LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA
DENGAN WAHAM
Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa
Disusun oleh :
Kurnia Sariputri
NPM : 24149011312
Dosen Pembimbing :
Ns. Mareta Akhriansyah, [Link]., M. Kep
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA HUSADA PALEMBANG
TAHUN 2024/2025
LAPORAN PENDAHULUAN
WAHAM
I. Masalah Utama
Perubahan Proses pikir : waham
II. Proses Terjadinya Masalah
A. Pengertian
Menurut (Depkes RI, 2000) Waham adalah suatu keyakinan klien yang tidak
sesuai dengan kenyataan, tetapi dipertahankan dan tidak dapat diubah secara logis
oleh orang lain. Keyakinan ini berasal dari pemikiran klien yang sudah kehilangan
kontrol (Direja, 2011). Waham yaitu keyakinan individu yang tidak dapat divalidasi
atau dibuktikan dengan realitas. Keyakinan individu tersebut tidak sesuai dengan
tingkat intelektual dan latar belakang budayanya, serta tidak dapat diubah dengan
alasan yang logis. Selain itu keyakinan tersebut diucapkan berulang kali.
(Kusumawati, 2010)
Gangguan isi pikir dapat diidentifikasi dengan adanya waham. Waham atau
delusi adalah ide yang salah dan bertentangan atau berlawanan dengan semua
kenyataan dan tidak ada kaitannya degan latar belakang budaya (Keliat, 2019).
B. Jenis-Jenis Waham
Waham dapat diklasifikasikan menjadi beberapa macam, menurut Direja (2011)
yaitu:
a. Waham kebesaran
Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus, diucapkan
berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: “Saya ini pejabat di departemen kesehatan lho..”
b. Waham curiga
Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan/mecederai dirinya, diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai
kenyataan.
Contoh: “Saya tahu..seluruh saudara saya ingin menghancurkan hidup saya karena
mereka iri dengan kesuksesan saya”
c. Waham agama
Memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan, diucapkan berulang
kali tetapi tidak sesuai kenyataan
Contoh: “Kalau saya mau masuk surga saya harus menggunakan pakaian putih
setiap hari”
d. Waham somatik
Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu/terserang penyakit,
diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: “Saya sakit kanker”, setelah pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan
tanda-tanda kanker namun pasien terus mengatakan bahwa ia terserang kanker.
e. Waham nihlistik
Keyakinan seseorang bahwa dirinya sudah meninggal dunia, diucapkan
berulangulangtetapi tidak sesuaidengan kenyataan.
Contoh: “ ini saya berada di alamkubur ya, semua yang adadisini adalah roh-roh
nya”
f. Waham dikejar
Individu merasa dirinya senantiasa dikejar-kejar oleh orang lain atau kelompok
orang yang bermaksud berbuat jahat padanya.
g. Waham sisip pikir
Klien yakin bahwa ada pikiran orang lain yang disisipkan/dimasukankedalam
pikirannya
h. Waham siar pikir
Klien yakin bahwa orang lain mengetahui isi pikirannya, padahal dia tidak pernah
menyatakan pikirannya kepada orang tersebut.
C. Faktor Predisposisi
a) Klien
1) Beberapa gangguan mental dan fisik : waham, paranopid,
skizofrenia, , keracunan zat tertentu pada otak dan gangguan
pada pendenagran
2) Faktor sosial budaya : proses tumbuh kembang yang tidak
tuntas, misalnya rasa saling percaya yang tiadak terbina,
kegagalan dalam mengungkapkan perasaan dan pikiran, proses
kehilangan yang berkepanjangan
b) Lingkungan yang tidak terapeutik
Sering diancam, tidak dihargai atas jerih payah, kehilangan
pekerjaan, support sistem yang kurang, tidak mempunyai teman
dekat, atau tidak mempunyai orang dipercaya.
c) Interaksi
1) Provokasi : sikap orang lain yang terlalu menguasai, curiga,
kaku, tidak toleran terhadap klien
2) Anatisipasi : perhatian, penampilan, persepsi dan isi mpikir
3) Konflik : fantasi yang tidak terselesaikan, sudah dapat
memfokuskan pikiran dan sudah dapat mengorganisasikan
pikiran terhadap suatu permasalahan.
D. Faktor Presipitasi
a. Internal
Merasa gagal, kehilangan sesuatu yang sangat bermakna secara
berulang, ketakutan karena adanya penyakit fisik
b. Eksternal
Adanya serangan fisik, kehilangan hubungan yang penting dengan orang
lain , adanya keritikan dari orang lain.
E. Tanda Dan Gejala
1. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya (tentang agama,
kebesaran, curiga, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi
tidak sesuai dengan kenyataan
2. Klien tampak tidak mempercayai orang lain, curiga, bermusuhan
3. Takut, kadang panik
4. Tidak tepat menilai lingkungan / realitas
5. Ekspresi tegang, mudah tersinggung
a. Kognitif
1) Tidak mampu membedakan nyata dengan tidak nyata
2) Individu sangat percaya pada keyakinannya
3) Sulit berpikir realita, Tidak mampu mengambil keputusan
b. Afektif
1) Situasi tidak sesuai dengan kenyataan
2) Afek tumpul
c. Perilaku dan hubungan sosial
1) Hipersensitif
2) Hubungan interpersonal dengan orang lain dangkal
3) Depresi
4) Ragu-ragu
5) Mengancam secara verbal
6) Aktifitas tidak tepat
7) Streotif, impulsive dan curiga
d. Fisik
1) Hygiene kurang
2) Muka pucat
3) Sering menguap, BB murun
F. Akibat
Akibat dari waham, penderita dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang
ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan
kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat lain yanng ditimbulkan
adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
G. Rentang Respon
Respon Adaptif Respon Maladaptif
- Pikiran logis
- Persepsi akurat - Kadang proses - Gg. Isi
- Emosi piker terganggu piker
konsisten dng - Ilusi halusinasi
pengalaman - Emosi berlebih - Perubahan
- Perilaku sesuai - Berperilaku yg proses emosi
- Hubungan tidak biasa - Perilaku tidak
social harmonis - Menarik diri terorganisasi
- Isolasi sosial
III. POHON MASALAH
Efek Resiko perilaku kekerasan terhadap
diri sendiri dan orang lain
Kerusakan komunikasi verbal
Core Problem Perubahan proses pikir: waham
Causa Gangguan konsep diri: harga diri rendah
II. Masalah Keperawatan yang mungkin muncul
A. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
B. Perubahan isi pikir : waham
C. Gangguan konsep diri : resiko harga diri rendah kronis
III. Data yang Perlu Dikaji
A. Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
a. Data subjektif
Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada
seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya
jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-barang dan tidak
mampu mengendalikan diri
b. Data objektif
Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara
menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar
barang-barang.
B. Kerusakan komunikasi : verbal
1. Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
2. Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar
dan kontak mata kurang
C. Perubahan isi pikir : waham ( ………….)
1. Data subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan
tetapi tidak sesuai kenyataan.
2. Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak
(diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak
tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah
tersinggung.
D. Gangguan konsep diri: harga diri rendah
1. Data subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap
diri sendiri
2. Data objektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternative
tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup
IV. Diagnosa Keperawatan
A. Perubahan isi pikir : waham (D.0105)
V. Rencana Tindakan Keperawatan
1. Perubahan isi pikir : waham (D.0105)
Definisi : Keyakinan yang keliru tentang isi pikiran yang dipertahankan secara
kuat atau terus menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan.
Tujuan dan Kriteria Hasil
Tujuan : setelah dilakukan tindakan 3x24 jam diharapkan status orientasi
membaik.
Kriteria Hasil :
a. Verbalisasi waham menurun
b. Perilaku waham menurun
c. Perilaku sesuai realita
d. Pembicaraan membaik
Intervensi : Manajemen waham (I.09295)
Observasi
a. Monitor waham yang isinya membahayakan diri sendiri, orang lain
dan lingkungan sekitar
b. Monitor efek teraupetik dan efek saping obat
Teraupetik
a. Bina hubugan interpersonal saling percaya
b. Tunjukan sikap tidak menghakimi secara konsisten
c. Hindari perdebatan tentang keyakinan yang keliru, nyatakan
keraguan sesuai fakta
Edukasi
a. Anjurkan mengungkapkan dan memvalidasi waham dengan orang
yang dipercaya
b. Anjurkan melakukan rutinitas harian secara konsisten
c. Latih manajemen stress
d. Jelaskan tentang waham serta penyakit terkait
Kolaborasi
Kolaborasi pemberian obat, sesuai indikasi
STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEARAWATAN
DENGAN GANGGUAN POLA PIKIR : WAHAM
A. PROSES KEPERAWATAN
1. Kondisi Klien
a. Data Objektif
Pasien mondar-mandir, berbicara sendiri, dan seringkali berperilaku seperti
orang pencak silat
b. Data Subjektif
Ekspresi sedih, afek labil, kontak mata kurang, dan sering kali perperilaku
aneh.
2. Diagnosa Keperawatam
Perubahan proses pikir : Waham
3. Tujuan khusus
a. Pasien dapat berorientasi kepada realitas secara bertahap
b. Pasien dapat memenuhi kebutuhan dasar
c. Pasien mampu berinteraksi dengan orang dan lingkungan
d. Pasien menggunakan obat dengan rinsip 5 benar
4. Tindakan keperawatn
a. Bina hubungan saling percaya
b. Bantu orientasi realita
c. Diskusikan kebutuhan psikologi/emosional yang tidak terpenuhi
sehingga menimbulkan kecemasan, rasa takut, dan marah
d. Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan fisik dan
emosional pasien
e. Berdiskusi tentang kemampuan positif yang dimiliki
f. Bantu melakukan kemampuan yang dimiliki
g. Berdiskusi yentang obat yang diminum
h. Melatih minum obat yang benar
B. STRATEGI KOMUNIKASI DALAM PELAKSANAAN TINDAKAN
KEPERAWATAN
Sp 1 pasien : membina hubungan saling percaya, mengidentifikasi kebutuhan
yang tidak terpenuhi dan cara memenuhi kebutuhan, mempraktekkan
pemenuhan kebutuhan yang tidak terpenuhi
FASE ORIENTASI (PERKENALAN)
“Assalamualikum, selamat pagi”
“Saya Kurnia Sariputri, saya senang dipanggil Kurnia. Saya mahasiswa Profesi Ners
STIK Bina Husada Palembang yang bertugas untuk merawat bapak”
“Siapa nama bapak? Senang dipanggil siapa?”
“Apa keluhan bapak hari ini? Bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang keluarga
dan teman-teman bapak? Mau dimana kita bercakap-cakap? Bagaimana kalau diruang
tamu? Mau berapa lama pak? Bagaimana kalau 15 menit?”
FASE KERJA
“Saya mengerti kalau bapak adalah seorang yang pintar bela diri, apakah bapak senang
dengan ilmu bela diri pak?”
“kenapa tidak sennag pak? Tampaknya bapak gelisah sekali? Bisa bapak ceritakan apa
yang bapak rasakan?”
“Oo...jadi bapak dipaksa dan diatur-atur oleh orang lain terus-menerus?”
“Siapa menurut bapak yang mrngatur-ngatur bapak?”
“jadi menurut bapak........yang sering mengatur-atur diri bapak?”
“kalau bapak sendiri inginnya seperti apa?”
“Oo...bgus bapak sudah punya rencana dan jadwal untuk diri sendiri”
“coba kita tuliskan rencana dan jadwal tersebut pak.”
“wah.. bagus sekali jadi setiap harinya bapak mau ingin mengaji ya pak?”
FASE TERMINASI
“Bagaimana perasaan pak Amir setelah berbincang-bincang dengan saya?”
“Apa saja tadi yang sudah kita bicarakan pak amir? Apa bapak masih ingat? Wah..
bagus sekali pak”
“Bagaimana kalau jadwal ini coba bapak lakukan, setuju pak Amir?”
“baik besok saya akan kesini lagi jam 12 untuk berbincang-bincccang dengan bapak
Amir lagi tentang hobi bapak, apakah bapak bersedia?”
“Baiklah, sampai jumpa besok pak”
Sp 2 pasien : Mengidentifikasi kemampuan positif yang dimiliki pasien dan
membantu mempraktikkanya
FASE ORIENTASI
“Assalamualaikum pak amir, bagaimana perasaannya hari ini? Bagus?”
“Apakah pak amir sudah mengingat-ingatapa saja hobi atau kegemaran bapak?”
“bagaimana kalau kita berbicara tentang hobi bapak sekarang?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang bapak? Bagaiman kalau diruang tamu? Bapak
mau berapa menit berbicara dengan saya? Bagaiman kalau 15 menit?”
FASE KERJA
“Apa saja hobi bapak?saya catat ya pak, terus apa lagi?”
“wah...rupanyan bapak pandai/suka mengaji ya pak?
“bisa bapak ceritakan kepada saya kapan pertama kali belajar mengaji dan dimana?”
“apakah saya bisa mendengarkan bapak mengaji?”
“Wahh... bagus sekali mengajinya pak”
“coba kita buat jadwal untuk kemampuan pak Amir ini ya, berapa kali sehari/seminggu
bapak mengaji?”
“apa yang bapak harapkan dalam kemampuan mengaji bapak?”
“ada tidak hobi atau kemampuan pak amir selain mengaji?”
FASE TERMINASI
“bagaimana perasaan bapak setelah setelah kita berbicara dan bercerita tentang
kemampuan atau hobi yang bapak miliki?”
“Setelah ini coba bapak lakukan mengaji sesuai denagn jadwal yang telah kita buat ya!”
“besok kita ketemu lagi ya pak Amir. Selamat siang”
Sp 3 pasien : Mengajarkan dan melatih cara minum obat yang benar
FASE ORIENTASI
“Assalamualaikum pak Amir”
“bagaimana pak, sudah dilakukan jadwal mengajinya? Bagus sekali”
“sesuai janji kita kemarin bagaimana kalau kita sekarang kita membicarakan tentang
obat yang bapak amir minum?”
“dimana kita mau berbicara? Diruang tamu?”
“berapa lama bapak mau kita bicara? 15 atau 20 menit pak?”
FASE KERJA
“ada berapa macam obat yang bapak minum? Jam berapa saja minum obatnya?”
“pak amir perlu obat ini agar pikirannya tenang, tidurnya juga tenang”
“obatnya ada 3 macam bapak, yang namanya oranye namanya CEPEZET gunanya agar
bapak bisa tenang, yang putih itu namanya THP gunanya agar rilexs, dan yang warna
pink ini namnya HLP gunannya agar pikiran teratur. Semuanya ini diminum 3 kali
sehari diminam pada jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam”
“sebelum minum obat ini harus mengecek label dibungkus obat apakah benar nama
bapak amir tertulis disitu. Baca juga apakah nama obatnya sudah benar”
“obat-obatan ini harus diminum secara teratur dan kemungkinan besar harus diminum
dalam waktu yang lama. Agar tidak kambuh lagi sebaiknya pak amir tidak
menghentikan sendiri obat yang harus diminum sebelum berkonsultasi dengan dokter”
FASE TERMINASI
“bagaimana perasaan pak amir sekarang setelah kita bercakap-cakap dengan obat yang
bapak minum. Apa saja obatnya dan jam berapa minum obatnya”