0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan33 halaman

HIV pada Anak: Penularan dan Penanganan

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan33 halaman

HIV pada Anak: Penularan dan Penanganan

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

HIV PADA ANAK

D
I
S
U
S
U
N
OLEH KELOMPOK 10 :
1. Della Puspita Siahaan (210204016)
2. Dernita Wilfrida Sihombing (210204017)
3. Lido Putra Hulu (210204031)
4. Rica anggriani (210204041)

DOSEN PENGAJAR :

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
TAHUN 2023/2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada kehadirat Tuhan Yang Maha kuasa karena telah memberikan kesempatan
pada kami untuk menyelesaikan makalah ini. Atas rahmat dan hidayah-Nya lah kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul “HIV PADA ANAK” dengan tepat waktu.
Makalah HIV PADA ANAK ini disusun guna memenuhi tugas pada mata kuliah
Keperawatan Anak Sakit Kronis Dan Terminal di Universitas Sari Mutiara Indonesia
Selain itu, penulis juga berharap agar makalah ini dapat menambah wawasan bagi pembaca
Kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu selaku dosen mata kuliah.
Tugas yang telah diberikan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan terkait bidang
yang ditekuni oleh kami. kami juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah
membantu proses penyusunan makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan
saran yang membangun akan kami terima demi kesempurnaan makalah ini.

Medan, Maret 2024

Kelompok 10
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………...
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………….
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………………………
1.3 Tujuan …………………………………………………………………………………..
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Definisi…………………………………………………………………………………
2.2.
Etiologi…………………………………………………………………………………
2.3. Cara
Penularan…………………………………………………………………………
2.4.
Patofisiologi……………………………………………………………………………
2.5. Menifestasi
Klinis……………………………………………………………………...
2.6.
Komplikasi……………………………………………………………………………..
2.7. Pemeriksaan
Penunjang………………………………………………………………..
2.8.
Penatalaksanaan………………………………………………………………………..
BAB III LAPORAN KASUS
3.1.
Pengkajian……………………………………………………………………………..
3.2. Diagnosis
Keperawatan………………………………………………………………..
3.3. Asuhan
Keperawatan…………………………………………………………………...
3.4. Catatan
Perkembangan………………………………………………………………....
BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Tahapan
Pengkajian…………………………………………………………………….
4.2. Tahapan Diagnosis
Keperawatan………………………………………………………
4.3. Tahapan
Perencanaan…………………………………………………………………..
4.4. Tahapan
Implementasi………………………………………………………………….
4.5. Tahapan
Evaluasi……………………………………………………………………….
BAB V PENUTUP
5.1.
Kesimpulan……………………………………………………………………………..
5.2. Saran……………………………………………………………………………
……….
DAFTAR ISI
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan suatu.
syndrome/kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Retrovirus yang menyerang
sistem kekebalan atau pertahanan tubuh. Dengan rusaknya sistem kekebalan tubuh, maka
orang yang terinfeksi mudah diserang penyakit- penyakit lain yang berakibat fatal, yang
dikenal dengan infeksi oportunistik. Diperkirakan bahwa, untuk waktu mendatang yang
dapat diduga, sedikitnya 500.000 bayi akan terlahir terinfeksi HIV setiap tahun,
kebanyakan dalam negara penghasilan rendah dengan epidemi generalized. Penularan
HIV dari ibu-ke-bayi bertanggung jawab untuk hampir semua 2,3 juta (1,7-3,5 juta) anak
di bawah usia 15 tahun yang diperkirakan hidup dengan HIV, hampir 90 persen di Afrika
sub-Sahara. Diperkirakan bahwa, dari anak tersebut, 780.000 membutuhkan terapi
antiretroviral (ART), dan bahwa, pada 2006, 380.000 anak di bawah usia 15 tahun
meninggal karena alasan terkait AIDS. Walaupun ada peningkatan 40 persen dalam
jumlah anak yang menerima ART pada 2006, hanya 6 persen orang yang memakai ART
secara global adalah anak, sementara 14 persen mereka yang membutuhkan ART adalah
anak. Program nasional yang mampu melaporkan berdasarkan usia menunjukkan bahwa
sangat sedikit anak yang mendapatkan ART adalah di bawah usia 2 tahun.
ART dan pengobatan untuk infeksi oportunistik yang terjangkau semakin
tersedia tetapi hal ini memberi sedikit manfaat pada bayi bila mereka tidak dapat
didiagnosis secara dini. Kebanyakan anak yang terinfeksi HIV meninggal di bawah usia 2
tahun dan kurang lebih 33 persen meninggal di bawah usia 1 tahun [3-5]. Sayangnya
menafsirkan hasil dari tes darah (antibodi) dipakai untuk orang dewasa yang tersedia
paling luas adalah sulit untuk bayi di bawah usia 9-12 bulan. Hasil antibodi-negatif
memberi kesan bahwa bayi tidak terinfeksi. Hasil antibodi-positif tidak memastikan bayi
terinfeksi karena antibodi ibu pada anak yang terlahir oleh ibu terinfkesi HIV dapat
ditahan, oleh karena itu, tes virologis adalah cara yang dibutuhkan untuk mendiagnsosis
HIV pada bayi. Penyusuan, walau terkait dengan ketahanan hidup yang lebih baik,
menempatkan bayi dalam risiko tertular HIV selama masa penyusuan, walau bayi tidak
terinfeksi pada awal.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah HIV/AIDS itu?
2. Apakah Etiologi HIV/AIDS itu?
3. Bagaimana HIV/AIDS dapat ditularkan?
4. Apakah tanda dan gejala HIV/AIDS itu?
5. Bagaimanakah pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS?

1.3 TUJUAN
1. Menjelaskan pengertian HIV/AIDS itu.
2. Menjelaskan Etiologi HIV/AIDS.
3. Menjelaskan penularan HIV/AIDS.
4. Menjelaskan tanda dan gejala HIV/AIDS.
5. Cara pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
AIDS adalah penyakit yang berat yang ditandai dengan kerusakan imunitas seluler
yang disebabkan oleh retrovirus (HIV) atau penyakit fatal secara secara keseluruhan dimana
kebanyakan pasien memerlukan perawatan medis dan pelayanan canggih selama perjalanan
penyakit. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit
akibatnya menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi
Human Immunodeficiency virus (HIV).
Jadi HIV adalah infeksi virus yang secara progresif menghancurkan sel-sel. sel darah
putih Infeksi oleh HIV biasanya berakibat pada kerusakan sistem kekebalan tubuh secara
progresif, menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik dan kanker tertentu (terutama pada
orang dewasa).

2.2. Eiologi
Penyebab penyakit AIDS adalah HIV yaitu virus yang masuk dalam kelompok
retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan tubuh manusia.
Penyakit ini dapat ditularkan melalui penularan seksual, kontaminasi patogen di dalam darah,
dan penularan masa perinatal.
1. aktor risiko untuk tertular HIV pada bayi dan anak adalah:
a. bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual
b. bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan berganti
c. bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya penyalahguna obat intravena
d. bayi atau anak yang mendapat transfusi darah atau produk darah berulang
e. anak yang terpapar pada infeksi HIV dari kekerasan seksual (perlakuan salah
seksual) dan
f. anak remaja dengan hubungan seksual berganti-ganti pasangan.

2.3. Cara Penularan


a. Penularan HIV dari ibu kepada bayinya dapat melalui:

Dari ibu kepada anak dalam kandungannya (antepartum) Ibu hamil yang terinfeksi
HIV dapat menularkan virus tersebut ke bayi yang dikandungnya. Cara transmisi ini
dinamakan juga transmisi secara vertikal. Transmisi dapat terjadi melalui plasenta
(intrauterin) intrapartum, yaitu pada waktu bayi terpapar dengan darah ibu.
b. Selama persalinan (intrapartum)

Selama persalinan bayi dapat tertular darah atau cairan servikovaginal yang
mengandung HIV melalui paparan trakeobronkial atau tertelan pada jalan lahir.
c. Bayi baru lahir terpajan oleh cairan tubuh ibu yang terinfeksi

Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan
aspirasi lambung pada bayi yang dilahirkan. Besarnya paparan pada jalan lahir sangat
dipengaruhi dengan adanya kadar HIV pada cairan vagina ibu, cara persalinan, ulkus serviks
atau vagina, perlukaan dinding vagina, infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan
prematur. penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forsep,
episiotomi dan rendahnya kadar CD4 pada ibu.
Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan akan meningkatkan resiko.
transmisi antepartum sampai dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4
jam sebelum persalinan.
d. Bayi tertular melalui pemberian ASI
Transmisi pasca persalinan sering terjadi melalui pemberian ASI (Air susu ibu). ASI
diketahui banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak. Konsentrasi median sel
yang terinfeksi HIV pada ibu yang tenderita HIV adalah 1 per 10 4 sel, partikel virus ini
dapat ditemukan pada componen sel dan non sel ASI. Berbagai factor yang dapat
mempengaruhi resiko tranmisi HIV melalui ASI antara lain mastitis atau luka di puting, lesi
di mucosa mulut bayi, prematuritas dan respon imun bayi. Penularan HIV melalui ASI
diketahui merupakan faktor penting penularan paska persalinan dan meningkatkan resiko
tranmisi dua kali lipat.

2.4. Patofisiologi
HIV secara khusus menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang
bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup limfosit penolong dengan
peran kritis dalam mempertahankan responsivitas imun, juga meperlihatkan pengurangan
bertahap bersamaan dengan perkembangan penyakit. Mekanisme infeksi HIV yang
menyebabkan penurunan sel CD4. HIV secara istimewa menginfeksi limfosit dengan antigen
permukaan CD4, yang bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup
linfosit penolong dengan peran kritis dalam mempertahankan responsivitas imun, juga
memperlihatkan pengurangan bertahap bersamaan dengan perkembangan penyakit.
Mekanisme infeksi HIV yang menyebabkan penurunan sel CD4 ini tidak pasti,
meskipun kemungkinan mencakup infeksi litik sel CD4 itu sendiri; induksi apoptosis melalui
antigen viral, yang dapat bekerja sebagai superantigen; penghancuran sel yang terinfeksi
melalui mekanisme imun antiviral penjamu dan kematian atau disfungsi precursor limfosit
atau sel asesorius pada timus dan kelenjar getah bening. HIV dapat menginfeksi jenis sel
selain limfosit.
Infeksi HIV pada monosit, tidak seperti infeksi pada limfosit CD4, tidak
menyebabkan kematian sel. Monosit yang terinfeksi dapat berperang sebagai reservoir virus
laten tetapi tidak dapat diinduksi, dan dapat membawa virus ke organ, terutama otak, dan
menetap di otak. Percobaan hibridisasi memperlihatkan asam nukleat viral pada sel-sel
kromafin mukosa usus, epitel glomerular dan tubular dan astroglia. Pada jaringan janin,
pemulihan virus yang paling konsisten adalah dari otak, hati, dan paru. Patologi terkait HIV
melibatkan banyak organ, meskipun sering sulit untuk mengetahui apakah kerusakan
terutama disebabkan oleh infeksi virus local atau komplikasi infeksi lain atau autoimun.
Infeksi HIV biasanya secara klinis tidak bergejala saat terakhir, meskipun priode
inkubasi atau interval sebelum muncul gejala infeksi HIV, secara umum lebih singkat pada
infeksi perinatal dibandingkan pada infeksi HIV dewasa. Selama fase ini, gangguan regulasi
imun sering tampak pada saat tes, terutama berkenaan dengan fungsi sel B:
hipergameglobulinemia dengan produksi antibody nonfungsional lebih universal diantara
anak-anak yang terinfeksi HIV dari pada dewasa, sering meningkat pada usia 3 sampai 6
bulan.
Ketidakmampuan untuk berespon terhadap antigen baru ini dengan produksi
imunoglobulin secara klinis mempengaruhi bayi tanpa pajanan antigen sebelumnya,
berperang pada infeksi dan keparahan infeksi bakteri yang lebih berat pada infeksi HIV
pediatrik. Deplesi limfosit CD4 sering merupakan temuan lanjutan, dan mungkin tidak
berkorelasi dengan status simtomatik. Bayi dan anak-anak dengan infeksi HIV sering
memiliki jumlah limfosit yang normal, dan 15% pasien dengan AIDS periatrik mungkin
memiliki resiko limfosit CD4 terhadap CDS yang normal. Panjamu yang berkembang untuk
beberapa alasan menderita imunopatologi yang berbeda dengan dewasa, dan kerentanan
perkembangan system saraf pusat menerangkan frekuensi relatif ensefalopati yang terjadi
pada infeksi HIV anak.

2.5. Manifestasi klinis


Manifestasi klinis infeksi HIV pada anak bervariasi dari asimtomatis sampai
penyakit berat yang dinamakan AIDS. AIDS pada anak terutama terjadi pada umur muda
karena sebagian besar (>80%) AIDS pada anak akibat transmisi vertikal dari ibu ke anak.
Lima puluh persen kasus AIDS anak berumur < 1 tahun dan 82% berumur 3 tahun. Meskipun
demikian ada juga bayi yang terinfeksi HIV secara vertikal belum memperlihatkan gejala
AIDS pada umur 10 tahun.
Gejala klinis yang terlihat adalah akibat adanya infeksi oleh mikroorganisme yang
ada di lingkungan anak. Oleh karena itu, manifestasinya pun berupa manifestasi nonspesifik
berupa:
1) gagal tumbuh
2) berat badan menurun
3) anemia
4) panas berulang
5) limfadenopati dan
6) hepatosplenomegali
Gejala yang menjurus kemungkinan adanya infeksi HIV adalah adanya infeksi
oportunistik, yaitu infeksi dengan kuman, parasit, jamur, atau protozoa yang lazimnya tidak
memberikan penyakit pada anak normal. Karena adanya penurunan fungsi imun. terutama
imunitas selular, maka anak akan menjadi sakit bila terpajan pada organisme tersebut, yang
biasanya lebih lama, lebih berat serta sering berulang. Penyakit tersebut antara lain
kandidiasis mulut yang dapat menyebar ke esofagus, radang paru karena Pneumocystis
carinii, radang paru karena
mikobakterium atipik, atau toksoplasmosis otak. Bila anak terserang Mycobacterium
tuberculosis, penyakitnya akan berjalan berat dengan kelainan luas pada paru dan otak. Anak
sering juga menderita diare berulang.
Manifestasi klinis lainnya yang sering ditemukan pada anak adalah pneumonia
interstisialis limfositik, yaitu kelainan yang mungkin langsung disebabkan oleh HIV pada
jaringan paru. Manifestasi klinisnya berupa
a hipoksia
b sesak napas
c jari tabuh dan
d limfadenopati
e Secara radiologis terlihat adanya infiltrat retikulonodular difus bilateral, terkadang
dengan adenopati di hilus dan mediastinum.
Manifestasi klinis yang lebih tragis adalah yang dinamakan ensefalopati kronik yang
mengakibatkan hambatan perkembangan atau kemunduran ketrampilan motorik dan daya
intelektual, sehingga terjadi retardasi mental dan motorik. Ensefalopati dapat merupakan
manifestasi primer infeksi HIV. Otak menjadi atrofi dengan pelebaran ventrikel dan
kadangkala terdapat kalsifikasi. Antigen HIV dapat ditemukan pada jaringan susunan saraf
pusat atau cairan serebrospinal.

2.6. Komplikasi
1 Lesi lisan
Karena kandidia, herpes simplek, sarkoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis
Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat
badan, keletihan dan cacat. Kandidiasis lisan ditandai oleh bercak-bercak putih misalnya krim
dalam rongga mulut. Jika tidak diobati, kandidiasis oral akan terus mengeni kerongkongan
dan
lambung. Tanda dan gejala yang meliputi keluhan menelan yang sulit dan rasa sakit di balik
tulang dada (nyeri retrosternal).
2 Neurologik
a) ensefalopati HIV atau disebut juga sebagai kompleks dimensia AIDS (ADC; AIDS
demensia kompleks). Manifestasi dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala,
kesulitan berkonsentrasi, kebingungan progresif, perlambatan psikomotorik, apatis
dan ataksia. stadion lanjut mencakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam
respon verbal, gangguan efektif seperti pandangan yang kosong, hiperefleksi
paraparesis spastik, psikosis, halusinasi, tremor, inkontinensia, dan kematian.
b) Meningitis kriptokokus ditandai dengan gejala seperti demam, sakit kepala, malaise,
kaku kuduk, mual, muntah, perubahan status mental dan kejang-kejang diagnosis
ditegakkan dengan analisa cairan serebospinal.
3 Saluran pencernaan
a) Wasting syndrome kini diikutsertakan dalam definisi kasus yang diperbarui untuk
penyakit AIDS. Kriteria diagnostiknya mencakup penurunan BB 10% dari BB awal,
diare yang kronis selama lebih dari 30 hari atau kelemahan yang kronis, dan demam
yang kambuhan atau menetap tanpa adanya penyakit lain yang dapat menjelaskan
gejala ini.
b) Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan
sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam,
malabsorbsi, dan dehidrasi.
c) Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma Kaposi, obat ilegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri perut, ikterik dan dernam atritis.
d) Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang
diakibatkannya infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rektal, gatal-gatal
dan diare.
4 Respirasi Karinii Pneumokistik. Gejala nafas yang pendek, sesak nafas (dispnea),
batuk-batuk, nyeri dada, hipoksia, keletihan dan demam akan menyertai peluang
infeksi.
5 Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis,
reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi
sekunder dan sepsis. Peluang infeksi seperti herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai
dengan terbentuknya vesikel yang ny eri dan merusak keutuhan kulit.
moluskum kontangiosum merupakan infeksi virus yang ditandai dengan
terbentuknya plak yang disertai deformitas, dermatitis sosoreika akan disertai ruam yang
menyebar, bersisik dengan indurasi yang mengenai kulit kepala serta wajah penderita AIDS
juga dapat menampilkan folikulitis menyeluruh yang disertai dengan kulit yang kering dan
mengelupas atau dengan dermatitis atopik seperti eksim dan psoriasis.
6. Sensorik
a) Pandangan: Sarkoma Kaposi pada konjungtiva atau kelopak mata retinitis
sitomegalovirus berefek kebutaan.
b) Pendengaran otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan
efek nyeri yang berhubungan dengan mielopati, meningitis, sitomegalovirus dan
reaksi-reaksi obat.

2.7. Pemeriksaan penunjang


1. Tes untuk mendiagnosis infeksi HIV
diagnosis HIV dapat ditegakkan dengan menguji HIV. Tes ini meliputi
a) ELISA, lateks agglutinasi Penilaian Elisadan lateksaglutinasi dilakukan untuk
mendeteksi adanya infeksi HIV atau tidak, bila dikatakan HIV positif harus dipastikan
dengan tes western blot.
b) Western blot (positif)
c) Tes antigen P 24 (reaksi berantai polimerase) atau PCR. Bila pemeriksaan pada kulit,
maka dideteksi dengan tes antibodi (biasanya digunakan pada bayi lahir dengan ibu
HIV. (positif untuk protein virus yang bebas)
d) Kultur HIV(positif, kalau dua kali uji-kadar secara berturut-turut mendeteksi enzim
reverse transkriptase atau antigen p24 dengan kadar yang meningkat)
2. Tes untuk mendeteksi gangguan sistem imun.
a) LED (normal namun perlahan-lahan akan mengalami penurunan)
b) Limposit CD4 (menurun; mengalami penurunan kemampuan untuk bereaksiterhadap
antigen)
c) Rasio limfosit CD4/CD8 (menurun)
d) Serum mikroglobulin B2 (meningkat bersamaan dengan berlanjutnya penyakit)
e) Imunoglobulin Kadar (meningkat)

2.8. Penatalaksanaan
1 Perawatan
perawatan pada anak yang terinfeksi HIV antara lain
a) Suportif dengan cara mengusahakan agar gizi cukup, hidup sehat dan mencegah
kemungkinan terjadi infeksi.
b) Menanggulangi infeksi oportunistik atau infeksi lain serta keganasan yang ada.
c) Menghambat replikasi HIV dengan obat antivirus seperti golongan dideosinukleotid,
yaitu azidomitidin (AZT) yang dapat menghambat enzim RT dengan berintegrasi ke
virus DNA, sehingga tidak terjadi transkripsi DNA HIV.
d) Mengatasi dampak psikososial.
e) Konseling pada keluarga tentang cara penularan HIV, perjalanan penyakit, dan
prosedur
yang dilakukan oleh tenaga medis.
f) Dalam menangani pasien HIV dan AIDS tenaga kesehatan harus selalu
memperhatikan perlindungan universal (kewaspadaan universal).
2 Pengobatan
a Pengobatan medikamentosa meliputi pemberian obat-obat profilaksis infeksi
oportunistik yang tingkat morbiditas dan mortalitasnya tinggi. Riset yang luas telah
dilakukan dan Menunjukkan kesimpulan rekomendasi pemberian kotrimoksasol pada
penderita HIV yang berusia kurang dari 12 bulan dan tidak ada yang memiliki kadar
CD4 < 15% hingga dipastikan bahaya infeksi pneumonia akibat parasit Pneumocystis
jiroveci Dihindari. Pemberian Isoniazid (INH) sebagai profilaksis penyakit TBC pada
penderita HIV masih diperdebatkan. Kalangan yang setuju menyatakan langkah ini
bermanfaat untuk menghindari penyakit TBC yang berat, dan harus dibuktikan
dengan metode diagnosa yang tangan. Kalangan yang menolak berasumsi bahwa di
negara endemis TBC, kemungkinan infeksinya TBC alami sudah terjadi. Langkah
diagnosis perlu dilakukan untuk menetapkan kasus mana yang memerlukan
pengobatan dan yang tidak.
b Obat profilaksis lainnya adalah preparat nistatin untuk antikandida, pirimetamin untuk
toksoplasma, preparat sulfa untuk malaria, dan obat lain yang diberikan sesuai kondisi
klinis yang ditemukan pada penderita.
c Pengobatan penting adalah pemberian antiretrovirus atau ARV. Riset mengenai obat
ARV terjadi sangat pesat, meskipun belum ada yang mampu mengeradikasi virus
dalam bentuk Proviral DNA pada stadium dorman di sel memori CD4. Pengobatan
infeksi HIV dan AIDS sekarang menggunakan paling tidak 3 kelas anti virus, dengan
sasaran molekul virus dimana tidak ada manusia yang homolog. Obat
pertamaditemukan pada tahun 1990, yaitu Azidothymidine (AZT) suatu nukleosid
analog deoksitimidin yang bekerja pada tahap penghambatan kerja enzim
transkriptase riveri. Bila obat ini digunakan sendiri, secara bermakna dapat
mengurangi kadar RNA plasma HIV selama beberapa bulan atau tahun. Biasanya
progresivitas penyakti HIV tidak terpengaruh oleh pemakaian AZT, karena pada
jangka virus panjang HIV berevolusi membentuk mutan yang resisten terhadap obat.
3 Pencegahan
Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui:
a Saat hamil. Penggunaan antiretroviral selama kehamilan yang bertujuan agar beban
vital rendah sehingga jumlah virus yang ada di dalam darah dan cairan tubuh kurang
efektif menularkan HIV.
b Saat melahirkan. Penggunaan antiretroviral ( Nevirapine) saat persalinan dan bayi
baru kelahiran dan persalinan sebaiknya dilakukan dengan metode sectionio caesar
karena terbukti.
c mengurangi risiko penularan sebanyak 80%.
d Setelah lahir. Informasi yang lengkap kepada ibu tentang risiko dan manfaat ASI.

BAB III
LAPORAN KASUS
3.1. Pengkajian
I. Identitas Klien :
Nama/nama panggilan : An. A.
Tempat tanggal lahir/usia : Poasia, 27 Mei 2005/ 6 bulan 8 hari
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan :-
Alamat : BTN Kendari Permai Blok J No.14
Tanggal masuk : 18 Mei 2011
Tanggal pengkajian : 19 Mei 2011
Diagnosa Medik : HIV-AIDS

II. Identitas Orang Tua


1. Ayah
a. N a m a : Tn. T.L.
b. U m u r : 27 tahun
c. Pendidikan : SMA
d. Pekerjaan : Buruh Pabrik
e. A g a m a : Islam
f. A l a m a t : BTN Kendari Permai Blok J No.14
2. Ibu
a. N a m a : Ny. R
b. U s i a : 25 tahun
c. Pendidikan : SMP
d. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
e. A g a m a : Islam
f. A l a m a t : BTN Kendari Permai Blok J No.14

III. Keluhan Utama


Orangtua klien mengeluhkan bayinya mengalami diare disertai dengan
demam.

IV. Riwayat Kesehatan.


1. Riwayat Kesehatan Sekarang
Diare dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Mula-mula intensitas BAB kurang, dan sejak 2 hari
yang lalu diare semakin parah diserta dengan demam, terdapat bercak-bercak terasa gatal
pada kulit, diare diikuti dengan batuk, sesak dan klien tidak mau menyusu. Dengan alasan
tersebut orang tua klien membawa klien ke RS untuk di periksa.
2. Riwayat Kesehatan Lalu (khusus untuk anak 0-5 tahun)
1) Prenatal Care
 Pemeriksaan kehamilan 3 kali
 Keluhan selama hamil Ngidam, kadang-kadang demam dan lemas
 Riwayat terkena sinar tidak ada
 Kenaikan berat badan selama kehamilan 2 kg
 Imunisasi 2 kali
 Golongan darah Ibu : lupa /golongan darah ayah : A
2) N a t a l
 Tempat melahirkan di Puskesmas oleh bidan
 Lama dan jenis persalinan : Spontan/normal
 Penolong persalinan Dokter Kebidanan
 Tidak ada komplikasi selama persalinan ataupun setelah persalinan (sedikit perdarahan
daerah
vagina).
3) Post Natal
 Kondisi Bayi : BB lahir 2 kg, PB 45 cm
 Pada saat lahir kondisi anak baik
 (untuk semua usia)
 Penyakit yang pernah dialami demam setelah imunisasi
 Kecelakaan yang pernah dialami: tidak ada
 Imunisasi belum lengkap
 Alergi belum nampak
 Perkembangan anak dibanding saudara-saudara : Anak pertama

VI. Riwayat Kesehatan Keluarga


Anggota keluarga : Ibu klien positif HIV
VII. Genogram
Keterangan
:
Perempuan -------- = Serumah
Laki-laki = Meninggal
Klien =
Garis keturunan
· Penjelasan :
· Generasi I = Kakek dan nenek klien meninggal bukan karena penyakit yang sama dengan
klien
· Generasi II = Saudara laki-laki dari bapak klien meninggal karena kecelakaan tidak ada
riwayat penyakit yang sama dengan klien
· Generasi III = Klien anak pertama. Belum mempunyai saudara, klien saat ini di rasawat di
RS dengan diangnosa postif HIV.

[Link] Imunisasi
No Jenis Imunisasi Waktu Pemberian Reaksi setelah
Pemberian
1 BCG 1 bulan Demam
2 DPT Lupa Demam
3 Polio - -
4 Campak - -
5 Hepatitis Lupa Lupa

VII. Riwayat Tumbuh Kembang


a. Pertumbuhan Fisik
1. Berat Badan : BB lahir 2 kg, BB masuk RS : 5 kg.
2. Tinggi Badan : PB lahir 45 cm, PB masuk RS : 50 Cm
3. Waktu tumbuh gigi pertama : belum
b. Perkembangan tiap tahap
Usia anak saat :
1. Berguling : 5 bulan
2. Duduk : belum
3. Merangkak : belum
4. Berdiri : belum
5. Berjalan : belum
6. Senyum kepada orang lain pertama kali : lupa
7. Bicara pertama kali : belum
8. Berpakaian tanpa bantuan : masih di bantu ibunya
secara penuh
Riwayat Nutrisi
a. Pemberian ASI
1. Pertama kali di susui : satu jam setelah lahir
2. Cara Pemberian : Setiap Kali menangis dan tanpa menangis
3. Lama Pemberin : 15-20 manit
4. Diberikan sampai usia : sampai saat ini
b. Pemberian Susu Formula : SGM
Tidak pernah diberikan susu formula hanya ASI
c. Pola perubahan nutrisi tiap tahap usia sampai nutrisi saat ini :
Usia Jenis Nutrisi Lama Pemberian
0-saat ini Asi Masih berlangsung sampai saat ini
IX. Riwayat Psiko Sosial
 Anak tinggal di rumah sendiri
 Lingkungan berada di tepi kota
 Rumah tidak ada fasilitas lengkap
 Di Rumah tidak ada tangga yang berbahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan, anak
bebas
bermain di luar dengan teman-temannya
 Hubungan antar anggota kelurga baik
 Pengasuh anak adalah orang tua
X. Riwayat spiritual
1. Anggota Keluarga tidak taat melaksanakan ibadah
2. Kegiatan keagamaan : jarang mengikuti kegiatan keagamaan
XI. Reaksi Hospitalisasi
a. Pengalaman Keluarga tentang Sakit dan rawat inap
1. Orang tua membawa anaknya ke RS karena khawatir dan cemas tentang keadaan anaknya
yang demam terus
2. Dokter menceritakan sebagaian kecil kondisi anaknya dan kelihatannya orang tua belum
mengerti hal ini dibuktikan dengan ekspresi wajah orang tua dan pertanyaan yang timbul
sekitar keadaan anaknya
3. Orang tua saat masuk di RS sangat merasa khwatir dengan keadaan anaknya dan selalu
menanyakan kondisi anaknya
4. Orang tua selalu menjaga anaknya bergantian antara ayah, ibu dan dan keluarga yang lain.
b. Pemahaman anak tentang sakit dan rawat Inap:Anak belum mampu berbicara

Aktivitas Sehari-hari
a. Nutrisi
No Kondisi Sebelum sakit Saat Sakit
1 Keinginan menyusu Baik Kurang
2 Frekuensi menyusu 7 kali Tidak pernah

b. Cairan
No Kondisi Sebelum sakit Saat Sakit
1 Jenis minuman Asi Tidak ada
2 Frekuensi minum Setiap kali haus Sering
3 Kebutuhan Cairan Tidak diketahui Tergantung
4 Cara pemberian Asi Infus
3.2 Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum klien : Lemah, gelisah dan batuk sesak
 Ekspresi wajah biasa kadang tersenyum dan cengeng bila diajak bermain.
 Berpakaian bersih karena selalu dijaga oleh ibunya.
b. Tanda-tanda vital:
 Suhu : 38,5 º C
 Nadi : 120x/m
 Pernafasan : 28x / m
 TD : 95/60 mmHg
c. Antropometri
 - Panjang badan : 50 cm
 - Berat badan : 5 kg
 - Lingkaran lengan atas : tidak dikaji
 - lingkaran kepala : tidak dikaji
 - lingkaran dada : tidak di kaji
 - Lingkaran perut : tidak dikaji
 - Skin fold : tidak dikaj
d. Head To Toe
 Kulit :
Pucat dan turgo kulit jelek dipenuhi dengan bercak-bercak dan gatal
 Kepal dan leher :
I: Normal tidak ada kerontokan rambut, warna hitam dan tidak ada
Peradangan.
P: Normal, tidak ada benjolan dikepala
P: -
A: -
 Kuku : Jari tabuh
 Mata / penglihatan :
Sklera pucat dan nampak kelopak mata cekung
 Hidung :
Tidak ada Peradangan, tidak ada reaksi alergi, tidak ada polip, dan fxungsi penciuman
normal
 Telinga :
Bentuk simetris kanan/kiri, tidak ada peradangan, tidak ada perdarahan
 Mulut dan gigi
Terjadi peradangan pada rongga mulut dan mukosa, terjadi Peradangan dan perdarahan pada
gigi ,gangguan menelan(-), bibir dan mukosa mulut klien nampak kering dan bibir
pecahpecah
 Leher: Terjadi peradangan pada eksofagus.
 Dada :
I : Dada terlihat normal, Tidak ada kelainan gerakan dada
P: Terdapat nyeri tekan pada epigastrium, Tidak nampak adanya pembesaran hati
P: nada sonor
A: Tidak terdengar adanya bunyi nafas tambahan
Tidak ada retraksi dinding dada (+).
 Abdomen :
I : Nampak normal, simetris kiri kanan
P: Turgor jelek ,tidak ada massa, terdapat nyeri tekan pada bagian
kanan bawah
P : Bunyi timpany (+). Kembung (-)
A: terdengar bunyi peningkatan peristaltic/ bising usus dan tidak ada krepitasi abdomen.
 Perineum dan genitalia
Pada alat genital terdapat bintik-bintik radang
 Ekstremitas : klien tidak mampu mengerakkan extremitas atas dan extremitas bawah tonus
otot
lemah akibat tidak ada energi karena diare dan proses penyakit
I: Bentuk kaki simetris, tidak terdapat gejala / tanda oedema. Jumlah
jari [Link] keterbatasan gerak ekstremitas bawah
P: Akral hangat, terdapat keterbatasan gerak ekstremitas atas.
P: reflek tendon kurang
A: -
e. Sistem Pernafasan
 Hidung : Simetris, pernafasan cuping hidung : ada, secret : ada
 Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar limfe di sub mandibula.
Dada:
o Bentuk dada : Normal
o Perbandingan ukuran anterior-posterior dengan tranversal : 1 : 1
o Gerakan dada : simetris, tidak terdapat retraksi
o
Wh
Rh
Suara nafas : ronki
o Suara nafas tambahan : ronki
o Tidak ada clubbling finger
f. Sistem kardiovaskuler :
 Conjungtiva : Tidak anemia, bibir : pucat/cyanosis, arteri carotis : berisi reguler , tekanan
vena
jugularis : tidak meninggi
 Ukuran Jantung : tidak ada pembesaran
 Suara jantung : Tidak ada bunyi abnormal
 Capillary refilling time > 2 detik
g. Sistem pencernaan:
 Mulut : terjadi peradangan pada mukosa mulut
 Abdomen : distensi abdomen, peristaltic meningkat > 25x/mnt akibat adanya virus yang
menyerang usus
 Gaster : nafsu makan menurun, mules, mual muntah, minum normal,
 Anus : terdapat bintik dan meradang gatal
h. Sistem indra
1. Mata : agak cekung
2. Hidung : Penciuman kurang baik,
3. Telinga
o Keadaan daun telinga : kanal auditorius kurang bersih akibat benyebaran penyakit
o Fungsi pendengaran kesan baik
i. Sistem Saraf
2. Fungsi serebral:
 Status mental : Orientasi masih tergantung orang tua
 Bicara : -
 Kesadaran : Eyes (membuka mata spontan) = 4, motorik (bergerak mengikuti perintah) =
6,
verbal (bicara normal) = 5
3. Fungsi kranial :
Saat pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda kelainan dari Nervus I – Nervus XII.
4. Fungsi motorik : Klien nampak lemah, seluruh aktifitasnya dibantu oleh orang tua
5. Fungsi sensorik : suhu, nyeri, getaran, posisi, diskriminasi (terkesan terganggu)
6. Fungsi cerebellum : Koordinasi, keseimbangan kesan normal
7. Refleks : bisip, trisep, patela dan babinski terkesan normal.
j. Sistem Muskulo Skeletal
1. Kepala : Betuk kurang baik, sedikit nyeri
2. Vertebrae: Tidak ditemukan skoliosis, lordosis, kiposis, ROM pasif, klien malas bergerak,
aktifitas utama klien adalah berbaring di tempat tidur.
3. Lutut : tidak bengkak, tidak kaku, gerakan aktif, kemampuan jalan baik
4. Tangan tidak bengkak, gerakan dan ROM aktif
k. Sistem integumen
 warna kulit pucat dan terdapat bintik-bintik dengan gatal, turgor menurun > 2 dt,
 suhu meningkat 39 derajat celsius, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary
refill
time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
l. Sistem endokrin
 Kelenjar tiroid tidak nampak, teraba tidak ada pembesaran
 Suhu tubuh tidak tetap, keringat normal,
 Tidak ada riwayat diabetes
m. Sistem Perkemihan
 Urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/24 jam), frekuensi berkurang.
 Tidak ditemukan odema
 Tidak ditemukan adanya nokturia, disuria , dan kencing batu
n. Sistem Reproduksi
Alat genetalia termasuk glans penis dan orificium uretra eksterna merah dan gatal
o. Sistem Imun
 Klien tidak ada riwayat alergi
 Imunisasi lengkap
 Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca tidak ada
 Riwayat transfusi darah tidak ada

Pemeriksaan Tingkat Perkembangan


1. 6 tahun ke atas
a. Perkembangan kognitif : Klien mampu bekerja sama dengan orang lain hal ini dibuktikan
dengan klien sering bermain bola bersama teman-temannya waktu sebelum sakit.
b. Perkembangan motorik : klien mampu menggunakan sepeda dengan sendirinya
XIV. Terapi Saat ini :
 Infus RL 20 tts/m
 Imunisasi disarankan untuk anak-anak dengan infeksi HIV, sebagai pengganti vaksin
poliovirus (OPV), anak-anak diberi vaksin virus polio yang tidak aktif (IPV)
Keperawatan :
 Suportif dengan cara mengusahakan agar gizi cukup, hidup sehat dan mencegah
kemungkinan
terjadi infeksi
 Menanggulangi infeksi opportunistic atau infeksi lain serta keganasan yang ada
 Menghambat replikasi HIV dengan obat antivirus seperti golongan dideosinukleotid, yaitu
azidomitidin (AZT) yang dapat menghambat enzim RT dengan berintegrasi ke DNA virus,
sehingga tidak terjadi transkripsi DNA HIV
 Mengatasi dampak psikososial
 Konseling pada keluarga tentang cara penularan HIV, perjalanan penyakit, dan prosedur
yang
dilakukan oleh tenaga medis
 Hasil Laboratorium tanggal 28 Maret 2011: Tidak dikaji
XV. Klasifikasi Data
Data Subjektif
 Keluarga klien mengatakan anaknya batuk-batuk dan sesak
 Keluarga klien mangatakan anaknya demam terus-menerus
 Keluarga klien mengatakan muncul bercak-bercak di tubuh anaknya
 Keluarga klien mengatakan, klien tidak mau makan/malas makan
 Ibu klien mengatakan anaknya susah menelan akibat luka-luka pada mulutnya
 Keluarga klien mengatakan anaknya sering buang air besar dan encer
 Keluarga klien mengatakan sangat khawatir dengan kondisi anaknya, maka dari itu
anaknya di
bawa ke RS.
Data Objektif
 Klien selama di RS nampak batuk terus dan gelisah nampak sesak sesak
 Klien nampak teraba panas dengan suhu 39 0C, Nadi : 120x/m, P : 28x /m dan TD : 95/60
mmHg
 Nampak terlihat bercak-bercak dan klien selalu menangis menggaruk badannya yang gatal.
 Klien nampak cengeng bila ingin disusui, berat badan klien turun dari 5 kg menjdi 4 kg.
 Klien nampak selalu mengeluh ingin BAB dan diRS terhitung 4-5/hari
 Kulit klien nampak kering, nampak cekung pada mata
 Keluarga klien nampak gelisah dan selalu menanyakan kondisi anaknya.
Analisa Data
No Data Etilogi Masalah
1 DS : Bersihan jalan
o Ibu klien mengatakan nafas tidak efektif
Kandidiasis
anaknya batuk-batuk dan
sesak
DO :
o Klien selama di RS
nampak batuk terus dan Menginfeksi
gelisah nampak sesak bronkus
sesak
o Tanda-tanda vital: Aktivitas bronkus

 Suhu : 38,5 º C berkurang

 Nadi : 120x/m
 Pernafasan : 28x / m
 TD : 95/60 mmHg
Penumpukan sekret

Batuk
inefektif
2 DS : Hipertermi
o Ibu klien mangatakan Kuman
anaknya demam terus- mengeluarkan
menerus endotoksin
DO :
Klien nampak teraba panas

0
dengan suhu 38,5 C,
Nadi : 120x/m, P : Merangsang
28x / m dn TD : 95/60 pengeluaran zat
mmHg pirogen oleh
leukosit pada
jaringan yg
meradang

Melepas zat IL-1,

prostaglandin
E2 (pirogen leukosi
& pirogen endokrin
Mencapai
hipotalamus (set
point)
3 DS : Perubahan nutrisi
kandidiasis
o ibu klien mengatakan, kurang dari
klien tidak mau kebutuhan tubuh
makan/malas makan
Lesi oral
o Ibu klien mengatakan
anaknya susah menelan
akibat luka-luka pada
mulutnya
DO : Ketidakmampuan

o Klien nampak cengeng menyusu

bila inbin diberi makan


dan porsi makannya tidak
habis serta BB turun Perubahan indra
pengecap
menjadi 20 kg dari
[Link]

5 DS :
o Kerusakan
Ibu klien mengatakan integritas
kulit
muncul bercak-bercak di
tubuh anaknya
o
DO :
Nampak terlihat bercak-
bercak dan klien selalu
menangis menggaruk
badannya yang gatal
6 DS :
o Cemas
Keluarga
klien mengatakan
sangat khawatir
dengan kondisi anaknya,

o maka dari itu anaknya di


bawa ke RS. DO :
Keluarga klien nampak
gelisah dan selalu
menanyakan kondisi
anaknya.

Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret
2. Hipertermi berhubungan dengan pelepasan pyrogen dari hipotalamus sekunder
terhadap reaksi antigen dan antibody
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kekambuhan penyakit, diare, kehilangan nafsu makan, kandidiasis oral
4. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan dermatitis seboroik dan
herpers zoster sekunder proses inflamasi system integument
5. Kecemas berhubungan dengan perubahan kesehatan yang diderita klien
BAB V

PEMBAHASAN

4.1 Tahapan Pengkajian

[Link] Klien

[Link] Utama : Orangtua klien mengeluhkan bayinya mengalami diare disertai dengn
demam
[Link] Kesehatan

 Riwayat Kesehatan Dahulu : Pasien Anak dengan umur 0-5 tahun Dengan
Prenatal care dan ibunya sebelumnya melakukan pemeriksaan kehamilan yang
ke 3 kalinya kedokter lalu keluhan Selma hamil dan mengandung merasakan
demam serta lemas kenaikan berat badan selama kehamilan 2kg serta
melaukukan imunisasi 2 kali

 Riwayat kesehatan sekarang : Diare dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Mula-
mula intensitas BAB kurang, dan sejak 2 hari
yang lalu diare semakin parah diserta dengan demam, terdapat bercak dan gatal
pada kulit, diare diikuti dengan batuk, sesak dan klien tidak mau menyusui
dengan alasan orang tua klien membawa klien ke RS untuk dilakukan pemeriksan
4.2 Tahapan Diagnosa Keperawatan

 Pasien mengalami batuk terus dan terasa gelisah serta nafas terasa sesak.b/d
jalan nafas tidak efektif .

 Hipertermi berhubungan dengan pelepasan pyrogen dari hipotalamus


sekunder terhadap reaksi antigen dan antibody.
 Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kekambuhan penyakit, diare, kehilangan nafsu makan, kandidiasis oral.

4.3 Tahap Perencanaan

No Intervensi Rasional
1. Dx : Bersihan jalan nafas :sulit Menganjurkan pasien untuk batuk lebih
bernafas b.d penumpukan secret dalam untuk melakukan tindakan
Tujuan : Bersihan jalan nafas dan tidak Menghilakan rasa gatal pada area
ada penumpukan secret tenggorakan dan memposisikan semi fowler
KH: Wajah pasien tampak pucat dan Berikan obat batuk sesuai anjuran dokter
lemas
Alihkan pasien dalam kolaborasi

2. Dx: Hipertermi berhubungan dengan Ditandai dengan suhu badan yang


pelepasan pyrogen dari hipotalamus meningkat merupakan ciri utama terjadinya
sekunder terhadap reaksi antigen dan hipertermi pada anak .
antibody. Menganjurkan tidak pakai baju saat suhu
Tujuan : Infeksi tidsk terjadi diatas 38,5
Memberikan Parecetamol dan kompres
dingin pada area dahi
3. Dx: Perubahan nutrisi kurang Tanda yang membantu mengidentifakasi
dari kebutuhan tubuh berhubungan fluktasi volume cairan intraveskuler
dengan kekambuhan penyakit, Serta penurunan pengeluaran urine pekat
diare, kehilangan nafsu makan, dengan peningkatan volume cairan .
kandidiasis oral. Serta meningkatkan nafsu makan dengan
Tujuan : Memepertimbangkan kandiasi oral supaya kembali fit serta pulih.
Keseimbangan Cairan didalam
tubuh
Awasi tekanan darah nadi serta
pantau warna urine
/konsentrasi ,berat jenis
Berikan sejumlah kecil minuman.

4.4 Implementasi Keperawatan


Setelah disusunnya Asuhan keperawatan anak pada penyakit Hiv ini maka dapat
melanjutkan dengan tindakan yaitu :Melaknasakan ecara langsung mendelegasikan dengan
tenaga kesehtan lainya yang dapat dipercsya dalam memberikan Asuhan keperawatan pada
pasien anak yang dilihat secara utuk dan unik atau biopsiko dan spiritual..

4.5 Evaluasi Keperawatan


Dalam tahap evaluasi ini merupakan akhir dari suatu proses keperawatan ,dan
merupakan penilaian dari proses keperawatan yang telah diberikan pada Pasien .
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

AIDS adalah penyakit yang berat yang ditandai oleh kerusakan imunitas seluler
yang disebabkan oleh retrovirus (HIV) atau penyakit fatal secara keseluruhan dimana
kebanyakan pasien memerlukan perawatan medis dan keperawatan canggih selama
perjalanan penyakit.
Penyebab penyakit AIDS adalah HIV yaitu virus yang masuk dalam kelompok
retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan tubuh manusia.
Penyakit ini dapat ditularkan melalui penularan seksual, kontaminasi patogen di dalam darah,
dan penularan masa perinatal. Manifestasi klinis lainnya yang sering ditemukan pada anak
adalah pneumonia interstistalis limfositik, yaitu kelainan yang mungkin langsung disebabkan
oleh HIV pada jaringan paru.
Komplikasi Oral Lesi: Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral,
gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi,
dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat. Pemeriksaan penunjang seperti: Tes
untuk, diagnose infeksi HIV
1. ELISA, latex agglutination
2. Western blot (positif)
3. Tes antigen P 24 (polymerase chain reaction) atau PCR
4. Kultur HIV
5.2 SARAN

1. Memberikan support kepada penderita HIV agar tidak putus asa dalam menjalani
hidup.
2. Mencegah penyebaran HIV dengan pemerikasaan kesehatan keluarga dan anak secara
rutin.
3. Dan kita sebagai perawat terus memberikan asuhan keperawatan kepada penderita
agar cepat sembuh dalam pengobatan.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2006. Diagnosis Keperawatan. Jakarta: EGC

Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa: 1 Made Kariasa dan Ni Made
S, EGC, Jakarta

Kuswayan. 2009. Apa itu HIV/AIDS?, [Link]


Lamongan

Yati, Ida. 2010. AIDS pada ibu hamil. [Link] Lamongan

Administrator. 2010. Pencegahan dan Penatalaksanaan Infeksi HIV (AIDS) pada kehamilan
[Link] Lamongan

Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa
dan Ni Made S,EGC, Jakarta

Anda mungkin juga menyukai