Memahami Analisis Teknikal Saham
Memahami Analisis Teknikal Saham
Technical Analysis atau analisis teknikal adalah analisis yang mempelajari data pasar,
termasuk pergerakan harga saham dan volume perdagangan saham tersebut. Kalau
orang yang menggunakan analisis fundamental disebut investor, orang yang
menggunakan analisis teknikal biasanya disebut sebagai trader.
Mayoritas trader percaya bahwa pola pergerakan harga saham akan mengulang pola
yang sama yang telah terjadi sebelumnya.
Asumsi ini terbentuk karena psikologi pasar yang cenderung dapat diprediksi, karena
mayoritas trader merespons hal yang sama terhadap pergerakan harga emiten.
Jesse dikenal sebagai salah satu pelopor trading harian dan termasuk
dalam trader tersukses sepanjang masa dengan julukan The Great Bear of Wall
Street. Julukan ini diberikan kepada Jesse setelah ia menghasilkan keuntungan 3 juta
dolar AS saat market crash di AS pada 1907. Bahkan, pada era Great
Depression tahun 1928, Jesse kembali meraup keuntungan di dunia pasar modal
hingga 100 juta dolar AS.
Jenis-jenis Chart Saham
Cara Membaca OHLC pada Saham
Setiap hari, harga suatu saham cenderung mengalami kenaikan dan penurunan
sejak market buka hingga tutup. Harga bisa naik ketika market buka, dan turun ke
harga yang lebih rendah dibanding harga pembukaan saat market tutup. Begitu pun
sebaliknya, harga bisa mengalami penurunan saat market buka, lalu merangkak naik
ke harga yang lebih tinggi dari harga pembukaan.
Ada empat poin penting yang perlu kita perhatikan dalam mengamati pergerakan
harian ini, yaitu Open, High, Low dan Close (OHLC):
Harga OHLC bisa berbeda, bisa juga sama. Maksudnya, harga Open bisa sama juga
dengan harga Close. Harga Close bisa sama dengan harga High maupun Low.
Line Chart
Line chart atau grafik garis adalah jenis chart yang paling sederhana dan paling
mudah dibaca. Chart ini hanya menunjukkan harga Close atau penutupan setiap
harinya, tanpa menyertakan harga Open, High dan Low. Jadi, tidak banyak informasi
yang yang disajikan dalam jenis grafik ini.
Oleh karena itu, line chart sebenarnya sangat jarang dipakai oleh pengguna analisis
teknikal. Kamu bisa menggunakan line chart jika ingin melihat gambaran dari
arah trend suatu saham.
Bar Chart
Bar chart atau grafik batang adalah jenis chart yang menyajikan informasi pergerakan
harga suatu saham dalam satu hari. Dalam chart ini, sudah terdapat semua informasi
OHLC.
Berbeda dari line chart yang setiap harinya hanya mewakili satu harga, bar
chart memiliki bentuk seperti lidi dengan dua tonjolan di sebelah kiri dan kanannya.
Tonjolan kecil inilah yang membuat bar chart dapat memuat informasi OHLC
- Open: 95
- Low: 90
- High: 105
- Close: 100
Dari data tersebut, akan terbentuk bentuk bar chart seperti di bawah ini.
Pada grafik yang menyerupai batang lidi tersebut, terdapat dua garis kecil di sebelah
kiri dan kanan yang sejajar.
Perhatikan garis kecil berwarna hijau di sebelah kiri yang sejajar dengan angka 95.
Garis ini menunjukkan harga Open atau pembukaan.
Pada gambar bar chart di sebelahnya, tinggi batang lidi yang diwarnai hijau
menunjukkan range harga 90 hingga 105. Tinggi batang menunjukkan harga High dan
Low yang dicapai saham tersebut dalam satu hari.
Terakhir, perhatikan garis kecil yang menonjol di sebelah kanan yang sejajar dengan
angka 100. Garis kecil ini menandakan harga Close. Karena harga Close (100) lebih
tinggi dibanding harga Open (95), batang lidi diberi warna hijau.
Begitulah cara membaca bar chart. Dengan jenis chart ini, kamu sudah bisa
mendapatkan informasi perjalanan harga suatu saham dalam satu hari.
Umumnya, untuk memudahkan secara visual, bar chart diwarnai sesuai dengan
pergerakan harga di hari itu, yaitu hijau jika harga naik atau penutupan lebih tinggi
dibanding pembukaan, dan merah jika harga turun atau penutupan di bawah harga
pembukaan. Berdasarkan contoh bar chart tadi, akan terlihat seperti ini karena harga
Close di atas harga Open.
Dengan menggunakan contoh data saham yang sama, bar chart memuat informasi
pergerakan harga saham yang lebih banyak dibandingkan dengan line chart.
Candlestick chart atau grafik batang lilin adalah jenis chart yang juga memberikan
informasi lengkap tentang OHLC, seperti bar chart. Bedanya, candlestick
chart memiliki bentuk lebih gemuk karena memiliki badan (body) dan sumbu (wick)
seperti lilin.
Sama seperti pada bar chart, sumbu dan badan candlestick memberikan informasi
mengenai OHLC. Sumbu di bagian atas dan bawah menunjukan harga High dan Low.
sementara batas atas dan bawah lilin menunjukkan harga Open dan Close.
Cara Membaca Candlestick Chart
Supaya lebih jelas tentang cara membaca candlestick, simak contoh berikut.
Misalnya, pergerakan suatu harga saham dalam satu hari ialah sebagai berikut:
- Open: 95
- Low: 90
- High: 105
- Close: 100
Dengan data yang sama seperti pada contoh bar chart, candlestick chart akan
berbentuk seperti berikut.
Sama seperti bar chart, body lilin memperlihatkan harga Open (95) dan Low (100),
sementara sumbu lilin memperlihatkan harga High (105) dan Low (90) yang sempat
disentuh oleh saham tersebut dalam satu hari. Karena harga Open lebih tinggi
dibanding harga Close, maka badan lilin menjadi berwarna hijau. Sementara kalau
harga Close lebih tinggi dibanding harga Open, badan lilin akan diwarnai merah.
Berikut adalah contoh gambar Candlestick Chart dalam pergerakan harga saham.
Timeframe pada Chart
Itulah jenis-jenis grafik saham dan cara membacanya. Setiap trader biasanya memiliki
preferensi tipe chart masing-masing. Candlestick chart biasanya menjadi tipe grafik
yang paling disukai oleh trader karena memberikan informasi yang lengkap dan visual
yang lebih jernih. Namun, ada juga yang lebih menyukai bar chart karena lebih
sederhana. Sementara line chart bisa digunakan jika kamu hanya membutuhkan
rangkuman informasi pergerakan harga suatu saham dalam periode tertentu.
Apabila timeframe yang ditampilkan adalah Daily, artinya satu chart menunjukkan
pergerakan harga selama satu hari. Sementara jika yang ditampilkan adalah Weekly,
artinya satu chart menggambarkan pergerakan harga dari Senin hingga Jumat. Begitu
pula dengan Monthly, data yang digambarkan dalam satu batang chart adalah
pergerakan harga selama satu bulan.
Apa itu Support dan Resistance?
Pengertian Support dan Resistance
Dalam analisis teknikal, terdapat dua atribut penting yang menjadi fondasi
analisis trader, yaitu support dan resistance. Fungsi
dari support dan resistance diyakini sebagai “penghalang” yang bisa membantu kita
memprediksi kemungkinan pergerakan harga ke depannya.
Support adalah batas bawah yang diyakini bisa menghalangi harga saham agar tidak
terus turun. Area support biasanya menjadi indikasi adanya permintaan (demand)
yang lebih besar dibanding penawaran (supply).
Sementara resistance adalah batas atas yang diyakini berfungsi untuk menahan
kenaikan harga agar tidak bergerak lebih tinggi lagi. Area ini menggambarkan
adanya supply yang lebih besar demand. Nah, sesuai dengan hukum ekonomi,
ketika demand lebih besar daripada supply, harga akan naik dan juga sebaliknya.
Support dan resistance dalam horizontal line digambarkan sebagai garis lurus pada
Charbit. Kita bisa menggambar support dan resistance dengan menghubungkan
minimal dua titik yang berada di level harga yang serupa pada kurun waktu tertentu.
Perlu diingat, semakin banyak titik pantulan, maka semakin kuat area tersebut untuk
dijadikan support atau resistance. Namun, ketika harga berhasil menembus
area support (breakdown) atau resistance (breakout), harga saham cenderung akan
melanjutkan pergerakannya.
Sebagai contoh, ketika harga saham $BRIS berhasil menembus ke bawah support-
nya:
Dapat dilihat pada contoh gambar, harga saham $BRIS berhasil menembus
batas support di level Rp2.025. Setelah harga $BRIS menerobos support, harganya
terus menurun.
Sama halnya ketika terjadi harga menembus resistance. Dapat dilihat pada contoh
gambar, harga saham $BMRI berhasil menembus batas resistance dan mengalami
kenaikan yang terus berlanjut.
Mengidentifikasi Trend Harga Saham
Trend
Trend bisa diartikan sebagai pergerakan suatu saham ke arah tertentu dalam kurun
waktu tertentu. Secara teori, pergerakan harga saham akan mengikuti tren yang telah
terjadi di masa lampau daripada bergerak secara acak.
Pernah dengar kalimat “Trend is our friend”? Kalimat tersebut punya arti
jika trader dapat menganalisis dan menilai tren, dia bisa mengambil posisi atau
melakukan transaksi yang bersahabat bagi portofolionya.
Mari kita bahas satu persatu, mulai dari cara mengenali tren, menganalisis tren,
hingga cara menarik garis trendline.
Uptrend
Uptrend berarti harga sedang mengalami trend naik. Biasa juga disebut
dengan bullish, dimana nama ini diambil dari patung banteng yang berada di Wall
Street, Amerika Serikat. Filosofi dari pengambilan nama bullish adalah banteng yang
ketika menyerang, akan menanduk ke arah atas, sehingga tren naik
dinamakan bullish.
Harga yang sedang mengalami tren naik atau uptrend akan membentuk garis seperti
di bawah ini. Gambar a adalah contoh kenaikan harga yang bergerak lurus ke atas.
Namun, dalam pergerakan saham uptrend, biasanya kenaikan harga juga akan
disertai dengan koreksi, sehingga seringkali bentuknya seperti pada gambar dibawah.
Mengidentifikasi Uptrend
Uptrend bisa diidentifikasi dengan adanya pengulangan pola Higher High dan Higher
Low. Higher High terbentuk ketika harga berhasil menyentuh harga yang lebih tinggi
dari harga tertinggi sebelumnya.
Sementara itu, Higher Low terbentuk ketika harga suatu emiten menyentuh posisi
harga rendah, tetapi lebih tinggi dari harga terendah sebelumnya. Berikut adalah
ilustrasi Higher High dan Higher Low:
Downtrend
Sekarang kita lanjut ke trend ke dua, yaitu downtrend. Sesuai
namanya, downtrend berarti tren penurunan harga atau biasa dikenal
sebagai bearish.
Istilah bearish terinspirasi dari posisi tubuh beruang ketika hendak menyerang, di
mana ia akan mencakar ke arah bawah. Hal tersebut menggambarkan chart harga
saham saat mengalami tren penurunan, sehingga dinamakan bearish.
Sementara itu, Lower Low terbentuk ketika harga suatu emiten menyentuh posisi
harga yang lebih rendah dari harga terendah sebelumnya. Berikut adalah ilustrasi
Lower High dan Lower Low:
Sideways
Tren sideways biasa dikenal dengan area konsolidasi. Selain tren naik atau turun, tren
harga saham juga dapat menunjukan ketidakpastian yang ditandai dengan
terbentuknya tren sideways. Intinya, tren sideways adalah tren yang
bukan uptrend ataupun downtrend.
Misalnya, sebuah uptrend yang sudah berlangsung relatif panjang atau lama,
kemudian arah trend berubah berubah menjadi sideways. Ini menandakan
bahwa uptrend yang sebelumnya terjadi sudah mulai kehilangan ‘power’ sehingga
harga saham memasuki tren sideways dan membentuk area konsolidasi.
Selesainya tren sideways ini akan jadi penentu apakah uptrend atau downtrend yang
sebelumnya terjadi akan berlanjut atau berubah ke arah sebaliknya.
Tren sideways akan berakhir ketika harga berhasil keluar dari area konsolidasi, di
mana harga bisa turun ke bawah dan menembus garis support, atau harga bisa naik
ke atas dan menembus garis resistance.
Jika harga turun ke bawah area support, biasanya tren harga sideways akan berubah
menjadi downtrend. Begitupun sebaliknya, jika dari harga berhasil menembus
area resistance dari tren sideways, biasanya tren harga saham berubah
menjadi uptrend.
Pertama-tama, tentukan titik-titik terendah pada uptrend atau Higher Low untuk
menggambar garis support. Pada gambar, Higher Low ditandai dengan lingkaran
warna merah.
Kemudian tarik garis untuk menyambungkan titik-titik Higher Low tersebut.
Setelah itu, tentukan puncak titik-titik tertinggi pada uptrend atau Higher High untuk
menggambar garis resistance. Pada gambar, Higher High ditandai dengan lingkaran
warna hijau . Lalu, tarik garis untuk menyambungkan titik-titik Higher High tersebut.
Pada fitur Chartbit, garis trendline bisa ditemukan pada Trend Line Tools yang
tersedia pada kolom sebelah kiri fitur Chartbit.
Menggambar Channel Line pada Uptrend
Selain menggunakan trendline, kamu juga bisa menggunakan channel line atau garis
kanal untuk menentukan trend. Ketika menggunakan channel line pada uptrend,
kamu hanya perlu menentukan salah satu dari garis support atau resistance terlebih
dahulu. Pada uptrend, hal yang perlu dilakukan di awal adalah menentukan titik-titik
Higher Low untuk menentukan support.
Untuk membuat channel line, klik Trend Line Tools yang ada di menu bar di sisi kiri
Charbit, lalu pilih Channel Parallel. Setelah itu, hubungkan minimal dua titik pada titik
Higher Low yang telah ditentukan sebelumnya. Setelah terbentuk garis, akan muncul
garis baru untuk membentuk terowongan atau kanal. Tutupi pola uptrend dengan
menaruh garis pada resistance yang sudah kita tentukan sebelumnya.
Pertama-tama, identifikasi Lower High atau titik-titik tertinggi pada downtrend. Dalam
gambar, Lower High ditandai dengan lingkaran berwarna hijau.
Nah, cara menggambar trendline-nya adalah dengan menarik garis dari puncak yang
terbentuk, sehingga trendline akan terbentuk seperti warna ungu berikut.
Untuk menggambar lantai atau support dari downtrend, kita bisa menggambar garis
dengan menghubungkan minimal dua titik dari Lower Low. Jika dilihat dari gambar,
kita bisa mengidentifikasi tiga Lower Low yang dilingkari warna merah. Lalu,
garis support kita tarik dengan warna oranye.
Selain secara manual, kamu juga bisa menggambar channel line dengan lebih mudah
dengan fitur Channel Parallel di Chartbit. Kamu cukup menarik garis resistance dan
menyejajarkannya dengan titik-titik Lower Low.
- Sebuah garis tren harus dibentuk oleh minimum dua lembah atau puncak.
- Semakin curam garisnya, semakin mudah untuk ditembus dan berubah arah.
- Semakin sering harga memantul dan menguji support atau resistance yang dibentuk
oleh garis tren, maka garis tren semakin kuat.
Perbedaan tersebut bisa disebabkan oleh perbedaan time frame yang dipakai
oleh trader, sehingga tren yang dilihat bisa berbeda.
Major dan Secondary Trend
Karena tingkat subjektivitas dalam menentukan arah trend cukup tinggi,
kamu bisa menggunakan major dan secondary trend untuk lebih objektif dalam
menentukan arah tren. Major trend atau tren utama adalah tren yang dibentuk dari
pergerakan harga dengan jangka waktu panjang, biasanya lebih dari 1 tahun. Major
trendline memiliki kekuatan tren yang paling kuat karena sudah terbentuk lama.
Sementara secondary trend adalah tren-tren kecil yang terbentuk di dalam tren utama
dengan jangka waktu lebih pendek. Tren ini memiliki kekuatan yang lebih lemah
dibandingkan kekuatan dari major trend.
Reversal trend adalah kondisi perubahan tren harga saham, misalnya dari yang
awalnya uptrend berubah menjadi sideways ataupun downtrend. Bagi trader,
kemampuan memprediksi perubahan tren harga dapat membantu mereka dalam
mengambil keputusan apakah harus menjual atau membeli saham terkait.
Bullish Reversal
Penggunaan Fan Principle pertama yang akan dibahas adalah bullish reversal. Bullish
reversal merupakan perubahan arah tren
dari sideways maupun downtrend menuju uptrend atau bullish.
Contoh gambar di atas ini menunjukan Fan Principle untuk bullish reversal. Aturan
untuk menggunakan Fan Principle adalah dengan menggambar 3 trendline. Jika
harga berhasil menembus 3 trendline tersebut, menandakan konfirmasi bahwa tren
telah berubah dari downtrend menjadi uptrend.
Cara Menggambar Bullish Reversal (1/2)
Setelah melihat harga yang berhasil menembus trendline pertama tadi, kamu bisa
menarik garis trendline ke-2.
Untuk menggunakan Fan Principle bearish reversal ini, trader mula-mula perlu
menggambarkan trendline pertama seperti pada gambar di bawah.
Setelah itu, ketika harga mulai menembus batas support di trendline pertama, kamu
dapat menarik garis trendline kedua. Meski harga suatu saham yang
sedang bullish berhasil menembus garis support-nya, biasanya saham itu tidak
langsung berubah arah menjadi bearish. Harga saham umumnya masih di
area sideways atau konsolidasi untuk reversal ke downtrend.
Ketika harga saham telah berhasil menembus trendline ke-
3, trader mendapatkan konfirmasi bahwa trend telah berubah
dari uptrend menjadi downtrend. Dengan ini, kita bisa mengambil posisi sell karena
tren telah berubah menjadi downtrend.
Contoh Bearish Reversal pada Trading
Berikut ini adalah contoh pengaplikasian Fan Principle pada saham yang
awalnya uptrend menjadi downtrend. Dalam contoh tersebut, saham yang
sebelumnya uptrend telah mengalami reversal dengan menembus 3x
bullish trendline. Ketika reversal dikonfirmasi terjadi, kita bisa mengambil posisi sell.