Ayat Al-Qur'an untuk Mahabbah di Winong
Ayat Al-Qur'an untuk Mahabbah di Winong
MAHABBAH
SKRIPSI
Disusun Oleh:
MASNGUDAH
(2018080021)
PENGESAHAN
Nomor: /FSH -UNSIQ/XII/2021
NIM : 2018080021
NIRM : 18/X/15.1.5/1205
Telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Agama (S. Ag.)
Dekan,
iv
UNIVERSITAS SAINS AL QUR’AN (UNSIQ) JAWA TENGAH DI WONOSOBO
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
Program Studi:
Hukum Keluarga (SI), Hukum Ekonomi Syari’ah (SI), Ilmu Al Qur’an dan Tafsir
(SI), Ilmu Hukum (SI), Perbankan Syari’ah (SI)
Alamat Kampus: Jalan Raya KH. Hasyim Asy‘ari KM.03 Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah 56351
Telp: (0286) 321873, Fax: (0286) 324160, Website : http//[Link],Email : fshunsiq@[Link]
MAJELIS PENGUJI
v
vi
MOTTO
vii
PERSEMBAHAN
1. Kedua orang tua penulis, Bapak Zainussurus dan Ibu Aini Syarifah, tidak
ada kata apapun yang bisa membalas semua jasa beliau, terima kasih untuk
segala do‘a dan dukungannya mulai dari awal perkuliahan sampai dengan
proses ini terselesaikan.
2. Abah Yai As‘ad alh beserta Simak Badiah alhz, selaku pengasuh pondok
pesantren Baitul Abiddin Darussalam (BAD), yang selama ini menjadi
tempat penulis untuk mengaji dan menimba ilmu, semoga barakah dan
manfaat ilmu dari beliau senantiana penulis dapatkan.
3. Seluruh keluarga penulis yang tidak bisa disebutkan satu persatu namanya,
terima kasih atas do‘a serta motivasinya sehingga penulis bisa berproses
sampai saat ini.
4. Semua teman satu jurusan, Ilmu Al-Qur‘an dan Tafsir, terkhusus untuk
kelas IQT A 2018 yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu namanya,
terima kasih atas bantuan serta motivasinya selama dibangku perkuliahan.
5. Semua santri Pondok Pesantren Baitul Abiddin Darussalam, baik putra
maupun putri, terima kasih atas dukungan dan pertolongannya.
Kepada semua pihak yang telah disebutkan di atas, semoga tercatat sebagai
amal baik dan mendapat imbalan dari Allah SWT atas kebaikan yang telah
diberikan. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan
pembaca.
Masngudah
viii
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrahim
Bibarokatil Qur`an, alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala karunia kepada hamba-Nya,
dengan beberapa kemampuan dan kekuatan sehingga penulis mampu
menyelesaikan skripsi dengan judul ―Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Untuk
Mahabbah (Kajian Living Qur‘an di Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo)‖.
Dengan harapan semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada baginda kita Nabi
Agung Muhammad SAW sebagai pembawa syariat islam untuk diimani,
dipelajari, dihayati dan diamalkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari serta
yang kita nanti-nantikan syafaatnya di yamil qiyamah nanti. Amiin.
Proses penyusunan skripsi ini disadari tentu tidak lepas dari bantuan,
bimbingan, do‘a maupun motivasi dari berbagai pihak. Semua itu demi
terselesaikannya skripsi ini. Maka dari itu, perkenankanlah penulis untuk
mengucapkan banyak terima kasih kepada:
1. Bapak Dr. H. Zainal Sukawi, M.A., selaku Rektor Universitas Sains Al-
Qur‘an Jawa Tengah di Wonosobo.
2. Bapak Dr. H. M. Junaedi. M.H., selaku Dekan Fakultas Syari‘ah dan
Hukum (FSH).
3. Bapak Dr. M. Ali Mustofa Kamal, AH, [Link].I, M.S.I selaku Kaprodi Ilmu
Al-Qur‘an dan Tafsir sekaligus pembimbing skripsi. Terimakasih atas
bimbingan, masukan dan motivasi yang telah diberikan demi
terselesaikannya skripsi ini.
4. Bapak Sawaun, Alh, [Link].I. [Link]., selaku Dosen Pembimbing II.
Terimakasih atas bimbingan, masukan dan motivasi yang telah diberikan
demi terselesaikannya skripsi ini.
5. Segenap bapak dan ibu dosen di Prodi Ilmu Al-Qur‘an dan Tafsir.
Terimakasih atas Ilmu yang telah diberikan.
ix
6. Segenap bapak, ibu staf administrasi Fakultas Syari‘ah dan Hukum (FSH)
Universitas Sains Al-Qur`an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo, yang
telah membantu dalam segala proses.
Semoga amal baik semuanya diterima oleh Allah SWT sebagai amal shalih
dan dibalas dengan balasan yang berlipat ganda.
Dengan demikian, semoga karya kecil ini dapat bermanfaat dan semoga
Allah SWT senantiasa meridhoi setiap langkah kehidupan kita. Amin ya Rabbal
„Alamiin.
Alhamdulillahirabbil „alamin
Masngudah
NIM. 2018080021
x
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN
Sesuai dengan SKB Menteri Agama RI, Menteri Pendidikan dan Menteri
Kebudayaan RI No. 158/1987 dan No. 0543b/U/1987
A. Konsonan Tunggal
Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan
Tidak
ا Alif Tidak dilambangkan
dilambangkan
ب bā` B Be
خ tā` T Te
ث Śā Ś Es (dengan titik di atasnya)
ج Jīm J Je
ح hā` ẖ Ha (dengan titik di bawahnya)
خ khā` Kh ka dan kha
د Dal D De
ذ Żal Ż Zet (dengan titik di atasnya)
ز rā` R Er
ش Zai Z Zet
س Sīn S Es
ش Syīn Sy es dan ye
ص Şād Ş es (dengan titik di bawahnya)
ض Dād D de (dengan titik di bawahnya)
ط ţā` Ţ te (dengan titik di bawahnya)
ظ zā` Z zet (dengan titik di bawahnya)
ع ‗ain …ʻ… Koma terbalik (di atas)
غ Gain G Ge
ف fā` F Ef
ق Qāf Q Qi
xi
ك Kāf K Ka
ل Lām L El
و Mīm M Em
ٌ Nūn N En
و Wāwu W We
ھ hā` H Ha
Apostrof, tetapi lambang ini
ء Hamzah ʹ tidak dipergunakan untuk
hamzah di awal kata
ي yā` Y Ye
A. Vokal
Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal
tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.
1. Vokal tunggal
Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harkat,
transliterasinya sebagai berikut:
Tanda Nama Huruf Latin Nama
ََ Fathah A A
َِ Kasrah I I
َُ Dammah U U
Contoh :
َ َكت
َة - kataba
فَ َع َم - fa‘ala
2. Vokal Rangkap
Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara
harkat dan huruf, transliterasinya gabungan huruf yaitu:
Tanda dan
Nama Huruf Latin Nama
Huruf
xii
Fathah dan Ya Ai a dan i
Contoh:
َ َكى
ْف -kaifa
َح ْى َل -haula
B. Maddah
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harkat dan
huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:
Harkat dan Huruf dan
Nama Nama
Huruf Tanda
Contoh :
قَا َل - Qāla
َيقُ ْى ُل - Yaqūlu
C. Ta’ Marbutah
Transliterasi untuk ta marbutah ada dua:
1. Ta Marbutah Hidup
Ta Marbutah yang hidup atau mendapat harokat fathah, kasrah dan dammah,
transliterasinya adalah /t/.
2. Ta Marbutah Mati
Ta marbutah yang mati atau mendapat harkat sukun, transliterasinya adalah
/h/.
3. Kalau pada suatu kata yang akhir katanya ta marbutah diikuti oleh kata yang
menggunakan kata sandang al, serta bacaan kedua kata itu terpisah maka ta
marbutah itu ditransliterasikan dengan ha (h).
xiii
Contoh:
- raudatul aţfāl
- al-Madīnatul Munawwarah
D. Syaddah
Syaddah atau tasydid yang dalam system tulisan Arab dilambangkan
dengan sebuah tanda, tanda syaddah atau tasydid. Dalam transliterasi ini tanda
syaddah tersebut dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan
huruf yang diberi tanda syaddah itu.
Contoh:
َزتََُّا - rabbanā
E. Kata Sandang
Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf,
yaitu ال.Namun, dalam transliterasinya kata sandang itu dibedakan antara kata
sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah dengan kata sandang yang diikuti
oleh huruf qamariyah.
xiv
Baik diikuti huruf syamsiyah maupun huruf qamariyah, kata sandang
ditulis terpisah dari kata yang mengikuti dan dihubungkan dengan tanda
sambung/ hubung.
Contoh:
َّ َ ا
نس ُج ُم - ar-rajulu
ا َ ْنقَ َه ُى - al-qalamu
F. Hamzah
Dinyatakan di depan daftar transliterasi Arab Latin bahwa hamzah di
transliterasikan dengan apostrof. Namun, itu hanya terletak di tengah dan di
akhir kata. Bila hamzah itu terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena
dalam tulisan Arab berupa alif.
Contoh:
1. Hamzah di awal
ُا ُ ِي ْسخ - umirtu
أ َ َك َم - akala
2. Hamzah di tengah
ٌَ ت َأ ْ ُحر ُ ْو- Ta‘khużūna
ٌَتأ ْ ُكهُ ْى - ta‘kulūna
3. Hamzah di akhir
ش ْيء
َ - Syai‘un
انَُّ ْى ُء - an-nau‘u
G. Penulisan Kata
Pada dasarnya setiap kata, baik fi‘il, isim maupun huruf, ditulis
terpisah. Bagi kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab yang
sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harakat yang
dihilangkan maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut bisa dilakukan
dengan dua cara, bisa dipisah per kata dan bisa pula dirangkaikan.
Contoh:
َّ َوا ٌَِّ هللاَ نَ ُه َى َخي ُْس
ٍَْانس ِش ِقي - Wa innallāha lahuwa khair ar-rāziqīn
- Wa innallāha lahuwa khairur-rāziqīn
xv
H. Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal,
dalam transliterasi ini huruf tersebut digunakan juga. Penggunaan huruf kapital
seperti apa yang berlaku dalam EYD, diantaranya huruf kapital digunakan
untuk menuliskan huruf awal, nama diri dan permulaan kalimat. Bila nama diri
itu didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap
huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya.
Contoh:
ُ َو َيا ُي َح ًَّدأِْلَّ َز
س ْىل - Wa mā Muhammadun illā rasūl.
Penggunaan huruf awal kapital untuk Allah hanya berlaku bila dalam
tulisan Arabnya memang lengkap demikian dan kalau penulisan itu disatukan
dengan kata lain sehingga ada huruf atau harakat yang dihilangkan, huruf
kapital tidak dipergunakan.
Contoh:
َ َوهللاِ تِ ُك ِّم
ش ْيءٍ َع ِهيْى - Wallāhu bikulli syai‘in ‗alīmun.
xvi
DAFTAR ISI
PENGESAHAN ...................................................................................................... iv
ABSTRAK ............................................................................................................. xx
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang................................................................................. 1
xvii
H. Sistematika Pembahasan ................................................................. 17
MENDATANGKAN MAHABBAH
Purworejo ........................................................................................ 40
xviii
BAB IV ANALISIS PENGGUNAAN AYAT-AYAT MAHABBAH DI
KAB. PURWOREJO
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................. 80
B. Saran ............................................................................................................ 81
xix
ABSTRAK
Dalam kajian al-Qur‘an, saat ini tidak hanya berhenti pada kajian teks saja, akan
tetapi meluas pada kajian al-Qur‘an di tengah masyarakat atau yang disebut
dengan istilah living Qur‘an. Terdapat beberapa tipologi resepsi masyarakat
terhadap al-Qur‘an. Yang pertama resepsi al-Qur‘an sebagai kitab, al-Qur‘an
sebagai seni, al-Qur‘an sebagai bacaan ritual, dan al-Qur‘an dapat memiliki
kekuatan magis. Dalam hal ini, penulis akan melakukan penelitian mengenai
kajian living Qur‘an tentang penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah di
Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo. Penelitian ini berfokus pada macam-
macam penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah di Desa Winong, dan
pemaknaan masyarakat terhadap penggunaan ayat-ayat tersebut. Tujuannya, tentu
untuk mengetahui macam pengamalan dan pemaknaan penggunaan ayat-ayat al-
Qur‘an untuk mahabbah di Desa Winong. Metode penelitian yang digunakan ialah
penelitian lapangan, dengan sumber data primernya berupa hasil wawancara
dengan informan, dan dilengkapi dengan buku-buku, kitab-kitab, atau penelitian
serupa sebagai sumber data sekunder. Mengenai macam-macam ayat al-Qur‘an
yang digunakan sebagai mahabbah oleh masyarakat Desa Winong beserta tata
cara pengamalannya, terdapat sepuluh ayat yang dikategorikan dalam tiga jenis
penggunaan. Pertama, sebagai wasilah penakluk hati yakni QS. Yūsuf: 4, QS.
Thāhā: 39, QS. Ar-Ra‘d: 31, QS. Al-Nisā‘: 84QS. Al-Qalam:1-2, dan QS. Yāsīn:
72,. Kemudian yang kedua, sebagai wasilah mendatangkan kewibawaan, yakni
QS. Saba‘: 10, QS. Yūsuf: 31, dan QS. As-Syurā:. Dan yang ketiga, sebagai
wasilah penglaris dagangan dengan ayat QS. Al-Hajj: 27-28 yang ditulis menjadi
sebuat rajah. Kemudian mengenai makna, dari makna objektif, secara umum
praktik pengamalan tersebut merupakan pembacaan dan pengamalan ayat al-
Qur‘an yang diyakini dapat menghasilkan mahabbah dengan beberapa ketentuan
yakni niat yang baik, ada gurunya, ijazah, puasa, dan keistiqomahan. Makna
eksresif dari pengamalan ini, bahwa pengamalan tersebut dimaknai sebagai
wasilah seseorang dalam berdo‘a, sebagai salah satu bentuk riyadhah, dan juga
sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan makna dokumenter
yang ditangkap oleh penulis bahwa dalam pengamalan ini di Desa Winong ini
diterima baik oleh masyarakat, dan pengamalan ini digunakan sebagai bentuk
bertabarruk kepada orang-orang saleh terdahulu. Dan pengamalan ini merupakan
suatu upaya membentuk kesadaran kepada masyarakat bahwa al-Qur‘an tidak
serta hanya sebuah bacaan tetapi kemukjizatannya masih bisa dirasakan dan
berlaku hingga akhir zaman.
xx
ABSTRACT
In the study of the Qur'an, currently it does not only stop at the study of the text,
but also extends to the study of the Qur'an in society or called as the living Qur'an.
There are several typologies of public reception of the Qur'an. The first is the
reception of the Qur‘an as a book, the Qur‘an as art, the Qur‘an as ritual reading,
and the Qur‘an can have magical powers. In this case, the author will conduct
research on the study of the living Qur'an on the use of verses of the Qur'an for
mahabbah in Winong Village, Kec. Kemiri Kab. Purworejo. This study focuses
on the various uses of the verses of the Qur'an for mahabbah in Winong Village,
and the meaning of the community towards the use of these verses. The purpose
is to find out the kinds of practice and meaning of the use of the verses of the
Qur'an for mahabbah in Winong Village. The research method used is field
research, with the primary data source in the form of interviews with informants,
and equipped with books, holy books, or similar research as secondary data
sources. Regarding the various verses of the Qur'an that are used as mahabbah by
the people of Winong Village and the procedures for their practice, there are ten
verses that are categorized into three types of usage. First, as wasilah conquering
hearts, namely QS. Yusuf: 4, QS. Thāhā: 39, QS. Ar-Ra'd: 31, QS. Al-Nisa':
84QS. Al-Qalam:1-2, and QS. Yāsn: 72,. Then the second, as wasilah brings
authority, namely QS. Saba': 10, QS. Yūsuf: 31, and QS. As-Shura:. And the
third, as wasilah selling merchandise with verse QS. Al-Hajj: 27-28 which is
written as a tattoo. Then regarding the meaning, from the objective meaning, in
general the practice is the reading and practice of the verses of the Qur'an which is
believed to be able to produce mahabbah with several provisions, namely good
intentions, there is a teacher, diploma, fasting, and istiqomah. The aggressive
meaning of this practice is that the practice is interpreted as a person's wasilah in
prayer, as a form of riyadh, and also as a means of getting closer to God. While
the meaning of the documentary captured by the author that in this practice in the
village of Winong is well received by the community, and this practice is used as
a form of bertabarruk to the previous pious people. And this practice is an effort
to create awareness to the public that the Qur'an is not just a reading but its
miracles can still be felt and apply until the end of time.
xxi
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
sebuah kitab suci yang dijadikan pedoman umat Muslim dalam menjalankan
kehidupannya. Mengacu pada sebuah ayat QS. Al-Baqarah: 2. Lafadz hudan li al-
nās, bahwa al-Qur‘an diturunkan sebagai pentunjuk bagi manusia dalam segala
pada kajian teks, namun juga mengalami perkembangan hingga pada kajian teks
Dalam hal ini, al-Qur‘an diinginkan untuk bukan hanya sebagai kitab suci,
namun juga sebuah kitab yang isinya terwujud atau berusaha diwujudkan dalam
―living Qur‟an”, beliau mengatakan bahwa hal tersebut merupakan fenomena atau
atau di berbagai daerah yang dinamis dan variatif. Hal itu dipengaruhi oleh cara
1
Moh Muhtador, ―Pemaknaan ayat al-Quran dalam mujahadah: Studi Living Qur‘an di
PP al-munawwir krapyak komplek al- kandiyas,‖ Jurnal Penelitian 8, no. 1 (Februari 2014). Hal.
95.
2
Abdul Mustaqim, Metode Penelitian al-Qur‟ān dan Tafsir (Yoyakarta: Idea Sejahtera,
2015). Hal. 103.
1
Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia umumnya, terdapat beberapa
kitab atau bacaan. Kedua, al-Qur‘an sebagai seni. Kemudian yang ketiga, al-
Qur‘an sebagai bacaan ritual. Salah satu bentuk bahwa al-Qur‘an tidak bisa
dipisahkan dari campur tangan manusia dan budaya adalah al-Qur‘an dijadikan
sebagai suatu bacaan ritual atau dalam istilah jawa slametan3. Yang mana di
untuk berbagai macam jenis ritual yang ada. Selain itu yang keempat yaitu al-
Salah satu tradisi pra Islam yang masih melekat sampai saat ini adalah
pemujaan pemitosan roh nenek moyang yang mendorong munculnya pola relasi
hukum adat dengan unsur-unsur keagamaan. Oleh sebagian umat Muslim, dalam
pemanfaatan ayat-ayat atau surat dari al-Qur‘an tidak hanya dijadikan sebatas
baru bahwa al-Qur‘an digunakan tidak lagi mengenai makna yang terkandung di
pada penulisannya terkait dengan waktu dan juga model yang tertentu dalam
3
Slametan merupakan salah satu tradisi ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa
sebagai bentuk acara syukuran dengan mengundang beberapa kerabat atau tetangga. Slametan
berasal dari kata slamet (Arab: salamah) yang berarti selamat atau bahagia. Biasanya tradisi
slametan ini dilakukan untuk memperingati berbagai macam hal seperti kelahiran, kematian,
pernikahan, pindah rumah, dan lain sebagainya. Kegiatan yang dilakukan bisa dengan
mengkhatamkan al-Qur‘an, atau pembacaan Surah Yasin bersama, ataupun yang lain. Dan di akhir
acara akan ada sejenis sedekat dari pemilik hajat yang biasa disebut berkat sebagai bentu rasa
syukur dan terimakasihnya.
2
4
penulisannya. Seperti ayat-ayat yang dituliskan untuk dijadikan rajah sebagai
wasilah suatu perlindungan. Atau ada pula ayat-ayat yang dibaca dengan hitungan
tertentu dan waktu tertentu untuk bisa mendatangkan hal-hal yang supranatural.
Dalam hal ini sebuah fenomena praktik masyarakat yang merespon al-
Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo, yakni pengamalan ayat-ayat al-
dari seseorang kepada pengamal ayat tersebut. Bahkan yang menarik dari
pengamalan ini, ternyata dari penuturan salah satu tokoh masyarakat yang
sekaligus menjadi praktisi shohibul ijazah di Desa Winong yakni Kyai Ismail,5
bahwa pengamalan ini tidak hanya terdiri dari saju jenis, melainkan terdapat
mahabbah untuk menarik lawan jenis agar bisa mencintai dirinya. Kemudian
mahabbah yang digunakan oleh orang yang menginginkan usahanya laris. Ada
atau musuh. Dan juga digunakan agar lebih disegani, dipatuhi, atau lebih
4
Rajah atau wifiq merupakan tulisan dari serangkaian huruf-huruf atau kalimat yang
ditulis oleh seorang yang memiliki ilmu hikmah yang membentuk suatu gambar tertentu yang
dipercayai sebagai penyembuh, keselamatan, kesaktian, mahabbah, atau lainnya. Bentuk dan
jenisnya bermacam, ada yang seperti bulatan, segi tiga, atau semacamnya. Kalimat yang tertulis
bisa berupa ayat al-Qur‘an, asma Allah, ataupun huruf-huruf atau angka-anagka secara terpisah.
5
Kiai Ismail, Wawancara melalui via whatsapp. Kalibeber, 31 Mei 2021
3
Berada di zaman yang terus mengalami perkembangan, terutama dalam
hal teknologi dan pengetahuan, fenomena masyarakat yang masih percaya dengan
hal-hal mistis ternyata masih eksis. Semisal yang terjadi di Desa Winong, salah
satunya dalam pengamalan mahabbah. Hal tersebut tentu tidak lepas dari kondisi
B. Rumusan Masalah
4
C. Tujuan Penelitian
Kab. Purworejo.
praktik tersebut.
D. Manfaat Penelitian
Muslim secara umum agar mengetahui ayat-ayat mahabbah dan tata cara
pengamalannya.
E. Kajian Pustaka
dilaksanakan, yaitu mengenai salah satu kajian living Qur‘an tentang penggunaan
5
ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah. Beberapa hasil penelitian sebelumnya
1. Sebuah artikel penelitian di salah satu jurnal The 4th Annual International
Qur‘anic Conference 2014 (Muqoddas IV) April 14-15, 2014 dengan judul
kesehatan. Baik penyakit medis ataupun non medis atau yang berhubungan
mengarah pada ruqyah ataupun obat, akan tetapi lebih terfokus pada
2. Artikel yang terbit dalam sebuah jurnal Khairul vol.8 dengan judul ―Sihir
Tafriq dan Cabaran Rawatannya di Darul Ruqyah‖ yang ditulis oleh Mohd
penyembuhan dari sihir dengan cara yang syar‘iyah yaitu dengan ayat-ayat
6
Ahmad Khadher dan Mohd Farhan Md, ―Terapi Ruqyah Berasaskan Al-Qur‘an: Analisis
Signifikannya dalam Rawatan,‖ The 4th Annual International Qur‟anic Conference 2014
(Muqoddas ) IV (April 2014).
6
al-Qur‘an. Sihir yang dibahas di dalamnya adalah tentang sihir perceraian.
Qur‘an untuk hal-hal ghaib. Yang mungkin sedikit terlihat tidak nalar
penelitian ini adalah objek atau tujuan penelitian ini lebih kepada
Jawa Timur)‖, sebuah tesis karya Ahmad Syauqi Alfanzari, Program Studi
Ilmu al-Qur‘an dan Tafsir, Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan
Syar‘iyyah atau pengobatan suatu penyakit baik penyakit medis atau pun
satu artikel yang sudah tertera di atas, bahwa terdapat kesamaan dari
penelitian ini dengan yang akan dilakukan penulis yaitu mengenai kajian
4. Penelitian yang lain adalah sebuah artikel yang ditulis oleh Anwar
7
Mohd Suhaimi, Khairul Hamimah, and Mohamad Afifuddin, ―Sihir Tafriq Dan Cabaran
Rawatannya Di Darul Ruqyah,‖ Jurnal Khairul 8, no. 2 (n.d.).
8
Ahmad Syauqi Alfanzari, ―Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an sebagai Obat (Studi Living
Qur‘an Di Ma‘had Tahfidzul Qur‘an Bahrusysyifa‘ Bagusari Jogotrunan Lumajang Jawa Timur)‖
(Tesis, Surabaya, UIN Sunan Ampel, 2018).
7
Kehidupan Masyarakat Ponorogo‖ yang terbit dalam sebuah jurnal
Kalam: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Volume 10, Nomor 1,
Ritual Rebo Wekasan (Studi Living Qur‟an di Desa Sukoreno Kec. Kalisat
hari di mana Allah akan menurunkan ratusan bala‘. Maka dalam tradisi
jawa akan dilakukan suatu ritual tetentu sebagai tolak bala‘. Sebagaimana
9
Anwar Mujahidin, ―Analisis Simbolik Penggunaaaan Ayat-Ayat Al-Qur`an Sebagai
Jimat Dalam Kehidupapan Masyarakat Ponorogo,‖ Kalam 10, no. 1 (2017): 43.
8
membahas kajian Living Qur‘an yaitu penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an di
6. Sebuah artikel dengan judul ―Living Qur‘an: Studi Kasus Pembacaan al-
Rokan Hulu, yang termuat dalam Jurnal Syahadah Vol. IV, No. 2 Oktober
edisi April 2017. Antara penelitian ini dengan penelitian yang akan
10
Umi Nuriyatur Rohmah, ―Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Dalam Ritual Rebo
Wekasan Studi Living Qur‘an Di Desa Sukoreno Kec. Kalisat Kab. Jember,‖ Al-Bayan: Jurnal
Ilmu Al-Qur‟an Dan Hadist 1, no. 1 (2018): 66–91.
11
Syahrul Rahman, ―Living Qur‘an: Studi Kasus Pembacaan al- Ma‘tsurat Di Pesantren
Khalid Bin Walid Pasir Pengaraian Kab. Rokan Hulu,‖ Jurnal Syahadah IV, no. 2 (2016): 49–71.
9
dilakukan penulis. Dalam artikel ini menjelaskan mengenai praktisi ruqyah
mahabbah. 12
8. Sebuah tesis karya Anshori dengan judul yang mirip yakni ―Penggunaan
Qur‘an dan Tafsir Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Selain itu juga ia lebih melakukan penelitian mengenai dampak dan juga
tertentu untuk mahabbah. Dan dalam hal ini penulis bermaksud melakukan
penelitian yang serupa namun lebih mengarah kepada makna umum dari
12
Ahmad Farhan, ―Studi Living Al-Qur‘an Pada Praktek Qur‘anic Healing Kota
Bengkulu (Analisis Deskriptif Terhadap Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an),‖ Refleksi 16, no. 1
(April 207AD).
13
Anshori, ―Penggunaan Ayat-Ayat Al- Qur‘ān Sebagai Mahabbah‖ (Tesis, Surabaya,
Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel, 2019).
10
9. ―Karomahan” (Studi Tentang Pengamalan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Dalam
atau mahabbah, untuk tenaga dalam untuk ruqyah dan lain sebagainya.
Dalam hal ini kesaamaan antara penelitian ini dengan yang akan dilakukan
kegiatan atau tradisi oleh masyarakat yang menjalankan. Akan tetapi yang
10. Sebuah skripsi karya Memori Tutiana dengan judul ―Fenomena Ziarah
Dalam penelitian ini dilakukan suatu studi living Qur‘an di Desa Sukarami
kesaan antara penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis lakukan
masyarakat. Hanya saja dalam hal ini terda[pat perbedaan pada objek yang
14
M. Assyafi‘ Syaikhu Z, ―Pengamalan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Dalam Praktek Karomahan
Di Padepokan Macan Putih Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk‖ (Skripsi, Surakarta, IAIN,
2017).
11
akan diteliti adalah mengenai pengguanaan ayat-ayat al-Qur‘an untyk
mahabbah.
bagaimana cara manusia memaknai al-Qur‘an itu sendiri dan bagaimana cara
ayat al-Qur‘an dan tujuan dalam mengamalkan ayat al-Qur‘an untuk mahabbah.
oleh masyarakat.
F. Kerangka Teori
Dalam suatu kehidupan sosial tentu tidak lepas dari tradisi-tradisi yang
telah diwariskan oleh para pendahulu yang hingga sekarang masih ada. Manusia
Bisa saja manusia mengubah pola pikir yang telah dianutnya berdasarkan
pemikirannya sendiri atau dipengaruhi oleh pihak lain. Dari hal tersebut dapat
15
Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Kebudayaan (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2006). Hal. 49.
12
kesadaran. Fenomenologi mencari pemahaman sesorang dalam membangun
tentang suatu konsep atau gejala. Fenomenologi berusaha melihat budaya lewat
Dalam kajian ini termasuk dalam kategori kajian yang lebih tertuju pada
dikenal dengan istilah studi living Qur‟an. Menurut Abdul Mustaqim dalam
Qur‘an dalam ruang sosial atau di berbagai daerah yang dinamis dan variatif. Hal
itu dipengaruhi oleh cara berpikir, kondisi sosial dan konteks yang mengitari
kehidupan mereka.17
oleh dua dimensi yaitu perilaku dan makna. Maka dalam memahami perilaku
perilaku eksternal yang dalam hal ini berupa praktek penggunaan aya-ayat al-
Makna suatu perilaku dalam tindakan sosial menurut Karl Manheim dibedakan
menjadi tiga macam yakni: Pertama, makna objektif, yaitu makna yang
ditentukan oleh konteks sosial di mana tindakan berlangsung atau disebut juga
dengan makna dasar (makna asli). Kedua, makna ekspresif, yakni makna yang
diatributkan pada tindakan oleh aktor atau makna dari setiap aktor (pelaku). Dan
16
Endraswara. Hal. 42.
17
Mustaqim, Metode Penelitian al-Qur‟ān dan Tafsir. Hal. 103.
13
ketiga, makna dokumenter, atau sering dipahami sebagai makna tersirat, suatu
G. Metode Penelitian
suatu penelitian dapat terlaksana secara terarah dan mencapai hasil yang optimal.
Hal ini merupakan hal terpenting untuk menghasilkan penelitian yang diiginkan.
a. Jenis Penelitian
Dalam penelitian kali ini, jenis penelitian yang akan penulis gunakan
Penelitian ini dilakukan secara langsung di Desa Winong, Kec. Kemiri Kab.
Purworejo.
yang akan menjadi fokus penilian ini adalah mengenai praktik penggunaan
18
Gregory Baumm, Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan
Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana,
1999). Hal. 15.
14
b. Sumber Data
1) Pengamatan (Observasi)
19
Sahiran Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur‟ān Dan Hadis (Yogyakarta: TH
Press, 2007). Hal. 57.
15
Adapun observasi yang akan penulis gunakan adalah observer
berperan pasif. Dalam hal ini peneliti mendatangi peristiwa, akan tetapi
mendatangkan Mahabbah.
2) Wawancara (Interview)
daerah [Link] mana dari mereka akan dapat diketahui makna ayat-
berbagai kalangan.
16
pelaksanaan penelitian. Adapun langkah-langkah dalam metode analisis data
1) Reduksi Data, yakni merangkum, memilih hal pokok, fokus pada hal
penting, mencari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu
terhadap isi data yang berasal dari lapangan sehingga melahirkan data
reduksi dengan sederhana dalam bentuk naratif, tabel, matrik, dan grafik
3) Verifikasi dan Simpulan, yakni suatu hasil dari bukti-bukti yang valid
di lapangan.24
H. Sistematika Pembahasan
Bab pertama, yaitu pendahuluan. Dalam bab ini terdapat latar belakang,
22
Sugiyono. Hal. 338.
23
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D). Hal. 341.
24
Sugiyono. Hal. 345.
17
Bab kedua, berisi tentang kerangka teori. Dalam bab ini menjelaskan
penelitian ini. Dalam bab ini memaparkan mengenai pemaknaan masyarakat Desa
Winong terhadap ayat-ayat mahabbah dan juga analisis sosial terhadap praktik
tersebut.
Bab kelima, yaitu bagian terakhir adalah penutup yang berisi kesimpulan
dan saran-saran. Dalam bab ini dijelaskan mengenai kesimpulan dan juga
18
BAB II
Qur‘an.
kitab. Sebagai kitab maka al-Qur‘an paling banyak tampak sebagai sesuatu
Akan tetapi al-Qur‘an sebagai kitab suci yang berisi firman Allah
kitab (al-Qur‘an) ini tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi
25
Heddy Shri Ahimsa Putra, ―The Living Qur‘an: Beberapa Perspektif Antropologi,‖
Walisongo 20, no. 1 (Mei 2012). Hal. 242.
19
orang-orang yang bertaqwa‖. Ayat ini dengan jelas dan tegas mengatakan
bahwa al-Qur‘an adalah kitab yang berisi petunjuk. Petunjuk adalah segala
sesuatu yang dapat membawa manusia kepada sesuatu yang baik atau yang
membuat seorang individu sampai pada suatu keadaan yang baik dan benar.26
Sebuah kitab yang diturunkan oleh Allah secara mutawatir kepada Nabinya
berisi petunjuk, perintah, larangan dan anjuran, tetapi juga berisi berbagai
pengetahuan, dan kalau kitab ini diyakini berasal dari Allah SWT. Terdapat
para ahli sejarah, pengetahuan masa kini, maupun pengetahuan akan masa
mendatang.28
konteks masa kini, informasi yang perlu dicari dalam al-Qur‘an terutama
26
Putra. Hal. 243.
27
Abdul Latif, ―Al- Qur‘an sebagai Sumber Hukum Utama,‖ Jurnal Hukum dan Keadilan
4, no. 1 (Maret 2017). Hal. 68.
28
Putra, ―The Living Qur‘an: Beberapa Perspektif Antropologi.‖ Hal. 244.
20
bermasyarakat. Jadi pengetahuan di sini adalah pengetahuan yang
dilaksanakan oleh umat Islam. Dan sebagai sumber pengetahuan masa depan
maksudnya bukan hanya dalam arti tahun-tahun yang akan datang, tetapi
Posisi al-Qur‘an sebagai seni merupakan salah satu salah satu bentuk
berkembangnya seni kaligrafi dan juga seni dalam membaca al-Qur‘an atau
dikenal di Indonesia dengan istilah qira‘ah. Bahkan hingga saat ini banyak
arab sendiri menyebutnya khath yang berarti garis atau tulisan indah.30
yang tidak perlu di tulis, mengubah ejaan yang perlu di qubah an menentukan
29
Putra. Hal. 248.
30
Dahrun Sarif, ―Pengaruh Al Qur‘an Terhadap Perkembangan Kaligrafi Arab,‖ Jurnal
ETNOHISTORI 3, no. 2 (2016). Hal. 164.
31
Maryono, ―Kaligrafi Al-Qur‘an di Desa Borobudur: Kajian Living Qur‘an,‖ Wahana
Islamika: Jurnal Studi KeIslaman 3, no. 1 (April 2017). Hal. 46.
21
menjadi bentuk ornamental (hiasan) khusus. Kaligrafi al-Qur‘an tidak hanya
gedung atupun rumah yang memiliki nilai seni tersendiri. Resepsi masyarakat
sebagai salah satu wasilah mendekatkan diri pada Yang Kuasa, ada yang
merupakan suatu ibadah sunnah yang memilki keutamaan. Seni baca al-
irama dan lagu atau dengan kata lain nagham, dapat dikategori sebagai jenis
Handasah al-shaut atau seni suara. Qira‘ah merupakan salah satu seni baca al-
pendengar di setiap sudut dunia Islam yang paling merasuk dalam budaya
Islam.33
tartil.‖ (QS. Al-Muzammil: 4), yang artinya bacalah al-Qur‘an secara tenang,
murottal memfokuskan pada dua hal utama yaitu kebenaran bacaan dan lagu
Al-Qur‘an. Lagu dalam seni baca Al-Qur‘an harus tunduk dan sesuai kaidah-
kaidah tartil yang tertuang dalam disiplin ilmu tajwid serta makhrojul huruf
32
Maryono. Hal. 55-57.
33
Suryati, ―Ornamentasi Seni Baca Al-Qur‘an dalam Musabaqoh Tilawatil Qur‘an
sebagai Bentuk Ekspresi Estetis Seni Suara,‖ Resital 17, no. 2 (Agustus 2016). Hal. 68.
22
yang benar.
Musabaqoh Tilawatil Qur‘an (MTQ) dari jenis bacaan tartil, murottal, dan
Qiro‘ah (mujawwad) yang secara rutin diadakan baik dari tingkat daerah
antropologi sebagai upacara lingkaran hidup (rites of the life cycle), yaitu
suatu upacara makan bersama makanan yang telah diberi doa sebelum dibagi-
bagikan. Slametan ditujukan agar tidak ada gangguan apa pun di dalam
dan supranatural.35
pindah rumah, dan lain sebagainya. Kegiatan yang dilakukan bisa dengan
23
yang lain. Dan di akhir acara akan ada sejenis sedekah dari pemilik hajat yang
biasa disebut berkat36 sebagai bentuk rasa syukur dan terimakasihnya. Tujuan
dari ritual ini adalah untuk meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa.
tahlilan38 yang rutin dijalankan oleh sebagian masyarakat Jawa pada tiap
malam Jum‘at atau di saat ada orang yang meninggal dari hari pertama
hingga hari ke tujuh dari kematian. Ada pula dilaksanakan ketika seseorang
memiliki hajat tertentu. Pembacaan Surah Yasin dan Tahlil secara bersama ini
menjadi suatu ritual masyarakat muslim Jawa dengan tujuan dzikir atau
ayat al-Quran apabila dibaca secara rutin dan konsisten, baik waktu dan
amaliyah atau wirid yang terus menerus dibaca secara konsisten maupun
sebagai rajah.
kalimat yang ditulis oleh seorang yang memiliki ilmu hikmah yang
36
Berkat berasal dari bahasa Arab barokah adalah salah satu bentuk sedekat atau ucapan
terimakasih dari pemilik hajat kepada yang telah hadir dan turut mendoakan yang biasanya berupa
makanan. Dinamakan berkat karena makanan tersebut dianggap memiliki berkah tersendiri.
37
Yasinan yakni pemabacaan surah yasin secara bersama-sama yang dilakukan oleh
masyarakat. Biasanya menjadi rutinitas yang dilakukan pada setiap malam Jum‘at, di mana
ditujukan untuk mendoakan orang yang telah meninggal.
38
Tahlilan yaitu serangkaian bacaan yang berupa ayat-ayat al-Qur‘an dan juga dzikir
yang dibaca secara bersama, yang juga termasuk dalam ritual selametan. Kata tahlīl ()ْل انه اْل هللا
yang merupakan bacaan inti dari tradisi ritual ini.
24
membentuk suatu gambar tertentu yang dipercayai sebagai penyembuh,
bermacam, ada yang seperti bulatan, segi tiga, atau semacamnya. Kalimat
yang tertulis bisa berupa ayat al-Qur‘an, asma Allah, ataupun huruf-huruf
Dalam hal ini, baik secara bacaan maupun tulisan beberapa ayat al-
Seperti ayat al-Qur‘an yang dapat dijadikan sebagai salah satu sarana
tertentu. Seperti contoh yang telah ada sejak zaman Rasululah, beliau
menjadikan ayat-ayat suci al-Quran sebagai terapi atau yang populer dengan
sebutan ruqyah. Misalnya, Nabi SAW pernah ditimpa kesakitan dan baginda
yang sama juga pernah dilakukan oleh ‗A‘isyah ketika beliau membantu
kesakitan yang dihadapi oleh Nabi SAW. Selepas itu beliau telah
'A'isyah RA.41
untuk beramal dengan surah-surah dan ayat-ayat tertentu bagi tujuan untuk
39
Mujahidin, ―Analisis Simbolik Penggunaaaan Ayat-Ayat Al-Qur`an Sebagai Jimat
Dalam Kehidupapan Masyarakat Ponorogo.‖ Hal. 45.
40
Al-Mu‗awwiżāt adalah merujuk kepada kombinasi tiga surah dalam al-Quran iaitu
surah al-Ikhlas, surah al-Falaq dan surah al-Nās.
41
Ahmad Khadher dan Farhan Mohd, ―Terapi Ruqyah Berasaskan Al-Qur‘an: Analisis
Signifikannya Dalam Rawatan,‖,‖ The 4th Annual International Qur‟anic Conference 2014
(Muqoddas ) 4 (April 2014). Hal. 3.
25
perlindungan diri daripada terkena penyakit sama ada penyakit fizikal
dengan ayat 255 surah al-Baqarah atau dikenali sebagai ayat Kursi dengan
menetap di sana. Pada tahun 1929 ia menjadi guru besar di Frankfurt. Ketika di
dari Frankfurt, sehingga ia pergi ke Londin. Di tahun 1946, ia menjadi guru besar
pengetahuan. Dalam hal ini, Karl Mannheim memberikan suatu perspektif teoritik
dan metodologis tentang semesta realitas, termasuk agama. Sebagai sebuah teori,
manusia.44
42
Khadher dan Mohd. Hal. 4.
43
Hamka, ―Sosiologi Pengetahuan: Telaah atas Pemikiran Karl Mannheim,‖ Scolae:
Journal of Pedagogy 3, no. 1 (2020). Hal. 77.
44
Hamka. Hal. 78.
26
dan paradigma modern (posivisme). Ilmu penetahuan, tepatnya ilmuan atau
teoritikus, observers, pemikir, dan lainnya, tisdak lepas dari sebuah setting lokasi
realitas ilmu-ilmu sosial yang mengadopsi ilmu-ilmu alam baik dalam teori,
metodologi maupun epistimologi yang pada saat itu ilmu alam melalui metodologi
pengetahuan manusia bersifat subjektif dan tidak bebas nilai. Pengetahuan tidak
akan pernah lepas dari subjektivitas individu yang mengetahui. Latar belakang
pengetahuan.46
tidak ada cara berpikir yang dapat dipahami jika asal-usul sosialnya belum
mainkan.47
dimensi yaitu perilaku dan makna. Maka dalam memahami perilaku sosial
45
Gregory Baumm, Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan
Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow. Hal. ix.
46
Amin Abdullah, Agama, Kebenaran, dan Relativitas (Yogyakarta: Tiara Wacana,
1999). Hal. xix.
47
Gregory Baumm, Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan
Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow. Hal. 8.
27
diperlakuakn pengkajian atau analisis dalam hal: a) Mengkaji mengenai perilaku
eksternal yang dalam hal ini berupa praktek penggunaan aya-ayat al-Qur‘an untuk
dibedakan menjadi tiga macam yakni: Pertama, makna objektif, yaitu makna yang
ditentukan oleh konteks sosial di mana tindakan berlangsung atau disebut juga
dengan makna dasar (makna asli). Kedua, makna ekspresif, yakni makna yang
diatributkan pada tindakan oleh aktor atau makna dari setiap aktor (pelaku). Dan
ketiga, makna dokumenter, atau sering dipahami sebagai makna tersirat, suatu
Makna dokumenter inilah kemudian yang menjadi minat para sosiolog, bahwa
dalam hal ini menerapkan beberapa norma dalam pernyataan mereka tentang
proses sosial serta melihat konflik antara nilai kemanusiaan dan destruksinya
dalam masyarakat. 49
mengatur bahwa semua pengetahuan secara sosial tidak bisa berdiri sendiri,
dibatasi oleh lokasi pemikir, dan alasan-alasan dari hal ini terletak pada relativitas
yang tidak bisa dihindari dari semua kebenaran manusia. Sedangkan relasionisme
48
Gregory Baumm. Hal. 14.
49
Gregory Baumm. Hal. 15.
28
C. Kajian Living Qur’an
terkait langsung ataupun tidak langsung dengan al-Qur‘an sudak ada sejak
pengabdian kepada al-Qur‘an. Pada masa awal, belum begitu banyak cabang
cabang ilmu al-Qur‘an ini lebih terkonsentrasi pada aspek internal maupun
istilah yang tidak asing lagi bagi masyarakat Muslim. Terdapat berbagai
mana diyakini bahwa akhlak beliau adalah al-Qur‘an. Selain itu, ungkapan
tersebut juga bisa tertuju kepada masyarakat yang selalu berpedoman pada al-
keseharian mereka.51
50
M Mansur, Living Qur‟an dalam Lintasan Sejarah Studi Al-Qur‟an, Metodologi
Penelitian Living Qur‘an dan Hadis (Yogyakarta: Teras, 2007). Hal. 5.
51
Putra, ―The Living Qur‘an: Beberapa Perspektif Antropologi.‖ Hal. 236.
29
Secara garis besar, terdapat beberapa genre dan objek kajian dalam
tegambar jelas sejak zaman Rasulullah dan juga para sahabat. Sudah sejak
bukunya bahwa kajian living Qur‟an merupakan kajian atau penelitian ilmiah
52
Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Living Qur‟an Model Penelitian Kualitatif,
Metodologi Penelitian Living Qur‘an dan Hadis (Yogyakarta: Teras, 2007). Hal. xii-xiv.
53
Muhammad Yusuf, Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an, Metodologi
Penelitian Living Qur‘an dan Hadis (Yogyakarta: Teras, 2007). Hal. 43.
30
keberadaan al-Qur‘an di tengah masyarakat Muslim tertentu. Penelitian ini
sebenarnya bermula dari fenomena Qur‟an in everyday life, yakni makna dan
Qur‘an sebagai objek kajiannya, kajian living Qur‟an yang objek kajiannya
langsung dalam hal penafsiran al-Qur‘an. Akan tetapi, pada tahap lanjut, hasil
studi sosial al-Qur‘an dapat memberikan manfaat bagi agamanya untuk dapat
dievaluasi dan ditimbang bobot manfaat dan madlarat dari beragai praktek
Selain itu, living Qur‟an juga dapat diartikan sebagai fenomena yang
kajiannya. Bisa dikatakan bahwa hal ini terjadi karena munculnya praktek
penelitian ini lebih memberikan fokus pada respon masyarakat terhadap al-
54
Mansur, Living Qur‟an dalam Lintasan Sejarah Studi Al-Qur‟an. Hal. 5.
55
Mansur. Hal. 4.
56
Mansur. Hal. 4
31
semacam ini merupakan suatu bentuk penelitian yang menggabungkan antara
dalam hal hidup dan menghidupkan al-Qur‘an oleh masyarakat, dalam arti
respon sosial (realitas) itu dapat dikatakan sebagai living Qur‟an. Baik al-
Qur‘an dilihat masyarakat sebagai ilmu (science) dalam wilayah profan (tidak
keramat), juga di sisi lain sebagai suatu petunjuk (hudā) yang memiliki nilai
sakral (sacred value). Dari kedua sisi inilah kemudian memunculkan suatu
pada aspek normatif dan dogmatif, akan tetapi juga menyangkut pada kajian
hakikat agama sebagai fenomena empiris dari struktur suatu fenomena yang
57
Sahiron Syamsudin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis (Yogyakarta:
Teras, 2007). Hal. xiv
58
Yusuf, Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an. Hal. 36-37.
59
Bukan dalam pengertian psikologis yang merupakan suatu keinginan yang menggebu,
melainkan sebatas dorongan fisik untuk melakukam suatu tindakan.
60
Yusuf, Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an. Hal. 52.
32
adanya penggabungan dua cabang ilmu yaitu ilmu Al-Qur‘an dengan cabang
dalam Islam, akan tetapi dalam kajian ini akan lebih mengedepankan
yang lain.
Living Qur‘an, sebab objek kajian yang sedang penulis kaji berkaitan erat
mendekati makna yang sebenarnya dari gejala objek yang sedang diteliti
melalu jiwa atau kesadaran objek itu sendiri.63 Pendekatan ini membiarkan
61
Syamsudin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis. Hal. Xiv.
62
Yusuf, Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an. Hal. 50.
63
Mohammad Sodik, Pendekatan Sosiologi (Yogyakarta: Lembaga Penelitan UIN SUKA
Yogyakarta, 2006). Hal. 78.
33
objek membicarakan dirinya sendiri dengan ada adanya, tanpa adanya
tertentu.64
saja. Jika selama ini kesan tafsir dipahami hanya berupa teks grafis (kitab
atau buku) saja, maka dari sini makna tafsir dapat diperluas. Tafsir bisa
berupa respon atau praktik perilaku suatu masyarakat yang diinspirasi dari
Qur‘an.65 Di mana dalam penelitian ini lebih menekankan pada aspek respon
everyday.66
Arti penting lainnya yakni bahwa kajian living Qur‘an juga dapat
64
Robet Bog dan Steven J Taylor, Pengantar Metodologi Kualitatif, terj. Arif Furchan
(Surabaya: Usaha Nasional, 1992). Hal. 35.
65
Mustaqim, Metode Penelitian Living Qur‟an Model Penelitian Kualitatif. Hal. 68.
66
Dinyatakan Alford T Weltc di kalangan sarjana Barat sekarang, kajian al-Qur‘an
berkembang tidak hanya pada wilayah kajian teks saja atau exegesis (tafsir), tetapi juga pada
wilayah the history of the interpretastion of the Qur‘an dan the role of the Qur‘an recitation, pada
aspek ketiga itulah objek kajian living Qur‘an. Mustaqim. Hal. 68
67
Mustaqim. Hal. 69
34
kepentingan supranatural, yang mereka sendiri kurang memahami apa pesan
atau kandungan dari ayat tersebut, maka dari sini dapat mengajak dan
kajian Qur‘an tidak hanya terpaku pada kajian teks saja. Pada kajian living
Qur‘an ini kajian tafsir akan lebih banyak memberikan apresiasi terhadap
respon masyarakat pada ak-Qur‘an, sehingga tafsir tidak lagi bersifat elitis,
pada aspek normatif dan dogmatif, akan tetapi juga menyangkut pada kajian
hakikat agama sebagai fenomena empiris dari struktur suatu fenomena yang
68
Mustaqim. Hal. 70
69
Yusuf, Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an. Hal. 52.
35
adanya penggabungan dua cabang ilmu yaitu ilmu Al-Qur‘an dengan cabang
70
Syamsudin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis. Hal. Xiv.
71
Endraswara, Metodologi Penelitian Kebudayaan. Hal. 42-43.
72
Dimaksudkan agar peneliti dapat dalam, tidak melalui proses yang misterius oleh para
ahli, antara lain Black dan Champion, Kerlinger, Dhavamoni, Moleong, dsb. Dibedakan menjadi
tiga macam partisipasi, yaitu secara lengkap, secara fungsional, dan sebagai pengamat. Mustaqim,
Metode Penelitian Living Qur‟an Model Penelitian Kualitatif. Hal. 52.
73
Endraswara, Metodologi Penelitian Kebudayaan. Hal. 49.
36
Terkait dengan studi agama, makna istilah fenomenologi tidak pernah
para peneliti dan filosof satu abad terakhir ini. Meskipun secara teologis dan
metodologi yang koheren bagi studi agama. Begitu juga fenomenologi lahir
dan diterapkan dalam studi agama sebagai suatu metode penelitian ilmiah
religius.75
74
Nurma Ali Ridlwan, ―Pendekatan Fenomenologi dalam Kajian Agama,‖ Komunika 7,
no. 2 (Desember 2013). Hal. 5.
75
Abdul Mujib, ―Pendekatan Fenomenologi dalam Studi Islam,‖ Al-Tadzkiyyah: Jurnal
Pendidikan Islam 6 (November 2015). Hal. 168
37
menyesuaikan prosedur-prosedur epoche (penundaan penilaian-penilaian
yang dialami oleh pemeluk agama, apa yang dirasakan, diakatakan dan
ritual, seremonial, doktrin, atau relasi sosial bagi dan dalam keberagamaan
makna secara jelas tentang apa yang yang disebut dengan perilaku
keagamaan.78
76
Farhanuddin Sholeh, ―Penerapan Pendekatan Fenomenologi dalam Studi Agama Islam
(Kajian terhadap buku karya Annemarie Schimmel; Deciphering the Signs of God: A
Phenomenological Approach to Islam),‖ Jurnal Qolamuna 1, no. 2 (Februari 2016). Hal. 350-
351.
77
Ridlwan, ―Pendekatan Fenomenologi dalam Kajian Agama.‖. Hal. 5.
78
Mujib, ―Pendekatan Fenomenologi dalam Studi Islam.‖ Hal. 169.
38
Dari berbagai uraian di atas dapat diketahui bahwa dalam hal ini
pendekatan ini hanya akan menangkap sisi dari pengamalan masyarakat atau
39
BAB III
1. Kondisi Geografis
yang sebagian besar merupakan persawahan. Batas desa dari desa ini adalah,
(RW) dan 9 Rukun Tetangga (RT) dan terdapat 825 Kepala Keluarga.
Pelem, Dusun Trukan, Dusun Krajan, Dusun Santren, dan Dusun Jurang.
79
―Profil Desa dan Kelurahan bagi Desa dan Kelurahan se Kabupaten Purworejo Desa
Winong,‖ 2019, Kantor Kelurana Desa Winong.
40
2. Keadaan Demografi
Dilihat dari sisi usia, warga Desa Winong masih didominasi oleh usia
produktif yakni usia 15-64 tahun sebesar 69% dengan jumlah 1782 orang.
Jumlah usia <15 tahun terhitung 21% yakni sejumlah 541 orang, dan usia
lansia hanya 10% sebanyak 257 orang. Adanya jumlah penduduk usia muda
atau usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia anak-anak dan lansia,
petani. Hal tersebut ditunjang dengan keadaan wilayah yang memiliki luas
80
―Buku Induk Kependudukan Desa Winong,‖ 2021, Kantor Kelurahan Desa Winong.
41
kelurahan, ditemukan jumlah warga yang bermata pencaharian sebagai petani
Sedang pekerjaan yang lain yakni meliputi buruh harian sebanyak 261
orang, wiraswasta 221 orang, sebagai karyawan 191 orang, berprofesi sebagai
Sedangkan untuk pelajar sebanyak 386 orang, dan lainnya merupakan ibu
rumah tangga, lansia, atau anak-anak yang belum sekolah. Dari data tersebut
oleh petani.81
kebersamaan juga semangat gotong royong dan saling membantu satu sama
lain. Dapat ditemukan saat ada salah satu masyarakat yang memiliki hajatan,
masyarakat setempat secara suka rela akan turut serta membantu dalam
dalamnya. Dan masih banyak hal-hal lain dari Desa Winong yang
81
―Buku Induk Kependudukan Desa Winong.‖
42
nilai-nilai budaya kemasyarakatan masyarakat Desa Winong mencerminkan
cita-cita utama dalam pandangan hidup orang Jawa. Yan dimaksud dengan
selamat yakni terhindar dari bencana, aman, sehat, bahagia, sejahtera lahir
5. Kondisi Keagamaan
Terlihat juga di dalamnya, yang mana banyak kiai ataupun ulama yang
itu juga terdapat banyak majlis taklim dan lembaga-lembaga pengajar al-
Qur‘an yang terdapat di Desa Winong. Akan tetapi dalam hal keagamaan,
masyarakat Desa Winong juga masih memercayai hal-hal yang berbau mistik
yang memang sudah ada sejak masa nenek moyang. Tidak jarang dari mereka
yang masih menggunakan rajah sebagai pelindung, atau lainnya. Atau dengan
magis. Akan tetapi dalam hal mistik ini, oleh para kiai desa dapat dikemas
Winong seperti yasinan dan tahlilan di setiap malam Jum‘at atau di saat ada
salah seorang warga yang meninggal selama tujuh hari setelahnya. Ada juga
82
Nur Ali Hakam (Perangkat Desa), wawancara, 28 September 2021.
43
rutinan selapanan yang dilakukan setiap selapan hari83 sekali dengan diisi
setiap masjid yang ada di Desa Winong dengan diikuti oleh seluruh warga
baik laki-laki ataupun perempuan. Selain itu, terdapat juga rutinan pembacan
sholawat al- Barzanji pada tiap malam Jum‘at ba‘da Isya. Terdapat pula
6. Kondisi Pendidikan
masyarakat Desa Winong belum begitu tinggi. Terdapat 934 orang dengan
lulus pendidikan tingkat sekolah dasar, 515 orang dengan lulus pendidikan
tingkat SLTP, 464 orang lulus tingkat SLTA, 73 orang di tingkat D III dan
mulai dari tingkat PAUD hingga jenjang menengah atas. Dari pendidikan
formal, Desa Winong juga memiliki lembaga pendidikan non formal berupa
83
Selapan merupakan hitungan jawa yang berarti tiga puluh lima hari, karena dalam
pasaran Jawa terdapat lima pasaran yakni, pon, wage, kliwon, legi, dan pahing, dengan nama hari
yang berjumlah tujuh. Sehingga hitungan selapan adalah tiga puluh lima hari.
84
Observasi lembaga pendidikan di Desa Winong, 10 Oktober 2021
85
―Buku Induk Kependudukan Desa Winong.‖
44
pondok pesantren. Terdapat tiga pondok pesantren yang ada di Desa Winong,
pesantren, API Winong Pusat, API 2 Winong, dan API Kanzul Ulum,
tinggi, tidak pasti menjamin mendapatkan pekerjaan yang tetap. Para orang
tua juga menganggap bahwa mereka dengan hanya lulusan sekolah dasar juga
86
Observasi lembaga pendidikan di Desa Winong, 10 Oktober 2021
87
Hakam (Perangkat Desa), wawancara.
45
merupakan salah satu pilar utama dalam pembentukan peradaban manusia.88
warga Desa Winong, ditemukan beberapa jenis atau tipologi penggunaan ayat-
Penakluk Hati
a. QS. Yūsuf : 4
Pada QS. Yusuf: 4 ini adalah ayat yang memang khusus ditujukan
88
Denny Kodrat, ―Urgensi Perubahan Pola Pikir dalam Membangun Pendidikan
Bermutu,‖ Jurnal Kajian Peradaban Islam 2, no. 1 (2019).
46
terlanjur terkena89 mahabbah tersebut, ia akan terus memiliki rasa cinta
disertai puasa dan ada juga yang tidak. Kiai Ismail menjelaskan, setelah
membaca ayat tersebut, tepat sesudah lafadz ٌَِْ ِى ًْ ع ِج ِذ kemudian
jabang bayi ini boleh juga diganti dengan nama yag akan dituju, semisal
bayi memang suatu kata yang sudah turun temurun di dalam adat Jawa,
boleh jika kemudian diganti dengan nama seseorang. Boleh juga tidak
ada beberapa cara penyebutan nama seseorang yang akan dituju tersebut.
Ada yang seperti di atas, setelah lafadz ٌَِْ ِى ًْ ع ِج ِذmenyebut “(sopo) welas
asih maring isngsun”. Ada pula yang menyebut setelah lafadz ٌَِْ ِى ًْ ع ِج ِذ
dengan “(sopo) sujud marang ingsun”. Selain itu, terdapat pula yang
89
Maksud terkena adalah amalan mahabbah tersebut telah sampai kepada seseorang yang
dituju, sehingga ia benar-benar tumbuh rasa cinta dalam dirinya kepada orang yang mengamalkan
mahabbah tersebut.
90
Artinya ―bayi siapa akan berbelas kasih kepadaku‖
91
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021, Desa Winong.
47
mengamalkan dengan cara setelah lafadz ًْ “ ِىkedue ingsun”92 ٌَِْ ع ِج ِذ
yang hendak dijutu dengan kalimat di atas, lalu dilanjut dengan membaca
disertai dengan puasa, maka ayat ini diamalkan dengan dibaca 41x
amalan ini, beliau dapatkan langsung dari gurunya yakni Almarhum Kiai
menurutnya bisa menjadikan mahabbah pada orang lain yang dituju jika
92
Artinya ―kepadaku‖
93
Artinya ―Sujudlah kepadaku‖
94
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.
48
dilakukan dengan niat yang baik. Jika diniatkan untuk hal yang kurang
baik, atau hanya untuk main-main saja, secara kebetulan ada sesuatu
sampai.95 Ia menuturkan:
Ayat ini merupakan salah satu ayat mahabah yang ampuh menurut
istilah Kiai Ismail. Banyak para Kiai yang menggunakan ayat ini untuk
diijazahkan saat ada warga yang meminta ijazah kepadanya untuk tujuan
95
Akrom Mahmud, Wawancara, 29 November 2021, Desa Winong.
96
Artinya, ―Tamu yang datang meminta ijazah mahabbah itu biasanya saya ijazahkan
surat Yusuf ini. Mereka saya minta untuk puasa juga. Kebanyakan itu dari pemuda yang sudah
ingin menikah. Alhamdulillah jadi. Satu atau bulan setelahnya biasanya memberi kabar kepada
sya bahwa jadi menikah dengan orang yang dimahabbahinya. Dari keseluruhan yang memohon
ijazah dengan saya kirapkira ada 10 orang setiap bulan. Itu kira-kira setengahan antara orang sini
(Winong) dan luar Winong.
49
b. QS. Thāhā:39
Ayat ini juga termasuk salah satu ayat yang dipercaya dapat
menjadi suka. Namun dalam hal ini Kiai Ismail menjelaskan bahwa ayat
dalam hati, tidak perlu diucapkan secara jelas. Dibaca sebanyak 21x
pada waktu ba‘da subuh dan ba‘da maghrib. Amalan ini beliau dapatkan
Purworejo.97
c. QS. Al-Ra’d: 31
97
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.
50
diajak bicara, (itulah Al-Qur‟an). Sebenarnya segala urusan itu
milik Allah.
dalamnya, atau ada salah satu yang membenci diantaranya, ayat ini dapat
sebagaimana sebelumnya.
م ََِ ٍْؼًا. Ayat ini dibaca sebanyak 72x pada malam setelah niṣfu lail
(tengah malam)98. Nama yang akan dituju disebutkan dengan jelas, tidak
hanya dengan mengucap di dalam hati. Atau jika tidak ada seseorang
yang hendak menjadi tujuan, maksudnya hanya sebagai suatu wirid yang
98
Maksudnya waktu setelah tengah malam sampai sebelum fajar.
99
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.
51
d. Al-Nisā’: 84
Ayat ini juga termasuk ayat yang ampuh kata Kiai Ismail, karena
Sunhaji juga.101
ُ غ
ٕ ٍُ ْ٘ ُْ ْط ُش َُْٗ ٔ ٍَا اَ ّْدَ تِِْ ْؼ ََ ِح َستِّلَ تِ ََج ْ ٌَ ُ َۚ َٗا ْى َقيَ ٌِ َٗ ٍَا
100
Kiai Ismail.
101
Kiai Ismail.
52
Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan, berkat karunia
Tuhanmu engkau (Nabi Muhammad) bukanlah orang gila.
seorang yang ingin di tuju. Untuk amalan ini beliau ijazah angsung dari
f. QS. Yāsīn: 72
sejumlah 72x kemudian ditiupkan di air. Amalan ini beliau juga ijazah dari
Memunculkan Kewibawaan
a. QS. Saba’: 10
102
Kiai Ismail.
103
Kiai Ismail.
53
Dalam penggunaan ayat ini, Kiai Ismail menyebutkan “niki
istilahe kagem wong nek diomongi ben manut”.104 Ayat ini baik
yang berdo‘a atau menginginkan sesuatu hal, sehingga do‘a yang hanya
menurutnya dengan puasa, do‘a amalan akan lebih cepat bereaksi atau
sampai pada yang dituju dengan lebih cepat dibanding dengan yang
hanya bacaan saja. Amalan ini juga didapatkan oleh Kiai Ismail dari
b. QS. Yūsuf: 31
ٖٔ ٌٌ ٌْ حَاػ ِ ِّٰلِ ٍَا ٕزَا تَش ًَشا ا ُِْ ٕزَا اِِل ٍَيَلٌ م َِش
َ َِفَيََا َساَ ٌَْْٔ ا َ ْمثَ ْشَّٔ َٗقَط ْؼَِ ا َ ٌْ ِذٌَ ُِٖ َٗقُ ْي
104
Artinya ―ini istilahnya untuk menjadikan seseorang yang diberi tahu atau diperintah
patuh‖
105
Artinya ―ini digunakan untuk keampuhan, yang namanya keampuhan bisa digunakan
agar orang-orang menjadi patuh, bisa untuk keampuhan badan, atau yang lainnya‖
106
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.
107
Kiai Ismail.
54
Ketika wanita-wanita itu melihatnya, mereka sangat terpesona
(dengan ketampanannya) dan mereka (tanpa sadar) melukai
tangannya sendiri seraya berkata, “Mahasempurna Allah. Ini
bukanlah manusia. Ini benar-benar seorang malaikat yang mulia.”
Ayat ini juga merupakan salah satu ayat yang dipercaya dapat
tetapi dalam hal ini, ayat tersebut juga dibaca dengan serangkaian wirid
pemimpin, ataupun tokoh masyarakat, kita perlu untuk selalu untuk amar
ini, maka seseorang akan dicintai. Ketika seseorang dicintai, maka akan
ٍِاىيٌٖ طيً ػيى عٍّذّا دمحم طاج ذيقً تٖا اىشػة ٗاىٍٖثح فً قي٘ب اىنافشٌِ ٗاىَششم
108
Kiai Nasihin, Wawancara, 14 Oktober 2021, Desa Winong.
55
اىخرً ٗع ّخش ىً قي٘ب ٍِ سأًّٗ مَا ع ّخشخ فشػُ٘ اىى ٍ٘عى
ّ ٌا ىطٍف اىطف تً تيطرل
ba‘da sholat maghrib dan sholat subuh. Tata cara pembacaannya yakni
membaca wirid yang telah tertulis di atas juga sebanyak 11x. Kiai
Nasihin mendapatkan ijazah amalan ini dari gurunya yakni KH. Ahmad
wilayahnya, seperti kepala desa, dan lainnya. Selain itu, beliau juga
bacaan tersebut adalah Pak Surur. Yang mana Pak Surur ini juga alumni
dari pesantren yang sama oleh Kiai Nasihin. Ia juga salah satu murid dari
tetapi dalam hal ini, Pak Surur mengamalkan hanya untuk wirid saja.
109
Kiai Nasihin, Wawancara, 14 Oktober 2021, Desa Winong.
110
Pak Surur, Wawancara, 29 November 2021, Desa Winong.
56
Kemudian ada pula Kholiq Mas‘udi yang mengamalkan bacaan
tersebut. ia merupakan salah satu santri dari Kiai Nasihin. Ijazah amalan
ini, ia dapatkan pula dari Kiai Nasihin saat ia menjabat sebagai pengurus
tersebut ia niatkan untuk itu, karena dari Kiai Nasihin sendiri mengatakan
tersebut.112
ٔ٣ ࣖ ي ا ْى َؼ ِضٌ ُْض
ق ٍَ ِْ ٌشَا ُء ۚ َٕٗ َُ٘ ا ْىقَ ِ٘ ب ٌ ٍّللاُ ىَ ِط
ُ ْف ِت ِؼ َثادِٓ ٌَ ْش ُص ٰ َ
Ayat di atas juga termasuk salah satu ayat yang dipercaya dapat
tersebut. Dari keterangan Kiai Irham, cara pengamalan bacaan ini disertai
111
Kholiq Mas‘udi, Wawancara, 22 November 2021, Desa Winong.
112
Pak Hadi, Wawancara, Via Telepon, 13 Desember 2021, Desa Winong.
57
dengan bacaan ٌا ىطٍف sebanyak 129x setelahnya. Setelah membaca
Irham sebagai wirid hariannya. Dan di akhir wirid yang diijazahkan oleh
Kiai Irham ini dianjurkan bagi pembaca untuk menyebutkan hajatnya, hal
Kuasa.115
113
Artinya ―Ya Allah, dengan haq amalan ini, hamba memohon.....(disebutkan hajatnya)‖
114
Kiai Irham, Wawancara, 20 November 2021, Desa Winong.
115
Mas‘udi, Wawancara.
58
Menurut keterangan Kiai Ismail, ayat ini digunakan sebagai rajah
menjadikan dagangan tersebut menjadi lebih laris. Ayat ini ditulis secara
ّ ٌٍسحَِ سح
سصاق سؤف ستّل
istilah beliau ―tolak maling‖, karena dalam dunia perdagangan akan rawan
terhadap hal-hal semacam tersebut. Rajah ini ditulis dengan ayat ٌمٍٖؼض ح
ٍ ّ عي ٌٌ قَ ْ٘ ًِل ِ ٍّ ِْ س
ػغقditulis secara terpisah dan ditambah ayat ٌٍْ ٍب س ِح َ . Akan
كٓيعصحًعطق
merupakan tolak maling. Untuk itu rajah ini bisa ditempelkan pada tempat-
116
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021..
59
kebun, ataupun tempat-tempat yang ingin diberikan suatu perlindungan.
untuk kedua rajah di atas beliau dapatkan dari ijazah dengan KH. Mathori
dengannya.118
Selain itu, ada pula (sebut) Pak AA, ia merupakan salah satu
masyarakat. Saat ini, ia telah memiliki dua toko sembako yang keduanya
117
Kiai Ismail.
118
Bu Az, Wawancara, Via Telepon, 25 Desember 2021, Desa Winong.
119
Pak AA, Wawancara, Via Telepon, 25 Desember 2021, Desa Winong.
60
Dari keterangan Kiai Ismail sebagai praktisi atau pemberi ijazah, ia
menatakan bahwa tamu yang paling banyak itu dengan tujuan meminta
120
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.
121
―Tamu yang datang kepada saya itu ada sekitar 60 orang perbulan. Itu paling banyak
meminta untuk dagang, ada sekitar 30 orang baik dari Winong sendiri ataupun luar Winong. Tapi
lebih banyak dari luar Winong, karena kebanyakan orang Winong adalah petani, jadi mungkin
minta rajah untuk penangkal tikus. jadi kalau untuk orang Winong sendiri kemungkinan hanya
10% dari tamu yang meminta rajah dagang. Alhamdulillah juga banyak yang berhasil.‖
61
BAB IV
PURWOREJO
sebagai kitab suci dan juga pedoman hidup saja, akan tetapi juga meyakini akan
pengobatan, untuk perlindungan, baik dari gangguan jin dan setan ataupun untuk
keselamatan dari maling dan sebagainya, juga dijadikan pula sebagai wasilah
menggunakan al-Qur‘an sebagai teks yang memuat susunan sintaksis atau sebagai
mushaf yang dibukukan yang memiliki maknanya sendiri atau sekumpulan lepas
Pengertian ini dapat ditarik dua model umum resepsi al-Qur‘an yaitu
122
Syaikhu Z, ―Pengamalan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Dalam Praktek Karomahan Di
Padepokan Macan Putih Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk.‖. Hal. 74-75.
62
yang kedua adalah resepsi terhadap al-Qur‘an yang yang muncul dalam praktek
keseharian muslim. Dan terkadang model yang kedua ini tidak memperdulikan
bahwa tindakan manusia dibentuk oleh dua dimensi, perilaku (Behaviour) dan
antara tiga macam makna yang terdapat dalam tindakan sosial. Yakni, pertama
makna obyektif, yang ditentukan oleh konteks sosial di mana tidakan berlangsung.
Kedua, makna ekspresif yang diatributkan pada tidakan oleh aktor. Dan ketiga
sebagai berikut:
1. Makna Objektif
Sederhananya, makna objektif ditentukan oleh peraturan atau kondisi asli dari
63
suatu praktik yang memang sudah ada dan tidak asing lagi sejak dulu. Yang
mana dahulu yang menjadi tokoh dalam hal ijazah, wirid, ataupun amalan
ialah Kiai Mathori yang menjadi guru dari Kiai Ismail. Praktik tersebut
Karena niat merupakan suatu hal pokok yang menjadi awal dari
pengamalnya. “Mantep itu hal yang paling utama, mosok orang berdo‟a
kunci utamnya adalah mantep”, tutur Kiai Ismail. Dan beliau selalu
bagi sang murid dari gurunya. Ijazah sangat diperlukan, terutama dalam
hal ilmu yang bersifat rohani atau spritual. Seseorang mungkin bisa
Maka dari itu, peran guru di sisni ialah sebagai pembimbing sekaligus
125
Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama (Yogyakarta:
Tiara Wacana, 2004). Hal. 115.
64
penyalur berkah menjadi sangat penting dalam mempelajari ilmu hikmah
c. Puasa
Puasa dalam hal ini bukanlah suatu perkara yang wajib. Akan
tetapi, menurut Kiai Ismail bahwa pasti akan berbeda hasilnya bagi yang
disertai dengan puasa dan yang tidak. Dengan puasa, menurutnya akan
Bangkalan dan juga KH. Hasyim Asy‘ari yang dalam jangka hitungan
“Kenapa kok para kiai terdahulu memiliki kehebatan dan pengaruh yang
Allah) yakni untuk menyucikan diri juga melatih jiwa, juga sebagai
126
Ahmad Wahyudin, ―Kajian Epistimologi Terhadap Ilmu Hikmah dan Penyimpngan
Prakteknya dalam Masyarakat (Studi pada Wirid Hizib Asror di Pesantren Nurul Hikmah
Bojonegoro Serang Banten)‖ (Tesis, Jakarta, Fakultas Ushuludin, UIN Syarif Hidayatullah, 2020).
Hal. 137.
127
Tirakat adalah suatu upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan
badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan, baik perilaku, hati,
juga pikiran.
128
Kiai Ismail, Wawancara, 30 November 2021, Desa Winong.
65
d. Istiqomah129.
untuk keperluan mahabbah dan diamalkan saat terdapat hajat saja. Akan
sebagai sarana amar ma‟ruf nahī munkar, dikatakan oleh Kiai Nasihin,
ayat-ayat tersebut.
2. Makna Ekspresif
mantra dari jawa, baginya merupakan kegiatan yang bernilai ibadah. Nilai
129
Istiqomah adalah suatu istilah dalam bahasa Arab yang bermakna konsisten dan teguh
dalam melakukan suatu kegiatan.
130
Gregory Baumm, Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan
Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow. Hal. 15.
66
dan realita berupa fenomena-fenomena yang dirasakan oleh orang-orang
efek tertentu bagi yang meminumnya. Begitu pula suatu amalan. Seseorang
yang istiqomah mengamalkan wirid tertentu atau ibadah tertentu, pasti akan
ada efek baik yang ditimbulkan dalam dirinya. Khususnya dalam hal adalah
emosinya, lebih tenang hatinya, tidak mudah gelisah, dan lainnya. Karena
kondisi jiwa dan batinnya yang semakin membaik, dari situ kemudian akan
sendiri. Niatnya tentu adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang
Kuasa, juga mengolah batin agar lebih baik, jika nantinya muncul hal-hal
wasilah memohon atau berdo‘a kepada Allah akan hajatnya. Walaupun ayat
tersebut dipercaya dapat dijadikan sebagai penakluk hati orang lain yang
131
Kiai Nasihin, Wawancara.
67
dituju, akan tetapi dalam praktiknya, Kiai Irham tidak hanya sebagai wasilah
untuk mahabbah, namun juga untuk segala macam hajat-hajat yang lainnya.
yang berhubungan dengan akhirat, seperti pahala, barokah, dan lainnya. Dan
yang paling tinggi ialah yang tidak mengharapkan apapun kecuali hanya
Ridlo Allah.
atau ayat tersebut diwiridkan sebagai wasilah untuk memohon agar seseorang
tersebut. Namun untuk saat ini, ia membacanya lebih untuk sekedar wirid
harian saja. Mengenai efek yang akan muncul, itu hanya sekedar fadhilah dari
132
Kiai Irham, Wawancara, 1 Desember 2021, Desa Winong.
133
Mahmud, Wawancara.
68
dengan tujuan hanya sebagai wirid rutin saja. Ia mengatakan demikian karena
dirasa lebih dipatuhi oleh para santri. Namun kembali lagi, ia tidak ingin
mengamalkan bacaan tersebut untuk salah satu sarana beribadah kepada Allah
SWT.134
mahabbah ini, sebenarnya mereka tidak memahami betul apa makna dari
hati dan juga rasa patuhnya pada guru atau shohibul ijazah135. Dari hal
tersebut, walaupun mereka kurang memahami apa makna ataupun apa isi
kandungan ayat yang mereka baca, dengan kemantapan hatinya, do‘a mereka
kekuatan al-Qur‘an.
134
Mas‘udi, Wawancara.
135
Shohibul ijazah maksudnya adalah seseorang yang memberikan ijazah atau guru.
136
Pak Surur, Wawancara.
69
b) Pengamalan tersebut sebagai wasilah atau perantara seseorang dalam
tersebut.
lebih baik.
kepadanya.
3. Makna Dokementer
137
Riyadhah merupakan suatu latihan atau ritus tertentu untuk mengolah jiwa dengan
penahapan dan proses tertentu. (Abdullah dan Karim, Metodologi Penelitian Agama. Hal. 115)
138
Gregory Baumm, Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan
Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow. Hal. 15.
70
Pertama, dilihat dari sisi ruang sosial, pengamalan ini menjadi suatu
berstatus Nahdiyyin139 tentu dapat menerima hal tersebut dengan baik. Hal ini
dihadapi. Seperti para remaja yang ingin diterima cintanya dengan baik, para
pengamalan ayat ayat al-Qur‘an ini selain dapat menjadi wasilah dalam
berdo‘a atau memohon sesuatu kepada Allah, juga dapat menjadi suatu
bentuk riyadhah yang dapat mengolah jiwa dan kebatinan. Bagi masyarakat
al-Qur‘an untuk hal yang lain. Seseorang yang datang untuk meminta ijazah,
dalam hal ini adalah kepada Kiai Ismail atau Kiai Nasihin, mereka akan
dari al-Qur‘an.
139
Nahdhiyyin merupakan sebutan bagi warga atau masyarakat yang berfaham Nahdlotul
Ulama dan mengamalkan apa yang menajdi amaliyahnya. Dengan prinsip utama NU yakni
Ahlussunnah wal Jamaah.
71
Kemudian juga dalam pengamalan ini itu bertabaruk140 dari kisah
bertabaruk di sini selain sebagai perantara menuju ridha Allah SWT juga
sudah berjalan sejak masa Nabi Muhammad SAW juga para walisongo141
Dalam sebuah penelitian sosial, teori yang terkenal dari Karl Mannheim
pengetahuan manusia bersifat subjektif dan tidak bebas nilai. Pengetahuan tidak
akan pernah lepas dari subjektivitas individu yang mengetahui. Latar belakang
140
Tabarruk adalah suatu tidakan untuk mencari atau mengharap barakah (kebaikan
Tuhan) melalui pengaruh orang-orang saleh seperti Nabi, wali, dan sebagainya yang dengan
perantaranya diakui dapat mendatangkan kebaikan dari Tuhan.
141
Walisongo merupakan para wali yang berjumlah sembilan orang, yang menyebarkan
Islam di Tanah Jawa.
72
pengetahuan.
orang-orang yang berdagang melalui jalur India sampai Indonesia yang disebut
Gujarat. Dalam konteks sejarah jalur pelayaran dan perdagangan kuno yang
Nusantara telah dikenal sejak lama, bahkan menurut sejarawan Brandell telah
berlangsung sejak tahun 700 SM. Menurut Pijnepel, orang-orang Arab yang
Salah satu gagasan yang dicetuskan oleh Gus Dur mengenai ―Pribumisasi
Islam‖ dimaksudkan untuk mencairkan pola dan karakter Islam sebagai suatu
yang normatif dan praktek keagamaan menjadi suatu yang kontekstual. Dalam
gagasan ini tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari
Dari kesejarahan Jawa yang begitu kuat akan hal-hal mistis yang
sosial keagamaan yang terjadi di Jawa saat ini. Dalam hal ini, penulis berpendapat
bahwa tidak heran jika paradigma beragama umat Muslim di Jawa masih banyak
yang mempercayai hal-hal yang bersifat mistis, atau memiliki kekuatan ghaib.
142
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara
(Bandung: Mizan, 1998). Hal. 24.
143
M. Imadadun Rahmat, Islam Pribumi, Mendialogkan Agama, Membaca Realitas
(Jakarta: Erlangga, 2003). Hal. xx.
73
Sebagai orang jawa, kita tidak bisa lepas dengan keyakinan-keyakinan
demikian. Bahkan dakwah Islam yang dijalankan oleh para wali songo juga
mahabbah, itu sebenarnya sudah ada sejak dulu. Hanya saja, para wali songo
suatu perantara atau wasilah145 seseorang dalam memohon sesuatu atau berdo‘a
kepada Allah.146
melekat. Terlihat dari masih adanya berbagai macam ritual seperti ritual kelahiran,
perkawinan, dan juga kematian yang masih terjaga hingga saat ini. Selain itu,
masih adanya kepercayaan terhadap weton dan hari-hari tertentu, aneka kesenian
seperti seni tari dolalak147 dan juga kuda lumping yang juga melibatkan mistis di
dalamnya, juga masih eksis keberadaannya. Akan tetapi paradigma kejawen yang
ada di masyarakat Desa Winong, kemudian dapat dikemas oleh para pemuka
144
Kiai Ismail, Wawancara, 30 November 2021.
145
Wasilah ialah segala hal yang menjadi perantara, media, ataupun sarana dapat
tercapainya suatu tujuan tertentu.
146
Kiai Ismail, Wawancara, 30 November 2021.
147
Salah satu jenis tarian adat Purworejo
74
agama setempat menjadi suatu kegiatan yang tidak melenceng dari syari‘at tanpa
yang masih eksis di Desa Winong. Dikatakan mistis karena hal ini berkaitan
dengan izin-Nya akan berhasil mendapatkan apa yang ia tuju, yakni memunculkan
oleh masyarakat Desa Winong seperti yang telah disebutkan pada pembahasan
sebelumnya. Di tengah masyarakat Desa Winong, Kiai Ismail adalah salah satu
tokoh yang menjadi rujukan masyarakat untuk meminta ijazah ataupun rajah, baik
selain beliau juga sebagai seorang pengasuh pesantren yang dianggap sebagai
kategori paling banyak adalah untuk keperluan dagangan. 148 Penulis melihat
bahwa persaingan dalam dunia perdagangan pastilah ada, dan hal tersebut yang
usaha dzahir seperti memberbaiki kualitas yang dijual, cara pelayanan, dan
sebagainya, sebagian pedagang melihat bahwa usaha secara batin atau spiritual
148
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.
75
juga diperlukan. Karena masalah akan banyaknya pelanggan yang berdatangan
merupakan suatu hal yang berada di luar prediksi. Maka dari situlah usaha secara
dalam hal apapun, selain usaha secara dzohir, juga diperlukan usaha batin dengan
penakluk hati, praktik ini lebih banyak diminati oleh para pemuda. Kiai Ismail
ditujukan untuk suatu kemaslahatan. Beliau tidak ingin jika praktik ini hanya
cara wirid ini, dikarenakan adanya perasaan minder dari laki-laki (pengamal)
tentunya dalam berbagai hal, seperti ia merasa pendidikannya yang lebih rendah
dari wanitanya, kondisi ekonomi, status nasab, dan lainnya. Dari pengamalan
bacaan tersebut mereka berharap bisa menjadi lebih yakin untuk maju, dan wanita
149
Kiai Ismail.
76
tersebut juga memiliki rasa balik kepadanya. Tentunya sesuai dengan ketentuan
kepada Kiai Nasihin. Mayoritas yang meminta ijazah kepada beliau, adalah orang-
RT/RW, Kiai kampung, atau mubaligh. Dan sebagai pengasuh pesantren, Kiai
Nasihin juga memberikan ijazah amalan tersebut kepada para pengurus pesantren.
Selain untuk memudahkan dalam amar makruf nahi munkar, Kiai Nasihin
menjelaskan bahwa wirid tersebut juga sebagai salah satu cara nirakati santri
dipatuhi oleh masyarakat. Konsep yang diberikan oleh Kiai Nasihin adalah bahwa
amalan atau wirid bisa menjadi obat secara batiniyah bagi pengamalnya. Maka
dari itu, tidak ada niat dari pengamal untuk menjadikan semua orang patuh
perilaku mereka yang baik, dan akan disukai oleh masyarakat. Jika masyarakat
sudah menanamkan rasa suka padanya, maka mereka akan mudah menerima apa
diterima baik oleh masyarakat Desa Winong. Hal ini mencerminkan adanya
150
Kiai Nasihin, Wawancara.
77
hubungan antara kondisi masyarakat yang mayoritas Nahdhiyyin dengan
pertentangan antara agama dan tradisi. Selagi tradisi tersebut tidak berpengaruh
terhadap aqidah.
fiqh, dan tasawwuf secara tidak berkeputusan. Dalam jangka panjang perpautan
ini akan menumbuhkan pandangan terpautnya sendiri antara dimensi duniawi dan
dalam masalah tasawwuf. Konsep demikian sering disampaikan oleh para Kiai di
wirid, cukup menjadi penenang untuk selalu bersikap menerima dan juga harapan
pengguna rajah tersebut memiliki latar belakang keagamaan yang baik. Beberapa
memang dulunya dari kalangan santri yang sudah sangat akrab dengan riyadhah
ataupun tirakat. Sedang mereka yang tidak berlatar belakang santri, dengan
151
M. Jadul Maula, Islam Berkebudayaan (Yogyakarta: Pustaka Kaliopak, 2019). Hal.
322.
78
adanya praktik tersebut, mendorong mereka untuk menjadi lebih baik dalam
beragama.
paling utama, kemudian kepada orang orang saleh dan tidak lupa kepada shohibul
walapun sudah meninggal jasadnya dan masih bisa mendoakan orang yang masih
hidup di dunia. Sehingga banyak dari kalangan Nahdhiyyin yang masih percaya
syafaat Nabi Muhammad SAW yang masih aktif dan berlaku sepanjang zaman ini
untuk umatnya.
yang masih eksis di tengah masyarakat Desa Winong ini, mununjukkkan adanya
kondisi sosial keagamaan yang masih terjalin dengan baik. Tidak terjadi
bentrokan antara pemikiran masyarakat yang masih kejawen dengan agama. Yang
kurang sesuai dengan syari‘at mampu diubah dengan hal-hal agamis yang tidak
menyimpang dengan tidak meninggalkan tradisi yang ada. Dan dari pengamalan
152
Bertawasul, ialah tindakan berwasilah atau menjadikan perantara orang-orang saleh
dalam berdo‘a.
79
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
dengan dibaca 41x selama tujuh hari disertai puasa atau dibaca 99x selama
sembilan hari tidak dengan puasa; QS. Thāhā: 39, dibaca 21x pada waktu
ba‘da maghrib dan ba‘da subuh; QS. Ar-Ra‘d: 31, diwiridkan 72x pada
nisfu lail; QS. Al-Nisā‘: 84, dibaca 41x ditiupkan pada makanan; QS. Al-
Qalam:1-2, cukup dibaca 7x dengan media rokok; dan QS. Yāsīn: 72,
setiap ba‘da sholat fardhu; QS. Yūsuf: 31, dibaca setelah maghrib dan
subuh 11x; dan QS. As-Syurā: 19 dibaca 9x setelah maghrib dan subuh.
Dan yang ketiga, sebagai wasilah penglaris dagangan dengan ayat QS. Al-
meliputi tiga kategori makna yaitu, makna objektif, secara umum praktik
80
pengamalan tersebut merupakan pembacaan dan pengamalan ayat al-
ketentuan yakni niat yang baik, ada gurunya, ijazah, puasa, dan
memohon mahabbah atau lainnya, sebagai salah satu bentuk riyadhah, dan
Desa Winong ini diterima baik oleh masyarakat, dan pengamalan ini
B. SARAN
1. Salah satu hasil utama dari penelitian ini adalah untuk menyakinkan
mengamalkan melalui mantra atau dari ilmu jawa. Selain mendapat pahala
juga akan lebih bermanfaat bagi keadaan diri kita. Dengan demikian
kebenaran kitab Allah SWT dan bukti mukjizat al-Qur‘an dari sisi
kekuatan spiritual.
81
dan kajian tafsir. Penelitian ini juga merupakan satu sumbangan sederhana
diharapkan berguna sebagai bahan acuan, referensi dan lainnya bagi para
82
DAFTAR PUSTAKA
1999.
Bog, Robet, dan Steven J Taylor. Pengantar Metodologi Kualitatif, terj. Arif
―Buku Induk Kependudukan Desa Winong,‖ 2021. Kantor Kelurahan Desa Winong.
Farhan, Ahmad. ―Studi Living Al-Qur‘an pada Praktek Qur‘anic Healing Kota
xxii
Fathurrasyid. ―Tipologi Ideologi Resepsi Al-Qur‘an di Kalangan Masyarakat
Khadher, Ahmad, dan Mohd Farhan Md. ―Terapi Ruqyah Berasaskan Al-Qur‘an:
Khadher, Ahmad, dan Farhan Mohd. ―Terapi Ruqyah Berasaskan Al-Qur‘an: Analisis
Latif, Abdul. ―Al- Qur‘an sebagai Sumber Hukum Utama.‖ Jurnal Hukum dan
xxiii
Mahmud, Akrom. Wawancara, 29 November 2021. Desa Winong.
Muhtador, Moh. ―Pemaknaan ayat al-Quran dalam mujahadah: Studi Living Qur‘an
1 (Februari 2014).
(2017): 43.
Sejahtera, 2015.
xxiv
―Profil Desa dan Kelurahan bagi Desa dan Kelurahan se Kabupaten Purworejo Desa
Putra, Heddy Shri Ahimsa. ―The Living Qur‘an: Beberapa Perspektif Antropologi.‖
Rahman, Syahrul. ―Living Qur‘an: Studi Kasus Pembacaan al- Ma‘tsurat di Pesantren
Khalid bin Walid Pasir Pengaraian Kab. Rokan Hulu.‖ Jurnal Syahadah IV,
Wekasan Studi Living Qur‘an Di Desa Sukoreno Kec. Kalisat Kab. Jember.‖
Al-Bayan: Jurnal Ilmu Al-Qur‟an Dan Hadist 1, no. No. 1 (2018): 66–91.
xxv
Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
Suhaimi, Mohd, Khairul Hamimah, dan Mohamad Afifuddin. ―Sihir Tafriq dan
sebagai Bentuk Ekspresi Estetis Seni Suara.‖ Resital 17, no. 2 (Agustus
2016).
TH Press, 2007.
Teras, 2007.
xxvi
LAMPIRAN-LAMPIRAN
1. TRANSKIP WAWANCARA
Informan: Pak Nur Ali Hakam sebagai perangkat desa (28 September
2021)
“Kalau kondisi budaya di Winong ini si masih baik menurut saya, rasa
solidaritasnya masih kuat. Ya memang sudah adabnya orang Jawa paling
ya. Contohnya kalau pas ada hajatan, ada tetangga yang kena musibah,
itu masyarakat tanpa diminta bantuan masih mau turut serta mbantu.
Semangat gotong royongnya juga masih bagus. Kalau kondisi keagamaan
juga di sini itungannya masih pada semangat, itu kalau malam Jum‟at
yasinan tahlilan, terus malem senin juga ada dalailan, ada selapanan
juga, banyak mbak, dan itu warga masih pada semangat, terutama
simbah-simbah, bapak-bapak, ibu-ibu, kalau anak muda beberapa tapi
ada. Kalau kondisi pendidikan di sini kebanyakan yang saya tau itu
banyak yang lulus SMP/SMA langsung bekerja, masih sedikit kalau yang
kuliah. Kalau yang mondok itu malah lumayan.”
1. Apa saja ayat yang diyakini bisa mendatangkan mahabbah dan bagaimana
cara pengamalannya?
xxvii
“Maose, nek pun dugi lafadz ٌَِْ ً ع ِج ِذ ْ ِى, terus muni jabang bayine sopo
َ اِّ ََا اَ ٍْ ُشٓ اِ َرا اَ َسا َد
welas asih marang ingsun, njuk dilanjut maos ٔشٍْـا اَ ُْ ٌ ُق ْ٘ َه َى
ُُْ٘ م ُِْ َفٍَ ُنniku kata jabang bayi nggih saget diganti kalih nama siapa bin
atau binti siapa Dibaca 41 kali selama tujuh hari berturut-turut jika
dibarengi puasa tujuh hari juga, tapi jika tidak dengan puasa dibacanya
99 kali selama sembilan hari”
“Wonten malih kiai sing maose ٌَِْ ً ع ِج ِذ ْ ( ِىsopo) welas asih marang
ingsun. Malih onten ٌَِْ ً ع ِج ِذ
ْ ( ِىsopo) sujud marang ingsun, terus onten
malih ًْ ( ِىkedue ingsun) ٌَِْ ( ع ِج ِذsopo) sujud marang ingsun. Tapi
semuanya ditutup dengan ayat ُُُْ٘ شٍْـا اَ ُْ ٌ ُق ْ٘ َه َىٔ م ُِْ َفٍَن
َ ”اِّ ََا اَ ٍْ ُشٓ اِ َرا اَ َسا َد
“Diwaos nk pun dugi َم َِ ٍْؼًاnyebut nama sing dimaksud, misal fulan bin
fulan. Dan niki nggih kedah disebut jelas. Diwaos teng nisfu lail ping 21,
diwaos pun cekap dugi َم َِ ٍْؼًاmawon, mboten seayat penuh”
“Terus malih ten Surat Al-Nisa‟ ayat pinten niko sing ngeten ayate. غى َ َػ
ًش بذ ذَ ْْ ِنٍْا َ
َ ع ا ٗا ْ
ً ش بذ تَس َ
َ ّللا ُ ا َ َ َِ
ٰ َٗ ط اى ِز ٌْ مر ُش ْٗا ْ
َ ّللا ُ اُ ٌنُف تَس ْ َ ٰ Niki nggih kangge
mahabbah, nggih saget diamalke kakung utawi putri. Nek niki lewate
makanan, makanan nopo mawon. Misal onten sing mriki tak paringi
amalan niki bingung ajeng ngangge makanan nopo, nggih gampil nagge
uyah nggih saget, lak mangke dimasak, nggih bakale dimaem, Niki
kantun diwaos ping 41, lajeng disebulke ten makanan nopo mawon, njuk
mriko ken maem ngoten mawon”.
“Niki nggih onten sing dilewatke rokok, utawi air.” Sing ngangge rokok
niku: ُ ٍُ ْ٘ ُْ غ ُط ُش َُْٗ ٔ ٍَا اَ ّْدَ تِِْ ْؼ ََ ِح َستِّلَ ت ِ ََ ْج
ْ ٌَ َٗا ْى َق َي ٌِ َٗ ٍَاdiwaos cekap ping 7.
xxviii
Nek sing ngangge air niku: َو َذ َّل ْل َنا َها َل ُه ْم فِيهَا َركُوبُ ُه ْم َو ِم ْنهَا يَ ْأ ُك ُلونayate niku
diwaos ping 72, terus ditiup ten air”
“Nek niki kangge pimpinan, Surat Saba: ًَٔ ٍَؼ ْ َٗ َى َق ْذ اذَ ٍْ َْا دَاٗ َد ٍِْا َف
ْ ِ ض ًا ٌ ِجثَا ُه اَ ّ ِٗت
ْ َ َ
ٔٓ “ َٗاىط ٍْ َش ۚ َٗاَىْا ى ُٔ اى َح ِذ ٌْ َذNiki diamalke istilahe kangge wong nek diomongi
ben manut, kagem pimpinan maksude, kersane saget disegani lah istilahe,
nggih nek niki diwiridke istiqomah, diwaos ping 7 mawon, setiap ba‟da
sholat fardu”.
“Nek kangge dagangan niku nganggene rajah niku ayate : اط ِ َْٗاَ ّر ُِْ فِى اى
ٌُٖ ش َٖذ ُْٗا ٍَ َْافِ َغ َىْ ٍَٕ ِّى٢ ٍتِا ْى َح ّج ِ ٌَ ْسذ ُْ٘كَ ِسم ًَاِل ٗػَيى ُم ِّو ضَا ٍِ ٍش ٌسذِ ٍَِْ ٍِ ِْ ُم ِّو َف ّج ٍ َػ َِ ٍْقniku
ْ
sing ditulis ayat niki, lajeng ngandape diparing tambahan, ٌٍسحَِ سح
سصاق سؤف ستّل ّ “
“Niki biasane kulo tambahi rajah tolak maling, niku مٍٖؼض حٌ ػغقniku
ٍ ّ عيٌٌ َق ْ٘ ًِل ِ ٍّ ِْ س
dipisah nulise, ngandape diparingi tambahan ayat ٌٍْب س ِح َ tapi
bagian atase onten kados niki”
ٖٔ ٌٌٌْ ش ًشا ا ُِْ ٕ َزا اِِل ٍَ َيلٌ م َِش َ َف َيَا َساَ ٌْ َْٔ اَ ْمثَ ْش َّٔ َٗ َقط ْؼَِ اَ ٌْ ِذٌَ ُِٖ َٗ ُق ْيَِ ح
َ ََاػ ِ ِّٰل ِ ٍَا ٕ َزا ت
“Itu salah satu ayat yang langsung fokus pada mahabbah, dari artinya
saja kita lihat, ketika wanita-wanita itu melihat Yusuf melintas, saking
terkagumnya sampai mereka memotong tangannya sendiri ora kroso,dan
akhirnya berkata, “Mahasempurna Allah. Wah, ini bukan manusia. Ini
benar-benar malaikat yang mulia. Baru melihat saja sudah terkagum-
kagum. Ya itu mahabbah secara umum. Jare iku diwoco tiap sore ping 7,
mengko akeh cewek-cewek sing kepincut”.
“Ini juga bisa membantu untuk memudahkan dakwah kita. Niat kita amar
makruf nahi munkar. Jadi dalam kita berdakwah biar mudah omongan
kita didengar, perlu adanya mahabbah, wong nek wes seneng mesti gelem
nyedak gelem ngrungokke, durung mulai ngomong, biso wae wes
ditunggu, iki aku meh diomongi opo, kan [Link] niki juga harus
dibarengi haibah, haibah itu kewibawaan. Istilahe ben diwedeni. Jadi
dalam kita mencegah kemungkaran itu, ucapan kita bisa sampai. Dua-
duanya harus seimbang, nek mahabbah tok yo kurang ono wibawane, nek
haibah tok malah medeni tok tapi ora pati disenengi.”
ٌِاىيٌٖ طيً ػيى عٍّذّا دمحم طاج ذيقً تٖا اىشػة ٗاىٍٖثح فً قي٘ب اىنافش
ٌٗاىَششمٍِ ٗاىظاىٍَِ ٗاىَْافقٍِ ٗاىَرغذٌِ ٗػيً اىٔ ٗطحثٔ ٗعي
xxix
Terus bare niku ditambahi:
ّ ٗعخش ىً قي٘ب ٍِ سأًّٗ مَا
عخشخ فشػُ٘ اىى ٍ٘عى ّ ً
ّ ٌا ىطٍف اىطف تً تيطرل اىخر
ٍَِتشحَرل ٌا أسحٌ اىشاح
“Itu dibaca setiap ba‟da maghrib dan subuh 11 kali.”
ٖٔ ٌٌٌْ ش ًشا ا ُِْ ٕ َزا اِِل ٍَ َيلٌ م َِش َ َف َيَا َساَ ٌْ َْٔ اَ ْمثَ ْش َّٔ َٗ َقط ْؼَِ اَ ٌْ ِذٌَ ُِٖ َٗ ُق ْيَِ ح
َ ََاػ ِ ِّٰل ِ ٍَا ٕ َزا ت
Iku diwoco ping 7 mben sore, ben akeh sing nyenengi, hehe.”
ٖٔ ٌٌٌْ ش ًشا ا ُِْ ٕ َزا اِِل ٍَ َيلٌ م َِش َ َف َيَا َساَ ٌْ َْٔ اَ ْمثَ ْش َّٔ َٗ َقط ْؼَِ اَ ٌْ ِذٌَ ُِٖ َٗ ُق ْيَِ ح
َ ََاػ ِ ِّٰل ِ ٍَا ٕ َزا ت
ٌِاىيٌٖ طيً ػيى عٍّذّا دمحم طاج ذيقً تٖا اىشػة ٗاىٍٖثح فً قي٘ب اىنافش
ٌٗاىَششمٍِ ٗاىظاىٍَِ ٗاىَْافقٍِ ٗاىَرغذٌِ ٗػيً اىٔ ٗطحثٔ ٗعي
ّ ٗعخش ىً قي٘ب ٍِ سأًّٗ مَا
عخشخ فشػُ٘ اىى ٍ٘عى ّ ً
ّ ٌا ىطٍف اىطف تً تيطرل اىخر
ٍَِتشحَرل ٌا أسحٌ اىشاح
Tak waos tiap ba‟da maghrib kalih subuh 11 kali”
xxx
Nek ِٔ ٍْ ِ ف ِ َِلت ُ ُاِ ْر َقا َه ٌُ ْ٘عniku saking Kiai Patoni Butuh mriko, benten nek sing
َٗ َى ْ٘ اَُ ُق ْشا ًّاkalih ayat ُ ّللا ٰ غىَ َػniki saking Kiai Sunhaji Tamansari, lintune
niku sedoyo saking pak kaji matori mriki, kulo sedoyo saking kiai mbak,
mboten dukun.”
xxxi
mungkin ga begitu dirasakan. Misal orang njuk bisa hormat itu ya karena
memang ada wibawa tersendiri dari dalam diri.”
Informan 3:
“Ngene iki kanggo wiridan wae mbak, yo iso kanggo wasilah nyuwun opo
hajate ning Allah, kan bar moco iku kabeh njuk dungo ya Allah, kanti haq
amalan meniko kaulo nyuwun......, opo disebutke” (01 Desember 2021)
xxxii
2. DOKUMENTASI WAWANCARA
xxxiii
34