Tes Fungsi Hati: Metode dan Interpretasi
Tes Fungsi Hati: Metode dan Interpretasi
DOSEN :
OLEH :
Latar Belakang
Hati adalah organ kelenjar terbesar dengan berat kira-kira 1200-1500 gram.
Terletak di abdomen kuadran kanan atas menyatu dengan saluran bilier dan
kandung empedu. Hati menerima pendarahan dari sirkulasi sistemik melalui
arteri hepatica dan menampung aliran darah dari system porta yang
mengandung zat makanan yang diabsorbsi usus. Secara mikroskopis, hati
tersusun oleh banyak lobulus dengan struktur serupa yang terdiri dari hepatosit,
saluran sinusoid yang dikelilingi oleh endotel vaskuler dan sel Kupffer yang
merupakan bagian dari system retikuloendotelial.
Hati memiliki peran yang sangat penting dalam metabolisme glukosa dan
lipid, membantu proses pencernaan, absorbsi lemak, serta detoksifikasi tubuh
terhadap zat toksik. Interpretasi hasil pemeriksaan uji fungsi hati tidak dapat
menggunakan hanya satu parameter tetapi menggunakan gabungan beberapa
hasil pemeriksaan, karena keutuhan sel hati dipengaruhi juga oleh factor
ekstrahepatik.
Pemeriksaan fungsi hati diindikasikan untuk penapisan atau deteksi adanya
kelainan atau penyakit hati, membantu menegakkan diagnosis, memperkirakan
beratnya penyakit, membantu mencari etiologic suatu penyakit, menilai hasil
pengobatan, membantu mengarahkan upaya diagnostik selanjutnya serta
menilai prognosis dan disfungsi hati.
Diagonosis penyakit hati dengan menggunakan pemeriksaan laboratorium
pada dasarnya adalah untuk mendapatkan informasi mengenai fungsi, keutuhan
sel dan etiologic penyakit hati, dengan cara menafsirkan hasil pemeriksaan
laboratorium. Penafsiran hasil pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosis
penyakit hati tidak dapat menggunakan satu jenis hasil pemeriksaan
laboratorium saja, tetapi menggunakan gabungan beberapa macam hasil
pemeriksaan (batteray test). Hal itu disebabkan oleh sifat hasil pemeriksaan
laboratorium pada penyakit hati yang tidak spesifik dan tidak sensitif. Bersifat
tidak spesifik karena hasil pemeriksaan fungsi dan keutuhan sel hati
dipengaruhi oleh kelainan diluar hati (faktor ekstra hepatik). Bersifat tidak
sensitive karena daya cadang fungsi hati sangat besar dan daya regenerasi sel
hati dengan cepat, sehingga pada kelainan hati yang ringan, baik kerusakan
awal sel hati maupun kerusakan jaringan hati yang belum luas (kurang dari
60%), menunjukkan hasil pemeriksaan laboratorium yang masih normal.
Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari tes fungsi hati?
2. Bagaimana pemeriksaan laboratorium untuk tes fungsi hati?
PEMBAHASAN
B. Pemeriksaan Laboratorium
Satu tes fungsi hati mempunyai nilai diagnostik kecil bila dilakukan secara
terpisah. Pemilihan tes yang cocok harus selalu dilakukan dan pemilihan tes
fungsi hati secara biokimia tergantung atas tujuan penyelidikan. Pemeriksaan
laboratorium untuk tes fungsi hati adalah sebagai berikut :
1. Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT)
Beberapa laboratorium sering juga memakai istilah AST (aspartate
aminotransferase). SGOT merupakan enzim yang tidak hanya terdapat di
hati, melainkan juga terdapat di otot jantung, otak, ginjal, dan rangka bisa
dideteksi dengan mengukur kadar SGOT. Kadar SGOT dianggap abnormal
jika nilai yang didapat 2-3 kali lebih besar dari nilai normalnya. Apabila
ditemukan enzim SGOT dalam darah dengan kadar tinggi, kondisi tersebut
bisa menjadi tanda adanya kerusakan pada organ hati. Perlu diketahui, kadar
normal enzim AST pada orang dewasa adalah sekitar 8–48 U/L.
a. Tujuan Pemeriksaan
Untuk mengetahui kadar SGOT seseorang dalam U/l.
b. Prinsip Pemeriksaan
Metode kinetik untuk penentuan aktivitas GOT sesuai dengan
rekomendasi dari IFCC (International Federation of Clinical Chemistry).
c. Reaksi Pemeriksaan
GOT 2-oxoglutarate + L-aspartate ⇔ L-glutamate + oxaloacetate
⇔ L-malate + NAD
+¿¿ + ¿¿
MDH oxaloacetate + NADH + H
d. Alat dan Bahan
1) Tabung reaksi
2) Mikropipet
3) Blue tip dan yellow tip
4) Tisu
5) Reagen pereaksi
6) Fotometer
7) Parafilm
8) Sampel serum
e. Prosedur Pemeriksaan
1) Persiapan reagen
Campur reagen dengan enzim dengan perbandingan reagen : enzim
= 1 :4
2) Persiapan sampel
Sampel
Sampel 100 μl
Reagen 1000 μl
Campur pada suhu 37°C, ukur absorbance setelah 1 menit dan pada
saat bersamaan nyalakan stopwatch. Ukur absorbance setelah 1, 2, 3
menit. Hitung dA/menit.
3) Pengaturan fotometer
Panjang gelombang : 340 nm
Faktor : 1745
Program : K20
f. Nilai Normal
25°C 30°C 37°C
Pria s.d. 22 U/L s.d. 30 U/L s.d. 42 U/l
Wanita s.d. 17 U/L s.d. 23 U/L s.d. 32 U/l
3. Gamma GT
GGT adalah salah satu enzim dalam serum, yang bekerja pada lini
pertama proses degradasi ekstraseluler glutathione (GTH). Pemeriksaan
fungsi hati gamma GT adalah skrining Kesehatan dengan memeriksa kadar
enzim gamma glutamyl transferase (GGT) di dalam darah. Enzim tersebut
dapat meningkat di dalam darah apabila terjadi kerusakan pada organ hati
dan saluran empedu.
a. Alat Praktikum
Alat yang digunakan adalah yaitu tabung serologis, tabung venoject,
pipet Pasteur, mikropipet, sentrifuge, waterbath, fotometer, yellow tip,
dan blue tip.
b. Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan adalah serum, reagen 1 (R1) Tris pH 8,25 135
mmol/L, glisin 135 mmol/L. dan reagen 2 (R2) L-Gamma-glutamil-3-
karboksi-4-nitroanilid 22 mmol/L.
c. Cara Kerja
Pertama-tama membuat monoreagen = R1+R2, 4 bagian R1+1 bagian
R2 dengan volume = 2000 µL. Campur (4:1) R1= 1600 µL, dan R2= 400
µL. Memipet 1000 µL monoreagen pada tabung blanko dan sampel. Isi
tabung yang berlabel blanko dengan 1000 µL monoreagen + 100 µL
aquades, sedangkan isi tabung yang berlabel sampel dengan 1000 µL
monoreagen + 100 µL sampel. Inkubasi pada suhu 37°C selama 1 menit.
Siapkan fotometer, atur dengan λ : 405 nm, mode : K-60, faktor : 1158.
Masukkan dalam fotometer tepat 1 menit setelah inkubasi. Baca hasil
pada menit 1, 2, dan 3.
d. Nilai Normal
Berdasarkan Szasz :
Wanita < 32 U/L
Pria < 49 U/L
Berdasarkan IFCC :
Wanita Pria
Dewasa < 38 U/L < 55 U/L
Anak-anak
1 hari-6 bulan 15-132 U/L 12-122 U/L
6 bulan-1 tahun 1-39 U/L 1-39 U/L
1-12 tahun 4-22 U/L 3-22 U/L
13-18 tahun 4-24 U/L 2-42 U/L
6. Antigen Hepatitis B
Tes antigen hepatitis B bertujuan untuk mendeteksi risiko penyebaran
virus hepatitis B (HBV). Pemeriksaan HBsAg berguna untuk keperluan
klinis maupun epidemiologic. Skrining darah di unit-unit tranfusi darah,
serta digunakan pada evaluasi terapi hepatitis B kronis. Metode
pemeriksaannya dapat dilakukan secara kualitatif (Rapid test) dan kuantitatif
(ELISA), metode kuantitatif berguna untuk mengukur titer kadar HBsAg,
mengetahui perjalanan penyakit dan mengidentifikasi jenis keparahannya.
a. Alat dan Bahan
Test strip HBsAg dan serum.
b. Prosedur Kerja
1) Pra Analitik
a) Mencuci tangan dengan 5 moment
b) Menggunakan Alat pelindung diri yang lengkap
2) Analitik
a) Memipet serum dan masukkan ke dalam tabung.
b) Membuka bungkus strip test HBsAg
c) Mencelupkan strip HBsAg ke dalam serum, jangan melewati batas
garis pada strip. Tunggu hingga serumya berjalan naik ke atas.
d) Mengamati garis yang muncul pada strip test.
3) Pasca Analitik
a) Jika positif ditandai dengan terbentuknya garis pada C dan T
b) Jika negatif hanya muncul 1 garis pada garis T
7. Antibodi Hepatitis B
Skrining antibodi hepatitis B merupakan prosedur pemeriksaan yang
digunakan untuk menentukan status kekebalan tubuh terhadap infeksi virus
hepatitis B (HBV), menilai kebutuhan seseorang untuk memperoleh
vaksinasi hepatitis B, menilai respons vaksinasi hepatitis B, hingga
mendiagnosis infeksi HBV. Metode yang digunakan adalah
imunokromatografi (rapid test) untuk mendeteksi secara kualitatif adanya
antibodi virus hepatitis B dalam sampel serum/plasma pasien.
a. Prinsip Pemeriksaan
Berdasarkan reaksi antara antibodi dalam serum atau plasma dengan
antigen HBV rekombinan yang terkonjugasi dengan gold colloid, dan
bermigrasi sepanjang membran secara kromatografi dengan gaya kapiler
untuk bereaksi dengan antigen HBV rekombinan dalam membran dan
menghasilkan garis warna ungu.
b. Alat dan Bahan
Casette pemeriksaan (Anti-HBs Rapid Test), serum atau plasma
(EDTA, heparin, sitrat), dan mikropipet 100 µL.
c. Prosedur Kerja
1) Semua komponen bahan/reagen dan specimen dikondisikan pada suhu
ruang sebelum dilakukan pemeriksaan.
2) Casette test dikeluarkan dari kemasannya dan ditempatkan pada
daerah datar serta permukaan yang kering.
3) Dimasukkan 100 µL specimen ke dalam sumur cassette.
4) Pemeriksaan mulai berjalan jika terlihat warna ungu bergerak
sepanjang garis pada casette.
5) Hasil diidentifikasi setelah 20 menit.
d. Interpretasi Hasil
1) Negatif : hanya terlihat/muncul warna ungu pada garis kontrol ‘C’
saja.
2) Positif : terlihat/muncul warna ungu pada garis kontrol ‘C’ dan test
‘T’.
3) Invalid : warna ungu tidak muncul/terlihat pada garis kontrol ‘C’.
8. Antibodi Hepatitis C
Skrining antibodi hepatitis C adalah pemeriksaan kesehatan untuk
mendeteksi infeksi virus hepatitis C (HCV), menilai kekebalan tubuh
terhadap infeksi HCV, serta mencegah perkembangan komplikasi dari
berbagai penyakit liver, seperti sirosis hati dan gagal hati. Metode yang
biasa digunakan dalam tes ini ialah ELISA manual.
a. Prinsip Pemeriksaan
Hepanostika HCV Ultra menggunakan immunosorbent yang terikat
pada dasar sumur yang terdiri dari peptide sintetik khusus untuk
mengikat antigen yang sangat antigenic pada segmen inti, NS3, NS4,
NS5 pada daerah dari hepatitis C virus. Adanya HCV antibodi spesifik
pada sampel akan mengikat immunosorbent. Proses pencucian dilakukan
untuk menghilangkan antibodi terikat dan komponen serum lainnya.
b. Alat Pemeriksaan
1) Microplate ELISA strip plates
2) Washer
3) Spektrofotometer
4) Mikropipet
5) Yellow tip
6) Inkubator
7) Timer
c. Bahan Pemeriksaan
1) Sampel serum atau plasma
2) Reagen hepanostika yang terdiri dari :
a) Larutan TMB substrate
b) Kontrol positif
c) Kontrol negatif
d) Specimen diluents (phospate buffer)
e) Conjugate working solution
3) Asam sulfat
d. Prosedur Kerja
1) Strip mikroelisa disiapkan sebanyak bahan yang diperiksa ditambah
dengan 3 positif kontrol dan 1 negatif kontrol.
2) Spesimen diluents dipipet sebanyak 100 µl dan dimasukkan ke dalam
masing-masing sumur mikroelisa.
3) Sampel dipipet 10 µl dan dimasukkan ke dalam masing-masing
mikroelisa, dimulai dari sumur E1.
4) Kontrol negatif dipipet 10 µl dan dimasukkan ke sumur A1
5) Kontrol positif dipipet 10 µl dan dimasukkan ke sumur B1, C1, dan
D1.
6) Dihomogenkan dengan hati-hati, dan diinkubasi pada suhu 37°C
selama ±30 menit.
7) Plate dicuci dengan mesin washer sebanyak 6 kali.
8) TMB substrate dipipet sebanyak 100 µl dan dimasukkan ke dalam
masing-masing sumur.
9) Diinkubasi pada suhu 20-30°C selama ±30 menit.
10) Reaksi dihentikan dengan penambahan 100 µl 1 mol/I sulfuric acid ke
dalam masing-masing sumur.
11) Hasil dibaca dengan microplate reader pada Panjang gelombang 450
nm dan 620-630 nm sebagai referensi.
e. Interpretasi Hasil
1) Kualifikasi kontrol negatif
a) Masing-masing NC harus ≤ 0,200
2) Kualifikasi kontrol positif
a) Masing-masing PC harus bernilai > 0,500
b) Rata-rata dari PC yang tersisa dihitung Kembali
c) Masing-masing PC harus ≥ 0,5× P x
PC dibuang bila tidak memenuhi syarat
d) Rata-rata dari PC dihitung Kembali
3) Tes validitas
a) Pemeriksaan valid jika PC x −NC ≥ 0,400
b) Pemeriksaan tidak valid jika NC tidak memenuhi syarat kualifikasi
c) Pemeriksaan tidak valid jika lebih dari 1 PC tidak memenuhi syarat
kualifikasi
4) Nilai cut off
a) Jika pemeriksaan valid, maka dapat dihitung nilai cut off = o,27 ×
PC x
b) Hasil reaktif bila nilai absorbansi dari sampel ≥ cut off
c) Hasil non reaktif bila nilai absorbansi dari sampel < cut off
Hati adalah organ vital pada manusia yang terletak disebelah kanan atas rongga
perut bawah diafragma. Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh manusia
dengan berat ± 1,5 kg. Berfungsi sebagai Penawar racun, sintesis protein,
perombakan sel darah merah, metabolisme lemak, karbohidrat, dan lain
sebagainya. Sel-sel hati dapat rusak atau hancur dan seluruh fungsi hati dapat
terganggu akibat berbagai penyakit, antara lain : infeksi, alkohol, obat-obatan, dan
pertumbuhan baru.
Satu tes fungsi hepar mempunyai nilai diagnostik kecil bila dilakukan secara
terpisah. Pemilihan tes yang cocok harus selalu dilakukan dan pemilihan tes
fungsi hepar secara biokimia tergantung atas tujuan penyelidikan. Mungkin tes
hepar paling sering digunakan dalam diagnose banding ikterus yang secara klinis
tak jelas asalnya dan dalam menilai sisa fungsi pada penyakit kronis. Pemakaian
tes fungsi hepar lain yang sering adalah untuk deteksi dan pengukuran kelemahan
fungsi pada penyakit hepar kronis yang telah diketahui atau dicurigai, juga
walaupun taka da ikterus.
Jadi secara umum tes fungsi hati bisa membantu mengevaluasi Kesehatan
organ hati dan mengindikasikan adanya kemungkinan penyakit lain seperti
malnutrisi maupun penyakit tulang.
DAFTAR PUSTAKA
Baron, D.N. 1990. Kapita Selekta Patologi Klinik. Volume 4. Jakarta : ECG.
Gibson, John. 2002. Fisiologi dan Anatomi Modern Untuk Perawat. Volume 2.
Jakarta : ECG.
Speicher, Carl E. 1996. Pemilihan Uji Laboratorium yang Efektif. Jakarta: ECG.