0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan116 halaman

Ayat Al-Qur'an untuk Mahabbah di Winong

Diunggah oleh

rozikin.221
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan116 halaman

Ayat Al-Qur'an untuk Mahabbah di Winong

Diunggah oleh

rozikin.221
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGGUNAAN AYAT-AYAT AL-QUR’AN UNTUK

MAHABBAH

(Kajian Living Qur’an di Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh


Gelar Sarjana Strata Satu (S1) Pada Program Studi:

Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Disusun Oleh:
MASNGUDAH
(2018080021)

PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR


FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM (FSH)
UNIVERSITAS SAINS AL-QUR’AN (UNSIQ) JAWA TENGAH
DI WONOSOBO
2021
ii
iii
UNIVERSITAS SAINS AL QUR’AN (UNSIQ) JAWA TENGAH DI WONOSOBO
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
Program Studi:
Hukum Keluarga (SI), Hukum Ekonomi Syari’ah (SI), Ilmu Al Qur’an dan Tafsir
(SI), Ilmu Hukum (SI), Perbankan Syari’ah (SI)
Alamat Kampus: Jalan Raya KH. Hasyim Asy‘ari KM.03 Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah 56351
Telp: (0286) 321873, Fax: (0286) 324160, Website : http//[Link],Email : fshunsiq@[Link]

PENGESAHAN
Nomor: /FSH -UNSIQ/XII/2021

Judul Skripsi : Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Untuk Mahabbah (Kajian


Living Qur‘an di Desa Winong Kec. Kemiri Kab.
Purworejo)

Ditulis Oleh : Masngudah

NIM : 2018080021

NIRM : 18/X/15.1.5/1205

Program Studi : Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir

Telah dapat diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Agama (S. Ag.)

Wonosobo, Desember 2021

Dekan,

Dr. Herman Sujarwo, S.H., M.H.


NIDN. 0611078104

iv
UNIVERSITAS SAINS AL QUR’AN (UNSIQ) JAWA TENGAH DI WONOSOBO
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
Program Studi:
Hukum Keluarga (SI), Hukum Ekonomi Syari’ah (SI), Ilmu Al Qur’an dan Tafsir
(SI), Ilmu Hukum (SI), Perbankan Syari’ah (SI)
Alamat Kampus: Jalan Raya KH. Hasyim Asy‘ari KM.03 Kalibeber Wonosobo Jawa Tengah 56351
Telp: (0286) 321873, Fax: (0286) 324160, Website : http//[Link],Email : fshunsiq@[Link]

PENGESAHAN MAJELIS PENGUJI MUNAQOSAH SKRIPSI

Skripsi Saudara : Masngudah


NIM/NIRM : 2018080021/18/X/15.1.5/1205
Program Studi : Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
Judul Skripsi : Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Untuk Mahabbah (Kajian
Living Qur‘an di Desa Winong Kec. Kemiri Kab.
Purworejo)
Telah di munaqosahkan oleh majelis penguji Skripsi Fakultas Syari‘ah
Universitas Sains Al Qur‘an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo pada tanggal:
Desember 2021
Dan LULUS/TIDAK LULUS dengan hasil _____. Selanjutnya dapat diterima
sebagai kelengkapan ujian akhir dalam menyelesaikan Program Sarjana Strata I
(SI) Fakultas Syari‘ah dan Hukum UNSIQ Jawa Tengah di Wonosobo guna
memperoleh Sarjana Agama (S. Ag)

MAJELIS PENGUJI

Nama Tanggal Tanda Tangan

Sawaun, [Link].I., [Link]. ___________ ___________


Ketua Sidang

Dr. Hery Purwanto, M.M ___________ ___________


Sekretaris Sidang

Dr. Mutho’am, [Link]., M.S.I. ___________ ___________


Penguji 1

Maurusa Zinira, [Link].I., M.A ___________ ___________


Penguji 2

v
vi
MOTTO

‫َوقَا َل َزتُّ ُك ُى ادْع ُْىَِي ا َ ْست َِجةْ نَ ُك ْى‬

―Dan Tuhanmu berfirman, ―Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan


bagimu‖.‖ (QS. Ghafir: 60)

vii
PERSEMBAHAN

Karya kecil ini penulis persembahkan untuk :

1. Kedua orang tua penulis, Bapak Zainussurus dan Ibu Aini Syarifah, tidak
ada kata apapun yang bisa membalas semua jasa beliau, terima kasih untuk
segala do‘a dan dukungannya mulai dari awal perkuliahan sampai dengan
proses ini terselesaikan.
2. Abah Yai As‘ad alh beserta Simak Badiah alhz, selaku pengasuh pondok
pesantren Baitul Abiddin Darussalam (BAD), yang selama ini menjadi
tempat penulis untuk mengaji dan menimba ilmu, semoga barakah dan
manfaat ilmu dari beliau senantiana penulis dapatkan.
3. Seluruh keluarga penulis yang tidak bisa disebutkan satu persatu namanya,
terima kasih atas do‘a serta motivasinya sehingga penulis bisa berproses
sampai saat ini.
4. Semua teman satu jurusan, Ilmu Al-Qur‘an dan Tafsir, terkhusus untuk
kelas IQT A 2018 yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu namanya,
terima kasih atas bantuan serta motivasinya selama dibangku perkuliahan.
5. Semua santri Pondok Pesantren Baitul Abiddin Darussalam, baik putra
maupun putri, terima kasih atas dukungan dan pertolongannya.

Kepada semua pihak yang telah disebutkan di atas, semoga tercatat sebagai
amal baik dan mendapat imbalan dari Allah SWT atas kebaikan yang telah
diberikan. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan
pembaca.

Wonosobo, Desember 2021


Penulis

Masngudah

viii
KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmanirrahim
Bibarokatil Qur`an, alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan segala karunia kepada hamba-Nya,
dengan beberapa kemampuan dan kekuatan sehingga penulis mampu
menyelesaikan skripsi dengan judul ―Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Untuk
Mahabbah (Kajian Living Qur‘an di Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo)‖.
Dengan harapan semoga dapat memberikan manfaat bagi kita semua.
Sholawat serta salam semoga tetap tercurah kepada baginda kita Nabi
Agung Muhammad SAW sebagai pembawa syariat islam untuk diimani,
dipelajari, dihayati dan diamalkan oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari serta
yang kita nanti-nantikan syafaatnya di yamil qiyamah nanti. Amiin.

Proses penyusunan skripsi ini disadari tentu tidak lepas dari bantuan,
bimbingan, do‘a maupun motivasi dari berbagai pihak. Semua itu demi
terselesaikannya skripsi ini. Maka dari itu, perkenankanlah penulis untuk
mengucapkan banyak terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. H. Zainal Sukawi, M.A., selaku Rektor Universitas Sains Al-
Qur‘an Jawa Tengah di Wonosobo.
2. Bapak Dr. H. M. Junaedi. M.H., selaku Dekan Fakultas Syari‘ah dan
Hukum (FSH).
3. Bapak Dr. M. Ali Mustofa Kamal, AH, [Link].I, M.S.I selaku Kaprodi Ilmu
Al-Qur‘an dan Tafsir sekaligus pembimbing skripsi. Terimakasih atas
bimbingan, masukan dan motivasi yang telah diberikan demi
terselesaikannya skripsi ini.
4. Bapak Sawaun, Alh, [Link].I. [Link]., selaku Dosen Pembimbing II.
Terimakasih atas bimbingan, masukan dan motivasi yang telah diberikan
demi terselesaikannya skripsi ini.
5. Segenap bapak dan ibu dosen di Prodi Ilmu Al-Qur‘an dan Tafsir.
Terimakasih atas Ilmu yang telah diberikan.

ix
6. Segenap bapak, ibu staf administrasi Fakultas Syari‘ah dan Hukum (FSH)
Universitas Sains Al-Qur`an (UNSIQ) Jawa Tengah di Wonosobo, yang
telah membantu dalam segala proses.
Semoga amal baik semuanya diterima oleh Allah SWT sebagai amal shalih
dan dibalas dengan balasan yang berlipat ganda.

Akhirnya, setelah melalui perjuangan yang panjang dalam penulisan


skripsi ini, penulis sadar akan segala kekhilafan dan kesalahan karena
keterbatasan penulis. Oleh karena itu, saran dan kritik yang konstruktif yang
senantiasa penulis harapkan dalam rangka menyempurnakan skripsi ini dan demi
perbaikan pada masa yang akan datang.

Dengan demikian, semoga karya kecil ini dapat bermanfaat dan semoga
Allah SWT senantiasa meridhoi setiap langkah kehidupan kita. Amin ya Rabbal
„Alamiin.

Alhamdulillahirabbil „alamin

Wonosobo, Desember 2021


Penulis

Masngudah
NIM. 2018080021

x
PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN

Sesuai dengan SKB Menteri Agama RI, Menteri Pendidikan dan Menteri
Kebudayaan RI No. 158/1987 dan No. 0543b/U/1987

Tertanggal 22 Januari 1988

A. Konsonan Tunggal
Huruf Arab Nama Huruf Latin Keterangan
Tidak
‫ا‬ Alif Tidak dilambangkan
dilambangkan
‫ب‬ bā` B Be
‫خ‬ tā` T Te
‫ث‬ Śā Ś Es (dengan titik di atasnya)
‫ج‬ Jīm J Je
‫ح‬ hā` ẖ Ha (dengan titik di bawahnya)
‫خ‬ khā` Kh ka dan kha
‫د‬ Dal D De
‫ذ‬ Żal Ż Zet (dengan titik di atasnya)
‫ز‬ rā` R Er
‫ش‬ Zai Z Zet
‫س‬ Sīn S Es
‫ش‬ Syīn Sy es dan ye
‫ص‬ Şād Ş es (dengan titik di bawahnya)
‫ض‬ Dād D de (dengan titik di bawahnya)
‫ط‬ ţā` Ţ te (dengan titik di bawahnya)
‫ظ‬ zā` Z zet (dengan titik di bawahnya)
‫ع‬ ‗ain …ʻ… Koma terbalik (di atas)
‫غ‬ Gain G Ge
‫ف‬ fā` F Ef
‫ق‬ Qāf Q Qi

xi
‫ك‬ Kāf K Ka
‫ل‬ Lām L El
‫و‬ Mīm M Em
ٌ Nūn N En
‫و‬ Wāwu W We
‫ھ‬ hā` H Ha
Apostrof, tetapi lambang ini
‫ء‬ Hamzah ʹ tidak dipergunakan untuk
hamzah di awal kata
‫ي‬ yā` Y Ye

A. Vokal
Vokal bahasa Arab, seperti vokal bahasa Indonesia, terdiri dari vokal
tunggal atau monoftong dan vokal rangkap atau diftong.
1. Vokal tunggal
Vokal tunggal bahasa Arab yang lambangnya berupa tanda atau harkat,
transliterasinya sebagai berikut:
Tanda Nama Huruf Latin Nama

ََ Fathah A A

َِ Kasrah I I

َُ Dammah U U

Contoh :
َ ‫َكت‬
‫َة‬ - kataba
‫فَ َع َم‬ - fa‘ala
2. Vokal Rangkap
Vokal rangkap bahasa Arab yang lambangnya berupa gabungan antara
harkat dan huruf, transliterasinya gabungan huruf yaitu:
Tanda dan
Nama Huruf Latin Nama
Huruf

xii
Fathah dan Ya Ai a dan i

Fathah dan Wawu Au a dan u

Contoh:
َ ‫َكى‬
‫ْف‬ -kaifa
‫َح ْى َل‬ -haula
B. Maddah
Maddah atau vokal panjang yang lambangnya berupa harkat dan
huruf, transliterasinya berupa huruf dan tanda, yaitu:
Harkat dan Huruf dan
Nama Nama
Huruf Tanda

Fathah dan alif atau ya Ā a dan garsi di atas

Kasrah dan ya Ī i dan garsi di atas

Dammah dan wawu Ū u dan garsi di atas

Contoh :
‫قَا َل‬ - Qāla
‫َيقُ ْى ُل‬ - Yaqūlu
C. Ta’ Marbutah
Transliterasi untuk ta marbutah ada dua:

1. Ta Marbutah Hidup
Ta Marbutah yang hidup atau mendapat harokat fathah, kasrah dan dammah,
transliterasinya adalah /t/.

2. Ta Marbutah Mati
Ta marbutah yang mati atau mendapat harkat sukun, transliterasinya adalah
/h/.

3. Kalau pada suatu kata yang akhir katanya ta marbutah diikuti oleh kata yang
menggunakan kata sandang al, serta bacaan kedua kata itu terpisah maka ta
marbutah itu ditransliterasikan dengan ha (h).

xiii
Contoh:

‫ال‬ ْ َ‫ضحُ ْاْل‬


ْ َ‫طف‬ َ ‫َز ْو‬ - raudah al-aţfāl

- raudatul aţfāl

ُ ‫اَن ًَ ِد ْيَُحُ ْان ًُُ ََّى َزج‬ - al-Madīnah al-Munawwarah

- al-Madīnatul Munawwarah

D. Syaddah
Syaddah atau tasydid yang dalam system tulisan Arab dilambangkan
dengan sebuah tanda, tanda syaddah atau tasydid. Dalam transliterasi ini tanda
syaddah tersebut dilambangkan dengan huruf, yaitu huruf yang sama dengan
huruf yang diberi tanda syaddah itu.

Contoh:

‫َزتََُّا‬ - rabbanā

‫اَ ْن ِث ّس‬ - al-birr

E. Kata Sandang
Kata sandang dalam sistem tulisan Arab dilambangkan dengan huruf,
yaitu ‫ال‬.Namun, dalam transliterasinya kata sandang itu dibedakan antara kata
sandang yang diikuti oleh huruf syamsiyah dengan kata sandang yang diikuti
oleh huruf qamariyah.

1. Kata sandang yang diikuti huruf syamsiyah


Kata sandang yang diikuti huruf syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan
bunyinya, yaitu huruf /l/ diganti dengan huruf yang sama dengan huruf yang
langsung mengikuti kata sandang itu.
2. Kata sandang yang diikuti huruf qamariyah
Kata sandang yang diikuti huruf qamariyah ditransliterasikan sesuai dengan
aturan yang digariskan di depan dan sesuai dengan bunyinya.

xiv
Baik diikuti huruf syamsiyah maupun huruf qamariyah, kata sandang
ditulis terpisah dari kata yang mengikuti dan dihubungkan dengan tanda
sambung/ hubung.
Contoh:
َّ َ ‫ا‬
‫نس ُج ُم‬ - ar-rajulu
‫ا َ ْنقَ َه ُى‬ - al-qalamu
F. Hamzah
Dinyatakan di depan daftar transliterasi Arab Latin bahwa hamzah di
transliterasikan dengan apostrof. Namun, itu hanya terletak di tengah dan di
akhir kata. Bila hamzah itu terletak di awal kata, ia tidak dilambangkan, karena
dalam tulisan Arab berupa alif.
Contoh:
1. Hamzah di awal
ُ‫ا ُ ِي ْسخ‬ - umirtu
‫أ َ َك َم‬ - akala

2. Hamzah di tengah
ٌَ‫ ت َأ ْ ُحر ُ ْو‬- Ta‘khużūna
ٌَ‫تأ ْ ُكهُ ْى‬ - ta‘kulūna
3. Hamzah di akhir
‫ش ْيء‬
َ - Syai‘un
‫انَُّ ْى ُء‬ - an-nau‘u
G. Penulisan Kata
Pada dasarnya setiap kata, baik fi‘il, isim maupun huruf, ditulis
terpisah. Bagi kata-kata tertentu yang penulisannya dengan huruf Arab yang
sudah lazim dirangkaikan dengan kata lain karena ada huruf atau harakat yang
dihilangkan maka dalam transliterasi ini penulisan kata tersebut bisa dilakukan
dengan dua cara, bisa dipisah per kata dan bisa pula dirangkaikan.
Contoh:
َّ ‫َوا ٌَِّ هللاَ نَ ُه َى َخي ُْس‬
ٍَْ‫انس ِش ِقي‬ - Wa innallāha lahuwa khair ar-rāziqīn
- Wa innallāha lahuwa khairur-rāziqīn

xv
H. Huruf Kapital
Meskipun dalam sistem tulisan Arab huruf kapital tidak dikenal,
dalam transliterasi ini huruf tersebut digunakan juga. Penggunaan huruf kapital
seperti apa yang berlaku dalam EYD, diantaranya huruf kapital digunakan
untuk menuliskan huruf awal, nama diri dan permulaan kalimat. Bila nama diri
itu didahului oleh kata sandang, maka yang ditulis dengan huruf kapital tetap
huruf awal nama diri tersebut, bukan huruf awal kata sandangnya.
Contoh:
ُ ‫َو َيا ُي َح ًَّدأِْلَّ َز‬
‫س ْىل‬ - Wa mā Muhammadun illā rasūl.
Penggunaan huruf awal kapital untuk Allah hanya berlaku bila dalam
tulisan Arabnya memang lengkap demikian dan kalau penulisan itu disatukan
dengan kata lain sehingga ada huruf atau harakat yang dihilangkan, huruf
kapital tidak dipergunakan.
Contoh:
َ ‫َوهللاِ تِ ُك ِّم‬
‫ش ْيءٍ َع ِهيْى‬ - Wallāhu bikulli syai‘in ‗alīmun.

xvi
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ................................................................ ii

NOTA DINAS PEMBIMBING ............................................................................. iii

PENGESAHAN ...................................................................................................... iv

PENGESAHAN MAJELIS PENGUJI MUNAQOSAH SKRIPSI ....................... v

NOTA DINAS ........................................................................................................ vi

MOTTO ................................................................................................................. vii

PERSEMBAHAN .................................................................................................. viii

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ix

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB-LATIN.................................................... xi

DAFTAR ISI ........................................................................................................... xvii

ABSTRAK ............................................................................................................. xx

ABSTRACT ........................................................................................................... xxi

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................... 4

C. Tujuan Penelitian ............................................................................. 5

D. Manfaat Penelitian ........................................................................... 5

E. Kajian Pustaka ................................................................................. 5

F. Kerangka Teori ................................................................................ 12

G. Metode Penelitian ............................................................................ 14

xvii
H. Sistematika Pembahasan ................................................................. 17

BAB II RESEPSI AL-QUR’AN DI TENGAH MASYARAKAT DAN

KAJIAN LIVING QUR’AN

A. Resepsi Al-Qur‘an di Tengah Masyarakat ...................................... 19

1. Al-Quran sebagai Kitab ............................................................ 21

2. Al-Qur‘an sebagai Seni ............................................................ 22

3. Al-Qur‘an sebagai Bacaan Ritual ............................................. 23

4. Al-Qur‘an sebagai Kekuatan Magis ......................................... 24

B. Teori Sosiologi Pengetahuan Karl Mannheim ................................ 26

C. Kajian Living Qur‘an ...................................................................... 29

1. Pengertian Living Qur‘an ......................................................... 29

2. Arti Penting Kajian Living Qur‘an ........................................... 34

3. Pendekatan Fenomenologi dalam Kajian Living Qur‘an ......... 35

BAB III GAMBARAN UMUM DESA WINONG DAN AYAT-AYAT YANG

DIPERCAYA MASYARAKAT DESA WINONG DAPAT

MENDATANGKAN MAHABBAH

A. Gambaran Umum Desa Winong, Kec. Kemiri, Kab.

Purworejo ........................................................................................ 40

B. Praktik Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an untuk Mahabbah

di Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo ................................ 46

xviii
BAB IV ANALISIS PENGGUNAAN AYAT-AYAT MAHABBAH DI

TENGAH MASYARAKAT DESA WINONG , KEC. KEMIRI,

KAB. PURWOREJO

A. Pemaknaan Penggunaan Ayat-Ayat al-Qur‘an untuk Mahabbah di

Tengah Masyarakat Desa Winong ............................................................. 62

a. Makna Objektif .................................................................................... 63

b. Makna Ekspresif ................................................................................... 66

c. Makna Dokumenter .............................................................................. 70

B. Analisis Sosial Praktik Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an untuk

Mahabbah di Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo ......................... 72

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan.................................................................................................. 80

B. Saran ............................................................................................................ 81

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................ xxii

LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................................... xxviii

xix
ABSTRAK

Dalam kajian al-Qur‘an, saat ini tidak hanya berhenti pada kajian teks saja, akan
tetapi meluas pada kajian al-Qur‘an di tengah masyarakat atau yang disebut
dengan istilah living Qur‘an. Terdapat beberapa tipologi resepsi masyarakat
terhadap al-Qur‘an. Yang pertama resepsi al-Qur‘an sebagai kitab, al-Qur‘an
sebagai seni, al-Qur‘an sebagai bacaan ritual, dan al-Qur‘an dapat memiliki
kekuatan magis. Dalam hal ini, penulis akan melakukan penelitian mengenai
kajian living Qur‘an tentang penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah di
Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo. Penelitian ini berfokus pada macam-
macam penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah di Desa Winong, dan
pemaknaan masyarakat terhadap penggunaan ayat-ayat tersebut. Tujuannya, tentu
untuk mengetahui macam pengamalan dan pemaknaan penggunaan ayat-ayat al-
Qur‘an untuk mahabbah di Desa Winong. Metode penelitian yang digunakan ialah
penelitian lapangan, dengan sumber data primernya berupa hasil wawancara
dengan informan, dan dilengkapi dengan buku-buku, kitab-kitab, atau penelitian
serupa sebagai sumber data sekunder. Mengenai macam-macam ayat al-Qur‘an
yang digunakan sebagai mahabbah oleh masyarakat Desa Winong beserta tata
cara pengamalannya, terdapat sepuluh ayat yang dikategorikan dalam tiga jenis
penggunaan. Pertama, sebagai wasilah penakluk hati yakni QS. Yūsuf: 4, QS.
Thāhā: 39, QS. Ar-Ra‘d: 31, QS. Al-Nisā‘: 84QS. Al-Qalam:1-2, dan QS. Yāsīn:
72,. Kemudian yang kedua, sebagai wasilah mendatangkan kewibawaan, yakni
QS. Saba‘: 10, QS. Yūsuf: 31, dan QS. As-Syurā:. Dan yang ketiga, sebagai
wasilah penglaris dagangan dengan ayat QS. Al-Hajj: 27-28 yang ditulis menjadi
sebuat rajah. Kemudian mengenai makna, dari makna objektif, secara umum
praktik pengamalan tersebut merupakan pembacaan dan pengamalan ayat al-
Qur‘an yang diyakini dapat menghasilkan mahabbah dengan beberapa ketentuan
yakni niat yang baik, ada gurunya, ijazah, puasa, dan keistiqomahan. Makna
eksresif dari pengamalan ini, bahwa pengamalan tersebut dimaknai sebagai
wasilah seseorang dalam berdo‘a, sebagai salah satu bentuk riyadhah, dan juga
sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan makna dokumenter
yang ditangkap oleh penulis bahwa dalam pengamalan ini di Desa Winong ini
diterima baik oleh masyarakat, dan pengamalan ini digunakan sebagai bentuk
bertabarruk kepada orang-orang saleh terdahulu. Dan pengamalan ini merupakan
suatu upaya membentuk kesadaran kepada masyarakat bahwa al-Qur‘an tidak
serta hanya sebuah bacaan tetapi kemukjizatannya masih bisa dirasakan dan
berlaku hingga akhir zaman.

Kata Kunci: Living Qur‘an, Mahabbah, Desa Winong

xx
ABSTRACT

In the study of the Qur'an, currently it does not only stop at the study of the text,
but also extends to the study of the Qur'an in society or called as the living Qur'an.
There are several typologies of public reception of the Qur'an. The first is the
reception of the Qur‘an as a book, the Qur‘an as art, the Qur‘an as ritual reading,
and the Qur‘an can have magical powers. In this case, the author will conduct
research on the study of the living Qur'an on the use of verses of the Qur'an for
mahabbah in Winong Village, Kec. Kemiri Kab. Purworejo. This study focuses
on the various uses of the verses of the Qur'an for mahabbah in Winong Village,
and the meaning of the community towards the use of these verses. The purpose
is to find out the kinds of practice and meaning of the use of the verses of the
Qur'an for mahabbah in Winong Village. The research method used is field
research, with the primary data source in the form of interviews with informants,
and equipped with books, holy books, or similar research as secondary data
sources. Regarding the various verses of the Qur'an that are used as mahabbah by
the people of Winong Village and the procedures for their practice, there are ten
verses that are categorized into three types of usage. First, as wasilah conquering
hearts, namely QS. Yusuf: 4, QS. Thāhā: 39, QS. Ar-Ra'd: 31, QS. Al-Nisa':
84QS. Al-Qalam:1-2, and QS. Yāsn: 72,. Then the second, as wasilah brings
authority, namely QS. Saba': 10, QS. Yūsuf: 31, and QS. As-Shura:. And the
third, as wasilah selling merchandise with verse QS. Al-Hajj: 27-28 which is
written as a tattoo. Then regarding the meaning, from the objective meaning, in
general the practice is the reading and practice of the verses of the Qur'an which is
believed to be able to produce mahabbah with several provisions, namely good
intentions, there is a teacher, diploma, fasting, and istiqomah. The aggressive
meaning of this practice is that the practice is interpreted as a person's wasilah in
prayer, as a form of riyadh, and also as a means of getting closer to God. While
the meaning of the documentary captured by the author that in this practice in the
village of Winong is well received by the community, and this practice is used as
a form of bertabarruk to the previous pious people. And this practice is an effort
to create awareness to the public that the Qur'an is not just a reading but its
miracles can still be felt and apply until the end of time.

Keyword: Living Qur‘an, Mahabbah, Desa Winong

xxi
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan umat Muslim, telah jelas bahwa al-Qur‘an merupakan

sebuah kitab suci yang dijadikan pedoman umat Muslim dalam menjalankan

kehidupannya. Mengacu pada sebuah ayat QS. Al-Baqarah: 2. Lafadz hudan li al-

nās, bahwa al-Qur‘an diturunkan sebagai pentunjuk bagi manusia dalam segala

persoalan. Baik persoalan aqidah, syari‘at, hingga berbagai persoalan kehidupan

manusia. Seiring berkembangnya zaman kajian al-Qur‘an tidak hanya berhenti

pada kajian teks, namun juga mengalami perkembangan hingga pada kajian teks

terhadap sosial-budaya, yang menjadikan masyarakat sebagai objek kajiannya,

yang sering disebut dengan kajian living Qur‟an.1

Dalam hal ini, al-Qur‘an diinginkan untuk bukan hanya sebagai kitab suci,

namun juga sebuah kitab yang isinya terwujud atau berusaha diwujudkan dalam

kehidupan sehari-hari. Menurut Abdul Mustaqim dalam mendefinisikan istilah

―living Qur‟an”, beliau mengatakan bahwa hal tersebut merupakan fenomena atau

model ―pembacaan‖ masyarakat Muslim terhadap al-Qur‘an dalam ruang sosial

atau di berbagai daerah yang dinamis dan variatif. Hal itu dipengaruhi oleh cara

berpikir, kondisi sosial dan konteks yang mengitari kehidupan mereka.2

1
Moh Muhtador, ―Pemaknaan ayat al-Quran dalam mujahadah: Studi Living Qur‘an di
PP al-munawwir krapyak komplek al- kandiyas,‖ Jurnal Penelitian 8, no. 1 (Februari 2014). Hal.
95.
2
Abdul Mustaqim, Metode Penelitian al-Qur‟ān dan Tafsir (Yoyakarta: Idea Sejahtera,
2015). Hal. 103.

1
Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia umumnya, terdapat beberapa

macam resepsi masyarakat terhadap kehadiran al-Qur‘an. Atau fungsi al-Qur‘an

di tengah masyarakat. Beberapa diantaranya yaitu pertama, al-Qur‘an sebagai

kitab atau bacaan. Kedua, al-Qur‘an sebagai seni. Kemudian yang ketiga, al-

Qur‘an sebagai bacaan ritual. Salah satu bentuk bahwa al-Qur‘an tidak bisa

dipisahkan dari campur tangan manusia dan budaya adalah al-Qur‘an dijadikan

sebagai suatu bacaan ritual atau dalam istilah jawa slametan3. Yang mana di

dalamnya merupakan kegiatan membaca ayat-ayat bersama ataupun doa bersama

untuk berbagai macam jenis ritual yang ada. Selain itu yang keempat yaitu al-

Qur‘an sebagai kekuatan magic.

Salah satu tradisi pra Islam yang masih melekat sampai saat ini adalah

pemujaan pemitosan roh nenek moyang yang mendorong munculnya pola relasi

hukum adat dengan unsur-unsur keagamaan. Oleh sebagian umat Muslim, dalam

pemanfaatan ayat-ayat atau surat dari al-Qur‘an tidak hanya dijadikan sebatas

sebagai bacaan, namun juga dijadikan sebagai wasilah berdoa, pengobatan,

ataupun memohon perlindungan. Dalam kasus ini, muncul beberapa fenomena

baru bahwa al-Qur‘an digunakan tidak lagi mengenai makna yang terkandung di

dalamnya, melainkan juga menyangkut hal pengucapan, hitungan bacaan, hingga

pada penulisannya terkait dengan waktu dan juga model yang tertentu dalam

3
Slametan merupakan salah satu tradisi ritual yang dilakukan oleh masyarakat Jawa
sebagai bentuk acara syukuran dengan mengundang beberapa kerabat atau tetangga. Slametan
berasal dari kata slamet (Arab: salamah) yang berarti selamat atau bahagia. Biasanya tradisi
slametan ini dilakukan untuk memperingati berbagai macam hal seperti kelahiran, kematian,
pernikahan, pindah rumah, dan lain sebagainya. Kegiatan yang dilakukan bisa dengan
mengkhatamkan al-Qur‘an, atau pembacaan Surah Yasin bersama, ataupun yang lain. Dan di akhir
acara akan ada sejenis sedekat dari pemilik hajat yang biasa disebut berkat sebagai bentu rasa
syukur dan terimakasihnya.

2
4
penulisannya. Seperti ayat-ayat yang dituliskan untuk dijadikan rajah sebagai

wasilah suatu perlindungan. Atau ada pula ayat-ayat yang dibaca dengan hitungan

tertentu dan waktu tertentu untuk bisa mendatangkan hal-hal yang supranatural.

Seperti dapat dijadikan sebagai sarana pengobatan, perlindungan, mahabbah, dan

juga yang lainnya.

Dalam hal ini sebuah fenomena praktik masyarakat yang merespon al-

Qur‘an sebagai sesuatu yang mampu mendatangkan kekuatan magis, terjadi di

Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo, yakni pengamalan ayat-ayat al-

Qur‘an untuk mahabbah. Praktik mahabbah ini merupakan suatu praktik

pengamalan ayat-ayat al-Qur‘an yang ditujukan untuk memunculkan rasa suka

dari seseorang kepada pengamal ayat tersebut. Bahkan yang menarik dari

pengamalan ini, ternyata dari penuturan salah satu tokoh masyarakat yang

sekaligus menjadi praktisi shohibul ijazah di Desa Winong yakni Kyai Ismail,5

bahwa pengamalan ini tidak hanya terdiri dari saju jenis, melainkan terdapat

beberapa tipologi mahabbah yang diamalkan oleh masyarakat. Diantaranya yaitu

mahabbah untuk menarik lawan jenis agar bisa mencintai dirinya. Kemudian

mahabbah yang digunakan oleh orang yang menginginkan usahanya laris. Ada

juga untuk menarik simpati masyarakat terhadapnya. Untuk menaklukkan lawan

atau musuh. Dan juga digunakan agar lebih disegani, dipatuhi, atau lebih

berkarisma di tengah masyarakat.

4
Rajah atau wifiq merupakan tulisan dari serangkaian huruf-huruf atau kalimat yang
ditulis oleh seorang yang memiliki ilmu hikmah yang membentuk suatu gambar tertentu yang
dipercayai sebagai penyembuh, keselamatan, kesaktian, mahabbah, atau lainnya. Bentuk dan
jenisnya bermacam, ada yang seperti bulatan, segi tiga, atau semacamnya. Kalimat yang tertulis
bisa berupa ayat al-Qur‘an, asma Allah, ataupun huruf-huruf atau angka-anagka secara terpisah.
5
Kiai Ismail, Wawancara melalui via whatsapp. Kalibeber, 31 Mei 2021

3
Berada di zaman yang terus mengalami perkembangan, terutama dalam

hal teknologi dan pengetahuan, fenomena masyarakat yang masih percaya dengan

hal-hal mistis ternyata masih eksis. Semisal yang terjadi di Desa Winong, salah

satunya dalam pengamalan mahabbah. Hal tersebut tentu tidak lepas dari kondisi

sosial keagamaan masyarakat yang mempengaruhi kepercayaan serta perilaku

masyarakat yang ada. Hal yang mendorong masyarakat untuk mempraktikan

pengamalan tersebut menjadi sesuatu yang menarik bagi peneliti untuk

menganalisis praktik tersebut.

Untuk itu, penulis ingin melakukan penelitian terkait praktik penggunaan

ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah, dengan judul “Penggunaan Ayat-Ayat Al-

Qur’an untuk Mahabbah (Kajian Living Qur’an di Desa Winong, Kec.

Kemiri, Kab. Purworejo).” Dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui

mengenai praktik pengamalan mahabbah yang ada di Desa Winong, pemaknaan

masyarakat, juga analisis sosial terhadap praktik penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an

untuk mahabbah di Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, dapat dirumuskan beberapa masalah dalam

bentuk beberapa pertanyaan berikut:

1. Bagaimana praktik penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah oleh

masyarakat Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo?

2. Bagaimana analisis praktik penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk

mahabbah di Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo?

4
C. Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui macam dan praktik penggunaan ayat al-Qur‘an untuk

mahabbah yang terjadi di tengah masyarakat Desa Winong Kec. Kemiri

Kab. Purworejo.

b. Untuk bisa mengetahui tentang pemaknaan masyarakat Desa Winong Kec.

Kemiri Kab. Purworejo terhadap al-Qur‘an, khususnya pemaknaan dalam

penggunaan ayat al-Qur‘an untuk mahabbah. Juga analisis sosial terkait

praktik tersebut.

D. Manfaat Penelitian

a. Secara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat menambah bahan pustaka

diskursus living Qur‟an yang memfokuskan kajiannya terhadap sosio-

kultural masyarakat dalam mengamalkan al-Qur‘an.

b. Secara praktis, diharapkan penelitian ini dapat berguna bagi masyarakat

Muslim secara umum agar mengetahui ayat-ayat mahabbah dan tata cara

pengamalannya.

E. Kajian Pustaka

Dalam melakukan penelitian ini, sebelumnya penulis juga telah melakukan

bebarapa telaah dari beberapa buku, jurnal ataupun penelitian-penelitian serupa

yang pernah dilakukan sebelumnya. Dari sini kemudian penulis menemukan

beberapa poin-poin yang hampir serupa dengan penelitian yang akan

dilaksanakan, yaitu mengenai salah satu kajian living Qur‘an tentang penggunaan

5
ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah. Beberapa hasil penelitian sebelumnya

adalah sebagai berikut:

1. Sebuah artikel penelitian di salah satu jurnal The 4th Annual International

Qur‘anic Conference 2014 (Muqoddas IV) April 14-15, 2014 dengan judul

―Terapi Ruqyah Berasaskan Al-Qur‘an: Analisis Signifikannya dalam

Rawatan‖ oleh Khadher Ahmad, PhD & Mohd Farhan Md Ariffin,

Universiti Malaya. Penelitian ini sama-sama membahas kajian living

Qur‘an mengenai penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an di tengah masyarakat

yakni bagaimana bacaan-bacaan al-Qur‘an bisa memiliki pengaruh pada

kesehatan. Baik penyakit medis ataupun non medis atau yang berhubungan

dengan hal-hal ghaib. Terdapat perbedaan dengan penelitian yang akan

penulis lakukan yaitu dalam penelitian yang akan dilaksanakan tidak

mengarah pada ruqyah ataupun obat, akan tetapi lebih terfokus pada

penggunaan ayat untuk mahabbah.6

2. Artikel yang terbit dalam sebuah jurnal Khairul vol.8 dengan judul ―Sihir

Tafriq dan Cabaran Rawatannya di Darul Ruqyah‖ yang ditulis oleh Mohd

Suhaimi bin Rozali, Open Univesity Malaysia (OUM); Khairul Hamimah

Bt Mohammad Jodi, Cluster Education and Science Social Open Univesity

Malaysia (OUM); dan Mohd Afifuddin Mohamad, Kluster Sains Gaya

Hidup, Institut Perubatan dan Pergigian Termaju,Universiti Sains

Malaysia (USM). Dalam jurnal ini membahas berbagai urusan

penyembuhan dari sihir dengan cara yang syar‘iyah yaitu dengan ayat-ayat

6
Ahmad Khadher dan Mohd Farhan Md, ―Terapi Ruqyah Berasaskan Al-Qur‘an: Analisis
Signifikannya dalam Rawatan,‖ The 4th Annual International Qur‟anic Conference 2014
(Muqoddas ) IV (April 2014).

6
al-Qur‘an. Sihir yang dibahas di dalamnya adalah tentang sihir perceraian.

Terdapat kesamaan antara penelitian di atas dengan yang penelitian yang

akan penulis lakukan adalah kesamaan pada penggunaanayat-ayat al-

Qur‘an untuk hal-hal ghaib. Yang mungkin sedikit terlihat tidak nalar

namun benar-benar terjadi di masyarakat. Akan tetapi perbedaan dari

penelitian ini adalah objek atau tujuan penelitian ini lebih kepada

mahabbah denganayat-ayat al-Qur‘an.7

3. ―Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an sebagai Obat (Studi Living Qur‘an di

Ma‘had Tahfidzul Qur‘an Bahrusysyifa‘ Bagusari Jogotrunan Lumajang

Jawa Timur)‖, sebuah tesis karya Ahmad Syauqi Alfanzari, Program Studi

Ilmu al-Qur‘an dan Tafsir, Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan

Ampel Surabaya, 2018. Di dalamnya membahas mengenai Ruqyah

Syar‘iyyah atau pengobatan suatu penyakit baik penyakit medis atau pun

non medis dengan menggunakan ayat-ayat al-Qur‘an. Sebagaimana salah

satu artikel yang sudah tertera di atas, bahwa terdapat kesamaan dari

penelitian ini dengan yang akan dilakukan penulis yaitu mengenai kajian

Living Qur‘an yang lebih mengarah pada hal-halghaib. Namun dalam

penelelitian yang akan penulis jalankan ini lebih memberi perhatian

terhadap penggunaan ayat-ayatuntukmahabbah.8

4. Penelitian yang lain adalah sebuah artikel yang ditulis oleh Anwar

Mujahidin dari STAIN Ponorogo, Jawa Timur, dengan judul ―Analisis

Simbolik Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an sebagai Jimat dalam

7
Mohd Suhaimi, Khairul Hamimah, and Mohamad Afifuddin, ―Sihir Tafriq Dan Cabaran
Rawatannya Di Darul Ruqyah,‖ Jurnal Khairul 8, no. 2 (n.d.).
8
Ahmad Syauqi Alfanzari, ―Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an sebagai Obat (Studi Living
Qur‘an Di Ma‘had Tahfidzul Qur‘an Bahrusysyifa‘ Bagusari Jogotrunan Lumajang Jawa Timur)‖
(Tesis, Surabaya, UIN Sunan Ampel, 2018).

7
Kehidupan Masyarakat Ponorogo‖ yang terbit dalam sebuah jurnal

Kalam: Jurnal Studi Agama dan Pemikiran Islam, Volume 10, Nomor 1,

Juni 2016. Yang mana di dalamnya menganalisis mengenai fenomena

jimat dengan menggunakan ayat al-Qur‘an dalam masyarakat Ponorogo.

Jimat yang ditujukan untuk hal apapun yang praktiknya juga

dikombinasikan dengan unsure budaya seperti selametan ataupun puasa

mutih dan sebagainya. Tentu ada kesamaan penelitian ini dengan

penelitian yang akandilakukanpenulis yaitu mengenai kajian Living

Qur‘an, kemudian penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an dalam hal-hal yang

bersifat ghaib, juga dalam penggunaan ayat al-Qur‘an untuk mahabbah

terdapat salah satunya bias dibuat sebagai jimat. Selanjutnya, untuk

perbedaannya adalah pada focus penelitiannya, di mana jimat bias

ditujukan untuk mahabbah, penglaris, penyubur tanah, dll. Namun dalam

penelitian yang akan dituliskan ini hanya berfokus pada mahabbah.9

5. Artikel penelitian dengan judul ―Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an dalam

Ritual Rebo Wekasan (Studi Living Qur‟an di Desa Sukoreno Kec. Kalisat

Kab. Jember)‖ Umi Nuriyatur Rohmah STIQ Walisongo Situbondo. Di

hari Rebo Wekasan (Rabu terakhir di bulan shafar) dipercayai sebagai

hari di mana Allah akan menurunkan ratusan bala‘. Maka dalam tradisi

jawa akan dilakukan suatu ritual tetentu sebagai tolak bala‘. Sebagaimana

yang dituliskan dalam penelitian ini mengenai penggunaan ayat-ayat al-

Qur‘an dalam ritual tersebut di daerah Situbondo. Penelitian ini memiliki

keserupaan dengan yang akan dituliskan penulis yaitu kesamaan dalam

9
Anwar Mujahidin, ―Analisis Simbolik Penggunaaaan Ayat-Ayat Al-Qur`an Sebagai
Jimat Dalam Kehidupapan Masyarakat Ponorogo,‖ Kalam 10, no. 1 (2017): 43.

8
membahas kajian Living Qur‘an yaitu penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an di

tengah masyarakat. Sedang perbedaannya dalam penelitian yang akan

penulis lakukan tidak membahas mengenai ritual Rebo Wekasan seperti

dalam penelitian di atas, namun penulis di sini akan lebih memberikan

fokus pada penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah.10

6. Sebuah artikel dengan judul ―Living Qur‘an: Studi Kasus Pembacaan al-

Ma‟tsurat di Pesantren Khalid bin Walid Pasir Pengaraian Kab. Rokan

Hulu‖ karya Syahrul Rahman, Institut Sains Al-Qur‘an Syaikh Ibrahim

Rokan Hulu, yang termuat dalam Jurnal Syahadah Vol. IV, No. 2 Oktober

2016. Artikel tersebut membahas mengenai kajian Living Qur‘an di

sebuah Pesantren di Rokan Hulu. Di mana di pesantren tersebut

menerapkan tradisi pembacaan al-Ma‟tsurat rutin tiap pagi dan sore.

Kesamaan dengan penelitian yang akan penulis lakukan adalah mengenai

penelitian lapangan tentang living Qur‟an, yang mengkaji bentuk respon

masyarakat terhadap penerapan teks al-Qur‘an dalam kehidupan sehari-

hari. Hanya saja penelitian ini mengkaji mengenai bacaan al-Ma‟tsurat,

dan penelitian yang akan dilakukan membahas mengenai ayat-ayat yang

digunakan untuk mahabbah.11

7. Artikel karya Ahmad Farhan. (2017). ―Studi Living Al-Qur‘an pada

Praktek Qur‘anic Healing Kota Bengkulu (Analisi Deskriftif Terhadap

Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an)‖, Jurnal Refleksi, Volume 16, No. 1,

edisi April 2017. Antara penelitian ini dengan penelitian yang akan

10
Umi Nuriyatur Rohmah, ―Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Dalam Ritual Rebo
Wekasan Studi Living Qur‘an Di Desa Sukoreno Kec. Kalisat Kab. Jember,‖ Al-Bayan: Jurnal
Ilmu Al-Qur‟an Dan Hadist 1, no. 1 (2018): 66–91.
11
Syahrul Rahman, ―Living Qur‘an: Studi Kasus Pembacaan al- Ma‘tsurat Di Pesantren
Khalid Bin Walid Pasir Pengaraian Kab. Rokan Hulu,‖ Jurnal Syahadah IV, no. 2 (2016): 49–71.

9
dilakukan penulis. Dalam artikel ini menjelaskan mengenai praktisi ruqyah

di Kota Bengkulu yang intens menggunakan ayat-ayat al-Qur‘an sebagai

sumber pengobatannya. Praktik living Qur‘an ini yang kemudian menjadi

salah satu kesamaan dengan penelitian yang akan penulis lakukan.

Tentunya dalam hal ini terdapat perbedaan mengenai fungsi dari

pembacaan al-Qur‘an ini. Bahwa dalam penelitian yang akan dilakukan

penulis yaitu mengenai fungsi pembacaan al-Qur‘an untuk mendatangkan

mahabbah. 12

8. Sebuah tesis karya Anshori dengan judul yang mirip yakni ―Penggunaan

Ayat-Ayat Al-Qur‘an sebagai Mahabbah (Studi Living Qur‘an di

Kabupaten Sumenep)‖. Salah satu penelitian program studi Ilmu Al-

Qur‘an dan Tafsir Pasca Sarjana Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Surabaya 2019. Dalam penelitiannya membahas mengenai tata cara

penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah di Kabupaten Sumenep.

Selain itu juga ia lebih melakukan penelitian mengenai dampak dan juga

respon secara umum dari masyarakat mengenai penggunaan ayat-ayat

tertentu untuk mahabbah. Dan dalam hal ini penulis bermaksud melakukan

penelitian yang serupa namun lebih mengarah kepada makna umum dari

ayat-ayat tersebut sehingga bisa diyakini dapat mendatangkan mahabbah

dan juga bagaimana pemaknaan atau penafsirandari masyarakat terhadap

penggunaan ayat-ayat sebagai mahabbah. 13

12
Ahmad Farhan, ―Studi Living Al-Qur‘an Pada Praktek Qur‘anic Healing Kota
Bengkulu (Analisis Deskriptif Terhadap Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an),‖ Refleksi 16, no. 1
(April 207AD).
13
Anshori, ―Penggunaan Ayat-Ayat Al- Qur‘ān Sebagai Mahabbah‖ (Tesis, Surabaya,
Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel, 2019).

10
9. ―Karomahan” (Studi Tentang Pengamalan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Dalam

Praktek Karomahan di Padepokan Macan Putih Kecamatan Baron,

Kabupaten Nganjuk). Salah satu tesis karya M. Assyafi‘ Syaikhu Z

Program Studi Ilmu Al-Qur‘an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin dan

Dakwah, Institut Agama Islam Negeri Surakarta, 2017. Dalam

penelitiannya dijelaskan mengenai penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an dalam

sebuah praktek Karomahan yang diterapkan di Padepokan Macan Putih,

Nganjuk. Dalam praktek karomahan ini terdapat beberapa praktek

penggunaan ayat al-Qur‘an seperti untuk kekebalan, sebagai pengasihan

atau mahabbah, untuk tenaga dalam untuk ruqyah dan lain sebagainya.

Dalam hal ini kesaamaan antara penelitian ini dengan yang akan dilakukan

penulis adalah pembahasan yang lebih condong pada pemaknaan suatu

kegiatan atau tradisi oleh masyarakat yang menjalankan. Akan tetapi yang

menjadi focus utama dalamkajian yang akan penulis lakukan adalah

mengenai mahabbah. Dan juga mengenai pergeseran pemaknaan

masyarakat terhadap tradisi yang telah berjalan. 14

10. Sebuah skripsi karya Memori Tutiana dengan judul ―Fenomena Ziarah

Makam Keramat Mbah Nurpiah dan Pengaruhnya terhadap Aqidah Islam.‖

Dalam penelitian ini dilakukan suatu studi living Qur‘an di Desa Sukarami

Kecamatan Balik Bukit Kabupaten Lampung Barat. Tentunya terdapat

kesaan antara penelitian ini dengan penelitian yang akan penulis lakukan

yakni mengenai sebuah fenomena living Qur‘an yang terjadi di tengah

masyarakat. Hanya saja dalam hal ini terda[pat perbedaan pada objek yang
14
M. Assyafi‘ Syaikhu Z, ―Pengamalan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Dalam Praktek Karomahan
Di Padepokan Macan Putih Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk‖ (Skripsi, Surakarta, IAIN,
2017).

11
akan diteliti adalah mengenai pengguanaan ayat-ayat al-Qur‘an untyk

mahabbah.

Penelitian di atas adalah sama-sama meneliti tentang living Qur‟an dalam

kehidupan sehari-hari. Namun memiliki fokus yang berbeda-beda, secara konteks

penelitian-penelitian di atas adalah sama-sama memiliki satu tujuan yaitu meneliti

tentang penghidupan al-Qur‘an. Jadi, relevansinya dengan penelitian ini adalah

bagaimana cara manusia memaknai al-Qur‘an itu sendiri dan bagaimana cara

mengamalkannya. Letak perbedaannya adalah pada fokusnya, yaitu fungsi dari

ayat al-Qur‘an dan tujuan dalam mengamalkan ayat al-Qur‘an untuk mahabbah.

Dan sejauh mana pemaknaan penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah

oleh masyarakat.

F. Kerangka Teori

Dalam suatu kehidupan sosial tentu tidak lepas dari tradisi-tradisi yang

telah diwariskan oleh para pendahulu yang hingga sekarang masih ada. Manusia

mendapatkan pola-pola perilaku dan pemikirannya dari kehidupan masyarakat.

Bisa saja manusia mengubah pola pikir yang telah dianutnya berdasarkan

pemikirannya sendiri atau dipengaruhi oleh pihak lain. Dari hal tersebut dapat

diketahui bahwa bentuk-bentuk kehidupan manusia dipengaruhi oleh faktor-faktor

psikologis dan kebudayaan.15

Salah satu pendekatan ilmiah yang digunakan untuk mendeskripsikan

sebuah fenomena yang dialami manusia yaitu pendekatan fenomenologi.

Fenomenologi menjelaskan fenomena perilaku manusia yang dialami dalam

15
Suwardi Endraswara, Metodologi Penelitian Kebudayaan (Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press, 2006). Hal. 49.

12
kesadaran. Fenomenologi mencari pemahaman sesorang dalam membangun

makna dan konsep yang bertsikap intersubjektif. Penelitian fenomenologi

berupaya untuk menjelaskan makna dan pengalaman hidup sejumlah orang

tentang suatu konsep atau gejala. Fenomenologi berusaha melihat budaya lewat

pandangan pemilik budaya atau pelakunya.16

Dalam kajian ini termasuk dalam kategori kajian yang lebih tertuju pada

kegiatan masyarakat atau apresiasi masyarakat terhadap al-Qur‘an yang lebih

dikenal dengan istilah studi living Qur‟an. Menurut Abdul Mustaqim dalam

mendefinisikan istilah ―living Qur‟an”, beliau mengatakan bahwa hal tersebut

merupakan fenomena atau model ―pembacaan‖ masyarakat Muslim terhadap al-

Qur‘an dalam ruang sosial atau di berbagai daerah yang dinamis dan variatif. Hal

itu dipengaruhi oleh cara berpikir, kondisi sosial dan konteks yang mengitari

kehidupan mereka.17

Dalam teori Karl Manheim menyatakan bahwa tindakan manusia dibentuk

oleh dua dimensi yaitu perilaku dan makna. Maka dalam memahami perilaku

sosial diperlakuakn pengkajian atau analisis dalam hal: a) Mengkaji mengenai

perilaku eksternal yang dalam hal ini berupa praktek penggunaan aya-ayat al-

Qur‘an untuk mahabbah dan, b) Mengkaji mengenai makna perilaku tersebut.

Makna suatu perilaku dalam tindakan sosial menurut Karl Manheim dibedakan

menjadi tiga macam yakni: Pertama, makna objektif, yaitu makna yang

ditentukan oleh konteks sosial di mana tindakan berlangsung atau disebut juga

dengan makna dasar (makna asli). Kedua, makna ekspresif, yakni makna yang

diatributkan pada tindakan oleh aktor atau makna dari setiap aktor (pelaku). Dan

16
Endraswara. Hal. 42.
17
Mustaqim, Metode Penelitian al-Qur‟ān dan Tafsir. Hal. 103.

13
ketiga, makna dokumenter, atau sering dipahami sebagai makna tersirat, suatu

aspek yang diekspresikan menunjukkan kepada kebudayaan secara menyeluruh.18

G. Metode Penelitian

Dalam melakukan penelitian karyai lmiah, metode merupakan cara agar

suatu penelitian dapat terlaksana secara terarah dan mencapai hasil yang optimal.

Hal ini merupakan hal terpenting untuk menghasilkan penelitian yang diiginkan.

a. Jenis Penelitian

Dalam penelitian kali ini, jenis penelitian yang akan penulis gunakan

adalah berbentuk kajian lapangan (field research). Penelitian lapangan

merupakan data dan informasi yang diperoleh langsung dari responden.

Penelitian ini dilakukan secara langsung di Desa Winong, Kec. Kemiri Kab.

Purworejo.

Penelitian yang akan penulis lakukan menggunakan pendekatan

fenomenologi. Pendekatan fenomenologi merupakan salah satu pendekatan

ilmiah yang digunakan untuk mendeskripsikan sebuah fenomena yang dialami

manusia. Fenomenologi menjelaskan fenomena perilaku manusia yang dialami

dalam kesadaran. Fenomenologi mencari pemahaman sesorang dalam

membangun makna dan konsep yang bersikap intersubjektif. Sebuah fenomena

yang akan menjadi fokus penilian ini adalah mengenai praktik penggunaan

ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah di Desa Winong.

18
Gregory Baumm, Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan
Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana,
1999). Hal. 15.

14
b. Sumber Data

Penelitian yang akan penulis lakukan adalah berbentuk kajian lapangan,

maka sumber primer yang akan penulis gunakan adalah :

1) Hasil wawancara penulis dengan masyarakat desa yang terlibat langsung

dengan penelitian yang akan penulis lakukan, yakni tentang bagaimana

masyarakat memaknai ayat-ayat yang dianggap bisa mendatangkan

Mahabbah di tengah masyarakat. Wawancara ini dilakukan dengan

beberapa informan yang merupakan warga dari Desa Winong, juga

sebagian dari pengamal praktik mahabbah di Desa Winong.

2) Sementara sumber data skundernya adalah berupa buku-buku, kitab-kitab,

serta hasil penelitian sebelumnya.

c. Metode Pengumpulan Data

Langkah selanjutnya yang akan penulis lakukan, agar mendapatkan

data-data yang valid, maka penulis menggunakan beberapa teknik dalam

mengumpulkan data dengan cara:

1) Pengamatan (Observasi)

Observasi merupakan suatu proses pengamatan. Secara khusus

adalah mengamati dan mendengar dalam rangka memahami, mencari

jawaban, mencari bukti terhadap fenomena sosial-keagamaan selama

beberapa waktu tanpa memengaruhi fenomena yang diobservasi.19

19
Sahiran Syamsuddin, Metodologi Penelitian Living Qur‟ān Dan Hadis (Yogyakarta: TH
Press, 2007). Hal. 57.

15
Adapun observasi yang akan penulis gunakan adalah observer

berperan pasif. Dalam hal ini peneliti mendatangi peristiwa, akan tetapi

kehadirannya di lokasi menunjukkan peran yang pasif, maka observer

tidak melakukan pencatatan apapun, kecuali setelah tidak diketahui yang

diteliti, atau dengan membawa recorder.20

Pengamatan yang akan penulis lakukan adalah untuk memahami

situasi-situasi masyarakat di Desa Winong, Kec. Kemiri, Kab. Purworejo

dalam mengamalkan atau meggunakan ayat -ayat al-Qur‘an untuk

mendatangkan Mahabbah.

2) Wawancara (Interview)

Wawancara merupakan percakapan yang dilakukan oleh dua belah

pihak, yaitu pewawancara (Interviewer) mengajukan pertanyaan kepada

terwawancara (Interviewee) dan kemudian terwawancara memberikan

jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara.21

Adapun sumber yang akan penulis wawancarai antara lain kiai,

tokoh masyarakat, para pemuda/i, dan para masyarakat pada umumnya di

daerah [Link] mana dari mereka akan dapat diketahui makna ayat-

ayat yang bisa mendatangkan rasa Mahabbah tersebut dari perspektif

berbagai kalangan.

d. Metode Analisis Data

Analisis data dilakukan setelah proses pengumpulan data diperoleh yang

mana analisis data tersebut bertujuan untuk mengetahui keberhasilan


20
Syamsuddin. Hal. 58.
21
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D)
(Bandung: Alfabeta, 2015). Hal.318.

16
pelaksanaan penelitian. Adapun langkah-langkah dalam metode analisis data

dalam penelitian ini adalah:

1) Reduksi Data, yakni merangkum, memilih hal pokok, fokus pada hal

penting, mencari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu

terhadap isi data yang berasal dari lapangan sehingga melahirkan data

yang lebih tajam.22

2) Display Data, yakni proses menampilkan data yang telah mengalami

reduksi dengan sederhana dalam bentuk naratif, tabel, matrik, dan grafik

dengan maksud data bias dikuasai penulis untuk dapat mengambil

kesimpulan yang tepat.23

3) Verifikasi dan Simpulan, yakni suatu hasil dari bukti-bukti yang valid

yang mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan di

awal, mungkin juga tidak. Karena dalam penelitian kualitatif rumusan

masalah masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah penelitian

di lapangan.24

H. Sistematika Pembahasan

Untuk mempermudah pemahaman skripsi, maka dibuatlah sistematika

pembahasan sebagai berikut:

Bab pertama, yaitu pendahuluan. Dalam bab ini terdapat latar belakang,

rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kajian penelitian, metode

penelitian, dan diakhiri dengan sistematika pembahasan.

22
Sugiyono. Hal. 338.
23
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan
R&D). Hal. 341.
24
Sugiyono. Hal. 345.

17
Bab kedua, berisi tentang kerangka teori. Dalam bab ini menjelaskan

mengenai kajian living Qur‘an serta posisi al-Qur‘an di tengah masyarakat.

Bab ketiga, yaitu data-data penelitian, di dalamnya berisi tentang letak

geografis, juga keadaan masyarakat Desa Winong, Kemiri, Purworejo. Kemudian

membahas mengenai praktik penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah di

Desa Winong, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo.

Bab keempat, merupakan pembahasan inti dan juga analisis dalam

penelitian ini. Dalam bab ini memaparkan mengenai pemaknaan masyarakat Desa

Winong terhadap ayat-ayat mahabbah dan juga analisis sosial terhadap praktik

tersebut.

Bab kelima, yaitu bagian terakhir adalah penutup yang berisi kesimpulan

dan saran-saran. Dalam bab ini dijelaskan mengenai kesimpulan dan juga

kekurangan-kekurangan dari penelitian ini, sehingga penelitian berikutnya

mampu mengembangkan penelian mengenai ayat-ayat yang dianggap memiliki

khasiat di tengah masyarakat.

18
BAB II

RESEPSI AL-QUR’AN DI TENGAH MASYARAKAT

DAN KAJIAN LIVING QUR’AN

A. Resepsi Al-Qur’an di Tengah Masyarakat

Melihat al-Qur‘an di tengah masyarakat, tentu terdapat beberapa

pemaknaan dari masyarakat terkait dengan al-Qur‘an yang variatif. Terdapat

beberapa tipologi masyarakat dalam menerima atau meresepsi kehadiran al-

Qur‘an.

1. Al-Quran sebagai Kitab

Sebagai kitab suci, al-Qur‘an memiliki berbagai macam bentuk

resepsi dari masyarakat. Al-Qur‘an dimaknai sebagai ―Kitab,‖ atau sebagai

―Bacaan‖. Ini merupakan pemaknaan yang paling umum, karena memang

secara fisik al-Qur‘an merupakan lembaran-lembaran kertas yang bertulisan

ayat-ayat yang kemudian dikumpulkan menjadi satu sehingga menjadi sebuah

kitab. Sebagai kitab maka al-Qur‘an paling banyak tampak sebagai sesuatu

yang dibaca, dan berdiri sendiri (independent).25

Akan tetapi al-Qur‘an sebagai kitab suci yang berisi firman Allah

tidak bisa hanya dijadikan sebagai bacaan sebagaiman kitab-kitab pada

umumnya. Al-Qur‘an merupakan sebuah kitab yang istimewa. Al-Qur‘an

juga dimaknai sebagai kumpulan petunjuk. Dalam surat al-Baqarah ayat 2,

Allah SWT berfirman “ẓālika al-kitābu lā raiba fīhi hudan li al-muttaqīn”,

kitab (al-Qur‘an) ini tidak ada keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi

25
Heddy Shri Ahimsa Putra, ―The Living Qur‘an: Beberapa Perspektif Antropologi,‖
Walisongo 20, no. 1 (Mei 2012). Hal. 242.

19
orang-orang yang bertaqwa‖. Ayat ini dengan jelas dan tegas mengatakan

bahwa al-Qur‘an adalah kitab yang berisi petunjuk. Petunjuk adalah segala

sesuatu yang dapat membawa manusia kepada sesuatu yang baik atau yang

membuat seorang individu sampai pada suatu keadaan yang baik dan benar.26

Al-Qur‘an juga menjadi sumber hukum utama bagi umat muslim.

Sebuah kitab yang diturunkan oleh Allah secara mutawatir kepada Nabinya

melalui perantara malaikat Jibril, tentunya merupakan suatu hujjah yang

paling akurat. Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa al-Qur‘an

adalah kitab yang tidak ada sedikitpun keraguan di dalamnya.27

Pemaknaan lain al-Qur‘an sebagai sebuah kitab, al-Qur‘an tidak hanya

berisi petunjuk, perintah, larangan dan anjuran, tetapi juga berisi berbagai

cerita mengenai peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di masa lampau, al-

Qur‘an juga dapat dipandang sebagai sumber informasi atau sumber

pengetahuan, dan kalau kitab ini diyakini berasal dari Allah SWT. Terdapat

pengetahuan mengenai masa lampau yang mungkin belum terungkap oleh

para ahli sejarah, pengetahuan masa kini, maupun pengetahuan akan masa

mendatang.28

Pengetahuan masa lampau dilihat dari berbagai ragam kisah yang

kompleks tentang Nabi-Nabi terdahulu yang dimuat dalam al-Qur‘an. Dalam

konteks masa kini, informasi yang perlu dicari dalam al-Qur‘an terutama

adalah informasi mengenai hal-hal yang harus dilakukan, sebaiknya

dilakukan atau tidak boleh dilakukan sama sekali dalam kehidupan

26
Putra. Hal. 243.
27
Abdul Latif, ―Al- Qur‘an sebagai Sumber Hukum Utama,‖ Jurnal Hukum dan Keadilan
4, no. 1 (Maret 2017). Hal. 68.
28
Putra, ―The Living Qur‘an: Beberapa Perspektif Antropologi.‖ Hal. 244.

20
bermasyarakat. Jadi pengetahuan di sini adalah pengetahuan yang

menyangkut aturan-aturan, hukum-hukum tentang apa yang sebaiknya segera

dilaksanakan oleh umat Islam. Dan sebagai sumber pengetahuan masa depan

maksudnya bukan hanya dalam arti tahun-tahun yang akan datang, tetapi

lebih jauh dari itu, yakni kehidupan sesudah mati.29

2. Al-Qur’an sebagai Seni

Posisi al-Qur‘an sebagai seni merupakan salah satu salah satu bentuk

resepsi masyarakat secara estetis. Termasuk dalam resepsi estetis yakni

berkembangnya seni kaligrafi dan juga seni dalam membaca al-Qur‘an atau

dikenal di Indonesia dengan istilah qira‘ah. Bahkan hingga saat ini banyak

diadakan festival-festival yang mengangkat kesenian al-Qur‘an ini, baik

dalam seni kaligrafi maupun seni tilawah.

Kaligrafi adalah kepandaian menulis elok, atau tulisan elok. Bahasa

arab sendiri menyebutnya khath yang berarti garis atau tulisan indah.30

Definisi yang di kemukakan oleh Syeikh Syamsuddin Al Akfani di dalam

kitabnya, Irsyād Al Qosyīd, Khath kaligrafi adalah suatu ilmu yang

memperkenalkan bentuk-bentuk huruf tunggal, letak-letaknya, dan cara-cara

merangkainya menjadi sebuah tulisan yang tersusun. Atau apa-apa yang di

tulis di atas garis-garis, bagaimana cara menulisnya dan menentukan mana

yang tidak perlu di tulis, mengubah ejaan yang perlu di qubah an menentukan

cara bagaimana untuk mengubahnya.31

Sampai kepada level kemajuan pesat ini penulisan berkembang

29
Putra. Hal. 248.
30
Dahrun Sarif, ―Pengaruh Al Qur‘an Terhadap Perkembangan Kaligrafi Arab,‖ Jurnal
ETNOHISTORI 3, no. 2 (2016). Hal. 164.
31
Maryono, ―Kaligrafi Al-Qur‘an di Desa Borobudur: Kajian Living Qur‘an,‖ Wahana
Islamika: Jurnal Studi KeIslaman 3, no. 1 (April 2017). Hal. 46.

21
menjadi bentuk ornamental (hiasan) khusus. Kaligrafi al-Qur‘an tidak hanya

dalam penulisan mushaf, namun juga dijadikan sebagai hiasan-hiasan di

gedung atupun rumah yang memiliki nilai seni tersendiri. Resepsi masyarakat

mengenai kaligrafi al-Qur‘an sangatlah beragam. Beberapa memaknainya

sebagai salah satu wasilah mendekatkan diri pada Yang Kuasa, ada yang

menjadikannya sebagai pengingat, menambah spirit keagamaan,

menumbuhkan suasana religius, digunakan sebagai jimat, ataupun hanya

sebagai tambahan assesoris dinding saja.32

Mengenai seni baca al-Qur‘an, dalam Islam seni tilawah al-Qur‘an

merupakan suatu ibadah sunnah yang memilki keutamaan. Seni baca al-

Qur‘an (Qira‘ah) adalah bacaan al-Qur‘an yang bertajwid diperindah oleh

irama dan lagu atau dengan kata lain nagham, dapat dikategori sebagai jenis

Handasah al-shaut atau seni suara. Qira‘ah merupakan salah satu seni baca al-

Qur‘an yang dapat didengar hampir di setiap kesempatan, dengan beragam

pendengar di setiap sudut dunia Islam yang paling merasuk dalam budaya

Islam.33

Seperti yang disebutkan dalam Firman Allah: ―Dan bacalah al-Qur‘an

tartil.‖ (QS. Al-Muzammil: 4), yang artinya bacalah al-Qur‘an secara tenang,

perlahan-lahan dan tidak tergesa-gesa, memperhatikan potongan ayat,

permulaan dan kesempurnaan makna. Membaca al-Qur‘an dengan gaya

murottal memfokuskan pada dua hal utama yaitu kebenaran bacaan dan lagu

Al-Qur‘an. Lagu dalam seni baca Al-Qur‘an harus tunduk dan sesuai kaidah-

kaidah tartil yang tertuang dalam disiplin ilmu tajwid serta makhrojul huruf
32
Maryono. Hal. 55-57.
33
Suryati, ―Ornamentasi Seni Baca Al-Qur‘an dalam Musabaqoh Tilawatil Qur‘an
sebagai Bentuk Ekspresi Estetis Seni Suara,‖ Resital 17, no. 2 (Agustus 2016). Hal. 68.

22
yang benar.

Di samping itu seni baca Al-Qur‘an juga seringkali dipertunjukan dan

dilombakan secara langsung dalam acara keagamaan dengan istilah

Musabaqoh Tilawatil Qur‘an (MTQ) dari jenis bacaan tartil, murottal, dan

Qiro‘ah (mujawwad) yang secara rutin diadakan baik dari tingkat daerah

hingga tingkat nasional bahkan internasional dari berbagai kategori tingkat

pelajar, mahasiswa, dan tingkat umum.34

3. Al-Qur’an sebagai Bacaan Ritual

Di tengah masyarakat, al-Qur‘an juga digunakan sebagai bacaan

ritual. Di dalam tradisi Jawa, terdapat istilah slametan yang merupakan

upacara yang terkait dengan kehidupan dikonsepsikan oleh para ahli

antropologi sebagai upacara lingkaran hidup (rites of the life cycle), yaitu

suatu upacara makan bersama makanan yang telah diberi doa sebelum dibagi-

bagikan. Slametan ditujukan agar tidak ada gangguan apa pun di dalam

kehidupan manusia. Dengan demikian, fungsi dan manfaat dari slametan

merupakan kombinasi harmonisasi yang tidak hanya terjadi antara sesama

makhluk hidup, tetapi juga bermakna harmonisasi antara kekuatan natural

dan supranatural.35

Slametan berasal dari kata slamet (Arab: salamah) yang berarti

selamat atau bahagia. Biasanya tradisi slametan ini dilakukan untuk

memperingati berbagai macam hal seperti kelahiran, kematian, pernikahan,

pindah rumah, dan lain sebagainya. Kegiatan yang dilakukan bisa dengan

mengkhatamkan al-Qur‘an, atau pembacaan Surah Yasin bersama, ataupun


34
Suryati. Hal. 68.
35
Fathurrasyid, ―Tipologi Ideologi Resepsi Al-Qur‘an di Kalangan Masyarakat Sumenep
Madura,‖ El Harakah 17, no. 2 (2015). Hal. 229.

23
yang lain. Dan di akhir acara akan ada sejenis sedekah dari pemilik hajat yang

biasa disebut berkat36 sebagai bentuk rasa syukur dan terimakasihnya. Tujuan

dari ritual ini adalah untuk meminta perlindungan dari Yang Maha Kuasa.

Terdapat berbagai macam ritual-ritual lain yang di dalamnya

menjadikan al-Qur‘an sebagai bacaan utamanya. Seperti yasinan37 ataupun

tahlilan38 yang rutin dijalankan oleh sebagian masyarakat Jawa pada tiap

malam Jum‘at atau di saat ada orang yang meninggal dari hari pertama

hingga hari ke tujuh dari kematian. Ada pula dilaksanakan ketika seseorang

memiliki hajat tertentu. Pembacaan Surah Yasin dan Tahlil secara bersama ini

menjadi suatu ritual masyarakat muslim Jawa dengan tujuan dzikir atau

mendoakan orang yang sudah meninggal.

4. Al-Qur’an sebagai Kekuatan Magis

Dalam resepsi al Quran secara fungsional, kehadiran al Quran dapat

dijadikan sebagai benda yang mempunyai kekuatan magis. Potongan ayat-

ayat al-Quran apabila dibaca secara rutin dan konsisten, baik waktu dan

tempatnya, maka akan mendatangkan kekuatan tersendiri. Baik yang berupa

amaliyah atau wirid yang terus menerus dibaca secara konsisten maupun

sebagai rajah.

Rajah atau wifiq merupakan tulisan dari serangkaian huruf-huruf atau

kalimat yang ditulis oleh seorang yang memiliki ilmu hikmah yang

36
Berkat berasal dari bahasa Arab barokah adalah salah satu bentuk sedekat atau ucapan
terimakasih dari pemilik hajat kepada yang telah hadir dan turut mendoakan yang biasanya berupa
makanan. Dinamakan berkat karena makanan tersebut dianggap memiliki berkah tersendiri.
37
Yasinan yakni pemabacaan surah yasin secara bersama-sama yang dilakukan oleh
masyarakat. Biasanya menjadi rutinitas yang dilakukan pada setiap malam Jum‘at, di mana
ditujukan untuk mendoakan orang yang telah meninggal.
38
Tahlilan yaitu serangkaian bacaan yang berupa ayat-ayat al-Qur‘an dan juga dzikir
yang dibaca secara bersama, yang juga termasuk dalam ritual selametan. Kata tahlīl (‫)ْل انه اْل هللا‬
yang merupakan bacaan inti dari tradisi ritual ini.

24
membentuk suatu gambar tertentu yang dipercayai sebagai penyembuh,

keselamatan, kesaktian, mahabbah, atau lainnya. Bentuk dan jenisnya

bermacam, ada yang seperti bulatan, segi tiga, atau semacamnya. Kalimat

yang tertulis bisa berupa ayat al-Qur‘an, asma Allah, ataupun huruf-huruf

atau angka-anagka secara terpisah.39

Dalam hal ini, baik secara bacaan maupun tulisan beberapa ayat al-

Qur‘an dipercaya masyarakat dapat dijadikan wasilah dalam berbagai hal.

Seperti ayat al-Qur‘an yang dapat dijadikan sebagai salah satu sarana

pengobatan, perlindungan, dapat mendatangkan mahabbah, ataupun tujuan

tertentu. Seperti contoh yang telah ada sejak zaman Rasululah, beliau

menjadikan ayat-ayat suci al-Quran sebagai terapi atau yang populer dengan

sebutan ruqyah. Misalnya, Nabi SAW pernah ditimpa kesakitan dan baginda

akan membacakan al-Mu‗awwiżāt40 bagi merawat kesakitan tersebut. Hal

yang sama juga pernah dilakukan oleh ‗A‘isyah ketika beliau membantu

membacakan al-Mu‗awwiżāt atas permintaan Nabi SAW bagi tujuan merawat

kesakitan yang dihadapi oleh Nabi SAW. Selepas itu beliau telah

meniupkannya ke tapak tangan Nabi SAW sebelum disapu ke seluruh tubuh

badan Nabi SAW sepertimana dalam hadith yang diriwayatkan daripada

'A'isyah RA.41

Kemudian, selain di atas, Nabi SAW turut menyarankan umat baginda

untuk beramal dengan surah-surah dan ayat-ayat tertentu bagi tujuan untuk

39
Mujahidin, ―Analisis Simbolik Penggunaaaan Ayat-Ayat Al-Qur`an Sebagai Jimat
Dalam Kehidupapan Masyarakat Ponorogo.‖ Hal. 45.
40
Al-Mu‗awwiżāt adalah merujuk kepada kombinasi tiga surah dalam al-Quran iaitu
surah al-Ikhlas, surah al-Falaq dan surah al-Nās.
41
Ahmad Khadher dan Farhan Mohd, ―Terapi Ruqyah Berasaskan Al-Qur‘an: Analisis
Signifikannya Dalam Rawatan,‖,‖ The 4th Annual International Qur‟anic Conference 2014
(Muqoddas ) 4 (April 2014). Hal. 3.

25
perlindungan diri daripada terkena penyakit sama ada penyakit fizikal

ataupun penyakit rohani. Antaranya galakan Nabi SAW supaya beramal

dengan ayat 255 surah al-Baqarah atau dikenali sebagai ayat Kursi dengan

tujuan untuk perlindungan daripada gangguan dan hasutan syaitan.42

B. Teori Sosiologi Pengetahuan Karl Mannheim

Karl Mannheim lahir pada tahun 1893 di Budapest, Hongaria. Namun

setelah menginjak dewasa, ia meninggalkan Hungaria dan pindah beberapa lama

di Paris. Kemudian menjelang akhir Perang Dunia I, ia pindah ke Jerman dan

menetap di sana. Pada tahun 1929 ia menjadi guru besar di Frankfurt. Ketika di

Frankfurt, ia mendapat tekanan politik dari kekuasaan Hilter dan diberhentikan

dari Frankfurt, sehingga ia pergi ke Londin. Di tahun 1946, ia menjadi guru besar

di University of London. Dan ketika dicalonkan sebagai direktur UNESCO pada

tahun 1947, ia meniggal dunia.43

Teori yang terkenal dari Karl Mannheim adalah teori sosiologi

pengetahuan. Dalam hal ini, Karl Mannheim memberikan suatu perspektif teoritik

dan metodologis tentang semesta realitas, termasuk agama. Sebagai sebuah teori,

sosiologi pengetahuan mencoba berusaha menganalisis kaita antara pengetahuan

dan kehidupan. Sedangkan sebagai riset sosiologis-historis berusaha menelusuri

bentuk-bentuk yang diambil oleh kaitan itu dalam perkembangan intelektual

manusia.44

Maka dari itu, sosiologi pengetahuan bertolak belakang dari epistimologi

42
Khadher dan Mohd. Hal. 4.
43
Hamka, ―Sosiologi Pengetahuan: Telaah atas Pemikiran Karl Mannheim,‖ Scolae:
Journal of Pedagogy 3, no. 1 (2020). Hal. 77.
44
Hamka. Hal. 78.

26
dan paradigma modern (posivisme). Ilmu penetahuan, tepatnya ilmuan atau

teoritikus, observers, pemikir, dan lainnya, tisdak lepas dari sebuah setting lokasi

sosio-historisnya masing-masing. Maka bentuk-bentuk hasil penelitian ilmiah

(terutama dalam ilmu sosial-kemanusiaan) hanyalah bersifat perspektivistik.45

Secara konseptual sosiologi pengetahuan muncul sebagai respon terhadap

realitas ilmu-ilmu sosial yang mengadopsi ilmu-ilmu alam baik dalam teori,

metodologi maupun epistimologi yang pada saat itu ilmu alam melalui metodologi

ilmiahnya sedang mencapai puncak prestasinya. Sosiologi pengetahuan berbeda

dengan ilmu alam yang mengafirmasi kebenaran (pengetahuan) bebas nilai,

apriori, dan objektif. Dalam sosiologi pengetahuan melihat kebenaran dan

pengetahuan manusia bersifat subjektif dan tidak bebas nilai. Pengetahuan tidak

akan pernah lepas dari subjektivitas individu yang mengetahui. Latar belakang

sosual dan psikologi individu akan senantiasa mempengaruhi proses terjadinya

pengetahuan.46

Prinsip dasar dari sosiologi pengetahuan Karl Mannheim adalah bahwa

tidak ada cara berpikir yang dapat dipahami jika asal-usul sosialnya belum

diklarifikasi. Tentu di sini, ide-ide haruslah dipahami dalam hubungannya dengan

masyarakat yang memproduk dan menyatakannya dalam kehidupan yang mereka

mainkan.47

Karl Manheim menyatakan bahwa tindakan manusia dibentuk oleh dua

dimensi yaitu perilaku dan makna. Maka dalam memahami perilaku sosial

45
Gregory Baumm, Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan
Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow. Hal. ix.
46
Amin Abdullah, Agama, Kebenaran, dan Relativitas (Yogyakarta: Tiara Wacana,
1999). Hal. xix.
47
Gregory Baumm, Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan
Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow. Hal. 8.

27
diperlakuakn pengkajian atau analisis dalam hal: a) Mengkaji mengenai perilaku

eksternal yang dalam hal ini berupa praktek penggunaan aya-ayat al-Qur‘an untuk

mahabbah dan, b) Mengkaji mengenai makna perilaku tersebut.48

Makna suatu perilaku dalam tindakan sosial menurut Karl Manheim

dibedakan menjadi tiga macam yakni: Pertama, makna objektif, yaitu makna yang

ditentukan oleh konteks sosial di mana tindakan berlangsung atau disebut juga

dengan makna dasar (makna asli). Kedua, makna ekspresif, yakni makna yang

diatributkan pada tindakan oleh aktor atau makna dari setiap aktor (pelaku). Dan

ketiga, makna dokumenter, atau sering dipahami sebagai makna tersirat, suatu

aspek yang diekspresikan menunjukkan kepada kebudayaan secara menyeluruh.

Makna dokumenter inilah kemudian yang menjadi minat para sosiolog, bahwa

dalam hal ini menerapkan beberapa norma dalam pernyataan mereka tentang

proses sosial serta melihat konflik antara nilai kemanusiaan dan destruksinya

dalam masyarakat. 49

Untuk memfasilitasi refleksi sosiologisnya, Mannheim membedakan

antara relativisme dan relasonalisme. Relativisme adalah pendekatan yang

mengatur bahwa semua pengetahuan secara sosial tidak bisa berdiri sendiri,

dibatasi oleh lokasi pemikir, dan alasan-alasan dari hal ini terletak pada relativitas

yang tidak bisa dihindari dari semua kebenaran manusia. Sedangkan relasionisme

adalah pendekatan yang juga mengakui despendensi sosial pengetahuan, tetapi

menolak menggunakan prinsip ini secara reduktif sebagai argumen untuk

relativitas semua kebenaran.

48
Gregory Baumm. Hal. 14.
49
Gregory Baumm. Hal. 15.

28
C. Kajian Living Qur’an

1. Pengertian Living Qur’an

Pada dasarnya, studi al-Qur‘an sebagai suatu hal yang sistematis

terkait langsung ataupun tidak langsung dengan al-Qur‘an sudak ada sejak

zaman Rasulullah. Hanya saja pada tahap awalnya, kajian al-Qur‘an

dilakukan oleh generasi awal sebagai wujud penghargaan dan ketaatan

pengabdian kepada al-Qur‘an. Pada masa awal, belum begitu banyak cabang

mengenai ilmu al-Qur‘an. Terkait lahirnya cabang ilmu al-Qur‘an sebagian

besar berakar pada problem-problem tekstualitas al-Qur‘an. Sebagian dari

cabang ilmu al-Qur‘an ini lebih terkonsentrasi pada aspek internal maupun

eksternal teks al-Qur‘an. Sedang praktek tertentu yang berwujud penarikakan

al-Qur‘an ke dalam praktek kehidupan masyarakat di luar aspek

tekstualitasnya terlihat kurang menarik bagi peminat studi al-Qur‘an klasik.50

“The Living Qur‟an” atau ―Al-Qur‘an yang hidup‖ merupakan suatu

istilah yang tidak asing lagi bagi masyarakat Muslim. Terdapat berbagai

macam pemaknaan dari mereka terkait istilah tersebut. Seperti, istilah

tersebut dapat mengungkapkan makna sosok Nabi Muhammad SAW yang

mana diyakini bahwa akhlak beliau adalah al-Qur‘an. Selain itu, ungkapan

tersebut juga bisa tertuju kepada masyarakat yang selalu berpedoman pada al-

Qur‘an dalam kesehariaannya. Mereka hidup dengan menjalani segala

perintah dan menjauhi larangannya. Sehingga al-Qur‘an mewujud dalam

keseharian mereka.51

50
M Mansur, Living Qur‟an dalam Lintasan Sejarah Studi Al-Qur‟an, Metodologi
Penelitian Living Qur‘an dan Hadis (Yogyakarta: Teras, 2007). Hal. 5.
51
Putra, ―The Living Qur‘an: Beberapa Perspektif Antropologi.‖ Hal. 236.

29
Secara garis besar, terdapat beberapa genre dan objek kajian dalam

penelitian al-Qur‘an. Pertama, dirāsat mā fī al-Qur‟ān, yang menurut Amin

Khuli merupakan penelitian yang menempatkan teks al-Qur‘an sebagai objek

kajian. Kedua, dirāsat mā ḥaul al-Qur‟ān yakni penelitian yang

menempatkan hal-hal yang di luar teks al-Qur‘an sebagai objek kajian.

Ketiga, penlitian yang menjadikan pemahaman terhadap teks al-Qur‘an

sebagai objek penelitian. Keempat, penelitian yang lebih berfokus pada

respon masyarakat terhadap teks al-Qur‘an dan hasil penafsiran seseorang,

termasuk resepsi sosial masyarakat terhadap al-Qur‘an yang dapat ditemui

dalam kehidupan, yang di sebut dengan studi living Qur‟an.52

Mengenai respon masyarakat muslim, sebenarnya hal tersebut sudah

tegambar jelas sejak zaman Rasulullah dan juga para sahabat. Sudah sejak

lama muncul tradisi al-Qur‘an dijadikan sebagai objek hafalan (tahfiẓ),

listening (sima‘), dan juga kajian tafsir disamping sebagai objek

pembelajaran ke berbagai daerah dalam bentuk majlis al-Qur‘an sehingga al-

Qur‘an sampai masuk ke dada para sahabat.53 Setelah penyebaran Islam

mulai meluas hingga mendiami seluruh belahan dunia, respon mereka

tentunya menjadi berjembang dan sangat variatif, tak terkecuali di Indonesia.

Beberapa peneliti living Qur‘an telah memberikan definisi masing-

masing terkait hal tersebut. Misal, M Mansyur, mengatakan di dalam

bukunya bahwa kajian living Qur‟an merupakan kajian atau penelitian ilmiah

mengenai beragam peristiwa sosial terkait dengan kehadiran al-Qur‘an atau

52
Abdul Mustaqim, Metode Penelitian Living Qur‟an Model Penelitian Kualitatif,
Metodologi Penelitian Living Qur‘an dan Hadis (Yogyakarta: Teras, 2007). Hal. xii-xiv.
53
Muhammad Yusuf, Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an, Metodologi
Penelitian Living Qur‘an dan Hadis (Yogyakarta: Teras, 2007). Hal. 43.

30
keberadaan al-Qur‘an di tengah masyarakat Muslim tertentu. Penelitian ini

sebenarnya bermula dari fenomena Qur‟an in everyday life, yakni makna dan

fungsi al-Qur‘an yang riil dialami masyarakat muslim. 54

Bebeda dengan studi al-Qur‘an yang menempatkan tekstualitas al-

Qur‘an sebagai objek kajiannya, kajian living Qur‟an yang objek kajiannya

berupa fenomena di tengah mayarakat semacam ini, tidak memiliki kontribusi

langsung dalam hal penafsiran al-Qur‘an. Akan tetapi, pada tahap lanjut, hasil

studi sosial al-Qur‘an dapat memberikan manfaat bagi agamanya untuk dapat

dievaluasi dan ditimbang bobot manfaat dan madlarat dari beragai praktek

tentang al-Qur‘an yang dijadikan objek.55

Selain itu, living Qur‟an juga dapat diartikan sebagai fenomena yang

hidup di tegah masyarakat Muslim terkait dengan Qur‘an sebagai objek

kajiannya. Bisa dikatakan bahwa hal ini terjadi karena munculnya praktek

pemaknaan al-Qur‘an oleh masyarakat yang tidak berlandaskan pemahaman

tekstualnya, melainkan dari kepercayaan masyarakat terhadap fadhilah dari

bagian tertentu teks al-Qur‘an bagi kepentingan praksis keseharian umat.56

Syamsudin Sahiron mengatakan bahwa yang dimaksud dengan living

Qur‘an adalah teks al-Qur‘an yang hidup di tengah masyarakat. Dalam

penelitian ini lebih memberikan fokus pada respon masyarakat terhadap al-

Qur‘an. Resepsi sosial terhadap al-Qur‘an dapat ditemukan dalam kehidupan

keseharian masyarakat, seperti suatu tradisi pembacaan ayat atau surat

tertentu dalam suatu ritual tertentu. Ia juga menyebutkan bahwa penelitian

54
Mansur, Living Qur‟an dalam Lintasan Sejarah Studi Al-Qur‟an. Hal. 5.
55
Mansur. Hal. 4.
56
Mansur. Hal. 4

31
semacam ini merupakan suatu bentuk penelitian yang menggabungkan antara

cabang ilmu al-Qur‘an dan ilmu sosial. 57

Menurut Muhammad Yusuf, ia menyatakan bahwa segala upaya

dalam hal hidup dan menghidupkan al-Qur‘an oleh masyarakat, dalam arti

respon sosial (realitas) itu dapat dikatakan sebagai living Qur‟an. Baik al-

Qur‘an dilihat masyarakat sebagai ilmu (science) dalam wilayah profan (tidak

keramat), juga di sisi lain sebagai suatu petunjuk (hudā) yang memiliki nilai

sakral (sacred value). Dari kedua sisi inilah kemudian memunculkan suatu

dikap dan pengalaman kemanusiaan yang membentuk sistem religi dari

dorongan emosi keagamaan.58 Dalam hal ini akan terungkap mengenai

gambaran bagaimana masyarakat Muslim memahami al-Qur‘an yang berakar

pada dorongan ingtistif berupa hasrat.59

Kajian living Qur‟an masuk ke dalam kajian ke-Islaman tidak hanya

pada aspek normatif dan dogmatif, akan tetapi juga menyangkut pada kajian

aspek sosiologis dan antropologis. Dalam mengkaji suatu fenomena agama,

tidaklah mengkaji hakikat agama secara filosofis dan teologis, melainkan

hakikat agama sebagai fenomena empiris dari struktur suatu fenomena yang

mendasari setiap fakta religius.60 Seperti yang telah dikatakan sebelumnya

oleh Sahiron Syamsudin bahwa dalam kajian Living Qur‟an diperlukan

57
Sahiron Syamsudin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis (Yogyakarta:
Teras, 2007). Hal. xiv
58
Yusuf, Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an. Hal. 36-37.
59
Bukan dalam pengertian psikologis yang merupakan suatu keinginan yang menggebu,
melainkan sebatas dorongan fisik untuk melakukam suatu tindakan.
60
Yusuf, Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an. Hal. 52.

32
adanya penggabungan dua cabang ilmu yaitu ilmu Al-Qur‘an dengan cabang

ilmu sosial, seperti sosialogi, fenomenologi dan antropologi. 61

Dalam kajian living Qur‘an yang dicari bukanlah suatu kebenaran

agama lewat al-Qur‘an atau menghakimi suatu kelompok agama tertentu

dalam Islam, akan tetapi dalam kajian ini akan lebih mengedepankan

penelitian tentang tradisi atau fenomena tertentu yang terjadi di tengah

masyarakat di lihat dari perspektif kualitatif. Meskipun al-Qur‘an terkadang

digunakan sebagai simbol keyakinan yang dihayati kemudian diekspresikan

dalm bentuk perilaku keagamaan.62

Fokus kajian ini tentunya mengungkap suatu fenomena tertentu

terhadap sisi amaliyah tertentu yang terkait dengan al-Qur‘an. Yaitu

mengenai apa yang dilakukan paling tidak mampu merefleksikan berbagai

bentuk pemahaman masyarakat muslim terhadap al-Qur‘an yang sangat

variatif antar kelompok masyarakat tertentu dengan kelompok masyarakat

yang lain.

Dalam kajian Living Qur‘an ini, pendekatan yang digunakan oleh

penulis ialah fenomenologis. Pendekatan ini dianggap relevan dalam kajian

Living Qur‘an, sebab objek kajian yang sedang penulis kaji berkaitan erat

dengan realitas sosial. Dalam teori fenomenologi, pengkajian mencoba

mendekati makna yang sebenarnya dari gejala objek yang sedang diteliti

melalu jiwa atau kesadaran objek itu sendiri.63 Pendekatan ini membiarkan

61
Syamsudin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis. Hal. Xiv.
62
Yusuf, Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an. Hal. 50.
63
Mohammad Sodik, Pendekatan Sosiologi (Yogyakarta: Lembaga Penelitan UIN SUKA
Yogyakarta, 2006). Hal. 78.

33
objek membicarakan dirinya sendiri dengan ada adanya, tanpa adanya

intervensi dari peneliti. Sehingga, dapat dikatakan bahwa pendekatan

fenomenologi memahami adanya keterkaitan objek dengan nilai-nilai

tertentu.64

2. Arti Penting Kajian Living Qur’an

Kajian mengenai al-Qur‘an tidak berhenti hanya pada kajian tekstual

saja. Jika selama ini kesan tafsir dipahami hanya berupa teks grafis (kitab

atau buku) saja, maka dari sini makna tafsir dapat diperluas. Tafsir bisa

berupa respon atau praktik perilaku suatu masyarakat yang diinspirasi dari

kehadiran al-Qur‘an. Untuk itu, kajian living Qur‘an ini memberikan

kontribusi yang signifikan bagi pengembangan wilayah objek kajian al-

Qur‘an.65 Di mana dalam penelitian ini lebih menekankan pada aspek respon

masyarakat terhadap kehadiran al-Qur‘an, yang dalam istilah peneliti barat

menyebutkan sebagai living Qur‘an (al-Qur‟ān al-Hayy) atau al-Qur‟an in

everyday.66

Arti penting lainnya yakni bahwa kajian living Qur‘an juga dapat

dijadikan untuk kepentingan dakwah dan pemberdayaan masyarakat.67

Seperti contoh, jika terdapat fenomena di tengah masyarakat yang

menjadikan al-Qur‘an sebagai rajah atau yang lainnya sebagai suatu

64
Robet Bog dan Steven J Taylor, Pengantar Metodologi Kualitatif, terj. Arif Furchan
(Surabaya: Usaha Nasional, 1992). Hal. 35.
65
Mustaqim, Metode Penelitian Living Qur‟an Model Penelitian Kualitatif. Hal. 68.
66
Dinyatakan Alford T Weltc di kalangan sarjana Barat sekarang, kajian al-Qur‘an
berkembang tidak hanya pada wilayah kajian teks saja atau exegesis (tafsir), tetapi juga pada
wilayah the history of the interpretastion of the Qur‘an dan the role of the Qur‘an recitation, pada
aspek ketiga itulah objek kajian living Qur‘an. Mustaqim. Hal. 68
67
Mustaqim. Hal. 69

34
kepentingan supranatural, yang mereka sendiri kurang memahami apa pesan

atau kandungan dari ayat tersebut, maka dari sini dapat mengajak dan

memberikan pemahaman kepada mereka bahwa al-Qur‘an diturunkan sebagai

hidayah untuk seluruh umat.

Berikutnya, arti penting dari kajian living Qur‘an adalah memberika

paradigma baru bagi pengembangan kajian Qur‘an kontemporer, sehingga

kajian Qur‘an tidak hanya terpaku pada kajian teks saja. Pada kajian living

Qur‘an ini kajian tafsir akan lebih banyak memberikan apresiasi terhadap

respon masyarakat pada ak-Qur‘an, sehingga tafsir tidak lagi bersifat elitis,

namun juga emansipatoris yang mengajak partisipasi masyarakat. Pendekatan

fenomenologi dan analisis ilmu-ilmu sosial-humaniora tentunya menjadi hal

yang penting dalam kajian ini.68

3. Pendekatan Fenomenologi dalam Kajian Living Qur’an

Kajian Living Qur‟an masuk ke dalam kajian ke-Islaman tidak hanya

pada aspek normatif dan dogmatif, akan tetapi juga menyangkut pada kajian

aspek sosiologis dan antropologis. Dalam mengkaji suatu fenomena agama,

tidaklah mengkaji hakikat agama secara filosofis dan teologis, melainkan

hakikat agama sebagai fenomena empiris dari struktur suatu fenomena yang

mendasari setiap fakta religius.69 Seperti yang telah dikatakan sebelumnya

oleh Sahiron Syamsudin bahwa dalam kajian Living Qur‟an diperlukan

68
Mustaqim. Hal. 70
69
Yusuf, Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an. Hal. 52.

35
adanya penggabungan dua cabang ilmu yaitu ilmu Al-Qur‘an dengan cabang

ilmu sosial, seperti sosialogi, fenomenologi dan antropologi. 70

Suwardi Endraswara dalam bukunya mengatakan bahwa

fenomenologi merupakan usaha memahami budaya lewat pandangan pemilik

budaya atau pelakunya. Dijelaskan pula pandangan Nataton bahwa

fenomenologi adalah suatu istilah generik yang merujuk pada semua

pandangan ilmu sosial yang menganggap kesadaran manusia dan makna

subjektif sebagai fokus untuk memahami tindakan sosial.71 Dalam penelitian

fenomenologi diperlukan metode partisipatif, agar peneliti dapat memahami

tindakan dari dalam. 72

Kemudian menurut pemjelasan Pillipshon, metodologi fenomenologi

terdapat dua paham, yakni pertama bahwa fenomenologi berusaha

menjelaskan mengenai bagaimana suatu fenomena itu tersusun. Yang berarti

masih fenomenologi murni. Dan yang kedua, bahwa fenomenologi berusaha

memahami fenomena sebagai objek kesadaran. Dalam paham kedua ini

tampak bahwa dalam fenomenologi pun telah terjadi penafsiran terhadap

fenomena, tidak lagi dijelaskan sebagaimana mestinya. Baik penafsiran yang

dilakukan oleh partisipan ataupun dari peneliti ketika memberikan

memberikan umpan balik, tetap telah terjadi suatu pemahaman.73

70
Syamsudin, Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis. Hal. Xiv.
71
Endraswara, Metodologi Penelitian Kebudayaan. Hal. 42-43.
72
Dimaksudkan agar peneliti dapat dalam, tidak melalui proses yang misterius oleh para
ahli, antara lain Black dan Champion, Kerlinger, Dhavamoni, Moleong, dsb. Dibedakan menjadi
tiga macam partisipasi, yaitu secara lengkap, secara fungsional, dan sebagai pengamat. Mustaqim,
Metode Penelitian Living Qur‟an Model Penelitian Kualitatif. Hal. 52.
73
Endraswara, Metodologi Penelitian Kebudayaan. Hal. 49.

36
Terkait dengan studi agama, makna istilah fenomenologi tidak pernah

terbekukan secara tegas. Sebagaimana dalam perkembangan ilmu-ilmu social,

fenomenologi merupakan arah baru dalam pendekatan terhadap agama.

Fenomenologi agama merupakan suatu pendekatan yang lahir dari concern

para peneliti dan filosof satu abad terakhir ini. Meskipun secara teologis dan

metodologis fenomenologi agama masih menjadi perdebatan dikalangan

ilmuan agama namun pendekatan ini dapat menjadi penengah diantara

pendekatan-pendekatan agama selama ini dan mampu menggali makna lebih

dalam dari sebuah fenomenologi agama.74

Pendekatan fenomenologi merupakan upaya membangun suatu

metodologi yang koheren bagi studi agama. Begitu juga fenomenologi lahir

dan diterapkan dalam studi agama sebagai suatu metode penelitian ilmiah

yang ditawarkan dengan pendekatan-pendekatan teologis. Terdapat dua hal

penting yang mencirikan pendekatan fenomenologi agama. Pertama,

fenomenologi adalah metode untuk memahami agama orang lain dalam

perspektif netralitas. Dan kedua, konstruksi rancangan taksonomik untuk

mengklasifikasi fenomena dengan batas-batas budaya dan kelompok

religius.75

Dalam pengertian yang dikemukakan oleh James [Link]. Dengan

menggunakan konsep-konsep Husserl, James L. Cox mendefenisikan

fenomenologi agama dengan pengertian sebagai berikut: Sebuah metode yang

74
Nurma Ali Ridlwan, ―Pendekatan Fenomenologi dalam Kajian Agama,‖ Komunika 7,
no. 2 (Desember 2013). Hal. 5.
75
Abdul Mujib, ―Pendekatan Fenomenologi dalam Studi Islam,‖ Al-Tadzkiyyah: Jurnal
Pendidikan Islam 6 (November 2015). Hal. 168

37
menyesuaikan prosedur-prosedur epoche (penundaan penilaian-penilaian

sebelumnya) dan intuisi eidetis (melihat ke dalam makna agama) dengan

kajian terhadap beragam ekspresi simbolik yang direspon oleh orang-orang

sebagai nilai yang tidak terbatas bagi mereka).76

Sebagaimana dikutip Nurma Ali bahwa fenomenologi agama,

menurut C.J. Bleeker adalah studi agama dengan cara membandingkan

berbagai fenomena yang sama dari berbagai agama untuk memperoleh

prinsip universal. Kemudian fenomenologi agama menurut Raffaelle

Pettazoni adalah pendekatan terhadap persoalan-persoalan agama dengan

mengkoordinasikan data agama, menetapkan hubungan, dan

mengelompokkan data berdasarkan hubungan tersebut tanpa harus

mengadakan komparasi tipologis antar berbagai fenomena agama.77

Hal yang terpenting dari pendekatan fenomenologi agama adalah apa

yang dialami oleh pemeluk agama, apa yang dirasakan, diakatakan dan

dikerjakan serta bagaimana pula pengalaman tersebut bermakna baginya.

Kebenaran studi fenomenologi adalah penjelasan tentang makna upacara,

ritual, seremonial, doktrin, atau relasi sosial bagi dan dalam keberagamaan

pelaku. Arah dari pendekatan fenomenologi adalah memberikan penjelasan

makna secara jelas tentang apa yang yang disebut dengan perilaku

keagamaan.78

76
Farhanuddin Sholeh, ―Penerapan Pendekatan Fenomenologi dalam Studi Agama Islam
(Kajian terhadap buku karya Annemarie Schimmel; Deciphering the Signs of God: A
Phenomenological Approach to Islam),‖ Jurnal Qolamuna 1, no. 2 (Februari 2016). Hal. 350-
351.
77
Ridlwan, ―Pendekatan Fenomenologi dalam Kajian Agama.‖. Hal. 5.
78
Mujib, ―Pendekatan Fenomenologi dalam Studi Islam.‖ Hal. 169.

38
Dari berbagai uraian di atas dapat diketahui bahwa dalam hal ini

fenomenologi merupakan metode untuk mencari pemahaman masyarakat

tantang ayat-ayat yang mereka gunakan. Dan untuk melakukan rekontruksi

dari pengalaman masarakat itu dalam menggunakan ayat-ayat tersebut, dan

pendekatan ini hanya akan menangkap sisi dari pengamalan masyarakat atau

makna dari pengalaman masyarakat menggunakan ayat-ayat tersebut.

39
BAB III

GAMBARAN UMUM DESA WINONG DAN PRAKTIK PENGAMALAN

AYAT-AYAT AL-QUR’AN UNTUK MAHABBAH DI DESA WINONG

A. Gambaran Umum Desa Winong Kec. Kemiri Kab. Purworejo

1. Kondisi Geografis

Desa Winong merupakan salah satu desa yang berada di wilayah

Kecamatan Kemiri Kabupaten Purworejo. Desa Winong ini memiliki wilayah

yang sebagian besar merupakan persawahan. Batas desa dari desa ini adalah,

sebelah Barat adalah Loning, sebelah Utara dengan Sutoragan, sebelah

Timur Winong Lor, sebelah Selatan dengan Winong Kidul.

Desa Winong memiliki luas wilayah keseluruhan seluas 209,530

ha/m2. Dengan perincian luas pemukiman seluas 20,995ha/m2, luas

persawahan 95,995 ha/m2, luas perkebunan 60,075 ha/m2, kuburan seluas

9,054 ha/m2, pekarangan 21,000 ha/m2, perkantoran 0,280 ha/m2, dan

prasarana umum seluas 1, 005 ha/m2.79

Desa Winong terdapat 13 dusun yang terdiri dari 3 Rukun Warga

(RW) dan 9 Rukun Tetangga (RT) dan terdapat 825 Kepala Keluarga.

Adapun jumlah dusun di Desa Winong yakni Dusun Sikumbang, Dusun

Kauman Timur, Dusun Kauman Barat, Dusun Karang Mulya, Dususn

Sikuang, Dusun Ngopo-opo, Dusun Pantog, Dusun Gamblok, Dusun Kebon

Pelem, Dusun Trukan, Dusun Krajan, Dusun Santren, dan Dusun Jurang.

79
―Profil Desa dan Kelurahan bagi Desa dan Kelurahan se Kabupaten Purworejo Desa
Winong,‖ 2019, Kantor Kelurana Desa Winong.

40
2. Keadaan Demografi

Jumlah penduduk desa ini terhitung sebanyak 2583 jiwa, dengan

jumlah Kepala Keluarga sebanyak 825 KK. Sedangkan komposisi jumlah

penduduk dari jenis kelaminnya terhitung :

- Jumlah penduduk laki-laki : 1322 Jiwa

- Jumlah penduduk perempuan : 1261 Jiwa

Total : 2583 Jiwa

Dilihat dari sisi usia, warga Desa Winong masih didominasi oleh usia

produktif yakni usia 15-64 tahun sebesar 69% dengan jumlah 1782 orang.

Jumlah usia <15 tahun terhitung 21% yakni sejumlah 541 orang, dan usia

lansia hanya 10% sebanyak 257 orang. Adanya jumlah penduduk usia muda

atau usia produktif (15-64 tahun) lebih banyak dari usia anak-anak dan lansia,

menunjukkan adanya binus demografi yang menjadi kesempatan membangun

daerah pedesaan. Dengan jumlah usia produktif yang cukup besar,

pembangunan daerah khususnya pedesaan akan lebih cepat terakselerasi.80

3. Kondisi Ekonomi Masyarakat

Masyarakat Desa Winong mayoritas bermata pencaharian sebagai

petani. Hal tersebut ditunjang dengan keadaan wilayah yang memiliki luas

persawahan yang melebihi luas pemukiman penduduknya. Dari arsip data

80
―Buku Induk Kependudukan Desa Winong,‖ 2021, Kantor Kelurahan Desa Winong.

41
kelurahan, ditemukan jumlah warga yang bermata pencaharian sebagai petani

berjumlah 426 orang.

Sedang pekerjaan yang lain yakni meliputi buruh harian sebanyak 261

orang, wiraswasta 221 orang, sebagai karyawan 191 orang, berprofesi sebagai

guru atau tenaga pengajar sebanyak 23 orang. Kemudian sebagai pedangang

sejumlah 49 orang, sebagai pegawai negeri sipil (PNS) terhitung 25 orang.

Sedangkan untuk pelajar sebanyak 386 orang, dan lainnya merupakan ibu

rumah tangga, lansia, atau anak-anak yang belum sekolah. Dari data tersebut

terlihat jelas bahwa kondisi ekonomi masyarakat Desa Winong didominasi

oleh petani.81

4. Kondisi Sosial Budaya

Masyarakat desa pada dasarnya menganggap nilai sosial dan rasa

solidaritas masih tertanam di tengah masyarakat. Termasuk pula yang ada di

Desa Winong. Yang mana masyarakat masih menjunjung tinggi nilai

kebersamaan juga semangat gotong royong dan saling membantu satu sama

lain. Dapat ditemukan saat ada salah satu masyarakat yang memiliki hajatan,

masyarakat setempat secara suka rela akan turut serta membantu dalam

menyukseskannya, juga di saat terdapat salah satu warga yang terkena

musibah, maka masyarakat akan turut membantu tanpa ada paksaan di

dalamnya. Dan masih banyak hal-hal lain dari Desa Winong yang

mennunjukkan kebersamaan masyarakat. Dengan demikian terlihat bahwa

81
―Buku Induk Kependudukan Desa Winong.‖

42
nilai-nilai budaya kemasyarakatan masyarakat Desa Winong mencerminkan

masyarakat berbudaya solidaritas yang tinggi.82

Selain itu menjalani kehidupan dengan selamat merupakan salah satu

cita-cita utama dalam pandangan hidup orang Jawa. Yan dimaksud dengan

selamat yakni terhindar dari bencana, aman, sehat, bahagia, sejahtera lahir

batindalam menjalani kehidupan di dunia hingga akhirat.

5. Kondisi Keagamaan

Berdasarkan dari data desa, bahwa masyarakat Desa Winong,

Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo keseluruhan beragama Islam.

Terlihat juga di dalamnya, yang mana banyak kiai ataupun ulama yang

semangat menghidupkan nilai-nilai keislaman di tengah masyarakat. Selain

itu juga terdapat banyak majlis taklim dan lembaga-lembaga pengajar al-

Qur‘an yang terdapat di Desa Winong. Akan tetapi dalam hal keagamaan,

masyarakat Desa Winong juga masih memercayai hal-hal yang berbau mistik

yang memang sudah ada sejak masa nenek moyang. Tidak jarang dari mereka

yang masih menggunakan rajah sebagai pelindung, atau lainnya. Atau dengan

pengamalan ayat-ayat tertentu yang diyakini dapat mendatangkan hal-hal

magis. Akan tetapi dalam hal mistik ini, oleh para kiai desa dapat dikemas

dengan bungkus keagamaan, bukan kesyirikan.

Beberapa kegiatan keagamaan yang masih rutin dijalankan di Desa

Winong seperti yasinan dan tahlilan di setiap malam Jum‘at atau di saat ada

salah seorang warga yang meninggal selama tujuh hari setelahnya. Ada juga

82
Nur Ali Hakam (Perangkat Desa), wawancara, 28 September 2021.

43
rutinan selapanan yang dilakukan setiap selapan hari83 sekali dengan diisi

pengajian al-Qur‘an, istighosah, dan juga mauidhoh hasanah. Dilaksanakan di

setiap masjid yang ada di Desa Winong dengan diikuti oleh seluruh warga

baik laki-laki ataupun perempuan. Selain itu, terdapat juga rutinan pembacan

sholawat al- Barzanji pada tiap malam Jum‘at ba‘da Isya. Terdapat pula

kegiatan pembacaan kitab Dalalil al-Khairat yang diikuti oleh bapak-bapak di

setiap malam Senin, juga kegiatan-kegiatan lainnya. Kegiatan-kegiatan

tersebut terbentuk dari beberapa kalangan atau kelompok masyarakat, ada

yang dari kelompok bapak-bapak, ibu-ibu, ataupun para remaja desa.84

6. Kondisi Pendidikan

Menurut data yang ada di Desa Winong, tingkat pendidikan

masyarakat Desa Winong belum begitu tinggi. Terdapat 934 orang dengan

lulus pendidikan tingkat sekolah dasar, 515 orang dengan lulus pendidikan

tingkat SLTP, 464 orang lulus tingkat SLTA, 73 orang di tingkat D III dan

S1, dan 21 orang di tingkat S2.85

Desa Winong memilki lembaga pendidikan yang terhitung kompleks,

mulai dari tingkat PAUD hingga jenjang menengah atas. Dari pendidikan

terendah PAUD Al-Amin, TK Al-Amin, SD N 1 Winong, SD N 2 Winong,

MTs Ma‘arif NU Winong, dan SMK Ma‘arif NU Winong. selain pendidikan

formal, Desa Winong juga memiliki lembaga pendidikan non formal berupa

83
Selapan merupakan hitungan jawa yang berarti tiga puluh lima hari, karena dalam
pasaran Jawa terdapat lima pasaran yakni, pon, wage, kliwon, legi, dan pahing, dengan nama hari
yang berjumlah tujuh. Sehingga hitungan selapan adalah tiga puluh lima hari.
84
Observasi lembaga pendidikan di Desa Winong, 10 Oktober 2021
85
―Buku Induk Kependudukan Desa Winong.‖

44
pondok pesantren. Terdapat tiga pondok pesantren yang ada di Desa Winong,

yakni Yayasan API Winong, yang di dalamnya terdapat tiga pondok

pesantren, API Winong Pusat, API 2 Winong, dan API Kanzul Ulum,

kemudian terdapat pula pondok pesantren Al-Asror dan juga Pondok

Pesantren Hidayatul Mubtadiin.86

Untuk saat ini, masyarakat Desa Winong, sudah termasuk masyarakat

yang sadar akan pentingnya pendidikan dibandingkan dengan tahun-tahun

sebelumnya yang masih menganggap remeh pendidikan. Adanya anggapan

tersebut kemungkinan bermula dari tingkat pendidikan orang tua yang

rendah, sehingga memunculkan pemahaman yang kurang terhadap

pentingnya pendidikan. Mereka beranggapan bahwa dengan sekolah yang

tinggi, tidak pasti menjamin mendapatkan pekerjaan yang tetap. Para orang

tua juga menganggap bahwa mereka dengan hanya lulusan sekolah dasar juga

bisa mendapatkan pekerjaan. beberapa mindset orang-orang desa lainnya.87

Akan tetapi dengan adanya perkembangan pendidikan ini, masyarakat

mulai menyadari akan pentingnya pendidikan, sehingga mereka tetap ingin

menyekolahkan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi atau paling tidak

minimal di jenjang menengah atas. Ada pula yang ingin lebih

mengedepankan ilmu agama sehingga mereka hanya memasukkan anaknya di

pesantren. Karena bagaimanapun, pendidikan akan sangan memengaruhi pola

pikir sesorang dalam menyelesaikan suatu masalah tertentu. Pendidikan

86
Observasi lembaga pendidikan di Desa Winong, 10 Oktober 2021
87
Hakam (Perangkat Desa), wawancara.

45
merupakan salah satu pilar utama dalam pembentukan peradaban manusia.88

Seseorang yang berpendidikan tentu akan menyikapi secara berbeda

dibanding dengan yang tidak.

B. Praktik Pembacaan Ayat-Ayat Al-Qur’an untuk Mahabbah di Desa

Winong, Kec. Kemiri, Kab. Purworejo.

Mengenai macam-macam penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an sebagai

mahabbah, berdasarkan hasil wawancara penulis kepada beberapa informan dari

warga Desa Winong, ditemukan beberapa jenis atau tipologi penggunaan ayat-

ayat al-Qur‘an untuk mahabbah yang diamaliyahkan oleh masyarakat Desa

Winong sebagai berikut:

1. Penggunaan Ayat-Ayat al-Qur’an Sebagai Sarana Mahabbah atau

Penakluk Hati

a. QS. Yūsuf : 4

ٗ ٌَِْ ‫ظ َٗا ْىقَ ََ َش َسا َ ٌْر ُ ُٖ ٌْ ِى ًْ ع ِج ِذ‬ َ ‫د اِِّّ ًْ َساٌَْدُ اَ َح َذ‬


َ َْ ‫ػش ََش م َْ٘ َمثًا ٗاىش‬ ِ َ‫ف ِِلَ ِت ٍْ ِٔ ٌاَت‬ ُ ْ٘ ٌُ ‫اِ ْر قَا َه‬
ُ ‫ع‬

(Ingatlah) ketika Yusuf berkata kepada ayahnya (Ya„qub), “Wahai


ayahku, sesungguhnya aku telah (bermimpi) melihat sebelas
bintang, matahari, dan bulan. Aku melihat semuanya sujud
kepadaku.”(QS. Yusuf:4)

Pada QS. Yusuf: 4 ini adalah ayat yang memang khusus ditujukan

untuk mahabbah. Menjadikan seseorang menjadi timbul rasa cinta

kepada yang mengamalkan baik laki-laki maupun perempuan. Selain itu,

ia menuturkan bahwa mahabbah ini akan memunculkan rasa cinta yang

sungguh-sungguh. Ia juga mengatakan bahwa seseorang yang sudah

88
Denny Kodrat, ―Urgensi Perubahan Pola Pikir dalam Membangun Pendidikan
Bermutu,‖ Jurnal Kajian Peradaban Islam 2, no. 1 (2019).

46
terlanjur terkena89 mahabbah tersebut, ia akan terus memiliki rasa cinta

kepada yang mengamalkannya.

Untuk tata cara pengamalannya beragam. Terdapat cara yang juga

disertai puasa dan ada juga yang tidak. Kiai Ismail menjelaskan, setelah

membaca ayat tersebut, tepat sesudah lafadz ٌَِْ ‫ِى ًْ ع ِج ِذ‬ kemudian

mengucap ―jabang bayine sopo welas asih marang ingsun‖90. Kalimat

jabang bayi ini boleh juga diganti dengan nama yag akan dituju, semisal

Siti bin Ahmad, beliau mencontohkan. Karena sebenarnya kata jabang

bayi memang suatu kata yang sudah turun temurun di dalam adat Jawa,

bahkan mayoritas pengamal ayat ini menggunakan kata tersebut. namun

boleh jika kemudian diganti dengan nama seseorang. Boleh juga tidak

diucapkan secara jelas namun hanya diucapkan di dalam hati, namun

kebanyakan dari kita yang kurang mantep (yakin) katanya.91

Dalam hal pengamalan QS. Yusuf:4 ini, beliau mengatakan bahwa

ada beberapa cara penyebutan nama seseorang yang akan dituju tersebut.

Ada yang seperti di atas, setelah lafadz ٌَِْ ‫ ِى ًْ ع ِج ِذ‬menyebut “(sopo) welas

asih maring isngsun”. Ada pula yang menyebut setelah lafadz ٌَِْ ‫ِى ًْ ع ِج ِذ‬

dengan “(sopo) sujud marang ingsun”. Selain itu, terdapat pula yang

89
Maksud terkena adalah amalan mahabbah tersebut telah sampai kepada seseorang yang
dituju, sehingga ia benar-benar tumbuh rasa cinta dalam dirinya kepada orang yang mengamalkan
mahabbah tersebut.
90
Artinya ―bayi siapa akan berbelas kasih kepadaku‖
91
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021, Desa Winong.

47
mengamalkan dengan cara setelah lafadz ًْ ‫“ ِى‬kedue ingsun”92 ٌَِْ ‫ع ِج ِذ‬

(nama) “sujud marang ingsun”93

Setelah selesai membaca ayat dan menyebutkan nama seseorang

yang hendak dijutu dengan kalimat di atas, lalu dilanjut dengan membaca

ayat QS. Yasin:72, yakni:

٢ٕ ُُُْ٘ ‫شٍْـا ا َ ُْ ٌقُ ْ٘ َه ىَٔ م ُِْ فٍََن‬


َ ‫اِّ ََا اَ ٍْ ُشٓ اِرَا اَ َسا َد‬

Sesungguhnya ketetapan-Nya, jika Dia menghendaki sesuatu, Dia


hanya berkata kepadanya, “Jadilah!” Maka, jadilah (sesuatu) itu.
(QS. Yasin: 82)

Untuk jumlah bacaan yang harus diamalkan menurutnya, jika

disertai dengan puasa, maka ayat ini diamalkan dengan dibaca 41x

selama tujuh hari berturut-turut. Apabila tidak disertai dengan puasa,

maka cukup diwiridkan 99x selama sembilan hari secara terus-menerus.

Dalam hal ini, ia tidak menyebutkan ketentuan waktu dalam

membacanya, jadi boleh dibaca pada waktu kapanpun. Mengenai ijazah

amalan ini, beliau dapatkan langsung dari gurunya yakni Almarhum Kiai

Patoni Warengdukuh, Butuh, Purworejo. 94

Salah satu yang juga mengamalkan ayat tersebut ialah Akrom

Mahmud, salah seorang dari pemuda Desa Winong yang dijadikan

informan oleh penulis. Ia mengatakan bahwa pernah mengamalkan ayat

ini untuk tujuan mahabbah. Dari yang dirasakannya, amalan ini

menurutnya bisa menjadikan mahabbah pada orang lain yang dituju jika

92
Artinya ―kepadaku‖
93
Artinya ―Sujudlah kepadaku‖
94
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.

48
dilakukan dengan niat yang baik. Jika diniatkan untuk hal yang kurang

baik, atau hanya untuk main-main saja, secara kebetulan ada sesuatu

yang tiba-tiba menghalangi, yang menjadikan amalan tersebut tidak

sampai.95 Ia menuturkan:

―Saya pernah mempraktikkan ini hanya untuk coba-coba biar mbak


itu seneng sama saya, nah kan harus ada puasa 7 hari berturt-turut,
itu ndelalah pas hari ketiga saya sakit, jadi gak bisa lanjut
puasanya. Dan merasa seperti itu saya gak cuma sekali. Dan kalau
emang saya niatnya sungguh-sungguh, ndelalah bisa sampai
dengan baik‖

Ayat ini merupakan salah satu ayat mahabah yang ampuh menurut

istilah Kiai Ismail. Banyak para Kiai yang menggunakan ayat ini untuk

mahabbah. Ia menjelaskan bahwa ayat inilah yang paling sering

diijazahkan saat ada warga yang meminta ijazah kepadanya untuk tujuan

mahabbah. Istilah ampuh ini ia sematkan karena sudah banyak dari

pasiennya yang mengamalkan dan membawakan hasil.

Dari penuturan Kiai Ismail:

“Tamu sing mriki nyuwun ijazah mahabbah niku biasane kulo


paringi surat Yusuf niki. Nggih kulo ken poso juga. Kebanyakan
niku joko sing pun pengen nikah. Alhamdulillah dados niku. Satu
atau bulan setelahnya biasane ngabari kulo nek dados nikah kalih
sing dimahabbahi niku. Dari keseluruhan niku nek sing nyuwun
mahabbah kira-kira wonten nek 10 orang setiap bulan. Niku
setengahan lah antara tiyang mriki kalih luar mriki.”96

95
Akrom Mahmud, Wawancara, 29 November 2021, Desa Winong.
96
Artinya, ―Tamu yang datang meminta ijazah mahabbah itu biasanya saya ijazahkan
surat Yusuf ini. Mereka saya minta untuk puasa juga. Kebanyakan itu dari pemuda yang sudah
ingin menikah. Alhamdulillah jadi. Satu atau bulan setelahnya biasanya memberi kabar kepada
sya bahwa jadi menikah dengan orang yang dimahabbahinya. Dari keseluruhan yang memohon
ijazah dengan saya kirapkira ada 10 orang setiap bulan. Itu kira-kira setengahan antara orang sini
(Winong) dan luar Winong.

49
b. QS. Thāhā:39

ْ ُ ‫ػيَ ٍْلَ ٍَحَثحً ٍِّ ِّْ ًْ ەۚ َٗ ِىر‬


َ ‫ظَْ َغ ػَيى‬
ٖ٣ ۘ ًْ ِْ ٍْ ‫ػ‬ َ ُ‫َٗا َ ْىقٍَْد‬

“..Aku telah melimpahkan kepadamu kasih sayang dari-Ku (Setiap


orang yang memandang Nabi Musa a.s. akan merasakan cinta,
kasih, dan sayang kepadanya) dan agar engkau diasuh di bawah
pengawasan-Ku”

Ayat ini juga termasuk salah satu ayat yang dipercaya dapat

mendatangkan mahabbah atau rasa cinta kepada yang mengamalkan.

Atau juga dapat menjadikan seseorang yang sebelumnya tidak suka

menjadi suka. Namun dalam hal ini Kiai Ismail menjelaskan bahwa ayat

ini diamalkan sekedar untuk lebih mempererat suatu hubungan. Baik

pertemanan, kekeluargaan, ataupun hubungan pernikahan.

Untuk pengamalannya yakni membaca ayat tersebut dengan cara

ْ ُ ‫ػيَ ٍْلَ ٍَحَثحً ِ ٍّ ِّْ ًْ ۚە َٗ ِىر‬


َ ..... ‫ظَْ َغ ػَيى‬
demikian, ًِْ ٍْ ‫ػ‬ َ ُ‫ َٗاَ ْىقٍَْد‬meyebutkan nama

Fulan bin Fulan semisal di setelah lafadz ‫ ػَيى‬dengan hanya diucapkan di

dalam hati, tidak perlu diucapkan secara jelas. Dibaca sebanyak 21x

pada waktu ba‘da subuh dan ba‘da maghrib. Amalan ini beliau dapatkan

dari ijazah langsung dari Almarhum KH. Mathori Winong, Kemiri,

Purworejo.97

c. QS. Al-Ra’d: 31

ُ ‫ع ٍِّ َشخْ تِ ِٔ ا ْى ِجثَا ُه ا َ ْٗ قُ ِ ّطؼَدْ تِ ِٔ ْاِلَ ْس‬


ࣖ ‫ع اَ ْٗ ُم ِيّ ٌَ تِ ِٔ ا ْى ََ ْ٘ذى تَ ْو ِّ ِّٰلِ ْاِلَ ٍْ ُش م ََِ ٍْؼًا‬
ٖٔ .... ُ ‫َٗىَ ْ٘ اَُ قُ ْشاًّا‬

Sekiranya ada suatu bacaan (Kitab Suci) yang dengannya gunung-


gunung dapat digeserkan, bumi dibelah, atau orang mati dapat

97
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.

50
diajak bicara, (itulah Al-Qur‟an). Sebenarnya segala urusan itu
milik Allah.

Dari penuturan Kiai Ismail, ayat ini dapat meluluhkan hati

seseorang yang sedang membenci. Beliau mengatakan ayat mahabbah ini

ditujukan untuk orang yang melukai (maksudnya membenci). Ditujukan

kepada seseorang yang membenci agar menjadi tidak benci. Maksudnya,

semisal dalam suatu hubungan baik pertemanan, berpasangan atau yang

lainnya yang sebelumnya baik-baik saja, kemudian timbul masalah di

dalamnya, atau ada salah satu yang membenci diantaranya, ayat ini dapat

membantu mempercepat kembalinya hati salah satu orang tersebut untuk

baik kembali. Sehingga suatu hubungan dapat berjalan kembali harmonis

sebagaimana sebelumnya.

Cara pengamalannya yakni setelah membaca ayat tersebut,

menyebutkan nama seseorang yang hendak dituju pada setelah lafadz

‫ م ََِ ٍْؼًا‬. Ayat ini dibaca sebanyak 72x pada malam setelah niṣfu lail

(tengah malam)98. Nama yang akan dituju disebutkan dengan jelas, tidak

hanya dengan mengucap di dalam hati. Atau jika tidak ada seseorang

yang hendak menjadi tujuan, maksudnya hanya sebagai suatu wirid yang

diistiqomahkan, maka pembacaannya cukup 11x setiap ba‘da sholat

fardu. Mengenai ijazah amalan ini beliau dapatkan dari gurunya

Almarhum Kiai Sunhaji, Tamansari, Butuh, Purworejo.99

98
Maksudnya waktu setelah tengah malam sampai sebelum fajar.
99
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.

51
d. Al-Nisā’: 84

٢ٗ ‫ش بذ ذَ ْْ ِنٍ ًْا‬ ً ْ ‫ش بذ َتس‬


َ َ ‫عا ٗا‬ َ َ ‫ّللاُ ا‬ َ ْ ‫ّللاُ ا َ ُْ ٌنُف َتس‬
ٰ َٗ ‫ط اى ِز ٌَِْ َم َر ُش ْٗا‬ ٰ ‫غى‬َ ‫ػ‬
َ

Semoga Allah menolak serangan orang-orang yang kufur itu.


Allah sangat dahsyat kekuatan-Nya dan sangat keras siksaan-Nya.

Salah satu ayat mahabbah lainnya, yakni QS. An-Nisa‘: 84.

Terdapat perbedaan cara penggunaan ayat ini dibanding dengan ayat

sebelumnya. Untuk ayat ini digunakan dengan mengguanakan media

makanan. Ayat ini dibaca dengan jumlah sebanyak 41x, kemudian

ditiupkan ke dalam makanan, apapun jenis makanannya. Kemudian

makanan tersebut diberikan kepada seorang yang hendak dituju untuk

dimakan dengan harapan akan muncul mahabbah dari orang tersebut

kepada yang [Link] diamalkan oleh laki-laki ditujukan untuk

perempuan, maupun sebaliknya.100

Ayat ini juga termasuk ayat yang ampuh kata Kiai Ismail, karena

dimediakan lewat makanan. Sehingga do‘a atau bacaan ayat-ayat tersebut

dapat langsung tersampaikan kepada orang yang yang memakan

makanan tersebut. Amalan ini beliau dapatkan dari Almarhum Kiai

Sunhaji juga.101

e. QS. Al-Qalam: 1-2

ُ ‫غ‬
ٕ ٍُ ْ٘ ُْ ْ‫ط ُش َُْٗ ٔ ٍَا اَ ّْدَ تِِْ ْؼ ََ ِح َستِّلَ تِ ََج‬ ْ ٌَ ‫ُ َۚ َٗا ْى َقيَ ٌِ َٗ ٍَا‬

100
Kiai Ismail.
101
Kiai Ismail.

52
Nūn. Demi pena dan apa yang mereka tuliskan, berkat karunia
Tuhanmu engkau (Nabi Muhammad) bukanlah orang gila.

Dalam pengamalannya ayat ini dibacakan dengan menggunakan

media rokok. Dibaca sebanyak 7x kemudian ditiupkan pada rokok.

Dengan tujuan yang sama yakni untuk menumbuhkan mahabbah kepada

seorang yang ingin di tuju. Untuk amalan ini beliau ijazah angsung dari

Almarhum KH. Mathori Winong.102

f. QS. Yāsīn: 72

‫َوذَلَّ ْل َنا َها َل ُه ْم فِيهَا َركُوبُ ُه ْم َو ِم ْنهَا يَأ ْ ُكلُون‬

Dan Kami menundukkannya (hewan-hewan itu) untuk mereka;


maka sebagiannya untuk menjadi tunggangan mereka dan
sebagian untuk mereka makan.

Sedang untuk pembacaan ayat di atas untuk mahabbah dilakukan

dengan menggunakan media air. Dengan cara dibacakan ayat tersebut

sejumlah 72x kemudian ditiupkan di air. Amalan ini beliau juga ijazah dari

Almarhum KH. Mathori.103

2. Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’an Sebagai Sarana Dakwah agar

Memunculkan Kewibawaan

a. QS. Saba’: 10

ْ َ‫َٗىَقَ ْذ اذ َ ٍْ َْا دَاٗ َد ٍِْا ف‬


ٔٓ ‫ض ًا ٌ ِج َثا ُه اَ ّ ِٗ ِت ًْ ٍَ َؼٔ َٗاىطٍ َْش ۚ َٗاَىَْا ىَُٔ ا ْىحَ ِذ ٌْ َذ‬

Sungguh, benar-benar telah Kami anugerahkan kepada Daud


karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Wahai gunung-gunung dan
burung-burung, bertasbihlah berulang kali bersama Daud!” Kami
telah melunakkan besi untuknya.

102
Kiai Ismail.
103
Kiai Ismail.

53
Dalam penggunaan ayat ini, Kiai Ismail menyebutkan “niki

istilahe kagem wong nek diomongi ben manut”.104 Ayat ini baik

diamalkan oleh para pemimpin atau mereka yang memiliki jabatan

tertentu agar dapat menjadikan mereka yang di bawah pimpinannya akan

patuh dengan komandonya. Seorang pimpinan akan disegani oleh

bawahannya. Beliau juga mengatakkan “niki dingge keampuhan, neh

ampuh yo keno kangge nirakati wong ben podo manut, yo kangge

keampuhan badan, ugi lintuntune”105 . Sedangkan cara pengamalannya

dengan membacanya 7x secara rutin setiap sholat fardu.106

Karena untuk keampuhan, maka sebaiknya disertai dengan puasa.

Karena menurutnya, bahwa dengan puasa itu menunjukkan suatu tirakat

tersendiri. Puasa ini juga bisa sebagai wujud kesungguhan seseorang

yang berdo‘a atau menginginkan sesuatu hal, sehingga do‘a yang hanya

wirid dan yang disertai dengan puasa, mungkin akan berbeda,

menurutnya dengan puasa, do‘a amalan akan lebih cepat bereaksi atau

sampai pada yang dituju dengan lebih cepat dibanding dengan yang

hanya bacaan saja. Amalan ini juga didapatkan oleh Kiai Ismail dari

gurunya Almarhum KH. Mathori Winong.107

b. QS. Yūsuf: 31

ٖٔ ٌٌ ٌْ ‫حَاػ ِ ِّٰلِ ٍَا ٕزَا تَش ًَشا ا ُِْ ٕزَا اِِل ٍَيَلٌ م َِش‬
َ َِ‫فَيََا َساَ ٌَْْٔ ا َ ْمثَ ْشَّٔ َٗقَط ْؼَِ ا َ ٌْ ِذٌَ ُِٖ َٗقُ ْي‬

104
Artinya ―ini istilahnya untuk menjadikan seseorang yang diberi tahu atau diperintah
patuh‖
105
Artinya ―ini digunakan untuk keampuhan, yang namanya keampuhan bisa digunakan
agar orang-orang menjadi patuh, bisa untuk keampuhan badan, atau yang lainnya‖
106
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.
107
Kiai Ismail.

54
Ketika wanita-wanita itu melihatnya, mereka sangat terpesona
(dengan ketampanannya) dan mereka (tanpa sadar) melukai
tangannya sendiri seraya berkata, “Mahasempurna Allah. Ini
bukanlah manusia. Ini benar-benar seorang malaikat yang mulia.”

Ayat ini juga merupakan salah satu ayat yang dipercaya dapat

mendatangkan kewibawaan dalam diri seorang yang mengamalkan. Akan

tetapi dalam hal ini, ayat tersebut juga dibaca dengan serangkaian wirid

tertentu. Yakni ditambah dengan bacaan sholawat haibah dan juga

bacaan mahabbah lainnya.

Dijelaskan oleh Kiai Nasihin, bahwa tentu saja sebagai seorang

pemimpin, ataupun tokoh masyarakat, kita perlu untuk selalu untuk amar

ma‟ruf nahī munkar. Dan untuk menyampaikan hal tersebut, tidak

semua orang dapat menerimanya dengan baik. Dengan adanya mahabbah

ini, maka seseorang akan dicintai. Ketika seseorang dicintai, maka akan

mudah untuk didengar ucapannya. Namun selain mahabbah, juga

diperlukan haibah atau kewibawaan. Dengan haibah ini, seseorang akan

mudah patuh terhadap apa dikatakannya. Jadi dalam penyampaian amar

ma‟ruf nahī munkar, akan dengan mudah diterima oleh masyarakat.108

Bacaan sholawat haibah adalah sebagai berikut:

ٍِ‫اىيٌٖ طيً ػيى عٍّذّا دمحم طاج ذيقً تٖا اىشػة ٗاىٍٖثح فً قي٘ب اىنافشٌِ ٗاىَششم‬

ٌ‫ٗاىظاىٍَِ ٗاىَْافقٍِ ٗاىَرغذٌِ ٗػيً اىٔ ٗطحثٔ ٗعي‬

Setelah bacaan sholawat haibah dilanjutkan dengan bacaan wirid berikut:

108
Kiai Nasihin, Wawancara, 14 Oktober 2021, Desa Winong.

55
‫اىخرً ٗع ّخش ىً قي٘ب ٍِ سأًّٗ مَا ع ّخشخ فشػُ٘ اىى ٍ٘عى‬
ّ ‫ٌا ىطٍف اىطف تً تيطرل‬

ٍَِ‫تشحَرل ٌا أسحٌ اىشاح‬

Rangkaian bacaan di atas, diwiridkan secara istiqomah di setiap

ba‘da sholat maghrib dan sholat subuh. Tata cara pembacaannya yakni

ayat QS. Yusuf: 31 tersebut dibaca sebanyak 7x, kemudian dilanjutkan

dengan membaca sholawat haibah sebanyak 11x, dan yang terakhir

membaca wirid yang telah tertulis di atas juga sebanyak 11x. Kiai

Nasihin mendapatkan ijazah amalan ini dari gurunya yakni KH. Ahmad

Muhammad, Tegalrejo, Magelang saat masih menyantri pada beliau.109

Dari penuturannya, mereka yang ijazah dengan beliau, rata-rata

dari Kiai kampung, atau orang-orang yang memiliki pengaruh di

wilayahnya, seperti kepala desa, dan lainnya. Selain itu, beliau juga

mengijazahkan amalan ini kepada pengusrus pesantren yang diampunya,

juga beberapa alumni yang kini menjadi tokoh di masyarakat.

Selain Kiai Nasihin, salah satu warga yang juga mengamalkan

bacaan tersebut adalah Pak Surur. Yang mana Pak Surur ini juga alumni

dari pesantren yang sama oleh Kiai Nasihin. Ia juga salah satu murid dari

KH. Ahmad Muhammad yang mendapatkan ijazah bacaan tersebut. akan

tetapi dalam hal ini, Pak Surur mengamalkan hanya untuk wirid saja.

Menurutnya, ini sebagai bentuk bertabarruk kepada gurunya dengan

mengamalkan apa yang telah diijazahkan kepadanya.110

109
Kiai Nasihin, Wawancara, 14 Oktober 2021, Desa Winong.
110
Pak Surur, Wawancara, 29 November 2021, Desa Winong.

56
Kemudian ada pula Kholiq Mas‘udi yang mengamalkan bacaan

tersebut. ia merupakan salah satu santri dari Kiai Nasihin. Ijazah amalan

ini, ia dapatkan pula dari Kiai Nasihin saat ia menjabat sebagai pengurus

pesantren. Ia menuturkan bahwa dengan bacaan ini, diharapkan agar para

santri bisa patuh dengan pengurus. Tapi tidak sepenuhnya pengamalan

tersebut ia niatkan untuk itu, karena dari Kiai Nasihin sendiri mengatakan

untuk dibaca sebagai wirid rutinan saja.111

Pak Hadi yang merupakan salah satu Kiai mushola di Desa

Winong, juga mengamalkan amalan tersebut dengan ijazah dari Kiai

Nasihin. Ia menagatakan bahwa pertama kali ia mengamalkan ijazah

tersebut saat ia pulang dari pesantren dan diamahi untuk turut

menghidupkan mushola di kampungnya. Ia kemudian sowan dan

berkonsultasi dengan Kiai Nasihin hingga mendapatkan ijazah amalan

tersebut.112

c. QS. Al- Syūrā: 19

ٔ٣ ࣖ ‫ي ا ْى َؼ ِضٌ ُْض‬
‫ق ٍَ ِْ ٌشَا ُء ۚ َٕٗ َُ٘ ا ْىقَ ِ٘ ب‬ ٌ ٍ‫ّللاُ ىَ ِط‬
ُ ‫ْف ِت ِؼ َثادِٓ ٌَ ْش ُص‬ ٰ َ

Allah Mahalembut terhadap hamba-hamba-Nya. Dia memberi


rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahakuat lagi
Mahaperkasa.

Ayat di atas juga termasuk salah satu ayat yang dipercaya dapat

menjadikan seseorang patuh akan ucapan orang yang mengamalkan ayat

tersebut. Dari keterangan Kiai Irham, cara pengamalan bacaan ini disertai

111
Kholiq Mas‘udi, Wawancara, 22 November 2021, Desa Winong.
112
Pak Hadi, Wawancara, Via Telepon, 13 Desember 2021, Desa Winong.

57
dengan bacaan ‫ٌا ىطٍف‬ sebanyak 129x setelahnya. Setelah membaca

amalan tersebut, hendaknya untuk dilanjutkan dengan do‘a wasilah, “Ya

Allah, kanthi haq amalan meniko, kaulo nyuwun.....(disebutkan

hajatnya)”.113 Diamalkan di setiap ba‘da maghrib dan juga ba‘da subuh.

Ia menerangkan bahwa bacaan ini termasuk salah satu bacaan yang

mampu meluluhkan atau melunakkan hati seseorang, sehingga ia bisa

patuh kepadanya. Amalan ini didapatkannya melalui ijazah dari KH

Maemun Zubair, Sarang, Rembang saat ia masih muda. Diperkirakannya

pada tahun 2003 ia mendapat ijazah bacaan tersebut.114

Kholiq Mas‘udi, selain ia mengamalkan ijazah dari Kiai Nasihin

yang telah disebutkan sebelumnya, ia juga mengamalkan ijazah dari Kiai

Irham sebagai wirid hariannya. Dan di akhir wirid yang diijazahkan oleh

Kiai Irham ini dianjurkan bagi pembaca untuk menyebutkan hajatnya, hal

ini dijadikannya untuk wasilah memohon suatu hajat kepada Yang

Kuasa.115

3. Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’an Sebagai Wasilah Penglarisan

a. QS. Al-Hajj: 27-28

ٌْ ُٖ ‫ش َٖذ ُْٗا ٍََْافِ َغ َى‬ ٍ ٍََِ ‫َاٍ ٍش ٌس ْ ِذ ٍَِْ ٍِ ِْ ُم ِ ّو فَ ّجٍ ػ‬


ْ ٍَّ‫ٕ ِى‬٢ ‫ْق‬ ً ‫اط تِا ْى َح ّجِ ٌَسْذ ُْ٘كَ ِسم‬
ِ ‫َاِل ٗػَيى ُم ِّو ض‬ ِ ْ‫َٗاَرّ ُِْ فِى اى‬

(Wahai Ibrahim, serulah manusia untuk (mengerjakan) haji,


niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan
mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang
jauh. 28. (Mereka berdatangan) supaya menyaksikan berbagai
manfaat untuk mereka

113
Artinya ―Ya Allah, dengan haq amalan ini, hamba memohon.....(disebutkan hajatnya)‖
114
Kiai Irham, Wawancara, 20 November 2021, Desa Winong.
115
Mas‘udi, Wawancara.

58
Menurut keterangan Kiai Ismail, ayat ini digunakan sebagai rajah

dalam suatu dagangan, diharapkan dengan dipasangkan rajah ini dapat

menjadikan dagangan tersebut menjadi lebih laris. Ayat ini ditulis secara

lengakap, kemudian di bawahnya ditambah lagi dengan lafadz

ّ ٌٍ‫سحَِ سح‬
‫سصاق سؤف ستّل‬

ٌْ ُٖ ‫ش َٖذ ُْٗا ٍََْا ِف َغ َى‬ ٍ ٍ ََِ‫ضاٍِ ٍش ٌس ْ ِذ ٍَِْ ٍِ ِْ ُم ِّو فَ ّجٍ ػ‬


ْ ٍَ ّ‫ْق ِى‬ ً ‫اط ِتا ْى َح ّجِ ٌَسْذ ُْ٘كَ ِسم‬
َ ‫َاِل ٗػَيى ُم ِّو‬ ِ ْ‫َٗاَرّ ُِْ فِى اى‬

‫ستّل‬ ‫سؤف‬ ‫سصّ اق‬ ٌٍ‫سح‬ َِ‫سح‬

Gambar: Gambaran rajah penglarisan dari penuturan Kiai Ismail

Selain itu ditambah pula rajah sebagai keselamatan, atau dalam

istilah beliau ―tolak maling‖, karena dalam dunia perdagangan akan rawan

terhadap hal-hal semacam tersebut. Rajah ini ditulis dengan ayat ٌ‫مٍٖؼض ح‬

ٍ ّ ‫عي ٌٌ قَ ْ٘ ًِل ِ ٍّ ِْ س‬
‫ ػغق‬ditulis secara terpisah dan ditambah ayat ٌٍْ ٍ‫ب س ِح‬ َ . Akan

tetapi untuk bagian atasnya ditambah dengan rajah tertentu yakni

sebagaimana pada gambar berikut:116

‫كٓيعصحًعطق‬

ٌٍ‫عاً قَِ٘ل ٍِ سب سح‬

Gambar: Gambaran rajah tolak maling dari penuturan Kiai Ismail

Rajah ini tidak hanyak untuk dagangan saja sebenarnya, karena

merupakan tolak maling. Untuk itu rajah ini bisa ditempelkan pada tempat-

tempat yang memang ingin dilindungi, seperti rumah, almari, dompet,

116
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021..

59
kebun, ataupun tempat-tempat yang ingin diberikan suatu perlindungan.

untuk kedua rajah di atas beliau dapatkan dari ijazah dengan KH. Mathori

Winong, dan juga Kiai Umar Pauruan.117

Salah satu pedagang di Desa Winong Ibu (sebut) AZ. Ia merupakan

salah seorang pedagang pakaian yang mempercayai adanya kekuatan

magis dari al-Qur‘an dengan menggunakan rajah dalam berdagang. Ia

mengakui, walaupun kenaikan laba yang ia peroleh tidak secara tiba-tiba

meningkat secara drastis, akan tetapi secara bertahap terjadi kenaikan.

Selain dia juga meningkatkan usahanya dengan membuka tokonya secara

online. Dan saat ini, ia mengakui bahwa penjualannya kian meningkat.

Bahkan saat ini sudah memiliki banyak reseller yang menginduk

dengannya.118

Selain itu, ada pula (sebut) Pak AA, ia merupakan salah satu

pedagang sembako di Desa Winong yang juga mempercayai adanya

kekuatan magis dari al-Qur‘an. Dalam penuturannya ia mengaku adanya

kenaikan laba yang dihasilkan dari penjualannya. Selain ia tetap berusaha

untuk selalu melengkapi tokonya dengan barang-barang yang dibutuhkan

masyarakat. Saat ini, ia telah memiliki dua toko sembako yang keduanya

tergolong ramai pelanggan. Selain rajah ia juga menanamkan keyakinan

pada dirinya untuk selalu bersedekah, karena seberapapun yang

disedekahkan akan kembali lagi kepada kita dengan lebih banyak.119

117
Kiai Ismail.
118
Bu Az, Wawancara, Via Telepon, 25 Desember 2021, Desa Winong.
119
Pak AA, Wawancara, Via Telepon, 25 Desember 2021, Desa Winong.

60
Dari keterangan Kiai Ismail sebagai praktisi atau pemberi ijazah, ia

menatakan bahwa tamu yang paling banyak itu dengan tujuan meminta

rajah untuk perdagangan.120 Ia menjelaskan:

“Tamu sing maring ten kulo niku wonten sekitar 60 orang


perbulan. Niku paling kathah nyuwun kangge dagang. wonten nek
sekitar 30 orang nggih dari winong pyambak utawi luar. Tapi
langkung katah sing luar Winong, soale nek tiyang winong kan
kathahe petani, dados paling nyuwun rajah kangge nangkal tikus.
Nek saking winong pyambak paling mung sekitar 10 persen saking
sing nyuwun rajah dagang. alhamdulillah nggih sami cocok.‖121

120
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.
121
―Tamu yang datang kepada saya itu ada sekitar 60 orang perbulan. Itu paling banyak
meminta untuk dagang, ada sekitar 30 orang baik dari Winong sendiri ataupun luar Winong. Tapi
lebih banyak dari luar Winong, karena kebanyakan orang Winong adalah petani, jadi mungkin
minta rajah untuk penangkal tikus. jadi kalau untuk orang Winong sendiri kemungkinan hanya
10% dari tamu yang meminta rajah dagang. Alhamdulillah juga banyak yang berhasil.‖

61
BAB IV

ANALISIS PRAKTIK PENGGUNAAN AYAT-AYAT MAHABBAH DI

TENGAH MASYARAKAT DESA WINONG KEC. KEMIRI KAB.

PURWOREJO

A. Pemaknaan Penggunaan Ayat-Ayat al-Qur’an untuk Mahabbah di Tengah

Masyarakat Desa Winong

Masyarakat Desa Winong dalam memaknai al-Qur‘an, tidak hanya sebatas

sebagai kitab suci dan juga pedoman hidup saja, akan tetapi juga meyakini akan

adanya kekuatan magis di dalamnya. Seperti halnya dapat dijadikan untuk

pengobatan, untuk perlindungan, baik dari gangguan jin dan setan ataupun untuk

keselamatan dari maling dan sebagainya, juga dijadikan pula sebagai wasilah

untuk mendatangkan mahabbah.

Mengenai kajian living Qur‘an, terdapat suatu teori yang berkembang

mengenai pemahaman masyarakat terhadap al-Qur‘an. Teori tersebut biasa

disebut dengan teori resepsi terhadap al-Qur‘an. Teori tersebut didefinisikan

dengan bagaimana orang menerima, merespon, memanfaatkan, atau

menggunakan al-Qur‘an sebagai teks yang memuat susunan sintaksis atau sebagai

mushaf yang dibukukan yang memiliki maknanya sendiri atau sekumpulan lepas

kata-kata yang memiliki makna tertentu.122

Pengertian ini dapat ditarik dua model umum resepsi al-Qur‘an yaitu

resepsi yang didasarkan pada pemahaman bahwa al-Qur‘an merupakan kitab

berbahasa Arab sehingga harus didekati dengan metode kebahasaan, kemudian

122
Syaikhu Z, ―Pengamalan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Dalam Praktek Karomahan Di
Padepokan Macan Putih Kecamatan Baron Kabupaten Nganjuk.‖. Hal. 74-75.

62
yang kedua adalah resepsi terhadap al-Qur‘an yang yang muncul dalam praktek

keseharian muslim. Dan terkadang model yang kedua ini tidak memperdulikan

makna kebahasaan al-Qur‘an.

Mengenai makna dari penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an sebagai mahabbah,

klasifikasi dari Karl Mannheim dalam bukunya Baum Gregory, ia menyatakan

bahwa tindakan manusia dibentuk oleh dua dimensi, perilaku (Behaviour) dan

makna (meaning). Untuk memahami makna perilaku, Mannheim membedakan

antara tiga macam makna yang terdapat dalam tindakan sosial. Yakni, pertama

makna obyektif, yang ditentukan oleh konteks sosial di mana tidakan berlangsung.

Kedua, makna ekspresif yang diatributkan pada tidakan oleh aktor. Dan ketiga

makna dokumenter, yakni sebuah makna yang tersembunyi, mengekspresikan

aspek yang menunjuk pada kebudayaan secara keseluruhan.123

Demikian lebih jelasnya mengenai penerapan teori di atas terhadap

pemaknaan penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah di Desa Winong

sebagai berikut:

1. Makna Objektif

Makna Objektif merupakan makna yang berlaku untuk semua orang

atau ditentukan oleh konteks sosial, di mana tindakan berlangsung. Makna

objektif digunakan untuk mencari makna dasar atau makna asli.

Sederhananya, makna objektif ditentukan oleh peraturan atau kondisi asli dari

pengamalan mahabbah tersebut. 124

Makna objektif dari penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah

diantaranya, bahwa praktik ini dikenal masyarakat secara umum sebagai


123
Gregory Baumm, Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan
Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow. Hal. 15.
124
Gregory Baumm. Hal. 16.

63
suatu praktik yang memang sudah ada dan tidak asing lagi sejak dulu. Yang

mana dahulu yang menjadi tokoh dalam hal ijazah, wirid, ataupun amalan

ialah Kiai Mathori yang menjadi guru dari Kiai Ismail. Praktik tersebut

dianggap sah atau wajar jika memenuhi beberapa ketentuan berikut:

a. Seseorang yang akan mengamalkannya perlu memiliki niat yang baik.

Karena niat merupakan suatu hal pokok yang menjadi awal dari

segala tindakan. Selain niat juga diperlukan kemantapan hati bagi

pengamalnya. “Mantep itu hal yang paling utama, mosok orang berdo‟a

memohon kepada Allah nggak mantep kalau do‟anya akan dikabulkan.

Itu seperti halnya meragukan kekuasaan Allah. Makanya setiap berdo‟a

kunci utamnya adalah mantep”, tutur Kiai Ismail. Dan beliau selalu

menekankan kepada mereka yang meminta ijazah kepadanya untuk

benar-benar mantep dengan bacaan yang akan diamalkannya.

b. Adanya ijazah langsung dari guru.

Dalam suatu penelitian irfaniah, kehadiran guru (mursyid)

sangatlah penting. Mursyid akan membimbing murid dari tahap satu ke

tahap yang lain. Pada tahap tertentu, mursyid memberi wewenang

(ijazah) kepada murid.125 Pemberian ijazah merupakan suatu pengesahan

bagi sang murid dari gurunya. Ijazah sangat diperlukan, terutama dalam

hal ilmu yang bersifat rohani atau spritual. Seseorang mungkin bisa

mengamalkan suatu amalan yang ia dapatkan dari buku. Akan tetapi

belum tentu ia akan mendapatkan keberkahan dari yang diamalkannya.

Maka dari itu, peran guru di sisni ialah sebagai pembimbing sekaligus

125
Taufik Abdullah dan M. Rusli Karim, Metodologi Penelitian Agama (Yogyakarta:
Tiara Wacana, 2004). Hal. 115.

64
penyalur berkah menjadi sangat penting dalam mempelajari ilmu hikmah

atau spritual lainnya.126

c. Puasa

Puasa dalam hal ini bukanlah suatu perkara yang wajib. Akan

tetapi, menurut Kiai Ismail bahwa pasti akan berbeda hasilnya bagi yang

disertai dengan puasa dan yang tidak. Dengan puasa, menurutnya akan

mempercepat terkabulnya hajat atau keinginan yang dituju oleh

pengamal ayat-ayat tersebut. Baginya, puasa merupakan suatu bentuk

tirakat127 atau kesungguhan seseorang dalam memohon kepada Allah. Ia

mencontohkan beberapa tirakat para kiai terdahulu seperti KH. Kholil

Bangkalan dan juga KH. Hasyim Asy‘ari yang dalam jangka hitungan

tahunan, dan mebuahkan hasil yang sangat hebat. Beliau mengatakan

“Kenapa kok para kiai terdahulu memiliki kehebatan dan pengaruh yang

begitu besar, bahkan tidak jarang yang juga memiliki keampuhan?,

menurut saya karena tentu tidak lepas dari tirakatnya”.128 Dengan

adanya puasa, selain untuk taqarrub ilallāh (mendekatkan diri pada

Allah) yakni untuk menyucikan diri juga melatih jiwa, juga sebagai

wujud tirakat semata-mata agar apa yang diamalkannya berhasil dan

mencapa nilai spiritual yang tinggi.

126
Ahmad Wahyudin, ―Kajian Epistimologi Terhadap Ilmu Hikmah dan Penyimpngan
Prakteknya dalam Masyarakat (Studi pada Wirid Hizib Asror di Pesantren Nurul Hikmah
Bojonegoro Serang Banten)‖ (Tesis, Jakarta, Fakultas Ushuludin, UIN Syarif Hidayatullah, 2020).
Hal. 137.
127
Tirakat adalah suatu upaya spiritual seseorang dalam bentuk keprihatinan jiwa dan
badan untuk mencapai sesuatu dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan, baik perilaku, hati,
juga pikiran.
128
Kiai Ismail, Wawancara, 30 November 2021, Desa Winong.

65
d. Istiqomah129.

Keistiqomahan menjadi hal yang diperlukan dalam suatu amalan

wirid. Di Desa Winong, Kiai Ismail sebagai pemberi ijazah di desa

tersebut, tidak mewajibkan untuk selalu istiqomah, karena kebanyakan

beliau memberikan ijazah kepada mereka yang memiliki hajat tertentu

untuk keperluan mahabbah dan diamalkan saat terdapat hajat saja. Akan

tetapi untuk tujuan lain, semisal untuk menumbuhkan kewibawaan

sebagai sarana amar ma‟ruf nahī munkar, dikatakan oleh Kiai Nasihin,

bahwa perlu adanya keistiqomahan atau konsistensi dalam pengamalan

ayat-ayat tersebut.

2. Makna Ekspresif

Mengenai makna ekspresif, berarti membahas tentang sebuah

pemaknaan yang diatributkan kepada tindakan yang dilakukan oleh aktor.

Dengan makna eksresif akan ditemukan pemaknaan para aktor yang

tergantung pada sejarah personalnya.130

Makna ekspresif menurut Kiai Ismail, bahwa mempraktekan amalan

tersebut karena mendapat pemahaman dari guru-gurunya terdahulu mengenai

bacaan tersebut. Pemahaman tersebut ia serap dan memunculkan keyakinan

berupa praktek menggunakan ayat al-Qur‘an tidak menggunakan mantra-

mantra dari jawa, baginya merupakan kegiatan yang bernilai ibadah. Nilai

ibadah ini berupa pembacaan al-Qur‘an, membantu orang yang membutuhkan

dan mempertebal keimanan karena berinteraksi langsung dengan ketauhidan

129
Istiqomah adalah suatu istilah dalam bahasa Arab yang bermakna konsisten dan teguh
dalam melakukan suatu kegiatan.
130
Gregory Baumm, Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan
Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow. Hal. 15.

66
dan realita berupa fenomena-fenomena yang dirasakan oleh orang-orang

setelah mengamalkan amalan darinya.

Kemudian dikatakan oleh Kiai Nasihin bahwa suatu amalan yang

diistiqomahkan, itu bagaikan suatu obat. Obat tentunya akan memberikan

efek tertentu bagi yang meminumnya. Begitu pula suatu amalan. Seseorang

yang istiqomah mengamalkan wirid tertentu atau ibadah tertentu, pasti akan

ada efek baik yang ditimbulkan dalam dirinya. Khususnya dalam hal adalah

mengobati nurani atau bathiniyah. Seorang pengamal mahabbah menurutnya,

bukan hanya menjadikan orang lain tunduk padanya, melainkan juga ia

sendiri lebih mampu menundukkan dirinya, mampu mengendalikan

emosinya, lebih tenang hatinya, tidak mudah gelisah, dan lainnya. Karena

sebuah amalan akan menjadi obat bagi pengamlanya. Sehingga dengan

kondisi jiwa dan batinnya yang semakin membaik, dari situ kemudian akan

timbul suatu kewibawaan tersendiri yang dipandang oleh orang lain.

Jadi sebenarnya, mengamalkan bacaan atau wirid-wirid itu bukan

untuk tujuan tertentu, melainkan untuk membersihkan dan memperbaiki diri

sendiri. Niatnya tentu adalah untuk lebih mendekatkan diri kepada Yang

Kuasa, juga mengolah batin agar lebih baik, jika nantinya muncul hal-hal

lain di luarnya, itu hanya sebatas bonus saja.131

Kemudian dari Kiai Irham, bahwa ia mengamalkan ijazah ayat-ayat

tersebut selain sebagai wirid atau dzikir rutinannya, ia gunakan sebagai

wasilah memohon atau berdo‘a kepada Allah akan hajatnya. Walaupun ayat

tersebut dipercaya dapat dijadikan sebagai penakluk hati orang lain yang

131
Kiai Nasihin, Wawancara.

67
dituju, akan tetapi dalam praktiknya, Kiai Irham tidak hanya sebagai wasilah

untuk mahabbah, namun juga untuk segala macam hajat-hajat yang lainnya.

Karena memang dalam pengamalannya, setelah selesai membaca rangkaian

wirid tersebut, kemudian diperintahkan untuk berdo‘a, dan dalam do‘a

tersebut boleh menyebutkan hajat apapun yang ia kehendaki.132

Sedangkan menurut Akrom Mahmud, seorang santri pengamal wirid

mahabbah, ia mengatakan bahwa masing-masing orang memilki niatnya

sendiri-sendiri. Hal ini berkaitan dengan keikhlasan pembacanya. Kategori

ikhlas yang paling bawah menurutnya adalah ia yang mengamalkan sesuatu

dengan masih mengharap suatu tujuan tertentu yang hendak dicapainya.

Kemudian tingkatan di atasnya adalah mereka yang mengharapkan sesuatu

yang berhubungan dengan akhirat, seperti pahala, barokah, dan lainnya. Dan

yang paling tinggi ialah yang tidak mengharapkan apapun kecuali hanya

Ridlo Allah.

Beberapa orang memang mengamalkan untuk suatu tujuan tertentu,

atau ayat tersebut diwiridkan sebagai wasilah untuk memohon agar seseorang

memiliki rasa mahabbah kepadanya. Dan ia pun pernah melakukan hal

tersebut. Namun untuk saat ini, ia membacanya lebih untuk sekedar wirid

harian saja. Mengenai efek yang akan muncul, itu hanya sekedar fadhilah dari

pembacaan tersebut. Menurutnya mengistiqomahkan suatu wirid atau bacaan

merupakan suatu bentuk tirakat tersendiri dalam mengolah batin.133

Kemudian, menurut Kholiq Mas‘udi mengatakan bahwa ia

mengamalkan mahabbah yang diijazahkan dari gurunya yakni Kiai Nasihin

132
Kiai Irham, Wawancara, 1 Desember 2021, Desa Winong.
133
Mahmud, Wawancara.

68
dengan tujuan hanya sebagai wirid rutin saja. Ia mengatakan demikian karena

takut adanya kebelokan i‟tiqad atau keyakinan dari mengamalkan wirid

tersebut. ia hanya ingin menjalankan apa yang telah diijazahkan oleh

gurunya. Ia sendiri merasakan pengaruh setelah membaca wirid tersebut

secara istiqomah, seperti ia merasa sebagai pengurus pesantren, ucapannya

dirasa lebih dipatuhi oleh para santri. Namun kembali lagi, ia tidak ingin

niatnya mengamalkan wirid tersebut hanya ingin memperoleh wibawa

semata, akan tetapi ia selalu ingatkan dirinya untuk benar-benar

mengamalkan bacaan tersebut untuk salah satu sarana beribadah kepada Allah

SWT.134

Selanjutnya, diungkapkan oleh Pak Surur, bahwa kebanyakan dari

orang awam yang meminta ijazah amalan tertentu contohnya seperti

mahabbah ini, sebenarnya mereka tidak memahami betul apa makna dari

ayat-ayat yang dibacanya. Akan tetapi mereka hanya bermodal kemantapan

hati dan juga rasa patuhnya pada guru atau shohibul ijazah135. Dari hal

tersebut, walaupun mereka kurang memahami apa makna ataupun apa isi

kandungan ayat yang mereka baca, dengan kemantapan hatinya, do‘a mereka

bisa terkabul dengan perantara wirid-wirid tersebut.136

Dari beberapa keterangan di atas, ditemukan makna ekspresif dari

penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah di Desa Winong antara lain:

a) Mengamalkan ayat-ayat tersebut sebagai sarana beribadah atau

mendekatkan diri kepada Allah. Juga yakin dan percaya adanya

kekuatan al-Qur‘an.
134
Mas‘udi, Wawancara.
135
Shohibul ijazah maksudnya adalah seseorang yang memberikan ijazah atau guru.
136
Pak Surur, Wawancara.

69
b) Pengamalan tersebut sebagai wasilah atau perantara seseorang dalam

berdo‘a, atau memohon kepada Allah atas apa yang ia inginkan.

Diamalkan karena memang memiliki tujuan tertentu agar bisa

memunculkan rasa mahabbah dari orang yang ditujunya. Atau

memunculkan rasa mahabbah dari orang-orang kepadanya atau

kepada sesuatu yang memang ia inginkan menjadi menarik dalam

pandangan orang-orang dengan perantara pembacaan ayat-ayat

tersebut.

c) Diamalkan sebagai suatau sarana amar ma‟ruf nahī munkar, agar

dakwaknya mudah diterima oleh pendengar.

d) Digunakan sebagai wirid rutinan yang istiqomahkan saja, karena

dalam menjalani kehidupan dibutuhkan hal demikian sebagai suatu

bentuk riyadhah137 yang dapat mengolah jiwa dan kebatinan agar

lebih baik.

e) Sebagai bentuk kepatuhan dan kemantepan kepada guru atau shohibul

ijazah, sehingga ia mengamalkan sesuai dengan apa yang diberikan

kepadanya.

3. Makna Dokementer

Makna dokumenter merupakan makna yang mengekspresikan aspek

yang menunjuk pada kebudayaan secara keseluruhan. Makna ini diperoleh

dengan melihat posisi pengamalan al-Qur‘an terhadap konteks.138

137
Riyadhah merupakan suatu latihan atau ritus tertentu untuk mengolah jiwa dengan
penahapan dan proses tertentu. (Abdullah dan Karim, Metodologi Penelitian Agama. Hal. 115)
138
Gregory Baumm, Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan
Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow. Hal. 15.

70
Pertama, dilihat dari sisi ruang sosial, pengamalan ini menjadi suatu

hal yang membawa pengaruh pada masyarakat. Masyarakat yang mayoritas

berstatus Nahdiyyin139 tentu dapat menerima hal tersebut dengan baik. Hal ini

bagi beberapa masyarakat dapat membantu sebagian masalah yang sedang

dihadapi. Seperti para remaja yang ingin diterima cintanya dengan baik, para

pemuka agama dan juga tokoh-tokoh masyarakat dalam menyampaikan

dakwahnya dapat mudah diterima oleh masyarakat, bahkan juga digunakan

untuk mereka yang berniaga agar lebih laris dagangannya.

Kedua, sebagian besar yang mengamalkan tentu akan mendapatkan

efek ataupun perasaan masing-masing yang berbeda. Karena dalam

pengamalan ayat ayat al-Qur‘an ini selain dapat menjadi wasilah dalam

berdo‘a atau memohon sesuatu kepada Allah, juga dapat menjadi suatu

bentuk riyadhah yang dapat mengolah jiwa dan kebatinan. Bagi masyarakat

selain untuk mengatasi masalahnya, mereka juga ingin mengetahui kegunaan

al-Qur‘an untuk hal yang lain. Seseorang yang datang untuk meminta ijazah,

dalam hal ini adalah kepada Kiai Ismail atau Kiai Nasihin, mereka akan

dibimbing kepada ketauhidan agar tidak ada penyimpangan dalam

mengamalkan wirid-wirid tersebut, sehingga selalu bertambah tentang ilmu

agama bagi mereka terutama keyakinan dan kepercayaan terhadap kekuatan

dari al-Qur‘an.

139
Nahdhiyyin merupakan sebutan bagi warga atau masyarakat yang berfaham Nahdlotul
Ulama dan mengamalkan apa yang menajdi amaliyahnya. Dengan prinsip utama NU yakni
Ahlussunnah wal Jamaah.

71
Kemudian juga dalam pengamalan ini itu bertabaruk140 dari kisah

ayat-ayat al-Qur‘an termasuk kisah orang-orang saleh terdahulu. Tujuan dari

bertabaruk di sini selain sebagai perantara menuju ridha Allah SWT juga

mencari berkah dari kebaikan amal mereka.

Ketiga, kemungkinan sadar atau tidak, pengamalan ini merupakan

suatu bentuk kontribusi dalam hasanah budaya melestarikan al-Qur‘an yang

sudah berjalan sejak masa Nabi Muhammad SAW juga para walisongo141

yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Kontribusi di sini berupa upaya

kesadaran kepada masyarakat bahwa al-Qur‘an tidak serta hanya sebuah

bacaan yang disakralkan, akan tetapi kemukjizatannya masih bisa dirasakan

dan berlaku hingga akhir zaman.

B. Analisis Sosial Praktik Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur’an untuk Mahabbah

di Desa Winong, Kec. Kemiri, Kab. Purworejo

Dalam sebuah penelitian sosial, teori yang terkenal dari Karl Mannheim

adalah teori sosiologi pengetahuan. Mannheim memberikan suatu perspektif

teoritik dan metodologis tentang semesta realitas, termasuk agama. Sebagai

sebuah teori, sosiologi pengetahuan mencoba menganalisis kaitan antara

pengetahuan dan kehidupan. Sosiologi pengetahuan melihat kebenaran dan

pengetahuan manusia bersifat subjektif dan tidak bebas nilai. Pengetahuan tidak

akan pernah lepas dari subjektivitas individu yang mengetahui. Latar belakang

sosial dan psikologi individu akan senantiasa mempengaruhi proses terjadinya

140
Tabarruk adalah suatu tidakan untuk mencari atau mengharap barakah (kebaikan
Tuhan) melalui pengaruh orang-orang saleh seperti Nabi, wali, dan sebagainya yang dengan
perantaranya diakui dapat mendatangkan kebaikan dari Tuhan.
141
Walisongo merupakan para wali yang berjumlah sembilan orang, yang menyebarkan
Islam di Tanah Jawa.

72
pengetahuan.

Sejarah mengatakan bahwa Islam masuk di Indonesia dibawa oleh

orang-orang yang berdagang melalui jalur India sampai Indonesia yang disebut

Gujarat. Dalam konteks sejarah jalur pelayaran dan perdagangan kuno yang

menghubungkan antara daerah semenanjung Arab, Persia, India, Cina, dan

Nusantara telah dikenal sejak lama, bahkan menurut sejarawan Brandell telah

berlangsung sejak tahun 700 SM. Menurut Pijnepel, orang-orang Arab yang

bermadzhab Syafi‘i yang bermigrasi dan menetap di wilayah India, kemudian

membawa Islam ke Indonesia.142

Salah satu gagasan yang dicetuskan oleh Gus Dur mengenai ―Pribumisasi

Islam‖ dimaksudkan untuk mencairkan pola dan karakter Islam sebagai suatu

yang normatif dan praktek keagamaan menjadi suatu yang kontekstual. Dalam

gagasan ini tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari

Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan yang berasal dari manusia tanpa

kehilangan identitasnya masing-masing. Pribumisasi bukan suatu upaya untuk

menghindarkan timbulnya perlawanan dari kekuatan-kekuatan budaya setempat,

tetapi justru agar budaya itu tidak hilang.143

Dari kesejarahan Jawa yang begitu kuat akan hal-hal mistis yang

dipercayai oleh masyarakat, tentunya hal tersebut berpengaruh terhadap konteks

sosial keagamaan yang terjadi di Jawa saat ini. Dalam hal ini, penulis berpendapat

bahwa tidak heran jika paradigma beragama umat Muslim di Jawa masih banyak

yang mempercayai hal-hal yang bersifat mistis, atau memiliki kekuatan ghaib.

142
Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara
(Bandung: Mizan, 1998). Hal. 24.
143
M. Imadadun Rahmat, Islam Pribumi, Mendialogkan Agama, Membaca Realitas
(Jakarta: Erlangga, 2003). Hal. xx.

73
Sebagai orang jawa, kita tidak bisa lepas dengan keyakinan-keyakinan

demikian. Bahkan dakwah Islam yang dijalankan oleh para wali songo juga

menggabungkan antara agama dan kebudayaan. Sebagaimana yang dituturkan

oleh Kiai Ismail:

―Kalau kita melihat penyebaran Islam zaman dulu, mayoritas masyarakat


Jawa saat itu akan lebih percaya kepada mereka yang memiliki
keampuhan. Keampuhan pada masa itu sangat berpengaruh dalam
perjalanan dakwah mereka‖144

Jadi pengamalan apapun baik untuk keampuhan, perlindungan, ataupun

mahabbah, itu sebenarnya sudah ada sejak dulu. Hanya saja, para wali songo

meluruskan tradisi-tradisi magis yang awalnya menggunakan mantra-mantra jawa,

diluruskan menggunakan ayat-ayat al-Qur‘an, asma-asma Allah, ataupun dengan

sholawat. Hal demikian bukan berarti mempercayai sepenuhnya bahwa ayat

tersebut dapat mendatangkan kekuatan, akan tetapi pengamalan ini merupakan

suatu perantara atau wasilah145 seseorang dalam memohon sesuatu atau berdo‘a

kepada Allah.146

Dalam kehidupan masyarakat Desa Winong, pemikiran kejawen masih

melekat. Terlihat dari masih adanya berbagai macam ritual seperti ritual kelahiran,

perkawinan, dan juga kematian yang masih terjaga hingga saat ini. Selain itu,

masih adanya kepercayaan terhadap weton dan hari-hari tertentu, aneka kesenian

seperti seni tari dolalak147 dan juga kuda lumping yang juga melibatkan mistis di

dalamnya, juga masih eksis keberadaannya. Akan tetapi paradigma kejawen yang

ada di masyarakat Desa Winong, kemudian dapat dikemas oleh para pemuka

144
Kiai Ismail, Wawancara, 30 November 2021.
145
Wasilah ialah segala hal yang menjadi perantara, media, ataupun sarana dapat
tercapainya suatu tujuan tertentu.
146
Kiai Ismail, Wawancara, 30 November 2021.
147
Salah satu jenis tarian adat Purworejo

74
agama setempat menjadi suatu kegiatan yang tidak melenceng dari syari‘at tanpa

meninggalkan tradisi budaya yang ada.

Praktik penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk mahabbah ini merupakan

salah satu fenomena keislaman yang bersangkutan dengan kepercayaan mistis

yang masih eksis di Desa Winong. Dikatakan mistis karena hal ini berkaitan

dengan kepercayaan. Mereka yang mengamalkan ayat-ayat al-Qur‘an tersebut,

dengan izin-Nya akan berhasil mendapatkan apa yang ia tuju, yakni memunculkan

rasa mahabbah dari seseorang yang dikehendakinya.

Terdapat tiga tipologi praktik mahabbah yang dipercaya dan diamalkan

oleh masyarakat Desa Winong seperti yang telah disebutkan pada pembahasan

sebelumnya. Di tengah masyarakat Desa Winong, Kiai Ismail adalah salah satu

tokoh yang menjadi rujukan masyarakat untuk meminta ijazah ataupun rajah, baik

untuk keperluan mahabbah atau penglarisan dagangan. Sedangkan untuk

kewibawaan, masyarakat lebih merujuk kepada Kiai Nasihin yang mengijazahkan,

selain beliau juga sebagai seorang pengasuh pesantren yang dianggap sebagai

seorang yang berwibawa di tengah masyarakat.

Dari beberapa tipologi mahabbah di atas, menurut penuturan Kiai Ismail,

dari banyaknya tamu yang meminta ijazah kepadanya mengenai mahabbah,

kategori paling banyak adalah untuk keperluan dagangan. 148 Penulis melihat

bahwa persaingan dalam dunia perdagangan pastilah ada, dan hal tersebut yang

kemudian mendorong para pedagang untuk menggunakan cara spiritual. Selain

usaha dzahir seperti memberbaiki kualitas yang dijual, cara pelayanan, dan

sebagainya, sebagian pedagang melihat bahwa usaha secara batin atau spiritual

148
Kiai Ismail, Wawancara, 29 September 2021.

75
juga diperlukan. Karena masalah akan banyaknya pelanggan yang berdatangan

merupakan suatu hal yang berada di luar prediksi. Maka dari situlah usaha secara

spiritual diyakini. Sebagaimana konsep yang telah dipahami masyarakat, bahwa

dalam hal apapun, selain usaha secara dzohir, juga diperlukan usaha batin dengan

memperbanyak berdo‘a dan beribadah. Dan dengan penggunaan ayat-ayat al-

Qur‘an ini, masyarakat menjadikannya sebagai wasilah atau perantara seseorang

tersebut memohon apa yang ia inginkan kepada Allah.

Mengenai praktik pengamalan ayat al-Qur‘an untuk mahabbah sebagai

penakluk hati, praktik ini lebih banyak diminati oleh para pemuda. Kiai Ismail

menceritakan bahwa untuk masalah penakluk hati biasanya yang bertamu

kepadanya adalah pemuda-pemuda yang menginginkan seseorang yang

dicintainya kembali mencintainya pula. Sebelum memberikan ijazah, Kiai Ismail

biasanya menanyakan keseriusan laki-laki tersebut mencintai wanita yang akan

ditujunya. Dan beliau menegaskan bahwa pengamalan ini, memang harus

ditujukan untuk suatu kemaslahatan. Beliau tidak ingin jika praktik ini hanya

digunakan untuk sekedar coba-coba saja.149

Penulis menemukan bahwa rata-rata dari mereka yang menggunakan

cara wirid ini, dikarenakan adanya perasaan minder dari laki-laki (pengamal)

untuk mengutarakan perasaannya pada wanita yang ia inginkan. Minder di sini

tentunya dalam berbagai hal, seperti ia merasa pendidikannya yang lebih rendah

dari wanitanya, kondisi ekonomi, status nasab, dan lainnya. Dari pengamalan

bacaan tersebut mereka berharap bisa menjadi lebih yakin untuk maju, dan wanita

149
Kiai Ismail.

76
tersebut juga memiliki rasa balik kepadanya. Tentunya sesuai dengan ketentuan

memohon ijazah, ia diharuskan memiliki niat yang baik untuknya.

Sedangkan mahabbah untuk kewibawaan, masyarakat lebih merujuk

kepada Kiai Nasihin. Mayoritas yang meminta ijazah kepada beliau, adalah orang-

orang yang memiliki pengaruh di wilayahnya. Semisal Kepala Desa, Ketua

RT/RW, Kiai kampung, atau mubaligh. Dan sebagai pengasuh pesantren, Kiai

Nasihin juga memberikan ijazah amalan tersebut kepada para pengurus pesantren.

Selain untuk memudahkan dalam amar makruf nahi munkar, Kiai Nasihin

menjelaskan bahwa wirid tersebut juga sebagai salah satu cara nirakati santri

atupun orang-orang yang berada dalam pengaruhnya. 150

Bagi masyarakat Desa Winong, seseorang yang menjadi tokoh

masyarakat hendaknya dapat memberikan contoh yang baik bagi warganya.

Dengan kebaikannya tersebut, ia kemudian akan menjadi lebih disegani dan

dipatuhi oleh masyarakat. Konsep yang diberikan oleh Kiai Nasihin adalah bahwa

amalan atau wirid bisa menjadi obat secara batiniyah bagi pengamalnya. Maka

dari itu, tidak ada niat dari pengamal untuk menjadikan semua orang patuh

padanya. Akan tetapi keistiqomahan pembacaan wirid tersebut yang akan

mengubah pengamal secara batiniyah. Sehingga implementasinya terhadap

perilaku mereka yang baik, dan akan disukai oleh masyarakat. Jika masyarakat

sudah menanamkan rasa suka padanya, maka mereka akan mudah menerima apa

yang dinasehatkan padanya.

Dari pembahasan di atas, penulis melihat bahwa praktik pengamalan ini

diterima baik oleh masyarakat Desa Winong. Hal ini mencerminkan adanya

150
Kiai Nasihin, Wawancara.

77
hubungan antara kondisi masyarakat yang mayoritas Nahdhiyyin dengan

pemikiran kejawen yang saling merangkul. Dalam kacamata NU tidak ada

pertentangan antara agama dan tradisi. Selagi tradisi tersebut tidak berpengaruh

terhadap aqidah.

Inti dari tradisi keilmuan NU adalah perpautan organis antara tauhid,

fiqh, dan tasawwuf secara tidak berkeputusan. Dalam jangka panjang perpautan

ini akan menumbuhkan pandangan terpautnya sendiri antara dimensi duniawi dan

ukhrawi dalam kehidupan.151 Konsep-konsep wirid, istighosah, wasilah, tergolong

dalam masalah tasawwuf. Konsep demikian sering disampaikan oleh para Kiai di

beberapa majlis pengajian warga, yang kemudian membentuk semangat

masyarakat untuk lebih banyak beribadah, baik dengan amalan-amalan sunnah

ataupun juga mengamalkan bacaan-bacaan wirid.

Kemudian, kondisi pendidikan warga Desa Winong yang tergolong

masih rendah, berakibat pada rendahnya tingkat ekonomi masyarakat. Penulis

melihat bahwa tingkat pendidikan yang rendah, menjadikan kurangnya inovasi

masyarakat untuk meningkatkan perekonomiannya. Dengan jalan kebatinan atau

wirid, cukup menjadi penenang untuk selalu bersikap menerima dan juga harapan

bagi masyarakat agar kondisi ekonominya mampu meningkat.

Dari yang penulis temukan, sebagian pengamal wirid mahabbah ataupun

pengguna rajah tersebut memiliki latar belakang keagamaan yang baik. Beberapa

memang dulunya dari kalangan santri yang sudah sangat akrab dengan riyadhah

ataupun tirakat. Sedang mereka yang tidak berlatar belakang santri, dengan

151
M. Jadul Maula, Islam Berkebudayaan (Yogyakarta: Pustaka Kaliopak, 2019). Hal.
322.

78
adanya praktik tersebut, mendorong mereka untuk menjadi lebih baik dalam

beragama.

Dalam praktik mahabbah ini, hendaknya untuk terlebih dahulu

bertawasul152 dengan mengirim fatihah kepada Nabi Muhammad SAW yang

paling utama, kemudian kepada orang orang saleh dan tidak lupa kepada shohibul

ijazah. Tawasul ini ditujukan untuk bertabarruk kepadanya. Tentang sistem

perantara tersebut, peneliti menemukan bahwa orang-orang saleh masih hidup

walapun sudah meninggal jasadnya dan masih bisa mendoakan orang yang masih

hidup di dunia. Sehingga banyak dari kalangan Nahdhiyyin yang masih percaya

akan pentingnya tawasul kepada orang-orang saleh. Contoh besarnya adalah

syafaat Nabi Muhammad SAW yang masih aktif dan berlaku sepanjang zaman ini

untuk umatnya.

Akhirnya penulis mengetahui bahwa dari praktik pengamalan mahabbah

yang masih eksis di tengah masyarakat Desa Winong ini, mununjukkkan adanya

kondisi sosial keagamaan yang masih terjalin dengan baik. Tidak terjadi

bentrokan antara pemikiran masyarakat yang masih kejawen dengan agama. Yang

diantara keduanya dapat saling berjalan beriringan. Tradisi-tradisi kejawen yang

kurang sesuai dengan syari‘at mampu diubah dengan hal-hal agamis yang tidak

menyimpang dengan tidak meninggalkan tradisi yang ada. Dan dari pengamalan

ini yang membutuhkan keistiqomahan membaca wirid, puasa dan sebagainya,

justru memberikan pengaruh yang baik bagi keagamaan pengamalnya.

152
Bertawasul, ialah tindakan berwasilah atau menjadikan perantara orang-orang saleh
dalam berdo‘a.

79
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Setelah melakukan kajian living Qur‘an di Desa Winong Kecamatan

Kemiri Kabupaten Purworejo mengenai penggunaan ayat-ayat al-Qur‘an untuk

mahabbah, penulis mendapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Mengenai macam-macam ayat al-Qur‘an yang digunakan sebagai

mahabbah oleh masyarakat Desa Winong beserta tata cara pengamalannya,

terdapat sepuluh ayat yang dikategorikan dalam tiga jenis penggunaan.

Pertama, sebagai wasilah penakluk hati yakni QS. Yūsuf: 4, diamalkan

dengan dibaca 41x selama tujuh hari disertai puasa atau dibaca 99x selama

sembilan hari tidak dengan puasa; QS. Thāhā: 39, dibaca 21x pada waktu

ba‘da maghrib dan ba‘da subuh; QS. Ar-Ra‘d: 31, diwiridkan 72x pada

nisfu lail; QS. Al-Nisā‘: 84, dibaca 41x ditiupkan pada makanan; QS. Al-

Qalam:1-2, cukup dibaca 7x dengan media rokok; dan QS. Yāsīn: 72,

dibaca 72x menggunakan media air. Kemudian yang kedua, sebagai

wasilah mendatangkan kewibawaan, yakni QS. Saba‘: 10, diwiridkan 7x

setiap ba‘da sholat fardhu; QS. Yūsuf: 31, dibaca setelah maghrib dan

subuh 11x; dan QS. As-Syurā: 19 dibaca 9x setelah maghrib dan subuh.

Dan yang ketiga, sebagai wasilah penglaris dagangan dengan ayat QS. Al-

Hajj: 27-28 yang ditulis menjadi sebuat rajah.

2. Makna berdasarkan pada teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim

meliputi tiga kategori makna yaitu, makna objektif, secara umum praktik

80
pengamalan tersebut merupakan pembacaan dan pengamalan ayat al-

Qur‘an yang diyakini dapat menghasilkan mahabbah dengan beberapa

ketentuan yakni niat yang baik, ada gurunya, ijazah, puasa, dan

keistiqomahan. Makna eksresif dari pengamalan ini, bahwa pengamalan

tersebut dimaknai sebagai wasilah seseorang dalam berdo‘a, baik untuk

memohon mahabbah atau lainnya, sebagai salah satu bentuk riyadhah, dan

juga sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan makna

dokumenter yang ditangkap oleh penulis bahwa dalam pengamalan ini di

Desa Winong ini diterima baik oleh masyarakat, dan pengamalan ini

digunakan sebagai bentuk bertabarruk kepada orang-orang saleh

terdahulu. Dan pengamalan ini merupakan suatu upaya membentuk

kesadaran kepada masyarakat bahwa al-Qur‘an tidak serta hanya sebuah

bacaan yang disakralkan, akan tetapi kemukjizatannya masih bisa

dirasakan dan berlaku hingga akhir zaman.

B. SARAN

1. Salah satu hasil utama dari penelitian ini adalah untuk menyakinkan

masyarakat bahwa mengamalkan ayat al-Qur‘an lebih baik j dibandingkan

mengamalkan melalui mantra atau dari ilmu jawa. Selain mendapat pahala

juga akan lebih bermanfaat bagi keadaan diri kita. Dengan demikian

penelitian ini juga merupakan sarana untuk menyakinkan masyarakat akan

kebenaran kitab Allah SWT dan bukti mukjizat al-Qur‘an dari sisi

kekuatan spiritual.

2. Semoga dalam penelitian ini bermanfaat bagi penulis dan segenap

pembaca, serta dapat memberi kontribusi dalam khazanah studi al-Qur‟an

81
dan kajian tafsir. Penelitian ini juga merupakan satu sumbangan sederhana

untuk pengembangan studi al-Qur‘an dan untuk kepentingan studi lanjutan

diharapkan berguna sebagai bahan acuan, referensi dan lainnya bagi para

penulis lain yang ingin memperdalam studi living Qur‘an.

82
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Amin. Agama, Kebenaran, dan Relativitas. Yogyakarta: Tiara Wacana,

1999.

Abdullah, Taufik, dan M. Rusli Karim. Metodologi Penelitian Agama. Yogyakarta:

Tiara Wacana, 2004.

Alfanzari, Ahmad Syauqi. ―Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an sebagai Obat (Studi

Living Qur‘an Di Ma‘had Tahfidzul Qur‘an Bahrusysyifa‘ Bagusari

Jogotrunan Lumajang Jawa Timur).‖ Tesis, UIN Sunan Ampel, 2018.

Anshori. ―Penggunaan Ayat-Ayat Al- Qur‘ān Sebagai Mahabbah.‖ Tesis, Pasca

Sarjana UIN Sunan Ampel, 2019.

Azra, Azyumardi. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara.

Bandung: Mizan, 1998.

Bog, Robet, dan Steven J Taylor. Pengantar Metodologi Kualitatif, terj. Arif

Furchan. Surabaya: Usaha Nasional, 1992.

Bu Az. Wawancara. Via Telepon, 25 Desember 2021. Desa Winong.

―Buku Induk Kependudukan Desa Winong,‖ 2021. Kantor Kelurahan Desa Winong.

Endraswara, Suwardi. Metodologi Penelitian Kebudayaan. Yogyakarta: Gadjah Mada

University Press, 2006.

Farhan, Ahmad. ―Studi Living Al-Qur‘an pada Praktek Qur‘anic Healing Kota

Bengkulu (Analisis Deskriptif Terhadap Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an).‖

Refleksi 16, no. N0. 1 (April 207M).

xxii
Fathurrasyid. ―Tipologi Ideologi Resepsi Al-Qur‘an di Kalangan Masyarakat

Sumenep Madura.‖ El Harakah 17, no. 2 (2015).

Gregory Baumm. Agama dan Bayang-Bayang Relativisme; Agama Kebenaran dan

Sosiologi Pengetahuan, Terj. Acma Murtajib dan Masyhuri Arow.

Yogyakarta: PT. Tiara Wacana, 1999.

Hakam, Nur Ali. wawancara, 28 September 2021.

Hamka. ―Sosiologi Pengetahuan: Telaah atas Pemikiran Karl Mannheim.‖ Scolae:

Journal of Pedagogy 3, no. 1 (2020).

Khadher, Ahmad, dan Mohd Farhan Md. ―Terapi Ruqyah Berasaskan Al-Qur‘an:

Analisis Signifikannya dalam Rawatan.‖ The 4th Annual International

Qur‟anic Conference 2014 (Muqoddas ) IV (April 2014).

Khadher, Ahmad, dan Farhan Mohd. ―Terapi Ruqyah Berasaskan Al-Qur‘an: Analisis

Signifikannya Dalam Rawatan,‖.‖ The 4th Annual International Qur‟anic

Conference 2014 (Muqoddas ) 4 (April 2014).

Kiai Irham. Wawancara, 20 November 2021. Desa Winong.

———. Wawancara, 1 Desember 2021. Desa Winong.

Kiai Ismail. Wawancara, 29 September 2021. Desa Winong.

———. Wawancara, 30 November 2021. Desa Winong.

Kiai Nasihin. Wawancara, 14 Oktober 2021. Desa Winong.

Kodrat, Denny. ―Urgensi Perubahan Pola Pikir dalam Membangun Pendidikan

Bermutu.‖ Jurnal Kajian Peradaban Islam 2, no. 1 (2019).

Latif, Abdul. ―Al- Qur‘an sebagai Sumber Hukum Utama.‖ Jurnal Hukum dan

Keadilan 4, no. 1 (Maret 2017).

xxiii
Mahmud, Akrom. Wawancara, 29 November 2021. Desa Winong.

Mansur, M. Living Qur‟an dalam Lintasan Sejarah Studi Al-Qur‟an. Metodologi

Penelitian Living Qur‘an dan Hadis. Yogyakarta: Teras, 2007.

Maryono. ―Kaligrafi Al-Qur‘an di Desa Borobudur: Kajian Living Qur‘an.‖ Wahana

Islamika: Jurnal Studi KeIslaman 3, no. 1 (April 2017).

Mas‘udi, Kholiq. Wawancara, 22 November 2021. Desa Winong.

Maula, M. Jadul. Islam Berkebudayaan. Yogyakarta: Pustaka Kaliopak, 2019.

Muhtador, Moh. ―Pemaknaan ayat al-Quran dalam mujahadah: Studi Living Qur‘an

di PP al-munawwir krapyak komplek al- kandiyas.‖ Jurnal Penelitian 8, no.

1 (Februari 2014).

Mujahidin, Anwar. ―Analisis Simbolik Penggunaaaan Ayat-Ayat Al-Qur`an Sebagai

Jimat Dalam Kehidupapan Masyarakat Ponorogo.‖ Kalam 10, no. No. 1

(2017): 43.

Mujib, Abdul. ―Pendekatan Fenomenologi dalam Studi Islam.‖ Al-Tadzkiyyah:

Jurnal Pendidikan Islam 6 (November 2015).

Mustaqim, Abdul. Metode Penelitian al-Qur‟ān dan Tafsir. Yoyakarta: Idea

Sejahtera, 2015.

———. Metode Penelitian Living Qur‟an Model Penelitian Kualitatif. Metodologi

Penelitian Living Qur‘an dan Hadis. Yogyakarta: Teras, 2007.

Pak AA. Wawancara. Via Telepon, 25 Desember 2021. Desa Winong.

Pak Hadi. Wawancara. Via Telepon, 13 Desember 2021. Desa Winong.

Pak Surur. Wawancara, 29 November 2021. Desa Winong.

xxiv
―Profil Desa dan Kelurahan bagi Desa dan Kelurahan se Kabupaten Purworejo Desa

Winong,‖ 2019. Kantor Kelurana Desa Winong.

Putra, Heddy Shri Ahimsa. ―The Living Qur‘an: Beberapa Perspektif Antropologi.‖

Walisongo 20, no. 1 (Mei 2012).

Rahman, Syahrul. ―Living Qur‘an: Studi Kasus Pembacaan al- Ma‘tsurat di Pesantren

Khalid bin Walid Pasir Pengaraian Kab. Rokan Hulu.‖ Jurnal Syahadah IV,

no. No. 2 (2016): 49–71.

Rahmat, M. Imadadun. Islam Pribumi, Mendialogkan Agama, Membaca Realitas.

Jakarta: Erlangga, 2003.

Ridlwan, Nurma Ali. ―Pendekatan Fenomenologi dalam Kajian Agama.‖ Komunika

7, no. 2 (Desember 2013).

Rohmah, Umi Nuriyatur. ―Penggunaan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Dalam Ritual Rebo

Wekasan Studi Living Qur‘an Di Desa Sukoreno Kec. Kalisat Kab. Jember.‖

Al-Bayan: Jurnal Ilmu Al-Qur‟an Dan Hadist 1, no. No. 1 (2018): 66–91.

Sarif, Dahrun. ―Pengaruh Al Qur‘an Terhadap Perkembangan Kaligrafi Arab.‖

Jurnal ETNOHISTORI 3, no. 2 (2016).

Sholeh, Farhanuddin. ―Penerapan Pendekatan Fenomenologi dalam Studi Agama

Islam (Kajian terhadap buku karya Annemarie Schimmel; Deciphering the

Signs of God: A Phenomenological Approach to Islam).‖ Jurnal Qolamuna

1, no. 2 (Februari 2016).

Sodik, Mohammad. Pendekatan Sosiologi. Yogyakarta: Lembaga Penelitan UIN

SUKA Yogyakarta, 2006.

xxv
Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan

R&D). Bandung: Alfabeta, 2015.

Suhaimi, Mohd, Khairul Hamimah, dan Mohamad Afifuddin. ―Sihir Tafriq dan

Cabaran Rawatannya di Darul Ruqyah.‖ Jurnal Khairul 8, no. No. 2 (t.t.).

Suryati. ―Ornamentasi Seni Baca Al-Qur‘an dalam Musabaqoh Tilawatil Qur‘an

sebagai Bentuk Ekspresi Estetis Seni Suara.‖ Resital 17, no. 2 (Agustus

2016).

Syaikhu Z, M. Assyafi‘. ―Pengamalan Ayat-Ayat Al-Qur‘an Dalam Praktek

Karomahan Di Padepokan Macan Putih Kecamatan Baron Kabupaten

Nganjuk.‖ Skripsi, IAIN, 2017.

Syamsuddin, Sahiran. Metodologi Penelitian Living Qur‟ān Dan Hadis. Yogyakarta:

TH Press, 2007.

Syamsudin, Sahiron. Metodologi Penelitian Living Qur‟an dan Hadis. Yogyakarta:

Teras, 2007.

Wahyudin, Ahmad. ―Kajian Epistimologi Terhadap Ilmu Hikmah dan Penyimpngan

Prakteknya dalam Masyarakat (Studi pada Wirid Hizib Asror di Pesantren

Nurul Hikmah Bojonegoro Serang Banten).‖ Tesis, Fakultas Ushuludin, UIN

Syarif Hidayatullah, 2020.

Yusuf, Muhammad. Pendekatan Sosiologi dalam Penelitian Living Qur‟an.

Metodologi Penelitian Living Qur‘an dan Hadis. Yogyakarta: Teras, 2007.

xxvi
LAMPIRAN-LAMPIRAN

1. TRANSKIP WAWANCARA

A. Gambaran Umum Desa Winong


1. Bagaimana kondisi sosial budaya Desa Winong?
2. Bagaimana kondisi keagamaan Desa Winong?
3. Bagaimana kondisi pendidikan masyarakat Desa Winong?

Informan: Pak Nur Ali Hakam sebagai perangkat desa (28 September
2021)

“Kalau kondisi budaya di Winong ini si masih baik menurut saya, rasa
solidaritasnya masih kuat. Ya memang sudah adabnya orang Jawa paling
ya. Contohnya kalau pas ada hajatan, ada tetangga yang kena musibah,
itu masyarakat tanpa diminta bantuan masih mau turut serta mbantu.
Semangat gotong royongnya juga masih bagus. Kalau kondisi keagamaan
juga di sini itungannya masih pada semangat, itu kalau malam Jum‟at
yasinan tahlilan, terus malem senin juga ada dalailan, ada selapanan
juga, banyak mbak, dan itu warga masih pada semangat, terutama
simbah-simbah, bapak-bapak, ibu-ibu, kalau anak muda beberapa tapi
ada. Kalau kondisi pendidikan di sini kebanyakan yang saya tau itu
banyak yang lulus SMP/SMA langsung bekerja, masih sedikit kalau yang
kuliah. Kalau yang mondok itu malah lumayan.”

B. Praktik Penggunaan dan Pemaknaan Ayat-Ayat Al-Qur’an untuk


Mahabbah

1. Apa saja ayat yang diyakini bisa mendatangkan mahabbah dan bagaimana
cara pengamalannya?

a. Informan 1: Kiai Ismail (29 September 2021)


“Sing paling sering diagem niku Surat Yusuf ayat 4, niku kathah kiai-kiai
sing ngamlake kangge mahabbah.”
ٌَِْ ‫ظ َٗا ْى َق ََ َش َساَ ٌْرُ ُٖ ٌْ ِى ًْ ع ِج ِذ‬ َ ‫د اِ ِّّ ًْ َساٌَْدُ اَ َح َذ َػ‬
َ َْ ‫ش َش م َْ٘ َمثًا ٗاىش‬ ُ ُ‫اِ ْر َقا َه ٌُ ْ٘ع‬
ِ َ‫ف ِ َِلت ِ ٍْ ِٔ ٌاَت‬
“Ayat niki emang kangge mahabbah khusus. Niki termasuk ayat sing
ampuh kangge mahabbah. Dan kathah kiai-kiai sing mendete saking ayat
niki. Saget diamalke kalih tiang kakung kagem sing dituju estri utawi
sebaliknya”

xxvii
“Maose, nek pun dugi lafadz ٌَِْ ‫ً ع ِج ِذ‬ ْ ‫ ِى‬, terus muni jabang bayine sopo
َ ‫اِّ ََا اَ ٍْ ُشٓ اِ َرا اَ َسا َد‬
welas asih marang ingsun, njuk dilanjut maos ٔ‫شٍْـا اَ ُْ ٌ ُق ْ٘ َه َى‬
ُُْ٘ ‫ م ُِْ َفٍَ ُن‬niku kata jabang bayi nggih saget diganti kalih nama siapa bin
atau binti siapa Dibaca 41 kali selama tujuh hari berturut-turut jika
dibarengi puasa tujuh hari juga, tapi jika tidak dengan puasa dibacanya
99 kali selama sembilan hari”

“Wonten malih kiai sing maose ٌَِْ ‫ً ع ِج ِذ‬ ْ ‫( ِى‬sopo) welas asih marang
ingsun. Malih onten ٌَِْ ‫ً ع ِج ِذ‬
ْ ‫( ِى‬sopo) sujud marang ingsun, terus onten
malih ًْ ‫( ِى‬kedue ingsun) ٌَِْ ‫( ع ِج ِذ‬sopo) sujud marang ingsun. Tapi
semuanya ditutup dengan ayat ُُُْ٘ ‫شٍْـا اَ ُْ ٌ ُق ْ٘ َه َىٔ م ُِْ َفٍَن‬
َ ‫”اِّ ََا اَ ٍْ ُشٓ اِ َرا اَ َسا َد‬

“Malih sing kagem mahabbah niku Surat Ar-Ra‟d. Niki kangge


memulihkan.”

َ ْ ِ ‫ع اَ ْٗ ُم ِّيٌَ ت ِ ِٔ ا ْى ََ ْ٘ذى تَ ْو ِّ ِّٰل‬


ࣖ ‫اِل ٍْ ُش َم َِ ٍْؼًا‬
.... َ ْ ِٔ ِ ‫َٗ َى ْ٘ اَُ ُق ْشا ًّا عٍُّ ِ َشخْ ت ِ ِٔ ا ْى ِجثَا ُه اَ ْٗ ُق ِّطؼَدْ ت‬
ُ ‫اِل ْس‬
“Niki kagem, wong sing waune mboten seneng ben seneng. Tapi niki
kagem sing sebelume hubungane pun sae, terus onten masalah. La niki
membantu mengembalikan malih. Misal kulo asline apik kalih njenengan,
terus onten masalah sing dadoske njenengan sengit kalih kulo. La kulo
maos niki kersane njenengan mboten sengit malih kalih kulo”

“Diwaos nk pun dugi ‫ َم َِ ٍْؼًا‬nyebut nama sing dimaksud, misal fulan bin
fulan. Dan niki nggih kedah disebut jelas. Diwaos teng nisfu lail ping 21,
diwaos pun cekap dugi ‫ َم َِ ٍْؼًا‬mawon, mboten seayat penuh”

ْ ُ‫َٗاَ ْى َقٍْدُ َػ َي ٍْلَ ٍَحَث ًح ِ ٍّ ِّْ ًْ ەۚ َٗ ِىر‬


“Wonten malih surat Thāhā ayat 39, ..... ‫ظ َْ َغ ػَيى‬
ًٍِْْ ‫ َػ‬ba‟da ‫ ػَيى‬niku nyebut sopo bin sopo. Niki kedah disebut jelas,
mboten mung dikrentek teng ati mawon, niku nggih kagem mahabbah
atau meluluhkan hati, diwaos ping 21 setiap ba‟da subuh kalih maghrib,
nek niki kangge sekedar ngraketke, dados hubungan sing pun onten
kersane tambah raket”

“Terus malih ten Surat Al-Nisa‟ ayat pinten niko sing ngeten ayate. ‫غى‬ َ ‫َػ‬
ً‫ش بذ ذَ ْْ ِنٍْا‬ َ
َ ‫ع ا ٗا‬ ْ
ً ‫ش بذ تَس‬ َ
َ ‫ّللا ُ ا‬ َ َ َِ
ٰ َٗ ‫ط اى ِز ٌْ مر ُش ْٗا‬ ْ
َ ‫ّللا ُ اُ ٌنُف تَس‬ ْ َ ٰ Niki nggih kangge
mahabbah, nggih saget diamalke kakung utawi putri. Nek niki lewate
makanan, makanan nopo mawon. Misal onten sing mriki tak paringi
amalan niki bingung ajeng ngangge makanan nopo, nggih gampil nagge
uyah nggih saget, lak mangke dimasak, nggih bakale dimaem, Niki
kantun diwaos ping 41, lajeng disebulke ten makanan nopo mawon, njuk
mriko ken maem ngoten mawon”.
“Niki nggih onten sing dilewatke rokok, utawi air.” Sing ngangge rokok
niku: ُ ٍُ ْ٘ ُْ ‫غ ُط ُش َُْٗ ٔ ٍَا اَ ّْدَ تِِْ ْؼ ََ ِح َستِّلَ ت ِ ََ ْج‬
ْ ٌَ ‫ َٗا ْى َق َي ٌِ َٗ ٍَا‬diwaos cekap ping 7.

xxviii
Nek sing ngangge air niku: ‫ َو َذ َّل ْل َنا َها َل ُه ْم فِيهَا َركُوبُ ُه ْم َو ِم ْنهَا يَ ْأ ُك ُلون‬ayate niku
diwaos ping 72, terus ditiup ten air”
“Nek niki kangge pimpinan, Surat Saba: َٔ‫ً ٍَؼ‬ ْ ‫َٗ َى َق ْذ اذَ ٍْ َْا دَاٗ َد ٍِْا َف‬
ْ ِ ‫ض ًا ٌ ِجثَا ُه اَ ّ ِٗت‬
ْ َ َ
ٔٓ ‫“ َٗاىط ٍْ َش ۚ َٗاَىْا ى ُٔ اى َح ِذ ٌْ َذ‬Niki diamalke istilahe kangge wong nek diomongi
ben manut, kagem pimpinan maksude, kersane saget disegani lah istilahe,
nggih nek niki diwiridke istiqomah, diwaos ping 7 mawon, setiap ba‟da
sholat fardu”.

“Nek kangge dagangan niku nganggene rajah niku ayate : ‫اط‬ ِ ْ‫َٗاَ ّر ُِْ فِى اى‬
ٌُٖ ‫ش َٖذ ُْٗا ٍَ َْافِ َغ َى‬ْ ٍَ‫ٕ ِّى‬٢ ٍ‫تِا ْى َح ّج ِ ٌَ ْسذ ُْ٘كَ ِسم ًَاِل ٗػَيى ُم ِّو ضَا ٍِ ٍش ٌسذِ ٍَِْ ٍِ ِْ ُم ِّو َف ّج ٍ َػ َِ ٍْق‬niku
ْ
sing ditulis ayat niki, lajeng ngandape diparing tambahan, ٌٍ‫سحَِ سح‬
‫سصاق سؤف ستّل‬ ّ “

“Niki biasane kulo tambahi rajah tolak maling, niku ‫ مٍٖؼض حٌ ػغق‬niku
ٍ ّ ‫عيٌٌ َق ْ٘ ًِل ِ ٍّ ِْ س‬
dipisah nulise, ngandape diparingi tambahan ayat ٌٍْ‫ب س ِح‬ َ tapi
bagian atase onten kados niki”

b. Informan 2: Kiai Nasihin (14 Oktober 2021)

“Ada yang khusus buat mahabbah, niku di Surat Yusuf:

ٖٔ ٌٌٌْ ‫ش ًشا ا ُِْ ٕ َزا اِِل ٍَ َيلٌ م َِش‬ َ ‫َف َيَا َساَ ٌْ َْٔ اَ ْمثَ ْش َّٔ َٗ َقط ْؼَِ اَ ٌْ ِذٌَ ُِٖ َٗ ُق ْيَِ ح‬
َ َ‫َاػ ِ ِّٰل ِ ٍَا ٕ َزا ت‬

“Itu salah satu ayat yang langsung fokus pada mahabbah, dari artinya
saja kita lihat, ketika wanita-wanita itu melihat Yusuf melintas, saking
terkagumnya sampai mereka memotong tangannya sendiri ora kroso,dan
akhirnya berkata, “Mahasempurna Allah. Wah, ini bukan manusia. Ini
benar-benar malaikat yang mulia. Baru melihat saja sudah terkagum-
kagum. Ya itu mahabbah secara umum. Jare iku diwoco tiap sore ping 7,
mengko akeh cewek-cewek sing kepincut”.

“Ini juga bisa membantu untuk memudahkan dakwah kita. Niat kita amar
makruf nahi munkar. Jadi dalam kita berdakwah biar mudah omongan
kita didengar, perlu adanya mahabbah, wong nek wes seneng mesti gelem
nyedak gelem ngrungokke, durung mulai ngomong, biso wae wes
ditunggu, iki aku meh diomongi opo, kan [Link] niki juga harus
dibarengi haibah, haibah itu kewibawaan. Istilahe ben diwedeni. Jadi
dalam kita mencegah kemungkaran itu, ucapan kita bisa sampai. Dua-
duanya harus seimbang, nek mahabbah tok yo kurang ono wibawane, nek
haibah tok malah medeni tok tapi ora pati disenengi.”

Ngertos dereng sholawat haibah?, waosane ngeten:

ٌِ‫اىيٌٖ طيً ػيى عٍّذّا دمحم طاج ذيقً تٖا اىشػة ٗاىٍٖثح فً قي٘ب اىنافش‬
ٌ‫ٗاىَششمٍِ ٗاىظاىٍَِ ٗاىَْافقٍِ ٗاىَرغذٌِ ٗػيً اىٔ ٗطحثٔ ٗعي‬

xxix
Terus bare niku ditambahi:
ّ ‫ٗعخش ىً قي٘ب ٍِ سأًّٗ مَا‬
‫عخشخ فشػُ٘ اىى ٍ٘عى‬ ّ ً
ّ ‫ٌا ىطٍف اىطف تً تيطرل اىخر‬
ٍَِ‫تشحَرل ٌا أسحٌ اىشاح‬
“Itu dibaca setiap ba‟da maghrib dan subuh 11 kali.”

c. Informan 3: Kiai Irham (20 November 2021)

“Ayat ٔ٣ ‫ي ا ْىؼَ ِضٌ ُْض‬


‫ْف ت ِ ِؼثَادِٓ ٌَ ْش ُص ُق ٍَ ِْ ٌشَا ُء ۚ َٕٗ َُ٘ ا ْى َق ِ٘ ب‬
ٌ ٍ‫ّللا ُ َى ِط‬
ٰ َ Nek ayat kanggo
mahabbah sing tak woco iku, iku diwoco tiap ba‟da maghrib ping 9,
terus ditambah ‫ٌا ىطٍف‬ping 129. Bar iku ndungo nyuwun, Ya Allah,
kanthi haq amalan meniko, kaulo nyuwun.....(disebut hajate),iku
kanggo ndungo selain mahabbah yo keno”

d. Informan 4: Pak Surur (29 November 2021)


“Sing aku ngerti ayat mahabbah iku sing surat yusuf:

ٖٔ ٌٌٌْ ‫ش ًشا ا ُِْ ٕ َزا اِِل ٍَ َيلٌ م َِش‬ َ ‫َف َيَا َساَ ٌْ َْٔ اَ ْمثَ ْش َّٔ َٗ َقط ْؼَِ اَ ٌْ ِذٌَ ُِٖ َٗ ُق ْيَِ ح‬
َ َ‫َاػ ِ ِّٰل ِ ٍَا ٕ َزا ت‬

Iku diwoco ping 7 mben sore, ben akeh sing nyenengi, hehe.”

e. Informan 4: Akrom Mahmud (29 November 2021)


“Pernah ngamalken iku ayat sing niki:
ْ ‫ظ َٗا ْى َق ََ َش َساَ ٌْرُ ُٖ ٌْ ِى‬
“ ٌَِْ ‫ً ع ِج ِذ‬ َ ‫د اِ ِّّ ًْ َساٌَْدُ اَ َح َذ َػ‬
َ َْ ‫ش َش م َْ٘ َمثًا ٗاىش‬ ُ ُ‫اِ ْر َقا َه ٌُ ْ٘ع‬
ِ َ‫ف ِ َِلت ِ ٍْ ِٔ ٌاَت‬
“nek seniki maos nggih Cuma kangge wirid ”

f. Informan 5: Kholiq Mas‘udi (22 November 2021)


―Kulo dugi sakniki tasih ngamal sing diparingi pak nas, sing kangge
mahabbah kalih haibah.

ٖٔ ٌٌٌْ ‫ش ًشا ا ُِْ ٕ َزا اِِل ٍَ َيلٌ م َِش‬ َ ‫َف َيَا َساَ ٌْ َْٔ اَ ْمثَ ْش َّٔ َٗ َقط ْؼَِ اَ ٌْ ِذٌَ ُِٖ َٗ ُق ْيَِ ح‬
َ َ‫َاػ ِ ِّٰل ِ ٍَا ٕ َزا ت‬

ٌِ‫اىيٌٖ طيً ػيى عٍّذّا دمحم طاج ذيقً تٖا اىشػة ٗاىٍٖثح فً قي٘ب اىنافش‬
ٌ‫ٗاىَششمٍِ ٗاىظاىٍَِ ٗاىَْافقٍِ ٗاىَرغذٌِ ٗػيً اىٔ ٗطحثٔ ٗعي‬
ّ ‫ٗعخش ىً قي٘ب ٍِ سأًّٗ مَا‬
‫عخشخ فشػُ٘ اىى ٍ٘عى‬ ّ ً
ّ ‫ٌا ىطٍف اىطف تً تيطرل اىخر‬
ٍَِ‫تشحَرل ٌا أسحٌ اىشاح‬
Tak waos tiap ba‟da maghrib kalih subuh 11 kali”

2. Ijazah dari siapakah amalan tersebut Anda dapatkan?

Informan 1: Kiai Ismail (29 September 2021)

xxx
Nek ِٔ ٍْ ِ ‫ف ِ َِلت‬ ُ ُ‫اِ ْر َقا َه ٌُ ْ٘ع‬niku saking Kiai Patoni Butuh mriko, benten nek sing
‫ َٗ َى ْ٘ اَُ ُق ْشا ًّا‬kalih ayat ُ ‫ّللا‬ ٰ ‫غى‬َ ‫ َػ‬niki saking Kiai Sunhaji Tamansari, lintune
niku sedoyo saking pak kaji matori mriki, kulo sedoyo saking kiai mbak,
mboten dukun.”

Informan 2: Kiai Nasihin (14 Oktober 2021)


“Niku ijazah saking mbah muh nggarjo, simbah Ahmah Muhammad”

Informan 3: Kiai Irham


“Ijazahe iku seko mbah mun sarang, biyen pas kulo jik nom”

Informan 4: Pak Surur (29 November 2021)


“Iki seko mbah muh nggarjo”

Informan 5: Akrom Mahmud (29 November 2021)


“Aku ngamalke seko pak mail.”

Informan 5: Kholiq Mas‘udi (22 November 2021)


“Kulo niki ijazah saking pak nas”

3. Bagaimana yang Anda memaknai penggunaan ayat-ayat tersebut untuk


mahabbah?

Informan 1: Kiai Ismail (30 November 2021)


“Nggeh niki ngamalke kados ngeten kan kita berdoa. Nyuwun kalih Allah
tapi lantaran ayat niki. Kados nek pengen wareg nggih lantarane maem
to?, keampuhan ngeten niki kan pun diagem kalih walisongo riyen. Dados
niki mung istilahe kangge wasilah mawon. Nyuwune tetep teng Gusti
Allah”

Informan 2: Kiai Nasihin (01 Desember 2021)


“Kita kan niate amar makruf nahi munkar nggih?, la niku butuh kita
ngangge mahabbah ben wong-wong seneng sik kalih kita. Nek pun seneng
mesti gelem ngrungokke opo sing kita sampaikan. Tapi juga dibarengi
haibah atau wibawa. La setiap amalan itu seperti obat mbak. Obat nek
dimimik kan bakal ngaruh ten awake sing mimik. Koyo amalan yo ngoten,
bisa mengobati diri pengamalnya, khususnya dalam hal jiwa atau
ruhaninya lah. Dados ngamal ngeten ogak kok niat ben ngene utowo piye,
tapi dengan sendirinya jiwa kita, ruhani kita akan muncul perubahan sing

xxxi
mungkin ga begitu dirasakan. Misal orang njuk bisa hormat itu ya karena
memang ada wibawa tersendiri dari dalam diri.”

Informan 3:
“Ngene iki kanggo wiridan wae mbak, yo iso kanggo wasilah nyuwun opo
hajate ning Allah, kan bar moco iku kabeh njuk dungo ya Allah, kanti haq
amalan meniko kaulo nyuwun......, opo disebutke” (01 Desember 2021)

Informan 4: Pak Surur


“Kanggone wong awam ki, pokoke dawuhe yai yo diamalke, Insyaallah
apik, walaupun wiridan gak ngerti artine opo sing diwoco, yo sing penting
nderek. Ngalap berkah wae.” (29 November 2021)

Informan 5: Akrom Mahmud


“Nek ngomongke ngene kan sambungane karo ikhlas ya. Ikhlas kan ada
yang tingkatan rendah, sedeng, tinggi. Nek rendah berarti nagrepke hal-
hal dunia misal iki ben disenengi wong. Rodo duwur maneh mengharap
pahala,dll. Nek sing tinggi yo gak ngarep opo-opo dalam mengamalkan
hal apapun. Nek kulo pas ngamal kae yo emang ono tujuan ben seseorang
iso seneng ning aku, tapi nek siki wes ora.” (29 November 2021)

Informan 6: Kholiq Mas‘udi


“Kulo ngoten mung damel wiridan mbak, nek niat kangge nopo ndak
malah khawatir nek salah i‟tiqod. Asline tetep ada efek setelahnya, koyo
anak-anak kayane lebih manut nek dikandani, tapi bukan tujuan itu si kulo
ngamal.” (22 November 2021)

xxxii
2. DOKUMENTASI WAWANCARA

Bersama Kiai Nasihin


Bersama Kiai Ismail

Bersama Kiai Irham Bersama Pak Nur Ali (perangkat desa)

Bersama Pak Surur Bersama Mas Akrom Mahmud

Bersama Kang Kholiq Mas‘udi Balai Desa Winong

xxxiii
34

Anda mungkin juga menyukai