Studi Hadis: Sejarah dan Perkembangan
Studi Hadis: Sejarah dan Perkembangan
STUDI HADIST
MAULIA SARAH
NURDIANA ANDRYANI
NURFADILAH TANJUNG
SEMESTER : V (LIMA)
PROGRAM STUDI : PAI SM-A
DOSEN : RIAL SUKMA HASIBUAN, M. Sos
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DAAR AL ULUUM
ASAHAN – KISARAN
2021
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmannirrahim
Puji syukur ke hadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan Rahmat dan
Karunia-Nya sehingga makalah “Studi Hadis” ini dapat terselesaikan sebagaimana
mestinya. Shalawat serta salam tidak lupa kita haturkan kepada junjungan
Baginda Nabi Besar Muhammad SAW, atas bimbingan Beliau sehingga kita dapat
membedakan mana yang Haq dan mana yang Batil.
Akhir kata, kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kesalahan baik
dari segi bahasa, tulisan, maupun kalimat yang kurang tepat dalam makalah ini,
dari itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah
berikutnya.
` Kelompok II
i
DAFTAR ISI
A. Hadist.........................................................................................2
B. Pembagian dan Pengolongan Hadist .........................................7
C. Pengembangan Modern dalam Studi Hadist ............................17
BAB III PENUTUP ............................................................................19
A. Kesimpulan ...............................................................................19
B. Saran .........................................................................................19
DAFTAR PUSTAKA .........................................................................20
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Hadis Nabi merupakan sumber hukum ajaran Islam kedua setelah Al-
Qur’an dikarenakan ia merupakan bayan (penjelas) terhadap ayat-ayat Al- Quran
yang masih global, umum dan yang mutlak. Dengan demikian hadis menduduki
posisi dan fungsi yang cukup signifikan dalam ajaran Islam. Pada sisi lain, Al-
Qur’an berbeda dengan hadis.
Hadis dalam sejarah kodifikasinya, tidak terjaga sebagaimana Al-Qur’an
berbagai macam kesalahan, penyimpangan, dan pemalsuan, walaupun sejarah
penulisan hadis secara individual telah ada pada masa awal Islam, semasa
Rasulullah [Link] hidup, dan ditulis secara resmi dan massal pada abad
kedua hijriyah atas perintah khalifah Umar bin Abdul Aziz.
Terbukti dalam sejarah, ketika pergolakan politik dan perebutan
kepentingan muncul, diketahui banyak beredar hadis-hadis palsu. Atas dasar
motivasi ini dan beberapa motivasi lain mendorong para ulama hadis mengadakan
penelitian, baik dari segi sanad maupun matan hadis, walaupun kritik sanad lebih
banyak ditemukan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan Hadist?
2. Bagaimana sejarah kodifikasi Hadist?
3. Bagaimana pembagian dan penggolongan hadist?
4. Bagaimana perkembangan modern dalam studi hadist?
C. Tujuan
1. Mengetahui apa yang di maksud dengan Hadist
2. Mengetahui bagaimana sejarah kodifikasi Hadist
3. Mengetahui bagaimana pembagian dan penggolongan hadist
4. Mengetahui bagaimana perkembangan modern dalam studi hadist
1
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hadist
1. Pengertian Hadist
Secara etimologi, hadis adalah kata benda (isim) dari kata al-Tahdis
yang berarti pembicaraan. Kata hadits mempunyai beberapa arti; yaitu
a. “Jadid” (baru), sebagai lawan dari kata”qadim” (terdahulu).
Dalam hal ini yang dimaksud qadim adalah kitab Allah,
sedangkan yang dimaksud jadid adalah hadis Nabi saw.1 Namun
dalam rumusan lain mengatakan bahwa Al-Qur’an disebut
wahyu yang matluw karena dibacakan oleh Malaikat Jibril,
sedangkan hadis adalah wahyu yang ghair matluw sebab tidak
dibacakan oleh malaikat Jibril. Nah, kalau keduanya sama-sama
wahyu, maka dikotomi, yang satu qadim dan lainnya jadid tidak
perlu ada.
b. “Qarib”, yang berarti dekat atau dalam waktu dekat belum lama,
c. “Khabar”, yang berarti warta berita yaitu sesuatu yang
dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada
seseorang. Hadis selalu menggunakan ungkapan , حدثنا,أنبأنا و
)أخربناmegabarkan kepada kami, memberitahu kepada kami dan
menceritakan kepada kami. Dari makna terakhir inilah diambil
perkataan “hadits Rasulullah” yang jamaknya “ahadits
Sedangkan pengertian hadits secara terminologi, maka terjadi
perbedaan antara pendapat antara ahli hadits dengan ahli ushul. Ulama ahli
hadits ada yang memberikan pengertian hadis secara terbatas (sempit) dan
ada yang memberikan pengertian secara luas.1
Pengertian hadits menurut istilah menurut para ulama dari berbagai
kalangan adalah sebagai berikut:
1
Khusniati Rofiah, Studi Ilmu Hadis, (Yokyakarta: IAIN PO Press, 2018) h.1-2
2
“Segala sesuatu yang berasal dari Rasul Saw. sebelum diutus
ataupun setelahnya baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan
ataupun sifat-sifat (Muhammad ‘Ajaj alKhuthabi,1989: 26-27).
Menurut ulama ahli hadits bila kata hadits diartikan dengan segala
sesuatu yang diriwayatkan dari Rasul setelah diutus menjadi Rasul
yang berupa perkataan, perbuatan, dan ketetapannya
b. Pengertian Hadits Menurut Ushul Fiqih
“Segala sesuatu yang berasal dari Rasul yang berupa perkataan,
perbuatan, dan ketetapan yang bisa dijadikan dalil bagi hukum syara.”
c. Definisi Hadits Menurut Ulama Fiqih
“Segala ketetapan dari nabi yang tidak bersifat fardu ataupun
wajib”([Link] al-Khuthaby, 1989:26-27).2
2
Tajul Arifin, Ulumul Hadst, (Bandung: Gunung Djati Press), h. 11-13
3
Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu Qur’an dan Tafsir,
(Semarang:Pustaka Rizki Putra, 2009), Ed. 3, h.78.
4
Muhajirin, Ulumul Hadits II, (Palembang: NoerFikri Offset, 2016), h. 18.
3
hadits, karena disamping akan bercampurnya hadits dengan Al-Qur’an
juga agar umat Islam lebih fokus pada Al-Qur’an.5Akan tetapi dengan
berjalannya waktu tidak sedikit di antara para shahabat banyak yang
berinisiatif menulis hadits-hadits Nabi SAW. Hal tersebut dikarenakan
selain melarang, Rasulullah di lain waktu juga membolehkan para
shahabatnya untuk menulis hadits. Sehingga banyak di antara para
shahabat yang memiliki shahifah hadits, di antaranya: Abdullah bin
Amr bin ‘Ash, Jabir bin Abdullah Al-Anshari, Abdullah bin Abi Aufa,
Samurah bin Jundab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Abbas, dan
Abu Bakar Ash-Shiddiq.6
b. Periode kedua
Periode kedua adalah Dimulai pada zaman Khulafa Ar-Rasyidin.
Pada periode ini dikenal dengan masa pembatasan atau pengurangan
dalam periwayatan hadits Nabi SAW sebagai bentuk kehati-hatian.
Usaha para shahabat dalam membatasi periwayatan hadits dilatar
belakangi oleh rasa khawatir akan terjadinya kekeliruan. Hal ini
dikarenakan suasana pada waktu itu tidak kondusif, bahkan terjadi
perpecahan dan fitnah di dalam umat Islam itu sendiri, 7di antaranya
munculnya nabi palsu, terbunuhnya Umar, Usman, dan Ali, banyak
shahabat yang tidak suka kepada Usman, munculnya Syi’ah, dll.
Sehingga para shahabat sangat berhati-hati dalam menerima kegiatan
periwayatan hadits. Para shahabat pada periode ini meriwayatkan
hadits melalui dua cara, yaitu bilafdzi dan bilmakna.
c. Periode ketiga
Periode ketiga adalah Masa penyebaran hadits ke berbagai
wilayah. Periode ini berlangsung pada masa shahabat kecil/ muda dan
tabi’in atau pada masa Dinasti Muawwiyah sampai pada akhir abad 1
Hijriyah. Pada masa ini wilayah Islam sudah sampai ke Syam
5
Atang Abdul Hakim, Metodologi Studi Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h.
89.
6
Muhajirin, [Link], h. 19
7
Atang Abdul Hakim, [Link], h. 90
4
(Suriah), Irak, Mesir, Persia, Samarkand, hingga Spanyol.
Bertambahnya wilayah Islam berdampak pada tersebarnya hadits di
dalamnya.
d. Periode Keempat
Periode keempat adalah Periode penulisan dan pembukuan
hadits secara resmi. Penulisan dan pembukuan hadits ini dimulai
setelah adanya perintah resmi dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz
(717 – 720 M). Perintah resmi tersebut sebagai instruksi langsung dari
Umar untuk seorang Ulama yang bernama Abu Bakar Muhammad
Amr bin Hazm (Ibnu Shihab Az-Zuhri) yang menjabat sebagai
Gubernur Madinah agar menuliskan hadits Nabi Muhammad SAW.8
Latar belakang Umar bin Abdul Aziz menginstruksikan agar
mengkodifikasi hadist adalah karena kekhawatiran akan hilangnya
hadits seiring meninggalnya para perawi hadits dan khawatir akan
bercampurnya hadits Nabi SAW dengan hadits palsu.
Pengkodifikasian hadits ini berlangsung hingga pemerintahan Bani
Abbasiyah tepatnya pada pertengahan awal abad ke III H.
Pada periode ini banyak melahirkan ulama hadits, seperti Ibnu
Juraij (w. 179 H) di Makkah, Ibnu Shihab Az-Zuhri (w. 124 H), Ali
Ishaq (w. 151 H) dan Imam Malik (w. 179 H) di Madinah, Ar-Rabi’
bin Shihab (w. 160 H) dan Abdurrahman Al-Auza’i (w. 156 H) di
Suriah. Selain itu juga termasuk imam Syafi’i (w. 204 H) di Mesir dan
Imam Ahmad bin Hanbal (w. 241 H) di Baghdad. Pada periode ini
juga menghasilkan karya kitab-kitab hadits, di antaranya Al-Musnad
Imam Syafi’i, Al-Mushanaf Imam Al-Auza’i, dan Al-Muwaththa’
Imam Malik, termasuk juga Al-Musnad Imam Ahmad. Dan kitab
hadits pada periode ini masih bercampur dengan fatwa shahabat,
tabi’in, hingga hadits palsu karena belum ada penyeleksian secara
penuh.
8
Munzier Suparta, [Link], h.75
5
e. Periode kelima
Periode kelima adalah Periode pemurnian, penyehatan, dan
penyempurnaan. Periode ini berangsung sekitar pertengah awal abad
ke III Hijriyah, atau tepatnya pada masa Dinasti Abbasiyah yang
dipimpin oleh Khalifah Al-Ma’mun sampai Al-Mu’tadir. 9Periode ini
ulama-ulama mengadakan gerakan penyeleksian, penyaringan, dan
pengklasifikasian hadits, yakni memisahkan hadits yang marfu’ dari
hadits mauquf dan maqtu’. Pada periode ini lahirlah kitab induk hadits
(Kutubus Sittah), di antaranya:
1) Al-Jami’ Ash-Shahih karya Imam Al-Bukhari (194 – 252
H)
2) Al-Jami’ Ash-Shahih karya Imam Muslim (204 – 261 H)
3) Sunan Abu Dawud karya Abu Dawud (202 – 261 H)
4) Sunan At-Tirmidzi karya At-Tirmidzi (200 – 279 H)
5) Sunan An-Nasa’i karya An-Nasa’i (215 – 302 H)
6) Sunan Ibnu Majah karya Ibnu Majah (207 – 273 H)10
f. Periode keenam
Periode keenam adalah masa pemeliharaan, penerbitan,
penambahan, dan penghimpunan. Periode ini berlangsung 2 setengah
abad, mulai dari abad IV sampai pertengahan abad ke VII Hijriyah,
tepatnya pada saat Dinasti Abbasiyah jatuh ke tangan Hulagu Khan
pada tahun 656 H. Periode ini tidak jauh berbeda dengan periode
kelima, sehingga periode ini juga melahirkan banyak ulama dan kitab
hadits, di antaranya:
1) Sulaiman bin Ahmad At-Thabari, karyanya Al-Mu’jam Al-
Kabir, Al-Mu’jam Al-Ausath, Al-Mu’jam Ash-Shaghir.
2) Abdul Hasan Ali bin Umar bin Ahmad Ad-Daruquthni,
karyanya Sunan Daruquthni.
9
Abudin Nata, Al-Qur’an dan Hadits, (Jakarta: LISK, 2000), hlm. 197
10
Muhajirin, [Link], h. 21
6
3) Ibnu Huzaimah Muhammad bin Ishaq, karyanya Shahih
Ibnu Huzaimah.
4) Abu Bakar Ahmad bin Husain Ali Al-Baihaqi,
karyanya Sunan Al-Kubra.
5) Asy-Syaukani, karyanya Nailul Authar.
6) Muhyiddin Abu Zakaria An-Nawawi, karyanya Riyadhush
Shalihin, dll.11
g. Periode Ketujuh
Periode ke tujuh adalah Periode pensyarahan, penghimpunan,
dan pentakhrijan. Pada periode ini ulama mulai mensistemasi hadits-
hadits berdasarkan kehendak penyusun, memperbaharui kitab-kitab
mustkharij dengan cara membagi-bagi hadits menurut kualitasnya.
Para periode ini hanya sedikit ulama hadits yang masih mampu
menyampaikan periwayatan hadits beserta sanadnya secara hapalan
yang sempurna, di antaranya ulama yang masih menyampaikan hadits
secara hapalan sempurna adalah Imam Al-Iraqy (w. 806 H), Ibnu
Hajar Al-Asqalani (w. 852 H), As-Sakhawy (w. 902 H). 12Ketiganya
mempunyai hubungan sebagai guru dan murid.
11
Ibid, h.22-23
12
Fathur Rahman, Ikhtishar Musthalahul Hadits, (Bandung: Al-Ma’arif, 1974), hlm. 296.
13
Muhammad Alawi Al-Maliki, Ilmu Ushul Hadis,(Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2006),
89.
7
“Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang tidak mungkin
bersepakat untuk berdusta dari sejumlah rawi yang semisal mereka
dan seterusnya sampai akhir sanad dan semuanya bersandar kepada
panca indera.”
Tidak dapat dikategorikan dalam hadits mutawatir, yaitu segala
berita yang diriwayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindera,
seperti meriwayatkan tentang sifat-sifat manusia, baik yang terpuji
maupun yang tercela, juga segala berita yang diriwayatkan oleh orang
banyak, tetapi mereka berkumpul untuk bersepakat mengadakan
berita-berita secara dusta.
Suatu hadits dapat dikatakan mutawatir apabila telah memenuhi
persyaratan sebagai berikut:14
1) Hadits yang diberitakan oleh rawi-rawi tersebut harus
berdasarkan tanggapan (daya tangkap) pancaindera.
Artinya bahwa berita yang disampaikan itu benar-benar
merupakan hasil pendengaran atau penglihatan perowi.
Apabila berita itu merupakan hasil pemikiran semata atau
rangkuman dari peristiwa-peristiwa yang lain dan yang
semacamnya, dalam arti tidak merupakan hasil tanggapan
pancaindera (tidak didengar atau dilihat) sendiri oleh
pemberitanya, maka tidak dapat disebut hadits mutawatir
walaupun rawi yang memberikan itu mencapai jumlah
yang banyak.
2) Diriwayatkan oleh perowi yang banyak.
3) Bilangan para perawi mencapai suatu jumlah yang
menurut adat mustahil mereka untuk berdusta. Dalam hal
ini para ulama berbeda pendapat tentang batasan jumlah
untuk tidak memungkinkan bersepakat dusta.
14
Mahmud Thahhan, Intisari Ilmu Hadis, Terj. [Link] Ridwan, (Malang : UIN Malang
Press, 2007), 32
8
4) Seimbang jumlah para perawi, sejak dalam thabaqat
(lapisan/ tingkatan) pertama maupun thabaqat berikutnya.
Hadits mutawatir yang memenuhi syarat-syarat seperti ini tidak
banyak jumlahnya, bahkan Ibnu Hibban dan Al-Hazimi menyatakan
bahwa hadits mutawatir tidak mungkin terdapat karena persyaratan
yang demikian ketatnya. Sedangkan Ibnu Salah berpendapat bahwa
mutawatir itu memang ada, tetapi jumlahnya hanya sedikit.
Para ulama membagi hadis mutawatir menjadi 3 macam,
yaitu :15
a. Mutawatir Lafdhi Hadits mutawatir lafdhi adalah hadits
yang mutawatir lafadz dan maknanya. Contoh hadits
mutawatir lafdzi adalah sebagaimana hadits dari Abu
Hurairah dari Rasulullah SAW yang berbunyi: “Barang
siapa yang sengaja bedusta atas namaku maka hendaklah
tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari)
b. Mutawatir Maknawi Yang dimaksud dengan hadits
mutawatir maknawi adalah hadits yang berlainan bunyi
dan maknanya, tetapi dapat diambil makna yang umum.
Jadi hadis mutawatir maknawi adalah hadis mutawatir
yang para perawinya berbeda dalam menyusun redaksi
hadis tersebut, namun terdapat persesuaian atau kesamaan
dalam maknanya. Contoh hadits mutawatir maknawi
adalah hadits yang menerangkan tentang kedudukan niat
dalam perbuatan. Hadits-hadits semacam ini banyak sekali
meskipun terdapat dalam berbagai kasus. Contoh lain
hadis Nabi saw yang berbunyi: “Rasulullah SAW tidak
mengangkat kedua tangan beliau dalam doa-doanya
selain dalam doa salat istiqa’ dan beliau mengangkat
tangannya, sehingga nampak putih-putih kedua
ketiaknya.” (HR. Bukhari Muslim)
15
Mohammad Nor Ichwan, Studi Ilmu Hadis, (Semarang : RaSAIL Media, 2007), h. 104
9
c. Mutawatir ‘Amali Hadits mutawatir ‘amali adalah sesuatu
yang diketahui dengan mudah bahwa ia dari agama dan
telah mutawatir di kalangan umat Islam. Bahwa Nabi
SAW mengajarkannya atau menyuruhnya atas selain dari
itu. Dari hal itu dapat dikatakan soal yang telah disepakati.
Contoh: berita-berita yang menerangkan waktu raka’at
shalat, shalat jenazah, shalat ied, hijab perempuan yang
bukan mahram, kadar zakat, dan segala rupa amal yang
telah menjadi kesepakatan ijma’.
b. Hadis Ahad
Dari segi bahasa kata “ahad” (tanpa madd) berarti satu. Maka
khabar ahad adalah khabar (berita) yang diriwayatkan oleh satu orang
perawi.16 Menurut Istilah ahli hadis, tarif hadis ahad antara lain adalah
“Suatu hadis (khabar) yang jumlah pemberitaannya tidak mencapai
jumlah pemberita hadis mutawatir; baik pemberita itu seorang. dua
orang, tiga orang, empat orang, lima orang dan seterusnya, tetapi
jumlah tersebut tidak memberi pengertian bahwa hadis tersebut
masuk ke dalam hadis mutawatir: ”
1) Hadis Masyhur
Menurut masyhur berasal dari kata شهرyang berarti اعلن
yang berarti mengumumkan. Secara terminology hadits masyhur
adalah:
ما رواه ثالثة فاكرثولم يصل درجة اتلواتر
“Hadits yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih (dalam
suatu thabaqahnya) namun belum mencapai derajat mutawatir”.
2) Hadis ‘Aziz
Dari segi bahasa kata aziz adalah bentuk sifat
musyabbahah dari kata ‘azza ya’izzu yang berarti sedikit atau
jarang. Bisa juga berasal dari kata ‘azza ya’izzu yang berarti
16
Muhammad Al Shabbag, Al Hadits an Nabawi, Musthalahul, Balaghah, ‘Ulumuh,
Kutubuh, (ttp, Masyurat al Maktabah al Islami, 1972), h. 21
10
kuat atau keras (sangat). Suatu aziz dinamakan dengan hadits
aziz adakalanya karena sedikitnya perawi.
Menurut istilah, hadis azis adalah hadis yang diriwayatkan
oleh dua orang meskipun hanya pada satu tingkatan (generasi)
saja, kemudian setelah itu diriwayatkan oleh banyak orang. Jadi
bisa saja sanad sebuah hadis ‘azis terdiri dari dua dua orang
pada setiap generasi, atau hanya pada satu generasi dari sanad
hadis itu yang terdiri dari dua orang, sedang pada generasi
sesudahnya terdiri dari banyak orang
3) Hadis Gharib
Kata gharib, secara bahasa merupakan bentuk sifah
musyabbahah dari kata gharaba’ yang berarti infrada
(menyendiri). Juga bisa berarti jauh dari tanah airnya.
Disamping itu juga bisa diartikan asing, pelik atau aneh. Dengan
demikian hadits gharib dari segi bahasa adalah hadits yang aneh.
Sedangkan dalam istilah Ilmu Hadis berarti : yaitu hadis yang
dalam meriwayat-kannya seoarang perawi menyendiri (tidak ada
orang lain yang ikut meriwayatkannya). Definisi ini
memungkinkan kesendirian seorang perawi baik pada setiap
tingkatan sanad atau pada sebagian tingklatan sanad, bahkan
mungkin hanya pada satu tingkatan sanad saja17
17
Khusniati Rofiah, [Link], h. 117-126
11
Malik mendengar dari Ibn Syihab, Ibn Syihab dari
Muhammad ibn Jubair, Muhammad Ibn Jubair menerima
langsung dari ayahnya Jubair ibn Muth‟im, dan Jubair
mendengar langsung dari Rasulullah SAW.
2) Para perawi hadis tersebut adalah adil dan dhabith. Hal
tersebut telah diteliti oleh para ulama jarh dan ulama ta‟dil
yakni :
a) Abdullah ibn Yusuf adalah seorang yang tsiqat dan
mutqan.
b) Malik bin Anas adalah Imam Hafizh.
c) Ibn Syihab adalah seorang faqih, hafizh, muttafaq
„ala jalalatih, dan itqanihi.
d) Muhammad ibn Jubair adalah tsiqat.
e) Jubair ibn Muth‟im adalah shahabat, dan para ahli
hadis telah bersepakat menyatakan keadilan para
shahabat.
3) Tidak syadz, karena tidak dijumpai hadis lain yang lebih
kuat yang berlawanan dengannya.
4) Tidak terdapat padanya “illat
Hadis shahih dengan lima persyaratan di atas oleh muhaddisin
diklasifikasikan kepada shahih li dzatihi. Sedang hadis yang kurang
sempurna salah satu aspek dari kelima persyaratan di atas disebut
hadis shahih li ghairihi, seperti perawinya kurang dhabith. Selain itu,
menurut Imam Al-Nawawi nilai dan tingkat keshahihan suatu hadis
berbeda-beda sesuai dengan ketat atau tidaknya syarat-syarat yang
ditetapkan, makin tinggi persyaratannya makin rendah nilai hadisnya.
Atas dasar ini Imam Al-Nawawi menetapkan peringkat hadis
shahih sebagai berikut :
1) Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
2) Hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari saja.
3) Hadis yang diriwayatkan oleh Muslim saja.
12
4) Hadis shahih yang diriwayatkan berdasarkan syarat al-
Bukhari dan Muslim.
5) Hadis shahih yang diriwayatkan atas syarat al-Bukhari
saja.
6) Hadis shahih yang diriwayatkan oleh syarat Muslim saja.
7) Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam-imam lain
Para ulama hadis, demikian juga dengan ulama Ushul Fiqh dan
Fuqaha‟, sepakat menyatakan bahwa hukum Hadis Shahih adalah
wajib untuk menerima dan mengamalkannya. Hadis Shahih adalah
hujjah dan dalil dalam penetapan hukum syara‟, oleh k arenany a
tidak ada alas an bagi setiap muslim untuk meninggalkannya. Di
antara kitab-kitab yang memuat hadis Shahih adalah : Al-Jami‟ al-
Shahih ( Shahih Bukahri), karya al-Bukhari (194- 256 H), Shahih
Muslim, karya Imam Muslim ( 204-261 H), Sunan Abu Daud, karya
Abu Daud (202 – 275 H), Sunan (al-Jami‟) al-Turmuzi, karya al-
Turmuzi (209-279 H), Sunan al-Nasa‟i, karya al-Nasa‟i (215- 303 H),
dan Sunan Ibn Majah, karya Ibn Majah (209-273 H).
b. Hadis Hasan
Hadis hasan memiliki semua persyaratan hadis shahih, kecuali
rawinya kurang dhabith. Walaupun demikian, apabila terdapat hadis
hasan dengan sanad lain yang sama tingkatannya atau lebih, maka
hasan lidzatihi naik menjadi shahih lighairihi. Sama halnya dengan
hadis shahih, hadis hasanpun terbagi kepada dua, yaitu hasan lidzatihi
dan hasan lighairihi. Hadis hasan lidzatihi adalah hadis yang
memenuhi persyaratan seperti disebutkan dalam defenisi hadis hasan
di atas.
Sedangkan hadis hasan lighairihi adalah hadis yang dalam
sanadnya terdapat orang yang tidak dikenal atau tidak dapat dipastikan
keahliannya, tetapi ia bukan seorang yang sangat lalai, terlalu banyak
pelupa, dan tidak pula tertuduh pendusta serta tidak memiliki sifatsifat
yang menyebabkan ia fasiq.
13
Pada dasarnya hadis hasan li ghiarihi berasal dari hadis hadis
dha'if yang didukung oleh hadis lain. Hampir semua ulama Ushul dan
Muhaddisin menerima hadis shahih dan hadis hasan untuk dijadikan
hujjah dan dasar pengalaman. Kendatipun hadis hasan tidak sederajat
dengan hadis shahih, tetapi kekurangan dhabithnya tidak berarti
menyebabkan keluar dari prediket ahliyyah al-ada'. Di samping itu
sifat-sifat hadis shahih tidak jauh berbeda dengan hadis hasan, hanya
dibedakan pada tingkatannya bahwa hadis hasan lebih rendah.
c. Hadis Dha’if
Hadis dha'if adalah hadis yang tidak memenuhi persyaratan
qabul, seperti halnya hadis shahih ataupun hadis hasan, baik
keseluruhan maupun sebagian persyaratan, yaitu dan segiittishal sanad
atau adil dan dhabith perawi dan adanya`illat atau syaz. Tingkat
kedha'ifan hadis berbeda-beda tergantung berat atau ringannya
kedha'ifan perawimya, ada dha'if yang ringan, yang berat dan dha'if
yang sangat berat sekali. Hadis dha'if yang ringan biasa meningkat
kualitasnya bila didukung oleh hadis yang sama melalui sanad yang
lain.
Nilai kedha'ifan sanad terletak pada para perawi selain sahabat
raja, karena semua sahabat dinilai`udul.261 Dengan memperhatikan
defenisi di atas, dapat disimpulkan sebab-sebab kedha'ifan hadis pada
tiga hal : (a).dha'if karena cacat atau terputus sanad, (b). dha'if karena
tidak 'adalat atau dhabith perawi dan (c).dha'if karena syuzuz atau
`illat. Berikut ini dikemukakan hadis-hadis yang tergolong dhaif
disertai statusnya, maqbul atau mardud.18
3. Hadis Maudhu'
Hadis maudhu’ adalah hadis yang dibuat-buat atau diciptakan atau
didustakan atas nama Nabi Muhammad SAW. Menurut Ahmad Amin, hadis
18
Alfiah, Fitriadi, Studi Ilmu Hadist, (Riau: Kreasi Edukasi, 2016) h. 121-125
14
maudhu’ sudah ada sejak masa Rasulullah. Sedangkan pengertian hadis
maudhu’ menurut istilah ahli hadis adalah :
“Hadis yang disandarkan kepada Rasulullah SAW, secara dibuat-
buat dan dusta, padahal beliau tidak mengatakan dan tidak
memperbuatnya. Sebagian mereka mengatakan bahwa yang dimaksud
dengan hadis maudhu’ ialah hadis yang dibuat-buat.”.
Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa hadis maudhu’
bukanlah hadis yang bersumber dari Rasulullah atau dengan kata lain bukan
merupakan hadis Rasul, paling tidak sebagian, namun hadis tersebut hanya
disandarkan kepada Rasul atau diatasnamakan Rasul.
Dasarnya munculnya hadis maudhu’ yaitu
من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار (رواه البخارى
“Barang siapa yang sengaja berdusta atas namaku maka hendaklah
tempatnya di neraka.” (H.R. Bukhari)
Ada beberapa motif yang mendorong dilakukannya pemalsuan hadis,
yaitu :
a. Pertentangan politik
b. Usaha kaum zindiq
c. Sikap fanatik buta terhadap bangsa, suku, bahasa, negeri, dan
pimpinan
d. Mempengaruhi orang awam dengan kisah dan nasihat
e. Perselisihan dalam fikih dan ilmu kalam
f. Membangkitkan gairah beribadah tanpa mengerti apa yang
dilakukan
g. Menjilat penguasa
Beberapa motif pembuatan hadis palsu di atas, dapat dikelompokkan
menjadi :
a. Ada yang sengaja.
b. Ada yang tidak sengaja.
c. Ada keyakinan bahwa membuat hadis palsu diperbolehkan.
d. Ada yang tanpa sadar jika dirinya membuat hadis palsu.
15
Ada beberapa tanda hadis palsu, yaitu:
a. Dalam sanad
1) Atas dasar pengakuan si pembuat hadis palsu,
sebagaimana pengakuan Abu Ismah Nuh bin Maryam
bahwa dia telah membuat hadis tentang keutamaan
membaca al-Qur’an surat demi surat. Demikian pula
pengakuan Ghiyas bin Ibrahim dan lain-lain.
2) Adanya tanda yang menunjukkan kebohongan, seperti
pengakuan seorang rawi bahwa ia meriwayatkan dari
seseorang syeikh tapi ternyata ia belum pernah bertemu
secara langsung.
3) Meriwayatkan Hadis sendirian, sementara diri rawi
dikenal sebagai pembohong dan riwayat itu tidak
ditemukan dalam riwayat lain. Maka Hadis yang demikian
disebut Hadis maudhu’.
b. Dalam matan
1) Redaksi hadis yag buruk dan isinya rancu, karena Nabi
saw adalah seorang yang fasih dalam berbahasa. Contoh
matan hadis yang ganjil adalah:
من أكل من الطني واغتسل به فقد أكل حلم أبيه آدم
واغتسل بدمه
“Barangsiapa makan tanah dan mandi dengannya maka
ia telah memakan daging bapaknya Adam dan mandi
dengan darahnya”.
2) Bertentangan dengan akal sehat, seperti hadis palsu yang
menyatakan bahwa “terong adalah obat segala penyakit”.
3) Bertentangan dengan ajaran pokok al-Qur’an atau Hadis
yang lebih kuat. Contohnya adalah : “Anak zina tidak
masuk surga, demikian juga bapaknya dan cucunya”.
Hadis ini bertentangan dengan ajaran pokok dalam Al-
Qur’an seseorang tidak menanggung dosa orang lain,
16
sebagaimana firman Allah swt yang Artinya: “Tidaklah
seorang berbuat dosa kecuali keburukannya kembali
kepada dirinya sendiri dan seorang yang berdosa tidak
akan memikul dosa orang lain (Surat Al-An’am : 164)
4) Bertentangan dengan kenyataan sejarah yang benarbenar
terjadi di masa Rasulullah saw, seperti hadis tentang
jizyah (pajak) pada penduduk Khabar, karena kewajiban
pajak saat itu belum ditetapkan.19
19
Alamsyah, Ilmu- Ilmu Hadis, (Bandar Lampung: CV. Anugrah Utama Raharja, 2015) h.
77-84
17
teologis, atau tak layak secara moral dalam koleksi shahih, shahih Bukhari
maupun Muslim.
Studi hadis di kalangan muslim melahirkan dua kubu yang saling
berhadapan satu dengan lainnya, yaitu golongan pendukung sunnah dan
pengingkar sunnah (inkar al-Sunnah). Setelah itu, muncul satu golongan lagi yang
berstatus sebagai sintesis atas keduanya. Golongan tersebut adalah para pemikir
pembaharu (Revivalist Thinker). Menurut Brown, para pemikir pembaharu
tersebut berperang di antara dua front. Pada satu sisi, mereka membela sunnah
dari serangan kaum penentang hadis dan menegakkan surat mandat mereka
sebagai pelindung sunnah. Namun di sisi lainnya, mereka mengklaim memiliki
hak untuk menginterpretasikan sunnah sendiri, yang lepas dari ulama konservatif.
Secara umum, pendekatan yang dipergunakan oleh kaum pemhabaru
berkutat pada dua hal, yaitu pertama, sangat tidak mempercayai tradisi klasik
kesarjanaan muslim, yang terefkelsikan dalam penolakan keras terhadap taqlid;
dan kedua komitmen otoritas sumber-sumber kanonik, yaitu Al-Qur’an dan
sunnah. Akan tetapi sesuai dengan penolakan mereka terhadap taqlid, komitmen
mereka terhadap otoritas Al-Qur’an dan sunnah tidak mengesampingkan untuk
kembali memikirkan bagaimana sumber-sumber tersebut harus dipahami.
Mengenai hadis, kaum pembaharu mempunyai komitmen terhadap otoritas Nabi,
dengan tanpa menerima keterikatan yang kaku pada kitab hadis, atau dengan kata
lain memastikan keotentikan tanpa mengorbankan fleksibilitas suatu hadis.
Salah satu isu sentral dalam pemikiran golongan pembaharu adalah
mengenai integrasi keilmuan fikih dalam memahami hadis. Perlu diketahui,
bahwa pertentangan ahli hadis dan ahli hukum digambarkan sebagai pententangan
antara teoritisi dan pragmatis, yang berdampak pada perbedaan sikap secara
fundamental pada hadis. Muhaddis hanya concern pada rantai periwayat hadis,
dan mendasarkan justifikasi mereka pada dasar-dasar formal. Sementara Faqih
memperhatikan konten, semangat, dan relevansi sunnah dengan konteks syariah
secara keseluruhan.20
20
Daniel Brown, Rethinking Tradition in Modern Islamic Thought (Cambridge: Cambridge
University Press, 1996), hlm. 110
18
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Hadits menurut istilah syara’ ialah hal-hal yang datang dari Rasulullah
SAW, baik itu ucapan, perbuatan, atau pengakuan (taqrir). Berikut ini
adalah penjelasan mengenai ucapan, perbuatan, dan perkataan.
2. Kodifikasi Hadits dilakukan dan dimulai pada masa Dinasti Umayyah
yang dipimpin oleh Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang
terkenal adil dan wara’ hingga beliau disebut sebagai khalifah
Rasyidin yang ke lima. Beliau menetapkan dan memerintah ulama-
ulama pada masanya untuk melakukan kodifikasi hadits disebabkan
karena kesadaran beliau atas banyaknya para perawi hadits semakin
lama banyak yang meninggal yang terbagi menjadi tujuh periode.
3. Pembagian hadits adalah suatu proses, cara atau perbuatan membagi
hadits menjadi beberapa bagian dengan tujuan memisahkan atau
mengklasifikasikan suatu hadits dengan hadits lain berdasarkan
sanad, matan serta perawinya yang terbagi menjadi hadis berdasarkan
kuantitas yaitu hadis mutawatir dan hadis ahad. Sedangkan
berdasarkan kualitas terbagi menjadi hadis sahih, hasan, dan daif.
4. Secara umum, pendekatan yang dipergunakan oleh kaum pemhabaru
berkutat pada dua hal, yaitu pertama, sangat tidak mempercayai tradisi
klasik kesarjanaan muslim, yang terefkelsikan dalam penolakan keras
terhadap taqlid; dan kedua komitmen otoritas sumber-sumber kanonik,
yaitu Al-Qur’an dan sunnah.
B. Saran
Karena penulis menyadari apa yang penulis sajikan ini sangatlah jauh dari
kata sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
19
membangun dari para pembaca agar nantinya makalah ini akan menjadi lebih
sempurna
DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, 2015, Ilmu- Ilmu Hadis, Bandar Lampung: CV. Anugrah Utama
Raharja,
Ichwan, Mohammad Nor, 2007, Studi Ilmu Hadis, Semarang : RaSAIL Media,
Suparta, Munzier. 2010. Ilmu Hadits. Jakarta: Rajawali Pers, Cet. ke-7.
Thahhan, Mahmud, 2007, Intisari Ilmu Hadis, Terj. [Link] Ridwan, Malang :
UIN Malang Press
20
21