesaikan permasalahan yang diberikan dengan
memberikan kesempatan tanya jawab mengenai strategi-strategi untuk
menyelesaikan permasalahan yang diberikan dan mengatur jalannya diskusi,
sedangkan siswa berdiskusi mengerjakan permasalahan yang diberikan oleh guru.
Hal ini sesuai dengan penelitian Menurut Effie (2012) dengan adanya
pembelajaran dalam bentuk pemecahan masalah diharapkan siswa termotivasi
untuk menyelesaikan pertanyaan (soal) yang mengarahkan siswa dalam proses
pemecahan masalah. Setelah selesai mengerjakan tugas guru memberi kesempatan
siswa untuk mempresentasikan. Hal ini dapat di simpulkan siswa harus di beri
kesempatan untuk belajar, mengkritisi, dan mengembangkan potensi yang ada
pada diri siswa.
Pada tahap siklus I, pembelajaran dengan strategi kooperatif tipe Think Pair
Share belum berjalan dengan maksimal. Namun pada siklus II terjadi peningkatan
sesuai dengan yang diharapkan peneliti dan guru SMP N 1 Grogol. Hal tersebut
dapat dilihat dari meningkatnya indikator Kemampuan pemecahan masalah dan
hasil belajar matematika siswa. Selain itu siswa juga terlihat aktif dan kreatif
dalam menyelesaikan permasalahan matematika. Guru dan peneliti merasa bahwa
strategi kooperatif tipe Think Pair Share yang telah diterapkan dikelas VII SMP
Negeri 1 Grogol berhasil meningkatkan kemampuan pemecahan masalah dan
hasil belajar matematika siswa. Sehingga untuk kedepannya strategi kooperatif
tipe Think Pair Share dapat di gunakan untuk pembelajaran selanjutnya di kelas.
Data tindakan kelas siklus I sampai akhir siklus II mengenai peningkatan
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa melalui strategi kooperatif
tipe Think Pair Share dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu: 1) memahami
masalah, siswa dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang
ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan pada kondisi awal sebanyak 12
siswa (37,50%), siklus I meningkat menjadi 20 siswa (62,50%) dan siklus II
meningkat menjadi 26 siswa (81,25%), 2) merencanakan penyelesaian yakni,
menyusun model matematika, menerapkan strategi untuk menyelesaikannya
kondisi awal 10 siswa (31,25%) pada siklus I meningkat menjadi 12 siswa
(37,50%) dan pada siklus II meningkat menjadi 20 siswa (62,50%), 3)
menyelesaikan perencanaan dan mengambil kesimpulan dari kondisi awal 7 siswa
(22,40%) siklus I meningkat menjadi 14 siswa (43,75%) dan pada akhir siklus II
meningkat menjadi 18 siswa (56,25%).
Dari data di atas menunjukkan bahwa siswa yang belajar menggunakan
strategi kooperatif kemampuan dalam pemecahan masalah menjadi meningkat dan
hasil belajarnya juga lebih baik. Sependapat dengan Suherman, dkk (2014)
kemampuan pemecahan masalah matematika siswa yang belajar dengan
menggunakan strategi pembelajaran inkuiri lebih baik daripada kemampuan
pemecahan masalah matematika siswa yang belajar dengan pembelajaran
konvensional. Rata-rata skor kemampuan pemecahan masalah matematika siswa
untuk setiap indikatornya yang belajar dengan menggunakan strategi
pembelajaran inkuiri lebih tinggi daripada pembelajaran konvensional.
Berdasarkan hasil pembelajaran yang dilakukan pada tindakan kelas siklus I
sampai siklus II dengan strategi kooperatif tipe Think Pair Share terjadi
peningkatan kemampuan pemecahan masalah dan hasi belajar matematika siswa
dalam pembelajaran matematika. Kemampuan pemecahan masalah matematika
siswa mengalami peningkatan yang signifikan sesuai dengan indikator yang telah
ditentukan oleh peneliti. Indikator kemampuan pemecahan masalah matematika
yaitu: 1). memahami masalah, siswa dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang
diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan, 2).
merencanakan penyelesaian yakni, menyusun model matematika, menerapkan
strategi untuk menyelesaikannya, 3). menyelesaikan perencanaan dan mengambil
kesimpulan. Indikator hasil belajar yaitu: ranah kognitif (nilai siswa).
Kondisi awal sebelum diberikan tindakan, siswa yang dapat memahami
masalah, siswa dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang
ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan, sebanyak 12 siswa (37,50%).
Dari hasil ini, menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang menyelesaikan
masalah matematika tidak sesuai indikator dengan benar, siswa masih
mengerjakan permasalahan dengan tidak terstruktur dengan baik.
Berdasarkan pelaksanaan tindakan kelas siklus I mengalami peningkatan
daripada kondisi awal sebelum diberikan tindakan. Siswa yang mampu
memahami masalah, siswa dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui,
yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan naik menjadi 20 siswa
(62,50%). Hal ini menunjukkan bahwa siswa sudah mulai ada peningkatan dalam
hal memahami masalah, siswa dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui,
yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang diperlukan dari suatu permasalahan.
Namun peningkatan tersebut belum maksimal karena belum sesuai dengan apa
yang di harapkan peneliti.
Dari tindakan kelas siklus II, siswa yang mampu memahami masalah, siswa
dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan
kecukupan unsur yang diperlukan naik menjadi 26 siswa (81,25%). Peningkatan
di siklus II ini terbilang sudah signifikan karena sudah melebihi apa yang di
harapkan peneliti. Dari uraian tersebut menunjukkan bahwa semakin banyak
siswa yang sudah mampu memahami masalah, siswa dapat mengidentifikasi
unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan kecukupan unsur yang
diperlukan dari suatu permasalahan.
Hasil ini di dukung penelitian yang di lakukan Husna, dkk (2013) yang
menyimpulkan bahwa metode pembelajaran kooperatif tipe Think Pairs Share
(TPS) dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Hal ini berarti
strategi Think Pair Share dapat meningkatkan kemampuan memahami masalah,
siswa dapat mengidentifikasi unsur-unsur yang diketahui, yang ditanyakan, dan
kecukupan unsur yang diperlukan.
Berikut adalah hasil pekerjaan siswa yang menunjukan terjadinya
peningkatan pada indikator diatas dengan soal: Dari sekelompok siswa, terdapat
18 orang yang gemar bulu tangkis, 16 orang gemar bola basket, dan 12 orang
gemar dua-duanya. Gambarlah diagram Venn kemudian tentukan jumlah siswa
tersebut!
30
25
Banyak Siswa
20
15
10
5
0
Sebelum Siklus I Siklus II
Tindakan
A B C
Siklus
Nilai Siswa
90
80
70
Nilai Siswa
60
50
40
30
20
10
0
Sebelum Siklus I Siklus II
Tindakan
Nilai Siswa
Siklus