LAPORAN PENDAHULUAN
PASIEN DENGAN ASMA BRONKHIAL
DI RUANG CENDRAWASIH RSUD DR. M. HAULUSSY
Nama : Sanahu Devonta
NPM : 14201220207
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIkes)
MALUKU HUSADA
KAIRATU
2024
A. Definisi Asma Bronkial
Muttaqin (2008) mendefinisikan asma sebagai penyakit yang ditandai dengan
peningkatan respons saluran napas terhadap berbagai stimulus, mengakibatkan penyempitan
yang fluktuatif. Penderita asma bronkial, hipersensitif dan hiperaktif terhadap rangsangan
dari luar, seperti debu rumah, bulu binatang, asap, dan bahan lain penyebab alergi. Gejala
kemunculannya sangat mendadak, sehingga gangguan asma bisa datang secara tiba-tiba. Jika
tidak mendapatkan pertolongan secepatnya, resiko kematian bisa datang. Gangguan asma
bronkial juga bisa muncul lantaran adanya radang yang mengakibatkan penyempitan saluran
pernafasan bagian bawah. Penyempitan ini akibat berkerutnya otot polos saluran pernafasan,
pembengkakan selaput lendir, dan pembentukan timbunan lendir yang berlebih. (Nurarif &
Kusuma, 2015). Asma bronkial adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik
saluran nafas yang menyebabkan hiperaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan yang
ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak nafas dan rasa berat di
dada terutama pada malam dan atau dini hari yang umumnya bersifat reversibel baik dengan
atau tanpa pengobatan. Asma bersifat fluktuatif (hilang timbul) artinya dapat tenang tanpa
gejala tidak mengganggu aktivitas tetapi dapat eksaserbasi dengan gejala ringan sampai berat
bahkan dapat menimbulkan kematian (Nugroho.T , 2016).
Asma bronkial adalah suatu penyakit inflamasi kronis pada saluran napas yang
ditandai dengan peningkatan respons bronkus terhadap berbagai stimulus, yang menyebabkan
episode berulang berupa mengi, sesak napas, batuk, terutama pada malam atau dini hari, dan
dengan variasi gejala dari waktu ke waktu dan intensitas. (Global Initiative for Asthma,
GINA, 2021). Asma bronkial adalah suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakea
dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan
nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah baik secara spontan maupun hasil dari
pengobatan (Musliha, 2010).
B. Etiologi
Menurut (Soemantri, 2009) sampai saat ini etiologi asma belum diketahui dengan pasti, suatu
hal yang menonjol pada semua penderita asma adalah fenomena hiperaktivitas bronkus.
Bronkus penderita asma sangat peka terhadap rangsangan imunologi ataupun non-imunologi.
Oleh karena sifat inilah, maka serangan asma mudah terjasi ketika rangsangan baik fisik,
metabolik, kimia, alergen, infeksi, dan sebagainya. Penderita asma perlu mengetahui dan
sedapat mungkin menghindari rangsangan atau pencetus yang dapat menimbulkan asma.
Beberapa faktor yang dapat memicu serangan asma antara lain:
Alergen: Debu rumah, bulu hewan, serbuk sari, makanan tertentu.
Iritan: Asap rokok, polusi udara, bau menyengat.
Infeksi saluran napas: Flu, pilek.
Olahraga: Aktivitas fisik yang terlalu berat.
Perubahan cuaca: Udara dingin atau kering.
Stres: Emosi yang kuat
C. Manifestasi Klinis
Adapun manifestasi klinis yang ditimbulkan antara lain : mengi / wheezing, sesak nafas, dada
terasa tertekan atau sesak, batuk produktif, pilek, nyeri dada, takikardi, retraksi otot dada,
nafas cuping hidung, takipnea, kelelahan, lemah, anoreksia, sianosis, berkeringat, ekspirasi
memanjang dan gelisah.
D. Patofisiologi
Berbagai faktor seperti virus, bakteri, jamur, parasit, alergi, iritan, cuaca, kegiatan
jasmani dan psikis akan merangsang reaksi hiperreaktivitas bronkus dalam saluran pernafasan
sehingga merangsang sel plasma menghasilkan imunoglubulin E (IgE). IgE akan menempel
pada reseptor dinding sel mast, kemudian sel mast tersensitasi. Sel mast tersensitasi akan
mengalami degranulasi, sel mast yang mengalami degranulasi akan mengeluarkan sejumlah
mediator seperti histamin dan bradikinin. Mediator ini menyebabkan peningkatan
permeabilitas kapiler sehingga timbul edema mukosa, peningkatan produksi mukus dan
kontraksi otot polos bronkiolus. Penyempitan saluran napas akibat produksi lendir yang
berlebihan dan pembengkakan dinding saluran napas menghambat pertukaran gas oksigen
dan karbon dioksida. Hal ini menyebabkan penurunan kadar oksigen dalam darah
(hipoksemia) dan peningkatan kadar karbon dioksida (hiperkapnia), yang dapat memicu
gangguan keseimbangan asam basa dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan paru-paru tidak
dapat memenuhi fungsi primernya dalam pertukaran gas yaitu membuang karbondioksida
sehingga menyebabkan konsentrasi O2 dalam alveolus menurun dan terjadilah gangguan
difusi, dan akan berlanjut menjadi gangguan perfusi dimana oksigenasi ke jaringan tidak
memadai sehingga terjadi hipoksemia dan hipoksia yang akan menimbulkan berbagai
manifestasi klinis (Nugroho, T. 2016).
E. Pathways
Infeksi Merokok Polusi Alergen Genetik
Masuk Saluran Pernafasan
Iritasi Mukosa Saluran Pernafasan
Reaksi inflamasi
Hipertropi dan Hiperplasia Mukosa Bronkus
Metaplasia Sel Globet Produksi Sputum Meningkat
JALAN NAFAS TIDAK
EFEKTIF Penyempitan Saluran Pernafasan Batuk
Penurunan Ventilasi Obstruksi POTENSIAL TIDAK
EFEKTINYA JALAN
NAFAS
Suplly O2 Menurun Penyebaran Udara ke Alveolu
GANGGUAN PERTUKARAN
Vasokontriksi Pembuluh Darah GAS
Kelemahan
Paru-paru
INTOLERAN AKTIVITAS
Supply Oksigen Berkurang
Sesak Nafas
Kebutuhuhan Tidur Tidak Efektif
GANGGUAN ISTIRAHAT
TIDUR
F. Komplikasi
Jika tidak terkontrol dengan baik, asma bronkial dapat menyebabkan komplikasi seperti:
Serangan asma berat yang mengancam jiwa.
Kerusakan paru-paru dalam jangka panjang.
Gangguan tidur akibat sesak napas.
Penurunan kualitas hidup.
G. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk menegakkan diagnosis asma bronkial antara
lain:
Spirometri: Untuk mengukur fungsi paru.
Tes alergi: Untuk mengidentifikasi alergen penyebab asma.
Rontgen dada: Untuk menyingkirkan kemungkinan penyakit paru lainnya.
Pemeriksaan darah: Untuk menilai adanya infeksi atau peradangan.
H. Pengkajian
Lakukan pengkajian secara komprehensif terhadap pasien, meliputi:
o Riwayat kesehatan: riwayat penyakit, alergi, keluarga, obat-obatan, dll.
o Pemeriksaan fisik: tanda-tanda vital, pemeriksaan paru, dll.
o Data subjektif: keluhan utama pasien, tingkat keparahan gejala, dll.
I. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan 1: Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan
saluran napas
Diagnosa Keperawatan 2: Gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak napas dan
batuk
J. Rencana Tindakan Keperawatan (Minimal 3 Diagnosa)
Pola napas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan saluran napas
Tujuan Intervensi Rasional Metode Evaluasi
Keperawatan
Pasien dapat - Auskultasi suara Perubahan suara
mempertahankan napas setiap 4 jam: napas menjadi
pola napas yang Memantau lebih bersih,
efektif perubahan pada frekuensi
suara napas untuk pernapasan dalam
menilai efektivitas rentang normal,
terapi. <br> - pasien melaporkan
Monitor frekuensi peningkatan
pernapasan: kenyamanan saat
Mengetahui tingkat bernapas.
keparahan sesak
napas dan respon
terhadap terapi.
<br> - Ajarkan
teknik pernapasan
diafragma:
Meningkatkan
efisiensi
pernapasan dan
mengurangi kerja
otot pernapasan.
Pasien dapat - Posisikan pasien Mengurangi beban Pasien tidak
mengurangi semi fowler atau kerja jantung dan menggunakan otot
penggunaan otot fowler tinggi: meningkatkan bantu pernapasan,
bantu pernapasan Memudahkan oksigenasi. retraksi dada
pergerakan Meminimalkan berkurang.
diafragma dan retensi sekret yang
mengurangi kerja dapat
pernapasan. <br> - memperparah
Bantu pasien untuk obstruksi saluran
batuk efektif: napas.
Membantu
membersihkan
saluran napas dari
sekreta.
Pasien dapat - Demonstrasikan Meningkatkan Pasien dapat
menggunakan dan latih pasien efektivitas terapi menggunakan
inhaler dengan menggunakan bronkodilator dan inhaler dengan
benar inhaler: mengurangi gejala benar dan
Memastikan obat sesak napas. melaporkan
terhirup secara perbaikan gejala.
efektif dan
mencapai bronkus.
<br> - Pantau
efektivitas
penggunaan
inhaler:
Mengetahui respon
pasien terhadap
pengobatan.
Diagnosa Keperawatan 2: Gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak napas dan
batuk
Tujuan Intervensi Rasional Evaluasi
Keperwatan
Pasien dapat tidur - Ciptakan Menciptakan Pasien melaporkan
nyenyak selama 6- lingkungan tidur suasana yang peningkatan
8 jam per malam yang tenang dan kondusif untuk kualitas tidur,
nyaman: tidur. tidak sering
Meminimalkan Meminimalkan terbangun di
stimulus yang iritasi pada saluran malam hari.
dapat mengganggu napas.
tidur. <br> -
Anjurkan pasien
untuk tidur dengan
bantal yang cukup:
Memudahkan
pernapasan dan
mengurangi sesak
napas saat tidur.
<br> - Batasi
aktivitas fisik yang
berat sebelum
tidur: Mengurangi
konsumsi oksigen
dan meminimalkan
risiko serangan
asma pada malam
hari.
Pasien dapat - Ajarkan teknik Mengurangi Pasien melaporkan
mengurangi relaksasi seperti frekuensi serangan penurunan tingkat
kecemasan pernapasan dalam, panik dan kecemasan dan
sebelum tidur meditasi, atau meningkatkan merasa lebih
yoga: Membantu kualitas tidur. tenang sebelum
mengurangi tidur.
kecemasan dan
tegangan otot. <br>
- Berikan informasi
yang akurat tentang
asma dan cara
mengelola:
Meningkatkan
pemahaman pasien
tentang
penyakitnya dan
mengurangi
kecemasan.
Ketidakefektifan bersihan NOC NIC
jalan nafas 1. Respiratory status Airway suction
: 1. Pastikan kebutuhan
Definisi : ketidakmampuan ventilation oral / tracheal
untuk membersihkan sekresi 2. Respiratory status suctioning
atau obstruksi dari saluran : airway 2. Auskultasi suara nafas
pernafasan untuk patency sebelum dan sesudah
mempertahankan kebersihan Kriteria hasil suctioning
jalan nafas. 3. Minta klien nafas
1. Mendemonstrasikan dalam sebelum
Etiologi : alergi, stres, cuaca, batuk efektif suara nafas suction dilakukan
aktivitas yang berlebih, yang bersih, tidak ada 4. Berikan O2 dengan
lingkungan, polusi udara, sianosis dan dispnea menggunakan nasal
obat-obatan (mampu mengeluarkan 5. Monitor status
sputum, mampu bernafas oksigen pasien
Batasan karakteristik : dengan mudah, tidak ada
pursed lips)
1. Tidak ada batuk 2. Menunjukkan jalan nafas
2. Suara nafas tambahan yang paten (klien tidak
3. Perubahan frekuensi merasa tercekik, irama Airway managemen
nafas nafas, frekuensi
4. Perubahan irama 1. Pengaturan posisi
pernafasan dalam rentang duduk pasien
nafas normal, tidak ada suara
5. Dispnea untuk memaksimalkan
nafas abnormal) ventilasi
6. Sputum dalam jumlah 3. Mampu mengidentifikasi
yang berlebihan 2. Berikan bronkodilator
dan mencegah faktor (misalnya inhaler,
7. Batuk yang tidak yang dapat menghambat
efektif nebulizer, peak flow
jalan nafas meter) atau
8. Gelisah
9. Mata terbuka lebar Penghisapan lendir
Faktor-faktor yang pada jalan nafas
berhubungan : 3. Tawarkan minuman
hangat untuk minum.
Lingkungan : 4. Berikan health
education tentang
1. Perokok pasif
penyakit asma
2. Mengisap rokok
5. Ajarkan tehnik
3. Merokok
bernafas atau relaksasi
4. Obstruksi jalan nafas
6. Keluarkan sekret
5. Spasme jalan nafas
dengan batuk efektif
6. Mokus dalam jumlah
7. Fisioterapi dada
berlebihan
8. Monitoring tanda-
7. Eksudat dalam jalan
tanda vital
alveoli
K. Daftar Pustaka
Muttaqin, A. (2008). Pengaruh faktor lingkungan terhadap prevalensi asma bronkial
pada anak usia sekolah. (Tesis S1). Universitas Indonesia, Depok.
Nurarif, H., & Kusuma, H. (2015). Faktor risiko asma bronkial pada anak usia
sekolah di kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 10(2), 55-62.
Nugroho, T. (2016). Panduan pengelolaan asma bronkial di Indonesia. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI
Global Initiative for Asthma (GINA). (2021). Global Strategy for Asthma
Management and Prevention
Potter, P. A., & Perry, A. G. (2009). Buku ajar fundamental keperawatan. EGC.
Doenges, M. E., Moorhouse, M. F., & Murr, A. C. (2014). Nurse's pocket guide:
Diagnoses, procedures, and related nursing interventions. F.A. Davis Company.
NANDA International. (2018-2020). Nursing diagnoses: Definitions and classification.