PANDANGAN AL-QUR’AN TERHADAP ILMU PENGETAHUAN DAN
IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN SAINS
Pendidikan merupakan kebutuhan bagi setiap manusia. Pendidikan dapat dikatakan
sebagai suatu media bagi seseorang untuk dapat memperoleh serta mengembangkan
pengetahuannya, yang menyebabkan seseorang menjadi tahu apa yang sebelumnya
tidak diketahui, menjadi mengerti apa yang sebelumnya tidak dimengerti dan menjadi
memahami apa yang sebelumnya tidak dipahami. Pendidikan juga dapat dijadikan sebagai
tolok ukur majunya suatu bangsa, yaitu dilihat dari mutu pendidikannya. Bangsa yang maju
adalah bangsa yang memiliki mutu pendidikan yang tinggi, dimana bangsa tersebut dapat
menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan kualitas pendidikan
penting untuk dilakukan, karena pendidikan dianggap sebagai investasi yang paling berharga
dalam bentuk peningkatan kualitas sumber daya insani untuk pembangunan suatu bangsa
(Nur Raina, 2011).
Islam adalah agama yang mengajarkan umatnya untuk selalu belajar. Islam
mengajarkan umatnya untuk selalu menggunakan akal pikiran yang sudah dikaruniakan Allah
kepada manusia. Allah menciptakan manusia dari tidak tahu apa-apa (QS : An Nahl :
78Dalam QS. al-Baqarah ayat 30-33 menunjukkan betapa pentingnya ilmu untuk manusia,
bahkan manusia pertama yang Allah ciptakan, langsung mendapatkan pelajaran tentang apa-
apa yang ada di surga oleh Allah. Ayat tersebut juga menjelaskan kepada kita, bahwa Islam
adalah agama ilmu pengetahuan, di mana kita semua mempunyai potensi untuk
mengembangkan apa yang sudah kita miliki bersama, yaitu akal pikiran kita yang merupakan
anugerah Allah yang luar biasa. Ilmu yang ada membuat manusia lebih baik.
Kata ilmu secara etimologi berarti tahu atau pengetahuan. Kata ilmu berasal dari
bahasa Arab “Alima-ya’lamu, dan science dari bahasa Latin Scio, scrie artinya to
knowSedangkan secara terminologi ilmu atau science adalah semacam pengetahuan yang
mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat-syarat tertentu. Sedangkan istilah Sains berasal
dari bahasa latin yaitu “Scientia”, yang artinya pengetahuan. Pengetahuan tersebut dapat
diperoleh dengan metode saintifik yaitu (1) mengidentifikasi masalah; (2) mengolah data; (3)
membuat hipotesis; (4) melakukan percobaan; dan (5) membuat kesimpulan (Martin, Ralph
[Link], 2005). Intinya sains diciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Dari perspektif
sains Islam, menurut Ghulsyani, sains islam dijadikan sebagai alat untuk mendapatkan
pengetahuan tentang Allah, keridaan dan kedekatan dengan Allah. Ilmu harus dapat
mengarahkan seorang Muslim dengan berbagai cara dan upaya untuk dapat dekat kepada
Allah SWT.
Pentingnya menanamkan nilai spiritual agama dalam pembelajaran sains agar dapat
meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Tuhan yang Maha Esa dalam mengamati
penciptaan alam semesta. Sebagaimana (Darmana, 2016) menegaskan bahwa sains sebagai
sarana untuk mengembangkan potensi kognitif, sains pun dapat menumbuhkan potensi nurani
(afektif). (Arsyad, 2016) menjelaskan bahwa dengan meyakini alam semesta yang diciptakan
Allah tidaklah sia-sia, dan merupakan jalan untuk mensyukuri atas nikmat yang telah
diberikan-Nya. Oleh sebab itu pentingnya esai ini dikaji agar dapat mendeksripsikan berbagai
pandangan AlQur’an terhadap ilmu pengetahuan ilmiah dalam aspek pembelajaran sains
Adapun kajian ini dilakukan dengan mengkaji literatur-literur terkait dengan kajian agama
Islam dalam tinjauan Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan dalam pembelajaran sains.
A. Pandangan Al- Qur’an Terhadap Ilmu Pengetahuan
Dalam al-Qur`an, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia dipandang lebih
unggul ketimbang makhluk lain guna menjalankan fungsi kekhalifahannya. Ini tercermin dari
kisah kejadian manusia pertama yang dijelaskan alQur`an pada Surat Al-Baqarah, 31-32:
“Dia mengajarkan kepada Adam namanama seluruhnya, kemudian mengemukakannya
kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika
kamu mamang benar orang-orang yang benar!”. Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau,
tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada Kami;
Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.”
Allah menampakkan tanda-tanda kebesarannya dalam pengalaman lahir batin. Hal
tersebut merupakan pengembaraan manusia dalam upaya memunculkan dan mengembangkan
potensi jiwa intelektual mereka yang bernuansa islami. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang
menunjukkan kebesarannya melalui kejadian-kejadian alam maupun keberagaman yang ada
sehingga menggerakkan manusia untuk mencari tahu melalui pengembangan intelektual
mereka. Manusia diciptakan Allah dengan potensi mencari tahu rahasia alam raya. Selain itu,
Allah menciptakan alam sehingga mengantarkan manusia untuk memanfaatkan alam yang
telah ditundukan Tuhan. Usaha untuk memanfaatkan alam tersebut kini kita kenal dengan
teknologi. Dalam bahasa Arab, alam berasal satu akar kata dengan ilmu dan alamah (alamat,
pertanda). Sehingga jagat raya dapat diartikan sebagai pertanda adanya Allah SWT Yang
Maha Pencipta (Ardi Kumara, 2020).
Dalam sudut pandang ilmu pengetahuan, Al-Quran merupakan sumber ilmu yang luar
biasa. Ketika Al Quran pertama kali diturunkan, telah menegur kekeliruan yang dilakukan
manusia. Pada era Jahiliyah, berhala-berhala banyak diciptakan dan disembah sebagai tuhan.
Ketika informasi yang bertentangan dengan keyakinan mereka muncul, masyarakat terkejut.
Informasi tersebut mengatakan manusia diciptakan secara berproses dari segumpal darah
kemudian diciptakan menjadi manusia yang kemudian lahir ke dunia. Agar manusia belajar
mencari dan mengembangkan ilmu dengan cara membaca, mencoba, memperhatikan,
menyelidiki dan merumuskan suatu teori, semuanya haruslah dilakukan denganberdasa pada
keimanan. Oleh karena itu erat kaitannya antara Islam dengan Ilmu Pengetahuan.
Sebagaimana Islam hadir yang mendeklarasikan sebagai agama yang sempurna maka Islam
juga memiliki sudut pandang tersendiri dalam memaknai ilmu pengetahuan. Hal ini dapat
mematahkan para kaum sekularis yang menganggap ilmu pengetahuan dan agama dalam hal
ini Islam tidak dapat berjalan beriringan.
B. Ayat-ayat Al Qur’an yang Terkait Ilmu Pengetahuan
1. Penciptaan Alam Semesta
Al-Quran menunjukkan mengenai proses yang mendasari formasi alam semesta yang
menghasilkan komposisi planet yang terhampar di jagat raya ini dalam firman berikut:
“kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata
kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka
hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati.” Maka Dia
menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit
urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan
Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Mahaperkasa lagi
Maha Mengetahui.” (QS Fushshilat [41]: 11-12).
Selain itu, ada lagi petunjuk tentang proses penciptaan alam semesta dalam firman
berikut:
“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu
keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan
dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga
beriman?” (QS Al-Anbiya [21]: 30) (Afzalur, 2007).
2. Lapisan Bumi
“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah
berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,
dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (AtThalaq: 12).
Dari ayat ini kita bisa menyimpulkan bahwa maksud dari tujuh bumi adalah tujuh
lapisan pembentuk bumi. Pada zaman modern, terungkap fakta ilmiah bahwa bumi
mempunyai tujuh lapisan.
1) Atmosfer, yaitu udara yang menyelimuti planet bumi.
2) Hidrosfer, yaitu lapisan air yang berada di permukaan bumi dam meliputi perairan
tawar dan asin.
3) Lapisan Sial. Lapisan ini tersusun dari silisium dan alumunium. Disebut juga kerak
bumi yang bersifat bebatuan.
4) Lapisan Sima. Lapisan ini tersusun dari silisium dan magnesium.
5) Lapisan Sima berfasa besi.
6) Inti cair bumi.
7) Inti padat bumi (Nadiyah, 2013).
3. Proses Terjadinya Hujan
Dalam Surat An-Nur ayat 43, Allah SWT. Berfirman :
“Tidakkah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara
(bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu
hujan keluar dari celahcelahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit,
(yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gununggunung, maka ditimpakan-Nya
(butiranbutiran) es itu kepada kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari
siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan
penglihatan” (An-Nuur : 43).
Para peneliti bidang meteorologi menyebutkan bahwa fenomena awan tebal bermula ketika
angin menggiring atau mengarak kawanan awan kecil ke convergence zone (tempat
berkumpul) dari awan-awan tersebut. Pengarakkan bagian-bagian ini menyebabkan
bertambahnya kualitas jumlah uap air dalam perjalanannya, terutama di sekitar convergence
zone. Ketika uap air sudah terlalu banyak, maka jatuhlah uap air tersebut ke permukaan bumi
yang disebut hujan (Siti Lailiyah, 2018).
C. Implikasi Al-Qur’an Terhadap Pembelajaran Sains
Alquran dan sains adalah dua kata yang mempunyai makna universal. Alquran ialah
sebuah kitab yang menuntun kehidupan manusia. Alquran membentuk suatu aturan dan
undang-undang yang berasal dari Allah SWT, Sedangkan sains adalah studi terhadap alam
nyata yang tunduk kepada experimenexperimen dan persepsi persepsi manusia (Khan, 1971).
Ada beberapa langkah yang dapat dijadikan acuan ke arah pengembangan model integrasi
Alquran dan sains dalam pendidikan: (Ahmad, 2011)
Pertama, memetakan konsep keIlmuwan dan ke-Islaman. ilmuwan perlu diajak
bertamasya bersama Alquran ke alam ilmu pengetahuan, dengan cara mengklasifikasikan
sains secara sistematis ke dalam berbagai disiplin ilmu atau tema-tema yang dikehendaki.
Dengan kata lain, ilmuan disarankan terlebih dahulu menjelajahi tematema sains yang ada di
dalam Alquran.
Kedua, memadukan konsep keilmuan dan keislaman. Kerja ini, mengintegrasikan
konsep, bukan rumus-rumus. Yaitu mencari titik kesamaan antara Alquran dan sains.
Tegasnya, antara Alquran dan sains diintegrasikan sehingga satu sama lain saling
memperkokoh dalam membuka tabir kegaiban akan realitas konkrit yang firmankan Allah
SWT dalam ayat-ayat-Nya, baik yang qauliyah maupun kauniyah.
Ketiga, menjadikan Alquran sebagai pengawal dari setiap kerja sains. Alquran bukan
sekedar menjadi pelengkap, tetapi sumber rujukan utama agar supaya menjadi lebih terarah
dan mempunyai tujuan yang mengandungi banyak manfaat.
Implementasi dalam pembelajaran sains, hendaknya menginternalisasikan nilai tauhid
pada materi sains. (Fakhri, 2010) menjelaskan bahwa konsep ilmu pengetahuan dan teknologi
dalam Al-Qur'an juga berlaku dan relevan untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di
lembaga pendidikan Islam yaitu dengan proyek integrasi dalam pendidikan. Hal tersebut
dapat dijabarkan dalam tiga hal: 1) integrasi kurikulum, 2) integrasi pembelajaran, dan 3)
integrasi sains (islamisasi sains) (Fakhri, 2010).
Ilmu pengetahuan adalah keseluruhan sistem pengetahuan manusia yang telah
dibakukan secara sistematis, didalam agama islam sendiri ilmu pengetahuan dikembangkan
berdasarkan pada 3 pilar yaitu pilar Ontologis (yang menjadi subjek ilmu), Pilar Aksiologis
(tujuan ilmu pengetahuan) dan Pilar Epistemologis (cara untuk mencapai ilmu pengetahuan
tersebut). Dengan menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai paradigma atau konsep dasar
dalam keilmuan, namun tak sedikit pula manusia yang beranggapan bahwa agama dan ilmu
pengetahuan adalah dua sisi yang berbeda dan tidak bisa disatukan, Hal ini tentu membuat
dinding penghalang bagi keilmuan islam yang memiliki konsep dan paradigma yang
mengarah kepada kitab AlQur’an sehingga keilmuan islam memiliki tantangan yaitu mampu
menyelaraskan AlQur’an untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan ilmu
pengetahuan dan juga menghadapi tantangan yang dihadirkannya.
Konsep Ilmu pengetahuan dan sains adalah sekumpulan pengetahuan yang diorganisir
secara sistematis berdasarkan pengalaman dan pengamatan yang kemudian dihubungkan
berdasarkan pemikiran yang cermat, teliti dan bisa dipertanggungjawabkan dengan
berlandaskan teori dan metode yang bisa dibuktikan kebenarannya. Implementasi
pembelajaran sains dapat dilaksanakan dengan internalisasi nilai-nilai tauhid melalui
kajiankajian Al-Qur’an terkait dengan ilmu pengetahuan. Internalisasi nilai-nilai ketauhidan
atau keyakinan terhadap agama dalam pembelajaran dapat dilaksanakan dengan 1) integrasi
kurikulum, 2) integrasi pembelajaran, dan 3) integrasi sains (islamisasi sains). selain itu dapat
juga diaplikasikan dengan keteladanan, masalah aktual di masyarakat, penanaman nilai-nilai
edukatif secara kontekstual, dan penguatan nilai moral (Tursinawati 2020).
Daftar Pustaka
Abuddin Nata et. al., Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum (Jakarta: Raja Grafindo, 2005),
h. 52.
Afzalur Rahman, Ensiklopedia Ilmu dalam AlQur’an: RujukanTerlengkap Isyarat-Isyarat
Ilmiah dalam AL-Qur’an. (Bandung: Mizan, 2007), h. 67-68.
Darmana, A. (2016). Internalisasi Nilai Tauhid Dalam Pembelajaran Sains. Jurnal
Pendidikan Islam, 27(1), 66.
Ghulsyani, Mahdi, Filsafat Sains Menurut Alquran. Bandung: Mizan, 1991.
Hidayatulloh, “Relasi Ilmu Pengetahuan dan Agama”, Proceeding of ICECRS 1 (2016):
h. 906.
M. Amin Abdullah et al, Integrasi sains-islam (Yogyakarta: Pilar Religia, 2004), h. 18.
Nadiyah Thayyarah, Buku Pintar Sains dalam AlQur’an, (Jakarta: Zaman, 2013), h.468-469.
S. Jujun Suriasumntri, Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan,
1982.
Tursinawati. 2020. Ilmu Pengetahuan dalam Pandangan Al-Qur’an dan Implikasinya dalam
Pembelajaran Sains. Jurnal Pesona Dasar. PGSD Universitas Syiah Kuala, Vol.8
No.2. h. 52.
Waheedudddin khan, Agama versus Sains Modern, terj. Ahmadie Thaha (Surabaya:
Al-Ikhlas,1971), h. 69.