Sejarah dan Arsitektur Candi Borobudur
Sejarah dan Arsitektur Candi Borobudur
Stupa Borobudur dengan jajaran perbukitan Menoreh. Selama berabad-abad bangunan suci ini sempat terlupakan.
Dalam bahasa Indonesia, bangunan keagamaan purbakala disebut candi; istilah candi juga digunakan secara lebih luas untuk
merujuk kepada semua bangunan purbakala yang berasal dari masa Hindu-Buddha di Nusantara, misalnya gerbang, gapura,
dan petirtaan (kolam dan pancuran pemandian). Asal mula nama Borobudur tidak jelas,[11] meskipun memang nama asli dari
kebanyakan candi di Indonesia tidak diketahui.[11] Nama Borobudur pertama kali ditulis dalam buku "Sejarah Pulau Jawa"
karya Sir Thomas Stamford Raffles.[12] Raffles menulis mengenai monumen bernama borobudur, akan tetapi tidak ada dokumen
yang lebih tua yang menyebutkan nama yang sama persis.[11] Satu-satunya naskah Jawa kuno yang memberi petunjuk
mengenai adanya bangunan suci Buddha yang mungkin merujuk kepada Borobudur adalah Nagarakretagama, yang ditulis
oleh Mpu Prapanca pada 1365.[13]
Nama Bore-Budur, yang kemudian ditulis BoroBudur, kemungkinan ditulis Raffles dalam tata bahasa Inggris untuk menyebut
desa terdekat dengan candi itu yaitu desa Bore (Boro); kebanyakan candi memang sering kali dinamai berdasarkan desa
tempat candi itu berdiri. Raffles juga menduga bahwa istilah 'Budur' mungkin berkaitan dengan istilah Buda dalam bahasa Jawa
yang berarti "purba"– maka bermakna, "Boro purba". [11] Akan tetapi arkeolog lain beranggapan bahwa nama Budur berasal dari
istilah bhudhara yang berarti gunung.[14]
Banyak teori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari
kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara) di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat
beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi
menjadi borobudur. Penjelasan lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal
dari kata vihara, sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sanskerta yang artinya kompleks candi
atau biara dan beduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi maksudnya ialah
sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950 berpendapat bahwa Borobudur
adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Tri Tepusan, Casparis memperkirakan pendiri Borobudur
adalah raja Mataram dari wangsa Syailendra bernama Samaratungga, yang melakukan pembangunan sekitar tahun 824 M.
Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur
diperkirakan memakan waktu setengah abad. Dalam prasasti Karangtengah pula disebutkan mengenai penganugerahan
tanah sima (tanah bebas pajak) oleh Çrī Kahulunan (Pramudawardhani) untuk memelihara Kamūlān yang
disebut Bhūmisambhāra.[15] Istilah Kamūlān sendiri berasal dari kata mula yang berarti tempat asal muasal, bangunan suci
untuk memuliakan leluhur, kemungkinan leluhur dari wangsa Sailendra. Casparis memperkirakan bahwa Bhūmi Sambhāra
Bhudhāra dalam bahasa Sanskerta yang berarti "Bukit himpunan kebajikan sepuluh tingkatan boddhisattwa", adalah nama asli
Borobudur.[16]
2. Candi Mendut (bahasa Jawa: ꦕꦤ꧀ꦝꦶꦩꦼꦤ꧀ꦢꦸꦠ꧀, translit. Candhi Mendut) adalah sebuah candi bercorak Buddha. Candi yang terletak di
Desa Mendut, Jalan Mayor Kusen Kota Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah ini, letaknya berada sekitar 3 kilometer dari
Candi Borobudur. 7°36′17.17″S 110°13′48.01″E
Masa pembuatan
Candi Mendut didirikan semasa pemerintahan Raja Indra dari dinasti Syailendra. Di dalam prasasti Karangtengah yang bertarikh 824 Masehi,
disebutkan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama wenuwana yang artinya adalah hutan bambu. Oleh seorang ahli
arkeologi Belanda bernama J.G. de Casparis, kata ini dihubungkan dengan Candi Mendut.
Arsitektur candi
Bahan bangunan candi sebenarnya adalah batu bata yang ditutupi dengan batu alam. Bangunan ini terletak pada sebuah basement yang
tinggi, sehingga tampak lebih anggun dan kokoh. Tangga naik dan pintu masuk menghadap ke barat-daya. Di atas basement terdapat lorong
yang mengelilingi tubuh candi. Atapnya bertingkat tiga dan dihiasi dengan stupa-stupa kecil. Jumlah stupa-stupa kecil yang terpasang
sekarang adalah 48 buah.
Tinggi bangunan adalah 26,4 meter.
Tiga arca di dalam candi Mendut, arca Dhyani Buddha Wairocana diapit Boddhisatwa Awalokiteswara dan Wajrapani.
Hiasan yang terdapat pada Candi Mendut berupa hiasan yang berselang-seling. Dihiasi dengan ukiran makhluk-makhluk kahyangan
berupa dewata gandarwa dan apsara atau bidadari, dua ekor kera dan seekor garuda.
Pada kedua tepi tangga terdapat relief-relief cerita Pancatantra dan jataka.
Hariti.
Dinding candi dihiasi relief Boddhisatwa di antaranya Awalokiteśwara, Maitreya, Wajrapāṇi dan Manjuśri. Pada dinding tubuh candi terdapat
relief kalpataru, dua bidadari, Harītī (seorang yaksi yang bertobat dan lalu mengikuti Buddha) dan Āţawaka.
Di dalam induk candi terdapat arca Buddha besar berjumlah tiga: yaitu Dhyani Buddha Wairocana dengan sikap tangan
(mudra) dharmacakramudra. Di depan arca Buddha terdapat relief berbentuk roda dan diapit sepasang rusa, lambang Buddha. Di sebelah kiri
terdapat arca Awalokiteśwara (Padmapāņi) dan sebelah kanan arca Wajrapāņi.
Relief 1 (Brahmana dan seekor kepiting)[sunting | sunting sumber]
Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra atau jataka. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini:
Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama Dwijeswara. Ia sangat sayang terhadap segala macam
hewan.
Maka berjalanlah dia untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting di puncak gunung yang bernama
Astapada, dibawa di pakaiannya. Maka kata sang brahmana: “Kubawanya ke sungai, sebab aku merasa kasihan.” Maka iapun
berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Lalu dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana. Si
Astapada merasa lega hatinya. Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Ia tidur dengan nikmat, hatinya nyaman.
Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi sang brahmana. Maka kata si ular kepada
kawannya si gagak: “Jika ada orang datang ke mari untuk tidur, ceritakan padaku, aku mangsanya.”
Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Segeralah keluar si ular katanya: “Aku ingin memangsa matanya kawan.”
Begitulah perjanjian mereka.
Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar. Lalu kata si kepiting di dalam hati: “Aduh, sungguh buruk kejahatan si
gagak dan ular. Sama-sama buruk kelakuannya.” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang brahmana. Ia ingin
melunasi hutangnya, maka pikirnya. “Ada siasatku, aku akan berkawan dengan keduanya.” Maka ujar si kepiting, “Wahai kedua
kawanku, akan kupanjangkan leher kalian, supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang brahmana.” – “Aku setuju dengan
usulmu, <laksanakanlah> dengan segera.” Begitulah kata si gagak dan si ular keduanya. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher
mereka dan disupit di sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika. Matilah si gagak dan
si ular. ==
3. Candi Pawon
Candi Pawon (bahasa Jawa: ꦕꦤ꧀ꦝꦶꦥꦮꦺꦴꦤ꧀, translit. Candhi Pawon) adalah nama sebuah candi,
peninggalan Masa Klasik, yang terletak di Dusun Brojonalan, Desa Wanurejo, Kec. Borobudur, Kabupaten
Magelang.
Lokasi
Letak Candi Pawon ini berada di antara Candi Mendut dan Candi Borobudur, tepat berjarak
1750 meter dari Candi Borobudur ke arah timur dan 1150 m dari Candi Mendut ke arah barat.
Galeri
Nama "Ratu Boko" berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Boko (bahasa Jawa, arti harafiah: "raja bangau") adalah ayah dari Loro
Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada kompleks Candi Prambanan. Kompleks bangunan ini dikaitkan dengan legenda rakyat
setempat Loro Jonggrang.[1]
Secara administratif, situs ini berada di wilayah dua padukuhan, yakni Dusun Dawung, Desa Bokoharjo dan Dusun Sumberwatu, Desa
Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Riwayat
Situs Ratu Boko pertama kali dilaporkan oleh Van Boeckholzt pada tahun 1790, yang menyatakan terdapat reruntuhan kepurbakalaan di atas
bukit Ratu Boko. Bukit ini sendiri merupakan cabang dari sistem Pegunungan Sewu, yang membentang dari selatan Yogyakarta hingga
daerah Tulungagung. Seratus tahun kemudian baru dilakukan penelitian yang dipimpin oleh FDK Bosch, yang dilaporkan dalam Keraton van
Ratoe Boko. Dari sinilah disimpulkan bahwa reruntuhan itu merupakan sisa-sisa keraton. [1]
Prasasti Abhayagiri Wihara yang berangka tahun 792 M merupakan bukti tertulis yang ditemukan di situs Ratu Boko. Dalam prasasti ini
menyebut seorang tokoh bernama Tejahpurnapane Panamkarana atau Rakai Panangkaran (746-784 M), serta menyebut suatu
kawasan wihara di atas bukit yang dinamakan Abhyagiri Wihara ("wihara di bukit yang bebas dari bahaya"). Rakai Panangkaran
mengundurkan diri sebagai Raja karena menginginkan ketenangan rohani dan memusatkan pikiran pada masalah keagamaan, salah satunya
dengan mendirikan wihara yang bernama Abhayagiri Wihara pada tahun 792 M. [1] Rakai Panangkaran menganut agama Buddha demikian
juga bangunan tersebut disebut Abhayagiri Wihara adalah berlatar belakang agama Buddha, sebagai buktinya adalah adanya Arca Dyani
Buddha. Namun ditemukan pula unsur–unsur agama Hindu di situs Ratu Boko Seperti adanya Arca Durga, Ganesha dan Yoni.
Tampaknya, kompleks ini kemudian diubah menjadi keraton dilengkapi benteng pertahanan bagi raja bawahan (vassal) yang bernama Rakai
Walaing Pu Kumbayoni. Menurut prasasti Siwagrha tempat ini disebut sebagai kubu pertahanan yang terdiri atas tumpukan beratus-ratus
batu oleh Balaputra. Bangunan di atas bukit ini dijadikan kubu pertahanan dalam pertempuran perebutan kekuasaan di kemudian hari.
Di dalam kompleks ini terdapat bekas gapura, ruang Paseban, kolam, Pendopo, Pringgitan, keputren, dan dua ceruk gua untuk bermeditasi.[1]
Deskripsi
Reruntuhan candi perwara Candi Banyunibo. Di bagian tengah ada reruntuhan bangunan melingkar mungkin dahulu adalah stupa.
Pada bagian atas candi ini terdapat sebuah stupa yang merupakan ciri khas agama Buddha. Arti nama candi ini yaitu banyunibo yang berarti
air jatuh-menetes (dalam bahasa Jawa) walaupun di candi ini tidak ada tetesan air ataupun sumber air di sekitar candi. Candi Banyunibo
termasuk bangunan suci Buddha yang cukup kaya akan hiasan (ornamen). Hampir pada setiap bagian candi diisi oleh bermacam-macam
hiasan dan relief, meskipun bagian yang satu dengan yang lain sering ditemukan motif hiasan yang sama.
Hiasan pada kaki candi. Dinding kaki candi Banyunibo masing-masing sisi dibagi menjadi beberapa bidang. Bidang tersebut kemudian diisi
dengan pahatan berupa hiasan tumbuh-tumbuhan yang keluar dari pot bunga. Candi utama menghadap ke barat dan terletak di antara
ladang tebu dan persawahan.
Dari puing-puing di sekitar, diperkirakan ada 6 buah candi perwara (candi pendamping) berbentuk stupa di sekeliling candi utama di sebelah
selatan dan timur. Candi utama menghadap ke barat dan terletak di antara ladang tebu dan persawahan. Sayangnya candi perwara ini tidak
terbuat dari batu andesit melainkan batu putih yang mudah sekali aus. Di sebelah utara candi, terdapat tembok batu sepanjang 65 m
membujur dari barat ke timur. Reruntuhan candi perwara berupa stupa diperkirakan berdiameter sekitar 5 m.
Galeri
Relief Wisrawana atau Kuwera pada dinding masuk bilik candi. Wisrawana adalah salah satu dari Catur Lokapala yang bercirikan perut
besar.
Relief Dewi Hariti. Terlihat relief (beberapa detail hilang) seorang wanita dikelilingi anak-anak kecil. Relief ini kemungkinan menunjukkan
Dewi Hariti, dewi kesuburan.
6. Candi Kalasan
Candi Kalasan atau Candi Kalibening[1] (bahasa Jawa: ꦕꦤ꧀ꦝꦶꦏꦭꦱꦤ꧀, translit. Candhi Kalasan) merupakan sebuah Bangunan Cagar
Budaya yang dikategorikan sebagai candi umat Buddha. Candi ini terletak di Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia.
Candi ini memiliki 52 stupa dan berada di sisi selatan jalan raya antara Surakarta dan Jogja serta sekitar 2 km dari candi Prambanan.
Pada awalnya hanya candi Kalasan ini yang ditemukan pada kawasan situs ini, namun setelah digali lebih dalam maka ditemukan lebih
banyak lagi bangunan bangunan pendukung di sekitar candi ini. Selain candi Kalasan dan bangunan - bangunan pendukung lainnya ada juga
tiga buah candi kecil di luar bangunan candi utama, berbentuk stupa.
Berdasarkan prasasti Kalasan bertarikh 778 yang ditemukan tidak jauh dari candi ini menyebutkan tentang pendirian bangunan suci untuk
menghormati Bodhisattva wanita, Tarabhawana dan sebuah vihara untuk para pendeta.[1][2] Penguasa yang memerintah pembangunan candi
ini bernama Maharaja Tejapurnapana Panangkaran (Rakai Panangkaran) dari keluarga Syailendra. Kemudian dengan perbandingan dari
manuskrip pada prasasti Kelurak tokoh ini dapat diidentifikasikan dengan Dharanindra[3] atau dengan prasasti Nalanda adalah ayah
dari Samaragrawira.[4] Sehingga candi ini dapat menjadi bukti kehadiran Wangsa Syailendra.[5]
Dalam Prasasti Kalasan berhuruf Pre Nagari, berbahasa Sanskerta ini menyebutkan para guru sang raja Tejapurnapana Panangkaran dari
keluarga Syailaendra berhasil membujuk raja untuk membuat bangunan suci bagi Dewi Tara beserta biaranya bagi para pendeta sebagai
hadiah dari Sangha.
Profesor Dr Casparis. menafsir berdasarkan prasasti Kalasan itu, Candi Kalasan dibangun bersama antara Buddha dan Hindu. Sementara
itu Van Rumond, sejarawan dari Belanda meyakini bahwa di situs yang sama pernah ada bangunan suci lain yang umurnya jauh lebih tua
dibanding Candi Kalasan, sesuai hasil penelitian yang dilakukannya pada tahun 1928. Bangunan suci itu berbentuk wihara yang luasnya 45
meter x 45 meter. Ini berarti bangunan candi mengalami tiga kali perbaikan. Sebagai bukti, menurutnya, terdapat empat sudut kaki candi
dengan bagian yang menonjol.
Pada bagian selatan candi terdapat dua relief Bodhisattva, sementara pada atapnya terdiri dari 3 tingkat. Atap paling atas terdapat 8 ruang,
atap tingkat dua berbentuk segi 8, sedangkan atap paling bawah sebangun dengan candi berbentuk persegi 20 yang dilengkapi dengan
relung arca di tiap sisinya.
Pada candi Kalasan ini memiliki lapisan penutup candi yang dinamakan Bajralepa, yaitu semacam plesteran di ukiran batu halus. Detail dari
hiasan Bajralepa ini yang merupakan salah satu ciri Candi Kalasan, yang juga dijumpai pada Candi Sari.
Denah bangunan Candi Kalasan berbentuk persegi. Atapnya segi delapan dan puncaknya berbentuk dagoba (stupa). Keadaannya sudah
sangat rusak. Hanya bagian selatan yang masih utuh. Disebut-sebut, bilik pusatnya dahulu memiliki arca perunggu setinggi 6 meter yang kini
hilang. Sedangkan ketiga biliknya juga kosong.
Tubuh dan atap candi dihias dengan ukiran-ukiran yang sangat indah. Terdiri dari relung-relung, sulur-sulur, arca-arca Budha, dagoba-dagoba
dan arca Gana, yaitu manusia kerdil berperut buncit yang biasanya memikul barang.
Mengenai hiasan ini, Bernet Kempers dalam bukunya, Indonesia Selama zaman Hindu, halaman 25, menyebutkan bahwa cara pembuatan
hiasan yang cukup rapi dan memikat ini menunjukkan bahwa pada masa pembuatan candi ini memiliki pemahat dan ahli plester bangunan
yang sangat cakap.
Ditambahkan menurut Bernet, Candi Kalasan dulunya ditutup oleh stucco seluruhnya, seperti juga candi-candi yang lain. Sedangkan
penghalusan bagian-bagian candi ditambahkan batu penutup yang terbuat dari batu kapur.
Di dalam bangunan candi yang tampak sekarang, ternyata ada kontruksi yang lebih tua. Karena itu beberapa ahli mengatakan bahwa
banguna yang ada sekarang itu merupakan bangunan tambahan di sekitar abad ke-9. Bangunan aslinya jelas memiliki usia yang lebih tua
daripada itu.
Denah kaki Candi Kalasan terletak di atas lapik berbentuk bujur sangkar. Dasar candi juga berbentuk bujur sangkar. Pada kaki candi terdapat
makara. Di sekeliling kaki ada hiasan jambangan. Tubuh candi bujur sangkar dengan penampil-penampil yang menjorok ke luar di tengah
sisinya. Dilengkapi sebuah singgasana yang dihiasi singha berdiri di atas punggung seekor gajah.
Bagian luar candi, terdapat relung yang dihiasi gambar dewa memegang bunga teratai. Pada setiap pintu masuk terdapat hiasan kepala kala
yang di jenggernya terdapat kuncup bunga. Pohon dewata ada di atasnya dan para penghuni kahyangan memainkan bunyi-bunyian seperti
rebab, gendang, kerang, dan cemara.
Atap candinya terdapat hiasan Gana. Atapnya berbentuk segi delapan dan bertingkat dua. Di tingkat pertama terdapat arca Budha. Pada
keliling candi terdapat bangunan stupa setinggi 4,6 meter sebanyak 52 buah.
Keindahan candi Kalasan ini masih bisa dinikmati terutama pada bagian selatan candi. Terdapat Banaspati yang besar, lajur yang tegak lurus
dihiasi dengan sulur-sulur dan makara-makara, yang merupakan termasuk hasil kesenian Jawa pada masa Hindu yang terbaik. Keistimewaan
lain adalah Makaranya menghadap ke dalam dan keluar dan di atas kepala Kala terdapat lukisan berbentuk atap candi yang menjulang tinggi.
Bila candi ini dilihat dari dalam, candi ini disusun dari tumpukan batu-batuan yang saling terkait dan melebar ke bawah.
Sekalipun candi ini telah dipugar pada tahun 1927 dan pada tahun 1929, namun masyarakat tetap akan menemui kesulitan untuk melihat
keindahan Candi Kalasan ini. Itu karena ada bagian-bagian yang terpaksa tidak dapat dikembalikan seperti sedia kala, disebabkan karena
banyak batu -batu aslinya yang hilang.
7. Candi Plaosan
Candi Plaosan (Hanacaraka:ꦕꦤ꧀ꦝꦶꦥ꧀ꦭꦲꦺꦴꦱꦤ꧀, Candhi Plaosan) adalah sebutan untuk kompleks percandian yang terletak
di Dukuh Plaosan, Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Candi ini terletak kira-kira
satu kilometer ke arah timur-laut dari Candi Sewu atau Candi Prambanan. Adanya kemuncak stupa, arca Buddha, serta candi-candi perwara
(pendamping/kecil) yang berbentuk stupa menandakan bahwa candi-candi tersebut adalah candi Buddha. Kompleks ini dibangun pada abad
ke-9 oleh Raja Rakai Pikatan[1] dan Sri Kahulunan pada zaman Kerajaan Medang, atau juga dikenal dengan nama Kerajaan Mataram Kuno.
Kompleks Candi Plaosan terdiri atas Candi Plaosan Lor dan Candi Plaosan Kidul. Pada masa lalu, Kompleks percandian ini dikelilingi oleh
parit berbentuk persegi panjang. Sisa struktur tersebut masih bisa dilihat sampai saat ini di bagian timur dan barat candi.
Candi Plaosan merupakan salah satu wisata pendidikan dan religi di Jawa Tengah. [2]
Candi Plaosan Kidul merupakan candi bercorak Hindu di Klaten, Jawa Tengah
Berbeda dari Candi Plaosan Lor, Candi Plaosan Kidul belum diketahui memiliki candi induk. Pada kompleks ini terdapat beberapa perwara
berbentuk candi dan stupa. Sebagian di antara candi perwara telah dipugar.
Festival Candi Kembar merupakan acara tahunan yang diadakan di candi ini dengan menampilkan berbagai macam tarian dari seluruh
nusantara. Festival ini merupakan satu-satunya festival budaya skala besar yang diadakan di Klaten. [3] Kegiatan ini merupakan bagian dari
rangkaian peluncuran desa wisata yang bekerja sama dengan ISI Surakarta.[butuh rujukan]
Dalam kegiatan ini, Bupati Klaten Sri Hartini mengapresiasi kegiatan Festival Candi Kembar yang berlangsung di Bugisan. Ia berharap
kegiatan yang akan berlangsung sekitar satu bulan menjadi salah satu bentuk promosi potensi wisata yang ada di wilayah tersebut. [4]
Galeri
8. Candi Jago
Menurut kitab Negarakertagama pupuh 41:4 dan Pararaton, nama Candi Jago sebenarnya berasal dari kata "Jajaghu", yang didirikan pada
masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13 sebagai penghormatan bagi Raja ketiga Singhasari, Wisnuwardhana. Jajaghu, yang artinya
adalah 'keagungan', merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tempat suci. Candi ini berlokasi di Dusun Jago, Desa
Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur atau sekitar 22 km dari Kota Malang, pada koordinat
8°0′20.81″S 112°45′50.82″E.
Candi Jago berlatar agama Buddha Tatrayana. Salah satu ciri dari agaama Buddha Tatrayana adalah arcanya yang berbentuk amoghapasa,
bentuk Tatris dari awaloketeswara disertai pengiring-pengiring nya. Arca tersebut merupakan arca dari perwujudan dari raja keempat
singasari yang bernama Raja Wisnuwarddhana, yang meninggal tahun 1190 Saka (1280 Masehi)
Candi ini cukup unik, karena bagian atasnya hanya tersisa sebagian dan menurut cerita setempat karena tersambar petir. Relief-
relief Kunjarakarna dan Pancatantra dapat ditemui di candi ini. Secara keseluruhan bangunan candi ini tersusun atas bahan batu andesit.
Pada candi inilah Adityawarman kemudian menempatkan Arca Manjusri seperti yang disebut pada Prasasti Manjusri. Sekarang Arca ini
tersimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris D. 214.
Salah satu patung yang awalnya terdapat pada Candi Jago, yang merupakan perlambangan Dewi Bhrkuti
Pada teras ketiga terdapat cerita Arjunawiwaha yang meriwayatkan perkawinan Arjuna dengan Dewi Suprabha sebagai hadiah dari Bhatara
Guru setelah Arjuna mengalahkan raksasa Niwatakawaca.
Hiasan pada badan Candi Jago tidak sebanyak pada kakinya. Yang terlihat pada badan adalah relief adegan Kalayawana, yang ada
hubungannya dengan cerita Kresnayana. Relief ini berkisah tentang peperangan antara raja Kalayawana dengan Kresna. Sedangkan pada
bagian atap candi yang dikirakan dulu dibuat dari atap kayu/ijuk, sekarang sudah tidak ada bekasnya.
Asal Usul
Masih menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, pembangunan Candi Jago atas perintah Raja Kertanagara ini berlangsung sejak tahun
1268 M sampai dengan tahun 1280 M, sebagai penghormatan bagi ayahandanya Raja Singasari ke-4, Sri Jaya Wisnuwardhana, yang
mangkat pada tahun 1268. Walaupun dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari, disebutkan dalam kedua kitab tersebut bahwa
Candi Jago selama tahun 1359 M merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan Majapahit.
Keterkaitan Candi Jago dengan Kerajaan Singasari terlihat juga dari pahatan padma (teratai), yang menjulur ke atas dari bonggolnya, yang
menghiasi tatakan arca-arcanya. Motif teratai semacam itu sangat populer pada masa Kerajaan Singasari.
Candi jago pertama kali dipublikasikan oleh Stamford Raffles dalam sebuah buku yang diterbitkan nya yang berjudul History of Java (1917),
namun siapa yang menemukan nya pertama kali masih belum diketahui. Sebelumnya candi ini juga pernah diteliti oleh R.H.T Friederich
(1854), J.F.G Brumund (1855), Fergusson (1876), dan Veth (1878). J.L.A Brandes kemudian melakukan penelitian dan menerbitkan buku
yang berjudul Jago Monografi (1904)[1]
Yang perlu dicermati dalam sejarah Candi Jago adalah adanya kebiasaan raja-raja zaman dahulu untuk memugar(memperbaiki) candi-candi
yang didirikan oleh raja-raja sebelumnya. Candi Jago juga telah mengalami pemugaran pada tahun 1343 M atas perintah Raja Adityawarman
dari Melayu yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja Hayam Wuruk. [2]
Adityawarman pun mendirikan candi tambahan dan menempatkan Arca Manjusri. [3]
9. Candi Muaro Jambi adalah sebuah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di asia tenggara, dengan luas
3981 hektar. yang kemungkinan besar merupakan peninggalan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Melayu. Kompleks
percandian ini terletak di Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, Indonesia, tepatnya di tepi Batang
Hari, sekitar 26 kilometer arah timur Kota Jambi. Koordinat Selatan 01* 28'3" Timur 103* 40'04". Candi tersebut
diperkirakakn berasal dari abad ke- 7 - 12 M. Candi Muara Jambi merupakan kompleks candi yang terbesar dan yang
paling terawat di pulau Sumatra. Dan sejak tahun 2009 Kompleks Candi Muaro Jambi telah dicalonkan
ke UNESCO untuk menjadi Situs Warisan Dunia.
Deskripsi situs
Candi Muara Takus adalah situs candi tertua di Sumatra, merupakan satu-satunya situs peninggalan sejarah yang berbentuk candi di Riau.
Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti bahwa agama Buddha pernah berkembang di kawasan ini.
Candi ini dibuat dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Berbeda dengan candi yang ada di Jawa, yang dibuat dari batu andesit yang
diambil dari pegunungan. Bahan pembuat Candi Muara Takus, khususnya tanah liat, diambil dari sebuah desa yang bernama Pongkai,
terletak kurang lebih 6 km di sebelah hilir situs Candi Muara Takus. Nama Pongkai kemungkinan berasal dari Bahasa Tionghoa, Pong berati
lubang dan Kai berarti tanah, sehingga dapat bermaksud lubang tanah, yang diakibatkan oleh penggalian dalam pembuatan Candi Muara
Takus tersebut. Bekas lubang galian itu sekarang sudah tenggelam oleh genangan waduk PLTA Koto Panjang. Namun dalam Bahasa Siam,
kata Pongkai ini mirip dengan Pangkali yang dapat berarti sungai, dan situs candi ini memang terletak pada tepian sungai.
Bangunan utama di kompleks ini adalah sebuah stupa yang besar, berbentuk menara yang sebagian besar terbuat dari batu bata dan
sebagian kecil batu pasir kuning. Di dalam situs Candi Muara Takus ini terdapat bangunan candi yang disebut dengan Candi Tua, Candi
Bungsu, Stupa Mahligai serta Palangka. Selain bangunan tersebut di dalam komplek candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan
sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Sementara di luar situs ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu
bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.
Arsitektur
Candi Muara Takus merupakan salah satu bangunan suci agama Budha yang ada di Riau. Ciri yang menunjukkan bangunan suci tersebut
merupakan bangunan agama Budha adalah stupa. Bentuk stupa sendiri berasal dari seni India awal, hampir merupakan anak bukit buatan
yang berbentuk setengah lingkaran tertutup dengan bata atau timbunan dan diberi puncak meru. Stupa adalah ciri khas bangunan suci
agama Budha dan berubah-ubah bentuk dan fungsinya dalam sejarahnya di India dan di dunia Budhisme lainnya. Berdasarkan fungsinya
stupa dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu:
Arsitektur bangunan stupa Candi Muara Takus sendiri sangatlah unik karena tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia. Bentuk candi ini
memiliki kesamaan dengan stupa Budha di Myanmar, stupa di Vietnam, Sri Lanka atau stupa kuno di India pada periode Ashoka, yaitu stupa
yang memiliki ornamen sebuah roda dan kepala singa, hampir sama dengan arca yang ditemukan di kompleks Candi Muara Takus.
Patung singa sendiri secara filosofis merupakan unsur hiasan candi yang melambangkan aspek baik yang dapat mengalahkan aspek jahat
atau aspek ‘terang’ yang dapat mengalahkan aspek ‘jahat’. Dalam ajaran agama Budha motif hiasan singa dapat dihubungkan maknanya
dengan sang Budha, hal ini terlihat dari julukan yang diberikan kepada sang Budha sebagai ‘singa dari keluarga Sakya’. Serta ajaran yang
disampaikan oleh sang Budha juga diibaratkan sebagai ‘suara’ (simhanada) yang terdengar keras di seluruh penjuru mata angin.
Dalam naskah Silpa Prakasa dituliskan bahwa terdapat empat tipe singa yang dianggap baik, antara lain:
1. Udyatā: singa yang digambarkan di atas kedua kaki belakang, badannya dalam posisi membalik dan melihat ke belakang. Sikap ini
disebut simhavalokana.
2. Jāgrata: singa yang digambarkan dengan wajah yang sangat buas (mattarūpina). Ia bersikap duduk dengan cakarnya diangkat ke
atas. Sering disebut khummana simha.
3. Udyatā: singa yang digambarkan dalam sikap duduk dengan kaki belakang dan biasanya ditempatkan di atas suatu tempat yang
tinggi. Terkenal dengan sebutan jhmpa-simha.
4. Gajakrānta: singa yang digambarkan duduk dengan ketiga kakinya di atas raja gajah. Satu kaki depannya diangkat di depan dada
seolah-olah siap untuk menerkam. Singa ini disebut simha kunjara.
Di kompleks Candi Muara Takus sendiri terdapat dua candi yang memiliki patung singa, yaitu Candi Sulung dan Candi Mahligai. Di Candi
Sulung arca singa ditemukan di depan candi atau di tangga masuk candi tersebut. Di Candi Mahligai arca singa ditemukan di keempat sudut
pondasinya. Penempatan patung singa ini, berdasarkan konsep yang berasal dari kebudayaan India, dimaksudkan untuk menjaga bangunan
suci dari pengaruh jahat karena singa merupakan simbol dari kekuatan terang atau baik.
Berdasarkan penelitian R.D.M. Verbeck dan E. Th. van Delden diduga bahwa bangunan Candi Muara Takus dahulunya merupakan bangunan
Buddhis yang terdiri dari biara dan beberapa candi.
11. CANDI PRAMBANAN
Candi Prambanan dibangun sekitar pertengahan abad ke-9. Candi Hindu terbesar di Indonesia ini diduga dibangun oleh raja dari Wangsa
Sanjaya, yaitu Raja Balitung Maha Sambu.
Dugaan tentang pembangunan Candi Prambanan didasarkan pada isi Prasasti Syiwagrha yang ditemukan di sekitar Prambanan. Prasasti
berangka tahun 778 Saka (856 Masehi) ini dibuat pada periode kepemimpinan Rakai Pikatan, seperti dikutip dari laman Borobudur Park.
Prasasti Syiwagrha yang ditemukan di sekitar Prambanan dan saat ini tersimpan di Museum Nasional di Jakarta. Prasasti berangka tahun 778
Saka (856 M) ini ditulis pada masa pemerintahan Rakai Pikatan.
Menjadi Kompleks
Bangunan Candi Prambanan disempurnakan terus-menerus oleh raja-raja Medang Mataram, seperti Raja Daksa dan Raja Tulodong.
Pembangunan kompleks Candi Prambanan juga diperluas dengan membangun ratusan candi tambahan di sekitar candi utama. Candi ini juga
berfungsi sebagai tempat pergelaran upacara-upacara penting Kerajaan Mataram.
Kompleks Candi Prambanan punya empat arah penjuru mata angin. Candi utama menghadap ke timur. Kompleks candi sendiri terdiri dari 3
Candi Trimurti, yaitu Candi Syiwa, Wisnu, dan Brahma, lalu 3 Candi Wahana yaitu Candi Nandi, Garuda, dan Angsa, 2 Candi Apit di antara
candi-candi Trimurti dan Wahana di utara dan sekatan, 4 Candi Kelir di 4 mata angin tempat di belakang pintu masuk zona inti, 4 Candi Patoh
di 4 sudut zona inti, dan 224 Candi Perwara.
Candi Perwara tersusun dalam 4 bagian memusat dengan jumlah candi per baris sebanyak 44, 52, 60, dan 68 candi. Dengan demikian, ada
20 candi di Candi Prambanan.
Ciri khas arsitektur Candi Prambanan yaitu berpedoman pada tradisi akstektur Hindu dalam kitab Wastu Sastra. Candinya mengikuti pola
mandala dan tinggi menjulang khas Hindu.
Bentuk Candi Prambanan mengikuti gunung suci Mahameru yang disebut sebagai tempat dewa bersemayam. Model kompleksnya sendiri
mengikuti model alam semesta yang menurut konsep kosmologi Hindu terbagi atas beberapa lapisan tanah, alam, atau loka.
Penggalian lalu dilakukan pada tahun 1880-an. Namun, upaya ini malah menyuburkan penjarahan ukiran dan batu candi, seperti dikutip dari
Wisata Ziarah oleh Gagas Ulung.
Dokter Belanda pemerhati arkeologi dan budaya Isaac Groneman lalu melakukan pembongkaran besaran pada candi ini. Batu-batu candi
diletakkan sembarangan di sepanjang Sungai Opak. Arca dan relief candi diambil warga Belanda untuk dijadikan hiasan taman. Sementara
itu, batu candi digunakan warga lokal untuk bahan bangunan dan fondasi rumah.
Pada 1902-1903, pemimpin pemugaran Candi Borobudur Theodoor van Erp mulai memelihara bagian Candi Prambanan yang rawan runtuh.
Pemeliharaan dilanjutkan pada 1918 oleh Jawatan Purbakala (Oudhiedkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara sesuai kaidah
arkeologi.
Perawatan Candi Prambanan diteruskan De Haan pada 1926 hingga akhir hayat pada 1930. Ia digantikan Ir. V.R. van Romondt hingga 1942.
Renovasi Candi Prambanan lalu diserahkan pada Pemerintah Indonesia dan berlanjut hingga 1993. Pemugaran Candi Syiwa, candi utama
kompleks Candi Prambanan sendiri rampung pada 1953.
Pada 1999, Candi Prambanan ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO.
Sementara itu, legenda Rara Jonggrang mengisahkan tentang candi-candi Bandung Bondowoso yang tidak rampung dan kini dikenal sebagai
Candi Sewu. Arca Durga di ruang utara candi utama Prambanan sendiri disebut sebagai perwujudan Rara Jonggrang yang dikutuk menjadi
batu karena ingkar janji.
satu bangunan keagamaan tertua yang masih bertahan yang pernah dibangun di Jawa.
Nama sebenarnya dari candi tersebut, sejarah, dan raja yang bertanggung jawab atas pembangunan candi-candi ini tidak
diketahui. Hal ini dikarenakan kelangkaan data dan prasasti yang menjelaskan terkait pembangunan candi-candi ini.
Penduduk Jawa lokal menamakan setiap candi sesuai dengan tokoh wayang Jawa, kebanyakan diambil dari
epos Mahabharata.
Sejarah
Candi Puntadewa tahun 1864
Kompleks candi ini dibangun pada kisaran pertengahan abad ke-7 sampai akhir abad ke-8 Masehi, namun perkiraan
tersebut tidak menjelaskan secara pasti terkait kapan candi-candi tersebut selesai dibangun. Kompleks tersebut
merupakan bangunan menhir tertua yang diketahui di Jawa Tengah.[3][4] Diperkirakan semula terdapat sebanyak 400
candi, tetapi hanya delapan yang tersisa saat ini.
Setelah mempelajari gaya arsitektur candi Jawa, arkeolog mengelompokkan Kompleks Candi Dieng ke dalam gaya
arsitektur Jawa Tengah bagian Utara, bersamaan dengan Candi Gedong Songo, Candi Badut di Jawa Timur, serta Candi
Cangkuang dan Candi Bojongmenje di Jawa Barat. Selain itu, para arkeolog juga mengemukakan bahwa semua candi
pada kompleks ini dibangun dalam periode yang sama, berkisar antara abad ke-7 sampai abad ke-8. Sebuah prasasti
bertarikh sekitar tahun 808-809 M yang ditemukan di dekat Candi Arjuna, Dieng, menjadi salah satu contoh aksara Jawa
kuno tertua yang masih bertahan. Prasasti tersebut mengungkapkan bahwa Candi Dieng terus dihuni dari pertengahan
abad ke-7 sampai awal abad ke-9.[5]
Candi-candi Dieng ditemukan kembali pada 1814 oleh seorang tentara Britania yang berkunjung yang melihat reruntuhan
candi berada di tengah danau. Saat itu dataran sekitar Candi Arjuna kebanjiran dan membentuk danau kecil. Pada
1856, Isidore van Kinsbergen memimpin upaya mengeringkan danau untuk mengungkap secara utuh candi-candi
tersebut. Pemerintah Hindia Belanda melanjutkan proyek rekonstruksi pada 1864, dilanjutkan dengan studi lebih lanjut
dan foto-foto yang diambil oleh Van Kinsbergen. Candi-candi tersebut saat ini diyakini telah dinamai sesuai dengan para
pahlawan dari epos Hindu Mahabharata.[6]
Arsitektur
Arsitektur candi Jawa Tengah bagian Utara terkenal karena ukurannya yang lebih kecil, sederhana, dan ornamen yang
relatif kurang dibandingkan dengan candi-candi besar dan kaya akan dekorasi di Jawa Tengah bagian Selatan, seperti
Candi Kalasan, Sewu, dan Prambanan.[7] Candi-candi di Jawa Tengah bagian Utara dikelompokkan dalam kelompok yang
tidak beraturan, dengan variasi gaya candi masing-masing. Hal ini berbeda dengan rancangan mandala konsentris candi-
candi Jawa Tengah bagian Selatan, dengan desain perwara sebagai candi kecil pelengkap yang seragam.
Penggunaan arsitektur topeng kala Jawa paling awal dan monster laut Makara ditampilkan di sepanjang relung dan pintu
keluar masuk dari bangunan-bangunan yang tersisa.[8]
Bangunan-bangunan Dieng kecil dan relatif sederhana, namun arsitektur batu berkembang secara substansial hanya
dalam hitungan dekade menghasilkan mahakarya seperti kompleks Candi Prambanan dan Candi Borobudur.
13. CANDI JAGO
Candi Jago terletak di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, tepatnya 22 km ke arah timur dari Kota Malang. Karena
letaknya di Desa Tumpang, candi ini sering juga disebut Candi Tumpang. Penduduk setempat menyebutnya Cungkup.
Menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, nama candi ini yang sebenarnya adalah Jajaghu. Dalam pupuh 41 gatra ke-4 Negarakertagama dijelaskan
bahwa Raja Wisnuwardhana yang memerintah Singasari menganut agama Syiwa Buddha, yaitu suatu aliran keagamaan yang merupakan perpaduan antara
ajaran Hindu dan Buddha. Aliran tersebut berkembang selama masa pemerintahan Kerajaan Singasari, sebuah kerajaan yang letaknya sekitar 20 km dari
Candi Jago. Jajaghu, yang artinya adalah 'keagungan', merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut tempat suci.
Masih menurut kitab Negarakertagama dan Pararaton, pembangunan Candi Jago berlangsung sejak tahun 1268 M sampai dengan tahun 1280 M, sebagai
penghormatan bagi Raja Singasari ke-4, yaitu Sri Jaya Wisnuwardhana. Walaupun dibangun pada masa pemerintahan Kerajaan Singasari, disebut dalam
kedua kitab tersebut bahwa Candi Jago selama tahun 1359 M merupakan salah satu tempat yang sering dikunjungi Raja Hayam Wuruk dari Kerajaan
Majapahit. Keterkaitan Candi Jago dengan Kerajaan Singasari terlihat juga dari pahatan padma (teratai), yang menjulur ke atas dari bonggolnya, yang
menghiasi tatakan arca-arcanya. Motif teratai semacam itu sangat populer pada masa Kerajaan Singasari. Yang perlu dicermati dalam sejarah candi adalah
adanya kebiasaan raja-raja zaman dahulu untuk memugar candi-candi yang didirikan oleh raja-raja sebelumnya. Diduga Candi Jago juga telah mengalami
pemugaran pada tahun 1343 M atas perintah Raja Adityawarman dari Melayu yang masih memiliki hubungan darah dengan Raja Hayam Wuruk.
Saat ini Candi Jago masih berupa reruntuhan yang belum dipugar. Keseluruhan bangunan candi berbentuk segi empat dengan luas 23 x 14 m. Atap candi
sudah hilang, sehingga tinggi bangunan aslinya tidak dapat diketahui dengan pasti. Diperkirakan bahwa tingginya mencapai 15 m.
Bangunan candi menghadap ke barat, berdiri di atas batur setinggi sekitar 1 m dan kaki candi yang terdiri atas 3 teras bertingkat. Makin ke atas, teras kaki
candi makin mengecil sehingga pada lantai pertama dan kedua terdapat selasar yang dapat dilewati untuk mengelilingi candi. Garba ghra (ruang utama)
terletak bergeser agak ke belakang.
Bentuk bangunan bersusun, berselasar dan bergeser ke belakang merupakan bentuk yang umum ditemui pada bangunan pada zaman megalitikum, yaitu
yang disebut sebagai bangunan punden berundak. Bentuk itu umumnya digunakan dalam membangun tempat pemujaan arwah leluhur. Menilik
bentuknya, diperkirakan bahwa tujuan pembangunan Candi Jago adalah juga untuk tempat pemujaan arwah leluhur. Namun masih diperlukan penelitian
dan pengkajian lebih lanjut untuk membuktikan kebenarannya.
Untuk naik ke lantai yang lebih atas, terdapat dua tangga sempit di sisi kiri dan kanan bagian depan (barat). Lantai yang terpenting peranannya dan tersuci
adalah yang paling atas, dengan bangunan yang letaknya sedikit bergeser ke belakang.
Candi Jago dipenuhi dengan panel-panel relief yang terpahat rapi mulai dari kaki sampai ke dinding ruangan teratas. Hampir tidak terdapat bidang yang
kosong, karena semua terisi dengan aneka ragam hiasan dalam jalinan cerita-cerita yang mengandung unsur pelepasan kepergian. Hal ini menguatkan
dugaan bahwa pembangunan Candi Jago berkaitan erat dengan wafatnya Sri Jaya Wisnuwardhana. Sesuai dengan agama yang dianut oleh Raja
Wisnuwardhana, yaitu Syiwa Buddha, maka relief pada Candi Jago mengandung ajaran Hindu maupun Buddha.
Ajaran Buddha tercermin dalam relief cerita Tantri Kamandaka dan cerita Kunjarakarna yang terpahat pada teras paling bawah. Pada dinding teras kedua
terpahat lanjutan cerita Kunjarakarna dan petikan kisah Mahabarata yang memuat ajaran agama Hindu, yaitu Parthayajna dan Arjuna Wiwaha. Teras ketiga
dipenuhi dengan relief lanjutan cerita Arjunawiwaha. Dinding tubuh candi juga dipenuhi dengan pahatan relief cerita Hindu, yaitu peperangan Krisna dengan
Kalayawana.
Di tengah pelataran depan, sekitar 6 m dari kaki candi, terdapat batu besar yang dipahat menyerupai bentuk tatakan arca raksasa, dengan diameter batu
sekitar 1 m. Di puncaknya terdapat pahatan bunga padma yang menjulur dari bonggolnya.
Di sisi barat halaman candi terdapat arca Amoghapasa berlengan delapan dilatarbelakangi singgasana berbentuk kepala raksasa yang saling membelakangi.
Kepala arca tersebut telah hilang dan lengan-lengannya telah patah. Sekitar 3 m di selatan arca ini terdapat arca kepala rasaksa setinggi sekitar 1 m. Tidak
didapat informasi apakah benda-benda yang terdapat di pelataran candi tersebut memang aslinya berada di tempatnya masing-masing.
14. Candi Sukuh adalah sebuah kompleks candi Hindu Hindu yang secara administrasi terletak di wilayah Desa Berjo, Kecamatan
Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini dianggap kontroversial karena bentuknya yang kurang lazim dan karena
penggambaran alat-alat kelamin manusia secara eksplisit pada beberapa figurnya.
Lokasi candi
Lokasi candi Sukuh terletak di lereng kaki Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut pada koordinat
07o37, 38’ 85’’ Lintang Selatan dan 111o07,. 52’65’’ Bujur Barat. Candi ini terletak di Dukuh Sukuh, Desa Berjo,
Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 20 kilometer dari Kota Karanganyar dan 36
kilometer dari Surakarta.
Panel pertama.
Di bagian kiri dilukiskan sang Sahadewa atau Sadewa, saudara kembar Nakula dan merupakan yang termuda dari para Pandawa Lima.
Kedua-duanya adalah putra Prabu Pandu dari Dewi Madrim, istrinya yang kedua. Madrim meninggal dunia ketika Nakula dan Sadewa masih
kecil dan keduanya diasuh oleh Dewi Kunti, istri utama Pandu. Dewi Kunti lalu mengasuh mereka bersama ketiga anaknya dari
Pandu: Yudhistira, Bima dan Arjuna. Relief ini menggambarkan Sadewa yang sedang berjongkok dan diikuti oleh seorang punakawan atau
pengiring. Berhadapan dengan Sadewa terlihatlah seorang tokoh wanita yaitu Dewi Durga yang juga disertai seorang punakawan .
15. Candi Penataran atau Candi Palah merupakan kompleks candi Hindu Siwa yang terletak di Desa Penataran,
Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Salah satu kompleks candi Hindu termegah dan terluas di Jawa
Timur ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud. Candi Penataran dibangun pada masa Kerajaan Kediri, tepatnya
periode pemerintahan Raja Srengga (1190-1200) pada sekitar abad ke-12. Uniknya, Candi Penataran digunakan pada
masa Kerajaan Majapahit, dibuktikan dengan keterangan di Kitab Negarakertagama. Dalam Kitab Negarakretagama,
candi ini disebut Candi Palah, yang dikunjungi Raja Hayam Wuruk dalam perjalanannya keliling Jawa Timur. Baca juga:
Candi Cangkuang: Sejarah, Fungsi, dan Bentuk Bangunan Sejarah Candi Penataran Para ahli arkeologi meyakini bahwa
Candi Penataran dulunya dinamakan sebagai Candi Palah. Hal ini didukung dengan narasi pada Prasasti Palah yang
berangka 1194. Tujuan dibangunnya Candi Penataran adalah sebagai candi gunung untuk upacara pemujaan guna
menangkal bahaya Gunung Kelud. Fungsi Candi Penataran sebagai tempat ibadah juga masih digunakan pada masa
Raja Hayam Wuruk dari Majapahit. Hal ini seperti diceritakan dalam Kitab Negarakretagama, bahwa Raja Hayam Wuruk
pernah mengunjungi Candi Penataran untuk melakukan pemujaan terhadap Hyang Acalapat (perwujudan Siwa sebagai
Girindra atau Dewa Penguasa Gunung). Nama Girindra yang disebut dalam Negarakretagama mirip dengan gelar Ken
Arok saat menjadi Raja Singasari. Hal itu menimbulkan perdebatan di kalangan ahli bahwa Candi Penataran adalah
tempat pendharmaan atau perabuan Ken Arok. Baca juga: Ken Arok: Asal-usul, Pengkhianatan, dan Akhir Hidup
Pasalnya, Girindra merupakan nama salah satu wangsa yang diturunkan oleh Ken Arok selain Rajasa dan Wardhana.
Sedangkan Hyang Acalapati adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, serupa dengan peneladanan sifat-sifat
Bathara Siwa yang konon dijalankan Ken Arok. Pada 1286, dibangun Candi Naga di kompleks Candi Penataran oleh
penguasa terakhir Singasari, yaitu Raja Kertanegara. Setelah runtuhnya Singasari, Candi Penataran tidak terawat. Baru
pada masa pemerintahan Jayanegara, raja kedua Majapahit, candi ini kembali mendapatkan perhatian. Pada periode
Kerajaan Majapahit, Candi Penataran bahkan diresmikan sebagai candi negara yang diketahui kerap dikunjungi Raja
Hayam Wuruk. Sedangkan dalam catatan Sunda abad ke-15 yang merekam perjalanan bangsawan Kerajaan Sunda
bernama Bujangga Manik, Candi Palah disebut sebagai tempat belajar agama dan ziarah. Dalam catatannya, Bujangga
Manik sempat tinggal sekitar setahun, kemudian pergi karena candi bercorak Hindu ini dimanfaatkan para peziarah untuk
kebutuhan duniawi. Setelah sekian lama tidak terawat, pertama kali Candi Penataran ditemukan oleh Thomas Stamford
Raffles pada 1815. Baca juga: Candi Arjuna: Sejarah dan Fungsinya Kompleks bangunan Kompleks bangunan Candi
Penataran menempati area tanah seluas hampir 13.000 meter persegi yang dibagi menjadi tiga bagian, yaitu halaman
tengah, depan, dan belakang, yang dipisahkan oleh dua dinding. Susunan bangunan yang sangat unik dan tidak tersusun
simetris membuktikan bahwa pembangunan kompleks candi ini terjadi tidak dalam satu periode. Halaman depan Di
halaman depan terdapat pintu gerbang yang diapit diapit oleh dua Arca Dwarapala sebagai penjaga pintu berangka tahun
1242 Saka atau 1320 M. Pada halaman ini terdapat beberapa bangunan, seperti Bale Agung, pendopo teras, dan Candi
Candra Sengkala. Baca juga: Candi Gedong Songo: Sejarah, Fungsi, dan Kompleks Bangunan 1. Bale Agung Lokasi
Bale Agung terletak di bagian barat laut halaman depan, posisinya sedikit menjorok ke depan. Bangunan seluruhnya
terbuat dari batu dengan diding polos yang dilengkapi empat buah tangga. Adapun fungsi Bale Agung diperkirakan
sebagai tempat musyawarah para pendeta. 2. Pendopo teras Pendopo teras berupa batu berbentuk empat persegi
panjang yang berada di sebelah tenggara Bale Agung. Bangunan berangka tahun 1297 Saka atau 1375 Masehi ini
diperkirakan digunakan sebagai tempat untuk meletakkan sesaji dalam upacara keagamaan atau tempat peristirahatan
raja dan bangsawan lainnya. Pada dinding pendopo teras terdapat relief-relief yang menceritakan berbagai kisah, di
antaranya adalah cerita Bubhuksah dan Gagang Aking (Bela-belu dan Dami Aking), Sang Satyawan, dan Sri Tanjung.
Baca juga: Kisah Roro Jonggrang, Legenda di Balik Candi Prambanan 3. Candi Candra Sengkala Masyarakat Jawa
Timur mengenal Candi Candra Sengkala dengan sebutan Candi Brawijaya. Selain itu, ada pula yang menyebut candi
berangka tahun 1291 Saka atau 1369 M ini sebagai Candi Ganesha, karena di dalam biliknya terdapat sesosok arca
Ganesha. Lokasi candi ini berada di sebelah tenggara bangunan pendopo teras, di mana di sebelah kirinya terdapat arca
wanita yang ditafsirkan sebagai perwujudan Gayatri Rajapatni. Halaman tengah Memasuki halaman kedua dari Candi
Penataran, terdapat dua buah arca Dwarapala dalam ukuran yang lebih kecil daripada di pintu masuk candi. Dwarapala
ini terpahat angka tahun 1214 Saka atau 1319 Masehi, setahun lebih tua dibanding Dwarapala di pintu masuk. Halaman
tengah atau halaman kedua ini terdapat Candi Naga dan fondasi bata yang terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan
oleh tembok bata. Baca juga: Candi Sumberjati: Sejarah Berdirinya, Letak, dan Fungsi 1. Candi Naga Penampakan Candi
Naga saat ini hanya tersisa bagian kaki dan badan dengan ukuran lebar 4,83 meter, panjang 6,57 meter, dan tinggi 4,70
meter. Penamaan Candi Naga diambil dari sekeliling tubuh candi yang berhiaskan lilitan naga dan disangga tokoh-tokoh
berbusana seperti raja sebanyak sembilan buah. Selain itu, masing-masing dinding tubuh candi dihiasi dengan relief-relief
buatan yang disebut dengan motif medalion. 2. Fondasi bata Di halaman tengah terdapat sebuah fondasi dari bata yang
diperkirakan sebagai pintu masuk. Pada bagian sudut barat halaman ini, terdapat sekumpulan ambang pintu yang
terlepas dari bangunan aslinya dan dua arca Dwarapala berangka tahun 1242 Saka, yang terletak di pintu masuk ke
halaman ketiga dan mungkin bekas sebuah gapura paduraksa. Baca juga: Candi Ijo: Sejarah, Fungsi, dan Kompleks
Bangunan Halaman belakang Halaman belakang dianggap sebagai tempat paling sakral yang di dalamnya terdapat
bangunan candi utama dan Prasasti Palah. 1. Candi utama Candi induk terdiri dari tiga teras tersusun dengan tinggi 7,19
meter. Pada masing-masing sisi tangga terdapat dua arca Mahakala yang berangka tahun 1269 Saka atau 1347 M. Di
sekeliling dinding candi pada teras pertama terdapat relief Cerita Ramayana. Selain itu ada pula sebuah candi kecil dari
batu yang oleh orang Belanda dulu dinamakan bathara kecil. Tampaknya, candi inilah yang mulanya dibuat bersamaan
dengan Prasasti Palah melalui upacara pratistha. Di belakang bangunan candi ini juga terdapat sebuah kolam berangka
tahun 1337 Saka atau 1415 Masehi. Baca juga: Perbedaan Candi di Jawa Tengah dan Jawa Timur 2. Prasasti Palah
Prasasti Palah adalah prasasti berangka tahun 1119 Saka atau 1197 Masehi yang dibuat oleh Raja Srengga dan
ditemukan di halaman Candi Penataran. Pada prasasti ini diterangkan kebahagiaan Kertajaya karena selamat dari
bencana. Rasa senangnya tersebut kemudian dicurahkan dengan membangun prasasti yang tertulis dalam sebuah
linggapala oleh Mpu Amogecwara atau disebut pula Mpu Talaluh.
16. Candi Ijo
adalah sebuah kompleks percandian bercorak Hindu yang diperkirakan dibangun pada abad ke-9 sampai dengan ke-10.
Letak candi ini berada di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah
Istimewa Yogyakarta. Candi ini berada di lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian perbukitan Batur
Agung, kira-kira sekitar 4 kilometer arah tenggara Candi Ratu Boko. Berdasarkan penelusuran sejarah, diperkirakan
Candi Ijo dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno di bawah pemerintahan Rakai Pikatan dan Rakai Kayuwangi.
Baca juga: Candi Arjuna: Sejarah dan Fungsinya Sejarah Candi Ijo Penamaan Candi Ijo bukan diambil dari warnanya
yang hijau, tetapi karena berada di perbukitan Gumuk Ijo, Kabupaten Sleman. Nama tersebut dikukuhkan pada Prasasti
Poh yang bertahun 906. Candi ini dibangun pada era Kerajaan Mataram Kuno pada sekitar pertengahan abad ke-9
hingga awal abad ke-10. Dilihat dari tahun pembangunannya, diperkirakan yang berkuasa saat itu adalah Rakai Pikatan
dan Rakai Kayuwangi. Pada saat pembangunannya, konon menggunakan bebatuan yang diambil dari berbagai tempat,
salah satunya dari Gunung Merapi. Hal itu membuat struktur Candi Ijo kokoh dan bertahan beberapa abad, bahkan
hingga saat ini. Adapun dalam penentuan lokasi pembangunan Candi Ijo memiliki aturan dan syarat yang tertulis dalam
kitab kuno. Salah satu syaratnya adalah lokasi pembangunan harus dekat dengan sumber air dan di atas tanah yang
subur. Baca juga: Candi Gedong Songo: Sejarah, Fungsi, dan Kompleks Bangunan Candi Ijo pertama kali ditemukan oleh
H.E. Dorrepaal pada 1886. Setelah itu, penelitian dilakukan oleh C.A. Rosemeir dan H.L. Heidjie Melville. Sedangkan
penelitian terhadap Candi Ijo baru dilakukan oleh Dinas Purbakala mulai 1958. Setelah itu, dilakukan pemugaran candi
induk yang selesai pada 1997. Pemugaran beberapa struktur di kompleks Candi Ijo terus berlanjut sampai sekarang.
Fungsi Candi Ijo Candi Ijo dibangun sebagai tempat untuk pemujaan para dewa bagi umat Hindu. Hal ini dapat dilihat dari
pembangunan candi yang tidak boleh di sembarang tempat, biasanya memiliki tujuan tersendiri. Seperti pada candi-candi
lainnya, pembangunan Candi Ijo yang berada di atas bukit bertujuan untuk mendekatkan diri ke Kahyangan. Kahyangan
dipercaya umat Hindu sebagai tempat bersemayamnya para dewa. Selain itu, pemilihan lokasi di atas bukit bertujuan
supaya setiap doa yang dipanjatkan cepat dikabulkan oleh dewa. Baca juga: Candi Sumberjati: Sejarah Berdirinya, Letak,
dan Fungsi Kompleks bangunan Struktur Candi Ijo berupa lahan berteras-teras yang dikelilingi tebing yang terdiri dari 17
bangunan candi yang tersebar pada 11 teras. Candi induk Teras paling atas merupakan teras suci, yang terdapat candi
induk dengan ukuran 18,43 x 18,45 meter, dan tinggi 16 meter. Di dalamnya terdapat lingga-yoni, yang berupa benda
silinder atau bentuk lain yang ditegakkan menancap pada benda berbentuk empat persegi panjang. Lingga-yoni itu
melambangkan Dewa Siwa yang menyatu dengan Dewi Parwati. Dinding luar candi terdapat relung yang berisi arca
Agastya, arca Ganesa, dan arca Durga. Candi perwara Di depan candi induk ada tiga candi perwara yang menghadap ke
timur. Di dalam bilik candi perwara selatan yang berukuran 5, 19 x 5, 17 meter, dengan tinggi 6,62 meter, terdapat yoni
dan patmasana (meja batu). Sedangkan candi perwara tengah memiliki ukuran 6,3 x 5,15 meter, dan tinggi 6,5 meter,
yang di dalam biliknya terdapat arca Nandi dan Padmasana. Baca juga: Candi Muara Takus: Sejarah, Fungsi, dan
Bagian-bagiannya Lihat Foto Candi induk dan candi perwara di Kompleks Candi Ijo.(Wikimedia Commons) Candi perwara
utara berdimensi 5,11 x 5, 11 meter, dengan tinggi 6,3 meter yang di dalamnya biliknya terdapat sumuran. Selain candi
induk dan candi perwara, berikut ini bangunan-bangunan dalam kompleks Candi Ijo yang terletak pada masing-masing
teras. Teras kesepuluh, tidak ditemukan adanya bangunan Teras kesembilan, terdapat sisa-sisa batur bangunan yang
menghadap ke timur Teras kedelapan, terdapat tiga buah candi, empat buah batur bangunan, dan dua buah prasasti batu
Teras ketujuh, tidak ditemukan adanya bangunan Teras keenam, tidak ditemukan adanya bangunan Teras kelima,
terdapat satu buah candi dan dua buah batur Teras keempat, terdapat satu buah candi Teras ketiga, tidak ditemukan
adanya bangunan Teras kedua, tidak ditemukan adanya bangunan Teras pertama, terdapat satu buah candi
17. Candi Singasari terletak di Desa Candi Renggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, kurang lebih 9 Km dari kota Malang
ke arah Surabaya. Candi ini juga dikenal dengan nama Candi Cungkup atau Candi Menara, nama yang menunjukkan bahwa Candi
Singasari adalah candi yang tertinggi pada masanya, setidaknya dibandingkan dengan candi lain di sekelilingnya. Akan tetapi, saat
ini di kawasan Singasari hanya candi Singasari yang masih tersisa, sedangkan candi lainnya telah lenyap tak berbekas
Kapan tepatnya Candi Singasari didirikan masih belum diketahui, namun para ahli purbakala memperkirakan candi ini dibangun
sekitar tahun 1300 M, sebagai persembahan untuk menghormati Raja Kertanegara dari Singasari. Setidaknya ada dua candi di Jawa
Timur yang dibangun untuk menghormati Raja Kertanegara, yaitu Candi Jawi dan Candi Singasari. Sebagaimana halnya Candi Jawi,
Candi Singasari juga merupakan candi Syiwa. Hal ini terlihat dari adanya beberapa arca Syiwa di halaman candi
Bangunan Candi Singasari terletak di tengah halaman. Tubuh candi berdiri di atas batur kaki setinggi sekitar 1,5 m, tanpa hiasan
atau relief pada kaki candi. Tangga naik ke selasar di kaki candi tidak diapit oleh pipi tangga dengan hiasan makara seperti yang
terdapat pada candi-candi lain. Pintu masuk ke ruangan di tengah tubuh candi menghadap ke selatan, terletak pada sisi depan bilik
penampil (bilik kecil yang menjorok ke depan). Pintu masuk ini terlihat sederhana tanpa bingkai berhiaskan pahatan. Di atas
ambang pintu terdapat pahatan kepala Kala yang juga sangat sederhana pahatannya. Adanya beberapa pahatan dan relief yang
sangat sederhana menimbulkan dugaan bahwa pembangunan Candi Singasari belum sepenuhnya terselesaikaN
Di kiri dan kanan pintu bilik pintu, agak ke belakang, terdapat relung tempat arca. Ambang relung juga tanpa bingkai dan hiasan
kepala Kala. Relung serupa juga terdapat di ketiga sisi lain tubuh Candi Singasari. Ukuran relung lebih besar, dilengkapi dengan bilik
penampil dan di atas ambangnya terdapat hiasan kepala Kala yang sederhana. Di tengah ruangan utama terdapat yoni yang sudah
rusak bagian atasnya. Pada kaki yoni juga tidak terdapat pahatan apapun.
Sepintas bangunan Candi Singasari terlihat seolah bersusun dua, karena bagian bawah atap candi berbentuk persegi, menyerupai
ruangan kecil dengan relung di masing-masing sisi. Tampaknya relung-relung tersebut semula berisi arca, namun saat ini
kempatnya dalam keadaan kosong. Di atas setiap ambang 'pintu' relung terdapat hiasan kepala Kala dengan pahatan yang lebih
rumit dibandingkan dengan yang ada di atas ambang pintu masuk dan relung di tubuh candi. Puncak atap sendiri berbentuk meru
bersusun, makin ke atas makin mengecil. Sebagian puncak atap terlihat sudah runtuh.
Candi Singasari pernah dipugar oleh pemerintah Belanda pada tahun 1930-an, terlihatan dari pahatan catatan di kaki candi. Akan
tetapi, tampaknya pemugaran yang dilakukan hasilnya belum menyeluruh, karena di sekeliling halaman candi masih berjajar
tumpukan batu yang belum berhasil dikembalikan ke tempatnya semula.
Sekitar 300 m ke arah barat dari Candi Singasari, setelah melalui permukiman yang cukup padat, terdapat dua arca Dwarapala,
raksasa penjaga gerbang, dalam ukuran yang sangat besar. Konon berat masing-masing arca mencapai berat 40 ton, tingginya
mencapai 3,7 m, sedangkan lingkar tubuh terbesar mencapai 3,8 m. Letak kedua patung tersebut terpisah sekitar 20 m (sekarang
dipisahkan oleh jalan raya
Beberapa candi di Jawa Timur, terutama yang terletak di sekitar kota Malang, mempunyai kaitan sejarah yang erat dengan Kerajaan
Singasari. Dinasti Singasari merupakan keturunan Ken Dedes dengan kedua suaminya, Tunggul Ametung akuwu (kepala
pemerintahan setingkat kecamatan) Tumapel dan Ken Arok, rakyat kebanyakan yang membunuh, mengambil alih kekuasaan, dan
sekaligus merebut istri Tunggul Ametung.
Sejarah Kerajaan Singasari ini melahirkan legenda tentang keris buatan Mpu Gandring yang sangat terkenal di kalangan
masyarakat Jawa Timur. Menurut legenda, Ken Arok adalah anak hasil hubungan gelap seorang wanita Desa Panawijen, bernama
Ken Endog, dengan Batara Brahma. Tak lama setelah dilahirkan, bayi Ken Arok dibuang oleh ibunya di sebuah pekuburan,
kemudian ditemukan dan dibawa pulang oleh seorang pencuri ulung. Dari ayah angkatnya inilah Ken Arok belajar tentang segala
siasat dan taktik perjudian, pencurian dan perampokan. Setelah dewasa ia dikenal sebagai perampok yang sangat ditakuti di
wilayah Tumapel. Suatu saat Ken Arok berkenalan dengan seorang brahmana bernama Lohgawe yang menasihatinya agar
meninggalkan dunianya yang hitam. Atas dorongan Lohgawe, Ken Arok berhenti menjadi perampok lalu mengabdikan diri sebagai
prajurit Tumapel.
Pada masa itu yang menjadi akuwu di Tumapel, wilayah Kerajaan Kediri, adalah Tunggul Ametung. Sang Akuwu memperistri Ken
Dedes, putri Mpu Purwa yang tinggal di Panawijen. Dari perkawinan tersebut lahir seorang putra bernama Anusapati. Pada suatu
hari, Ken Dedes pulang ke Panawijen untuk menjenguk ayahnya. Ketika Ken Dedes turun dari kereta kerajaan, bertiuplah angin
kencang yang menyingkap bagian bawah kain panjangnya. Pada saat itu, Ken Arok yang bertugas mengawal kereta Ken Dedes
sempat melihat sekilas betis istri Tunggul Ametung tersebut. Di mata Ken Arok, betis Ken Dedes memancarkan sinar yang
menyilaukan. Pemandangan tersebut tak mau hilang dari benak Ken Arok. Ia lalu menanyakan hal itu kepada Mpu Purwa. Sang Mpu
menjelaskan bahwa sinar yang dilihat Ken Arok merupakan pertanda bahwa Ken Dedes ditakdirkan sebagai wanita yang akan
menurunkan raja-raja di Pulau Jawa.
Ken Arok kemudian memesan sebuah keris kepada seorang Mpu di Tumapel yang bernama Mpu Gandring. Untuk membuat sebuah
keris yang dapat diandalkan keampuhannya, diperlukan waktu yang cukup lama untuk menempa, membentuk dan menjalankan
ritual yang diperlukan. Karena keris yang dipesan tak kunjung selesai, Ken Arok menjadi sangat marah. Ia merebut keris yang
belum selesai tersebut lalu menikamkannya ke tubuh pembuatnya. Menjelang ajalnya, Mpu Gandring mengutuk bahwa Ken Arok
pun akan mati di ujung keris yang sama dan keris itu akan meminta korban tujuh nyawa.
Keris buatan Mpu Gandring tersebut oleh Ken Arok dipinjamkan kepada temannya yang mempunyai watak suka pamer, yaitu Kebo
Ijo. Kebo Ijo memamerkan keris itu kepada teman-teman prajuritnya dan mengatakan bahwa keris itu adalah miliknya. Setelah
banyak orang yang mengetahui keris itu milik sebagai milik Kebo Ijo, ken Arok lalu mencurinya dan menggunakannya untuk
menikam Tunggul Ametung. Dengan sendirinya tuduhan jatuh kepada kebo Ijo, sementara Ken Arok berhasil menggantikan
kedudukan Tunggul Ametung sebagai akuwu dan menikahi Ken Dedes.
Setelah berhasil menjadi akuwu, Ken Arok kemudian menaklukkan Kerajaan Kediri, yang kala itu diperintah oleh Raja yang kala itu
diperintah oleh Raja Kertajaya (1191-1222), dan mendirikan Kerajaan Singasari. Ia menobatkan dirinya menjadi raja Singasari yang
pertama dengan gelar Rajasa Bathara Sang Amurwabhumi. Dari Ken Dedes, Ken Arok berputra seorang, bernama Mahisa
Wongateleng, sedangkan dari Ken Umang ia juga mendapatkan seorang putra bernama Tohjaya. Kutukan Mpu Gandring mulai
berlaku. Ken Arok dibunuh dan digantikan kedudukannya oleh Anusapati. Anusapati dibunuh dan digantikan kedudukannya oleh
Tohjaya. Tohjaya dibunuh dan digantikan oleh Ranggawuni, anak Anusapati. Ranggawuni kemudian dinobatkan sebagai raja dengan
gelar Jayawisnuwardhana dan memerintah Singasari mulai pada tahun 1227 hingga 1268. Jayawisnuwardhana digantikan oleh
putranya, Joko Dolog yang bergelar Kertanegara (1268-1292).
Kertanegara adalah Raja Singasari yang terakhir. Pemerintahannya ditumbangkan oleh Raja Kediri, Jayakatwang. Namun
Jayakatwang berhasil dikalahkan oleh menantu Kertanegara yang bernama Raden Wijaya. Raden Wijaya yang merupakan
keturunan Mahisa Wongateleng dan Raja Udayana di Bali ini kemudian mendirikan kerajaan Majapahit dengan pusat pemerintahan
di Tarik (Trowulan).
18. Candi Sawentar terletak di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar Jawa Timur. Candi Sawentar dapat
dijangkau dari Surabaya, ibukota provinsi Jawa Timur selama 3 jam lebih sejauh 168 km dan jika ditempuh dari kota Blitar
hanya menbutuhkan waktu 30 menit sejauh 12 km. Nama Candi Sawentar ini berdasarkan locus candi di Desa Sawentar dan
nama Candi Sawentar ini juga disebut dalam Nagarakrtagama yaitu Lwa Wentar merupakan salah lokasi tempat yang
dikunjungi Hayam Wuruk.
Candi Sawentar pada awalnya tertimbun oleh lahar Gunung Kelud dan ditemukan pada tahun 1915 oleh Oudheidkundige
Dienst (Dinas Purbakala) Hindia Belanda. Candi Sawentar ini terdiri dari 2 komplek candi yaitu Candi Sawentar 1 dan Candi
Sawentar 2.
Candi Sawentar 1 tersusun dari batu andesit dengan pintu masuk menghadap ke barat. Dimensi Candi Sawentar mempunyai
panjang 9,53 meter, lebar 6,86 meter, dan tinggi 10,65 meter. Struktur Candi Sawentar mempunyai karakter bentuk bangunan
candi masa Jawa Timur yang berkembang pada abad 12 – 13 Masehi yaitu berbentuk ramping dan tinggi. Melihat bentuk Candi
Sawentar mengingatkan bentuk bangunan Candi Kidal (Malang) dan Candi Bangkal (Mojokerto). Di dalam ruangan bilik
dijumpai sebuah yoni yang memiliki keunikan karena terdapat motif garudeya. Garudeya berceritera mengenai pencarian
amerta dan samodramantana. Adanya yoni ini menandakan bahwa Candi Sawentar merupakan bangunan suci yang berlatar
belakang agama Hindu.
Candi Sawentar 2 berjarak kurang lebih 100 meter dari lokasi candi Sawentar 1, tepatnya sebelah selatan candi sawentar I.
Lokasi situs candi Sawentar 2 berada di sekitar pasar Desa Sawentar. Candi Sawentar 2 ditemukan pada tahun 1999 oleh
bapak Sugeng Ahmadi ketika menggali sumur dan diekskavasi oleh BPCB Trowulan dibantu oleh Balai Arkeologi Yogyakarta.
Mengenai latar belakang sejarah bangunan ini, menurut Baskoro Daru Tjahjono – Peneliti Balai Arkeologi DI Yogyakarta,
adalah sebagai bangunan pengenang/monumen perang paregreg yang didirikan oleh Suhita atas meninggalnya ayah Suhita.
[Link] Kidal terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, tepatnya sekitar 20 km ke arah timur dari
kota Malang. Candi ini dapat dikatakan merupakan candi pemujaan yang paling tua di Jawa Timur, karena pemerintahan Airlangga
(11-12 M) dari Kerajaan Kahuripan dan raja-raja Kerajaan Kediri (12-13 M) hanya meninggalkan Candi Belahan dan Jalatunda yang
merupakan petirtaan atau pemandian
Candi Kidal dibangun pada 1248 M, setelah upacara pemakaman 'Cradha' untuk Raja Anusapati dari Kerajaan Singasari. Tujuan
pembangunan candi ini adalah untuk mendarmakan Raja Anusapati, agar sang raja dapat mendapat kemuliaan sebagai Syiwa
Mahadewa. Dibangun pada masa transisi dari zaman keemasan pemerintahan kerajaan-kerajaan Jawa Tengah ke kerajaan-kerajaan
Jawa Timur, pada Candi Kidal dapat ditemui perpaduan corak candi Jawa Tengah dan candi Jawa Timur. Sebagian pakar bahkan
menyebut Candi Kidal sebagai prototipe candi Jawa Timuran.
Bangunan candi seluruhnya terbuat dari batu andesit dan berdimensi geometris vertikal. Di sekeliling halaman candi terdapat
susunan batu yang berfungsi sebagai pagar. Tubuh candi berdiri diatas batur (kaki candi) setinggi sekitar 2 m. Untuk mencapai
selasar di lantai kaki candi dibuat tangga batu tepat di depan pintu. Yang menarik, anak tangga dibuat tipis-tipis, sehingga dari
kejauhan tampak seperti bukan tangga masuk yang sesungguhnya. Tangga batu ini tidak dilengkapi pipi tangga berbentuk ukel,
sebagaimana yang banyak dijumpai di candi lainnya, namun di kiri-kanan anak tangga pertama terdapat badug (tembok rendah)
berbentuk siku yang menutup sisi samping dan sebagian sisi depan kaki tangga. Badug semacam ini tidak terdapat di candi lain
Pintu candi menghadap ke barat, dilengkapi dengan bilik penampil dengan hiasan kalamakara (kepala Kala) di atas ambangnya.
Hiasan kepala kala yang nampak menyeramkan dengan matanya melotot penuh, mulut terbuka serta 2 taring besar dan bengkok,
memberi kesan dominan. Adanya 2 taring tersebut juga merupakan ciri khas candi Jawa Timur. Disudut kiri dan kanan terdapat jari
tangan dengan mudra (sikap) mengancam, sehingga sempurnalah kesan seram yang patut dimiliki oleh makhkuk penjaga
bangunan suci candi. Di kiri dan kanan pintu terdapat relung kecil tempat meletakkan arca yang dilengkapi dengan bentuk 'atap' di
atasnya. Di atas ambang relung-relung ini juga terdapat hiasan kalamakara
Atap Candi Kidal berebentuk kotak bersusun tiga, makin ke atas makin mengecil. Puncaknya tidak runcing, melainkan persegi
dengan permukaan yang cukup luas. Puncak atap tidak dihiasi dengan ratna atau stupa, melainkan hanya datar saja. Sekeliling tepi
masing-masing lapisan dihiasi dengan ukiran bunga dan sulur-suluran. Konon dulu di setiap sudut lapisan atap candi dipasang
sebuah berlian kecil. Sekeliling kaki candi dihiasi dengan pahatan bermotif medalion yang berjajar diselingi bingkai bermotif bunga
dan sulur-suluran. Di kiri dan kanan pangkal tangga serta di setiap sudut yang menonjol ke luar terdapat patung binatang yang
terlihat mirip singa dalam posisi duduk seperti manusia dengan satu tangan terangkat ke atas. Patung-patung ini terlihat seperti
sedang menyangga pelipit atas kaki candi yang menonjol keluar dari selasar
Tubuh candi dapat dikatakan ramping, sehingga selasar di kaki candi cukup lebar. Dalam tubuh candi terdapat ruangan yang tidak
terlalu luas. Saat ini ruangan tersebut dalam keadaan kosong. Dinding candi juga dihiasi dengan pahatan bermotif medalion. Pada
dinding di sisi samping dan belakang terdapat relung tempat meletakkan arca. Relung-relung tersebut juga dilengkapi dengan
bentuk 'atap' dan hiasan kalamakara di atas ambangnya. Tidak satupun arca yang masih bisa didapati di Candi Kidal. Konon arca
Syiwa yang indah, yang saat ini tersimpan di museum Leiden, dahulu berasal dari Candi Kidal
Dalam kesusastraan Jawa kuno, terdapat mitos yang terkenal di kalangan masrakyat, yaitu mitos Garudheya, seekor garuda yang
berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan). Konon relief mitos Garudheya
dibuat untuk memenuhi amanat Anusapati yang ingin meruwat Ken Dedes, ibunda yang sangat dicintainya. Mitos Garudheya
tertuang secara lengkap dalam relief di seputar kaki candi. Untuk membacanya digunakan teknik prasawiya (berlawanan dengan
arah jarum jam), dimulai dari sisi selatan
Relief pertama menggambarkan seekor garuda menggendong 3 ekor ular besar, relief kedua melukiskan seekor garuda dengan
kendi diatas kepalanya, dan relief ketiga garuda menggendong seorang wanita. Diantara ketiga relief tersebut, relief kedua adalah
yang paling indah dan utuh
Mitos Garudheya hidup di kalangan masyarakat Jawa kuno, khususnya yang mendapat pengaruh Hinduisme. Mitos ini mengisahkan
perjuangan seorang anak untuk membebaskan ibunya dari penderitaan. Alkisah di sebuah pertapaan, tinggal seorang resi bernama
Resi Kasyapa dengan dua orang istrinya, Dewi Winata dan Dewi Kadru. Walaupun kedua istri sang resi tersebut bersaudara
kandung, namun di antara keduanya terjadi persaingan keras untuk mendapatkan perhatian yang lebih dari suaminya. Oleh karena
itu, keduanya merasa gelisah ketika mereka tak juga dikaruniai putra
Pada suatu hari, Dewi Winata kedatangan seorang dewa yang menghadiahkan sebuah telur kepadanya. Dewa itu berpesan agar
Dewi Winata menjaga telur itu baik-baik hingga saatnya menetas nanti dan merawat makhluk yang keluar dari dalam telur
tersebut. Sang Dewi lalu menyimpan telur di tempat tersembunyi. Pada saat yang bersamaan ternyata Dewi Kadru juga mengalami
hal yang sama. Setelah tiba waktunya, telur yang diberikan kepada Dewi Winata menetas dan dari dalam telur tersebut keluar
seekor anak burung. Sementara itu, telur milik Dewi Kadru juga menetas dan dari dalamnya keluar beberapa ekor ular. Kedua
wanita itu merawat anak-anak angkat mereka dengan baik. Anak angkat Dewi Winata tumbuh menjadi seekor garuda yang diberi
nama Garudheya, sementara anak-anak Dewi Kadru tumbuh menjadi [Link] masing-masing telah mempunyai anak
angkat, persaingan di antara kedua wanita tersebut tidak mereda. Pada suatu hari, Dewi Kadru menipu kakaknya dalam sebuah
taruhan, sehingga ia memenangkan taruhan tersebut. Dewi Winata yang kalah harus menjadi budak Dewi Kadru dan anak-anaknya.
Garudheya sangat sedih melihat penderitaan ibunya. Setelah dewasa, Garudheya berusaha mencari cara untuk membebaskan
ibunya dari perbudakan. Akhirnya Garudheya berhasil mendapatkan keterangan bahwa ibunya akan bebas dari ikatan perjanjian
dengan tebusan tirta amerta (air kehidupan) yang tersimpan di kahyangan dan dijaga oleh Dewa Wisnu. Setelah melalui berbagai
perjuangan, Garudheya berhasil mendapatkan izin dari Dewa Wisnu untuk mengambil tirta amerta yang diperlukan untuk meruwat
(membebaskan dari penderitaan) ibunya dengan syarat ia harus menjadi tunggangan Dewa Wisnu.