10
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu adalah upaya peneliti untuk mencari perbandingan
dan selanjutnya untuk menemukan inspirasi baru untuk penelitian selanjutnya
disamping itu kajian terdahulu membantu penelitian dapat memposisikan
penelitian serta menunjukan orsinilitas dari penelitian. Pada bagian ini peneliti
mencantumkan berbagai hasil penelitian terdahulu terkait dengan penelitian yang
hendak dilakukan, kemudian membuat ringkasannya, baik penelitian yang sudah
terpublikasikan atau belum terpublikasikan. Berikut merupakan penelitian
terdahuluyang masih terkait dengan tema yang penulis kaji.
No Nama Penulis Judul Subtansi
Jenis penelitian ini
1 Alif Nuur Kholifah, “kehidupan sosial
menggunakan metode
Sutinah dan Emy waria di tengah
kualitatif dengan
Susanti (2023) masyarakat muslim
pendekatan studi kasus.
Yogyakarta”
Hasil dari penelitian ini
menunjukan bahwa
kehidupan sosial waria
ditengah masyarakat muslim
Gowongan Lor masi
menghadapi tantangan.
Keberedaan mereka masih
menimbulkan pro dan
kontra yang disebabkan oleh
11
identitas. Selain itu juga
karena aktivitas waria yang
tergolong melenceng, yakni
sebagai PSK yang rentang
terhadap HIV/AIDS
2 Mumadong,[Link].,M “Perilaku Komunitas Penelitian ini
.M dan Ahmad Yani, Waria Ditinjau Dari bertujuan untuk mengetahui
SEI, [Link] Sudut Pandang sudut pandang sosial
Agama dan Sosial di masyarakat Kecamatan Sape
Kecamatan Sape Kabupaten Bima terhadap
Kabupaten Bima”. keberadaan komunitas
waria. Jenis penelitian yang
digunakan dalam proses
penelitian ini yaitu
penelitian (Mixer Methode),
yakni gabungan antara
deskriptif kuantitatif dan
deskriptif kualitatif. Hasil
penelitian menunjukan
bahwa peran serta orang tua
dalam membina keluarga.
Responden sebanyak 35
orang atau 88 %
mengatakan peran orang
tualah yang akan
membentuk karakter anak
sehingga anak-anak tersebut
tidak terjerumus kedalam
jurang kesesat (maksiatan).
12
Dalam menghadapi
banyaknya waria
bermunculan di kecamatan
Sape tokoh agama
mengambil peran penting
didalamnya agar dapat
menghidarkan masyarakat
masyarakat dari perbuatan
tercela bagi para waria
masih jauh dari harapan
masyarakat hal ini
diungkapkan oleh responden
sebanyak 36 orang atau 90
% dari total responden yang
ada.
Jenis penelitian ini
3 Rezza Wibisono “Pandangan
menggunakan Metode
(2017) Masyarakat Tentang
deskriptif yang
Waria (Studi
menggambarkan secara
Deskriptif Waria di
objektif suatu pandangan
Kelurahan Baktijaya
yang terjadi antara
Kecamatan
masyarakat dengan waria di
Sukmajaya Kota
kelurahan Baktijaya
Depok )”.
Kecamatan Sukmajaya,
Kota Depok, Jawa Barat.
Hasil penelitian ini
didapatkan gambaran
pandangan dan sikap
masyarakat terhadap waria
bahwa 90% masih
13
mengganggap waria sebagai
penyakit masyarakat, yang
pada awalnya masyarakat
setempat merasa aneh dan
canggung. Akan tetapi,
masyarakat mampu
menerima kehadiran waria,
sehingga dapat melakukan
interaksi dan memberikan
kebebasan dalam mengikuti
kegiatan yang dilakukan
masyarakat setempat.
Jika melihat dari ketiga peneliti di atas maka terdapat perbedaan untuk
peneliti pertama dengan peneliti yaitu peneliti pertama lebih menfokuskan
tentang Kehidupan Sosial Waria di Tengah Masyarakat Muslim Yogyakarta
sedangkan untuk peneliti sendiri membahas Stereotipe Terhadap Waria dan
Dampak Kehidupan Sosial waria di Kota Tual
Untuk perbedaan penelitian kedua dan peneliti. Peneliti sebelumya
menggunakan konsep judul yang sangat meluas dimana judul peneliti sebelumnya
adalah Perilaku Komunitas Waria Ditinjau Dari Sudut Pandang Agama dan Sosial
di Kecamatan Sape Kabupaten Bima sedangkan peneliti sendiri lebih
menfokuskan kepada Stereotipe Terhadap Waria dan Dampak Kehidupan Sosial
waria di Kota Tual. Selain judul letak perbedaan peneliti kedua dengan peneliti
yaitu pada jenis penelitian kedua menggunakan jenis penelitian (Mixer Methode)
14
yakni gabungan antara deskripsi kuantitatif dan deskripsi kualitatif sedangkan
peneliti sendiri menggunakan deskripsi kualitatif saja. Adapun penelitian ini
berbeda menggunakan konsep stereotipe, yang menuliskan kehidupan, stigma
negatif yang di terima oleh waria.
B. Tinjaun Teoritis Stereotipe dan Waria
1. Konsep Stereotipe dalam Kehidupan Sosial
Stereotipe berasal dari gabungan dua kata yunani, yaitu stereos yang
berarti padat-kaku dan typos yang bermakna model.8 Menurut Tajfel, sterotipe
diartikan sebagai proses ascribing terhadap individu-individu atas dasar
keanggotaan kelompok. Stereotipe adalah hasil dari adanya proses prasangka.
Ktaz dan Barly, menyatakan bahwa prasangka (prejudice) dan pelabelan
(Stereotipe) tidak dapat dipisahkan. Menurut David menyatakan bahwa prasangka
merupakan persepsi orang terhadap seseorang atau kelompok lain. Prasangka
merupakan persepsi dalam tahapan kognitif.
Matsumo9 mendefenisikan stereotype sebagai generalisasi kesan yang kita
miliki mengenai seseorang terutama karakter psikologis atau sifat kepribadian.
Stereotipe seringkali negatif dan seringkali dikemas dalam prasangka dan
dikriminasi.
Stereotipe lebih pada arti pelabelan kepada seseorang atau kelompok
tersebut, termasuk pada sikap dan perilakunya terhadap mereka sudah dalam
8
Esti Zudaqisti, “Stereotipe Peran Gender Bagi Pendidikan Anak”, Jurnal Muwazah,
STAIN Pekalonga, Vol 1, Januari-Juni, 2009), h. 73
9
Matsumoto, David, Pengantar Psikologi Lintas Budaya, Yogyakarta (Pustaka Pelajar,
(2004), h. 72
15
tatanan efektif dan psikomotorik.10 Stereotipe dan prasangka tidak sama, dimana
stereotipe adalah sebuah pandangan seseorang terhadap orang lain yang dilahirkan
dari latar belakang budaya.
sterotipe merupakan pendapat mengenai suatu aspek kenyataan yang telah
dibentuk sebelumnya, khususnya mengenai manusia dan kelompok-kelompok
sosial berupa prasangka yang terlalu sederhana terhadap suatu kelompok
tertentu.11
Stereotipe merupakan hasil dari penilaian seorang indivu terhadap invidu
atau kelompok lain atas dasar psikologi atau perilakunya. Hubungan antara
prasangka dan stereotipe bahwa prasangka seseorang terhadap orang lain atau
kelompok akan mengawali munculnya stereotipe yang muncul didalam
masyarakat. Stereotipe berawal dari adanya presepsi (penilaian) mengenai sifat
atau ciri seorang individu atau kelompok yang sudah melekat dan seolah-seolah
permanen. Semua individu atau kelompok pastinya mempunyai stereotipe
terhadap individu maupun kelompok lain. Contohnya adalah seorang perempuan
yang memiliki sikap yang lembut dan laki-laki sifat yang kuat. Stereotipe adalah
hasil dari generalisasi dari tindakan seorang individu.
Stereotipe yang diberikan oleh masyarakat atau kelompok tertentu akan
memiliki dampak. Hasil studi yang dilakukan oleh beberapa psikologi barat, dapat
disimpulkan bahwa efek dari stereotipe antara lain adalah diskriminasi kelompok
minoritas dan lemah. Sebagai contohnya adalah diskriminasi yang dilakukan oleh
10
Ibid, h. 74.
11
Dali Gulo, Kamus Psychologi (Bandung :Tonis, (1982), h. 282.
16
orang kulit putih yang mayoritas terhadap kulit hitam yang minoritas di negear
barat.
Dengan demikian, stereotipe merupakan sebuah pelabelan yang diberikan
oleh seorang individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain yang
berawal dari persepsi dan prasangka yang mereka lakukan. Stereotipe dalam hal
ini dibagi menjadi dua macam, diantaranya :
1. Stereotipe positf merupakan gambaran yang bersifat positif terhadap suatu
kondisi tertentu. Stereotipe ini dapat membentuk terjadinya komunikasi
(nilai-nilai toleransi) lintas budaya sehingga dapat memudahkan terjadinya
interaksi antara orang yang berbeda latar belakang pada sebuah lingkungan
secara bermacam-macam.
2. Stereotipe negatif merupakan gambaran yang bersifat negatif yang
dibebankan kepada suatu kelompok tertentu yang memiliki perbedaan yang
tidak bisa diterima oleh kelompok lain.12
2. Waria
1.1. Pengertian Waria
Waria adalah pria yang bersifat dan bertingkah laku seperti wanita pria
yang memiliki perasan sebagai wanita.13 Waria juga dapat dikatakan sebagai laki-
laki yang berperilaku tidak sewajarnya seperti laki-laki.
12
Reni Setiayawati, Stereotipe dan Prasangka, (On-Line) tersedia di:
[Link] diundu, (3 januari
2016).
13
Depertemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta : Balai
Pustaka, 2007), h. 1268
17
Menurut Kemala Atmojo “waria adalah seorang laki-laki yang berdandan
dan berlaku sebagai wanita”. Sedangkan Husin Al-Hasby dalam Kamus Al-
kautsar Lengkap Arab-Indonesia mengatakan bahwa waria disebut dengan
“Khuntsa”.14 Di kalangan masyarakat awam, waria sering diidentikan kepada
sikap perilaku wanita atau sikap seorang laki-laki yang meniru seperti wanita.
Sangat jelas bahwa waria adalah seseorang individu yang berpenampilan seperti
perempuan, bukan hanya cara berpakaian saja namun juga dari cara bicaranya.
Secara biologis waria adalah pria, seorang yang memiliki gangguan identitas
gender dan fisik pada alat repproduksinya yang mengakibatkan hadirnya
perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari sisi peran gendernya. Waria juga
mengalami penyimpangan dalam seks, sebenarnya mereka juga sulit dalam
identitas sosial, apalagi hubungan legalitas hukum. Laki-laki harus seperti laki-
laki yang diidentikan dengan kekuatan, dan perempuan harus seperti perempuan
diidentikan dengan feminimnya.
Psikologi menyatakan bahwa tiap-tiap manusia itu bersifat
”bi-sexual”. Terjadinya kelainan pada waria di sebabkan oleh kelainan hormon
dan kromoson juga pengaruh dalam lingkungan seperti, trauma pada masa kecil
yang di perlakukan sebagai seorang wanita.15
1.2 Jenis – Jenis Waria
Menurut Kumala Atmojo membagi jenis – jenis waria sebagai berikut :
14
Husain Al-Hasby, Kamus Al-Kautsar Lengkap Arab-Indonesia, (Bagil: Yayasan
Pesantren Islam, 1986), h. 88.
15
Boeree, [Link] Theoris :Melacak Kepribadian Anda Bersama Sikolog
Dunia, (2007), edk 4, Yogyakarta: Primasophie, h 121
18
a. Transeksual aseksual, adalah seorang transeksual yang tidak berhasrat atau
tidak mempunyai gaira seksual yang kuat.
b. Transeksual homoseksual, adalah seseorang transeksual yang memiliki
ketertarikan pada jenis kelamin yang sama sebelum sampai pada transeksual
murni.
c. Transeksual homoseksual, adalah seseorang transeksual yang perna menjalani
kehidupan heterogen sebelumnya, mislanya pernikahan.16
Krasifikasi waria berdasarkan jenisnya yang di jelaskan oleh Kumala
Atmojo yakni didasarkan oleh orentasi seksual dari seorang waria, dimana kasus
waria pertama, tidak meliki hasrat sama sekali baik dengan sejenisnya atau
lawan [Link] kedua, yakni seksual dengan sesama jenisnya, dan yang
ketiga selain berhasrat dengan sejenis dan lawan jenisnya, ia juga melakukan
pernikahan dengan lawan jenisnya.
2.3 Penyebab terjadinya waria
Seorang waria pada dasarnya memiliki faktor dan latar belakang yang
membuatnya memilih menjadi seorang waria. Adapun beberapa faktor penyebab
menjadi waria antara lain:
1. Faktor Sosiologis
Faktor sosiologis yang menyebabkan seseorang menjadi waria yaitu
a. Pengaruh lingkungan
Lingkungan merupakan salah satu faktor pendukung terbesar yang
menentukan masa depan seseorang. Seseorang termasuk menentukan
16
Kumala Admojo, Kami Bukan Lelaki (Sketsa Kehidupan Waria), (Jakarta utara :
PT Pustaka Grafitipers, 1986), h.4
19
waria atau setidaknya seorang pria. Seorang pria yang sejak kecil bergaul
dengan wanita, cenderung tumbuh menjadi sosok seperti wanita.17
b. Tuntutan ekonomi
Tuntutan ekonomi merupakan alasan paling kuat dan paling kongkret
yang meyebabkan seseorang menjadi waria. Dalam kasus ini hanya
kepura-puraan yang menjerat waria kedalam kebiasaan
c. Pola Asuh Orang Tua
d. Perhatian Dan Perlindungan Yang Berlebihan Dari Ibu
e. Tidak Ada Figur Ayah
f. Kurang Mendapatkan Teman Laki-Laki
g. Dukungan Pemakaian Pakaian Yang Menyimpang
2. Faktor Psikologis
Faktor psikologi yang dapat menyebabkan seseorang menjadi waria yaitu
a. Terjebak dalam raga yang salah
Banyak waria yang akhirnya menkambing hitamkan penempatan
raga. Beberapa waria beralasan bahwa sebenarnya mereka adalah
perempuan tetapi di lahirkan dalam bentuk tubuh laki-laki.
c. Terpengaruh budaya barat
Era globalisasi dan era pasar bebas ini, manusia rentan akan
dipengaruhi oleh budaya- budaya luar yang mayoritas tidak sesuai
dengan kebudayaan indonesia. Di berbagai negara, pernikahan sejenis
memamng suda di legalkan, termasuk pilihan seseorang untuk menjadi
17
[Link]
diunduh ( 22 Februari 2017 )
20
waria. Negara- negara tersebut sering mengadakan kontes kecantikan
yang pesertanya dari kalangan waria. Hal inilah yang di tiruh oleh
masyarakat indonesia merek mengadopsi kebudayaan luar tanpa
penyesuwaian sehingga akhirnya menimbulkan penyimpangan.
[Link]
Faktor traumatis memang bisa memicu seorang pria menjadi waria.
Boleh jadi, pria tersebut pernah mendapatkan perlakuan tidak senonoh
sehingga ia merasa nyaman dengan keadaan sebagai waria atau bisa jadi
ia disakiti oleh seorang perempuan hingga memutuskan untuk menyukai
sesama sejenis dengan jalan mengubah penampilan.
3. Faktor Biologis
a. Adanya motasi gen
Secara medis, ada hormon yang menyebabkan pria berperilaku
seperti wanita dan merasah nyaman dengan bertingkah seperti [Link]
gen ini akan menyebabkan kelainan ada gen pria yang bersangkutan,
misalnya model gen XXY, gen wanita (X) lebih dominan. Maka pria
tersebut akan mengalami kelainan yang mencolok pada bagian
tubuhnya.
2.4 Ciri-Ciri Waria
Adapun ciri-ciri waria seperti beritkut :
1) Secara fisik, waria berpenampilan seperti wanita
2) Secara Psikologis, waria mengidentifikasikan dirinya sebagai
wanita
21
3) Waria memiliki hasrat untuk diterima sebagai anggota dari
kelompok lawan jenisnya
4) Waria mungkin merasa risih atau tidak serasi dengan anatomi
seksualnya
5) Waria ingin mendapatkan terapi hormonal dan pembedaan untuk
membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang
diinginkan
6) Tingkah laku seperti wanita
7) Tidak memiliki rahim
8) Tidak memiliki payudara
9) Terlihat sedikit memiliki kumis
10) Tubuh lebih kekar
11) Kalau sudah marah prianya muncul
12) Lebih manja
13) Menyukai hal-hal yang disenangi wanita
14) Lengannya berotor
15) Bentuk paha lebih berotot
16) Mudah emosi
17) Mudah tersinggung
18) Melambay
19) Memiliki jakun
20) Tidak bisa hamil
21) Menggunakan make up berlebihan
22
2.5 Stereotipe Pada Waria
Ketika stereotipe pada waria maka tidak dapat dilepaskan dari peram gender
didalam masyarakat. Gender adalah dimensi sosial kultur dan psikologi dari
seorang perempuan dan laki-laki. Waria merupakan bagian dari transgender,
yakni seorang laki-laki yang berperilaku seperti perempuan didalam masyarakat.
Secara umum stereotipe adalah penilaian atau pelabelan yang diberikan
individu atau kelompok lain atas dasar perilaku. Dalam hal ini gender sering
dijadikan sebagai pembahasan dari stereotipe gender yang merupakan skspetasi
sosial (harapan sosial) yang merumuskan bagaimana pria dan wanita seharusnya
berfikir dan berperilaku.
Stereotipe merupakan pelabelan yang diawali dengan proses persepsi
terhadap objek persepsi mengenai macam ciri dan sifat-sifat personal yang
melekat (seakan permanen) pada sekolompok orang gender merupakan sebuah
pelebelan atas laki-laki dan perempuan terhadap peran yang dimiliki. Seorang
laki-laki harus bertingkah-laku seperti layaknya laki-laki memiliki sikap yang
kuat. Sedangkan dalam hal ini waria adalah seorang laki-laki yang berperilaku
layaknya perempuan yang secara otomatis akan mendapatkan stereotipe negetaif
dari masyarakat karena tidak sesuai dengan stereotipe gendernya. Laki-laki
dikontstrusikan sebagai mahluk yang kuat, mandiri, rasional dan tegas.
Stereotipe yang telah melekat pada masyarakat mengenai peran gender tidak
lepas dari paradigma yang memandang bahwa pelebelan ciri sifat perempuan
dan laki-laki yang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Sebagian memandang
karena faktor biologis dan sebagian yang lain menekankan pada faktor sosial
23
atau kognitif. Pandangan biologis mengungkapkan bahwa pasangan kromosom
ke-23 dalam diri manusia (kromoson jenis kelamin) merupakan penentu fetus
(janin) akan menjadi wanita atau laki-laki.18
Jika dilihat dari pandangan sosiologi apa yang dilakukan oleh waria dapat
digolongkan kepada perilaku penyimpangan sosial. Secara umum yang
digolongkan sebagai perilaku penyimpangan antara lain :
1. Tindakan yang nonconfrom, yaitu suatu perilaku yang tidak sesuai dengan
nilai norma yang ada
2. Tindakan yang anti sosial atau sosial, yaitu tindakan yang melawan kebiasan
masyarakat.
3. Tindakan-tindakan kriminal, yakni tindakan yang nyata melanggar aturan
hukum tertulis dan mengancam jiwa atau keselamatan orang lain.19
Dalam pendekatan sosiologis untuk menjelaskan tentang perilaku para waria
yang di anggap tidak sesuai dengan kontruksi sosial yang berlakudi masyarakat
dengan menggunakan teori-teori sosial di antaranya.
1. Teori belajar atau teori sosialisasi (asosiasi diferensial)
Teori ini di kemukakan pertama kali oleh Edwin H. Sutherland,
menurutnya penyimpangan merupakan konsukuensi dari kemahiran dan
penguasaan atas suatu sikap atau tindakan yang di pelajari. Dari norma- norma
18
Esti Zudaqisti, “Sterotipe Peran Gender Bagi Pendidikan Anak”, Jurnal: Mawazah,
STAIN Pekalongan, Vol 1,NO. 1, Januari-Juni, 2009, h. 76
19
J. Dwi Narwoko, Bagong Suyanto (ed), Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan,
Jakarta:Kencana Prenada Media, 2006, h. 101
24
yang menyimpang, terutama dari sub kultur atau dari teman-teman sebaya
yang menyimpang.20
2. Teori labeling (teori pemberian cap atau teori reaksi masyakat).
Teori ini di ungkapkan oleh Edwin M. Lemerd yang berpendapat bahwa
seseorang yang telah melakukan penyimpangan pada tahap primer lalu
masyarakat suda memberikan cap sebagai penyimpangan, maka orang tersebut
terdorong untuk melakukan penyimpangan sekunder.21
20
J. Dwi Narwoko, Bagong Suyanto (ed), Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan,
Jakarta:Kencana Prenada Media, 2006, h. 114
21
Ibid 115