Pengaruh Persepsi Harga Terhadap Keputusan Pembelian
Pengaruh Persepsi Harga Terhadap Keputusan Pembelian
KAJIAN PUSTAKA
Indikator yang mencirikan harga menurut Kotler adalah (Aptaguna & Pitaloka,
2016) :
1. Keterjangkauan Harga
Harga produk harus sesuai dengan kemampuan beli konsumen di segmen pasar yang
ditargetkan.
2. Kesesuaian Harga Dengan Kualitas Produk
Konsumen cenderung mengevaluasi apakah harga yang mereka bayarkan sebanding
dengan kualitas produk yang diterima.
3. Daya Saing Harga
Harga produk dibandingkan dengan produk sejenis dari pesaing, yang dapat
memengaruhi keputusan pembelian.
4. Kesesuaian Harga Dengan Manfaat Produksi
Harga produk harus mencerminkan manfaat atau nilai yang diberikan kepada
konsumen, bukan hanya biaya produksinya.
5. Harga Mepengaruhi Daya Beli Konsumen
Penetapan harga yang tepat dapat meningkatkan daya beli konsumen terhadap produk
tertentu.
6. Harga Dapat Mempengaruhi Konsumen Dalam Mengambil Keputusan
Harga sering menjadi faktor utama yang memengaruhi konsumen untuk membeli,
mempertimbangkan, atau membandingkan suatu produk.
Dalam dunia bisnis, kualitas produk bukan hanya tentang aspek teknis seperti
daya tahan dan estetika, tetapi juga mencakup kemampuan produk untuk memenuhi atau
bahkan melebihi kebutuhan dan harapan pelanggan. Menurut Kotler & Armstrong dalam
(Masnun et al., 2024) kualitas produk (product quality) merujuk pada karakteristik produk atau
jasa yang secara langsung bergantung pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan
pelanggan, baik yang dinyatakan secara eksplisit maupun yang tersirat. Dengan kata lain, kualitas
produk mencerminkan seberapa baik suatu produk dapat memenuhi ekspektasi pelanggan
terhadap manfaat yang diinginkan.
Lebih jauh, kualitas produk juga menjadi elemen penting dalam membangun
loyalitas pelanggan. Produk dengan kualitas yang konsisten cenderung menciptakan
persepsi positif di mata pelanggan, sehingga meningkatkan kepercayaan mereka terhadap
merek atau perusahaan. Hal ini tidak hanya berdampak pada kepuasan pelanggan, tetapi
juga pada reputasi perusahaan dalam jangka panjang.
Menurut (Ghristian, 2016) kualitas produk juga harus dipahami sebagai keunggulan
kompetitif. Kualitas yang tinggi menunjukkan bahwa produk yang ditawarkan oleh penjual
memiliki nilai jual lebih yang tidak dimiliki oleh produk pesaing. Nilai jual lebih ini bisa berupa
fitur unik, keandalan, kemudahan penggunaan, atau manfaat tambahan yang memberikan
pengalaman lebih baik kepada pelanggan. Dengan adanya keunggulan ini, produk tidak hanya
dapat menarik perhatian konsumen baru, tetapi juga mempertahankan konsumen lama di tengah
persaingan pasar yang semakin ketat.
Selain itu, kualitas produk memainkan peran penting dalam proses pengambilan
keputusan pembelian oleh pelanggan. Produk dengan kualitas yang baik akan
memberikan rasa percaya kepada konsumen bahwa produk tersebut mampu memenuhi
kebutuhan mereka dengan cara yang optimal. Dengan demikian, kualitas tidak hanya
menjadi faktor pembeda dalam persaingan, tetapi juga elemen kunci yang memengaruhi
citra perusahaan di pasar.
Menurut Tjiptono (Cesariana et al., 2022) kualitas produk dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor utama. Pada era globalisasi saat ini, agar mampu memperkuat posisinya
di pasar, sebuah perusahaan harus berlomba-lomba berpikir kreatif untuk
mempertahankan kualitas produknya. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan
menghasilkan inovasi-inovasi yang unik dan relevan dengan kebutuhan konsumen. Hal
ini penting karena konsumen semakin selektif dalam mempertimbangkan kualitas produk
yang akan dibelinya, sehingga perusahaan harus terus beradaptasi dengan perkembangan
zaman dan perubahan preferensi konsumen.
Kualitas produk memiliki lima indicator menurut Tjiptono (Junita et al., 2024) :
1. Performance
Kinerja produk merujuk pada kemampuan produk untuk menjalankan fungsi
utamanya secara efektif.
2. Features
Fitur adalah karakteristik tambahan pada produk yang memberikan manfaat atau nilai
lebih bagi penggunanya. Semakin banyak fitur yang relevan, semakin tinggi daya
Tarik produk tersebut.
3. Durability
Daya tahan mengacu pada seberapa lama sebuah produk dapat digunakan sebelum
memerlukan perbaikan atau penggantian.
4. Aestetic
Estetika mencakup aspek keindahan produk yang dilihat dari desain, warna, dan
tampilan keseluruhan.
5. Perceived Quality
Kualitas yang dipersepsikan adalah pandangan atau penilaian pelanggan terhadap
kualitas produk, terlepas dari kualitas sebenarnya.
TikTok telah menjadi salah satu platform media sosial yang tidak hanya populer
untuk hiburan, tetapi juga sangat efektif dalam mendukung strategi pemasaran dan
penjualan produk. Dengan format video pendek yang menarik dan interaktif, platform ini
memungkinkan merek untuk memperkenalkan produk mereka secara kreatif kepada
jutaan pengguna. Fitur-fitur seperti hashtag challenge dan kolaborasi dengan kreator
konten telah terbukti mampu meningkatkan kesadaran merek dan mendorong penjualan.
Algoritma TikTok yang canggih juga memastikan produk dapat menjangkau audiens
yang tepat, sehingga menciptakan peluang viral yang dapat berdampak besar pada
performa bisnis.
Selain itu, TikTok telah merevolusi cara merek mempromosikan produk mereka
dengan memberikan sentuhan yang lebih autentik dan personal. Video promosi yang
dikemas secara kreatif, seperti ulasan produk atau tutorial penggunaan, lebih mudah
menarik perhatian pengguna dibandingkan iklan konvensional. Banyak bisnis, baik skala
kecil maupun besar, telah memanfaatkan TikTok sebagai alat untuk meningkatkan
konversi penjualan. Contohnya, produk yang dipromosikan melalui tren viral atau user-
generated content sering kali mencatat peningkatan signifikan dalam permintaan. TikTok
kini bukan hanya sekadar platform hiburan, tetapi juga mesin penggerak penjualan
produk yang sangat efektif.
Adapun jenis jenis media sosial menurut (Liedfray et al., 2022). Ada lima jenis:
1. Aplikasi media sosial berbagi video (video sharing)
Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk mengunggah, menonton, dan berbagi
video secara luas. Sebagai mahasiswa, aplikasi seperti YouTube sering digunakan
untuk mencari video pembelajaran, tutorial, atau hiburan. TikTok juga menjadi
populer di kalangan mahasiswa untuk mengekspresikan kreativitas melalui video
pendek.
Contoh: Youtube dan Tiktok
2. Aplikasi media sosial microblog
Microblogging adalah platform yang memungkinkan pengguna untuk membagikan
pesan singkat (tweet/post). Mahasiswa sering memanfaatkan Twitter untuk mengikuti
berita terkini, berbagi opini, atau berdiskusi tentang topik akademik maupun isu-isu
sosial.
Contoh: Twitter
3. Aplikasi media sosial berbagi jaringan
Aplikasi berbagi jaringan adalah platform yang dirancang untuk memperluas
hubungan sosial, baik dengan teman, keluarga, maupun orang baru.
Contoh: Facebook, Instagram, Twitter
4. Aplikasi media sosial berbagi jaringan professional
Aplikasi ini bertujuan untuk membangun koneksi profesional. Mahasiswa
menggunakan platform ini untuk mempersiapkan karier, berjejaring dengan
profesional di bidang tertentu, dan mencari peluang kerja atau magang.
Contoh: LinkedIn
5. Aplikasi media sosial berbagi foto
Aplikasi berbagi foto memungkinkan pengguna untuk mengunggah, menyimpan, dan
membagikan konten visual seperti gambar atau ilustrasi.
Contoh: Instagram, Pinterest
Media sosial Tiktok memiliki indikator indikator menurut Khatib (2016) dalam
(Fitria & Christina, 2023) :
Menurut Kotler dan Keller (2016) minat beli adalah sesuatu yang timbul setelah
menerima rangsangan dari produk yang dilihat, darai sana timbul rasa ketertarikan untuk
mencoba produk tersebut sampai akhirnya datang rasa keinginan untuk membeli (Santi et
al., 2024)
Menurut Keller dalam (Setianingsih & Aziz, 2022) factor – factor yang
mempengaruhi minat beli konsumen antara lain. Merk, penjual, jumlah, waktu dan juga
cara pembayaran. Yang artinya keputusan konsumen untuk membeli tidak hanya
didasarkan pada produk itu sendiri tetapi juga dipengaruhi oleh banyak elemen di
sekitarnya, seperti bagaimana produk dipasarkan, siapa yang menjualnya, dan kemudahan
proses pembeliannya.
Di sisi lain, ulasan negatif atau pengalaman buruk dalam membeli produk dapat
menjadi penghalang utama dalam membangun minat beli konsumen. Oleh karena itu,
penting bagi perusahaan untuk menjaga reputasi mereka dengan memberikan pelayanan
terbaik, menanggapi keluhan konsumen secara cepat, dan memastikan produk yang dijual
sesuai dengan deskripsi atau janji yang diberikan. Selain itu, program loyalitas, seperti
pemberian poin untuk pembelian berulang atau akses eksklusif ke produk baru, juga
menjadi strategi yang dapat digunakan untuk mempertahankan minat beli konsumen
dalam jangka panjang. Dengan kombinasi strategi pemasaran yang kreatif, pelayanan
yang baik, dan personalisasi, perusahaan dapat membangun hubungan yang kuat dengan
konsumen dan menciptakan loyalitas merek yang berkelanjutan.
1. Minat Transaksional
Minat transaksional merujuk pada kecenderungan konsumen untuk melakukan
pembelian produk atau layanan tertentu. Indikator ini mencerminkan niat konsumen
untuk bertransaksi, yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti harga, promosi,
dan persepsi terhadap nilai produk.
2. Minat Referensial
Minat referensial adalah ketertarikan konsumen untuk merekomendasikan produk atau
layanan kepada orang lain. Indikator ini menunjukkan seberapa besar konsumen
merasa puas dengan produk yang mereka gunakan dan seberapa besar keinginan
mereka untuk berbagi pengalaman positif tersebut dengan teman, keluarga, atau
melalui media sosial.
3. Minat Preferensial
Minat preferensial mengacu pada pilihan atau preferensi konsumen terhadap produk
tertentu dibandingkan dengan produk lain yang sejenis. Indikator ini mencerminkan
seberapa besar konsumen menyukai suatu merek atau produk dan bagaimana hal
tersebut mempengaruhi keputusan pembelian mereka.
4. Minat Eksploratif
Minat eksploratif adalah keinginan konsumen untuk mencari informasi lebih lanjut
tentang produk atau layanan sebelum membuat keputusan pembelian. Indikator ini
mencerminkan rasa ingin tahu dan ketertarikan konsumen untuk memahami lebih
dalam tentang fitur, manfaat, dan ulasan produk.
Penelitian yang dilakukan oleh (Setiawan et al., 2023) mengemukakan hasil yang
menunjukkan bahwa persepsi harga berpengaruh signifikan dan positif terhadap minat
beli konsumen. Dalam penelitian tersebut, ditemukan hasil bahwa variabel persepsi harga
mempunyai pengaruh paling besar terhadap minat beli.
Di sisi lain menurut (Gosal & Setiobudi, 2021) persepsi harga juga memiliki
pengaruh positif dan signifikan terhadap minat beli konsumen pada juice & smoothies
zoo. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun harga merupakan salah satu faktor
penting dalam keputusan pembelian, konsumen tetap mempertimbangkan elemen-elemen
lain seperti rasa, kualitas, dan layanan yang diberikan oleh toko, yang secara keseluruhan
membentuk persepsi mereka terhadap produk tersebut.
Dari temuan-temuan ini, dapat disimpulkan bahwa harga yang kompetitif dan sesuai
dengan nilai yang dirasakan oleh konsumen memiliki dampak positif terhadap minat beli
mereka. Konsumen cenderung lebih memilih produk yang menawarkan harga yang
dianggap wajar dan sebanding dengan kualitas yang mereka harapkan. Hal ini
menunjukkan bahwa harga tidak hanya dipandang sebagai angka yang harus dibayar,
tetapi juga sebagai faktor yang mencerminkan kualitas dan nilai dari produk tersebut.
Oleh karena itu, perusahaan yang dapat menetapkan harga yang tepat, baik dari segi
jumlah maupun persepsi nilai yang diberikan, akan lebih mampu menarik perhatian
konsumen dan meningkatkan penjualan produk mereka. Keberhasilan dalam menetapkan
harga yang sesuai dengan harapan konsumen akan meningkatkan daya saing perusahaan
di pasar yang semakin kompetitif.
Selain faktor harga, pemasaran yang efektif juga memainkan peran penting dalam
mempengaruhi minat beli konsumen. Dengan adanya promosi yang tepat, seperti diskon
atau penawaran khusus, harga yang kompetitif dapat lebih menarik bagi konsumen.
Penurunan harga dalam bentuk diskon atau bundling produk dapat meningkatkan minat
beli konsumen, terutama jika mereka merasa mendapatkan keuntungan lebih dari
transaksi tersebut. Dengan memanfaatkan kombinasi harga yang menarik dan strategi
pemasaran yang baik, perusahaan dapat memperkuat daya tarik produk mereka dan
mendorong konsumen untuk melakukan pembelian, bahkan di pasar yang sangat
kompetitif.
H₁: Persepsi harga memiliki pengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen.
Kualitas produk yang baik memberikan nilai lebih kepada konsumen karena
mencerminkan daya tahan, performa, serta keunggulan yang dirasakan dari produk
tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi kualitas produk yang
ditawarkan, semakin besar pula minat beli konsumen terhadap produk [Link]
konteks ini, kualitas produk menjadi salah satu factor utama yang mampu mencip takan
kepercayaan konsumen terhadap merk, meningkatkan kepuasan, serta mendorong
Keputusan pembelian. Dengan kata lain, konsumen tidak hanya mempertimbangkan
harga, tetapi lebih focus pada manfaat dan jaminan kualitas yang mereka perolah dari
produk yang ditawarkan.
Dari uraian diatas dapat disusun sebuah hipotesis sebagai berikut: H2: Kualitas
produk memiliki pengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen.
2.2.3 Hubungan antara media social tiktok terhadap minat beli konsumen
Dalam penelitian (Azizah et al., 2021) menyatakan bahwa hasil penelitianya tentang
media social tiktok berpengaruh positif dan signifikan terhadap variable minat beli. Media
sosial, khususnya TikTok, telah menjadi platform yang sangat efektif dalam membangun
kesadaran merek dan menarik perhatian konsumen. TikTok, dengan format video pendek
yang kreatif dan mudah dibagikan, memungkinkan merek untuk menjangkau audiens
yang lebih luas dan lebih muda.
Dengan demikian, TikTok tidak hanya berfungsi sebagai saluran hiburan, tetapi
juga sebagai saluran pemasaran yang efektif dalam membentuk persepsi dan minat beli
konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran yang semakin
penting dalam mempengaruhi perilaku konsumen di era digital ini.
H3: Media sosial TikTok memiliki pengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen.
2.2.4 Hubungan antara harga, kualitas produk, media sosial tiktok terhadap minat
beli
Minat beli konsumen dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, seperti
harga, kualitas produk, dan promosi melalui media sosial. Harga merupakan salah satu
elemen penting dalam keputusan pembelian, karena konsumen cenderung
mempertimbangkan apakah nilai yang mereka terima sebanding dengan uang yang
dikeluarkan. Menururt Kotler & Keller (Woen & Santoso, 2021) harga yang kompetitif,
transparan, dan sesuai dengan nilai produk dapat meningkatkan daya tarik konsumen
untuk membeli. Fenomena ini juga menunjukkan bahwa konsumen cenderung
memprioritaskan produk yang memberikan manfaat terbaik sesuai anggaran mereka,
terutama di era persaingan pasar yang semakin ketat.
Selain itu, media sosial TikTok telah menjadi platform yang sangat berpengaruh
dalam membentuk perilaku konsumen. Algoritma TikTok yang canggih memungkinkan
konten promosi, seperti ulasan produk, tutorial, atau testimoni, dengan cepat menjangkau
audiens yang luas. Kolaborasi dengan influencer di TikTok telah terbukti meningkatkan
visibilitas produk dan menciptakan daya tarik emosional bagi konsumen. Konsumen yang
melihat produk digunakan oleh influencer favorit mereka sering kali merasa terinspirasi
untuk membeli, karena mereka percaya bahwa produk tersebut dapat memberikan
manfaat atau pengalaman serupa. Kombinasi harga yang kompetitif, kualitas produk yang
tinggi, dan pemasaran kreatif melalui TikTok dapat menciptakan sinergi yang kuat dalam
memengaruhi minat beli konsumen.
Dengan demikian, ketiga elemen ini—harga, kualitas produk, dan promosi melalui
media sosial TikTok—berkontribusi secara signifikan dalam membangun keputusan
pembelian konsumen. Perusahaan yang dapat mengoptimalkan ketiga faktor ini secara
efektif akan memiliki peluang besar untuk menarik perhatian konsumen dan
meningkatkan penjualan produk mereka di pasar.
H4: Harga, kualitas produk, dan media sosial TikTok secara simultan memiliki pengaruh
signifikan terhadap minat beli konsumen.
2.3 Penelitian Terdahulu
2.3.1 Definisi Penelitian Terdahulu
Menurut Sugiono dalam (Syahputri et al., 2023) adalah sebuah model konseptual
tentang bagaimana teori berhubungan dengan beragam aspek yang sudah diidentifikasi.
Dalam penelitian ini ada gambar kerangka pemikiran seperti:
Menurut Rogers (1996) dalam (Yam & Taufik, 2021) Hipotesis Penelitian adalah
dugaan dugaan tentative Tunggal digunakan untuk Menyusun teori atau eksperimen dan
diuji. Dalam pembahasan kali ini hipotesis penelitianya adalah:
H₁: Diduga variabel Persepsi Harga memiliki pengaruh signifikan terhadap minat beli
konsumen.
H2: Diduga variabel Kualitas produk memiliki pengaruh signifikan terhadap minat beli
konsumen.
H3: Diduga variabel Media sosial TikTok memiliki pengaruh signifikan terhadap minat
beli konsumen.
H4: Diduga Variabel Persepsi Harga, kualitas produk, dan media sosial TikTok secara
simultan memiliki pengaruh signifikan terhadap minat beli konsumen.