.
Pengertian
1. Pengertian supervisi Menurut Beberapa hal :
Arti Supervisi menurut asal usul (etimologi), bentuk perkataannya (morfologi), maupun isi yang
terkandung dalam perkataan itu ( semantik).
· Secara morfologis, Supervisi berasal dari dua kata bahasa Inggris, yaitu super dan vision.
Super berarti diatas dan vision berarti melihat, masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan
dan pengawasan, dan penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan – orang yang
berposisi diatas, pimpinan terhadap hal-hal yang ada dibawahnya. Supervisi juga merupakan
kegiatan pengawasan tetapi sifatnya lebih human, manusiawi. Kegiatan supervise bukan
mencari-cari kesalahan tetapi lebih banyak mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi
pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui kekurangannya (bukan semata - mata
kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu diperbaiki
· Secara semantik, Supervisi pendidikan adalah pembinaan yang berupa bimbingan atau
tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar
dan belajar dan belajar pada khususnya.
· Secara Etimologi, supervisi diambil dalam perkataan bahasa Inggris “ Supervision” artinya
pengawasan di bidang pendidikan.
Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor.
2. Pengertian Supervisi Menurut Pendapat Para Ahli :
a. Good Carter,
Memberi pengertian supervisi adalah usaha dari petugas-petugas sekolah dalam memimpin guru-
guru dan petugas lainnya, dalam memperbaiki pengajaran, termasuk menstimulir, menyeleksi
pertumbuhan jabatan dan perkembangan guru-guru dan merevisi tujuan-tujuan pendidikan,
bahan-bahan pengajaran, dan metodemengajar dan evaluasi pengajaran. God Carter melihatnya
sebagai usaha memimpin guru-guru dalam jabatan mengajar,
b. Boardman.
Menyebutkan Supervisi adalah salah satu usaha menstimulir, mengkoordinir dan membimbing
secarr kontinyu pertumbuhan guru-guru di sekolah baik secara individual maupun secara
kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran
dengan demikian mereka dapat menstmulir dan membimbing pertumbuan tiap-tiap murid secara
kontinyu, serta mampu dan lebih cakap berpartsipasi dlm masyarakat demokrasi modern.
Boardman. Melihat supervisi sebagai lebih sanggup berpartisipasi dlm masyarakat modern.
c. Wilem Mantja (2007)
Mengatakan bahwa, supervisi diartikan sebagai kegiatan supervisor (jabatan resmi) yang
dilakukan untuk perbaikan proses belajar mengajar (PBM). Ada dua tujuan (tujuan ganda) yang
harus diwujudkan oleh supervisi, yaitu; perbaikan (guru murid) dan peningkatan mutu
pendidikan. Willem Mantja memandang supervisi sebagai kegiatan untuk perbaikan
(guru murid) dan peningkatan mutu pendidikan
d. Kimball Wiles (1967)
Konsep supervisi modern dirumuskan sebagai berikut : “Supervision is assistance in the
development of a better teaching learning situation”. Kimball Wiles beranggapan bahwa faktor
manusia yg memiliki kecakapan (skill) sangat penting untuk menciptakan
suasana belajar mengajar yg lebih baik.
e. Mulyasa (2006)
supervisi sesungguhnya dapat dilaksanakan oleh kepala sekolah yang berperan sebagai
supervisor, tetapi dalam sistem organisasi modern diperlukan supervisor khusus yang lebih
independent, dan dapat meningkatkan obyektivitas dalam pembinaan dan pelaksanaan tugas.
f. Ross L (1980),
mendefinisikan bahwa supervisi adalah pelayanan kapada guru-guru yang bertujuan
menghasilkan perbaikan pengajaran, pembelajaran dan kurikulum. Ross L memandang supervisi
sebagai pelayanan kapada guru – guru yang bertujuan menghasilkan perbaikan.
g. Purwanto (1987),
supervisi ialah suatu aktivitas pembinaan yang direncanakan untuk membantu para guru dan
pegawai sekolah dalam melakukan pekerjaan secara efektif.
Kegiatan supervisi dahulu banyak dilakukan adalah Inspeksi, pemeriksaan, pengawasan atau
penilikan. Supervisi masih serumpun dengan inspeksi, pemeriksaan dan pengawasan, dan
penilikan, dalam arti kegiatan yang dilakukan oleh atasan –orang yang berposisi diatas,
pimpinan-- terhadap hal-hal yang ada dibawahnya. Inspeksi : inspectie (belanda) yang artinya
memeriksa dalam arti melihat untuk mencari kesalahan. Orang yang menginsipeksi disebut
inspektur. Inspektur dalam hal ini mengadakan :
1. Controlling : memeriksa apakah semuanya dijalankan sebagaimana mestinya
2. Correcting : memeriksa apakah semuanya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan/digariskan
3. Judging : mengadili dalam arti memberikan penilaian atau keputusan sepihak
4. Directing : pengarahan, menentukan ketetapan/garis
5. Demonstration : memperlihatkan bagaimana mengajar yang baik
Pemeriksaan artinya melihat apa yg terjadi dlm kegiatan sedangkan Pengawasan adalah Melihat
apa yg positif & negatif. Adapun Supervisi juga merupakan kegiatan pengawasan tetapi sifatnya
lebih human, manusiawi. Kegiatan supervisi bukan mencari - cari kesalahan tetapi lebih banyak
mengandung unsur pembinnaan, agar kondisi pekerjaan yang sedang disupervisi dapat diketahui
kekurangannya (bukan semata-mata kesalahannya) untuk dapat diberitahu bagian yang perlu
diperbaiki. Supervisi dilakukan untuk melihat bagian mana dari kegiatan sekolah yg masih
negatif untuk diupayakan menjadi positif, & melihat mana yang sudah positif untuk ditingkatkan
menjadi lebih positif lagi dan yang terpenting adalah pembinaannya
Orang yang melakukan supervisi disebut supervisor. Dibidang pendidikan disebut supervisor
pendidikan. Menurut keputusan menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 0134/0/1977,
temasuk kategori supervisor dalam pendidikan adalah kepala sekolah, penilik sekolah, dan para
pengawas ditingkat kabupaten/kotamadya, serta staf di kantor bidang yang ada di tiap provinsi.
Jika supervisi dilaksanakan oleh kepala sekolah, maka ia harus mampu melakukan berbagai
pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja tenaga kependidikan. Pengawasan
dan pengendalian ini merupakan kontrol agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan
yang telah ditetapkan. Pengawasan dan pengendalian juga merupakan tindakan preventif untuk
mencegah agar para tenaga kependidikan tidak melakukan penyimpangan dan lebih berhati-hati
dalam melaksanakan pekerjaannya.
B. Tujuan dan sasaran Supervisi
a. Tujuan Supervisi
Tujuan utama supervisi adalah memperbaiki pengajaran (Neagly & Evans, 1980; Oliva, 1984;
Hoy & Forsyth, 1986; Wiles dan Bondi, 1986; Glickman, 1990). Tujuan umum Supervisi adalah
memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru dan staf agar personil tersebut mampu
meningkatkan kwalitas kinerjanya, dalam melaksanakan tugas dan melaksanakan proses belajar
mengajar .
Secara operasional dapat dikemukakan beberapa tujuan konkrit dari supervisi pendidikan yaitu :
1. Meningkatkan mutu kinerja guru
· Membantu guru dalam memahami tujuan pendidikan dan apa peran sekolah dalam mencapai
tujuan tersebut
· Membantu guru dalam melihat secara lebih jelas dalam memahami keadaan dan kebutuhan
siswanya.
· Membentuk moral kelompok yang kuat dan mempersatukan guru dalam satu tim yang efektif,
bekerjasama secara akrab dan bersahabat serta saling menghargai satu dengan lainnya.
· Meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya meningkatkan prestasi belajar siswa.
· Meningkatkan kualitas pengajaran guru baik itu dari segi strategi, keahlian dan alat
pengajaran.
· Menyediakan sebuah sistim yang berupa penggunaan teknologi yang dapat membantu guru dalam
pengajaran.
· Sebagai salah satu dasar pengambilan keputusan bagi kepala sekolah untuk reposisi guru.
2. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik
3. Meningkatkan keefektifan dan keefesiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan
dimanfaatkan dengan baik sehingga mampu mengoptimalkan keberhasilan siswa
4. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah khususnya dalam mendukung terciptanya
suasana kerja yang optimal yang selanjutnya siswa dapat mencapai prestasi belajar sebagaimana
yang diharapkan.
5. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sehingga tercipta situasi yang tenang dan
tentram serta kondusif yang akan meningkatkan kualitas pembelajaran yang menunjukkan
keberhasilan lulusan.
b. Sasaran Supervisi
Adapun sasaran utama dari pelaksanaan kegiatan supervisi tersebut adalah peningkatan
kemampuanprofesional guru (Depdiknas, 1986; 1994 & 1995).
Sasaran Supervisi Ditinjau dari objek yang disupervisi, ada 3 macam bentuk supervisi :
1. Supervisi Akademik, Menitikberatkan pengamatan supervisor pada masalah-masalah akademik,
yaitu hal-hal yang berlangsung berada dalam lingkungan kegiatan pembelajaran pada waktu
siswa sedang dalam proses mempelajari sesuatu
2. Supervisi Administrasi, Menitikberatkan pengamatan supervisor pada aspek-aspek administrasi
yang berfungsi sebagai pendukung dan pelancar terlaksananya pembelajaran.
3. Supervisi Lembaga, Menyebarkan objek pengamatan supervisor pada aspek-aspek yang berada
di sekolah. Supervisi ini dimaksudskan untuk meningkatkan nama baik sekolah atau kinerja
sekolah secara keseluruhan. Misalnya: Ruang UKS (Unit Kesehatan Sekolah), Perpustakaan dan
lain-lain.
C. Prinsip-prinsip Supervisi
Secara sederhana prinsip-prinsip Supervisi adalah sebagai berikut :
· Supervisi hendaknya memberikan rasa aman kepada pihak yang disupervisi.
· Supervisi hendaknya bersifat Kontrukstif dan Kreatif
· Supervisi hendaknya realistis didasarkan pada keadaan dan kenyataan sebenarnya.
· Kegiatan supervisi hendaknya terlaksana dengan sederhana.
· Dalam pelaksanaan supervisi hendaknya terjalin hubungan profesional, bukan didasarkan atas
hubungan pribadi.
· Supervisi hendaknya didasarkan pada kemampuan, kesanggupan, kondisi dan sikap pihak
yang disupervisi.
· Supervisi harus menolong guru agar senantiasa tumbuh sendiri tidak tergantung pada kepala
sekolah
Pendapat lain mengenai Prinsip-prinsip Supervisi adalah :
1. Supervisi bersifat memberikan bimbingan dan memberikan bantuan kepada guru dan staf
sekolah lain untuk mengatasi masalah dan mengatasi kesulitan dan bukan mencari-cari
kesalahan.
2. Pemberian bantuan dan bimbingan dilakukan secara langsung, artinya bahwa pihak yang
mendapat bantuan dan bimbingan tersebut tanpa dipaksa atau dibukakan hatinya dapat merasa
sendiri serta sepadan dengan kemampuan untuk dapat mengatasi sendiri.
3. Apabila supervisor merencanakan akan memberikan saran atau umpan balik, sebaiknya
disampaikan sesegera mungkin agar tidak lupa. Sebaiknya supervisor memberikan kesempatan
kepada pihak yang disupervisi untuk mengajukan pertanyaan atau tanggapan.
4. Kegiatan supervisi sebaiknya dilakukan secara berkala misalnya 3 bulan sekali, bukan menurut
minat dan kesempatan yang dimiliki oleh supervisor.
5. Suasana yang terjadi selama supervisi berlangsung hendaknya mencerminkan adanya
hubungan yang baik antara supervisor dan yang disupervisi tercipta suasana kemitraan yang
akrab. Hal ini bertujuan agar pihak yang disupervisi tidak akan segan-segan mengemukakan
pendapat tentang kesulitan yang dihadapi atau kekurangan yang dimiliki.
6. Untuk menjaga agar apa yang dilakukan dan yang ditemukan tidak hilang atau terlupakan,
sebaiknya supervisor membuat catatan singkat, berisi hal – hal penting yang diperlukan untuk
membuat laporan.
Sedangkan menurut Tahalele dan Indrafachrudi (1975) prinsip-prinsip supervisi sebagai
berikut :
· Supervisi harus dilaksanakan secara demokratis dan kooperatif,
· Supervisi harus kreatif dan konstruktif,
· Supervisi harus ”scientific” dan efektif,
· Supervisi harus dapat memberi perasaan aman pada guru-guru,
· Supervisi harus berdasarkan kenyataan,
· Supervisi harus memberi kesempatan kepada supervisor dan guru-guru untuk mengadakan “self
evaluation”
Sedangkan Menurut E. Mulyasa, prinsip-prinsip supervisi antara lain:
1. Hubungan konsultatif, kolegial dan bukan hirarkis;
2. Dilaksanakan secara demokratis;
3. Berpusat pada tenaga kependidikan (guru);
4. Dilakukan berdasarkan kebutuhan tenaga kependidikan (guru);
5. Merupakan bantuan profesional.
Selain itu, dalam buku Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan karangan Piet A.
Sahertian (Suhertian,1981) dikemukakan prinsip supervisi antara lain:
1. Prinsip ilmiah (scientific), prinsip ini mengandung ciri-ciri sebagai berikut: (a) kegiatan
supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif yang diperoleh dalam kenyataan
pelaksanaan proses belajar mengajar. (b) untuk memperoleh data perlu diterapkan alat
perekam data, seperti angket, observasi, percakapan pribadi, dan seterusnya. (c) setiap
kegiatan supervisi dilaksanakan secara sistematis, berencana dan kontinu.
2. Prinsip Demokratis, servis dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan
hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru merasa aman
untuk mengembangkan tugasnya.
3. Prinsip kerjasama, mengembangkan usaha bersama atau menurut istilah supervisi
‘sharing of idea, sharing of experience’, memberi support atau mendorong, menstimulasi
guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.
4. Prinsip konstruktif dan kreatif, setiap guru akan merasa termotivasi dalam
mengembangkan potensi kreativitas kalau supervisi mampu mencipakan suasana kerja
yang menyenangkan, bukan melalui cara-cara yang menakutkan.
Sedangkan Oteng Sutisna mengemukakan prinsip dalam pelaksanaan kegiatan supervisi, yaitu:
1. Supervisi merupakan bagian integral dari program pendidikan yang bersifat kooperatif dan
mengikutsertakan
2. Semua guru memerlukan dan berhak atas bantuan supervisi
3. Supervisi hendaknya disesuaikan untuk memenuhi kebutuhan perseorangan dari personil
sekolah
4. Supervisi hendaknya membantu menjelaskan tujuan-tujuan dari sasaran-sasaran pendidikan
5. Supervisi hendaknya membantu memperbaiki sikap dan hubungan dari semua anggota staf
sekolah
6. Tanggung jawab bagi pengembangan program supervisi berada pada kepala sekolah bagi
sekolahnya.
7. Efektivitas program supervisi hendaknya dinilai secara periodik.
Karena prinsip-prinsip supervisi di atas merupakan kaidah-kaidah yang harus dipedomani atau
dijadikan landasan di dalam melakukan supervisi, maka hal itu mendapat perhatian yang
sungguh-sungguh dari para supervisor, baik dalam konteks hubungan supervisor - guru, maupun
di dalam proses pelaksanaan supervisi.
Referensi :
Jasmani dkk. 2013. Supervisi Pendidikan Terobosan Baru dalam Peningkatan Kinerja Pengawas
Sekolah dan Guru, Yogyakarta : Ar Ruzz Media
Hasan, Yusuf, dkk., Pedoman Pengawasan, Jakarta: CV. Mekar Jaya, 2002.
A. Sahertian, Piet, Drs. Prinsip dan Teknik Supervisi Pendidikan, Usaha Nasional,
Surabaya, 1981.
Purwanto, M. ngalim, Administrasi dan Supervisi Pendidikan, Bandung: Remaja
Rosdakarya2005.
Posted in
Pembahasan
a) Pengertian Supervisi Pendidikan
Secara etimologi, supervisi berasal dari kata super dan visi, yang artinya melihat dan
meninjau dari atas atau menilik dan menilai dari atas, yang dilakukan pihak atasan terhadap
aktivitas, kreativitas dan kinerja bawahan. Secara istilah, dalam Carter Good’s Dictionary
Education, supervisi adalah segala usaha pejabat sekolah dalam memimpin guru-guru dan tenaga
kependidikan lainya untuk memperbaiki pengajaran. Termasuk di dalamnya adalah
menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan dan perkembangan jabatan guru-guru, menyeleksi dan
merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan pengajaran dan metode-metode mengajar, serta
mengevaluasi pengajaran.[1]
Menurut H. Mukhtar dan Iskandar, supervisi adalah mengamati, mengawasi dan
membimbing, dan memberikan stimulus kegiatan-kehiatan yang dilakukan oleh orang lain
dengan maksud mengadakan perbaikan. Konsep supervisi didasarkan pada keyakinan bahwa
perbaikan merupakan usaha yang kooperatif dari semuaorang yang berpartisipasi dan supervisor
sebagai pemimpin, yang bertindak sebagai stimulator, pembimbing dan konsultan bagi para
bawahannya dalam rangka perbaikan tersebut. Supervisi pendidikan adalah suatu usaha untuk
mengoordinasi dan membimbing pertumbuhan guru-guru disekolah secara kontinu baik individu
maupun kelompok. Bantuan apa pun ditujukan demi terwujudnya perbaikan dan pembinaan
aspek pengajaran.[2]
Menurut [Link] Sholeh, secara semantik, supervisi pendidikan adalah pembinaan
yang berupa bimbingan atau tuntunan ke arah perbaikan situasi pendidikan pada umumnya dan
peningkatan mutu mengajar dan belajar pada khususnya. Menurut Kimball Wiles (1967), konsep
supervisi modern dirumuskan sebagai berikut, “Supervision is assistence in the development of a
better teaching learning situation.”
Dalam buku Konsep Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan mengutip
keterangan dari Dictionary of Education Good Carter menjelaskan tentang
pengertian supervisi, yaitu usaha dari petugas-petugas sekolah dalam
memimpin guru-guru dan petugas-petugas lainnya dalam memperbaiki
pengajaran, termasuk menstimulasi, menyeleksi pertumbuhan jabatan dan
perkembangan guru-guru serta merevisi tujuan-tujuan pendidikan, bahan
pengajaran dan metode serta evaluasi pengajaran.
Berbeda dengan penjelasan McNerney yang dikutip oleh buku Konsep
Dasar & Teknik Supervisi Pendidikan, yang melihat bahwa supervise itu
sebagai suatu prosedur memberi arah serta mengadakan penilaian secara
kritis terhadap proses pengajaran.
Sehingga dapat dirumuskan supervise tidak lain dari usaha member
layanan kepada guru-guru baik secara individual maupun secara kelompok
dalam usaha memperbaiki pengajaran. Kata kunci dari pemberi supervisi
pada akhirnya ialah memberikan pelayanan dan bantuan.[3]
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat di ambil beberapa catatan penting dalam
kegiatan supervisi.
Pertama, ada perhatian lebih dari atasan untuk membangkitkan kualitas dunia pendidikan
dengan meningkatkan kualitas aktor yang paling penting yang langsung berinteraksi dengan anak
didik, yaitu guru. Perhatian ini melahirkan usaha yang dilakukan secara sistematis, kontinu dan
konsisten. Kedua, adanya kerjasama aktif antara supervisor dengan guru untuk mengembangkan
dunia pendidikan, tidak sepihak secara otoriter, sentralistik dan diskriminatif.
Supervisor menampilakan diri sebagai sosok yang mengarahkan, membimbing dan
memberdayakan, supaya guru bisa melesat dengan potensi dan gayanya sendiri. Apalagi
terhadap guru-guru senior yang sudah lama berkecimpung di dunia pendidikan dengan segudang
pengalaman lapangan, mereka tentu membutuhkan kearifan, kesantunan dan keramahan dalam
melakukan interaksi, tidak melakukan intruksi sepihak.
b) Tujuan Supervisi Pendidikan
Supervisi pendidikan mempunyai tujuan dan manfaat yang penting di antaranya adalah
sebagai berikut:
a. Membangkitkan dan mendorong semangat guru dan pegawai administrasi sekolah lainya untuk
menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya.
b. Agar guru dan pegawai administarasi lainnya berusaha melengkapi kekurangan-kekurangan
mereka dalam penyelenggaraan pendidikan, termasuk dalam macam-macam media intruksional
yang diperlukan bagi kelancaran jalannya proses belajar dan mengajar yang baik.
c. Bersama-sama berusaha mengembangkan, mencari dan menggunakan metode-metode baru
demi kemajuan proses belajar dan mengajar yang baik.
d. Membina kerjasama yang harmonis antara guru, murid dan pegawai sekolah. Misalnya dengan
mengadakan seminar, workshop, in-service, maupun training.
Supervisi harus dilakukan secara kontinu atau reguler, misalnya bulanan, per
semester, tahunan, dan lain sebagainya. Dalam melakukan supervisi, harus
jelas indikator-indikator yang harus [Link] dilakukan dengan
lima tujuan, yaitu:
1. Menghasilkan kinerja terbaik dengan cara memperoleh feedback dari semua
pihak atau aspek yang sedang kita kerjakan.
2. Meningkatkan rencana kerja dan melakukan tindakan perbaikan segera
terhadap beberapa penyimpangan yang mungkin terjadi.
3. Menjajaki progress dan perubahan yang terjadi dari sisi input, proses,
maupun output melalui sistem pelaporan dan pecatatan.
4. Membantu pengambilan keputusan.
5. Temuan hasil supervisi selanjutnya akan menjadi bahan atau bagian dari
alat evaluasi selanjutnya.[4]
Tujuan supervise pedidikan adalah untuk mengembangkan situasi
belajar mengajar yang baik. Adapun tujuan-tujuan itu adalah:
a. Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk memahami tujuan pendidikan
yang sebenarnya dan peranan sekolah mencapai tujuan itu.
b. Memperbesar kesanggupan kepala sekolah dan guru-guru untuk
mempersiapkan peserta didiknya untuk menjadi anggota masyarakat yang
efektif.
c. Membantu kepala sekolah dan guru mengadakan diagnosa secara kritis
terhadap aktifitas-aktifitas dan kesulitan mengajar, serta menolong mereka
merencanakan perbaikan-perbaikan.
d. Meningkatkan kesadaran kepala sekolah dan guru-guru serta warga sekolah
lainnya terhadap tata kerja yang demokratis dan kooperatif.
e. Memperbesar ambisi guru-guru untuk meningkatkan mutu layanannya
secara maksimal dalam kegiatan profesinya.
f. Membantu pimpinan untuk membantu mempopulerkan sekolah kepada
masyarakat dalam meningkatkan program-program pendidikan.
g. Membantu kepala sekolah dan guru-guru untuk dapat mengevaluasi
aktifitasnya dalam konteks tujuan-tujuan aktifitas perkembangan peserta
didik.
h. Mengembangkan rasa kesatuan dan persatuan (kolegitas) antar guru-guru.
[5]
Kegiatan supervisi merupakan proses aktifitas untuk meningkatkan
kemampuan professional guru, dalam jangka penjang bertujuan untuk
meningkatkan dan mempertahankan kemajuan belajar anak, sasaran
program supervise ditunjukan secara langsung kepada guru yang melayani
kegiatan belajar, namun demikian program supervisi juga memperhatikan
pertumbuhan belajar murid. Oleh karena itu supervisi dapat diartikan
sebagai kegiatan professional guru-guru. Dalam pelaksanaan supervisi perlu
pemahaman dan ketrampilan yang professional. Professional dalam
mengorganisasi guru, menguatkan teknik-teknik supervisi, dan memiliki
perilaku etik yang baik.[6]
c) Ruang Lingkup
Ruang lingkup supervisi pendidikan meliputi beberapa hal berikut:
a. Supervisi bidang kurikulum
b. Supervisi bidang kesiswaan
c. Supervisi bidang kepegawaian
d. Supervisi bidang sarana dan prasarana
e. Supervisi bidang keuangan
f. Supervisi bidang humas, dan
g. Supervisi bidang ketatausahaan.
d) Prinsip Supervisi Pendidikan
a. Prinsip dasar/fundamental (fundamental/basic principle). Setiap pemikiran, sikap dan tindakan
seorang supervisor harus berdasarkan suatu yang kokoh, seperti pancasila sebagai dasar falsafah
negara kita.
b. Prinsip Praktis. Selain prinsip fundamental, dalam pelaksanaan sehari-hari, seorang supervisor
berpijak pada prinsip praktis yang meliputi prinsip positif dan negatif.
c. Prinsip positif, yaitu pedoman yang harus dijalankan oleh supervisor agar pembinaan yang
dilakukan berjalan sukses. Pedoman ini meliputi beberapa hal, di antaranya adalah sebagai
berikut:
a) Supervisi harus kontruktif dan kreatif
b) Supervisi dilakukan secara profesional
c) Supervisi dilakukan secara progresif, tekun, dan sabar
d) Supervisi sebaiknya mampu mengembangkan potensi, bakat dan kesanggupan dalam mencapai
kemajuan.
e) Supervisi hendaknya memperhatikan ksejahteraan dan hubungan yang baik dan dinamis
d. Prinsip negatif tidak boleh dilakukan oleh seorang supervisor. Prinsip negatif tersebut di
antaranya adalah sebagai berikut:
a) Supervisi tidak boleh memaksakan kehendak (otoriter) kepada orang yang di supervisi
b) Supervisi tidak boleh dilakukan berdasarkan hubungan pribadi, keluarga, pertemanan dan
sebagainya.
c) Supervisi tidak menutup kemungkinan terjadinya perkembangan dan hasrat untuk maju bagi
bawahannya dengan alasan apapun
d) Supervisi tidak boleh mengeksploitasi bawahan
e) Supervisi tidak boleh egois, tidak jujur dan menutup diri terhadap kritik dan saran dari
bawahannya.[7]
MenurutPiet A. Sahertian menjelaskan empat prinsip yang melandasi kegiatan supervisi,
yaitu: 1. Prinsip ilmiah, 2. Prinsip demokratis, 3. Prinsip kerjasama, 4. Prinsip kontruktif dan
kreatif.[8]
Karya Dadang Suhardan, dkk didalam bukunya yang berjudu
lmanajemen pendidikan menjelaskan prinsip-prinsip supervise pendidikan
sebagai berikut:
1 Ilmiah (scientific) berarti:
a. Sistematis berarti dilaksanakan secara teratur, berencana,
dan berkelanjutan.
b. Obyektif, artinya data yang didapat berdasarkan hasil
observasi nyata. Kegiatan-kegiatan perbaikan atau
pengembangan berdasarkan kajian kebutuhan-kebutuhan
guru atau kekurangan-kekurangan guru atau berdasarkan
tafsiran pribadi.
c. Menggunakan alat atau instrument yang dapat
memberikan informasi sebagai umpan balik untuk
mengadakan penilaian terhadap proses belajar mengajar.
2 Demokratis artinya menjunjung tinggi asas musyawarah,
. memiliki jiwa kekeluargaan yang kuat serta sanggup
menerima pendapat orang lain.
3 Koorperatif artinya kerja sama seluruh staf dalam kegiatan
mengumpulkan data, analisa data, dan perbaikan sera
perkembangan proses belajar mengajar hendaknya
dilakukan dengan cara kerjasama seluruh staf sekolah.
4 Konstruktif dan kreatif. Membina inisiatif guru dan
mendorong guru untuk aktif menciptakan suasana dimana
tiap orang merasa aman dan bebas mengembangkan
potensi-potensinya. Supervisor perlu menyesuaikan diri
dengan prinsip-prinsip tersebut.[9]
Masalah yang dihadapi dalam melaksanakan supervisi di lingkungan
pendidikan ialah bagaimana cara mengubah pola piker otokrat dan korektif
menjadi sikap yang kontruktif dan kreatif. Suatu sikap yang menciptakan
situasi dan relasi dimana guru-guru merasa aman dan merasa diterima
sebagai subjek yang dapat berkembang sendiri.
Untuk itu supervisi harus dilaksanakan berdasarkan data, fakta yang
objektif. Bila demikian maka prinsip supervisi yang dilaksanakan adalah:
1) Prinsip ilmiah(Scientific).
Prinsip ilmiah mengandung cirri sebagai berikut:
a) Kegiatan supervisi dilaksanakan berdasarkan data objektif .
b) Untuk memperoleh data harus memerlukan alat bantu.
c) Setiap kegiatan supervise dilaksanakan secara sistematis, berencana dan
kontinu.
2) Prinsip demokratis
Servis dan bantuan yang diberikan kepada guru berdasarkan
hubungan kemanusiaan yang akrab dan kehangatan sehingga guru-guru
merasaamanuntukmengambangkantugasnya.
3) Prinsip kerjasama
Mendorong, menstimulasi guru, sehingga mereka merasa tumbuh bersama.
4) Prinsip konstruktif dan kreatif
Setiap guru akan merasa termotivasi dalam mengembangkan potensi
kreativitas kalau supervisi mampu menciptakan suasana kerja yang
menyenangkan, bukan melalui cara-cara menakutkan.[10]
Kegiatan supervisi merupakan proses aktifitas untuk meningkatkan
kemampuan professional guru, dalam jangka penjang bertujuan untuk
meningkatkan dan mempertahankan kemajuan belajar anak, sasaran
program supervise ditujukan secara langsung kepada guru yang melayani
kegiatan belajar, namun demikian program supervisi juga memperhatikan
pertumbuhan belajar murid. Oleh karena itu supervisi dapat diartikan
sebagai kegiatan professional guru-guru. Dalam pelaksanaan supervisi perlu
pemahaman dan ketrampilan yang profesional. Professional dalam
mengorganisasi guru, menguatkan teknik-teknik supervisi, dan memiliki
perilaku etik yang baik.