LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA
DENGAN RESIKO BUNUH DIRI
Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa
Disusun oleh :
Kurnia Sariputri
NPM : 24149011312
Dosen Pembimbing :
Ns. Mareta Akhriansyah, [Link]., M. Kep
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA HUSADA PALEMBANG
TAHUN 2024/2025
LAPORAN PENDAHULUAN
RESIKO BUNUH DIRI
I. Masalah Keperawatan
Resiko Bunuh Diri
II. Proses terjadinya Masalah :
A. Pengertian
Bunuh diri merupakan tindakan yang secara sadar dilakukan oleh
pasien untuk mengakhiri kehidupannya. Menurut Maris, Berman, Silverman,
dan Bongar (2000), bunuh diri memiliki 4 pengertian, antara lain:
1. Bunuh diri adalah membunuh diri sendiri secara intensional
2. Bunuh diri dilakukan dengan intensi
3. Bunuh diri dilakukan oleh diri sendiri kepada diri sendiri
4. Bunuh diri bisa terjadi secara tidak langsung (aktif) atau tidak langsung
(pasif), misalnya dengan tidak meminum obat yang menentukan
kelangsungan hidup atau secara sengaja berada di rel kereta api.
Menurut Maramis (2004), bunuh diri (suicide) adalah segala perbuatan
dengan tujuan untuk membinasakan dirinya sendiri dan yang dengan sengaja
dilakukan oleh seseorang yang tahu akan akibatnya yang mungkin pada waktu
yang singkat.
Bunuh diri adalah suatu keadaan di mana individu mengalami risiko
untuk menyakiti diri sendiri atatu melakukan tindakan yang dapat mengancam
nyawa. Dalam sumber lain dikatakan bahwa bunuh diri sebagai tindakan
destruktif terhadap diri sendiri yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada
kematian. Perilaku destruktif diri yang mencakup setiap benSP aktivitas bunuh
diri, niatnya adalah kematian dan individu menyadari hal ini sebagai sesuatu
yang diinginkan (Stuart dan sundeen, 2007)
B. Faktor Pencetus
1. Faktor Predisposisi
a. Diagnosis Psikiatrik
b. Tiga kepribadian yang erat hubungannya dengan besarnya resiko bunuh
diri adalah antipati, impulsif, dan depresi.
c. Lingkungan Psikososial
d. Riwayat keluarga
e. Faktor biokimia
2. Faktor Presipitasi
Perilaku destruktif diri dapat ditimbulkan oleh stres berlebihan yang
dialami individu. Pencetusnya sering kali berupa kejadian hidup yang
memalukan. Faktor lain yang dapat menjadi pencetus adalah melihat atau
membaca melalui media mengenai orang yang melakukan bunuh diri
ataupun percobaan bunuh diri. Bagi individu yang emosinya labil, hal
tersebut menjadi sangat rentan
C. Tanda & gejala
Tanda dan gejala menurut Fitria, Nita (2009):
a. Mempunyai ide untuk bunuh diri.
b. Mengungkapkan keinginan untuk mati.
c. Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusan.
d. Impulsif.
e. Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi sangat patuh).
f. Memiliki riwayat percobaan bunuh diri.
g. Verbal terselubung(berbicara tentang kematian, menanyakan tentang obat
dosis mematikan).
h. Status emosional(harapan, penolakan, cemas meningkat, panik, marah dan
mengasingkan diri).
i. Kesehatan mental(secara klinis, klien terlihat sebagai orang yang depresi,
psikosis dan menyalahgunakan alkohol).
j. Kesehatan fisik(biasanya pada klien dengan penyakit kronis atau terminal0.
k. Pengangguran(tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau mengalami
kegagalan dalam karier).
l. Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun.
m. Status perkawinan(mengalami kegagalan dalam perkawinan).
n. Pekerjaan.
o. Konflik interpersonal.
p. Latar belakang keluarga.
q. Orientasi seksual.
r. Sumber-sumber personal.
s. Sumber-sumber sosial.
t. Menjadikan korban perilaku kekerasan saat kecil.
D. Akibat
Resiko bunuh diri dapat megakibatkan sebagai berikut :
1. Keputusasaan
2. Menyalahkan diri sendiri
3. Perasaan gagal dan tidak berharga
4. Perasaan tertekan
5. Insomnia yang menetap
6. Penurunan berat badan
7. Berbicara lamban, keletihan
8. Menarik diri dari lingkungan socialPikiran dan rencana bunuh diri
9. Percobaan atau ancaman verbal
E. Rentang respon
Rentang respons, Yosep, Iyus (2009)
1. Peningkatan diri. Seseorang dapat meningkatkan proteksi atau pertahanan
diri secara wajar terhadap situasional yang membutuhkan pertahanan diri.
Sebagai contoh seseorang mempertahankan diri dari pendapatnya yang
berbeda mengenai loyalitas terhadap pimpinan ditempat kerjanya.
2. Beresiko destruktif. Seseorang memiliki kecenderungan atau beresiko
mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri terhadap situasi
yang seharusnya dapat mempertahankan diri, seperti seseorang merasa patah
semangat bekerja ketika dirinya dianggap tidak loyal terhadap pimpinan
padahal sudah melakukan pekerjaan secara optimal.
3. Destruktif diri tidak langsung. Seseorang telah mengambil sikap yang
kurang tepat(maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan dirinya untuk
mempertahankan diri. Misalnya, karena pandangan pimpinan terhadap
kerjanya tidak loyal, maka seorang karyawan menjadi tidak masuk kantor
atau bekerja seenaknya dan tidak optimal.
4. Pencederaan diri. Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau
pencederaan diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang ada.
5. Bunuh diri. Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai dengan
nyawanya hilang
III. Pohon Masalah
Resiko Perilaku Akibat
Kekerasan
Resiko Bunuh Diri Care-Problem
Isolasi Sosial Penyebab
Harga Diri rendah Penyebab
IV. Masalah dan data yang perlu dikaji
Data yang perlu dikumpulkan saat pengkajian :
1. Riwayat masa lalu :
a. Riwayat percobaan bunuh diri dan mutilasi diri
b. Riwayat keluarga terhadap bunuh diri
c. Riwayat gangguan mood, penyalahgunaan NAPZA dan
skizofrenia
d. Riwayat penyakit fisik yang kronik, nyeri kronik.
e. Klien yang memiliki riwayat gangguan kepribadian boderline,
paranoid, antisosial, gangguan persepsi sensori, gangguan proses
pikir, dlsb
f. Klien yang sedang mengalami kehilangan dan proses berduka
2. Symptom yang menyertainya
a. Apakah klien mengalami :
a) Ide bunuh diri
b) Ancaman bunuh diri
c) Percobaan bunuh diri
d) Sindrom mencederai diri sendiri yang disengaja
b. Derajat yang tinggi terhadap keputusasaan, ketidakberdayaan dan
anhedonia dimana hal ini merupakan faktor krusial terkait dengan
resiko bunuh diri.
3. Bila individu menyatakan memiliki rencana bagaimana untuk
membunuh diri mereka sendiri. Perlu dilakukan penkajian lebih
mendalam lagi diantaranya :
a. Cari tahu rencana apa yang sudah di rencanakan
b. Menentukan seberapa jauh klien sudah melakukan aksinya atau
perencanaan untuk melakukan aksinya yang sesuai dengan
rencananya.
c. Menentukan seberapa banyak waktu yang di pakai pasien untuk
merencanakan dan mengagas akan bunuh diri
d. Menentukan bagaiamana metoda yang mematikan itu mampu
diakses oleh klien.
e. Hal – hal yang perlu diperhatikan didalam melakukan pengkajian
tentang riwayat kesehatan mental klien yang mengalami resiko
bunuh diri :
f. Menciptakan hubungan saling percaya yang terapeutik
g. Memilih tempat yang tenang dan menjaga privasi klien
h. Mempertahankan ketenangan, suara yang tidak mengancam dan
mendorong komunikasi terbuka.
i. Menentukan keluhan utama klien dengan menggunakan kata –
kata yang dimengerti klien
j. Mendiskuiskan gangguan jiwa sebelumnya dan riwayat
pengobatannya
k. Mendaptakan data tentang demografi dan social ekonomi
l. Mendiskusikan keyakinan budaya dan keagamaan
m. Peroleh riwayat penyakit fisik klien
Salah satu Instrumen yang dapat dipekai untuk mengukur bunuh diri :
SAD PERSONS
NO SAD PERSONS Keterangan
1 Sex (jenis kelamin) Laki laki lebih komit melakukan suicide 3 kali
lebih tinggi dibanding wanita, meskipun wanita
lebih sering 3 kali dibanding laki laki melakukan
percobaan bunuh diri
2 Age ( umur) Kelompok resiko tinggi : umur 19 tahun atau
lebih muda, 45 tahun atau lebih tua dan
khususnya umur 65 tahun lebih.
3 Depression 35 – 79% oran yang melakukan bunuh diri
mengalami sindrome depresi.
4 Previous attempts 65- 70% orang yang melakukan bunuh diri sudah
(Percobaan pernah melakukan percobaan sebelumnya
sebelumnya)
5 ETOH ( alkohol) 65 % orang yang suicide adalah orang
menyalahnugunakan alkohol
6 Rational thinking Orang skizofrenia dan dementia lebih sering
Loss ( Kehilangan melakukan bunuh diri disbanding general
berpikir rasional) populasi
7 Sosial support lacking Orang yang melakukan bunuh diri biasanya
( Kurang dukungan kurannya dukungan dari teman dan saudara,
social) pekerjaan yang bermakna serta dukungan
spiritual keagaamaan
8 Organized plan Adanya perencanaan yang spesifik terhadap
( perencanaan yang bunuh diri merupakan resiko tinggi
teroranisasi)
9 No spouse ( Tidak Orang duda, janda, single adalah lebih rentang
memiliki pasangan) dibanding menikah
10 Sickness Orang berpenyakit kronik dan terminal beresiko
tinggi melakukan bunuh diri.
I. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA FOKUS PENGKAJIAN
A. Risiko bunuh diri
Data Mayor :
DS : Mengatakan hidupnya tak berguna lagi, ingin mati, mengatakan
pernah mencoba ingin bunuh diri, mengancam bunuh diri
DO :Ekspresi murung, tak bergairah, ada bekas percobaan bunuh diri
Data Minor :
DS :Mengatakan ada yang menyuruh bunuh diri, mengatakan lebih
baik mati saja, mengatakan sudah bosan hidup
DO :Perubahan kebiasaan hidup, perubahan perangai
V. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan pada Pasien dengan Risiko
Bunuh Diri
SP 1 Pasien : Klien tidak dapat melakukan percobaan bunuh diri
Fase Orientasi
“Assalamu’alaikum, perkenalkan nama saya perawat Kurnia Sariputri, saya
senang dipanggil Kurnia. Saya mahasiswa dari STIK Bina Husada
Palembang”
“Nama Bapak siapa? Senang dipanggil apa Pak?”
“Bagaimana perasaan dan kabar Bapak hari ini? Bagaimana tidur Bapak
semalam?”
“Pak, bagaimana kalau hari ini kita berbincang-bincang tentang benda-benda
apa saja yang dapat membahayakan diri Bapak, serta bagaimana cara
mengendalikan dorongan bunuh diri ?”
“Tujuannya agar bapak tahu benda-benda apa saja yang dapat membahayakan
diri bapak, serta bapak dapat mengetahui cara mengendalikan dorongan bunuh
diri”
“Dimana kita akan bicara ? Bagaimana kalau di taman Pak?”
“Berapa lama kita akan berbincang-bincang? Bagaimana kalau waktu
berbincang-bincang kita selama 15 menit? Apakah Bapak setuju?”
Fase Kerja
“Bapak, apakah Bapak tahu benda-benda yang dapat membahayakan diri
bapak?”
“coba sebutkan apa saja benda-benda tersebut”
“Bagus sekali Bapak, Bapak tahu benda-benda yang dapat membahayakan diri
Bapak. Apakah salah satu benda tersebut ada dikamar Bapak? Kalau ada
benda tersebut jangan Bapak dekati atau pegang ya Pak”
“Apa bapak sering mendengar bisikan yang mendorong Bapak untuk
melakukan bunuh diri ?”
“Apa yang Bapak lakukan ketika suara-suara itu datang ?”
“Bapak, bagaimana kalau saya ajarkan cara-cara lain untuk mengusir suara-
suara itu, apakah Bapak mau?”
“Pak, kalau suara-suara itu ada, bapak tutup kedua telinga rapat-rapat seperti
ini Pak, dan katakan dengan keras JAUHI SAYA, PERGI KAMU !!! KAMU
PALSU”
“Coba Bapak lakukan seperti yang saya ajarkan tadi”
“Iya Pak seperti itu, bagus sekali”
Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan Bapak setelah Bapak mengetahui benda-benda yang
dapat membahayakan diri Bapak, dan mengetahui cara mengusir suara-suara
yang menyuruh Bapak melakukan bunuh diri ?”
“Coba Bapak ulangi lagi apa yang saya ajarkan tadi”
“Iya begitu pak, bagus”
“Bapak, selama kita tidak bertemu, bila Bapak melihat benda-benda yang
dapat membahayakan Bapak, segera jauhi, dan jika Bapak mendengar suara-
suara itu kembali, segera Bapak usir dengan cara yang sudah kita pelajari tadi
ya Pak”
“Baiklah sekarang Bapak saya tinggal dulu, kapan kita bisa bertemu lagi
Pak?”
“Bagaimana kalau besok ?”
“Baiklah besok kita akan membahas tentang cara berfikir positif tentang diri
sendiri dan menghargai diri sebagai individu yang berharga”
“Tempatnya mau dimana Pak? Bagaimana kalau di taman Pak?
“Jam berapa Pak ? Bagaimana kalau jam 09.00 ? Apakah Bapak setuju ?”
“Baiklah Pak selamat beristirahat”
SP 2 Pasien : klien dapat berfikir positif terhadap diri nya sendiri
Fase Orientasi
“Assalamualaikum, selamat pagi Bapak, Masih ingat dengan saya ?”
“Benar, saya perawat Kurnia”
“Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana dengan tidur Bapak
semalam?”
“Bapak masih ingat dengan kontrak kita kemarin?”
“Iya, kita akan berbincang-bincang tentang cara berfikir positif tentang diri
sendiri dan mengahargai diri sebagai individu yang berharga”
“Tujuannya agar Bapak lebih berfikir positif terhadap diri Bapak sendiri, dan
Bapak
lebih menghargai diri sendiri”
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang ditaman sesuai dengan kontrak
kita kemarin? Apa bapak mau?”
“Berapa lama kita akan berbicara? Bagaimana kalau 15 menit sesuai kontrak
kita kemarin juga yang telah di tentukan? Apakah Bapak setuju?”
Fase Kerja
“Apa yang Bapak tidak sukai dari anggota tubuh Bapak?”
“Bisa Bapak jelaskan alasan Bapak tidak suka dengan bagian anggota tubuh
tersebut?”
“Jadi kalau Bapak merasa anggota tubuh tersebut tidak Bapak sukai, cobalah
dari sekarang Bapak mulai mencoba menyukainya, contoh : Bapak bisa
menulis dengan teknik yang berbeda, lihat Pak seperti saya. Coba Bapak
lakukan seperti saya tadi”
“ya begitu Pak….bagus…”
Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan Bapak setelah apa yang kita bicarakan tadi ?”
“Saya senang jika Bapak mulai sekarang mencoba menyukai anggota tubuh
Bapak yang Bapak anggap tidak suka”
“Nah sekarang coba bapak lakukan kembali apa yang sudah kita bicarakan
tadi, dan tehnik cara menulis”
“Iya bagus Pak, Bapak luar biasa”
“Bapak, selama kita tidak bertemu, Bapak bisa melakukan teknik menulis
yang seperti saya ajarkan tadi”
“Baiklah sekarang bapak saya tinggal dulu, kapan kita bisa bertemu lagi
Pak ?”
“Bagaimana kalau besok ?”
“Baiklah besok kita akan membahas tentang cara melakukan hal yang baik
ketika sedang mengalami masalah”
“mau dimana kita berbicara Pak ? Bagaimana kalau di taman lagi Pak ?”
“Mau jam berapa Pak ? Bagaimana kalau jam 10.00 ?”
“Baik besok kita bertemu lagi di taman jam 10.00 ya Pak? Apakah Bapak
setuju?”
“Baiklah Pak selamat beristirahat. Wassalamualaikum”
SP 3 Pasien : Mengidentifikasi pola koping pasien
Fase Orientasi
“Assalamualaikum, selamat pagi Bapak, Masih ingat dengan saya?”
“Benar, saya perawat Kurnia”
“Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana dengan tidur Bapak
semalam?”
“Bapak masih ingat dengan kontrak kita kemarin? kita akan berbincang-
bincang tentang bagaimana cara Bapak melakukan hal yang baik ketika
sedang mengalami masalah”
“Tujannya supaya Bapak dapat melakukan hal yang positif ketika Bapak
sedang mengalami masalah”
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang ditaman sesuai dengan kontrak
kita kemarin? Apa Bapak mau?”
“Berapa lama kita akan berbicara? Bagaimana kalau 15 menit sesuai kontrak
kita kemarin? Apakah Bapak setuju?”
Fase Kerja
“Bapak, ketika Bapak sedang mangalami masalah, apa yang Bapak lakukan?”
“Apalagi pak ? Bagus sekali Bapak”
“Jadi kalau Bapak sedang mengalami masalah seperti itu, Bapak bisa
melakukan hal-hal yang membuat Bapak sibuk, tapi sibuk dengan hal-hal
yang positif, seperti apa yang bapak katakan tadi, misalnya : main bola,
menyapu halaman dan shalat”
“Sekarang coba Bapak sebutkan lagi kegiatan-kegiatannya!”
“Iya bagus Pak”
Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan Bapak setelah apa yang kita bicarakan tadi ?”
“Saya senang jika Bapak melakukan kegiatan-kegiatan yang tadi kita
bicarakan”
“Sekarang, coba Bapak sebutkan kembali apa yang sudah kita bicarakan
tadi !”
“Pintar sekali bapak ini….”
“Bapak, selama kita tidak bertemu, Bapak bisa melakukan kegiatan-kegiatan
tadi, seperti main bola, menyapu, dan shalat. Kemudian Bapak masukan
kedalam jadwal kegiatan harian Bapak ya”
“Baiklah, sekarang Bapak saya tinggal dulu”
“kapan kita bisa bertemu lagi Pak? Bagaimana kalau besok?”
“Baiklah besok kita akan membahas tentang membuat rencana untuk masa
depan”
“Dimana kita akan berbicara Pak? Bagaimana kalau di taman lagi Pak?”
“Mau jam berapa Pak? Bagaimana kalau jam 10 lagi?”
“Baik besok kita bertemu lagi jam 10 di taman ya Pak. Apakah bapak
setuju?”
“Baiklah pak selamat beristirahat. Wassalamualaikum”
SP 4 Pasien : Klien tidak dapat mencapai masa depan yang realistis
Fase Orientasi
“Assalamualaikum, selamat pagi Bapak, Masih ingat dengan saya?”
“Benar, saya perawat Kurnia”
“Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana dengan tidur Bapak
semalam?”
“Bapak masih ingat dengan kontrak kita kemarin? Kita akan berbincang-
bincang tentang bagaimana cara Bapak melakukan hal yang baik ketika
sedang mengalami masalah”
Tujuannya supaya Bapak dapat merencanakan masa depan yang jauh lebih
baik dari sebelumnya dan Bapak dapat mencapai masa depan yang nyata”
“Bagaimana kalau kita berbincang-bincang ditaman sesuai dengan kontrak
kita kemarin? Apa Bapak mau?”
“Berapa lama kita akan berbicara? Bagaimana kalau 15 menit sesuai kontrak
kita kemarin juga yang telah di tentukan? Apakah bapak setuju?”
Fase Kerja
“Bapak, apa keinginan Bapak dari dulu sampai sekarang?”
“Apalagi Pak? Apakah masih ada?”
“Sampai saat ini sudah ada keinginan Bapak yang sudah tercapai?”
“Wah hebat….. yang belum tercapai apa Pak?”
“Harapan Bapak sangat bagus sekali, Bapak bisa berusaha semampu Bapak
dengan cara yang sabar, lebih giat, ikhtiar dan berdoa. Kegagalan bukan akhir
dari sebuah harapan Pak, namun cobaan yang nantinya akan membawa Bapak
ke arah yang bapak harapkan selama ini. Jadi, selalu berusaha menjadi yang
terbaik ya Pak, kejar cita-cita Bapak sampai dapat dan ingat, kejar harapan itu
sesuai kemampuan Bapak”.
Fase terminasi
“Bagaimana perasaan Bapak setelah apa yang kita bicarakan tadi?”
“Saya senang jika Bapak melakukan apa yang sudah tadi kita bicarakan. Coba
Bapak sebutkan kembali apa yang seharusnya kita lakukan ketika kita
menginginkan sesuatu!”
“Pintar sekali Bapak ini”
“Bapak, selama kita tidak bertemu, Bapak bisa melakukan hal seperti tadi
untuk mencapai keinginan Bapak yang nyata, Bapak mesti lebih sabar, lebih
giat, ikhtiar dan berdoa. Jangan sampai menyerah ya Pak. Sukses untuk
Bapak”