SAPI MADURA
Sapi Madura merupakan salah satu sumber daya genetik Indonesia sapi lokal yang dikembangkan
untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Keunggulan yang dimiliki sapi lokal antara lain tahan
terhadap cuaca yang ekstrim, pakan yang jelek dan serangan caplak. Sapi Madura merupakan salah satu
sapi lokal yang banyak dikembangkan di Jawa Timur.
Populasi sapi Madura pada tahun 2019 tercatat mencapai 1.004.226 ekor di kabupaten Sampang,
Bangkalan, Pamekasan dan Sumenep (Dinas Peternakan Jawa Timur, 2019) atau sekitar 5,8 persen dari
populasi sapi nasional.
Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pembibitan Ternak dan Kesehatan Hewan Sapi Madura Pamekasan
sebagai sumber bibit penghasil sapi Madura unggul dengan menerapkan teknik-teknik pemuliaan dan
pemurnian sapi Madura dimana populasi dan produktivitasnya terus ditingkatkan guna memenuhi
kebutuhan peternak. Kegiatan seleksi dapat dilakukan dengan memperhatikan penampilan fenotipik
ternak dan mempertimbangkan faktor lingkungan yang mempengaruhi penampilan fenotipiknya untuk
mendapatkan ternak unggul (Nurgiartiningsih, 2019).
SAPI ONGOLE
Sapi Peranakan Ongole (PO) adalah bangsa sapi hasil persilangan antara pejantan sapi Sumba Ongole
(SO) dan sapi betina lokal Jawa. Sapi PO berwarna putih, berpunuk, bergelambir, dan terkenal sebagai
sapi pedaging serta sapi pekerja. Sapi PO mempunyai kelebihan dalam kemampuan adaptasi yang tinggi
terhadap perbedaan kondisi lingkungan, tahan terhadap panas, tahan terhadap gangguan parasit seperti
gigitan nyamuk dan caplak, memiliki tenaga yang kuat yang dapat digunakan sebagai sapi pekerja dan
memiliki jarak beranak yang singkat pada reproduksi induk serta sapi jantan memiliki kualitas semen
yang baik. Sapi Peranakan Ongole (PO) adalah salah satu sapi lokal yang banyak dibudidayakan di
Indonesia (Saumar, 2015).
Sapi Peranakan Onggole memiliki banyak keunggulan dibandingkan dari jenis lain yaitu mampu bertahan
terhadap panas serta endoparasit dan ektoparasit, mampu beradaptasi terhadap pakan yang buruk
serta pertumbuhan yang relatif cepat dengan presentase karkas yang baik. Pertumbuhan sapi Peranakan
Ongole yang relatif cepat dapat membantu mempercepat peningkatan populasi sapi Pernakan Ongole
sehingga dapat memenuhikebutuhan daging di Indonesia. Populasi sapi Peranakan Ongole dapat
ditingkatkan dengan perbaikan genetik yang dapat dilakukan dengan cara pemanfaatan teknologi
reproduksi yaitu perkawinan suntik atau inseminasi buatan (IB) dengan semen beku. Semen beku yang
digunakan untuk IB harus memiliki kualitas yang baik karena diambil dari pejantan unggul yang telah
melalui seleksi terlebih [Link] semen beku untuk IB memiliki beberapa kendala yaitu
hambatan teknis dalam proses pembekuan semen diantaranya memerlukan peralatan yang mahal dan
kompleks seperti pembeku, kontainer nitrogen cair dan lain sebagainya (Sumpe, 2018).
DAPUS :
Tribudi, Y.A., V.M.A. Nurgiartiningsih dan P.W. Prihandini. 2019. Pendugaan nilai
heritabilitas sifat pertumbuhan pada Sapi Madura. Jurnal Ilmu-Ilmu Peternakan 29
(2): 15 –157.
Putra, W.P.B., Sumadi., T. Hartatik dan H. Saumar. 2015. Seleksi pada Sapi berdasarkanMetode Indeks
Seleksi dan Nilai Pemuliaan. Jurnal Peternakan Sriwijaya 4 (1):1-10.
Putra, W.P.B., Sumadi., T. Hartatik dan H. Saumar. 2015. Seleksi Awal Calon Pejantan Sapi Ongole
Berdasarkan Berat Badan. Jurnal Sain Peternakan Indonesia 10 (1): 7-12.
Supriyantono, A., I.T.W. Widayat and I. Sumpe. 2018. Potential of bali cattle: breeding value of bull on
weaning weight, yearling weight and body weight gain. Int J Mol Biol Open Access 3 (5): 217‒220.