Defenisi
Etiologi
Epidemiologi
Faktoresiko
Mielopati adalah suatu kondisi patologis yang disebabkan oleh kompresi sumsum tulang
belakang dan akar saraf, yang dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, termasuk peradangan,
radang sendi, adanya taji tulang, dan degenerasi tulang belakang yang berkaitan dengan usia.
Manifestasi klinis
Gejala mielopati bisa berbeda-beda tergantung lokasi terjadinya pada tulang belakang. Gejala
mielopati mungkin termasuk:5
1. Nyeri di punggung bagian bawah, leher,
lengan atau kaki
2. Penurunan keterampilan motorik halus,
keseimbangan, dan koordinasi
3. Kesemutan, mati rasa ataukelemahan
4. Refleks abnormal atau meningkat pada
ekstremitas
5. Kesulitan berjalan
6. Hilangnya fungsi usus atau kandung
kemih
Pemeriksaan fisik dn pnunjang
Pemeriksaan laboratorium darah
• Pemeriksaan radiologis.
– Dianjurkan melakukan
(anteroposterior, lateral) untuk vertebra servikal, dan posisi ap dan lateral untuk vertebra
thorakal dan lumbal.
pemeriksaan
posisi
standar
• Pada kasus-kasus yang tidak menunjukkan kelainan radiologis, pemeriksaan lanjutan dengan CT
SCAN dan mri sangat dianjurkan. Magnetic resonance imaging merupakan alat diagnostik yang w
paling baik untuk mendeteksi lesi di medula spinalis akibat cedera/trauma
Tatalaksana
Pengobatan mielopati akan bergantung pada apa yang
menyebabkan mielopati. Pada beberapa kondisi, mielopati dapat
bersifat ireversibel (tidak dapat kembali) dan pengobatan hanya
dapat membantu mengendalikan gejala atau menurunkan
perkembangan penyakit.
Non-Operatif
Tata laksana non-operasi dari mielopati terdiri atas bracing, terapi
fisik, dan pengobatan. Modalitas ini dapat digunakan untuk
mielopati yang ringan dan bertujuan untuk mengurangi nyeri dan
membantu Anda kembali ke aktivitas sehari-hari. Tata laksana ini
tidak menyembuhkan kompresi yang terjadi. Gejala tetap dapat
memburuk, baik secara lambat (kronis) maupun akut. Jika Anda
mengalami perburukan gejala, segera konsultasikan kondisi ini
dengan dokter Anda. Beberapa kondisi perburukan tidak dapat
diobati, sehingga penting untuk dapat menghentikan perburukan
pada fase penyakit ringan.
Operatif
Oleh karena mielopati diakibatkan kompresi, tata laksana utamanya
adalah dengan menggunakan operasi. Operasi bertujuan untuk
menghilangkan 'tekanan' pada sumsum tulang. Untuk mielopati
yang disebabkan oleh penyempitan, dokter dapat
merekomendasikan prosedur pembedahan untuk memperluas
ukuran rongga sumsum tulang. Untuk mielopati yang disebabkan
oleh tumor, bila ukurannya kecil, tumor tersebut dapat diangkat.
Metode minimally invasive spine surgery dapat membantu
menurunkan risiko komplikasi dan dapat mempercepat proses
penyembuhan.
Spinal fusion surgery adalah operasi yang berfungsi untuk
memperbaiki struktur tulang belakang. Mekanisme operasi adalah
dengan menyatukan tulang-tualng kecil hingga dapat sembuh
menjadi satu tulang. Hal ini dapat mengurangi nyeri akibat gerakan
dan mengembalikan stabilitas sumsum tulang.
Prognosis
Mielopati menggambarkan kondisi patologis kerusakan atau disfungsi medula spinalis,
meningeal, dan parameningeal, mengakibatkan kelumpuhan anggota gerak bawah atau keempat
anggota gerak, defisit sensorik, dan gangguan autonom.
Defenisi
Mielopati menggambarkan defisit neurologis apa pun yang terkait dengan
sumsum tulang belakang. Mielopati biasanya disebabkan oleh kompresi sumsum
tulang belakang oleh osteofit atau material diskus yang menonjol di tulang
belakang leher. Tonjolan osteofit dan herniasi diskus juga dapat menyebabkan
mielopati yang terlokalisasi di tulang belakang toraks, meskipun lebih jarang
terjadi.
Terminologi mielopati kompresif dan non- kompresif diperkenalkan oleh Siccard dan Frostier
pada tahun 1921 berdasarkan pemeriksaan mielografi.1,3 Mielopati non- kompresif didefinisikan
sebagai disfungsi medula spinalis tanpa adanya bukti klinis dan radiologis kompresi medula
spinalis.3 Lesi kompresi disingkirkan dengan magnetic resonance imaging (MRI).
Epidemiologi
Di dunia barat, mielopati non-kompresif kebanyakan disebabkan oleh penyakit demielinisasi atau
penyakit degeneratif herediter, sedangkan etiologi parainfeksi lebih banyak dijumpai di negara
berkembang.3 Di Afrika, mielopati non-kompresif merupakan 31,9% dari mielopati non-trauma.
Kebanyakan etiologi adalah infeksi dan gangguan nutrisi.3,7,8
Pada penelitian Kamble di India tahun 2015-2016, dari 80 pasien mielopati non- kompresif, 52%
dapat ditentukan etiologinya, sisanya idiopatik. Etiologi terbanyak adalah mielitis pasca-infeksi,
defisiensi vitamin B12, neuromyelitis optica spectrum disorder (NMOSD), acute disseminated
encephalomyelitis (ADEM), dan multiple sclerosis (MS).6 Pada penelitian Thangaraj tahun 2017-
2018, dari 75 pasien mielopati non-kompresif, 56% etiologinya degeneratif, sisanya non-
degeneratif (demielinisasi, autoimun, vaskular, metabolik). Diagnosis etiologi dapat ditegakkan
pada 97,3% kasus.
Klasifikasi
dapat dibagi menjadi:6
1. Mielopatiakut:disfungsimedulaspinalis
berlangsung setidaknya 48 jam dan mencapai nadir dalam 21 hari awitan gejala.
2. Mielopati subakut: gejala progresif dalam 3-6 minggu dari awitan.
3. Mielopati kronik: disfungsi medula spinalis dengan awitan tidak jelas dan progresif bertahap
dalam beberapa bulan atau tahun.
Etiologi
Defenisi
Penyakit kompresif sumsum tulang belakang dibagi menjadi akut dan kronis, termasuk
perubahan degeneratif, trauma, infiltrasi tumor, malformasi vaskular, infeksi dengan
pembentukan abses, dan syringomyelia.
Mielopati degeneratif kompresif dapat diklasifikasikan menurut situs kompresi, sebagai berikut:
• anterior (tonjolan diskus atau osteofit posterior). • anterolateral (sendi Luschka).
• Lateral (sendi facet).
• posterior (ligamentum flavum).
Mielopati Kompresif Post Traumatik
Mielopati pasca-trauma terjadi empat kali lebih sering pada laki-laki, khususnya yang berumur
antara 16 dan 30 tahun. Kecelakaan lalu lintas adalah penyebab paling umum, dengan angka
kejadian sekitar 50%, diikuti dengan kekerasan (senjata api atau luka tusuk), jatuh dari ketinggian,
dan cedera olahraga (menyelam, sepakbola dan berkuda).
Mielopati kompresif akibat Abses
Abses epidural jarang terjadi tetapi merupakan indikasi bedah darurat karena dapat berkembang
dengan cepat dalam beberapa hari dan diagnosis dini sulit, sehingga penatalaksanaantertunda.
Insiden kelainan ini 0,2-2 kasus untuk setiap 10.000 rawat inap. Mengenai terutama laki-laki,
dengan tidak ada rentang usia tertentu. Morbiditas dan mortalitas penyakit ini tinggiyaitu antara
18% dan 31%. Faktor risiko yang sama dengan yang untuk spondilodisitis, termasuk diabetes
mellitus, penggunaan obat intravena, gagal ginjal kronis, penyalahgunaan alkohol, dan defisiensi
kekebalan tubuh.