IMPLEMENTASI MANAJEMEN KELAS
DALAM PENINGKATAN EFEKTIVITAS
PROSES PEMBELAJARAN DI MTSN 3
JOMBANG
PROPOSAL SKRIPSI
:OLEH
PUJI ASTUTIK
NIM: 2093244052
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS HASYIM ASY’ARI
TEBUIRENG JOMBANG
2024
IMPLEMENTASI MANAJEMEN KELAS
DALAM PENINGKATAN EFEKTIVITAS
PROSES PEMBELAJARAN DI MTSN 3
JOMBANG
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan ([Link])
OLEH
PUJI ASTUTIK
NIM: 2093244052
PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS HASYIM ASY’ARI
TEBUIRENG JOMBANG
2024
ii
SURAT KETERANGAN PERSETUJUAN PROPOSAL
Yang bertanda tangan dibawah ini, menerangkan bahwa proposal skripsi:
Nama : Puji Astutik
NIM : 2093244052
Program Studi : Manajemen Pendidikan Islam
Judul Proposal : IMPLEMENTASI MANAJEMEN KELAS DALAM
PENINGKATAN EFEKTIVITAS PROSES
PEMBELAJARAN DI MADRASAH TSANAWIYAH
NEGERI 3 JOMBANG
Telah diperiksa, disetujui, dan layak untuk diseminarkan pada sidang seminar
proposal skripsi.
Demikian surat keterangan ini dibuat agar digunakan sebagaimana mestinya.
Jombang, 2024
Pembimbing,
(Dr. Lukman Hakim, MA)
NIY. UHA.01.0677
iii
SURAT PENGESAHAN PROPOSAL SKRIPSI
Yang bertanda tangan dibawah ini, menerangkan bahwa proposal skripsi:
Nama : Puji Astutik
NIM : 2093244052
Program Studi : Manajemen Pendidikan Islam
Judul Proposal : IMPLEMENTASI MANAJEMEN KELAS DALAM
PENINGKATAN EFEKTIVITAS PROSES
PEMBELAJARAN DI MADRASAH TSANAWIYAH
NEGERI 3 JOMBANG
Telah diperbaiki dan disempurnakan sesuai dengan keputusan penguji pada
seminar proposal skripsi yang diselenggarakan pada tanggal................... 2024.
Demikian surat keterangan ini dibuat agar digunakan sebagaimana mestinya.
Jombang, 2024
Pembimbing,
(Dr. Lukman Hakim, MA)
NIY. UHA.01.0677
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN COVER .................................................................................. i
HALAMAN JUDUL .................................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PROPOSAL ............................................. iii
DAFTAR ISI................................................................................................. iv
DAFTAR TABEL......................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR.................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN
A. Konteks Penelitian ............................................................................. 1
B. Fokus Penelitian ................................................................................ 8
C. Tujuan Penelitian ............................................................................... 9
D. Manfaat Penelitian ............................................................................. 9
E. Definisi Istilah ................................................................................... 10
F. Sistematika Pembahasan ................................................................... 11
BAB II METODE PENELITIAN
A. Landasan Teori .................................................................................. 13
1. Manajemen Kelas......................................................................... 13
a. Pengertian Manajemen .......................................................... 13
b. Pengertian manajemen kelas ................................................. 14
c. Fungsi manajemen kelas ....................................................... 17
d. Tujuan manajemen kelas........................................................ 20
e. Faktor-faktor yang mempengaruhi manajemen kelas ........... 22
2. Proses pembelajaran .................................................................... 24
a. Pengertian proses pembelajaran ............................................ 24
b. Tujuan proses pembelajaran .................................................. 27
v
c. Tugas dan peranan guru dalam pengelolaan proses pembelajaran
................................................................................................
................................................................................................ 29
B. Kajian Penelitian Terdahulu .............................................................. 31
C. Kerangka Berfikir .............................................................................. 34
BAB II METODE PENELITIAN
A. Pendekatan dan Jenis ......................................................................... 35
B. Instrument Penelitian ......................................................................... 36
C. Latar Penelitian .................................................................................. 36
D. Data dan Sumber Data ....................................................................... 37
E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................ 39
F. Teknik Analisis Data ......................................................................... 41
G. Keabsahan Data ................................................................................. 43
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 46
........................................................................................................................
vi
DAFTAR TABEL
Table 2.1 Kajian Peneliti Terdahulu .............................................................. 30
vii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir ...................................................................... 3
viii
BAB I
PENDAHULUAN
Peneliti akan membahas apa saja yang akan dibahas dalam bab I
pendahuluan ini, maka proposal skripsi ini berisi tentang: (1) Konteks
Penelitian; (2) Fokus Penelitian; (3) Tujuan Penelitian; (4) Manfaat
Penelitian; (5) Definisi Istilah; (6) Sistematika Pembahasan.
A. Konteks Penelitian
Madrasah merupakan tempat berlangsungnya belajar yang intensif
untuk proses pembelajaran. Dalam madrasah, peran seorang guru adalah
memberikan pengajaran atau menyalurkan ilmu kepada peserta didik
dengan kondisi belajar yang optimal, sehingga peserta didik dapat
menangkap pelajaran dengan optimal juga. Kondisi belajar yang optimal
dapat didapatkan ketika seorang guru mampu mengkondisikan peserta
didik dan menciptakan pembelajaran yang efektif, kreatif, dan inovatif.
Dalam proses tersebut, telah tercakup tentang manajemen kelas yang
akan menghasilkan interaksi belajar mengajar yang baik, sehingga tujuan
tersebut dapat tercapai dengan maksimal. Seperti yang telah dijelaskan
dalam al quran surah al-qasas (28:55) yang berbunyi :
َو ِإ َذا َر َأ ْي َت ٱ َّل ِذي َن َي ُخو ُضو َن ِف ٓى َءا َي ٰـ ِت َنا َف َأ ْع ِر ْض َع ْن ُه ْم َح َّت ٰى َي ُخو ُضو۟ا ِفى َح ِدي ٍث َغ ْي ِر ِهۦ ۚ َو ِإ َّما ُين ِس َي َّن َك
ٱل َّش ْي َط ٰـ ُن َف َلا َت ْق ُع ْد َب ْع َد ٱل ِّذ ْك َر ٰى َم َع ٱ ْل َق ْو ِم ٱل َّظ ٰـ ِل ِمي
Artinya : "Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak
berguna, mereka berpaling daripadanya dan mengatakan: 'Bagi kami
amal-amal kami dan bagi kamu amal-amalmu. Kedamaian sejahtera
terhadap kamu, kami tidak menghendaki bergaul dengan orang-orang
jahil” (Q.S Al-Qasas:55).
Ayat diatas mengandung pesan tentang pentingnya memilih
lingkungan yang baik untuk belajar dan berkembang. Dalam konteks
manajemen pendidikan, hal ini dapat diinterpretasikan sebagai
1
2
pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang positif dan produktif
bagi siswa
Dalam Euis Karwati menyatakan bahwa Manajemen memiliki
peran yang sangat penting untuk dilaksanakan dalam kegiatan didalam
kelas. Diruang kelas, guru dituntut untuk mampu menghasilkan peserta
didik yang utuh.1 Manajemen itu sendiri memiliki beberapa macam, salah
satu diantaranya adalah manajemen kelas, dimana setiap guru
mempunyai peran yang sangat besar dalam mengelola pembelajaran
didalam kelas.
Manajemen kelas merupakan proses kegiatan belajar mengajar
disebuah ruangan yang diisi oleh peserta didik dan guru untuk
menciptakan dan mewujudkan kondisi kelas yang dinamis dan kondusif.
Sebagaimana dalam jurnalnya Sahrizal Fahlawi yang mengutip
penjelasannya Cooper dalam Mulyadi bahwa “Manajemen kelas adalah
kegiatan guru dalam upaya menciptakan dan mempertahankan suasana
kelas yang kondusif agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan
mudah dan sesuai dengan tujuan pembelajaran yang sebenarnya.2
Sedangkan menurut Zahrotul Umi, Mujiatun, dan Finy Muslihatuzzahro’
dalam jurnalnya menyatakan bahwa manajemen pengelolaan kelas adalah
tindakan mengatur siswa dikelas untuk tujuan pengajaran.3
Mengutip dalam jurnalnya Alfian Erwiansyah bahwa manajemen
kelas sangat berkaitan dengan upaya-upaya untuk menciptakan dan
mempertahankan kondisi yang optimal bagi terjadinya proses belajar
mengajar.4 Sunhaji dalam jurnalnya berpendapat bahwa manajemen kelas
selalu dituntut pada setiap sesi pembelajaran, manajemen kelas berupaya
untuk membentengi pembelajaran agar berjalan sesuai dengan tujuan
1
Euis Karwati, Donni Juni Priansa, “MANAJEMEN KELAS”, (Bandung, Alfabeta, 2019),
2
2
Sahrizal Fahlawi. “Manajemen Kelas Dalam Upaya Meningkatkan Efektivitas
Pembelajaran” (online) VOL X, Nomor 1, Januari – Juni 2017, 114
3
Zahrotul Umi, Mujiatun, dan Finy Muslihatuzzahro, “Manajemen Pengelolaan Kelas
dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Siswa Di Madrasah Aliyah Hidayatul Mubtadiin”,
(online), Jurnal An-Nur: Kajian Pendidikan dan Ilmu Keislaman, Vol. 7 No. 2 (2021), 134
4
Alfian Erwiansyah, “Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Efektifitas Proses Belajar
Mengajar”, (online), Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 5 No. 2 (2017), 102
3
yang diharapkan, sehingga mendukung ketercapaian tujuan
pembelajaran.5
Dalam jurnalnya Alfian Erwiansyah yang lain juga mengemukakan
bahwa pengelolaan kelas dalam pembelajaran dapat dikatakan sebagai
salah satu bagian dalam teknologi pembelajaran dan menjadi salah satu
kunci dalam efektivitas pembelajaran di madrasah. 6 Nurtation Agus
mengemukakan bahwa kemampuan mengelola kelas berkaitan dengan
menciptakan iklim kelas yang kondusif untuk memelihara iklim kelas
tersebut.7
Muldiyana Nugraha menyatakan bahwa proses pembelajaran
merupakan suatu kegiatan mendidik siswa ke arah yang lebih baik.
Proses belajar mengajar yang baik harus didasari dengan adanya
hubungan atau komunikasi yang baik antara peserta didik dengan guru,
peserta didik dengan guru.8 Peningkatan kualitas pembelajaran dapat
dilihat bagaimana peran seorang guru dalam mengelola pembelajaran
didalam kelas. Abdul Majid dalam bukunya perencanaan pembelajaran
mengembangkan kompetensi guru mengatakan bahwa terdapat dua
komponen yang sangat penting dalam manajemen kelas, yaitu guru dan
peserta didik.9
Mengutip dalam jurnalnya Nadhifah bahwa mengelola kelas
merupakan salah satu keterampilan dasar mengajar yang bertujuan untuk
mewujudkan dan mempertahankan suasana pembelajaran yang optimal 10.
Menurut Muddasir dalam bukunya bahwa guru memiliki andil yang
sangat besar terhadap keberhasilan pembelajaran di madrasah. Guru
5
Sunhaji, “Konsep Manajemen Kelas dan Implementasinya dalam Pembalajaran”,
(online), Jurnal Kependidikan, Vol. II No. 2 (2014), 44
6
Alfian Erwiansyah, “Pengelolaan Pembelajaran Sebagai Salah Satu Teknologi dalam
Pembelajaran”, (online), Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 4 No. 2 (2016), 93
7
Nurtanio Agus P, “Mengelola Kelas untuk Keberhasilan Proses Belajar Mengajar”,
(online), Jurnal Manajemen Pendidikan, Vol. 2 No. 1 (2006), 94
8
Muldiyana Nugraha, “Manajemen Kelas Dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran”
(online) Jurnal TARBAWI Vol. 4 No. 01, (2018), 28
9
Faizal, Djubaidi, “Manajemen Pengelolaan Kelas” (Malang, Madani, 2016). Hlm 39
10
Nadhifah Mizana Al Azwi, “Implementasi Manajemen Kelas dalam Meningkatkan
Efektivitas Proses Pembelajaran di SMA Negeri 39 Jakarta”, (online), Jurnal Pendidikan
Tambusai, Vol. 6 No. 1 (2022), 247
4
sangat berperan dalam membantu perkembangan peserta didik untuk
mewujudkan tujuannya secara optimal. Didalam kelas, guru
melaksanakan dua kegiatan pokok, yaitu kegiatan mengajar dan kegiatan
mengelola kelas.11
Alfian Erwiansyah berpendapat bahwa Guru harus memiliki
kemampuan dan keterampilan melaksanakan seperangkat cara untuk
mengendalikan kelas dan tingkah laku keliru yang muncul sehingga hasil
belajar peserta didik meningkat.12 Peserta didik juga memiliki peran aktif
dalam pembelajaran, termasuk berpartisipasi dalam diskusi, belajar
mandiri, bekerja sama dengan teman sebaya, menjaga disiplin, dan
memberikan umpan balik atas apa yang telah dikerjakan.
Menurut Abdul Wahid dalam jurnalnya menyatakan bahwa
pembelajaran merupakan akumulasi dari konsep mengajar dan konsep
belajar.13 Pembelajaran adalah bantuan yang diberikan oleh seorang guru
kepada peserta didik agar dapat terjadi perolehan ilmu pada peserta didik
dan dapat belajar dengan baik. Sedangkan menurut Ajat Rukajat dalam
bukunya manajemen pembelajaran bahwa Pembelajaran merupakan
suatu proses yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu
perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari
pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.14
Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 tahun 2003
menyatakan bahwa: “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik
dengan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”.
Berdasarkan Undang-undang tersebut, dalam kata pembelajaran
terkandung dua kegiatan yaitu belajar dan mengajar. Kegiatan yang
berkaitan dengan upaya membelajarkan peserta didik agar berkembang
potensi intelektual yang ada pada dirinya. Ini berarti bahwa pembelajaran
11
Mudasir, “MANAJEMEN KELAS”, (Yogyakarta, Nusa Media, 2011), 15
12
Alfian Erwiansyah, “Manajemen Pembelajaran dalam Kaitannya dengan Peningkatan
Kualitas Guru”, (online), Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 5 No. 1 (2017), 76
13
Abdul Wahid, “Pentingnya Media Pembelajaran dalam Meningkatkan Prestasi
Belajar”, (online), Vol. 5 No. 2 (2018), 52
14
Dr. Ajat Rukajat “MANAJEMEN PEMBELAJARAN”, (Sleman, BUDI UTAMA, 2018),
11
5
menuntut terjadinya komunikasi antara dua arah atau dua pihak yaitu
pihak yang mengajar adalah guru sebagai pendidik dengan pihak yang
belajar adalah siswa sebagai peserta didik.
Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar didalam kelas guru
juga perlu memposisikan diri sebagai sumber belajar bagi peserta didik
yang dapat menjadi teladan bagi mereka dalam proses pencapaian tujuan
pendidikan secara optimal. Sedangkan dalam jurnalnya Sermal Pohon
berpendapat bahwa ada tiga tugas guru sebagai profesi, yakni mendidik,
mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan dan
mengembangkan nilai-nilai hidup; mengajar berarti meneruskan dan
mengembangkan ilmu pengetahuan; melatih berarti mengembangkan
keterampilan-keterampilan untuk kehidupan peserta didik.15
Menurut Wina Sanjaya dalam bukunya mengatakan bahwa peran
guru sebagai sumber belajar merupakan peran yang sangat penting. Peran
sebagai sumber belajar berkaitan erat dengan penguasaan materi
pelajaran.16 Sedangkan Maulana Akbar Sanjani berpendapat bahwa
keberhasilan seorang pengajar akan terjamin jika pengajar itu dapat
mengajak para peserta didik mengerti suatu masalah melalui semua tahap
proses belajar karena dengan cara itu peserta didik akan memahami hal
yang diajarkan.17
Hayani Wulandari dan Isa Nurhaliza dalam jurnalnya menyatakan
bahwa proses belajar mengajar yang dilakukan oleh guru merupakan
suatu proses yang melibatkan interaksi atau sekumpulan tindakan guru-
siswa berdasarkan hubungan timbal balik yang terjadi dalam situasi
mengajar untuk mencapai tujuan proses pembelajaran yang baik.18
15
Sermal Pohon, “Manajemen Kelas dan Efektivitas Pembelajaran”, (online) Jurnal
PGMI STIT Al-Ittihadiyah Labuhanbatu Utara, Vol. I No. 2 (2020), 121
16
Wina Sanjaya, “STRATEGI PEMBELAJARAN” (Jakarta, PRENADAMEDIA GROUP,
2016), 21
17
Maulana Akbar Sanjani, “Tugas dan Peranan Guru dalam Proses Peningkatan Belajar
Mengajar”, (online), Jurnal Serunai Ilmu Pendidikan, Vol. 6 No. 1 (2020), 42
18
Hayani Wulandari & Isa Nurhaliza, “Mengembangkan Potensi Guru yang Profesional
dalam Proses Belajar Mengajar”, (online), Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri, Vol.
09 No. 02 (2023), 2505
6
Nana Suryapermana mengemukakan dalam jurnalnya bahwa
tercapainya proses pembelajaran yang baik tidak terlepas dari
kemampuan guru dalam merancang dan meracik materi pelajaran. 19
Sedangkan menurut Mathias dan John bahwa peran guru dalam kaitan
dengan pengelolaan pembelajaran mencakup merencanakan bahan
pembelajaran, merumuskan tujuan pembelajaran, mengorganisasikan dan
mengembangkan bahan pembelajaran, memberikan motivasi untuk
membangun semangat belajar para siswa dan mengevaluasi serta
menindaklanjuti hasil belajar siswa. 20
Sebagaimana dalam jurnalnya Minsih dan Aninda Galih D bahwa
Guru sebagai pengelola kelas merupakan orang yang mempunyai
peranan yang strategis yaitu orang yang merencanakan kegiatan-kegiatan
yang akan dilaksanakan di kelas, menentukan dan mengambil keputusan
dengan strategi yang akan digunakan dengan berbagai kegiatan di kelas,
dan menentukan alternatif solusi untuk mengatasi hambatan dan
tantangan yang muncul.21 Sedangkan menurut Yantoro dalam jurnalnya
bahwa penentu keberhasilan dalam proses pembelajaran adalah
pengelolaan kelas. Hal ini sesuai dengan tujuan pengelolaan kelas itu
sendiri yaitu menciptakan kondisi kelas yang kondusif agar kegiatan
belajar mengajar berlangsung dapat sesuai dengan tujuan.22
Menurut pendapat Mahmudah dalam jurnalnya bahwa
pembelajaran yang bersifat inovatif berpusat pada pengelolaan kelas
yang efektif.23 Suatu pembelajaran dapat dikatakan efektif yaitu apabila
terjadi interaksi yang baik antara guru dengan siswa yang bertujuan
untuk mencapai suatu tujuan belajar tertentu.
19
Nana Suryapermana, “Manajemen Pembelajaran dalam Dunia Pendidikan”, (online)
Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 1 No. 2 (2016), 87
20
Mathias Gemnafle & John Rafafy Batlolana, “Manajemen Pembalajaran”, (online)
Jurnal Pendidikan Profesi Guru Indonesia, Vol. 1 No. 2 (2021), 37
21
Minsih dan Aninda Galih D, “Peran Guru Dalam Pengelolaan Kelas” (online) Vol. 5
No. 01, Juli (2018), 22
22
Yantoro, “Strategi Pengelolaan Kelas Yang Efektif Dalam Menumbuhkan Sikap
Disiplin Siswa”(online) Vol. 5 No. 1, (2020), 587
23
Mahmudah, “Pengelolaan Kelas: Upaya Mengukur Keberhasilan Proses
Pembelajaran” (online) Vol. 6 No. 1 Juni (2018), 67
7
Untuk meningkatkan efektifitas proses pembelajaran harus ada
interaksi yang baik bagi guru dan peserta didik. Junaedi Sastradihaja,
Saifuddin Zuhri, Yuliarti, dkk mengemukakan dalam jurnalnya bahwa
manajemen kelas dalam peningkatan kualitas pembelajaran diawali dari
perencanaan penataan ruangan, pelaksanaan kegiatan penataan ruangan,
pelaksanaan kegiatan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan
menyenangkan.24
Ada beberapa kendala atau kesulitan yang dialami oleh guru dalam
melaksanakan kegiatan belajar mengajar, seperti siswa yang terlalu
banyak, fasilitas yang kurang memadai, dan lain sebagainya. Dengan
begitu seorang guru dituntut untuk mempunyai keahlian tertentu,
sehingga dapat menciptakan suasana kelas yang dapat mendukung proses
pembelajaran agar tercipta suasana kelas yang mendukung efektivitas
proses belajar mengajar dengan nyaman dan kondusif serta menghasilkan
kualitas pembelajaran yang optimal dan semaksimal mungkin sesuai
dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
Dari paparan diatas yang terdapat dalam judul skripsi ini, maka
dapat ditegaskan bahwa yang dimaksud dengan skripsi ini yaitu suatu
penelitian mengenai proses pelaksanaan manajemen kelas yang
menekankan pada efektivitas pembelajaran peserta didik di MTsN 3
Jombang. Penelitian ini, peneliti lebih memfokuskan pada aspek
manajemen kelas dalam meningkatkan efektivitas proses pembelajaran,
dengan alasan karena menerapkan manajemen kelas untuk efektivitas
proses pembelajaran adalah hal yang sangat penting. Karena manajemen
kelas adalah pondasi untuk menciptakan pengalaman atau proses belajar
mengajar yang efektif, menyelaraskan kebutuhan peserta didik dan guru,
serta mencapai tujuan pendidikan dengan baik.
Proses pembelajaran dan manajemen kelas memiliki hubungan
yang sangat erat. Manajemen kelas yang efektif dapat memberikan
24
Junaedi Sastradihaja, dkk. “Manajemen Kelas dalam Peningkatan Kualitas
Pembelajaran Tematik Kelas Awal”, (online) Jurnal Pendidikan dan Konseling, Vol. 4 No. 1
(2022), 418
8
landasan yang baik untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang
kondusif. Permasalahan yang sedang terjadi di MTsN 3 Jombang adalah
ketidaksesuaian jumlah siswa didalam kelas menurut standart
pemerintah. Dalam kondisi tersebut, sehingga guru berperan menjadi
semakin rumit dan harus menjadi pengatur yang baik. Sehingga kelas
dapat terkondisikan dan memastikan bahwa semua aspek pembelajaran
dapat terkondisikan dengan baik. Sebagaimana hasil wawancara kepada
WAKA kurikulum di MTsN 3 Jombang.
“Dengan kondisi siswa sebanyak itu, maka guru harus mampu
mengkondisikan kelas dengan menggunakan cara atau strategi
untuk proses pembelajaran yang menyenangkan, sehingga kelas
dapat terkondisikan dengan baik”.25
Tri Ruhmadi dalam jurnalnya menyatakan bahwa ada beberapa
bentuk dan cara yang dapat dilakukan oleh seorang guru untuk
menumbuhkan motivasi didalam kegiatan belajar disekolah diantaranya
adalah pemberian hadiah, memberikan pujian, memberikan hukuman
ketika siswa melakukan kesalahan, kompetisi, mengadakan ulangan dan
menumbuhkan minat.26
MTsN 3 Jombang merupakan salah satu sekolah Negeri yang
berada dibawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum
Tambakberas. Tepatnya di jalan KH. Wahab Hasbullah, Gg III
Tambakberas, Kelurahan Tambak Rejo, Kecamatan Jombang Kabupaten
Jombang. Berdasarkan observasi awal yang peneliti lakukan di MTsN 3
Jombang, bahwa manajemen kelas di MTsN 3 Jombang berjalan kurang
efektif, karena MTsN 3 Jombang mengikuti beberapa aturan yang
ditetapkan oleh Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Meskipun manajemen
kelas nya berjalan kurang efektif, namun tidak menmpengaruhi kualitas
dan efektivitas pembelajaran nya. Hal tersebut yang menjadi alasan
penulis untuk meneliti tentang Implementasi Manajemen Kelas dalam
Peningkatan Proses Pembelajaran di MTsN 3 Jombang.
25
Adatul Istiqomah, WAKA Kurikulum MTsN 3 Jombang, 7 Desember 2023
26
Tri Ruhmadi, Urgensi Motivasi dalam Proses Pembelajaran, (online), Jurnal Diklat
Keagamaan, Vol. 11 No. 1 (2017), 41
9
B. Fokus Penelitian
Bagian fokus penelitian ini mencantumkan semua fokus
permasalahan yang akan dicari jawabanya melalui proses penelitian.
Adapun fokus penelitian yang berkaitan dengan judul ini adalah sebagai
berikut:
1. Bagaimana Implementasi Manajemen Kelas di MTsN 3 Jombang ?
2. Bagaimana Peningkatan Efektivitas Proses Pembelajaran di MTsN 3
Jombang ?
3. Bagaimana Implementasi Manajemen Kelas dalam Peningkatan
Efektivitas Proses Pembelajaran di MTsN 3 Jombang ?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Implementasi Manajemen Kelas di MTsN 3
Jombang
2. Untuk mengetahui Peningkatan Efektivitas Proses Pembelajaran di
MTsN 3 Jombang
3. Untuk mengetahui Implementasi Manajemen Kelas dalam
Peningkatan Efektivitas Proses Pembelajaran di MTsN 3 Jombang
D. Manfaat Penelitian
Setelah diketahui tujuan penelitian dari penelitian ini,
diharapakan hasil penelitian ini dapat bermanfaat. Dalam penelitian ini
terdapat 2 jenis manfaat yaitu manfaat teoritis dan manfaat praktis,
diantaranya adalah:
1. Manfaat teoritis
Manfaat dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan
pengetahuan dan menambah wawasan penulis tentang segala sesuatu
yang berkaitan dengan manajemen kelas di MTsN 3 Jombang
khususnya. Dan diharapkan mampu memberikan sumbangsih terhadap
pengembangan keilmuan manajemen kelas. Sehingga dapat menjadi
referensi bagi para pengembang pendidikan kedepannya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi lembaga pendidikan
10
Diharapkan dapat menjadi masukan dan referensi bagi
MTsN 3 Jombang khususnya dalam manajemen kelas.
b. Bagi Masyarakat Luas atau Pembaca
Penelitian ini diharapkan dapat membantu menambah
wawasan pembaca, sehingga berguna bagi seluruh lapisan
masyarakat sebagai pengembangan pengetahuan sekaligus
menjadi motivasi bagi masyrakat atau pembaca.
c. Bagi Peneliti
Penelitian ini di harapkan dapat menambah pengetahuan
serta pengalaman bagi peneliti terutama terkait manajemen kelas
di MTsN 3 Jombang.
d. Bagi Peneliti Selanjutnya
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai referensi atau
rujukan bagi penelitian selanjutnya mengenai manajemen kelas
dalam upaya meningkatkan kualitas prose pembelajaran di MTsN
3 Jombang.
E. Definisi Istilah
Definisi istilah ini berisi tentang pengertian istilah-istilah
penting yang menjadi titik perhatian peneliti di dalam judul penelitian.
Dengan tujuan agar tidak terjadi kesalahan pemahaman terhadap
makna istilah bagaimana yang dimaksud oleh peneliti. Adapun
beberapa definisi istilah akan dijelaskan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Manajemen Kelas
Manajemen Kelas adalah kegiatan yang diciptakan oleh
guru untuk mengelola siswa yang berada didalam kelas dan
melaksanakan proses pembelajaran. Manajemen kelas adalah
bagaimana madrasah dalam menyiapkan kelas untuk proses
pembelajaran?. Manajemen kelas di madrasah sangat penting untuk
menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif dan kondusif
bagi para siswa. Ini melibatkan berbagai langkah dan strategi yang
11
dirancang untuk mengatur kelas, memfasilitasi pembelajaran yang
aktif, serta mengelola perilaku siswa. Manajemen kelas sangat
penting dalam proses pembelajaran karena menciptakan
lingkungan yang teratur, kondusif, dan mendukung bagi siswa
untuk belajar secara efektif. Keseluruhan proses pembelajaran
menjadi lebih lancar dan efisien ketika manajemen kelas berjalan
dengan baik. Guru dapat memberikan pengajaran yang lebih
terarah dan mendalam, sementara siswa dapat berpartisipasi aktif
dalam pembelajaran tanpa adanya gangguan atau hambatan yang
signifikan. Dengan demikian, manajemen kelas yang baik
menciptakan fondasi yang kokoh bagi pencapaian tujuan
pembelajaran dan pertumbuhan akademik serta pribadi [Link]
apa yang dibutuhkan dalam mengelola kelas? Siapa saja yang
dilibatkan dalam mengelola kelas? Bagaiamana perencanaan untuk
membangun hubungan yang positif antara guru dan siswa?
Bagaiaman tindakan yang diambil oleh guru untuk mengatasi
konflik dalam kelas?
2. Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran adalah interaksi dinamis antara guru
dan siswa. Hubungan antara keduanya sangat erat dan memiliki
dampak yang besar pada kualitas pembelajaran. Peran seorang
guru sangat penting dalam membimbing dan memberikan
pengetahuan kepada siswa. Sementara siswa memiliki tanggung
jawab untuk aktif belajar dan mengaplikasikan apa yang dipelajari.
Siswa yang terlibat aktif dalam pembelajaran memiliki kesempatan
untuk mengembangkan keterampilan kritis, kreativitas, dan
kolaborasi. Dengan demikian, proses pembelajaran bukan hanya
tentang mentransfer pengetahuan, tetapi juga tentang membentuk
hubungan yang membangun, mendorong motivasi intrinsik, dan
mempersiapkan siswa untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Lalu bagaimana kepala madrasah dalam melibatkan pendidik dan
12
tenaga kependidikan untuk meningkatkan efektivitas
pembelajaran? Bagaimana langkah-langkah madrasah dalam
meningkatkan efektivitas pembelajaran? Apa strategi yang
digunakan guru untuk memotivasi siswa agar dapat berpartisipasi
aktif dalam proses pembelajaran? Hambatan apa saja yang dialami
oleh guru saat melaksanakan proses pembelajaran? Bagaimana
strategi evaluasi guru kepada siswa untuk proses pembelajaran
F. Sistematika Pembahasan
Penelitian proposal skripsi kualitatif disusun secara sistematis
agar lebih mudah untuk memahami persoalan yang diteliti. Adapun
sistematika pembahan dalam penulisan proposal kualitatif, sebagai
berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini berisi pembahasan yang berisi tentang
proses pemikiran dalam penelitian pustaka yang
meliputi: latar belakang masalah, fokus penelitian,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi istilah
dan sistematika pembahasan.
BAB II : KAJIAN PUSTAKA
Pada bab ini berisi kajian kepustakaan. Bagian ini
terdiri dari dua sub bab yaitu: penelitian terdahulu
dan kajian teori. Penelitian terdahulu ini
mencantumkan penelitian sejenis yang telah
dilakukan sebelumnya, kemudian kajian teori yang
memuat tentang Manajemen kesiswaan dalam
meningkatkan minat dan bakat siswa melalui
kegiatan ekstrakurikuler.
BAB III : METODE PENELITIAN
Pada bab ini yakni menguraikan mengenai
pendekatan dan jenis penelitian, instrument
penelitian, latar penelitian, data dan sumber data
13
penelitian, teknik pengumpulan data (observasi dan
interview), serta teknik analisis data dan teknik
pengecekan keabsahan data.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Selanjutnya peneliti akan memaparkan apa saja isi dari bab II ini.
Sebagai berikut: (1) Landasan Teoritik; (2) Kajian Penelitian; (3) Kerangka
Berfikir.
A. Landasan Teotorik
1. Manajemen Kelas
a. Pengertian Manajemen
Manajemen dalam dunia pendidikan merujuk pada proses
pengelolaan sumber daya pendidikan untuk mencapai tujuan
pendidikan yang telah ditetapkan. Manajemen mempunyai peran yang
sangat penting bagi suatu lembaga, karena manajemen merupakan
elemen yang mendukung keberhasilan dan keberlanjutan lembaga
dalam jangka panjang. Manajemen adalah suatu proses dimana
seseorang dapat mengatur segala sesuatu yang dikerjakan oleh
individu atau kelompok.
Euis Karwati dan Donni Juni Priansa dalam bukunya
menyatakan bahwa manajemen berasal dari kata dalam Bahasa Inggris
“management”, dengan kata kerja “to manage”yang berarti
mengelola, menjalankan, memimpin, membina, atau mengurusi. Kata
benda “managemen” dan “manage” berarti seseorang yang yang
mengelola atau melakukan aktivitas manajemen.27
Sedangkan menurut Masyhud dalam Rodliyah berpendapat
bahwa kata manajemen berasal dari Bahasa Inggris yaitu management.
Akar kata tersebut adalah manage atau managian yang memiliki
makna melatih kuda dalam melangkahkan kakinya. 28 Sondang P.
Siagian dalam Elbadiansyah mengemukakan bahwa manajemen
merupakan keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih
27
Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas, (Bandung: Alfabeta, 2019), 3
28
Rodliyah, Manajemen Pendidikan, (Jember: IAIN Jember Press, 2015), 1
13
14
yang didasarkan atas rasionalitas tertentu untuk mencapai tujuan yang
ditentukan sebelumnya.29
Dalam pengertian manajemen tersebut terkandung dua kegiatan,
yaitu kegiatan berfikir (mind) dan kegiatan tingkah laku (action).
Manajemen menurut Mary Parker, sebagaimana yang dikutip oleh
Rheza Pratama mengungkapkan manajamen dapat dipandang juga
sebagai seni untuk melakukan pekerjaan melalui orang lain.30
Sedangkan George R. Terry dalam bukunya mengemukakan
bahwa manajemen adalah adalah suatu proses atau kerangka kerja
yang melibatkan bimbingan atau pengarahan suatu kelompok orang-
orang ke arah tujuan-tujuan organisasional atau maksud-maksud yang
nyata. Manajer dalam melaksanakan pekerjaannya harus
melaksanakan fungsi-fungsi manajemen, yang dimaksud dengan
fungsi-fungsi manajemen tersebut diantaranya yaitu Planning,
Organizing, Staffing, Motivating, dan Controlling.31
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan
bahwa manajemen adalah suatu usaha yang dilakukan oleh
penanggung jawab kegiatan pembelajaran dengan maksud agar
tercapai kondisi optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan belajar
sebagaimana yang diharapkan.
b. Pengertian Manajemen Kelas
Manajemen kelas merupakan kunci dan faktor utama dalam
proses pembelajaran. Dengan adanya manajemen kelas maka proses
pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan guru dapat
menciptakan lingkungan pembelajaran yang mendukung pertumbuhan
dan pencapaian siswa, sehingga dapat meningkatkan kualitas
keseluruhan dari proses pembelajaran.
29
Elbadiansyah, Manajemen Pendidikan, (Malang: [Link], 2018), h.2
30
Rheza pratama, Pengantar Manajemen (Yokyakarta: Deepublish CV Budi Utama,
2020), 7
31
G, R. Terry. Leslie, W. R, Dasar-Dasar Manajemen. (Jakarta: Bumi Aksara, 2019), 8.
15
Hadari Nawawi dalam bukunya Syaiful Bahri dan Aswan Zain
mengatakan bahwa kegiatan manajemen atau pengelolaan kelas dapat
diartikan sebagai kemampuan guru atau wali kelas dalam
mendayagunakan potensi kelas berupa pemberian kesempatan yang
seluas-luasnya pada setiap personal untuk melakukan kegiatan-
kegiatan yang kreatif dan terarah.32
Suharsimi Arikunto menyatakan bahwa pengelolaan kelas
adalah suatu usaha yang dilakukan oleh penanggung jawab kegiatan
proses belajar mengajar atau yang membantu dengan tujuan agar
tercapai kondisi yang optimal sehingga dapat terlaksana kegiatan
belajar seperti yang diharapkan.33
Jusmawati dan Eka Fitriana mengungkapkan bahwa manajemen
kelas terdiri dari dua kata, yaitu manajemen dan kelas. Manajemen
merupakan serangkaian proses dan usaha yang dilakukan oleh
seseorang untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan
yang dimaksud kelas adalah sebuah ruang yang berisi suatu kelompok
yang sedang melakukan kegiatan bersama untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan. Didalam kelas, guru harus berhasil menjadi
manajer utama dalam proses perencanaan, pengorganisasian,
pengaktualisasian, dan menjadi supervise dalam kelas itu sendiri.34
Djamarah dalam jurnal oleh Yeni mengungkapkan bahwa
manajemen kelas merupakan serangkaian kegiatan yang sistematis
sebagai upaya dalam mendayagunakan potensi kelas yang ada oleh
guru dengan seoptimal mungkin yang dapat mendukung terjadinya
proses interaksi edukatif antara siswa dan guru.35
Secara terminologi mengutip pendapatnya Cooper dalam
Mulyadi dalam jurnalnya Sahrizal Fahlawi mengemukakan bahwa
32
Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta : Rineka
Cipta, 2006), 177
33
Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kelas dan Siswa, (Jakarta : CV Rajawali Jakarta,
1992), 68
34
Jusmawati & Eka Fitriana, Manajemen Kelas (Banten: CV. AA Rizky, 2019), 5
35
Asmara & Nindianti, “Urgensi Manajemen Kelas Untuk Mencapai Tujuan
Pembelajaran”. Jurnal pendidikan sejarah dan kajian sejarah, (online) , Vol. 1 No. 1 (2020), 16
16
Manajemen kelas adalah kegiatan guru dalam upaya menciptakan dan
mempertahankan suasana kelas yang kondusif agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan mudah dan sesuai dengan tujuan
pembelajaran.36 Yang menjadi fokus utama guru dalam manajemen
kelas adalah mempertahankan suasana kelas yang kondusif agar siswa
dapat belajar dengan efektif sehingga waktu tidak terbuang sia-sia.
Suasana kelas yang kondusif akan mempermudah siswa dalam
menyerap pelajaran yang disampaikan.
Menurut Mudasir dalam bukunya berpendapat bahwa ada dua
hal yang membedakan antara guru yang berhasil dengan guru yang
tidak berhasil. Dikatakan guru yang kurang berhasil yaitu guru yang
menghabiskan hari-hari pertama diawal tahun ajaran dengan langsung
mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan
siswa selama setahun penuh. Sedangkan dikatakan guru efektif yaitu
guru yang menghabiskan dua minggu pertama ditahun ajaran dengan
meneguhkan prosedur.37
Rusi Rusmiati Aliyyah dalam bukunya mengemukakan bahwa
manajemen kelas merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh guru
sebagai manajer kelas dalam mengelola siswa yang berada didalam
ruangan kelas yang dilakukan untuk merancang atau mendesain
sehingga mampu menciptakan dan juga mempertahankan suasana
kelas yang menyenangkan, serta menimbulkan motivasi belajar untuk
peserta didik.38
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat
disimpulkan bahwa manajemen kelas adalah kegiatan guru dalam
upaya menciptakan suatu kondisi kelas yang memungkinkan peserta
didik dalam kelas tersebut dapat belajar dengan efektif dan
mengkondisikan situasi kelas agar tetap kondusif untuk proses belajar
36
Sahrizal Fahlawi, Manajemen Kelas dalam Upaya Meningkatkan Efektivitas
Pembelajaran, (jurnal online), 130
37
Mudasir, Manajemen Kelas, (Pekanbaru: Zanafa, 2016), 17
38
Rusi Rusmiati Aliyyah, Manajemen Kelas, (Yogyakarta: Samudera Biru, 2022), 3
17
mengajar. Sehingga guru diharuskan mampu mengelola kelas dan
peserta didik secara seimbang supaya proses pembelajaran didalam
kelas berjalan dengan lancar.
c. Fungsi Manajemen Kelas
Fungsi manajemen adalah elemen dasar yang membentuk dasar
dari setiap proses manajemen yang akan dijadikan acuan oleh seorang
manajer dalam melaksanakan kegiatan untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapkan.
Henry Fayol berpendapat dalam jurnal Lorensius Amon,
Theresia Ping dan Soerjo Adi Poernomo bahwa ada beberapa fungsi
manajemen, diantaranya yaitu Perencanaan (planning),
Pengoranisasian (organizing), Pengarahan (commanding),
Pengkoordinasian (coordinating), dan Pengendalian (controlling).
Adapun penjelasan dari fungsi tersebut adalah sebagai berikut :
1) Perecanaan (planning)
Perencanaan adalah fungsi dasar yang didefinisikan sebagai
penentu apa yang harus dikerjakan, karena dapat menciptakan
dasar atau penentu langkah-langkah atau tindakan bagi
keberhasilan operasional dan strategis suatu lembaga.
Henri Fayol dalam jurnal Lorensius Amon, Theresia Ping
dan Soerjo Adi Poernomo mengungkapkan bahwa perencanaan
adalah penentuan langkah awal yang memungkinkan organisasi
mampu mencapai suatu tujuan dan juga menyangkut tentang
upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi kecenderungan
dimasa-masa yang akan dating dan sebagai penentu sebuat
strategi atau taktik yang tepat untuk mewujudkan target tujuan
suatu oragnisasi.39 Sedangkan Euis Karwati dan Donni Juni
Priansah dalam bukunya mengemukakan bahwa Tanpa adanya
perencanaan, manajer tidak dapat mengetahui bagaimana
39
Lorensius Amon, Theresia Ping, dan Soerjo Adi Poernomo. 2021“Tugas Dan Fungsi
Manajemen Pendidik Dan Tenaga Pendidik”, Jurnal Kateketik Pastoral (online) Vol. 5 No. 1
(2021), 3
18
mengorganisasikan orang dan sumber daya yang dimiliki oleh
organisasi secara efektif. Tanpa perencanaan, manajer dan orang-
orang yang membantunya hanya mempunyai peluang kecil untuk
mencapai sasaran atau mengetahui adanya penyimpangan secara
dini.40 Perencanaan dalam manajemen kelas meliputi merancang
kurikulum, menentukan metode pengajaran, dan menetapkan
target pencapaian untuk siswa.
2) Pengorganisasian (organizing)
Dalam konteks manajemen kelas, pengorganisasian
(organizing) merujuk pada proses penataan dan pengaturan
berbagai elemen dalam kelas. Pengorganisasian dalam
manajemen kelas dapat membantu untuk menciptakan struktur
dan ketertiban yang diperlukan untuk mendukung efektivitas
pembelajaran.
Euis Karwati dan Donni Juni Priansah dalam bukunya
mengemukakan bahwa pengorganisasian adalah proses manajerial
yang berkelanjutan. Seperti apa yang telah kita ketahui bahwa
perkembangan teknologi dan perubahan lingkungan organisasi
memerlukan manajer untuk memiliki kemampuan adaptasi yang
baik dan mampu menyesuaikan strategi yang telah disusun,
sehingga tujuan organisasi dapat dicapai secara efisien. Tujuan
dari pengorganisasian adalah untuk mengelompokkan kegiatan
sumber daya manusia dan sumber daya lainnya yang dimiliki agar
pelaksanaan dari suatu rencana dapat dicapai secara efektif dan
efisien.41 Pengorganisasian dalam manajemen kelas melibatkan
penataan fisik kelas, alokasi peran dan tanggung jawab siswa,
serta pengorganisasian waktu pembelajaran. Guru berperan dalam
mengatur sumber daya pembelajaran, seperti materi ajar dan
peralatan pembelajran.
3) Pengarahan (commanding)
40
Euis Karwati & Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas, … 19
41
Euis Karwati & Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas, … 20
19
Dalam manajemen kelas, pengarahan (commanding) ini
lebih berkaitan dengan memberikan petunjuk dan membimbing
siswa. Guru berperan sebagai pemimpin kelas yang memberikan
arahan dan motivasi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Menurut Henry Fayol mengemukakan bahwa pengarahan
dilakukan untuk memberikan arahan kepada sumber daya
manusia sebagai peserta didik didalam suatu lembaga pendidikan
agar peserta didik tersebut mampu menyelesaikan tugasnya dan
melakukan proses pembelajarannya dengan baik.42 Pengarahan
dalam manajemen kelas melibatkan pemberian intruksi yang jelas
dari guru kepada siswa, membangun hubungan positif antara guru
dan siswa dan guru perlu mengenal gaya belajar siswa dan
memilih strategi pengajaran yang sesuai.
4) Pengkoordinasian (coordinating)
Pengkoordinasian dalam manajemen kelas bertujuan untuk
menciptakan keselarasan dan keteraturan dalam berbagai aspek
pembelajaran, memberikan arah yang jelas, dan mendukung
pencapaian tujuan pembelajaran yang semestinya. Dengan adanya
pengkoordinasian dalam manajemen kelas, maka dapat
menciptakan keteraturan dan ketertiban dalam kelas melalui
penataan ruang, dan menciptakan lingkungan yang kondusif
sehingga dapat menyelaraskan seluruh komponen pembelajaran
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan
dengan lebih efektif. Tanpa pengkoordinasian, maka kelas dapat
mengalami ketidakjelasan sehingga kelas tidak dapat menciptakan
lingkungan pembelajaran yang terstruktur, terarah, dan kondusif
dalam proses pembelajaran.
5) Pengendalian (controlling)
42
Ahmad Munir saifulloh, “ manajemen pembelajaran dalam meningkatkan efektivitas
proses belajar mengajar di masa pandemi covid 19” Jurnal Bidayatuna (online) Vol. 3 No. 2
(2020), 303
20
Fungsi pengendalian (controlling) adalah fungsi terakhir
dari proses manajemen. Fungsi ini sangat penting dan sangat
menentukan pelaksanaan proses manajemen, dengan begitu maka
fungsi pengendalian harus dilakukan dengan sebaik-baiknya.
Euis Karwati dan Donni Juni Priansah mengemukakan
bahwa pengendalian adalah upaya yang sistematis untuk
menetapkan standar prestasi yang sesuai dengan sasaran
perencanaan dan menenetukan apakah ada penyimpangan serta
mengambil inisiatif dan tindakan perbaikan yang diperlukan
untuk menjamin bahwa sumber daya organisasi yang digunakan
dikelola dengan cara yang paling efektif dan efisien guna
tercapainya sasaran dan tujuan organisasi.43 Ada 3 jenis
controlling dalam manajemen kelas menurut Rusi Rusmiati
Aliyyah dalam bukunya yaitu controlling atas kehadiran guru
dikelas, controlling kehadiran siswa dikelas, dan controlling
kegiatan para siswa.44
d. Tujuan Manajemen Kelas
Setiap aktivitas, termasuk manajemen kelas, dilakukan dengan
tujuan tertentu. Tujuan-tujuan tersebut dapat bervariasi tergantung
pada kebutuhan dari prioritas guru, siswa, dan lingkungan
pembelajaran. Tujuan manajemen kelas merupakan serangkaian
sasaran dan fokus untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang
efektif dan mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh.
Jusmawati dan Eka Fitriana dalam bukunya mengatakan bahwa
dalam proses manajemen kelas keberhasiannya dapat dilihat dari
tujuan apa yang ingin dicapainya, oleh karena itu guru harus
menetapkan tujuan apa yang hendak dicapai dengan kegiatan
manajemen kelas yang dilakukannya.45
43
Euis Karwati dan Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas, … 22
44
Rusi Rusmiati Aliyyah, Manajemen Kelas, … 3
45
Jusmawati & Eka Fitriana, Manajemen Kelas, … 8
21
Tujuan manajemen kelas menurut Rusi Rusmiati Aliyyah adalah
untuk meningkatkan efektifiktas serta memaksimalkan waktu belajar
demi pencapaian tujuan pembelajaran yang kondusif. Keberhasilan
sebuah kegiatan dapat dilihat dari hasil yang dicapainya. Dalam
proses pengelolaan kelas keberhasilannya dapat dilihat dari tujuan apa
yang ingin dicapainya, oleh karena itu guru harus menetapkan tujuan
apa yang hendak dicapai dengan kegiatan pengelolaan atau
manajemen kelas yang dilakukan.46
Kenneth D. Moore berpendapat bahwa pengajaran yang
berkualitas memerlukan penyusunan yang cermat berdasarkan konten,
materi, metode, serta pola interaksi yang sesuai dengan kebutuhan dan
karakteristik siswa. Kelas yang terstruktur dengan baik adalah
lingkungan dimana siswa terlibat dalam tugas-tugas yang bermakna,
mengaitkan materi pembelajaran dengan kehidupan nyata atau
pengalaman mereka sendiri. Namun, menyesuaikan tugas-tugas
intruksional dengan semua variabel yang terlibat dalam kelas, seperti
perbedaan dalam kemampuan dan potensi belajar siswa, merupakan
tantangan yang tidak mudah.47
Sedangkan Sudirman menyatakan, bahwa tujuan manajemen
kelas adalah penyediaan fasilitas bagi bermacam-macam kegiatan
belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan intelektual
dalam kelas. Sehingga fasilitas yang tersedia tersebut dapat menjadi
pengaruh untuk meningkatkan kualitas proses pembelajaran. 48
Sedangkan Semal Pohon dalam jurnalnya mengatakan bahwa tujuan
manajemen kelas adalah penyediaan fasilitas bagi berbagai macam
kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan
intelektual dalam kelas fasilitas yang disediaka. Sehingga siswa dapat
46
Rusi Rusmiati Aliyyah, Pengelolaan Kelas,(Bogor: FKIP/PGSD, 2021), 9
47
Kenneth D. Moore, Effective Intructional Strategies, (Amerika Serikat: SAGE, 2015),
44
48
Afriza, manajemen kelas (Pekan Baru, 2014), 9
22
belajar dan bekerja dengan suasana sosial yang disiplin untuk
perkembangan intelektual emosional dan sikap apresiasi pada siswa.49
Tujuan pengelolaan kelas menurut Sudirman dalam Mudasir
pada hakekatnya terkandung dalam tujuan pendidikan. Tujuan
pengelolaan kelas adalah penyediaan fasilitas bagi macam-macam
kegiatan belajar siswa dalam lingkungan sosial, emosional, dan
intelektual dalam kelas.50 Sedangkan menurut Gunawan dalam
bukunya menyatakan bahwa tujuan pengelolaan kelas secara khusus
dibagi menjadi dua yaitu tujuan untuk siswa adalah mengembangkan
tanggung jawab individu serta mengontrol diri sendiri dan tujuan
untuk pendidik adalah mengembangkan pemahaman dalam penyajian
pengajaran.51
e. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Kelas
Manajemen kelas dipengaruhi oleh berbagai faktor yang
melibatkan interaksi kompleks antara guru, siswa, dan lingkungan
pembelajaran.
Berhasilnya manajemen kelas dalam mendukung pencapaian
tujuan proses belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor
yaitu faktor-faktor yang melekat pada kondisi fisik kelas dan
pendukungnya, serta dipengaruhi oleh faktor nonfisik yang melekat
pada guru. Masalah pembelajaran merupakan masalah yang cukup
kompleks. Guru adalah komponen pembelajaran yang memegang
peranan penting karena keberhasilan pembelajaran sangat ditentukan
oleh guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai penyampai materi
kepada siswa.52
Menurut Djamarah dalam Euir Karwati dan Doni Juni Priansah
mengatakan bahwa ada tiga faktor yang mempengaruhi keberhasilan
49
Semal Pohon, “manajemen kelas dan efektivitas pembelajaran”, Jurnal PGMI STIT Al-
Ittihadiyah Labuhanbatu Utara (online) Vol. 1 No. 2 (2020), 117
50
Mudasir, Manajemen Kelas, … 18
51
Imam Gunawan, Manajemen Kelas Teori dan Aplikasinya (Depok : Rajawali Pers,
2019), 221
52
Rusi Rusmiati Aliyyah, Manajemen Kelas, … 9
23
manajemen kelas dalam memberikan dukungan terhadap pencapaian
tujuan pembelajaran, tiga faktor tersebut yaitu lingkungan fisik,
53
kondisi sosio-emosional, dan kondisi organisasional. Adapun
penjelasan dari 3 faktor tersebut adalah sebagai berikut :
1) Lingkungan Fisik
Lingkungan fisik dalam konteks manajemen kelas dapat
memiliki dampak yang signifikan terhadap efektivitas pengajaran
dan pembelajaran. Menurut Djamarah dalam Euis Karwati dan
Doni Juni Priansah mengatakan bahwa lingkungan fisik yang
menguntungkan dan sudah memenuhi syarat untuk meningkatkan
proses pembelajaran dan mempunyai pengaruh positif terhadap
pencapaian tujuan pengajaran. Lingkungan fisik yang dimaksud
meliputi, ruangan tempat berlangsungnya proses belajar
mengajar, pengaturan tempat duduk, ventilasi dan pengaturan
cahaya, serta pengaturan penyimpanan barang-barang.54
2) Kondisi Sosio-Emosional
Kondisi sosio-emosional siswa memainkan peran penting
dalam manajemen kelas. Manajemen kelas yang baik harus
memperhatikan aspek-aspek sosio-emosional siswa karena dapat
mempengaruhi kesejahteraan siswa, interaksi antar siswa, dan
kualitas pembelajaran. Menurut Djamarah dalam Euis Karwati
dan Doni Juni Priansah mengatakan bahwa ada beberapa cara
kondisi sosio-emosional yang dapat mempengaruhi manajemen
kelas melibatkan pemahaman guru terhadap emosi dan hubungan
sosial siswa, diantaranya tipe kepemimpinan, sikap guru, suara
guru, dan pembinaan hubungan baik.55
3) Kondisi Organisasional
Kondisi organisasional dalam manajemen kelas mencakup
berbagai aspek yang berkaitan dengan struktur, kebijakan, dan
53
Euis Karwati & Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas, … 28
54
Euis Karwati & Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas, … 29
55
Euis Karwati & Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas, … 30
24
prosedur di tingkat sekolah atau kelas. Menurut Djamarah dalam
Euis Karwati dan Doni Juni Priansah mengatakan bahwa ada
dua faktor kondisi organisasional yang mempengaruhi
pengelolaan kelas. Dua faktor tersebut yaitu faktor internal
peserta didik dan faktor eksternal peserta didik.
Faktor internal peserta didik yaitu faktor yang berhubungan
dengan masalah emosi, pikiran, dan perilaku. Sedangkan faktor
eksternal peserta didik yaitu faktor yang berkaitan dengan
masalah suasana lingkungan belajar, penempatan peserta didik,
pengelompokan peserta didik, julah peserta didik, dan lain
sebagainya.56
Sedangkan menurut Afriza dalam bukunya mengemukakan
bahwa untuk pemahaman mengenai faktor-faktor yang turut
mempengaruhi manajemen kelas kiranya sangat penting untuk
diketahui sebagai bekal kelak dalam menyukseskan pendidikan pada
utamanya dan keberhasilan proses pembelajaran khususnya. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi perwujudan manajemen kelas
yaitu sebagai berikut:
1) faktor dinamika kelas
2) Faktor kurikulum
3) faktor gedung dan sarana kelas
4) Faktor guru atau pengajar
5) faktor murid. 57
2. Proses Pembelajaran
a. Pengertian Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran adalah serangkaian kegiatan dan interaksi
yang terjadi antara guru dan siswa, dengan tujuan untuk mentransfer
pengetahuan, keterampilan, sikap, atau nilai dari pengajar kepada
peserta didik.
56
Euis Karwati & Donni Juni Priansa, Manajemen Kelas, … 32
57
Afriza, manajemen kelas, … 28
25
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, proses adalah
serangkaian tindakan pembuatan atau pengolahan untuk menghasilkan
suatu produk rangkaian peristiwa dalam pengembangan metode,
sistem dan teknologi.58 Sedangkan pembelajaran menurut Ajat Rukajat
merupakan suatu proses komunikasi secara transaksional yang
didalamnya ada sifat timbal balik antara peserta didik dengan guru,
peserta didik dengan peserta didik dengan sumber belajar lainnya pada
suatu lingkungan belajar tertentu untuk mencapai tujuan tertentu.59
Kata atau istilah pembelajaran dan penggunaannya masih
tergolong baru, yang mulai populer semenjak lahirnya Undang-
Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003. Menurut
Undang-Undang ini, pembelajaran diartikan sebagai proses interaksi
peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Menurut pengertian ini, pembelajaran merupakan
bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan ilmu
dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran, dan tabiat serta
pembentukan sikap dan keyakinan pada peserta didik. Dengan kata
lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar
dapat belajar dengan baik. Namun dalam implementasinya, sering kali
kata pembelajaran ini diidentikkan dengan kata mengajar.60
Sofan Amri dalam bukunya berpendapat bahwa proses
pembelajaran sangat berpengaruh kepada hasil belajar seorang siswa.61
Ajat Rukajat mengemukakan bahwa manajemen pembelajaran
adalah kegiatan yang dimulai dari perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan penilaian pelaksanaan pembelajaran agar tercapai
hasil belajar yang efektif.62 Sedangkan Muldyana Nugraha
58
Wahyu, Suzana, dan Ernawati Waridah. 2013. Kamus Bahasa Indonesia. Bandung:
Ruang Kata, 492.
59
Ajar Rukajar,Manajemen Pembelajaran, (Sleman : DEEPUBLISH, 2018) 13
60
Ahmad Susanto, Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar, (Jakarta: Kencana,
2013), 19
61
Sofan Amri & Iif Khoiru Ahmadi, Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif dalam
Kelas, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2010), 22
62
Ajat Rukajat, Manajemen Pembelajaran, (Sleman : CV BUDI UTOMO, 2018), 5
26
mengemukakan bahwa proses pembelajaran adalah segala upaya
bersama antara guru dan siswa untuk berbagi dan mengolah informasi,
dengan harapan pengetahuan yang diberikan bermanfaat dalam diri
siswa dan menjadi landasan belajar yang berkelanjutan, serta
diharapkan adanya perubahan-perubahan yang lebih baik untuk
mencapai suatu peningkatan yang positif yang ditandai dengan
perubahan tingkah laku individu demi terciptanya proses belajar
mengajar yang efektif dan efisien. Sebuah proses pembelajaran yang
baik akan membentuk kemampuan intelektual, berfikir kritis dan
munculnya kreatifitas serta perubahan perilaku atau pribadi seseorang
berdasarkan praktik atau pengalaman tertentu.63
Pembelajaran bukan sekadar perpindahan informasi dari guru ke
siswa saja, tetapi sebuah proses dinamis yang melibatkan interaksi
antara berbagai elemen dalam suatu lingkungan belajar. Dalam
konteks manajemen kelas, proses pembelajaran menjadi inti dari
penciptaan atmosfer yang mendukung pertumbuhan intelektual dan
emosional siswa. Dengan merancang aturan yang jelas, membangun
hubungan positif, dan menerapkan metode pembelajaran yang efektif,
guru dapat membentuk lingkungan kelas yang mendorong eksplorasi,
kolaborasi, dan pemahaman mendalam.
Dalam proses belajar dan pembelajaran terkandung beberapa
prinsip yang dapat dijadikan pedoman dalam pelaksanaan kegiatan
pembelajaran. Prinsip-prinsip tersebut meliputi (1) motivasi, (2)
perhatian, (3) aktivitas, (4) umpan balik, dan (5) perbedaan individu.64
Menurut Alfian Erwiansyah dalam jurnalnya ada dua aspek
dalam kegiatan pembelajaran, aspek pertama yaitu perubahan perilaku
didiri peserta didik sebagai hasil belajar, aspek kedua yaitu
pengalaman emosional, intelektual, dan fisik pada peserta didik dari
proses belajar. Dua aspek pembelajaran tersebut bertujuan untuk
63
Muldiyana Nugraha, “ Manajemen Kelas Dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran”,
jurnal TARBAWI (online), Vol. 4 No. 1 h.34 (2018) 78
64
Hafsah, Pembelajaran . (Bandung: Citapustaka Media Perintis, 2016), 21.
27
meningkatkan perkembangan mental untuk menjadi mandiri yang
utuh dengan proses interaksi antara tenaga pendidik dengan peserta
didik yang memperoleh suatu yang ada dilingkungan sekitar. Dalam
proses belajar tersebut, peserta didik menggunakan kemampuan
mentalnya untuk mempelajari bahan ajar. Untuk mennetukan
pengajaran berlangsung secara wajar dan berhasil maka proses
pembelajaran itu dilandasi oleh prinsip-prinsip yang fundamental.65
Sebagai pengajar atau seorang guru harus mempunyai evaluasi
rutin terhadap metode pengajaran dan komunikasi terbuka dengan
orang tua merupakan langkah penting dalam menjaga kualitas proses
pembelajaran. Dengan demikian, proses pembelajaran bukan hanya
menjadi sarana pencapaian tujuan akademis, tetapi juga menjadi
wahana untuk membentuk karakter, sikap, dan keterampilan hidup
yang diperlukan siswa dalam menghadapi tantangan masa depan.
Dengan begitu, maka keseluruhan proses pembelajaran ini, seorang
guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga membentuk,
menginspirasi, dan mempersiapakan generasi mendatang untuk
mengahadapi dunia yang terus berubah.
b. Tujuan Proses Pembelajaran
Proses pembelajaran memegang peran yang sentral. Lebih dari
sekadar pengajaran di kelas, pembelajaran adalah sebuah perjalanan di
mana setiap langkahnya bertujuan untuk mencapai sukses akademis
dan persiapan untuk tantangan kehidupan. Dalam konteks manajemen
kelas, tujuan proses pembelajaran adalah untuk melibatkan penciptaan
lingkungan yang memotivasi, mendukung, dan mendorong kolaborasi.
Menurut Daryanto dalam bukunya menyatakan bahwa dengan
adanya proses pembelajaran maka siswa dapat mementingkan
partisipasi aktif untuk mengenal dengan baik bahwa setiap individu
peserta didik ada perbedaan kemampuan.66
65
Alfian Erwiansyah, “Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Efektivitas Proses Belajar
Mengajar”, jurnal Manajemen Pendidikan Islam (online) Vol. 5 No. 2 h. 45 (2017)
66
Daryanto, Panduan Proses Pembelajaran, (Jakarta: AV Publisher, 2009), 11
28
Nasution menyatakan, tujuan proses pembelajaran sebenarnya
adalah untuk memperoleh pengetahuan dengan suatu cara yang dapat
melatih kemampuan intelektual para siswa dan merangsang
keingintahuan serta memotivasi kemampuan mereka. 67 Tujuan
pembelajaran dibagi menjadi tiga kategori yaitu: kognitif (kemampuan
intelektual), afektif (perkembangan moral), dan psikomotorik
(keterampilan). Hal ini diperkuat oleh pendapat Bloom yang membagi
tiga kategori dalam tujuan pembelajaran yaitu: 1) Kognitif, 2) Afektif,
3) Psikomotorik.68
Mulyadi Nugraha dalam jurnalnya mengemukakan bahwa
tujuan kognitif berkenaan dengan kemampuan individu mengenal
dunia sekitarnya yang meliputi perkembangan intelektual. Tujuan
afektif mengenai perkembangan sikap, perasaan, nilai-nilai yang
disebut juga perkembangan moral. Sedangkan tujuan psikomotorik
adalah menyangkut perkembangan keterampilan yang mengandung
unsur-unsur motorik sehingga siswa mengalami perkembangan yang
maju dan positif. Tujuan pembelajaran di dalamnya terdapat rumusan
tingkah laku dan kemampuan yang harus dicapai dan dimiliki siswa
atau peserta didik setelah menyelesaikan kegiatan belajar dalam
proses pengajaran. Oleh karena itu, tujuan pembelajaran yang dibuat
oleh guru haruslah bermanfaat bagi siswa dan sesuai dengan
karakteristik siswa supaya tujuan tersebut dapat tercapai secara
optimal.69
Melalui pembahasan tentang tujuan proses pembelajaran yang
telah dipaparkan, maka dapat diketahui bahwa tujuan-tujuan ini tidak
hanya mencerminkan aspek akademis, tetapi juga menandai komitmen
untuk membentuk individu yang memiliki landasan karakter kokoh,
keterampilan adaptasi, dan semangat untuk terus belajar. Maka dapat
67
Dahar & Ratna Wilis, Teori Belajar-teori Belajar. (Bandung: Erlangga, 1996). 30
68
Nasution, S., Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. (Jakarta: Bumi
Aksara, 1998), 82
69
Muldiyana Nugraha “Manajemen Kelas Dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran”,
… 35
29
disimpulkan bahwa tujuan pembelajaran adalah sebagai upaya
membekali diri siswa dengan kemampuan-kemampuan yang bersifat
pengalaman, pemahaman moral dan keterampilan sehingga
mengalami perkembangan positif.
c. Tugas dan Peranan Guru dalam Pengelolaan Proses
Pembelajaran
Tugas dan peran guru dalam pengelolaan proses pembelajaran
dalam manajemen kelas sangat vital untuk menciptakan lingkungan
belajar yang kondusif, efektif, dan mendukung perkembangan siswa.
Guru bukan hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga sebagai
fasilitator, manajer, penilai, motivator, dan pemimpin yang berperan
besar dalam membentuk lingkungan belajar yang efektif dan
mendukung perkembangan siswa secara menyeluruh. Dengan
memahami dan melaksanakan tugas dan perannya dengan baik, guru
dapat memberikan kontribusi positif yang besar terhadap keberhasilan
siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Faizal Djabidi dalam bukunya mengemukakan bahwa tugas dan
peranan guru sebagai pendidik professional sesungguhnya sangat
kompleks, bukan hanya terbatas pada saat berlangsungnya interaksi
edukatif didalam kelas, tetapi guru juga bertugas sebagai
administrator, evaluator, konselor, dan lain-lain sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya. Sehingga menghasilkan proses
pembelajaran yang berkualitas.70
Pembelajaran berkualitas tidak hanya bergantung pada
kurikulum yang diperbarui, fasilitas yang tersedia, kepribadian guru
yang menyenangkan, pembelajaran yang mengesankan dan
pengetahuan guru yang luas disemua bidang, guru juga perlu
mempelajari kiat-kiat manajemen kelas.71
70
Faizal Djabadi, Manajemen Pengelolaan Kelas. (Malang: Madani, 2016), 27
71
Andri Kurniawan, Manajemen Kelas, (Padang Sumatera Barat: PT Global Eksklutif
Teknologi, 2022), 9
30
Afriza juga mengemukakan bahwa pembelajaran yang
berkualitas tidak hanya ditentukan oleh pembaharuan kurikulum,
fasilitas yang tersedia, kepribadian guru yang simpatik, pembelajaran
yang penuh kesan, wawasan pengetahuan guru yang luas tentang
semua bidang, melainkan juga guru harus menguasai dan memahami
akan prinsip-prinsip manajemen kelas. Karena manajemen kelas dapat
mempengaruhi tingkat kualitas pembelajaran dikelas, karena
manajemen kelas benar-benar akan mengelola suasana kelas menjadi
sebaik mungkin agar siswa menjadi nyaman dan senang selama
mengikuti proses belajar mengajar.72
Muldiyana Nugraha mengemukakan bahwa, Keberhasilan
pelaksanaan proses pembelajaran merupakan indikator pelaksanaan
kurikulum yang telah dibuat oleh lembaga bimbingan belajar,
sehingga dalam proses pembelajaran guru dituntut untuk menciptakan
suasana belajar yang kondusif sehingga memungkinkan dan
mendorong siswa untuk mengembangkan segala kreatifitasnya dengan
bantuan guru. Peranan guru di sini sangatlah penting, yaitu guru harus
menyiapkan materi dan metode pembelajaran, serta guru juga harus
mengetahui dan memahami keadaan siswanya demi kelancaran
pembelajaran.73
Menyikapi hal tersebut Suyono berpendapat bahwa guru
mempunyai tugas yang sangat berat yaitu harus selalu memahami
berbagai sikap pandang siswa yang ternyata menghambatnya untuk
mencapai kemajuan, disisi lain juga harus mengetahui berbagai
kekuatan siswa yang harus dikembangkan, sesuai dengan derajat
perkembangan mental, sosial, dan moral siswa.74
Sahrizal Fahlawi dalam jurnalnya mengemukakan bahwa Dalam
proses pembelajaran guru sangat berperan untuk melakukan upaya
72
Afriza (2014) manajemen kelas, … 51
73
Muldiyana Nugraha “Manajemen Kelas Dalam Meningkatkan Proses Pembelajaran”,
… 40
74
Suyono & Hariyanto, Belajar dan Pembelajaran, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2014), 203
31
dalam rangka melibatkan siswa agar ikut berperan aktif dalam
pembelajaran karena keaktifan siswa dalam pembelajaran akan
mendukung keberhasilan guru dalam mengelola kelas dan menjadikan
pembelajaran lebih efektif. Keberhasilan guru dalam mengelola kelas
akan terlihat pada sejauhmana guru mampu mencairkan suasana
dalam kelas yang mengakibatkan siswa merasa senang dan tertarik
untuk mengikuti pelajaran yang diberikan.75
Euis Karwati dalam bukunya mengemukakan bahwa guru
merupakan faktor penentu yang sangat dominan dalam proses
pembelajaran peserta didik. Terkait dengan hal tersebut, maka peranan
guru meliputi banyak hal, diantaranya sebagai berikut:
1) Pendiagnosa perilaku peserta didik.
2) Penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
3) Pelaksanaan proses pembelajaran.
4) Pelaksana administrator sekolah.
5) Penyebar informasi dan komunikator.
6) Pengembangan potensi diri sendiri.
7) Pengembangan potensi peserta didik.
8) Pengembangan kurikulum di sekolah.76
B. Kajian Peneliti Terdahulu
Peneliti akan mencantumkan berbagai hasil peneleitian terdahulu
terkait dengan peneliti yang hendak dilakukan oleh peneliti dalam
penelitian ini. Selanjutnya akan dibuat ringkasan untuk penelitian
terdahulu, baik yang sudah dipublikasi maupun peneltian yang belum
terpublikasi. Berikut beberapa penelitian terdahulu yang berkaitan dengan
penelitian ini:
Tabel 2.1 Kajian Peneliti Terdahulu
No Nama, tahun, Persamaan Perbedaan Kesimpulan
dan judul
75
Sahrizal Fahlawi. (2017). Manajemen Kelas dalam Upaya Meningkatkan Efektivitas
Pembelajaran, (online) Vol. X No. 1, 130
76
Euis Karwati dan Donni Juni Priansa (2019), … 64
32
penelitian
1 Vivi Annisa, Keduanya 1. Lokasi Judul peneliti
2019, sama-sama penelitian dan hampir sama
iImplementasi meneliti tahun dengan
Manajemen tentang penelitian. skripsinya Vivi
Kelas Dalam manajemen 2. Penelitian Annisa. Akan
Meningkatkan kelas pada ini lebih tetapi yang
Pembelajaran lembaga berfokus menjadi
Peserta Didik pendidikan. kepada pembeda ialah
Kelas Viiia Di pengaturan lokasi yang
Mts Al Hikmah peserta didik diteliti dan fokus
Kedaton dan pembahsannya.
Bandar pengaturan
Lampung. fasilitas.
2 Nurhidayah, Keduanya 1. Lokasi Judul peneliti
2019, sama-sama penelitian dan hamper sama
Implementasi meneliti tahun dengan
Manajemen tentang penelitian skripsinya
Kelas Dalam manajemen 2. Penelitian Nurhidayah.
Meningkatkan kelas pada ini lebih Akan tetapi yang
Pembelajaran lembaga berfokus menjadi
Di Smp Swasta pendidikan. kepada pembeda ialah
Islam Azizi pengaturan lokasi yang
Medan dan diteliti dan fokus
Kecamatan penempatan pembahasannya.
Medan peserta didik,
Perjuangan pengembang
Kota Medan an tingkah
laku siswa
agar disiplin
dalam belajar,
peningkatan
minat belajar
siswa serta
motivasi
belajar siswa,
pengorganis
asian dinamika
kelompok
belajar
3 Nisa Fitri Keduanya 1. Lokasi Judul peneliti
33
Afifah, 2021, sama-sama penelitian hampir sama
judul meneliti 2. berfokus dengan
Implementasi tentang kepada skripsinya Nisa
Manajemen manajemen manajemen Fitri Afifah.
Kelas dalam kelas pada kelas fisik dan Akan tetapi yang
Meningkatkan lembaga non fisik serta menjadi
Efektivitas pendidikan. strategi pembeda ialah
Pembelajaran di pemecahan lokasi yang
Madrasah masalah dalam diteliti dan fokus
Aliyah Negeri 2 manajemen pembahasannya.
Hulu Sungai kelas.
Utara.
Dari tiga penelitian terdahulu diatas perbedaan utama antara penelitian
terdahulu dan penelitian ini adalah pendekatan yang lebih spesifik
terhadap proses pembelajaran dalam konteks implementasi manajemen
kelas. Penelitian ini lebih fokus pada hasil akhir atau evektifitas
pembelajarannya.
34
sedangkan penelitian terdahulu lebih fokus pada bagaimana praktik
manajemen kelas mempengaruhi dinamika pembelajaran di dalam kelas,
bukan hanya hasil akhir dari pembelajaran itu sendiri.
35
C. Kerangka Berfikir
Implikasi Teori
Fokus Penelitian Kajian Teori
1. Bagaimana Implementasi 1. Manajemen
Manajemen Kelas di Kelas oleh
MTsN 3 Jombang ? Kenneth D.
2. Bagaimana Peningkatan Moore
Efektivitas Proses 2. Proses
Implementasi Pembelajaran di MTsN 3 Pembelajaran
Manajemen Hasil P
Jombang? oleh Ajat Rukajat
Kelas dalam 3. Bagaiamana
Peningkatan
Implementasi Manajemen
Efektivitas
Kelas dalam Peningkatan
Proses
Efektivitas Proses
Pembelajaran
di MtsN 3 Pembelajaran di MtsN 3
Jombang Jombang?
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui Implementasi Manajemen Kelas di MTsN
3 Jombang.
2. Untuk mengetahui Peningkatan Efektivitas Proses
Pembelajaran di MTsN 3 Jombang.
3. Untuk mengetahui Implementasi Manajemen Kelas dalam
Peningkatan Efektivitas Proses Pembelajaran di MTsN 3
Jombang
Implikasi praktis
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir
BAB III
METODE PENELITIAN
Bab III ini peneliti mengisi dengan Metode Penelitian. (1) Pendekatan
Dan Jenis Penelitian; (2) Instrumen Penelitian; (3) Latar Penelitian; (4) Data
Dan Sumber Data Penelitian; (5) Teknik Pengumpulan Data; (6) Teknik
Analisis Data; (7) Teknik Pengecekan dan keabsahan Data.
A. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Sebuah penelitian terdapat dua pendekatan yang harus diketahui oleh
peneliti, yaitu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Pendekatan
yang digunakan peneliti sebagai metode penelitian yaitu pendekatan
kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah metode penelitian yang bertujuan
untuk memahami fenomena yang kompleks dengan mendalam melalui
pengumpulan dan analisis data non-angka, seperti teks, gambar, atau suara.
Jenis penelitian yang digunakan yaitu jenis penelitian deskriptif kualitataif.
Menurut Denzin dan Lincon dalam Lexy mendefinisikan bahwa penelitian
deskriptif kualitatif merupakan penelitian yang menggunakan latar ilmiah,
dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan
jalan melibatkan berbagai metode yang ada. 77 Sedangkan Menurut Bogdan
dan Taylor sebagaimana dikutip Moleong, metodologi kualitatif adalah
sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-
kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. 78
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi manajemen kelas
dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran, dimana penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif.
Dalam penelitian ini, peneliti mengambil jenis penelitian case study
atau studi kasus. Jenis pendekatan penelitian studi kasus yaitu yang bersifat
menggambarkan, menuturkan dan menafsirkan data yang ada dan
77
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2016), 5
78
Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif, cet. I (Bandung : Remaja
Rosdakarya, 2000), 3
35
36
menghasilkan deskriptif yang berupa data-data tertulis atau lisan dari orang-
orang atau perilaku yang diamati dan data tersebut bersifat pernyataan.
Peneliti kemudian berusaha masuk kelapangan dari obyek penelitian dengan
mengumpulkan data selengkap dan seakurat mungkin sesuai pokok
pembahasan yang akan diteliti.
Hal tersebut sesuai dengan buku karangan Nasution yaitu didalam
metode pendekatan kualitatif, peneliti harus aktif secara langsung dalam
mengumpulkan data yang sesuai dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. 79
Hasil pengumpulan data menjadi deskripsi menjadi kata sebagaimana yang
dinyatakan oleh Nasution, bahwa penelitian kualitatif pada dasarnya adalah
mengamati orang dan lingkungan hidupnya, serta yang sedang berinteraksi
dengan mereka.80 Oleh karena itu peneliti berusaha berperan aktif dalam
melakukan proses penelitian sehingga hasil yang diperoleh ketika dilapangan
sangat optimal dan juga memuaskan.
B. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau sarana yang digunakan untuk
mengumpulkan data dalam suatu penelitian. Instrumen penelitian berperan
penting dalam proses pengumpulan data karena kualitas data yang diperoleh
akan sangat bergantung pada desain dan karakteristik instrumen yang
digunakan.
Creswell dalam Raihan mengemukakan bahwa instrument adalah alat
yang digunakan bagi peneliti untuk mengukur pencapaian nilai, mengamati
perilaku dan pengembangan perilaku individu.81 Dalam penelitian kualitatif
karena tidak melakukan pengukuran, tetapi eksplorasi untuk menemukan,
maka yang menjadi instrument atau alat adalah peneliti itu sendiri. Oleh
karena itu, peneliti sebagai instrument juga harus divalidasi seberapa jauh
peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke
lapangan. Karena yang melakukan validasi adalah peneliti sendiri, melalui
evaluasi diri seberapa jauh pemahaman terhadap metode kualitatif,
79
Nasution S, Metode Penelitian Naturalistic Kualitatif, (Bandung: Tersito, 1988), 30
80
Nasution S, Metode Penelitian Naturalistic Kualitatif, (Bandung: Tersito, 1988), 44
81
Raihan, Metodelogi Penelitian, (Jakarta: Universitas Islam Jakarta, 2017), 103
37
penguasaan teori dan wawasan terhadap bidang yang diteliti serta kesiapan
dan bekal memasuki lapangan.
C. Latar Penelitian
Latar penelitian merujuk pada tempat atau wilayah di mana penelitian
dilakukan. Pemilihan latar penelitian sangat penting karena dapat
memengaruhi hasil dan generalisasi temuan penelitian. Latar penelitian
adalah subyek penelitian kegiatan dalam penelitian yang dilakukan. Sehingga
lokasi penelitian perlu diperhatikan sesuai dengan data yang diperlukan.
Latar penelitian yang diambil memiliki kesenjangan atau keunikan
yang terjadi dari adanya kegiatan kegiatan yang dilakukan dilokasi tersebut.
Penelitian ini dilakukan di MTsN 3 Jombang yang terletak di Desa
Tambakberas Kecamatan Jombang Kabupaten Jombang. MTsN 3 ini
merupakan sekolah Negeri yang berada dalam naungan pondok pesantren
Bahrul Ulum, meskipun dalam proses penerapan manajemen kelas yang
dilakukan masih kental dengan aturan pondok, tetapi tidak mempengaruhi
kualitas pembelajarannya. Hal ini menjadi daya tarik bagi peneliti untuk
melakukan penelitian di MTsN 3 Jombang.
D. Data dan Sumber Data
Data penelitian adalah informasi yang dikumpulkan atau dihasilkan
selama proses penelitian untuk menjawab pertanyaan penelitian atau menguji
hipotesis. Data merupakan dasar dari analisis dan pembuktian terhadap
asumsi atau klaim yang diajukan dalam penelitian.
Mahmud mengemukakan dalam bukunya bahwa data adalah seluruh
keterangan atau informasi mengenai semua hal yang berkaitan dengan tujuan
penelitian. Data digunakan untuk menunjang komponen penelitian dengan
membuktikan teori yang sudah ada dengan realitas yang terjadi dilapangan.
Data merupakan fakta atau informasi atau keterangan yang dijadikan sebagai
sumber atau bahan menemukan kesimpulan dan membuat keputusan. 82 Sandu
Siyoto juga berpendapat bahwa dalam pengumpulan data dalam penelitian
perlu dipantau agar data yang diperoleh dapat terjaga tingkat validitas dan
82
Mahmud, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2011), 146.
38
rehabilitasnya. Walaupun telah menggunakan instrument yang valid dan
reliabel, tetapi jika dalam proses penelitian tidak diperhatikan bisa jadi data
yang terkumpul hanya onggokan sampah. Oleh karena itu, pengumpulan data
walaupun tampaknya hanya sekedar pengumpul data tetapi harus tetap
memenuhi persyaratan tertentu yaitu yang mempunyai keahlian yang cukup
untuk melakukannya.83
Dalam penelitian kualitatif, data yang dikumpulkan berhubungan
dengan fokus penelitian. Data tersebut terdiri atas dua jenis yaitu data yang
bersumber dari manusia dan data yang bersumber dari non manusia. Data dari
manusia diperoleh dari orang-orang yang menjadi informan dalam hal ini
orang yang secara langsung menjadi subyek peneliti. Sedangkan data non
manusia bersumber dari dokumen-dokumen berupa catatan, rekaman,
gambar/ foto, dan hasil-hasil observasi yang berhubungan dengan fokus
penelitian ini. Adapun data yang meliputi:
1. Bagaiamana implementasi manajemen kelas di MTsN 3 Jombang?
2. Bagaimana upaya meningkatkan kualitas proses pembelajaran di MTsN 3
Jombang?
3. Bagaimana implementasi manajemen kelas dalam upaya meningkatkan
kualitas proses pembelajaran di MTsN 3 Jombang?
Sumber data adalah tempat atau cara dimana peneliti memperoleh
informasi atau data untuk digunakan dalam penelitian. Sumber data dapat
sangat bervariasi tergantung pada jenis penelitian, metode yang digunakan,
dan tujuan penelitian tersebut., Lexy J. Moleong berpendapat bahwa sumber
data utama dalam penelitian kualitataif adalah kata-kata dan tindakan.
Selebihnya adalah data tambahan.84
Dalam penelitian ini ada dua jenis sumber data. Pertama, sumber data
primer yaitu sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul
data yang bersumber dari observasi dan wawancara secara langsung dengan
kepala madrasah, waka kurikulum, waka kesiswaan dan wali kelas di MTsN 3
83
Sandu Siyoto, Dasar Metode Penelitian, (Yogyakarta: Literasi Media Publishing,
2015), 75
84
Lexi J. Moleong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, … 157
39
Jombang. Kedua, data sekunder yaitu data yang diperoleh atau dikumpulkan
peneliti dari sumber-sumber yang telah ada yang bisa diperoleh dari
perpustakaan atau dari laporan-laporan yang terdahulu. Data sekunder ini
diperoleh dari data yang diambil dari sejarah berdiri dan berkembangnya,
letak geografis, visi dan misi madrasah, wali kelas di MTsN 3 Jombang.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan cara yang dilakukan peneliti
untuk memperoleh data secara akurat, valid, dan dapat dipercaya. Selain itu
peneliti bertujuan agar menemukan informasi dan mengumpulkan data data
melalu sumber data secara akurat. Terdapat tiga cara untuk mengumpulkan
data yaitu: observasi, wawancara, dokumentasi dan triangulasi. Dalam
penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data triangulasi.
Menurut Sugiyono dalam bukunya bahwa triangulasi adalah teknik
pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik
pengumpulan data dan sumber data yang telah ada ini merupakan pendapat
dari Sugiyono.85
1. Observasi (pengamatan)
Metode observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan
secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian.
Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memahami proses
terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami konteknya
selain itu peneliti dapat menghasilkan data lebih cermat dan detail.
Menurut Margono dalam Rahmadi bahwa observasi adalah cara
mengadakan pencatatan secara sistematis mengenai tingkah laku individu
atau kelompok yang diteliti secara langsung. 86 Teknik observasi yang
dilakukan oleh peneliti adalah bertujuan untuk mendapatkan data
mengenai implementasi manajemen kelas untuk meningkatkan kualitas
proses pembelajaran di MTsN 3 Jombang.
2. Interview (wawancara)
85
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2014) 83
86
Rahmadi, Pengantar Metodelogi Penelitian, (Banjarmasin: Antasari Press, 2011), 80
40
Wawancara merupakan salah teknik yang dilakukan peneliti untuk
mendapat data yang valid. Lexi J. Moleong mengemukakan bahwa
wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu yang dilakukan
oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan
terwawancara yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. 87 Tujuan
dari wawancara tersebut adalah untuk menemukan masalah secara lebih
terbuka, dimana pihak yang diwawancarai diminta pendapat dan ide-
idenya untuk mendapatkan data. Dalam melakukan wawancara, peneliti
perlu mendengar secara teliti dan mencatat apa yang telah dikemukakan
oleh informan.
Dalam penelitian ini peneliti melakukan wawancara secara
langsung dengan mendatangi langsung ke lembaga tersebut, sebelumnya
peneliti menyusun rencana untuk mengajukan pertanyaan dengan tidak
berurutan dan secara baku. Selain itu wawancara ini dapat dijadikan
sebagai sarana untuk klarifikasi hal hal yang tidak diketahui.
3. Dokumentasi
Metode dokumentasi yaitu suatu teknik pengumpulan data yang
dilakukan dengan cara menghimpun dan menganalisis dokumen-
dokumen baik berupa dokumen tertulis, gambar maupun elektronik.
Rahmadi berpendapat dalam bukunya bahwa jenis dokumentasi dibagi
menjadi dua, yaitu dokumen pribadi dan dokumen resmi. Dokumen
pribadi merupakan dokumen yang dimiliki oleh perseorangan yang berisi
catatan atau tulisan tentang tindakan, pengalaman dan keyakinan. Yang
termasuk dokumen pribadi adalah buku harian, surat pribadi dan
autobiografi. Sedangkan dokumen resmi merupakan dokumen yang
dimiliki oleh lembaga tersebut.88
Studi dokumentasi merupakan pelengkap dari penggunaan metode
wawancara dalam suatu penelitian, teknik dokumentasi juga sebagai
87
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, … 186
88
Rahmadi, Pengantar Metodelogi Penelitian, … 80
41
pelengkap data yang diperoleh yang dapat dipercaya dan bertujuan untuk
memperoleh data-data yang bisa dipertanggungjawabkan keabsahannya.
F. Teknik Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis
data diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi
dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, pejabaran dalam
unitunit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih nama yang
penting dan yang akan dipelajari dan membuat kesimpulan sehingga mudah
dipahami oleh diri sendiri dan juga orang lain.89 Analisis data dalam
penelitian kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung dan
setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Aktivitas dalam
analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara
terus-menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Adapun langkah-
langkah yang diterapkan peneliti dalam menganalisa data yaitu reduksi data,
paparan/penyajian data dan penarikan kesimpulan yang dilakukan selama dan
sesuadah penelitian.90 Adapun aktivitas dalam analisis data sebagai berikut:
1. Reduksi Data
Reduksi data adalah proses penyederhanan data yang diperoleh
dalam suatu penelitian, terutama pada penelitian kualitatif. Setelah data
dikumpulkan melalui berbagai metode, seperti wawancara, observasi,
atau analisis dokumen, proses reduksi data membantu peneliti untuk
fokus pada inti informasi yang relevan dan signifikan.
Lexi J. Moleong berpendapat bahwa Mereduksi data berarti
merangkum, memilih hal-hal yang fokus, penting dalam penelitian,
dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran
yang lebih jelas dan mempermudah peneliti pengumpulan data
selanjutnya. Proses ini berlangsung dari awal hingga akhir penelitian
89
Sugiyono, Metode Penelitian (Kuantitatif, kualitatif, R&D) … 244
90
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, … 91
42
selama penelitian dilaksanakan. Fungsinya untuk menajamkan,
menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan
mengorganisasi sehingga interpretasi bila ditarik yang disesuaikan
dengan data-data yang relevan atau data yang cocok dengan tujuan
pengambilan data di lapangan yang diperlukan untuk menjawab
permasalahan dalam penelitian.91
2. Display Data
Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya ialah
mendisplaykan data atau penyajian data. Penyajian data adalah
sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan untuk
menarik kesimpulan dan pengambilan tindakan, yang disajikan antara
lain dalam bentuk teks naratif, matriks, jaringan, dan bagan. Dalam
penelitian kualitatif, penyajian data biasa dilakukan dalam bentuk
uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan
sejenisnya. Tujuannya untuk memudahkan membaca dan menarik
kesimpulan selain itu penyajian data dilakukan dengan tujuan agar
penulis lebih mudah untuk memahami permasalahan yang terkait dalam
penelitian.
3. Kesimpulan
Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles dan
Huberman adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan
dalam penelitian kualitatif adalah temuan baru yang sebelumnya belum
pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek
yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah
diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif,
hipotesis atau teori. Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat
sementara, dan akan berubah bila tidak di temukan bukti-bukti yang
bersifat kuat yang dapat mendukung untuk lanjut ke tahap pengumpulan
data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada
tahap awal, di dukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat
91
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, … 288
43
peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data, maka
kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan kredibel.
G. Keabsahan Data
Keabsahan data dilakukan oleh peneliti untuk menentukan dan
membuktikan apakah penelitian yang dilakukan ini benar benar penelitian
ilmiah atau bukan. Agar peneliti dapat mempertanggungjawabkan data yang
diperoleh. Sugiyono menyatakan bahwa teknik pemeriksaan keabsahan data
adalah derajat kepercayaan atas data penelitian yang diperoleh dan bisa
dipertanggung jawabkan kebenarannya.92
Teknik pemeriksaan keabsahan data dalam penelitian kualitatif
menggunakan beberapa teknik, yakni:
1. Perpanjangan Pengamatan
Lexy Moleong mengemukakan bahwa perpanjangan pengamatan
adalah Peneliti tinggal di lapangan penelitian sampai kejenuhan
pengumpulan data tercapai. Perpanjangan pengamatan peneliti akan
memungkinan peningkatan derajat kepercayaan data yang
dikumpulkan.93 Dengan perpanjangan pengamatan ini, peneliti mengecek
kembali apakah data yang telah diberikan selama ini setelah dicek
kembali pada sumber data asli atau sumber data lain ternyata tidak benar,
maka peneliti melakukan pengamatan lagi yang lebih luas dan mendalam
sehingga diperoleh data yang pasti kebenarannya.94
Dalam penelitian ini peneliti melakukan perpanjangan pengamatan,
dengan kembali lagi ke lapangan untuk memastikan apakah data yang
telah penulis peroleh sudah benar atau masih ada yang salah.
2. Ketekunan Pengamatan
92
Sugiyono, Metode Penelitian (Kuantitatif, kualitatif, R&D), … 92.
93
Lexy Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, … 248
94
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D,
(Bandung: Alfabeta, 2008), 271
44
Ketekunan pengamatan yang dimaksud adalah menemukan ciri-ciri
dan unsur-unsur dalam situasi yang sangat relevan dengan persoalan atau
isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal
tersebut secara rinci.95 Dengan meningkatkan ketekunan itu, maka
peneliti dapat melakukan pengecekan kembali apakah data yang telah
ditemukan itu salah atau tidak. Demikian juga dengan meningkatkan
ketekunan maka, peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat
dan sistematis tentang apa yang diamati dan sebagai bekal peneliti untuk
meningkatkan ketekunan adalah dengan cara membaca berbagai referensi
buku maupun hasil penelitian yang terkait dengan manajemen kelas
dalam peningkatan efektivitas proses pembelajaran.
3. Triangulasi
Triangulasi dalam pengujian kredibilitas ini diartikan sebagai
pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan
berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber dan
trigulasi teknik.96
a) Triangulasi sumber
Dengan sumber digunakan untuk menguji kredibilitas data
yang dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh
melalui beberapa sumber.97 Sebagai contoh, untuk menguji
kreadibilitas data tentang manajemen kelas maka pengumpulan dan
pengujian data yang telah diperoleh dilakukan ke subjek yang
melaksanakan dan merasakan manajemen kelas. Dari beberapa
sumber tersebut dapat di rata-ratakan dan kemudian dideskripsikan,
dikategorikan, mana pandangan yang sama dan pandangan yang
berbeda dan mana data yang lebih spesifik dari ketiga sumber
terebut.
b) Triangulasi teknik
95
Lexy Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, … 329
96
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, … 273.
97
Sugiyono, Metode Penelitian, … 440.
45
Pengujian selanjutnya dilakukan dengan cara mengecek pada
sumber yang sama namun tekniknya yang berbeda misalkan
mengecek data melalui wawancara observasi dan dokumentasi yang
dilakukan oleh peneliti.
4. Pemekrisaan Sejawat Melalui Diskusi
Menurut Sugiono Pemeriksaan sejawat melalui diskusi yaitu teknik
yang dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir
yang diperoleh dalam bentuk diskusi analitik dengan rekan-rekan. 98
Sedangkan Lexy Moleong berpendapat bahwa Teknik ini dilakukan
dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil yang diperoleh dalam
bentuk diskusi dengan jalan mengumpulkan rekan-rekan yang sebaya,
yang memiliki pengetahuan umum yang sama tentang apa yang sedang
diteliti, sehingga bersama mereka peneliti dapat mereview persepsi,
pandangan dan analisis yang sedang dilakukan. 99 Jika hal ini sedang
dilakukan, maka akan mengahsilkan:
a) Menyediakan pandangan kritis
b) Mengetes hipotesis kerja (temuan-teori subtantif)
c) Membantu mengembangkan langkah berikutnya
d) Melayani sebagai pembanding.
98
Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, … 276
99
Lexy Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, … 334
46
DAFTAR RUJUKAN
Afriza. Manajemen kelas. Pekan Baru: Kreasi Edukasi. 2014.
Aliyyah, Rusmiati, Rusi. Manajemen Kelas. Yogyakarta: Samudera Biru. 2022.
Aliyyah, Rusmiati, Rusi. Pengelolaan Kelas. Bogor: FKIP/PGSD. 2021.
Aninda, Galih,. D dan Minsih. Peran Guru Dalam Pengelolaan Kelas. (online)
Vol. 5 No. 01, Juli (2018).
Arikunto, Suharsimi. Pengelolaan Kelas dan Siswa. Jakarta : CV Rajawali
Jakarta. 1992
Aswan Zain dan Syaiful Bahri Djamarah. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta :
Rineka Cipta. 2006.
Azwi (al), Mizana, Nadhifah. Implementasi Manajemen Kelas dalam
Meningkatkan Efektivitas Proses Pembelajaran di SMA Negeri 39
Jakarta. (online). Jurnal Pendidikan Tambusai, Vol. 6 No. 1 (2022).
Daryanto. Panduan Proses Pembelajaran. Jakarta: AV Publisher. 2009.
Djabadi Faizal. Manajemen Pengelolaan Kelas. Malang: Madani. 2016.
Donni, Juni, Priansa dan Euis, Karwati. Manajemen Kelas. Bandung: Alfabeta.
2019.
Eka, Fitriana dan Jusmawati. Manajemen Kelas. Banten: CV. AA Rizky. 2019.
Elbadiansyah. Manajemen Pendidikan. Malang: [Link]. 2018.
Ernawati, Waridah. Suzana, dan wahyu. Kamus Bahasa Indonesia. Bandung:
Ruang Kata. 2013.
Erwiansyah, Alfian. Manajemen Kelas dalam Meningkatkan Efektifitas Proses
Belajar Mengajar. (online). Jurnal Manajemen Pendidikan Islam. Vol. 5
No. 2 (2017).
Fahlawi, Sahriza. Manajemen Kelas dalam Upaya Meningkatkan Efektivitas
Pembelajaran, (online) Vol. X No. 1 (2017).
Finy, Muslihatuzzahro. Munjiatun dan Zahrotul, Umi. Manajemen Pengelolaan
Kelas dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran Siswa Di Madrasah
47
Aliyah Hidayatul Mubtadiin. (online). Jurnal An-Nur: Kajian Pendidikan
dan Ilmu Keislaman, Vol. 7 No. 2 (2021).
Gunawan, Imam. Manajemen Kelas Teori dan Aplikasinya. Depok : Rajawali
Pers. 2019.
Hafsah. Pembelajaran. Bandung: Citapustaka Media Perintis. 2016.
Hariyanto dan Suyono. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya. 2014.
Iif, Khoiru, Ahmadi dan Sofan, Amri. Proses Pembelajaran Kreatif dan Inovatif
dalam Kelas, Jakarta: Prestasi Pustaka. 2010.
Isa, Nurhaliza dan Hayani, Wulandari. Mengembangkan Potensi Guru yang
Profesional dalam Proses Belajar Mengajar. (online). Jurnal Ilmiah
PGSD FKIP Universitas Mandiri. Vol. 09 No. 02 (2023).
Istiqomah, Adatul. WAKA Kurikulum MTsN 3 Jombang. 07 Desember 2023.
John, Rafafy,. B dan Mathias Gemnafle. Manajemen Pembalajaran. (online).
Jurnal Pendidikan Profesi Guru Indonesia. Vol. 1 No. 2 (2021)
Kurniawan, Andri. Manajemen Kelas. Padang Sumatera Barat: PT Global
Eksklutif Teknologi. 2022.
Leslie, W. R dan G, R. Terry. Dasar-Dasar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.
2019.
Mahmud. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Pustaka Setia. 2011.
Mahmudah. Pengelolaan Kelas: Upaya Mengukur Keberhasilan Proses
Pembelajaran. (online). Vol. 6 No. 1 Juni (2018).
Moleong, L. J. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
2016.
Moleong, L. J. Metodologi Penelitian Kualitatif. cet. I. Bandung: Remaja
Rosdakarya. 2000.
Moore, D., Kenneth. Effective Intructional Strategies. Amerika Serikat: SAGE.
2015.
48
Mudasir. Manajemen Kelas. Yogyakarta: Nusa Media. 2011.
Nindianti dan Asmara. Urgensi Manajemen Kelas Untuk Mencapai Tujuan
Pembelajaran. Jurnal Pendidikan Sejarah dan Kajian Sejarah. (online).
Vol. 1 No. 1 (2020).
Nugraha, Muldiyana. Manajemen Kelas Dalam Meningkatkan Proses
Pembelajaran. Jurnal TARBAWI. (online). Vol. 4 No. 1 h.34 (2018).
P., Agus, Nurtanio. Mengelola Kelas untuk Keberhasilan Proses Belajar
Mengajar. (online)., Jurnal Manajemen Pendidikan. Vol. 2 No. 1 (2006).
Pohon, Semal. Manajemen Kelas dan Efektivitas Pembelajaran. Jurnal PGMI
STIT Al-Ittihadiyah Labuhanbatu Utara. (online). Vol. 1 No. 2 (2020).
Pratama, Rheza. Pengantar Manajemen. Yokyakarta: Deepublish CV Budi
Utama. 2020.
Priansa, J. P. & Karwati, Euis. MANAJEMEN KELAS. Bandung: Alfabeta. 2019.
Rahmadi. Pengantar Metodelogi Penelitian. Banjarmasin: Antasari Press. 2011.
Raihan. Metodelogi Penelitian. Jakarta: Universitas Islam Jakarta. 2017.
Ratna, Wilis dan Dahar. Teori Belajar-teori Belajar. Bandung: Erlangga. 1996.
Rodliyah. Manajemen Pendidikan. Jember: IAIN Jember Press. 2015.
Rukajat, Ajat. Manajemen Pembelajaran. Sleman : Deepublish. 2018.
S., Nasution. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta:
Bumi Aksara. 1998
S., Nasution. Metode Penelitian Naturalistic Kualitatif. Bandung: Tersito. 1988.
Saifullah, Munif, Ahmad. Manajemen Pembelajaran dalam Meningkatkan
Efektivitas Proses Belajar Mengajar di Masa Pandemi Covid 19. Jurnal
Bidayatuna (online) Vol. 3 No. 2 (2020).
Sanjani, Akbar, Maulana. Tugas dan Peranan Guru dalam Proses Peningkatan
Belajar Mengajar. (online). Jurnal Serunai Ilmu Pendidikan. Vol. 6 No. 1
(2020).
49
Sanjaya, Wina. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Prenadamedia Group. 2016.
Sastradihaja, Junaedi, dkk. Manajemen Kelas dalam Peningkatan Kualitas
Pembelajaran Tematik Kelas Awal. (online). Jurnal Pendidikan dan
Konseling, Vol. 4 No. 1 (2022).
Siyoto, Sandu. Dasar Metode Penelitian. Yogyakarta: Literasi Media Publishing.
2015.
Soerjo, Adi, Poernomo. Theresia, Ping. Lorensius, Amon. Tugas Dan Fungsi
Manajemen Pendidik Dan Tenaga Pendidik. Jurnal Kateketik Pastoral.
(online) Vol. 5 No. 1 (2021).
Sugiyono. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta. 2014.
Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D. Bandung: Alfabeta. 2008.
Sunhaji. Konsep Manajemen Kelas dan Implementasinya dalam Pembalajaran.
(online). Jurnal Kependidikan Vol. II No. 2 (2014).
Suryapermana, Nana. Manajemen Pembelajaran dalam Dunia Pendidikan.
(online). Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, Vol. 1 No. 2 (2016).
Susanto, Ahmad. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta:
Kencana. 2013.
Wahid, Abdul. Pentingnya Media Pembelajaran dalam Meningkatkan Prestasi
Belajar. (online), Vol. 5 No. 2. (2018).
Yantoro. Strategi Pengelolaan Kelas Yang Efektif Dalam Menumbuhkan Sikap
Disiplin Siswa. (online). Vol. 5 No. 1 (2020).