TUGAS 2
HAK ASASI MANUSIA
(PKNI 4317)
Nama Mahasiswa : ATIN RISNAWATI
Program Studi : PGSD
NIM : 859907055
UPBJJ : BANDAR LAMPUNG
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
FKIP UNIVERSITAS TERBUKA
TAHUN 2024
SOAL
1. Hubungan antara hukum dan HAM, dimaksud setiap negara yang menghormati HAM
merupakan negara hukum dalam arti materiil atau substansial. Apa maksudnya? Jelaskan
argumen saudara!
2. Dinamika perkembangan HAM baik dalam ranah internasional dan nasional merupakan
perjalanan penting bagaimana HAM ditegakkan dan diterima sebagai perlindungan bagi
setiap individu diseluruh dunia tanpa terkecuali. Jelaskan perkembangan HAM yang anda
ketahui di beberapa negara di dunia!
3. Reformasi konstitusi khususnya mengenai HAM menegaskan secara eksplisit bahwa
Indonesia adalah negara hukum. Di dalamnya diatur pengakuan terhadap prinsip
supremasi hukum dan konstitusi serta adanya jaminan-jaminan hak asasi manusia.
Jelaskan pendapat saudara!
4. Penyelesaian kasus atau sebuah pelanggaran internasional hingga pada proses pengadilan
yaitu melalui beberapa tahapan. Tahapan ini harus diikuti oleh pihak-pihak yang terlibat
dalam peradilan HAM Internasional. Demikian juga, Beberapa pihak berhak
mengadukan kasus pelanggaran HAM internasional. Pihak-pihak mana yang dianggap
memiliki hak? Jelaskan pendapat saudara!
5. Indonesia telah banyak menetapkan peraturan perundangan yang berspektif HAM dan
dilakukan ratifikasi instrumen HAM internasional yaitu berupa undang-undang,
keputusan dan instruksi presiden. Salah satunya adalah ratifikasi Undang-undang
perlindungan untuk anak. Undang-undang apa saja yang memberi perlindungan anak?
Bagaimana isi Undang-undang ini mengatur?
JAWABAN
1. Negara hukum adalah konsep negara yang didasarkan pada supremasi hukum untuk
mengatur kehidupan masyarakat. Dalam negara hukum materiil atau substansial, hukum
tidak hanya dilihat dari sisi prosedural (formalitas penerapan hukum), tetapi juga
memperhatikan keadilan, moralitas, dan perlindungan hak asasi manusia (HAM). Artinya,
hukum tidak hanya menjadi alat untuk menegakkan aturan, tetapi juga memastikan
perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia.
Maksudnya negara hukum substansial menjamin bahwa setiap aturan hukum yang dibuat
dan diterapkan harus mengandung nilai keadilan dan perlindungan terhadap HAM. Negara
yang menghormati HAM memastikan bahwa hukum yang diberlakukan tidak diskriminatif,
melindungi martabat manusia, serta mengutamakan prinsip kemanusiaan.
Hukum menjadi alat untuk melindungi hak asasi manusia dari tindakan sewenang-
wenang, baik oleh individu, kelompok, maupun negara itu sendiri. Negara hukum substansial
bertanggung jawab melindungi HAM melalui peraturan perundang-undangan dan penerapan
hukum yang adil.
Negara-negara seperti Indonesia yang mengatur HAM dalam konstitusi (Bab XA UUD
1945) atau negara-negara Uni Eropa yang memiliki European Convention on Human Rights
(ECHR) menunjukkan bahwa penghormatan terhadap HAM adalah inti dari negara hukum
substansial.
Dalam negara hukum substansial, hukum tidak hanya fokus pada legalitas (apakah
tindakan sesuai hukum), tetapi juga mempertimbangkan legitimasi moral dan keadilan
(apakah hukum tersebut adil dan sesuai dengan nilai-nilai HAM).
2. Dinamika Perkembangan HAM di Dunia. Hak Asasi Manusia (HAM) berkembang sebagai
respons terhadap berbagai pelanggaran, penindasan, dan ketidakadilan yang dialami individu
di seluruh dunia. Perkembangannya mencerminkan perjalanan panjang menuju pengakuan
martabat dan hak dasar manusia yang berlaku universal. Berikut adalah penjelasan tentang
perkembangan HAM di beberapa negara:
a. Perkembangan HAM di Ranah Internasional
1) Era Awal
HAM secara formal mulai dibahas dalam dokumen sejarah seperti Magna Carta
(1215) di Inggris, yang memberikan pembatasan kekuasaan raja dan melindungi
hak dasar bangsawan.
Selanjutnya, Revolusi Amerika (1776) dan Revolusi Prancis (1789) menghasilkan
dokumen penting seperti Declaration of Independence dan Déclaration des
Droits de l'Homme et du Citoyen (Deklarasi Hak Asasi Manusia dan Warga
Negara), yang menegaskan kebebasan dan kesetaraan individu.
2) Pasca Perang Dunia II
Setelah Perang Dunia II, pelanggaran HAM masif seperti Holocaust memicu
pembentukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1945.
PBB mengesahkan Universal Declaration of Human Rights (UDHR) pada tahun
1948 sebagai dokumen HAM global pertama yang mengakui hak-hak dasar setiap
individu tanpa diskriminasi.
Pembentukan konvensi-konvensi HAM lainnya, seperti International Covenant
on Civil and Political Rights (ICCPR) dan International Covenant on Economic,
Social, and Cultural Rights (ICESCR), memperluas cakupan HAM internasional.
b. Perkembangan HAM di Beberapa Negara
1) Amerika Serikat
Di AS, perjuangan HAM mencapai puncaknya pada era Civil Rights Movement
(1950-1960-an) yang dipimpin oleh tokoh seperti Martin Luther King Jr.
Undang-Undang Civil Rights Act 1964 melarang diskriminasi berdasarkan ras,
agama, jenis kelamin, atau asal negara.
2) Afrika Selatan
Afrika Selatan mengalami perubahan besar setelah berakhirnya sistem apartheid
pada tahun 1994.
Konstitusi 1996 Afrika Selatan menjadi salah satu yang paling progresif di dunia,
memasukkan HAM seperti hak atas pendidikan, kesehatan, dan perlindungan
lingkungan.
3) Indonesia
Indonesia mulai mengakui HAM secara eksplisit pasca-reformasi 1998.
Bab XA UUD 1945 (Pasal 28A-28J) mengatur hak-hak dasar, seperti hak hidup,
kebebasan beragama, dan kebebasan dari diskriminasi.
Pemerintah Indonesia juga meratifikasi berbagai konvensi internasional, seperti
Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child) dan Konvensi Anti-
Penyiksaan (Convention Against Torture).
4) Uni Eropa
Uni Eropa mempromosikan HAM melalui Charter of Fundamental Rights of the
European Union (2000).
Negara-negara anggota wajib mematuhi standar HAM tinggi, seperti kebebasan
pers dan perlindungan privasi.
c. Tantangan dan Harapan
Meski perkembangan HAM signifikan, tantangan tetap ada, seperti:
Krisis Pengungsi. Contohnya adalah Konflik di Suriah dan Afghanistan yang memicu
pelanggaran HAM terhadap jutaan pengungsi.
Kebebasan Berpendapat. Beberapa negara membatasi kebebasan berbicara melalui
undang-undang represif.
Ketimpangan Gender. Di beberapa wilayah, perempuan masih menghadapi
diskriminasi, seperti larangan pendidikan dan pekerjaan.
Dalam hal ini, harapan juga tetap ada, seperti:
HAM terus diperjuangkan agar diterima secara universal melalui kolaborasi
internasional, pendidikan, dan penguatan lembaga perlindungan HAM.
3. ssss
REFERENSI
Harkristuti Harkrisnowo. Hukum Hak Asasi Manusia Internasional. (2006). Jakarta: Fakultas
Hukum Universitas Indonesia.
Jimly Asshiddiqie. Konstitusi dan Hak Asasi Manusia. (2011). Jakarta: RajaGrafindo Persada.
Jimly Asshiddiqie. Konstitusi dan Konstitusionalisme Indonesia. (2005). Jakarta: Konstitusi
Press.
Oemar Seno Adji. Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional. (1987).
Jakarta: Erlangga.
Philipus M. Hadjon. Perlindungan Hukum bagi Rakyat di Indonesia. (1987). Surabaya: Bina
Ilmu.