0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan87 halaman

Sistem Muskuloskeletal dan Fungsinya

Diunggah oleh

Cut Mutia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan87 halaman

Sistem Muskuloskeletal dan Fungsinya

Diunggah oleh

Cut Mutia
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BUKU

SISTEM MUSKULOSKELETAL, INTEGUMEN, PERSEPSI SENSORI,


PERSARAFAN
Dosen Pengampu: Eka Nugraha Naibaho S. Kep., Ns., M. Kep

DISUSUN OLEH:
CUT MUTIA
2214201080

PRODI S1 KEPERAWATAN
UNIVERSITAS IMELDA MEDAN
T.A 2025
SISTEM MUSKULOSKELETAL

A. DEFENISI

Sistem muskuloskeletal adalah sistem biologis yang terdiri dari kerangka


tubuh (rangka) dan otot-otot yang menunjang pergerakan tubuh. Sistem
muskuloskeletal disebut juga dengan sistem gerak tubuh. Fungsi dari sistem
muskuloskeletal adalah untuk membentuk postur tubuh, melindungi organ-
organ penting dalam tubuh, dan memungkinkan tubuh melakukan gerakan.

Musculoskeletal system atau sistem muskuloskeletal adalah sistem yang


terdiri dari tulang, sendi, otot, saraf, dan jaringan ikat. Sistem ini
memungkinkan tubuh untuk bergerak dan beraktivitas, seperti berjalan, berlari,
mengambil benda, dan sebagainya.

B. PENYEBAB

Adapun beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko gangguan pada


sistem muskuloskeletal adalah sebagai berikut:

1. Postur dan posisi tubuh saat beraktivitas atau kerja (ergonomis)


2. Kelainan struktural
3. Usia
4. Gaya hidup
5. Kelemahan otot, tulang, tendon, dan ligamen
6. Faktor genetik, imunitas, dan metabolic
7. Aktivitas tertentu, seperti: Duduk dalam posisi yang sama di depan
komputer setiap hari, melakukan gerakan berulang-ulang, mengangkat
beban berat, mempertahankan postur tubuh yang buruk saat bekerja.
C. TANDA DAN GEJALA

Gejala umum adanya gangguan pada sistem muskuloskeletal adalah nyeri


berulang, bisa terasa tajam, tumpul, atau panas. Nyeri tersebut bisa disertai
dengan gejala lain, seperti kekakuan sendi, pembengkakan, pegal-pegal,
kesemutan, dan kemerahan pada area yang terdampak. Gejala ini dapat
memengaruhi berbagai area sistem muskuloskeletal, termasuk:

1
1. Leher
2. Bahu
3. Pergelangan tanga
4. Punggung
5. Pinggul
6. Lutut
7. Kaki
8. Telapak kaki
D. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM MUSKULOSKELETAL
1. Tulang

Tulang adalah jaringan yang paling keras diantara jaringan ikat lainnya yang
terdiri atas hampir 50 % air dan bagian padat, selebihnya terdiri dari bahan
mineral terutama calsium kurang lebih 67 % dan bahan seluler 33%. Fungsi dari
tulang adalah sebagai berikut:

a. Mendukung jaringan tubuh dan memberikan bentuk tubuh.


b. Melindungi organ tubuh (jantung, otak, paru-paru, dan jaringan lunak).
c. Memberikan pergerakan (otot berhubungan dengan kontraksi dan
pergerakan).
d. Membentuk sel-sel darah merah di dalam sumsum tulang (hematopoesis).
e. Menyimpan garam-garam mineral (kalsium, fosfor, magnesium dan fluor).

A. Struktur tulang

Tulang diselimuti di bagian luar oleh membran fibrus padat disebut


periosteum. Periosteum memberikan nutrisi pada tulang dan memungkinkan
tumbuh, selain sebagai tempat perlekatan tendon dan ligament. Periosteum
mengandung saraf, pembuluh darah, dan limfatik. Lapisan yang terdekat
mengandung osteoblast. Dibagian dalamnya terdapat endosteum yaitu
membran vascular tipis yang menutupi rongga sumsum tulang panjang dan
rongga dalam tulang kanselus. Osteoklast terletak dekat endosteum dan dalam
lacuna howship (cekungan pada permukan tulang).

2
Sumsum tulang merupakan jaringan vascular dalam rongga sumsum
(batang) tulang panjang dan tulang pipih. Sumsum tulang merah terutama
terletak di sternum, ilium, vetebra dan rusuk pada orang dewasa,
bertanggungjawab dalam produksi sel darah merah dan putih. Pada orang
dewasa tulang panjang terisi oleh sumsum lemak kuning. Jaringan tulang
mempunyai vaskularisasi yang baik. Tulang kanselus menerima asupan darah
melalui pembuluh metafis dan epifis. Pembuluh periosteum mengangkut darah
ke tulang kompak melalui kanal volkman. Selain itu terdapat arteri nutrient yang
menembus periosteum dan memasuki rongga meduler melalui foramina
(lubang-lubang kecil). Arteri nutrient memasok darah ke sumsum tulang,
System vena ada yang keluar sendiri dan ada yang mengikuti arteri. Tulang
tersusun dari 3 jenis sel yaitu:
1) Osteoblas
Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresikan
matrik tulang. Matrik tulang tersusun atas 98% kolagen dan 2% substansi dasar
(glukosaminoglikan/ asam polisakarida dan proteoglikan). Matrik tulang
merupakan kerangka dimana garam garam mineral ditimbun terutama calsium,
fluor, magnesium dan phosphor.
2) Osteosit
Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai pemeliharaan
fungsi tulang dan terletak pada osteon (unit matrik tulang). Osteon yaitu unit
fungsional mikroskopik tulang dewasa yang di tengahnya terdapat kapiler dan
disekeliling kapiler tedapat matrik tulang yang disebut lamella. Di dalam
lamella terdapat osteosit, yang memperoleh nutrisi lewat prosesus yang
berlanjut kedalam kanalikuli yang halus (kanal yang menghubungkan dengan
pembuluh darah yang terletak kurang lebih 0,1 mm).
3) Osteoklas
Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak memungkinkan mineral dan
matriks tulang dapat diabsorpsi, penghancuran dan remodeling tulang. Tidak
seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas mengikis tulang. Tulang merupakan
jaringan yang dinamis dalam keadaan peralihan tulang (resorpsi dan
pembentukan tulang). Kalium dalam tubuh orang dewasa diganti 18% pertahun.

3
Gambar 1.1 Struktur Tulang

Faktor yang berpengaruh terhadap keseimbangan pembentukan dan


reabsorpsi tulang adalah:
a. Vitamin D
Berfungsi meningkatkan jumlah kalsium dalam darah dengan meningkatkan
penyerapan kalsium dari saluran pencernaan. Kekurangan vitamin D dapat
menyebabkan defisit mineralisas, deformitas dan patah tulang.
b. Horman parathyroid dan kalsitonin
Merupakan hormone utama pengatur homeostasis kalsium. Hormon
parathyroid mengatur konsentrasi kalsium dalam darah, sebagian dengan cara
merangsang perpindahankalsium dari tulang. Sebagian respon kadar
kalsiumdarah yang rendah, peningkatan hormone parathyroid akan
mempercepat mobilisasi kalsium, demineralisasi tulang, dan pembentukan kista
tulang. Kalsitonin dari kelenjar tiroid meningkatkan penimbunan kalsium dalam
tulang.
c. Peredaran darah

4
Pasokan darah juga mempengaruhi pembentukan tulang. Dengan
menurunnya pasokan darah / hyperemia (kongesti) akan tejadi penurunan
osteogenesis dan tulang mengalami osteoporosis (berkurang kepadatannya).
Nekrosis tulang akan terjadi bila tulang kehilangan aliran darah.
Pada keadaaan normal tulang mengalami pembentukan dan absorpsi pada
suatu tingkat yang konstan, kecuali pada masa pertumbuhan kanak-kanak diman
lebih banyak terjadi pembentukan dari pada absorpsi tulang.
Proses ini penting untuk fungsi normal tulang. Keadaan ini membuat tulang
dapat berespon terhadap tekanan yang meningkat dan untuk mencegah terjadi
patah tulang. Perubahan tesebut membantu mempertahankan kekuatan tulang
pada proses penuaan. Matrik organik yang sudah tua berdegenerasi, sehingga
membuat tulang relatif menjadi lemah dan rapuh. Pembentukan tulang baru
memerlukan matrik organic baru, sehingga memberi tambahan kekuatan tulang.
Berdasarkan bentuknya tulang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Tulang Panjang / Tulang Pipa
Tulang ini sering terdapat dalam anggota gerak. Fungsinya sebagai alat
ungkit dari tubuh dan memungkinkan untuk bergerak. Batang atau diafisis
tersusun atas tulang kortikal dan ujung tulang panjang yang dinamakan epifis
tersusun terutama oleh tulang kanselus. Plat epifis memisahkan epifiis dan
diafisis dan merupakan pusat pertumbuhan longitudinalpada anak-anak. Yang
pada orang dewasa akan mengalami kalsifikasi. Misalnya pada tulang humerus
dan femur.

Gambar 1.2 Struktur tulang panjang

2. Tulang Pendek

5
Tulang ini sering didapat pada tulang-tulang karpalia di tangan dan tarsalia
di kaki. Fungsinya pendukung seperti tampak pada pergelangan tangan.
Bentuknya tidak teratur dan inti dari konselus (spongi) dengan suatu lapisan luar
dari tulang yang padat.
3. Tulang Pipih
Tulang ini sering terdapat di tengkorak, panggul / koxa, sternum, dan iga-
iga, serta scapula (tulang belikat). Fungsinya sebagai pelindung organ vital dan
menyediakan permukaan luas untuk kaitan otot-otot, merupakan tempat penting
untuk hematopoesis. Tulang pipih tersusun dari tulang kanselus diantara 2
tulang kortikal.
4. Tulang Tak Beraturan
Berbentuk unik sesuai dengan fungsinya. Struktur tulang tidak teratur,
terdiri dari tulang kanselous di antara tulang kortikal. Contoh: tulang vertebra,
dan tulang wajah.
5. Tulang Sesamoid
Merupakan tulang kecil disekitar tulang yang berdekatan dengan persendian
dan didukung oleh tendon dan jaringan fasial. Contoh: tulang patella (Kap
lutut). Bentuk dan kontruksi tulang ditentukan fungsi dan gaya yang bekerja
padanya. Kerangka sebagian besar tersusun atas tulang. Kerangka tulang
merupakan kerangka yang kuat untuk menyangga struktur tubuh. Kerangka
dibagi menjadi:
1. Kerangka aksial
Kerangka aksial terdiri dari 80 tulang, terkelompok pada 3 daerah yaitu:
a. Kranium dan Tulang Muka (TENGKORAK)
Kranium terdiri atas 8 tulang yaitu tulang-tulang parietal (2), temporal (2),
frontal, oksipital, stenoid, dan etmoid. Tulang muka terdiri atas 14 tulang yaitu
tulang maksila (2), zigomatikus (2), nasal (2), lakrimal (2), palatinum (2),
concha inferior (2), mandibula dan vomer.

6
b. Kolumna Vertebralis
Kolumna vertebralis terdiri atas 26 tulang berbentuk tidak teratur,
terbentang antara tengkorak dan pelvis. Juga merupakan tempat melekatnya iga
dan otot punggung. Kolumna vertebralis dibagi dalam 7 vertebra sevikalis, 12
vertebra torakalis, 5 vertebra lumbalis, 5 vertebra sacrum dan 4 vertebra
koksigius.

c. Thoraks tulang
Thorak tulang terdiri tulang dan tulang rawan. Thoraks berupa sebuah
rongga berbentuk kerucut terdiri dari 12 vertebra torakalis dan 12 pasang iga
yang melingkar dari tulang belakang sampai ke sternum. Pada sternum terdapat
beberapa titik penting yaitu supra sternal notch dan angulus sterni yaitu tempat
bertemunya manubrium dan korpus sterni. Bagian-bagian tersebut merupakan
penunjang kepala, leher, dan badan serta melindungi otak, medulla spinalis dan
organ dalam thoraks.

7
d. Kerangka Apendikular
Kerangka apindikuler terdiri atas:
1) Bagian bahu (Singulum membri superioris)
Singulum membri superior terdiri atas klavikula dan scapula. Klavikula.
mempunyai ujung medial yang menempel pada menubrium dekat suprasternal
notch dan ujung lateral yang menempel pada akronion.
2) Bagian panggul (Singulum membri inferior)
Terdiri dari ileum, iskium, pubis yang bersatu disebut tulang koksae. Tulang
koksae bersama sacrum dan koksigeus membentuk pelvis tulang. Ekstremitas
bawah terdiri dari femur, patella, tibia, fibula, tarsus, metatarsus.

2. Cartilago (tulang rawan)


Tulang rawan terdiri dari serat-serat yang dilekatkan pada gelatin kuat,
tetapi fleksible dan tidak bervasculer. Nutrisi melaui proses difusi gel perekat
sampai ke kartilago yang berada pada perichondium (serabut yang membentuk
kartilago melalui cairan sinovial), jumlah serabut collagen yang ada di cartilage

8
menentukan bentuk fibrous, hyaline, elastisitas, fibrous (fibrocartilago) memili
paling banyak serabut dan memiliki kekuatan meregang. Fibrus cartilage
menyusun discus intervertebralis articular (hyaline) cartilage halus, putih,
mengkilap, dan kenyal membungkus permukaan persendian dari tulang dan
berfungsi sebagai bantalan. Cartilage yang elastis memiliki sedikit serat dan
terdapat pada telinga bagian luar.

3. Ligamen (simplay)
Ligamen adalah suatu susunan serabut yang terdiri dari jaringan ikat
keadaannya kenyal dan fleksibel. Ligament mempertemukan kedua ujung
tulang dan mempertahankan stabilitas. Contoh ligamen medial, lateral,
collateral dari lutut yang mempertahankan diolateral dari sendi lutut serta
ligament cruciate anterior dan posterior di dalam kapsul lutut yang
mempertahankan posisi anteriorposterior yang stabil. Ligament pada daerah

9
tertentu melengket pada jaringna lunak untuk mempertahankan struktur. Contoh
ligament ovarium yang melalui ujung tuba ke peritoneum.

4. Tendon
Tendon adalah ikatan jaringan fibrous yang padat yang merupakan ujung
dari otot yang menempel pada tulang. Tendon merupakan ujung dari otot dan
menempel kepada tulang. Tendon merupakan ekstensi dari serabut fibrous yang
bersambungan dengan aperiosteum. Selaput tendon berbentuk selubung dari
jaringan ikat yang menyelubungi tendon tertentu terutama pada pergelangan
tangan dan tumit. Selubung ini bersambungn dengan membrane sinovial yang
menjamin pelumasan sehinggga mudah bergerak.
5. Fascia
Fascia adalah suatu permukan jaringan penyambung longgar yang
didapatkan langsung di bawah kulit, sebagai fascia superficial atau sebagai
pembungkus tebal, jaringan penyambung fibrous yang membungkus otot, saraf
dan pembuluh darah. Yang demikian disebut fascia dalam.
6. Bursae
Bursae adalah kantong kecil dari jaringna ikat di suatu tempat dimana
digunakan di atas bagian yang bergerak. Misalnya antara tulang dan kulit, tulang
dan tendon, otot-otot. Bursae dibatasi membrane sinovial dan mengandung
caiaran sinovial. Bursae merupakan bantalan diantara bagian-bagian yang
bergerak seperti olekranon bursae terletak antara prosesus olekranon dan kulit.
7. Persendian

10
Sendi adalah tempat pertemuan dua atau lebih tulang. Tulang-tulang ini
dipadukan dengan berbagai cara misalnya dengan kapsul sendi, pita fibrosa,
ligamen, tendon, fasia atau otot.
Dalam membentuk rangka tubuh, tulang yang satu berhubungan dengan
tulang yang lain melalui jaringan penyambung yang disebut persendian. Pada
persendian terdapat cairan pelumas (cairan sinofial). Otot yang melekat pada
tulang oleh jaringan ikat disebut tendon. Sedangkan, jaringan yang
menghubungkan tulang dengan tulang disebut ligamen.
Secara structural sendi dibagi menjadi: sendi fibrosa, kartilaginosa, sinovial.
Dan berdasarkan fungsionalnya sendi dibagi menjadi: sendi sinartrosis,
amfiartrosis, diarthroses.
a. Sendi Fibrosa/ Sinartrosis
Sendi yang tidak dapat bergerak atau merekat ikat, maka tidak mungkin
gerakan antara tulang-tulangnya. Sendi fibrosa tidak mempunyai lapisan tulang
rawan dan tulang yang satu dengan lainnya dihubungkan oleh jaringan
penyambung fibrosa. contohnya sutura pada tulang tengkorak, sendi kaitan dan
sendi kantong (gigi), dan sindesmosis (permukaan sendi dihubungkan oleh
membran).

b. Sendi Kartilaginosa/ Amfiartrosis


Sendi dengan gerakan sedikit, dan permukaan persendian- persendiannya
dipisahkan oleh bahan antara dan hanya mungkin sedikit gerakan. Sendi
tersebut ujung-ujung tulangnya dibungkus tulang rawan hyalin, disokong oleh
ligament dan hanya dapat sedikit bergerak. Ada dua tipe kartilago:

11
1) Sinkondrosis
Sendi yang seluruh persendianyan diliputi oleh tulang rawan hialin
2) Simfisis
Sendi yang tulangnya memiliki hubungan fibrokartilago dan selapis tipis
tulang rawan hialin yang menyelimuti permukaan sendi. Contohnya: simfisis
pubis (bantalan tulang rawan yang mempersatukan kedua tulang pubis), sendi
antara manubrium dan badan sternum, dan sendi temporer/sendi tulang rawan
primer yang dijumpai antara diafisis dan epifisis.

c. Sendi Sinovial/ Diarthroses


Sendi tubuh yang dapat digerakkan. Sendi ini memiliki rongga sendi dan
permukaan sendi dilapisi tulang rawan hialin. Kapsul sendi terdiri dari suatu
selaput penutup fibrosa padat, suatu lapisan dalam yang terbentuk dari jaringan
penyambung berpembuluh darah banyak dan sinovium yang membentuk suatu
kantong yang melapisi suatu sendi dan membungkus tendon-tendo yang
melintasi sendi. Sinovium menghasilkan cairan yang sangat kental yang
membasahi permukaan sendi. Caiaran sinovial normalnya bening, tidak
membeku dan tidak berwarana. Jumlah yang ditemukan pada tiap-tiap sendi
relative kecil 1-3 ml. Cairan sinovial bertindak pula juga sebagi sumber nutrisi
bagi tulang rawan sendi.
Tulang rawan memegang peranana penting, dalam membagi organ tubuh.
Tulang rawan sendi terdi dari substansi dasar yang terdiri dari kolagen tipe II
dan proteoglikan yang dihasilkan oleh sel-sel tulang rawan. Proteoglikan yang
ditemukan pada tulang rawan sendi sangat hidrofilik, sehingga memungkinkan
rawan tersebut mampu menahan kerusakan sewaktu sendi menerima beban
berat. Perubahan susunan kolagen dan pembentukan proteoglikan dapat terjadi
setelah cedera atau ketika usia bertambah.

12
Persendian yang bergerak bebas dan banyak ragamnya. Berbagai jenis sendi
sinovial yaitu sendi datar/sendi geser, sendi putar, sendi engsel, sendi kondiloid,
sendi berporos, dan sendi pelana/sendi timbal balik. Gerak pada sendi ada 3
kelompok utama yaitu gerakan meluncur, gerkan bersudut/anguler, dan gerakan
rotasi.
Adapun pergerakan yang dapat dilakukan oleh sendi-sendi adalah fleksi,
ekstensi, adduksi, abduksi, rotasi, sirkumduksi dan Pergerakan khusus seperti
supinasi, pronasi, inversion, eversio, protaksio. Sendi diartrosis terdiri dari:
1) Sendi peluru
Sendi peluru adalah persendian yang memungkinkan gerakan yang lebih
bebas. Sendi ini terjadi apabila ujung tulang yang satu berbentuk bonggol,
seperti peluru masuk ke ujung tulang lain yang berbentuk cekungan. Contoh
sendi peluru adalah hubungan tulang panggul dengan tulang paha, dan tulang
belikat dengan tulang atas.

2) Sendi engsel
Memungkinkan gerakan melipat hanya satu arah, Persendian yang
menyebabkan gerakan satu arah karena berporos satu disebut sendi engsel.
Contoh sendi engsel ialah hubungan tulang pada siku, lutut, dan jari-jari.

13
3) Sendi pelana
Sendi pelana adalah persendian yang membentuk sendi, seperti pelana, dan
berporos dua. Contohnya, terdapat pada ibu jari dan pergelangan tangan
Memungkinkan gerakan 2 bidang yang saling tegak lurus. misal persendian
dasar ibu jari yang merupakan sendi pelana 2 sumbu.

4) Sendi pivot
Memungkinkan rotasi untuk melakukan aktivitas untuk memutar pegangan
pintu, misal persendian antara radius dan ulna.
5) Sendi peluncur
Memungkinkan gerakan terbatas kesemua arah. Contoh adalah sendi-sendi
tulang karpalia di pergelangan tangann.

14
8. Jaringan Penyambung
Jaringan yang ditemukan pada sendi dan daerah-daerah yang berdekatan
terutama adalah jaringan penyambung, yang tersususn dari sel-sel dan subtansi
dasar. Dua macam sel yang ditemukan pada jaringan penyambung sel-sel yang
tidak dibuat dan tetap berada pada jaringan penyambung, seperti sel mast, sel
plasma, limfosit, monosit, leukosit polimorfonuklear. Sel-sel ini memegang
peranan penting pada reaksi-reaksi imunitas dan peradangan yang terlihat pada
penyakit-penyakit reumatik. Jenis sel yang kedua dalam sel penyambung ini
adalah sel yang tetap berada dalam jaringan seperti fibroblast, kondrosit,
osteoblas. Sel-sel ini mensintesis berbagai macam serat dan proteoglikan dari
substansi dasar dan membuat tiap jenis jaringan pemyambung memiliki susunan
sel yang tersendiri.
Serat-serat yang didapatkan didalam substansi dasar adalah kolagen dan
elastin. Serat-serat elastin memiliki sifat elastis yang penting. Serat ini didapat
dalam ligament, dinding pembuluh darah besar dan kulit. Elastin dipecah oleh
enzim yang disebut elastase.
9. Otot
Otot yang melekat pada tulang memungkinkan tubuh bergerak. Kontraksi
otot menghasilkan suatu usaha mekanik untuk gerakan maupun produksi panas
untuk mempertahankan temperature tubuh. Jaringan otot terdiri atas semua
jaringan kontraktil. Menurut fungsi kontraksi dan hasil gerakan dari seluruh
bagian tubuh otot dikelompokkan dalam :
a. Otot rangka (striadted / otot lurik).
Terdapat pada system skelet, memberikan pengontrolan pergerakan,
mempertahankan postur tubuh dan menghasilkan panas.
b. Otot polos (otot visceral).
Terdapat pada saluran pencernaan, perkemihan, pembuluh darah. Otot ini
mendapat rangsang dari saraf otonom yang berkontraksi di luar kesadaran Otot
jantung.
Hanya terdapat pada jantung dan berkontraksi di luar pengendalian. Otot
rangka dinamai menurut bentuknya seperti deltoid, menurut jurusan serabutnya

15
seperti rektus abdominis, menurut kedudukan ototnya seperti pektoralis mayor,
menurut fungsinya seperti fleksor dan ekstensor.
Otot rangka ada yang berukuran panjang, lebar, rata, membentuk gumpalan
masas. Otot rangka berkontraksi bila ada rangsang. Energi kontaraksi otot
diperoleh melalui pemecahan ATP dan kegiatan calsium.
Otot dikaitkan di dua tempat tertentu yaitu:
1) Origo
Tempat yang kuat dianggap sebagai tempat dimana otot timbul
2) Isersio
Lebih dapat bergerak dimana tempat kearah mana otot berjalan.

Kontraksi otot rangka dapat terjadi hanya jika dirangsang. Energi kontraksi
otot dipenuhi dari pemecahan ATP dan kegiatan kalsium. Serat-serat dengan
oksigenasi secara adekuat dapat berkontraksi lebih kuat, bila dibandingkan
dengan oksigenasi tidak adekuat. Pergerakan akibat tarikan otot pada tulang
yang berperan sebagai pengungkit dan sendi berperan sebagai tumpuan atau
penopang.
Masalah yang berhubungan dengan system ini mengenai semua kelompok
usia, masalah pada system musculoskeletal tidak mengancam jiwa tetapi
berdampak pada kativitas dan produktivitas penderita.
E. GANGGUAN SISTEM MUSKULOSKELETAL
1. Osteoporosis

Osteoporosis adalah kondisi di mana tulang menjadi rapuh dan berpori,


menyebabkan penurunan kepadatan tulang dan meningkatkan risiko patah
tulang. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan antara proses pembentukan
dan penghancuran tulang.

a. Tanda-Tanda Osteoporosis
1) Penurunan tinggi badan: Penurunan tinggi badan lebih dari 2-3 cm dalam
beberapa tahun.
2) Kubung tulang belakang: Perubahan bentuk tulang belakang yang
menyebabkan postur tubuh menjadi bungkuk.

16
3) Patah tulang: Patah tulang yang tidak biasa, seperti patah tulang pinggul,
pergelangan tangan, atau tulang belakang.
4) Nyeri punggung: Nyeri punggung yang berkepanjangan.

b. Gejala Osteoporosis
1) Nyeri tulang: Nyeri pada tulang belakang, pinggul, atau pergelangan tangan.
2) Kesulitan berjalan: Kesulitan berjalan atau berdiri.
3) Kesulitan melakukan aktivitas: Kesulitan melakukan aktivitas sehari-hari.
4) Patah tulang spontan: Patah tulang tanpa sebab yang jelas.
5) Perubahan postur: Perubahan postur tubuh, seperti bungkuk atau kubung.
6) Kesulitan mengangkat barang: Kesulitan mengangkat barang atau
melakukan aktivitas fisik.

c. Faktor Risiko Osteoporosis


1) Usia: Risiko osteoporosis meningkat dengan bertambahnya usia.
2) Jenis kelamin: Wanita lebih rentan terkena osteoporosis daripada pria.
3) Genetik: Riwayat keluarga dengan osteoporosis.
4) Gaya hidup: Kurangnya aktivitas fisik, merokok, dan konsumsi alkohol.
5) Kekurangan nutrisi: Kekurangan kalsium dan vitamin D.

d. Diagnosis Osteoporosis
1) Pemeriksaan densitometri tulang: Mengukur kepadatan tulang.
2) Rontgen: Mengidentifikasi patah tulang atau perubahan bentuk tulang.
3) Pemeriksaan darah: Mengukur kadar kalsium dan vitamin D.
4) Pemeriksaan urin: Mengukur kadar kalsium dan fosfat.

e. Pengobatan Osteoporosis
1) Terapi hormon: Menggantikan hormon yang hilang.
2) Suplemen kalsium dan vitamin D: Meningkatkan kepadatan tulang.
3) Obat anti-resorpsi: Menghambat proses penghancuran tulang.
4) Terapi fisik: Meningkatkan kekuatan otot dan fleksibilitas.

17
5) Perubahan gaya hidup: Menghentikan merokok, mengurangi konsumsi
alkohol, dan meningkatkan aktivitas fisik.
2. Arthritis

Arthritis berasal dari kata "arthron" (sendi) dan "itis" (peradangan).


Penyakit ini menyebabkan peradangan pada sendi, tulang rawan, dan jaringan
ikat yang menghubungkan tulang.

a. Jenis Arthritis
1) Osteoarthritis (OA): Disebabkan oleh keausan tulang rawan dan kartilago.
2) Rheumatoid Arthritis (RA): Autoimun yang menyebabkan peradangan pada
sendi.
3) Psoriatic Arthritis (PsA): Hubungan dengan psoriasis.
4) Gout: Disebabkan oleh penumpukan asam urat.
5) Lupus: Autoimun yang mempengaruhi berbagai bagian tubuh.

b. Tanda dan Gejala Arthritis


1) Nyeri sendi: Nyeri yang berkepanjangan atau berulang.
2) Kekakuan: Kesulitan menggerakkan sendi.
3) Pembengkakan: Pembengkakan pada sendi.
4) Kemerahan: Kemerahan pada kulit sekitar sendi.
5) Demam: Demam ringan.
6) Kelelahan: Kelelahan dan kekurangan energi.
7) Kesulitan berjalan: Kesulitan berjalan atau melakukan aktivitas.
8) Klik atau krepitasi: Suara klik atau krepitasi saat menggerakkan sendi.

c. Gejala Spesifik
1) OA: Nyeri pada pagi hari, kekakuan, dan kesulitan menggerakkan sendi.
2) RA: Nyeri pada beberapa sendi, kekakuan, dan demam.
3) PsA: Nyeri pada sendi, kulit merah, dan psoriasis.
4) Gout: Nyeri hebat pada satu sendi, biasanya jempol kaki.

d. Faktor Risiko
1) Usia: Risiko meningkat dengan bertambahnya usia.
18
2) Jenis kelamin: Wanita lebih rentan terkena RA.
3) Genetik: Riwayat keluarga dengan arthritis.
4) Gaya hidup: Kurangnya aktivitas fisik dan kelebihan berat badan.
5) Cedera: Cedera sendi dapat memicu OA.

e. Diagnosis
1) Pemeriksaan fisik: Dokter memeriksa sendi dan gerakan.
2) Rontgen: Mengidentifikasi perubahan pada tulang dan sendi.
3) MRI: Mengidentifikasi perubahan pada jaringan ikat.
4) Tes darah: Mengukur kadar asam urat dan faktor inflamasi.
5) Biopsi: Mengambil sampel jaringan untuk pemeriksaan.

f. Pengobatan
1) Obat anti-inflamasi: Mengurangi nyeri dan peradangan.
2) Obat penghambat: Menghambat proses peradangan.
3) Terapi fisik: Meningkatkan kekuatan otot dan fleksibilitas.
4) Perubahan gaya hidup: Menghentikan merokok, mengurangi konsumsi
alkohol, dan meningkatkan aktivitas fisik.
5) Pembedahan: Diperlukan dalam kasus yang parah.
3. Cedera Otot

Cedera otot adalah kerusakan pada jaringan otot yang disebabkan oleh
tarikan, tegangan, atau robekan. Cedera ini umumnya terjadi pada atlet, pekerja
manual, dan orang yang melakukan aktivitas fisik berat.

a. Jenis Cedera Otot


1) Cedera otot ringan (Grade 1): Kerusakan minor pada serat otot.
2) Cedera otot sedang (Grade 2): Kerusakan moderat pada serat otot.
3) Cedera otot berat (Grade 3): Kerusakan parah pada serat otot atau robekan
otot.

b. Tanda dan Gejala Cedera Otot


1) Nyeri atau sakit pada otot yang cedera
2) Pembengkakan atau peradangan
19
3) Kekakuan atau kelemahan otot
4) Kesulitan menggerakkan otot
5) Kemerahan atau memar
6) Suara "pop" atau "klik" saat cedera
7) Kesulitan berjalan atau berlari
8) Kelelahan atau kekurangan energi

c. Gejala Spesifik
1) Cedera otot paha: Nyeri pada paha, kesulitan berjalan.
2) Cedera otot betis: Nyeri pada betis, kesulitan berlari.
3) Cedera otot bahu: Nyeri pada bahu, kesulitan mengangkat tangan.

d. Faktor Risiko
1) Kurangnya peregangan sebelum aktivitas
2) Kelebihan beban atau tarikan
3) Cedera sebelumnya
4) Kurangnya istirahat
5) Gaya hidup tidak seimbang

e. Diagnosis
1) Pemeriksaan fisik oleh dokter
2) Rontgen untuk memastikan tidak ada patah tulang
3) MRI untuk memeriksa kerusakan otot
4) Tes darah untuk memeriksa peradangan

f. Pengobatan
1) Istirahat dan menghindari aktivitas yang memperburuk cedera
2) Terapi fisik untuk meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas
3) Obat anti-inflamasi untuk mengurangi nyeri dan peradangan
4) Peregangan dan latihan untuk memperkuat otot
5) Operasi dalam kasus cedera parah

20
g. Perawatan Rumah
1) Menggunakan es untuk mengurangi peradangan
2) Menggunakan kompresi untuk mengurangi pembengkakan
3) Menggunakan perban untuk mendukung otot
4) Mengonsumsi obat anti-inflamasi
5) Beristirahat dan menghindari aktivitas yang memperburuk cedera
4. Skoliosis

Skoliosis adalah kondisi yang disebabkan oleh kombinasi faktor genetik,


hormonal, dan lingkungan. Skoliosis dapat terjadi pada siapa saja, tetapi lebih
umum pada remaja dan dewasa muda.

a. Jenis Skoliosis
1) Skoliosis idiopatik (80% kasus): Tidak diketahui penyebabnya.
2) Skoliosis kongenital: Disebabkan oleh kelainan tulang belakang saat lahir.
3) Skoliosis neuromuskuler: Disebabkan oleh kondisi neurologis atau otot.
4) Skoliosis degeneratif: Disebabkan oleh degenerasi tulang belakang.

b. Tanda dan Gejala Skoliosis


1) Lengkungan tulang belakang yang tidak normal
2) Bahu atau pinggul yang tidak seimbang
3) Kepala yang miring
4) Nyeri punggung atau leher
5) Kesulitan berdiri atau berjalan
6) Kesulitan bernapas (pada kasus parah)
7) Perubahan postur tubuh
8) Kekakuan atau kelemahan otot

c. Gejala Spesifik
1) Skoliosis ringan: Tidak ada gejala yang signifikan.
2) Skoliosis sedang: Nyeri punggung dan kesulitan bergerak.
3) Skoliosis berat: Nyeri hebat, kesulitan bernapas, dan perubahan postur
tubuh.

21
d. Faktor Risiko
1) Usia (remaja dan dewasa muda)
2) Jenis kelamin (wanita lebih rentan)
3) Riwayat keluarga
4) Kondisi medis lainnya (misalnya, cerebral palsy)
5) Kurangnya aktivitas fisik

e. Diagnosis
1) Pemeriksaan fisik oleh dokter
2) Rontgen untuk memeriksa lengkungan tulang belakang
3) MRI untuk memeriksa kondisi saraf dan otot
4) CT scan untuk memeriksa kondisi tulang

f. Pengobatan
1) Pengawasan: Memantau perkembangan skoliosis.
2) Terapi fisik: Meningkatkan kekuatan dan fleksibilitas otot.
3) Penyokong: Menggunakan perangkat penyokong untuk membantu postur
tubuh.
4) Operasi: Memperbaiki lengkungan tulang belakang.
5) Terapi konservatif: Menggunakan kombinasi terapi fisik, penyokong, dan
pengawasan.

g. Perawatan Rumah
1) Berolahraga secara teratur
2) Menggunakan perangkat penyokong
3) Menghindari aktivitas yang memperburuk kondisi
4) Mengonsumsi obat anti-nyeri
5) Mengikuti saran dokter

22
SISTEM INTEGUMEN

A. DEFINISI

Seluruh tubuh manusia bagian terluar terbungkus oleh suatu sistem yang
disebut sebagai sistem integumen. Sistem integumen adalah sistem organ yang
paling luar. Sistem ini terdiri atas kulit dan aksesorisnya, termasuk kuku,
rambut, kelenjar (keringat dan sebaseous), dan reseptor saraf khusus (untuk
stimuli perubahan internal atau lingkungan eksternal). Integumen merupakan
kata yang berasal dari bahasa Latin “integumentum“, yang berarti “penutup”.
Sesuai dengan fungsinya, organ-organ pada sistem integumen berfungsi
menutup organ atau jaringan dalam manusia dari kontak luar.
Sistem Integumen pada manusia terdiri dari kulit, kuku, rambut, kelenjar
keringat, kelenjar minyak dan kelenjar susu. Sistem integumen mampu
memperbaiki sendiri (self-repairing) & mekanisme pertahanan tubuh pertama
(pembatas antara lingkungan luar tubuh dengan dalam tubuh).
Kulit merupakan organ tubuh yang paling luas yang berkontribusi terhadap
total berat tubuh sebanyak 7 %. Keberadaan kulit memegang peranan penting
dalam mencegah terjadinya kehilangan cairan yang berlebihan, dan mencegah
masuknya agen-agen yang ada di lingkungan seperti bakteri, kimia dan radiasi
ultraviolet. Kulit juga akan menahan bila terjadi kekuatan-kekuatan mekanik
seperti gesekan (friction), getaran (vibration) dan mendeteksi perubahan-
perubahan fisik di lingkungan luar, sehingga memungkinkan seseorang untuk
menghindari stimuli-stimuli yang tidak nyaman. Kulit membangun sebuah
barier yang memisahkan organ-organ internal dengan lingkungan luar, dan turut
berpartisipasi dalam berbagai fungsi tubuh vital.
B. PENYEBAB
1. Faktor Genetik
a. Genetik: Faktor genetik memainkan peran penting dalam pembentukan
sistem integumen.
b. Kromosom: Kromosom yang membawa gen-gen yang terkait dengan
pembentukan sistem integumen.

2. Faktor Embriogenesis
23
a. Pembentukan lapisan ectoderm: Lapisan ectoderm yang terbentuk selama
embriogenesis akan berkembang menjadi kulit dan struktur-struktur
lainnya.
b. Pembentukan lapisan mesoderm: Lapisan mesoderm yang terbentuk selama
embriogenesis akan berkembang menjadi jaringan ikat dan pembuluh darah.

3. Faktor Hormonal
a. Hormon thyroxine: Hormon thyroxine yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid
memainkan peran penting dalam pembentukan sistem integumen.
b. Hormon insulin-like growth factor (IGF): Hormon IGF memainkan peran
penting dalam pembentukan sistem integumen.

4. Faktor Lingkungan
a. Nutrisi: Nutrisi yang adekuat sangat penting untuk pembentukan sistem
integumen.
b. Faktor lingkungan lainnya: Faktor lingkungan lainnya seperti suhu,
kelembaban, dan paparan sinar UV juga dapat mempengaruhi pembentukan
sistem integumen.

5. Faktor Lainnya
a. Faktor genetik: Faktor genetik memainkan peran penting dalam
pembentukan sistem integumen.
b. Faktor epigenetik: Faktor epigenetik juga dapat mempengaruhi
pembentukan sistem integumen.
C. TANDA DAN GEJALA
1. Tanda-Tanda
a. Perubahan warna kulit: Perubahan warna kulit dapat menjadi tanda adanya
gangguan pada sistem integumen, seperti kulit yang menjadi merah, biru,
atau kehitaman.
b. Kerusakan kulit: Kerusakan kulit dapat menjadi tanda adanya gangguan
pada sistem integumen, seperti luka, lecet, atau kulit yang terkelupas.

24
c. Pengelupasan kulit: Pengelupasan kulit dapat menjadi tanda adanya
gangguan pada sistem integumen, seperti kulit yang terkelupas atau
berkerak.
d. Perubahan tekstur kulit: Perubahan tekstur kulit dapat menjadi tanda adanya
gangguan pada sistem integumen, seperti kulit yang menjadi kering, kasar,
atau berminyak.
e. Rambut rontok: Rambut rontok dapat menjadi tanda adanya gangguan pada
sistem integumen, seperti rambut yang rontok secara berlebihan atau rambut
yang menjadi tipis.

2. Gejala
a. Nyeri kulit: Nyeri kulit dapat menjadi gejala adanya gangguan pada sistem
integumen, seperti nyeri yang terjadi saat menyentuh kulit atau nyeri yang
terjadi secara spontan.
b. Gatal-gatal: Gatal-gatal dapat menjadi gejala adanya gangguan pada sistem
integumen, seperti gatal-gatal yang terjadi pada kulit atau gatal-gatal yang
terjadi pada rambut.
c. Kulit kering: Kulit kering dapat menjadi gejala adanya gangguan pada
sistem integumen, seperti kulit yang menjadi kering, kasar, atau berkerak.
d. Infeksi kulit: Infeksi kulit dapat menjadi gejala adanya gangguan pada
sistem integumen, seperti infeksi yang terjadi pada kulit atau infeksi yang
terjadi pada rambut.
e. Kerusakan kuku: Kerusakan kuku dapat menjadi gejala adanya gangguan
pada sistem integumen, seperti kuku yang menjadi rapuh, berwarna kuning,
atau berbentuk tidak normal.
D. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM INTEGUMEN

Kulit tersusun atas tiga lapisan, yaitu:


1. Epidermis
Epidermis berasal dari ektoderm, terdiri dari beberapa lapis (multilayer).
Epidermis sering kita sebut sebagai kuit [Link] merupakan lapisan
teratas pada kulit manusia dan memiliki tebal yang berbeda-beda: 400-600 μm
untuk kulit tebal (kulit pada telapak tangan dan kaki) dan 75-150 μm untuk kulit

25
tipis (kulit selain telapak tangan dan kaki, memiliki rambut). Selain sel-sel
epitel, epidermis juga tersusun atas lapisan:
a. Melanosit, yaitu sel yang menghasilkan melanin melalui proses
melanogenesis. Melanosit (sel pigmen) terdapat di bagian dasar epidermis.
Melanosit menyintesis dan mengeluarkan melanin sebagai respons terhadap
rangsangan hormon hipofisis anterior, hormon perangsang melanosit
(melanocyte stimulating hormone, MSH). Melanosit merupakan sel-sel
khusus epidermis yang terutama terlibat dalam produksi pigmen melanin
yang mewarnai kulit dan rambut. Semakin banyak melanin, semakin gelap
warnanya. Sebagian besar orang yang berkulit gelap dan bagian-bagian kulit
yang berwarna gelap pada orang yang berkulit cerah (misal puting susu)
mengandung pigmen ini dalam jumlah yang lebih banyak. Warna kulit yang
normal bergantung pada ras dan bervariasi dari merah muda yang cerah
hingga cokelat. Penyakit sistemik juga akan memengaruhi warna kulit.
Sebagai contoh, kulit akan tampak kebiruan bila terjadi inflamasi atau
demam. Melanin diyakini dapat menyerap cahaya ultraviolet dan demikian
akan melindungi seseorang terhadap efek pancaran cahaya ultraviolet dalam
sinar matahari yang berbahaya.
b. Sel Langerhans, yaitu sel yang merupakan makrofag turunan sumsum
tulang, yang merangsang sel Limfosit T, mengikat, mengolah, dan
merepresentasikan antigen kepada sel Limfosit T. Dengan demikian, sel
Langerhans berperan penting dalam imunologi [Link]-sel imun yang
disebut sel Langerhans terdapat di seluruh epidermis. Sel Langerhans
mengenali partikel asing atau mikroorganisme yang masuk ke kulit dan
membangkitkan suatu serangan imun. Sel Langerhans mungkin
bertanggungjawab mengenal dan menyingkirkan sel-sel kulit displastik dan
neoplastik. Sel Langerhans secara fisik berhubungan dengan saraf-sarah
simpatis, yang mengisyaratkan adanya hubungan antara sistem saraf dan
kemampuan kulit melawan infeksi atau mencegah kanker kulit. Stres dapat
memengaruhi fungsi sel Langerhans dengan meningkatkan rangsang
simpatis. Radiasi ultraviolet dapat merusak sel Langerhans, mengurangi
kemampuannya mencegah kanker.

26
c. Sel Merkel, yaitu sel yang berfungsi sebagai mekanoreseptor sensoris dan
berhubungan fungsi dengan sistem neuroendokrin difus.
d. Keratinosit, lapisan eksternal kulit tersusun atas keratinosit (zat tanduk) dan
lapisan ini akan berganti setiap 3-4 minggu sekali. Keratinosit yang secara
bersusun dari lapisan paling luar hingga paling dalam sebagai berikut:
1) Stratum Korneum, terdiri atas 15-20 lapis sel gepeng, tanpa inti dengan
sitoplasma yang dipenuhi keratin. Lapisan ini merupakan lapisan terluar
dimana eleidin berubah menjadi keratin yang tersusun tidak teratur
sedangkan serabut elastis dan retikulernya lebih sedikit sel-sel saling
melekat [Link] tebal pada area-area yang banyak terjadi gesekan
(friction) dengan permukaan luar, terutama pada tangan dan kaki. Juga
merupakan lapisan keratinosit terluar yang tersusun atas beberapa lapis sel-
sel gepeng yang mati dan tidak berinti.
2) Stratum Lucidum, tidak jelas terlihat dan bila terlihat berupa lapisan tipis
yang homogen, terang jernih, inti dan batas sel tak terlihat. Stratum lucidum
terdiri dari protein [Link] lapisan sel gepeng yang tidak berinti
dan lapisan ini banyak terdapat pada telapak tangan dan kaki.
3) Stratum Granulosum, terdiri atas 2-4lapis sel poligonal gepeng yang
sitoplasmanya berisikan granul keratohialin. Pada membran sel terdapat
granula lamela yang mengeluarkan materi perekat antar sel, yang bekerja
sebagai penyaring selektif terhadap masuknya materi asing, serta
menyediakan efek pelindung pada kulit.2/3 lapisan ini merupakan lapisan
gepeng, dimana sitoplasma berbutir kasar serta mukosa tidak punya lapisan
inti.
4) Stratum Spinosum,tersusun dari beberapa lapis sel di atas stratum basale.
Sel pada lapisan ini berbentuk polihedris dengan inti bulat/lonjong. Pada
sajian mikroskop tampak mempunyai tonjolan sehingga tampak seperti duri
yang disebut spinadan terlihat saling berhubungan dan di dalamnya terdapat
fibril [Link]-sel spinosum saling terikat dengan
filamen; filamen ini memiliki fungsi untuk mempertahankan kohesivitas
(kerekatan) antar sel dan melawan efek abrasi. Dengan demikian, sel-sel

27
spinosum ini banyak terdapat di daerah yang berpotensi mengalami gesekan
seperti telapak kaki.
5) Stratum Basal/Germinativum, merupakan lapisan paling bawah pada
epidermis, tersusun dari selapis sel-sel pigmen basal, berbentuk silindris dan
dalam sitoplasmanya terdapat [Link] lapisan basile ini terdapat sel-
sel mitosis.

Gambar 1. Struktur Epidermis

2. Dermis
Merupakan bagian yang paling penting di kulit yang sering dianggap
sebagai “True Skin” karena 95% dermis membentuk ketebalan kulit. Terdiri
atas jaringan ikat yang menyokong epidermis dan menghubungkannya dengan
jaringan subkutis. Tebalnya bervariasi, yang paling tebal pada telapak kaki
sekitar 3 [Link] jangat atau dermis menjadi tempat ujung saraf perasa,
tempat keberadaan kandung rambut, kelenjar keringat, kelenjar-kelenjar palit
atau kelenjar minyak, pembuluh-pembuluh darah dan getah bening, dan otot
penegak rambut (muskulus arektor pili). Lapisan ini elastis dan tahan lama,
berisi jaringan kompleks ujung-ujung syaraf, kelenjar sudorifera, kelenjar.
Sebasea, folikel jaringan rambut dan pembuluh darah yang juga merupakan
penyedia nutrisi bagi lapisan dalam epidermis.
Dermis atau cutan (cutaneus), yaitu lapisan kulit di bawah epidermis.
Penyusun utama dari dermis adalah kolagen. Membentuk bagian terbesar kulit
dengan memberikan kekuatan dan struktur pada kulit, memiliki ketebalan yang
bervariasi bergantung pada daerah tubuh dan mencapai maksimum 4 mm di

28
daerah punggung. Dermis terdiri atas dua lapisan dengan batas yang tidak nyata,
yaitu stratum papilare dan stratum reticular.
a. Stratum papilare, yang merupakan bagian utama dari papila dermis, terdiri
atas jaringan ikat longgar. Pada stratum ini didapati fibroblast, sel mast,
makrofag, dan leukosit yang keluar dari pembuluh (ekstravasasi). Lapisan
papila dermis berada langsung di bawah epidermis tersusun terutama dari
sel-sel fibroblas yang dapat menghasilkan salah satu bentuk kolagen, yaitu
suatu komponen dari jaringan ikat. Dermis juga tersusun dari pembuluh
darah dan limfe, serabut saraf , kelenjar keringat dan sebasea, serta akar
rambut. Suatu bahan mirip gel, asam hialuronat, disekresikan oleh sel-sel
jaringan ikat. Bahan ini mengelilingi protein dan menyebabkan kulit
menjadi elastis dan memiliki turgor (tegangan). Pada seluruh dermis
dijumpai pembuluh darah, saraf sensorik dan simpatis, pembuluh limfe,
folikel rambut, serta kelenjar keringat dan palit. Lapisan ini tipis
mengandung jaringan ikat jarang.
b. Stratum retikulare, yang lebih tebal dari stratum papilare dan tersusun atas
jaringan ikat padat tak teratur. Terdiri atas serabut-serabut penunjang
(kolagen, elastin, retikulin), matiks (cairan kental asam hialuronat dan
kondroitin sulfat serta fibroblas). Serta terdiri dari sel fibroblast yang
memproduksi kolagen dan retikularis yang terdapat banyak pembuluh
darah, limfe, akar rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebaseus.
Komponen dari lapisan ini berisi banyak struktur khusus yang
melaksanakan fungsi kulit terdiri dari:
1) Kelenjar sebaceous / sebasea (kelenjar lemak)
Menghasilkan sebum, zat semacam lilin, asam lemak atau trigliserida
bertujuan untuk melumasi permukaan kulit dikeluarkan melalui folikel
rambut yang mengandung banyak lipid. pada orang yang jenis kulit
berminyak maka sel kelenjar sebaseanyalebih aktif memproduksi minyak,
dan bila lapisan kulitnya tertutup oleh kotoran,debuatau kosmetik
menyebabkan sumbatan kelenjar sehingga terjadi pembengkakan. Pada
gambar dibawah terlihat kelenjar sebasea yang berwarna kuning dan
disebelah kanannya terdapat kelenjar keringat.

29
Gambar 2. Kelenjar Sebasea

2) Eccrine sweat glands atau kelenjar keringat


Walaupun stratum korneum kedap air, namun sekitar 400 mL air dapat
keluar dengan cara menguap melalui kelenjar keringat tiap hari. Seorang
yang bekerja dalamr u a n g a n m e n g e k s k r e s i k a n 2 0 0 m L k e r i n g a t
t a m b a h a n , d a n b a g i o r a n g y a n g a k t i f jumlahnya lebih banyak
lagi. Selain mengeluarkan air dan panas, keringat jugamerupakan sarana
untuk mengekskresikan garam, karbondioksida, dan dua
molekulorganik hasil pemecahan protein yaitu amoniak dan urea.
Terdapat dua jenis kelenjar keringat, yaitu kelenjar keringat apokrin dan
kelenjar keringat merokrin.

Gambar 3. Kelenjar Keringat

3) Pembuluh darah
Dilapisan dermis sangat kaya dengan pembuluh darah yang
memberi nutrisi penting untuk kulit, baik vitamin, oksigen maupun zat-
zat penting lainnya untuk metabolisme sel kulit, selain itu pembuluh
30
darah juga bertugas mengatur suhu tubuh melalui mekanisme proses
pelebaran atau dilatasi pembuluh [Link] darah untuk kulit berasal
dari subkutan tepat di bawah dermis. Arterimembentuk anyaman
yang disebut retecutaneum yaitu anyaman pembuluh darah
di jaringan subkutan, tepat di bawah dermis. Cabang-cabang berjalan ke
superficial danke dalam. Fungsi vaskularisasi yang ke dalam ini
adalah untuk memelihara jaringanlemak dan folikel [Link]
yang menembus stratum reticulare, memberi cabangke folikel rambut,
kelenjar keringat dan kelenjar sebasea.

4) Serat elastin dan kolagen


Semua bagian pada kulit harus diikat menjadi satu, dan
pekerjaan ini dilakukan oleh sejenis protein yang ulet yang dinamakan
kolagen. Kolagen merupakan komponen jaringan ikat yang utama dan dapat
ditemukan pada berbagai jenis jaringanserta bagian tubuh yang harus
diikat menjadi satu. Protein ini dihasilkan oleh sel -seldalam
jaringan ikat yang dinamakan fibroblast. Kolagen diproduksi
dalam bentuk serabut yang menyusun dirinya dengan berbagai cara untuk
memenuhi berbagai fungsiy a n g s p e s i f i k . Pada kulit serabut kolagen
tersusun dengan pola rata yang saling menyilang.
Kolagen bekerja bersama serabut protein lainnya yang
dinamakan elastin yangm e m b e r i k a n e l a s t i s i t a s p a d a k u l i t .
Kedua tipe serabut ini secara bersama-sama menentukan derajat kelenturan
dan tonus pada kulit. Perbedaan serat E l a s t i n d a n kolagen, adalah serat
elastin yang membuat kulit menjadi elastin dan lentur sementara kolagen
yang memperkuat jaring-jaring serat tersebut. Serat elastin dan
kolagen itusendiri akan berkurang produksinya karena penuaan sehingga
kulit mengalami kehilangan kekencangan dan elastisitas kulit.

5) Syaraf nyeri dan reseptor sentuh


Kulit juga seperti organ lain terdapat cabang -cabang saraf
spinal dan permukaan yang terdiri dari saraf-saraf motorik dan saraf

31
sensorik. Ujung saraf motorik berguna untuk menggerakkan sel-sel otot
yang terdapat pada kulit, sedangkan saraf sensorik berguna untuk
menerima rangsangan yang terdapat dari luar atau kulit. Pada kulit ujung-
ujung, saraf sensorik ini membentuk bermacam-macam kegiatan
u n t u k menerima rangsangan.

c. Subkutan atau Hipodermis


Pada bagian subdermis ini terdiri atas jaringan ikat longgar berisi sel-sel
lemak di [Link] lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembuluh
darah dan getah bening. Untuk sel lemak pada subdermis, sel lemak dipisahkan
oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan terdalam yang banyak mengandung sel
liposit yang menghasilkan banyak lemak. Disebut juga panikulus adiposa yang
berfungsi sebagai cadangan makanan. Berfungsi juga sebagai bantalan antara
kulit dan setruktur internal seperti otot dan tulang. Sebagai mobilitas kulit,
perubahan kontur tubuh dan penyekatan [Link] bantalan terhadap
trauma. Tempat penumpukan energi.
Lapisan ini terutama mengandung jaringan lemak, pembuluh darah dan
limfe, saraf-saraf yang berjalan sejajar dengan permukaan kulit. Cabang-cabang
dari pembuluh-pembuluh dan saraf-saraf menuju lapisan kulit jangat. Jaringan
ikat bawah kulit berfungsi sebagai bantalan atau penyangga benturan bagi
organ-organ tubuh bagian dalam, membentuk kontur tubuh dan sebagai
cadangan makanan. Ketebalan dan kedalaman jaringan lemak bervariasi
sepanjang kontur tubuh, paling tebal di daerah pantat dan paling tipis terdapat
di kelopak mata. Jika usia menjadi tua, kinerja liposit dalam jaringan ikat bawah
kulit juga menurun. Bagian tubuh yang sebelumnya berisi banyak lemak,
lemaknya berkurang sehingga kulit akan mengendur serta makin kehilangan
kontur.

32
Gambar 4. Struktur Kulit
3. Skin Appendages atau /Struktur asesoris kulit
Skin Appendages/adnexa kulit merupakan struktur tambahan
kulit. Derivat kulit berasal dari epidermis, terdiri dari kelenjar sudorifera,
kelompok sebasea, rambut dan folikelrambut serta kuku. Nama lainnya
appendages kulit/adneksa kulit/struktur tambahan kulit.
a. Rambut dan folikel rambut
Rambut terdiri dari batang yang trletak diatas permukaan kulit dan akar
rambut yang terletak di dalam kulit. Folikel rambut merupakan jaringan yang
meliputi akar rambut. Rambut terdiri dari medula yang terdiri dari keratin lunak
dan kortex s e r t a kutikula yang terdiri dari keratin keras.
1) Medula merupakan bagian tengah rambut, terdiri dari sel-sel yang
mengalami keratinisasi. Sel-selnya terpisah satu sama lain, dan
antara sel-sel kadang-kadangterdapat udara / cairan. Bagian ini tak
terdapat pada rambut tipis / halus.
2) Kortex merupakan bagian terbesar dari rambut, terdiri dari sel-sel
berbentuk runcing,yang mengalami keratinisasi dan banyak
mengandung pigmen.
3) Kutikula merupakan membran tipis, terdiri dari sel -sel
pipih/gepeng yang mengalamikeratinisasi, transparan. Secara
mikroskopis tersusun seperti genting, terdiri dari 1-3lapis sel-sel yang
sebagian mengalami kretinisme.
Folikel rambut terdiri dari kompnen dermis dan epidermis. Pada
dasarnya folikelrambut bagian dermis terlihat menonjol, disebut
papila yang terdiri dari: jaringan ikat, pembuluh darah dan sel-sel

33
saraf. Bagian luar papila diliputi sel-sel epitel yang disebutgerminal matri,
dan ujung folikel rambut tampak membesar. Sel -sel germinal
matrik ( p u n c a k p a p i l a ) berproliferasi membentuk rambut yang dapat
tumbuh terus. B a g i a n sentral Germinal Matrik (puncak papila)
membentuk bagian medula rambut dan kortex. Bagian perifer
membentuk selubung akar rambut yaitu selubung akar dalam dan
selubungakar luar. Selubung akar dalam hanya pada bagian bawah folikel,
terdiri dari 3 lapisan yaitu lapisan kutikula merupakan lapisan dalam, dekat
kutikula dari kortek rambut terdiridari sel-sel pipih. Lapisan Husley,
merupakan lapisan tengah dan Lapisan Henle yaitulapisan luar, terdiri dari
1 lapis sel yang seluruhnya mengalami keratinisasi. S e l - s e l selubung akar
dalam mempunyai keratohialin yang bersifat asidofil dan disebut
granulatrichohyalin, yang dengan H.E. tampak kemerahan.

Gambar 5. Struktur Rambut


b. Kuku
Kuku berpoliferasi membentuk matriks kuku, epidermis yang tepat di
bawahnyamenjadi dasar kuku yang berbentuk U bila dilihat dari atas dan diapit
oleh lipatan kulityang merupakan dinding kuku. Lempeng kuku terdiri dari sisik
epidermis yang menyatuerat dan tidak mengelupas. Badan kuku berwarna
bening sehingga kelihatan kemerahankarena ada pembuluh kapiler darah di
dalam dasar [Link]-sel stratum korneum meluas dari dinding kuku ke
permukaan lempeng kukusebgai epikondrium atau kutikula. Kuku
tumbuh dari akarnya yang terletak di bawah lapisan tipis kulit yang
dinamakan kutikula. Pertumbuhan kuku berlangsung sepanjanghidup dengan
pertumbuhan rata-rata 0,1 mm/hari. Pembaruan total kuku jaringan
tanganmemerlukan waktu sekitar 170 hari, sedangkan kaki sekitar 12 – 18
bulan. Bagian darikuku, terdiri dari, ujung kuku atas ujung batas, badan
kuku yang merupakan bagianyang besar. dan akar kuku (radik).
34
Gambar 6. Struktur Kuku
4. Warna Kulit
Warna kulit sangat beragam, dari yang berwarna putih mulus, kuning,
coklat, kemerahan atau hitam. Setiap warna kulit mempunyai keunikan
tersendiri yang jika dirawat dengan baik dapat menampilkan karakter yang
menarik. Warna kulit terutama ditentukan oleh:
a. Oxyhemoglobin yang berwarna merah
b. Hemoglobin tereduksi yang berwarna merah kebiruan
c. Melanin yang berwarna coklat
d. Keratohyalin yang memberikan penampakan opaque pada kulit, serta
e. Lapisanstratum corneum yang memiliki warna putih kekuningan atau
keabu-abuan.
Dari semua bahan-bahan pembangun warna kulit, yang paling menentukan
warnakulit adalah pigmen melanin. Banyaknya pigmen melanin di dalam kulit
ditentukan oleh faktor-faktor ras, individu, dan lingkungan. Melanin dibuat dari
tirosin sejenis asam aminodan dengan oksidasi, tirosin diubah menjadi butir-
butir melanin yang berwarna coklat, serta untuk proses ini perlu adanya e n z i m
Tirosinase dan oksigen. Oksidasi tirosin menjadi melanin berlangsung lebih
lancar pada suhu yang lebih tinggi atau di bawah sinar ultraviolet. Jumlah, tipe,
ukuran dan distribusi pigmen melanin ini akan menentukan variasi w a r n a kulit
berbagai golongan ras atau bangsa di dunia. Proses pembentukan p i g m e n
melanin kulit terjadi pada butir-butir melanosom yang dihasilkan oleh sel-sel
melanosit yangterdapat di antara sel-sel basal keratinosit di dalam lapisan benih.

35
Fisiologi Sistem Integumen pada Manusia
Kulit memiliki banyak fungsi, yang berguna dalam menjaga
homeostasis tubuh. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibedakan menjadi fungsi
proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi),
dan pembentukan vitamin D.
1. Fungsi proteksi
Kulit menyediakan proteksi terhadap tubuh dalam berbagai cara sebagai
yaitu berikut:
a. Keratin melindungi kulit dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat
[Link] merupakan struktur yang keras, kaku, dan tersusun rapi dan
erat seperti batu bata di permukaan kulit.
b. Lipid yang dilepaskan mencegah evaporasi air dari permukaan kulit dan
dehidrasi. selain itu juga mencegah masuknya air dari lingkungan luar tubuh
melalui kulit.
c. Sebum yang berminyak dari kelenjar sebasea mencegah kulit dan rambut
darikekeringan serta mengandung zat bakterisid yang berfungsi membunuh
bakteri di permukaan kulit. Adanya sebum ini, bersamaan dengan ekskresi
keringat, akanmenghasilkan mantel asam dengan kadar pH 5-6.5 yang
mampu menghambat pertumbuhan mikroba.
d. Pigmen melanin melindungi dari efek dari sinar UV yang berbahaya. Pada
stratum basal, sel-sel melanosit melepaskan pigmen melanin ke sel-sel di
sekitarnya. Pigmenini bertugas melindungi materi genetik dari sinar
matahari, sehingga materi genetik dapat tersimpan dengan baik. Apabila
terjadi gangguan pada proteksi oleh melanin,maka dapat timbul keganasan.
e. Selain itu ada sel-sel yang berperan sebagai sel imun yang protektif. Yang
pertamaadalah sel Langerhans, yang merepresentasikan antigen terhadap
mikroba. Kemudianada sel fagosit yang bertugas memfagositosis mikroba
yang masuk melewati keratindan sel Langerhans.

2. Fungsi absorpsi
Kulit tidak bisa menyerap air, tapi bisa menyerap material larut-lipid
sepertivitamin A, D, E, dan K, obat-obatan tertentu, oksigen dan karbon

36
dioksida. Permeabilitaskulit terhadap oksigen, karbondioksida dan uap air
memungkinkan kulit ikut mengambil bagian pada fungsi respirasi. Selain itu
beberapa material toksik dapat diserap sepertiaseton,dan merkuri. Beberapa
obat juga dirancang untuk larut lemak, sepertikortison, sehingga mampu
berpenetrasi ke kulit dan melepaskan antihistamin di
tempat peradangan. Kemampuan absorpsi kulit dipengaruhi oleh tebal tipisnya
kulit, hidrasi, kelembaban, metabolisme dan jenis vehikulum.
Penyerapan dapat berlangsung melaluicelah antarsel atau melalui muara
saluran kelenjar; tetapi lebih banyak yang melalui sel-sel epidermis daripada
yang melalui muara kelenjar.

3. Fungsi Ekskresi
Kulit juga berfungsi dalam ekskresi dengan perantaraan dua kelenjar
eksokrinnya, yaitukelenjar sebasea dan kelenjar keringat.

4. Fungsi persepsi
Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis.
Terhadap perangsangan panas diperankan oleh badan-badan Ruffini di dermis
dan [Link] dingin diperankan oleh badan-badan Krause yang
terletak di dermis, badan taktil Meissner terletak di papila dermis berperan
terhadap rabaan, demikian pula badan Merkel Ranvier yang terletak di
epidermis. Sedangkan terhadap tekanan diperankanoleh badan Paccini di
epidermis. Saraf-saraf sensorik tersebut lebih banyak jumlah nya di daerah yang
erotik.

5. Fungsi pengaturan suhu tubuh (termoregulasi)


Kulit berkontribusi terhadap pengaturan suhu tubuh
(termoregulasi) melalui dua cara: pengeluaran keringat dan menyesuaikan
aliran darah di pembuluh kapiler. Pada saat suhu tinggi, tubuh akan
mengeluarkan keringat dalam jumlah banyak serta memperlebar pembuluh
darah (vasodilatasi) sehingga panas akan terbawa keluar dari [Link],
pada saat suhu rendah, tubuh akan mengeluarkan lebih sedikit keringat dan

37
mempersempit pembuluh darah (vasokonstriksi) sehingga
mengurangi pengeluaran panas oleh tubuh.

6. Fungsi pembentukan vitamin D


Sintesis vitamin D dilakukan dengan mengaktivasi prekursor 7
dihidroksi kolesterol dengan bantuan sinar ultraviolet. Enzim di hati dan
ginjal lalu memodifikasi prekursor dan menghasilkan calcitriol,bentuk
vitamin D yang aktif. Calcitriol adalah hormonyang berperan dalam
mengabsorpsi kalsium makanan dari traktus gastrointestinal kedalam pembuluh
darah. Walaupun tubuh mampu memproduksi vitamin D sendiri,namun belum
memenuhi kebutuhan tubuh secara keseluruhan sehingga pemberian vitamin D
sistemik masih tetap diperlukan. Pada manusia kulit dapat pula
mengekspresikan emosi karena adanya pembuluh darah, kelenjar keringat, dan
otot-otot dibawah kulit.
E. GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN
1. Kulit Kering

Kulit kering adalah kondisi kulit yang terjadi karena kekurangan


kelembaban dan minyak pada kulit. Hal ini dapat menyebabkan kulit menjadi
kering, kasar, dan berkerak.

a. Tanda-Tanda Kulit Kering


1) Kulit yang terasa kering dan kasar
2) Kulit yang berwarna abu-abu atau keputihan
3) Kulit yang berkerak atau bersisik
4) Kulit yang terasa gatal atau perih
5) Kulit yang terlihat kusam dan tidak sehat

b. Gejala Kulit Kering


1) Gatal-gatal pada kulit
2) Perih atau nyeri pada kulit
3) Kulit yang terasa ketat atau kencang
4) Kulit yang berdarah atau berluka
5) Kulit yang terlihat merah atau meradang
38
c. Faktor Penyebab Kulit Kering
1) Kekurangan kelembaban pada kulit
2) Penggunaan sabun atau produk perawatan kulit yang tidak sesuai
3) Kondisi cuaca yang kering atau dingin
4) Kondisi medis tertentu, seperti diabetes atau tiroid
5) Penggunaan obat-obatan tertentu

d. Pengobatan Kulit Kering


1) Menggunakan pelembab kulit yang sesuai
2) Menggunakan sabun atau produk perawatan kulit yang lembut
3) Menghindari penggunaan air panas atau sabun yang keras
4) Menggunakan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter
5) Mengubah gaya hidup, seperti mengonsumsi makanan yang seimbang dan
berolahraga secara teratur.
2. Jerawat

Jerawat adalah kondisi kulit yang terjadi karena peradangan pada kelenjar
minyak (sebaceous) dan pori-pori kulit. Hal ini dapat menyebabkan munculnya
bintik-bintik merah, berjerawat, dan peradangan pada kulit.

a. Tanda-Tanda Jerawat
1) Bintik-bintik merah atau berjerawat pada kulit
2) Peradangan pada kulit
3) Kulit yang terasa sakit atau perih
4) Kulit yang terasa kasar atau berkerak
5) Munculnya komedo (bintik-bintik hitam atau putih) pada kulit

b. Gejala Jerawat
1) Gatal-gatal atau perih pada kulit
2) Kulit yang terasa sakit atau nyeri
3) Peradangan pada kulit
4) Munculnya abses atau nanah pada kulit
5) Kulit yang terlihat merah atau meradang
c. Faktor Penyebab Jerawat
39
1) Perubahan hormonal pada tubuh
2) Kotoran atau debu yang menumpuk pada kulit
3) Penggunaan produk perawatan kulit yang tidak sesuai
4) Stres atau tekanan emosi
5) Genetik atau riwayat keluarga

d. Pengobatan Jerawat
1) Menggunakan produk perawatan kulit yang sesuai
2) Menggunakan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter
3) Menghindari penggunaan makeup atau produk perawatan kulit yang berat
4) Mengonsumsi makanan yang seimbang dan bergizi
5) Menghindari stres atau tekanan emosi

e. Pencegahan Jerawat
1) Mencuci wajah secara teratur
2) Menggunakan produk perawatan kulit yang sesuai
3) Menghindari penggunaan makeup atau produk perawatan kulit yang berat
4) Mengonsumsi makanan yang seimbang dan bergizi
5) Menghindari stres atau tekanan emosi.
3. Psoriasis

Psoriasis adalah kondisi kulit yang kronis dan inflamasi, ditandai dengan
peradangan dan pengelupasan kulit yang berlebihan. Hal ini disebabkan oleh
reaksi imun yang tidak normal dan faktor genetik.

a. Tanda-Tanda Psoriasis
1) Bercak merah: Bercak merah yang terang dan bersisik pada kulit.
2) Pengelupasan kulit: Pengelupasan kulit yang berlebihan dan bersisik.
3) Kulit kering: Kulit yang kering dan kasar.
4) Gatal-gatal: Gatal-gatal atau perih pada kulit.
5) Peradangan: Peradangan pada kulit yang dapat menyebabkan nyeri.

b. Gejala Psoriasis
1) Gatal-gatal: Gatal-gatal atau perih pada kulit.
40
2) Nyeri: Nyeri atau sakit pada kulit.
3) Kulit kering: Kulit yang kering dan kasar.
4) Pengelupasan kulit: Pengelupasan kulit yang berlebihan dan bersisik.
5) Peradangan: Peradangan pada kulit yang dapat menyebabkan nyeri.

c. Faktor Penyebab Psoriasis


1) Faktor genetik: Faktor genetik yang mempengaruhi reaksi imun.
2) Reaksi imun: Reaksi imun yang tidak normal.
3) Stres: Stres atau tekanan emosi.
4) Infeksi: Infeksi yang dapat memicu psoriasis.
5) Obat-obatan: Obat-obatan tertentu yang dapat memicu psoriasis.

d. Pengobatan Psoriasis
1) Krim atau salep: Krim atau salep yang mengandung steroid atau retinoid.
2) Terapi cahaya: Terapi cahaya yang menggunakan sinar UV.
3) Obat-obatan sistemik: Obat-obatan sistemik yang mengandung
immunosupresan atau biologis.
4) Terapi kombinasi: Terapi kombinasi yang menggunakan beberapa metode
pengobatan.

e. Pencegahan Psoriasis
1) Mengelola stres: Mengelola stres atau tekanan emosi.
2) Menghindari iritan: Menghindari iritan yang dapat memicu psoriasis.
3) Menggunakan krim atau salep: Menggunakan krim atau salep yang
mengandung steroid atau retinoid.
4) Melakukan terapi cahaya: Melakukan terapi cahaya yang menggunakan
sinar UV.
4. Eksim

Eksim adalah kondisi kulit yang kronis dan inflamasi, ditandai dengan
peradangan, pengelupasan kulit, dan gatal-gatal. Eksim dapat terjadi pada siapa
saja, tetapi lebih umum pada anak-anak dan dewasa muda.

a. Tanda-Tanda Eksim
41
1) Kulit kering dan kasar: Kulit yang kering dan kasar, terutama pada tangan,
kaki, dan wajah.
2) Pengelupasan kulit: Pengelupasan kulit yang berlebihan dan bersisik.
3) Gatal-gatal: Gatal-gatal atau perih pada kulit.
4) Peradangan: Peradangan pada kulit yang dapat menyebabkan nyeri.
5) Bercak merah: Bercak merah yang terang dan bersisik pada kulit.

b. Gejala Eksim
1) Gatal-gatal: Gatal-gatal atau perih pada kulit.
2) Nyeri: Nyeri atau sakit pada kulit.
3) Kulit kering: Kulit yang kering dan kasar.
4) Pengelupasan kulit: Pengelupasan kulit yang berlebihan dan bersisik.
5) Peradangan: Peradangan pada kulit yang dapat menyebabkan nyeri.

c. Faktor Penyebab Eksim


1) Faktor genetik: Faktor genetik yang mempengaruhi reaksi imun.
2) Reaksi imun: Reaksi imun yang tidak normal.
3) Stres: Stres atau tekanan emosi.
4) Infeksi: Infeksi yang dapat memicu eksim.
5) Iritan: Iritan yang dapat memicu eksim, seperti sabun, deterjen, atau bahan
kimia.

d. Pengobatan Eksim
1) Krim atau salep: Krim atau salep yang mengandung steroid atau retinoid.
2) Terapi cahaya: Terapi cahaya yang menggunakan sinar UV.
3) Obat-obatan sistemik: Obat-obatan sistemik yang mengandung
immunosupresan atau biologis.
4) Terapi kombinasi: Terapi kombinasi yang menggunakan beberapa metode
pengobatan.

e. Pencegahan Eksim
1) Mengelola stres: Mengelola stres atau tekanan emosi.

42
2) Menghindari iritan: Menghindari iritan yang dapat memicu eksim.
3) Menggunakan krim atau salep: Menggunakan krim atau salep yang
mengandung steroid atau retinoid.
4) Melakukan terapi cahaya: Melakukan terapi cahaya yang
menggunakan sinar UV.

43
SISTEM PERSEPSI SENSORI

A. DEFINISI

Sistem sensoris atau dalam bahasa Inggris sensory system berarti yang
berhubungan dengan panca indra. Sistem ini membahas tentang organ akhir
yang khusus menerima berbagai jenis rangsangan tertentu. Rangsangan tersebut
dihantarkan oleh sensorys neuron (saraf sensoris) dari berbagai organ indra
menuju otak untuk ditafsirkan. Reseptor sensori, merupakan sel yang dapat
menerima informasi kondisi dalam dan luar tubuh untuk dapat direspon oleh
saraf pusat. Implus listrik yang dihantarkan oleh saraf akan diterjemahkan
menjadi sensasi yang nantinya akan diolah menjadi persepsi di saraf pusat.
Sistem persepsi sensori manusia terdiri organ mata, telinga, hidung, lidah, dan
kulit

B. PENYEBAB
1. Faktor Internal
a. Genetik: Faktor genetik dapat mempengaruhi sistem persepsi sensori,
seperti kelainan genetik yang mempengaruhi penglihatan atau pendengaran.
b. Usia: Usia dapat mempengaruhi sistem persepsi sensori, seperti penurunan
kemampuan penglihatan atau pendengaran dengan bertambahnya usia.
c. Penyakit: Penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan stroke dapat
mempengaruhi sistem persepsi sensori.
d. Cedera: Cedera pada kepala atau leher dapat mempengaruhi sistem persepsi
sensori.
2. Faktor Eksternal
a. Paparan radiasi: Paparan radiasi seperti sinar X atau radiasi ultraviolet dapat
mempengaruhi sistem persepsi sensori.
b. Paparan bahan kimia: Paparan bahan kimia seperti pestisida atau bahan
kimia industri dapat mempengaruhi sistem persepsi sensori.
c. Kebisingan: Kebisingan yang terlalu keras dapat mempengaruhi sistem
persepsi sensori, terutama pendengaran.
d. Tekanan: Tekanan yang terlalu tinggi dapat mempengaruhi sistem persepsi
sensori, terutama penglihatan.

44
3. Faktor Psikologis
a. Stres: Stres dapat mempengaruhi sistem persepsi sensori, terutama
penglihatan dan pendengaran.
b. Kecemasan: Kecemasan dapat mempengaruhi sistem persepsi sensori,
terutama penglihatan dan pendengaran.
c. Depresi: Depresi dapat mempengaruhi sistem persepsi sensori, terutama
penglihatan dan pendengaran.
4. Faktor Lainnya
a. Gizi: Gizi yang tidak seimbang dapat mempengaruhi sistem persepsi
sensori.
b. Aktivitas fisik: Aktivitas fisik yang tidak cukup dapat mempengaruhi sistem
persepsi sensori.
c. Kualitas tidur: Kualitas tidur yang tidak baik dapat mempengaruhi sistem
persepsi sensori.
C. TANDA DAN GEJALA

Tanda-Tanda Sistem Persepsi Sensori:

1. Penglihatan kabur: Penglihatan yang tidak jelas atau kabur.


2. Pendengaran berkurang: Pendengaran yang berkurang atau tidak dapat
mendengar suara dengan jelas.
3. Kehilangan kemampuan perasa: Kehilangan kemampuan perasa pada lidah
atau bagian lain tubuh.
4. Kehilangan kemampuan penciuman: Kehilangan kemampuan penciuman
atau anosmia.
5. Nyeri atau kesemutan: Nyeri atau kesemutan pada bagian tubuh tertentu.

Gejala Sistem Persepsi Sensori

1. Gangguan penglihatan: Gangguan penglihatan seperti penglihatan ganda,


penglihatan kabur, atau kehilangan penglihatan.
2. Gangguan pendengaran: Gangguan pendengaran seperti pendengaran
berkurang, tinnitus, atau vertigo.
3. Gangguan perasa: Gangguan perasa seperti kehilangan kemampuan perasa,
perasa yang tidak normal, atau perasa yang berlebihan.

45
4. Gangguan penciuman: Gangguan penciuman seperti kehilangan
kemampuan penciuman, penciuman yang tidak normal, atau penciuman
yang berlebihan.
5. Gangguan keseimbangan: Gangguan keseimbangan seperti vertigo, pusing,
atau kehilangan keseimbangan.
D. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERSEPSI SENSORI
1. Anatomi dan Fisiologi Sistem Penglihatan (Mata)
Indra penglihatan yang terletak pada mata (organ visus) yang terdiri dari
organ okuli assesoria (alat bantu mata) dan okulus (bola mata). Saraf indra
penglihatan, saraf optikus, muncul dari sel-sel ganglion dalam retina, bergabung
untuk membentuk saraf optikus.

a. Organ Okuli Assesoria

Organ okuli assesoria (alat bantu mata), terdapat di sekitar bola mata yang
sangat erat hubungannya dengan mata, terdiri dari:

1) Kavum orbita, merupakan rongga mata yang bentuknya seperti kerucut


dengan puncaknya mengarah ke depan dan ke dalam.
2) Supersilium (alis mata) merupakan batas orbita dan potongan kulit tebal
yang melengkung, ditumbuhi oleh bulu pendek yang berfungsi sebagai
kosmetik atau alat kecantikan dan sebagai pelindung mata dari sinar
matahari yang sangat terik.
3) Palpebra (kelopak mata) merupakan 2 buah lipatan atas dan bawah kulit
yang terletak didepan bulbus okuli. Kelopak mata atas lebih besar daripada
kelopak mata bawah. Fungsinya adalah pelindung mata sewaktu-waktu
kalau ada gangguan pada mata.
4) Aparatus lakrimalis (air mata). Air mata dihasilkan oleh kelenjar lakrimalis
superior dan inferior. Melalui duktus ekskretorius lakrimalis masuk ke
dalam sakus konjungtiva. Melalui bagian depan bola mata terus ke sudut
tengah bola mata ke dalam kanalis lakrimalis mengalir ke duktus
nasolakrimatis terus ke meatus nasalis inferior.
5) Muskulus okuli (otot mata) merupakan otot ekstrinsik mata terdiri dari:

46
a) Muskulus levator palpebralis superior inferior, fungsinya mengangkat
kelopak mata.
b) Muskulus orbikularis okuli otot lingkar mata, fungsinya untuk
menutup mata.
c) Muskulus rektus okuli inferior, fungsinya untuk menutup mata.
d) Muskulus rektus okuli medial, fungsinya menggerakan bola mata.
e) Muskulus obliques okuli inferior, fungsinya menggerakan bola mata
ke dalam dan ke bawah.
f) Muskulus obliques okuli superior, fungsinya memutar mata ke atas,
ke bawah dan ke luar.
6) Konjungtiva. Permukaan dalam kelopak mata disebut konjungtiva palpebra,
merupakan lapisan mukosa. Bagian yang membelok dan kemudian melekat
pada bola mata disebut konjungtiva bulbi. Pada konjungtiva ini sering
terdapat kelenjar limfe dan pembuluh darah.
b. Okulus

Okulus (mata) meliputi bola mata (bulbus okuli). Nervus optikus saraf otak
II, merupakan saraf otak yang menghubungkan bulbu okuli dengan otak dan
merupakan bagian penting organ visus.

c. Tunika okuli

Tonika okuli terdiri dari:

1) Kornea, merupakan selaput yang tembus cahaya, melalui kornea kita dapat
melihat membran pupil dan iris. Penampang kornea lebih tebal dari sklera,
terdiri dari 5 lapisan epitel kornea, 2 lamina elastika anterior (bowmen), 3
subtansi propia, 4 lamina elastika posterior, dan 5 endotelium. Kornea tidak
mengandung pembuluh darah peralihan, antara kornea ke sklera.

47
Gambar 2.1 Anatomi Mata
2) Sklera, merupakan lapisan fibrosa yang elastis yang merupakan bagian
dinding luar bola mata dan membentuk bagian putih mata. Bagian depan
sklera tertutup oleh kantong konjungtiva.
d. Tunika vaskula okuli

Tunika vaskula okuli merupakan lapisan tengah dan sangat peka oleh
rangsangan pembuluh darah. Lapisan ini menurut letaknya terbagi menjadi 3
bagian yaitu:

1) Koroid, merupakan selaput yang tipis dan lembab merupakan bagian


belakanang tunika vaskulosa. Fungsinya memberikan nutrisi pada tunika.
2) Korpus siliaris, merupakan lapisan yang tebal, terbentang mulai dari ora
serata sampai ke iris. Bentuk keseluruhan seperti cincin, dan muskulus
siliaris. Fungsinya untuk terjadinya akomodasi
3) Iris, merupakan bagian terdepan tunika vaskulosa okuli, berwarna karena
mengandung pigmen, berbentuk bulat seperti piring dengan penampang 12
mm, tebal 12 mm, di tengah terletak bagian berlubang yang disebut pupil.
Pupil berguna untuk mengatur cahaya yang masuk ke mata, sedangkan
ujung tepinya melanjut sampai korpus siliaris. Pada iris terdapat 2 buah otot:
muskulus sfingter pupila pada pinggir iris, muskulus dilatator pupila
terdapat agak pangkal iris dan banyak mengandung pembuluh darah dan
sangat mudah terkena radang, bisa menjalar ke korpus siliaris.

48
e. Tunika nervosa

Tunika nervosa merupakan lapisan terdalam bola mata, disebut retina. Retina
dibagi atas 3 bagian:

1) Pars optika retina, dimulai dari kutub belakang bola mata sampai di depan
khatulistiwa bola mata.
2) Pars siliaris, merupakan lapisan yang dilapisi bagian dalam korpus siliar.
3) Pars iridika melapisi bagian permukaan belakang iris (Syaifuddin, 2014).

2. Anatomi dan Fisiologi Sistem Pendengaran (Telinga)


Indra pendengaran merupakan salah satu alat pancaindra untuk mendengar.
Anatomi telinga terdiri dari telinga bagian luar, tengah, dan dalam.

a. Telinga bagian luar

Aurikula (daun telinga), menampung gelombang suara yang datang dari luar
masuk ke dalam telinga. Meastus akustikus eksterna (liang telinga). Saluran
penghubung aurikula dengan membran timpan, panjangnya 2,5 cm, terdiri dari
tulang rawan dan tulang keras. Saluran ini mengandung rambut, kelenjar
subasea. Dan kelenjar keringat khususnya menghasilkan sekret-sekret
berbentuk serum.

Membran timpani antara telinga luar dan telinga tengah terdapat selaput
gendang telinga yang disebut membran typani.

Gambar 2.2 Anatomi Telinga Bagian Luar

b. Telinga bagian tengah

49
Kavum timpani, rongga didalam tulang temporalis yang didalamnya
terdapat 3 buah tulang pendengaran yaitu maleus, incus, stapes yang melekat
pada bagian dalam membra timpani.
Antrum timpani merupakan rongga tidak teratur yang agak luas, terletak
dibagian bawah samping dari kavum timpani. Antrum timpani dilapisi oleh
mukosa, merupakan lanjutan dari lapisan mukosa kavum timpani. Rongga ini
berhubungan dengan beberapa rongga kecil yang disebutn sellula mastoid yang
terdapat dibelakang bawah antrum, di dalam tulang temporalis.
Tuba auditiva eustaki. Saluran tulang rawan yang panjangnya 3,7 cm
berjalan miring ke bawah agak ke depan, dilapisi oleh lapisan mukosa.

Gambar 2.3 Anatomi Telinga Bagian Tengah

c. Telinga bagian dalam

Telinga bagian dalam terletak pada bagian tulang keras pilorus temporalis,
terdapat reseptor pendengaran, dan alat pendengaran ini disebut labirin.

1) Labiritus osseous, serangkaian saluran bawah dikelilingi oleh cairan yang


dinamakan perilimfe. Labiritus osseous terdiri dari vestibulum, koklea, dan
kanalis semisirkularis.
2) Labirintus membranous, terdiri dari:

Utrikulus, bentuknya seperti kantong lonjong dan agak gepeng terpaut pada
tempatnyaoleh jaringan ikat. Pada dinding belakang utrikulus terdapat muara
dari duktus semisirkularis dan pada dinding depannya ada tabung halus disebut

50
utrikulosa sirkularis, saluran yang menghubungkan antara utrikulus dan
sakulus.

a) Sakulus, bentuknya agak lonjong lebih kecil dari utrikulus, terletak


pada bagian depan dan bawah dari vestibulum dan terpaut erat oleh
jaringan ikat.
b) Duktus semisirkularis. Ada tiga tabung selaput semisirkularis yang
berjalan pada kanalis semesirkularis (superior, posterior, dan
lateralis). Bagian duktus yang melebar disebut dengan ampula
selaput. Setiap ampula mengandung celah sulkus ampularis
merupakan tempat masuknya cabang ampula nervus akustikus.
c) Duktus koklearis merupakan saluran yang bentuknya agak segitiga
seolah-olah membuat batas pada koklea timpani. Duktus koklearis
mulai dari kantong buntu (seikum vestibular) dan berakhir tepat
diseberang kanalis lamina spiralis pada kantong buntu (seikum
ampulare) (Heharia et al, 2011).

Gambar 2.4 Anatomi Telinga Bagian Dalam

51
E. GANGGUAN SISTEM PERSEPSI SENSORI
1. Katarak

Katarak adalah kondisi medis di mana lensa mata menjadi keruh dan
mengganggu penglihatan. Katarak dapat terjadi pada satu atau kedua mata dan
dapat menyebabkan kehilangan penglihatan secara perlahan-lahan.

a. Tanda-Tanda Katarak
1) Penglihatan kabur atau tidak jelas
2) Penglihatan ganda atau berbayang
3) Sensitivitas terhadap cahaya
4) Warna yang tidak jelas atau kabur
5) Penglihatan malam yang buruk

b. Gejala Katarak
1) Penglihatan yang memburuk secara perlahan-lahan
2) Kesulitan membaca atau melakukan aktivitas lainnya
3) Kesulitan melihat warna atau kontras
4) Penglihatan yang terganggu oleh cahaya
5) Kesulitan melihat pada malam hari

c. Faktor Penyebab Katarak


1) Usia: Katarak lebih umum terjadi pada orang tua
2) Keturunan: Riwayat keluarga dengan katarak
3) Cedera: Cedera pada mata dapat menyebabkan katarak
4) Penyakit: Penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan obesitas
5) Paparan radiasi: Paparan radiasi UV atau radiasi lainnya

d. Pengobatan Katarak
1) Operasi katarak: Operasi untuk mengangkat lensa mata yang keruh
2) Lensa kontak: Lensa kontak dapat membantu memperbaiki penglihatan
3) Kacamata: Kacamata dapat membantu memperbaiki penglihatan
4) Terapi laser: Terapi laser dapat membantu memperbaiki penglihatan

52
e. Pencegahan Katarak
1) Melindungi mata dari paparan radiasi UV
2) Mengonsumsi makanan yang seimbang dan bergizi
3) Berolahraga secara teratur
4) Menghindari merokok dan alkohol
5) Melakukan pemeriksaan mata secara teratur
2. Tuli

Tuli adalah kondisi di mana seseorang mengalami gangguan pendengaran


yang menyebabkan kesulitan mendengar suara atau tidak dapat mendengar
sama sekali.

a. Tanda-Tanda Tuli
1) Kesulitan mendengar suara pelan
2) Kesulitan memahami percakapan dalam situasi bising
3) Kesulitan mendengar suara tinggi
4) Kesulitan membedakan antara suara yang berbeda
5) Perlu meningkatkan volume suara untuk mendengar dengan jelas

b. Gejala Tuli
1) Kesulitan mendengar suara yang jauh
2) Kesulitan memahami percakapan dalam situasi yang kompleks
3) Kesulitan mendengar suara yang rendah
4) Kesulitan membedakan antara suara yang berbeda
5) Perasaan lelah atau stres karena kesulitan mendengar

c. Faktor Penyebab Tuli


1) Usia: Tuli lebih umum terjadi pada orang tua
2) Keturunan: Riwayat keluarga dengan tuli
3) Cedera: Cedera pada telinga dapat menyebabkan tuli
4) Penyakit: Penyakit seperti otosklerosis, meningitis, atau stroke
5) Paparan suara yang keras: Paparan suara yang keras dapat menyebabkan tuli

53
d. Pengobatan Tuli
1) Alat bantu dengar: Alat bantu dengar dapat membantu memperbaiki
pendengaran
2) Implan koklea: Implan koklea dapat membantu memperbaiki pendengaran
pada orang yang mengalami tuli yang parah
3) Terapi pendengaran: Terapi pendengaran dapat membantu memperbaiki
kemampuan pendengaran
4) Operasi: Operasi dapat dilakukan untuk memperbaiki struktur telinga yang
rusak

e. Pencegahan Tuli
1) Melindungi telinga dari paparan suara yang keras
2) Menggunakan alat pelindung telinga saat bekerja dengan suara yang keras
3) Menghindari mendengarkan musik dengan volume yang terlalu keras
4) Melakukan pemeriksaan telinga secara teratur
3. Sinusitis

Sinusitis adalah peradangan pada sinus, yaitu rongga udara yang terletak di
dalam tulang tengkorak. Sinus berfungsi untuk menghasilkan lendir yang
membantu membersihkan udara yang dihirup dan mengatur tekanan udara di
dalam kepala.

a. Tanda-Tanda Sinusitis
1) Nyeri wajah: Nyeri pada wajah, terutama di area pipi, hidung, dan dahi.
2) Pilek: Pilek yang berkepanjangan dan berwarna kuning atau hijau.
3) Sesak napas: Sesak napas atau kesulitan bernapas.
4) Bau tidak sedap: Bau tidak sedap dari hidung atau mulut.
5) Demam: Demam yang dapat disertai dengan menggigil.

b. Gejala Sinusitis
1) Nyeri kepala: Nyeri kepala yang dapat berpindah-pindah.
2) Kesulitan mencium bau: Kesulitan mencium bau atau rasa.
3) Suara serak: Suara serak atau tidak jelas.
4) Kesulitan bernapas: Kesulitan bernapas atau sesak napas.
54
5) Kelelahan: Kelelahan atau merasa lelah.

c. Faktor Penyebab Sinusitis


1) Infeksi: Infeksi bakteri, virus, atau jamur.
2) Alergi: Alergi terhadap debu, serbuk sari, atau zat lainnya.
3) Polip hidung: Polip hidung yang dapat menyumbat saluran hidung.
4) Deviiasi septum: Deviasi septum yang dapat menyumbat saluran hidung.
5) Kondisi medis: Kondisi medis seperti diabetes, penyakit ginjal, atau
penyakit jantung.

d. Pengobatan Sinusitis
1) Antibiotik: Antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri.
2) Decongestan: Decongestan untuk mengurangi pembengkakan hidung.
3) Pengobatan alergi: Pengobatan alergi untuk mengurangi gejala alergi.
4) Pembedahan: Pembedahan untuk mengangkat polip hidung atau
memperbaiki deviasi septum.
5) Terapi: Terapi untuk mengurangi gejala sinusitis.
4. Ageusia

Ageusia adalah kondisi di mana seseorang kehilangan kemampuan untuk


merasakan rasa pada lidah. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
termasuk cedera, infeksi, atau penyakit.

a. Tanda-Tanda Ageusia
1) Kehilangan rasa: Kehilangan kemampuan untuk merasakan rasa manis,
asam, asin, atau pahit.
2) Perubahan rasa: Perubahan rasa yang tidak normal, seperti rasa logam atau
rasa lainnya.
3) Kesulitan membedakan rasa: Kesulitan membedakan antara rasa yang
berbeda.
4) Kehilangan nafsu makan: Kehilangan nafsu makan karena tidak dapat
merasakan rasa makanan.
5) Kesulitan menikmati makanan: Kesulitan menikmati makanan karena tidak
dapat merasakan rasa.
55
b. Gejala Ageusia
1) Kehilangan rasa secara tiba-tiba: Kehilangan rasa secara tiba-tiba atau
perlahan-lahan.
2) Perubahan rasa yang tidak normal: Perubahan rasa yang tidak normal,
seperti rasa logam atau rasa lainnya.
3) Kesulitan membedakan rasa: Kesulitan membedakan antara rasa yang
berbeda.
4) Kehilangan nafsu makan: Kehilangan nafsu makan karena tidak dapat
merasakan rasa makanan.
5) Kesulitan menikmati makanan: Kesulitan menikmati makanan karena tidak
dapat merasakan rasa.

c. Faktor Penyebab Ageusia


1) Cedera: Cedera pada lidah atau saraf yang menghubungkan lidah dengan
otak.
2) Infeksi: Infeksi pada lidah atau saraf yang menghubungkan lidah dengan
otak.
3) Penyakit: Penyakit seperti diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit jantung.
4) Penggunaan obat-obatan: Penggunaan obat-obatan tertentu yang dapat
mempengaruhi kemampuan perasa.
5) Usia: Usia yang lanjut dapat mempengaruhi kemampuan perasa.

d. Pengobatan Ageusia
1) Pengobatan penyakit: Pengobatan penyakit yang mendasari ageusia.
2) Penggunaan obat-obatan: Penggunaan obat-obatan yang dapat memperbaiki
kemampuan perasa.
3) Terapi: Terapi yang dapat membantu memperbaiki kemampuan perasa.
4) Penggunaan alat bantu: Penggunaan alat bantu seperti lidah palsu atau alat
bantu perasa lainnya.

56
5. Dermatitis

Dermatitis adalah peradangan pada kulit yang dapat disebabkan oleh


berbagai faktor, seperti alergi, iritasi, atau infeksi. Dermatitis dapat
menyebabkan gejala seperti gatal-gatal, kemerahan, dan pengelupasan kulit.

a. Tanda-Tanda Dermatitis
1) Kulit kemerahan: Kulit yang menjadi kemerahan dan meradang.
2) Gatal-gatal: Gatal-gatal yang tidak dapat dihilangkan.
3) Pengelupasan kulit: Pengelupasan kulit yang dapat menyebabkan kulit
menjadi kasar.
4) Benjolan atau lecet: Benjolan atau lecet pada kulit yang dapat menyebabkan
rasa sakit.
5) Kulit yang menjadi tebal: Kulit yang menjadi tebal dan kasar.

b. Gejala Dermatitis
1) Gatal-gatal yang parah: Gatal-gatal yang tidak dapat dihilangkan dan dapat
menyebabkan rasa sakit.
2) Kulit yang menjadi sangat kemerahan: Kulit yang menjadi sangat
kemerahan dan meradang.
3) Pengelupasan kulit yang parah: Pengelupasan kulit yang dapat
menyebabkan kulit menjadi kasar.
4) Benjolan atau lecet yang parah: Benjolan atau lecet pada kulit yang dapat
menyebabkan rasa sakit.
5) Kulit yang menjadi sangat tebal: Kulit yang menjadi sangat tebal dan kasar.

c. Faktor Penyebab Dermatitis


1) Alergi: Alergi terhadap bahan-bahan tertentu, seperti sabun, deterjen, atau
makanan.
2) Iritasi: Iritasi pada kulit yang dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia atau
fisik.
3) Infeksi: Infeksi pada kulit yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, atau
jamur.

57
4) Genetik: Faktor genetik yang dapat mempengaruhi kemampuan kulit untuk
bereaksi terhadap bahan-bahan tertentu.

d. Pengobatan Dermatitis
1) Krim atau salep: Krim atau salep yang dapat membantu mengurangi gejala
dermatitis.
2) Antibiotik: Antibiotik yang dapat membantu mengobati infeksi pada kulit.
3) Antihistamin: Antihistamin yang dapat membantu mengurangi gejala alergi.
4) Terapi: Terapi yang dapat membantu mengobati dermatitis, seperti terapi
cahaya atau terapi laser.

58
SISTEM PERSARAFAN

A. DEFINISI

Sistem persarafan adalah sistem yang bertanggung jawab untuk


mengirimkan, menerima, dan mengolah informasi dalam bentuk sinyal saraf.
Sistem ini terdiri dari jaringan sel-sel saraf yang kompleks yang berfungsi untuk
mengontrol dan mengkoordinasikan berbagai fungsi tubuh, termasuk:

1. Mengirimkan sinyal saraf dari reseptor sensorik ke otak untuk diproses.


2. Mengirimkan sinyal saraf dari otak ke efektor (otot atau kelenjar) untuk
menghasilkan respons.
3. Mengolah informasi sensorik untuk memahami lingkungan sekitar.
4. Mengontrol fungsi tubuh yang tidak sadar, seperti pernapasan, detak
jantung, dan pencernaan.
5. Mengkoordinasikan gerakan tubuh, seperti berjalan, berlari, dan
mengangkat.

Sistem persarafan terdiri dari dua bagian utama:

1. Sistem Saraf Pusat (SSP): Terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang.
2. Sistem Saraf Tepi (SST): Terdiri dari saraf yang menghubungkan SSP
dengan bagian lain tubuh.

Sistem persarafan juga dapat dibagi menjadi beberapa subsystem, termasuk:

1. Sistem Saraf Somatik: Mengontrol gerakan tubuh dan fungsi sensorik.


2. Sistem Saraf Otonom: Mengontrol fungsi tubuh yang tidak sadar, seperti
pernapasan dan detak jantung.
3. Sistem Saraf Enterik: Mengontrol fungsi pencernaan dan sistem
gastrointestinal.
B. PENYEBAB
1. Faktor Internal
a. Genetik: Faktor genetik dapat mempengaruhi sistem persarafan, seperti
kelainan genetik yang mempengaruhi perkembangan otak.
b. Cedera: Cedera pada kepala atau tulang belakang dapat mempengaruhi
sistem persarafan.
59
c. Penyakit: Penyakit seperti stroke, tumor otak, atau multiple sclerosis dapat
mempengaruhi sistem persarafan.
d. Infeksi: Infeksi seperti meningitis atau ensefalitis dapat mempengaruhi
sistem persarafan.
e. Kerusakan otak: Kerusakan otak akibat kecelakaan atau cedera dapat
mempengaruhi sistem persarafan.
2. Faktor Eksternal
a. Toksin: Paparan toksin seperti merkuri, timbal, atau pestisida dapat
mempengaruhi sistem persarafan.
b. Radiasi: Paparan radiasi seperti sinar X atau radiasi ultraviolet dapat
mempengaruhi sistem persarafan.
c. Kebisingan: Paparan kebisingan yang terlalu keras dapat mempengaruhi
sistem persarafan.
d. Stres: Stres yang berkepanjangan dapat mempengaruhi sistem persarafan.
e. Gizi: Kekurangan gizi seperti vitamin B12 atau asam folat dapat
mempengaruhi sistem persarafan.
3. Faktor Lainnya
a. Usia: Usia yang lanjut dapat mempengaruhi sistem persarafan.
b. Kondisi medis: Kondisi medis seperti diabetes, hipertensi, atau penyakit
jantung dapat mempengaruhi sistem persarafan.
c. Penggunaan obat-obatan: Penggunaan obat-obatan tertentu dapat
mempengaruhi sistem persarafan.
d. Kondisi lingkungan: Kondisi lingkungan seperti polusi udara atau air dapat
mempengaruhi sistem persarafan.
C. TANDA DAN GEJALA

Tanda-Tanda Sistem Persarafan

1. Nyeri kepala: Nyeri kepala yang berkepanjangan atau berulang-ulang.


2. Kesulitan berbicara: Kesulitan berbicara atau mengartikulasikan kata-kata.
3. Kesulitan berjalan: Kesulitan berjalan atau mengkoordinasikan gerakan
tubuh.
4. Kesulitan mengingat: Kesulitan mengingat atau memahami informasi.
5. Perubahan mood: Perubahan mood yang tidak dapat dijelaskan.
60
Gejala Sistem Persarafan

1. Kelemahan otot: Kelemahan otot atau kehilangan kekuatan otot.


2. Kesulitan mengontrol gerakan: Kesulitan mengontrol gerakan tubuh atau
mengkoordinasikan gerakan.
3. Kesulitan merasakan: Kesulitan merasakan sentuhan, suhu, atau rasa sakit.
4. Kesulitan menglihat: Kesulitan menglihat atau memahami informasi visual.
5. Kesulitan mendengar: Kesulitan mendengar atau memahami informasi
auditorik.

Gejala Spesifik pada Setiap Bagian Sistem Persarafan

1. Sistem Saraf Pusat (SSP): Gejala seperti kelemahan otot, kesulitan


berbicara, dan kesulitan mengingat.
2. Sistem Saraf Tepi (SST): Gejala seperti kesulitan merasakan, kesulitan
mengontrol gerakan, dan kesulitan menglihat.
3. Sistem Saraf Otonom (SSO): Gejala seperti kesulitan mengontrol tekanan
darah, kesulitan mengontrol suhu tubuh, dan kesulitan mengontrol
fungsi pencernaan.
D. ANATOMI FISIOLOGI SISTEM PERSARAFAN

Sel-sel pada Sistem Saraf (Limited, 2000) :


1. Neuron

Sistem saraf terdiri atas sel-sel saraf yang disebut neuron. Neuron adalah
unit fungsional sistem saraf yang terdiri dari badan sel dan perpanjangan

61
[Link] bergabung membentuk suatu jaringan untuk mengantarkan
impuls (rangsangan). Satu sel saraf tersusun dari badan sel, dendrit, dan akson.
1. Badan sel
Badan sel saraf merupakan bagian yang paling besar dari sel saraf. Badan
sel berfungsi untuk menerima rangsangan dari dendrit dan meneruskannya ke
akson. Pada badan sel saraf terdapat inti sel, sitoplasma, mitokondria, sentrosom,
badan golgi, lisosom, dan badan nisel. Badan nisel merupakan kumpulan
retikulum endoplasma tempat transportasi sintesis protein.
Bagian ini tersusun dari komponen berikut :
a. Satu nucleus tunggal, nucleolus yang menanjol dan organel lain seperti
konpleks golgi dan mitochondria, tetapi nucleus ini tidak memiliki sentriol
dan tidak dapat bereplikasi.
b. Badan nissi, terdiri dari reticulum endoplasma kasar dan ribosom-ribosom
bebas serta berperan dalam sintesis protein.
c. Neurofibril yaitu neurofilamen dan neurotubulus yang dapat dilihat melalui
mikroskop cahaya jika diberi pewarnaan dengan perak.
2. Dendrit
Dendrit adalah serabut sel saraf pendek dan bercabang-cabang. Dendrit
merupakan perluasan dari badan sel. Dendrit berfungsi untuk menerima dan
mengantarkan rangsangan ke badan sel.
3. Akson
Akson disebut neurit. Neurit adalah serabut sel saraf panjang yang
merupakan perjuluran sitoplasma badan sel. Di dalam neurit terdapat benang-
benang halus yang disebut neurofibril. Neurofibril dibungkus oleh beberapa
lapis selaput mielin yang banyak mengandung zat lemak dan berfungsi untuk
mempercepat jalannya rangsangan. Selaput mielin tersebut dibungkus oleh sel-
sel sachwann yang akan membentuk suatu jaringan yang dapat menyediakan
makanan untuk neurit dan membantu pembentukan neurit. Lapisan mielin
sebelah luar disebut neurilemma yang melindungi akson dari kerusakan. Bagian
neurit ada yang tidak dibungkus oleh lapisan mielin. Bagian ini disebut dengan
nodus ranvier dan berfungsi mempercepat jalannya rangsang.

62
Klasifikasi Neuron
a) Menurut Fungsinya
Neuron diklasifikasi secara fungsional berdasarkan arah transmisi impulsnya.
a. Neuron sensorik (aferen) menghantarkan impuls listrik dari reseptor pada
kulit, organ indera atau suatu organ internal ke SSP.
b. Neuron motorik menyampaikan impuls dari SSP ke efek tor.
Interneuron (neuron yang berhubungan) ditemukan seluruhnya dalam SSP.
Neuron ini menghubungkan neuron sensorik dan motorik atau
menyampaikan informasi ke interneuron lain.
b) Menurut Struktur (Sloane, 2003)

Neuron diklasifikasi secara structural berdasarkan jumlah prosesusnya.


1. Neuron unipolar memiliki satu akson dan dua denderit atau lebih. Sebagian
besar neuron motorik, yang ditemukan dalam otak dan medulla spinalis,
masuk dlam golongan ini.
2. Neuron bipolar memiliki satu akson dan satu dendrite. Neuron ini
ditemukan pada organ indera, seperti amta, telinga dan hidung.
3. Neuron unipolar kelihatannya memiliki sebuah prosesus tunggal, tetapi
neuron ini sebenarnya bipolar.

63
c) Sel Neuroglial (Sloane, 2003)

Biasanya disebut glia, sel neuroglial adalah sel penunjang tambahan pada
SSP yang berfungsi sebagai jaringan ikat.
1. Astrosit adalah sel berbentuk bintang yang memiliki sejumlah prosesus
panjang, sebagian besar melekat pada dinding kapilar darah melalui pedikel
atau “kaki vascular”.
2. Oligodendrosit menyerupai astrosit, tetapi badanselnya kecil dan jumlah
prosesusnya lebih sedikit dan lebih pendek.
3. Mikroglia ditemukan dekat neuron dan pembuluh darah, dan dipercaya
memiliki peran fagositik.
4. Sel ependimal membentuk membran spitelial yang melapisi rongga serebral
dan ronggal medulla spinalis.
d) Kelompok Neuron (Sloane, 2003)
1. Nukleus adalah kumpulan badan sel neuron yang terletak di
dalam SSP.
2. Ganglion adalah kumpulan badan sel neuron yang terletak di bagian luar
SSP dalam saraf perifer.
3. Saraf adalah kumpulan prosesus sel saraf (serabut) yang terletak di luar SSP.
4. Saraf gabungan. Sebagian besar saraf perifer adalah saraf gabungan ; saraf
ini mengandung serabut arefen dan eferen yang termielinisasi dan yang
tidak termielinisasi.

64
5. Traktus adalah kumpulan serabut saraf dalam otak atau medulla spinalis
yang memiliki origo dan tujuan yang sama.
6. Komisura adalah pita serabut saraf yang menghubungkan sisi-sisi yang
berlawanan pada otak atau medulla spinalis
Neuron memeiliki tiga tipe dasar (Limited, 2000)
1. Neuron Sensori
Neron ini membawa impuls yang berisikan informasi dari organ indra
keseluruh tubuh ke SSP. Neuron ini mempunyai serabut perifer yang
panjang yang berlanjuut dengan serabut sentral.

2. Neuron Konektor
Neuron ini merupakan jumlah terbanyak. Neuron yang menghubungkan dan
mengaitkan aktivitas neuron motorik dan sensorik
3. Neuron Motorik
Membawa impuls menjauh dari SSP ke otot dan kelenjar tubuh
Organisasi Struktural Sistem Saraf dibagi menjadi 2:
1) SISTEM SARAF PUSAT (SSP)
A) Otak
Otak manusia mencapai 2% dari keseluruhan berat tubuh, mengkonsumsi
25% oksigen dan menerima 1,5% curah jantung. Bagian cranial pada tabung
saraf membentuk tiga pembesaran (vesikel) yang berdiferensiasi untuk
membentuk otak : otak depan, otak tengah dan otak belakang.
Otak melaksanakan semua fungsi yang disadari. Otak bertanggung jawab
terhadap pengalaman-pengalaman berbagai macam sensasi atau rangsangan
terhadap kemampuan manusia untuk melakukan gerakan-gerakan yang
menuruti kemauan (disadari), dan kemampuan untuk melaksanakan berbagai
macam proses mental, seperti ingatan atau memori, perasaan emosional,
intelegensia, berkomunikasi, sifat atau kepribadian dan ramalan.
Otak terletak dalam rongga kranium (tengkorak) berkembang dari sebuah
tabung yang mulanya memperhatikan tiga gejala pembesaran otak awal.
a. Otak depan menjadi hemisfer serebri, korpus striatum, thalamus, serta
hipotalamus.

65
b. Otak tengah, tegmentum, krus serebrium, korpus kuadrigeminus.
c. Otak belakang, menjadi pons varoli, medulla oblongata, dan serebelum.

Bagian-Bagian Otak (Untari, 2013)

1. Otak Depan(diensefalon)

Otak depan terdiri atas dua bagian, yaitu thalamus yang berfungsi menerima
semua rangsang dari reseptor kecuali bau, dan hipothalamus yag berfungsi

66
dalam pengaturan suhu, pengaturan nutrien, penjagaan agar tetap bangun, dan
penumbuhan sikap agresif.

2. Otak besar (serebrum)

Otak besar merupakan bagian terbesar dan terdepan dari otak manusia. Otak
besar mempunyai fungsi dalam mengatur semua aktivitas mental, yang
berkaitan dengan kepandaian (intelegensia), ingatan (memori), kesadaran, dan
pertimbangan. Otak besar terdiri atas Lobus Oksipitalis sebagai pusat
penglihatan, Lobus temporalis yang berfungsi sebagai pusat pendengaran,
Lobus frontalis yang berfungsi sebagai pusat kepribadian dan pusat komunikasi
dan Lobus parientalis yang berfungsi sebagai sensorik.
3. Otak kecil (serebelum)

Otak kecil (serebelum) mempunyai fungsi utama dalam koordinasi terhadap


otot dan tonus otot, keseimbangan dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang

67
merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin
dilaksanakan. Otak kecil juga berfungsi mengkoordinasikan gerakan yang
halus dan luwes.

Fungsi dari Cerebellum:


1. Membantu pengkoordinasian otot voluntar sehingga dapat berfungsi secara
lembut dan dalam pola yang teratur. Penyakit cerebellum menyebabkan
kejang-kejang otot dan tremors.
2. Membantu dalam menjaga keseimbangan pada waktu berdiri, berjalan, dan
duduk maupun waktu rnelakukan aktivitas yang lebih giat. Pesan-pesan dari
telinga bagian internal dan dari reseptor sensorik di tendo serta otot
membantu cerebellum.
3. Membantu di dalam memlihara tonus otot sehingga seluruh serat otot cukup
kencang dan siap menghasilkan perubahan-perubahan posisi yang penting
secepatnya bila diperlukan.
4. Otak tengah (mesensefalon)

Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Otak tengah
berfungsi penting pada refleks mata, tonus otot serta fungsi posisi atau
kedudukan tubuh.
4. Jembatan varol (pons varoli)

68
Jembatan varol merupakan serabut saraf yang menghubungkan otak kecil
bagian kiri dan kanan. Selain itu, menghubungkan otak besar dan sumsum
tulang belakang. Terletak di depan serebelum di antara otak tengah dan medula
oblongata. Disini terdapat premotoksid yang mengatur gerakan pernapasan dan
refleks.

Fungsinya:
a. Penghubung antara kedua bagian serebelum dan juga antara medula
oblongata dengan serebelum atau otak besar.
b. Pusat saraf nervus trigeminus.
5. Medula oblongata
Merupakan bagian dari batang otak yang paling bawah yang
menghubungkan pons varoli dengan medula spinalis. Bagian bawah medula
oblongata merupakan persambungan medula spinalis ke atas, bagian atas
medula oblongata yang melebar disebut kanalis sentralis di daerah tengah
bagian ventral medula oblongata.
Fungsi medula oblongata:
a. Mengontrol kerja jantung.
b. Mengecilkan pembuluh darah (vasokonstriktor).
c. Pusat pernapasan.
d. Mengontrol kegiatan refleks
B) Medula Spinalis (Limited, 2000)
Medulla spinalis merupakan bagian dari susunan saraf pusat, terletak di
dalam canalis vertebralis dan merupakan lanjutan dari medulla oblongata dan
ujung caudalnya membentuk conus medullaris. Panjangnya pada pria sekitar 45
cm dan wanita 42-43 cm. segmen upper cervical & thoracal berbentuk silindris
dan segmen lower cervical & lumbal berbentuk oval. Berawal dari dasar otak
(atlas/V.C1), berakhir setinggi L1-L2 (conus medullaris), ke bawah
melanjutkan diri sebagai fillum terminale. Di bawah Conus medullaris
terbentuk anyaman akar saraf (saraf tepi) menyerupai ekor kuda (cauda equina).
Setiap pasangan saraf keluar melalui Intervertebral foramina. Saraf Spinal
dilindungi oleh tulang vertebra dan ligamen dan juga oleh meningen spinal dan

69
CSF. Saraf spinal berjumlah 31 pasang yaitu: 8 pasang saraf servikal, 12 pasang
saraf thorakal, 5 pasang saraf lumbal, 5 pasang saraf sakral, dan 1 pasang saraf
koksigeal.

Gambar 2.1 medula spinalis gambar 2.2 segmen medulla spinalis

Fungsi Sumsum Tulang Belakang


Fungsi sumsum tulang belakang dapat dibagi dalam tiga kelompok, yaitu :
1. Aktifitas refleks, yang melibatkan integrasi dan transfer pesan-pesan
yang memasuki sumsum tulang belakang, sehingga memungkinkan
impuls sensorik (afferent) masuk dan pesan motorik (efferent)
meninggalkan sumsum tulang belakang tanpa melibatkan otak.
2. Konduksi impuls sensorik dari saraf afferen ke atas melalui tractus naik
3. Konduksi impuls motorik (efferent) dari otak turun melalui tractus ke
saraf-saraf yang menginervasi otot atau kelenjar. Jalur reflek melalui
sumsum tulang belakang biasanya melibatkan tiga neuron atau lebih
seperti berikut:
a. Neuron sensoris yang permulaannya pada suatu receptor dan serat
sarafnya dalam nervus yang mengarah ke sumsum.

70
Satu neuron sentral atau lebih yang keseluruhannya ada di dalam
sumsum.
b. Neuron motoris yang menerima impuls dari neuron sentral, kemudian
membawanya melalui sepanjang axon suatu saraf menuju otot atau
kelenjar yang disebut efektor.
Kejut lutut adalah contoh refleks tulang belakang. Jalur saraf bagi refleks
ini meliputi neuron sensoris yang reseptornya ada di dalam tendo tepat di bawah
lutut, serat saraf sensorisnya ada di dalam nervus yang memanjang sampai
sumsum tulang belakang, neuron sentral di dalam bagian sumsum bagian
bawah, dan neuron motoris yang mengirim impuls melalui nervus dari sumsum
ke efektor yang berupa [Link] femoris (otot paha yang menendang).
Dalam medulla spinalis lewat dua traktus dengan fungsi tertentu, yaitu
traktus desenden dan asenden. Traktus desenden berfungsi membawa sensasi
yang bersifat perintah yang akan berlanjut ke perifer. Sedangkan traktus
asenden secara umum berfungsi untuk mengantarkan informasi aferen yang
dapat atau tidak dapat mencapai kesadaran. Informasi ini dapat dibagi dalam
dua kelompok, yaitu:
a. Informasi eksteroseptif, yang berasal dari luar tubuh, seperti rasa nyeri,
suhu, dan raba, dan
b. Informasi proprioseptif, yang berasal dari dalam tubuh, misalnya otot dan
sendi
Traktus desenden yang melewati medulla spinalis terdiri dari:
1. Traktus kortikospinalis, merupakan lintasan yang berkaitan dengan
gerakan-gerakan terlatih, berbatas jelas, volunter, terutama pada bagian
distal anggota gerak.
2. Traktus retikulospinalis, dapat mempermudah atau menghambat aktivitas
neuron motorik alpha dan gamma pada columna grisea anterior dan karena
itu, kemungkinan mempermudah atau menghambat gerakan volunter atau
aktivitas refleks.
3. Traktus spinotektalis, berkaitan dengan gerakan-gerakan refleks postural
sebagai respon terhadap stimulus verbal.

71
4. Traktus rubrospinalis bertidak baik pada neuron-neuron motorik alpha dan
gamma pada columna grisea anterior dan mempermudah aktivitas otot-otot
ekstensor atau otot-otot antigravitasi.
5. Traktus vestibulospinalis, akan mempermudah otot-otot ekstensor,
menghambat aktivitas otot-otot fleksor, dan berkaitan dengan aktivitas
postural yang berhubungan dengan keseimbangan.
6. Traktus olivospinalis, berperan dalam aktivitas muskuler
Traktus asenden yang melewati medulla spinalis terdiri dari:
1. Kolumna dorsalis, berfungsi dalam membawa sensasi raba, proprioseptif,
dan berperan dalam diskriminasi lokasi.
2. Traktus spinotalamikus anterior berfungsi membawa sensasi raba dan
tekanan ringan.
3. Traktus spinotalamikus lateral berfungsi membawa sensasi nyeri dan suhu.
4. Traktus spinoserebellaris ventralis berperan dalam menentukan posisi dan
perpindahan, traktus spinoserebellaris dorsalis berperan dalam menentukan
posisi dan perpindahan.
5. Traktus spinoretikularis berfungsi membawa sensasi nyeri yang dalam

SISTEM SARAF PERIFER

A. Saraf-Saraf Kranial

Saraf Kranial pada prinsipnya mempersarafi struktur leher dan kepala.


Semuanya terdapat 12 pasang, dinomorkan dengan angka romawi sesuai dengan
tempatnya muncul. Sistem ini teridir dari jaringan saraf yang berada di bagian
luar otak dan medula spinaliss. Sistem ini juga mencakup saraf kranial yang
berasal dari otak, saraf spinal, yang berasal dari medula spinalis dan ganglis
serta reseptor sensorik yang berhubungan.

72
B. Saraf Spinal

Saraf Spinal yaitu penghubung penting antara otak dan tubuh, dan dari tubuh
ke otak. Sumsum tulang belakang adalah 40 sampai 50 cm panjang dan 1 cm
sampai 1,5 cm. Dua baris berturut-turut akar saraf muncul pada setiap sisinya.
Ini akar saraf bergabung distal untuk membentuk 31 pasang saraf spinalis.
Sumsum tulang belakang adalah struktur silinder jaringan saraf terdiri dari
materi putih dan abu-abu, seragam terorganisir dan dibagi menjadi empat
wilayah: serviks (C), dada (T), lumbal (L) dan sakral (S), yang masing-masing
terdiri dari beberapa segmen. Saraf tulang belakang berisi saraf sensorik dan
motorik dari dan ke seluruh bagian tubuh.
Meskipun sumsum tulang belakang merupakan hanya sekitar 2% dari sistem
saraf pusat (SSP), fungsinya sangat penting. Pengetahuan tentang anatomi
tulang belakang secara fungsional memungkinkan untuk mendiagnosa sifat dan
lokasi kerusakan sumsum dan penyakit sumsum.

Nama-nama saraf spinal beserta fungsinya adalah :


1. Nervus Hipoglossus, yaitu saraf yang mempersarafi daerah sekitar lidah.
2. Nervus Occipitalis Minor, yaitu saraf yang mempersarafi bagian otak
belakang dalam trungkusnya.

73
3. Nervus Thoracicus, yaitu saraf yang memepersarafi otot serratus anterior
(otot dada bagian depan).
4. Nervus Radialis, yaitu saraf yang mempersarafi bagian-bagian otot seperti
otot lengan bawah bagian belakang, otot triceps brachii (otot lengan atas),
otot anconeus (otot kecil pada permukaan belakang siku), otot
brachioradialis (otot lengan bawah), dan otot ekstensor lengan bawah. Saraf
ini juga mempersarafi kulit bagian belakang lengan atas dan lengan bawah.
5. Nervus Thoracicus Longus, yaitu saraf yang mempersarafi otot subclavius
(otot berbentuk segitiga yang terletak antara tulang selangka dan tulang
rusuk pertama)
6. Nervus Thoracodorsalis, yaitu saraf yang mempersarafi bagian otot
deltoid (bahu), otot trapezius (otot yang menyusun struktur punggung
manusia), dan otot latissimus dorsi (otot besar yang terletak di bagian
punggung di belakang lengan).
7. Nervus Axillaris, saraf ini bersandar pada collum chirurgicum humeri
(suatu penyempitan pada tulang lengan humerus)
8. Nervus Subclavius, saraf subclavius berasal dari akar saraf C5 dan C6,
mempersarafi otot subclavius (otot kecil berbentuk segitiga yang berada di
antara tulang selangka dan tulang rusuk pertama).
9. Nervus Supcapulari: Nervus ini bersal dari akar saraf C5, mempersarafi
otot rhomboideus major dan minor (otot yang menyusun bagian lengan
atas), serta otot levator scapulae (otot yang mengatur gerakan dari tulang
belikat).
10. Nervus supracaplaris: Berasal dari trunkus superior (gabungan dari akar
saraf bagian atas), mempersarafi otot supraspinatus dan infraspinatus (otot
kecil di lengan atas).
11. Nervus Phrenicus, saraf phrenicus ini mempersarafi organ diafragma.
12. Nervus Intercostalis
13. Nervus Intercostobrachialis, yaitu saraf yang mempersarafi kelenjar getah
bening.
14. Nervus Cutaneus Brachii Medialis, yaitu saraf yang mempersarafi kulit
sisi tengah (medial) lengan atas.

74
15. Nervus Cutaneus Antebrachii Medialis, yaitu saraf yang mempersarafi
kulit sisi tengah (medial) lengan bawah.
16. Nervus Ulnaris, yaitu saraf yang mempersarafi satu setengah otot fleksor
(otot yang berperan dalam gerakan lipat) lengan bawah dan otot-otot kecil
tangan, dan kulit tangan di sebelah tengah (medial).
17. Nervus Medianus, yaitu saraf yang memberikan cabang C5, C6, C7 untuk
nervus medianus.
18. Nervus Musculocutaneus, yaitu saraf yang berasal dari C5 dan C6,
mempersarafi otot coracobrachialis (otot kecil yang melekat pada tulang
belikat), otot brachialis (otot lengan atas), dan otot biceps brachii (otot
lengan atas yang mempunyai 2 cabang). Selanjutnya cabang ini akan
menjadi nervus cutaneus lateralis dari lengan atas.
19. Nervus Dorsalis Scapulae, yaitu saraf yang bersal dari ramus C5,
mempersarafi otot rhomboideus (otot yang menyususn lengan atas).
20. Nervus Transverses Colli
21. Nervus Nuricularis, yaitu saraf yang berjalan berdekatan menuju foramen
(lubang pada tulang), letak anatomisnya adalah di sebelah atas dengan
lamina terminalis (daerah hipotalamus di otak)
22. Nervus Subcostalis, yang mempersarafi sistem kerja ginjal dan letaknya.
23. Nervus Iliochypogastricus, nervus iliohypogastricus ini berpusat pada
medulla spinalis (sumsum tulang belakang).
24. Nervus Iliongnalis, yaitu saraf yang mempersarafi sistem genital (alat
reproduksi), atau kelamin manusia.
25. Nervus Genitofemularis, nervus genitofemoralis ini adalah saraf yang
berpusat pada medulla spinalis L1-2, berjalan ke caudal (ekor), menembus
otot Psoas major (otot di bagian bokong manusia) setinggi vertebra lumbalis
(tulang belakang bagian lumbal) 3 atau 4.
26. Nervus Cutaneus Femoris Lateralis, yaitu saraf yang mempersarafi
tungkai atas, bagian luar (lateral) tungkai bawah, serta bagian luar (lateral)
kaki.
27. Nervus Femoralis, yaitu saraf yang mempersarafi daerah paha dan otot
paha.

75
28. Nervus Gluteus Superior, yaitu saraf yang bercabang dari tulang belakang
L4, L5, dan paha, walaupun sering dijumpai percabangan dengan letak yang
lebih tinggi.
29. Nervus Ischiadicus, yaitu nervus yang mempersarafi bagian pangkal paha.
30. Nervus Cutaneus Femoris Inferior, yaitu saraf yang mempersarafi
bagian-bagian pada bagian lengan bawah.
31. Nervus Pudendus, yaitu saraf yang letaknya berdekatan dengan ujung
spina ischiadica (tonjolan pada tulang ischium di bokong). Nervus pudendus
mempersarafi otot levator ani (otot yang terletak di sisi panggul), dan otot
perineum (otot bagian bawah kemaluan) ke kiri atau kanan, sedangkan letak
kepalanya dibuat sedikit lebih rendah.
C. Sistem Saraf Otonom

Meskipun organ internal seperti jantung, paru-paru, dan perut berisi ujung
dan serat saraf untuk mengkonduksi pesan-pesan sensoris pada otak dan
sumsum tulang belakang, tetapi sebagian be sar dorongar ini tidak mencapai
kesadaran. Dorongan afferent ini dari viscera diterjemahkan ke dalam respon
reflek tanpa mencapai bagian otak sebelah atas: neuron sensoris dari organ
dikelompokkan dengan organ yang datang dari kulit dan otot voluntary. Seba-
laiknya neuron efferent yang memasok kelenjar dan otot involuntary disusun
sangat berbeda dari those yang memasok otot voluntary. Variasi di dalam lokasi
dan penyusunan neuron visceral efferent telah mengarahkan klasifikasi tadi
sebagai bagian dari divisi yang terpisah yang disebut autonomic nervous
[Link] saraf otonom mempunyai banyak ganglion (ganglia) yang
berperan sebagai stasiun pemancar. Di dalam ganglia ini setiap pesan ditransfer
pada synapse dari neuron pertama ke neuron ke dua dan dari sana menuju sel
kelenjar atau otot. Ini berbeda de-ngan yang berasal dari sistern saraf voluntary
(somatik) di mana setiap serat saraf motorik extends seluruh jalan dari sumsum
tulang beiakang ke otot skelet tanpa intervening synapse.
Secara garis besar lokasi bagian sistem saraf otonom adalah sebagai berikut:
1. Jalur simpatetik mulai di dalam sumsum tulang belakang dengan tubuh sel
di dalam daerah lumbar dan dada, daerah [Link] simpatetik
timbul dari sumsum tulang belakang pada tingkat perama saraf thoracic

76
turun pada tingkat kedua saraf tulang bela-kang lumbar. Dari bagian
sumsum ini serat saraf memanjang sampai pada ganglia sympathetic chains
(kerangka badan), dua untai gang lia yang menyerupai sumsum yang
memanjang di separjang sisi tu-lang belakang dari leher bagian bawah
sampai daerah abdominal sebelah atas. Ganglia kerangka badan yang
menyerupai merjan ini dinamakan lateral ganglia berisi tubuh sel dari
sekelompok neuron yang kedua, seratnya memanjang sampai kelenjar dan
jaringan otot involuntary. Neuron kedua ini melepaskan sebagian besar
neurotransmitter norepinehrine (noradrenalin) pada jaringan effector.
2. Jalur parasimpatetik mulai di dalam daerah craniosacral dengan
munculnya serat dari tubuh sel midbrain, medulla, dan bagian ba-wah
sumsum tulang belakang (sacral). Dari pusat-pusat inilah seke lompok
serat yang pertama memanjang sampai ganglia otonom yang bi asanya
berlokasi di dalam atau di dekat dinding organ effector. Kemudian jalurnya
terus sepanjang sekelompok neuron kedua yang menstimulasi jaringan
visceral. Neuron ini melepaskan neurotrnasmitter acetylcholine.
E. GANGGUAN SISTEM PERSARAFAN
1. Stroke

Stroke adalah kondisi medis darurat yang terjadi ketika aliran darah ke otak
terganggu, menyebabkan kerusakan pada jaringan otak. Stroke dapat
disebabkan oleh sumbatan (iskemik) atau perdarahan (hemoragik) di otak.

a. Tanda-Tanda Stroke
1) Mengalami kelemahan atau kehilangan kendali pada wajah, lengan, atau
kaki
2) Kesulitan berbicara atau memahami Bahasa
3) Kesulitan melihat dengan satu atau kedua mata
4) Kesulitan berjalan, kehilangan keseimbangan, atau mengalami vertigo
5) Nyeri kepala yang parah dan tiba-tiba

b. Gejala Stroke
1) Kelemahan atau kehilangan kendali pada wajah, lengan, atau kaki
2) Kesulitan berbicara atau memahami Bahasa
77
3) Kesulitan melihat dengan satu atau kedua mata
4) Kesulitan berjalan, kehilangan keseimbangan, atau mengalami vertigo
5) Nyeri kepala yang parah dan tiba-tiba
6) Kesulitan menelan
7) Kesulitan mengontrol kemih
8) Perubahan pada tingkat kesadaran

c. Jenis-Jenis Stroke
1) Stroke Iskemik: Terjadi ketika aliran darah ke otak terganggu oleh
sumbatan.
2) Stroke Hemoragik: Terjadi ketika terjadi perdarahan di otak.
3) Stroke Transien: Terjadi ketika gejala stroke muncul hanya untuk sementara
waktu (kurang dari 24 jam).

d. Faktor Risiko Stroke


1) Usia: Risiko stroke meningkat dengan bertambahnya usia.
2) Tekanan Darah Tinggi: Tekanan darah tinggi dapat meningkatkan risiko
stroke.
3) Diabetes: Diabetes dapat meningkatkan risiko stroke.
4) Kolesterol Tinggi: Kolesterol tinggi dapat meningkatkan risiko stroke.
5) Merokok: Merokok dapat meningkatkan risiko stroke.
6) Kegemukan: Kegemukan dapat meningkatkan risiko stroke.

e. Pengobatan Stroke
1) Pengobatan darurat: Pengobatan darurat diperlukan untuk mengurangi
kerusakan otak.
2) Pengobatan medis: Pengobatan medis dapat membantu mengurangi gejala
stroke.
3) Rehabilitasi: Rehabilitasi dapat membantu meningkatkan fungsi otak dan
mengurangi gejala stroke.

f. Pencegahan Stroke

78
1) Mengontrol tekanan darah: Mengontrol tekanan darah dapat membantu
mengurangi risiko stroke.
2) Mengontrol gula darah: Mengontrol gula darah dapat membantu
mengurangi risiko stroke.
3) Mengontrol kolesterol: Mengontrol kolesterol dapat membantu mengurangi
risiko stroke.
4) Berhenti merokok: Berhenti merokok dapat membantu mengurangi risiko
stroke.
5) Mengurangi kegemukan: Mengurangi kegemukan dapat membantu
mengurangi risiko stroke.
2. Tumor Otak

Tumor otak adalah pertumbuhan sel yang tidak normal di dalam otak.
Tumor otak dapat bersifat jinak (non-kanker) atau ganas (kanker). Tumor otak
dapat mempengaruhi fungsi otak dan menyebabkan berbagai gejala.

a. Tanda-Tanda Tumor Otak


1) Nyeri kepala: Nyeri kepala yang berkepanjangan atau berulang-ulang.
2) Mual dan muntah: Mual dan muntah yang tidak dapat dijelaskan.
3) Kesulitan berbicara: Kesulitan berbicara atau memahami bahasa.
4) Kesulitan melihat: Kesulitan melihat atau penglihatan yang kabur.
5) Kesulitan berjalan: Kesulitan berjalan atau kehilangan keseimbangan.

b. Gejala Tumor Otak


1) Nyeri kepala yang parah: Nyeri kepala yang parah dan tidak dapat
dihilangkan.
2) Kesulitan mengingat: Kesulitan mengingat atau memahami informasi.
3) Kesulitan mengontrol emosi: Kesulitan mengontrol emosi atau perubahan
mood.
4) Kesulitan berbicara atau menulis: Kesulitan berbicara atau menulis.
5) Kesulitan mengontrol gerakan: Kesulitan mengontrol gerakan atau
kehilangan koordinasi.

c. Jenis-Jenis Tumor Otak


79
1) Tumor otak jinak: Tumor otak yang tidak bersifat kanker, seperti
meningioma atau schwannoma.
2) Tumor otak ganas: Tumor otak yang bersifat kanker, seperti glioblastoma
atau medulloblastoma.
3) Tumor otak metastatik: Tumor otak yang berasal dari kanker lain di tubuh.

d. Faktor Risiko Tumor Otak


1) Genetik: Faktor genetik dapat mempengaruhi risiko tumor otak.
2) Radiasi: Paparan radiasi dapat meningkatkan risiko tumor otak.
3) Kanker lain: Kanker lain di tubuh dapat meningkatkan risiko tumor otak.
4) Usia: Risiko tumor otak meningkat dengan bertambahnya usia.

e. Pengobatan Tumor Otak


1) Operasi: Operasi untuk mengangkat tumor otak.
2) Radioterapi: Radioterapi untuk menghancurkan sel-sel tumor.
3) Kemoterapi: Kemoterapi untuk menghancurkan sel-sel tumor.
4) Terapi target: Terapi target untuk menghancurkan sel-sel
tumor yang spesifik.
3. Meningitis

Meningitis adalah peradangan pada selaput yang melindungi otak dan


sumsum tulang belakang, yang disebut meninges. Peradangan ini dapat
disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur.

a. Tanda-Tanda Meningitis
1) Nyeri kepala yang parah: Nyeri kepala yang parah dan tidak dapat
dihilangkan.
2) Demam: Demam yang tinggi dan tidak dapat dihilangkan.
3) Mual dan muntah: Mual dan muntah yang tidak dapat dihilangkan.
4) Kesulitan berbicara: Kesulitan berbicara atau memahami bahasa.
5) Kesulitan berjalan: Kesulitan berjalan atau kehilangan keseimbangan.

b. Gejala Meningitis

80
1) Nyeri kepala yang parah: Nyeri kepala yang parah dan tidak dapat
dihilangkan.
2) Demam: Demam yang tinggi dan tidak dapat dihilangkan.
3) Mual dan muntah: Mual dan muntah yang tidak dapat dihilangkan.
4) Kesulitan berbicara: Kesulitan berbicara atau memahami bahasa.
5) Kesulitan berjalan: Kesulitan berjalan atau kehilangan keseimbangan.
6) Kesulitan mengingat: Kesulitan mengingat atau memahami informasi.
7) Perubahan pada tingkat kesadaran: Perubahan pada tingkat kesadaran,
seperti kebingungan atau kehilangan kesadaran.

c. Jenis-Jenis Meningitis
1) Meningitis bakteri: Meningitis yang disebabkan oleh infeksi bakteri.
2) Meningitis virus: Meningitis yang disebabkan oleh infeksi virus.
3) Meningitis jamur: Meningitis yang disebabkan oleh infeksi jamur.

d. Faktor Risiko Meningitis


1) Usia: Meningitis lebih umum terjadi pada anak-anak dan orang dewasa yang
berusia di atas 60 tahun.
2) Sistem kekebalan yang lemah: Orang dengan sistem kekebalan yang lemah
lebih rentan terhadap meningitis.
3) Infeksi lain: Orang dengan infeksi lain, seperti pneumonia atau sinusitis,
lebih rentan terhadap meningitis.

e. Pengobatan Meningitis
1) Antibiotik: Antibiotik untuk mengobati meningitis bakteri.
2) Antiviral: Antiviral untuk mengobati meningitis virus.
3) Antijamur: Antijamur untuk mengobati meningitis jamur.
4) Perawatan suportif: Perawatan suportif untuk mengobati gejala meningitis.
4. Neuritis

Neuritis adalah peradangan pada saraf yang dapat menyebabkan kerusakan


pada saraf dan mengganggu fungsi saraf. Neuritis dapat terjadi pada saraf mana
pun di tubuh, tetapi lebih umum terjadi pada saraf di tangan, kaki, atau wajah.

81
a. Tanda-Tanda Neuritis
1) Nyeri atau kesemutan pada saraf yang terkena
2) Kelemahan atau kehilangan kendali pada otot yang dipengaruhi oleh saraf
yang terkena
3) Kesulitan menggerakkan atau mengontrol anggota tubuh
4) Perubahan pada sensasi, seperti kesemutan, kebas, atau terbakar
5) Perubahan pada refleks, seperti refleks yang melemah atau menghilang

b. Gejala Neuritis
1) Nyeri yang tajam atau terbakar pada saraf yang terkena
2) Kesemutan atau kebas pada anggota tubuh
3) Kelemahan atau kehilangan kendali pada otot
4) Kesulitan menggerakkan atau mengontrol anggota tubuh
5) Perubahan pada sensasi, seperti kesemutan, kebas, atau terbakar
6) Perubahan pada refleks, seperti refleks yang melemah atau menghilang
7) Kesulitan mengontrol keseimbangan atau koordinasi
8) Perubahan pada kemampuan untuk merasakan sentuhan, suhu, atau rasa
sakit

c. Jenis-Jenis Neuritis
1) Neuritis perifer: peradangan pada saraf perifer yang dapat menyebabkan
gejala pada anggota tubuh.
2) Neuritis sentral: peradangan pada saraf sentral yang dapat menyebabkan
gejala pada otak atau sumsum tulang belakang.
3) Neuritis autoimun: peradangan pada saraf yang disebabkan oleh sistem
kekebalan tubuh yang menyerang saraf.

d. Faktor Risiko Neuritis


1) Cedera pada saraf
2) Infeksi, seperti Lyme atau herpes
3) Penyakit autoimun, seperti multiple sclerosis atau rheumatoid arthritis
4) Kondisi medis, seperti diabetes atau hipertensi

82
5) Penggunaan obat-obatan tertentu, seperti kemoterapi atau steroid

e. Pengobatan Neuritis
1) Pengobatan gejala, seperti nyeri atau kesemutan
2) Pengobatan penyebab, seperti infeksi atau cedera
3) Terapi fisik untuk memulihkan fungsi saraf
4) Penggunaan obat-obatan, seperti steroid atau obat anti-nyeri
5) Pembedahan untuk memperbaiki kerusakan pada saraf.
5. Epilepsi

Epilepsi adalah kondisi medis yang ditandai dengan kejang-kejang yang


berulang-ulang, yang disebabkan oleh aktivitas listrik yang tidak normal di otak.
Kejang-kejang ini dapat berupa kejang-kejang yang ringan, seperti kejang-
kejang pada mata atau tangan, atau kejang-kejang yang berat, seperti kejang-
kejang yang menyebabkan penderita jatuh ke tanah dan kehilangan kesadaran.

a. Tanda-Tanda Epilepsi
1) Kejang-kejang: Kejang-kejang yang berulang-ulang, yang dapat berupa
kejang-kejang yang ringan atau berat.
2) Kehilangan kesadaran: Kehilangan kesadaran selama kejang-kejang.
3) Perubahan perilaku: Perubahan perilaku sebelum atau sesudah kejang-
kejang.
4) Perubahan emosi: Perubahan emosi sebelum atau sesudah kejang-kejang.

b. Gejala Epilepsi
1) Kejang-kejang tonik-klonik: Kejang-kejang yang menyebabkan penderita
jatuh ke tanah dan kehilangan kesadaran.
2) Kejang-kejang parsial: Kejang-kejang yang hanya mempengaruhi bagian
tubuh tertentu.
3) Kejang-kejang absence: Kejang-kejang yang menyebabkan penderita
kehilangan kesadaran untuk beberapa detik.
4) Kejang-kejang mioklonik: Kejang-kejang yang menyebabkan penderita
mengalami kontraksi otot yang tidak terkendali.

83
5) Perubahan perilaku: Perubahan perilaku sebelum atau sesudah kejang-
kejang.
6) Perubahan emosi: Perubahan emosi sebelum atau sesudah kejang-kejang.

c. Jenis-Jenis Epilepsi
1) Epilepsi idiopatik: Epilepsi yang tidak memiliki penyebab yang jelas.
2) Epilepsi simptomatik: Epilepsi yang disebabkan oleh kondisi medis lain,
seperti cedera kepala atau infeksi otak.
3) Epilepsi kriptogenik: Epilepsi yang tidak memiliki penyebab yang jelas,
tetapi diduga disebabkan oleh faktor genetik.

d. Faktor Risiko Epilepsi


1) Genetik: Faktor genetik dapat mempengaruhi risiko epilepsi.
2) Cedera kepala: Cedera kepala dapat meningkatkan risiko epilepsi.
3) Infeksi otak: Infeksi otak dapat meningkatkan risiko epilepsi.
4) Kondisi medis lain: Kondisi medis lain, seperti diabetes atau hipertensi,
dapat meningkatkan risiko epilepsi.

e. Pengobatan Epilepsi
1) Obat anti-kejang: Obat anti-kejang dapat membantu mengontrol kejang-
kejang.
2) Terapi: Terapi dapat membantu mengontrol gejala epilepsi.
3) Pembedahan: Pembedahan dapat membantu mengontrol kejang-kejang
pada beberapa kasus.
4) Perubahan gaya hidup: Perubahan gaya hidup, seperti menghindari stres dan
mendapatkan cukup tidur, dapat membantu mengontrol gejala epilepsi.
6. Sindrom Alzheimer

Sindrom Alzheimer adalah penyakit neurodegeneratif yang mempengaruhi


otak dan menyebabkan kerusakan pada jaringan otak. Penyakit ini
menyebabkan gejala seperti kehilangan memori, kesulitan berbicara, dan
perubahan perilaku.

a. Tanda-Tanda Sindrom Alzheimer


84
1) Kehilangan memori: Kehilangan memori yang berkelanjutan dan
memburuk seiring waktu.
2) Kesulitan berbicara: Kesulitan berbicara atau memahami bahasa.
3) Kesulitan mengingat: Kesulitan mengingat nama, tanggal, atau peristiwa.
4) Perubahan perilaku: Perubahan perilaku, seperti menjadi lebih agresif atau
pasif.
5) Kesulitan mengontrol emosi: Kesulitan mengontrol emosi, seperti menjadi
lebih mudah marah atau sedih.

b. Gejala Sindrom Alzheimer


1) Kehilangan memori jangka pendek: Kehilangan memori jangka pendek,
seperti lupa apa yang baru saja dilakukan.
2) Kesulitan belajar hal baru: Kesulitan belajar hal baru atau memahami
konsep baru.
3) Kesulitan mengingat nama: Kesulitan mengingat nama orang, tempat, atau
benda.
4) Kesulitan mengontrol emosi: Kesulitan mengontrol emosi, seperti menjadi
lebih mudah marah atau sedih.
5) Perubahan perilaku: Perubahan perilaku, seperti menjadi lebih agresif atau
pasif.
6) Kesulitan menggerakkan tubuh: Kesulitan menggerakkan tubuh, seperti
kesulitan berjalan atau mengangkat.
7) Kesulitan mengontrol keseimbangan: Kesulitan mengontrol keseimbangan,
seperti kesulitan berdiri atau berjalan.
c. Jenis-Jenis Sindrom Alzheimer
1) Sindrom Alzheimer awal: Sindrom Alzheimer yang terjadi pada usia dini,
biasanya sebelum usia 65 tahun.
2) Sindrom Alzheimer lanjut: Sindrom Alzheimer yang terjadi pada usia lanjut,
biasanya setelah usia 65 tahun.

d. Faktor Risiko Sindrom Alzheimer


1) Usia: Risiko sindrom Alzheimer meningkat dengan bertambahnya usia.

85
2) Genetik: Faktor genetik dapat mempengaruhi risiko sindrom Alzheimer.
3) Kondisi medis lain: Kondisi medis lain, seperti diabetes atau hipertensi,
dapat meningkatkan risiko sindrom Alzheimer.
4) Gaya hidup: Gaya hidup yang tidak sehat, seperti merokok atau kurang
berolahraga, dapat meningkatkan risiko sindrom Alzheimer.

e. Pengobatan Sindrom Alzheimer


1) Obat-obatan: Obat-obatan dapat membantu mengontrol gejala sindrom
Alzheimer.
2) Terapi: Terapi dapat membantu mengontrol gejala sindrom Alzheimer.
3) Perubahan gaya hidup: Perubahan gaya hidup, seperti berolahraga secara
teratur atau mengikuti diet sehat, dapat membantu mengontrol gejala
sindrom Alzheimer.

86

Anda mungkin juga menyukai