BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Salah satu jenis minyak atsiri yang berpotensi sebagai komoditas baru bagi
Indonesia adalah kencur (Kaempferiae galanga L.). Senyawa obat banyak ditemukan
dari bahan alam, sumber bahan baku obat yang mempuyai kandungan metabolit
sekunder. Metabolit sekunder secara umum dihasilkan oleh tumbuhan tingkat tinggi
sebagai hasil mekanisme pertahanan diri organisme. Aktivitas biologi kencur
dipengaruhi oleh jenis metabolit sekunder yang terkandung di dalamnya dan struktur
senyawa kimia (Lisdawati dkk, 2005).
Kencur banyak digunakan sebagai bahan baku obat tradisional (jamu),
fitofarmaka, industri kosmetika, penyedap makanan dan minuman, rempah, serta bahan
campuran saus rokok pada industry rokok kretek, dapat dimanfaatkan sebagai
bioinsektisida. Secara empirik kencur digunakan sebagai penambah nafsu makan,
ekspektoran, obat batuk, disentri, tonikum, infeksi bakteri, masuk angin, sakit perut
(Setyawan,2012).
Kandungan kimia tanaman kencur yaitu etil sinamat, etil p – metoksisinamat, p-
metoksisitiren, karen, borneol, dan parafin. Kandungan mintak atsiri kencur yaitu α-
pinena, kampena, δ-3- carene, α- pelandrena, limonene, p- simena, 4- isopropiltoluena,
7,8 -epoksitrisiklododekana, 5-metiltrisiklo undek – 2 – en – 4- one, 2- asam
propenoate, 3-(4- metoksifenil), etilester ( Assaat, 2011)
Penggunaan zat aktif berupa tanaman pada sediaan obat dimaksudkan sebagai
alternatif pada pengobatan. Penggunaan utama obat herbal adalah untuk promosi
Kesehatan dan terapi untuk kondisi kronis, yang berlawanan dengan efek yang
mengancam keselamatan pasien. Ketika obat konvensional tidak lagi efektif dalam
pengobatan penyakit, penggunaan obat tradisional meningkat. Selain itu, obat – obatan
tradisional secara luas dianggap alami dan aman ( tidak beracun) (suparman ,2021)
Granulasi basah merupakan metode pembuatan tablet dimana terdapat adanya
penambahan bahan pengikat berbentuk larutan / mucilage yang bersifat hidrofobik/
hidrofilik. Biasanya pembuatan tablet dengan metode granulasi basah dilakukan untuk
zat aktif dengan laju alir yang buruk dan juga tahan terhadap adanya air dan pemanasan
(murtini,2018). Sementara metode granulasi kering, kompresi campuran serbuk
dilakukan tanpa menggunakan bantuan panas ataupun pelarut. Dua langakah dasar
dalam granulasi kering adalah pembentukkan material yang kompak dengan kompresi
dan kemudian menggiling massa cetak untuk mendapatkan granul. Terdapat dua metode
yang digunakan dalam pembuatan tablet granulasi kering. Metode yang umum
digunakan adalah slugging, dimana campuran yang mengandung zat aktif dikompresi
dan menghasilkan tablet atau slug, kemudian diayak kembali untuk mendapatkan
ukuran granul yang diinginkan. Pembuatan tablet dengan metode kempa langsung
dilakukan pada zat aktif yang memiliki sifat tidak tahan pemanasan dan air. Selain itu,
untuk meningkatkan sifat alir zat aktif maupun massa cetak, zat aktif perlu dipadukan
dengan eksipien yang memiliki sifat alir yang baik. Sehingga massa cetak yang
dihasilkan dapat menghasilkan tablet dengan hasil evaluasi yang baik (Shirode, 2016)
Kerusakan tablet terkait dengan proses pengempaan tablet :
Capping : pemisahan sebagian atau seluruh mahkota atas atau bawah tablet dari badan
utama tablet karena adanya udara yang terjebak dalam massa cetak.
Lamination : pemisahan tablet menjadi dua bagian atau lebih, lapisan terpisah secara
horizontal karena adanya udara yang terjebak dalam massa cetak.
Cracking : Retak kecil dan halus yang diamati pada permukaan tengah atas dan bawah
tablet, atau sangat jarang pada dinding samping tablet (Aulton, 2002)
Kerusakan tablet yang dipengaruhi oleh eksipien :
Chipping : rusaknya bagian tepi tablet, karena butiran tepi yang sangat kering.
Sticking : bahan massa cetak tablet menempel pada dinding cetakan die. Karena massa
cetak lengket dan sebagian besar disebabkan oleh kelembapan berlebih pada tahap
granulasi.
Picking : perpindahan bahan dari permukaan tablet dan menempel pada permukaan
punch.
Binding : massa cetak yang akan dikempa melekat pada dinding ruang cetak pada saat
proses ejection karena massa cetak yang tidak kering atau kurangnya pemberian
lubrikan (Debjit,2014)
Kerusakan tablet yang dipengaruhi oleh lebih dari satu faktor :
Mottling : keadaan dimana distribusi warna yang tidak merata pada tablet, dengan
terdapatnya bagian bintik-bintik terang atau gelap menonjol pada permukaan yang
seragam (Debjit,2014)
Kerusakan tablet terkait dengan pengaruh mesin :
Double Impression : merupakan suatu kesan ganda pada permukaan tablet yang dibuat
dengan punch yang berlogo, hal ini terjadi karena adanya gerakan punch yang tidak
terkontrol setelah pengempaan (Debjit,2014).
Hampir semua tablet memerlukan penambahan komponen atau eksipien untuk
berbagai tujuan dengan zat aktif agar memnuhi persyaratan resmi. Salah satu eksipien
yang digunakan adalah bahan pengisi yang dapat ditambahkan bila jumlah zat aktifnya
sedikiit. Bahan pengisi ini berfungsi untuk memperbesar volume tablet juga menjamin
tablet mempunyai ukuran yang seragam serta untuk memperbaiki daya kohesi sehingga
dapat dikempa langsung atau untuk memacu aliran. Jumlah bahan pengisi yang
dibutuhkan bervariasi, berkisar 5 – 80% dari bobot tablet (Ansel.M, 1993)