0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan9 halaman

Pemuliaan Tanaman: Metode Seleksi Galur

Diunggah oleh

z7xqg8b8kw
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan9 halaman

Pemuliaan Tanaman: Metode Seleksi Galur

Diunggah oleh

z7xqg8b8kw
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS BAGAN PERSILANGAN

PRAKTIKUM PEMULIAAN TANAMAN

Disusun Oleh:
Nama : Bryan Hafidz Septian Daffa
NIM : 235040200111098
Kelompok : A1
Asisten Praktikum : Vina Alfa Centauri H.

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
1. Seleksi Massa

 Musim Tanam 1 (MT 1): Tanaman ditanam dengan jarak yang cukup renggang untuk
memudahkan proses seleksi. Seleksi dilakukan berdasarkan karakteristik individu setiap
tanaman. Jika seleksi bertujuan untuk memurnikan varietas yang tercampur, maka jumlah
tanaman yang dibuang lebih sedikit dibandingkan yang diseleksi.
 Musim Tanam 2 (MT 2): Benih yang berasal dari satu tanaman ditanam dalam baris
yang sama untuk memastikan tidak terjadi segregasi, sehingga menghasilkan beberapa
baris tanaman. Benih yang dipanen dari baris-baris dengan karakter seragam dan sesuai
keinginan kemudian dicampur untuk melanjutkan proses seleksi.
 Musim Tanam 3-6 (MT 3-6): Pada tahap ini, dilakukan pengujian terbatas atau
pengujian di berbagai lokasi (multilokasi) untuk mempelajari potensi hasil dan daya
adaptasi tanaman. Sebagai kontrol, digunakan varietas lokal, varietas asal, atau keduanya
untuk membandingkan performa tanaman yang sedang diuji.
2. Seleksi Galur Murni

 Musim Tanam 1: Pada tahap awal, dilakukan seleksi terhadap 1.000 tanaman dari
varietas lokal atau introduksi. Tanaman-tanaman ini digunakan sebagai materi genetik
awal yang beragam untuk memulai proses seleksi.
 Musim Tanam 2: Dari populasi yang terseleksi pada tahun pertama, dipilih 200 tanaman
terbaik. Setiap tanaman hasil seleksi ini ditanam secara terpisah dalam lajur individu agar
karakteristiknya dapat diamati secara spesifik. Tahap ini dikenal sebagai percobaan
pemilihan strain atau galur, yang bertujuan mengidentifikasi galur unggul.
 Musim Tanam 3 hingga 5: Dari populasi yang terseleksi pada musim tanam
sebelumnya, dipilih 25-50 tanaman terbaik. Tanaman ini kemudian digunakan untuk
pengujian lanjutan, memastikan bahwa hanya individu dengan potensi terbaik yang akan
diteruskan ke tahap berikutnya.
 Musim Tanam 6: Pada tahap ini, sebanyak 15 tanaman terbaik dipilih untuk uji coba
pertama. Pengujian ini bertujuan mengonfirmasi stabilitas dan keunggulan karakteristik
tanaman yang terseleksi sebelum melangkah ke tahap pengembangan selanjutnya.
3. Seleksi Pedigree

 Persilangan Tetua Homozigot: Persilangan antara dua tetua homozigot yang berbeda
menghasilkan generasi F1 yang seragam. Benih F1 ini kemudian ditanam sesuai
kebutuhan untuk menghasilkan populasi F2. Sebagian benih F1 disimpan sebagai
cadangan.
 Penanaman F2: Benih F2 ditanam dengan jumlah yang disesuaikan berdasarkan jumlah
famili F3 yang akan dikelola. Biasanya rasio yang digunakan adalah 10:1 atau 100:1.
Seleksi dimulai pada generasi F2, karena populasi ini memiliki tingkat segregasi genetik
paling tinggi.
 Penanaman F3: Setiap biji dari satu tanaman F2 ditanam dalam barisan tersendiri. Pada
generasi ini, perbedaan antar famili mulai terlihat jelas. Seleksi dilakukan dengan
memilih tanaman terbaik dari barisan yang lebih seragam.
 Generasi F4-F5: Pada tahap ini, banyak famili mulai menunjukkan tingkat homozigot
yang lebih tinggi. Seleksi dilakukan di antara famili dengan memilih dua atau lebih
tanaman dari famili terbaik untuk melanjutkan proses.
 Generasi F6-F7: Uji daya hasil dilakukan dengan membandingkan galur yang terseleksi
dengan varietas pembanding. Proses ini bertujuan mengevaluasi performa tanaman dalam
kondisi nyata.
 Generasi F8: Uji multilokasi dilakukan untuk mengevaluasi stabilitas dan adaptasi
tanaman di berbagai lokasi dan musim tanam.
 Pelepasan Varietas: Jika hasilnya memuaskan, varietas baru dilepaskan untuk umum,
dan dilakukan perbanyakan benih untuk kebutuhan distribusi dan penanaman lebih luas.
4. Seleksi Bulk

 Persilangan Tetua Galur Murni: Proses dimulai dengan melakukan persilangan antara
tetua galur murni untuk menghasilkan generasi F1. Benih F1 kemudian ditanam di dalam
greenhouse guna mempermudah perawatan.
 Penanaman F2 hingga F5: Hasil dari F1 ditanam untuk menghasilkan F2 dengan jarak
tanam yang rapat. Selanjutnya, hasil panen F2 dicampur dan digunakan untuk menanam
generasi F3. Proses ini dilanjutkan hingga generasi F5, di mana benih dari masing-masing
generasi selalu dicampur sebelum penanaman berikutnya.
 Seleksi pada F5: Populasi F5 ditanam dengan jarak tanam yang lebar, memungkinkan
pengamatan lebih detail terhadap setiap tanaman. Seleksi dilakukan untuk memilih
individu terbaik.
 Penanaman dan Seleksi F6: Benih F6 ditanam dalam barisan, dan seleksi dilakukan
berdasarkan performa setiap barisan untuk menemukan galur terbaik.
 Pengujian Daya Hasil Pendahuluan pada F7: Benih dari satu barisan ditanam pada
petak dengan jarak tanam yang rapat. Hal ini memudahkan pengujian daya hasil
pendahuluan.
 Pengujian Daya Hasil pada F8: Pada generasi ini, dilakukan pengujian daya hasil
dengan membandingkan galur terpilih dengan varietas pembanding untuk mengevaluasi
keunggulannya.
 Uji Multilokasi pada F9: Generasi F9 menjalani pengujian multilokasi di berbagai
lokasi dan musim tanam untuk mengukur adaptasi dan stabilitas varietas. Setelah itu,
benih diperbanyak dan dilepaskan sebagai varietas baru.
5. Seleksi SSD

 F1 (Generasi Pertama): Generasi ini merupakan hasil persilangan langsung antara Tetua
A dan Tetua B. Tanaman F1 yang dihasilkan memiliki kombinasi genetik dari kedua tetua
dan menjadi dasar bagi generasi berikutnya.
 F2 hingga F4: Pada generasi F2 sampai F4, dilakukan pengambilan sampel acak, di
mana setiap tanaman memberikan satu biji untuk ditanam di generasi berikutnya.
Langkah ini dilakukan untuk mempertahankan keragaman genetik dalam populasi sambil
mengurangi jumlah tanaman secara bertahap, sehingga mempermudah proses seleksi
pada tahap berikutnya.
 F5: Seleksi mulai dilakukan pada generasi F5, dengan fokus memilih tanaman terbaik
berdasarkan karakteristik yang diinginkan, seperti hasil, daya tahan, atau sifat agronomis
lainnya. Tanaman yang lolos seleksi akan dilanjutkan ke tahap pengujian yang lebih
mendalam.
 Barisan Tanaman Tunggal: Pada tahap ini, setiap tanaman diuji secara individu dalam
barisan terpisah untuk mengamati performa dan mengevaluasi stabilitas serta
keseragaman karakter yang diinginkan dalam populasi.
 F7 (Uji Daya Hasil Pendahuluan): Generasi F7 menjalani uji daya hasil pendahuluan di
lingkungan yang lebih terkendali. Uji ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi hasil dan
memastikan bahwa tanaman yang terpilih memiliki performa yang menjanjikan untuk
pengujian lanjutan.
 F8 hingga F12 (Uji Multilokasi): Pada tahap ini, dilakukan uji multilokasi untuk
mengukur performa tanaman di berbagai kondisi lingkungan. Pengujian ini sangat
penting untuk menentukan kemampuan adaptasi tanaman terhadap variasi lokasi dan
musim, memastikan keunggulan varietas sebelum dilepaskan.
6. Backross

 Persilangan Awal: Persilangan dilakukan antara tetua penerima (R) dan tetua pemberi
(D) untuk menghasilkan generasi F1. Generasi ini mengandung kombinasi genetik dari
kedua tetua.
 Silang Balik Pertama (BC1): Generasi F1 disilangkan kembali dengan tetua penerima
(R), di mana F1 berperan sebagai tetua betina dan R sebagai tetua jantan. Hasil dari
persilangan ini disebut populasi BC1.
 Silang Balik Kedua (BC2): Populasi BC1 kemudian disilangkan kembali dengan tetua
penerima (R), dengan BC1 sebagai tetua betina dan R sebagai tetua jantan. Persilangan
ini menghasilkan generasi BC2.
 Silang Balik Ketiga (BC3): Populasi BC2 kembali disilangkan dengan tetua penerima
(R), di mana BC2 berperan sebagai tetua betina dan R sebagai tetua jantan, menghasilkan
generasi BC3.
 Silang Balik Keempat (BC4): Generasi BC3 disilangkan sekali lagi dengan tetua
penerima (R), dengan BC3 sebagai tetua betina dan R sebagai tetua jantan. Hasilnya
adalah generasi BC4.
 Kandungan Genetik BC4: Populasi BC4 mengandung sekitar 93,75% genetik dari tetua
penerima (R). Setelah tahap ini, BC4 dikawinkan sendiri untuk menghasilkan segregasi
genetik. Seleksi dilakukan pada populasi ini untuk mendapatkan galur harapan baru
dengan sifat-sifat unggul yang diinginkan.

Anda mungkin juga menyukai