0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan19 halaman

Laporan Keperawatan Jiwa: Halusinasi

@

Diunggah oleh

Kurnia Sariputri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
87 tayangan19 halaman

Laporan Keperawatan Jiwa: Halusinasi

@

Diunggah oleh

Kurnia Sariputri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA

DENGAN HALUSINASI

Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa

Disusun oleh :
Kurnia Sariputri
NPM : 24149011312

Dosen Pembimbing :
Ns. Mareta Akhriansyah, [Link]., M. Kep

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA HUSADA PALEMBANG
TAHUN 2024/2025
LAPORAN PENDAHULUAN
HALUSINASI

I. Masalah keperawatan
Gangguan Sensori Persepsi: Halusinasi

II. Proses Terjadinya Masalah


a. Pengertian
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana klien mengalamai
perubahan sensori persepsi, merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan,
pengecapan, perabaaan atau [Link] merasakan stimulus yang sebetulnya
tidak ada (Damaiyanti, 2012). Halusinasi adalah persepsi yang tanpa dijumpai
adanya rangsangan dari luar. Walaupun tampak sebagai sesuatu yang khaya,
halusinasi sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan mental penderita teresepsi
(Yosep, 2010).

b. Faktor predisposisi
Menurut Yosep (2014) faktor predisposisi pada pasien halusinasi adalah sebagai
berikut.
a) Faktor Perkembangan
b) Faktor Sosiokultural
c) Faktor Biokimia
d) Faktor Psikologi
e) Faktor Genetik dan Pola Asuh

c. Faktor presipitasi
Adapun faktor presipitasi pada halusinasi adalah sebagai berikut.
a) Stress Lingkungan
b) Sumber Koping
c) Perilaku
Berikut dapat dilihat lima dimensi yaitu:
1) Dimensi fisik
2) Dimensi emosional
3) Dimensi intelektual
4) Dimensi sosial
5) Dimensi spiritual

d. Tanda dan gejala


Tanda dan gejala halusinasi dinilai dari hasil observasi terhadap pasien serta
ungkapan pasie, Tanda dan gejala pasien halusinasi adalah sebagai berikut:
a) Data Obyektif
1. Bicara atau tertawa sendiri.
2. Marah-marah tanpa sebab.
3. Memalingkan muka ke arah telinga seperti mendengar sesuatu
4. Menutup telinga
5. Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu
6. Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas
7. Mencium sesuatu seperti sedang membaui bau-bauan tertentu.
8. Menutup hidung
9. Sering meludah
10. Muntah
11. Menggaruk-garuk permukaan kulit.

b) Data Subyektif: pasien mengatakan :


1. Mendengar suara-suara atau kegaduhan
2. Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap
3. Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya.
4. Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartun, melihat hantu atau
monster.
5. Mencium bau-baukan seperti bau darah, urin, feses, kadang-kadang bau itu
menyenangkan
6. Merasakan rasa seperti darah, urin atau fases
7. Merasa takut atau senang dengan halusinasinya
8. Mengatakan sering mendengar sesuatu pada waktu tertentu saat sedang
sendirian
9. Mengatakan sering mengikuti isi perintah halusinasi.
e. Jenis – Jenis Halusinasi
Stuart dan Laraia (2005) membagi halusinasi menjadi 7 jenis halusinasi yang
meliputi:
1. Halusinasi pendengaran (auditory),
2. Halusinasi penglihatan (visual),
3. Halusinasi penghidu (olfactory),
4. Halusinasi pengecapan (gustatory),
5. Halusinasiperabaan (tactile),
6. Halusinasi cenesthetic,
7. Halusinasi kinesthetic.

f. Akibat Halusinasi
1) Risiko perilaku kekerasan (Pada diri sendiri, orang lain, lingkungan danverbal)
2) Gangguan persepsi sensori: Halusinasi
3) Isolasi sosial.

g. Rentang Respon Halusinasi


Rentang respon tersebut digambarkan seperti pada gambar dibawah ini :
Respon Adaptif Respon Maladaptif

Pikiran logis Gangguan pikir / delusi


Persepsi akurat Distorsi pikiran ilusi Halusinasi
Emosi konsisten dengan Reaksi emosi berlebihan Sulit merespon emosi
pengalaman Perilaku aneh atau tidak Perilaku
Perilaku sesuai biasa disorganisasi
Berhubungan sosial Menarik diri Isolasi sosial
III. Akibat
Klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan control dirinya
sehingga bisa membahayakan diri sendiri, orang lain maupun merusak
lingkungan (risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan). Hal ini terjadi
jika halusinasi sudah sampai fase ke IV, di mana klien mengalami panik dan
perilakunya dikendalikan oleh isi halusinasinya. Klien benar-benar kehilangan
kemampuan penilaian realitas terhadap lingkungan. Dalam situasi ini klien dapat
melakukan bunuh diri, membunuh orang lain bahkan merusak lingkungan.
Tanda dan gejala :
- Muka merah
- pandangan tajam
- Otot tegang
- Nada suara tinggi
- Berdebat
- Memaksakan kehendak: merampas makanan, memukul jika tidak senang.

IV. Pohon Masalah

V. masalah keperawatan
Risiko perilaku kekerasan (diri sendiri, orang
1. Masalah keperawatan lain, lingkungan, dan verbal)
a. Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
effect

Gangguan persepsi sensori: Halusinasi Core problem

b. Perubahan sensori perseptual : halusinasi


c. Isolasi sosial : menarik diri

Isolasi social : menarik diri


2. Data yang perlu dikaji
a. Risiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Causa
Data Subyektif :
- Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
- Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika
sedang kesal atau marah.
- Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data Objektif :
- Mata merah, wajah agak merah.
- Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak, menjerit,
memukul diri sendiri/orang lain.
- Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
- Merusak dan melempar barang-barang.
b. Perubahan sensori perseptual : halusinasi
Data Subjektif :
- Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan
stimulus nyata
- Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
- Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
- Klien merasa makan sesuatu
- Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
- Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar
- Klien ingin memukul/melempar barang-barang
Data Objektif :
- Klien berbicara dan tertawa sendiri
- Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
- Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
- Disorientasi
c. Isolasi sosial : menarik diri
Data Subyektif :
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh,
mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri.
Data Obyektif :
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri/ingin mengakhiri hidup, Apatis, Ekspresi
sedih, Komunikasi verbal kurang, Aktivitas menurun, Posisi janin pada saat
tidur, Menolak berhubungan, Kurang memperhatikan kebersihan

A. Diagnosa Keperawatan
1. Perubahan sensori persepsi : halusinasi
2. Isolasi sosial : menarik diri

B. Rencana Tindakan Keperawatan


Diagnosa I : Perubahan sensori persepsi halusinasi
Tujuan umum : Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya dasar untuk kelancaran
hubungan interaksi seanjutnya
Tindakan :
1.1 Bina hubungan saling percaya dengan menggunakan prinsip komunikasi
terapeutik dengan cara :
a. Sapa klien dengan ramah baik verbal maupun non verbal
b. Perkenalkan diri dengan sopan
c. Tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang disukai
d. Jelaskan tujuan pertemuan
e. Jujur dan menepati janji
f. Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
g. Berikan perhatian kepada klien dan perhatian kebutuhan dasar klien
2. Klien dapat mengenal halusinasinya
Tindakan :
2.1 Adakan kontak sering dan singkat secara bertahap
2.2 Observasi tingkah laku klien terkait dengan halusinasinya: bicara dan
tertawa tanpa stimulus memandang ke kiri/ke kanan/ kedepan seolah-olah
ada teman bicara
2.3 Bantu klien mengenal halusinasinya
a. Tanyakan apakah ada suara yang didengar
b. Apa yang dikatakan halusinasinya
c. Katakan perawat percaya klien mendengar suara itu , namun perawat
sendiri tidak mendengarnya.
d. Katakan bahwa klien lain juga ada yang seperti itu
e. Katakan bahwa perawat akan membantu klien
2.4 Diskusikan dengan klien :
a. Situasi yang menimbulkan/tidak menimbulkan halusinasi
b. Waktu dan frekuensi terjadinya halusinasi (pagi, siang, sore, malam)
2.5 Diskusikan dengan klien apa yang dirasakan jika terjadi halusinasi (marah,
takut, sedih, senang) beri kesempatan klien mengungkapkan perasaannya

3. Klien dapat mengontrol halusinasinya


Tindakan :
3.1 Identifikasi bersama klien cara tindakan yang dilakukan jika terjadi
halusinasi ( tidur, marah, menyibukkan diri dll)
3.2 Diskusikan manfaat cara yang digunakan klien, jika bermanfaat ber pujian
3.3 Diskusikan cara baru untuk memutus/mengontrol timbulnya halusinasi:
a. Katakan “ saya tidak mau dengar”
b. Menemui orang lain
c. Membuat jadwal kegiatan sehari-hari
d. Meminta keluarga/teman/perawat untuk menyapa jika klien tampak
bicara sendiri
3.4 Bantu klien memilih dan melatih cara memutus halusinasinya secara
bertahap
3.5 Beri kesempatan untuk melakukan cara yang telah dilatih
3.6 Evaluasi hasilnya dan beri pujian jika berhasil
3.7 Anjurkan klien mengikuti TAK, orientasi, realita, stimulasi persepsi

4. Klien mendapat dukungan dari keluarga dalam mengontrol halusinasinya


Tindakan :
4.1 Anjurkan klien untuk memberitahu keluarga jika mengalami halusinasi
4.2 Diskusikan dengan keluarga (pada saat berkunjung/pada saat kunjungan
rumah):
a. Gejala halusinasi yang dialami klien
b. Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk memutus
halusinasi
c. Cara merawat anggota keluarga yang halusinasi dirumah, diberi
kegiatan, jangan biarkan sendiri, makan bersama, bepergian bersama
d. Beri informasi waktu follow up atau kenapa perlu mendapat bantuan :
halusinasi tidak terkontrol, dan resiko mencederai diri atau orang lain
5. Klien memanfaatkan obat dengan baik
Tindakan :
5.1 Diskusikan dengan klien dan keluarga tentang dosis, frekuensi dan manfaat
minum obat
5.2 Anjurkan klien meminta sendiri obat pada perawat dan merasakan
manfaatnya
5.3 Anjurkan klien bicara dengan dokter tentang manfaat dan efek samping
minum obat yang dirasakan
5.4 Diskusikan akibat berhenti obat-obat tanpa konsultasi
5.5 Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip 5 benar.
Diagnosa II : isolasi sosial menarik diri
Tujuan umum : klien tidak terjadi perubahan sensori persepsi: halusinasi
Tujuan khusus :
1. Klien dapat membina hubungan saling percaya
Tindakan :
1.1. Bina hubungan saling percaya: salam terapeutik, memperkenalkan diri,
jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kesepakatan dengan jelas tentang topik, tempat dan waktu.
1.2. Beri perhatian dan penghaargaan: temani klien walau tidak menjawab.
1.3. Dengarkan dengan empati: beri kesempatan bicara, jangan terburu-buru,
tunjukkan bahwa perawat mengikuti pembicaraan klien.
2. Klien dapat menyebutkan penyebab menarik diri
Tindakan :
2.1 Kaji pengetahuan klien tentang perilaku menarik diri dan tanda-tandanya
2.1. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan penyebab
menarik diri atau mau bergaul
2.1. Diskusikan bersama klien tentang perilaku menarik diri, tanda-tanda serta
penyebab yang muncul
2.1. Berikan pujian terhadap kemampuan klien mengungkapkan perasaannya
3. 3. Klien dapat menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain dan
kerugian tidak berhubungan dengan orang lain.
Tindakan :
3.1 Kaji pengetahuan klien tentang manfaat dan keuntungan berhubungan
dengan orang lain
a. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan
tentang keuntungan berhubungan dengan prang lain
b. Diskusikan bersama klien tentang manfaat berhubungan dengan
orang lain
c. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan
perasaan tentang keuntungan berhubungan dengan orang lain
3.2 Kaji pengetahuan klien tentang kerugian bila tidak berhubungan dengan
orang lain
a. Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan perasaan
dengan orang lain
b. Diskusikan bersama klien tentang kerugian tidak berhubungan
dengan orang lain
c. Beri reinforcement positif terhadap kemampuan mengungkapkan
perasaan tentang kerugian tidak berhubungan dengan orang lain
4. Klien dapat melaksanakan hubungan sosial
Tindakan :
4.1 Kaji kemampuan klien membina hubungan dengan orang lain
4.2 Dorong dan bantu kien untuk berhubungan dengan orang lain melalui
tahap :
- K–P
- K – P – P lain
- K – P – P lain – K lain
- K – Kel/Klp/Masy
4.3 Beri reinforcement positif terhadap keberhasilan yang telah dicapai
4.4 Bantu klien untuk mengevaluasi manfaat berhubungan
4.5 Diskusikan jadwal harian yang dilakukan bersama klien dalam mengisi
waktu
4.6 Motivasi klien untuk mengikuti kegiatan ruangan
4.7 Beri reinforcement positif atas kegiatan klien dalam kegiatan ruangan
5. Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan orang
lain
Tindakan :
5.1 Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya bila berhubungan dengan
orang lain
5.2 Diskusikan dengan klien tentang perasaan masnfaat berhubungan dengan
orang lain
5.3 Beri reinforcement positif atas kemampuan klien mengungkapkan perasaan
manfaat berhubungan dengan oranglain
6. Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga
Tindakan :
6.1 Bina hubungan saling percaya dengan keluarga :
- Salam, perkenalan diri
- Jelaskan tujuan
- Buat kontrak
- Eksplorasi perasaan klien
6.2 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang :
- Perilaku menarik diri
- Penyebab perilaku menarik diri
- Akibat yang terjadi jika perilaku menarik diri tidak ditanggapi
- Cara keluarga menghadapi klien menarik diri
6.3 Dorong anggota keluarga untukmemberikan dukungan kepada klien untuk
berkomunikasi dengan orang lain
6.4 Anjurkan anggota keluarga secara rutin dan bergantian menjenguk klien
minimal satu kali seminggu
6.5 Beri reinforcement positif positif atas hal-hal yang telah dicapai oleh
keluarga
DAFTAR PUSTAKA

Stuart GW, Sundeen, Buku Saku Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC, 1995
Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC, 1999
Keliat BA. Asuhan Klien Gangguan Hubungan Sosial: Menarik Diri. Jakarta : FIK UI.
1999
Keliat BA. Proses kesehatan jiwa. Edisi 1. Jakarta : EGC. 1999
Aziz R, dkk, Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa Semarang : RSJD Dr. Amino
Gonohutomo, 2003
Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung, RSJP
Bandung, 2000
A. Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan
SP 1 Pasien : Membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan cara-cara
mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara
pertama : menghardik halusinasi
Fase Orientasi
“Selamat pagi bapak, saya mahasiswa Profesi Ners STIK Bina Husada yang
akan merawat bapak, nama saya Kurnia Sariputri, senang dipanggil Kurnia.
Nama bapak siapa ? bapak senang dipanggil apa ?”
“Bagaimana perasaan bapak hari ini ? Apa keluhan bapak saat ini ?”
“Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang suara yang selama ini
bapak dengar tetapi tak tampak wujud nya ?”
“Dimana kita akan duduk ? di ruang tamu ?”
“Berapa lama ? bagaimana kalau 30 menit ?”

Fase Kerja
“Apakah bapak mendengar suara tanpa ada wujud nya ?”
“Apa yang dikatakan suara itu ?”
“Apakah terus menerus terdengar atau sewaktu-waktu ? kapan waktu yang
paling sering terdengar suara-suara itu ?”
“Berapa kali sehari bapak alami ? pada keadaan apa suara itu terdengar ?
apakah pada waktu sendiri ?”
“Apa yang bapak rasakan pada saat mendengar suara itu ?”
“Apa yang bapak lakukan saat mendengar suara itu ?”
“Apakah dengan cara itu suara itu hilang ?”
“Bagaimana kalau kita belajar cara-cara untuk mencegah suara-suara itu
muncul ?”
“Bapak, ada 4 cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan
menghardik suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang
lain. Ketiga, melakukan kegiatan yang sudah terjadwal. Dan yang keempat,
minum obat dengan teratur.
“Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik”
“caranya sebagai berikut : saat suara-suara itu muncul, langsung bapak bilang
((pergi! Saya tidak mau dengar !! saya tidak mau dengar !! kamu suara palsu)).
Begitu diulang-ulang sampai suara itu tak terdengar lagi. Coba bapak
peragakan!”
“Nah begitu, bagus… coba lagi ! ya bagus, bapak sudah bisa”

Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan bapak setelah peragaan latihan tadi ?”
“Kalau suara-suara itu muncul lagi, silahkan coba cara tersebut. Bagaimana
kalau kita buat jadwal latihan nya ? mau jam berapa saja latihan nya ?”
“Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar dan latihan mengendalikan
suara-suara dengan cara yang kedua ?”
“Jam berapa bapak mau kita bertemu lagi ? bagaimana kalau 2 jam lagi ?”
“Berapa lama kita akan berlatih ? dimana tempat nya ?”
“Baiklah, sampai jumpa”
SP 2 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua : bercakap-
cakap dengan orang lain
Fase Orientasi
“Selamat pagi bapak, bagaimana perasaan bapak hari ini ?”
“Apakah suara-suara nya masih muncul ? apakah sudah dipakai cara yang telah
kita latih ? berkurang kan suara-suara nya ?”
“Bagus ! sesuai janji kit tadi saya akan latih cara kedua untuk mengontrol
halusinasi dengan bercakap-cakap dengan orang lain”
“Kita akan latihan selama 20 menit, mau dimana ?”
Fase Kerja
“Cara kedua untuk mencegah / mengontrol halusinasi yang lain adalah dengan
bercakap-cakap dengan orang lain. Jadi, kalau bapak mulai mendengar suara-
suara, langsung saja cari teman untuk diajak ngobrol. Minta teman untuk
ngobrol dengan bapak, contoh nya begini ((Tolong, saya mulai dengar suara-
suara. Ayo ngobrol dengan saya)). Atau kalau ada orang dirumah misalnya istri
atau anak, bapak katakan ((Bu, ayo ngobrol dengan bapak ! bapak sedang
medengar suara-suara)).
“Ya, begitu. Bagus! Coba sekali lagi !”
“Bagus!! Nah, latihan terus ya bapak”
Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan bapak setelah latihan ini ?”
“Jadi, sudah ada berapa cara yang bapak pelajari untuk mencegah suara-suara
itu ?”
“Bagus! Cobalah kedua cara ini kalau bapak mengalami halusinasi lagi.
Bagaimana kalau kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian bapak ?”
“Mau jam berapa latihan bercakap-cakap ?”
“Nah, nanti lakukan secara teratur jika sewaktu-waktu suara itu muncul. Besok
pagi saya akan kemari lagi. Bagaimana kalau kita latih cara yang ketiga yaitu
melakukan aktivitas terjadwal ?”
“Mau jam berapa ? bagaimana kalau jam 10.00 ?”
“Mau dimana ? bagaimana kalau disini lagi ?”
“Sampai besok ya, selamat pagi”
SP 3 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga : melaksanakan
aktivitas terjadwal

Fase Orientasi
“Selamat pagi bapak, bagaimana perasaan bapak hari ini ? apakah suara-suara
nya masih muncul ?”
“Apakah sudah dipakai kedua cara yang telah kita latih ? bagaimana hasil
nya ?”
“Bagus ! sesuai janji kita, hari ini kita akan belajar cara yang ketiga untuk
mencegah halusinasi yaitu melakukan kegiatan terjadwal”
“Mau dimana kita berbicara ? bagaimana kalau 30 menit ?”

Fase Kerja
“Baiklah, apasaja yang biasa bapak lakukan sehari-hari ?”
“Waaah, banyak sekali kegiatan nya. Mari kita latih dua kegiatan hari ini”
“Bagus sekali bapak ! bapak bisa melakukan nya. Kegiatan yang lain akan kita
latih lagi agar dari pagi sampai malam bapak ada kegiatan nya”

Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap cara yang ketiga untuk
mencegah suara-suara ?”
“Bagus sekali ! coba bapak sebutkan 3 cara yang telah kita latih untuk
mencegah suara”
“Bagus sekali, mari kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian bapak. Coba
lakukan sesuai jadwal ya”
“Bagaimana kalau menjelang makan siang nanti, kita membahas cara minum
obat yang baik serta guna obat ?”
“Mau jam berapa ? bagaimana kalau jam 12.00 nanti ? diruang makan ya !
sampai jumpa”
SP 4 Pasien : Melatih pasien menggunakan obat secara teratur
Fase Orientasi
“Selamat siang bapak, bagaimana perasaan bapak ? apakah suara nya masih muncul
?”
“Apakah sudah dipakai tiga cara yang telah kita latih ? apakah jadwal kegiatan nya
sudah dilaksanakan ? Apakah pagi ini sudah minum obat ?”
“Baik, hari ini kita akan mendiskusikan tentang obat-obatan yang bapak minum”
“Kita akan diskusi selama 20 menit sambil menunggu makan siang. Disini saja ya
bapak”

Fase Kerja
“Adakah bedanya yang bapak rasakan setelah minum obat secara teratur ?”
“Apakah suara-suara berkurang / menghilang ?”
“Minum obat sangat penting supaya suara-suara yang bapak dengar dan
mengganggu selama ini tidak muncul lagi. Berapa macam obat yang bapak
minum ?”
“Ini yang warna orange (CPZ) 3x 1 hari gunanya untuk menghilangkan suara-suara.
Ini yang putih (THP) 3x 1 hari gunanya untuk rileks dan kaku. Sedangkan ini yang
merah jambu (HLP) 3x 1 hari gunanya agar pikiran menjadi tenang. Semua nya
diminum 3x 1 hari pada jam 7 pagi, jam 1 siang, dan jam 7 malam.”
“Nanti kalau suara-suara sudah hilang obat nya tidak boleh berhenti diminum, bapak
harus konsultasi dengan dokter. Sebab jika putus obat, bapak akan kambuh dan sulit
untuk mengembalikan ke kekadaan semula”
“Kalau obat habis bapak bisa minta ke dokter untuk mendapatkan obat lagi”
“Bapak juga harus teliti saat menggunakan obat-obatan ini. Pastikan obat nya benar,
artinya bapak harus memastikan bahwa itu obat yang benar-benar punya bapak.
Jangan keliru dengan obat milik orang lain”
“Baca nama kemasan nya. Pastikan obat diminum tepat pada waktu nya dengan cara
yang benar, yaitu diminum sesudah makan dan tepat pada jam nya. Bapak juga
harus perhatikan berapa jumlah obat sekali minum, dan harus cukup minum 10 gelas
/hari”
Fase Terminasi
“Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang obat ?”
“Sudah berapa cara yang kita latih untuk mencegah suara-suara ? coba sebutkan !”
“Bagus! Mari kita masukkan jadwal minum obat nya pada jadwal kegiatan bapak.
Jangan lupa pada waktu nya minta obay pada perawat atau keluarga kalau dirumah”
“Besok kita ketemu lagi untuk melihat manfaat 4 cara mencegah suara yang telah
kita bicarakan. Mau jam berapa ? Bagaimana kalau jam 10.00 ? sampai jumpa”

Anda mungkin juga menyukai