LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA
DENGAN ANSIETAS
Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa
Disusun oleh :
Kurnia Sariputri
NPM : 24149011312
Dosen Pembimbing :
Ns. Mareta Akhriansyah, [Link]., M. Kep
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA HUSADA PALEMBANG
TAHUN 2024/2025
LAPORAN PENDAHULUAN
ANSIETAS
A. MASALAH UTAMA
Ansietas
B. PROSES TERJADINYA MASALAH
A. PENGERTIAN
Ansietas merupakan perasaan tidak tenang yang samar - samar karena
ketidaknyamanan rasa takut yang disertai suatu respon (penyebab tidak spesifik
/ tidak diketahui oleh individu) Stuart (2012) mengatakan bahwa ansietas
adalah perasaan tidak tenang yang samar – samar karena ketidaknyamanan /
ketakutan yang disertai dengan ketidakpastian, ketidak berdayaan, isolasi
dengan ketidak nyamanan. Ansietas adalah suatu perasaan tidak sesuai / tidak
santai yang samar - samar karena adanya ketidak nyamana / rasa takut yang
disertai suatu respon.
B. FAKTOR PREDISPOSISI
Biologis
Teori biologis menunjukkan bahwa otak mengandung reseptor khusus yang
dapat meningkatkan neuroresuatur (GARA) yang berperan penting dalam
mekanisme yang berkaitan dengan ansietas (Stuart, 2013)
Psikologi
1 Pandangan psikonolitik
Ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen
kepribadian
2 Pandangan Interpersonal
Ansietas timbul akibat perasaan takut tidur adanya penerimaan dan
penolakan interpersonal
3 Pandangan Prilaku
Ansietas menjadi produk Frustasi yaitu segala sesuatu yang
menggunakan kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang
diinginkan
Budaya
Ansietas dapat ditemukan dengan mudah dalam keluarga. Ada ketumpang
tindihan gangguan dgn depresi.
C. FAKTOR PRESIPITASI
a) Faktor Biologi
1. Status nutrisi : BB kurang (terlalu kurus), BB berlebihan (over weight)
2. Kondisi kesehatan secara umum : memiliki sakit titik (kehilangan salah
satu anggota tubuh)
3. Sensivitas biologi : gangguan pada sistem talamus, kontek frontal
4. Paparan terhadap racun
b) Faktor psikologi
1. Intelegensia
2. Kemampuan verbal
3. Moral
4. Kepribadian
5. Pengalaman yang tidak menyenangkan
6. Konsep diri
7. Motivasi
8. Self kontrol
c) Faktor sosial budaya
1. Usia : remaja, dewasa awal
2. Gender : wanita : pria 2:1
3. Pendidikan : kurang / rendah
4. Pekerjaan
5. Status sosial
6. Latar belakang budaya
7. Agama dan keyakinan
d) Orgin
1. Internal : persepsi individu yang buruk tentang dirinya dan orang lain
2. Eksternal :
Kurang dukungan kelompok
Kurang dukungan keluarga
Agama dan keyakinan
Timing
a) Stres terjadi dalam wakti dekat
b) Stres terjadi dalam waktu yang cukup lama
c) Stres terjadi berulang ulang
Number
Stres dirasakan sebagai masalah yang sangat berat
D. TANDA DAN GEJALA
1. Cemas, khawatir, pirasat buruk, gelisah dan mudah terkejut
2. Pasien merasa tegang, mudah tersinggung
3. Pasien mengatakan takut bila sendiri / pada keramaian banyak orang
4. Mengalami gangguan tidur serta mimpi yang menegangkan
5. Gangguan konsentrasi dan daya ingat
6. Adanya keluhan somatik (misal rasa sakit pada otot dan tulang belakang)
E. BATASAN KARAKTERISTIK
1. Perilaku( behavior)
- Menurunnya produktivitas
- Gerak gerik yang asing
- Gelisah
- Pandangan sekilas
- Insomnia
- Rendahnya kontak mata
2. Afektif (affectivo)
- Perasaan menderita
- Aperirnsif
- Perasaan kesusahan
- Ketakutan
- Merasa tidak cukup
- Tidak berdaya
- Terlalu gembira
- Bingung
F. AKIBAT
1) Sintom suasana hati
Individu yang mengalami kecemasan memiliki perasaan akan adanya
hukuman dan bencana yang mengancam dari suatu sumber tertentu yang
tidak dketahui
2) Sintom kongitif
Dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatian pada individu mengenai
hal hal yang tidak menyenangkan yang mungkin tersadr
3) Sintim motor
Orang orang yang mengalami kecemasan sering tidak tenang, gugup,
kegiatan motor menjadi tanpa arti dan tujuan
G. RENTANG RESPON
adaptif makedeptif
antisipasi ringam sedang berat panik
H. SUMBER KOPING
Individu dapat mengilangi ansietas / sters dengan menggunakan / mengambil
sumber koping dari lingkungan baik dari sosial, interpersonal dan
intrapersonal.
I. MEKANISME KOPING
a. Konstruktif
Kecemasan dijadikan tanda dan peringatan individu menerimanya sebagai
pilihan untuk pemecahan masalah
b. Prestuktif
Menghindari kecemasan tanpa menyelesaikan masalah atas kontik, tsb
III. POHON MASALAH
Gangguan sensor Menarik diri Gangguan proses pikir
persepsi halusinasi waham
Ansietas (care problem)
Kopinh individu tidak Harga diri rendah
efektif : casual
IV. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
No Maslah keperawatan Data subjektif Data objektif
1. Ansietas Mengatakan ketakutan Peningkatan
frekuensi jantung
Mengatakan gugup Peningkatan tekanan darah
Mengatakan Peningkatan
kurang percaya diri frekuensi pernapasan
Ketegangan Pucat
Mudah lupa Dlatasi pupil
Tidak sadar Menarik dir
Marah berlebihan Kontak mata buruk
Mencela diri
[Link] TINDAKAN KEPERAWATAN
Diagnosa keperaw
No tujuan Kriteria hasil Intervensi Rasional
Atan
1. Ansietas Tum : klaen Pasien Bina hubungan Kepercayaan diri
akan menguran menunjukkan tand saling percaya dan klien merupakan
gi ansietas dari tanda dari prinsip teraupetik hal yang akan
tingkat ringan membina yaitu: memudahkan
hingga hubungan saling perawat dalam
panik percaya dengan melakukan
perawat yaitu : pendekatan
Ekspresi wajah keperawatan /
bersahabat intervensi
selanjutnya thd
pasien
Tuk 1 : Pasien Pasien
dapat membina menunjukkan rasa
hubungan senang
saling percaya Pasien bersedia
berjabat tanggan
Pasien bersedia
menyebutkan
nama
Ada kontak mata
Klien bersedia
duduk
bersampingan
sengan perawat
Klien bersedia
mengutarakan
masalah yang
dihadapinya
Tuk 2 : Pasien Bantu pasien Pasien dapat
pasien dapat untuk mengidentifik mengungkapkan
mengenal mamapu asi dan penyebab
ansietas mengidentifikasi menguraikan ansietasnya
dan perasaannya sehingga perawat
mengungkapkan Hub prilaku dan dapat menentukan
gejala ansietas perasaannya tingkat ansietas
Velidasi kesimpulan pasien dan
dan asumsi terhadap menentukan
pasien intervensi
selanjutnya
mengobservasi
tanda verbal dan
non verbal dari
ansietas pasien
dapat mengetahui
tingkat ansietas yang
pasien alami
Tuk 3: Tingkat Menganjurkan Dukungan
Pasien dapat keluarga untuktetap keluarga dapat
menguran gi ansietas mendampingi memperkuat
tingkat pasien berkurang pasien mekanismekoping
ansietas Mengurangi atau pasien hingga
menghilangka n tingkat ansietasnya
rangsangan yang berkurang
menyebabkan
ansietas pada pasien
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN
ANSIETAS
No Masalah
Tind akan keperawatan untuk pasien
Tindakan keperawatan untuk keluarga
keperawatan
1 Ansietas Sp I P : Sp I K :
1. Bina hubungan saling 1. diskusikan yang dirasakan
percaya keluarga dalam merawat klien
Mengucapkan salam teraupetik 2. jelaskan pengetahuan tanda
Menjelaskan tujuan interaksi dari gejala ansietas yang dialami
membuat kontrak waktu, topik dan 3. jelaskan cara cara merawat klien
tempat. ansietas
2. tanyakan pada klien tentang
situasi penyebab timbulnya
kecemasan
3. tanyakan tanda tanda
kecemasan
4. tanyakan apa yang bisa
dilakukan untuk mengatasi
kecemasan
Sp II P : Sp II K :
1 diskusikan pada klien 1. mengajarkan keluarga cara
penyelesaian masalah yg biasa merawat dan melatih klien ansietas
digunakan untuk mengatasi situasi
2. dianjurkan klien cara 2. mengajarkan keluarga cara
mengurangi kecemasan dan cara merawat dan melatih klien tarik napas
melakukan aktivitas dan teknik dalam
nafas dalam 3. mengajarkan keluarga cara
merawat klien mengendalikan dan
menggerakna otot
4. mengajarkan keluarga cara
merawat dan melatih klien
Sp III P: Sp III K:
1. mwnjelaskan cara teknik 1. mengajarkan keluarga cara
relaksasi hipnotis 5 jari merujuk klien bila ansietas datang
membantu pasien
mempraktekkan teknik ralaksasi
hipnotis 5 jari
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan dengan Kecemasan
A. Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Data Subjektif :
Klien mengatakan sering merasa gelisah karena gula darah klien tinggi
Data Objektif :
Klien tampak cemas.
2. Diagnosa Keperawatan
Ansietas/kecemasan
3. Tujuan Tindakan Keperawatan
a. Tujuan Umum :Mengatasi gangguan ansietas klien.
b. Tujuan Khusus :
1) Pasien mampu membina hubungan saling percaya
2) Pasien mampu mengenal ansietas
3) Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik pengalihan
situasi (distraksi)
4) Pasien mampu memperagakan dan menggunakan teknik
pengalihan situasi (distraksi) untuk mengatasi ansietas
5)
4. Tindakan Keperawatan
a. Membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar pasien
merasa aman dan nyaman saat berinteraksi.
b. Membantu pasien mengenal ansietas.
c. Mengajarkan pasien teknik distraksi untuk meningkatkan control dan
rasa percaya diri : pengalihan situasi.
B. Strategi Komunikasi
1) Fase Orientasi
a. Salam Terapeutik
“Assalamu’alaikum, Selamat pagi, Saya Mahasiswa STIK Bina
Husada Palembang, nama saya Kurnia. Kalau boleh tahu, nama Ibu
siapa?”“Ibu senangnya dipanggil apa?”
b. Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaan Ibu hari ini?”
c. Kontrak :
1) Topik
“Bagaimana jika sekarang kita berbincang-bincang tentang
kecemasan dan latihan cara mengontro lcemas dengan latihan
pengalihan situasi atau biasanya sering disebut distraksi ?”
2) Waktu
“Berapa lama Ibu punya waktu untuk berbincang-bincang dengan
saya? Bagaimana kalau 20menit saja”
3) Tempat
“Dimana Ibu mau berbincang-bincang dengan saya? Bagaimana
jika diruangan ini saja kita berbincang-bincang”
4) Tujuan
“Agar Ibu dapat mengetahui kecemasan yang Ibu rasakan serta
cara mengatasinya”
2) Fase Kerja
“Sekarang coba ibu ceritakan apa yang ibu rasakan saat ini”
“Ouw jadi Ibu merasa cemas karena iu merasa kadar gula darah ibu
tinggi. Jika boleh saya tahu, bagaimana cara Ibu mengatasinya?”
“Saya mengerti bagaimana perasaan Ibu.. Setiap orang akan memiliki
perasaan yang sama jika diposisi Ibu Yang perlu Ibu ketahui adalah Ibu
saat ini berada pada tingkat kecemasan yang ringan. Untuk itu, Ibu perlu
melakukan terapi disaat Ibu merasakan perasaan cemas yang berat.
Terapi ini akan membantu menurunkan tingkat kecemasan Ibu.
Bagaimana kalau sekarang kita coba mengatasi kecemasan Ibu dengan
metode pengalihan situasi yaitu dengan cara Ibu melepas kecemasan
dengan cara menonton televisi atau dengan cara berdzikir.
“Nah, Selanjutnya kita latihan distraksi, dimana distraksi ini bermanfaat
untuk megalihkan rasa cemas Ibu sehingga membuat pikiran dan fisik Ibu
rileks atau santai. Dalam teknik ini Ibu harus melakukan hal-hal yang
dapat membuat Ibu relaks misalnya dengan menonton acara televise
kesukaan Ibu ataupun dengan berdzikir. Nah, sekarang Ibu sudah tau kan
hal-hal apa saja yang dapat Ibu lakukan untuk mengurangi rasa cemas
Ibu. Nanti apabila Ibu merasa cemas lagi, Ibu bisa melakukan pengalihan
situasi yang saya beritahu tadi.
Sekarang saya akan memberitahu ibu cara yang lain lagi untuk
mengurangi/mengatasi kecemasan ibu. Namanya tekhnik relaksasi ya.
“Sekarang kita coba mengatasi kecemasan ibu dengan latihan relaksasi
dulu, yaitu dengan cara tarik nafas dalam, ini merupakan salah satu
cara untuk mengurangi kecemasan yang ibu rasakan”
“Bagaimana kalau kita latihan sekarang, Saya akan lakukan, ibu
perhatikan saya, lalu ibu bisa mengikuti cara yang sudah saya ajarkan.
Kita mulai ya bu. Ibu silakan duduk dengan posisi seperti saya. Pertama-
tama, ibu tarik nafas dalam perlahan-lahan, setelah itu tahan nafas dalam
hitungan tiga setelah itu ibu hembuskan udara melalui mulut dengan
meniup udara perlahan-lahan. Sekarang coba ibu praktikkan”
“Bagus sekali, ibu sudah mampu melakukannya. ibu bisa melakukan
latihan ini selama 5 sampai 10 kali sampai ibu merasa relaks atau santai.
Selain cara tersebut untuk mengatasi kecemasan ibu, ibu bisa melakukan
dengan metode pengalihan yaitu dengan ibu melepas kecemasan dengan
tertawa, berolahraga, menulis kecemasan ibu disebuah kertas,bersantai
seperti jalan-jalan atau ibu juga bisa mengatasinya dengan mendengarkan
musik.
3) Fase Terminasi
a. Evaluasi
1) Subyektif
“Bagaimana perasaan Ibu setelah kita ngobrol tentang masalah
yang Ibu rasakan dan latihan distraksi dan relaksasi?”
2) Obyektif
“Coba Ibu ulangi lagi cara yang sudah kita pelajari.”
b. Rencana Tindak Lanjut (RTL)
“Jam berapa Ibu akan berlatih lagi melakukan cara ini?”
“Mari, kita masukkan dalam jadwal harian Ibu. Jadi, setiap Ibu merasa
cemas, Ibu bisa langsung praktikkan cara ini”
c. Kontrak yang akan datang
1) Topik
“Cara yang kita praktikkan tadi baru mengurangi sedikit kecemasan
yang Ibu rasakan, bagamana jika kita latihan kembali besok bu?
2) Waktu
“Bagaimana kalau kita latihan besok, dengan jam yang sama seperti
hari ini. Berapa lama Ibu punya waktu untuk berbincang-bincang
dengan saya besok? Bagaimana kalau 20 menit saja”
3) Tempat
“Dimana Ibu akan latihan dengan saya besok? Bagaimana kalau
besok kita melakukannya disini saja.”
DAFTAR PUSTAKA
Hawari D. 2008. Manajeman stress dan depresi. Jakarta : Balai penerbit Fkui
Kusumawatu 2010 : Buku ajar keperawatan jiwa. Jakarta : Salemba Medika Keliat
.B.A. 2006 : Model praktik keperawatan jiwa. Jakarta : EGC
Nurjanah . I. 2004 : Pedoman penanganan pada gangguan jiwa. Yogyakarta :
Mocomida Stuart G. 2012. Buku saku keperawatan jiwa. Jakarta. EGC