ASKEP POST
PARTUM
NORMAL
PENGERTIAN
PERSALINAN ADALAH PROSES MEMBUKA DAN MENIPISNYA SERVIKS,
DAN JANIN TURUN KE JALAN LAHIR. KELAHIRAN ADALAH PROSES
DIMANA JANIN DAN KETUBAN DIDORONG KELUAR MELALUI JALAN
LAHIR. DENGAN DEMIKIAN BISA DIKATAKAN BAHWA PERSALINAN
(LABOR) ADALAH RANGKAIAN PERISTIWA MULAI DARI KENCENG-
KENCENG TERATUR SAMPAI DIKELUARKANNYA PRODUK KONSEPSI
(JANIN, PLASENTA, KETUBAN, DAN CAIRAN KETUBAN DARI UTERUS
KE DUNIA LUAR MELALUI JALAN LAHIR ATAU MELALUI JALAN LAIN,
DENGAN BANTUAN ATAU DENGAN KEKUATAN SENDIRI (FITRIAHADI &
UTAMI, 2019).
LANJUTAN
Masa post partum (puerperium) adalah dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan
kembali seperti keadaan sebelum hamil. masa post partum berlangsung kira-kira 6 minggu, tetapi, seluruh alat genital
baru pulih kembali seperti keadaan sebelum hamil dalam waktu 3 bulan (H. P. Wahyuningsih, 2018). post partum
(puerperium) adalah masa pemulihan kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali
seperti pra hamil. Lama masa post partum yaitu 6-8 minggu. Masa post partum (puerperium) dimulai setelah
kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa post partum
berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Jamil et al., 2017). Insiden perlukaan/ laserasi jalan lahir kurang lebih 85% dari
total persalinan pervaginam. Menurut WHO (2020) hampir 90% proses persalinan normal itu mengalami robekan
perineum baik dengan atau tanpa episiotomi, di Asia ruptur perineum juga merupakan masalah yang cukup banyak
dalam masyarakat, 50% dari kejadian ruptur perineum di dunia terjadi di Asia. Prevalensi ibu bersalin yang mengalami
ruptur perineum di Indonesia pada golongan umur 25-30 tahun yaitu 24% sedangkan pada ibu bersalin dengan usia
31-39 tahun sebesar 62% (Pakpahan & Sianturi, 2021). Hasil penelitian (Istiana et al., 2020) menunjukkan bahwa 47%
ibu postpartum yang mengalami laserasi perineum merasakan nyeri ringan, 37% merasakan nyeri sedang, dan 16%
merasakan nyeri berat. Hal ini didukung oleh hasil penelitian (Putri et al., 2021) menunjukkan bahwa rata-rata skor
nyeri perineum ibu postpartum adalah 4,26 atau tergolong nyeri sedang.
KASUS
Seorang ibu bernama Ny. A, usia 28 tahun,G1P1A0Ah1, telah melahirkan bayi laki-laki secara
spontan di usia kehamilan 39 minggu tanpa komplikasi pada tanggal 25 Desember 2024. Berat
lahir bayi adalah 3.200 gram dengan panjang 50 cm, dan bayi lahir dalam kondisi sehat
dengan APGAR score 8/9. Proses persalinan berlangsung selama 8 jam dengan penanganan
bidan. Saat ini, Ny. A berada dalam masa nifas hari ke-1. Ibu mengeluhkan nyeri di area
perineum akibat robekan derajat 4 yang telah dijahit, namun nyeri tidak dapat [Link]
dikaji skala nyeri adalah 6. Ibu sudah mulai menyusui bayi secara langsung sejak satu jam
setelah melahirkan dan mengatakan ASI sudah mulai keluar. Tanda-tanda vital ibu (TD: 100/80
mmHg, N: 100x/menit, RR: 20 x/menit, suhu: 36,8°C). Fundus uteri teraba keras setinggi 2 jari
di bawah pusat, lochia rubra masih keluar dalam jumlah 100 cc. Ny. A mengaku merasa lelah
tetapi senang dengan kehadiran bayinya dan tidak memiliki keluhan emosional yang berarti.
DX: ketidaknyamanan pasca partum bd.
DIAGNOSA, trauma perineum
intervensi: perawatan perineum
INTERVENSI, luaran: status kenyamanan pasca partum
LUARAN. dx: resiko infeksi b.d kerusakan integritas
kulit
intervensi: edukasi perawatan perineum
luaran: integritas kulit dan jaringan
dx: nyeri melahirkan b.d pengeluaran
janin
intervensi: manajemen nyeri
luaran: tingkat nyeri
PEMBAHASAN
Ketiga diagnosis ini diangkat karena berkaitan erat dengan kondisi fisiologis dan risiko yang muncul akibat proses persalinan. Fokus pada ketidaknyamanan,
risiko infeksi, dan nyeri melahirkan memastikan bahwa ibu mendapat perawatan holistik yang mencakup aspek fisik dan emosional, mendukung pemulihan
optimal pascapartum.
1. Ketidaknyamanan Pascapartum b.d Trauma Perineum selama Persalinan dan Kelahiran
pada pasien ini dapat dijelaskan oleh gejala-gejala yang dilaporkan, Ibu mengeluhkan sedikit nyeri di area perineum akibat robekan derajat 4 yang telah
[Link] Pascapartum b.d Trauma Perineum selama Persalinan dan Kelahiran muncul karena, Trauma perineum, baik berupa robekan alami
maupun episiotomi (insisi perineum), sering terjadi selama proses persalinan. Robekan jaringan ini menyebabkan ketidaknyamanan pada ibu postpartum.
Ketidaknyamanan ini dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, seperti duduk, berjalan, buang air kecil, dan menyusui bayi. Diperlukan perhatian terhadap
perawatan perineum untuk mempercepat penyembuhan luka dan mencegah komplikasi seperti infeksi. Diagnosis ini penting diangkat karena berkaitan
langsung dengan pemulihan fisik ibu dan kualitas hidupnya pascapersalinan.
2. Risiko Infeksi b.d Kerusakan Integritas Kulit
Proses persalinan, terutama dengan adanya robekan atau episiotomi, menyebabkan kerusakan pada integritas kulit, yang meningkatkan risiko infeksi. Daerah
perineum berada dekat dengan area yang terkontaminasi oleh feses dan urin, yang dapat menjadi sumber patogen. Pada pasien ini, Risiko Infeksi b.d
Kerusakan Integritas Kulit muncul akibat robekan derajat 4 yang telah dijahit, Infeksi pada luka perineum dapat memperburuk kondisi ibu, menghambat
penyembuhan, dan memengaruhi proses pemulihan [Link] risiko ini membantu tenaga kesehatan untuk memberikan tindakan
pencegahan seperti menjaga kebersihan area luka dan penggunaan antiseptik.
3. Nyeri Melahirkan b.d Pengeluaran Janin
Proses persalinan berlangsung selama 8 jam dengan penanganan bidan. Saat ini, Ny. A berada dalam masa nifas hari ke-2. Ibu mengeluhkan sedikit nyeri di
area perineum akibat robekan derajat 4 yang telah dijahit, namun nyeri tidak dapat [Link] dikaji skala nyeri adalah 6. Nyeri Melahirkan b.d
Pengeluaran Janin muncul karena, Proses pengeluaran janin melalui jalan lahir melibatkan peregangan dan tekanan intensif pada jaringan, otot, dan ligamen
di sekitar panggul. Hal ini menyebabkan nyeri akut selama dan setelah melahirkan. Diagnosis ini penting karena nyeri melahirkan yang tidak tertangani dapat
memengaruhi kondisi emosional ibu, menghambat ikatan ibu-bayi, dan memperburuk pengalaman persalinan secara [Link] nyeri yang
tepat dapat meningkatkan kenyamanan ibu dan mempercepat proses pemulihan fisik maupun psikologis.
TERIMA KASIH