Problem
based
Learning
disusun oleh
Jennifer v Latumeten
SKENARIO 2
[Link] usia 22 tahun datang ke poliklinik penyakit dalam dengan keluhan
utama nyeri pada sendi yang dialami sejak 2 bulan yang lalu, terutama
pada kedua sendi bahu, siku, pergelangan tangan dan lutut. Nyeri
berkurang hanya setelah pasien minum analgetik. Bengkak (+), riwayat
jatuh disangkal. Pasien juga mengeluh lemas, demam yang hilang timbul,
serta munculnya ruam pada kedua pipi sejak 2 bulan yang lalu seperti
gambar dibawah, memberat terutama saat terkena sinar matahari. Pasien
pernah mengalami keluhan yang sama 2 tahun yang lalu dan didiagnosis
Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Pada pemeriksaan fisik ditemukan
konjungtiva anemis +/+, malar rash (+), discoid rash (+), ulkus oral (+).
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan anemia normochromic
normocytic, ANA Test (+), anti dsDNA meningkat.
LEARNING OBJEKTIVE
01 Menjelaskan defenisi dan etiologi dari
Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
02 Menjelaskan faktor resiko dari Systemic
Lupus Erythematosus (SLE)
LEARNING OBJEKTIVE
03 Menjelaskan patomekanisme dari
Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
Menjelaskan mekanisme imunologi dan
04 sel sel imun yg berperan dalam
Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
LEARNING OBJEKTIVE
Menjelaskan pemeriksaan penunjang
05 dan manifestasi klinis terkait dengan
skenario
06
Menjelaskan edukasi dan pencegahan
yang sesuai dengan skenario
LO 1
DEFENISI DAN ETIOLOGI DARI SYSTEMIC
LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE)
DEFENISI SLE
LUPUS ERITEMATOUS SISTEMIK
Penyakit autoimun kompleks yang
menyerang berbagai sistem tubuh. Faktor
genetik dan lingkungan diketahui berperan
dalam patogenesis ini.
SLE ditandai dengan pembentukan
autoantibodi patogenik terhadap asam
nukleat dan protein pengikatnya yang
disebabkan oleh intoleransi terhadap
komponen tubuh sendiri ( sela-intolerance)
sumber : Tanzilia MF, Tambunan BA, Dewi DNSS. Tinjauan Pustaka: Patogenesis Dan Diagnosis
Sistemik Lupus Eritematosus. Syifa’ Med J Kedokt dan Kesehat. 2021;11(2):139.
ETIOLOGI
1. Faktor genetik 2. Faktor Lingkungan
Terjadi akibat efek gabungan beberapa gen atau 1. Sinar ultraviolet (UV) => stimulasi keratiosit
multigen. Kombinasi beberapa faktor menyebabkan stimulasi sel B dan produksi
menimbulkan disregulasi & hilangnya beberapa antibodi. sehingga pasien SLE menyebabkan
toleransi sel B & T menyebabkan terjadinya Clearance sel apoptotik dan kompleks
sintesis autoantibodi. Autoantibodi membentuk aktivasi sel T juga akan terstimulasi.
kompleks imun menyebabkan terjadi inflamasi. 2. Virus lainya : EBV=> interaksi dengan sel B
kurangnya C4=> tidak mencukupinya self reaktif memicu plasmacytoid dendritic cell (pDCs)=>
sel B, Sedangkan kurangnya C1q => kurangnya untuk produksi IFN-a => peningkatan IFN-a
eliminasi terhadap sel nekrotik pd SLE.
sumber : Tanzilia MF, Tambunan BA, Dewi DNSS. Tinjauan Pustaka: Patogenesis Dan Diagnosis Sistemik Lupus Eritematosus.
Syifa’ Med J Kedokt dan Kesehat. 2021;11(2):139.
PEMBAGIAN TUGAS
3. Faktor hormon
perbandingan jumlah pengidap wanita : Pria =
9:1. Wanita (20-30 thn), Pria (45-60 thn).
hormon dapat memicu terjadi SLE, karena
adanya peningkatan estrogen atau prolaktin
yang dapat menyebabkan fenotipe autoimun
sumber : Tanzilia MF, Tambunan BA, Dewi DNSS. Tinjauan Pustaka: Patogenesis Dan Diagnosis Sistemik Lupus Eritematosus.
Syifa’ Med J Kedokt dan Kesehat. 2021;11(2):139.
LO 2
FAKTOR RESIKO DARI SYSTEMIC LUPUS
ERYTHEMATOSUS (SLE)
ETIOLOGI
1. Faktor genetik 2. Faktor Lingkungan
Terjadi akibat efek gabungan beberapa gen atau 1. Sinar ultraviolet (UV) => stimulasi keratiosit
multigen. Kombinasi beberapa faktor menyebabkan stimulasi sel B dan produksi
menimbulkan disregulasi & hilangnya beberapa antibodi. sehingga pasien SLE menyebabkan
toleransi sel B & T menyebabkan terjadinya Clearance sel apoptotik dan kompleks
sintesis autoantibodi. Autoantibodi membentuk aktivasi sel T juga akan terstimulasi.
kompleks imun menyebabkan terjadi inflamasi. 2. Virus lainya : EBV=> interaksi dengan sel B
kurangnya C4=> tidak mencukupinya self reaktif memicu plasmacytoid dendritic cell (pDCs)=>
sel B, Sedangkan kurangnya C1q => kurangnya untuk produksi IFN-a => peningkatan IFN-a
eliminasi terhadap sel nekrotik pd SLE.
sumber : Tanzilia MF, Tambunan BA, Dewi DNSS. Tinjauan Pustaka: Patogenesis Dan Diagnosis Sistemik Lupus Eritematosus.
Syifa’ Med J Kedokt dan Kesehat. 2021;11(2):139.
PEMBAGIAN TUGAS
3. Faktor hormon
perbandingan jumlah pengidap wanita : Pria =
9:1. Wanita (20-30 thn), Pria (45-60 thn).
hormon dapat memicu terjadi SLE, karena
adanya peningkatan estrogen atau prolaktin
yang dapat menyebabkan fenotipe autoimun
sumber : Tanzilia MF, Tambunan BA, Dewi DNSS. Tinjauan Pustaka: Patogenesis Dan Diagnosis Sistemik Lupus Eritematosus.
Syifa’ Med J Kedokt dan Kesehat. 2021;11(2):139.
LO 3
PATOMEKANISME DARI SYSTEMIC LUPUS
ERYTHEMATOSUS (SLE)
PATOGENESIS SLE
Sumber : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, editor. Edisi 5
Jilid III. Jakarata Pusat; InternaPublishing; 2010. 2565 p
LO 4
MEKANISME IMUNOLOGIS DAN SEL IMUN APA
SAJA YANG BERPERAN DARI SYSTEMIC LUPUS
ERYTHEMATOSUS (SLE)
MEKANISME IMUNOLOGI
Sumber : Suparyanto dan Rosad. Medical immunology 5th. Vol. 5, Suparyanto
dan Rosad. 2020. 248–253 p.
LO 5
MANIFESTASI KLINIS DAN PEMERIKSAAN
PENUNJANG DARI SYSTEMIC LUPUS
ERYTHEMATOSUS (SLE)
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis SLE melibat hampir
seluruh sistem organ :
Manifestasi konstitusional Osteoporosis
Malaise Penurunan BB
meliputi demam, kelelahan(80%), limfadenopati, malaise,
serta penurunan nafsu makan dan BB.
Manifestasi muskuloskeletal
dapat mengenai struktur sendi, otot, tulang dan jaringan
penyokong. Misalnya artralgia, artritis erosi, kelemahan
otot, mitos-mitos, Mialgia, osteoporosis.
Ulkus oral Alopesia Malar rush
Manifestasi Kulit dan mukosa
Ruam malar, foto sensitivitas, Lesi diskoid, ulkus oral,
alopesia, lupus Profundus dan lupus eritematous
kutaneus sub akut
Sumber : ANA-NLN Committee on Films, Studios CF. Diagnosis pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. Vol. 53, The American
Journal. 1953. p. 1258.
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi ginjal
Nefritis lupus ditandai dengan proteinuria, eritrosituria (terutama
eritrosit dismorfik.
Manifestasi neuropsikistri
gejalanya berupa chorea, disfungsi kognitif, kejang, neuropati perifer, Kejang Obstruksi jalan nafas Disfagia
nyeri kepala, depresi, mood disorder.
Manifestasi paru
pneumonitis lupus akut, pendarahan alveolar, obstruksi jalan napas.
Manifestasi Jantung
perikarditis, miokarditis, endokardium
Manifestasi pembuluh darah
Ikterus Mual muntah Nyeri abdomen Diare
fenomena raynaud, vaskulitis
Manifestasi gastrointestinal
faringitis, disfagia, esofagitis, anoreksia, mual, muntah, diare, nyeri
akut abdomen
Manifestasi Hepatika
kelainan enzim hati, hepatomegali, ikterus, hepatitis autoimun
Sumber : ANA-NLN Committee on Films, Studios CF. Diagnosis pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. Vol. 53, The American Journal.
1953. p. 1258.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. PEMERIKSAAN LABORATORIUM DASAR
DARAH PERIFER LENGKAP => MENILAI KELAINAN HEMATOLOGI SECARA UMUM PD SLE (ANEMIA,
LEUKOPENIA, DLL)
URIN LENGKAP => MENGETAHUI KELAINAN SEPERTI PROTEINURIA, HEMATURIA
KIMIA DARAH => PEMERIKSAAN KIMIA DARAH AWAL YANG PERLU DILAKUKAN: KREATININ,
SGOT & SGPT), ALBUMIN, KADAR GLUKOSA DARAH.
sumber : ANA-NLN Committee on Films, Studios CF. Diagnosis pengelolaan Lupus
Eritematosus Sistemik. Vol. 53, The American Journal. 1953. p. 1258.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
2. PEMERIKSAAN AUTOANTIBODI
ANA Test => pemeriksaan serologi pertama yg diperlukan bagi pasien yg dicurigai SLE. pemeriksaan
ANA dapat dilakukan dengan indirect immunofluorencence (IIF) dan ELISA. Metode IIF dengan substrat
sel HEp2 (gold standar). Hasil ANA positif merupakan temuan yang penting yang menunjukkan suatu
kondisi suatu autoimun. ANA bukan pemeriksaan skrining.
antibodi anti double Stranded DNA (anti ds-DNA) => antibodi dapat dilakukan dengan metode ELISA, ,
farr essay, dan crriteria liciliae immunosupresan. Pemeriksaan ini memiliki positif likeliho rasio yg tingpagi
(>10) sehingga mampu meningkatkan posttest probability diagnosis SLE. Angka negatif renda (<0.45)=>
pemeriksaan anti dsDNA negatif tidak mengeksklusifkan SLE.
sumber : ANA-NLN Committee on Films, Studios CF. Diagnosis pengelolaan Lupus Eritematosus
Sistemik. Vol. 53, The American Journal. 1953. p. 1258.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
3. pemeriksaan komplemen
Pada sle, umumnya memiliki kadar c3 & c4 yang rendah. Pemeriksaan ini
merupakan pemeriksaan salah satu pemeriksaan imunologi untuk
mengdiagnosis SLE dan memantau aktivitas penyakit. Penurunan kadar kedua
komplemen c3 &c4 mempunyai nilai diagnostik yang lebih tinggi dibandingkan
salah satu saja. Pemeriksaan C3 memiliki sensitivitas 75% & C4 41% serta
spesifik keduanya 71% dlm menilai ke kambuhan ginjal.
sumber : ANA-NLN Committee on Films, Studios CF. Diagnosis pengelolaan Lupus Eritematosus
Sistemik. Vol. 53, The American Journal. 1953. p. 1258.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
3. pemeriksaan komplemen
Pada sle, umumnya memiliki kadar c3 & c4 yang rendah. Pemeriksaan ini
merupakan pemeriksaan salah satu pemeriksaan imunologi untuk
mengdiagnosis sle. Penurunan kadar kedua komplemen c3 &c4 mempunyai
nilai diagnostik yang lebih tinggi dibandingkan salah satu saja
sumber : ANA-NLN Committee on Films, Studios CF. Diagnosis pengelolaan Lupus Eritematosus Sistemik. Vol. 53, The
American Journal. 1953. p. 1258.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
4. Pemeriksaan penunjang lain
Pemeriksaan penunjang lain yang rutin dikerjakan adalah foto polos thorsks. &
EKG. Kelainan EKG pd SLE menunjukkan : fibrilasi atrium, kompleks prematur
atrium, blok atrioventrikular dll.
sumber : ANA-NLN Committee on Films, Studios CF. Diagnosis pengelolaan Lupus
Eritematosus Sistemik. Vol. 53, The American Journal. 1953. p. 1258.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
4. Pemeriksaan lain sesuai keterlibatan organ.
Kulit atau membran mukosa oral : biopsi
sendi : foto polos konvensional, USG muskuloskeletal, MRI
otot : kreatinin kinase, elektro migrasi, MRI, biopsi otot
ginjal : USG, Biopsi ginjal
jantung : EKG, kateter Isa si jantung, MRI jantung
paru : foto toraks
mata : funduskopi
sumber : ANA-NLN Committee on Films, Studios CF. Diagnosis pengelolaan Lupus Eritematosus
Sistemik. Vol. 53, The American Journal. 1953. p. 1258.
LO 6
EDUKASI & PENCEGAHAN DARI SYSTEMIC
LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE)
EDUKASI TERKAIT SLE
1. Penjelasan mengenai SLE dan organ tubuh yang terlibat
2. Pola hidup sehat (aktivitas fisik dan olahraga serta asupan nutrisi)
3. aktivitas merokok dan paparan asap rokok dari orang lain
4. paparan terhadap sinar matahari berlebih
5. mengenali gejala-gejala kekambuhan
6. pemantauan ke dokter
sumber : ANA-NLN Committee on Films, Studios CF. Diagnosis pengelolaan Lupus Eritematosus
Sistemik. Vol. 53, The American Journal. 1953. p. 1258.
PENCEGAHAN TERKAIT SLE
1. aktivitas merokok dan paparan asap rokok dari orang lain
2. paparan terhadap sinar matahari berlebih
3. Mengikuti gaya hidup sehat, mengkonsumsi makanan yang cukup
gizi dan berolahraga
sumber : ANA-NLN Committee on Films, Studios CF. Diagnosis pengelolaan Lupus
Eritematosus Sistemik. Vol. 53, The American Journal. 1953. p. 1258.
TERIMAKASIH
PEMERIKSAAN PENUNJANG
TULISKAN JUDUL PEMBAHASAN
Cras pretium tempor elit blandit egestas.
Donec sed dignissim augue. Suspendisse ac
vulputate leo. Cras aliquet nunc ac velit
cursus viverra.