0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan6 halaman

Rancangan Kebun Binatang Berbasis Habitat

Diunggah oleh

Nurul Amali
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
11 tayangan6 halaman

Rancangan Kebun Binatang Berbasis Habitat

Diunggah oleh

Nurul Amali
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

e-ISSN 2798-8767

p-ISSN 2807-7997
homepage: [Link]/[Link]/jstvc

Konsep Perancangan Kebun Binatang dengan Pendekatan Habitat


di Bandung, Indonesia
Rabita Akbari Sitompul1
1
Program Studi Arsitektur,Jurusan Teknologi Infrastruktur dan Kewilayahan, Institut Teknologi Sumatera, Jl. Terusan Ryacudu,
Way Huwi, Kec. Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung 3536
* Corresponding email: [Link]@[Link]

Riwayat Artikel Abstrak


Diterima Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman hayati dunia saat ini
14/07/2021 menghadapi tantangan untuk menjaga kelestarian keragaman hayatinya. Salah satu
Disetujui tantangan tersebut adalah ancaman kepunahan satwa disebabkan oleh hilangnya
26/10/2021 habitat. Kehilangan habitat dapat disebabkan oleh tiga aspek utama, yaitu pertama
Diterbitkan adalah kerusakan habitat akibat bencana alam, kedua adalah hilangnya habitat akibat
31/10/2021 alih guna lahan dan ketiga adalah pembunuhan fauna akibat perdagangan yang tidak
bertanggung jawab. Untuk menjaga kelestarian satwa dapat dilakukan dengan dua
DOI: metode, konservasi in situ (di dalam habitat) dan konservasi ex situ (di luar habitat).
[Link]/x0xx0000 Kebun binatang sebagai bagian dari konservasi ex situ diharapkan dapat menjadi
miniatur habitat asli sesuai dengan kebutuhan masing-masing satwa. Akan tetapi, dapat
kita lihat bahwa banyak kebun binatang di Indonesia yang belum menerapkan perannya
sebagai miniatur habitat sehingga satwa tidak dapat berperilaku bebas sesuai
kebutuhannya. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisa dan menentukan konsep
rancangan dengan pendekatan habitat pada studi kasus kebun binatang Bandung.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan
perencanaan dan perancangan arsitektur lanskap. Dimulai dari inventarisasi tapak,
analisis hingga perumusan konsep. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara
studi dokumentasi dan observasi. Hasil dari penelitian ini berupa konsep perancangan
dan diharapkan dapat diterapkan oleh kebun binatang yang ada di Indonesia.

Kata Kunci: Bandung, ex situ, enclosure, habitat, kebun binatang

Kata Kunci: 2 – 5 kata kunci

Abstract
Indonesia as one of the world's centers of biodiversity is currently facing challenges
to preserve its biodiversity. One of these challenges is the threat of animal extinction
caused by habitat loss. Habitat loss can be caused by three main aspects,they are first
is habitat destruction due to natural disasters, second is habitat loss due to land use
change and third is fauna killing due to irresponsible trade. There are two methods to
preserve wildlife, namely in situ conservation (inside the habitat) and ex situ
conservation (outside the habitat). The zoo as part of ex situ conservation is expected
to become a miniature of the original habitat according to the needs of each animal.
However, we can see that many zoos in Indonesia have not implemented their role as
miniature habitats so that animals cannot behave freely according to their needs. This
research was conducted to analyze and determine the design concept with a habitat
approach in the case study of the Bandung Zoo. This study uses a descriptive qualitative
method with a landscape architectural planning and design approach. Starting from site
inventory, analysis to concept formulation. Data collection techniques were carried out
by means of documentation and observation studies. The results of this study are in the
form of design concepts and are expected to be applied by zoos in Indonesia.

Keywords: Bandung, ex situ, enclosure, habitat, zoo

Halaman | 96
Rabita Akbari Sitompul Journal of Science, Technology, and Virtual Science vol. 1, no. 2 (2021)

1. Pendahuluan sakit dan terluka, bebas untuk mengekspresikan


Indonesia dikenal sebagai negara perilaku secara normal dan bebas dari rasa takut
megabiodiversity yaitu salah satu pusat kekayaan dan tertekan) [8].
hayati dunia. Untuk menjaga keanekaragaman
hayati ada beberapa tantangan yang dihadapi, salah Kota Bandung memiliki satu kebun binatang
satu tantangan tersebut adalah ancaman yang berlokasi tepat di tengah kota. Kebun Binatang
kepunahan satwa disebabkan oleh hilangnya Bandung (KBB) dengan area seluas 14 Ha
habitat. Menurut Badan Perencanaan merupakan RTH 1.5 kawasan perlindungan plasma
Pembangunan Nasional (BAPPENAS), kehilangan nutfah ex situ [9]. KBB memiliki koleksi satwa
keanekaragaman hayati terutama disebabkan oleh: sebanyak 1040 ekor satwa dengan kakayaan
spesies sebanyak 141 spesies dan terdiri dari empat
1. Kerusakan habitat, baik karena bencana taksa [10].
alam, kebakaran hutan, pencemaran
lingkungan dan perubahan iklm yang Studi mengenai pendekatan habitat sebagai
berakibat pada rusaknya habitat kehati; konsep perancangan di Kebun Binatang Bandung
belum pernah dilakukan. Penelitian ini dilakukan
2. Hilangnya habitat karena penggunaan untuk menganalisa dan menentukan konsep
hutan/habitat kehati untuk lahan pertanian, rancangan dengan pendekatan habitat pada studi
pertambangan, industri maupun kasus kebun binatang Bandung dimana satwa dapat
permukiman. Peningkatan dari jumlah berperilaku bebas sesuai kebutuhannya dan
penduduk yang tidak diikuti dengan pengunjung akan mendapatkan edukasi yang
ketatnya pengawasan optimal mengenai konservasi satwa.

3. Pembunuhan flora/fauna karena nilai 2. Metode


manfaat yang terkandung di dalamnya yang Metode yang digunakan dalam penelitian ini
didorong oleh perdagangan yang tidak adalah kualitatif desktiptif dengan pendekatan
bertanggung jawab [1]. perencanaan dan perancangan arsitektur lanskap.
Untuk mencegah terjadinya kepunahan satwa 2.1. Metode Kualitatif Deskriptif
maka perlu dilakukan upaya konservasi. Upaya
konservasi satwa liar pada prinsipnya dapat Metode kualitatif deskriptif adalah metode
dilakukan baik dihabitat alaminya (in situ) maupun di dimana peneliti menjadi instrumen kunci ketika
luar habitat alaminya (ex situ) [2]. Lembaga- menganalisis, menggambarkan dan menjabarkan
lembaga yang termasuk kedalam konservasi ex situ berbagai data yang didapatkan. Penggunaan
adalah kebun binatang, taman safari dan taman metode ini terutama ditekankan pada analisis
satwa [3]. kondisi eksisting tapak yang dikaitkan dengan dan
Kebun binatang adalah tempat pemeliharaan habitat satwa dan five animal freedoms.
satwa sekurang-kurangnya 3 (tiga) kelas taksa pada
areal dengan luasan sekurang-kurangnya 15 (lima 2.2. Pendekatan Perencanaan dan Perancangan
belas) hektar dan pengunjung tidak menggunakan Arsitektur Lanskap
kendaraan bermotor [4]. Kebun binatang memiliki
fungsi utama sebagai lembaga konservasi yang juga Metode ini adalah tahapan yang dilakukan
dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, seorang arsitek lanskap dalam proses
penelitian, pengembangan ilmu dan teknologi serta merencanakan dan merancang mulai dari
sarana rekreasi [5,6]. Kebun binatang seharusnya inventarisasi tapak, analisis dan perumusan konsep
bisa menjadi tempat wisata yang menjadi miniatur perancangan. Tahapan metode dapat dilihat pada
habitat asli hewan tersebut agar unsur edukasi dan Gambar 1.
konservasi dapat tercapai dengan maksimal [7].
Melalui kebun binatang yang meniru habitat aslinya Studi Dokumentasi
diharapkan dapat memberikan edukasi dan Inventarisasi
menumbuhkan kepedulian untuk melindungi satwa Observasi
bagi pengunjung yang datang.
Akan tetapi, dapat kita lihat bahwa banyak
kebun binatang di Indonesia yang belum Analisis Habitat
menerapkan perannya sebagai miniatur habitat
sehingga satwa tidak dapat berperilaku bebas
sesuai kebutuhannya. Kebutuhan satwa yang Konsep
dimaksud berlandaskan pada five animal freedoms
(bebas dari rasa haus dan lapar, bebas dari
ketidaknyamanan fisik dan cuaca, bebas dari rasa Gambar 1. Tahapan desain

Halaman | 97
Rabita Akbari Sitompul Journal of Science, Technology, and Virtual Science vol. 1, no. 2 (2021)

Pada tahap inventarisasi dilakukan


pengumpulan data dengan yang berkaitan dengan
lokasi penelitian terutama kondisi eksisting
enclosure satwa. Selain itu pada tahap ini juga
dikumpulkan data mengenai kriteria habitat satwa.
Data-data yang telah dikumpulkan dengan cara
observasi dan studi dokumentasi dari berbagai
sumber akan diolah dan dianalisis. Aspek yang akan
dianalisis adalah kesesuaian enclosure satwa
dengan habitat aslinya. Setelah tahapan analisis
selesai maka dilakukan perumusan konsep yang
akan menjadi landasan dalam proses perancangan
ke depannya..
3. Hasil dan Pembahasan
Terdapat beberapa hasil yang didapat
berdasarkan metode penelitian yang disebutkan
diatas. Setiap tahapan akan dibahas sehingga
nantinya akan dirumuskan konsep perancangan.

3.1. Inventarisasi

Berdasarkan hasil inventarisasi didapatkan


kondisis informasi bahwa tapak penelitian berada di
lahan berkontur dan terdapat aliran sungai
Cikapayang dan danau didalam tapak. Kondisi air
sungai Cikapayang tidak terlalu lancar akibat
adanya sumbatan dari arah Sabuga ITB sehingga
belum dimanfaatkan sebagai sumber air bagi satwa.
Saat ini danau dimanfaatkan sebagai area rekreasi
bagi pengunjung dan bukan sebagai enclosure
satwa. Vegetasi yang ada didalam tapak terdiri dair
tegakan tinggi hingga semak-semak. Akan tetapi
vegetasi yang ada tidak dimanfaatkan untuk menjadi
pakan satwa, sebagai shelter ataupun sesuai
dengan kebutuhan perilaku spesies satwa. Karakter
vegetasi yang harus diterapkan pada suatu kebun
binatang adalah bersifat indah, aromatis, sumber
pakan fauna, rimbun, tidak beracun, sebagian
langka dan hampir punah [11].
Dari inventarisasi juga didapatkan denah
eksisting KBB seperti yang ditunjukkan pada
Gambar 2. Denah eksisting KBB
Gambar 2. Pada denah eksisting KBB terlihat ada
empat taksa satwa yaitu zona mamalia (warna Diketahui bahwa KBB masih menggunakan
jingga), zona aves (warna biru), zona reptil (warna sistem kandang yang lazim digunakan pada abad
hijau) dan zona pisces (warna ungu). Posisi ke-19 dengan luasan yang tidak sesuai standar. Hal
kandang berada dalam kondisi berpencar dan tidak ini tidak sesuai dengan kebun binatang abad ke -21
ada pengelompokan yang jelas baik dari aspek yang menggunakan enclosure. Sistem pemberian
taksonomi atau aspek habitat. Taksa satwa yang pakan satwa berupa keeper akan mengantar pakan
sama akan memiliki kemiripan habitat meskipun ke masing-masing kandang pada jam tertentu.
akan tetap ada perbedaan sesuai kebutuhan
masing-masing spesiesnya. 3.2. Analisis

Untuk mengetahui jenis vegetasi yang akan


ditanam pada tapak, fitur lanskap, elemen apa saja
yang perlu ada pada masing-masing enclosure, dan
untuk mengetahui sistem keamanan yang paling
tepat pada masing-masing satwa yang ada di KBB
maka perlu diketahui jenis pakan, habitat atau

Halaman | 98
Rabita Akbari Sitompul Journal of Science, Technology, and Virtual Science vol. 1, no. 2 (2021)

sarang dan bagaimana tingkah laku secara umum Taksa Reptil


dari satwa seperti yang ditunjukkan pada Tabel 1. 1 Buaya Ikan, Dominan di Di area
berbagai dalam air, perairan
Hal ini juga dilakukan untuk menentukan satwa apa jenis memerlukan seperti
saja yang memiliki kesamaan habitat sehingga reptil dan area berpasir sungai,
mamalia, untuk danau dan
kemudian dapat digabungkan dalam konsep mixed unggas berjemur dan rawa-rawa.
enclosure. bertelur
2 Kadal Serangg Menyukai Hutan
Tabel 1. Jenis Pakan,Tingkah Laku dan Habitat Satwa KBB a, cacing tempat tropis, area
Taksa Aves katak, bersemak dan basah
No Satwa Pakan Tingkah Laku Habitat reptil berumput, seperti
. yang tinggal di atas rawa dan
1 Burung Ikan, Berkelompok, Sungai, lebih pohon atau di tepi danau
Air katak, berenang di danau dan kecil dalam tanah
udang, dalam air rawa 3 Kura-kura Ikan Menghabiska Wilayah
kepiting, kecil, n waktunya perairan
2 Burung Daging Memangsa Sarang di serangga lebih banyak seperti
Pemangs dan ikan dengan puncak , cacing, di dalam air sungai,
a terbang pohon sayur danau dan
sangat tinggi. dan buah rawa
3 Burung Biji-bijian, Berkelompok, Sarang di 4 Ular Burung, Hidup diatas Hutan
terbang buah- berkicau, lebih ranting dan mamalia tanah dan di tropis, area
dan tidak buahan, akrab dengan lubang kecil ranting pohon basah
terbang serangga manusia pohon katak, seperti
, cacing reptil rawa dan
Taksa Mamalia kecil dan tepi danau
1 Primata Buah- Hewan sosial, Di hutan telur
buahan, berkelompok, dengan
tunas memanjat, kerapatan
muda, melompat dan pohon Dari analisis kondisi tapak maka diketahui
daun, bergelantunga tinggi
biji-bijian n
luas tapak saat ini tidak memenuhi luas minimal
2 Ungulata Tunas Berkelompok, Padang sebuah kebun binatang, maka perlu dilakukan
(Rusa, muda, mencari rumput, perluasan lahan. Kurangnya luas tapak juga
Kijang dll) daun, makan di area
rumput, padang antara
mempengaruhi satwa yang tidak dapat
buah, rumput padang mengekspresikan perilakunya sesuai
sayur (grazing) dan rumput kebutuhannya. Sungai Cikapayang akan dilakukan
dan akar. berkeliling di dengan
semak-semak hutan
pembersihan dan pemasangan sistem filtrasi
(browsing) sehingga dapat dimanfaatkan sebagai sumber air
3 Karnivora Daging Area Singa di alami bagi satwa. Vegetasi eksisting akan
jangkauan padang
luas, rumput
ditambahkan dengan vegetasi yang bermanfaat
menerkam berbatu. menjadi pakan satwa.
dan memanjat Harimau di
hutan. 3.3. Konsep
4 Hewan Ikan, Berang- Pepohona
Pengerat buah- berang n, di lahan Konsep utama dari penelitian ini adalah habitat
buahan, membuat basah
biji-bijian sarang di seperti tepi
satwa. Berdasarkan hasil analisis maka diketahui
lubang pada sungai ada beberapa jenis spesies yang dapat
tepi sungai digabungkan karena memiliki kesamaan habitat
5 Mamalia Buah- Aktif pada Tempat dengan tetap mempertimbangkan aspek
yang buahan, malam hari, yang
keselamatannya. Spesies yang dapat digabung
dapat madu, sarang berbau tertutup
terbang ikan khas kotoran dan gelap adalah satwa-satwa yang tidak menimbulkan
(kelelawar kecil, kelelawar seperti gua ancaman antara yang satu dengan yang lainnya.
) katak, Menggabungkan beberapa jenis spesies satwa
kadal
pada enclosure yang sama disebut mixed enclosure
kecil
6 Gajah Rumput, Berkelompok, Area [12]. Beberapa manfaat mixed enclosure adalah
dan daun, hewan sosial antara menciptakan ruang enclosure yang lebih efisien
herbivora tunas padang [13], memberikan satwa enclosure yang lebih besar
lainnya muda, rumput dengan kondisi lingkungan fisik, kondisi sosial dan
buah, dan hutan,
biji-bijan area rawa fasilitas aktivitas yang lebih kaya sehingga
meningkatkan kesejahteraan satwa [14].
Enclosure dibagi berdasarkan jenis habitat yang
sesuai dengan satwa di KBB sehingga didapatkan 3
zonasi yaitu: rainforest, savannah dan freshwater.

Halaman | 99
Rabita Akbari Sitompul Journal of Science, Technology, and Virtual Science vol. 1, no. 2 (2021)

Kriteria enclosure berdasarkan habitatnya dapat diketahui bahwa KBB sebagai salah satu lembaga
dilihat pada Tabel 2. konservasi belum menerapkan pedekatan habitat
pada enclosurenya. Dengan pendekatan habitat
Tabel 1. Jenis Pakan,Tingkah Laku dan Habitat Satwa KBB
Habitat Karakter Satwa Vegetasi
maka diperlukan adanya perubahan zonasi
III.1 N berdasarkan tipe habitat yaitu zona rainforest, zona
o savannah dan zona freshwater. Kemudian
. diterapkan mixed enclosure untuk spesies-spesies
Rainfore Kerapatan Aneka jenis Keragaman yang bisa digabungkan dan ditempatkan pada
st
III.2 dan
1 mamalia,ane vegetasi
keragaman ka jenis tinggi. habitat yang sesuai. Konsep perancangan kebun
vegetasi aves dan Pohon- binatang berdasarkan habitat di Bandung dapat
tinggi. Tajuk reptil. pohon menjadi pelopor dalam pengembangan kebun
rapat. besar dan binatang yang ada di Indonesia.
evergreen.
Savanna padang Satwa yang Keragaman
Daftar Pustaka
hIII.3 rumput
2 memiliki vegetasi
dengan perilaku rendah. [1] W. Darajati et al., Indonesia Biodiversity Startegy
sedikit grazing dan Rumput and Action Plan (IBSAP) 2012-2020. 2016.
pohon yang browsing yang
tersebar di seperti rusa, dominan : [2] A. Puspitasari, B. Masy, U. D. Dan, and T.
sepanjang zebra, kuda, Panicum, Sunarminto, “NILAI KONTRIBUSI KEBUN
area gajah, sapi Pennisetum
dan , BINATANG TERHADAP KONSERVASI SATWA ,
banteng. Andropogon SOSIAL EKONOMI DAN LINGKUNGAN FISIK :
Karnivor dan STUDI KASUS KEBUN BINATANG BANDUNG (
seperti Imperata.
singa. Jenis pohon Contribution Value of Zoo to The Wild Animal
yang Conservation , Socio-Economic and Physical
dominan: Environment : Case Study in Band,” Media
Acacia dan
Euphorbia.
Konserv., vol. 21, no. Kleiman 1992, pp. 1–9,
Freshwa Area air Berbagai Terdiri dari 2016.
ter
III.4 tawar
3 seperti jenis burung jenis
sungai, air, kura- tanaman; [3] E. A. Widjaja et al., Kekinian Keragaman Hayati
danau, kura, babi - Litoral Indonesia. 2014.
kolam dan rusa dan - Emergent
lahan basah burung - Riparian [4] Republik Indonesia, Permenhut No.31 Tahun
seperti pemangsa - Upland 2012. 2012.
wetland.
[5] Republik Indonesia, “Permenhut No.53 Tahun
Setelah didapatkan tiga zonasi di atas maka 2006,” 2006.
kemudian dilakukan perumusan konsep zonasi
[6] A. Kumar Santra, Handbook on Wild and Zoo
pada tapak seperti yang terlihat pada Gambar 3.
Zonasi ini dibuat dengan mempertimbangkan Animals. 2008.
kondisi tapak yang berkontur, jenis vegetasi [7] J. Z. Fahmi and A. Dinapradipta, “Redesain Kebun
eksisting dan kriteria habitat. Binatang Surabaya Dengan Pendekatan
Biophilic,” J. Sains dan Seni ITS, vol. 6, no. 2, pp.
216–219, 2017, doi:
10.12962/j23373520.v6i2.26564.

[8] [RI] Republik Indonesia, “Peraturan Pemerintah


Nomor 95 Tahun 2012 tentang Kesehatan
Masyarakat Veteriner dan Kesejahteraan Hewan,”
Biro Huk. Kementan RI, p. 77, 2012, [Online].
Available:
[Link]
adFile/2114.

[9] P. D. K. Bandung, Peraturan Daerah Kota


Gambar 3. Konsep zonasi Bandung Nomor: 10 Tahun 2015 Tentang
Rencana Detail Tata Ruang dan Zonasi Kota
4. Kesimpulan Bandung Tahun 2015 – 2035. Bandung, 2015.
Satwa sebagai bagian dari kenakeragaman
hayati harus dilindungi dari kepunahan. Oleh karena [10] G. Glenda, “Evaluasi Pengelolaan Kebun
itu penting untuk menyediakan wadah konservasi Binatang sebagai Lembaga Konservasi Ex-Situ
yang sesuai dengan habitat sehingga satwa dapat Biodiversitas Satwa Tropika Indonesia Studi
berperilaku sesuai kebutuhannya. Dari penelitian ini Kasus: 2 Kebun Binatang di Pulau Jawa,” Institut

Halaman | 100
Rabita Akbari Sitompul Journal of Science, Technology, and Virtual Science vol. 1, no. 2 (2021)

Teknologi Bandung, 2015.

[11] S. Mulyana, “Kajian Jenis Pohon Potensial Untuk


Hutan Kota Di Bandung, Jawa Barat,” J. Anal.
Kebijak. Kehutan., vol. 10, no. 1, pp. 58–71, 2013,
doi: 10.20886/jakk.2013.10.1.58-71.

[12] European Association of Zoos and Aquaria,


“EAZA Minimum Standards for the
Accommodation and Care of Animals in Zoos and
Aquaria,” no. September, pp. 1–21, 2014,
[Online].Available:[Link]
ploads/Standards-and-policies/Standards-for-the-
[Link].

[13] J. Rendle, S. J. Ward, and W. Mccormick,


“Behaviour and enclosure use of captive parma
wallabies ( Macropus parma ): an assessment of
compatibility within a mixed-species exhibit,” vol.
6, no. 2, pp. 63–68, 2018.

[14] S. Daoudi, G. Badihi, and H. M. Buchanan-smith,


“Is Mixed-Species Living Cognitively Enriching ?
Enclosure Use and Welfare in Two Captive
Groups of Tufted Capuchins ( Sapajus apella )
and Squirrel Monkeys ( Saimiri sciureus ),” vol. 4,
no. 1, pp. 51–69, 2017, doi:
10.12966/abc.05.02.2017.

Halaman | 101

Anda mungkin juga menyukai