LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA
KEHILANGAN DAN BERDUKA DISFUNGSIONAL
Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa
Disusun oleh :
Kurnia Sariputri
NPM : 24149011312
Dosen Pembimbing :
Ns. Mareta Akhriansyah, [Link]., M. Kep
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA HUSADA PALEMBANG
TAHUN 2024/2025
LAPORAN PENDAHULUAN
KEHILANGAN DAN BERDUKA DISFUNGSIONAL
I. Masalah keperawatan
Kehilangan dan berduka disfungsional
II. Proses terjadinya masalah
a. Pengertian
Kehilangan adalah suatu situasi actual maupun potensial yang dapat
dialami individu ketika berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik
sebagian atau keseluruhan atau terjadi perubahan dalam hidup sehingga terjadi
perasaan kehilangan. Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah di alami
oleh setiap individu selama rentang kehidupan nya, sejak lahir individu sudah
mengalami dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam
bentuk yang berbeda, setiap individu akan bereaksi terhadap kehilangan.
Respons terakhir terhadap kehilangan sangat di pengaruhi oleh respon individu
terhadap kehilangan sebelumnya. ( Hidayat,2012 )
Beduka (grieving) merupakan emosional terhadap kehilangan hal ini
diwujudkan dalam berbagai cara yang unik pada masing-masing orang dan
didasarkan pada pengalaman pribadi, ekspektasi budaya, dan keyakinan
spiritual yang dianutnya (Hidayat, 2009).
b. Factor Predisposisi
1. Factor genetic
Individu yang dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang mempunyai
riwayat depresi akan sulit mengembangkan sikap optimis dalam
menghadapi suatu permasalahan termasuk dalam menghadapi perasaan
kehilangan. ( Hidayat, 2009 )
2. Kesehatan jasmani
Individu dengan keadaan fisik sehat, pola hidup yang teratur cenderung
mempunyai kemampuan mengatasi stress yang lebih tinggi dibandingkan
dengan inovasi untuk yang mengalami gangguan fisik. ( Prabowo, 2014 )
3. Kesehatan mental
Individu yang mengalami gangguan jiwa terutama yang mempunyai riwayat
depresi yang ditandai dengan perasaan tidak berdaya pesimis, selalu di
bayangi oleh masa depan yang suram, biasanya sangat peka dalam
menghadapi situasi kehilangan. ( Hidayat, 2009 )
4. Pengalaman kehilangan masa lalu
Kehilangan atau perpisahan dengan orang yang berarti pada masa kanak –
kanak akan mempengaruhi individu dalam mengatasi perasaan kehilangan
pada masa dewasa. ( Hidayat, 2009 )
5. Struktur kepribadian
Individu dengan konsep yang negative, perasaan rendah diri akan
menyebabkan rasa percaya diri yang rendah yang tidak objektif terhadap
stress yang dihadapi. ( Prabowo, 2014 )
c. Factor presipitasi
1. Kehilangan kesehatan
2. Kehilangan fungsi seksualitas
3. Kehilangan peran dalam keluarga
4. Kehilangan posisi di masyarakat
5. Kehilangan orang yang dicintainya
6. Kehilangan kewarganegaraan
d. Tanda dan gejala
1. Perasaan sedih, menangis
2. Perasaan putus asa
3. Kesulitan mengekspresikan kehilangan
4. Konsentrasi menurun
5. Kemarahan berlebihan
6. Tidak berminat berinteraksi dengan orang lain
7. Adanya perubahan dalam kebiasaan makan, pola tidur
e. Batasan karakterisitik
- Idealisasi kehilangan
- Mengingkari kehilangan
- Gangguan dalam konsentrasi
- Kesulitan dalam mengekspresikan kehilangan
- Kelainan dalam kebiasaan makan, pola tidur
f. Akibat
Inti dari kemampuan seorang agar dapat bertahan terhadap kehilangan adalah
pemberian makna yang baik terhadap kehilangan
g. Rentang respon
Fase Pengingkaran Fase Marah Fase Tawar-menawar Fase Depresi Fase Menerima
a. Tahap Pengikaran
Reaksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok,tidak percaya,
mengerti atau mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benar-benar terjadi.
Sebagai contoh orang atau keluarga dari orang yang menerima diagnosis
terminalakan terus berupaya mencari informasi tambahan (Hidayat, 2009).
b. Tahap marah
Pada tahap ini individu menolak kehilangan. Kemarahan yang timbul sering
diproyeksikan kepada orang lain atau darinya sendiri. Orang yang mengalami
kehilangan juga tidak jarang menunjukkan perilaku agresif, berbicara kasar,
menyerang orang lain, menolak pengobatan, bahkan menuduh dokter atau perawat
tidak kompeten. Respons fisik yang sering terjadi, antara lain muka merah, denyut
nadi cepat, gelisah, susah tidur,tangan mengepal, dan seterusnya. (Hidayat, 2009).
c. Tahap tawar-menawar
Pada tahap ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan
dan dapat mencoba untuk membuat kesepatakan secara halus atau terang-terangan
seolah-olah kehilangan tersebut dapat dicegah. Individu mungkin berupaya untuk
melakukan tawar-menawar dengan memohon kemurahan than (Hidayat, 2009)
d. Tahap depresi
Pada tahap inipasien sering menunjukkan sikap menarik diri, kadang-kadang
bersikap sangat penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, rasa tidak
berharga, bahkan bisa muncul keinginan bunuh diri, gejala fisik yang ditunjukkan,
antara lain menolak makan, susah tidur, letih, turunnya dorongan libido, dan lain-
lain (Prabowo, 2014)
e. Tahap penerimaan
Tahap ini berkaitan dengan reoprganisasi perasaan kehilangan. Pikiran yang selalu
berpusat pada objek yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Individu telah
menerima kenyataan kehilangan yang dialaminya dan mulai memandang ke
depan. Gambaran tentang objek atau orang yang hilang akan mulai dilepaskan
secara bertahap. Perhatiannya akan beralih pada objek yang baru. Apabila
individu dapat memulai tahap tersebut dan menerima dengan perasaan damai,
maka dia dapat mengakhiri proses berduka serta dapat mengatasi perasaan
kehilangan secara tuntas. Kegagalan masuk ke tahap penerimaan akan
memengaruhi kemampuan individu tersebut dalam mengatasi perasaan kehilangan
selanjutnya (Hidayat, 2009).
h. Sumber koping
Individu dapat menanggulangi stress dan kecemasan dengan
menggunakan atau mengambil sumber koping dari lingkungan baik dari sosial,
intrapersonal dan interpersonal. Sumber koping diantaranya adalah aset
ekonomi, kemampuan memecahkan masalah, dukungan sosial budaya yang
diyakini. Dengan integrasi sumber-sumber koping tersebut individu dapat
mengadopsi strategi koping yang efektif (Suliswati, 2005).
i. Mekanisme koping
Koping yang sering dipakai individu dengan kehilangan respon antara
lain: Denial, intelektuallisus, legresi, disosiasi, supresi, dan proyeksi yang
digunakan untuk menghindari intensitas stress yang di rasakan sangat
menyakitkan.
III. Pohon masalah
Risiko mencederai diri sendiri
Isolasi sosial menarik diri
Kehilangan
IV. Masalah keperawatan
No Masalah keperawatan Data yang di kaji
1. Isolasi : menarik diri DS :
- klien mengatakan “saya tidak mampu”
- klien mengatakan “tidak tahu apa- apa”
- klien mengatakan “tidak bisa”
- klien mengatakan dirinya bodoh
DO :
- klien tampak lebih suka sendiri
- klien tampak bingung
- klien berkeinginan menciderai diri
- klien terlihat apatis
- ekspresi wajah klien sedih
- klien sering melamun
- afek klien tumpul
- klien tampak banyak diem
2. Resiko mencederai diri DS :
sendiri , orang lain dan
- klien mengatakan marah dan jengkel kepada
lingkungan. orang lain , diri sendiri dan mengakhiri diri
DO :
- klien mengamuk
- ekspresi murung tidak bahagia
- banyak diam
- ada tanda bekas pencideraan diri
V. Rencana tindakan keperawatan
No Diagnosa Tujuan Kritera Hasil Intervensi Rasional
Kep
1. Isolasi Tum : Setelah 1x 1.1 Rasa
sosial : Klien pertemuan / Bina percaya
Menarik dapat interaksi klien Hubungan merupakan
Diri berinterak menunjukan Saling dasar dari
si dengan tanda percaya Percaya hubungan
orang lain kepada Dengan teraupetik
perawat Klien yang
Tuk 1 : a. Ekspresi Dengan mendukung
Klien wajah cerah, Prinsip dalam
dapat tersenyum Komunikasi mengatasi
membina b. Mau Teraupetik
hubungan berkenalan
saling c. Ada kontak
percaya mata
d. Bersedia
menceritaka
n perasaan
e. Bersedia
mengungkap
kan masalah
Tuk 2 : Pasien dapat 2.1 Dengan
Klien menyebutkan Tanyakan mengetahui
dapat minimal satu pada klien nya perawat
menyebut penyebab tentang : dapat
kan menarik diri a. orang menemukan
penyebab yang berasal Yang orang-orang
menarik dari : Tinggal yang bisa
diri a. Diri sendiri serumah/ mendukung
b. Orang lain Sekamar klien dan
c. Lingkungan Dengan dapat
pasien, menentukan
b. orang intervensi
Terdekat selanjutnya
Pasien
c. apa yang
Membuat
Pasien
Dekat
Dengan
orang itu.
d. hal-hal
Yang
Membuat
Pasien
Menjauhi
orang tsb.
e. upaya
yang telah
Dilakukan
diri dengan
orang lain
2.2 Diharapkan
Kaji pasien dapat
Pengetahuan beradaptasi
Pasien dengan
Tentang perasaannya
Perilaku
menarik diri
Dengan
tanda-
tandanya .
2.3 Meningkatk
Berikan an harga
motivasi diri
Untuk
menyadari
aspek positif
dan negatif
dari dirinya
2.4 Motivasi
Berikan meningkatk
motivasi an
Untuk keterbukaan
mendiskusik klien
an pikiran
Dan
perasaannya
2.5 Pujian
Beri pujian membuat
terhadap berusaha
kemampuan lebih keras
klien dalam lagi
mengungkap
kan perasaan
Tuk 3 : 3.1 3.1 Dapat
Pasien Pasien dapat Kaji digunakan
dapat menyebutkan pengetahuan perawat
menyebut keuntungan Tentang untuk
kan berhubungan manfaat dan menentukan
keuntunga dengan orang keuntungan intervensi
n lain berhubungan selanjutnya
berhubung Dengan
an dengan orang lain
orang lain
dan 3.2 3.2 Perbedaan
kerugian Pasien dapat Tanyakan seputar
bila tidak menyebutkan kapada klien manfaat
berhubung kerugian tidak Tentang : hubungan
an dengan berhubungan a. Manfaat sosial dan
orang lain dengan orang berhubun kerugian
lain Gan isolasi
Dengan sosial
Orang membantu
lain. klien
b. Kerugian mengidentif
Isolasi ikasi apa
Diri yang terjadi
pada dirinya
3.3
Diskusikan
Tentang
manfaat
berhubungan
sosial dan
kerugian
isolasi sosial
Tuk 4 : 4.1 4.1 Kehadiran
Klien Klien dapat Opservasi orang dapat
dapat melaksanakan prilaku klien di percayai
melaksana hubungan Ketika
kan sosial secara berhubungan
hubungan bertahap Sosial
sosial dengan :
a. perawat
b. perawat 4.2
lain Jelaskan
c. klien lain kepada klien
d. kelaurga Cara
e. kelompok berinterkasi
dengan orang
lain
4.3
Berikan
contoh cara
berbicara
dengan orang
Lain
4.4 Dapat
Berikan meningkatk
kesempatan an rasa
Klien pecaya diri
mempratikan klien
Cara
berinteraksi
dengan orang
Lain
4.5
Bantu klien
berinteraksi
dengan satu
orang teman
/ anggota
keluarga
4.6
Tingkatkan
jumlah
interaksi bila
Ada
kemajuan
4.7
Beri pujian
setiap ada
kemajuan
DAFTAR PUSTAKA
[Link],[Link] ajar kebutuhan dasar [Link] : Health
Books Publishina.
[Link],[Link] keperawatan pada klien dengan masalah psikososial dan
gangguan [Link] : [Link].
[Link] keperawatan [Link]:Nona medika.
Slisino,April,[Link] kebutuhan dasar [Link] : Sagung
Seto. [Link] [Link] : Retika Aditama.
Strategi Pelaksanaan Keperawatan pada
Klien Kehilangan dan Berduka (SP 1)
Pertemuan : 1/TUK 1 Proses Keperawatan
1. Kondisi Klien
Ibu M sering melamun dan selalu mengatakan jika suaminya belum meninggal.
Selain itu, Ibu M juga tidak mau berinteraksi dengan orang lain dan merasa
gelisah sehingga susah tidur.
2. Diagnosa keperawatan
Ansietas berhubungan dengan koping individu tidak efektif terhadap respon
kehilangan pasangan
3. Tujuan Khusus
Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
4. Tindakan Keperawatan
a. BHSP: Salam terapiutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan, lingkungan yang
terapiutik, kontrak yang jelas
b. Dorong dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya
c. Dengarkan ungkapan klien dengan empati
d. Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan
perasaanya Proses Pelaksanaan Tindakan
A. Orientasi
1. Salam terapiutik “Selamat pagi Ibu.”
“Perkenalkan saya perawat yang bertugas hari ini, nama saya Kurnia
Sariputri , saya biasa di panggil Kurnia, nama ibu siapa?” “Ibu senang di
panggil siapa?
2. Evaluasi
“Bagaimana perasaan Ibu hari ini, apa yang Ibu rasakan saat ini?
3. Kontrak
“Ibu, saya bertugas di sini untuk merawat ibu dari hari Kamis sampai
Minggu mulai dari jam 07.00 sampai dengan 14.00 WIB saya harap selama
saya merawat ibu saya dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi ibu.
Ibu sekarang saya ingin berbincang-bincang dengan Ibu untuk mengetahui
keadaan Ibu saat ini, apakah ibu bersedia? Ibu ingin kita bicara di mana?
Hmm,, bagaimana kalau di taman ? baiklah Buk. Berapa lama ingin
bincang-bincangnya Buk? Bagaimana kalau kita berbincang selama 15
menit?
B. Kerja
1. Ibu, tadi Ibu sudah menyebutkan nama Ibu, lalu boleh saya tahu berapa
umur Ibu sekarang?
2. Ibu sudah berapa lama di rawat di sini?
3. Boleh saya tahu Ibu berasal dari mana?
4. Ibu masih ingat, kapan Ibu di bawa kesini?
5. Siapa yang membawa Ibu kesini?
6. Bagaimana perasaan Ibu saat di bawa kesini?
7. Menurut Ibu, Ibu di bawa kesini karena apa?
8. Selama di rawat di sini hal apa saja yang sudah Ibu dapatkan?
9. Bagaimana perasaan Ibu saat melakukan kegiatan tersebut?
10. Boleh saya tahu apakah hobi Ibu? Bagaimana kalau sekarang Ibu
bercerita tentang hobi Ibu?
11. Wah….ternyata bagus sekali hobi Ibu. Boleh saya tahu apa pekerjaan Ibu
sebelum disini? Bisa Ibu ceritakan tentang pekerjaan Ibu?
12. Wah, ternyata pekerjaan Ibu bagus sekali
C. Terminasi
1. Evaluasi
(Subyektif) : Setelah kita ngobrol tadi,bagaimana perasaan Ibu saat ini?
(obyektif) : Klien mau menjawab pertanyaan perawat dan sesekali melihat
perawat.
2. Tindak lanjut
Nah bu, ini sudah 15 menit. Jadi kita cukupkan saja dulu perbincangan kita.
Sekarang Ibu istirahat dulu. Kalau nanti ada yang ingin Ibu ceritakan atau
tanyakan kepada saya, Ibu bisa sampaikan saat pertemuan kita berikutnya.
3. Kontrak yang akan datang
Bagaimana kalau nanti siang sesudah makan siang kita ngobrol-ngobrol lagi
sekitar pukul 14.00 wib? Dan bagaimana kalau nanti kita membicarakan
tentang kondisi Ibu? Apakah Ibu bersedia? Ibu nanti ingin mengobrol
dimana? Apakah di tempat ini lagi? Baik bu nanti kita berbincang-bincang
lagi, kalau begitu saya permisi dulu Bu, terima kasih karena Ibu sudah mau
berbincang-bincang dengan saya.
Strategi Pelaksanaan Keperawatan pada
Klien Kehilangan dan Berduka (SP 2)
A. Proses keperawatan
1. Kondisi klien
Pada pertemuan kedua, Ibu M belum menunjukkan rasa penerimaan terhadap
kehilangan. Ia masih menarik diri dari lingkungan dan orang-orang sekitarnya.
Ia juga masih melamun dan merasa gelisah sehingga tidurnya tidak nyenyak.
2. Diagnosa keperawatan
Ansietas berhubungan dengan koping individu tidak efektif terhadap respon
kehilangan pasangan
3. Tujuan khusus
Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat dan klien
dapat merasa aman dan nyaman saat berinteraksi dengan perawat
Klien mampu mengungkapkan pikiran dan perasaannya
Klien merasa lebih tenang
4. Tindakan keperawatan
Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan cara mengucapkan
salam terapeutik, memperkenalkan diri perawat sambil berjabat tangan
dengan klien
Dorong klien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaannya. Dengarkan
setiap perkataan klien. Beri respon, tetapi tidak bersifat menghakimi
Ajarkan klien teknik relaksasi
B. Strategi pelaksanaan
1. Tahap orientasi
- Salam terapeutik: “Selamat pagi Ibu M. Masih ingat dengan saya Bu? Ya,
betul sekali. Saya perawat Kurnia , Bu. Seperti kemarin, pagi ini dari pukul
07.00 sampai 14.00 nanti dan saya yang akan merawat Ibu.”
- Evaluasi validasi: “Bagaimana keadaan Ibu hari ini? Apa sudah lebih baik
dari kemarin? Bagus kalau begitu”
- Evaluasi validasi: “Baiklah, bagaimana keadaan Ibu M hari ini?”
- Kontrak: “Kalau begitu, bagaimana jika kita berbincang-bincang sebentar?
Saya rasa 30 menit cukup Bu. Ibu bersedia?”
“Ibu mau kita berbincang-bincang dimana? Di sini saja? Baiklah.”
2. Tahap kerja
- “Baiklah Ibu M, bisa Ibu jelaskan kepada saya bagaimana perasaan Ibu M
saat ini?”
- “Saya mengerti Ibu sangat sulit menerima kenyataan ini. Tapi kondisi
sebenarnya memang suami Ibu telah meninggal. Sabar ya, Bu ”
- “Saya tidak bermaksud untuk tidak mendukung Ibu. Tapi coba Ibu pikir,
jika Ibu pulang ke rumah nanti, Ibu tidak akan bertemu dengan suami Ibu
karena beliau memang sudah meninggal. Itu sudah menjadi kehendak
Tuhan, Bu. Ibu harus berusaha menerima kenyataan ini.”
- “Ibu, hidup matinya seseorang semua sudah diatur oleh Tuhan.
Meninggalnya suami Ibu juga merupakan kehendak-Nya sebagai Maha
Pemilik Hidup. Tidak ada satu orang pun yang dapat mencegahnya,
termasuk saya ataupun Ibu sendiri.”
- “Ibu sudah bisa memahaminya?”
- “Ibu tidak perlu cemas. Umur Ibu masih muda, Ibu bisa mencoba mencari
pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan keluarga Ibu. Saya percaya Ibu
mempunyai keahlian yang bisa digunakan. Ibu juga tidak akan hidup
sendiri. Ibu masih punya saudara- saudara, anak-anak dan orang lain yang
sayang dan peduli sama Ibu.”
- “Untuk mengurangi rasa cemas Ibu, sekarang Ibu ikuti teknik relaksasi yang
saya lakukan. Coba sekarang Ibu tarik napas yang dalam, tahan sebentar,
kemudian hembuskan perlahan-lahan.”
- “Ya, bagus sekali Bu, seperti itu.”
3. Tahap terminasi
- Evaluasi: (subjektif): “Bagaimana perasaan Ibu sekarang? Apa Ibu sudah
mulai memahami kondisi yang sebenarnya terjadi?” (objektif): “Kalau begitu,
coba Ibu jelaskan lagi, hal-hal yang Ibu dapatkan dari perbincangan kita tadi dan
coba Ibu ulangi teknik relaksasi yang telah kita lakukan.”
- RTL: “Ya, bagus sekali Bu. Nah, setiap kali Ibu merasa cemas, Ibu dapat
melakukan teknik tersebut. Dan setiap kali Ibu merasa Ibu tidak terima
dengan kenyataan ini, Ibu dapat mengingat kembali perbincangan kita hari
ini.
- Kontrak yang akan datang: ”Sudah 30 menit ya, Bu. Saya rasa perbincangan
kita kali ini sudah cukup. Besok sekitar jam 09.00 saya akan datang kembali
untuk membicarakan tentang hobi Ibu. Mungkin besok kita bisa berbincang-
bincang di taman depan ya Bu.” “Apa ada yang ingin Ibu tanyakan? Baiklah,
kalau tidak ada, saya permisi dulu ya Bu.”
Strategi Pelaksanaan Keperawatan pada
Klien Kehilangan dan Berduka (SP 3)
A. Proses keperawatan
1. Pengkajian
Pada pertemuan ketiga, Ibu M sudah mulai menunjukkan rasa penerimaan
terhadap kehilangan. Namun, ia masih menarik diri dari lingkungan dan
orang-orang sekitarnya. Ia juga masih melamun dan merasa gelisah sehingga
tidurnya tidak nyenyak.
2. Diagnosa keperawatan
Isolasi sosial berhubungan dengan koping individu tidak efektif terhadap
respon kehilangan pasangan
3. Tujuan khusus
Klien tidak menarik diri lagi daan dapat membina hubungan baik kembali
dengan lingkungannya maupun dengan orang-orang di sekitarnya
4. Tindakan keperawatan
Libatkan klien dalam setiap aktivitas kelompok, terutama aktivitas yang ia
sukai
Berikan klien pujian setiap kali klien melakukan kegiatan dengan benar
B. Strategi pelaksanaan
1. Tahap orientasi
- Salam terapeutik: “Selamat pagi Ibu M. Masih ingat dengan saya Bu? Ya,
betul sekali. Saya perawat Kurnia , Bu. Seperti kemarin, pagi ini dari pukul
07.00 sampai 14.00 nanti dan saya yang akan merawat Ibu.”
- Evaluasi validasi: “Bagaimana keadaan Ibu hari ini? Apa sudah lebih baik
dari kemarin? Bagus kalau begitu”
- Kontrak: “Sesuai janji yang kita sepakati kemarin ya, Bu. Hari ini kita
bertemu untuk membicarakan hobi Ibu di taman depan. Saya rasa 30 menit
seperti kemarin cukup ya, Bu.”
2. Tahap kerja
- “Nah, Bu. Apakah Ibu sudah memikirkan hobi yang Ibu senangi?”
- “Ternyata Ibu hobi bermain voli ya? Tidak semua orang bisa bermain voli
lho, Bu.”
- “Selain bermain voli, apa Ibu mempunyai hobi yang lain lagi?”
- “Wah, ternyata Ibu juga hobi menyanyi, pasti suara Ibu bagus. Bisa Ibu
menunjukkan sedikit bakat menyanyi Ibu pada saya?”
- “Wah ternyata Ibu memang berbakat menyanyi, suara Ibu juga cukup
bagus.”
- “Ngomong-ngomong tentang hobi Ibu bermain voli, berapa sering Ibu
biasanya bermain voli dalam seminggu?”
- “Cukup sering juga ya Bu. Pasti kemampuan Ibu dalam bermain voli
sudah terlatih.”
- “Apa Ibu pernah mengikuti lomba voli? Wah, ternyata Ibu hebat juga ya
dalam bermain voli. Buktinya, Ibu pernah memenangi lomba voli antar
warga di daerah rumah Ibu.”
- “Nah, bagaimana kalau sekarang Ibu saya ajak bergabung dengan yang
lain untuk bermain voli? Tampaknya di sana banyak orang yang juga ingin
bermain voli. Ibu bisa melakukan hobi Ibu ini bersama-sama dengan yang
lain.”
- “Ibu-ibu, kenalkan, ini Ibu M. Ibu M juga akan bermain voli bersama-
sama. Ibu M ini jago bermain voli, lho.”
- “Nah, sekarang bisa Ibu tunjukkan teknik-teknik yang baik dalam bermain
bola voli?”
- “Wah, bagus sekali Bu. Ibu hebat.”
- “Ibu M, saat Ibu sedang merasa emosi tapi tidak mampu meluapkannya,
Ibu bisa melakukan kegiatan ini bersama-sama yang lain. Selain itu,
kegiatan ini juga dapat membuat Ibu berhubungan lebih baik dengan yang
lainnya dan Ibu tidak merasa kesepian lagi.”
3. Tahap terminasi
- Evaluasi: (subjektif): “Bagaimana perasaan Ibu sekarang? Apa sudah lebih
baik dibandingkan kemarin?”
(objektif): “Sekarang coba Ibu ulangi lagi apa saja manfaat yang dapat Ibu
dapatkan dengan melakukan kegiatan yang Ibu senangi.”
- RTL: “Baiklah Bu, kalau begitu Ibu dapat bermain voli saat Ibu sedang
merasa emosi. Atau Ibu dapat melakukan kegiatan ini paling tidak dua kali
dalam seminggu.”
Kontrak yang akan datang: “Nah, waktu kita sudah hampir habis ya Bu.
Besok jam
08.00 setelah makan pagi, saya akan kembali lagi untuk mengajarkan Ibu
cara meminum obat dengan benar. Kita ketemu di ruangan Ibu saja, ya? Apa
ada yang ingin Ibu tanyakan? Baiklah, kalau tidak, saya permisi dulu ya,
Bu.”
Strategi Pelaksanaan Keperawatan pada
Klien Kehilangan dan Berduka (SP 4)
A. Proses keperawatan
1. Pengkajian
Pada pertemuan keempat, Ibu M sudah mulai tidak banyak melamun dan mulai
membuka dirinya kepada orang-orang sekitarnya. Ibu M juga mau membalas
sapaan ataupun senyuman jika ada perawat ataupun orang lain yang
menyapanya ataupun tersenyum padanya. Namun, Ibu M mengaku ia masih
terbayang akan suaminya saat ia akan tidur. Hal tersebut membuat Ibu M
merasa gelisah, tidur tidak nyenyak, bahkan sulit tidur.
2. Diagnosa keperawatan
Ansietas berhubungan dengan keadaan di masa yang akan datang setelah
kehilangan pasangan
3. Tujuan khusus
Klien dapat mengetahui aturan yang benar dalam meminum obat
Ansietas klien berkurang sehingga klien dapat tidur dengan nyenyak
4. Tindakan keperawatan
Ajarkan klien cara meminum obat dengan benar
Awasi klien saat minum obat
B. Strategi pelaksanaan
1. Tahap orientasi
- Salam terapeutik: “Selamat pagi Ibu M.”
- Evaluasi validasi: “Bagaimana keadaan Ibu hari ini? Apa semalam Ibu bisa
tidur dengan nyenyak?”
- Kontrak: “Ibu tidak bisa tidur dengan nyenyak ya? Baiklah, sesuai dengan
janji kita yang kemarin, saya akan memberitahu Ibu obat yang harus Ibu
minum untuk mengurangi kecemasan Ibu dan agar Ibu dapat tidur dengan
nyenyak. Saya rasa 15 menit saja cukup ya Bu, di kamar ini saja.”
2. Tahap kerja
- “Nah, kita langsung mulai saja ya Bu. Ini ada beberapa macam obat-obatan
yang harus Ibu minum.”
- “Ini obatnya ada dua macam ya Bu. Yang warna putih ini namanya BDZ.
Fungsi dari obat ini agar pikiran Ibu bisa lebih menjadi tenang. Kalau
pikiran Ibu tenang, Ibu bisa tidur dengan nyenyak.”
- “Kemudian, yang warna kuning ini adalah HLP. Ini juga harus Ibu minum
agar perasaan Ibu bisa rileks dan Ibu tidak lagi merasakan cemas yang
berlebihan.”
- “Nah Bu, semua obat ini diminum tiga kali sehari ya Bu, jam 7 pagi, jam 1
siang, dan jam 7 malam. Masing-masing obat satu butir saja. Obat-obatan
ini juga harus diminum setelah Ibu makan.”
- “Apa Ibu mempunyai keluhan dalam meminum obat?”
- “Ooh, jadi Ibu tidak tahan dengan rasa pahitnya ya? Kalau begitu, setelah
Ibu minum obat Ibu bisa memakan permen agar rasa pahitnya dapat
berkurang.”
- “Jika setelah minum obat ini mulut Ibu menjadi terasa kering sekali, Ibu
bisa minum banyak air untuk mengatasinya agar mulut Ibu tidak kering.”
- “Tapi jika ada efek samping yang berlebihan seperti gatal-gatal, pusing, atau
mual, Ibu bisa panggil saya atau perawat lain yang sedang bertugas.”
- “Nah, sebelum ibu meminum obatnya, pastikan dulu ya Bu, obatnya sesuai
atau tidak. Ibu juga jangan lupa perhatikan waktunya agar obat tersebut
dapat diminum tepat waktu.”
3. Tahap terminasi
- Evaluasi: (subjektif): “Apa Ibu sudah mengerti apa saja obat yang harus Ibu
minum dan bagaimana prosedur sebelum meminumnya?”
(objektif): “Bagus. Kalau Ibu sudah mengerti, coba ulangi lagi apa saja obat
yang harus Ibu minum dan apa saja prosedur meminum obatnya.”
- RTL: “Seperti yang sudah saya katakan tadi ya Bu, jika setelah minum obat
mulut Ibu terasa kering, Ibu dapat meminum air yang banyak. Dan kalau Ibu
merasa gatal-gatal, ousing, atau bahkan muntah, Ibu dapat menghubungi
saya atau perawat lain yang sedang bertugas.”
- Kontrak yang akan datang: “Baiklah Bu, nanti jam 14.00 setelah makan
siang, saya akan datanhg kembali untuk memantau perkembangan Ibu. Kita
bertemu di ruangan ini saja ya Bu.”
“Sebelum saya pergi apa ada yang ingin Ibu tanyakan? Baiklah Bu, kalau
tidak ada, saya permisi dulu.”