0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan33 halaman

Asuhan Kebidanan Balita Diare 22 Bulan

Diunggah oleh

usnal.4ini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan33 halaman

Asuhan Kebidanan Balita Diare 22 Bulan

Diunggah oleh

usnal.4ini
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS KELOLAAN

ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA DENGAN


DIARE PADA AN. Z UMUR 22 BULAN
DI PUSKESMAS PEMATANG KANDIS

Laporan Kelompok Praktik Klinik Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita dan anak

Prasekolah

Disusun oleh:

Anik Wahyuni 2215901107


Maria Andriana 2215901105
Nadia Amelia Fitri 2215901130
Nurhidayah 2215901134
Rina Setia Agustin 2215901138
Sandi Maryanti 2215901139

PRODI KEBIDANAN PROGRAM PENDIDIKAN


PROFESI BIDAN FAKULTAS KESEHATAN
UNIVERSITAS FORT DE KOCK BUKITTINGGI
2022 – 2023
ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA DENGAN DIARE PADA AN. Z
UMUR 22 BULAN DI PUSKESMAS PEMATANG KANDIS

Laporan Kelompok Praktik Klinik Kebidanan Pada Neonatus,

Bayi, Balita Dan Anak Prasekolah

Telah Memenuhi Persyaratan dan Disetujui

Tanggal April 2023

Disusun oleh:

Anik Wahyuni 2215901107


Maria Andriana 2215901105
Nadia Amelia Fitri 2215901130
Nurhidayah 2215901134
Rina Setia Agustin 2215901138
Sandi Maryanti 2215901139

Menyetujui,

Pembimbing Lahan Pembimbing Akademik

(Bd. Marta Ulina. [Link], [Link]. Keb) (Vitria Komalasari, S. ST., [Link])

ii
LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA DENGAN DIARE PADA AN. Z
UMUR 22 BULAN DI PUSKESMAS PEMATANG KANDIS

Disusun oleh :

Anik Wahyuni 2215901107


Maria Andriana 2215901105
Nadia Amelia Fitri 2215901130
Nurhidayah 2215901134
Rina Setia Agustin 2215901138
Sandi Maryanti 2215901139

Telah diseminarkan di depan penguji

Pada tanggal April 2023

Mengetahui,

Pembimbing Lahan Pembimbing Akademik

(Bd. Marta Ulina. [Link], [Link]. Keb) (Vitria Komalasari, S. ST., [Link])

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat

rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Komprehensif yang

berjudul “Asuhan Kebidanan Pada Balita Dengan Diare Pada An. Z Umur 22 Bulan Di

Puskesmas Pematang kandis”, dalam kesempatan ini penulis menghanturkan rasa

hormat dan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada dosen pembimbing ibu Vitria

Komalasari, [Link], [Link], dan lapangan pembimbing lapangan ibu Bd. Marta Ulina,

[Link], [Link]. Keb yang telah membimbing selama ini.

Penulis juga mengakui bahwa dalam proses penulisan laporan ini, masih jauh

dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian penulis

telah berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki.

Penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan kritik

dan saran yang membangun guna perbaikan dan penyempurnaan laporan ini dikemudian

hari.

Akhirnya penulis berharap, laporan ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Dan dapat memberikan kontribusi yang positif serta bermakna dalam proses perkuliahan

Praktik Klinik Kebidanan.

Penulis

iv
DAFTAR ISI

Halaman Judul....................................................................................................................i
Halaman Persetujuan........................................................................................................ii
Halaman Pengesahan.......................................................................................................iii
Kata Pengantar .................................................................................................................iv
Daftar Isi.............................................................................................................................v

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang.............................................................................................................1
Rumusan Masalah........................................................................................................4
Tujuan...........................................................................................................................4
Manfaat ........................................................................................................................4
BAB II TINJAUAN TEORI
[Link] Diare ......................................................................................................6
B. Penyebab Diare .......................................................................................................6
C. Jenis Diare....................................................................................................7
D. Gejala atau Gambaran Klinis.......................................................................8
E. Penatalaksanaan Diare dengan pendekatan MTBS......................................9
F. Keterkaitan klasifikasi MTBS dengan diagnosa ICD 10…………………..12

BAB III TINJAUAN KASUS……………………………………………………………14


BAB IV ANALISIS KASUS …………………………………………………………23
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................................27
B. Saran...........................................................................................................................27
DAFTAR PUSTAKA
DOKUMENTASI
LAMPIRAN

v
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit diare adalah penyakit yang sangat berbahaya dan terjadi hampir di

dunia dan bisa menyerang seluruh kelompok usia baik laki – laki maupun

perempuan. Di negara berkembang termasuk Indonesia, diare menyumbang 15-

34% angka kematian pada anak (Depkes, 2010). Ramadhani (2013) menyebutkan

anak yang berusia 0-3 tahun rata-rata mengalami tiga kali diare pertahun.

Balita merupakan kelompok umur yang sering mengalami diare. Sudaryat

(2010) mengatakan 70-80% balita mengalami diare setiap tahunnya dan 1-2-%

balita mengalami dehidrasi. Dehidrasi terjadi karena usus bekerja tidak sempurna

sehingga sebagian air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya dibuang bersama tinja

sampai akhirnya tubuh kekurangan cairan. Dehidrasi yang tidak diimbangi dengan

rehidrasi yang adekuat 50-60% nya akan mengakibatkan kematian (Harianto,

2004).

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melalui Direktorat Jendral

Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP2PL) tahun 2011 telah menetapkan

bahwa stategi dalam pengendalian penyakit diare pada anak balita dengan lintas

diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare) antara lain : Rehidrasi menggunakan oralit

osmolalitas rendah, pemberian tablet zinc sampai 10 hari, tetap berikan

ASI/Makanan, Pemberian antibiotik hanya atas indikasi, pemberian nasehat kepada

pengasuh/ibu. Studi WHO selama lebih dari 18 tahun membuktikan bahwa

1
2

pemberian zinc kepada penderita diare dapat mengurangi prevalensi diare sebesar

34% (Kemenkes RI, 2011). Strategi lainnya yang juga digunakan untuk

pengendalian diare dengan menggunakan pendekatan Manajemen Terpadu Balita

Sakit (MTBS). Selain itu MTBS juga merupakan program pemberantasan penyakit

diare pada balita. MTBS merupakan suatu program pemerintah untuk menurunkan

angka kematian balita dan menurunkan angka kesakitan. Suatu manajemen untuk

balita yang datang di pelayanan kesehatan, dilaksankan secara terpadu mengenai

kalsifikasi, status gizi, status imun maupun penanganan dan konseling yang

diberikan (Kementrian Kesehatan RI, 2010).

Di masyarakat, penyakit diare bukan hal yang asing lagi. Tetapi banyak ibu

yang menganggap anak yang terkena diare sebagai tanda bahwa anaknya akan

tumbuh besar dan pintar. Diare menyebabkan kehilangan garam (natrium) dan air

secara cepat. Jika air dan garam tidak digantikan dengan cepat, tubuh akan

mengalami dehidrasi. Diare berat dapat menyebabkan kematian jika kehilangan

sampai 10% cairan tubuh (Arifianti, 2008).

Pada umumnya cara masyarakat mengatasi diare dengan memberi oralit,

penggunaan oralit dimaksudkan untuk memasok cairan tubuh yang hilang akibat

dehidrasi karena banyaknya cairan yang keluar. Dengan cara mencampurkan garam

dan gula ke dalam 1 gelas air putih lalu diminumkan sedikit demi sedikit untuk

mengindari muntah dan buang air. Yang kedua dengan cara memberi bubur

(makanan mudah dicerna) atau makanan yang terbuat dari tepung beras atau pisang

agar mudah dicerna. Yang ketiga dengan cara memberi air putih dan ASI.

Memberikan cairan yang cukup untuk menggantikan cairan tubuh yang banyak
3

keluar, selain itu juga bisa menghilangkan rasa sakit pada perut dan mengeluarkan

gas yang terdapat dalam perut (Tuliat Media, 2015).

Bidan dalam memberikan asuhan kebidanan menggunakan metode atau

pendekatan pemecahan masalah yaitu cara kerja sistematis dan analtik yang

memudahkan dan mengarahkan kegiatan-kegiatan bidan dalam memecahkan

masalah kesehatan ibu dan anak yang dihadapi dalam lingkup tanggung jawabnya

secara tepat guna dan berhasil guna. Penatalaksanaan kasus bisa dilakukan dengan

menggunakan panduan bagan MTBS (Kemenkes RI, 2010).

Bidan memiliki kemandirian untuk melakukan asuhan dalam Permenkes

Nomor 1464/Menkes/Per/X/2010 tentang izin dan menyelanggarakan praktik bidan

hal ini sudah tercantum dalam pasal 11 yang berbunyi penanganan bayi dan anak

balita sakit sesuai pedoman yang ditetapkan (Kemenkes RI, 2010).

Penatalaksanaan terhadap diare harus dilakukan sebaik-baiknya, serta kerja

sama dengan pihak keluarga sangat diperlukan untuk dapat mencegah terjadinya

diare yang berat yang bersifat patologis yang dapat meningkatkan akibat buruk,

terlebih dahulu dapat dihindari dengan dilakukannya Asuhan Kebidanan dengan

diare yang merupakan peran Bidan (Arifianti, 2008).

Berdasarkan data yang didapatkan diPuskesmas Pematang kandis jumlah

pasien di Poli MTBS Puskesmas Pematang kandis pada bulan Maret 2022 adalah

45 anak, dan 6 diantaranya dengan klasifikasi diare tanpa dehidrasi.


4

B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah yang diambil adalah

“Bagaimana Asuhan Kebidanan Pada Balita Dengan diare di Puskesmas Pematang

kandis Kecamatan Bangko Kabupaten Merangin Jambi?”

C. Tujuan
1. Tujuan Umum Melakukan asuhan kebidanan Pada Balita Dengan diare Pada An.

Z Umur 22 Bulan diPuskesmas Pematang kandis Kecamatan Bangko Kabupaten

Merangin Jambi

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi karakteristik balita dengan diare

b. Mampu merencanakan asuhan kebidanan Pada Balita Dengan diare Pada

An. Z Umur 22 Bulan diPuskesmas Pematang kandis.

c. Mampu melakukan evaluasi pada pelaksanaan asuhan kebidanan Pada

Balita Dengan diare Pada An. Z Umur 22 Bulan diPuskesmas Pematang

kandis.

D. Manfaat
1. Bagi Masyarakat

Diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan kepada masyarakat

dalam rangka penatalaksanaan diare Pada balita.

2. Bagi Puskesmas Pematang kandis

Dapat digunakan untuk referensi dalam meningkatkan program pelayanan dalam

menangani diare.
5

3. Bagi institusi

Menjadi bahan tambahan untuk pengetahuan dan informasi pada kasus diare dan

penanganannya
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Diare

Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan

lebih dari 3 kali pada anak. Diare terjadi apabila tinja mengandung air yang lebih

banyak dari normal, diare juga disebut berak encer atau cair ( MTBS, 2019). Pada

bayi umur kurang dari 6 bulan diare biasanya terjadi karena minum susu sapi atau

susu formula. Sering berak tapi tinjanya normal bukanlah diare. Frekuensi berak

yang normal dalam satu hari beragam tergantung pada diet dan umur anak.

Bayi yang mendapat ASI eksklusif seringkali beraknya lembek; ini bukan

diare. Ibu yang menyusui bayinya dapat mengenal diare karena konsistensi dan

frekuensi berak anaknya tidak normal.

B. Penyebab Diare

Etiologi diare dapat dibagi menjadi 4 faktor, yaitu :

1. Faktor Infeksi

a. Infeksi Enternal: Infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab

utama diare pada anak. Infeksi Enternal ini meliputi :

1) Infeksi Bakteri: [Link], salmonella, shigella, vibria cholerae, aeromonas,

dll.

2) Infeksi Virus: Enterovirus, adenovirus, rotavirus, astrovirus, dll.

3) Infeksi Parasit: Cacing (ascaris), Protozoa (trichomonas haminis),

Jamur (candida algicans).

6
7

b. Infeksi Parenteral: Infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti

1) Tonsilofaringitis (Radang Tonsil)

2) Radang Tenggorokan Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak

berumur dibawah 2 tahun, (Sudarti, 2010).

2. Faktor Malarbsorbsi

a. Malarbsorbsi Karbohidrat (Disakarida, Monosakarida) Pada bayi kepekaan

terhadap lactoglobulis dalam susu formula menyebabkan diare. Gejalanya

berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, sakit di daerah perut.

b. Malarbsorbsi Lemak Dalam makanan terdapat lemak yang disebut

trglyserida. Dengan bantuan kelenjar lipase mengubah lemak menjadi

micelles yang siap di arbsorbsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi

kerusakan mukosa usus, diare dapat terjadi. Gejalanya adalah tinja

mengandung lemak.

c. Malarbsorbsi Protein Asam amino, Blactoglobulin

3. Faktor Makanan Makanan yang mengakibatkan diare adalah makanan yang

tercemar, basi, beracun, mentah (sayuran) dan kurang matang (makanan yang

kecampuran racun clostridium botolinum, stafilokokus(bahan kimia)

4. Faktor Psikologis Rasa takut, cemas dan tegang, walaupun jarang jika terjadi

pada anak dapat menyebabkan diare kronis, (Sudarti, 2010).

C. Jenis Diare

1. Diare Akut Diare akut adalah diare yang terjadi sewaktu-waktu, tetapi gejalanya

dapat menjadi berat. Penyebabnya sebagai berikut :


8

a. Gangguan jasad renik / bakteri yang masuk kedalam usus halus setelah

melewati berbagai rintangan asam lambung

b. Jasad renik yang berkembang pesat didalam usus halus

c. Racun yang dikeluarkan oleh bakteri

d. Kelebihan cairan usus akibat racun

2. Diare Kronis / Menahun / Persisten Pada diare kronis terjadinya lebih kompleks,

berupa faktor yang menimbulkannya terutama jika sering berulang pada anak.

Diare kronis / diare yang menetap akan berakhir 14 hari atau lebih lama, karena :

a. Gangguan bakteri jamur dan parasit

b. Malarbsorbsi kalori dan lemak

c. Gejala-gejala sisa karena cidera usus oleh setiap enteropatogen pasca infeksi

akut.

D. Gejala / Gambaran Klinis

1. Cengeng

2. Gelisah

3. Suhu meningkat

4. Nafsu makan menurun

5. Tinja cair, lendir kadang-kadang ada darahnya. Lama-lama tinja berwarna

hijau dan asam.

6. Anus lecet

7. Dehidrasi, bila menjadi dehidrasi berat akan terjadi volume darah berkurang

nadi cepat dan kecil, denyut jantung cepat, tekanan darah turun, kesadaran

menurun dan diakhiri dengan syok.


9

8. Berat badan turun.

9. Turgor kulit menurun.

10. Mata dan ubun-ubun cekung

11. Selaput lender dan mulut serta kulit menjadi kering. (Yongki dkk, 2012)

E. Penatalaksanaan DIARE dengan pendekatan MTBS (Manajemen Terpadu

Balita Sakit)

Sebagian besar diare yang menyebabkan dehidrasi berat adalah diare karena

kolera. Jika diare berlangsung selama 14 hari atau lebih, disebut DIARE

PERSISTEN. Sekitar 20% dari diare akan berlanjut menjadi diare persisten yang

seringkali menyebabkan kurang gizi dan kematian.

Diare disertai darah dalam tinja, dengan atau tanpa lendir, disebut

DISENTERI. Pada umumnya disenteri disebabkan oleh Shigela. Disenteri amuba

biasanya tidak terjadi pada anak kecil. Seorang anak bisa saja sekaligus menderita

diare cair dan disenteri.

Anak yang menderita diare dinilai dalam hal :

1. Berapa lama anak menderita diare.

2. Diare yang berlangsung 14 hari atau lebih adalah diare persisten.

3. Darah dalam tinja.

Petugas kesehatan menanyakan apakah ibu pernah melihat darah dalam tinja

anaknya selama episode diare ini. Jika pernah, lingkari “darah dalam tinja”

pada formulir pencatatan kolom penilaian.

4. Tanda-tanda dehidrasi :
10

5. Letargis atau tidak sadar.

6. Anak yang letargis sulit dibangunkan, kelihatan mengantuk, atau tatapannya

hampa dan tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya.

7. Anak yang tidak sadar tidak bereaksi ketika disentuh, digoyang atau

dibangunkan.

8. Rewel atau mudah marah.

9. Anak dengan dehidrasi, pada mulanya tampak gelisah atau rewel, jika

berlanjut, menjadi letargis atau tidak sadar.

10. Anak menunjukkan tanda gelisah atau rewel jika selalu gelisah atau rewel tiap

kali disentuh atau diperiksa.

11. Mata cekung

12. Mata cekung dapat menjadi pertanda bahwa tubuh anak kehilangan cairan.

Apabila ragu, tanyakan kepada ibu apakah menurut ibu mata anak kelihatan

lain dari biasanya. Pendapat ibu dapat membantu pemeriksa memastikan

bahwa mata anak cekung.

a. Haus, malas minum atau tidak bisa minum

b. Cubitan kulit perut kembali lambat atau sangat lambat.

Cara mencubit kulit perut untuk menilai derajat dehidrasi:

1) Posisikan anak telentang dengan lengan di samping badan (tidak di

atas kepalanya) dan kaki lurus.

2) Cari daerah pada perut anak di tengah antara pusar dan sisi perutnya.
11

3) Cubit kulit perut dengan ibu jari dan jari telunjuk saudara. Jangan

menggunakan ujung jari, karena akan menimbulkan rasa sakit. Lipatan

kulit yang dicubit harus sejajar dengan tubuh anak dari atas ke bawah

(garis bekas cubitan vertikal).

4) Angkat semua lapisan kulit dan jaringan di bawahnya dengan mantap,

kemudian lepaskan.

Dalam kondisi tidak ada dehidrasi, kulit akan kembali dengan segera. Jika

kulit yang terangkat baru kembali dalam waktu lebih dari 2 detik setelah

dilepaskan, berarti cubitan kulit perut kembali sangat lambat, jika kembalinya

kurang dari 2 detik atau masih sempat terlihat lipatan kulit setelah dilepaskan,

berarti cubitan kulit perut kembali dengan lambat.

Semua anak dengan diare diklasifikasikan menurut derajat dehidrasinya,

klasifikasi diare persisten (jika anak menderita diare selama 14 hari atau lebih), dan

klasifikasi disenteri (jika ada darah dalam tinjanya). Untuk mengklasifikasikan

derajat dehidrasi anak, mulailah dengan lajur merah muda.

1. jika ada dua atau lebih tanda pada lajur merah muda, klasifikasikan anak

sebagai diare dehidrasi berat.

2. jika tidak ada dua atau lebih tanda pada lajur merah muda, lihat lajur kuning.

jika ada dua atau lebih tanda pada lajur ini, klasifikasikan anak sebagai diare

dehidrasi ringan/ sedang.

3. jika tidak ada dua atau lebih tanda pada lajur kuning, klasifikasikan anak

sebagai diare tanpa dehidrasi.


12

Untuk klasifikasi diare persisten :

1. jika seorang anak menderita diare selama 14 hari atau lebih dan juga menderita

dehidrasi berat atau ringan/sedang, klasifikasikan sebagai diare persisten berat.

2. jika seorang anak menderita diare selama 14 hari atau lebih dan tidak

menunjukkan tanda dehidrasi, klasifikasikan sebagai diare persisten

Dan hanya ada 1 klasifikasi untuk disenteri. seorang anak dengan diare dan

ada darah dalam tinjanya, diklasifikasikan disenteri.

F. Keterkaitan klasifikasi MTBS dengan diagnosa ICD 10

Penerapan pelayanan kesehatan anak yang sesuai dengan standar MTBS,

sejalan dengan Undang-undang no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan Permenkes

no. 25 tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak serta Standar Pelayanan Minimal

Kabupaten/Kota.

Keberhasilan penerapan MTBS di Puskesmas tidak terlepas dari

ketersediaan SDM, sarana, prasarana, alat kesehatan, obat dan vaksin serta dukungan

lainnya, termasuk supervisi fasilitatif secara berkala untuk mengevaluasi kualitas

pelayanan MTBS.

Pencatatan dan pelaporan di puskesmas yang menerapkan MTBS sama

dengan puskesmas lain yaitu menggunakan Sistem Pencatatan dan Pelaporan

Terpadu Puskesmas (SP2TP). Dengan demikian semua pencatatan dan pelaporan

yang digunakan tidak perlu mengalami perubahan. Perubahan yang perlu dilakukan

adalah konversi klasifikasi ke dalam kode diagnosis berdasarkan ICD 10 dalam

SP2TP sebelum masuk ke dalam sistim pelaporan.


13

Hasil pemeriksaan MTBS ditulis dalam bentuk klasifikasi sedangkan

pelaporan yang ada dalam bentuk diagnosis. Diperlukan konversi dari klasifikasi ke

diagnosa dan menggunakan kode diagnosa. Dimana bila anak menderita diare tanpa

dehidrasi, diare dehidrasi ringan/ sedang, Diare dehirasi berat, diare persisten dan

disentri makan akan dikonversi dalam laporan SP2TP menjadi Diare, dengan kode

ICD 10 A 09.
BAB III
ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA DENGAN DIARE PADA AN. Z
UMUR 28 BULAN DI PUSKESMAS PEMATANG KANDIS

Ruang : Poli MTBS

No. RM : 025362

Tanggal : 25 Februari 2023 Pukul : 09.00 WIB

A. Pengkajian

1. Identitas

a. Identitas Anak

Nama Anak : An. Z

Umur : 22 bulan

Jenis kelamin : Perempuan

Anak Ke :1

b. Identitas Ibu Identitas Ayah

Nama : Ny. F Nama : Tn. D

Umur : 24 tahun Umur : 26 tahun

Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMA Pendidikan : SMA

Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Swasta

Alamat : Jl Kesehatan ds Pematang kandis

14
15

2. Anamnesa (Data Subyektif)

a. Keluhan utama / alasan datang ke puskesmas

Ibu mengatakan anaknya sejak 1 hari yang lalu mencret sehari 5x

b. Riwayat Kesehatan

1) Imunisasi

BCG : Tanggal 14 - 5 - 2021

DPT 1/hb 1/polio 1 : Tanggal 14 - 8 - 2021

DPT 2/hb 2/polio 2 : Tanggal 14 - 9 – 2021

DPT 3/hb 3/ polio 3 : Tanggal 14 – 10 - 2021

Campak/ polio 4 : Tanggal 14 - 1 - 2022

3) Riwayat penyakit yang lalu

Ibu mengatakan sebelumnya anaknya pernah sakit panas, batuk pilek 2

bulan yang lalu.

4) Riwayat penyakit sekarang

Ibu mengatakan anaknya berak mencret dengan konsistensi cair sehari 5x

sejak 1 hari yang lalu yaitu tanggal 24 Februari 2023

5) Riwayat penyakit keluarga / menurun

Ibu mengatakan dalam keluarga baik bapak maupun ibu tidak ada yang

mempunyai penyakit menurun seperti asma, jantung, hipertensi, DM dan

penyakit menular seperti TBC.


16

b. Riwayat Sosial

1) Yang Mengasuh

Ibu mengatakan mengasuh sendiri anaknya dibantu dengan suami dan

orang tuanya.

2) Hubungan dengan anggota keluarga

Ibu mengatakan hubungan anak dengan anggota keluarga sangat baik

3) Hubungan dengan teman sebaya

Ibu mengatakan anaknya mempunyai teman yang sebaya dengannya.

4) Lingkungan rumah

Ibu mengatakan lingkungan rumah bersih, letak rumah berdekatan dengan

rumah yang lain.

c. Pola Kebiasaan Sehari-hari

1) Nutrisi

Sebelum sakit :Ibu mengatakan anaknya makan nasi beserta sayur dan lauk

sehari 3x, menghabiskan 1 mangkok kecil

Makanan selingan bubur kacang hijau ½ gelas

Selama sakit : Ibu mengatakan anaknya makan nasi beserta sayur dan lauk

sehari 3x, tapi hanya setengah dari biasanya

Makanan selingan sepotong kue

2) Istirahat / tidur

Sebelum sakit : Ibu mengatakan anaknya tidur siang ± 2 jam dan tidur

malam ± 12 jam, kadang terbangun untuk minum dan ngompol.


17

Selama sakit : Ibu mengatakan anaknya tidur ± 10 jam karena sering

menangis, rewel dan sulit untuk ditidurkan.

3) Mandi

Sebelum sakit : Ibu mengatakan anaknya mandi 2 kali sehari, ganti baju

sewaktu-waktu ketika baju kotor terkena kencing, berak atau keringat

dan selesai mandi.

Selama sakit : ibu mengatakan anaknya mandi seperti biasa.

4) Aktivitas

Sebelum sakit : Ibu mengatakan anaknya aktif dan ceria serta merespon

jika dipanggil, mau bermain bersama teman sebayanya.

Selama sakit : Ibu mengatakan anaknya tetap aktif dan mau bermain

bersama teman sebayanya, hanya menangis saat terasa mau BAB.

5) Eliminasi

Sebelum sakit : Ibu mengatakan anaknya BAB 1-2 x/hari dengan

konsistensi lembek, kuning, BAK 5-6 x/hari dengan konsistensi warna

kuning jernih, bau pesing.

Selama sakit : Ibu mengatakan anaknya BAB 5 x/hari, konsistensi air

dengan sedikit ampas, warna kuning kehijauan, tidak ada darah dalam

tinja dan BAK 4-5 x/hari, warna kuning dan bau khas.

3. Pemeriksaan Fisik (Data Objektif)

a. Keadaan umum : baik, tidak ditemukan tanda bahaya umum berupa anak tidak

bisa minum , memuntahkan semua makanan dan minuman, kejang, letargis

atau tidak sadar, anak tidak gelisah dan rewel/mudah marah.


18

TTV : R : 36 x/menit, S : 36,7°C, N : 110 x/menit

BB / TB : 9,1 kg / 87 cm, BB/Tb -2 SD sd 2 SD, status gizi : normal

Anak tidak terlihat kurus.

LK : 40 cm

Kulit : Kulit terasa hangat, tidak pucat, turgor kulit baik.

Rambut : Bersih, warna hitam, tidak mudah rontok.

Muka : Bersih, tidak ada oedema, agak pucat.

Mata : Kanan kiri simetris, tidak cekung, conjungtiva berwarna merah

muda, sklera berwarna putih dan bersih.

Telinga : Kanan kiri simetris, tidak ada sakit telinga, tidak ada cairan yang

keluardari telinga, tidak ada pembengkakan yang nyeri dibelakang

telinga.

Mulut : Bibir berwarna merah muda, tidak ada stomatitis, gusi tidak

bengkak/berdarah, mulut tidak berbau.

Hidung : Hidung simetris terdapat cairan / lender berwarna jernih dan encer

kulit hidung bagian luar tampak kemerahan.

Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid, tenggorokan berwarna merah.

Dada : Tidak ada tarikan dinding dada kedalam, tidak ada stridor, dada

tampak simetris.

Perut : Tidak ada penonjolan umbilikus, tidak ada nyeri tekan, tidak

kembung, cubitan kulit perut kembali dengan cepat.

Ekstremitas : Dapat bergerak bebas, jari-jari tangan dan kaki lengkap, tidak

ada pembengkakan dikedua punggung kaki.


19

a. Pemeriksaan tingkat perkembangan :Tidak dilakukan

b. Pemeriksaan penunjang

1) Pemeriksaan laboratorium : tidak dilakukan

2) Pemeriksaan penunjang lain : tidak dilakukan

B. Interpretasi Data

Tanggal : 25 Februari 2023 Pukul : 09.15WIB

1. Diagnosa Kebidanan

An. Z umur 22 bulan dengan diagnosa diare

Data Dasar

Data Subjektif

a. Ibu mengatakan anaknya bernama An. Z, berjenis kelamin perempuan

b. Ibu mengatakan anaknya lahir tanggal 14 April 2021

e. Ibu mengatakan anaknya mengalami mencret sehari 5x konsistensi cair

dengan sedikit ampas.

Data Objektif

a. Keadaan umum : baik, tidak ditemukan tanda bahaya umum

b. Suhu : 36,7 °C, pernafasan : 36 x/menit, mata tidak cekung, cubitan perut

kembali dengan cepat

2. Kebutuhan

a. Pemberian ASI lebih sering dan pemberian oralit

b. Anjuran pemberian makanan pada anak sakit

c. Anjuran kapan harus kembali segera kepetugas kesehatan


20

C. Perencanaan

1. Beritahu ibu bahwa anaknya menderita diare

2. Beritahu ibu untuk memberikan ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali

pemberian.

3. Berikan oralit, air matang atau kuah sayur bening

4. Beritahu ibu cara pembuatan larutan gula garam sendiri dirumah

5. Beritahu ibu tentang tanda-tanda dehidrasi pada anak

6. Berikan tablet zink 1x1 tablet selama 10 hari

7. Konseling cara pemberian makan pada anak sakit

8. Anjuran kunjungan ulang 2 hari jika tidak ada perbaikan

9. Nasehat kapan ibu harus kembali segera kepetugas kesehatan

D. Pelaksanaaan

1. Memberitahu ibu bahwa anaknya menderita diare

2. Memberitahu ibu untuk ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali

pemberian.

3. Memberi tahu cara pemberian cairan tambahan dengan memberikan oralit, yaitu

100 sampai 200 ml setiap kali berak, diminumkan sedikit- sedikit tapi sering.

Jika anak muntah,tunggu 10 menit kemudian lanjutkan lagi dengan lebih lambat.

Bisa juga diberikan air matang atau kuah sayur bening. Lanjutkan pemberian

cairan tambahan sampai diare berhenti.


21

4. Memberitahu ibu tentang cara membuat cairan gula garam sendiri dirumah,

yaitu dengan melarutkan 1 sendok munjung gula ditambah 1 ujung sendok

garam dalam 1 gelas berisi 200ml air matang.

5. Memberitahu ibu tentang tanda-tanda dehidrasi pada anak, yaitu mata anak

menjadi cekung, bila anak diberikan minum dia tidak bisa minum/malas minum,

atau anak terasa sangat haus dan minum dengan sangat lahap, dan bila dilakukan

pencubitan pada kulit perut, maka kembalinya lambat atau sangat lambat.

6. Memberikan tablet zink 1x1 tablet selama 10 hari

7. Konseling cara pemberian makan pada anak sakit, yaitu dengan memberikan

makanan keluarga 3x sehari, sebanyak 1/3 atau ½ porsi makan orang dewasa

yang terdiri dari nasi, lauk, sayur dan buah, memberikan makanan selingan kaya

gizi 2x sehari diantara waktu makan, dan perbanyak minum air putih, kuah sayur

atau jus buah.

8. Menganjuran kunjungan ulang 2 hari jika tidak ada perbaikan

9. Memberi nasehat kapan ibu harus kembali segera kepetugas kesehatan, yaitu

jika anak menjadi demam,gelisah, rewel/mudah marah atau terdapat tanda-tanda

dehidrasi pada anak.

D. Evaluasi

1. ibu mengerti sakit yang diderita anaknya, dan bersedia memberikan zink 1x1

tablet selama 10 hari, memberikan ASI lebih sering, dan memberikan oralit atau

pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti sesuai dengan anjuran yang

diberikan
22

2. Ibu mengerti tentang cara pembuatan larutan gula garam sendiri dirumah

3. Ibu mengerti tanda-tanda dehidrasi pada anak

4. Ibu mengerti tentang cara pemberian makan pada anak sakit, dan bersedia

mempraktekkan anjuran yang diberikan

5. Ibu bersedia melakukan kunjungan ulang 2 hari jika tidak ada perbaikan

6. Ibu mengerti penjelasan tentang kapan ibu harus kembali segera kepetugas

kesehatan
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada kasus ini, langkah awal adalah melakukan pengkajian dengan

mengumpulkan data dasar, data subyektif, dan obyektif. Semua informasi yang akurat

dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien. Data subyektif didapatkan

keluhan utama yang diinformasikan oleh ibu yaitu berupa mencret 5x sehari sejak 1 hari

yang lalu dengan konsistensi cair bercampur sedikit ampas.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, tidak ditemukan tanda

bahaya umum berupa anak tidak bisa minum , memuntahkan semua makanan dan

minuman, kejang, letargis atau tidak sadar, anak tidak gelisah dan rewel/mudah marah.

Tanda-tanda vital : pernafasan 36 x/menit, suhu 36,7°C, nadi 110 x/menit, BB: 9,1 kg,

TB 87 cm, dimana BB/Tb -2 SD sd 2 SD, menunjukkan bahwa status gizi anak normal.

Anak tidak terlihat kurus.

Setelah memeriksa tanda bahaya umum, An Z diperiksa berkaitan dengan

keluhan utamanya yaitu mencret 5x sehari sejak 1 hari yang lalu dengan konsistensi cair

bercampur sedikit ampas. Dari hasil pemeriksaan diperoleh data bahwa mencret sudah

dialami sejak 1 hari yang lalu, tidak ditemukan darah dalam tinja, mata tidak

cekung,anak tidak haus dan minum dengan lahap, cubitan perut kembali dengan cepat.

Dalam penatalaksanaan MTBS anak diklasifikasikan kedalam diare tanpa dehidrasi

yang selanjutnya dalam pelaporan diselaraskan dengan system ICD 10, maka klasifikasi

dikonversi menjadi diagnosa yaitu diare ( Modul pelatihan MTBS, 2019).

WHO (2009) menyebutkan anak dikatakan diare apabila buang air besar dalam

bentuk cairan lebih dari 3 kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari

23
24

atau lebih. Rahmadhani (2013) menyebutkan dalam Jurnal Ilmiah Kebidanan anak yang

berusia 0-3 tahun rerata mengalami tiga kali diare per tahun. Karena pada kelompok

umur ini, sistem pencernaan anak belum tumbuh dengan sempurna.

Tindakan yang dilakukan yaitu memberikan tablet zink 1x1 tablet selama 10

hari, menasehati ibu untuk memberikan ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali

pemberian. Menurut Kemenkes RI (2011) ASI mempunyai khasiat preventif secara

imunologik dengan adanya antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya. ASI turut

memberikan perlindungan terhadap diare.

Selain pemberian tablet Zink dan pemberian ASI lebih sering, penatalaksanaan

diare yaitu memberikan cairan tambahan yaitu dengan memberikan oralit, 100 sampai

200 ml setiap kali berak, diminumkan sedikit- sedikit tapi sering. Jika anak

muntah,tunggu 10 menit kemudian lanjutkan lagi dengan lebih lambat. Bisa juga

diberikan air matang atau kuah sayur bening. Pemberian cairan tambahan dilanjutkan

sampai diare berhenti.

Hal ini Sesuai dengan bagan MTBS (2019) yaitu terapi yang diberikan pada

anak diare adalah dengan penggunaan tablet Zinc dan oralit asmolaritas rendah pada

diare. Selain menggunakan MTBS, tata laksana diare juga dikombinasikan dengan

LINTAS DIARE. Kemenkes RI (2011) menjelaskan prinsip tata laksana diare pada

balita adalah LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung oleh

Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan rekomendasi WHO. Yaitu dengan rehidrasi

menggunakan oralit osmolalitas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah

tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang. Oralit merupakan cairan yang terbaik

bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang. Pemberian tablet zinc
25

diberikan 10 hari berturut-turut terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan

diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta

menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Hal ini didasarkan

pada penelitian selama 20 tahun (1980-2003) yang menunjukkan bahwa pengobatan

diare dengan pemberian oralit disertai zinc lebih efektif dan terbukti menurunkan angka

kematian akibat diare pada anak-anak sampai

Ibu diberikan nasehat kapan harus kembali segera, yaitu jika anak jika anak

menjadi demam,gelisah, rewel/mudah marah atau terdapat tanda-tanda dehidrasi pada

anak. Tanda-tanda dehidrasi pada anak, yaitu mata anak menjadi cekung, bila anak

diberikan minum dia tidak bisa minum/malas minum, atau anak terasa sangat haus dan

minum dengan sangat lahap, dan bila dilakukan pencubitan pada kulit perut, maka

kembalinya lambat atau sangat lambat.

Pada kasus diare dengan dehidrasi gejala yang timbul berupa rasa haus, berat

badan turun, kulit bibir dan lidah kering, saliva menjadi kental. Turgor kulit dan tonus

berkurang, anak menjadi apatis, gelisah kadang-kadang disertai kejang. Akhirnya timbul

gejala asidosis dan renjatan dengan nadi dan jantung yang berdenyut cepat dan lemah,

tekanan darah menurun, kesadaran menurun, dan pernapasan kussmaul (Latief, dkk.,

2015).

Ibu diajari tentang cara membuat cairan gula garam sendiri dirumah, yaitu

dengan melarutkan 1 sendok munjung gula ditambah 1 ujung sendok garam dalam 1

gelas berisi 200ml air matang.

Dalam keadaan sakit, anak tetap harus memenuhi kebutuhan nutrisi dalam

tubuhnya. Ibu diberikan konseling cara pemberian makan pada anak sakit, yaitu dengan
26

memberikan makanan keluarga 3x sehari, sebanyak 1/3 atau ½ porsi makan orang

dewasa yang terdiri dari nasi, lauk, sayur dan buah, memberikan makanan selingan kaya

gizi 2x sehari diantara waktu makan, dan perbanyak minum air putih, kuah sayur atau

jus buah.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Dari hasil pengkajian didapatkan An. Z diklasifikasikan sebagai Diare tanpa

dehidrasi, dan klasifikasi ini setelah dikonversi ke diagnosa ICD 10, diangnosa

menjadi Diare.

2. Untuk penatalaksanaannya yaitu dengan memberikan tablet Zink 1x1 tablet

selama 10 hari, memberikan ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali

pemberian, dan pemberian cairan tambahan dengan memberikan oralit, air

matang atau kuah sayur bening. Cairan tambahan diberikan sampai diare

berhenti.

3. Ibu diberikan nasehat kapan harus kembali segera, yaitu jika anak menjadi

demam,gelisah, rewel/mudah marah atau terdapat tanda-tanda dehidrasi pada

anak.

4. Dalam keadaan sakit, anak tetap harus memenuhi kebutuhan nutrisi dalam

tubuhnya. Ibu diberikan konseling cara pemberian makan pada anak sakit

B. Saran

Diharapkan dapat meningkatkan pelayanan khususnya pada balita dengan

diare, dan mampu melakukan penatalaksanakan yang tepat pada balita yang sedang

sakit, sehingga mengurangi morbiditas pada balita. Dan untuk keluarga membiasakan

untuk memastikan makanan tersebut aman untuk anak, menjaga kebersihan

lingkungan dan makanan agar anak terhindar dari diare

27
DAFTAR PUSTAKA

Depkes, RI. 2010. Faktor Resiko Penyebab Diare. Jakarta : PT Info Medika.

Dinkes, DIY. 2014. Profil Kesehatan DIY Tahun 2014. Yogyakarta : Dinas Kesehatan
DIY.

Kemenkes, RI. 2011. Buku Saku Lintas Diare untuk Petugas Kesehatan, Jakarta :
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.

Kemenkes, RI. 2011. Situasi Diare di Indonesia. Jakarta,


([Link]
diakses 7 Jauari 2015).

Modul Pelatihan Manajemen Terpadu Balita Sakit Untuk Peserta Dan Fasilitator,
Kemenkes, 2019

Rahmadhani, Eka Putri. 2013. Jurnal Imiah Kebidanan.

Tuliat Media. 2013. Cara Mengatasi Diare Pada Orang Dewasa dan Anak Bayi,
([Link]
[Link] , diakses 13 Februari 2015).

Widjaja. 2009. Penyebab Terjadinya Diare Pada Anak. Jakarta : Salemba Medika.

World Health Organization. 2009. Diarrhoeal Disease.


([Link] diakses 10
Januari 2015).

Yin, Robert K. 2013. Studi Kasus Desain dan Metode. Jakarta : Rajawali Press.

Anda mungkin juga menyukai