0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan21 halaman

Tes Fungsi Hati: Metode dan Interpretasi

Diunggah oleh

Riska Padliah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan21 halaman

Tes Fungsi Hati: Metode dan Interpretasi

Diunggah oleh

Riska Padliah
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PAPER KIMIA KLINIK

TES FUNGSI HATI

DOSEN :

Dr. H. Herman, [Link]., [Link].

OLEH :

Nama : Riska Padliah


NIM : PO.[Link].1.090
Kelas : D-III B Tingkat 2

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MAKASSAR
JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIS
PROGRAM STUDI DIPLOMA III
2024
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Hati adalah organ kelenjar terbesar dengan berat kira-kira 1200-1500 gram.
Terletak di abdomen kuadran kanan atas menyatu dengan saluran bilier dan
kandung empedu. Hati menerima pendarahan dari sirkulasi sistemik melalui
arteri hepatica dan menampung aliran darah dari system porta yang
mengandung zat makanan yang diabsorbsi usus. Secara mikroskopis, hati
tersusun oleh banyak lobulus dengan struktur serupa yang terdiri dari hepatosit,
saluran sinusoid yang dikelilingi oleh endotel vaskuler dan sel Kupffer yang
merupakan bagian dari system retikuloendotelial.
Hati memiliki peran yang sangat penting dalam metabolisme glukosa dan
lipid, membantu proses pencernaan, absorbsi lemak, serta detoksifikasi tubuh
terhadap zat toksik. Interpretasi hasil pemeriksaan uji fungsi hati tidak dapat
menggunakan hanya satu parameter tetapi menggunakan gabungan beberapa
hasil pemeriksaan, karena keutuhan sel hati dipengaruhi juga oleh factor
ekstrahepatik.
Pemeriksaan fungsi hati diindikasikan untuk penapisan atau deteksi adanya
kelainan atau penyakit hati, membantu menegakkan diagnosis, memperkirakan
beratnya penyakit, membantu mencari etiologic suatu penyakit, menilai hasil
pengobatan, membantu mengarahkan upaya diagnostik selanjutnya serta
menilai prognosis dan disfungsi hati.
Diagonosis penyakit hati dengan menggunakan pemeriksaan laboratorium
pada dasarnya adalah untuk mendapatkan informasi mengenai fungsi, keutuhan
sel dan etiologic penyakit hati, dengan cara menafsirkan hasil pemeriksaan
laboratorium. Penafsiran hasil pemeriksaan laboratorium untuk mendiagnosis
penyakit hati tidak dapat menggunakan satu jenis hasil pemeriksaan
laboratorium saja, tetapi menggunakan gabungan beberapa macam hasil
pemeriksaan (batteray test). Hal itu disebabkan oleh sifat hasil pemeriksaan
laboratorium pada penyakit hati yang tidak spesifik dan tidak sensitif. Bersifat
tidak spesifik karena hasil pemeriksaan fungsi dan keutuhan sel hati
dipengaruhi oleh kelainan diluar hati (faktor ekstra hepatik). Bersifat tidak
sensitive karena daya cadang fungsi hati sangat besar dan daya regenerasi sel
hati dengan cepat, sehingga pada kelainan hati yang ringan, baik kerusakan
awal sel hati maupun kerusakan jaringan hati yang belum luas (kurang dari
60%), menunjukkan hasil pemeriksaan laboratorium yang masih normal.

Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari tes fungsi hati?
2. Bagaimana pemeriksaan laboratorium untuk tes fungsi hati?
PEMBAHASAN

A. Tes Fungsi Hati


Satu tes fungsi hati mempunyai nilai diagnostik kecil bila dilakukan secara
terpisah. Pemilihan tes yang cocok harus selalu dilakukan dan pemilihan tes
fungsi hati secara biokimia tergantung atas tujuan pemeriksaan. Tes fungsi hati
yang paling sering digunakan dalam diagnose banding ikterus yang secara
klinis tidak jelas asalnya dan menilai sisa fungsi pada penyakit kronis. Untuk
diagnose banding ikterus, harus dilakukan pemeriksaan terpisah atas bilirubin
dikonjugasi dan total plasma, dan urine diperiksa bagi bilirubin dan
urobilinogen. Seperti juga tes untuk metabolisme pigmen, biasanya diperlukan
pemeriksaan kadar phosphatase alkali dan transaminase plasma, bila diagnose
banding ada antara ikterus hepatitis akut dan kolestatik pasca hepatik. Hasil
dari tes ini, dalam kombinasi dengan bukti klinis pada lebih dari 90% pasien
akan menunjukkan dan intensitas lesi yang menyebabkan ikterus.
Penentuan protein plasma total dan diferiasiasinya, kolestrol serta elektrolit
pada stadium ini secara diagnostik biasanya tak bernilai. Pemakaian tes fungsi
hati lain yang sering adalah untuk deteksi pengukuran kelemahan fungsi pada
penyakit hati kronis yang telah diketahui atau dicurigai, juga walaupun tidak
ada ikterus. Untuk tujuan ini sebagai tambahan bagi bilirubin total, maka
pemeriksaan plasma total dan diferensiasinya (disertai elektroforesa dan
termasuk waktu prothrombin), dan kadang-kadang tes retensi bromsulftalein
adalah yang paling berguna ˠ-globulin menggambarkan intensitas proses
selektif transaminase plasma digunakan untuk mengukur pemecahan sel yang
aktif. Pemeriksaan fosfatase alkali plasma terutama berguna untuk evaluasi
sirosis biliaris dan karsinomatosis hepatis terutama bila tidak ada ikterus.
Analisa ˠ-glutamiltransferase berguna untuk deteksi dini kerusakan hati
alkoholik.
Penentuan elektrolit adalah biasa bila terdapat sirosis dan penting dalam
menilai dan menatalaksanakan ascites. Penting mengukur trasminase dan fosfat
alkali plasma untuk memeriksa kemungkinan toksisitas kolestatis atau hepatic
dari banyak obat. Analisa berbagai auto antibodi yang bersikulasi menjadi
semakin penting dalam pemeriksaan penyakit kronis.
Uji laboratorium untuk fungsi hati biasanya tidak menentukan etiologi pasti
penyakit hati. Pemeriksaan-pemeriksaan ini hanya memberi petunjuk apakah
hati normal atau terdapat gangguan dan apabila terdapat gangguan, seberapa
besar (luas) gangguan penyakit tersebut. Bersama dengan Riwayat dan
pemeriksaan fisik, uji fungsi hati tidak jarang dapat menunjukkan
kemungkinan penyakit hati yang spesifik. Pemeriksaan-pemeriksaan lain,
seperti skintgrafi, sonografi, angiografi, laparoskopi, dan biopsi hati, umumnya
diperlukan untuk memastikan suatu diagnosis. Uji atau tes fungsi hati lebih
mudah dipahami dan diinterpretasikan jika kita meninjaunya menurut
gangguan-gangguan patofisiologik yang menyebabkan hasil uji tersebut
menjadi abnormal.

B. Pemeriksaan Laboratorium
Satu tes fungsi hati mempunyai nilai diagnostik kecil bila dilakukan secara
terpisah. Pemilihan tes yang cocok harus selalu dilakukan dan pemilihan tes
fungsi hati secara biokimia tergantung atas tujuan penyelidikan. Pemeriksaan
laboratorium untuk tes fungsi hati adalah sebagai berikut :
1. Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase (SGOT)
Beberapa laboratorium sering juga memakai istilah AST (aspartate
aminotransferase). SGOT merupakan enzim yang tidak hanya terdapat di
hati, melainkan juga terdapat di otot jantung, otak, ginjal, dan rangka bisa
dideteksi dengan mengukur kadar SGOT. Kadar SGOT dianggap abnormal
jika nilai yang didapat 2-3 kali lebih besar dari nilai normalnya. Apabila
ditemukan enzim SGOT dalam darah dengan kadar tinggi, kondisi tersebut
bisa menjadi tanda adanya kerusakan pada organ hati. Perlu diketahui, kadar
normal enzim AST pada orang dewasa adalah sekitar 8–48 U/L.
a. Tujuan Pemeriksaan
Untuk mengetahui kadar SGOT seseorang dalam U/l.
b. Prinsip Pemeriksaan
Metode kinetik untuk penentuan aktivitas GOT sesuai dengan
rekomendasi dari IFCC (International Federation of Clinical Chemistry).
c. Reaksi Pemeriksaan
GOT 2-oxoglutarate + L-aspartate ⇔ L-glutamate + oxaloacetate
⇔ L-malate + NAD
+¿¿ + ¿¿
MDH oxaloacetate + NADH + H
d. Alat dan Bahan
1) Tabung reaksi
2) Mikropipet
3) Blue tip dan yellow tip
4) Tisu
5) Reagen pereaksi
6) Fotometer
7) Parafilm
8) Sampel serum
e. Prosedur Pemeriksaan
1) Persiapan reagen
Campur reagen dengan enzim dengan perbandingan reagen : enzim
= 1 :4
2) Persiapan sampel
Sampel
Sampel 100 μl
Reagen 1000 μl
Campur pada suhu 37°C, ukur absorbance setelah 1 menit dan pada
saat bersamaan nyalakan stopwatch. Ukur absorbance setelah 1, 2, 3
menit. Hitung dA/menit.
3) Pengaturan fotometer
Panjang gelombang : 340 nm
Faktor : 1745
Program : K20
f. Nilai Normal
25°C 30°C 37°C
Pria s.d. 22 U/L s.d. 30 U/L s.d. 42 U/l
Wanita s.d. 17 U/L s.d. 23 U/L s.d. 32 U/l

2. Serum Glutamic Pyruvate Transaminase (SGPT)


SGPT sering juga disebut dengan nama ALT (alaninaminotransferase).
SGPT dianggap jauh lebih spesifik untuk menilai kerusakan hati
dibandingkan SGOT. SGPT meninggi pada kerusakan lever kronis dan
hepatitis. Normalnya, kadar enzim ALT di dalam darah yaitu sekitar 7–55
U/L. Namun, jika organ hati mengalami peradangan atau kerusakan, enzim
SGPT tersebut akan melebihi batas normal.
a. Alat Praktikum
Alat yang digunakan pada saat praktikum yaitu mikropipet, tabung
sentrifuge, dan spektrofotometer.
b. Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan pada saat praktikum yaitu sampel darah,
aquades, reagen SGPT.
c. Cara Kerja
1) Penyiapan serum
Pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Kemudian dimasukkan darah ke dalam tabung sentrifuge. Lalu
disentrifuge selama ± 15 menit pada kecepatan 5000 rpm. Diambil
serum darah dengan perlahan-lahan. Dimasukkan ke dalam tabung
reaksi.
2) Pengukuran absorben blanko
Pertama-tama siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Kemudian dipipet 200 µL aquades ke dalam tabung reaksi,
ditambahkan 2000 µL reagen 1 SGPT, lalu homogenkan. Setelah
diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37°C. ditambahkan 500 µL
reagen 2 SGPT, homogenkan. Dipindahkan larutan ke dalam kuvet
kemudian diukur absorban pada Panjang gelombang 365 nm dengan
spektrofotometer. Dicatat nilai absorbansinya.
3) Pengukuran absorben sampel
Pertama-tama siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Kemudian dipipet 200 µL sampel serum ke dalam tabung reaksi,
ditambahkan 2000 µL reagen 1 SGPT, lalu homogenkan. Setelah
diinkubasi selama 5 menit pada suhu 37°C. ditambahkan 500 µL
reagen 2 SGPT, homogenkan. Dipindahkan larutan ke dalam kuvet
kemudian diukur absorban pada Panjang gelombang 365 nm dengan
spektrofotometer. Diukur lagi absorbansinya pada menit ke-2, ke-3,
dan ke-4. Kemudian dicatat nilai absorbansinya.

3. Gamma GT
GGT adalah salah satu enzim dalam serum, yang bekerja pada lini
pertama proses degradasi ekstraseluler glutathione (GTH). Pemeriksaan
fungsi hati gamma GT adalah skrining Kesehatan dengan memeriksa kadar
enzim gamma glutamyl transferase (GGT) di dalam darah. Enzim tersebut
dapat meningkat di dalam darah apabila terjadi kerusakan pada organ hati
dan saluran empedu.
a. Alat Praktikum
Alat yang digunakan adalah yaitu tabung serologis, tabung venoject,
pipet Pasteur, mikropipet, sentrifuge, waterbath, fotometer, yellow tip,
dan blue tip.
b. Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan adalah serum, reagen 1 (R1) Tris pH 8,25 135
mmol/L, glisin 135 mmol/L. dan reagen 2 (R2) L-Gamma-glutamil-3-
karboksi-4-nitroanilid 22 mmol/L.
c. Cara Kerja
Pertama-tama membuat monoreagen = R1+R2, 4 bagian R1+1 bagian
R2 dengan volume = 2000 µL. Campur (4:1) R1= 1600 µL, dan R2= 400
µL. Memipet 1000 µL monoreagen pada tabung blanko dan sampel. Isi
tabung yang berlabel blanko dengan 1000 µL monoreagen + 100 µL
aquades, sedangkan isi tabung yang berlabel sampel dengan 1000 µL
monoreagen + 100 µL sampel. Inkubasi pada suhu 37°C selama 1 menit.
Siapkan fotometer, atur dengan λ : 405 nm, mode : K-60, faktor : 1158.
Masukkan dalam fotometer tepat 1 menit setelah inkubasi. Baca hasil
pada menit 1, 2, dan 3.
d. Nilai Normal
Berdasarkan Szasz :
Wanita < 32 U/L
Pria < 49 U/L
Berdasarkan IFCC :
Wanita Pria
Dewasa < 38 U/L < 55 U/L
Anak-anak
1 hari-6 bulan 15-132 U/L 12-122 U/L
6 bulan-1 tahun 1-39 U/L 1-39 U/L
1-12 tahun 4-22 U/L 3-22 U/L
13-18 tahun 4-24 U/L 2-42 U/L

4. Enzim Fosfatase Alkali


Enzim fosfatase alkali atau alkaline phosphatase (ALP) merupakan
senyawa kimia yang berfungsi untuk membantu memecah protein di dalam
tubuh. Salah satu organ tubuh yang bertugas memproduksi enzim ALP
adalah hati. Oleh karenanya, pemeriksaan enzim fosfatase alkali umum
dilakukan dalam cek fungsi hati guna membantu mendiagnosis serta
mengevaluasi penyakit sirosis dan peradangan pada hati. Selain untuk
mengevaluasi fungsi hati, pemeriksaan enzim fosfatase alkali ini juga dapat
membantu mendeteksi gangguan pada tulang ataupun kekurangan protein.
Sebelum menjalani pemeriksaan ini, pasien dianjurkan untuk berpuasa
selama 12 jam sebelum pengambilan sampel darah.
a. Syarat Bahan Pemeriksaan
1) Spesimen terbaik : serum
2) Tidak berasal dari darah yang hemolisis
3) Bila pemeriksaan akan ditunda serum disimpan pada suhu 2-8°C
4) Penundaan pemeriksaan tidak boleh lebih dari 2 hari
b. Cara Pemeriksaan Alkali Fosfatase
1) Tujuan
Untuk mengetahui adanya gangguan faal hati (diagnosis kolestasis,
infiltrasi hepatic, dan kelainan metabolisme).
2) Metode
Kolorimetri untuk menentukan orthophosphoric monoester
phosphohydrolase
3) Bahan Pemeriksaan
Serum atau plasma heparin
4) Prinsip Praktikum
Alkali phosphatase mengkatalisa dalam media alkali yang
mentransfer 4-nitrophenilphosphat dan 2-amino-2-metil-1-propanol
(AMP) menjadi 4-nitrophenol. Kenaikan 4-nitrofenol diukur secara
fotometri pada Panjang gelombang 405 nm yang sebanding dengan
aktivitas alkali phosphatase dalam sampel.
ALP
p-nitrophenyl phosphatase + AMP → AMP + PO 4+ p-nitrophenol
5) Cara Kerja
a) Siapkan dua buah tabung, tabung pertama sebagai blanko yang
berisi aquades. Tabung yang kedua sebagai tes yang berisi 1000 µL
monoreagen ALP FS kemudian ditambah 20 µL sampel serum.
Aquades Reagen ALP Sampel
Blanko 20 µL 1000 µL -
Tes - 1000 µL 20 µL
b) Homogenkan, tunggu selama 1 menit untuk membiarkan agar
reaksi berlangsung optimal
c) Setelah 1 menit, masukkan ke dalam kuvet dan diukur absorbansi
pada Panjang gelombang 405 nm.
d) Baca absorbansi Kembali tepat setelah menit 1, 2, 3 menit.
e) Lakukan perhitungan kadar alkaline phosphatase menggunakan
(|2|−|1|)+ (|3|−|2|) +(|4|−|3|)
rumus ∆ A / Min =
3
Rumus kadar ALP C = ∆ A /min ×2751
6) Nilai Rujukan
Laki-laki : 61-232 U/L
Perempuan : 49-232 U/L
Anak-anak : 40-115 U/L

5. Antibodi Hepatitis A (IgM)


Tes antibodi hepatitis A dilakukan dengan memeriksa keberadaan
antibodi IgM dari virus hepatitis A (HAV) di dalam darah. Pemeriksaan ini
kerap digunakan untuk mendiagnosis penyebab penyakit kuning (jaundice)
serta menilai kekebalan tubuh terhadap penyakit hepatitis A. Pemeriksaan
ini menggunakan metode immunokromatografi (rapid test) untuk deteksi
secara kualitatif adanya antibodi spesifik terhadap antigen virus hepatitis A
dalam serum/plasma pasien.
a. Prinsip Pemeriksaan
Perangkat uji SD BIOLINE HAV IgG/IgM memiliki 3 garis yaitu, ‘G’
(HAV garis uji IgG), ‘M’ (garis uji HAV IgM), dan ‘C’ (jalur kontrol)
pada permukaan membrane pada perangkat uji. Ketiga garis tersebut
tidak akan muncul jika sampel belum diaplikasikan. “Garis Kontrol”
digunakan untuk kontrol procedural. Garis kontrol harus selalu muncul
jika prosedur tes dilakukan dengan benar dan reagen uji garis kontrol
bekerja dengan baik. Garis berwarna ungu pada garis ‘G’ dan garis ‘M’
akan muncul pada jendela hasil jika terdapat antibodi IgG dan IgM yang
cukup di dalam sampel yang diperiksa. Membran tes dilapisi colloidal
gold conjugate yang berupa antibodi spesifik yang dapat bereaksi dengan
antigen virus HAV pada sampel pasien. Ikatan antigen antibodi ini akan
bermigrasi secara kromatografi ke daerah garis uji dan membentuk garis
warna sebagai kompleks partikel emas ikatan antibodi-antigen-antibodi.
Jika antibody IgG dan IgM terhadap virus hepatitis A tidak hadir dalam
sampel, tidak akan ada tampilan warna pada garis ‘G’ dan ‘M’.
b. Alat Praktikum
Alat yang digunakan adalah mikropipet, yellow tip, stopwatch/timer.
c. Bahan Praktikum
Bahan yang digunakan adalah cassette SD BIOLINE HAV IgG/IgM
rapid test, diluent, dan sampel serum atau plasma dengan antikoagulan
heparin, EDTA, dan sitrat.
d. Cara Kerja
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Kondisikan sampel,
diluent dan cassette sampai mencapai suhu ruang ± 30 menit. Dibuka
pembungkus dari cassette dan letakkan di tempat yang kering dan datar.
Ditambahkan 5 µL sampel serum/plasma ke dalam sumur sampel.
Ditambahkan 4 tetes diluent. Dilihat pergerakan warna ungu yang terjadi.
Hasil diinterpretasikan pada 20 menit. Peringatan : bila intensitas warna
terlihat lemah pada 20 menit maka dapat dibaca pada 40 menit untuk
mendapatkan hasil yang akurat.
e. Interpretasi Hasil
1) Negatif (-)
Hanya terdapat 1 garis merah pada garis kontrol ‘C’ saja.
2) IgM Positif
Terdapat garis merah pada garis kontrol ‘C’ dan garis IgM ‘M’.
3) IgG Positif
Terdapat garis merah pada garis kontrol ‘C’ dan garis IgG ‘G’.
4) IgG dan IgM positif
Terdapat garis merah pada garis kontrol ‘C’, garis IgG ‘G’, dan garis
IgM ‘M’.
5) Invalid
Tidak terdapat garis pada garis kontrol ‘C’, akibat volume sampel
yang tidak cukup atau Teknik prosedur yang salah adalah
kemungkinan terbesar untuk gagalnya garis kontrol muncul pada alat
uji. Ulang tes menggunakan perangkat uji yang baru.

6. Antigen Hepatitis B
Tes antigen hepatitis B bertujuan untuk mendeteksi risiko penyebaran
virus hepatitis B (HBV). Pemeriksaan HBsAg berguna untuk keperluan
klinis maupun epidemiologic. Skrining darah di unit-unit tranfusi darah,
serta digunakan pada evaluasi terapi hepatitis B kronis. Metode
pemeriksaannya dapat dilakukan secara kualitatif (Rapid test) dan kuantitatif
(ELISA), metode kuantitatif berguna untuk mengukur titer kadar HBsAg,
mengetahui perjalanan penyakit dan mengidentifikasi jenis keparahannya.
a. Alat dan Bahan
Test strip HBsAg dan serum.
b. Prosedur Kerja
1) Pra Analitik
a) Mencuci tangan dengan 5 moment
b) Menggunakan Alat pelindung diri yang lengkap
2) Analitik
a) Memipet serum dan masukkan ke dalam tabung.
b) Membuka bungkus strip test HBsAg
c) Mencelupkan strip HBsAg ke dalam serum, jangan melewati batas
garis pada strip. Tunggu hingga serumya berjalan naik ke atas.
d) Mengamati garis yang muncul pada strip test.
3) Pasca Analitik
a) Jika positif ditandai dengan terbentuknya garis pada C dan T
b) Jika negatif hanya muncul 1 garis pada garis T

7. Antibodi Hepatitis B
Skrining antibodi hepatitis B merupakan prosedur pemeriksaan yang
digunakan untuk menentukan status kekebalan tubuh terhadap infeksi virus
hepatitis B (HBV), menilai kebutuhan seseorang untuk memperoleh
vaksinasi hepatitis B, menilai respons vaksinasi hepatitis B, hingga
mendiagnosis infeksi HBV. Metode yang digunakan adalah
imunokromatografi (rapid test) untuk mendeteksi secara kualitatif adanya
antibodi virus hepatitis B dalam sampel serum/plasma pasien.
a. Prinsip Pemeriksaan
Berdasarkan reaksi antara antibodi dalam serum atau plasma dengan
antigen HBV rekombinan yang terkonjugasi dengan gold colloid, dan
bermigrasi sepanjang membran secara kromatografi dengan gaya kapiler
untuk bereaksi dengan antigen HBV rekombinan dalam membran dan
menghasilkan garis warna ungu.
b. Alat dan Bahan
Casette pemeriksaan (Anti-HBs Rapid Test), serum atau plasma
(EDTA, heparin, sitrat), dan mikropipet 100 µL.
c. Prosedur Kerja
1) Semua komponen bahan/reagen dan specimen dikondisikan pada suhu
ruang sebelum dilakukan pemeriksaan.
2) Casette test dikeluarkan dari kemasannya dan ditempatkan pada
daerah datar serta permukaan yang kering.
3) Dimasukkan 100 µL specimen ke dalam sumur cassette.
4) Pemeriksaan mulai berjalan jika terlihat warna ungu bergerak
sepanjang garis pada casette.
5) Hasil diidentifikasi setelah 20 menit.
d. Interpretasi Hasil
1) Negatif : hanya terlihat/muncul warna ungu pada garis kontrol ‘C’
saja.
2) Positif : terlihat/muncul warna ungu pada garis kontrol ‘C’ dan test
‘T’.
3) Invalid : warna ungu tidak muncul/terlihat pada garis kontrol ‘C’.

8. Antibodi Hepatitis C
Skrining antibodi hepatitis C adalah pemeriksaan kesehatan untuk
mendeteksi infeksi virus hepatitis C (HCV), menilai kekebalan tubuh
terhadap infeksi HCV, serta mencegah perkembangan komplikasi dari
berbagai penyakit liver, seperti sirosis hati dan gagal hati. Metode yang
biasa digunakan dalam tes ini ialah ELISA manual.
a. Prinsip Pemeriksaan
Hepanostika HCV Ultra menggunakan immunosorbent yang terikat
pada dasar sumur yang terdiri dari peptide sintetik khusus untuk
mengikat antigen yang sangat antigenic pada segmen inti, NS3, NS4,
NS5 pada daerah dari hepatitis C virus. Adanya HCV antibodi spesifik
pada sampel akan mengikat immunosorbent. Proses pencucian dilakukan
untuk menghilangkan antibodi terikat dan komponen serum lainnya.
b. Alat Pemeriksaan
1) Microplate ELISA strip plates
2) Washer
3) Spektrofotometer
4) Mikropipet
5) Yellow tip
6) Inkubator
7) Timer
c. Bahan Pemeriksaan
1) Sampel serum atau plasma
2) Reagen hepanostika yang terdiri dari :
a) Larutan TMB substrate
b) Kontrol positif
c) Kontrol negatif
d) Specimen diluents (phospate buffer)
e) Conjugate working solution
3) Asam sulfat
d. Prosedur Kerja
1) Strip mikroelisa disiapkan sebanyak bahan yang diperiksa ditambah
dengan 3 positif kontrol dan 1 negatif kontrol.
2) Spesimen diluents dipipet sebanyak 100 µl dan dimasukkan ke dalam
masing-masing sumur mikroelisa.
3) Sampel dipipet 10 µl dan dimasukkan ke dalam masing-masing
mikroelisa, dimulai dari sumur E1.
4) Kontrol negatif dipipet 10 µl dan dimasukkan ke sumur A1
5) Kontrol positif dipipet 10 µl dan dimasukkan ke sumur B1, C1, dan
D1.
6) Dihomogenkan dengan hati-hati, dan diinkubasi pada suhu 37°C
selama ±30 menit.
7) Plate dicuci dengan mesin washer sebanyak 6 kali.
8) TMB substrate dipipet sebanyak 100 µl dan dimasukkan ke dalam
masing-masing sumur.
9) Diinkubasi pada suhu 20-30°C selama ±30 menit.
10) Reaksi dihentikan dengan penambahan 100 µl 1 mol/I sulfuric acid ke
dalam masing-masing sumur.
11) Hasil dibaca dengan microplate reader pada Panjang gelombang 450
nm dan 620-630 nm sebagai referensi.
e. Interpretasi Hasil
1) Kualifikasi kontrol negatif
a) Masing-masing NC harus ≤ 0,200
2) Kualifikasi kontrol positif
a) Masing-masing PC harus bernilai > 0,500
b) Rata-rata dari PC yang tersisa dihitung Kembali
c) Masing-masing PC harus ≥ 0,5× P x
PC dibuang bila tidak memenuhi syarat
d) Rata-rata dari PC dihitung Kembali
3) Tes validitas
a) Pemeriksaan valid jika PC x −NC ≥ 0,400
b) Pemeriksaan tidak valid jika NC tidak memenuhi syarat kualifikasi
c) Pemeriksaan tidak valid jika lebih dari 1 PC tidak memenuhi syarat
kualifikasi
4) Nilai cut off
a) Jika pemeriksaan valid, maka dapat dihitung nilai cut off = o,27 ×
PC x
b) Hasil reaktif bila nilai absorbansi dari sampel ≥ cut off
c) Hasil non reaktif bila nilai absorbansi dari sampel < cut off

9. Penanda Tumor Hati (AFP)


Alpha fetoprotein (AFP) merupakan protein yang berperan sebagai
penanda tumor hati di dalam tubuh. Protein ini dapat dideteksi melalui
pengambilan sampel darah untuk membantu diagnosis kanker hati. Selain
itu, pemeriksaan penanda tumor hati (AFP) juga dapat dilakukan untuk
memantau perkembangan hasil pengobatan kanker hati serta mendeteksi
keberadaan kanker hati yang berisiko muncul kembali setelah menjalani
prosedur pengobatan. AFP menggunakan metode yang menggunakan
fotometer yakni ECLIA.
a. Prinsip Pemeriksaan : Sandwich principle (prinsip persaingan)
b. Alat Pemeriksaan : Cobas e 411
c. Bahan Pemeriksaan : serum, Elecsys CEA, precicontrol Tumor Marker 1,
dan precicontrol Tumor Marker 2.
d. Cara Kerja :
1) Menyalakan instrumen
a) Pastikan UPS bekerja dengan baik
b) Tekan power “ON” printer
c) Buka tutup botol procell dan clean cell
d) Hidupkan instrument, naikkan power “ON” (samping kanan),
kemudian tekan power “ON” (depan)
e) Masukkan login dan password
f) Instrumen akan melakukan inisialisasi, tunggu sampai stand by,
siap digunakan ± 30 menit
g) Keluarkan reagen dari lemari pendingin, biarkan mencair mencapai
suhu ruang
h) Periksa cairan pencuci (system water, syswash + aquades →1 +
100), limbah padat, limbah cair, dan consumble (PD/CC, assay cup,
assay tip, jika sudah habis ganti dengan yang baru)
i) Masukkan reagen ke dalam reagen disk, tutup dan lakukan reagen
scan.
2) Melakukan kalibrasi (dengan barcode)
a) Calibration
b) Status
c) Pilih jenis → klik full
d) Save (parameter yang terpilih akan ditandai warna hijau
e) Letakkan kalibrator di sample disk dengan posisi cal 1 di depan
(cal 1 dilanjutkan cal 2) dan stop barcode di bagian paling akhir
f) Sampel scan dengan cara : system overview → sample tracking →
sample scan
g) Tekan “start” (kecil) → lalu tekan Kembali start (besar)
3) Melakukan kontrol
a) QC
b) Status
c) Pilih jenis pemeriksaan yang akan di kontrol
d) Klik select
e) Save (parameter yang terpilih akan ditandai warna hijau)
f) Letakkan kontrol di sample disk, ditandai dengan stop barcode
h) Sample scan dengan cara : system overview → sample tracking →
sample scan
i) Tekan “start” (kecil) → lalu tekan Kembali start (besar)
4) Melakukan pemeriksaan (dengan barcode)
a) Tekan system overview – sample tracking
b) Letakkan sampel pada sample disk
c) Letakkan stop barcode setelah sampel terakhir
d) Tekan sample scan setelah stand by, tekan workplace – test
selection
e) Pilih sample dan parameter yang akan dikerjakan – tekan save
f) Proses ini dikerjakan jika sampel menggunakan barcode tanpa
terhubung LIS, jika terhubung dengan LIS bisa langsung tekan start
tanpa harus memilih jenis pemeriksaan. Lakukan Langkah ke 2
sampai sampel terakhir – tekan start
e. Interpretasi Hasil
AFP : 0,00 – 5,80 IU/mL
KESIMPULAN

Hati adalah organ vital pada manusia yang terletak disebelah kanan atas rongga
perut bawah diafragma. Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh manusia
dengan berat ± 1,5 kg. Berfungsi sebagai Penawar racun, sintesis protein,
perombakan sel darah merah, metabolisme lemak, karbohidrat, dan lain
sebagainya. Sel-sel hati dapat rusak atau hancur dan seluruh fungsi hati dapat
terganggu akibat berbagai penyakit, antara lain : infeksi, alkohol, obat-obatan, dan
pertumbuhan baru.
Satu tes fungsi hepar mempunyai nilai diagnostik kecil bila dilakukan secara
terpisah. Pemilihan tes yang cocok harus selalu dilakukan dan pemilihan tes
fungsi hepar secara biokimia tergantung atas tujuan penyelidikan. Mungkin tes
hepar paling sering digunakan dalam diagnose banding ikterus yang secara klinis
tak jelas asalnya dan dalam menilai sisa fungsi pada penyakit kronis. Pemakaian
tes fungsi hepar lain yang sering adalah untuk deteksi dan pengukuran kelemahan
fungsi pada penyakit hepar kronis yang telah diketahui atau dicurigai, juga
walaupun taka da ikterus.
Jadi secara umum tes fungsi hati bisa membantu mengevaluasi Kesehatan
organ hati dan mengindikasikan adanya kemungkinan penyakit lain seperti
malnutrisi maupun penyakit tulang.
DAFTAR PUSTAKA

Baron, D.N. 1990. Kapita Selekta Patologi Klinik. Volume 4. Jakarta : ECG.

Gandasoebrata, R. 1984. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat.

Gibson, John. 2002. Fisiologi dan Anatomi Modern Untuk Perawat. Volume 2.
Jakarta : ECG.

Kee, Joyce LeFever. 2007. Pedoman Pemeriksaan Laboratorium dan Diagnostik.


Edisi 6. Jakarta : ECG. Pp: 232.

Kementrian Kesehatan RI. 2011. Keputusan Kementrian Kesehatan Republik


Indonesia Nomor : 1792/MENKES/SK/XII/2010 tentang Pedoman
Pemeriksaan Kimia Klinik. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia.

Kusnandar, S. 2005. Prinsip dan Manfaat Elektroforesis Protein Serum. Jakarta :


Departemen Patologi Klinik FKUI.

Sherlock S, Dooley J. 2018. Diseases of The Liver and Biliary System 13 th


edition. United State of America : Blackwell.

Speicher, Carl E. 1996. Pemilihan Uji Laboratorium yang Efektif. Jakarta: ECG.

Rosida, A. 2016. Pemeriksaan Laboratorium Penyakit Hati. Berkala Kedokteran,


12, 124.

Anda mungkin juga menyukai