BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Grand Teory (Teori Dasar)
2.1.1. Teori Keagenan (Agency Theory)
Teori keagenan dapat didefinisikan sebagai suatu hubungan yang
terdapat pada suatu kontrak dimana satu orang atau lebih (principal)
memerintah orang lain (agen) untuk melakukan suatu jasa atas nama
prinsipal dan memberi wewenang kepada agen untuk membuat keputusan
yang terbaik bagi principal (Jensen dan Meckling, 1976).
Prinsip utama teori ini berupa hubungan kerja antara pihak yang
memberi wewenang (prinsipal) dengan pihak yang menerima wewenang
(agensi) dalam bentuk kontrak kerja sama yang disebut ”nexus of
contract”. Agen merupakan pihak yang dikontrak oleh principal untuk
bekerja demi kepentingan principal. Untuk itu principal memberikan
sebagian kekuasaannya kepada agen untuk membuat keputusan demi
kepentingan terbaik bagi principal.
Pelaksanaan otonomi daerah merupakan pelimpahan wewenang
dari pemerintah kepada kepala daerah menunjukan adanya hubungan
keagenan (dalam Halim dan Abulah, 2005).
9
2.1.2. Konsep Dasar Good Corporate Governance (GCG)
Good corporate governance (GCG) secara definitif merupakan
sistem yang mengatur dan mengendalikan perusahaan yang menciptakan nilai
tambah (value added) untuk semua stakeholder (Monks,2003). Ada dua hal
yang ditekankan dalam konsep ini, pertama, pentingnya hak pemegang
saham untuk memperoleh informasi dengan benar dan tepat pada waktunya
dan, kedua, kewajiban perusahaan untuk melakukan pengungkapan
(disclosure) secara akurat, tepat waktu, transparan terhadap semua informasi
kinerja perusahaan, kepemilikan, dan stakeholder.
Pengertian governance berkaitan dengan pengelolaan kewenangan.
Hal ini berkaitan dengan bagaimana mencapai tujuan organisasi untuk
kepentingan bersama, dan bagaimana agar sumber daya organsasi tidak
disalahgunakan sehingga tujuan organisasi dapat tercapai. Kerangka kerja
governance harus memberikan suatu struktur atau proses yang memastikan
terjadinya pengendalian dan pembagian kekuasaan yang seimbang dalam
proses tata pamong, sehingga sasaran organisasi dapat dicapai dengan cara
yang paling optimal.
Sejarah corporate governance dimulai dari tahun 1602 ketika para
pedagang Belanda membentuk Vereenigde Oostindische Compagnie
(VOC), suatu perusahaan pertama di dunia yang menjual sahamnya ke
masyarakat (joint stock company), dan kemudian berkembang terus hingga
saat ini. Good Corporate Governance baru marak belakangan, ketika pada
tahun 1992, Cadbury Committee dan Treadway Commision menerbitkan
10
laporannya, kemudian diikuti dengan pembentukan berbagai Code of GCG
di berbagai negara.
Susilo dan Simamarta (2007:15-16) mengatakan bahwa corporate
governance mempunyai dua aspek, yaitu: Aspek pertama, berkaitan
dengan pola hubungan dan perilaku para aktor dalam perseroan. Perilaku
manajemen dengan karyawan, perilaku perseroan dengan pemasok,
dengan kreditor, dan lain-lain. Indikator yang digunakan untuk melihat
bagaimana perilaku ini memberikan manfaat adalah bagaimanakah tingkat
efisiensi perusahaan, bagaimanakah kinerja perusahaan, pertumbuhan,
perlakuan kepada pemegang saham dan pemangku kepentingan dan lain-
lain. Aspek ini disebut aspek perilaku korporasi dan sasarannya adalah
peningkatan kinerja. Aspek kedua berkaitan dengan seperangkat peraturan
dan norma yang membentuk perilaku di atas. Hal ini meliputi hukum
perusahaan, peraturan perundang-undangan lainnya, standar dan norma
(kode etik profesi, pedoman etika korporasi, dan lain-lain), yang disebut
dengan aspek normatif dari corporate governance dan sasarannya adalah
kepatuhan.
Suatu sistem corporate governance yang efektif seharusnya
mampu mengatur kewenangan direksi, yang bertujuan dapat menahan
direksi untuk tidak menyalahgunakan kewenangan tersebut dan untuk
memastikan bahwa direksi bekerja semata-mata untuk kepentingan
perusahaan. Menurut Jang bahwa isu seputar corporate governance tidak
hanya berkaitan dengan masalah bisnis dan ekonomi, tetapi juga berkaitan
11
dengan soal sosial-politik. Jang melihat corporate governance sangat
membantu mendorong transparansi dan akuntabilitas para komunitas
bisnis. Hal ini memberi keuntungan secara keseluruhan bagi masyarakat
karena adanya pengaruh transparansi dan akuntabilitas di sektor-sektor
publik (Surya dan Yustiavandana, 2006:8-9). Tricker berpendapat bahwa
beberapa literatur telah mencampuradukkan istilah antara ”the
management of a company” dan ”the governance of a company”. Peranan
manajemen utamanya adalah untuk menjalankan operasional bisnis secara
efektif maupun efisien dan menyangkut aspek-aspek seputar produk,
desain, pengadaan barang, karyawan, manajemen, produksi, pemasaran,
dan fungsi-fungsi finansial hanya sebatas dalam lingkup aktiviitas bisnis
perusahaan semata, sedangkan aturan seputar corporate governance tidak
hanya memerhatikan pada berjalannya bisnis perusahaan semata, tetapi
berfokus pada kebijakan direksi terhadap perusahaan secara keseluruhan,
dengan melakukan pengawasan dan kontrol terhadap executive actions dan
mewujudkan harapan akan akuntabilitas dan kepatuhan atas regulasi
perusahaan terhadap pihak luar (Surya dan Yustiavandana, 2006:7-8).
Adapun definisi Corporate governance yang pertama kali
dikeluarkan oleh Cadbury Committee yang menyatakan bahwa Corporate
governance adalah sistem untuk mengarahkan dan mengendalikan
perseroan. Corporate governance menurut FCGI (2006) adalah sebagai
berikut :
“set of rules that define the relationship between shareholders,
managers, creditors, the government, employees and other internal
12
and external stakeholders in respect to their rights and
responsibilities, or the system by which companies are directed and
controlled” (taken from Cadbury Committee of United Kingdom)
Objek dari corporate governance adalah untuk menciptakan added
value bagi stakeholder. United National Development Program (UNDP),
mendefinisikan governance sebagai “the exercise of political, economic,
and administrative authority to manage a national’s affair at all levels”,
sedangkan World Bank lebih menekankan pada cara pemerintah
mengelola sumber daya sosial dan ekonomi untuk kepentingan
pembangunan masyarakat (Mardiasmo, 2004: 17). The Indonesia Institute
for Corporate Governance (IICG) juga mendefinisikan Corporate
Governance sebagai suatu proses dan struktur yang diterapkan dalam
menjalankan perusahaan dengan tujuan utama meningkatkan nilai-nilai
pemegang saham dalam jangka panjang dengan tetap mempertahankan
kepentingan stakeholder yang lain.
Pengertian Corporate Governance (Keputusan Menteri Badan
Usaha Milik Negara, Nomor : KEP-117/M-MBU/2002), adalah:
“Suatu proses dan struktur yang digunakan oleh organisasi BUMN
untuk meningkatkan keberhasilan usaha dan akuntabilitas
perusahaan guna mewujudkan nilai pemegang saham dalam jangka
panjang dengan tetap memperhatikan kepentingan stakeholder
lainnya, berlandaskan peraturan perundangan dan nilai-nilai etika”.
Syakhroza (2002) telah mendefinisikan Corporate Governance
secara lebih mudah dan jelas dimana ia mengatakan bahwa :
“Corporate governance adalah suatu sistem yang dipakai “Board”
untuk mengarahkan dan mengendalikan serta mengawasi
(directing, controlling, and supervising) pengelolaan sumber daya
13
organisasi secara efisien, efektif, ekonomis, dan produktif (E3P)
dengan prinsip-prinsip transparan, accountable, responsible,
independent, dan fairness (TARIF) dalam rangka mencapai tujuan
organisasi”
Berdasarkan definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa corporate
governance adalah suatu sistem yang mengatur bagaimana suatu
perusahaan atau organisasi dijalankan (operasi) dan dikontrol atau sebagai
tata kelola perusahaan (organisasi). Sistem ini mengatur secara jelas dan
tegas hak dan kewajiban pihak-pihak yang terkait dalam perusahaan.
Menurut Moeljono (2005:19), lima karakteristik dari good
corporate governance meliputi :
1. Transparansi (Transparency), yaitu keterbukaan dalam melaksanakan
proses pengambilan keputusan dan keterbukaan dalam
mengungkapkan informasi material dan relevan mengenai perusahaan;
2. Kemandirian (Independency) , yaitu keadaan dimana perusahaan
dikelola secara profesional, tanpa benturan kepentingan dan pengaruh
atau tekanan dari pihak mana pun yang tidak sesuai dengan peraturan
perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi yang sehat;
3. Akuntabilitas (Accountability), yaitu kejelasan fungsi, pelaksanaan dan
pertanggungjawaban organ sehingga pengelolaan perusahaan
terlaksana secara efektif;
4. Pertanggungjawaban, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan
perusahaan terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-
prinsip korporasi yang sehat;
14
5. Kewajaran, yaitu kesesuaian di dalam pengelolaan perusahaan
terhadap peraturan perundang-undangan dan prinsip-prinsip korporasi
yang sehat.
Prinsip-prinsip good corporate governance dalam FCGI (2006:3)
yang meliputi transparansi (transparancy), akuntabilitas (accountability),
responsibilitas (responsibility), independensi serta kewajaran dan
kesetaraan (fairness) diperlukan untuk mencapai kesinambungan usaha
(sustainability) perusahaan dengan memperhatikan pemangku kepentingan
(stakeholders). Sehingga setiap perusahaan harus memastikan bahwa asas
GCG diterapkan pada setiap aspek bisnis dan di semua jajaran perusahaan.
2.1.3. Teori Entitas
Menurut Paton (Suwardjono, 2005) dalam teorinya, bahwa
organisasi dianggap sebagai suatu kesatuan atau badan usaha ekonomik
yang berdiri sendiri, bertindak atas nama sendiri, dan kedudukannya
terpisah dari pemilik atau pihak lain yang menanamkan dana dalam
organisasi dan kesatuan ekonomik tersebut menjadi pusat perhatian atau
sudut pandang akuntansi.
Dari perspektif ini, akuntansi berkepentingan dengan pelaporan
keuangan sebagai kesatuan usaha bukan pemilik. Hal ini berarti kesatuan
usaha menjadi kesatuan pelapor (reporting entity) yang bertanggung jawab
kepada pemilik. Sehingga kesatuan usaha menjadi pusat
pertanggungjawaban, yang dinyatakan dalam bentuk laporan keuangan.
15
Konsep atau teori entitas ini telah diaplikasikan dalam mekanisme
keuangan di Indonesia.
2.2. Kompetensi Sumber Daya Manusia
2.2.1. Pengertian Kompetensi
Kompetensi sebagai kemampuan seseorang untuk menghasilkan
pada tingkat yang memuaskan di tempat kerja, termasuk diantaranya
kemampuan seseorang untuk mentransfer dan mengaplikasikan
keterampilan dan pengetahuan tersebut dalam situasi yang baru dan
meningkatkan manfaat yang disepakati.
Hutapea dan Thoha (2008:4), ada beberapa defenisi kompetensi
yaitu:
a. Menurut Boyatzis (1982) kompetensi didefenisikan sebagai “kapasitas
yang ada pada seseorang yang bisa membuat orang tersebut mampu
memenuhi apa yang disyaratkan oleh pekerjaan dalam suatu organisasi
sehingga organisasi tersebut mampu mencapai hasil yang diharapkan”.
b. Sedangkan menurut Woodruffle (1991) and Woodruffle (1990) mereka
membedakan antara pengertian competence dan competency yang
mana competence diartikan sebagai konsep yang berhubungan dengan
pekerjaan, yaitu menunjukkan “wilayah kerja dimana orang dapat
menjadi kompeten atau unggul”, sedangkan competency merupakan
konsep dasar yang berhubungan dengan orang, yaitu menunjukkan
“dimensi perilaku yang melandasi prestasi unggul (competent)”.
16
2.2.2. Karakteristik Kompetensi
Penentuan tingkat kompetensi dibutuhkan agar dapat mengetahui
tingkat kinerja yang diharapkan untuk katagori baik atau rata-rata.
Penentuan ambang kompetensi yang dibutuhkan tentunya akan dapat
dijadikan dasar bagi proses seleksi, seksesi perencanaan, evaluasi kinerja
dan pengembangan SDM.
Hutapea dan Thoha (2008:28), mengungkapkan bahwa ada tiga
komponen utama pembentukan kompetensi yaitu pengetahuan yang
dimiliki seseorang, kemampuan, dan prilaku individu.
1. Pengetahuan (knowledge) adalah informasi yang dimiliki seseorang
pegawai untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sesuai
dengan bidang yang digelutinya (tertentu). Pengetahuan pegawai turut
menentukan berhasil tidaknya pelaksanaan tugas yang dibebankan
kepadanya, pegawai yang mempunyai pengetahuan yang cukup akan
meningkatkan efisiensi perusahaan. Namun bagi pegawai yang belum
mempunyai pengetahuan cukup, maka akan bekerja tersendat-sendat.
2. Keterampilan (Skill) merupakan suatu upaya untuk melaksanakan
tugas dan tanggung jawab yang diberikan perusahaan kepada seorang
pegawai dengan baik dan maksimal.
3. Sikap (attitude) merupakan pola tingkah laku seorang
pegawai/pegawai di dalam melaksanakan tugas dan tanggung
jawabnya sesuai dengan peraturan perusahaan. Apabila pegawai
mempunyai sifat yang pendukung pencapaian tujuan organisasi, maka
17
secara otomatis segala tugas yang dibebankan kepadanya akan
dilaksanakan dengan sebaikbaiknya.
2.3. Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
2.3.1. Pengertian Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
Sesuai pasal 58 (1) UU No. 1 Tahun 2004, bahwa Presiden
menyelenggarakan Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) dalam
rangka pengelolaan keuangan negara.
Sistem pengendalian internal adalah proses yang integral pada
tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan
dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas
tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien,
keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan
terhadap peraturan perundangundangan (PP No. 60 tahun 2008).
Tingkat efektifitas SPIP daerah diukur berdasarkan terpenuhinya 5
kategori yang ditetapkan dalam Permendagri No.13 Tahun 2006 ayat 3
bahwa, pengendalian intern sebagaimana dimaksudkan pada ayat 2
sekurangkurangnya memenuhi kriteria sebagai berikut:
a. Terciptakan lingkungan pengendalian yang sehat,
b. Terselenggaranya penilaian resiko,
c. Terselenggarakan aktivitas pengendalian,
d. Terselenggarakannya sistem informasi dan komunikasi, dan
e. Terselenggaranya kegiatan pemantauan.
18
Selanjutnya seperti yang dijelaskan dalam lampiran 1 Permendagri
No. 4 Tahun 2008, bahwa kualitas laporan keuangan tidak hanya diukur
dari kesesuaian dengan SAP saja, tetapi juga dari sistem pengendalian
internnya. Untuk itu, pemerintah daerah harus mendesain,
mengoperasikan, dan memelihara SPI yang baik dalam rangka
menghasilkan informasi keuangan yang andal
2.4. Sistem Akuntansi Keuangan Daerah
2.4.1. Pengertian Sistem Akuntansi
Menurut Midjan dan Susanto (2001) menyatakan bahwa:
“Sistem informasi akuntansi merupakan suatu sistem pengolaan data
akuntansi yang merupakan koordinasi dari manusia, alat dan metode yang
berinteraksi secara harmonis dalam suatu wadah organisasi yang
terstruktur untuk menghasilkan informasi akuntansi keuangan dan
informasi akuntansi manajemen yang berstruktur pula”.
Menurut Alam (2004:8) mendefenisikan system akuntansi sebagai
berikut:
“Sistem akuntansi adalah bidang akuntansi yang mengkhususkan diri
dalam perencanaan dan pelaksanaan prosedurpengumpulan, serta
pelaporan data keuangan. Akuntansi, dalam hal ini harus menciptakan
suatu cara sedemikian rupa sehingga mempermudah pengendalian intern
dan menciptakan arus laporan yang tepat untuk kepentingan manajemen”.
19
Dari defenisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa system
akuntansi merupakan organisasi formulir dan berbagai cacatan transaksi
yang mana digunakan untuk keperluan penyusunan laporan keuangan
untuk tujuan pengelolaan manajemen.
2.4.2. Laporan Keuangan Pemerintah
Menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006
adalah: “Laporan keuangan daerah disusun untuk menyediakan informasi
yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang
dilakukan oleh pemerintah daerah selama satu periode pelaporan.”
Menurut Baridwan (1992: 17), laporan Keuangan Daerah adalah:
“Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan
transaksi-transaksi keuangan yang terjadi selama dua tahun buku yang
bersangkutan”. Sedangkan menurut Mahmudi (2007:11) definisi laporan
keuangan adalah: “Laporan keuangan adalah informasi yang disajikan
untuk membantu stakeholder dalam membuat keputusan sosial, politik dan
ekonomi sehingga keputusan yang diambil bisa lebih berkualitas.”
Laporan keuangan pada dasarnya merupakan asersi dari pihak
manajemen pemerintah yang menginformasikan kondisi keuangan
pemerintah kepada para pemangku kepentingan (stakeholder). Pelaporan
keuangan membantu memenuhi kewajiban pemerintah untuk menjadi
akuntabel secara publik. Pelaporan keuangan juga membantu memenuhi
20
kebutuhan para pengguna laporan keuangan yang mempunyai keterbatasan
kewenangan, dan keterbatasan kemampuan untuk memperoleh informasi.
Oleh sebab itu mereka menyandarkan pada laporan keuangan
sebagai sumber informasi yang penting. Berdasarkan UU No. 17 Tahun
2003 tentang Keuangan Negara, pemerintah pusat dan daerah harus
membuat laporan keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban. Selain
itu, pemerintah pusat juga menerbitkan beberapa peraturan pemerintah
(PP) menyangkut pengelolaan keuangan daerah diantaranya, PP No. 58
Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah dan Permendagri No.
13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Untuk
penyusunan dan penyajian laporan keuangan pemerintah diatur dalam PP
No. 71 tahun 2010 tentang SAP.
Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) merupakan persyaratan
yang berkekuatan hukum dalam upaya meningkatkan kualitas laporan
keuangan pemerintah di Indonesia. Dalam SAP terdapat empat persyaratan
karakteristik kualitatif yang harus dipenuhi dalam penyusunan laporan
keuangan, yaitu;
a. Relevan,
b. Andal,
c. Dapat diperbandingkan,dan
d. Mudah dipahami.
Kesesuaian laporan keuangan dengan SAP sangat menentukan
kualitas LKPD. Dalam rangka pertanggungjawaban pemerintah dalam
21
pelaksanaan APBD, tiap kepala SKPD selaku pengguna anggaran
menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan, aset, utang, dan
ekuitas Dana yang berada dalam tanggung jawabnya.
Pencatatan dalam proses akuntansi tersebut sebagai bahan dalam
menyiapkan laporan keuangan SKPD, yang terdiri dari:
a. Laporan Realisasi Anggaran (LRA),
b. Laporan perubahan sisa anggaran (SAL),
c. Neraca, Laporan operasi (LO),
d. Laporan perubahan ekuitas (LPE),
e. Laporan Arus Kas dan
f. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK).
Laporan keuangan dari tiap-tiap SKPD tersebut dikonsolidasikan
oleh DPPKAD menjadi LKPD.
2.4.3. Akuntansi Pemerintah Daerah
Akuntansi pemerintahan dibeberapa sumber disebut dengan
akuntansi sektor publik. Secara organisasi akuntansi, domain public antara
lain meliputi pemerintah, BUMN/BUMD, yayasan dan organisasi nirlaba
lainnya.
Menurut Halim (2012:43) “Akuntansi kauangan daerah adalah
proses penidentifikasian, pengukuran, pencatatan, dan pelaporan transaksi
ekonomi (keuangan) dari entitas pemerintah daerah (Kabupaten, Kota atau
Provinsi) yang memerlukan”.
22
Pernyataan tersebut menyebutkan bahwa akuntansi keuangan
daerah ialah suatu cara atau metode yang digunakan untuk mencatat hasil
dari transaksi-transaksi yang terjadi di satu periode di suatu instansi
pemerintahan baik pusat maupun daerah.
Tanjung (2009:35) mendefenisikan bahwa akuntansi pemerintah
daerah adalah “proses pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran
dengan cara tertentu dengan ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-
kejadian yang umumnya bersifat keuangan dan termasuk pelaporan hasil-
hasilnya dalam penyelenggaraan urusan pemerintah menurut asas otonomi
dan tugas pembantuan dengan prinsip Negara Republik Kesatuan
Indonesia.
2.5. Kualitas Laporan Keuangan
Dalam memiliki keinginan pemakai laporan, akuntansi keuangan
perlu berupaya untuk membentuk dirinya agar lebih bermanfaat dan
berdaya guna. Oleh karena itu perlu kriteria persyaratan laporan akuntansi
keuangan yang dianggap dapat memenuhi keinginan tersebut yaitu
keinginan para pemakai laporan keuangan (Harahap, 2008;145).
Karakteristik kualitatif laporan keuangan menurut Peraturan
Pemerintah Nomor 71 tahun 2010 tentang standar akuntansi pemerintah
(SAP) adalah sebagai berikut:
23
“Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran
normative yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga
dapat memenuhi tujuannya”.
Keempat karakteristik berikut merupakan prasyarat normative yang
diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas
yang dikehendaki yaitu:
1. Relevan
2. Andal
3. Dapat dibandingkan
4. Dapat dipahami
2.5.1. Penjelasan Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan
Berikut penjelasan mengenai karakteristik kualitatif laporan
keuangan:
a. Relevan
Laporan keuangan bias dikatakan releban apabila informasi yang
termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan
membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini,
dan memprediksi masa depan, serta menegaskan atau mengoreksi hasil
evaluasi mereka di masa lalu. Dengan demikian, informasi laporan
keuangan yang relevan dapat dihubungkan dengan maksud
penggunaannya.
Informasi yang relvan jika:
24
1. Memiliki manfaat umpan balik (feedback value)
Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau
mengoreksi ekspektasi mereka di masa lalu.
2. Memiliki manfaat prediktif (predictive value)
Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa
yang akan dating berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa
kini.
3. Tepat Waktu
Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan
berguna dalam pengambilan keputusan.
4. Lenkap
Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap
mungkin, yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat
mempengaruhi pengambilan keputusan
b. Andal
Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang
menyesatkan dan kesalahan material, menyajikan setiap fakta secara
jujur, serta dapat diverikasi. Informasi mungkin relevan, tetapi jika
penyajiannya tidak dapat diandalkan maka pengunaan informasi
tersebut secara potensial dapat menyesatkan.
Informasi yang andal memenuhi karakteristik:
1. Penyajian Jujur
25
Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa
lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat
diharapkan untuk disajikan
2. Dapat diverifikasi (verifiability)
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji, dan
apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang
berbeda, hasilnya tetap menunjukan simpulan yang tidak berbeda
jauh.
3. Netralitas
Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak
pada kebutuhan pihak tertentu.
c. Dapat di bandingkan
Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna
jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya
atau laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya.
Perbandingan dilakukan secara internal dan eksternal. Perbandingan
secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan
bebijakan akuntansi yang sama dilakukan dari tahun ke tahun.
Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang
diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama.
d. Dapat dipahami
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh
pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan
26
dengan batas pemahaman para pengguna. Untuk itu, pengguna
diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan
lingkungan operasi entitas pelaporan, serta adanya kemauan guna
untuk mempelajari informasi yang dimaksud
2.6. Penilitian Terdahulu dan Pengembangan Hipotesis
2.6.1. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap kualitas
Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Papua
Dalam suatu organisasi sumber daya manusia memiliki peran yang
sangat penting, karena yang menjalankan serta mengelola suatu organisasi
adalah sumber daya manusianya. Untuk itu, diperlukanlah sumber daya
manusia yang memiliki kompetensi di bidangnya. Sama halnya dalam
menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas di butuhkan sumber daya
manusia yang berkompeten.
Andini dan Yusrawati (2015) hasil penelitian menujukan Secara
parsial kualitas sumber daya manusia, berpengaruh positif terhadap
kualitas laporan keuangan Pemerintah Kota Banda Aceh. Berdasarkan
teori dan kajian penelitian yang telah dijelaskan di atas maka hipotesis
yang diajukan adalah sebagai berikut:
H1: Kompetensi sumber daya manusia berpengaruh terhadap kualitas
laporan keuangan.
27
2.6.2. Pengaruh Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Terhadap
kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Papua
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP,
menyatakan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, adalah Sistem
Pengendalian Intern yang diselenggarakan secara menyeluruh di
lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Sistem pengendalian
Intern Pemerintah bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai
agar tercapainya efektivitas dan efisiensi pencapaian penyelenggaraan
pemerintah negara/daerah, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan
aset negara dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.
Hasil penelitian Ramandan (2015) menujukan sistem pengendalian
intern berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pada Satker
Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat Jenderal Cipta Karya Provinsi
Kepri. Berdasarkan teori dan kajian penelitian yang telah dijelaskan di atas
maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
H2: Sistem pengendalian intern pemerintah (SPIP) berpengaruh terhadap
kualitas laporan keuangan.
2.6.3. Pengaruh Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah Terhadap
kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Papua.
Mardiasmo (2004) mengatakan bahwa untuk menghasilkan laporan
keuangan yang relevan, Handal, dan dapat dipercaya, pemerintah daerah
harus memiliki sistem akuntansi yang handal. Sistem akuntansi yang
lemah menyebabkan laporan keuangan yang dihasilkan juga kurang handal
dan kurang relevan untuk mengambil keputusan. Oleh karena itu untuk
28
mendapatkan laporan keuangan yang berkualitas diperlukan penerapan
sistem akuntansi keuangan daerah yang baik.
Rahmadani (2015) melakukan kajian dengan judul pengaruh
kompetensi sumber daya manusia, sistem akuntansi keuangan daerah,
pemanfaatan teknologi informasi dan sistem pengendalian intern terhadap
kualitas laporan keuangan pemerintah daerah (Studi Pada Satuan Kerja
Perangkat Daerah Kabupaten Pasaman Barat). Hasil penelitian
menujukan sistem akuntansi keuangan daerah berpengaruh terhadap
kualitas laporan keuangan pemerintah daerah. Untuk dapat menghasilkan
laporan keuangan yang berkualitas pemerintah daerah harus memiliki
sistem akuntansi yang handal. Berdasarkan teori dan kajian penelitian
yang telah dijelaskan di atas maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai
berikut:
H3: Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah berpengaruh terhadap
kualitas laporan keuangan.
2.6.4. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Sistem Pengendalian
Intern Pemerintah dan Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan
Daerah Terhadap kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi
Papua.
Kadek Desiana Wati, Nyoman Trisna Herawati, dan Ni Kadek
Sinarwati (2014) hasil kajian menemukan kompetensi sumber daya
manusia, penerapan standar akuntansi pemerintahan, dan sistem akuntansi
keuangan daerah secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap
kualitas laporan keuangan daerah.
29
Kajian diatas sejalan dengan kajian Firdaus (2016) hasil kajian
menemukan secara bersama-sama kualitas sumber daya manusia,
pemanfaatan teknologi informasi dan penerapan kebijakan akuntansi
terhadap kualitas laporan keuangan Pemerintah Kota Banda Aceh
berpengaruh positif. Berdasarkan kajian penelitian yang telah dijelaskan di
atas maka hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
H4: Kompetensi sumber daya manusia, sistem pengendalian intern
pemerintah (SPIP) dan Penerapan Sistem Akuntansi Keuangan
Daerah berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan.
2.7. Model Penelitian
Gambar 2.1
Model Penelitian
Kompetensi Sumber
Daya Manusia (X1)
Sistem Pengendalian Kualitas Laporan
Intern Pemerintah (X2) Keuangan (Y)
Penerapan Sistem
Akuntansi Keuangan
Daerah (X3)
Sumber: dikembangkan dalam penelitian, 2016.
30
2.8. Matriks Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
Peneliti Variabel Metode
No. Judul Penelitian Hasil Penelitian
(tahun) Penelitian Analisis
1. Firdaus Pengaruh Kualitas SDM Multiple Secara bersama-sama
(2016) kualitas sumber Pemanfaatan Regresion kualitas sumber daya
daya manusia teknologi manusia, pemanfaatan
Pemanfaatan informasi teknologi informasi dan
teknologi Penerapan penerapan kebijakan
informasi dan kebijakan akuntansi terhadap
penerapan akuntansi kualitas laporan
Kebijakan Kualitas keuangan Pemerintah
akuntansi lapran Kota Banda Aceh
terhadap kualitas keungan berpengaruh positif.
Laporan Secara parsial kualitas
keuangan sumber daya manusia,
pemerintah kota pemanfaatan teknologi
banda aceh informasi dan penerapan
(Studi pada kebijakan akuntansi
Satuan Kerja berpengaruh positif
Perangkat terhadap kualitas laporan
keuangan Pemerintah
Daerah di
Kota Banda Aceh
Lingkungan
Pemerintah Kota
Banda Aceh)
2. Dewi Pengaruh Kompetensi Multiple Secara parsial variable
Andini dan Kompetensi SDM Regresion kompetensi SDM dan
Yusrawati Sumber Daya Penerapan penerapan sistem
Manusia dan Sistem akuntansi keuangan
(2015)
Penerapan Akuntansi daerah berpengaruh
Sistem Kualitas terhadap kualitas laporan
Akuntansi Laporan keuangan daerah
Keuangan daerah Keuangan secara simultan
terhadap Kualitas Daerah kompetensi SDM dan
Laporan penerapan system
Keuangan daerah akuntansi keuangan
Pada Satuan daerah berpengaruh
Kerja Perangkat terhadap kualitas laporan
Daerah (SKPD) keuangan daerah pada
abupaten Empat SKPD di kabupaten
31
Peneliti Variabel Metode
No. Judul Penelitian Hasil Penelitian
(tahun) Penelitian Analisis
Lawang Empat Lawang
Sumatera Selatan
3. Sahrul Pengaruh Kompetensi Multiple Kompetensi sumber daya
Ramadan Kompetensi SDM Regresion manusia pengelola
(2015) Sumber Daya Pengendalian keuangan berpengaruh
Manusia Intern terhadap kualitas laporan
Pengelola Teknologi keuangan pada Satker
Keuangan, Informasi Kementerian Pekerjaan
Pengendalian Komitmen Umum Direktorat
Intern, Teknologi Organisasi Jenderal Cipta Karya
Informasi Dan Kualitas Provinsi Kepri
Komitmen Laporan Pengendalian intern
Organisasi Keuangan berpengaruh terhadap
Terhadap kualitas laporan
Kualitas Laporan keuangan pada Satker
Keuangan Pada Kementerian Pekerjaan
Satker Umum Direktorat
Kementerian Jenderal Cipta Karya
Pekerjaan Umum Provinsi Kepri
Direktorat Teknologi informasi
Jenderal Cipta berpengaruh terhadap
Karya Provinsi kualitas laporan
KEPRI keuangan pada Satker
Kementerian Pekerjaan
Umum Direktorat
Jenderal Cipta Karya
Provinsi Kepri
Komitmen organisasi
berpengaruh terhadap
kualitas laporan
keuangan pada Satker
Kementerian Pekerjaan
Umum Direktorat
Jenderal Cipta Karya
Provinsi Kepri
Kompetensi sumber daya
manusia pengelola
keuangan, pengendalian
intern, teknologi
informasi dan komitmen
organisasi berpengaruh
terhadap kualitas laporan
keuangan pada Satker
32
Peneliti Variabel Metode
No. Judul Penelitian Hasil Penelitian
(tahun) Penelitian Analisis
Kementerian Pekerjaan
Umum Direktorat
Jenderal Cipta Karya
Provinsi Kepri.
4. Akhmad Pengaruh Kompetensi Struktural Kompetensi SDM tidak
Syarifudin Kompetensi SDM Equation berpengaruh signifikan
(2014) SDM dan Peran Peran Audit Modeling terhadap kualitas LKPD,
Audit Intern Internal dengan artinya meningkatnya
terhadap Kualitas Kualitas AMOS variasi kompetensi tidak
Laporan Laporan 18.0 berpengaruh signifikan
Keuangan Keuangan terhadap peningkatan
Pemerintah Sistem kualitas LKPD.
Daerah dengan Pengendalian Peran Auditor Internal
Variabel Intern tidak berpengaruh
Intervening Pemerintah signifikan terhadap
Sistem kualitas LKPD
Pengendalian SPIP berpengaruh
Internal signifikan terhadap
Pemerintah kualitas LKPD, artinya
(studi empiris semakin efektif SPIP
Kompetensi SDM
pada Pemkab
berpengaruh signifikan
Kebumen) terhadap SPIP, sehingga
tinggi tingkat kompetensi
akan semakin
meningkatkan efektifitas
SPIP.
Peran Audit Intern
berpengaruh signifikan
terhadap SPIP, sehingga
semakin baik Peran
Audit Intern maka
penerapan SPIP semakin
efekif.
SPIP dapat memediasi
pengaruh Kompetensi
SDM terhadap kualitas
LKPD.
SPIP tidak memediasi
pengaruh Peran Audit
Intern terhadap kualitas
LKPD.
5. Kadek Pengaruh Kompetensi Multiple Kompetensi sumber daya
33
Peneliti Variabel Metode
No. Judul Penelitian Hasil Penelitian
(tahun) Penelitian Analisis
Desiana Kompetensi SDM Regresion manusia berpengaruh
Wati, SDM, Penerapan Penerapan positif dan signifikan
Nyoman SAP, Dan Sistem SAP terhadap kualitas laporan
SAKD keuangan daerah
Trisna Akuntansi
Kualitas Penerapan standar
Herawati, Keuangan Laporan akuntansi pemerintahan
dan Ni Daerah Terhadap Keuangan berpengaruh positif dan
Kadek Kualitas Laporan signifikan terhadap
Sinarwati Keuangan kualitas laporan
(2014) Daerah keuangan daerah
Sistem akuntansi
keuangan daerah
berpengaruh positif dan
signifikan terhadap
kualitas laporan
keuangan daerah
Kompetensi sumber daya
manusia, penerapan
standar akuntansi
pemerintahan, dan sistem
akuntansi keuangan
daerah secara bersama-
sama berpengaruh
signifikan terhadap
kualitas laporan
keuangan daerah
Sumber: diolah, 2016.
34