0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan6 halaman

Game Simulasi Survival Hutan Kalimantan

Diunggah oleh

fesalganteng321
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan6 halaman

Game Simulasi Survival Hutan Kalimantan

Diunggah oleh

fesalganteng321
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

1

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Berpetualang menjelajahi hutan atau mendaki gunung sudah menjadi tren
yang kekinian. Tidak hanya digemari oleh komunitas pencinta alam saja namun
sudah ke berbagai kalangan khususnya anak muda. Mengabadikan momen –
momen di atas gunung atau di hutan sambil menikmati pemandangan yang indah
dan tidak bisa ditemukan di semua tempat menjadi salah satu alasan kegiatan ini
menjadi tren.
Kalimantan terkenal dengan kawasan hutannya yang masih alami. Menurut
artikel di Berita Satu, pulau ini memiliki flora yang terkaya di gugusan Kepulauan
Sunda karena memiliki 10.000 – 15.000 jenis tumbuhan berbunga. Kalimantan
(Borneo) menjadi salah satu pusat flora dunia mengingat tingkat keragaman pohon
pada sepetak hutan kecil di pulau ini sama tingginya dengan keragaman pohon di
seluruh Papua atau Amerika Selatan [1], sehingga di pulau menyediakan banyak
logistik alami. Banyak pegunungan dan bukit – bukit di Kalimantan yang memiliki
hutan tropis yang lebat dan masih sangat alami sehingga medannya sangat sulit
untuk didaki dan tidak sedikit kemungkinan untuk tersesat. Di Kalimantan juga
memiliki banyak wisata alam seperti wisata di pulau – pulau kecil yang masih
memiliki ekosistem yang alami dan wisata air terjun di tengah hutan, dimana untuk
mencapainya harus melewati medan yang berat sehingga ada kemungkinan
tersesat di tengah perjalanan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut diperlukan pengetahuan untuk dapat
bertahan di hutan atau yang sering disebut survival skill. Dengan jenis flora di
hutan Kalimantan yang beraneka ragam, maka dituntut untuk bisa membedakan
antara yang dapat dikonsumsi dan yang beracun.
Dalam situasi bertahan hidup diharuskan terus melakukan pencarian
terhadap makanan liar dan mencoba hidup sebisa mungkin. Dalam hal itu siapapun
tidak akan bisa hidup berhari – hari tanpa ada asupan makanan dan minuman.
2

Bahkan dalam situasi bertahan hidup paling statis (menetap di satu tempat),
menjaga kesehatan dengan nutrisi dari logistik tetap dibutuhkan untuk dapat
menjaga tenaga dan kejernihan pikiran. Alam menyediakan logistik untuk
bertahan hidup jika tidak mengonsumsi logistik yang salah, sehingga dibutuhkan
bekal berupa pengetahuan tentang flora dari tempat yang akan dituju.
Materi pembelajaran tentang survival skill biasanya hanya akan diajarkan
jika mengikuti komunitas pecinta alam, saat akan mendaki gunung, atau saat
mengikuti kegiatan yang berhubungan dengan alam. Sementara yang terjadi saat
ini media pembelajaran tentang survival skill masih kurang menarik karena
bersifat verbalistis. Berdasarkan hasil observasi kedua komunitas pecinta alam,
didapati bahwa pembekalan ilmu survival skill masih menggunakan buku dengan
format gambar hitam putih (bisa dilihat pada Lampiran A). Selain itu berdasarkan
hasil wawancara dengan tiga orang yang pernah mendaki gunung menyebutkan
bahwa dalam pemberian pembekalan survival skill masih menggunakan lisan.
Buku yang peneliti jadikan materi untuk konten pembelajaran pada penelitian ini
(buku dari US Army [2]) juga masih menggunakan gambar hitam putih (bisa
dilihat pada Lampiran A). Materi survival skill melalui buku dan pengajaran
secara lisan hanya mengandalkan imajinasi dan tidak aplikatif karena
penerapannya hanya bisa dilakukan langsung di lapangan sehingga menjadi
kurang efektif. Mengingat perkembangan teknologi saat ini yang cukup pesat,
peneliti mencoba memecahkan persoalan ini melalui media video game yang
dirasa cukup popular dan menarik.
Industri video game mengalami perkembangan yang cukup pesat diantara
semua media hiburan. Pada tahun 2017, pasar video game global menghasilkan
sekitar $ 116,0 miliar dalam pendapatan video game, tumbuh 10,7% dibandingkan
tahun 2016 [3]. Ada lebih dari 2,3 miliar pemain aktif di dunia tahun 2018, dimana
46%, atau 1,1 miliar, menghabiskan uang untuk video game. Pasar video game
akan mencapai $ 137,9 miliar pada tahun 2018, dengan pendapatan digital
mencapai 91% dari pasar, atau $ 125,3 miliar [4]. Pertumbuhan yang cepat ini
merupakan konsekuensi langsung dari strategi pasar industri game, yang
mengeksploitasi metode interaksi baru dan beragamnya platform video game,
3

dalam rangka untuk memperbesar komunitas pemain video game. Hal ini
menawarkan cara baru dalam bermain video game sehingga memungkinkan non-
gamer dan seluruh keluarga bermain bersama. Evolusi pada teknologi ini
memunculkan apa yang disebut serious game. Dengan jumlah pemain yang
banyak dan diterimanya video game di semua kalangan, memperlihatkan
bahwasannya antusias dalam bermain video game sangat tinggi, maka video game
sangat cocok jika dijadikan media pembelajaran, khususnya untuk mengajarkan
survival skill.
Sekarang ini video game telah di akui sebagai alat pembelajaran potensial
dengan daya tarik motivasi yang besar dan mewakili perkembangan yang menarik
di bidang pendidikan. Literatur seputar video game dan pendidikan sangat luas.
Selama lebih dari dua dekade, para pendidik (e.g., [5]; [6]; [7]; [8]; [9]; [10]; [11];
[12]) telah menyelidiki potensi yang ada pada aplikasi video game untuk
pembelajaran. Game instruksional berbasis komputer memiliki spektrum utilitas
yang luas untuk pembelajaran ( [13]; [14]). Hasil belajar terukur termasuk sikap,
strategi kognitif, pemecahan masalah, aturan, dan konsep perusahaan. Video game
telah diterapkan di berbagai lingkungan mulai dari pendidikan sekolah hingga
pelatihan militer, perawatan kesehatan, dan manajemen [15]. Efek
menguntungkan dari game paling mungkin ditemukan ketika konten ditargetkan
secara spesifik dan tujuan didefinisikan dengan tepat [14].
Simulasi adalah suatu proses peniruan dari sesuatu yang nyata beserta
keadaan sekelilingnya (state of affairs). Aksi melakukan simulasi ini secara umum
menggambarkan sifat-sifat karakteristik kunci dari kelakuan sistem fisik atau
sistem yang abstrak tertentu. Dengan visualisasi simulasi, pemecahan masalah
otentik, dan umpan balik instan, video game memberikan kerangka kerja yang
realistis untuk eksperimen dan pemahaman sesuai keadaan, maka dapat bertindak
sebagai dasar yang kaya untuk pembelajaran aktif ( [16]; [6]). Sehingga dengan
menggunakan simulasi, dalam pemilahan logistik dapat diajarkan dengan
eksperimen langsung di dalam video game.
Ditinjau dari fakta – fakta diatas, peneliti berinovasi untuk menyediakan
media pembelajaran berupa game simulasi. Game bertahan hidup 3D untuk
4

memilah makanan di hutan Kalimantan diusung agar dapat membuat masyarakat


lebih paham dan mudah dalam mempelajari teknik bertahan hidup dengan cara
yang tidak membosankan, khususnya dalam memilah logistik yang di sini peneliti
menggunakan hutan Kalimantan sebagai medan pada game tersebut. Sehingga
dengan memainkan game tersebut masyarakat dapat memiliki bekal pengetahuan
dalam memilah logistik ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan seperti
tersesat di hutan.

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas terdapat beberapa masalah yang terlihat
seperti:
1. Media pengajaran ilmu survival skill dalam pemilahan logistik masih bersifat
verbalistis.
2. Media edukasi tentang survival skill di hutan masih kurang interaktif.
3. Pembelajaran survival skill pemilahan logistik menggunakan media yang
hanya berisi gambar dan tulisan susah untuk di praktikan secara langsung.

1.3 Rumusan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana cara membuat media pembelajaran tentang pemilahan logistik di
hutan yang interaktif?
2. Bagaimana cara membuat media pembelajaran tentang pemilahan logistik
yang dapat dipraktikkan secara langsung?
3. Bagaimana cara membuat media pembelajaran tentang pemilahan logistik
yang tidak hanya bersifat verbalistis.

1.4 Batasan Masalah


Dengan mempertimbangkan permasalahan yang akan dihadapi, peneliti
membatasi permasalahan pada pengembangan game simulasi 3D untuk memilah
makanan di hutan Kalimantan berbasis Desktop. Karena masih tahap awal
pengembangan, pembuatan materi sebagai konten game untuk tumbuhan beracun
5

ada yang bersifat fiksi dan ada yang belum tentu tumbuh di hutan Kalimantan,
karena tidak ditemukannya data tentang tumbuhan beracun asli hutan Kalimantan.

1.5 Tujuan Penelitian


Peneliti melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk:

1. Mengembangkan Game Simulasi Bertahan Hidup 3D untuk Memilah Logistik


di Hutan Kalimantan di perangkat berbasis Desktop.
2. Mengetahui unjuk kerja Game Simulasi Bertahan Hidup 3D untuk Memilah
Logistik di Hutan Kalimantan di perangkat berbasis Desktop sebagai media
pembelajaran.
3. Mengetahui tingkat kelayakan Game Simulasi Bertahan Hidup 3D untuk
Memilah Logistik di Hutan Kalimantan di perangkat berbasis Desktop sebagai
media pembelajaran.

1.6 Manfaat Penelitian


Dari penelitian yang dilakukan, diharapkan dapat mempunyai manfaat sebagai
berikut :

a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan referensi untuk pengembangan game


berbasis Desktop.
b. Mampu meningkatkan minat masyarakat dalam mempelajari survival skill
tentang pemilahan logistik.
c. Game Simulasi 3D Bertahan Hidup untuk Memilah Logistik di Hutan
Kalimantan yang telah lulus uji kelayakan dapat dijadikan media edukasi
tentang survival skill dalam hal pemilahan logistik pada masyarakat.

1.7 Sistematika Penulisan


Sistematika susunan laporan penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I: PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang pendahuluan yang meliputi latar belakang


permasalahan, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan, maksud, dan sistematika
penulisan pada tugas akhir ini.
6

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

Bab ini menjelaskan kajian pustaka dan teori-teori pemecah masalah yang
digunakan sebagai pendukung segala sesuatu yang berhubungan dengan topik
penelitian ini.

BAB III: METODOLOGI PENELITIAN

Bab ini menjelaskan rancang sistem agar dapat diimplementasikan di dalam


sistem yang sesuai harapan mengacu pada teori-teori penunjang dan metode yang
sudah dijelaskan pada bab sebelumnya.

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN

Bab ini menjelaskan hasil yang diperoleh dari seluruh penelitian dan
dilakukan pengujian terhadap hasil implementasi sistem kemudian menganalisa
agar sistem berjalan sesuai dengan perancangan pada bab-bab sebelumnya.

BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan penutup yang berisi kesimpulan dan saran yang diambil
dari penelitian ini dan saran untuk pengembangan lebih lanjut.

Anda mungkin juga menyukai