0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan18 halaman

Faktor dan Ciri Motivasi Belajar Siswa

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan18 halaman

Faktor dan Ciri Motivasi Belajar Siswa

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

II.

TINJAUAN PUSTAK

2.1 Kajian Teori

Bagian ini memaparkan beberapa pikiran para ahli berkaitan dengan

penelitiaan. Teori yang akan dibahas mengenai pengertian motivasi belajar, faktor-

faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa, ciri-ciri motivasi belajar, indikator

motivasi belajar, fungsi motivasi belajar, hakikat pembelajaran Bahasa Indonesia,

tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SD, pembelajaran Bahasa Indonesia di

SD,Kerangka berpikir

2.1.1. Pengertian Motivasi Belajar

Motivasi berasal dari kata “motif” diartikan sebagai daya upaya yang

mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan sebagai daya

penggerak dari dalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi

mencapai suatu tujuan. Motif menjadi aktif pada saat-saat tertentu, terutama bila

kebutuhan untuk mencapai tujuan mendesak. Dalam pandangan yang berkembang di

masyarakat, motivasi sering diidentikkan dengan 'semangat', dan hasil belajar

merupakan pencapaian yang diraih oleh seorang individu dalam mengasah

kemampuannya melalui proses yang dilakukan dengan usaha melibatkan kemampuan

kognitif, afektif, psikomotor, serta kombinasi yang dimilikinya untuk memperoleh

pengalaman dalam jangka waktu yang cukup lama, sehingga individu tersebut
mengalami perubahan serta pengetahuan dari apa yang diamatinya secara langsung

maupun tidak langsung, yang akan melekat padanya secara permanen.

Motivasi adalah istilah yang paling sering digunakan untuk menjelaskan

keberhasilan atau kegagalan hampir semua tugas yang rumit, motivasi merupakan

fakto-faktor yang mendorong tingkah laku dan memberikan arah kepada tingkah

nlaku tersebut dan juga pada umumnya diterima bahwa motif seseorang untuk terlibat

dalam satu kegiatan tertentu didasarkan atas kebutuhan yang mendasari (Klolid,

2017). Motivasi belajar merupakan sesuatu keadaan yang terdapat pada diri seseorang

individu dimana ada suatu dorongan untuk melakukan sesuatu guna mencapai tujuan.

Menurut Mc Donald dalam Kompri (2016) motivasi adalah suatu perubahan energi di

dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif (perasaan) dan reaksi

untuk mencapai tujuan. Motivasi belajar merupakan sebuah kondisi dimana seorang

peserta didik mempunyai dorongan untuk melakukan sesuatu. Motivasi belajar yang

rendah mengakibatkan peserta didik kurang optimal dalam mengerahkan potensi dan

kemampuan yang dimilikinya.

Motivasi belajar mempunyai peranan besar dari keberhasilan seorang siswa.

Hasil belajar akan menjadi optimal kalau ada motivasi belajar. Makin tepat motivasi

yang diberikan, akan semakin baik hasil belajar. Dengan demikian motivasi

senantiasa menentukan intensitas usaha belajar bagi siswa (Bakar, 2014). Motivasi

menurut Hamalik (2020) merupakan perubahan energi dalam diri atau pribadi

seseorang yang ditandai dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai

tujuan yang mengandung tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu (1) motivasi yang
bermula dari adanya perubahan energi dalam diri, (2) motivasi ditandai dengan

munculnya perasaan, (3) motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi yang timbul dalam

mencapai tujuan yang berfungsi memberikan dorongan untuk timbulnya kelakuan

atau sesuatu perbuatan. Motivasi belajar merupakan dorongan untuk melakukan suatu

perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu saat berinteraksi

dengan lingkungannya dalam proses pembelajaran yang terdiri dari kognitif, afektif,

dan psikomotorik (Octavia, 2020). Motivasi belajar merupakan tenaga penggerak

yang ada dalam diri peserta didik sehingga menyebabkan timbulnya kegiatan belajar,

yang menjamin kelangsungan kegiatan belajar berjalan lancar, dan yang

mengarahkan kegiatan belajar sehingga tujuan yang dikehendaki akan tercapai

(Sardiman, 2016).

Motivasi belajar adalah variabel yang mana terbagi atas dua kata

ialahmotivasi dan belajar yang mana memiliki arti masing-asing. Menurut slameto

(2020:126) motivasi belajar ialah daya penggerakyangmana terlokasi pada dalam diri

siswa secara menyeluruh yang mana menimbulkanniat guna melangsungkan sebuah

tindakan kegiatan proses belajar sehingga tujuanyang mana didambakan mampu

tergapai. Menurut [Link] dalam yusneli (2021) mengemukakan bahwamotivasi

belajar ialah sebuah sokongan internal dan eksternal akan seseorangsiswa yang mana

tengah melangsungkan kegiatan belajar guna meningkatkanperilaku.

Dari beberapa definisi dari para ahli dapat disimpulkan bahwa motivasi

belajar adalah dorongan yang mampu menggerakkan seseorang untuk melakukan

sesuatu karena adanya faktor pendukung baik itu internal maupun eksternal yang
menyebabkan terjadinya kegiatan belajar, mengarahkan diri dalam kegiatan belajar,

dan membangkitkan semangat juang, ketekunan, keuletan, dan memiliki komitmen

untuk mencapai hasil belajar optimal sesuai dengan yang diharapkan.

2.1.2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa

Beberapa faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa menurut

Hanafiah (2021) yaitu:

1. Faktor Internal

a. Kemampuan peserta didik. Motivasi belajar dipengaruhi oleh

setiapkemampuan yang dimiliki oleh peserta didik. Kemampuan yang

dimaksud adalahsegala potensi yang dimiliki, dari segi intelektual maupun

psikomotorik.

b. Kondisi peserta didik. Kondisi secara fisiologis juga turut mempengaruhi

motivasi belajar peserta didik. Seperti kesehatan dan panca indera. Ketika

pesertadidik memiliki kesehatan dan panca inderanya bekerja secara maksimal,

pesertadidik memiliki peluang untuk mencapai keberhasilan dalam proses

pendidikannya.

c. Cita-cita dan aspirasi karier. Salah satu faktor pendukung yang dapat

memperkuat semangat belajar adalah dengan memiliki cita cita.

Sedangkanaspirasi karier adalah harapan atau keinginan yang dimiliki individu

dan selalu menjadi tujuan dari perjuangan yang telah ia mulai.


d. Keadaan psikologi peserta didik yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu:

a) Intelegensi.

Inteligensi sebagai kemampuan psikofisik dalammereaksikanrangsangan

atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat.

Inteligensi tidak selalu berkaitan dengan otak, tetapi adanya pengaruh

interaksi dan koneksi antar bagian organ-organ yang ada di dalam tubuh

makhluk hidup.

b) Bakat.

Bakat adalah kemampuan yang dimiliki setiap individu yang diasahdan

dikembangkan melalui belajar yang kecakapan dan membantu untuk

meraihkesuksesan.

c) Persepsi.

Persepsi peserta didik tentang manfaat belajar dan keuntungannyayang

diperoleh ketika belajar juga mempengaruhi semangatnya untuk terus

belajar.

d) Sikap.

Sikap memiliki peran dalam mempengaruhi motivasi belajar pesertadidik,

sebab ketika peserta didik belajar dalam keadaan atau suasana senang,

yangdipicu oleh cara guru dalam mengajar akan membuat peserta didik

tetap semangat sehingga memperoleh hasil yang maksimal, begitu juga

sebaliknya.

e) Unsur-unsur Dinamis dalam Pembelajaran.


Perasaan, ingatan, keinginandanpengalaman yang dimiliki peserta didik

turut mempengaruhi motivasi dalambelajar, baik secara langsung maupun

tidak langsung.

e) Minat adalah Satu yang berpengaruh dalam motivasi belajar adalah minat.

Apabila peserta didik memiliki minat besar terhadap pelajaran bahasa

Indonesia, ia sungguh-sungguh belajar dengan penuh rasa keceriaan.

2. Faktor Eksternal

Faktor eksternal berarti faktor-faktor di luar dari diri peserta didik yang

ikut berperan dalam mempengaruhi motivasi belajar Putri & Soetjiningsih (2019)

adalah:

1. Lingkungan sosial sekolah, seperti guru, teman-teman di kelas dapat

mempengaruhi proses belajar, kondisi lingkungan belajar yang kondusif akan

mendukung danmemperkuatsemangat belajar peserta didik.

2. Kondisi lingkungan belajar.

3. Lingkungan sosial keluarga, pengaruh antar orangtua dan anak yang harmonis

dan saling menghargai juga akan mempengaruhi motivasi anak dalam belajar.

4. Lingkungan sosial masyarakat, ketika peserta didik merasa diakui

keberadaanyadengan diikutsertakan dalam kegiatan masyarakat, juga akan

mempengaruhi semangatnya dalam belajar.

5. Lingkungan non sosial, terbagi dua yaitu aspek instrumental dan lingkungan

alamiah. Aspekinstrumental seperti fasilitas atau sarana prasarana yang

disediakan oleh sekolah juga akan mempengaruhi semangat peserta didik


dalam belajar. Sedangkan Lingkungan alamiah, artinya dukungan, kasih

sayang dan kebiasaan-kebiasaankeluarga yang baik akan turut mempengaruhi

motivasi belajar anak.

Menurut rahmawanto (2023) menyatakan bahwa motivasi belajar bersumber

akan berbagai aspek termasuk kedambaan guna pencapaian akantujuan pribadi,

perasaan keingin tahuan, aspirasi karierm kedambaan gunapeningkata kualitas hidup

atau sokongan guna pemenuhan dambaan masyarakat atau orang tua.

Berdasarkan uraian di atas mampu dilangsungkan penarikan kesimpulan

bahwa aspek-aspek motivasi belajar di bagi menjadi 2 yaitu faktor internal

[Link] internal yang terdiri dari (1) cita- cita dan aspirasi karier,(2)

Kemampuan peserta didik, (3) keadaan [Link] faktor eksternal yaitu

terbagi atas (1) kondisi lingkungan belajar,(2) kondisi lingkungan sosial.

2.1.3 Ciri-Ciri Motivasi Belajar

Berikut ini adalah ciri-ciri motivasi belajar yang ada pada peserta didik

menurut Whab (2016) adalah sebagai berikut:

a. Tekun menghadapi tugas.

b. Ulet dalam menghadapi kesulitan (tidak mudah putus asa).

c. Tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi.

d. Ingin mendalami bahan/ bidang pengetahuan yang diberikan dikelas.


e. Selalu berusaha berprestasi sebaik mungkin ( tidak mudah puas dengan

prestasinya).

f. Menunjukkan minat terhadap masalah orang dewasa (misal pembangunan, politik,

agama, keadilan dan sebagainya).

g. Senang, rajin dan penuh semangat.

Membangkitkan motivasi didiri peserta didik bukanlah hal yang mudah untuk

dilakukan. Perlu mengenal diri peserta didik lebih lanjut dan mencari informasi

tentang keiniginan peserta didik tersebut, sehingga kita dapat memotivasi mereka.

2.1.4 Indikator Motivasi Belajar

Hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal dan eksternal pada peserta

didik yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya

dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Indikator motivasi belajar

dapat diklasifikasikan sebagai berikut Uno (2012:23):

a. Adanya hasrat dan keinginan berhasil

b. Adannya dorongan dan kebutuhan dalam belajar

c. Adanya harapan dan cita-cita masa depan

d. Adanya penghargaan dalam belajar

e. Adanya kegiatan yang menarik


f. Adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan siswa dapat

belajar dengan baik.

Indikator motivasi seperti ini akan sangat penting dalam kegiatan belajar

mengajar. Kegiatan belajar mengajar akan berhasil baik apabila peserta didik tekun

mengerjakan tugas, ulet dalam memecahkan berbagai masalah dan hambatan.

2.1.5 Fungsi Motivasi Belajar

Setiap pekerjaan selain membutuhkan adanya kcakapan-kecakapan pribadi,

juga membutuhkan adanya motif yang cukup sehingga keberhasilan suatu pekerjaan

akan dicapai. Tanpa motivasi orang tidak akan berbuat apa-apa, tidak akan bergerak

kerapkali pekerjaan itu dapat dikerjakan dengan baik oleh orang yang memiliki

motivasi kuat, walaupun kecakapnnya sedang sedang saja, sedangkan orang yang

berkecakapan tinggi tanpa memiliki motivasi yang cukup, tidak akan dapat

menyelesaikan pekerjaannya. Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan,

sebeb seseorang yang tidak mempunyai motivasi dlam belajar, tidak akan mungkin

melaksanakan aktivitas belajar. Motivasi diperlukan dalam menentukan intensitas

usaha belajar bagi para peserta didik. Wahab (2016) ada tiga fungsi motivasi dalam

belajar, yaitu:

a. Motivasi sebagai pendorong perbuatan

Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada

sesuatu yang dicari muncullah minatnya untuk belajar. Sesuatu yang akan

dicari itu dalam rangka untuk memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu
yang akan di pelajari. Sesuatu yang belum diketahui tersebut akhirnya

mendorong anak didik untuk belajar dalam rangka mencari tahu. Sikap itulah

yang mendasari dan mendorong kearah sejumlah perbuatan dalam belajar.

b. Motivasi sebagai penggerak perbuatan

Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu

merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian menjelma

dalam bentuk gerakan psikofisis.

c. Motivasi sebagai pengarah perbuatan

Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang

harus dilakukandan mana perbuatan yang diabaikan. Sesuatu yang akan dicari

peserta didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar

itulah sebagai pengarah yang memberikan motivasi kepada anak didik dalam

belajar.

2.1.5 Hakikat Pelajaran Bahasa Indonesia

Bahasa adalah lingkaran system lambang bunyi yang arbitrer (semena -

mena), yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama,

berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Dalam percakapan (perkataan) yang baik

serta tingkah laku yang baik dan sopan santun Bahasa adalah alat komunikasi untuk

kita dapat berinteraksi dengan manusia lainnya. Tanpa bahasa tidak mungkin kita

dapat berinteraksi, karena bahasa adalah sumber untuk menciptakan interaksi

manusia dengan yang lainnya. Bahasa digunakan sebagai bentuk interaksi dalam
kelompok masyarakat untuk bekerjasama dan berkomunikasi satu sama lain melalui

simbol-simbol bahasa yang telah disepakati. (Warsiman, 2013) menyatakan bahwa

bahasa adalah suatu lembaga kemasyarakakatan yang menimbulkan ragam-ragam

sebagai pembeda antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya, baik keragaman

sosial penutur ataupun keragaman fungsi bahasa. (Yendra, 2018) mengartikan bahasa

sebagai sistem bunyi yang bermakna dengan adanya lambang bunyi yang kemudian

dituturkan dari arbiter manusia dalam situasi yang wajar sehingga dapat digunakan

sebagai alat komunikasi. Maka dari itu, bahasa itu adalah sistem lambang bunyi yang

arbiter dengan alat ucap manusia yang menghasilkan suatu makna sehingga dapat

dimengerti oleh manusia lainnya.

Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa yang harus dikuasai oleh

setiap warga negara Indonesia. Oleh karena itu, sangat penting untuk memberikan

dasar-dasar berbahasa yang baik sedari usia dini. Sekolah Dasar (SD) sebagai bagian

dari wadah pendidikan anak usia dini menjadi salah satu tonggak yang penting bagi

keberlangsungan dan keberadaan Bahasa Indonesia, baik itu dalam bahasa tulis

maupun bahasa lisan. Pebriani dkk, (2014). Mata pelajaran bahasa Indonesia secara

umum dikembangkan menjadi keterampilan berbahasa yang meliputi mendengarkan,

berbicara, membaca, dan menulis (Depdiknas, 2013:). Keempat aspek keterampilan

berbahasa tersebut, di Sekolah Dasar memiliki standar kompetensi. Masing-masing

standar kompetensi dari keempat dasar tersebut sebagai berikut :

a) Mendengarkan mampu berdaya tahan dalam berkonsentrasi, mendengarkan sampai

dengan tiga puluh menit, dan mampu menyerap gagasan pokok dari berita,
petunjuk, pengumuman, perintah, bunyi atau suara, bunyi bahasa, lagu, kaset,

pesan, penjelasan, laporan, ceramah, pidato, pembicaraan nara sumber, dialog,

serta percakapan yang didengar dengan memberikan respons secara tepat, serta

mengaprisiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan mendengarkan hasil sastra

berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita binatang, puisi anak, syair

lagu, pantun, dan menonton drama anak.

b) Berbicara mampu mengungkapkan gagasan dan perasaan, menyampaikan

sambutan, dialog, pesan, pengalaman, suatu proses, menceritakan diri sendiri,

teman, keluarga, masyarakat, benda, tanaman, binatang, pengalaman, gambar

tunggal, gambar seri, kegiatan sehari-hari, peristiwa, tokoh, kesulitan atau

ktidaksukaan, kegemaran, peraturan, tata tertib, petunjuk dan laporan, serta

mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan melisankan hasil sastra

berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita binatang, puisi anak, syair

lagu, pantun, dan menonton drama anak.

c) Membaca mampu membaca lancar beragam teks, dan mampu menjelaskan isinya,

membaca huruf, suku kata, kata, kalimat, paragraf, berbagai teks bacaan, denah,

petunjuk, tata tertib, pengumuman, kamus, ensiklopedi, serta mengapresiasi dan

berekspresi sastra melalui kegiatan membaca hasil sastra berupa dongeng, cerita

anak-anak, cerita rakyat, cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun, dan

menonton drama anak.

d) Menulis mampu menulis huruf, suku kata, kata, kalimat, paragraf dengan tulisan

yang rapi dan jelas, mneulis karangan sederhana, berbagai petunjuk, berbagai teks,

surat pribadi dan surat resmi, serta memerhatikan tujuan dan ragam pembaca serta
menggunakan ejaan dan tanda baca, kosakata yang tepat dengan menggunakan

kalimat tunggal dan kalimat majemuk, mneulis berbagai formulir, pnegumuman,

tata tertib, berbagai laporan, buku harian, poster, iklan, teks pidato dan sambutan,

ringkasan dan rangkuman, prosa, serta puisi sederhana.

Dalam Depdiknas (2013) dijelaskan bahwa tujuan pembelajaran keempat

aspek keterampilan berbahasa tersebut adalah sebagai berikut:

a) Siswa dapat mengembangkan potensinya sesuai dengan kemampuan, kebutuhan

dan minatnya, serta dapat menumbuhkan penghargaan terhadap hasil karya dan

hasil intelektual bangsa sendiri.

b) Guru dapat memusatkan perhatian pada pengembangan kompetensi bahasa siswa

dengan menyediakan beragam kegiatan berbahasa dan sumber belajar.

c) Guru lebih mandiri dan leluasa dalam menentukan bahan ajar sesuai dengan

kondisi

lingkungan .

d) Orang tua dan masyarakat terlibat secara aktif dalam pelaksanaan program

sekolah. e) Sekolah dapat menyusun program pendidikan sesuai dengan keadaan

siswa dan

sumber belajar yang tersedia.

f) Daerah dapat menentukan bahan dan sumber belajar sesuai dengan kondisi dan

kekhasan daerah (Depdiknas, 2013).

2.1.6 Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD


Tujuan dari belajar bahasa Indonesia agar siswa dapat memahami karya sastra

dan memperluas wawasan kehidupan. Menurut Susanto (2013) tujuan pembelajaran

Bahasa Indonesia di SD antara lain bertujuan agar siswa mampu menikmati dan

memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas

wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.

Adapun tujuan khusus pengajaran Bahasa Indonesia, antara lain agar siswa memiliki

kegemaran membaca, meningkatkan karya sastra untuk meningkatkan kepribadian,

mempertajam kepekaan, perasaan, dan memperluas wawasan kehidupannya.

Menurut Hartati (2013) tujuan pembelajaran Bahasa Indonesia adalah sebagai

berikut.

1. Siswa menghargai dan mengambangkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa

persatuan (nasional) dan bahasa negara.

2. Siswa memahami Bahasa Indonesia dari segi bentuk makna, dan fungsi, serta

menggunakan dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan

keperluan dan keadaan.

3. Siswa memiliki kemampuan menggunakan Bahasa Indonesia untuk

meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan

kematangan sosial.

4. Siswa memiliki disiplin dengan berpikir dan berbahasa (berbicara dan

menulis)

5. Siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk

mengembangkan sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual

manusia Indonesia.
Dari pendapat diatas pembelajaran Bahasa Indonesia adalah agar siswa

mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan

kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan

kemampuan berbahasa dan agar siswa memiliki disiplin dengan berpikir dan

berbahasa (berbicara dan menulis).

2.1.7 Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD

Pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari beberapa aspek yaitu menyimak,

berbicara, membaca dan menulis, Menurut Susanto (2013) pembelajaran bahasa

Indonesia, terutama di sekolah dasar tidak akan terlepas dari empat keterampilan

berbahasa, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan

berbahasa bagi manusia sangat diperlukan. Sebagai makhluk sosial, manusia

berinteraksi, berkomunikasi dengan manusia lain dengan menggunakan bahasa

sebagai media, baik berkomunikasi menggunakan bahasa lisan. Juga berkomunikasi

menggunakan bahasa tulisan.

Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata pelajaran di SD,

berdasarkan peraturan Menteri No. 22 (2006) tentang standar isi untuk satuan

pendidikan dasar dan menengah “pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari aspek

menyimak, menulis surat, menulis, dan berbicara. Aspek yang dipilih dalam

penelitian ini adalah aspek menulis. Jadi kesimpulan dari penjelasan beberapa ahli

diatas adalah bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari beberapa aspek yaitu

menyimak, berbicara, membaca dan menulis, dan pada dasarnya manusia sebagai
makhluk sosial berkomunikasi menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan,

sehingga kemampuan berbahasa sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk dapat mengetahui aspek dalam Bahasa Indoneisa siswa harus dapat

menguasai kemapuan membaca, menyimak, berbicara, dan menulis. sehingga emapat

aspek terpenting dalam pelajaran Bahasa Indonesia,dan siswa harus diajarkan di

sekolah dasar.

2.2 Kerangka Berfikir

Proses pendidikan pada umumnya berlangsung di sekolah melalui aktivitas

pembelajaran yaitu mengarah pada hasil belajar yang dijadikan sebagai tolak ukur

keberhasilan proses pembelajaran. Aktivitas belajar bukanlah suatu kegiatan yang

dilakukan yang terlepas dari faktor lain. Aktivitas belajar merupakan kegiatan yang

melibatkan unsur jiwa dan raga. Belajar tak akan pernah dilakukan tanpa suatu

dorongan yang kuat baik dari dalam yang lebih utama maupun dari luar sebagai

upaya lain yang tak kalah pentingnya. Aktivitas belajar bermuara pada hasil belajar

yang merupakan tolak ukur keberhasilan dalam pembelajaran. Faktor lain yang

mempengaruhi aktivitas belajar adalah motivasi (Djamarah, 2018).

Motivasi belajar siswa merupakan faktor utama yang menentukan

keberhasilan belajar. Keberhasilan yang dicapai, dipandang sebagai tolak ukur dalam

pembelajaran. Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan dan

mengarahkan perilaku manusia, termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi

terkandung adanya keinginan yang mengakifkan, menggerakkan, manyalurkan, dan

mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar (Sardiman,2016). Motivasi


mempunyai peranan yang strategis dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak ada

seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada

kegiatan belajar. Prinsip motivasi dalam belajar yaitu sebagai penggerak yang

mendorong aktivitas belajar, dapat memupuk optimisme dalam belajar, dan dapat

melahirkan prestasi dalam belajar (Djamarah, 2018).

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti ingin mengetahui motivasi belajar siswa

pada pelajaran Bahasa Indonesia peserta didik kelas V di SDN 02 Ketapang . Alur

pikir tersebut dapat digambarkan dalam bagan kerangka berfikir sebagai berikut.

Gambar 1. Kerangka Berfikir Penelitian

Proses belajar bahasa


Indonesia pada kelas V
SDN 02 Ketapang

Faktor internal Motivasi Belajar


Motivasi siswa Peserta didik pada
Faktor eksternal Pelajaran Bahasa

Anda mungkin juga menyukai