0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan9 halaman

Peningkatan Motivasi Belajar Bahasa Indonesia

Diunggah oleh

muhammadmuhyi33
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
33 tayangan9 halaman

Peningkatan Motivasi Belajar Bahasa Indonesia

Diunggah oleh

muhammadmuhyi33
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Meningkatkan motivasi belajar siswa pada pelajaran bahasa indonesia dengan

metode audio visual di kelas VIII-1 SMPN 1 Siak Kecil Semester Ganjil Tahun
Pelajaran 2024/2025

Disusun Oleh :

Yuslinar

SMPN 1 Siak Kecil


Jl. Sultan Syarif Qasim no 06, Lubuk Muda
Kecamatan Siak Kecil
ABSTRAK
Meningkatkan Motivasi Belajar siswa Pada Pelajaran Bahasa Indonesia Dengan
Metode Audio Visual Di Kelas VIII-1 SMPN 1 Siak Kecil Semester Ganjil Tahun
Pelajaran 2024/2025

Pencapaian akademik siswa kelas VIII-1 di SMPN 1 Siak Kecil dalam mata pelajaran
bahasa Indonesia diketahui memiliki nilai yang kurang memuaskan, bahkan belum
memenuhi standar nilai KKM yang telah ditentukan. Rendahnya prestasi akademik siswa
kelas VIII-1 dalam mata pelajaran bahasa Indonesia diduga disebabkan oleh metode
penyampaian materi pelajaran yang diterapkan oleh guru. Berdasarkan pertimbangan
tersebut, peneliti memiliki ketertarikan untuk melaksanakan PTK di kelas VIII-1 di SMPN
1 Siak Kecil.
Target dari pelaksanaan PTK ini adalah untuk menilai apakah penerapan model kerja
sama dengan pendekatan AUDIO VISUAL dalam proses pembelajaran dan pengajaran
bahasa Indonesia dapat menaikkan motivasi belajar siswa di kelas VIII-1 di SMPN 1 Siak
Kecil.
Penelitian ini telah dilakukan di SMPN 1 Siak Kecil. Sampel penelitian merupakan
kelas VIII-1 dengan keseluruhan 26 siswa. Proses pengumpulan data dilaksanakan melalui
penelitian pengamatan, dan ujian. PTK ini dilakukan dengan menggunakan 2 siklus yang
memanfaatkan metode AUDIO VISUAL.
Data dari penelitian tindakan kelas menunjukkan bahwa partisipasi siswa selama
proses pembelajaran bahasa Indonesia, yang menggunakan metode AUDIO VISUAL,
cenderung meningkat dari siklus sebelumnya. Sebelumnya pada Pra siklus , tingkat
partisipasi hanya mencapai 65,14% tetapi pada saat siklus pertama mengalami peningkatan
menjadi 72,50%, dan meningkat lagi menjadi 75,00% pada siklus kedua. Dari hasil evaluasi
PTK yang telah dilakukan, bisa di ambil kesimpulan bahwa dengan menggunakan metode
AUDIO VISUAL pada proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia mampu
membuat siswa kelas VIII-1 di SMPN 1 Siak Kecil mengalami peningkatan motivasi
belajar.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kesuksesan dalam proses pembelajaran dan pengajaran dipengaruhi oleh berbagai
faktor berbeda yang berkaitan dengan setiap kegiatan pembelajaran . Di antara berbagai faktor
itu termasuklah peran siswa, guru, kebijakan yang berkaitan dengan penyusunan kurikulum,
bahkan unsur-unsur dalam proses pembelajaran seperti metode, model, alat pembelajaran , dan
pendekatan yang digunakan.
Bahasa Indonesia, sebagai bahasa resmi negara Republik Indonesia, digunakan untuk
berkomunikasi di berbagai daerah yang mempunyai variasi suku, tradisi, dan bahasa lokal.
Pelajaran Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran untuk mempelajari bahasa dan sastra
Indonesia. Materi pembelajarannya meliputi pemahaman struktur bahasa, tata bahasa, ejaan,
tanda baca, serta penggunaan bahasa yang tepat dalam berkomunikasi.
Masalah yang muncul dalam mata pelajaran bahasa Indonesia bisa dari Faktor dari
dalam yang dirasakan oleh siswa mencakup Sikap dalam proses pembelajaran, dorongan untuk
belajar, fokus saat belajar, dan kemampuan untuk mengolah materi ajar sedangkan faktor dari
luar yang memengaruhi, seperti peran guru sebagai pengajar, fasilitas belajar dan mengajar,
prosedur dalam memberikan nilai, lingkungan di sekitar sekolah, dan kurikulum yang
diterapkan di sekolah. Minat siswa untuk mempelajari pelajaran bahasa Indonesia termasuk
dalam kategori rendah disebabkan oleh persepsi banyak siswa yang menilai bahasa Indonesia
sebagai mata pelajaran yang membosankan (Botty, 2018).
Fokus utama dari proses pembelajaran bahasa Indonesia adalah untuk membantu siswa
agar dapat berkomunikasi dengan lancar menggunakan bahasa Indonesia, baik dalam
percakapan maupun dalam penulisan.
Dalam rangka mencapai tujuan tersebut, penting untuk memiliki rencana yang
mengintegrasikan setiap elemen instructional dengan komprehensif. Tugas utama para
pendidik adalah menentukan bahan ajar yang tepat, memilih metode yang
efisien, menggunakan alat dan sumber belajar yang sesuai, dan menetapkan proses penilaian
yang akan mengevaluasi sejauh mana sasaran pembelajaran telah dicapai, sehingga kegiatan
belajar mengajar dapat berjalan sesuai harapan.
Media pembelajaran yang menarik akan meningkatkan semangat siswa agar ikut serta
secara aktif dalam proses pembelajaran dengan cara yang lebih optimal. Dalam penggunaan
media ini, guru diharapkan menunjukkan kreativitas yang lebih dalam menyampaikan materi
pembelajaran guna menarik perhatian siswa terhadap materi yang diterangkan oleh guru.
"Seorang guru yang senantiasa meneguhkan komitmen untuk menjadi pendidik yang
berkualitas, memberikan pembelajaran yang tepat, memastikan pemahaman siswa atas materi
yang disampaikan, serta melakukan perbaikan diri secara kontinu merupakan seorang guru
yang inovatif. Pada setiap kesempatan, ia selalu merasa kekurangan. Proses pembelajarannya
akan dianalisis dengan cermat. Ia belum merasa puas dengan pencapaian yang didapatkannya,
senantiasa memperdalam pengetahuan dan secara aktif memperbaiki metode pengajarannya."
(Kusumah, 2012)
Media pembelajaran turut berperan sebagai sumber pengetahuan tambahan yang dapat
membantu guru dalam memperluas pengetahuan para murid. Menggunakan media dalam
pengajaran bisa menjadi sulit karena terbatasnya dana untuk membelinya. Cukup
dengan menciptakan media pembelajaran yang sederhana untuk mendukung pencapaian target
pembelajaran. Pembelajaran dengan menggunakan media Audio-Visual merupakan metode
didalamnya ada elemen bunyi bahkan gambar, sehingga untuk memahami materi, kita
melibatkan kemampuan melihat dan mendengar.
Berdasarkan latar belakang ini, penulis ingin melakukan penelitian dengan berjudul:
"Meningkatkan Motivasi Belajar siswa Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia dengan
Pendekatan Audio Visual di Kelas VIII-1 SMPN 1 Siak Kecil Semester Ganjil Tahun
Pelajaran 2024/2025. ".

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan masalah tersebut, maka dapat ditentukan permasalahan dalam penelitian ini :
1. Bagaimana proses belajar mengajar yang dilakukan dengan pemanfaatan Media Audio
Visual dalam kelas VIII-1 SMPN 1 Siak Kecil?
2. Bagaimana hasil pencapaian siswa saat memanfaatkan Media Audio Visual di kelas VIII-1
SMPN 1 Siak Kecil?
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah disebutkan dapat dirumuskan permasalahan
sebagai berikut:
“Bagaimanakah langkah-langkah peningkatan motivasi belajar bahasa Indonesia dengan
Metode Audio Visual pada siswa kelas VIII-1 SMPN 1 Siak Kecil pada tahun pelajaran
2024/2025?”

D. Tujuan Penelitian
Untuk memahami bagaimana proses belajar mengajar di saat memanfaatkan Media Audio
Visual di kelas VIII-1 SMPN 1 Siak Kecil Tahun Pelajaran 2024/2025.

KAJIAN PUSTAKA
A. Motivasi Belajar dan Media Pembelajaran
1. Motivasi Belajar
Kesuksesan dalam pembelajaran siswa dipengaruhi dari sejauh mana semangat yang
mereka miliki. Siswa dengan prestasi belajar yang tinggi pada umumnya tingkat motivasi
belajar mereka juga tinggi , sedangkan mereka yang semangatnya belajar rendah biasanya
menghasilkan prestasi yang tidak memuaskan. Tinggi rendahnya semangat berperan penting
dalam menetapkan seberapa besar semangat individu untuk beraktivitas, yang pada akhirnya
akan memengaruhi hasil yang akan diperoleh.
Motivasi merupakan dalam sesuatu menggambarkan kesuksesan maupun kegagalan dalam
berbagai kerja yang kompleks. Motivasi adalah satu pendorong yang berasal dari dalam diri
seseorang untuk berusaha atau meraih sebuah sasaran. Merujuk pada pandangan Berelson dan
Gary Steiner, Harlod Koonts DKK (1980: 632) menyatakan bahwa motivasi adalah keadaan
yang berasal dari dalam yang memberikan energi, mengaktifkan, atau memindahkan (motivasi)
dan mengarahkan/menyalurkan perilaku menuju tujuan. Ini berarti bahwa motivasi adalah
keadaan internal yang memberikan energi, yang membangkitkan/penggerak dan menuntun
perilaku menuju sasaran-sasaran tertentu.
Motivasi belajar adalah faktor pendorong dari dalam bahkan juga dari luar yang
mendorong siswa untuk mengalami perubahan. Perilaku tersebut telah dijelaskan dalam
penelitian yang dilakukan oleh Nurul Hidayah dan Fikki Hermansyah pada tahun 2016.
Menurut Wina Sanjaya (2010:249), motivasi merupakan elemen yang dinamis dan sangat
krusial. Seringkali terdapat situasi di mana siswa mengalami kurangnya pencapaian akademik
bukan karena rendahnya kemampuan, tetapi disebabkan oleh rendahnya motivasi sehingga
siswa tidak mengerahkan kemampuannya secara keseluruhan. Dalam konteks pengajaran
konvensional, terkadang terdapat ketidaksadaran terhadap elemen motivasi yang seharusnya
dijaga oleh para pendidik. Guru seolah-olah memaksa siswa untuk memahami materi. Situasi
ini bahkan tak memberikan keuntungan dikarenakan bisa menghambat kapasitas siswa untuk
maksimal dalam belajar, pada akhirnya dapat berujung pada hasil belajar yang tidak optimal.
Pandangan yang bersifat modern mengenai proses pembelajaran menegaskan bahwa motivasi
dianggap sebagai elemen krusial dalam membangkitkan semangat belajar siswa.
Motivasi belajar adalah kondisi psikologis yang mendorong individu untuk terlibat dalam
proses pembelajaran dengan tujuan tertentu. Dalam buku Kompri (2016:229), Mc Donald
mengatakan bahwa motivasi adalah perubahan energi yang terjadi dalam diri individu yang
ditandai dengan timbulnya perasaan dan respons untuk mencapai tujuan. Motivasi dapat
dirasakan melalui perubahan energi yang terjadi dalam diri individu.
Seperti yang dikutip oleh Wina Sanjaya (2010:250), bahwa tingkat keberhasilan atau
kegagalan, serta intensitas usaha yang dijalankan individu dalam mencapai tujuan mereka,
dipengaruhi oleh kekuatan motivasi yang dimiliki oleh individu tersebut.

2. Media Pembelajaran
a. Media
Menurut Hidayat (1991:107), media pengajaran diartikan sebagai media yang
dimanfaatkan untuk menyampaikan materi kepada siswa, dengan tujuan untuk mempermudah
dan mensukseskan proses pengajaran agar siswa mudah memahami materi tersebut. Media
sebagai segala bentuk yang dapat digunakan untuk mengalirkan pesan dari pengirim kepada
penerima. Media ini memiliki peran penting dalam merangsang pemikiran, perasaan, dan
minat siswa, sehingga memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang efisien dan
efektif.
Media pembelajaran digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
pembelajaran di era kemajuan teknologi. Penggunaan media memungkinkan pemahaman
konsep yang kompleks menjadi lebih mudah dan membantu proses pembelajaran yang
semakin rumit. Ketersediaan media yang beragam adalah hasil dari kemajuan teknologi yang
terus berkembang.
Dengan demikian, media pembelajaran menjadi penting dalam menyesuaikan diri dengan
tuntutan zaman yang semakin kompleks. Dengan menggunakan media pembelajaran, siswa
dapat belajar secara lebih efisien dan mudah dalam memahami materi. Oleh sebab itu,
penggunaan media pembelajaran perlu dipertimbangkan dalam penyampaian pembelajaran di
era modern ini.
b. Media Audio Visual
Metode belajar mengajar menggunakan media Audio-Visual merupakan integrasi bunyi
dan gambar. Media ini menampilkan gambar bergerak, warna, dan penjelasan tulisan serta
suara. Pemanfaatan media ini membantu meningkatkan motivasi belajar siswa. Dalam KBBI,
audio visual diartikan sebagai sifat yang dapat didengar dan dilihat; alat indra pendengaran dan
penglihatan.
Menurut Hamdani (2011:249), media ini adalah penggabungan elemen suara dan
gambar, yang disebut juga sebagai media audiovisual. Penggunaan media audio visual akan
memperkaya serta meningkatkan kualitas penyajian materi pelajaran kepada para siswa.
Menurut Wina Sanjaya (2010:211), media audio visual adalah media yang menggabungkan
elemen suara dan gambar, seperti video, film, slide dengan suara, dan lainnya.
Proses pembelajaran menggunakan media Audio-visual melibatkan elemen suara dan
gambar. Media ini mendukung siswa dalam mendapatkan pengetahuan, keterampilan, atau
sikap yang berguna untuk belajar. Media audio visual berfungsi sebagai saluran informasi
melalui elemen visual dan pendengaran, yang sangat efektif dalam menciptakan lingkungan
pembelajaran yang optimal bagi siswa.
Media Audio Visual adalah sarana yang menggabungkan suara dan gambar, serupa
dengan film bersuara, untuk memanfaatkan kedua indera pendengaran dan penglihatan
manusia secara bersamaan. Dalam konteks pendidikan, Audio Visual dimanfaatkan untuk
menyampaikan informasi kepada siswa melalui komunikasi baik lisan maupun tulisan, dengan
tujuan mempermudah pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan. Diharapkan para
guru mampu menciptakan suasana yang memungkinkan siswa untuk berpartisipasi secara aktif
agar proses pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif.

METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Pendekatan penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif naturalistik yang berfokus pada
lingkungan alami. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan yang terdiri dari siklus
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Pendekatan ini didasarkan pada analisis
masalah serta tujuan penelitian yang memerlukan informasi dan tindakan lanjutan di lapangan.
Penelitian tindakan adalah metode khusus untuk penelitian kelas yang melibatkan prosedur
penelitian dan tindakan yang signifikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis
dan memberikan solusi terhadap berbagai masalah yang dihadapi guru dalam konteks
pembelajaran di kelas.

3.2 Prosedur Penelitian Tindakan Kelas


Prosedur PTK memiliki format yang berbentuk "daur ulang" mengikuti McTanggart
(Hopkins, 1993: 48). Siklus ini berlangsung berulang kali sampai tujuan pembelajaran tercapai
dengan memanfaatkan media massa sebagai sumber pengetahuan dalam proses belajar bahasa
Indonesia. Dari sisi operasional, langkah-langkah kegiatan setiap siklus dapat diuraikan sebagai
Perencanaan:
1. Tindakan
2. Observasi
3. Refleksi
4. Revisi

3.3 Proses Pelaksanaan Tindakan


Berdasarkan hasil penemuan dan refleksi awal mengenai implementasi pembelajaran
bahasa Indonesia, maka dilakukan program tindakan untuk meningkatkan Motivasi Belajar
Siswa melalui pemanfaatan media Audio Visual pada proses pembelajaran di kelas VIII-1
SMPN 1 Siak Kecil.

3.4 Subyek Penelitian


a. Lokasi penelitian adalah di SMPN 1 Siak Kecil.
b. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas VIII-1 berjumlah 26 orang, terdiri dari 9
siswa laki-laki dan 17 siswi perempuan, yang ikut serta dalam proses belajar mengajar
bahasa Indonesia. Siswa-siswa ini memiliki karakter dan kondisi yang beragam.
c. Pemilihan kelas VIII-1 dilakukan karena kelas tersebut bukan merupakan kelas
unggulan.
3.5 Instrumen Penelitian
Instrumen yang dipakai dalam PTK ini adalah saya sendiri sebagai penelitinyai, yang
berfungsi satu-satunya instrumen . Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes
hasil belajar siswa, terutama yang berkaitan dengan pemahaman materi atau topik yang
diajarkan dengan pemanfaatan model media Audio Visual sebagai sarana pembelajaran
bahasa Indonesia.

HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN


Deskripsi Awal Penelitian
Untuk mendapatkan informasi mengenai situasi awal belajar Bahasa Indonesia di kelas
VIII-1, peneliti melakukan observasi terhadap kelas tersebut. Pengamatan difokuskan terhadap
aktivitas guru dalam memulai pelajaran, menyampaikan materi, serta mengaplikasikan metode
pembelajaran yang diterapkan, alat dan bahan ajar, aktivitas siswa, serta langkah-langkah
penutupan pembelajaran dan penilaian..
Berdasarkan hasil temuan awal yang diperoleh dari proses pembelajaran dan pengajaran
Bahasa Indonesia di kelas, dapat dikatakan bahwa implementasi belajar dan mengajar Bahasa
Indonesia masih belum optimal. Hal tersebut termanifestasi dari prevalensi pengajaran masih
dipimpin oleh para guru. Guru fokus pada buku pegangan, siswa hanya punya LKPD dan buku
penerbit tanpa alat bantu pembelajaran tambahan.
Proses pembelajaran cenderung monoton di mana guru menggunakan metode ceramah
dan jarang berinteraksi dengan siswa secara individual, lebih seringnya bertanya kepada
seluruh kelas dan mendapatkan jawaban secara bersamaan dari siswa.
Siswa dalam kondisi pasif, beberapa menguap dan terlihat jenuh selama
pembelajaran. Minimnya semangat dan motivasi siswa dalam belajar secara keseluruhan
terlihat.
Analisis lapangan menunjukkan bahwa guru perlu meningkatkan kinerja dan
keterampilan dalam menyampaikan pelajaran bahasa Indonesia secara efektif.
Pada fase perencanaan, peneliti melakukan survei dengan cara mendistribusikan kuesioner
kepada sejumlah siswa untuk mengidentifikasi sejauh mana pemahaman
mereka terhadap materi pelajaran Bahasa Indonesia sebelum penerapan model audio visual.
Data menunjukkan bahwa 57,7% siswa mampu menyelesaikan tugas secara
mandiri tanpa bimbingan secara langsung, menunjukkan bahwa mereka memiliki
kemampuan bekerja mandiri. Selain itu, 69,23% siswa menunjukkan antusiasme dalam
mengikuti pelajaran Bahasa Indonesia, sementara 73% siswa memiliki tujuan untuk
meningkatkan kemampuan dalam memperoleh nilai Bahasa Indonesia.

Siklus 1
Pada tahap ini, peneliti mengelompokkan siswa ke dalam 5 kelompok pembelajaran yang
akan menerapkan model audio visual. Pada siklus 1, hasil dari indikator audio visual
menunjukkan bahwa indikator ketekunan dalam menyelesaikan tugas mencatat jumlah siswa
yang aktif sebanyak 21 orang atau 80,7% dari total 100%. Selanjutnya, indikator kekuatan
keinginan untuk melakukan tugas tercatat sebanyak 20 siswa atau 76,9%. Dari hasil ini dapat
disimpulkan bahwa model audio visual mendapatkan respons yang positif dari siswa.

Siklus 2
Pada tahap ini, peneliti masih membagi siswa menjadi 5 kelompok belajar yang
akan menerapkan model audio visual. Pada siklus 2, diperoleh hasil dari indikator audio
visual, yaitu indikator ketekunan dalam menyelesaikan tugas dengan jumlah siswa yang aktif
mencapai 24 orang atau 92,30% dari total 100%. Selain itu, indikator kemauan yang kuat
untuk berbuat tercatat sebanyak 25 siswa atau 96,15%. Dari data ini, dapat disimpulkan
bahwa penerapan model audio visual mengalami peningkatan dari siklus 1 ke siklus 2 dan
mendapatkan respons yang lebih baik dari siswa.

Siklus 1 dan siklus 2


Berdasarkan hasil penelitian, selama siklus 1 dan siklus 2, bisa disandingkan beberapa
hal, pertama peneliti menjelaskan model audio visual kepada siswa, lalu siswa dibagi menjadi
5 kelompok belajar. Hasilnya menunjukkan adanya peningkatan motivasi yang tinggi dari
siswa untuk bekerja dalam tim, dari 5 kelompok belajar terdapat 4 kelompok yang
memperlihatkan peningkatan nilai, sementara 1 kelompok mengalami penurunan. Perubahan
ini lebih berkaitan dengan tingkat kemauan untuk memperoleh hasil yang baik serta
peningkatan dalam hasil kerja. Dari sini dapat disimpulkan bahwa terdapat kenaikan nilai
kelompok antara siklus 1 dan siklus 2. Selanjutnya, diperoleh hasil yang menunjukkan adanya
peningkatan motivasi belajar siswa dari siklus 1 ke siklus 2, yang mengindikasikan adanya
peningkatan motivasi belajar antara kedua siklus tersebut.
Di akhir siklus, peneliti melaksanakan evaluasi hasil belajar baik di siklus 1 maupun
siklus 2, yang memperlihatkan adanya peningkatan hasil belajar sebesar 9,6% antara siklus 1
dan siklus 2, serta jumlah siswa yang tidak tuntas berkurang dari 5 siswa menjadi 2 siswa, yang
memperlihatkan bahwa dengan menerapkan model pembelajaran audio visual adanya hasil
belajar siswa mengalami peningkatan.
Lebih jauh, dapat dilihat bahwa siswa yang menyelesaikan tugas secara mandiri meski
tanpa bimbingan langsung mencapai 97,14%, yang menunjukkan bahwa siswa memiliki
indikator bekerja secara mandiri. Selain itu, siswa menunjukkan semangat dalam mengikuti
pelajaran bahasa Indonesia dengan persentase 88,57%, yang menandakan keseriusan siswa
dalam belajar bahasa Indonesia. Di samping itu, latihan-latihan yang dilakukan siswa dalam
pembelajaran bahasa Indonesia, ketika dilaksanakan secara konsisten, juga mengalami
kenaikan hingga 97,14%, yang berarti bahwa model audio visual mampu menghasilkan nilai
yang lebih baik karena siswa menunjukkan peningkatan motivasi belajar.

KESIMPULAN

1. Kesimpulan
Dari hasil penelitian selama siklus 1 dan siklus 2, terdapat peningkatan motivasi siswa
dalam bekerja dalam tim dan hasil kerja kelompok. Hasil menunjukkan bahwa 4 dari 5
kelompok belajar mengalami peningkatan baik dalam motivasi maupun nilai, sedangkan 1
kelompok mengalami penurunan nilai. Peneliti menemukan kenaikan nilai kelompok antara
siklus 1 dan siklus 2 serta adanya peningkatan motivasi belajar siswa secara
keseluruhan. Evaluasi hasil belajar juga menunjukkan peningkatan sebesar 9,6% antara siklus 1
dan siklus 2, siswa yang belum tuntas mengalami penurunan. Siswa juga menunjukkan
kemampuan bekerja mandiri yang tinggi dan semangat dalam belajar bahasa Indonesia. Dalam
konteks pembelajaran bahasa Indonesia, penerapan model audio visual dapat meningkatkan
motivasi belajar siswa dan hasil belajar secara keseluruhan.
Hasil PTK menunjukkan bahwa penerapan metode audio visual dalam pembelajaran
Bahasa Indonesia dapat meningkatkan motivasi belajar siswa kelas VIII-1 pada semester ganjil
2024/2025.
2. Saran
Model pembelajaran langsung yang berasal dari pembelajaran kooperatif terpadu dapat
diterapkan dengan baik dalam proses pembelajaran dengan memilih teknik dan metode yang
sesuai untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.

Daftar Pustaka

Botty, M. (2018). Hubungan kreativitas dengan hasil belajar siswa kelas V mata pelajaran
Bahasa Indonesia di MI Ma’had Islamy Palembang. JIP (Jurnal Ilmiah PGMI), 4(1),
41-55
Febliza, Asyti dan Zul Afdal. (2015). Media Pembelajaran dan Teknologi Informasi
Komunikasi. Adefa Grafika: Pekanbaru.
Hamdani. 2011. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia
Kompri, Motivasi Pembelajaran Perspektif Guru Dan Siswa, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2016)
Kusumah, W. (2012). Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: PT Indeks Permata Puri
Media
Nurul Hidayah & Fikki Hermansyah “Hubungan antara Motivasi Belajar dan Kemampuan
Membaca Pemahaman Siswa Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Bandar Lampung
Tahun 2016/2017”. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Dasar, Volume. 3 No. 2,
Sanjaya, Wina. (2010). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta : Prenada Media Group

Anda mungkin juga menyukai