0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan19 halaman

Tahapan Implementasi Sistem ERP

This is ERP topics

Diunggah oleh

zahidfauzan0
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan19 halaman

Tahapan Implementasi Sistem ERP

This is ERP topics

Diunggah oleh

zahidfauzan0
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Enterprise Resource Planning

T eknologi Enterprise Resources Planning adalah salah satu teknologi yang


berperan mengintegrasikan tiap fungsi dalam perusahaan. Sistem
Enterprise Resources Planning dapat mengatasi permasalahan-permasalahan
pada saat sistem tersebut mengintegrasikan semua aspek dalam operasi
perusahaan dengan sistem informasi akuntansi tradisional (Katuu, 2020).
Proses integrasi tersebut berjalan dalam ruang lingkup basis data terpusat
sesuai authority (batasan hak akses) masing-masing departemen. Sebagian
besar organisasi menggunakan sistem ERP untuk mengoordinasikan dan
mengelola data, proses bisnis dan sumber daya manusia. Sistem ERP
mengumpulkan, memproses, menyimpan data dan memberikan informasi
yang diperlukan manajer dan pihak eksternal untuk mengukur perusahaan.
Definisi Enterprise Resource Planning (ERP) dikemukakan oleh Monk dan
Wagner (2013) sebagai berikut: “Enterprise Resource Planning adalah suatu
aplikasi terintegrasi yang menjadi kerangka untuk mengubah dan membantu
proses pembangunan fondasi sistem informasi di dalam suatu organisasi, baik
terimplementasi dalam skala besar maupun bertahap.” Pengertian lain
mengenai Enterprise Resources Planning menurut, Romney dan Steinbart
(2016) adalah: “Suatu sistem yang mengintegrasikan semua aspek aktivitas
organisasi seperti akuntansi, keuangan, pemasaran, sumber daya manusia,
manufaktur, dan manajemen persediaan ke dalam suatu sistem.” Sedangkan
menurut Rist dan Martinez (2018) bahwa Enterprise Resource Planning (ERP)
adalah paket software terintegrasi yang dirancang untuk memberikan integrasi
yang lengkap terhadap seluruh data yang terkait dengan sistem informasi
perusahaan.” Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa sistem ERP adalah
sistem berbasis komputer yang dirancang untuk memproses transaksi
organisasi, memfasilitasi integrasi dan perencanaan secara realtime, produksi,
dan respon pelanggan.
Lebih lanjut, Enterprise Resource Planning (ERP) menurut O’Brien dan
Marakas (2010) adalah sistem perusahaan yang meliputi semua fungsi yang
terdapat di dalam perusahaan yang didorong oleh beberapa modul software
yang terintegrasi untuk mendukung proses bisnis internal perusahaan. Sebagai
contoh, software ERP untuk perusahaan manufaktur umumnya dimulai dari
memproses data yang masuk, melacak status dari penjualan, inventory,
pengiriman barang, dan penagihan barang, serta memperkirakan bahan baku
dan kebutuhan sumber daya manusia, sehingga menurut O’Brien dan Marakas
(2010) terdapat lima komponen utama dari sistem ERP. Lihat Gambar 6.5.

Gambar 6.5. Komponen Utama dari Sistem ERP


Sumber: O’Brien dan Marakas (2010)

Sesuai dengan O’Brien dan Marakas (2010) serta Bjelland dan Haddara
(2018) menyatakan bahwa ERP biasanya terbagi atas modul utama Operasi
dan modul pendukung Finansial, Akunting dan Sumber Daya Manusia, yaitu
sebagai berikut:
1. Modul Operasi, Terdiri atas General Logistic, Sales and
Distribution, Materials Management, Logistic Execution,
Quality Management, Plant Maintenance, Customer Service,
Production Planning and Control, Project System, Environment
Management.
2. Modul Finansial dan Akunting, Terdiri atas General
Accounting, Financial Accounting, Controlling, Investment
Management, Treasury, Enterprise Controlling
3. Modul Sumber Daya Manusia, Terdiri atas Personnel
Management, Personnel Time Management, Payroll, Training
and Event Management, Organizational Management, Travel
Management

Berdasarkan komponen-komponen pendukungnya, Enterprise Resource


Planning (ERP) menurut Turban et al (2015) adalah suatu model sistem
informasi yang memungkinkan organisasi untuk mengotomatisasi dan
mengintegrasikan proses bisnis utamanya. Enterprise Resource Planning
menurut Turban et al (2018) dirancang dan didesain untuk menyelesaikan
masalah dalam area fungsional sistem informasi dengan mengintegrasikan
area fungsional melalui database. Enterprise Resource Planning menurut


Laudon dan Laudon (2012) merupakan suatu metode bagi industri dalam
mengupayakan proses bisnis yang lebih efisien dengan membagi informasi di
dalam dan antar bisnis proses dan menjalankan bisnis secara elektronik.
Enterprise Resource Planning juga dapat diartikan sebagai system informasi
yang mengintegrasikan dan mengotomisasikan proses bisnis yang
berhubungan dengan aspek operasi, produksi maupun distribusi perusahaan.

Berdasarkan definisi-definisi di atas, maka dapat disimpulkan Enterprise


Resource Planning adalah konsep sistem informasi yang mengintegrasikan
setiap modul, sehingga dapat mendukung proses bisnis utama perusahaan.
Dengan kata lain ERP merupakan suatu sistem informasi yang dapat
mengintegrasikan seluruh proses bisnis perusahaan baik antar departemen
maupun lintas departemen dengan alat bantu komputer yang didesain sebagai
pengolah data-data transaksi perusahaan yang mengintegrasikan seluruh
fungsi proses bisnis dengan sasaran untuk mengoptimalkan semua sumber
daya.

Enterprise Resource Planning (ERP) menurut Martinez (2017), dapat


digambarkan sebagai:
1. Sekumpulan tools manajemen untuk peramalan (forecasting),
perencanaan dan penjadwalan pada perusahaan besar yang
menyeimbangkan antara permintaan dan persediaan.
2. Berisi kemampuan untuk menjembatani customer dan supplier dalam
rantai pasok yang lengkap (complete supply chain).
3. Penggunaan proses bisnis dan pengambilan keputusan (decision
making) yang sudah teruji dan menyediakan integrasi lintas
fungsional dengan derajat tinggi, meliputi penjualan, pemasaran,
proses manufaktur, operasi, logistik, pembelian, keuangan,
pengembangan produk baru dan sumber daya manusia.
4. Memungkinkan untuk menjalankan bisnis yang dapat melayani
konsumen dan produktivitas dengan level tinggi, dengan biaya yang
rendah dan inventori yang lebih murah dan menyediakan dasar yang
kuat untuk perdagangan secara elektronik (e- commerce).
5. Mampu mengembangkan perencanaan dan penjadwalan yang
berkaitan dengan sumber daya manusia, material, mesin, dan lain-lain.

Enterprise Resource Planning (ERP) sering disebut sebagai Back Office


System yaitu tidak adanya keterlibatan customer dalam sistem dan berbeda
dengan Front Office System yang melibatkan customer secara langsung
seperti sistem e-Commerce, Customer Relationship Management (CRM), e-
Government (Turban et al., 2018). Enterprise Resource Planning (ERP)
merupakan perkembangan dari Manufacturing Resource Planning (MRP II)
yang juga merupakan hasil pengembangan dari Material Requirement
Planning (MRP) (Turban et al., 2018).

Evolusi Perkembangan Enterprises Resource Planning (ERP)

Terdapat beberapa tahapan dalam evolusi perkembangan MRP menurut


Wallace dan Kremzar (2001), Ganesh et al (2014), dan Turban et al (2018).
a. Material Requirement Planning (MRP)/Perencanaan Kebutuhan Material
ERP pada awalnya mulai muncul dan beroperasi pada tahun 1960-an
sebagai suatu sistem dari Material Requirements Planning (MRP),
hasil dari upaya awal dalam pemrosesan Bill of Material (BOM).

Penemu sistem MRP berusaha mencari metode pemesanan bahan


dan komponen yang lebih baik untuk menghasilkan suatu produk, dan
mereka menemukannya dalam teknik MRP ini. Dalam MRP,
perencanaan kebutuhan material selalu berhubungan dengan
pertanyaan-pertanyaan berikut:
• Apa yang akan kita buat?
• Apa yang diperlukan untuk membuatnya?
• Apa yang kita miliki?
• Apa yang harus kita hasilkan?

Tahapan akhir dalam evolusi ini adalah Perencanaan Sumber Daya Perusahaan
(ERP). Dasar-dasar ERP sama dengan MRP II. Namun, berkat sebagian besar
perangkat lunak perusahaan (ES), ERP sebagai sekumpulan proses bisnis
memiliki cakupan yang lebih luas, dan lebih efektif dalam menangani beberapa
unit bisnis. Integrasi keuangan bahkan lebih kuat, alat-alat rantai pasokan
mendukung bisnis tanpa adanya batas-batas perusahaan. Gambar 6.9
merupakan gambaran umum kegiatan ERP secara keseluruhan. Enterprise
Resource Planning (ERP) memprediksi dan menyeimbangkan permintaan dan

penawaran. Ini adalah seperangkat perkiraan tingkat perusahaan, perencanaan,
dan alat penjadwalan, yang:

• menghubungkan pelanggan dan pemasok ke dalam rantai pasokan yang


lengkap.
• menggunakan proses yang terbukti untuk pengambilan keputusan.
• mengoordinasikan penjualan, pemasaran, operasi, logistik, pembelian,
keuangan, pengembangan produk, dan sumber daya manusia.
Sasarannya mencakup layanan pelanggan tingkat tinggi, produktivitas,
pengurangan biaya, dan perputaran inventaris, serta memberikan
landasan bagi manajemen rantai pasokan dan e-niaga yang efektif. Ini
dilakukan dengan mengembangkan rencana dan jadwal sehingga sumber
daya yang tepat (tenaga kerja, bahan, mesin, dan uang) tersedia dalam
jumlah yang tepat saat dibutuhkan.

Gambar 6.9. Enterprise Resource Planning (ERP)


Sumber: Wallace dan Kremzar (2001); Ganesh et al (2014); Laudon dan
Laudon (2014); Turban et al (2018)
6.7. Unsur-Unsur ERP dan
Penerapannya

Menurut Bjelland dan Haddara (2018) bahwa terdapat seperangkat komputer


atau yang disebut dengan infrastruktur ERP yang diperlukan untuk proses ERP
terdiri dari:
o Physical Component (server, network, storage, client)
o People (Business staff, operation staff, development staff)
o Organizational Process (program and project management, change
management, support service).
Dibawah ini akan dijelaskan lebih rinci mengenai tiga komponen penting
didalam proses sistem Enterprise Resource Planning (ERP) (Bjelland dan
Haddara, 2018) :
o Physical Component (Komponen Fisik)
a. Server-Client yang terdiri dari komputer server dan beberapa
komputer client. Server menjadi pusat sistem informasi, sedangkan
client merupakan komputer yang digunakan untuk melakukan
tugas-tugas penanganan data.
b. Network (Jaringan), merupakan suatu unit komunikasi yang
membantu didalam penyebaran informasi.
c. Storage (Penyimpanan), merupakan tempat penyimpanan yang
digunakan untuk menyimpan data yang diolah oleh komputer.
• People (Sumber Daya Manusia)
Sumber daya manusia yang mempunyai peranan penting untuk
pengembangan dan implementasi sistem adalah:
a. Staf Bisnis (Business Staff)
Staf bisnis merupakan orang yang bertugas menganalisa workflow
(urutan proses) sistem manajemen yang sedang berjalan (workflow
as-is) dan mendesain workflow baru yang lebih efisien (Workflow
should-be). Staf bisnis haruslah orang yang menguasai ilmu yang
berhubungan dengan proses bisnis yang dianalisa, misalnya
membuat analisa di departemen accounting maka staf bisnis harus
menguasai siklus akuntansi.
b. Staf Operasi (Operation Staff)
Staf operasi merupakan staf yang bertanggung jawab pada
kegiatan operasional sehari-hari, misalnya backup data.
c. Staf Pengembangan (Development Staff)
Staf pengembangan bertugas untuk mengembangkan sistem dengan
mendesain program-program yang diperlukan.
• Organization Process (Proses Organisasi)
a. Program dan proyek manajemen (Program and Project Management)
Penerapan sistem ERP biasanya merupakan bagian dari program dan
proyek manajemen, yang dilakukan berdasarkan pertimbangan-
pertimbangan manajemen. Berikut ini alasan mengapa perusahaan
melakukan perubahan:


1) Perubahan kebutuhan pemakai atau bisnis
Peningkatan pesaing, pertumbuhan bisnis atau konsolidasi,
merger dan divestasi, peraturan baru, atau perubahan dalam
hubungan regional serta global dapat mengubah struktur dan
tujuan organisasi. Agar tetap responsif atas kebutuhan
perusahaan, maka sistem juga harus berubah.
2) Perubahan Teknologi
Sejalan dengan makin maju dan murahnya teknologi,
perusahaan dapat memanfaatkan berbagai kemampuan baruatau
lama.
3) Peningkatan Proses Bisnis
Banyaknya perusahaan memiliki proses bisnis yang tidak
efisien sehingga membutuhkan pembaruan untuk memuaskan
pelanggan.
4) Keunggulan Kompetitif
Peningkatan kualitas, kuantitas dan kecepatan informasi dapat
meningkatkan produk atau layanan serta dapat membantu
mengurangi biaya.
5) Perolehan Produktivitas
Komputer akan mengotomatisasi pekerjaan administrasi secara
rutin serta signfikan didalam mengurangi waktu untuk
melakukan tugas-tugas lainnya.
6) Pertumbuhan
Perusahan berkembang lebih besar dari sistemnya sehingga
harus meningkatkan atau melakukan perubahan terhadap
sistemnya secara keseluruhan.
7) Penciutan
Perusahaan seringkali berpindah dari jaringan terpusat ke
jaringan PC atau sistem berbasis internet untuk mamanfaatkan
rasio harga/kinerja mereka. Hal ini menempatkan pengambilan
keputusan dan informasi yang terkait sampai ke bagan
organisasi.
b. Perubahan Proses Kerja (Change Manajement)
Penerapan sistem ERP berpengaruh terhadap budaya perusahaan,
sehingga diperlukan perubahan proses kerja (Change Manajement)
pada masa penyesuaian atau yang sering disebut proses
implementasi. Jika pada proses implementasi tersebut diperlukan
perubahan proses kerja yang cukup mendasar, maka perusahan
harus melakukan rekayasa ulang proses bisnis atau Business
Process Reengineering (BPR) yaitu analisis menyeluruh dan
mendesain ulang yang lengkap atau proses bisnis dan sistem
informasi untuk mencapai peningkatan kualitas yang dramatis.

Walaupun memerlukan waktu yang cukup lama beberapa keuntungan


dari proses BPR yaitu:
1) Untuk menyederhanakan sistem
2) Untuk membuatnya lebih efektif
3) Untuk meningkatkan kualitas serta layanan perusahaan

c. Layanan dan Dukungan dari IT Departemen (Support Service)


Untuk mengatasi masalah yang terjadi pada sistem dan mendukung
pelaksanaan dari sistem ERP agar dapat berjalan dengan baik dan
mencapai tujuan, diperlukan adanya layanan dan dukungan dari IT
departemen atau vendor software. Dengan begitu para pengguna
(users) akan mampu memahami sistem secara cepat, dan user akan
puas dengan sistem yang ada karena sistem tersebut dapat membantu
kerja mereka dan tidak merumitkan.

Fungsi Enterprise Resource Planning (ERP)


Haddara dan Constantini (2017) menjelaskan mengenai fungsi atau
kegunaan dari Enterprise Resource Planning secara umum diantaranya:
1. Enterprise Support for Organizational Process
a. Capturing data during business process
b. Enterprise system facilitate functioning of thr organization’s business
c. Enterprise system record that business events have accurate
d. Enterprise system store data for decision making
2. Enterprise System Suport for Major Bussiness Events Process
a. Order To Cash
b. Purchaces To Pay
Katuu (2020) mengemukakan mengenai definisi fungsi atau kegunaan dari
Enterprise Resource Planning, yaitut:
1. Dapat mendukung proses organisasi
a. Pengolahan data, proses bisnis
b. Menjadi fasilitas bagi fungsi organisasi bisnis
c. Merekam proses bisnis dengan lebih teliti
d. Memproses data untuk pengambilan keputusan
2. Dapat mendukung dalam proses bisnis yang utama


a. Pembayaran penjualan
b. Pembayaran pembelian
Sedangkan menurut Martinez (2017) mengemukakan mengenai fungsi
atau kegunaan dari Enterprise Resource Planning adalah sebagai berikut:
1. Integrasi data keuangan
2. Standarisasi proses organisasi
3. Standarisasi data dan informasi.
Demikian pula, Nazemi et al (2012) memberikan penjelasan mengenai
definisi fungsi atau kegunaan dari Enterprise Resource Planning:
1. Integrasi data keuangan, yaitu untuk mengintegrasikan data keuangan
sehingga top management bisa melihat dan mengontrol kinerja keuangan
perusahaan dengan lebih baik.
2. Standarisasi proses operasi, berfungsi mengstandarkan proses operasi
melalui implementasi best practice sehingga terjadi peningkatan produktifitas,
penurunan inefisiensi dan peningkatan kualitas produk.
3. Standarisasi data dan Informasi berfungsi mengstandarkan data dan
informasi melalui keseragaman pelaporan, terutama untuk perusahaan besar
dan biasanya terdiri dari banyak unit bisnis dengan jumlah dan jenis bisnis
yang berbeda-beda.
Kelebihan dan kelemahan Enterprise Resource Planning (ERP)

Menurut Romney dan Steinbart (2018) penerapan sistem Enterprise


Resource Planning (ERP) memberikan beberapa keuntungan yang signifikan
antara lain adalah:

1. ERP memberikan tampilan tunggal atas data organisasi dan situasi


keuangan yang terintegrasi di seluruh perusahaan. Menyimpan semua
informasi perusahaan dalam database tunggal memecah hambatan antara
departemen atau arus informasi.

2. Input data diambil atau dikunci sekali, dan tidak berkali-kali, saat
dimasukan ke dalam sistem yang berbeda. Mengunduh data dari satu
sistem ke yang lain tidak lagi diperlukan.

3. Manajemen mendapatkan visibilitas yang lebih besar ke dalam setiap


area perusahaan dan kemampuan dalam memonitor yang lebih besar.
Karyawan lebih produktif dan efisien karena mereka dapat secara cepat
mengumpulkan data dari dalam dan luar departemen mereka.

4. Organisasi memperoleh pengendalian akses yang lebih baik. ERP dapat


mengonsolidasikan berbagai perizinan dan model keamanan ke dalam
struktur akses data tunggal.

5. Prosedur dan laporan yang telah distandarisasi antar unit bisnis.


Standarisasi ini khususnya dapat bernilai dengan merger dan akuisisi
karena sistem ERP dapat menggantikan sistem yang berbeda dengan
sistem tunggal dan bersatu.

6. Pelayanan pelanggan meningkat karena karyawan dapat dengan cepat


mengakses pemesanan, persediaan yang tersedia, mengirimkan informasi
dan detail transaksi pelanggan sebelumnya.

7. Pabrik manufaktur menerima pesanan baru secara real-time dan


otomatisasi proses manufaktur membuat produktivitas meningkat.


Selain banyak keuntungan yang diperoleh dari sistem ERP, ada beberapa
kelemahan/kerugian daalam penerapan ERP menurut Romney dan Steinbart
(2018) antara lain:

1. Biaya.

2. Jumlah Waktu yang Diminta

3. Perubahan Proses Bisnis

4. Kompleksitas

5. Resistansi

Berikut penjelasan mengenai kerugian Enterprise Resource Planning


adalah:

1. Biaya

Harga untuk pemasangan perangkat keras ERP, perangkat lunak dan


biaya konsultasi berkisar dari $50 juta hingga $500 juta untuk perusahaan
yang masuk dalam kategori Fortune 500 dan dapat menghabiskan biaya
sebesar $50 juta hingga $5100 juta. Perusahaan berukuran sedang dapat
menghabiskan sekitar $10 sampai $20 juta.

2. Jumlah Waktu

Dalam segi waktu, perusahaan dapat menghabiskan beberapa tahununtuk


memilih dan mengimplementasikan sistem ERP secara penuh,
tergantung pada ukuran bisnis, jumlah modul yang harus
diimplementasikan, tingkat penyesuaian, lingkup perubahan dan
seberapa baiknya pelanggan mengambil kepemilikan proyek. Sebagai
hasilnya, implementasi ERP memiliki resiko tinggi atas kegagalan
proyek.

3. Perubahan Proses Bisnis.

Perusahaan harus beradaptasi untuk menstandarisasi proses bisnis


sebagai akibat dari mengadopsi paket ERP untuk proses perusahaan yang
ada. Kegagalan dalam penetapan proses bisnis saat ini terdapat pada
perangkat lunak ERP yang sudah ada yang dianggap sebagai penyebab
terbesar kegagalan proyek ERP.

4. Kompleksitas.
Hal ini berasal dari integrasi berbagai aktivitas dan sistem bisnis yang
berbeda, masing-masing memiliki proses, aturan bisnis, semantik data,
hierarki otorisasi dan pusat keputusan yang berbeda.

5. Resistansi.

Organisasi yang memiliki banyak departemen dengan sumber daya


terpisah, misi, laba dan rugi, dan rantai komando mungkin percaya bahwa
sistem tunggal memiliki beberapa keuntungan. Ini juga memerlukan
pelatihan dan pengalaman yang dapat dipertimbangkan untuk
menggunakan sistem ERP secara efektif, dan penolakan karyawan adalah
alasan utama mengapa banyak implementasi ERP tidak sukses. Tidak
mudah untuk meyakinkan karyawan agar mengubah cara mereka dalam
melakukan pekerjaan, melatihnya dalam prosedur baru, menguasai
sistem baru, dan meyakinkan mereka untuk membagi informasi sensitif.
Penolakan dan kaburnya batasan perusahaan dapat menyebabkan
permasalahan dengan moral karyawan, akuntabilitas dan garis
pertanggungjawaban.

Faktor-faktor penentu keberhasilan penerapan Enterprise Resource


Planning (ERP)

Terdapat beberapa faktor pendukung keberhasilan daalam penerapan


Enterprise Resource Planning (ERP) sebagaimana yang dikemukakan oleh
Dhewanto dan Falahah (2007), Romney dan Steinbart (2018), serta Katuu
(2019), yaitu:

1. Fokus pada pengguna

2. Tata Kelola dan Alokasi Sumber Daya Manusia

3. Dukungan Vendor dan Konsultan

4. Pelatihan

Berikut penjelasan mengenai faktor pendukung keberhasilan


implementasi ERP adalah:


1. Fokus pada pengguna

Fokus pada pengguna berarti berusaha agar sistem ERP dapat


mendukung proses yang saat ini sedang berlangsung. Fokus pada
teknologi dapat dipertimbangkan setelah fokus pada pengguna terpenuhi.

2. Tata Kelola dan Alokasi Sumber Daya Manusia

Inovasi bisnis yang efektif memerlukan dukungan tingkat tinggi dan


kepeloporan dari para pemimpin manajemen. Tim yang terlibat pada
implementasi sistem ERP haruslah terdiri dari orang-orang yang
memiliki reputasi dan integritas pada bidangnya dan memiliki akses serta
pengaruh yang kuat di perusahaan, sehingga dapat menjaga agar proyek
implementasi tetap berjalan pada jalurnya. Tim yang ideal sebaiknya
melibatkan user, spesialis teknologi informasi dari dalam perusahaan,
orang-orang yang dapat bekerjasama dengan berbagai group yang
berbeda, dan orang yang memahami proses bisnis dengan baik.

3. Dukungan Vendor dan Konsultan

Pemilihan vendor sebagai partner perusahaan sangat menentukan dalam


keberhasilan penerapan ERP perusahaan. Vendor harus memberikan
solusi atas kebutuhan user. Selain itu konsultan berperan penting dalam
membuat analisis implementasi ERP, yang kemudian dideskripsikan
secara jelas kepada pihak manajemen perusahaan. Idealnya perusahaan
memiliki kendali utama atas dukungan vendor dan jasa konsultasi dalam
implementasi ERP.

4. Pelatihan

Pelatihan juga merupakan aspek penting pada implementasi sistem ERP.


Sering terjadi, beberapa kegagalan dalam implementasi ERP selalu
dikaitkan dengan buruknya pelatihan yang diberikan. Saat ini banyak
vendor ERP yang menyediakan pelatihan ERP dengan metode dan
pendekatan yang lebih fleksibel. Fleksibel dalam hal ini, berhubungan
dengan waktu dan tempat pelatihan, serta materi pelatihan, misalnya
spesifik pada fungsi tertentu, bukan pada keseluruhan sistem ERP.
Format pelatihan pun berubah, misalnya menjadi bentuk web based
virtual training, computer based training, video course, self study books,
dan pop up help screens.

Lebih lanjut, menurut van der Borg (2017) yang menjadi faktor
kesuksesan penerapan ERP di dalam perusahaan, yaitu:
1. Organisasi

2. Proses

3. Teknologi

4. Data

5. Manusia

Berikut penjelasan mengenai faktor pendukung keberhasilanimplementasi


ERP (van der Borg, 2017), yaitu:

1. Organisasi (Management)

Organisasi adalah sekelompok orang (dua atau lebih) yang secara formal
disatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Unsur-unsur dalam organisasi tersebut yaitu commitment,
education, involvement, training, dan role and responsibilities.

2. Process

Proses adalah urutan pelaksanaan atau kejadian yang terjadi secara alami
atau didesain, mungkin menggunakan waktu, ruang, keahlian atau
sumber daya lainnya yang menghasilkan suatu hasil. Suatu proses
mungkin dikenali oleh perubahan yang diciptakan terhadap sifat-sifat
dari satu atau lebih objek di bawah pengaruhnya. Unsur-unsur dari proses
dalam Enterprise Resource Planning yaitu alignment, documentation,
integration, dan proses redesign.

3. Teknologi

Teknologi adalah satu ciri yang mendefinisikan hakikat manusia yaitu


bagian dari sejarahnya meliputi keseluruhan sejarah. Beberapa aspek
penting yang ada di dalam teknologi di antaranya hardware, software,
system management dan data.

4. Manusia

Dalam Enterprise Resource Planning, selain teknologi maka ada faktor


lain yang sangat berpengaruh yaitu faktor manusia. Manusia merupakan
pelaku atau objek aktif untuk kesuksesan-kesuksesan terebut.


Penerapan Enterprise Resource Planning (ERP)

Menurut Dhewanto dan Falahah (2007) dalam melakukan implementasi ERP,


biasanya menggunakan prinsip pengelolan seperti manajemen proyek teknologi
informasi lainnya, yaitu dengan dibentuknya tim khusus untuk melakukan
implementasi, yang dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Komite pengarah terdiri dari perwakilan dan para eksekutif dari masing-
masing departemen/unit bisnis utama yang merupakan area yang dipengaruhi
oleh ERP, seperti finance/accounting, marketing, produksi, SDM, procurement,
sistem analis, dukungan teknik.

2. Staf teknologi informasi internal (tim proyek), yang terdiri dari manajer TI,
programmer, sistem analis, dukungan teknik.

3. Pengguna utama internal.

4. Perwakilan vendor dan konsultan.

Jika perusahaan sudah berniat mengimplementasikan sistem ERP, maka ada


beberapa langkah umum yang dapat dilakukan, yang secara garis besar
sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tahapan implementasi sistem informasi
lainnya. Tahapan tersebut menurut Dhewanto dan Falahah (2007) adalah sebagai
berikut:

1. Membangun organisasi tim proyek.

2. Menentukan pendekatan implementasi.

3. Membangun rencana implementasi.

4. Menentukan kriteria keberhasilan dan metode pengukuran.

Berikut penjelasan mengenai tahapan-tahapan implementasi ERP sebagai


berikut:

1. Membangun organisasi tim proyek

Pengelolaan proyek implementasi ERP menggunakan prinsip-prinsip yang


sama seperti manajemen proyek teknologi informasi lainnya. Proyek ini
harus dikelola oleh sekelompok tim yang dibentuk khusus untuk
implementasi.

2. Menentukan pendekatan implementasi

Secara garis besar ada 3 pendekatan umum, yaitu:


• Penggunaan satu paket software utuh (vendor tunggal)

• Kombinasi dari beberapa paket software (berbagai vendor)

• Kustomisasi atau membuat sendiri paket software ERP

Biasanya perusahaan memilih pendekatan yang disesuaikan dengan


kemampuan perusahaan serta skenario implementasi untuk jangka panjang.

3. Membangun rencana implementasi

Siklus hidup implementasi ERP meliputi: perencanaan, analisis, desain,


implementasi, dan dukungan teknik.

 Fase 1: Perencanaan

Langkah awal implementasi adalah membentuk komite pengarah.


Tugas utama komite ini adalah mengidentifikasi tujuan utama dan
ruang lingkup proyek ERP, menentukan manajer proyek dan
anggota tim lainnya untuk membangun sistem.

• Fase 2: analisis

Pada fase ini komite pengarah telah sepakat untuk menjalankan


proyek implementasi ERP dan mungkin juga sudah menentukan
pendekatan yang akan dilakukan. Fase analisis ini biasanya lebih
singkat waktunya jika menggunakan pendekatan satu kesatuan
paket dan lebih memakan waktu jika perusahaan memilih
menggunakan pendekatan kustomisasi. Akan tetapi, pada
umumnya fase analisis proyek ERP biasanya lebih lama
dibandingkan waktu yang diperlukan untuk analisis proyek
aplikasi yang hanya mendukung satu fungsi atau departemen.

• Fase 3: Desain

Fase desain dimulai setelah perusahaan memutuskan vendor mana


yang dipilih. Tingkat desain tergantung pada pendekatan ERP.
Jika diputuskan memilih satu kesatuan paket maka antarmuka
sebagian besar ditentukan dan kustomisasi biasanya dilakukan
pada bagian-bagian minor saja. Aspek desain lainnya yang cukup
penting adalah desain hardware, karena berbagai fungsi bisnis
akan menggunakan sumber daya yang sama.

o Fase 4: Implementasi


Setelah perusahaan menentukan paket software yang akan
digunakan dan dikustomisasi, fase berikutnya adalah melakukan
konstruksi. Selama fase ini, semua rencana rekayasa ulang proses
bisnis diterapkan. Hal ini, karena semua hardware, software, data
dan jaringan sudah diterapkan, maka hanya dua hal yang perlu
dikaji, yaitu orang dan prosedur. Struktur organisasi dapat saja
berubah, karyawan dapat berpindah posisinya. Untuk mendukung
implementasi ini biasanya diterapkan beberapa prosedur kerja
baru.

• Fase 5: Dukungan Teknis

Tujuan dari fase ini adalah untuk menjamin keberhasilan sistem


jangka pendek dan jangka panjang. Dukungan teknis terhadap
para pengguna sangat penting. Meskipun semua pengguna sudah
diberikan pelatihan yang intensif, namun staf dukungan teknis
tetap diperlukan, khususnya untuk perubahan yang drastis dan
komprehensif. Transisi sistem yang mulus sebaiknya didukung
oleh staf dukungan teknis yang memadai.

4. Menentukan kriteria keberhasilan dan metode pengukuran


Evaluasi keberhasilan kinerja sistem ERP dapat dilakukan dalam dua sudut
pandang berdasarkan ukuran yang digunakan. Pertama adalah evaluasi dari
sudut pandang keuangan dan yang kedua evaluasi dari sudut pandang
teknis. Evaluasi keuangan menekankan pada identifikasi penyimpangan
antara anggaran yang sudah ditetapkan dengan biaya aktual yang
dikeluarkan, sedangkan evaluasi teknis lebih menekankan pada identifikasi
berjalannya proses bisnis pada sistem yang baru.
Daftar Pustaka

Altman, J. C., Biddle, N., and Hunter, B. H. (2009). Prospects For ‘Closing
The Gap’ In Socioeconomic Outcomes For Indigenous Australians?
Asia Pacific Economic History Review: A Journal ofEconomic,
Business, and Social History, 49(3), 225-251.

Bjelland, E., and Haddara, M. (2018). “Evolution of ERP Systems in the


Cloud: A Study on System Updates.” Systems, 6(2), 1–26.

Dhewanto, W. dan Falahah (2007). ERP: Menyelaraskan Teknologi Informasi


Dengan strategi [Link]: Informatika.

Ganesh, K., Mohapatra, S., Anbuudayasankar, S. P., and Sivakumar, P. (2014).


Enterprise Resource Planning: Fundamentals of Design and
Implementation. Switzerland: Springer International Publishing.

Haddara, M., and Constantini, A. (2017). “ERP II Is dead-Long Live CRM.”


Procedia Computer Science, 121, 950–959.

Iwanblog (2016)Perusahaan-Perusahaan yang Menggunakan Aplikasi ERP,


Kuliah IT, Tersedia di:
[Link]
perusahaan-yang-menggunakan-aplikasi-erp/, diakses pada tanggal 13
Januari 2021

Katuu, S. (2020). Enterprise Resource Planning: Past, Present, and Future. New
Review of Information Networking, 25(1), 37-46

Laudon, K. C. and Laudon, J. P. (2012), Management Information System:


Managing The Digital Firm, 12th ed. Upper Saddle River, New Jersey:
Prentice Hall

Martinez, J (2017). “Is Enterprise Resource Planning (ERP) Software Dead?”


[Link]
[Link]/article/353591/is-enterprise-resource-planning-erp-
software-dead. Accessed 1
Desember 2020.

Monk, E. F. and Wagner, B. J. (2013). Concepts in Enterprise Resource


Planning, 4th edition. Course Technology, Cengage Learning

Nazemi, E., Tarokh, M. J., and Djavanshir, G. R. (2012). “ERP: A Literature


Survey.” International Journal of Advanced Manufacturing
Technology, 61(912), 999–1018


Nijher, H.S. (2014). Exploring critical success factors of ERP implementation
in United Nations types of organizations: Relationship between factors
impacting user experience, unpublished thesis. Concordia University,
master’s thesis.

O’Brien & Marakas. (2009). Management Information [Link] Edition.


New York: McGraw-Hill/Irwin

Rist, O., and J. Martinez (2018). “5 Enterprise Resource Planning (ERP)


Trends to Watch in
2019.”[Link]
planning-erptrends-
to-watch-in-2019. Accessed 1 Desember 2020

Romney, M. B. and Steinbart, P. J. (2016). Accounting Information Systems.


14th edition, London: Pearson.

Shahrokhi, M. (2008). E-finance: status, Innovations, resources and Future


Challenges. Managerial Finance, Vol.34, No. 6, pp.365-398

Turban, E., Outland, J., King, D., Lee, J. K., Liang, T-P., and Turban, D. C.
(2018), Electronic Commerce: A Managerial and Social Networks
Perspective, 9th ed. Switzerland: Springer International Publishing AG

van der Borg, F.R. (2017). Customization in Cloud-based Enterprise Resource


Planning Systems, unpublished master’s thesis, Eindhoven University
of Technology

Wallace, T. F. and Kremzar, M. H. (2001). ERP: Making It Happen: The


Implementers’ Guide to
Success with Enterprise Resource Planning. Canada: John Wiley and
Sons, Inc

Western Union (2018). Environmental, Social and Governance Report,


tersedia di: [Link]
content/uploads/2021/06/[Link],
diakses pada tanggal 8 September 2020

Anda mungkin juga menyukai