0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan26 halaman

Teori Keagenan dan GCG dalam Bisnis

Diunggah oleh

meritodingan86
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
47 tayangan26 halaman

Teori Keagenan dan GCG dalam Bisnis

Diunggah oleh

meritodingan86
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Grand Teory (Teori Dasar)

2.1.1. Teori Keagenan (Agency Theory)

Teori keagenan dapat didefinisikan sebagai suatu hubungan yang

terdapat pada suatu kontrak dimana satu orang atau lebih (principal)

memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama

prinsipal dan memberi wewenang kepada agen untuk membuat keputusan

yang terbaik bagi principal (Jensen dan Meckling, 1976).

Prinsip utama teori ini berupa hubungan kerja antara pihak yang

memberi wewenang (prinsipal) dengan pihak yang menerima wewenang

(agensi) dalam bentuk kontrak kerja sama yang disebut ”nexus of

contract”. Agen merupakan pihak yang dikontrak oleh principal untuk

bekerja demi kepentingan principal. Untuk itu principal memberikan

sebagian kekuasaannya kepada agen untuk membuat keputusan demi

kepentingan terbaik bagi principal.

Pelaksanaan otonomi daerah merupakan pelimpahan wewenang

dari pemerintah kepada kepala daerah menunjukan adanya hubungan

keagenan (dalam Halim dan Abulah, 2005).

9
2.1.2. Konsep Dasar Good Corporate Governance (GCG)

Good corporate governance (GCG) secara definitif merupakan

sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan yang menciptakan nilai

tambah (value added) untuk semua stakeholder (Monks,2003). Ada dua hal

yang ditekankan dalam konsep ini, pertama, pentingnya hak pemegang

saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat pada waktunya

dan, kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan

(disclosure) secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap semua informasi

kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder.

Pengertian governance berkaitan dengan pengelolaan kewenangan.

Hal ini berkaitan dengan bagaimana mencapai tujuan organisasi untuk

kepentingan bersama, dan bagaimana agar sumber daya organsasi tidak

disalahgunakan sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Kerangka kerja

governance harus memberikan suatu struktur atau proses yang memastikan

terjadinya pengendalian dan pembagian kekuasaan yang seimbang dalam

proses tata pamong, sehingga sasaran organisasi dapat dicapai dengan cara

yang paling optimal.

Sejarah corporate governance dimulai dari tahun 1602 ketika para

pedagang Belanda membentuk Vereenigde Oostindische Compagnie

(VOC), suatu perusahaan pertama di dunia yang menjual sahamnya ke

masyarakat (joint stock company), dan kemudian berkembang terus hingga

saat ini. Good Corporate Governance baru marak belakangan, ketika pada

tahun 1992, Cadbury Committee dan Treadway Commision menerbitkan

10
laporannya, kemudian diikuti dengan pembentukan berbagai Code of GCG

di berbagai negara.

Susilo dan Simamarta (2007:15-16) mengatakan bahwa corporate

governance mempunyai dua aspek, yaitu: Aspek pertama, berkaitan

dengan pola hubungan dan perilaku para aktor dalam perseroan. Perilaku

manajemen dengan karyawan, perilaku perseroan dengan pemasok,

dengan kreditor, dan lain-lain. Indikator yang digunakan untuk melihat

bagaimana perilaku ini memberikan manfaat adalah bagaimanakah tingkat

efisiensi perusahaan, bagaimanakah kinerja perusahaan, pertumbuhan,

perlakuan kepada pemegang saham dan pemangku kepentingan dan lain-

lain. Aspek ini disebut aspek perilaku korporasi dan sasarannya adalah

peningkatan kinerja. Aspek kedua berkaitan dengan seperangkat peraturan

dan norma yang membentuk perilaku di atas. Hal ini meliputi hukum

perusahaan, peraturan perundang-undangan lainnya, standar dan norma

(kode etik profesi, pedoman etika korporasi, dan lain-lain), yang disebut

dengan aspek normatif dari corporate governance dan sasarannya adalah

kepatuhan.

Suatu sistem corporate governance yang efektif seharusnya

mampu mengatur kewenangan direksi, yang bertujuan dapat menahan

direksi untuk tidak menyalahgunakan kewenangan tersebut dan untuk

memastikan bahwa direksi bekerja semata-mata untuk kepentingan

perusahaan. Menurut Jang bahwa isu seputar corporate governance tidak

hanya berkaitan dengan masalah bisnis dan ekonomi, tetapi juga berkaitan

11
dengan soal sosial-politik. Jang melihat corporate governance sangat

membantu mendorong transparansi dan akuntabilitas para komunitas

bisnis. Hal ini memberi keuntungan secara keseluruhan bagi masyarakat

karena adanya pengaruh transparansi dan akuntabilitas di sektor-sektor

publik (Surya dan Yustiavandana, 2006:8-9). Tricker berpendapat bahwa

beberapa literatur telah mencampuradukkan istilah antara ”the

management of a company” dan ”the governance of a company”. Peranan

manajemen utamanya adalah untuk menjalankan operasional bisnis secara

efektif maupun efisien dan menyangkut aspek-aspek seputar produk,

desain, pengadaan barang, karyawan, manajemen, produksi, pemasaran,

dan fungsi-fungsi finansial hanya sebatas dalam lingkup aktiviitas bisnis

perusahaan semata, sedangkan aturan seputar corporate governance tidak

hanya memerhatikan pada berjalannya bisnis perusahaan semata, tetapi

berfokus pada kebijakan direksi terhadap perusahaan secara keseluruhan,

dengan melakukan pengawasan dan kontrol terhadap executive actions dan

mewujudkan harapan akan akuntabilitas dan kepatuhan atas regulasi

perusahaan terhadap pihak luar (Surya dan Yustiavandana, 2006:7-8).

Adapun definisi Corporate governance yang pertama kali

dikeluarkan oleh Cadbury Committee yang menyatakan bahwa Corporate

governance adalah sistem untuk mengarahkan dan mengendalikan

perseroan. Corporate governance menurut FCGI (2006) adalah sebagai

berikut :

“set of rules that define the relationship between shareholders,


managers, creditors, the government, employees and other internal

12
and external stakeholders in respect to their rights and
responsibilities, or the system by which companies are directed and
controlled” (taken from Cadbury Committee of United Kingdom)

Objek dari corporate governance adalah untuk menciptakan added

value bagi stakeholder. United National Development Program (UNDP),

mendefinisikan governance sebagai “the exercise of political, economic,

and administrative authority to manage a national’s affair at all levels”,

sedangkan World Bank lebih menekankan pada cara pemerintah

mengelola sumber daya sosial dan ekonomi untuk kepentingan

pembangunan masyarakat (Mardiasmo, 2004: 17). The Indonesia Institute

for Corporate Governance (IICG) juga mendefinisikan Corporate

Governance sebagai suatu proses dan struktur yang diterapkan dalam

menjalankan perusahaan dengan tujuan utama meningkatkan nilai-nilai

pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap mempertahankan

kepentingan stakeholder yang lain.

Pengertian Corporate Governance (Keputusan Menteri Badan

Usaha Milik Negara, Nomor : KEP-117/M-MBU/2002), adalah:

“Suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organisasi BUMN


untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas
perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka
panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder
lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika”.

Syakhroza (2002) telah mendefinisikan Corporate Governance

secara lebih mudah dan jelas dimana ia mengatakan bahwa :

“Corporate governance adalah suatu sistem yang dipakai “Board”


untuk mengarahkan dan mengendalikan serta mengawasi
(directing, controlling, and supervising) pengelolaan sumber daya

13
organisasi secara efisien, efektif, ekonomis, dan produktif (E3P)
dengan prinsip-prinsip transparan, accountable, responsible,
independent, dan fairness (TARIF) dalam rangka mencapai tujuan
organisasi”
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa corporate

governance adalah suatu sistem yang mengatur bagaimana suatu

perusahaan atau organisasi dijalankan (operasi) dan dikontrol atau sebagai

tata kelola perusahaan (organisasi). Sistem ini mengatur secara jelas dan

tegas hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dalam perusahaan.

Menurut Moeljono (2005:19), lima karakteristik dari good

corporate governance meliputi :

1. Transparansi (Transparency), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan

proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam

mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan;

2. Kemandirian (Independency) , yaitu keadaan dimana perusahaan

dikelola secara profesional, tanpa benturan kepentingan dan pengaruh

atau tekanan dari pihak mana pun yang tidak sesuai dengan peraturan

perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat;

3. Akuntabilitas (Accountability), yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan

pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan

terlaksana secara efektif;

4. Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan

perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-

prinsip korporasi yang sehat;

14
5. Kewajaran, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan

terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi

yang sehat.

Prinsip-prinsip good corporate governance dalam FCGI (2006:3)

yang meliputi transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability),

responsibilitas (responsibility), independensi serta kewajaran dan

kesetaraan (fairness) diperlukan untuk mencapai kesinambungan usaha

(sustainability) perusahaan dengan memperhatikan pemangku kepentingan

(stakeholders). Sehingga setiap perusahaan harus memastikan bahwa asas

GCG diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan.

2.1.3. Teori Entitas

Menurut Paton (Suwardjono, 2005) dalam teorinya, bahwa

organisasi dianggap sebagai suatu kesatuan atau badan usaha ekonomik

yang berdiri sendiri, bertindak atas nama sendiri, dan kedudukannya

terpisah dari pemilik atau pihak lain yang menanamkan dana dalam

organisasi dan kesatuan ekonomik tersebut menjadi pusat perhatian atau

sudut pandang akuntansi.

Dari perspektif ini, akuntansi berkepentingan dengan pelaporan

keuangan sebagai kesatuan usaha bukan pemilik. Hal ini berarti kesatuan

usaha menjadi kesatuan pelapor (reporting entity) yang bertanggung jawab

kepada pemilik. Sehingga kesatuan usaha menjadi pusat

pertanggungjawaban, yang dinyatakan dalam bentuk laporan keuangan.

15
Konsep atau teori entitas ini telah diaplikasikan dalam mekanisme

keuangan di Indonesia.

2.2. Kompetensi Sumber Daya Manusia

2.2.1. Pengertian Kompetensi

Kompetensi sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan

pada tingkat yang memuaskan di tempat kerja, termasuk diantaranya

kemampuan seseorang untuk mentransfer dan mengaplikasikan

keterampilan dan pengetahuan tersebut dalam situasi yang baru dan

meningkatkan manfaat yang disepakati.

Hutapea dan Thoha (2008:4), ada beberapa defenisi kompetensi

yaitu:

a. Menurut Boyatzis (1982) kompetensi didefenisikan sebagai “kapasitas

yang ada pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu

memenuhi apa yang disyaratkan oleh pekerjaan dalam suatu organisasi

sehingga organisasi tersebut mampu mencapai hasil yang diharapkan”.

b. Sedangkan menurut Woodruffle (1991) and Woodruffle (1990) mereka

membedakan antara pengertian competence dan competency yang

mana competence diartikan sebagai konsep yang berhubungan dengan

pekerjaan, yaitu menunjukkan “wilayah kerja dimana orang dapat

menjadi kompeten atau unggul”, sedangkan competency merupakan

konsep dasar yang berhubungan dengan orang, yaitu menunjukkan

“dimensi perilaku yang melandasi prestasi unggul (competent)”.

16
2.2.2. Karakteristik Kompetensi

Penentuan tingkat kompetensi dibutuhkan agar dapat mengetahui

tingkat kinerja yang diharapkan untuk katagori baik atau rata-rata.

Penentuan ambang kompetensi yang dibutuhkan tentunya akan dapat

dijadikan dasar bagi proses seleksi, seksesi perencanaan, evaluasi kinerja

dan pengembangan SDM.

Hutapea dan Thoha (2008:28), mengungkapkan bahwa ada tiga

komponen utama pembentukan kompetensi yaitu pengetahuan yang

dimiliki seseorang, kemampuan, dan prilaku individu.

1. Pengetahuan (knowledge) adalah informasi yang dimiliki seseorang

pegawai untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai

dengan bidang yang digelutinya (tertentu). Pengetahuan pegawai turut

menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang dibebankan

kepadanya, pegawai yang mempunyai pengetahuan yang cukup akan

meningkatkan efisiensi perusahaan. Namun bagi pegawai yang belum

mempunyai pengetahuan cukup, maka akan bekerja tersendat-sendat.

2. Keterampilan (Skill) merupakan suatu upaya untuk melaksanakan

tugas dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan kepada seorang

pegawai dengan baik dan maksimal.

3. Sikap (attitude) merupakan pola tingkah laku seorang

pegawai/pegawai di dalam melaksanakan tugas dan tanggung

jawabnya sesuai dengan peraturan perusahaan. Apabila pegawai

mempunyai sifat yang pendukung pencapaian tujuan organisasi, maka

17
secara otomatis segala tugas yang dibebankan kepadanya akan

dilaksanakan dengan sebaikbaiknya.

2.3. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

2.3.1. Pengertian Sistem Pengendalian Intern Pemerintah

Sesuai pasal 58 (1) UU No. 1 Tahun 2004, bahwa Presiden

menyelenggarakan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) dalam

rangka pengelolaan keuangan negara.

Sistem pengendalian internal adalah proses yang integral pada

tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan

dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas

tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien,

keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan

terhadap peraturan perundangundangan (PP No. 60 tahun 2008).

Tingkat efektifitas SPIP daerah diukur berdasarkan terpenuhinya 5

kategori yang ditetapkan dalam Permendagri No.13 Tahun 2006 ayat 3

bahwa, pengendalian intern sebagaimana dimaksudkan pada ayat 2

sekurangkurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut:

a. Terciptakan lingkungan pengendalian yang sehat,

b. Terselenggaranya penilaian resiko,

c. Terselenggarakan aktivitas pengendalian,

d. Terselenggarakannya sistem informasi dan komunikasi, dan

e. Terselenggaranya kegiatan pemantauan.

18
Selanjutnya seperti yang dijelaskan dalam lampiran 1 Permendagri

No. 4 Tahun 2008, bahwa kualitas laporan keuangan tidak hanya diukur

dari kesesuaian dengan SAP saja, tetapi juga dari sistem pengendalian

internnya. Untuk itu, pemerintah daerah harus mendesain,

mengoperasikan, dan memelihara SPI yang baik dalam rangka

menghasilkan informasi keuangan yang andal

2.4. Sistem Akuntansi Keuangan Daerah

2.4.1. Pengertian Sistem Akuntansi

Menurut Midjan dan Susanto (2001) menyatakan bahwa:

“Sistem informasi akuntansi merupakan suatu sistem pengolaan data

akuntansi yang merupakan koordinasi dari manusia, alat dan metode yang

berinteraksi secara harmonis dalam suatu wadah organisasi yang

terstruktur untuk menghasilkan informasi akuntansi keuangan dan

informasi akuntansi manajemen yang berstruktur pula”.

Menurut Alam (2004:8) mendefenisikan system akuntansi sebagai

berikut:

“Sistem akuntansi adalah bidang akuntansi yang mengkhususkan diri

dalam perencanaan dan pelaksanaan prosedurpengumpulan, serta

pelaporan data keuangan. Akuntansi, dalam hal ini harus menciptakan

suatu cara sedemikian rupa sehingga mempermudah pengendalian intern

dan menciptakan arus laporan yang tepat untuk kepentingan manajemen”.

19
Dari defenisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa system

akuntansi merupakan organisasi formulir dan berbagai cacatan transaksi

yang mana digunakan untuk keperluan penyusunan laporan keuangan

untuk tujuan pengelolaan manajemen.

2.4.2. Laporan Keuangan Pemerintah

Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006

adalah: “Laporan keuangan daerah disusun untuk menyediakan informasi

yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang

dilakukan oleh pemerintah daerah selama satu periode pelaporan.”

Menurut Baridwan (1992: 17), laporan Keuangan Daerah adalah:

“Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan

transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama dua tahun buku yang

bersangkutan”. Sedangkan menurut Mahmudi (2007:11) definisi laporan

keuangan adalah: “Laporan keuangan adalah informasi yang disajikan

untuk membantu stakeholder dalam membuat keputusan sosial, politik dan

ekonomi sehingga keputusan yang diambil bisa lebih berkualitas.”

Laporan keuangan pada dasarnya merupakan asersi dari pihak

manajemen pemerintah yang menginformasikan kondisi keuangan

pemerintah kepada para pemangku kepentingan (stakeholder). Pelaporan

keuangan membantu memenuhi kewajiban pemerintah untuk menjadi

akuntabel secara publik. Pelaporan keuangan juga membantu memenuhi

20
kebutuhan para pengguna laporan keuangan yang mempunyai keterbatasan

kewenangan, dan keterbatasan kemampuan untuk memperoleh informasi.

Oleh sebab itu mereka menyandarkan pada laporan keuangan

sebagai sumber informasi yang penting. Berdasarkan UU No. 17 Tahun

2003 tentang Keuangan Negara, pemerintah pusat dan daerah harus

membuat laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Selain

itu, pemerintah pusat juga menerbitkan beberapa peraturan pemerintah

(PP) menyangkut pengelolaan keuangan daerah diantaranya, PP No. 58

Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri No.

13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Untuk

penyusunan dan penyajian laporan keuangan pemerintah diatur dalam PP

No. 71 tahun 2010 tentang SAP.

Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) merupakan persyaratan

yang berkekuatan hukum dalam upaya meningkatkan kualitas laporan

keuangan pemerintah di Indonesia. Dalam SAP terdapat empat persyaratan

karakteristik kualitatif yang harus dipenuhi dalam penyusunan laporan

keuangan, yaitu;

a. Relevan,

b. Andal,

c. Dapat diperbandingkan,dan

d. Mudah dipahami.

Kesesuaian laporan keuangan dengan SAP sangat menentukan

kualitas LKPD. Dalam rangka pertanggungjawaban pemerintah dalam

21
pelaksanaan APBD, tiap kepala SKPD selaku pengguna anggaran

menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang, dan

ekuitas Dana yang berada dalam tanggung jawabnya.

Pencatatan dalam proses akuntansi tersebut sebagai bahan dalam

menyiapkan laporan keuangan SKPD, yang terdiri dari:

a. Laporan Realisasi Anggaran (LRA),

b. Laporan perubahan sisa anggaran (SAL),

c. Neraca, Laporan operasi (LO),

d. Laporan perubahan ekuitas (LPE),

e. Laporan Arus Kas dan

f. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).

Laporan keuangan dari tiap-tiap SKPD tersebut dikonsolidasikan

oleh DPPKAD menjadi LKPD.

2.4.3. Akuntansi Pemerintah Daerah

Akuntansi pemerintahan dibeberapa sumber disebut dengan

akuntansi sektor publik. Secara organisasi akuntansi, domain public antara

lain meliputi pemerintah, BUMN/BUMD, yayasan dan organisasi nirlaba

lainnya.

Menurut Halim (2012:43) “Akuntansi kauangan daerah adalah

proses penidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi

ekonomi (keuangan) dari entitas pemerintah daerah (Kabupaten, Kota atau

Provinsi) yang memerlukan”.

22
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa akuntansi keuangan

daerah ialah suatu cara atau metode yang digunakan untuk mencatat hasil

dari transaksi-transaksi yang terjadi di satu periode di suatu instansi

pemerintahan baik pusat maupun daerah.

Tanjung (2009:35) mendefenisikan bahwa akuntansi pemerintah

daerah adalah “proses pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran

dengan cara tertentu dengan ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-

kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk pelaporan hasil-

hasilnya dalam penyelenggaraan urusan pemerintah menurut asas otonomi

dan tugas pembantuan dengan prinsip Negara Republik Kesatuan

Indonesia.

2.5. Kualitas Laporan Keuangan

Dalam memiliki keinginan pemakai laporan, akuntansi keuangan

perlu berupaya untuk membentuk dirinya agar lebih bermanfaat dan

berdaya guna. Oleh karena itu perlu kriteria persyaratan laporan akuntansi

keuangan yang dianggap dapat memenuhi keinginan tersebut yaitu

keinginan para pemakai laporan keuangan (Harahap, 2008;145).

Karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut Peraturan

Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 tentang standar akuntansi pemerintah

(SAP) adalah sebagai berikut:

23
“Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran

normative yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga

dapat memenuhi tujuannya”.

Keempat karakteristik berikut merupakan prasyarat normative yang

diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas

yang dikehendaki yaitu:

1. Relevan

2. Andal

3. Dapat dibandingkan

4. Dapat dipahami

2.5.1. Penjelasan Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

Berikut penjelasan mengenai karakteristik kualitatif laporan

keuangan:

a. Relevan

Laporan keuangan bias dikatakan releban apabila informasi yang

termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan

membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini,

dan memprediksi masa depan, serta menegaskan atau mengoreksi hasil

evaluasi mereka di masa lalu. Dengan demikian, informasi laporan

keuangan yang relevan dapat dihubungkan dengan maksud

penggunaannya.

Informasi yang relvan jika:

24
1. Memiliki manfaat umpan balik (feedback value)

Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau

mengoreksi ekspektasi mereka di masa lalu.

2. Memiliki manfaat prediktif (predictive value)

Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa

yang akan dating berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa

kini.

3. Tepat Waktu

Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan

berguna dalam pengambilan keputusan.

4. Lenkap

Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap

mungkin, yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat

mempengaruhi pengambilan keputusan

b. Andal

Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang

menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara

jujur, serta dapat diverikasi. Informasi mungkin relevan, tetapi jika

penyajiannya tidak dapat diandalkan maka pengunaan informasi

tersebut secara potensial dapat menyesatkan.

Informasi yang andal memenuhi karakteristik:

1. Penyajian Jujur

25
Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa

lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat

diharapkan untuk disajikan

2. Dapat diverifikasi (verifiability)

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji, dan

apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang

berbeda, hasilnya tetap menunjukan simpulan yang tidak berbeda

jauh.

3. Netralitas

Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak

pada kebutuhan pihak tertentu.

c. Dapat di bandingkan

Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna

jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya

atau laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya.

Perbandingan dilakukan secara internal dan eksternal. Perbandingan

secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan

bebijakan akuntansi yang sama dilakukan dari tahun ke tahun.

Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang

diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama.

d. Dapat dipahami

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh

pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan

26
dengan batas pemahaman para pengguna. Untuk itu, pengguna

diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan

lingkungan operasi entitas pelaporan, serta adanya kemauan guna

untuk mempelajari informasi yang dimaksud

2.6. Penilitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis

2.6.1. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap kualitas

Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Papua

Dalam suatu organisasi sumber daya manusia memiliki peran yang

sangat penting, karena yang menjalankan serta mengelola suatu organisasi

adalah sumber daya manusianya. Untuk itu, diperlukanlah sumber daya

manusia yang memiliki kompetensi di bidangnya. Sama halnya dalam

menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas di butuhkan sumber daya

manusia yang berkompeten.

Andini dan Yusrawati (2015) hasil penelitian menujukan Secara

parsial kualitas sumber daya manusia, berpengaruh positif terhadap

kualitas laporan keuangan Pemerintah Kota Banda Aceh. Berdasarkan

teori dan kajian penelitian yang telah dijelaskan di atas maka hipotesis

yang diajukan adalah sebagai berikut:

H1: Kompetensi sumber daya manusia berpengaruh terhadap kualitas


laporan keuangan.

27
2.6.2. Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Terhadap
kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Papua
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP,

menyatakan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, adalah Sistem

Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di

lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sistem pengendalian

Intern Pemerintah bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai

agar tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian penyelenggaraan

pemerintah negara/daerah, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan

aset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.

Hasil penelitian Ramandan (2015) menujukan sistem pengendalian

intern berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pada Satker

Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya Provinsi

Kepri. Berdasarkan teori dan kajian penelitian yang telah dijelaskan di atas

maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

H2: Sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) berpengaruh terhadap


kualitas laporan keuangan.

2.6.3. Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Terhadap


kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Papua.
Mardiasmo (2004) mengatakan bahwa untuk menghasilkan laporan

keuangan yang relevan, Handal, dan dapat dipercaya, pemerintah daerah

harus memiliki sistem akuntansi yang handal. Sistem akuntansi yang

lemah menyebabkan laporan keuangan yang dihasilkan juga kurang handal

dan kurang relevan untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu untuk

28
mendapatkan laporan keuangan yang berkualitas diperlukan penerapan

sistem akuntansi keuangan daerah yang baik.

Rahmadani (2015) melakukan kajian dengan judul pengaruh

kompetensi sumber daya manusia, sistem akuntansi keuangan daerah,

pemanfaatan teknologi informasi dan sistem pengendalian intern terhadap

kualitas laporan keuangan pemerintah daerah (Studi Pada Satuan Kerja

Perangkat Daerah Kabupaten Pasaman Barat). Hasil penelitian

menujukan sistem akuntansi keuangan daerah berpengaruh terhadap

kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Untuk dapat menghasilkan

laporan keuangan yang berkualitas pemerintah daerah harus memiliki

sistem akuntansi yang handal. Berdasarkan teori dan kajian penelitian

yang telah dijelaskan di atas maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai

berikut:

H3: Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah berpengaruh terhadap


kualitas laporan keuangan.

2.6.4. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Sistem Pengendalian


Intern Pemerintah dan Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan
Daerah Terhadap kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi
Papua.
Kadek Desiana Wati, Nyoman Trisna Herawati, dan Ni Kadek

Sinarwati (2014) hasil kajian menemukan kompetensi sumber daya

manusia, penerapan standar akuntansi pemerintahan, dan sistem akuntansi

keuangan daerah secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap

kualitas laporan keuangan daerah.

29
Kajian diatas sejalan dengan kajian Firdaus (2016) hasil kajian

menemukan secara bersama-sama kualitas sumber daya manusia,

pemanfaatan teknologi informasi dan penerapan kebijakan akuntansi

terhadap kualitas laporan keuangan Pemerintah Kota Banda Aceh

berpengaruh positif. Berdasarkan kajian penelitian yang telah dijelaskan di

atas maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:

H4: Kompetensi sumber daya manusia, sistem pengendalian intern


pemerintah (SPIP) dan Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan
Daerah berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan.

2.7. Model Penelitian

Gambar 2.1
Model Penelitian

Kompetensi Sumber
Daya Manusia (X1)

Sistem Pengendalian Kualitas Laporan


Intern Pemerintah (X2) Keuangan (Y)

Penerapan Sistem
Akuntansi Keuangan
Daerah (X3)

Sumber: dikembangkan dalam penelitian, 2016.

30
2.8. Matriks Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu

Peneliti Variabel Metode


No. Judul Penelitian Hasil Penelitian
(tahun) Penelitian Analisis
1. Firdaus Pengaruh  Kualitas SDM Multiple  Secara bersama-sama
(2016) kualitas sumber  Pemanfaatan Regresion kualitas sumber daya
daya manusia teknologi manusia, pemanfaatan
Pemanfaatan informasi teknologi informasi dan
teknologi  Penerapan penerapan kebijakan
informasi dan kebijakan akuntansi terhadap
penerapan akuntansi kualitas laporan
Kebijakan  Kualitas keuangan Pemerintah
akuntansi lapran Kota Banda Aceh
terhadap kualitas keungan berpengaruh positif.
Laporan  Secara parsial kualitas
keuangan sumber daya manusia,
pemerintah kota pemanfaatan teknologi
banda aceh informasi dan penerapan
(Studi pada kebijakan akuntansi
Satuan Kerja berpengaruh positif
Perangkat terhadap kualitas laporan
keuangan Pemerintah
Daerah di
Kota Banda Aceh
Lingkungan
Pemerintah Kota
Banda Aceh)

2. Dewi Pengaruh  Kompetensi Multiple  Secara parsial variable


Andini dan Kompetensi SDM Regresion kompetensi SDM dan
Yusrawati Sumber Daya  Penerapan penerapan sistem
Manusia dan Sistem akuntansi keuangan
(2015)
Penerapan Akuntansi daerah berpengaruh
Sistem  Kualitas terhadap kualitas laporan
Akuntansi Laporan keuangan daerah
Keuangan daerah Keuangan  secara simultan
terhadap Kualitas Daerah kompetensi SDM dan
Laporan penerapan system
Keuangan daerah akuntansi keuangan
Pada Satuan daerah berpengaruh
Kerja Perangkat terhadap kualitas laporan
Daerah (SKPD) keuangan daerah pada
abupaten Empat SKPD di kabupaten

31
Peneliti Variabel Metode
No. Judul Penelitian Hasil Penelitian
(tahun) Penelitian Analisis
Lawang Empat Lawang
Sumatera Selatan
3. Sahrul Pengaruh  Kompetensi Multiple  Kompetensi sumber daya
Ramadan Kompetensi SDM Regresion manusia pengelola
(2015) Sumber Daya  Pengendalian keuangan berpengaruh
Manusia Intern terhadap kualitas laporan
Pengelola  Teknologi keuangan pada Satker
Keuangan, Informasi Kementerian Pekerjaan
Pengendalian  Komitmen Umum Direktorat
Intern, Teknologi Organisasi Jenderal Cipta Karya
Informasi Dan  Kualitas Provinsi Kepri
Komitmen Laporan  Pengendalian intern
Organisasi Keuangan berpengaruh terhadap
Terhadap kualitas laporan
Kualitas Laporan keuangan pada Satker
Keuangan Pada Kementerian Pekerjaan
Satker Umum Direktorat
Kementerian Jenderal Cipta Karya
Pekerjaan Umum Provinsi Kepri
Direktorat  Teknologi informasi
Jenderal Cipta berpengaruh terhadap
Karya Provinsi kualitas laporan
KEPRI keuangan pada Satker
Kementerian Pekerjaan
Umum Direktorat
Jenderal Cipta Karya
Provinsi Kepri
 Komitmen organisasi
berpengaruh terhadap
kualitas laporan
keuangan pada Satker
Kementerian Pekerjaan
Umum Direktorat
Jenderal Cipta Karya
Provinsi Kepri
 Kompetensi sumber daya
manusia pengelola
keuangan, pengendalian
intern, teknologi
informasi dan komitmen
organisasi berpengaruh
terhadap kualitas laporan
keuangan pada Satker

32
Peneliti Variabel Metode
No. Judul Penelitian Hasil Penelitian
(tahun) Penelitian Analisis
Kementerian Pekerjaan
Umum Direktorat
Jenderal Cipta Karya
Provinsi Kepri.
4. Akhmad Pengaruh  Kompetensi Struktural  Kompetensi SDM tidak
Syarifudin Kompetensi SDM Equation berpengaruh signifikan
(2014) SDM dan Peran  Peran Audit Modeling terhadap kualitas LKPD,
Audit Intern Internal dengan artinya meningkatnya
terhadap Kualitas  Kualitas AMOS variasi kompetensi tidak
Laporan Laporan 18.0 berpengaruh signifikan
Keuangan Keuangan terhadap peningkatan
Pemerintah  Sistem kualitas LKPD.
Daerah dengan Pengendalian  Peran Auditor Internal
Variabel Intern tidak berpengaruh
Intervening Pemerintah signifikan terhadap
Sistem kualitas LKPD
Pengendalian  SPIP berpengaruh
Internal signifikan terhadap
Pemerintah kualitas LKPD, artinya
(studi empiris semakin efektif SPIP
 Kompetensi SDM
pada Pemkab
berpengaruh signifikan
Kebumen) terhadap SPIP, sehingga
tinggi tingkat kompetensi
akan semakin
meningkatkan efektifitas
SPIP.
 Peran Audit Intern
berpengaruh signifikan
terhadap SPIP, sehingga
semakin baik Peran
Audit Intern maka
penerapan SPIP semakin
efekif.
 SPIP dapat memediasi
pengaruh Kompetensi
SDM terhadap kualitas
LKPD.
 SPIP tidak memediasi
pengaruh Peran Audit
Intern terhadap kualitas
LKPD.
5. Kadek Pengaruh  Kompetensi Multiple  Kompetensi sumber daya

33
Peneliti Variabel Metode
No. Judul Penelitian Hasil Penelitian
(tahun) Penelitian Analisis
Desiana Kompetensi SDM Regresion manusia berpengaruh
Wati, SDM, Penerapan  Penerapan positif dan signifikan
Nyoman SAP, Dan Sistem SAP terhadap kualitas laporan
 SAKD keuangan daerah
Trisna Akuntansi
 Kualitas  Penerapan standar
Herawati, Keuangan Laporan akuntansi pemerintahan
dan Ni Daerah Terhadap Keuangan berpengaruh positif dan
Kadek Kualitas Laporan signifikan terhadap
Sinarwati Keuangan kualitas laporan
(2014) Daerah keuangan daerah
 Sistem akuntansi
keuangan daerah
berpengaruh positif dan
signifikan terhadap
kualitas laporan
keuangan daerah
 Kompetensi sumber daya
manusia, penerapan
standar akuntansi
pemerintahan, dan sistem
akuntansi keuangan
daerah secara bersama-
sama berpengaruh
signifikan terhadap
kualitas laporan
keuangan daerah
Sumber: diolah, 2016.

34

Common questions

Didukung oleh AI

Penerapan sistem akuntansi keuangan daerah yang handal relevan dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan. Sistem yang baik akan mendukung penyusunan laporan yang akurat, relevan, dan dapat dipercaya, sehingga mampu memenuhi kebutuhan informasi bagi pengambilan keputusan. Penelitian di Kabupaten Pasaman Barat menunjukkan bahwa penerapan sistem akuntansi keuangan daerah berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah .

Kompetensi sumber daya manusia berdampak positif terhadap kualitas laporan keuangan di pemerintahan daerah. SDM yang berkompeten mampu menghasilkan laporan keuangan yang lebih akurat, handal, dan relevan, yang pada gilirannya meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kebijakan keuangan. Penelitian menunjukkan bahwa kualitas SDM berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan di pemerintah daerah seperti yang terjadi di Kota Banda Aceh dan Kabupaten Pasaman Barat .

Good Corporate Governance dapat mendorong transparansi dan akuntabilitas di sektor publik, yang pada gilirannya memberikan keuntungan bagi masyarakat secara keseluruhan. Penerapan prinsip GCG di lapangan tidak hanya berkaitan dengan bisnis dan ekonomi tetapi juga membawa perubahan positif dalam tata pemerintahan dengan memperkuat mekanisme akuntabilitas dan transparansi di sektor sosial-politik. Hal ini dapat membangun kepercayaan publik terhadap institusi pemerintahan .

GCG meningkatkan nilai tambah bagi stakeholder dengan memastikan adanya sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan secara transparan, akuntabel, dan sesuai dengan hukum yang berlaku. Dua elemen penting dalam GCG adalah hak pemegang saham untuk mendapatkan informasi yang akurat dan tepat waktu serta kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan informasi terkait kinerja dan kepemilikan secara transparan. Dengan penerapan GCG, perusahaan diharapkan dapat mencapai sasaran organisasi secara optimal dan memaksimalkan kepentingan stakeholder .

Pemisahan peran antara manajemen dan governance memberikan keuntungan berupa pembagian tugas yang jelas, di mana manajemen berfokus pada operasional bisnis secara efisien, sedangkan governance berfokus pada pembuatan kebijakan serta pengawasan terhadap tindakan eksekutif. Hal ini memastikan bahawa pengelolaan perusahaan sesuai dengan regulasi dan harapan terhadap akuntabilitas dan kepatuhan terpenuhi, sehingga meningkatkan efisiensi dan keefektifan tata kelola perusahaan .

Kompetensi sumber daya manusia dan teknologi informasi memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah. SDM yang terampil dan teknologi informasi yang canggih mendukung proses penyusunan laporan keuangan yang lebih efisien, cepat, dan akurat, meningkatkan transparansi dan keandalan laporan. Penelitian di wilayah seperti Kepri menunjukkan bahwa adanya korelasi positif antara tingkat kompetensi SDM, penggunaan teknologi informasi, dan kualitas output laporan keuangan di sektor pemerintah .

Prinsip-prinsip Good Corporate Governance (transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, kemandirian, dan kewajaran) mendukung keberlanjutan usaha dengan memastikan bahwa perusahaan dikelola dengan baik dan bertanggung jawab. Transparansi mendorong keterbukaan informasi, akuntabilitas memastikan adanya pertanggungjawaban yang jelas, dan tanggung jawab menjamin kepatuhan terhadap hukum. Kemandirian menjauhkan dari intervensi yang tidak sehat, sementara kewajaran menjamin perlakuan adil terhadap semua pihak. Keseluruhan prinsip ini membangun kepercayaan di antara para stakeholder, yang esensial untuk kesinambungan dan pertumbuhan jangka panjang perusahaan .

Teori entitas mengubah perspektif pelaporan keuangan dengan memisahkan entitas dari pemiliknya. Dalam konteks ini, organisasi dianggap sebagai kesatuan ekonomik yang berdiri sendiri, di mana akuntansi lebih berfokus pada kesatuan usaha daripada pemilik. Hal ini berarti entitas tersebut menjadi entitas pelapor yang bertanggung jawab menyajikan laporan keuangan yang mewakili keuangan organisasi secara keseluruhan, bukan sekadar sebagai perpanjangan dari kepemilikan pribadi .

Teori keagenan menggambarkan hubungan yang terjalin antara pemerintah pusat sebagai prinsipal dan kepala daerah sebagai agen. Prinsipal memberikan wewenang kepada agen untuk bertindak demi kepentingannya. Dalam konteks otonomi daerah, pemerintah pusat mendelegasikan sebagian kewenangan kepada kepala daerah, yang kemudian harus membuat keputusan terbaik untuk kepentingan pemerintah pusat, sesuai dengan prinsip hubungan keagenan .

SPIP mempengaruhi kualitas laporan keuangan dengan memastikan adanya pengawasan yang memadai terhadap penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. SPIP bertujuan untuk meningkatkan efektivitas, efisiensi, dan kepatuhan terhadap peraturan, serta keandalan laporan keuangan. Dengan SPIP yang efektif, pemerintah daerah dapat menghasilkan laporan keuangan yang lebih berkualitas, seperti terbukti dalam penelitian yang menunjukkan pengaruh positif SPIP terhadap laporan keuangan di Provinsi Kepulauan Riau .

Anda mungkin juga menyukai