Faktor Pengaruh Hasil Belajar Siswa
Faktor Pengaruh Hasil Belajar Siswa
A. Deskripsi Teori
1. Pengertian Belajar
Belajar merupakan salah satu faktor penting dari keseluruhan
proses pendidikan karena belajar merupakan kegiatan pokok dalam proses
tersebut. Namun dalam pembahasan belajar ini berarti berhasil tidaknya
pencapaian tujuan pendidikan tergantung kepada bagaimana proses
belajar yang dialami siswa (Susanto, 2013). Menurut [Link], belajar
dapat didefinisikan sebagai suatu proses dimana suatu organisme
berubah perilakunya sebagai akibat pengalaman. Belajar dan mengajar
merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisakan satu sama lain. Dua
konsep ini menjadi terpadu dalam satu kegiatan dimana terjadi interaksi
antara guru dan siswa, serta siswa padasaat belajar [Link]
Gagne, belajar dimaknai sebagai suatu proses untuk memperoleh motivasi
dalam pengetahuan, keterampilan, kebiasaan dan tingkah laku (Susanto,
2013). Menurut Slameto belajar ialah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku
yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri
dalam interaksi dengan lingkungan (Slameto, 2010). Namun, dalam
perjalanan proses belajar peserta didik mengalami berbagai macam
kondisi psikologis di antaranya naik turunnya dorongan untuk belajar atau
motivasi untuk belajar. Motivasi adalah kondisi psikologis yang
mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam bidang
pendidikan motivasi tentunya berorientasi pada pencapaian kondisi
psikologis yang mendorong seseorang untuk semangat dalam dalam
belajarnya (Thoifuri, 2013:96).
Jadi, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan
seseorang untuk memperoleh suatu proses perubahan perilaku yang
dilakukan oleh seseorang melalui pengalaman dan latihan yang telah
dilakukannya sendiri secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman
dalam interaksi antara guru dan [Link] belajar merupakan istilah
yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keberhasilan yang
dicapai oleh seseorang setelah melakukan usaha tertentu. Dalam hal
ini hasil belajar yang dicapai siswa dalam bidang studi tertentu
setelah mengikuti belajar mengajar.
Pendapat tentang pengertian belajar ada bermacam-macam,
pendapat tersebut lahir berdasarkan sudut pandang yang berbeda-beda.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:295) belajar adalah kegiatan
individu memperoleh, pengetahuan perilaku dan keterampilan dengan
cara mengolah bahan belajar. Dalam belajar tersebut individu
menggunakan ranah-ranah koginitif, afektif dan psikomotorik. Menurut
Wittig dalam Syah (2003:66) belajar ialah perubahan yang relatif menetap
yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku organisme
sebagai hasil pengalaman. Menurut Iskandar (2009:102) mendefinisikan
bahawa belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui
interaksi dengan lingkungannya untuk merubah perilakunya. Menurut
Dimyati dan Mudjiono (2006:20) proses belajar merupakan hal yang
dialami siswa, suatu respons terhadap segala acara pembelajaran yang di
programkan oleh guru.
Dalam proses belajar tersebut, guru meningkatkan kemampuan-
kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik. Juga dapat diartikan
sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dengan melibatkan dua unsur yaitu
jiwa dan raga.
Hasil belajar tidak dapat dipisahkan dari apa yang terjadi dalam
kegiatan di kelas, di sekolah maupun di luar sekolah. Untuk
menggambarkan hasil belajar yang dicapai siswa, maka diadakan suatu
proses penilaian seperti tes hasil belajar. Tes hasil belajar dilakukan untuk
melihat sejauh mana tingkat keberhasilan siswa setelah melakukan proses
belajar mengajar. Gagne (Elvin, 1999:11) mengemukakan 3 (tiga)
komponen yang dapat ditinjau dari hasil belajar, yaitu kemampuan :
a. Kognitif (pengetahuan) berhubungan erat dengan perubahan tingkah
laku meliputi kemampuan pemahaman pengetahuan serta melibatkan
kemampuan dalam mengorganisasi potensi berpikir untuk dapat
mengolah stimulus sehingga dapat memecahkan permasalahan yang
mewujudkan dalam hasil belajar;
b. Afektif (sikap) berhubungan erat dengan perubahan tingkah laku itu
sendiri yang diwujudkan dalam perasaan;
c. Psikomotor (keterampilan) berhubungan erat dengan perubahan
tingkah laku pada ranah kognitif, hanya saja kemampuan kognitif,
hanya saja kemampuan kognitif lebih tinggi, karena kemampuan yang
dimiliki tidak hanya mengorganisasikan berbagai stimulan menjadi
pola yang bermakna berupa keterampilan dalam memecahkan
masalah.
Dari beberapa definisi diatas, dapat dipahami bahwa belajar
merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bertujuan mengadakan
perubahan tingkah laku, sikap, kebiasaan, ilmu pengetahuan, keterampilan
dan sebagainya sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi
dengan lingkungannya. Belajar adalah istilah kunci (key term) yang paling
vital dalam setiap usaha pendidikan, Sehingga tanpa belajar sesungguhnya
tak pernah ada pendidikan.
2. Tujuan Belajar
Belajar berlangsung karena adanya tujuan yang akan dicapai
seseorang. Tujuan inilah, yang mendorong seseorang untuk melakukan
kegiatan belajar, sebagaimana pendapat yang dikemukakan oleh Sardiman
(2009:26) bahwa tujuan belajar pada umumnya ada tiga macam, yaitu:
a. Untuk mendapatkan pengetahuan
Hal ini ditandai dengan kemampuan berpikir, karena antara
kemampuan berpikir dan pemilihan pengetahuan tidak dapat
dipisahkan. Kemampuan berpikir tidak dapat dikembangkan tanpa
adanya pengetahuan dan sebaliknya kemampuan berpikir akan
memperkaya pengetahuan.
b. Pemahaman konsep dan pengetahuan
Pemahaman konsep memerlukan keterampilan baik
keterampilan jasmani maupun keterampilan rohani. Keterampilan
jasmani adalah keterampilan yang dapat diamati sehingga akan
menitik beratkan pada keterampilan penampilan atau gerak dari
seseorang yang sedang belajar termasuk dalam hal ini adalah masalah
teknik pengulangan.
c. Keterampilan sikap
Pembentukan sikap mental dan perilaku anak didik tidak akan
terlepas dari soal penanaman nilai-nilai itu maka akan dapat
menumbuhkan kesadaran dan kemampuan untuk mempraktikan segala
sesuatu yang telah dipelajarinya. Tujuan belajar menurut Slameto
(2010:82) yaitu untuk mendapatkan pengetahuan, sikap, kecakapan
dan keterampilan, cara-cara yang dipakai itu akan menjadi kebiasaan.
Kebiasaan belajar juga akan mempengaruhi belajar itu sendiri.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang
melakukan kegiatan belajar karena didorong oleh adanya rasa ingin tahu,
keinginan individu untuk mendapatkan simpati, untuk memperbaiki
kegagalan, untuk mendapatkan rasa aman serta adanya suatu suatu
ganjaran atau hukuman. Sedangkan metode atau cara yang dipakai belajar
jika dilakukan berulang-ulang akan menjadi kebiasaan, dan memberikan
pengaruh yang besar terhadap belajar itu sendiri termasuk hasilnya.
Metode atau cara belajar yang baik dan tepat tentunya akan menghasilkan
hasil yang maksimal.
3. Kebiasaan Belajar Siswa
Kebiasaan belajar adalah perilaku seseorang yang telah tertanam
dalam waktu yang relatif lama sehingga memberikan ciri dalam aktivitas
belajar yang dilakukannya. Menurut Aunurrahman (2012 :185) Ada
beberapa bentuk perilaku yang menunjukkan kebiasaan tidak baik dalam
belajar yang sering kita jumpai pada sejumlah siswa, seperti :
1) Belajar tidak teratur,
2) Daya tahan belajar rendah (belajar secara tergesa-gesa),
3) Belajar bilamana menjelang ulangan atau ujian,
4) Tidak memiliki catatan pelajaran yang lengkap,
5) Tidak terbiasa membuat ringkasan,
6) Tidak memiliki motivasi untuk memperkaya materi pelajaran,
7) Senang menjiplak pekerjaan teman, termasuk kurang percaya diri
dalam menyelesaikan tugas,
8) Sering datang terlambat,
9) Melakukan kebiasaankebiasaan buruk (misalnya merokok).
Sedangkan Dimyati dan Mudjiono (dalam Maulydia Nina
Rakhmanti, 2014: 23) mengemukakan bahwa kebiasaan belajar yang
kurang baik antara lain berupa :
1) Belajar pada akhir semester,
2) Belajar tidak teratur,
3) Menyianyiakan kesempatan belajar,
4) Bersekolah hanya untuk bergengsi,
5) Datang terlambat bergaya pemimpin,
6) Bergaya jantan seperti merokok, sok menggurui teman lain,
7) Bergaya minta “belas kasihan” tanpa belajar
Dengan kebiasaan seperti ini sama sekali tidak akan memberikan
manfaat, bahkan justru akan merugikan siswa. Selain materi pelajaran
tidak dapat terserap atau dipahami sepenuhnya, juga akan mempengaruhi
nilai afektif siswa.
Kebiasaan belajar yang mempengaruhi belajar menurut Slameto
(2010:82), diantaranya sebagai berikut :
1) Pembuatan Jadwal dan Pelaksanaannya,
2) Membaca dan Membuat Catatan,
3) Mengulangi Bahan Pelajaran,
4) Konsentrasi,
5) Mengerjakan Tugas
Sumadi Suryabrata (2006:63-68) menyatakan bahwa ada tiga cara
mengembangkan kebiasaan belajar yang baik, yaitu :
1) Penyusunan rencana studi,
2) Penyusunan jadwal belajar,
3) Penggunaan waktu belajar
“Kebiasaan belajar dapat diartikan sebagai cara atau teknik yang
menetap pada diri siswa pada waktu menerima pelajaran, membaca buku,
mengerjakan tugas dan pengaturan waktu untuk menyelesaikan kegiatan”.
(Djaali:128). Menurut Nana Sudjana (2005:165-173), kebiasaan belajar
teratur dimulai dari cara mengikuti pelajaran, cara belajar mandiri, cara
belajar kelompok, cara mempelajari buku pelajaran, dan cara menghadapi
ujian.
1) Cara mengikuti pelajaran
Cara mengikuti pelajaran antaralain membaca dan mempelajari
materi yang telah lalu dan materi selanjutnya, mencatat hal yang
tidak jelas untuk ditanyakan kepada guru, memeriksa keperluan
belajar sebelum berangkat, konsentrasi saat guru menerangkan,
mencatat pokok-pokok materi yang disampaikan oleh guru.
2) Cara belajar mandiri
Cara belajar mandiri antaralain mempelajari kembali catatan
hasil pelajaran di sekolah, membuat pertanyaan dan berlatih
menjawabnya sendiri, menanyakan hal yang kurang jelas, belajar
pada waktu yang memungkinkan.
3) Cara belajar kelompok
Cara belajar kelompok antaralain memilih teman yang cocok
untuk bergabung dalam kelompok, membahas persoalan satu-
persatu, menulis dan diskusi
4) Cara mempelajari buku pelajaran
Cara mempelajari buku pelajaran antaralain menentukan bahan
yang ingin diketahui, membaca bahan tersebut, memberi tanda pada
bahan yang diperlukan, membuat pertanyaan dari bahan tersebut.
5) Cara menghadapi ujian
Cara menghadapi ujian antaralain dengan memperkuat
kepercayaan diri, membaca pertanyaan dengan mengingat
jawabannya, mendahulukan menjawab pertanyaan yang lebih
mudah, memeriksa jawaban sebelum diserahkan.
Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa kebiasaan belajar
yang baik akan memberikan pengaruh yang baik pula bagi prestasi
belajar siswa. Kebiasaan belajar terwujud melalui cara belajar yang
dilakukan dengan teratur. Kebiasaan belajar memberikan pengaruh
yang sangat besar terhadap keberhasilan belajar itu sendiri.
Kebiasaan belajar yang baik bukan bawaan siswa sejak lahir namun
melalui proses berulang-ulang sehingga dengan sendirinya menjadi
sebuah kebiasaan. Kebiasaan belajar yang baik dan teratur meliputi :
1) cara mengikuti pelajaran
2) cara belajar mandiri,
3) cara belajar kelompok,
4) cara mempelajari buku pelajaran dan sumber informasi lainnya,
5) cara menghadapi/menyongsong ujian.
4. Prestasi Belajar Siswa
a. Pengertian Prestasi Belajar
Prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan,
diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok menurut
Djamarah dalam (Maulydia Nina Rakhmanti, 2014: 26). Dalam hal ini
kegiatan yang dilakukan siswa adalah belajar, sehingga hasil dari proses
belajar itulah yang dinamakan dengan prestasi belajar.
Menurut Nana Sudjana (dalam Maulydia Nina Rakhmanti, 2014:
26), hasil belajar pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku yang
mencakup bidang kognitif, afektif dan psikomotoris. Dengan kata lain,
menurut pendapat tersebut bahwa perubahan yang dilihat untuk
menentukan hasil belajar siswa meliputi perubahan di bidang kognitif
(ilmu pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotorik (keterampilan).
Sehingga diperlukan alat ukur yang dapat mengukur perubahan tersebut
baik melalui tes maupun non tes atau pengamatan dan sebagainya yang
memenuhi persyaratan.
Berdasarkan pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa
prestasi belajar merupakan perubahan kemampuan siswa dalam aspek
kognitif, afektif, dan psikomotorik setelah mengikuti proses belajar.
b. Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Faktor yang mempengaruhi belajar menurut Haryanto dalam
(Maulydia Nina Rakhmanti, 2014: 26) yaitu:
1) Faktor-faktor Internal:
a) Faktor Jasmaniah meliputi penglihatan, pendengaran, struktur
tubuh dan sebagainya)
b) Faktor Psikologis meliputi intelektual (taraf intelegensi,
kemampuan belajar dan cara belajar), non intelektual (motivasi
belajar, sikap, perasaan, minat, kondisi psikis, dan kondisi akibat
sosiokultur), faktor kondisi fisik.
2) Faktor-faktor Eksternal :
a) Faktor pengaturan belajar di sekolah meliputi kurikulum, disiplin
sekolah, guru, fasilitas belajar dan pengelompokkan siswa,
b) Faktor sosial disekolah meliputi sistem sosial, status sosial siswa
dan interaksi guru dan siswa,
c) Faktor situasional meliputi keadaan politik ekonomi, keadaan
waktu dan tempat atau iklim.
Sedangkan menurut M. Dalyono (dalam Maulydia Nina
Rakhmanti, 2014: 27) faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar yaitu:
1) Faktor Internal, yaitu faktor yang berasal dari dalam diri, terdiri
atas:
a) Kesehatan : Kesehatan jasmani dan rohani sangat besar
pengaruhnya terhadap kemampuan belajar,
b) Intelegensi dan Bakat : Bila seseorang mempunyai intelegensi
tinggi dan bakatnya ada dalam bidang yang dipelajari, maka
proses belajarnya akan lancar dan sukses,
c) Minat dan Motivasi : Minat belajar yang besar cenderung
menghasilkan prestasi yang tinggi, sebaliknya minat belajar
kurang akan menghasilkan prestasi yang rendah. Dan kuat
lemahnya motivasi belajar seseorang turut mempengaruhi
keberhasilannya,
d) Cara Belajar : Cara belajar seseorang juga mempengaruhi
pencapaian hasil belajarnya.
2) Faktor Eksternal, yaitu faktor yang berasal dari luar diri siswa
Terdiri atas: a) Keluarga (tinggi rendahnya pendidikan orang tua,
besar kecilnya penghasilan, cukup atau kurangnya perhatian dan
bimbingan orang tua, rukun atau tidaknya kedua orang tua, tenang
atau tidaknya situasi dalam rumah), b) Sekolah (kualitas guru,
metode mengajarnya, kesesuaian kurikulum dengan kemampuan
anak, keadaan fasilitas/perlengkapan di sekolah, keadaan ruangan,
jumlah murid per kelas, pelaksanan tata tertib sekolah, dan
sebagainya), c) Masyarakat/Lingkungan sekitar (keadaan
lingkungan, bangunan rumah, suasana sekitar, keadaan lalu lintas,
iklim dan sebagainya).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi belajar antara lain :
1) Faktor internal, yakni faktor yang berasal dari dalam diri
(kesehatan, intelegensi dan bakat, minat dan motivasi,
cara/metode/pendekatan belajar)
2) Faktor eksternal, yakni faktor yang berasal dari luar diri
(keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan sekitar).
c. Pengukuran Prestasi Belajar
Untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil belajar siswa, dilakukan
dengan cara mengukur hasil belajar pada setiap mata pelajaran. Muhibin
Syah (2010:140) mengatakan bahwa evaluasi yang berarti pengungkapan
dan pengukuran hasil belajar itu pada dasarnya merupakan proses
penyusunan deskripsi siswa, baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Namun kebanyakan pelaksanaan evaluasi cenderung bersifat kuantitatif,
lantaran simbol angka atau skor untuk menentukan kualitas keseluruhan
kinerja akademik siswa dianggap sangat nisbi. Keberhasilan belajar siswa
dapat dilihat melalui nilai yang diperoleh dan dilaporkan dalam bentuk
rapor secara periodik. Hasil belajar siswa perlu diketahui, baik oleh
individu yang belajar maupun orang lain yang bersangkutan guna melihat
kemajuan yang telah diperoleh setelah selesai mempelajari suatu program
pengajaran atau materi. Menurut Muhibbin Syah (2010:156) ada tiga ranah
atau aspek yang harus dilihat tingkat keberhasilannya yang dapat dicapai
siswa, yaitu :
1) Ranah kognitif, bertujuan mengukur pengembangan penalaran siswa.
Pengukuran ini dapat dilaksanakan setiap saat, melalui cara tes tertulis
maupun tes lisan dan perbuatan,
2) Ranah afektif, pengukuran ranah afektif tidaklah semudah mengukur
ranah kognitif. Pengukuran ranah afektif tidak dapat dilakukan setiap
saat karena perubahan tingkah laku siswa dapat berubah sewaktu-
waktu. Sasaran pengukuran penilaian ranah afektif adalah perilaku sisa
bukanlah pada pengetahuan siswa,
3) Ranah psikomotorik, pengukuran ini dilakukan terhadap hasil-hasil
belajar berupa keterampilan. Cara yang paling tepat untuk
mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi psikomotorik
adalah observasi. Observasi dalam hal ini, dapat diartikan sebagai jenis
tes mengenal peristiwa, tingkah laku atau fenomena lain dengan
pengamatan langsung. Guru yang hendak melakukan observasi
perilaku psikomotorik siswa seyogyanya mempersiapkan langkah-
langkah yang cermat dan sistematis.
Dengan demikian hasil belajar dapat diartikan sebagai tingkat
kemampuan aktual yang diukur dengan standar tes berupa penguasaan
ilmu pengetahuan, sikap dan keterampilan. Hasil belajar merupakan hasil
yang telah dicapai siswa dalam usahanya untuk menguasai mata pelajaran
yang telah diajarkan dan dilakukan dengan sengaja pada waktu tertentu
yang dapat diukur secara langsung melalui tes serta dapat dinyatakan
dalam bentuk angka atau simbol lain. Untuk memperoleh data prestasi
belajar siswa digunakan nilai rata-rata rapor siswa pada semester ganjil.
1. Motivasi Belajar
Selama ini banyak peserta didik seperti kehilangan motivasi dalam
belajar. Secara fisik mereka hadir di ruang kelas hanya untuk melakukan
rutinitas belajar sesuai jadwal pelajaran yang sudah disusun oleh sekolah.
Peserta didik hanya sebagai objek dan hanya menampung apa yang
disampaikan oleh guru, sehingga mereka kehilangan tujuan untuk apa
mereka belajar dan belajar di sekolah hanya formalitas saja. Kegiatan
pembelajaran pun menjadi pasif dan membosankan. Interaksi antara guru
dan peserta didik yang kaku menyebabkan peserta didik tidak termotivasi
untuk belajar.
Motivasi (movere) menurut Bimo Walgito (dalam Erjati
Abbas,2014:80) berarti “bergerak” atau to move. Jadi, motivasi diartikan
sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong
untuk berbuat atau merupakan driving force. Dalam bahasa agama istilah
motivasi menurut Tayar Yusuf tidak jauh berbeda dengan “niatan/niat”,
(innamal a’malu binniat= sesungguhnya perbuatan itu bergantung pada
niat), yaitu kecenderungan hati yang mendorong seseorang untuk
melakukan tindakan sesuatu. Dengan demikian dapat dipahami bahwa
pengertian dasar motivasi ialah keadaan internal organisme yang
mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Banyak istilah yang digunakan
untuk menyebut motivasi (motivation) atau motif, antara lain kebutuhan
(need), desakan (urge), keinginan (wish), dan dorongan (drive). Istilah
motivasi, yang diartikan sebagai keadaan dalam pribadi seseorang yang
mendorong keinginan individu untuk melakukan kegiatan-kegiatan
tertentu guna mencapai tujuan.
Motivasi yang ada pada seseorang merupakan kekuatan pendorong
yang akan mewujudkan suatu perilaku guna mencapai tujuan kepuasan
dirinya (T. Hani Handoko, 2009:252). Siagian (dalam Erjati Abbas,
2014:80) menyatakan bahwa motivasi adalah daya pendorong yang
mengakibatkan seorang anggota organisasi mau dan rela untuk
mengerahkan kemampuan dalam bentuk keahlian atau keterampilan tenaga
dan waktunya untuk menyelenggarakan berbagai kegiatan yang menjadi
tanggung jawabnya serta menunaikan kewajibannya dalam rangka
mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Motivasi membicarakan tentang bagaimana cara mendorong
semangat kerja seseorang, agar mau bekerja dengan memberikan secara
optimal kemampuan dan keahliannya guna mencapai tujuan. Rangsanagan
ini akan menciptakan dorongan pada seseorang untuk melakukan aktivitas.
Menurut Berelson dan Steiner yang dikutip oleh Wahjosumidjo motivasi
adalah suatu usaha sadar untuk memengaruhi perilaku seseorang supaya
mengarah tercapainya tujuan organisasi (Danang Sunyoto,2015:10).
7. Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan
tindak mengajar (Dimyati dan Mudjiono, 2005). Hasil belajar tidak lepas
dari proses belajar yang di jalani oleh siswa dalam kegiatan belajar
mengajar. Dari sisi guru tindak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi
hasil belajar sedangkan dari sisi siswa hasil belajar merupakan hasil yang
dicapai siswa. Hasil belajar dipengaruhi beberapa faktor yaitu faktor internal
dan faktor eksternal. Faktor internal merupakan faktor yang berasal dari
dalam diri siswa seperti kondisi fisiologi, kecerdasan, bakat, minat, motivasi
dan kemampuan kognitif. Faktor eksternal merupakan faktor yang berasal
dari luar diri siswa seperti faktor lingkungan dan faktor instrumental
Menurut Sudjana (2013:3) hasil belajar adalah perubahan tingkah laku
yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik yang dimiliki
oleh siswa setelah menerima pengalaman belajar. Menurut T. Raka Joni
dalam Sudjana (2008:25) peristiwa belajar terjadi apabila subjek didik
secara aktif berinteraksi dengan lingkugan belajar yang diatur oleh guru.
Menurut Dimyati dan Mudjiono (2006:20) hasil belajar merupakan suatu
puncak proses belajar.
Hasil belajar tersebut terjadi terutama berkat evaluasi guru. Hasil
belajar dapat berupa dampak pengajaran dan dampak pengiring. Kedua
dampak tersebut bermanfaat bagi guru dan siswa. Menurut Zuchdi
(2008:21) terjadinya proses kegiatan belajar dalam ranah afektif dapat
diketahui diketahui dari tingkah laku peserta didik yang menunjukkan
adanya kesenangan belajar, perasaan mengontrol tingkah laku, sedangkan
pikiran (kognisi) tidak, perasaan dan emosi mempunyai peran utama
menghalangi atau mendorong belajar, oleh karena itu afektif seperti halya
perkembangan kognitif perlu memperoleh penekanan dalam proses belajar
dan terjadinya proses kegiatan belajar melibatkan ranah afektif, ranah
kognitif dan ranah psikomotorik . Berdasarkan pendapat para ahli di atas,
dapat peneliti simpulkan bahwa hasil belajar adalah perolehan yang dimiliki
siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang
diberikan guru di dalam proses belajar mengajar yang telah ditetapkan
dalam kurikulum, garis-garis besar program pengajaran atau perangkat
perencanaan kegiatan pembelajaran lainnya, perolehan tersebut diberikan
dalam bentuk penilaian skor, nilai, dan lain-lain.
Upaya yang dilakukan oleh seseorang yang belajaruntuk memperoleh
berbagai kebiasaan, ilmu dan sikap di atas dilakukan dengan cara-cara
tertentu, sehingga hambatan yang ditemukan dalam proses belajar dapat
diatasi, sehinggaakan menimbulkan suatu perubahan dalam dirinya dalam
mereaksi terhadap situasi belajar yang dialaminya. Bila situasi belajar itu
sesuai dengan harapan yang bersangkutan, maka terjadi sedikit banyak
perubahan dalam dirinya baik dalam prilaku, tingkah laku maupun
psikomotornya.
”Menurut Tatan dan Teti (2011:73), “Belajar selalu melibatkan
perubahan dalam diri individu seerti kematangan berpikir, berperilaku
maupun kedewasaan dalam menentukan keputusan dan pilihan”. Hasil
belajar yang diperoleh manusia dengan mahkluk lain seperti hewan akan
berbeda, pada manusia hasil belajar akan terus mengalami perubahan dan
perkembangan, sedangkan pada mahkluk lain tidak mengalami perubahan
dan perkembangan secara optimal seperti halnya pada manusia.
Media pembelajaran sangat penting dalam proses pembelajaran karena
guru dapat menyampaikan materi kepada siswa menjadi lebih bermakna.
Guru tidak hanya menyampaikan materi berupa kata-kata dengan ceramah
tetapi dapat membawa siswa untuk memahami secara nyata materi yang di
sampaikan tersebut. Menurut Wina Sanjaya (2014) ada beberapa fungsi dari
penggunaan media pembelajaran yaitu:
1) Fungsi komunikatif Media pembelajaran digunakan untuk memudahkan
komunikasi antara penyampai pesan dan penerima pesan. Sehingga
tidak ada kesulitan dalam menyampaikan bahasa verbal dan salah
persepsi dalam menyampaikan pesan.
2) Fungsi motivasi Media pembelajaran dapat memotivasi siswa dalam
belajar. Dengan pengembangan media pembelajaran tidak hanya
mengandung unsur artistic saja akan tetapi memudahkan siswa
mempelajari materi pelajaran sehingga dapat meningkatkan gairah
siswa untuk belajar.
3) Fungsi kebermaknaan Penggunaan media pembelajaran dapat lebih
bermakna yakni pembelajaran bukan hanya meningkatkan penambahan
informasi tetapi dapat meningkatkan kemampuan siswa untuk
menganalisis dan mencipta.
4) Fungsi penyamaan persepsi Dapat menyamakan persepsi setiap siswa
sehingga memiliki pandangan yang sama terhadap informasi yang di
sampaikan.
5) Fungsi individualitas Dengan latar belakang siswa yang berbeda, baik
itu pengalaman, gaya belajar, kemampuan siswa maka media
pembelajaran dapat melayani setiap kebutuhan setiap individu yang
memiliki minat dan gaya belajar yang berbeda.
Media pembelajaran juga mempunyai fungsi yang lain yaitu sebagai berikut:
1) Menangkap suatu obyek atau peristiwa-peristiwa tertentu Dapat
diabadikan dengan foto, film atau direkam melalui video atau audio
2) Memanipulasi keadaan atau obyek tertentu Melalui media pembelajaran
guru dapat menyajikan bahan pelajaran yang bersifat abstrak menjadi
konkret sehingga mudah dipahami
3) Menambah gairah dan motivasi belajar siswa Dengan penggunaan
media, perhatian siswa terhadap materi pembelajaran dapat lebih
meningkat.
Dari pendapat di atas dapat dianalisis bahwa media pembelajaran
berfungsi sebagai salah satu sumber belajar bagi siswa untuk memperoleh
pesan dan informasi yang berikan oleh guru sehingga materi pembelajaran
dapat lebih meningkat dan membentuk pengetahuan bagi siswa.
Dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi maka
guru dalam memberikan materi pelajaran harus mengikuti kemajuan
tersebut. Guru harus dapat menggunakan media pembelajaran yang
menarik, menyenangkan dan sesuai dengan kebutuhan belajar siswa.
Sehingga siswa dapat dengan mudah menerima pelajaran yang di berikan
oleh guru. Menurut Nasution (1990) manfaat media pembelajaran sebagai
alat bantu dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut :
1) Pengajaran lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar.
2) Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya, sehingga dapat lebih di
pahami siswa, serta memungkinkan siswa menguasai tujuan pengajaran
dengan baik.
3) Metode pembelajaran bervariasi, tidak semata-semata hanya
komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata lisan pengajar, siswa
tidak bosan, dan pengajar tidak kehabisan tenaga.
4) Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya
mendengarkan penjelasa dari pengajar saja, tetapi juga aktivitas lain
yang dilakukan seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan
lain-lainya.
Sedangkan Azhar Arsyad memberikan kesimpulan dari penggunaan
media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar adalah sebagai
berikut:
1) Media pembelajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi
sehingga memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
2) Media pembelajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian
anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar, interaksi yang lebih
langsung antara siswa dan lingkungan.
3) Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indera, ruang dan
waktu. Objek yang terlalu besar untuk ditampilkan di ruang kelas dapat
diganti dengan foto, slide, film. Sedangkan objek yang terlalu kecil
dapat disajikan dengan bantuan mikroskop, film, slide, gambar. Begitu
pula kejadian yang langka yang terjadi di masa lalu dapat ditampilkan
melalui rekaman video, film, foto, slide.
4) Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada
siswa tentang peristiwa di lingkungan mereka.
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan ada beberapa
manfaat dari media pembelajaran, yaitu:
1) Manfaat media pembelajaran bagi guru, yaitu: memberikan pedoman
bagi guru untuk mencapai tujuan pembelajaran sehingga dapat
menjelaskan materi pembelajaran dengan urutan yang sistematis dan
membantu dalam penyajian materi yang menarik untuk meningkatkan
kualitas pembelajaran.
2) Manfaat media pembelajaran bagi siswa, yaitu: dapat meningkatkan
motivasi dan minat belajara siswa sehingga siswa dapat berpikir dan
menganalisis materi pelajaran yang diberikan oleh guru dengan baik
dengan situasi belajar yang menyenangkan dan siswa dapat memahami
materi pelajaran dengan mudah.
8. Minat Belajar
a. Pengertian Minat
Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu
hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya
penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan suatu di luar diri
semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat. Menurut
Widyastuti (2008), minat adalah keinginan yang didorong oleh suatu
keinginan setelah melihat, mengamati dan membandingkan serta
mempertimbangkan dengan kebutuhan yang diinginkan. Menurut
Muhibbinsyah (2010:133) minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang
tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.
Minat merupakan salah satu aspek psikis yang dapat mendorong
manusia mencapai tujuan. Seseorang yang memiliki minat terhadap suatu
objek, cenderung memberikan perhatian ata merasa senang yang lebih besar
kepada objek tersebut. Namun, apabila objek tersebut tidak menimbulkan
rasa senang, maka orang itu tidak akan memiliki minat atas objek tersebut.
Oleh karena itu, tinggi rendahnya perhatian atau rasa senang seseorang
terhadap objek dipengaruhi oleh tinggi rendahnya minat seseorang tersebut.
Dengan demikian disimpulkan bahwa pengertian minat belajar adalah
kecenderungan individu untuk memiliki rasa senang tanpa ada paksaan
sehingga dapat menyebabkan perubahan pengetahuan, ketrampilan dan
tingkah laku Menurut Eti rohaiti (2005: 28), dalam membangkitkan minat
siswa akan terdorong untuk belajar manakala mereka memilki minat untuk
belajar. Oleh sebab itu, mengembangkan minat belajar siswa merupakan
salah satu teknik dalam mengembangkan minat [Link] penjelasan di
atas dapat diambil kesimpulan bahwa minat belajar akan terdorong apabila
bahan pelajaran mempunyai hubungan sesuai dengan kebutuhan mereka,
melihat perkembangan, tingkat pengalaman dan kemampuan siswa, serta
model dan metode pembelajaran yang variatif.
Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa minat
adalah kecenderungan tertarik pada sesuatu yang relatif tetap. Untuk lebih
memperhatikan dan mengingat secara terus –menerus yang diikuti rasa
senang untuk memperoleh suatu kepuasan dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Berdasarkan definisi minat tersebut, dapatlah penulis
kemukakan bahwa minat mengandung unsur – unsur sebagai berikut:
a. Minat adalah suatu gejala psikologis.
b. Adanya pemusatan perhatian, perasaan dan pikiran dari subyek karena
tertarik.
c. Adanya perasaan senang terhadap objek yang menjadi sasaran
d. Adanya kemauan atau kecenderungan pada diri subjek untuk melakukan
kegiatan guna mencapai tujuan.
b. Bentuk-Bentuk Minat
Menurut M. Buchori (dalam Ahmad Muhajir, 2007: 8), minat dapat
dibedakan menjadi dua macam yaitu:
1) Minat Primitif
Minat primitif disebut minat yang bersifat biologis, seperti
kebutuhan makan, minum, bebas bergaul dan sebagiannya. Jadi pada
jenis minat ini meliputi kesadaran kebutuhan yang langsung dapat
memuaskan dorongan untuk mempertahankan organisme.
2) Minat Kultural
Minat kultural dapat disebut juga minat sosial yang berasal atau
diperoleh dari proses belajar. Jadi minat kultural disini lebih tinggi
nilainya dari pada minat primitif.
c. Unsur-Unsur Minat
Seseorang dikatakan berminat pada sesuatu bila individu itu memiliki
beberapa unsur antara lain:
1) Perhatian
Seseorang dikatakan berminat apabila individu disertai adanya
perhatian, yaitu kreatifitas jiwa yang tinggi yang semata – mata tertuju
pada suatu objek. Jadi seseorang yang berminat pada sesuatu objek yang
pasti perhatiannya akan memusat terhadap objek tersebut. Dalam hal ini
perhatian ditujukan pada objek ekstrakurikuler olahraga.
2) Kesenangan
Perasaan senang pada suatu objek baik orang atau suatu benda akan
menimbulkan minat pada diri seseorang, orang merasa tertarik kemudian
pada gilirannya timbul keinginan yang dikehendaki agar objek tersebut
menjadi miliknya. Dengan demikian maka individu yang bersangkutan
berusaha untuk mempertahankan objek tersebut.
3) Kemauan
Kemauan yang dimaksud adalah dorongan yang terarah pada tujuan
yang dikehendaki oleh akal pikiran. Dorongan ini akan melahirkan
timbulnya suatu perhatian terhadap suatu objek sehingga dengan
demikian akan memunculkan minat individu yang bersangkutan.
Minat pada dasarnya merupakan perhatian yang bersifat
[Link] yang menaruh minat pada suatu mata pelajaran
,perhatiannya akan tinggi dan minatnya berfungsi sebagai pendorong
kuat untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar Hakiim,
Lukmanul (2009:38). Berdasarkan pendapat di atas minat merupakan
suatu ketertarikan seseorang untuk memperhatikan atau terlibat dalam
aktivitas belajar secara aktif.
Sardiman (2000:76) menjelaskan minat merupakan suatu kondisi
yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi
yang dihubungkan dengankeinginan dan kebutuhannya sendiri. Belajar
bersifat aktif, siswa sebagai peserta didik tidak akan mampu merubah
perilaku jika ia tidak aktif mengikuti setiap proses yang berlangsung.
Efektivitas pembelajaran melekat pada aktivitas belajar dan partisipasi
siswa. Untuk dapat bersikap aktif dibutuhkan pula faktor penggerak yang
secara langsung memberi dorongan pada siswa untuk bertindak. Faktor
pendorong yang dimaksud adalah minat belajar. Dengan tumbuhnya
minat belajar, siswa akan berusaha menemukan momen yang tepat dan
kondisi yang menarik untuk turut larut dalam proses pembelajaran.
Minat belajar dipengaruhi oleh kesehatan fisik dan kondisi mental
(Hapsari,2007:43). Lebih lanjut dapat dijelaskan, siswa yang kondisi
kesehatannya mengalami gangguan tidak akan memiliki keinginan untuk
belajar, karena seluruh potensi tubuhnya digunakan untuk menahan rasa
sakit yang diderita. Demikian pula dengan kesehatan mental, yang secara
langsung akan mengganggu minat belajar.
Menurut Sudaryono (2012 :125), bahwa untuk mengetahui
seberapa besar minat belajar siswa dapat diukur melalui : kesukaan,
ketertarikan, perhatian dan keterlibatan. Kesukaan tampak dari kegairahan
siswa dalam mengikuti pelajaran Ketertarikan dapat diukur dari respon
seseorang untuk menanggapi sesuatu. Perhatian dapat diukur dari apabila
seseorang memiliki keseriusan selama proses pembelajaran berlangsung.
Perhatian muncul didorong rasa ingin tahu. Perhatian ialah pemusatan
energi psikis atau pikiran dan perasaan terhadap suatu objek Peserta didik
yang memiliki minat terhadap suatu obyek akan cenderung memberikan
perhatian yang lebih besar terhadap materi yang dipelajarinya Anitah,
S.(2007:110). Makin terpusat perhatian seseorang terhadap pelajaran,
proses belajar makin baik, dan hasilnya akan makin baik pula.
Berdasarkan uraian di atas guru harus selalu berusaha supaya perhatian
siswa terpusat pada pelajaran. Upaya guru menumbuhkan dan
meningkatkan perhatian siswa terhadap pelajaran dapat dilakukan dengan
berbagai cara yaitu mengaitkan pelajaran dengan terus berusaha mencapai
tujuan yang serupa. Kepuasan karena mencapai tujuan dipengaruhi oleh
konsekuensi yang diterima, baik yang berasal dari dalam maupun dari luar
diri [Link] untuk meningkatkan kepuasan, gunakan pujian secara
verbal dan umpan balik yang informatif agar siswa merasa senang.
Berikan kesempatan kepada siswa untuk menggunakan atau
mempraktekkan pengetahuan yang baru dipelajari, selanjutnya minta
kepada siswa yang telah menguasai suatu keterampilan atau pengetahuan
untuk membantu temantemannya yang belum berhasil.
Menurut Djamarah ( 2011 : 167) ada beberapa macam cara yang
dapat dilakukan oleh guru untuk membangkitkan minat siswa yaitu:
1) membandingkan adanya suatu kebutuhan pada diri anak didik, sehingga
dia rela belajar tanpa paksaan ;
2) menghubungkan bahan pelajaran yang diberikan dengan persoalan
pengalaman yang dimiliki anak didik, sehingga anak didik mudah
menerima bahan pelajaran,
3) memberikan kesempatan kepada anak didik untuk mendapatkan hasil
belajar yang baik dengan cara menyediakan lingkungan belajar yang
kreatif dan kondusif,
4) menggunakan berbagai macam bentuk dan teknik mengajar dalam
konteks perbedaan individual anak didik.
Berkaitan dengan pendapat di atas guru perlu membangkitkan
minat belajar siswa agar dapat bergairah untuk menerima pelajaran,
menyadarkan siswa agar terlibat langsung dalam pembelajaran, belajar
dengan menyenangkan dan dapat menggunakan berbagai metode,
strategi, teknik dan pendekatan pembelajaran yang menyenangkan.
d. Macam-Macam Minat
Menurut Djamarah (2002: 132) indikator minat belajar yaitu rasa
suka/senang, pernyataan lebih menyukai, adanya rasa ketertarikan adanya
kesadaran untuk belajar tanpa di suruh, berpartisipasi dalam aktivitas
belajar, memberikan perhatian. Menurut Slameto (2010: 180) beberapa
indikator minat belajar yaitu: perasaan senang, ketertarikan, penerimaan,
dan keterlibatan siswa. Dari beberapa definisi yang dikemukakan
mengenai indikator minat belajar tersebut diatas, dalam penelitian ini
menggunakan indikator minat yaitu:
a) Perasaan Senang Apabila seorang siswa memiliki perasaan senang
terhadap pelajaran tertentu maka tidak akan ada rasa terpaksa untuk
belajar. Contohnya yaitu senang mengikuti pelajaran, tidak ada
perasaan bosan, dan hadir saat pelajaran.
b) Keterlibatan Siswa Ketertarikan seseorang akan obyek yang
mengakibatkan orang tersebut senang dan tertarik untuk melakukan
atau mengerjakan kegiatan dari obyek tersebut. Contoh: aktif dalam
diskusi, aktif bertanya, dan aktif menjawab pertanyaan dari guru.
c) Ketertarikan Berhubungan dengan daya dorong siswa terhadap
ketertarikan pada sesuatu benda, orang, kegiatan atau bias berupa
pengalaman afektif yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri. Contoh:
antusias dalam mengikuti pelajaran, tidak menunda tugas dari guru.
d) Minat dan perhatian merupakan dua hal yang dianggap sama dalam
penggunaan sehari-hari, perhatian siswa merupakan konsentrasi siswa
terhadap pengamatan dan pengertian, dengan mengesampingkan yang
lain. Siswa memiliki minat pada obyek tertentu maka dengan sendirinya
akan memperhatikan obyek tersebut. Contoh: mendengarkan penjelasan
guru dan mencatat materi. dengan pemilihan rangsangan yang datang
dari lingkungannya”. Berdasarkan uraian diatas, dapat diambil
kesimpulan bahwa perhatian adalah keadaan dalam diri pribadi
seseorang yang sedang melaksanakan aktivitas berupa pemusatan
tenaga/ kekuatan jiwa semuanya ditunjukkan pada sekumpulan obyek
tertentu.
Menurut Dewa Ketut Sukardi yang mengutip pendapat Carl Safran,
dalam Yuniar (2007:12-13) mengemukakan bahwa ada tiga cara yang
dapat digunakan untuk menentukan minat yaitu:
1. Minat yang diekspresikan / Expressed Interest
Seseorang apat mengungkapkan minat atau pilihannya dengan kata-kata
tertentu.
2. Minat yang diwujudkan / Manifes Interest
Seseorang dapat mengungkapkan minat bukan melalui kata-kata
melainkan dengan tindakan atau perbuatan, yaitu ikut serta dan
berperan aktif dalam suatu kegiatan.
3. Minat yang diinventariskan / Inventoral Interest
Seseorang menilai minatnya agar dapat diukur dengan menjawab
terhadap sejumlah pertanyaan tertentu atau urutan pilihannya untuk
kelompok aktivitas tertentu. Pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur
minat seseorang disusun dengan menggunakan angket.
C. Kerangka Berfikir
Pada bagian awal telah dibahas secara rinci dengan kajain teoritis
mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar pendidikan jasmani,
olahraga dan kesehatan yang dijadikan topik utama dalam penelitian ini maka
dibauatlah kerangka berfikir sebagai berikut:
Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Pendidikan
Jasmani Olahraga Dan Kesehatan Pada Siswa Kelas X SMAN 01 Marau
Kabupaten Ketapang
Angket Dokumentasi