0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan8 halaman

Kesiapan Implementasi Rekam Medik Elektronik

Diunggah oleh

Zullia Taftyanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan8 halaman

Kesiapan Implementasi Rekam Medik Elektronik

Diunggah oleh

Zullia Taftyanti
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS KESIAPAN IMPLEMENTASI REKAM MEDIK ELEKTRONIK DI

RUMAH SAKIT UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Savira Pratista Oktaviana1, Devita Rahmani Ratri2, As’ad Munawir3


Program Studi Magister Manajemen Rumah Sakit, Fakultas Kedokteran,
Universitas Brawijaya, Malang1,2
Rumah Sakit Universitas Brawijaya, Malang3
E-mail: saviraoktaviana@[Link]

Abstract: Analysis of Readiness for Imolementation of Electronic Medical Records at Brawijaya


University Hospital. The health sector is currently developing rapidly due to increasingly sophisticated
information and communication technology. Electronic medical records in Indonesia are regulated through
Minister of Health Regulation (PMK) Number 24 of 2022 concerning Medical Records. This policy
requires health service facilities (fasyankes) to run an electronic patient health history recording system.
This research aims to determine the readiness to implement electronic medical records at Brawijaya
University Hospital. This research uses descriptive research with a total sample of 13 people. The analytical
method used is the descriptive analysis method. Primary data collection was carried out using the adapted
DOQ-IT questionnaire. The research results show that RSUB is quite ready to implement ESDM with a
score of 80.17. Things that are not yet ready include finance, infrastructure and human resources. RSUB is
quite ready, but improvements need to be made to be ready to implement electronic medical records.

Keywords: Implementation; Electronic Medical Record; DOQ-IT

Abstrak: Analisis Kesiapan Implementasi Rekan Medik Elektronik di Rumah Sakit Universitas
Brawijaya. Bidang kesehatan saat ini berkembang pesat karena teknologi informasi dan komunikasi yang
semakin canggih. Rekam medis elektronik di Indonesia diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan (PMK)
Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis. Kebijakan ini mengharuskan fasilitas pelayanan kesehatan
(fasyankes) menjalankan sistem pencatatan riwayat kesehatan pasien secara elektronik. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui kesiapan penerapan rekam medis elektronik di Rumah Sakit Universitas
Brawijaya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan total sampel 13 orang. Metode
analisis yang digunakan adalah metode analisis deskriptif. Pengumpulan data primer dilakukan dengan
menggunakan kuesioner DOQ-IT yang diadaptasi. Hasil penelitian menunjukkan RSUB cukup siap
melaksanakan ESDM dengan skor 80,17. Hal yang belum siap antara lain keuangan, infrastruktur, dan
sumber daya manusia. RSUB sudah cukup siap, namun perlu dilakukan perbaikan agar siap menerapkan
rekam medis elektronik.

Kata Kunci: Implementasi; Rekam Medis Elektronik; DOQ-IT

Pendahuluan Rekam medis elektronik di Indonesia telah


Sektor kesehatan saat ini telah berkembang diatur melalui regulasi Peraturan Menteri
pesat akibat adanya teknologi informasi dan Kesehatan (PMK) Nomor 24 Tahun 2022 tentang
komunikasi yang semakin mutakhir. Bukti nyata Rekam Medis. Kebijakan ini mewajibkan fasilitas
perkembangan dunia kesehatan salah satunya pelayanan kesehatan (fasyankes) untuk
adalah Rekam Medis Elektronik (RME). Rekam menjalankan sistem pencatatan Riwayat medis
Medis Elektronik adalah catatan rekam medis pasien secara elektronik. Proses transisi ini
pasien seumur hidup dalam format elektronik dilakukan paling lambat hingga 31 Desember
mengenai informasi kesehatan seseorang yang 2023. Fenomena transisi ini telah menghadirkan
dituliskan oleh petugas kesehatan. RME dapat problematika di fasyankes Indonesia. Menurut
diakses menggunakan komputer dari suatu data PERSI tahun 2022 dari 3000 rumah sakit
jaringan dengan tujuan utama menyediakan atau masih 50% yang menerapkan sistem RME, dan
meningkatkan perawatan serta pelayanan hanya 16% dari jumlah tersebut yang telah
kesehatan yang efisien dan terpadu (Potter, 2009). menjalankan RME dengan baik. Fakta ini
Perkembangan Rekam Medis Elektronik di menunjukkan bahwa masih banyak rumah sakit
Indonesia telah banyak dikaji oleh instansi yang harus beralih ke sistem elektronik (Habibah,
pelayanan kesehatan (Asih dan Indriyani, 2023). 2022).

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 7, No. 3, Hal. 100-107 | 100


Rekam Medis Elektronik berperan aktif Berdasarkan hasil penelitian Faida dan Ali
dalam mendukung proses pengambilan keputusan (Faida dan Ali, 2021). tenaga medis, administrasi,
medis. Pemanfaatan rekam medis elektronik yang serta manajemen meyakini bahwa RME dapat
didukung oleh sistem komputerisasi meningkatkan kualitas layanan. Namun, hal ini
mempermudah pengolahan data kesehatan pasien. memerlukan sistem kerja yang terstruktur dan
Hal ini juga memungkinkan instansi pelayanan dukungan tenaga ahli IT yang berpengalaman.
kesehatan dalam hal ini adalah rumah sakit untuk Keberhasilan RME bukan hanya sebatas sistem
menilai serta meningkatkan efektivitas, efisiensi, yang telah dikembangkan; sistem harus sesuai
dan cakupan layanannya kepada pasien. Oleh dengan kebutuhan pengguna. Partisipasi aktif dari
karena itu, informasi yang dihasilkan melalui staf klinis dan administrasi dalam proses
sistem ini menjadi lebih cepat, tepat, dan selalu perancangan dan implementasi sangat esensial.
terbaru (Faida, 2021) Dokter dan tenaga medis mengakui peran mereka
RME membawa manfaat positif pada dalam memberikan masukan, terutama dalam
layanan kesehatan dalam aspek ekonomi sebagai aspek administrasi klinis, seperti estimasi pasien
upaya penghematan biaya, penghindaran biaya, dan kebutuhan staf. Ada kriteria lain yang
peningkatan pendapatan, dan peningkatan diperhitungkan, seperti kebijakan, prosedur, dan
produktivitas. RME juga membawa dampak protokol menuju RME. National Learning
perbaikan terhadap aspek klinis seperti Consortium (2013) mencatat bahwa tim eksekutif
memudahkan akses informasi klinis yang berupa EHR memiliki beragam profesi mulai dari
data Riwayat kesehatan untuk konsultasi lanjutan pemimpin Tim EHR, Manager Implementasi
pasien, selain itu mengurangi kesalahan dalam EHR, dokter, pimpinan perawat, hingga
memberikan pelayanan, meningkatkan Pemimpin Teknologi Informasi dan lain-lain.
keselamatan pasien, memberikan pelayanan Rumah Sakit Universitas Brawijaya sebagai
edukasi yang dapat disesuaikan dengan rumah sakit milik Universitas Brawijaya yang
Pendidikan pasien agar dapat dengan mudah merupakan rumah sakit akademik berkedudukan
tersampaikan, dokumentasi yang ditingkatkan. di Jalan Soekarno Hatta, Kota Malang memiliki
Aspek akses informasi yang juga terdampak visi sebagai Rumah Sakit dengan kualitas prima
adalah komunikasi pasien-dokter terjalin baik, dalam pelayanan, pendidikan, penelitian, dan
membantu pengambilan keputusan klinis yang pengabdian kepada masyarakat di bidang
sesuai dengan pedoman dan protokol, kemudahan kesehatan yang bertaraf internasional penting
koordinasi perawatan, serta mendukung dalam untuk mewujudkan Rekam Medis Elektronik.
proses pengukuran kualitas pelayanan, pelaporan, Saat ini, rekam medis elektronik di RSUB belum
dan peningkatan mutu pelayanan (Rizky dan sepenuhnya diimplementasikan walaupun fitur
Tjorentap, 2020). RME telah ada. Rekam Medis Elektronik yang
Rekam medis elektronik juga menjadi faktor berjalan meliputi e-resep, e-billing, surat
penentu kesuksesan platform Satusehat sebagai pengantar, dan discharge summary pada rawat
platform konektivitas data, analisis, dan layanan inap. Rekam medis konvensional saat ini juga
untuk mendukung integrasi antar aplikasi dan masih memiliki kendala, diantaranya adalah
fasyankes. Peran rekam medis elektronik menjadi SIMRS belum sepenuhnya menunjang rekam
resume medis yang dicatatat dan direkam secara medis dan angka kelengkapan rekam medis yang
digital dengan aman melalui persetujuan pemilik rendah. Proses implementasi RME di RS UB telah
data. Persyaratan dan ketentuan ini membuat berjalan sejauh ini, namun diperlukan analisis
rumah sakit harus siap dan optimal dalam lebih lanjut mengenai kesiapan implementasi
pengembangan rekam medis Rekam Medis Elektronik di RSUB ditinjau dari
elektronik.(Permenkes No. 24, 2022). berbagai aspek.
Demikian kompleksnya tantangan untuk Oleh karena itu, penelitian mengenai analisis
implementasi rekam medis elektronik, maka perlu kesiapan implementasi rekam medis elektronik di
dilakukan penilaian kesiapan sebelum RSUB menjadi penting dan diharapkan dapat
mengimplementasikan RME dalam instansi membantu dalam memahami kesiapan RSUB
pelayanan kesehatan. Evaluasi kesiapan untuk mewujudkan RME. Tujuan penelitian ini
memfasilitasi identifikasi terhadap prosedur dan adalah untuk mengetahui kesiapan implementasi
penentuan prioritas, serta mendukung rekam medis elektronik di Rumah Sakit
pembentukan fungsi operasional guna Universitas Brawijaya.
mendukung pelaksanaan RME dengan optimal
(Ghazisaeidi, et al., 2014). Analisis yang Tinjauan Pustaka
diperlukan meliputi kesiapan sumberdaya RME berperan aktif dalam mendukung
manusia, budaya, tata Kelola kepemimpinan, proses pengambilan keputusan medis.
serta infrastruktur (Faida dan Ali, 2021). Pemanfaatan rekam medis elektronik yang

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 7, No. 3, Hal. 100-107 | 101


didukung oleh sistem komputerisasi Penggunaan yang lebih mudah, mempercepat
mempermudah pengolahan data kesehatan pasien. pencarian data, dan meningkatkan kualitas
Hal ini juga memungkinkan instansi pelayanan produktifitas kerja di rumah sakit. Peningkatan
kesehatan dalam hal ini adalah rumah sakit untuk kualitas menjadi kunci Rekam Medis Elektronik.
menilai serta meningkatkan efektivitas, efisiensi, RME harus memiliki beberapa aspek untuk
dan cakupan layanannya kepada pasien. Oleh membawa manfaat pada sebuah fasyankes bahkan
karena itu, informasi yang dihasilkan melalui sistem kesehatan di Indonesia, antara lain efektif,
sistem ini menjadi lebih cepat, tepat, dan selalu efisien, berkualitas, aman, dan interaktif.
terbaru (Mutiara, et al., 2014). Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 merupakan
RME membawa manfaat positif pada landasan hukum atau legalitas terhadap
layanan kesehatan dalam aspek ekonomi sebagai penyelenggaraan rekam medis elektronik,
upaya penghematan biaya, penghindaran biaya, keamanan, dan perlindungan data rekam medis
peningkatan pendapatan, dan peningkatan elektronik. Sistem elektronik rekam medis dapat
produktivitas. RME juga membawa dampak berupa sistem yang dikembangkan oleh
perbaikan terhadap aspek klinis, seperti kemenkes, fasyankes sendiri, atau oleh
memudahkan akses informasi klinis yang berupa penyelenggara sistem elektronik. Sistem ini harus
data Riwayat kesehatan untuk konsultasi lanjutan kompatibilitas (kesesuaian sistem elektronik yang
pasien, selain itu mengurangi kesalahan dalam satu dengan sistem elektronik yang lainnya) , dan
memberikan pelayanan, meningkatkan atau interoperabilitas (kemampuan sistem
keselamatan pasien, memberikan pelayanan elektronik yang berbeda untuk dapat bekerja
edukasi yang dapat disesuaikan dengan secara terpadu melakukan komunikasi atau
Pendidikan pasien agar dapat dengan mudah pertukaran data dengan salah satu atau lebih
tersampaikan, dokumentasi yang ditingkatkan. sistem elektronik yang lain, yang menggunakan
Aspek akses informasi yang juga terdampak standar pertukaran data). Oleh karena itu
adalah komunikasi pasien-dokter terjalin baik, fasyankes harus meregistrasi sistem elektronik
membantu pengambilan keputusan klinis yang yang digunakan di Kemenkes RI (Permenkes No.
sesuai dengan pedoman dan protokol, kemudahan 24, 2022).
koordinasi perawatan, serta mendukung dalam Menurut California Medical Association
proses pengukuran kualitas pelayanan, pelaporan, 2015, pengembangan RME memerlukan proses
dan peningkatan mutu pelayanan (Rizky dan analisis kesiapan untuk dapat menentukan road
Tjorentap, 2020). map dan memberikan gambaran. Analisis yang
Perkembangan Rekam Medis Elektronik di diperlukan meliputi kesiapan sumberdaya
Indonesia telah banyak dikaji oleh instansi manusia, budaya, tata Kelola kepemimpinan,
pelayanan kesehatan. Berdasarkan Peraturan serta infrastruktur. Sumberdaya Manusia sebagai
Menteri Kesehatan RI No. 24 Tahun 2022, semua pengguna maupun penyusun sangat memengaruhi
fasilitas kesehatan harus melakukan audit pada pengembangan rekam medis elektronik. Menurut
rekam medis elektronik mereka. Selain itu, Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Undang-Undang RI No. 44 Tahun 2009 tentang Nomor 82 Tahun 2013 tentang SIMRS
Rumah Sakit menekankan kewajiban rumah sakit menyebutkan bahwa SDM teknologi informasi
untuk mengaudit kinerjanya serta audit medis. untuk SIMRS minimal terdiri dari staf yang
Pentingnya audit medis adalah karena adanya memiliki kualifikasi dalam bidang analisis sistem,
kebutuhan atas rekam medis yang komprehensif, programmer, hardware, dan maintenance
akurat, dan konsisten. Sebuah rekam medis jaringan. Ketersediaan SDM dan kompetensinya
dianggap berkualitas jika informasi di dalamnya merupakan hal penting yang memerlukan
komplet, tepat, dikirim pada waktu yang tepat, perencanaan. Untuk itu perencanaan SDM harus
dan memenuhi semua persyaratan hukum. Audit terdokumentasi dan diusulkan pada pihak
pada rekam medis bisa berupa analisis kuantitatif kepegawaian (Faida dan Ali, 2021).
atau kualitatif (Asih dan Indrayadi, 2023) Berdasarkan hasil penelitian Faida dan Ali
Rekam medis menurut Permenkes No. 24 (Faida dan Ali, 2021) tenaga medis, administrasi,
Tahun 2022 adalah dokumen yang berisikan data serta manajemen meyakini bahwa RME dapat
identitas pasien, pemeriksaan, pengobatan, meningkatkan kualitas layanan. Namun, hal ini
tindakan, dan pelayanan lain yang telah diberikan memerlukan sistem kerja yang terstruktur dan
kepada pasien. Rekam medis elektronik adalah dukungan tenaga ahli IT yang berpengalaman.
rekam medis yang dibuat dengan menggunakan Keberhasilan RME bukan hanya sebatas sistem
sistem elektronik yang diperuntukkan bagi yang telah dikembangkan; sistem harus sesuai
penyelenggaraan rekam medis. Pada penggunaan dengan kebutuhan pengguna. Partisipasi aktif dari
rekam medis elektronik, petugas cukup staf klinis dan administrasi dalam proses
menginput data pada sebuah aplikasi atau sistem. perancangan dan implementasi sangat esensial.

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 7, No. 3, Hal. 100-107 | 102


Dokter dan tenaga medis mengakui peran mereka diadaptasi oleh Khasanah (10) berdasarkan
dalam memberikan masukan, terutama dalam fasilitas layanan kesehatan di Inonesia.
aspek administrasi klinis, seperti estimasi pasien Assessment DOQ-IT berisi penjabaran mengenai
dan kebutuhan staf. Ada kriteria lain yang penilaian fasyankes dalam bentuk narasi yang
diperhitungkan, seperti kebijakan, prosedur, dan diberikan skor dengan kisaran (0-1) untuk belum
protokol menuju RME. National Learning siap, (2-3) cukup siap, dan (4-5) sangat siap.
Consortium (2013) mencatat bahwa tim eksekutif Kuesioner terdiri atas 28 item pertanyaan dengan
EHR memiliki beragam profesi mulai dari skor jawaban 0-5 dengan 2 aspek yaitu
pemimpin Tim EHR, Manager Implementasi penyelarasan organisasi (budaya, kepemimpinan,
EHR, dokter, pimpinan perawat, hingga dan strategi) serta aspek kapasitas organisasi
Pemimpin Teknologi Informasi dan lain-lain. (manajemen informasi, staf klinis, administrasi
Kesuksesan dalam proses implementasi rencana pelatihan formal, proses alur kerja,
RME dipengaruhi oleh dukungan kepemimpinan akuntabilitas, keuangan, dan anggaran,
yang kuat, keikutsertaan dari staf klinis dalam keterlibatan pasien, dukungan manajemen, dan
desain dan implementasi, proses pelatihan pada infrastruktur teknologi informasi.
staf, serta proses perencanaan yang sesuai jadwal Penilaian dilakukan dengan menjumlahkan
serta penyediaan anggaran yang memadai. hasil total penilaian dari masing-masing
Manajemen harus benar-benar terlibat dalam pernyataan pada kuesioner kemudian dilihat hasil
semua tahap implementasi dengan mengakomodir akhir assessment. Terdapat tiga kategori menurut
pendapat dari berbagai pengguna, inovasi, waktu, tools DOQ-IT yaitu belum siap (III) dengan nilai
dan komitmen. Selain itu dibutuhkan manajer skor (0-49), cukup siap (II) dengan nilai skor (50-
yang kuat dan pemimpin senior manajer klinis dan 97), atau sangat siap (I) dengan nilai skor (98-145)
tenaga klinis. (Faida dan Ali, 2021). (Khasanah, 2021).
Penerapan RME secara luas membutuhkan
investasi besar dan waktu yang lama. Hal ini Metode Penelitian
menuntut persiapan yang matang dari sisi Rancangan dalam penelitian ini dengan
infrastruktur teknologi informasi dan alokasi menggunakan jenis penelitian deskriptif.
anggaran. Infrastruktur dinilai berdasarkan aspek Penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit
teknologi informasi dan keuangan. Salah satu Universitas Brawijaya, Malang selama bulan
hambatan dalam pengembangan RME adalah Agustus hingga November 2023. Total sampel
keterbatasan anggaran untuk teknologi informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah 15
di rumah sakit. Persoalan finansial menjadi orang. Metode analisis yang digunakan adalah
krusial, mengingat rumah sakit perlu metode analisis deskriptif. Pengambilan data
mempersiapkan berbagai komponen teknologi primer dilakukan dengan kuesioner DOQ-IT yang
informasi seperti komputer, jaringan, pasokan telah diadaptasikan. Untuk menilai kesiapan
listrik, keamanan sistem, konsultasi, dan pelaksanaan Electronic Health Record (RME),
pelatihan. Oleh karenanya, fokus penelitian ini tools yang dapat digunakan adalah Doctor’s
adalah untuk menganalisis kesiapan penerapan Office Quality‐Information Technology (DOQ‐
RME menggunakan pendekatan DOQIT di RSUB IT) yang dikenal sebagai EHR Assessment and
(Faida dan Ali, 2021). Readiness Starter Assessment. Alat ini merupakan
Untuk menilai kesiapan pelaksanaan inisiatif nasional dari HIMSS untuk mendukung
Electronic Health Record (RME), tools yang penerapan EHR melalui DOQ-IT.
dapat digunakan adalah Doctor’s Office Quality‐ DOQ-IT sendiri adalah metode yang
Information Technology (DOQ‐IT) yang dikenal membantu menganalisis sejauh mana kesiapan
sebagai EHR Assessment and Readiness Starter suatu instansi kesehatan dalam mengadopsi
Assessment. Alat ini merupakan inisiatif nasional sistem informasi rekam medis elektronik. Hasil
dari HIMSS untuk mendukung penerapan EHR dari analisis ini bisa menjadi pertimbangan dalam
melalui DOQ-IT. DOQ-IT sendiri adalah metode menyusun rencana strategis dan menggambarkan
yang membantu menganalisis sejauh mana progres pengembangan rekam kesehatan
kesiapan suatu instansi kesehatan dalam elektronik (9). Kuesioner yang dapat digunakan
mengadopsi sistem informasi rekam medis pada penelitian ini adalah assessment kesiapan
elektronik. Hasil dari analisis ini bisa menjadi implementasi RME yang telah dikembangkan dan
pertimbangan dalam menyusun rencana strategis diadaptasi oleh Khasanah (10) berdasarkan
dan menggambarkan progres pengembangan fasilitas layanan kesehatan di Indonesia.
rekam kesehatan elektronik (Puspita, et al., 2021) Assessment DOQ-IT berisi penjabaran
Kuesioner yang dapat digunakan pada mengenai penilaian fasyankes dalam bentuk
penelitian ini adalah assessment kesiapan narasi yang diberikan skor dengan kisaran (0-1)
implementasi RME yang telah dikembangkan dan untuk belum siap, (2-3) cukup siap, dan (4-5)

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 7, No. 3, Hal. 100-107 | 103


sangat siap. Kuesioner terdiri atas 28 item penilaian terhadap kebutuhan perangkat keras,
pertanyaan dengan skor jawaban 0-5 dengan 2 terminal desktop, atau perangkat lain yang
aspek yaitu penyelarasan organisasi (budaya, diperlukan untuk mendukung implementasi RME
kepemimpinan, dan strategi) serta aspek kapasitas serta belum adanya rencana infrastruktur teknis
organisasi (manajemen informasi, staf klinis, dalam platformnya. Poin sumberdaya manusia
administrasi rencana pelatihan formal, proses alur yang perlu diperhatikan adalah belum adanya
kerja, akuntabilitas, keuangan, dan anggaran, rencana pelatihan formal terhadap user maupun
keterlibatan pasien, dukungan manajemen, dan teknisi serta program pelatihan yang jelas. Dalam
infrastruktur teknologi informasi. implementasi RME juga belum sepenuhnya
Penilaian dilakukan dengan menjumlahkan melibatkan pasien dalam interaksi pasien dengan
hasil rata-rata penilaian dari masing-masing RME, maupun akses pasien terhadap catatan
pernyataan pada kuesioner kemudian dilihat hasil medis elektronik, serta persetujuan untuk
akhir assessment. Analisis kuesioner dilakukan pelepasan informasi pasien.
dengan menilai hasil akhir kuesioner. Terdapat Peneliti mengidentifikasi prioritas masalah
tiga kategori menurut tools DOQ-IT yaitu belum yang akan diselesaikan, kemudian dilakukan
siap (III) dengan nilai skor (0-49), cukup siap (II) identifikasi akar masalah tentang analisis
dengan nilai skor (50-97), atau sangat siap (I) kesiapan implementasi rekam medis elektronik di
dengan nilai skor (98-145). RSUB. Hasil identifikasi akar masalah tersebut
menggunakan diagram fishbone yang diperdalam
Pembahasan dengan metode 5 Whys. Penelusuran akar
Peneliti mengidentifikasi prioritas masalah masalah dilakukan melalui penyebaran kuesioner,
yang akan diselesaikan, kemudian dilakukan observasi lapang, Focus Group Discussion
identifikasi akar masalah tentang analisis (FGD), serta studi literatur dari berbagai sumber.
kesiapan implementasi rekam medis elektronik di Kuesioner dibagikan kepada kepala sie pelayanan
RSUB. Hasil identifikasi akar masalah tersebut medis, kepala sub bagian keuangan, kepala sie
menggunakan diagram fishbone yang diperdalam keperawatan, kepala sie penunjang medis, kepala
dengan metode 5 Whys. Penelusuran akar sie penunjang non medis, kepala unit IT, kepala
masalah dilakukan melalui penyebaran kuesioner, unit rekam medis, kepala unit IGD, Rajal, Ranap,
observasi lapang, Focus Group Discussion serta koordinator IGD, Rajal, dan Ranap mulai
(FGD), serta studi literatur dari berbagai sumber. tanggal 10 Oktober 2023 sedangkan FGD
Kuesioner dibagikan kepada kepala sie pelayanan dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2023.
medis, kepala sub bagian keuangan, kepala sie Observasi lapangan dilakukan beberapa kali
keperawatan, kepala sie penunjang medis, kepala untuk melihat implementasi rekam medis
sie penunjang non medis, kepala unit IT, kepala elektronik yang telah berjalan di RSUB termasuk
unit rekam medis, kepala unit IGD, Rajal, Ranap, kendala, hambatan, dan tantangan dalam proses
serta koordinator IGD, Rajal, dan Ranap mulai implementasi sepenuhnya.
tanggal 10 Oktober 2023 sedangkan FGD
dilaksanakan pada tanggal 27 Oktober 2023. Tabel 2 Tabulasi Akar Masalah dan
Observasi lapangan dilakukan beberapa kali Alternatif Solusi
untuk melihat implementasi rekam medis No. Akar Masalah Alternatif Solusi
elektronik yang telah berjalan di RSUB termasuk
kendala, hambatan, dan tantangan dalam proses 1. Masih belum Membuat sistem
implementasi sepenuhnya. Hasil kuesioner dapat terlibatnya informasi untuk
dilihat pada tabel di bawah. pasien dalam pasien sehingga
Hasil kuesioner yang telah dibagikan kepada implementasi dapat mengakses
13 responden menunjukkan hasil bahwa RSUB RME resume medis
cukup siap dalam implementasi RME dengan skor pasien
80.17. Poin-poin yang dijadikan acuan kesiapan
adalah meliputi kesiapan sumberdaya manusia, 2. Masih belum Pembuatan
budaya, tata kelola kepemimpinan, serta adanya sosialiasi pedoman
infrastruktur. Hasil kuesioner kemudian rutin dan sosialisasi dan
dikonfirmasi dan dilakukan pendalaman dengan pelatihan formal pelatihan formal
FGD. Hasil dari kuesioner serta FGD khusus tentang rekam
menunjukkan beberapa poin yang belum siap
medis elektronik
antara lain keuangan, infrastruktur serta sumber
daya manusia dalam aspek keterlibatan pasien
serta training untuk staf. Infrastruktur TI
dikatakan belum siap akibat belum adanya

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 7, No. 3, Hal. 100-107 | 104


3. Sarana prasarana Membuat SOP elektronik di RSUB beberapa akar masalah
yang belum yang mengatur terjadi, seperti Masih belum terlibatnya pasien
optimal tentang evaluasi dalam implementasi RME, Masih belum adanya
sarana prasarana sosialiasi rutin dan pelatihan formal khusus,
dalam kebutuhan Sarana prasarana yang belum optimal, Belum
adanya pagu khusus pengembangan RME.
support
Berdasarkan literatur yang ada yaitu penelitian
implementasi pada RST dr. Soedjono Magelang, akar masalah
RME yang ada di RSUB juga terjadi di RST dr.
Soedjono Magelang. (Anatha dan Sari, 2023)
4. Belum adanya Membuat analisa
Sosialisasi yang tidak rutin oleh manajemen
pagu khusus keuangan dalam
dapat menyebabkan staf tidak terlalu paham oleh
pengembangan rangka kinerja RME, hal ini memberikan penilaian staff
RME pengembangan tidak optimal terhadap RME (Anatha dan Sari,
RME untuk 2023). Dalam hal tersebut bisa disimpulkan
diajukan ke bahwa dalam kemampuan kerja yang ada
rektorat membutuhkan keterlibatan user maupun staff
rumah sakit untuk sepenuhnya paham bahwa
RME dapat membantu mengoptimalkan kinerja.
Setelah dibuat sebuah tabulasi akar masalah; Pemahaman staff rumah sakit juga memengaruhi
penulis berusaha membuat alternatif solusi keakuratan informasi dalam RME, keterlibatan
dengan melakukan Focus Group Discussion staff dalam mengabadikan proses bisnis
(FGD) serta brainstorming. Penentuan alternatif menjadikan RME semakin akurat. Tentu saja hal
solusi bersama dilakukan dengan ini dapat terjadi bila staff rumah sakit paham
mempertimbangkan semua kemungkinan solusi mengenai RME.
termasuk aspek efektivitas, efisiensi, kemudahan Pelatihan formal juga menjadi kunci
pelaksanaan solusi dan aspek biaya secara jangka kesiapan implementasi RME. Adanya pelatihan
pendek serta panjang bagi RSUB seperti yang formal akan mengeliminasi hambatan-hambatan
tertuang di dalam Tabel.1. ketidaklengkapan modul dan fitur, mengurangi
Berdasarkan metode pemilihan solusi CARL kendala teknis, meningkatkan kualitas output
Didapatkan bahwa ranking teratas untuk rencana (Anatha dan Sari, 2023). Pelatihan formal akan
alternatif solusi adalah pembuatan pedoman meningkatkan kualitas sumber daya dalam hal ini
sosialisasi dan pelatihan formal tentang rekam user maupun staff IT sebagai pengembang
medis elektronik, dengan demikian staff Rumah maupun yang melakukan maintenance terhadap
Sakit Universitas Brawijaya semakin paham RME. Kualitas keamanan data dan kemudahan
mengenai implementasi Rekam Medis Elektronik dalam penggunaan RME akan dapat meningkat
Menurut Permenkes Nomor 24 Tahun melalui pelatihan formal.
2022 Pasal 3 ayat 1 tentang penyelenggaraan Implementasi RME sebagai suatu
RME, yang mengatur bahwa fasilitas pembaruan yang sangat kompleks tentu
Kesehatan di seluruh Indonesia wajib memerlukan dukungan perangkat dengan kualitas
menggunakan RME yang dibuat dengan sistem baik. Kecepatan sistem RME dapat dipengaruhi
digital dan ditujukan untuk fasilitas Kesehatan oleh sarana dan prasarana yang dimiliki. Waktu
(4). Dalam pengimplementasian RME yang kecepatan sistem dapat memberikan pengaruh
demikian kompleks tentu masih terdapat beberapa dalam input, proses, dan output. Pencarian data
kekurangan permasalahan seperti sistem yang maupun proses data tidak dapat berjalan baik jika
kerap kali mengalami error, kurangnya kinerja sistem lambat sehingga dapat
pengetahuan dan pengalaman petugas, menghambat petugas (Anatha dan Sari, 2023).
kekhawatiran pengguna jika ada kesulitan dalam Menurut Erawantini (2013), faktor sosio-
sistem (11). teknis memainkan peran penting dalam
Berbagai permasalahan yang ditemukan kesuksesan transisi dari rekam medis kertas ke
dari implementasi RME tersebut, maka rekam medis elektronik. Kunci keberhasilan ini
diperlukan adanya evaluasi kepada fasilitas meliputi proses bisnis yang terdefinisi dengan
pelayanan kesehatan yang sudah baik, dukungan aktif dari para dokter terhadap
mengimplementasikan RME, evaluasi sistem adopsi rekam medis elektronik, dukungan penuh
merupakan suatu cara untuk mengetahui dari manajemen terhadap penggunaan sistem
sejauh mana sistem tersebut di rekam medis elektronik, dan perencanaan yang
implementasikan oleh pengguna (Kinanti et al., matang terkait adopsi sistem informasi.
2021). Dalam proses implementasi rekam medis

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 7, No. 3, Hal. 100-107 | 105


Studi yang dilakukan Asih dan Indrayadi penanggung jawab maupun user rekam medis
(2023) menunjukkan bahwa peralihan dari rekam dalam melaksanakan asesmen kebutuhan dan
medis konvensional ke rekam medis elektronik kesiapan implementasi RME. Selain itu, pelatihan
merupakan bagian tak terpisahkan dari kemajuan ini dapat memahami pengelolaan dan
teknologi. Salah satu manfaat utamanya adalah penyelenggaraan rekam medis di rumah sakit,
kemudahan penggunaan. Lebih lanjut, penerapan mampu mengimplementasikan manajemen RME,
rekam medis elektronik memberikan manfaat memiliki kemampuan evaluasi dan review RME,
besar seperti penyediaan keputusan secara instan, memahami konsep serta peraturan perundang-
pemantauan reaksi dan duplikasi obat, serta undangan RME, serta evaluasi implementasi
pencegahan penulisan resep yang dapat memicu RME di Rumah Sakit.
reaksi alergi pada pasien. Tentu hal tersebut penting dan berpengaruh
Berdasarkan penelitian oleh Dwijosusilo positif terhadap rumah sakit. Pengaplikasian
(Dwijosusilo dan Sarni, 2018), dapat disimpulkan rekam medis memang membutuhkan kesiapan
bahwa dukungan dari pihak manajemen sangat karena akan merubah alur kerja yang selama ini
penting dalam memenuhi kebutuhan terkait telah berjalan. Perlu adanya perubahan alur kerja,
penerapan rekam medis elektronik, serta dalam penyesuaian budaya, serta peningkatan mutu
merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan SDM. Pengadaan rekam medis membutuhkan
penggunaan rekam medis elektronik. Di sisi lain, anggaran yang tidak sedikit. Proses transformasi
penelitian yang dilakukan oleh Pratama (2016) ke rekam medis elektronik juga membutuhkan
menekankan bahwa keberhasilan dalam pengadaan prasarana pendukung yang juga
implementasi rekam medis elektronik sangat membutuhkan anggaran tidak sedikit. Dukungan
dipengaruhi oleh adanya dukungan manajemen mutlak diperlukan dalam pemenuhan
kepemimpinan yang kuat, partisipasi aktif dari kebutuhan penerapan rekam medis elektronik
staf klinis dalam proses perancangan dan serta dapat merumuskan kebijakan terkait
penerapan, pelatihan yang tepat bagi staf, serta penerapan rekam medis elektronik. Oleh karena
perencanaan yang teratur dan alokasi anggaran itu, perlu adanya perencanaan anggaran terkait
yang memadai. Dukungan dan pengelolaan yang pengadaan rekam medis elektronik (RME). Agar
baik dari pihak kepemimpinan berperan penting rekam medis elektronik (RME) dapat berjalan
dalam pengembangan rekam medis elektronik dengan baik, maka dibutuhkan keikutsertaan
karena mereka berperan sebagai pengambil seluruh petugas dalam proses desain dan
keputusan utama dalam organisasi tersebut. perencanaan implementasi. Oleh karena itu,
Dalam proses implementasi RME, tentu seluruh staff harus dibekali pengetahuan terkait
memerlukan partisipasi berbagai pihak. Maka rekam medis elektronik.
pengetahuam tentang RME menjadi hal yang
penting. Menurut penelitian oleh Hikmawan Kesimpulan
Suryanti dalam (Sulistya dan Rohmadi, 2021) Dari hasil pembahasan dapat ditarik
bahwa ada pengaruh antara sosialisasi terhadap kesimpulan bahwa RSUB telah cukup siap dalam
tingkat pemahaman petugas tentang rekam medis implementasi rekam medis elektronik, beberapa
elektronik. Hal ini sesuai dengan penelitian- aspek yang belum siap antara lain SDM,
penelitian yang ada terdahulu bahwa sosialisasi pelatihan, keuangan, serta Sarana Prasana. Untuk
mempengaruhi peningkatan rata-rata pengetahuan itu perlu dilakukan pembuatan pedoman
petugas. Oleh karena itu, sosialisasi sangat efektif sosialisasi dan pelatihan. Dengan demikian SDM
untuk meningkatkan pemahaman responden. di RSUB dapat paham lebih dalam mengenai
Sosialisasi dengan menggunakan slide di power implementasi RME di RSUB.
point dan ceramah ternyata cukup efektif untuk
meningkatkan pemahaman petugas. Hal ini sesuai
dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa
sosialisasi dengan cara menampilkan slide di
power point dan ceramah berpengaruh terhadap
peningkatan pemahaman responden.
Selain sosialisasi, pelatihan juga dianggap
mampu meningkatkan kesiapan implementasi
rekam medis. Pelatihan dapat memberikan
pengetahuan, serta keterampilan kepada

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 7, No. 3, Hal. 100-107 | 106


Daftar Pustaka

Asih, H., & Indrayadi, I. (2023). Perkembangan Rekam Medis Elektronik di Indonesia: Literature
Review. Jurnal Promotif Preventif, 6(1), 182–98.
Dewi, T. S., & Silvia, A. A. (2023). Hambatan Implementasi Rekam Medis Elektronik dari Perspektif
Perekam Medis dengan Metode PIECES. Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, 11(2),
150-156. [Link]
Dwijosusilo, K., & Sarni., (2018). Peranan Rekam Medis Elektronik Terhadap Sistim Informasi
Manajemen Rumah Sakit di Rumah Sakit Umum Haji Surabaya.
Erawantini. F. (2013). Rekam Medis Elektronik: Telaah Manfaat Dalam Konteks Pelayanan
Kesehatan Dasar, Forum Informatika Kesehatan Indonesia (FIKI)
Faida, E.W., & Ali A. (2021). Analisis Kesiapan Implementasi Rekam Medis Elektronik dengan
Pendekatan DOQ-IT (Doctor’s Office Quality-Information Technology). Jurnal Manajemen
Informasi Kesehatan Indonesia, 9(1), 59-67. [Link]
Ghazisaeidi, M., Ahmadi, M., Sadoughi, F., & Safdari, R. (2014). An assessment of readiness for pre-
implementation of electronic health record in Iran: a practical approach to implementation in
general and teaching hospitals. National Library of Medicine, 52(7), 532–44.
Habibah, N. A. (2022). Penerapan Rekam Medis Elektronik di Fasilitas Kesehatan di Indonesia.
Kementrian Kesehatan Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan.
Khasanah LK. (2021). Tingkat Kesiapan Implementasi Rekam Kesehatan Elektronik Menggunakan
DOQ-IT. Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, 9(2), 157-164.
[Link]
Kementrian Kesehatan Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 tentang
Rekam Medis. Permenkes, No. 24 Tahun 2022 Indonesia
Mutiara AB, Awaludin R, Muslim A, Oswari T. (2014). Testing Implementasi Website Rekam Medis
Elektronik OpeltGunasys dengan Metode Acceptance Testing. Journal Elektronik Universitas
Gunadarma, 8, 1–7.
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2009). Fundamental of Nursing 7th Edition.
Pratama, M. H., & Darnoto, S. (2016). Analisis Strategi Pengembangan Rekam Medis Elektronik di
Instalasi Rawat Jalan RSUD Kota Yogyakarta, Jurnal Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia,
5(1), 34-45.
Pratana., Ningsih, K. P., Santoso, S., & Sevtiyani, I. (2021). Pendampingan Penilaian Kesiapan
Penerapan Rekam Medis Elektronik Menggunakan Metode DOQ-IT di RS Condong Catur
Sleman, Journal of Innovation in Community Empowerment (JICA), 3(2), 98-104.
Putri, N. K. A., & Indriyanti, A. D. (2021). Penerapan PIECES Framework sebagai Evaluasi Tingkat
Kepuasan Mahasiswa terhadap Penggunaan Sistem Informasi Akademik Terpadu (SIAKADU)
pada universitas Negeri Surabaya. Journal of Emerging Information System and Business
Intelligence (JEISBI), 2(2), 78-84.
Sulistya, C. A. J., & Rohmadi. (2021). Literatre Review: Tinjauan Kesiapan Penerapan Rekam Medis
Elektronik Dalam Sistem Informasi Manajemen di Rumah Sakit. Indonesian Journal of Health
Information Management, 1(2), [Link]
Tiorentap, D. R. A. (2020). Manfaat Penerapan Rekam Medis Elektronik Di Negara Berkembang:
Systematic Literature Review. Indonesian of Health Information Management Journal, 8(2), 69-79.

Jurnal Administrasi Publik (JAP), Vol. 7, No. 3, Hal. 100-107 | 107

Anda mungkin juga menyukai