Berpikir komputasional
Zaman globalisasi ini memang akan terus berkembang termasuk teknologinya juga akan terus
berkembang. Oleh sebab itu, kita akan bertemu teknologi-teknologi baru yang semakin lama semakin
canggih dan semakin lama kita akan merasa bahwa hidup dan kegiatan yang kita jalani menjadi lebih
cepat. Hal ini dikarenakan kita harus mampu mengikuti perkembangan zaman dan teknologi yang
semakin dinamis. Jika, kita terlalu lama untuk mengikuti perkembangan zaman dan teknologi, maka
tidak menutup kemungkinan kita akan tertinggal.
Kita harus mampu berpikir cepat memikirkan apa yang harus kita lakukan kedepannya. Selain itu,
harus mengembangkan apa yang telah kita lakukan. Misalnya, kita menulis suatu huru, maka kita harus
bisa mengembangkannya menjadi suatu kata hingga kalimat. Jika, kita dapat mengembangkan suatu
hal, maka kita sudah memiliki cara berpikir untuk maju ke depan atau menjadi lebih dinamis.
Pola berpikir ini sama dengan cara kerja suatu teknologi yang di mana akan menerima tugas dan
menyelesaikannya dengan cepat. Hal seperti ini bisa terjadi karena kita mulai hidup berdampingan
dengan teknologi, serta mau tidak mau dan suka tidak suka harus memiliki cara berpikir yang hampir
sama dengan sebuah teknologi. Hal ini perlu dilakukan agar kita bisa terus mengikuti perkembangan
zaman dan perkembangan teknologi.
Sudah menjadi hal umum, bagi banyak orang, jika hampir semua kegiatan yang dilakukan sehari-hari
berkaitan dengan teknologi. Bahkan, sebagian masalah yang sedang kita hadapi terkadang bisa
diselesaikan dengan teknologi yang ada saat ini. Oleh sebab itu, sudah semestinya kita untuk bisa
menerapkan cara berpikir seperti teknik ilmu komputer (informatika). Dengan menerapkan cara
berpikir seperti ini, kita akan mudah untuk berpikir secara kritis dan kreatif.
Dalam hal ini, teknologi yang dimaksud adalah teknologi komputer. Perkembangan komputer ini
selalu mengarah ke arah yang modern dan lebih cepat, sehingga ketika menggunakannya, kegiatan yang
kita jalani akan terasa lebih mudah. Dalam sebuah kehidupan yang kita jalani, baik itu, menggunakan
komputer atau tidak, kita harus mampu berpikir seperti komputer yang mampu memahami suatu hal
atau masalah dengan cepat, sehingga kita bisa menemukan solusi dari suatu permasalahan dengan
cepat. Pola berpikir seperti itu dikenal dengan istilah “berpikir komputasional”.
Penerapan Computational Thinking
Mengenalkan tentang computational thinking kepada anak, sebaiknya disesuaikan
dengan usia dan perkembangan anak. Secara garis besar, Kalananti telah membaginya
berdasarkan 3 contoh kategori usia yaitu 4-6 (TK), 7-12 (SD), dan 13-15 (SMP).
Berikut tabel perbandingan nya berdasarkan skema tahapan berfikir komputasi:
Sebagai contoh, untuk penerapan computational thinking untuk usia 7-12 Tahun yaitu sebagai berikut:
1. Dekomposisi
Pada usia ini akan dapat diajak untuk mengenali bagian atau komponen kecil dari sebuah pekerjaan.
Libatkan juga anak dalam melakukan tugas yang harus diselesaikan oleh beberapa orang lalu diskusikan
pada anak terkait peran dari masing masing orang tersebut. Anak juga bisa diajak untuk membuat
komponen-komponen kerja yang harus dilakukan.
2. Rekognisi Pola
Kemampuan ini menitikberatkan pada kemampuan anak dalam mengolah data untuk menemukan
kecenderungan pada sebuah data. Anak dapat dilibatkan dalam proses mengumpulkan data melalui
observasi atau eksperimen. Beberapa data perlu diolah terlebih dahulu untuk mengamati pola yang
terbentuk salah satu yang bisa digunakan oleh anak adalah menganalisis data menggunakan
perhitungan dasar yang mereka sudah kuasai di tingkat pendidikan dasar. Misalnya merubah nilai
sebuah data penjualan menjadi persen untuk mengetahui hari-hari dengan penjualan terbaik.
3. Abstraksi
Setelah mengetahui langkah kerja dan urutannya, anak kemudian bisa diajak untuk mengelompokkan
langkah-langkah kerja tersebut berdasarkan beberapa faktor. misalnya langkah kerja berdasarkan
tingkat kesulitan, langkah kerja yang perlu dilakukan satu persatu atau bisa berbarengan. Langkah kerja
berdasarkan jumlah orang yang dibutuhkan untuk mengerjakannya atau langkah kerja berdasarkan
lama pengerjaan.
4. Algoritma
Pada usia ini anak diharapkan sudah mampu membuat instruksi baik secara lisan atau tertulis sehingga
orang lain bisa memahami apa saja yang perlu dilakukan. Instruksi dibuat secara runut dan
menghasilkan output yang sesuai dengan yang diharapkan. Anak juga perlu memiliki kemampuan
dalam mengamati kesalahan pada sebuah susunan instruksi. Salah satunya contoh saat anak
mengerjakan sebuah tugas dan mendapatkan hasil yang tidak sesuai, maka anak perlu diajak untuk
mencari tahu titik kesalahannya.
Contoh masalah sehari-hari
contoh yang dapat diambil ialah mencuci pakaian. Dengan computational thinking, kita mampu
melakukan identifikasi, analisa dan implementasi solusi dengan berbagai kombinasi langkah / cara
dan sumber daya yang efisien dan efektif. Dengan langkah yang efektif, kita dapat menyelesaikan
masalah dengan mudah, tepat dan cepat. Dibanding cara berpikir kreatif, misal. Dengan cara
berpikir ini, kita pasti akan mencoba cara-cara yang tidak seperti biasanya untuk menemukan cara
yang agak unik dan pasti akan menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran. Maka dari itu,
computational thinking dapat membuat kita menjadi lebih terstruktur dalam melihat pemecahan
sebuah masalah.
Mari kita kembali dalam masalah mencuci pakaian. Kita akan menyelesaikan masalah ini dengan
cara berpikir secara komputasional.
Dimulai dari dekomposisi, kita akan menentukan dan baru mengelompokkan apa saja proses yang
akan dihadapi. Seperti memastikan hanger, memisahkan pakaian dengan jenis sendiri, menyiapkan
ember dan alat cuci, lalu proses mencucinya, menjemurnya dan yang lain.
Kemudian dari pengenalan pola. Dengan melihat pakaian yang akan dicuci, pada disaat memilah
pakaian sebelumnya, kita akan menemukan banyak jenis pakaian yang menunjukan bahwa dia
layak untuk dicuci dan yang tidak. Dimana dari sini kita akan membuat prediksi seberapa detergen
yang akan dipakai, atau air yang akan dibutuhkan.
Dilanjutkan dengan Abstraksi. Setelah menemukan pakaian mana yang kotor, kita akan
mengidentifikasi pakaian menurut tingkat kekotorannya dan menyatukan pakaian yang senada
agar pakaian dengan warna yang lain tidak akan kelunturan.
Diakhiri dengan algoritma. Setelah mengikuti semua langkah diatas kita akan mengurutkan
pemecahan dari mencuci pakaian. Dengan memulai dari memilah pakaian, menyiapkan alat, lalu
mencuci, memeras, dan yang terakhir adalah menjemur.
Semua rangkaian diatas, merupakan hasil dari cara berpikir secara komputasional. Dengan langkah
yang sistematis, akan lebih mudah dipahami oleh banyak orang. Selain dari itu, langkah-langkah ini
juga dapat diaplikasikan pada masalah mencuci piring dan yang sejenisnya. Maka dari itu dengan
berpikir secara komputasional untuk memecahkan masalah sehari-hari, akan membuat kita
menjadi lebih sistematis dalam melihat penyelesaian masalah.