BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kurikulum Merdeka
1. Pengertian Kurikulum Merdeka
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, pasal 1 menjelaskan bahwa kurikulum
merupakan perencanaan dan pengaturan yang meliputi tujuan,
isi, serta materi pembelajaran, beserta metode yang digunakan
sebagai acuan dalam kegiatan pembelajaran untuk mencapai
tujuan pendidikan yang telah ditentukan. Kurikulum berperan
sebagai komponen penting dalam sistem pendidikan, karena
tidak hanya menetapkan tujuan pembelajaran siswa, tetapi
juga memberikan panduan mengenai apa yang harus dipelajari
oleh siswa (Dilfa et al., 2023).
Secara etimologi, istilah "kurikulum" berasal dari
bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata, yaitu "curir" yang
berarti berlari dan "curere" yang berarti lintasan. Dalam
konteks ini, kurikulum awalnya digunakan dalam dunia
olahraga di zaman Romawi Kuno di Yunani sebagai analogi
untuk menggambarkan jarak yang harus ditempuh oleh pelari
dari awal hingga akhir. Dalam pendidikan, kurikulum merujuk
pada serangkaian isi dan materi pelajaran yang harus dipelajari
oleh siswa untuk menyelesaikan pendidikannya dan
mendapatkan ijazah (Khoirurrijal et al., 2023).
17
Menurut Wina Sanjaya (dikutip dari Khoirurrijal et al.,
2023) secara terminologi, kurikulum adalah dokumen
perencanaan yang memuat tujuan pendidikan, materi
pembelajaran, pengalaman belajar, strategi pengajaran, serta
metode evaluasi untuk menilai pencapaian tujuan yang telah
dirumuskan dalam dokumen tersebut.
Kurikulum Merdeka Belajar yang diperkenalkan oleh
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia
dirancang untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran
dengan menekankan pada penyederhanaan konten, sehingga
peserta didik memiliki lebih banyak waktu untuk memahami
konsep serta memperkuat kompetensinya. Merdeka belajar
menurut Badan Standar Pendidikan Nasional adalah cara
pendekatan yang dilakukan agar siswa dan mahasiswa bisa
memilih pelajaran yang diminati.
Merdeka belajar merupakan kurikulum pendidikan
yang memberikan kebebasan kepada pendidik dan peserta
didik dalam melaksanakan pembelajaran. Kurikulum merdeka
merupakan kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler
yang beragam, konten akan lebih optimal agar peserta didik
memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan
menguatkan kompetensi (Khoirurrijal et al., 2023). Guru
memiliki kebebasan untuk memilih perangkat dan bahan ajar
sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik.
18
Kesimpulan dari teori diatas, kurikulum merdeka
memberikan ruang bagi guru untuk mengembangkat
perangkat pembelajaran secara efektif dan fleksibel, sesuai
dengan kebutuhan serta karakteristik siswa di kelas. Di sisi
lain, kurikulum ini juga menawarkan kebebasan bagi siswa
untuk mengeksplorasi pengetahuan dan keterampilan secara
mandiri, memungkinkan mereka belajara sesuai minat, gaya,
dan kebutuhan mereka masing-masing. Dengan demikian,
baik guru maupun siswa didorong lebih aktif dan
berpartisipasi dalam proses pembelajaran yang lebih relevan
dan bermakna.
2. Tujuan Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka bertujuan untuk menciptakan
proses pembelajaran yang lebih fleksibel, menyenangkan, dan
kreatif. Kurikulum ini diperkenalkan sebagai upaya untuk
mengatasi learning loss yang dialami siswa selama pandemi
COVID-19, yang menyebabkan kesulitan dalam mencapai
kompetensi dasar (Kemendikbudristek, 2022).
Menurut Pusmenjar (dikutip dari Baruta, 2023), tujuan
utama dari Kurikulum Merdeka meliputi:
a. Mewujudkan pengalaman belajar yang menyenangkan
bagi guru dan siswa.
b. Mengatasi ketertinggalan pendidikan akibat pandemi
COVID-19.
19
c. Mengoptimalkan potensi siswa dengan kurikulum yang
lebih sederhana dan fleksibel.
3. Karakteristik Kurikulum Merdeka
Kurikulum Merdeka dikembangkan untuk
mewujudkan pembelajaran yang lebih bermakna dan efektif.
Beberapa karakteristik utama Kurikulum Merdeka yang
disampaikan oleh Mendikbud adalah:
a. Berfokus pada muatan esensial
Dalam kurikulum sebelumnya, semua siswa dalam
pembelajaran harus mencapai kompetensi minimal. Akan
tetapi dikarenakan kurikulum yang terlalu padat dan
terkesan terburu-buru membuat guru hanya
memperhatikan kemampuan kecil dari siswa. Hal tersebut
dapat mengakibatkan siswa mengalami kesulitan belajar.
Berbeda dengan kurikulum sebelumnya yang
cenderung padat dan terburu-buru, Kurikulum Merdeka
lebih berfokus pada materi yang esensial. Hal ini
memberikan guru lebih banyak waktu untuk
memaksimalkan pembelajaran dan menjadikannya lebih
berpusat pada siswa.
b. Fleksibilitas guru untuk melakukan pembelajaran yang
terdiferensiasi sesuai dengan kemempuan peserta didik
Kurikulum ini memberikan kebebasan kepada
sekolah untuk menyesuaikan pembelajaran dengan
20
karakteristik siswa, visi-misi sekolah, serta budaya lokal,
sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan
kebutuhan.
c. Pengembangan kompetensi dan karakter
Kurikulum Merdeka dirancang untuk membantu
siswa mengembangkan kompetensi serta karakter yang
seimbang antara pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai
yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. (Wahyudin
et al., 2024)
4. Struktur Kurikulum Merdeka
Dalam Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan,
Riset dan Teknologi Republik Indonesia tentang Pedoman
Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran
(2022) menjelaskan struktur kurikulum merdeka pada jenjang
SMP atau MTs sederajat memiliki dua sistem pembelajaran,
yaitu pembelajaran reguler (pembelajaran intrakurikuler) dan
projek penguatan profil pelajar Pancasila. Secara umum
struktur kurikulum di SMP/MTs/sederajat yaitu:
a. Mata pelajaran yang disesuaikan dengan peraturan
pendidikan yang berlaku.
b. Program kebutuhan khusus untuk pendidikan inklusif.
c. Sistem Kredit Semester (SKS) yang sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.
21
d. Pendampingan minat dan bakat siswa yang dibimbing oleh
guru BK atau guru lainnya jika guru BK tidak tersedia.
(Dilfa et al., 2023)
5. Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen
Perencanaan pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka
melibatkan penetapan tujuan pembelajaran, langkah-langkah
pembelajaran, dan asesmen yang bertujuan memastikan bahwa
siswa dapat mencapai kompetensi yang diharapkan. Dokumen
perencanaan ini bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan
dengan konteks serta kebutuhan peserta didik (Sofia & Basri,
2023). Penetapan tujuan pembelajaran oleh pendidik harus
mempertimbangkan tahap perkembangan peserta didik yang
meliputi pengetahuan, keterampilan, serta sikap, dengan
menyesuaikan pada karakteristik dan keunikan dari setiap
satuan pendidikan (Dilfa et al., 2023).
Dalam pelaksanaannya, Kurikulum Merdeka
memerlukan beberapa penyesuaian agar dapat diterapkan
secara efektif dalam kegiatan pembelajaran. Proses ini
mencakup perencanaan pembelajaran dan asesmen, yang
dapat dilakukan melalui beberapa langkah berikut : (Apriyanti,
2023)
a. Analisis capaian pembelajaran
Capaian pembelajaran adalah kombinasi dari
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang perlu dikuasai
22
oleh siswa selama proses pembelajaran (Mulyasa, 2023).
Langkah awal dalam perencanaan pembelajaran adalah
melakukan analisis terhadap capaian tersebut. Guru
diharapkan mampu mengidentifikasi kompetensi dan
materi yang relevan sesuai dengan tahapan perkembangan
peserta didik di setiap tingkat pendidikan. Selain itu,
analisis ini membantu guru menentukan jenis dan tingkat
kesulitan asesmen yang tepat untuk siswa.
b. Menyusun tujuan pembelajaran
Setelah memahami capaian pembelajaran, guru
perlu merumuskan tujuan pembelajaran yang spesifik,
yaitu hasil belajar yang diharapkan dari siswa setelah
menyelesaikan satu atau lebih sesi pembelajaran. Tujuan
ini harus mencakup kompetensi dan materi yang perlu
dipahami siswa, serta dirancang untuk dicapai dalam
durasi tertentu (Anggraena et al., n.d.).
c. Alur tujuan pembelajaran
Alur tujuan pembelajaran dirancang sebagai
rangkaian yang sistematis dari tujuan pembelajaran yang
telah ditentukan. Alur ini menjadi panduan dalam
mengembangkan modul ajar, serta membantu guru dalam
merencanakan dan mengatur pembelajaran serta asesmen
dalam periode waktu yang lebih panjang, misalnya satu
tahun ajaran (Akilla et al., 2024). Alur tujuan pendidikan
23
disusun dengan menyesuaikan kondisi, karakter, dan
kebutuhan belajar pada masing-masing satuan pendidikan.
d. Merancang modul ajar
Modul ajar adalah alat bantu pengajaran yang
berisi tujuan pembelajaran, langkah-langkah instruksional,
media pembelajaran, asesmen, serta referensi yang
digunakan untuk mendukung proses belajar. Modul ajar
ini sangat penting bagi efektivitas pembelajaran, dan guru
perlu memastikan bahwa modul yang dibuat memenuhi
standar yang telah ditetapkan serta sesuai dengan prinsip
pembelajaran yang berlaku (Maulida, 2022).
e. Asesmen
Asesmen dapat diartikan sebagai penilaian proses,
kemajuan, dan hasil belajar perserta didik. Asesmen pada
hakikatnya menitikberatkan pada penilaian proses belajar
peserta didik Asesment penting dilakukan di setiap proses
pembelajaran (Mulyasa, 2023). Asesmen adalah proses
penilaian yang digunakan untuk mengukur proses,
kemajuan, dan hasil belajar siswa. Asesmen ini bertujuan
untuk mengetahui kondisi dan kemampuan siswa pada saat
tertentu, guna merancang program pembelajaran yang
sesuai dengan kebutuhan mereka (Baruta, 2023). Terdapat
3 jenis asesmen, yaitu :
24
1) Asesmen Diagnostik
Asesmen ini dilakukan pada awal proses
pembelajaran untuk mengidentifikasi kemampuan,
kekuatan, serta kelemahan siswa. Asesmen diagnostik
membantu guru menyesuaikan metode pengajaran
berdasarkan kompetensi awal siswa yang telah
terdeteksi (Ardiansyah et al., 2023). Asesmen
diagnostik dilakukan pada awal pembelajaran untuk
mengetahui kemampuan atau kompetensi awal peserta
didik. Asesmen ini membantu guru untuk
menyesuaikan metode dan strategi pembelajaran yang
sesuai dengan kemampuan peserta didik. Asesmen
diagnostik dalam kurikulum merdeka dapat dilakukan
dengan berbagai cara, seperti : observasi, tes,
wawancara atau portofolio.
2) Asesmen Formatif
Asesmen formatif merupakan evaluasi yang
dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung.
Tujuannya adalah untuk memonitor perkembangan
siswa dan memberikan umpan balik yang konstruktif,
agar siswa dapat meningkatkan kemampuan belajar
mereka secara bertahap. Selain itu, asesmen formatif
juga digunakan oleh guru untuk menyesuaikan strategi
pengajaran sesuai dengan kebutuhan siswa
25
(Simanjuntak et al., 2019). Asesmen formatif dalam
kurikulum merdeka bertujuan untuk memantau dan
memperbaiki proses pembelajaran, serta mengevaluasi
pencapaian tujuan pembelajaran. Asesmen formatif
dilakukan secara terus-menerus dan berkelanjutan
sepanjang proses pembelajaran, mulai dari awal hingga
akhir, dengan tujuan memberikan umpan balik
terhadap peserta didik agar mereka dapat memperbaiki
dan meningkatkan pembelajarannya. Umpan balik ini
dapat berupa koreksi, saran, atau pujian yang diberikan
oleh guru atau sesama peserta didik. Selain itu,
asesmen formatif juga digunakan oleh guru untuk
memperbaiki strategi pembelajaran dan menyesuaikan
pendekatan yang digunakan agar sesuai dengan
kebutuhan belajar peserta didik.
3) Asesmen Sumatif
Dalam kurikulum merdeka, asesmen sumatif
bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kompetemsi
siswa setelah mereka menyelesaikan mata pelajaran
atau materi tertentu. Asesmen sumatif dilakukan pada
akhir suatu periode pembelajaran, seperti akhir
semester, akhir tema, atau akhir proyek. Hasil asesmen
sumatif dapat digunakan untuk menentukan penilaian
akhir siswa, seperti nilai rapot atau sertifikat kelulusan.
26
Namun, dalam kurikulum merdeka asemen
sumatif bukan satu-satunya ukuran untuk menilai
keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi.
Asesmen sumatif digunakan untuk mengevaluasi
kompetensi siswa setelah menyelesaikan suatu mata
pelajaran atau unit belajar tertentu. Dilakukan pada
akhir periode pembelajaran, seperti akhir semester atau
akhir proyek, asesmen ini memberikan data yang
digunakan untuk menentukan nilai akhir siswa.
Namun, dalam Kurikulum Merdeka, asesmen sumatif
tidak dijadikan satu-satunya penentu keberhasilan
siswa, melainkan sebagai salah satu dari beberapa
indikator untuk mengukur pencapaian kompetensi.
(Dilfa et al., 2023)
B. Problematika Implementasi Kurikulum Merdeka
1. Pengertian Problematika
Kata "problematika" berasal dari bahasa Inggris
"problematic" yang bermakna masalah. Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia, istilah "problem" diartikan sebagai suatu
hal yang belum dapat dipecahkan dan menimbulkan
tantangan. Masalah juga dapat diartikan sebagai kesenjangan
antara kondisi yang diharapkan dengan kenyataan yang ada, di
mana kesenjangan ini harus diatasi agar dapat mencapai hasil
yang optimal (Hehakaya & Pollatu, 2022).
27
2. Pengertian Implementasi
Implementasi sering dikaitkan dengan pelaksanaan
kebijakan yang telah ditetapkan oleh sebuah lembaga dengan
tujuan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, implementasi berarti
pelaksanaan atau penerapan. Daniel A. Mazmanian dan Paul
Sabatier (dikutip dari Pramono, 2020) menjelaskan bahwa
implementasi adalah proses memahami apa yang terjadi
setelah suatu program diterapkan, termasuk segala aktivitas
yang muncul setelah kebijakan resmi disahkan oleh negara.
Dengan demikian, implementasi mencakup proses
pelaksanaan kebijakan yang dirancang oleh lembaga tertentu
untuk diterapkan pada institusi terkait.
Jadi implementasi adalah proses yang berkaitan
dengan kebijakan yang ditetapkan oleh suatu lembaga yang
diterapkan pada suatu institusi.
3. Problematika Implementasi Kurikulum Merdeka
Problematika adalah tantangan atau kesulitan yang
belum terselesaikan. Karena Kurikulum Merdeka masih dalam
tahap awal penerapan, banyak pihak mengalami berbagai
masalah dalam proses implementasinya. Kesulitan ini dapat
terjadi pada tahap perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi
pembelajaran (Zulaiha et al., 2022). Problematika dalam
28
penerapan Kurikulum Merdeka dapat dibagi menjadi tiga
aspek utama:
a. Perencanaan
Pada tahap perencanaan, sekolah perlu memahami
peraturan yang berlaku serta menyusun berbagai dokumen
pendukung yang diperlukan. Selain itu, guru harus
mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran, termasuk
perangkat pembelajaran, media, dan persiapan untuk
mengajar sepanjang tahun ajaran sesuai dengan konsep
Kurikulum Merdeka. Perubahan ini membawa dampak
yang signifikan terhadap metode pembelajaran. Namun,
tantangan yang sering dihadapi dalam merencanakan
implementasi Kurikulum Merdeka adalah kurangnya
pemahaman tentang kurikulum itu sendiri serta kesulitan
dalam menerapkan metode pengajaran yang kreatif dan
inovatif.
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan Kurikulum Merdeka di dalam kelas
menekankan pendekatan holistik dan kontekstual (Wuwur,
2023). Guru didorong untuk lebih memperhatikan
kebutuhan siswa serta mengajak mereka untuk aktif dalam
proses belajar. Selain itu, siswa juga diberikan kesempatan
untuk berdiskusi dan berpartisipasi lebih dalam memahami
materi pembelajaran. Namun, beberapa masalah yang
29
sering muncul selama pelaksanaan adalah keterbatasan
sarana prasarana, kondisi lingkungan sekolah, serta
sumber daya manusia yang ada.
c. Evaluasi
Penilaian ini tidak hanya mengukur aspek kognitif,
tetapi juga aspek afektif dan psikomotorik siswa, dengan
tujuan mengembangkan karakter siswa secara
keseluruhan. Namun, guru sering kali merasa kesulitan
dalam melaksanakan evaluasi ini, terutama karena adanya
perubahan dalam prosedur seperti tes diagnostik di awal
pembelajaran dan penghapusan Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM), yang membuat mereka kesulitan
menetapkan standar keberhasilan siswa. (Wuwur, 2023)
C. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam
1. Pengertian Pendidikan Agama Islam
Pendidikan Islam menurut DR. Muhammad S. A.
Ibrahimy (dikutip dari Ayatullah, 2020) Pendidikan Islam
merupakan suatu konsep yang membentuk karakter keislaman
dalam diri seorang muslim, yang mendorong sikap dan
perilaku berdasarkan pengetahuan yang luas sehingga mampu
menghadapi tantangan zaman.
Pendidikan Agama Islam dapat didefinisikan sebagai
upaya terencana untuk membimbing peserta didik agar
mengenal, memahami, menghayati, serta mengamalkan ajaran
30
Islam dengan dasar iman, takwa, dan akhlak mulia, yang
bersumber dari Al-Quran dan Hadis, melalui bimbingan,
latihan, serta pengalaman pribadi (Ramayulis, 2014).
Muhaimin (dikutip dari Sulaiman, 2017) enyatakan
bahwa Pendidikan Agama Islam adalah proses mendidik
tentang ajaran dan nilai-nilai Islam agar bisa menjadi prinsip
hidup seseorang, dengan tujuan untuk membentuk pola pikir
dan sikap yang didasari nilai-nilai Islam.
2. Tujuan Pendidikan Agama Islam
Tujuan dari Pendidikan Agama Islam di sekolah
adalah untuk meningkatkan iman, pemahaman, serta
penerapan nilai-nilai Islam pada siswa, sehingga mereka
menjadi individu yang beriman, bertakwa kepada Allah SWT,
dan berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara. (Sulaiman, 2017).
Menurut Muhaimin dikutip dari Ayatullah (2020)
menambahkan bahwa tujuan utama Pendidikan Agama Islam
adalah agar peserta didik mampu memahami, menghayati,
meyakini, serta mengamalkan ajaran Islam sehingga menjadi
manusia yang memiliki keimanan kuat, bertakwa kepada
Allah SWT, dan memiliki akhlakul karimah.
31
3. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Ruang lingkup mata pelajaran Pendidikan Agama
Islam meliputi beberapa aspek, yaitu:
1) Al Quran
Ruang lingkup ini mencakup kemampuan
membaca Al-Quran dengan benar, memahami makna
ayat-ayat secara tekstual maupun kontekstual, serta
mengamalkan ajaran yang terkandung dalam Al-Quran
dalam kehidupan sehari-hari.
2) Akidah
Aspek ini membahas keyakinan atau
kepercayaan sesuai ajaran Islam, dengan fokus pada
rukun iman. Tujuannya adalah untuk memperkuat
keimanan siswa dan membantu mereka dalam
memahami serta mengamalkan nilai-nilai Asmaul
Husna dalam kehidupan.
3) Akhlak
Materi akhlak berfokus pada pembentukan
karakter dan perilaku siswa dalam kehidupan sehari-
hari, dengan penekanan pada penerapan akhlak yang
baik serta menghindari perilaku yang buruk.
32
4) Fiqih
Fiqih mencakup semua aspek ibadah dan
aturan pelaksanaannya, serta hukum-hukum Islam
yang didasarkan pada Al-Quran, Sunnah, dan sumber
hukum syar’i lainnya. Pembelajaran ini bertujuan agar
siswa dapat melaksanakan ibadah dengan benar serta
memahami dan menerapkan hukum-hukum Islam
dalam kehidupan sehari-hari.
5) Sejarah Kebudayaan Islam
Aspek ini mencakup pembelajaran tentang
perkembangan Islam dari masa awal hingga zaman
modern. Tujuannya adalah agar siswa dapat mengenal
dan meneladani tokoh-tokoh Islam serta memahami
peran sejarah Islam dalam membentuk budaya,
peradaban, serta kontribusinya dalam berbagai aspek
kehidupan seperti sosial, politik, ekonomi, dan ilmu
pengetahuan. (Latif, 2021)
33