BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Peningkatan laba adalah perubahan pada laporan keuangan pertahun.
Peningkatan berkaitan dengan bagaimana terjadinya stabilitas peningkatan laba di
tahun kedepannya. Didalam melakukan menjalankan perusahaan, perusahaan
mempunyai tujuan dalam kegiatannya yaitu dengan adanya meningkatkan laba
perusahaan. Peningkatan laba sangatlah di petingkan oleh perusahaan karena
peningkatan laba mencerminkan suatu pertumbuhan perusahaan. Perusahaan
harus mempunyai strategi yang tepat agar dapat memenangkan pasar dengan
menarik konsumen agar selalu memilih produknya. Untuk itu faktor-faktor yang
mempengaruhi pendapatan harus benar-benar diperhatikan.
Peningkatan laba adalah perubahan pada laporan keuangan per tahun.
Pertumbuhan berkaitan dengan bagaimana terjadinya stabilitas peningkatan laba
ditahun kedepannya. Peningkatann laba yang diatas rata-rata bagi suatu
perusahaan pada umumnya didasarkan pada peningkatan cepat yang diharapkan
dan industri dimana perusahaan beroperasi. Peningkatan laba suatu produk sangat
tergantung dari daur hidup produk (Fabozzi 2010:881). Menurut Mahmud M.
Hanafi (2010:32), menyatakan bahwa peningkatan laba adalah sebagai berikut:
“peningkatan Laba merupakan ukuran keseluruhan prestasi perusahaan yang
diukur dengan menghitung selisih antara pendapatan dan biaya”.
Menurut Soemarso (2010:230), mendefinisikan laba adalah selisih lebih
pendapatan atas beban sehubungan dengan kegiatan usaha. Apabila beban lebih
besar dari pendapatan, selisihnya disebut rugi. Laba atau rugi merupakan hasil
1
perhitungan secara periodik (berskala). Laba atau rugi ini belum merupakan laba
atau rugi yang sebenarnya. Laba atau rugi yang sebenarnya dapat diketahui
apabila perusahaan telah menghentikan kegiatannya dan di likuidasikan. Menurut
Harrison (2012:11), peningkatan Laba adalah adalah kenaikan manfaat ekonomi
selama periode akuntansi (misalnya, kenaikan asset atau penurunan kewajiban)
yang menghasilkan peningkatan ekuitas selain yang menyangkut transaksi dengan
pemegang saham.
Dalam penelitian ini, peneliti hanya membatasi faktor yang akan diteliti
yang diduga berpengaruh terhadap peningkatan laba salah satunya adalah
pendanaan eksternal. Dengan pendanaan eksternal peningkatan laba perusahaan
dapat meningkat dan kesempatan untuk menghasilkan keuntungan lebih besar,
sehingga investor akan tertarik untuk menanam saham. Didalam perusahaan
struktur pendanaan eksternal mengindikasikan bagaimana perusahaan membiayai
kegiatan operasionalnya atau bagaimana perusahaan membiayai aktivanya.
Perusahaan memerlukan dana yang berasal dari modal internal dan modal
eksternal.
Riyanto (2011:15) mengatakan bahwa “Struktur pendanaan eksternal
mencerminkan cara bagaimana aktiva-aktiva perusahaan dibelanjai, dengan
demikian struktur finansial tercermin pada keseluruhan pasiva dalam neraca.
Struktur finansial mencerminkan pula pertimbangan antara keseluruhan modal
sendiri”. Struktur pendanaan eksternal ini merupakan perbandingan antara hutang
(modal eksternal) dengan ekuitas (modal sendiri). Dalam hal ini dalam
pengukuran pendanaan eksternal menggunakan rumus DER. DER dihitung
dengan cara hutang dibagi dengan modal sendiri, artinya jika hutang perusahaan
2
lebih tinggi daripada modal sendirinya besar rasio DER berada diatas satu,
sehingga dana yang digunakan untuk aktivitas operasional perusahaan lebih
banyak dari unsur hutang daripada modal sendiri (Equity). Oleh karena itu,
investor cenderung lebih tertarik pada tingkat DER yang besarnya kurang dari
satu, karena jika DER lebih dari satu menunjukkan jumlah hutang yang lebih
besar dan resiko perusahaan semangkin meningkat.
PT. Prima Sauhur Lestari ialah perusahaan swasta yang bergerak dalam
bidang pengelolaan kelapa sawit menjadi bahan minyak mentah seperti CPO.
Mengapa peneliti memilih PT. Prima Sauhur Lestari sebagai objek penelitian
diakibatkan perkembangan dan peningkatan PT. Prima Sauhur Lestari dari tahun-
pertahun dapat dilihat dari pendanaan eksternal perusahaannya salah satunya
melalui kinerja keuangan dan prospek perusahaan dimasa mendatang. PT. Prima
Sauhur Lestari dalam menjalankan operasionalnya mempunyai tujuan untuk dapat
menghasilkan laba perusahaan.
tabel berikut terdapat perbedaan antara teori dengan data pada penelitian
ini adalah sebagai berikut:
Tabel I.1
Data Total Hutang, Total Ekuitas, dan Peningkatan Laba
Tahun T. Hutang T. Ekuitas Laba Bersih Laba
Meningkat
(dalam rupiah) (dalam rupiah) (dalam rupiah)
(LM %)
2015 [Link].324 [Link].34 [Link] 0,67
2
2016 [Link].039 [Link].09 [Link] 0,37
0
2017 [Link].908 [Link].67 [Link] 0,46
3
2018 [Link].821 [Link].25 [Link] -0,18
3
0
2019 [Link].941 [Link].31 [Link] -0,103
8
Sumber Data: Data Laporan Keuangan PT. Prima Sauhur Lestari
Berdasarkan data diatas dapat dilihat dan diketahui Pada tahun 2015-2019
dapat dilihat bahwa total hutang terus mengalami kenaikan sementara total modal
terus menerus mengalami kenaikan dan penurunan yang tidak stabil, sementara
menurut Riyanto (2010) jika hutang perusahaan lebih tinggi daripada modal
sendirinya besarnya rasio DER berada diatas satu, sehingga dana yang digunakan
untuk aktivitas operasional perusahaan lebih banyak dari unsur hutang daripada
modal sendiri (Equity) hal ini akan meningkatkan risiko yang akan diperoleh oleh
perusahaan. Dari data peningkatan laba, Pada perusahaan terjadi penurunan
dimulai tahun 2015-2019 bahkan berada di posisi negatif itu artinya pertumbuhan
laba pada tahun tersebut terus mengalami penurunan, sementara menurut
Sitanggang (2010: 52) peningkatan laba perusahaan yang baik mencerminkan
bahwa kinerja perusahaan yang baik juga. Dengan kata lain, laba merupakan
ukuran kinerja dari suatu perusahaan, sehingga semakin tinggi laba yang dicapai
perusahaan, akan mengindikasikan semangkin baik kinerja perusahaan tersebut.
1.2 Identifikasi Masalah
Dari latar belakang masalah diatas peneliti mengidentifikasi masalah
penelitian sebagai berikut:
1. Meningkatnya laba berfluktuasi dan masih berada pada angka negatif.
4
2. Terjadi fluktuasi total modal hampir setiap tahunnya sehingga
mengakibatkan perusahaan lebih banyak menggunakan hutang untuk
pembiayaan eksternal perusahaan
3. Terjadi fluktuasi laba bersih hampir disetiap tahunnya sehingga
mengakibatkan meningkatnya laba perusahaan menjadi menurun.
1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan
“Bagaimana Pengaruh Pendanaan Eksternal dalam meningkatkan Laba
Pada PT. PRIMA SAUHUR LESTARI”
1.4 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalah yang diajukan dalam penelitian, maka tujuan
dari penelitian ini adalah “Untuk Mengetahui Dan Menganalisis Bagaimana
Pengaruh Pendanaan Eksternal Dalam Meningkatkan Laba Pada PT.
PRIMA SAUHUR LESTARI”
1.5 Manfaat Penelitian
Secara terperinci manfaat penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Bagi Penulis
Penelitian ini dapat memberikan bukti mengenai struktur pendanaan
eksternal dalam meningkatkan laba perusahaan yang diukur dengan
peningkatan laba.
b. Bagi PT. Prima Sauhur Lestari Simalungun
5
bisa dijadikan pertimbangan dalam menetukan modal atau investasi.
Perhitungan kualitatif yang bisa dapat menunjukkan pendanaan
eksternal sehingga menejer keuangan berkompeten dalam masalah ini
untuk mengambil keputusan kebijakan keuangan perusahaan.
c. Bagi UMN AL-washliyah Medan
Sebagai bahan untuk menambah wawasan dan pertimbangan untuk
melakukan penelitian baik secara teori atau bersifat praktis misalkan
masalah- masalah pada objek yang diteliti selanjutnya .
d. Bagi Peneliti selanjutnya
Sebagai bahan refrensi untuk menambah dan mengembangkan hasil
penelitian selanjutnya. Serta mampu meyakinkan pembaca maupun
peneliti dengan hasil penelitian ini.
6
BAB II
LANDASAN TEORI
2,1 Uraian Teoritis
2.1. 1 Peningkatan Laba
a. Pengertian Meningkatkan Laba
Setiap perusahaan berusaha untuk memperoleh laba yang maksimal. Laba
yang diperoleh perusahaan akan berpengaruh terhadap kelangsungan hidup
perusahaan tersebut. Didalam melakukan menjalankan perusahaan, perusahaan
mempunyai tujuan dalam kegiatannya yaitu dengan adanya meningkatkan laba
perusahaan. Peningkatan laba sangatlah diinginkan oleh perusahaan karena
peningkatanan laba mencerminkan suatu pertumbuhan perusahaan. Perusahaan
harus mempunyai strategi yang tepat agar dapat memenangkan pasar dengan
menarik konsumen agar selalu memilih produknya. Untuk itu faktor-faktor yang
mempengaruhi pendapatan harus benar-benar diperhatikan.
L.M. Samryn (2012:249), Menyatakan bahwa pengertian laba adalah
sebagai berikut: “Laba merupakan sumber dana internal yang dapat diperoleh dari
aktivitas normal perusahaan yang tidak membutuhkan biaya ekstra untuk
penyimpanan dan penggunaannya”. Peningkatan laba adalah perubahan pada
laporan keuangan per tahun. Pertumbuhan berkaitan dengan bagaimana terjadinya
7
stabilitas peningkatan laba ditahun kedepannya. Peningkatann laba yang diatas
rata-rata bagi suatu perusahaan pada umumnya didasarkan pada peningkatan cepat
yang diharapkan dan industri dimana perusahaan beroperasi. Peningkatan laba
suatu produk sangat tergantung dari daur hidup produk (Fabozzi 2010:881).
Menurut Mahmud M. Hanafi (2010:32), menyatakan bahwa peningkatan laba
adalah sebagai berikut: “peningkatan Laba merupakan ukuran keseluruhan
prestasi perusahaan yang diukur dengan menghitung selisih antara pendapatan dan
biaya”.
Menurut Soemarso (2010:230), mendefinisikan laba adalah selisih lebih
pendapatan atas beban sehubungan dengan kegiatan usaha. Apabila beban lebih
besar dari pendapatan, selisihnya disebut rugi. Laba atau rugi merupakan hasil
perhitungan secara periodik (berskala). Laba atau rugi ini belum merupakan laba
atau rugi yang sebenarnya. Laba atau rugi yang sebenarnya dapat diketahui
apabila perusahaan telah menghentikan kegiatannya dan di likuidasikan. Menurut
Harrison (2012:11), peningkatan Laba adalah adalah kenaikan manfaat ekonomi
selama periode akuntansi (misalnya, kenaikan asset atau penurunan kewajiban)
yang menghasilkan peningkatan ekuitas selain yang menyangkut transaksi dengan
pemegang saham.
Dari beberapa definisi diatas data disimpulkan bahwa laba merupakan
aliran masuk yang bersumber dari penjualan baik barang dagangan ataupun
bentuk jasa yang menimbulkan laba selama satu periode akuntansi yang berasal
dari kegiatan operasional perusahaan.
b. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Meningkatkan Laba
Perusahaan
8
Menurut Nurhadi (2011:141), menyatakan pengertian peningkatan laba
adalah sebagai berikut: :” Peningkatan Laba menunjukan persentasi kenaikan laba
yang dapat dihasilkan perusahaan dalam bentuk laba bersih”. Peningkatan laba
suatu produk dari emiten tergantung dari daur hidup produk, jika pertumbuhan
laba per tahun meningkat, investor akan percaya terhadap emiten, bahwa emiten
akan memberikan keuntungan dimasa depan, kondisi tersebut terjadi jika
informasi yang diperoleh investor sempurna. Berdasarkan pembahasan diatas,
dapat disimpulkan bahwa peningkatan laba merupakan perubahan pendapatan per
tahun yang stabil. Jika pertumbuhan laba per tahun meningkat, investor akan
percaya terhadap emiten bahwa emiten akan memberikan keuntungan dimasa
depan.
Bagi perusahaan dengan tingkat laba yang tinggi kecenderungan
perusahaan membagikan dividen lebih konsisten dibandingkan dengan
perusahaan-perusahaan yang tingkat pertumbuhan labanya rendah (Hatta, 2007).
Dalam praktek, peningkatan laba itu dipengaruhi oleh beberapa faktor
sebagai berikut: (Swastha dan Irawan, 2010).
1. Return On Asset (ROA) adalah salah satu jenis rasio profitabilitas
yang mampu menilai kemampuan perusahaan yaitu suatu ukuran
tentang efektvitas manajemen dalam mengelola asetnya. Di samping
itu, hasil pengembalian asset menunjukan produktivitas dari
pertumbuhan laba perusahaan. Semangkin kecil (rendah) rasio ini
maka semangkin rendah tingkat pertumbuhan laba perusahaan,
demikian pula sebaliknya. Artinya rasio ini sangat berguna untuk
mengukur efektivitas dari pertumbuhan laba perusahaan.
9
2. Return on Equity (ROE) Atau yang dikenal dengan sebutan rasio
pengambilan Ekuitas adalah rasio Profitabilitas yang mengukur suatu
kemampuan pada peruusahaan , untuk mengasilkan laba dari investasi
saham di perusahaan.
3. Debt to Equity Ratio (DER) merupakan Kemampuan suatu
perusahaan untuk membayar semua hutang-hutangnya menunjukkan
“solvabilitas” suatu perusahaan. Suatu perusahaan yang “solvable”
berarti perusahaan tersebut mempunyai modal atau kekayaan yang
cukup untuk membayar semua hutang-hutangnya (Riyanto,2011).
4. Return On Equity (GPM) merupakan Rasio laba bersih terhadap
ekuitas saham biasa mengukur tingkat pengembalian modal. GPM
sangat berguna dalam meningkatkan pertumbuhan laba perusahaan,
dan juga manajemen rasio tersebut merupakan ukuran atau indicator
posting dari Shareholder value creation. Artinya semangkin tinggi
rasio GPM, semangkin tinggi pula tingkat pertumbuhan labanya.
Dalam menilai pendapatan suatu perusahaan dapat digunakan satu atau
pun lebih rasio yang digunakan, sehingga perusahaan mampu menilai kondisi dari
keuangan perusahaan tersebut. Pendapatan dalam hal ini lebih berarti tindakan
menjual barang atau jasa. Kegiatan pemasaran adalah dalam lingkup hasil atau
pendapatan berarti penilaian atas pendapatan nyata perusahaan dalam suatu
periode. Kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba menentukan
keberhasilan dalam mencari keuntungan, apabila perusahan tidak mampu
menghasilkan laba maka perusahaan akan mengalami kerugian. Menurut
Amstrong (2010, hal. 116) bahwa biaya untuk mendapatkan konsumen baru lebih
10
mahal dibandingkan dengan biaya untuk mempertahankan hubungan dengan
pelanggan yang sudah ada. Menurut Kalwani dan Narayandas (2012, hal.5)
menyatakan bahwa orientasi hubungan jangka panjang akan memberikan dampak
positif bagi peningkatan pertumbuhan laba. Peningkatan laba merupakan suatu
komponen untuk melihat prospek perusahaan pada masa yang akan datang, dan
kesimpulan dalam manajemen keuangan diukur dengan melihat perubahan total
penjualan.
Tentu dalam menilai suatu profit perusahaan harus melakukan
perhitangan yang cukup baik, Perhitungan tingkat penjualan pada akhir periode
dengan penjualan yang dijadikan periode dasar. Apabila nilai perbandingannya
semangkin besar, maka dapat dikatakan bahwa peningkatan laba semangkin baik.
c. Pengukuran Meningkatkan Laba
Meningkatan laba dihitung dengan cara mengurangkan laba bersih tahun
sekarang dengan laba bersih tahun lalu kemudian dibagi dengan laba bersih tahun
lalu. Meningkatkan laba memiliki peranan yang penting dalam manajemen modal
kerja, dengan mengetahui seberapa besar peningkatan laba, perusahaan dapat
memprediksi seberapa besar profit yang akan didapatkan. Menurut Kesuma (2009:
41), Meningkatkan laba dapat diukur dengan rumus dibawah ini, dimana teknik
yang digunakan hamper sama dengan teknik tren angka indeks. Analisa ini
cenderung digunakan untuk jangka waktu yang pendek, karena sifatnya hanya
untuk melihat perubahan usaha dari tahun ke tahun. Rumus metode perhitungan
metode ini sebagai berikut:
St−(St−1)
Meningkatkan Laba =
St−1
11
Keterangan :
St : laba periode sekarang
St-1 : laba periode sebelumnya
Meningkatan laba juga dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor luar seperti
adanya peningkatan harga akibat inflasi, nilai tukar rupiah, kondisi ekonomi,
kondisi politik suatu Negara dan adanya kebebasan manajerial yang
memungkinkan mwenejer memilih metode akuntansi dan membuat estimasi yang
dapat meningkatkan laba (I Nyoman Kusuma, 2012:249). Menurut Kasmir (2010,
hal. 104) “laba memiliki pengaruh yang strategis bagi sebuah perusahaan, karena
laba yang dilakukan harus didukung dengan harta atau aktiva dan penjualan
ditingkatkan maka laba harus ditambah”. Dengan mengetahui laba dari tahun
sebelumnya, perusahaan dapat mengoptimalkan sumber daya yang ada. Kenaikan
laba menunjukkan persentase kenaikan laba tahun ini yang dibandingkan dengan
tahun lalu, semangkin tinggi persentase yang diperoleh maka semangkin baik bagi
perusahaan. Menurut I Nyoman Kesuma (2012: 41) “bila perusahaan yang
memiliki tingkat pertumbuhan laba yang tinggi akan membutuhkan lebih banyak
investasi pada berbagai elemen asset, baik asset tetap maupun asset lancar. Pihak
manajemen perlu mempertimbangkan sumber pendanaan yang tepat bagi
pembelanjaan asset tersebut. Perusahaan yang memiliki pertumbuhan laba yang
tinggi akan mampu memenuhi kewajiban finansialnya seandainya perusahaan
tersebut membelanjai asset nya dengan hutang.
2.1.2Struktur Pendanaan
12
a. Pengertian Pendanaan Eksternal
Pendanaan Eksternal merupakan uang atau modal yang berasal dari pihak
esternal atau luar perusahaan, baik itu untuk modal ekuitas atau hutang.
Perusahaan dapat mengumpulkan uang dari pasar modal dengan menerbitkan surat
utang atau saham atau perusahaan melakukan peminjaman kepada pihak bank
maupun investor. Struktur pendanaan eksternal mengindikasikan bagaimana
perusahaan membiayai kegiatan operasionalnya atau bagaimana perusahaan
membiayai aktivanya. Riyanto (2011:5) mengatakan bahwa “Struktur finansilnya
mencerminkan cara bagaimana aktiva-aktiva perusahaan dibelanjai, dengan
demikian struktur finansial tercermin pada keseluruhan passiva dalam neraca.
Struktur finansial mencerminkan pula perimbangan antara keseluruhan modal
eksternal (baik jangka panjang maupun jangka pendeknya) dengan jumlah modal
sendiri”. Struktur pendanaan eksternal merupakan perbandingan antara hutang
(modal eksternal) dengan ekuitas (modal sendiri) yang diukur melalui DER.
Uang berasal dari pihak eksternal, baik untuk modal ekuitas atau hutang.
Perusahaan dapat mengumpulkan uang dari pasar modal dengan menerbitkan surat
uang atau saham atau prusahaan melakukan peminjaman kepada pihak bank.
Manajemen pendanaan pada hakekatnya menyangkut keseimbangan finansial
didalam perusahaan yaitu keseimbangan antara aktiva dengan pasiva yang
dibutuhkan beserta mencari susunan kualitatif dari aktiva akan menentukan
struktur kekayaan perusahaan, sedang pemilihan susunan kulitatif dari pasiva akan
menentukan struktur finansialnya (struktur pendanaan) dan struktur modal
perusahaan (Bambang 2010). Pada prinsipnya setiap perusahaan membutuhkan
dana. Pemenuhan dana tersebut dapat berasal dari sumber intern maupun sumber
13
ekstern. Namun umumnya perusahaan cenderung menggunakan modal sendiri
sebagai modal permanen daripada modal eksternal yang hanya digunakan sebagai
pelengkap apabila dana yang diperlukan kurang mencukupi. karena itu, para
menejer keuangan dengan tetap memperhatikan cost of capital perlu menentukan
struktur pendanaan dalam upaya menetapkan apakah kebutuhan dana perusahaan
dipenuhi dengan modal sendiri ataukah dipenuhi dengan modal eksternal.
Pendanaan eksternal biasanya untuk ekspansi seperti mendirikan fasilitas
produksi baru atau mengakuisisi perusahaan lain. Aksi korporasi semacam itu
biasanya membutuhkan dan yang signifikan, lebih besar daripada dana yang dapat
dibiayai secara internal. Dalam melakukan keputusan pendanaan, perusahaan
dituntut untuk mempertimbangkan dan menganalisis kombinasi sumber-sumber
dana ekonomis guna memenuhi kebutuhan-kebutuhan investasi serta kegiatan
[Link] itu, dalam penetapan struktur pendanaan, perusahaan perlu
mempertimbangkan berbagai variabel yang mempengaruhinya. Weston dan
Brigham (2012) mengemukakan beberapa variabel yang mempengaruhi struktur
pendanaan perusahaan, pertumbuhan laba, stabilitas penjualan, struktur saingan,
struktur aktiva, struktur manajemen, sikap pemberi pinjaman.
Dalam penelitian ini, rasio yang dipakai untuk mengukur struktur
pendanaan eksternal adalah debt to total equity, yaitu perbandingan antara hutang
denagn total modal. Pengukuran ini telah digunakan oleh Pandey (2011, hal. 88)
dan beberapa peneliti terdahulu. Alasan penelitian ini menggunakan total hutang
atas modal karena kondisi di Indonesia. Indonesia sebagai Negara yang sedang
berkembang sering menggantikan hutang jangka pendek menjadi hutang jangka
panjang dan roll over hutang jangka pendek (Husnan, 2011: Pandey, 2011).
14
b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendanaan Eksternal
Banyaknya faktor yang mempengaruhi pendanaan eksternal perusahaan
baik itu profitabilitas, pertumbuhan penjualan dan struktur aktiva sebagai struktur
pendanaan eksternal. Dalam penetapan struktur pendanaan eksternal, perusahaan
perlu mempertimbangkan berbagai variabel yang mempengaruhinya. Menurut
Brigham dan Houston (2011:39) ada beberapa faktor yang mempengaruhi dalam
pengambilan keputusan struktur pendanaan eksternal antara lain: stabilitas
penjualan, struktur aktiva, leverage operasi, tingkat pertumbuhan, profitabilitas,
pajak, pengendalian, sikap manajemen, sikap pemberi pinjaman dan lembaga
penilai peringkat, kondisi pasar, kondisi internal perusahaan, fleksibilitas
keuangan. Ada beberapa faktor yang berpengaruh struktur pendanaan eksternal
yaitu pembayaran dividen, risiko bisnis.
Dari teori ada enam faktor yang mempengaruhi pendanaan eksternal
yaitu:
1) Struktur Aktiva, Perusahaan yang aktivanya sesuai untuk dijadikan
jaminan kredit cenderung lebih banyak menggunakan banyak hutang.
aktiva multiguna yang dapat digunakan oleh banyak perusahaan
merupakan jaminan yang baik, sedangakan aktiva yang hanya
digunakan untuk tujuan tertentu tidak begitu baik digunakan jaminan.
2) Profitabilitas, Sering kali diamati bahwa perusahaan dengan tingkat
pengembalian atas investasi yang sangat tinggi ternyata menggunakan
hutang dengan jumlah relatif sedikit. Meskipun tidak ada pembenaran
teoritis atas fakta ini, salah satu penjelasan praktisnya adalah
15
perusahaan yang sangat menguntungkan, tingkat pengembalian yang
tinggi memungkinkan perusahaan-perusahaan tersebut melakukan
sebagian besar pendanaannya melalui dana yang dihasilkan secara
internal.
3) Stabilitas Penjualan, Perusahaan dengan penjualan yang relatif stabil
dapat lebih aman memperoleh lebih banyak pinjaman dan
menanggung beban tetap yang lebih tinggi dibandingkan dengan
perusahaan yang penjualannya tidak stabil. Perusahaan umum, karena
permintaan atas produk atau jasanya stabil, secara historis mampu
menggunakan lebih banyak leverage keuangan daripada perusahaan
industri.
4) Leverage operasi, jika hal-hal lain tetap sama, perusahaan dengan
leverage operasi yang lebih kecil cenderung lebih mampu untuk
memperbesar leverage keuangan karena ia akan mempunyai resiko
bisnis yang lebih kecil.
5) Resiko bisnis, Resiko bisnis dianggap menyebabkan perusahaan
untuk lebih berhati-hati dalam mencari pendanaan eksternal.
6) Pembayaran Dividen, Pembayaran dividen menyebabkan penurunan
jumlah pendanaan internal sehingga mendorong perusahaan untuk
mencari pendanaan eksternal.
7) Tingkat pertumbuhan, Jika hal lain tetap sama, perusahaan yang
tumbuh dengan pesat harus lebih banyak mengandalkan modal
eksternal. Lebih jauh lagi, biaya pengembangan untuk penjualan
saham biasa lebih besar daripada biaya untuk penerbitan surat hutang,
16
yang mendorong perusahaan untuk lebih banyak mengandalkan
hutang. Namun, pada saat yang sama perusahaan yang tumbuh.
A. Pendanaan Internal
Pembelanjaan internal (Internal Finncing) adalah cara pembelanjaan
perusahaan yang menggunakan dana yang tidak dibagikan kepada para pemegang
saham atau yang biasa di istilahkan sebagai dana yang ditahan (rertained
earning) .Menurut Brigham dan Houston (2011:51) sumber extern (external
sources) adalah sumber yang berasal dari luar perusahaan, dana yang berasal dari
sumber ekstern adalah dana yang berasal dari kreditur dan pemilik, peserta atau
pengambil bagian dalam perusahaan. Dana atau modal yang berasal dari para
kreditur adalah merupakan hutang bagi perusahaan yang bersangkutan dan modal
yang berasal dari kreditur tersebut ialah apa yang disebut modal asing. Metode
pembelajaan dengan menggunakan modal asing pembelanjaan asing atau
pembelanjaan dengan hutang (det financing).
Uang berasal dari internal perusahaan, yakni dari laba ditahan. Dari total
laba bersih yang dibukukan, perusahaan mendistribusikan sebagian sebagai
dividen kepada pemegang saham. Untuk sisanya, mereka simpan sebagai laba
ditahan. Perusahaan dapat menggunakan laba ditahan untuk memenuhi kebutuhan
operasi ataupun untuk mendukung pendanaan ekspansi bisnis. Dana atau modal
yang berasal dari pemilik, peserta atau pengambil bagian didalam perusahaan
adalah merupakan dana yang akan tetap ditanamkan didalam perusahaan yang
bersangkutan, dan dana ini dalam perusahaan tersebut akan menjadi modal
sendiri. Metode pembelanjaan dengan menggunakan dana yang berasal dari
pemilik atau calon pemilik tersebut disebut pembelanjaan sendiri (equity
17
financing). Dengan demikian maka dana yang berasal dari sumber ektern adalah
terpilih dari modal asing dan modal sendiri.
Bank adalah lembaga kredit yang mempunyai tugas utama memberikan
kredit disamping pemberian jasa-jasa lain dibidang keuangan. Pemberian kredit
oleh bank bisa jangka pendek (kurang dari 1 tahun), jangka panjang (lebih dari 1
tahun dan kurang dari 10 tahun), dan jangka panjang (lebih dari 10 tahun). Fungsi
dari pasar modal adalah mengalokasikan secara efisien arus dana dari unit
ekonomi yang mempunyai serius tabungan (saving surplus unit) kepada unit
ekonomi yang mempunyai defisit tabungan (saving deficit unit). Dalam pasar
modal dibedakan antara pasar perdana dan pasar sekunder. Dimaksudkan dengan
pasar perdana adalah pasar bagi efek yang pertama kali diterbitkan dan ditawarkan
dalam pasar modal, sedangkan pasar sekunder adalah pasar bagi efek yang sudah
ada dan sudah diperdagangkan dalam bursa efek.
Harga dari saham dan efek-efek lain berubah-ubah sesuai dengan
perubahan keseimbangan antara penawaran dan permintaan terhadap efek-efek
yang bersangkutan. Harga dari efek-efek sebenarnya juga merupakan barometer
dari pandangan mereka mengenai masa depan industri dan ekonomi pada
umumnya. Pasar modal merupakan sumber utama bagi perusahaan-perusahaan
yang membutuhkan dana dalam jumlah yang besar yang akan terikat untuk jangka
waktu yang panjang. Bagi emiten dana yang diperoleh dari penerbitan atau emisi
saham merupakan sumber dana yang akan tertanam dalam perusahaan untuk
jangka waktu yang tidak tertentu waktunya sehingga merupakan sumber dana
permanen, meskipun bagi pemodal investasi dalam saham tersebut dapat
18
merupakan investasi sementara karena saham tersebut dijual sewaktu-waktu pada
saat mereka membutuhkan dana.
B. Debt to Equity Ratio (DER)
Debt Equity Ratio merupaka rasio yang digunakan oleh perusahaan untuk
menilai sejauh mana perusahaan dibiayai oleh pinjaman atau hutang. Debt Equity
Ratio merupaka rasio yang mengukur tingkat penggunaan hutang (leverage)
terhadap total shareholder’s equity yang dimiliki perusahaan. Secara sistematis
Debt Equity Ratio adalah perbandingan antara total hutang atau total debts dengan
total shareholder’s equity (Home dan Wachowiscs, 2010:186). Menurut Kasmir
(2010:157) Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang digunakan untuk menilai
utang dengan ekuitas. Rasio ini dicari dengan cara membandingkan antara seluruh
hutang, termasuk hutang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untuk
mengetahui jumlah dana yang disediakan peminjam (kredit) dengan pemilik
perusahaan. Dengan kata lain rasio berfungsi untuk mengetahui setiap rupiah
modal sendiri yang dijadikan untuk jaminan utang.
Menurut (Darsono dan Ashari, 2010:54-55) Debt Equity Ratio (DER) masuk
didalam rasio leverage atau solvabilitas, rasio solvabilitas adalah rasio untuk
mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jika perusahaanb
tersebut dilikuidasi. Total Debt merupakan total liabilities (baik hutang jangka
pendek maupun jangka panjang), sedangkan total shareholder’s equity merupakan
total modal sendiri yang dimiliki perusahaan. Rasio ini menunjukkan komposisi
atau struktur modal dari total pinjaman (hutang) terhadap total modal yang
dimiliki perusahaan. Semangkin tinggi Debt to Equity Ratio (DER) menunjukkan
19
komposisi total hutang (jungka pendek maupun jangka panjang) semangkin besar
dibanding dengan total modal sendiri, sehingga berdampak semangkin besar
beban perusahaan terhadap pihak luar (kreditur) (Ang, 2011).
Menurut Prihantoro (2011) menyatakan bahwa Debt Equity Ratio (DER)
adalah “mencerminkan kemampuan perusahaan dalam memenuhi seluruh
kewajibannya, yang ditunjukkan oleh beberapa bagian modal sendiri yang
digunakan untuk membayar hutang. Oleh karena itu, semangkin rendah nilai DER
akan semangkin tinggi kemampuan perusahaan untuk membayar semua
kewajibannya”. Semangkin besar hutang, semangkin besar resiko yang
ditanggung perusahaan. Oleh sebab itu perusahaan yang tetap mengambil hutang
sangat tergantung pada biaya relatif. Biaya hutang lebih kecil daripada dana
ekuitas. Dengan menambahkan hutang kedalam neracanya, perusahaan secara
umum dapat meningkatkan profitabilitas, yang kemudian menaikkan return
sahamnya, sehingga meningkatkan kesejahteraan para pemegang saham dan
membangun potensi pertumbuhan yang lebih besar. Sebaliknya biaya hutang lebih
besar daripada dana ekuitas. Dengan menambahkan hutang ke dalam neracanya,
justru akan menurunkan profitabilitas perusahaan (Walsh, 2014).
Sejalan dengan uraian diatas, Debt to Equity Ratio (DER) menunjukkan
struktur permodalan suatu perusahaan yang merupakan perbandingan antara total
hutang dengan ekuitas yang digunakan sebagai sumber pendanaan perusahaan.
Debt to Equity Ratio (DER) adalah rasio pengukur leverage perusahaan, menurut
Gitman dan Joehnk (2007) rasio leverage adalah: “Financial ratio that measure
the amount of debt being used to support operations and ability of the firm to
service is debt”. Balancing Theory menyatakan bahwa keputusan untuk
20
menambah hutang tidak hanya berdampak negatif, tetapi juga berdampak positif
karena perusahaan harus berupaya menyeimbangkan manfaat dengan biaya yang
ditimbulkan akibat hutang. Mondigliani dan Miller (2012) menyatakan bahwa
nilai suatu perusahaan akan meningkat dengan meningkatnya Debt to Equity Ratio
(DER) karena adanya efek dari corporate tax shield. Hal ini disebabkan karena
dalam keadaan pasar sempurna dan ada pajak, umumnya harga yang dibayarkan
akibat penggunaan hutang dapat dipergunakan untuk mengurangi penghasilan
yang dikenakan pajak. Dengan demikian apabila terdapat dua perusahaan dengan
laba operasi yang sama, tetapi perusahaan yang satu menggunakan hutang dan
membayar bunga sedangkan perusahaan yang lain tidak, maka perusahaan yang
membayar bunga akan membayar pajak penghasilan yang lebih kecil, sehingga
menghemat pendapatan.
Total Hutang
DER =
Jumlah Total Modal
Berikut ini disajikan hasil penelitian terdahulu dari penelitian ini adalah
sebagai berikut
.
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
N Judul Hasil
Peneliti Variabel Perbedaan
O Penelitian Penelitian
1 Ardina Pengaruh PER, TAG, Hanya TAG, Ardina
Zahrah Keputusan DER, DPR, DPR yang menganalisis
Fajaria Investasi, berpengaruh menggunaka
(2015) Keputusan Positif dalam n empat
rasio
Pendanaan dan meningkatkan
keuangan
Kebijakan nilai laba
yaitu PER,
Deviden yaitu: DER, TAG, DER
Terhadap Nilai NPM, dan CR
21
Perusahaan dan DPR
2 Mitha Pengaruh CR CR dan DER, Dapat Mitha
Christina dan DER disimpulkan Cristiani
Ginting terhadao bahwa CR dan Ginting
(2017) financial DER menganalisis
menggunaka
Distress pada berpengaruh
n dua rasio
perusahaan signifikan
yaitu CR dan
Property & Real DER
Estate di BEI
3 Yolanda Pengaruh DER DER, DAR, DER, dan Yolanda
Fitri dan DAR Profitabilitas DAR mampu Fitri Zulvia
Zulvia terhadap meningkatkan menganalisis
(2017) Profitabilitas Profitabilitas menggunaka
n Dua Rasio
Pada perusahaan
Keuangan
Perusahaan
yaitu DER
Manufaktur dan DAR
yang terdapat di
BEI
Sumber: Peneliti (2021)
2.2 Kerangka Berpikir
Analisis laporan keuangan adalah analisis laporan keuangan yang terdiri dari
penjelasan atau mempelajari daripada hubungan dan tendensi atau kecenderungan
(trend) untuk menentukan posisi keuangan dan hasil operasi serta perkembangan
perusahaan yang bersangkutan ( Munnawir 2010:35). Laporan keuangan
merupakan laporan dimana perusahaan melaporkan kinerja perusahaan dalam
bentuk kuantitatif. Artinya menggunakan angka yang dapat dianalisa untuk
memprediksi kondisi keuangan perusahaan dimasa mendatang dan juga
bermanfaat bagi [Link] laporan keuangan PT. Prima Sauhur Lestari
tahun 2012-2016 ini penulis mencari perbandingan antara total hutang dan total
22
ekuitas yang didapat dari neraca untuk mendapatkan bagaimana penggunaan dana
yang dikelola perusahaan dengan menggunakan rasio DER.
Pengukuran ini digunakan dengan total debt merupakan total liabilities
(baik hutang jangka pendek maupun hutang jangka panjang), sedangkan total
shareholders equity merupakan total modal sendiri yang dimiliki perusahaan.
Rasio ini menunjukkan komposisi atau struktur pendanaan eksternal dari total
pinjaman (hutang) terhadap total modal yang dimiliki [Link]
penulis melihat perkembangan laba bersih dengan mengukur pertumbuhan laba
dengan menggunakan rasio pertumbuhan laba yaitu perbandingan laba bersih
tahun sekarang dengan tahun lalu apakah mengalami kenaikan maupun
penurunan, sehingga akan diketahui peningkatan laba tersebut setiap tahunnya.
Meningkatkan laba perusahaan merupakan kemampuan perusahaan untuk
meningkatkan size. Pertumbuhan perusahaan pada dasarnya dipengaruhi oleh
beberapa faktor, yaitu faktor eksternal, internal, dan pengaruh iklim industri local.
Tingkat pertumbuhan laba yaitu kenaikan atau penurunan jumlah laba dari tahun
ke tahun atau dari waktu ke waktu.”Bila perusahaan yang memiliki tingkat
peningkatan laba yang tinggi akan membutuhkan lebih banyak investasi pada
berbagai elemen asset, baik asset tetap maupun asset lancar. Pihak manajemen
perlu mempertimbangkan sumber pendanaan yang tepat bagi pembelanjaan asset
tersebut. Perusahaan yang memiliki peningkatan laba yang tinggi akan mampu
memenuhi kewajiban finansialnya seandainya perushaan tersebut membelanjai
asetnya dengan hutang. Ada beberapa faktor yang berpengaruh terhadap
peningkatan laba perusahaan antara lain: stabilitas penjualan, struktur aktiva,
struktur pendanaan, profitabilitas, pajak, pengendalian, sikap manajemen, sikap
23
pemberi pinjaman dan lembagai penilai peringkat, kondisi pasar, kondisi internal
peruusahaan, fleksibilitas keuangan.
Berikut dapat dilihat gambar yang membentuk kerangka perpikir dari
penjelasan tersebut.
Tujuan Perusahaan
Keputusan Pendanaan
Neraca Laba Rugi
Pasiva
Ekuitas Hutang
Debt Rasio (DR)
Debt Equity Ratio (DER)
Meningkatkan Laba
Analisis
24
Kesimpulan
Gambar II.1
Kerangka Berfikir
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan Penelitian
Jenis penelian ini adalah penelitian deksriptif yaitu mengumpulkan,
mengklasifikasikan, menganalisa serta mengiprestasikan data yang
berhubungan dengan masalah yang dihadapi dan membandingkan
pengetahuan teknis (data primer) dengan keadaan yang sebenernya pada
perusahaan untuk kemudian mengambil keputusan, adapun tujuan dari
penelitian deskriptif adalah untuk membuat pencandraan secara sistematis,
faktual, dan akurat.
3.2 Desain Penelitian
Desain Penelitian merupakan kerangka atau perincian prosedur kerja yang
akan dilakukan pada waktu meneliti, sehingga diharapkan dapat memberikan
gambaran dan arah mana yang akan dilakukan dalam melaksanakan penelitian
tersebut.
3.3 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Definisi operasional dapat dilihat dari variabel dalam penelitian ini sebagai
berikut:
1. Pendanaan Eksternal
25
Pendanaan eksternal adalah struktur pendanaan yang mengindikasikan
bagaimana perusahaan membiayai kegiatan operasionalnya atau
bagaimana perusahaan membiayai aktivanya. Pendanaan eksternal dapat
diukur dengan menggunakan Debt Equity Ratio (DER).
Pendanaan Eksternal terdiri dari Hutang jangka Pendek berbanding
dengan Current Ratio Hutang Jangka Panjang, Perbandingan Hutang
Jangka Panjang.
DER menunjukkan struktur permodalan suatu perusahaan yang
merupakan perbandingan antara total hutang dengan total ekuitas yang
digunakan sebagai sumber pendanaan perusahaan.
Pengukurannya dengan Rumus:
Total Hutang
DER=
Total Modal
(Sumber : Bambang Riyanto 2011)
2. Meningkatkan Laba
Meningkatkan laba adalah perubahan total laba perusahaan. Tingkat
pertumbuhan laba yaitu kenaikan atau penurunan jumlah laba dari tahun
ke tahun atau dari waktu ke waktu.”Bila perusahaan yang memiliki
tingkat laba yang tinggi akan membutuhkan lebih banyak investasi pada
berbagai elemen asset, baik asset tetap maupun asset lancer.
Pengukurannya dengan menggunakan Rumus :
St−(St −1)
Meningkatkan Laba=
St−1
(Sumber I Nyoman Kusuma Adnyana: 2012)
26
3.4 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di PT. Prima Sauhur Lestari dilakukan dan dimulai
pada bulan desember 2020 sampai dengan September 2021.
No Proses Tahun Tahun 2021
Penelitian 2020
Des Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu sept
s
1 1 1 1 1 1 1 1 1 1
1. Riset
Pendahuluan
2. Pengajuan Judul
3. Pengesahan
Judul
4. Pengumpulan
Data
5. Penyusunan
Proposal
6. Seminar
Proposal
7. Bimbingan
Skripsi
8. Sidang
9. Data Sidang
3.5 Jenis dan Sumber Data
Menurut Arikanto (2010:203 ), penelitian ini adalah alat atau fasilitas
yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya
lebih mudah dan hasilnya lebih baik. Dalam arti cermat lengkap dan sistematis
sehingga lebih mudah diolah , adapun jenis data yang digunakan dalam
penelitian ini yaitu :
a. Data Primer
27
Data primer merupakan sumber data yang berlangsung memberikan data
kepada pengumpul data, data ini diperoleh melalui wawancara dengan pegawai
bagian keuangan yang berhubungan tentang penelitian yang dilakukan.
b. Sumber Data
Adapun sumber data yang digunakan penulis dalam melakukan
penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder adalah data yang
diperoleh secara tidak langsung dari perusahaan kepada pengumpul
data yang didapat dari PT. Prima Sauhur Lestari yang berupa
pengumpulan data laporan keuangan yang terdiri dari laporan posisi
keuangan (neraca) dan laporan laba/rugi PT. Prima Sauhur Lestari
pada periode 2015-2019 yang berhubungan dengan penelitian ini.
3.6 Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2012:224) Teknik pengumpulan data merupakan yang
paling utama dalam penelitian ini, karena tujuan utama dari penelitian ini adalah
mendapatkan data teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis adalah
tekhnik dokumentasi, yaitu data pendukung yang merupakan bagian dari
pembukuan yakni peneliti melakukan pengamatan pengumpulan data laporan
keuangan dan rekapitulasi aktiva tetap yang berhubungan diperoleh langsung dari
PT. Prima Sauhur Lestari dalam bentuk laporan keuangan yang tertulis.
3.7 Teknik Analisis Data
28
Adapaun teknik analisis data yang digunakan penulis untuk mengelola data
yaitu analisis dekskriptif kualitatif yaitu metode analisis dimana data yang
diperoleh dilakukan dengan pengumpulan data . yaitu dengan cara menganalisis
data-data laporan keuangan perusahaan yang mengenai penjualan dan laba kotor
kemudian ditarik kesimpulan dari data laporan keuangan tersebut. Data penelitian
dianalisis dengan pendekatan akuntansi keuangan. Kondisi keuangan perusahaan
diukur dengan menggunakan penjualan bersih untuk meningkatkan laba kotor
pada PT. Prima Sauhur Lestari. Berikut tahapan analisis data penelitian ini:
1. Mengumpulkan data laporan keuangan dari tahun 2015-2019
2. Menganalisis bagaimana pendanaan eksternal yaitu perbandingan antara
total hutang dengan total modal.
3. Menganalisis laba bersih
4. Melakukan perhitungan meningkatkan laba dengan menggunakan total
laba bersih sesuai tahun dengan menggunakan rumus peningkatan laba
5. Menarik kesimpulan
29
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Deskripsi Singkat Perusahaan
PT. Prima Sauhur Lestari merupakan perusahaan swasta yang bergerak
dalam bidang pengelolaan kelapa sawit menjadi bahan minyak mentah seperti
CPO. Alasan peneliti memilih PT. Prima Sauhur Lestari sebagai objek penelitian
dikarenakan perkembangan PT. Prima Sauhur Lestari dari tahun-tahun dapat
dilihat dari pendanaan eksternal perusahaannya salah satunya melalui kinerja
keuangan dan prospek perusahaan dimasa mendatang. PT. Prima Sauhur Lestari
dalam menjalankan operasionalnya mempunyai tujuan untuk dapat menghasilkan
laba perusahaan.
Berikut terdapat Struktur Organisasi dari PT. Prima Sauhur Lestari
Kabupaten Simalungun.
30
Direktur Utama:
DAVID CHANDRA
General Manager:
Ir. HARTONO
Manager Pabrik:
TEUKU REZA FAHRIN,
SH
Ka. Bag Laboratorium Kepala Workshop Kepala Bengkel Kepala Administrasi /
HRD
S U H A R D I AMRI HARAHAP BONO HUTAGALUNG
M E L I N A
Assisten Shift Listrik KEUANGAN
HALIMAN SINAGA AGUS AFANDI DMK RITA DEWI PUSPITA
Mekanik Jaga Mesin Personalia
S U R Y A D I CHAN LEE UN SHELLY PUTRI
31
Gudang
ACIK APENG
Gambar 4.1 Struktur Organisasi PT. PRIMA SAUHUR LESTARI
SIMALUNGUN
4.1.2Deskripsi Data
Pada tabel berikut terdapat perbedaan antara teori dengan data pada
penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2
Data Total Hutang, Total Ekuitas, dan Peningkatan Laba
Tahun T. Hutang T. Ekuitas Laba Bersih Laba
Meningkat
(Dalam Rupiah) (Dalam Rupiah) (Dalam Rupiah) (ML %)
2015 [Link].324 [Link].34 [Link] 0,67
2
2016 [Link].039 [Link].09 [Link] 0,37
0
2017 [Link].908 [Link].67 [Link] 0,46
3
2018 [Link].821 [Link].25 [Link] -0,18
0
2019 [Link].941 [Link].31 [Link] -0,103
8
Sumber Data: Data Laporan Keuangan PT. Prima Sauhur Lestari Simalungun
Dapat dilihat dari data diatas dapat dilihat Pada tahun 2015-2019 dapat
dilihat bahwa nilai total hutang tertinggi terdapat pada tahun 2018 yaitu sebesar
[Link].821, sedangkan nilai total hutang terendah terdapat pada tahun
2015 yaitu sebesar [Link].324 sehingga dapat diketahui nilai rata-rata total
hutang ialah sebesar [Link].908.
32
Dari data total ekuitas pada tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 dapat
dilihat bahwa total ekuitas tertinggi terdapat pada tahun 2018 yaitu sebesar
[Link].250, sedangkan total ekuitas terendah terdapat pada tahun 2017
yaitu sebesar [Link].673 sehingga dapat diketahui nilai rata-rata dari total
ekuitas tersebut yaitu sebesar [Link].090.
a. Struktur Pendanaan Eksternal PT. Prima Sauhur Lestari Simalungun
PT. Prima Sauhur Lestari merupakan perusahaan swasta yang bergerak
dalam bidang pengelolaan kelapa sawit menjadi bahan minyak mentah seperti
CPO. Alasan peneliti memilih PT. Prima Sauhur Lestari sebagai objek penelitian
dikarenakan perkembangan PT. Prima Sauhur Lestari dari tahun-tahun dapat
dilihat dari pendanaan eksternal perusahaannya salah satunya melalui kinerja
keuangan dan prospek perusahaan dimasa mendatang. PT. Prima Sauhur Lestari
dalam menjalankan operasionalnya mempunyai tujuan untuk dapat menghasilkan
laba perusahaan.
Struktur pendanaan eksternal ataupun struktur keuangan merupakan cara
bagaimana aktiva-aktiva perusahaan dibelanjai, dengan demikian struktur
financial mencerminkan pula perimbangan antara keseluruhan modal eksternal
(baik jangka pendek maupun jangka panjang) dengan modal sendiri. Struktur
pendanaan eksternal merupakan perbandingan antara hutang (modal eksternal)
dengan ekuitas (modal sendiri) yang diukur melalui DER.
Debt Equity Ratio PT. Prima Sauhur Lestari tahun 2015-2019 masih
tergolong tinggi, karna masih berada pada nilai diatas 1. Berikut disajikan
perhitungan Debt Equity Ratio dari tahun 2015-2019 dengan rumus sebagai
berikut:
33
Total Hutang
Debt Equity Ratio= ×100 %
Total Modal
Berdasarkan rumus tersebut diatas maka di dapat hasil perhitungan Debt
Equity Ratio (DER) adalah sebagai berikut:
2.228 .117.258 .324
Debt Equity Ratio ( 2015 )= × 100 %=0 , 80 %
2.788 .109.260 .342
2.790 .360.875 .039
Debt Equity Ratio ( 2016 )= ×100 %=0 , 93 %
2.990 .420 .118 .090
3.674 .232 .263.908
Debt Equity Ratio ( 2017 )= ×100 %=1 , 68 %
2.181 .435.347 .673
4.851 .690 .429.821
Debt Equity Ratio ( 2018 )= × 100 %=1 ,33 %
3.640 .225.089 .250
3.708.175 .398 .941
Debt Equity Ratio ( 2019 )= × 100 %=1, 12 %
3.301 .175.911.318
Berdasar hasil perhitungan tersebut diatas maka dapat dilihat bahwa
Debt Equity Ratio dari tahun 2015 sampai tahun 2019 terus mengalami
penurunan. Kondisi ini masih dikategorikan baik dan stabil meskipun tidak
signifikan akan tetapi masih berada dibawah 1. Pada tahun 2017 mengalami
kenaikan yang sangat tinggi, hal ini disebabkan oleh penurunan total modal
yang cukup signifikan dibandingkan penurunan total hutang. Pada tahun 2017
sampai tahun 2018 Debt Equity Ratio mengalami penurunan akan tetapi masih
berada diatas 1. Dan ini menunjukkan perkembangan yang positif artinya
perusahaan terus memperbaiki kondisi liabilitas ataupun hutang setiap
tahunnya sehingga perusahaan akan lebih mudah dalam pengembalian hutang
dan kegiatan perusahaan pun akan lebih besar dibiayai oleh modal sendiri. Jika
nilai DER berada di atas nilai 1 maka penggunaan modal perusahaan lebih
34
banyak menggunakan hutang daripada modal sendirinya, sehingga perusahaan
belum mampu membiayai perusahaan dengan modal sendirinya karena
pembiayaan lebih banyak dari unsur hutang.
b. Meningkatkan Laba PT. Prima Sauhur Lestari Simalungun
Meningkatkan laba sangatlah diinginkan oleh perusahaan karena
meningkatnya laba mencerminkan suatu pertumbuhan perusahaan. Meningkatkan
laba adalah perubahan laba ditahan dan total asset perusahaan. meningkatkan laba
memiliki peranan yang sangat penting dalam manajemen modal kerja. Dengan
mengetahui seberapa besar profit yang akan didapatkan.
meningkatnya laba PT. Prima Sauhur Lestari dari tahun 2015 sampai tahun
2019 berfluktuasi. Berikut disajikan perhitungan pertumbuhan laba pada tabel
rumus sebagai berikut.
Adapun perhtungan meningkatkan laba yang dimiliki perusahaan adalah
sebagai berikut:
S−(s 1−1)
Meningkatkan Laba= × 100 %
s1−1
Berdasarkan rumus tersebut diatas maka di dapat hasil perhitungan
Peningkatan laba adalah sebagai berikut:
Menin gkatkan Laba ( 2015 )=¿
355.032.109 .540−211.335 .377 .811
× 100 %=0 , 67 %
211.335 .377 .811
Meningkatkan Laba ( 2016 )=¿
489.245 .699 .981−355.032 .109.540
×100 %=0 , 37 %
355.032 .109 .540
Meningkatkan Laba ( 2017 )=¿
35
715.303.824 .478−489.245.699 .981
× 100 %=0 , 46 %
489.245 .699.981
Meningkatkan Laba ( 2018 ) =¿
586.602.467 .634−715.303 .824 .478
× 100=−0 ,18 %
715.303 .824 .478
Meningkatkan Laba ( 2019 )=¿
526.117.261 .386−586.602 .467 .634
×100 %=0 , 10 %
586.602 .467.634
Pada hasil perhitungan Meningkatkan laba tersebut diatas pada tahun 2015
sampai tahun 2016 data meningkatkan laba mengalami kenaikan dan pada tahun
2017 sampai tahun 2018 mengalami penurunan kembali hingga berada pada angka
minus (negatif) hal ini menunjukkan bahwa meningkatkan laba terus menerus
mengalami penurunan. Jika meningkatnya laba berada pada angka negatif maka
dikatakan bahwa perusahaan mengalami penurunan laba ditahun tersebut bahkan
mampu menyebabkan kerugian bagi perusahaan.
c. Pendanaan Eksternal dan Meningkatkan Laba PT. Prima Sauhur Lestari
Simalungun
Berikut pendanaan eksternal yang diukur melalui Debt Equity Ratio dan
Meningkatkan Laba pada PT. Prima Sauhur Lestari yang disajikan dalam table
dibawah ini:
Table 4.3
Pendanaan Eksternal dan Meningkatkan Laba pada PT. Prima
Sauhur Lestari Simalungun tahun 2015-2019
Tahun Pendanaan Eksternal Meningkatkan
(Debt Equity Ratio) Laba
2015 0,80% 0,67%
2016 0,93% 0,37%
2017 1,68% 0,46%
36
2018 1,33% -0,18%
2019 1,12% -0,10%
Dari table diatas dapat dilihat bahwa pendanaan eksternal yang diukur
melalui Debt Equity Ratio pada tahun 2015 sebesar 0,80% dan menghasilkan
meningkatnya laba sebesar 0,67%. Pada tahun 2016 Debt Equity Ratio mengalami
kenaikan menjadi 0,93% dan menghasilkan meningkatnya laba yang menurun
sebesar 0,37%. Begitu juga pada tahun 2017 Debt Equity Ratio terus mengalami
kenaikan yang sangat besar yaitu 1,68% dan menghasilkan penurunan
meningkatnya laba sebesar 0,46%. Pada tahun 2018 Debt Equity Ratio mengalami
penurunan sebesar 1,33% dan menhasilkan kenaikan meningkatnya laba -0,18%
walau pun masih berada dalam nilai yang belum baik tapi tampak ditahun 2017
perusahaan sudah mengalami perbaikan. Dan ditahun 2019 Debt Equity Ratio
1,12% dan menghasilkan kenaikan meningkatnya laba sebesar -0,10% itu artinya
perusahaan semangkin melakukan perbaikan pendanaan dan peningkatan laba
namun belum signifikan. Jika DER berada diatas 1 maka akan dapat
mengakibatkan pertumbuhan laba sengangkin negative dikarenakan pembiayaan
perusahaan lebih banyak menggunakan unsur hutang dari pada modal sendiri
sehingga akan mempengaruhi laba bersih perusahaan.
4.2 Pembahasan
Dalam menganalisis laporang keuangan perusahaan, penulis mencoba
untuk menganalisis perhitungan pendanaan eksternal dan peningkatan laba
perusahaan, dimana pendanaan eksternal perusahaan dan peningkatan laba
tersebut akan dapat memberikan atau menjelaskan gambaran kepada penganalisa
37
tentang efisien atau tidak efisennya perusahaan dalam menggunakan hutang untuk
memperoleh pendapatan dan laba yang diharapkan.
a. Analisis Pendanaan Eksternal Pada PT. Prima Sauhur Lestari
Dari analisis yang telah dilakukan oleh penulis terhadap perhitungan
keuangan perusahaan dengan menggunakan konsep pendanaan eksternal
perusahaan yang diukur dengan menggunakan konsep pendanaan eksternal
perusahaan yang diukur melalui Debt Equity Ratio dapat dilihat bahwa Debt
Equity Ratio dari tahun 2015 sampai tahun 2019 terus mengalami peningkatan
dari 0,80% ke 1,66% hingga 1,12% hal ini disebabkan karena total modal yang
cukup signifikan dibandingkan penurunan total hutang. Pada tahun 2016 ke tahun
2017 Debt Equity Ratio mengalami kenaikan dari 0,93% ke 1,68% dan ditahun
2018 dan 2019 mengalami penurunan sebesar ke 1,33% ke 1,12% akan tetapi
masih berada diatas nilai 1, penuruan tersebut belum dikategorikan baik karena
masih tinggi berada diatas 1, aktivitas pendanaan perusahaan yang dibiayai oleh
hutang. Kemudian ditahun 2018 Debt Equity Ratio mulai mengalami penurunan
hingga tahun 2019 namun masih berada diatas nilai 1, ini menunjukkan
perkebangan yang positif artinya perusahaan terus memperbaiki kondisi liabilitas
ataupun hutang setiap tahunnya sehingga perusahaan akan lebih mudah dalam
pengembalian hutang dan kegiatan perusahaan pun akan lebih besar dibiayai oleh
modal sendiri.
Dengan menurunnya Debt Equity Ratio menunjukkan perusahaan sudah
mengurangi dana yang digunakan untuk membiayai aktivitas perusahaan melalui
hutangnya melainkan dengan modal sendiri. Hal ini akan berdampak positif pada
perusahaan, karena perusahaan akan dengan mudah dalam membayar hutang
38
jangka pendek maupun hutang jangka panjangnya. Agar perusahaan akan tetap
mampu membiayai setiap kegiatan operasional dengan modal sendiri, perusahaan
harus meningkatkan pendapatan dan mengefisiensikan biaya agar laba yang
dihasilkan naik sehingga laba bisa dijadikan sektor modal oleh perusahaan.
b. Analisis Meningkatkan Laba Pada PT. Prima Sauhur Lestari
Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa meningkatnya laba
mengalami fluktuasi dari tahun 2015 sampai dengan tahun 2019. Pada tahun 2015
sampai tahun 2016 pertumbuhan laba mengalami kenaikan yang tidak signifikan
dari 0,67% ke 0,37%. Pada tahun 2017 sampai dengan tahun 2019 pertumbuhan
laba mengalami penurunan yang sangat besar yaitu sebesar 0,46% ke -0,18%
hingga -0,10% bahkan berada pada angka negatif.
Dari data meningkatkan laba yang dianalisis pada tahun 2015, 2016, 2017,
2018, dan 2019 dapat dilihat bahwa laba bersih terus mengalami fluktuasi. Pada
tahun 2015 sampai tahun 2019 laba bersih perusahaan mengalami kenaikan dan
mengalami penurunan ditahun. Hal ini disebabkan oleh belum terjadinya efisiensi
biaya dan beban dalam menghasilkan laba bersih. Namun pada tahun 2018 dan
2019 laba bersih perusahaan mengalami penurunan yang sangat besar hingga
berada di angka negatif artinya perusahaan belum membaik dalam efisiensi biaya
dan beban dalam menghasilkan laba bersih.
c. Analsis Pendanaan Eksternal Dalam Meningkatkan Laba PT. Prima
Sauhur Lestari
dari table diatas dapat dilihat bahwa pendanaan eksternal yang diukur
melalui Debt Equity Ratio pada tahun 2015 sampai dengan tahun 2016 mengalami
peningkatan dari 0,80% ke 0,93% namun pada pertumbuhan laba mengalami
39
penurunan dari 0,67% ke 0,37%. Pada tahun 2016 sampai tahun 2017 Debt Equity
Ratio mengalami kenaikan dari 0,93% ke 1,68% akan tetapi pertumbuhan
mengalami peningkatan dari 0,37% ke 0,46% . Ditahun 2017 sampai 2019
penurunan Debt Equity Ratio masih diatas nilai 1 dan peningkatan pertumbuhan
laba masih diangka negatif hal ini disebabkan masih kurang baiknya perusahaan
dalam mengelola hutang ataupun modal sendirinya dalam menghasilkan
pertumbuhan laba pertumbuhan laba menalami peningkatan yang cukup baik yaitu
berada dipersentase positif.
Hal ini berarti perusahaan belum melakukan perbaikan dalam pengelolaan
dananya. Karena struktur pendanaan yang berasal dari hutang apabila digunakan
untuk investasi yang baik maka akan dapat menghasilkan keuntungan bagi
perusahaan sehingga pertumbuhan laba akan meningkat. Menurut teori Brigham
dan Houston (2011:5) jika hutang tersebut dapat dikelola dengan baik misalnya
untuk proyek investasi, hal tersebut dapat memberikan pengaruh positif dan
berdampak terhadap peningkatan keuntungan perusahaan. Kemudian hasil
penelitian ini juga didukung dengan hasil penelitian Endah Octiviani (2013)
Analisis ROA, DER dalam meningkatkan Pertumbuhan Laba Perusahaan.
Menyatakan bahwa ROA dan DER mampu meningkatkan pertumbuhan laba.
40
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analsis yang digunakan pada uraian
teoritis pada bab-bab sebelumnya, maka penulis mengemukakan beberapa
kesimpulan serta mencoba memberikan saran-saran atau rekomendasi berdasarkan
hasil temuan dari penelitian pada PT. Prima Sauhur Lestari. Kesimpulan tersebut
adalah sebagai berikut:
1. Struktur pendanaan eksternal perusahaan yang diukur dengan Debt Equity
Ratio dari tahun 2017-2019 mengalami penurunan disebabkan terjadinya
penurunan total hutang dan naiknya total modal, menunjukkan bahwa
perusahaan berusaha untuk melakukan kegiatan ataupun aktivitas
perusahaan agar dibiayai dengan modal.
2. Dilihat dari setiap periode pengamatan dari tahun 2015-2019 menunjukkan
faktor-faktor yang menyebabkan pertumbuhan laba mengalami penurunan
yaitu:
41
- perusahaan belum baik dalam menghasilkan pendapatan
- Perusahaan belum mampu mengefisiensikan biaya yang ada
diperusahaan.
3. Dilihat dari setiap periode tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 faktor-
faktor penyebab pertumbuhan laba sangat rendah dan masih berada pada
angka negatif yaitu:
-Penggunaan dana lebih banyak dari unsur hutang
- Meningkatkan laba semangkin menurun hamper setiap tahun
5.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka saran yang dapat diberikan adalah
sebagau berikut:
1. Sebaiknya perusahaan melakukan pengelolaan hutang dan modal yang
sudah ada dengan baik dan efektif dalam setiap aktivitas operasional
perusahaan, sehingga Debt Equity Ratio akan meningkat.
2. Penggunaan hutang dapat dilakukan dengan baik apabila perusahaan dapat
memanfaatkan hutang itu dengan baik yaitu dengan cara meningkatkan
penjualan dan laba bersihnya sehingga pengunaan hutang ini dapat
dibayarkan pada saat jatuh tempo.
3. Sebaiknya perusahaan membuat program penghemat biaya. Dimana harus
dikontrol pengeluarannya jangan sampai melebihi anggaran biaya dan
akan lebih baik bila biaya lebih kecil dari yang dianggarkan. Penghematan
biaya ini dapat dimulai dari hal yang kecil-kecil, seperti penggunaan
kertas-kertas, penghematan tinta dan penghematan penggunaan listrik, agar
42
perusahaan tidak mengalami kerugian yang cukup besar yang akan
memberikan resiko kebangkrutan terhadap perusahaan.
4. Penelitian ini hanya menggunakan satu variable yaitu struktur pendanaan
eksternal, sehingga belum dapat menjelaskan lebih mendalam mengenai
factor-faktor yang mempunyai keterkaitan dalam meningkatkan
pertumbuhan laba. Maka dari itu, diharapkan bagi peneliti selanjutnya
perlu dilakukan penelitian terhadap faktor-faktor yang mempunyai
keterkaitan dalam meningkatkan laba selain struktur pendanaan eksternal.
DAFTAR PUSTAKA
Aduardus, Tandelilin. (2015). Portofolio dan Investasi. Yogyakarta : Konisius.
Anggraini, NS (2016). Definisi Akuntansi. (Online). Tersedia
[Link] pada 11/03/2020.
Anoraga. 2011. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi (Edisi Keempat).
Yogyakarta: BPEF- YOGYAKARTA
Atika J. Hatta, 2010, “Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebijakan Dividen:
Investasi Pengaruh Teori Stakehol Pertumbuhan Laba” (Edisi Ketiga)
JAAI. Vol.6. No.2. Desember. 2002
Bahri, S. (2018). Metode Penelitian Bisnis. Penerbit Andi. Yogyakarta.
Bambang Riyanto. 2010. Dasar-Dasar Pembelajaran Perusahaan (Edisi
Keempat). Yogyakarta : BPFE UGM
Chordia, Tarun and Bhaskaran, 2010, “Trading Volume And Cross Auto
Correlation in Stock Harga”(Edisi Ketiga), The Journal Of Finance, Vol. IV.
Eugene F. Brigham & Joel F. Houston. (2010). Dasar-Dasar Manajemen
Keuangan. Jakarta: Salemba Empat
Gitman, Lawrence J. and Joehnk, Michael D. 2008. Fundamental of investment.
LOMA Edition.
Gujarati, Damodar N. 2007.”Basic Econometrics”. Singapore: Mc Graw Hill, Inc.
43
Harrison, Walter. T. Jr. [Link]. (2012). Akuntasi Keuangan : Internasional
Financial Reporting Standars. Penerjemah Gina Gania. Jakarta:
Erlangga.
Lita, (2010). Analisis Struktur Modal Dalam Meningkatkan Petumbuhan
Perusahaan. Jurnal Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Malang. 3 (1).
Martani, Dkk (2012). Akuntansi Keuangan Menengah berbasis PSAK, Jakarta :
Salemba Empat.
Mulyadi. (2016). System Akuntasi. Jakarta Selatan : Salemba Empat.
Nyoman, Kusuma (2012). Pengaruh Rasio Keuangan Terhadap Peningkatan
Laba Pada Perusahaan [Link] Udayana.7 (2)
Said, (2013). Analisis Rasio Keuangan Dalam Meningkatkan Pertumbuhan Laba
Pada Perusahaan Makanan Dan Minuman yang Terdaftar di BEI. Jurnal
Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNUD. 3(1).
Septi, (2011). Analisis Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan
Perusahaan Pada Perusahaan Publik Sektor Manufaktur. JURNAL
Fakultas Ekonomi Universitas Gajah Mada. 9 (1).
Sudjana, (2016). “Metode Statistika”. Penerbit Tarsito (Sixth Edition). Bandung
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Penerbit
Alfabeta. Bandung.
Sugiyono, (2014). Metode Penelitian Manajemen. Penerbit ALFABETA. .
Sugiyono. (2016). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta.
Sugiyono. (2012). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung : Alfabeta.
44