HIV pada Anak: Penularan dan Penanganan
HIV pada Anak: Penularan dan Penanganan
D
I
S
U
S
U
N
OLEH KELOMPOK 10 :
1. Della Puspita Siahaan (210204016)
2. Dernita Wilfrida Sihombing (210204017)
3. Lido Putra Hulu (210204031)
4. Rica anggriani (210204041)
DOSEN PENGAJAR :
Kelompok 10
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR………………………………………………………………………….
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………...
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang………………………………………………………………………….
1.2 Rumusan Masalah………………………………………………………………………
1.3 Tujuan …………………………………………………………………………………..
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Definisi…………………………………………………………………………………
2.2.
Etiologi…………………………………………………………………………………
2.3. Cara
Penularan…………………………………………………………………………
2.4.
Patofisiologi……………………………………………………………………………
2.5. Menifestasi
Klinis……………………………………………………………………...
2.6.
Komplikasi……………………………………………………………………………..
2.7. Pemeriksaan
Penunjang………………………………………………………………..
2.8.
Penatalaksanaan………………………………………………………………………..
BAB III LAPORAN KASUS
3.1.
Pengkajian……………………………………………………………………………..
3.2. Diagnosis
Keperawatan………………………………………………………………..
3.3. Asuhan
Keperawatan…………………………………………………………………...
3.4. Catatan
Perkembangan………………………………………………………………....
BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Tahapan
Pengkajian…………………………………………………………………….
4.2. Tahapan Diagnosis
Keperawatan………………………………………………………
4.3. Tahapan
Perencanaan…………………………………………………………………..
4.4. Tahapan
Implementasi………………………………………………………………….
4.5. Tahapan
Evaluasi……………………………………………………………………….
BAB V PENUTUP
5.1.
Kesimpulan……………………………………………………………………………..
5.2. Saran……………………………………………………………………………
……….
DAFTAR ISI
Daftar Pustaka…………………………………………………………………………………
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan suatu.
syndrome/kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh Retrovirus yang menyerang
sistem kekebalan atau pertahanan tubuh. Dengan rusaknya sistem kekebalan tubuh, maka
orang yang terinfeksi mudah diserang penyakit- penyakit lain yang berakibat fatal, yang
dikenal dengan infeksi oportunistik. Diperkirakan bahwa, untuk waktu mendatang yang
dapat diduga, sedikitnya 500.000 bayi akan terlahir terinfeksi HIV setiap tahun,
kebanyakan dalam negara penghasilan rendah dengan epidemi generalized. Penularan
HIV dari ibu-ke-bayi bertanggung jawab untuk hampir semua 2,3 juta (1,7-3,5 juta) anak
di bawah usia 15 tahun yang diperkirakan hidup dengan HIV, hampir 90 persen di Afrika
sub-Sahara. Diperkirakan bahwa, dari anak tersebut, 780.000 membutuhkan terapi
antiretroviral (ART), dan bahwa, pada 2006, 380.000 anak di bawah usia 15 tahun
meninggal karena alasan terkait AIDS. Walaupun ada peningkatan 40 persen dalam
jumlah anak yang menerima ART pada 2006, hanya 6 persen orang yang memakai ART
secara global adalah anak, sementara 14 persen mereka yang membutuhkan ART adalah
anak. Program nasional yang mampu melaporkan berdasarkan usia menunjukkan bahwa
sangat sedikit anak yang mendapatkan ART adalah di bawah usia 2 tahun.
ART dan pengobatan untuk infeksi oportunistik yang terjangkau semakin
tersedia tetapi hal ini memberi sedikit manfaat pada bayi bila mereka tidak dapat
didiagnosis secara dini. Kebanyakan anak yang terinfeksi HIV meninggal di bawah usia 2
tahun dan kurang lebih 33 persen meninggal di bawah usia 1 tahun [3-5]. Sayangnya
menafsirkan hasil dari tes darah (antibodi) dipakai untuk orang dewasa yang tersedia
paling luas adalah sulit untuk bayi di bawah usia 9-12 bulan. Hasil antibodi-negatif
memberi kesan bahwa bayi tidak terinfeksi. Hasil antibodi-positif tidak memastikan bayi
terinfeksi karena antibodi ibu pada anak yang terlahir oleh ibu terinfkesi HIV dapat
ditahan, oleh karena itu, tes virologis adalah cara yang dibutuhkan untuk mendiagnsosis
HIV pada bayi. Penyusuan, walau terkait dengan ketahanan hidup yang lebih baik,
menempatkan bayi dalam risiko tertular HIV selama masa penyusuan, walau bayi tidak
terinfeksi pada awal.
1.3 TUJUAN
1. Menjelaskan pengertian HIV/AIDS itu.
2. Menjelaskan Etiologi HIV/AIDS.
3. Menjelaskan penularan HIV/AIDS.
4. Menjelaskan tanda dan gejala HIV/AIDS.
5. Cara pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Definisi
AIDS adalah penyakit yang berat yang ditandai dengan kerusakan imunitas seluler
yang disebabkan oleh retrovirus (HIV) atau penyakit fatal secara secara keseluruhan dimana
kebanyakan pasien memerlukan perawatan medis dan pelayanan canggih selama perjalanan
penyakit. AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah kumpulan gejala penyakit
akibatnya menurunnya sistem kekebalan tubuh secara bertahap yang disebabkan oleh infeksi
Human Immunodeficiency virus (HIV).
Jadi HIV adalah infeksi virus yang secara progresif menghancurkan sel-sel. sel darah
putih Infeksi oleh HIV biasanya berakibat pada kerusakan sistem kekebalan tubuh secara
progresif, menyebabkan terjadinya infeksi oportunistik dan kanker tertentu (terutama pada
orang dewasa).
2.2. Eiologi
Penyebab penyakit AIDS adalah HIV yaitu virus yang masuk dalam kelompok
retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan tubuh manusia.
Penyakit ini dapat ditularkan melalui penularan seksual, kontaminasi patogen di dalam darah,
dan penularan masa perinatal.
1. aktor risiko untuk tertular HIV pada bayi dan anak adalah:
a. bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan biseksual
b. bayi yang lahir dari ibu dengan pasangan berganti
c. bayi yang lahir dari ibu atau pasangannya penyalahguna obat intravena
d. bayi atau anak yang mendapat transfusi darah atau produk darah berulang
e. anak yang terpapar pada infeksi HIV dari kekerasan seksual (perlakuan salah
seksual) dan
f. anak remaja dengan hubungan seksual berganti-ganti pasangan.
Dari ibu kepada anak dalam kandungannya (antepartum) Ibu hamil yang terinfeksi
HIV dapat menularkan virus tersebut ke bayi yang dikandungnya. Cara transmisi ini
dinamakan juga transmisi secara vertikal. Transmisi dapat terjadi melalui plasenta
(intrauterin) intrapartum, yaitu pada waktu bayi terpapar dengan darah ibu.
b. Selama persalinan (intrapartum)
Selama persalinan bayi dapat tertular darah atau cairan servikovaginal yang
mengandung HIV melalui paparan trakeobronkial atau tertelan pada jalan lahir.
c. Bayi baru lahir terpajan oleh cairan tubuh ibu yang terinfeksi
Pada ibu yang terinfeksi HIV, ditemukan virus pada cairan vagina 21%, cairan
aspirasi lambung pada bayi yang dilahirkan. Besarnya paparan pada jalan lahir sangat
dipengaruhi dengan adanya kadar HIV pada cairan vagina ibu, cara persalinan, ulkus serviks
atau vagina, perlukaan dinding vagina, infeksi cairan ketuban, ketuban pecah dini, persalinan
prematur. penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forsep,
episiotomi dan rendahnya kadar CD4 pada ibu.
Ketuban pecah lebih dari 4 jam sebelum persalinan akan meningkatkan resiko.
transmisi antepartum sampai dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari 4
jam sebelum persalinan.
d. Bayi tertular melalui pemberian ASI
Transmisi pasca persalinan sering terjadi melalui pemberian ASI (Air susu ibu). ASI
diketahui banyak mengandung HIV dalam jumlah cukup banyak. Konsentrasi median sel
yang terinfeksi HIV pada ibu yang tenderita HIV adalah 1 per 10 4 sel, partikel virus ini
dapat ditemukan pada componen sel dan non sel ASI. Berbagai factor yang dapat
mempengaruhi resiko tranmisi HIV melalui ASI antara lain mastitis atau luka di puting, lesi
di mucosa mulut bayi, prematuritas dan respon imun bayi. Penularan HIV melalui ASI
diketahui merupakan faktor penting penularan paska persalinan dan meningkatkan resiko
tranmisi dua kali lipat.
2.4. Patofisiologi
HIV secara khusus menginfeksi limfosit dengan antigen permukaan CD4, yang
bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup limfosit penolong dengan
peran kritis dalam mempertahankan responsivitas imun, juga meperlihatkan pengurangan
bertahap bersamaan dengan perkembangan penyakit. Mekanisme infeksi HIV yang
menyebabkan penurunan sel CD4. HIV secara istimewa menginfeksi limfosit dengan antigen
permukaan CD4, yang bekerja sebagai reseptor viral. Subset limfosit ini, yang mencakup
linfosit penolong dengan peran kritis dalam mempertahankan responsivitas imun, juga
memperlihatkan pengurangan bertahap bersamaan dengan perkembangan penyakit.
Mekanisme infeksi HIV yang menyebabkan penurunan sel CD4 ini tidak pasti,
meskipun kemungkinan mencakup infeksi litik sel CD4 itu sendiri; induksi apoptosis melalui
antigen viral, yang dapat bekerja sebagai superantigen; penghancuran sel yang terinfeksi
melalui mekanisme imun antiviral penjamu dan kematian atau disfungsi precursor limfosit
atau sel asesorius pada timus dan kelenjar getah bening. HIV dapat menginfeksi jenis sel
selain limfosit.
Infeksi HIV pada monosit, tidak seperti infeksi pada limfosit CD4, tidak
menyebabkan kematian sel. Monosit yang terinfeksi dapat berperang sebagai reservoir virus
laten tetapi tidak dapat diinduksi, dan dapat membawa virus ke organ, terutama otak, dan
menetap di otak. Percobaan hibridisasi memperlihatkan asam nukleat viral pada sel-sel
kromafin mukosa usus, epitel glomerular dan tubular dan astroglia. Pada jaringan janin,
pemulihan virus yang paling konsisten adalah dari otak, hati, dan paru. Patologi terkait HIV
melibatkan banyak organ, meskipun sering sulit untuk mengetahui apakah kerusakan
terutama disebabkan oleh infeksi virus local atau komplikasi infeksi lain atau autoimun.
Infeksi HIV biasanya secara klinis tidak bergejala saat terakhir, meskipun priode
inkubasi atau interval sebelum muncul gejala infeksi HIV, secara umum lebih singkat pada
infeksi perinatal dibandingkan pada infeksi HIV dewasa. Selama fase ini, gangguan regulasi
imun sering tampak pada saat tes, terutama berkenaan dengan fungsi sel B:
hipergameglobulinemia dengan produksi antibody nonfungsional lebih universal diantara
anak-anak yang terinfeksi HIV dari pada dewasa, sering meningkat pada usia 3 sampai 6
bulan.
Ketidakmampuan untuk berespon terhadap antigen baru ini dengan produksi
imunoglobulin secara klinis mempengaruhi bayi tanpa pajanan antigen sebelumnya,
berperang pada infeksi dan keparahan infeksi bakteri yang lebih berat pada infeksi HIV
pediatrik. Deplesi limfosit CD4 sering merupakan temuan lanjutan, dan mungkin tidak
berkorelasi dengan status simtomatik. Bayi dan anak-anak dengan infeksi HIV sering
memiliki jumlah limfosit yang normal, dan 15% pasien dengan AIDS periatrik mungkin
memiliki resiko limfosit CD4 terhadap CDS yang normal. Panjamu yang berkembang untuk
beberapa alasan menderita imunopatologi yang berbeda dengan dewasa, dan kerentanan
perkembangan system saraf pusat menerangkan frekuensi relatif ensefalopati yang terjadi
pada infeksi HIV anak.
2.6. Komplikasi
1 Lesi lisan
Karena kandidia, herpes simplek, sarkoma Kaposi, HPV oral, gingivitis, peridonitis
Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi, dehidrasi, penurunan berat
badan, keletihan dan cacat. Kandidiasis lisan ditandai oleh bercak-bercak putih misalnya krim
dalam rongga mulut. Jika tidak diobati, kandidiasis oral akan terus mengeni kerongkongan
dan
lambung. Tanda dan gejala yang meliputi keluhan menelan yang sulit dan rasa sakit di balik
tulang dada (nyeri retrosternal).
2 Neurologik
a) ensefalopati HIV atau disebut juga sebagai kompleks dimensia AIDS (ADC; AIDS
demensia kompleks). Manifestasi dini mencakup gangguan daya ingat, sakit kepala,
kesulitan berkonsentrasi, kebingungan progresif, perlambatan psikomotorik, apatis
dan ataksia. stadion lanjut mencakup gangguan kognitif global, kelambatan dalam
respon verbal, gangguan efektif seperti pandangan yang kosong, hiperefleksi
paraparesis spastik, psikosis, halusinasi, tremor, inkontinensia, dan kematian.
b) Meningitis kriptokokus ditandai dengan gejala seperti demam, sakit kepala, malaise,
kaku kuduk, mual, muntah, perubahan status mental dan kejang-kejang diagnosis
ditegakkan dengan analisa cairan serebospinal.
3 Saluran pencernaan
a) Wasting syndrome kini diikutsertakan dalam definisi kasus yang diperbarui untuk
penyakit AIDS. Kriteria diagnostiknya mencakup penurunan BB 10% dari BB awal,
diare yang kronis selama lebih dari 30 hari atau kelemahan yang kronis, dan demam
yang kambuhan atau menetap tanpa adanya penyakit lain yang dapat menjelaskan
gejala ini.
b) Diare karena bakteri dan virus, pertumbuhan cepat flora normal, limpoma, dan
sarcoma Kaposi. Dengan efek, penurunan berat badan, anoreksia, demam,
malabsorbsi, dan dehidrasi.
c) Hepatitis karena bakteri dan virus, limpoma, sarcoma Kaposi, obat ilegal, alkoholik.
Dengan anoreksia, mual muntah, nyeri perut, ikterik dan dernam atritis.
d) Penyakit Anorektal karena abses dan fistula, ulkus dan inflamasi perianal yang
diakibatkannya infeksi, dengan efek inflamasi sulit dan sakit, nyeri rektal, gatal-gatal
dan diare.
4 Respirasi Karinii Pneumokistik. Gejala nafas yang pendek, sesak nafas (dispnea),
batuk-batuk, nyeri dada, hipoksia, keletihan dan demam akan menyertai peluang
infeksi.
5 Dermatologik
Lesi kulit stafilokokus virus herpes simpleks dan zoster, dermatitis karena xerosis,
reaksi otot, lesi scabies/tuma, dan dekobitus dengan efek nyeri, gatal, rasa terbakar, infeksi
sekunder dan sepsis. Peluang infeksi seperti herpes zoster dan herpes simpleks akan disertai
dengan terbentuknya vesikel yang ny eri dan merusak keutuhan kulit.
moluskum kontangiosum merupakan infeksi virus yang ditandai dengan
terbentuknya plak yang disertai deformitas, dermatitis sosoreika akan disertai ruam yang
menyebar, bersisik dengan indurasi yang mengenai kulit kepala serta wajah penderita AIDS
juga dapat menampilkan folikulitis menyeluruh yang disertai dengan kulit yang kering dan
mengelupas atau dengan dermatitis atopik seperti eksim dan psoriasis.
6. Sensorik
a) Pandangan: Sarkoma Kaposi pada konjungtiva atau kelopak mata retinitis
sitomegalovirus berefek kebutaan.
b) Pendengaran otitis eksternal akut dan otitis media, kehilangan pendengaran dengan
efek nyeri yang berhubungan dengan mielopati, meningitis, sitomegalovirus dan
reaksi-reaksi obat.
2.8. Penatalaksanaan
1 Perawatan
perawatan pada anak yang terinfeksi HIV antara lain
a) Suportif dengan cara mengusahakan agar gizi cukup, hidup sehat dan mencegah
kemungkinan terjadi infeksi.
b) Menanggulangi infeksi oportunistik atau infeksi lain serta keganasan yang ada.
c) Menghambat replikasi HIV dengan obat antivirus seperti golongan dideosinukleotid,
yaitu azidomitidin (AZT) yang dapat menghambat enzim RT dengan berintegrasi ke
virus DNA, sehingga tidak terjadi transkripsi DNA HIV.
d) Mengatasi dampak psikososial.
e) Konseling pada keluarga tentang cara penularan HIV, perjalanan penyakit, dan
prosedur
yang dilakukan oleh tenaga medis.
f) Dalam menangani pasien HIV dan AIDS tenaga kesehatan harus selalu
memperhatikan perlindungan universal (kewaspadaan universal).
2 Pengobatan
a Pengobatan medikamentosa meliputi pemberian obat-obat profilaksis infeksi
oportunistik yang tingkat morbiditas dan mortalitasnya tinggi. Riset yang luas telah
dilakukan dan Menunjukkan kesimpulan rekomendasi pemberian kotrimoksasol pada
penderita HIV yang berusia kurang dari 12 bulan dan tidak ada yang memiliki kadar
CD4 < 15% hingga dipastikan bahaya infeksi pneumonia akibat parasit Pneumocystis
jiroveci Dihindari. Pemberian Isoniazid (INH) sebagai profilaksis penyakit TBC pada
penderita HIV masih diperdebatkan. Kalangan yang setuju menyatakan langkah ini
bermanfaat untuk menghindari penyakit TBC yang berat, dan harus dibuktikan
dengan metode diagnosa yang tangan. Kalangan yang menolak berasumsi bahwa di
negara endemis TBC, kemungkinan infeksinya TBC alami sudah terjadi. Langkah
diagnosis perlu dilakukan untuk menetapkan kasus mana yang memerlukan
pengobatan dan yang tidak.
b Obat profilaksis lainnya adalah preparat nistatin untuk antikandida, pirimetamin untuk
toksoplasma, preparat sulfa untuk malaria, dan obat lain yang diberikan sesuai kondisi
klinis yang ditemukan pada penderita.
c Pengobatan penting adalah pemberian antiretrovirus atau ARV. Riset mengenai obat
ARV terjadi sangat pesat, meskipun belum ada yang mampu mengeradikasi virus
dalam bentuk Proviral DNA pada stadium dorman di sel memori CD4. Pengobatan
infeksi HIV dan AIDS sekarang menggunakan paling tidak 3 kelas anti virus, dengan
sasaran molekul virus dimana tidak ada manusia yang homolog. Obat
pertamaditemukan pada tahun 1990, yaitu Azidothymidine (AZT) suatu nukleosid
analog deoksitimidin yang bekerja pada tahap penghambatan kerja enzim
transkriptase riveri. Bila obat ini digunakan sendiri, secara bermakna dapat
mengurangi kadar RNA plasma HIV selama beberapa bulan atau tahun. Biasanya
progresivitas penyakti HIV tidak terpengaruh oleh pemakaian AZT, karena pada
jangka virus panjang HIV berevolusi membentuk mutan yang resisten terhadap obat.
3 Pencegahan
Penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui:
a Saat hamil. Penggunaan antiretroviral selama kehamilan yang bertujuan agar beban
vital rendah sehingga jumlah virus yang ada di dalam darah dan cairan tubuh kurang
efektif menularkan HIV.
b Saat melahirkan. Penggunaan antiretroviral ( Nevirapine) saat persalinan dan bayi
baru kelahiran dan persalinan sebaiknya dilakukan dengan metode sectionio caesar
karena terbukti.
c mengurangi risiko penularan sebanyak 80%.
d Setelah lahir. Informasi yang lengkap kepada ibu tentang risiko dan manfaat ASI.
BAB III
LAPORAN KASUS
3.1. Pengkajian
I. Identitas Klien :
Nama/nama panggilan : An. A.
Tempat tanggal lahir/usia : Poasia, 27 Mei 2005/ 6 bulan 8 hari
Jenis Kelamin : Laki-laki
Agama : Islam
Pendidikan :-
Alamat : BTN Kendari Permai Blok J No.14
Tanggal masuk : 18 Mei 2011
Tanggal pengkajian : 19 Mei 2011
Diagnosa Medik : HIV-AIDS
[Link] Imunisasi
No Jenis Imunisasi Waktu Pemberian Reaksi setelah
Pemberian
1 BCG 1 bulan Demam
2 DPT Lupa Demam
3 Polio - -
4 Campak - -
5 Hepatitis Lupa Lupa
Aktivitas Sehari-hari
a. Nutrisi
No Kondisi Sebelum sakit Saat Sakit
1 Keinginan menyusu Baik Kurang
2 Frekuensi menyusu 7 kali Tidak pernah
b. Cairan
No Kondisi Sebelum sakit Saat Sakit
1 Jenis minuman Asi Tidak ada
2 Frekuensi minum Setiap kali haus Sering
3 Kebutuhan Cairan Tidak diketahui Tergantung
4 Cara pemberian Asi Infus
3.2 Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan umum klien : Lemah, gelisah dan batuk sesak
Ekspresi wajah biasa kadang tersenyum dan cengeng bila diajak bermain.
Berpakaian bersih karena selalu dijaga oleh ibunya.
b. Tanda-tanda vital:
Suhu : 38,5 º C
Nadi : 120x/m
Pernafasan : 28x / m
TD : 95/60 mmHg
c. Antropometri
- Panjang badan : 50 cm
- Berat badan : 5 kg
- Lingkaran lengan atas : tidak dikaji
- lingkaran kepala : tidak dikaji
- lingkaran dada : tidak di kaji
- Lingkaran perut : tidak dikaji
- Skin fold : tidak dikaj
d. Head To Toe
Kulit :
Pucat dan turgo kulit jelek dipenuhi dengan bercak-bercak dan gatal
Kepal dan leher :
I: Normal tidak ada kerontokan rambut, warna hitam dan tidak ada
Peradangan.
P: Normal, tidak ada benjolan dikepala
P: -
A: -
Kuku : Jari tabuh
Mata / penglihatan :
Sklera pucat dan nampak kelopak mata cekung
Hidung :
Tidak ada Peradangan, tidak ada reaksi alergi, tidak ada polip, dan fxungsi penciuman
normal
Telinga :
Bentuk simetris kanan/kiri, tidak ada peradangan, tidak ada perdarahan
Mulut dan gigi
Terjadi peradangan pada rongga mulut dan mukosa, terjadi Peradangan dan perdarahan pada
gigi ,gangguan menelan(-), bibir dan mukosa mulut klien nampak kering dan bibir
pecahpecah
Leher: Terjadi peradangan pada eksofagus.
Dada :
I : Dada terlihat normal, Tidak ada kelainan gerakan dada
P: Terdapat nyeri tekan pada epigastrium, Tidak nampak adanya pembesaran hati
P: nada sonor
A: Tidak terdengar adanya bunyi nafas tambahan
Tidak ada retraksi dinding dada (+).
Abdomen :
I : Nampak normal, simetris kiri kanan
P: Turgor jelek ,tidak ada massa, terdapat nyeri tekan pada bagian
kanan bawah
P : Bunyi timpany (+). Kembung (-)
A: terdengar bunyi peningkatan peristaltic/ bising usus dan tidak ada krepitasi abdomen.
Perineum dan genitalia
Pada alat genital terdapat bintik-bintik radang
Ekstremitas : klien tidak mampu mengerakkan extremitas atas dan extremitas bawah tonus
otot
lemah akibat tidak ada energi karena diare dan proses penyakit
I: Bentuk kaki simetris, tidak terdapat gejala / tanda oedema. Jumlah
jari [Link] keterbatasan gerak ekstremitas bawah
P: Akral hangat, terdapat keterbatasan gerak ekstremitas atas.
P: reflek tendon kurang
A: -
e. Sistem Pernafasan
Hidung : Simetris, pernafasan cuping hidung : ada, secret : ada
Leher : Tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar limfe di sub mandibula.
Dada:
o Bentuk dada : Normal
o Perbandingan ukuran anterior-posterior dengan tranversal : 1 : 1
o Gerakan dada : simetris, tidak terdapat retraksi
o
Wh
Rh
Suara nafas : ronki
o Suara nafas tambahan : ronki
o Tidak ada clubbling finger
f. Sistem kardiovaskuler :
Conjungtiva : Tidak anemia, bibir : pucat/cyanosis, arteri carotis : berisi reguler , tekanan
vena
jugularis : tidak meninggi
Ukuran Jantung : tidak ada pembesaran
Suara jantung : Tidak ada bunyi abnormal
Capillary refilling time > 2 detik
g. Sistem pencernaan:
Mulut : terjadi peradangan pada mukosa mulut
Abdomen : distensi abdomen, peristaltic meningkat > 25x/mnt akibat adanya virus yang
menyerang usus
Gaster : nafsu makan menurun, mules, mual muntah, minum normal,
Anus : terdapat bintik dan meradang gatal
h. Sistem indra
1. Mata : agak cekung
2. Hidung : Penciuman kurang baik,
3. Telinga
o Keadaan daun telinga : kanal auditorius kurang bersih akibat benyebaran penyakit
o Fungsi pendengaran kesan baik
i. Sistem Saraf
2. Fungsi serebral:
Status mental : Orientasi masih tergantung orang tua
Bicara : -
Kesadaran : Eyes (membuka mata spontan) = 4, motorik (bergerak mengikuti perintah) =
6,
verbal (bicara normal) = 5
3. Fungsi kranial :
Saat pemeriksaan tidak ditemukan tanda-tanda kelainan dari Nervus I – Nervus XII.
4. Fungsi motorik : Klien nampak lemah, seluruh aktifitasnya dibantu oleh orang tua
5. Fungsi sensorik : suhu, nyeri, getaran, posisi, diskriminasi (terkesan terganggu)
6. Fungsi cerebellum : Koordinasi, keseimbangan kesan normal
7. Refleks : bisip, trisep, patela dan babinski terkesan normal.
j. Sistem Muskulo Skeletal
1. Kepala : Betuk kurang baik, sedikit nyeri
2. Vertebrae: Tidak ditemukan skoliosis, lordosis, kiposis, ROM pasif, klien malas bergerak,
aktifitas utama klien adalah berbaring di tempat tidur.
3. Lutut : tidak bengkak, tidak kaku, gerakan aktif, kemampuan jalan baik
4. Tangan tidak bengkak, gerakan dan ROM aktif
k. Sistem integumen
warna kulit pucat dan terdapat bintik-bintik dengan gatal, turgor menurun > 2 dt,
suhu meningkat 39 derajat celsius, akral hangat, akral dingin (waspada syok), capillary
refill
time memajang > 2 dt, kemerahan pada daerah perianal.
l. Sistem endokrin
Kelenjar tiroid tidak nampak, teraba tidak ada pembesaran
Suhu tubuh tidak tetap, keringat normal,
Tidak ada riwayat diabetes
m. Sistem Perkemihan
Urin produksi oliguria sampai anuria (200-400 ml/24 jam), frekuensi berkurang.
Tidak ditemukan odema
Tidak ditemukan adanya nokturia, disuria , dan kencing batu
n. Sistem Reproduksi
Alat genetalia termasuk glans penis dan orificium uretra eksterna merah dan gatal
o. Sistem Imun
Klien tidak ada riwayat alergi
Imunisasi lengkap
Penyakit yang berhubungan dengan perubahan cuaca tidak ada
Riwayat transfusi darah tidak ada
Nadi : 120x/m
Pernafasan : 28x / m
TD : 95/60 mmHg
Penumpukan sekret
Batuk
inefektif
2 DS : Hipertermi
o Ibu klien mangatakan Kuman
anaknya demam terus- mengeluarkan
menerus endotoksin
DO :
Klien nampak teraba panas
0
dengan suhu 38,5 C,
Nadi : 120x/m, P : Merangsang
28x / m dn TD : 95/60 pengeluaran zat
mmHg pirogen oleh
leukosit pada
jaringan yg
meradang
prostaglandin
E2 (pirogen leukosi
& pirogen endokrin
Mencapai
hipotalamus (set
point)
3 DS : Perubahan nutrisi
kandidiasis
o ibu klien mengatakan, kurang dari
klien tidak mau kebutuhan tubuh
makan/malas makan
Lesi oral
o Ibu klien mengatakan
anaknya susah menelan
akibat luka-luka pada
mulutnya
DO : Ketidakmampuan
5 DS :
o Kerusakan
Ibu klien mengatakan integritas
kulit
muncul bercak-bercak di
tubuh anaknya
o
DO :
Nampak terlihat bercak-
bercak dan klien selalu
menangis menggaruk
badannya yang gatal
6 DS :
o Cemas
Keluarga
klien mengatakan
sangat khawatir
dengan kondisi anaknya,
Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret
2. Hipertermi berhubungan dengan pelepasan pyrogen dari hipotalamus sekunder
terhadap reaksi antigen dan antibody
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kekambuhan penyakit, diare, kehilangan nafsu makan, kandidiasis oral
4. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan dermatitis seboroik dan
herpers zoster sekunder proses inflamasi system integument
5. Kecemas berhubungan dengan perubahan kesehatan yang diderita klien
BAB V
PEMBAHASAN
[Link] Klien
[Link] Utama : Orangtua klien mengeluhkan bayinya mengalami diare disertai dengn
demam
[Link] Kesehatan
Riwayat Kesehatan Dahulu : Pasien Anak dengan umur 0-5 tahun Dengan
Prenatal care dan ibunya sebelumnya melakukan pemeriksaan kehamilan yang
ke 3 kalinya kedokter lalu keluhan Selma hamil dan mengandung merasakan
demam serta lemas kenaikan berat badan selama kehamilan 2kg serta
melaukukan imunisasi 2 kali
Riwayat kesehatan sekarang : Diare dirasakan sejak 3 hari yang lalu. Mula-
mula intensitas BAB kurang, dan sejak 2 hari
yang lalu diare semakin parah diserta dengan demam, terdapat bercak dan gatal
pada kulit, diare diikuti dengan batuk, sesak dan klien tidak mau menyusui
dengan alasan orang tua klien membawa klien ke RS untuk dilakukan pemeriksan
4.2 Tahapan Diagnosa Keperawatan
Pasien mengalami batuk terus dan terasa gelisah serta nafas terasa sesak.b/d
jalan nafas tidak efektif .
No Intervensi Rasional
1. Dx : Bersihan jalan nafas :sulit Menganjurkan pasien untuk batuk lebih
bernafas b.d penumpukan secret dalam untuk melakukan tindakan
Tujuan : Bersihan jalan nafas dan tidak Menghilakan rasa gatal pada area
ada penumpukan secret tenggorakan dan memposisikan semi fowler
KH: Wajah pasien tampak pucat dan Berikan obat batuk sesuai anjuran dokter
lemas
Alihkan pasien dalam kolaborasi
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
AIDS adalah penyakit yang berat yang ditandai oleh kerusakan imunitas seluler
yang disebabkan oleh retrovirus (HIV) atau penyakit fatal secara keseluruhan dimana
kebanyakan pasien memerlukan perawatan medis dan keperawatan canggih selama
perjalanan penyakit.
Penyebab penyakit AIDS adalah HIV yaitu virus yang masuk dalam kelompok
retrovirus yang biasanya menyerang organ-organ vital sistem kekebalan tubuh manusia.
Penyakit ini dapat ditularkan melalui penularan seksual, kontaminasi patogen di dalam darah,
dan penularan masa perinatal. Manifestasi klinis lainnya yang sering ditemukan pada anak
adalah pneumonia interstistalis limfositik, yaitu kelainan yang mungkin langsung disebabkan
oleh HIV pada jaringan paru.
Komplikasi Oral Lesi: Karena kandidia, herpes simplek, sarcoma Kaposi, HPV oral,
gingivitis, peridonitis Human Immunodeficiency Virus (HIV), leukoplakia oral, nutrisi,
dehidrasi, penurunan berat badan, keletihan dan cacat. Pemeriksaan penunjang seperti: Tes
untuk, diagnose infeksi HIV
1. ELISA, latex agglutination
2. Western blot (positif)
3. Tes antigen P 24 (polymerase chain reaction) atau PCR
4. Kultur HIV
5.2 SARAN
1. Memberikan support kepada penderita HIV agar tidak putus asa dalam menjalani
hidup.
2. Mencegah penyebaran HIV dengan pemerikasaan kesehatan keluarga dan anak secara
rutin.
3. Dan kita sebagai perawat terus memberikan asuhan keperawatan kepada penderita
agar cepat sembuh dalam pengobatan.
DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn, dkk, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan
dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa: 1 Made Kariasa dan Ni Made
S, EGC, Jakarta
Administrator. 2010. Pencegahan dan Penatalaksanaan Infeksi HIV (AIDS) pada kehamilan
[Link] Lamongan