Asuhan Kebidanan Balita Diare 22 Bulan
Asuhan Kebidanan Balita Diare 22 Bulan
Laporan Kelompok Praktik Klinik Kebidanan Neonatus, Bayi, Balita dan anak
Prasekolah
Disusun oleh:
Disusun oleh:
Menyetujui,
(Bd. Marta Ulina. [Link], [Link]. Keb) (Vitria Komalasari, S. ST., [Link])
ii
LEMBAR PENGESAHAN
ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA DENGAN DIARE PADA AN. Z
UMUR 22 BULAN DI PUSKESMAS PEMATANG KANDIS
Disusun oleh :
Mengetahui,
(Bd. Marta Ulina. [Link], [Link]. Keb) (Vitria Komalasari, S. ST., [Link])
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat
berjudul “Asuhan Kebidanan Pada Balita Dengan Diare Pada An. Z Umur 22 Bulan Di
hormat dan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada dosen pembimbing ibu Vitria
Komalasari, [Link], [Link], dan lapangan pembimbing lapangan ibu Bd. Marta Ulina,
Penulis juga mengakui bahwa dalam proses penulisan laporan ini, masih jauh
dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian penulis
Penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan kritik
dan saran yang membangun guna perbaikan dan penyempurnaan laporan ini dikemudian
hari.
Akhirnya penulis berharap, laporan ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.
Dan dapat memberikan kontribusi yang positif serta bermakna dalam proses perkuliahan
Penulis
iv
DAFTAR ISI
Halaman Judul....................................................................................................................i
Halaman Persetujuan........................................................................................................ii
Halaman Pengesahan.......................................................................................................iii
Kata Pengantar .................................................................................................................iv
Daftar Isi.............................................................................................................................v
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang.............................................................................................................1
Rumusan Masalah........................................................................................................4
Tujuan...........................................................................................................................4
Manfaat ........................................................................................................................4
BAB II TINJAUAN TEORI
[Link] Diare ......................................................................................................6
B. Penyebab Diare .......................................................................................................6
C. Jenis Diare....................................................................................................7
D. Gejala atau Gambaran Klinis.......................................................................8
E. Penatalaksanaan Diare dengan pendekatan MTBS......................................9
F. Keterkaitan klasifikasi MTBS dengan diagnosa ICD 10…………………..12
v
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit diare adalah penyakit yang sangat berbahaya dan terjadi hampir di
dunia dan bisa menyerang seluruh kelompok usia baik laki – laki maupun
34% angka kematian pada anak (Depkes, 2010). Ramadhani (2013) menyebutkan
anak yang berusia 0-3 tahun rata-rata mengalami tiga kali diare pertahun.
(2010) mengatakan 70-80% balita mengalami diare setiap tahunnya dan 1-2-%
balita mengalami dehidrasi. Dehidrasi terjadi karena usus bekerja tidak sempurna
sehingga sebagian air dan zat-zat yang terlarut di dalamnya dibuang bersama tinja
sampai akhirnya tubuh kekurangan cairan. Dehidrasi yang tidak diimbangi dengan
2004).
bahwa stategi dalam pengendalian penyakit diare pada anak balita dengan lintas
diare (Lima Langkah Tuntaskan Diare) antara lain : Rehidrasi menggunakan oralit
1
2
pemberian zinc kepada penderita diare dapat mengurangi prevalensi diare sebesar
34% (Kemenkes RI, 2011). Strategi lainnya yang juga digunakan untuk
Sakit (MTBS). Selain itu MTBS juga merupakan program pemberantasan penyakit
diare pada balita. MTBS merupakan suatu program pemerintah untuk menurunkan
angka kematian balita dan menurunkan angka kesakitan. Suatu manajemen untuk
kalsifikasi, status gizi, status imun maupun penanganan dan konseling yang
Di masyarakat, penyakit diare bukan hal yang asing lagi. Tetapi banyak ibu
yang menganggap anak yang terkena diare sebagai tanda bahwa anaknya akan
tumbuh besar dan pintar. Diare menyebabkan kehilangan garam (natrium) dan air
secara cepat. Jika air dan garam tidak digantikan dengan cepat, tubuh akan
penggunaan oralit dimaksudkan untuk memasok cairan tubuh yang hilang akibat
dehidrasi karena banyaknya cairan yang keluar. Dengan cara mencampurkan garam
dan gula ke dalam 1 gelas air putih lalu diminumkan sedikit demi sedikit untuk
mengindari muntah dan buang air. Yang kedua dengan cara memberi bubur
(makanan mudah dicerna) atau makanan yang terbuat dari tepung beras atau pisang
agar mudah dicerna. Yang ketiga dengan cara memberi air putih dan ASI.
Memberikan cairan yang cukup untuk menggantikan cairan tubuh yang banyak
3
keluar, selain itu juga bisa menghilangkan rasa sakit pada perut dan mengeluarkan
pendekatan pemecahan masalah yaitu cara kerja sistematis dan analtik yang
masalah kesehatan ibu dan anak yang dihadapi dalam lingkup tanggung jawabnya
secara tepat guna dan berhasil guna. Penatalaksanaan kasus bisa dilakukan dengan
hal ini sudah tercantum dalam pasal 11 yang berbunyi penanganan bayi dan anak
sama dengan pihak keluarga sangat diperlukan untuk dapat mencegah terjadinya
diare yang berat yang bersifat patologis yang dapat meningkatkan akibat buruk,
pasien di Poli MTBS Puskesmas Pematang kandis pada bulan Maret 2022 adalah
B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang diatas maka rumusan masalah yang diambil adalah
C. Tujuan
1. Tujuan Umum Melakukan asuhan kebidanan Pada Balita Dengan diare Pada An.
Merangin Jambi
2. Tujuan Khusus
kandis.
D. Manfaat
1. Bagi Masyarakat
menangani diare.
5
3. Bagi institusi
Menjadi bahan tambahan untuk pengetahuan dan informasi pada kasus diare dan
penanganannya
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Diare
Diare adalah keadaan frekuensi buang air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan
lebih dari 3 kali pada anak. Diare terjadi apabila tinja mengandung air yang lebih
banyak dari normal, diare juga disebut berak encer atau cair ( MTBS, 2019). Pada
bayi umur kurang dari 6 bulan diare biasanya terjadi karena minum susu sapi atau
susu formula. Sering berak tapi tinjanya normal bukanlah diare. Frekuensi berak
yang normal dalam satu hari beragam tergantung pada diet dan umur anak.
Bayi yang mendapat ASI eksklusif seringkali beraknya lembek; ini bukan
diare. Ibu yang menyusui bayinya dapat mengenal diare karena konsistensi dan
B. Penyebab Diare
1. Faktor Infeksi
dll.
6
7
b. Infeksi Parenteral: Infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti
2) Radang Tenggorokan Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak
2. Faktor Malarbsorbsi
berupa diare berat, tinja berbau sangat asam, sakit di daerah perut.
micelles yang siap di arbsorbsi usus. Jika tidak ada lipase dan terjadi
mengandung lemak.
tercemar, basi, beracun, mentah (sayuran) dan kurang matang (makanan yang
4. Faktor Psikologis Rasa takut, cemas dan tegang, walaupun jarang jika terjadi
C. Jenis Diare
1. Diare Akut Diare akut adalah diare yang terjadi sewaktu-waktu, tetapi gejalanya
a. Gangguan jasad renik / bakteri yang masuk kedalam usus halus setelah
2. Diare Kronis / Menahun / Persisten Pada diare kronis terjadinya lebih kompleks,
berupa faktor yang menimbulkannya terutama jika sering berulang pada anak.
Diare kronis / diare yang menetap akan berakhir 14 hari atau lebih lama, karena :
c. Gejala-gejala sisa karena cidera usus oleh setiap enteropatogen pasca infeksi
akut.
1. Cengeng
2. Gelisah
3. Suhu meningkat
6. Anus lecet
7. Dehidrasi, bila menjadi dehidrasi berat akan terjadi volume darah berkurang
nadi cepat dan kecil, denyut jantung cepat, tekanan darah turun, kesadaran
11. Selaput lender dan mulut serta kulit menjadi kering. (Yongki dkk, 2012)
Balita Sakit)
Sebagian besar diare yang menyebabkan dehidrasi berat adalah diare karena
kolera. Jika diare berlangsung selama 14 hari atau lebih, disebut DIARE
PERSISTEN. Sekitar 20% dari diare akan berlanjut menjadi diare persisten yang
Diare disertai darah dalam tinja, dengan atau tanpa lendir, disebut
biasanya tidak terjadi pada anak kecil. Seorang anak bisa saja sekaligus menderita
Petugas kesehatan menanyakan apakah ibu pernah melihat darah dalam tinja
anaknya selama episode diare ini. Jika pernah, lingkari “darah dalam tinja”
4. Tanda-tanda dehidrasi :
10
7. Anak yang tidak sadar tidak bereaksi ketika disentuh, digoyang atau
dibangunkan.
9. Anak dengan dehidrasi, pada mulanya tampak gelisah atau rewel, jika
10. Anak menunjukkan tanda gelisah atau rewel jika selalu gelisah atau rewel tiap
12. Mata cekung dapat menjadi pertanda bahwa tubuh anak kehilangan cairan.
Apabila ragu, tanyakan kepada ibu apakah menurut ibu mata anak kelihatan
2) Cari daerah pada perut anak di tengah antara pusar dan sisi perutnya.
11
3) Cubit kulit perut dengan ibu jari dan jari telunjuk saudara. Jangan
kulit yang dicubit harus sejajar dengan tubuh anak dari atas ke bawah
kemudian lepaskan.
Dalam kondisi tidak ada dehidrasi, kulit akan kembali dengan segera. Jika
kulit yang terangkat baru kembali dalam waktu lebih dari 2 detik setelah
dilepaskan, berarti cubitan kulit perut kembali sangat lambat, jika kembalinya
kurang dari 2 detik atau masih sempat terlihat lipatan kulit setelah dilepaskan,
klasifikasi diare persisten (jika anak menderita diare selama 14 hari atau lebih), dan
1. jika ada dua atau lebih tanda pada lajur merah muda, klasifikasikan anak
2. jika tidak ada dua atau lebih tanda pada lajur merah muda, lihat lajur kuning.
jika ada dua atau lebih tanda pada lajur ini, klasifikasikan anak sebagai diare
3. jika tidak ada dua atau lebih tanda pada lajur kuning, klasifikasikan anak
1. jika seorang anak menderita diare selama 14 hari atau lebih dan juga menderita
2. jika seorang anak menderita diare selama 14 hari atau lebih dan tidak
Dan hanya ada 1 klasifikasi untuk disenteri. seorang anak dengan diare dan
sejalan dengan Undang-undang no. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan dan Permenkes
no. 25 tahun 2014 tentang Upaya Kesehatan Anak serta Standar Pelayanan Minimal
Kabupaten/Kota.
ketersediaan SDM, sarana, prasarana, alat kesehatan, obat dan vaksin serta dukungan
pelayanan MTBS.
yang digunakan tidak perlu mengalami perubahan. Perubahan yang perlu dilakukan
pelaporan yang ada dalam bentuk diagnosis. Diperlukan konversi dari klasifikasi ke
diagnosa dan menggunakan kode diagnosa. Dimana bila anak menderita diare tanpa
dehidrasi, diare dehidrasi ringan/ sedang, Diare dehirasi berat, diare persisten dan
disentri makan akan dikonversi dalam laporan SP2TP menjadi Diare, dengan kode
ICD 10 A 09.
BAB III
ASUHAN KEBIDANAN PADA BALITA DENGAN DIARE PADA AN. Z
UMUR 28 BULAN DI PUSKESMAS PEMATANG KANDIS
No. RM : 025362
A. Pengkajian
1. Identitas
a. Identitas Anak
Umur : 22 bulan
Anak Ke :1
14
15
b. Riwayat Kesehatan
1) Imunisasi
Ibu mengatakan dalam keluarga baik bapak maupun ibu tidak ada yang
b. Riwayat Sosial
1) Yang Mengasuh
orang tuanya.
4) Lingkungan rumah
1) Nutrisi
Sebelum sakit :Ibu mengatakan anaknya makan nasi beserta sayur dan lauk
Selama sakit : Ibu mengatakan anaknya makan nasi beserta sayur dan lauk
2) Istirahat / tidur
Sebelum sakit : Ibu mengatakan anaknya tidur siang ± 2 jam dan tidur
3) Mandi
Sebelum sakit : Ibu mengatakan anaknya mandi 2 kali sehari, ganti baju
4) Aktivitas
Sebelum sakit : Ibu mengatakan anaknya aktif dan ceria serta merespon
Selama sakit : Ibu mengatakan anaknya tetap aktif dan mau bermain
5) Eliminasi
dengan sedikit ampas, warna kuning kehijauan, tidak ada darah dalam
tinja dan BAK 4-5 x/hari, warna kuning dan bau khas.
a. Keadaan umum : baik, tidak ditemukan tanda bahaya umum berupa anak tidak
LK : 40 cm
Telinga : Kanan kiri simetris, tidak ada sakit telinga, tidak ada cairan yang
telinga.
Mulut : Bibir berwarna merah muda, tidak ada stomatitis, gusi tidak
Hidung : Hidung simetris terdapat cairan / lender berwarna jernih dan encer
Dada : Tidak ada tarikan dinding dada kedalam, tidak ada stridor, dada
tampak simetris.
Perut : Tidak ada penonjolan umbilikus, tidak ada nyeri tekan, tidak
Ekstremitas : Dapat bergerak bebas, jari-jari tangan dan kaki lengkap, tidak
b. Pemeriksaan penunjang
B. Interpretasi Data
1. Diagnosa Kebidanan
Data Dasar
Data Subjektif
Data Objektif
b. Suhu : 36,7 °C, pernafasan : 36 x/menit, mata tidak cekung, cubitan perut
2. Kebutuhan
C. Perencanaan
2. Beritahu ibu untuk memberikan ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali
pemberian.
D. Pelaksanaaan
2. Memberitahu ibu untuk ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali
pemberian.
3. Memberi tahu cara pemberian cairan tambahan dengan memberikan oralit, yaitu
100 sampai 200 ml setiap kali berak, diminumkan sedikit- sedikit tapi sering.
Jika anak muntah,tunggu 10 menit kemudian lanjutkan lagi dengan lebih lambat.
Bisa juga diberikan air matang atau kuah sayur bening. Lanjutkan pemberian
4. Memberitahu ibu tentang cara membuat cairan gula garam sendiri dirumah,
5. Memberitahu ibu tentang tanda-tanda dehidrasi pada anak, yaitu mata anak
menjadi cekung, bila anak diberikan minum dia tidak bisa minum/malas minum,
atau anak terasa sangat haus dan minum dengan sangat lahap, dan bila dilakukan
pencubitan pada kulit perut, maka kembalinya lambat atau sangat lambat.
7. Konseling cara pemberian makan pada anak sakit, yaitu dengan memberikan
makanan keluarga 3x sehari, sebanyak 1/3 atau ½ porsi makan orang dewasa
yang terdiri dari nasi, lauk, sayur dan buah, memberikan makanan selingan kaya
gizi 2x sehari diantara waktu makan, dan perbanyak minum air putih, kuah sayur
9. Memberi nasehat kapan ibu harus kembali segera kepetugas kesehatan, yaitu
D. Evaluasi
1. ibu mengerti sakit yang diderita anaknya, dan bersedia memberikan zink 1x1
tablet selama 10 hari, memberikan ASI lebih sering, dan memberikan oralit atau
pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti sesuai dengan anjuran yang
diberikan
22
2. Ibu mengerti tentang cara pembuatan larutan gula garam sendiri dirumah
4. Ibu mengerti tentang cara pemberian makan pada anak sakit, dan bersedia
5. Ibu bersedia melakukan kunjungan ulang 2 hari jika tidak ada perbaikan
6. Ibu mengerti penjelasan tentang kapan ibu harus kembali segera kepetugas
kesehatan
BAB IV
PEMBAHASAN
mengumpulkan data dasar, data subyektif, dan obyektif. Semua informasi yang akurat
dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi pasien. Data subyektif didapatkan
keluhan utama yang diinformasikan oleh ibu yaitu berupa mencret 5x sehari sejak 1 hari
Pada pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum baik, tidak ditemukan tanda
bahaya umum berupa anak tidak bisa minum , memuntahkan semua makanan dan
minuman, kejang, letargis atau tidak sadar, anak tidak gelisah dan rewel/mudah marah.
Tanda-tanda vital : pernafasan 36 x/menit, suhu 36,7°C, nadi 110 x/menit, BB: 9,1 kg,
TB 87 cm, dimana BB/Tb -2 SD sd 2 SD, menunjukkan bahwa status gizi anak normal.
keluhan utamanya yaitu mencret 5x sehari sejak 1 hari yang lalu dengan konsistensi cair
bercampur sedikit ampas. Dari hasil pemeriksaan diperoleh data bahwa mencret sudah
dialami sejak 1 hari yang lalu, tidak ditemukan darah dalam tinja, mata tidak
cekung,anak tidak haus dan minum dengan lahap, cubitan perut kembali dengan cepat.
yang selanjutnya dalam pelaporan diselaraskan dengan system ICD 10, maka klasifikasi
WHO (2009) menyebutkan anak dikatakan diare apabila buang air besar dalam
bentuk cairan lebih dari 3 kali dalam satu hari dan biasanya berlangsung selama dua hari
23
24
atau lebih. Rahmadhani (2013) menyebutkan dalam Jurnal Ilmiah Kebidanan anak yang
berusia 0-3 tahun rerata mengalami tiga kali diare per tahun. Karena pada kelompok
Tindakan yang dilakukan yaitu memberikan tablet zink 1x1 tablet selama 10
hari, menasehati ibu untuk memberikan ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali
imunologik dengan adanya antibodi dan zat-zat lain yang dikandungnya. ASI turut
Selain pemberian tablet Zink dan pemberian ASI lebih sering, penatalaksanaan
diare yaitu memberikan cairan tambahan yaitu dengan memberikan oralit, 100 sampai
200 ml setiap kali berak, diminumkan sedikit- sedikit tapi sering. Jika anak
muntah,tunggu 10 menit kemudian lanjutkan lagi dengan lebih lambat. Bisa juga
diberikan air matang atau kuah sayur bening. Pemberian cairan tambahan dilanjutkan
Hal ini Sesuai dengan bagan MTBS (2019) yaitu terapi yang diberikan pada
anak diare adalah dengan penggunaan tablet Zinc dan oralit asmolaritas rendah pada
diare. Selain menggunakan MTBS, tata laksana diare juga dikombinasikan dengan
LINTAS DIARE. Kemenkes RI (2011) menjelaskan prinsip tata laksana diare pada
balita adalah LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung oleh
Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan rekomendasi WHO. Yaitu dengan rehidrasi
menggunakan oralit osmolalitas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah
tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang. Oralit merupakan cairan yang terbaik
bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang. Pemberian tablet zinc
25
diberikan 10 hari berturut-turut terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat keparahan
diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja, serta
menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya. Hal ini didasarkan
diare dengan pemberian oralit disertai zinc lebih efektif dan terbukti menurunkan angka
Ibu diberikan nasehat kapan harus kembali segera, yaitu jika anak jika anak
anak. Tanda-tanda dehidrasi pada anak, yaitu mata anak menjadi cekung, bila anak
diberikan minum dia tidak bisa minum/malas minum, atau anak terasa sangat haus dan
minum dengan sangat lahap, dan bila dilakukan pencubitan pada kulit perut, maka
Pada kasus diare dengan dehidrasi gejala yang timbul berupa rasa haus, berat
badan turun, kulit bibir dan lidah kering, saliva menjadi kental. Turgor kulit dan tonus
berkurang, anak menjadi apatis, gelisah kadang-kadang disertai kejang. Akhirnya timbul
gejala asidosis dan renjatan dengan nadi dan jantung yang berdenyut cepat dan lemah,
tekanan darah menurun, kesadaran menurun, dan pernapasan kussmaul (Latief, dkk.,
2015).
Ibu diajari tentang cara membuat cairan gula garam sendiri dirumah, yaitu
dengan melarutkan 1 sendok munjung gula ditambah 1 ujung sendok garam dalam 1
Dalam keadaan sakit, anak tetap harus memenuhi kebutuhan nutrisi dalam
tubuhnya. Ibu diberikan konseling cara pemberian makan pada anak sakit, yaitu dengan
26
memberikan makanan keluarga 3x sehari, sebanyak 1/3 atau ½ porsi makan orang
dewasa yang terdiri dari nasi, lauk, sayur dan buah, memberikan makanan selingan kaya
gizi 2x sehari diantara waktu makan, dan perbanyak minum air putih, kuah sayur atau
jus buah.
BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
dehidrasi, dan klasifikasi ini setelah dikonversi ke diagnosa ICD 10, diangnosa
menjadi Diare.
selama 10 hari, memberikan ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali
matang atau kuah sayur bening. Cairan tambahan diberikan sampai diare
berhenti.
3. Ibu diberikan nasehat kapan harus kembali segera, yaitu jika anak menjadi
anak.
4. Dalam keadaan sakit, anak tetap harus memenuhi kebutuhan nutrisi dalam
tubuhnya. Ibu diberikan konseling cara pemberian makan pada anak sakit
B. Saran
diare, dan mampu melakukan penatalaksanakan yang tepat pada balita yang sedang
sakit, sehingga mengurangi morbiditas pada balita. Dan untuk keluarga membiasakan
27
DAFTAR PUSTAKA
Depkes, RI. 2010. Faktor Resiko Penyebab Diare. Jakarta : PT Info Medika.
Dinkes, DIY. 2014. Profil Kesehatan DIY Tahun 2014. Yogyakarta : Dinas Kesehatan
DIY.
Kemenkes, RI. 2011. Buku Saku Lintas Diare untuk Petugas Kesehatan, Jakarta :
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Modul Pelatihan Manajemen Terpadu Balita Sakit Untuk Peserta Dan Fasilitator,
Kemenkes, 2019
Tuliat Media. 2013. Cara Mengatasi Diare Pada Orang Dewasa dan Anak Bayi,
([Link]
[Link] , diakses 13 Februari 2015).
Widjaja. 2009. Penyebab Terjadinya Diare Pada Anak. Jakarta : Salemba Medika.
Yin, Robert K. 2013. Studi Kasus Desain dan Metode. Jakarta : Rajawali Press.