0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan52 halaman

Terapi Relaksasi Napas untuk Kecemasan Pre-Operasi

revisi

Diunggah oleh

zamzam studios
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan52 halaman

Terapi Relaksasi Napas untuk Kecemasan Pre-Operasi

revisi

Diunggah oleh

zamzam studios
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

IMPLEMENTASI PENERAPAN TERAPI RELAKSASI NAPAS

DALAM TERHADAP KECEMASAN PADA PASIEN PRE-


OPERASI DI RUANG EDELWEIS RSUD MOKOPIDO
TOLITOLI

PROPOSAL PENELITIAN

Oleh
Muhammad Sapri [Link]
PO7247322036

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALU


JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III
KEPERAWATAN TOLITOLI
2024
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING

Proposal ini telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing Poltekkes Kemenkes
Palu Prodi D-III Keperawatan Tolitoli

Nama : Muhammad Sapri [Link]


NIM : PO7247322036

Tolitoli, Desember 2024


Pembimbing I,

Dwi Yogyo, [Link]., Ns., [Link].


NIP. 19680205 199101 1 003

Tolitoli, Desember 2024


Pembimbing II,

Saman, [Link]., Ns., [Link].


NIP. 197010201991031008

Mengetahui,
Kaprodi D-III Keperawatan Tolitoli

Sova Evie Darame, [Link]., Ns., [Link].


NIP. 19790923 199903 2 001
LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI

Proposal ini telah diperiksa dan disetujui oleh Tim penguji Poltekkes
Kemenkes Palu

Nama :MUHAMMAD APRI [Link]


NIM : PO7247322036
Tolitoli, Desember 2024

. Penguji I
NIP.

Tolitoli, Desember 2024


Penguji II
NIP.

Tolitoli, Desember 2024

. Penguji III
NIP.

Mengetahui,
Plt. Direktur Poltekkes
Kemenkes Palu

Nurjaya, [Link], [Link].


NIP. 19710716 199403 2 002

Menyetujui,
Ketua Jurusan Keperawatan

Dr. Andi Fatmawati, Syamsu, [Link].,


Ns., Sp., [Link].
NIP. 19660424 198903 1 002
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat tuhan yang maha pengasih lagi maha

penyayang yang telah memberikan kita rahmat serta hidayah berupa nikmat iman

dan Kesehatan sehingga penulisan masih di berikan Kesempatan untuk

menyelesaikan proposal yang berjudul: “implementasiakan penerapan terapi

relaksasi napas dalam terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre-operasi di

Ruangan Edelweis RSUD Mokopido Tolitoli.” Sebagai salah satu pensyaratan

yang harus di penuhi dan tugas akhir dalam menyelesaikan Pendidikan di

poltekkes kemenkes palu prodi DIII keperawatan tolitoli

Pada kesempatan ini penulisan hendak menyampaikan upacara

terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan motivasi.

Khususnya teruntuk kedua orang tua. Bapak Abdullah T. Yusup dan Ibu Ismani

[Link] yang telah memberikan banyak dukungan dan selalu mendoakan

dengan segala upaya dan pengorbanan sehingga penulisan sampai di tahap ini.

Penulis juga mengucapkan terimasih yang sebesar besarnya kepada

1. Ibu Nurjaya, [Link].,[Link] Plt. Direktur Poltekkes Kemenkespalu yang

telah memberikan kesempatan untuk menuntut ilmu di Poltekkes

Kemenkes Palu Prodi D3 Keperawatan Tolitoli

2. Ibu Dr. Andi Fatmawati [Link]., Ns.,[Link].,An ketua jurusan Poltekkes

Kemenkes Palu yang telah memberikan kesempatan untuk menuntut ilmu


di Poltekkes Kemenkes Palu jurusan keperawatan Prodi D3 Keperawatan

Tolitoli

3. Ibu Ns Sova Evie D. [Link].,M. Kep kaprodi yang telah memberikan izin

kepada penulisan utuk mengikuti Pendidikan di poltekkes kemenkes palu

prodi D3 keperawatan tolitoli

4. Bapak Dwi Yogyo. S,Kep .,NS.,M,Kep pembimbing I dan Bapak Saman

S,Kep.,Ns.,M,Kep selaku pembimbing II yang telah banyak membantu

memberikan saran dan mengarahkan penulisan dalam penyusunan

proposal penelitian ini

5. Seluruh dosen dan staf Poltekkes Kemenkes Palu prodi D3 Keperawatan

Tolitoli yang telah banyak membantu dalam proses perkuliahan

6. Kepada seluruh teman teman saya yang sudah banyak memberikan

dukungan dan motivasi agar menyelesaikan proposal penelitian ini tepat

waktu

7. Seluru teman teman Poltekkes Kemenkes Palu Prodi D3 Keperawatan

Tolitoli telah banyak membantu dan memberikan dukungan kepada saya

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini banyak kekurangan dan

jauh dari kesempurnaan. Baik dari segi penulisan maupun dari tata bahasnya.

Maka dari segala kerendahan hati penulisan mengharapkan saran dan kritik

sertamasukan dari semua pihak demi kesempurnaan proposal ini

Tolitoli Desember 2024

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembedahan adalah tindakan medis dengan prosedur invasif yang

dilakukan untuk mencegah komplikasi atau menyelamatkan nyawa pasien.

Semua tindakan pengobatan yang menggunakan prosedur invasif dengan

tahapan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang ditangani disebut

Pembedahan atau operasi. (Asmadi, 1967). Tindakan pembedahan

merupakan salah satu bentuk upaya terapi yang dapat mendatangkan

ancaman integritas tubuh dan jiwa seseorang. Pembedahan yang

direncanakan dapat menimbulkan respon fisiologis maupun psikologi pada

pasien. Respon psikologis yang biasanya terjadi pada pasien pre-operasi

adalah kecemasan.(Hasanah N., 2017).

Berdasarkan direncanakan atau tidaknya, pembedaahan terbagi

menjadi 2, yaitu pembedahan elektif dan darurat. Pembedahan elektif

adalah pembedahan yang terencana dengan persiapan matang dimana

operasi dilakukan dengan kondisi umum pasien yang baik, dan melewati

proses penjadwalan terlebih dahulu. Sedangkan pembedahan darurat

adalah pembedahan yang memerlukan perawatan segera (Rosdahl, 2012).

Menurut tingkat pembedahannya, dibedakan menjadi 2, yaitu bedah minor

dan bedah mayor. Bedah minor adalah operasi yang dilakukan tanpa risiko
yang besar dengan lokasi yang lebih kecil (Asmadi, 1967) sedangkan

operasi yang memasuki dan menunjukkan semua rongga tubuh, seperti

pembedahan tengkorak atau tulang, atau kerusakan yang signifikan pada

anatomi atau fungsi faal, disebut pembedahan mayor atau operasi besar.

(Asmadi, 1967). Tindakan pembedahan akan menimbulkan reaksi fisik

dan psikis, reaksi psikis salah satunya adalah kecemasan atau ketakutan.

(Sutinah, 2019). Kecemasan biasanya berhubungan dengan segala macam

prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap

keselamatan jiwa akibat prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan.

(Sulastri et al., 2019). Kondisi emosional pasien akan mempengaruhi

fungsi tubuh pasien pre-operasi, kecemasan harus mendapat perhatian dan

intervensi keperawatan segera. Jika tidak ditangani dengan cepat,

kecemasan akan menyebabkan masalah dan mengganggu proses operasi

atau mungkin gagal (Sari et al., 2022).

World Health Organization (WHO), tahun 2020 menyatakan

bahwa jumlah klien yang menjalani tindakan operasi meningkat secara

signifikan setiap tahun sekitar 165 juta operasi dilakukan di seluruh dunia

setiap tahun. (Ramadhan et al., 2023). Rumah Sakit di seluruh dunia

tercatat menerima 140 juta pasien pada tahun 2017 Namun pada tahun

2019, jumlah tersebut meningkat menjadi 148 juta pasien, dengan 1,2 juta

pasien di Indonesia. Menurut data dari Rekam Medik RSUD Undata

Provinsi Sulawesi Tengah, kasus stenosis ureter terjadi pada tahun 2021

sebanyak 39 kasus, dan pada tahun 2022 sebanyak 64 kasus. Namun, pada
tahun 2023, selama 7 bulan terakhir, dari Januari hingga Juli, terjadi

penurunan kasus stenosis ureter sebanyak 29 kasus. Dari data di Rumah

Sakit Umum Mokopido Tolitoli mendapatkan bahwa pada tahun 2021

terdapat 385 kasus bedah, dari 385 kasus bedah 1 oprasi khusus, 308

oprasi besar dan 76 oprasi sedang. Pada tahun 2022 terdapat 546 kasus

bedah, dari 546 kasus bedah 460 oprasi besar dan 86 oprasi sedang. Pada

tahun 2023 terdapat 625 kasus bedah dari 625 kasus bedah 342 oprasi

besar, 266 oprasi sedang dan 17 oprasi kecil. (Mokopido, 2024). Setelah di

lakukan wawancara oleh peneliti kepada salah 1 perawat dan juga ke 5

pasien dan keluarga pasien yang berada di ruangan edelweis, di dapatkan

bahwa kelimanya mengalami kecemasan pada saat sebelum operasi, dan

pernah di lakukan upaya teknik relaksasi napas dalam namun tidak sesuai

SOP (RSUD Mokopido Tolitoli,2024).

Ansietas merupakan perasaan khawatir yang berlebihan terhadap

bahaya yang mengancam dan disebabkan factor biologis,fisiologis,

lingkungan dan [Link] saraf pusat menerima rangsangan dari luar

dan dalam menuju hipotalamus yang berfokus pada kelenjar adrenal yang

menghasilkan hormone [Link] ini menyebabkan tubuh

mengalami kondisi seperti tekanan darah dan nadi meningkat, sehingga

timbul kewaspadaan yang berujung pada ansietas atau kecemasan

(Videbeck,2010).

Untuk mengatasi kecemasan, dapat diberikan tindakan medis dan

perawat. Menurut (PPNI, 2018) peran perawat untuk membantu pasien


sebelum dan setelah operasi yaitu dengan melakukan relaksasi, distraksi,

meditasi, dan imajinasi. Teknik relaksasi napas dalam adalah teknik

relaksasi yang paling populer untuk mengurangi kecemasan pasien pre-

operasi karena lebih mudah dipelajari dan digunakan oleh pasien nantinya.

Selain itu, terapi napas dalam memiliki banyak keuntungan, termasuk

waktu dan biaya yang lebih sedikit yang dihabiskan untuk

menggunakannya dibandingkan dengan metode relaksasi lainnya. Dalam

menghadapi ketakutan dan kecemasan pasien pre dan post operasi,

kepercayaan spiritual memiliki peranan penting dengan ditingkatkannya

pemberian mutu pelayanan kesehatan terutama dalam pemberian asuhan

keperawatan pada aspek spiritual merupakan upaya untuk menurunkan

tingkat kecemasan pada pasien dirumah sakit(Mastuty et al., 2022).

Menurut penelitian yang dilakukan Setiani (2017), bahwa kecemasan

setelah terapi relaksasi napas dalam berbeda pada pasien yang menjalani

oprasi abdomen. Penelitian lain dilakukan oleh Setiani, (2017)

menunjukkan bahwa terapi relaksasi napas dalam menurunkan tingkat

kecemasan pasien sebelum operasi bedah abdomen di Ruang Bedah

RSUD Jendral Ahmad Yani Metro.

Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk

melakukan penelitian dengan judul”Implementasi Penerapan Terapi

Relaksasi Napas Dalam Terhadap Kecemasan Pada Pasien Pre-Oprasi Di

Ruang Edelweis RSUD Mokopido Tolitoli”.

B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah

penelitian ini yaitu “mengimplementasiakan penerapan terapi relaksasi

napas dalam terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre-operasi di

Ruangan Edelweis RSUD Mokopido Tolitoli”

C. Tujuan penelitian

Untuk mengimplementasiakan penerapan terapi relaksasi napas

dalam terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre-operasi di Ruangan

Edelweis RSUD Mokopido Tolitoli

D. Manfaat penelitian

1. Bagi pelayanan

Hasil penelitian ini dapat di tujukan salah satu reverensi bagi

petugas kesehatan yang ada di RSUD Mokopido Tolitoli

khususnya yang ada di Ruang Edelweis dalam peng

implementasian latihan batuk efektif Sebagai proses penyembuhan

pasien

2. Bagi institusi

Sebagai bahan informasi serta referensi bagi Prodi DIII

keperawatan Tolitoli untik menambah wawasan serta untuk

mengembangkan ilmu bagi pembaca

3. Bagi peneliti

Untuk menambah pengetahuan serta pengalaman penelitian dalam

menerapkan ilmu selama mengikuti pendidikan akademi

keperawatan
BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Pembedahan

1. Pengertian

Pembedahan atau operasi adalah semua tindak pengobatan dengan

menggunakan prosedur invasif, dengan tahapan membuka atau

menampilkan bagian tubuh yang ditangani. Pembukaan bagian tubuh

yang dilakukan tindakan pembedahan pada umumnya dilakukan

dengan membuat sayatan, setelah yang ditangani tampak, maka akan

dilakukan perbaikan dengan penutupan serta penjahitan luka

(Sjamsuhidayat & Jong, 2016)

2. Klasifikasi pembedahan

a. Menurut urgensinya, terdiri dari :

1) Emergency, yaitu operasi yang tidak direncanakan, dan harus

segera dilakukan untuk menyelematkan nyawa atau bagian

tubuh. Indikasi dilakukan pembedahan tanpa ditunda.

2) Urgen, yaitu operasi pada pasien tidak direncanakan,

memerlukan Tindakan segera agar intervensi tepat waktu untuk


menyelamatkan pasien yang membutuhkan perhatian segera

tetapi pembedahan dapat dilakukan dalam waktu 24-30 jam.

3) Diperlukan, yaitu operasi diperlukan pada saat tertentu.

4) Elektif, yaitu operasi yang terencana dengan persiapan yang

matang dan dilakukan dalam kondisi umum pasien yang baik.

b. Menurut tingkat operasinya, terdiri dari :

1) Operasi Minor, yaitu prosedur operasi tanpa resiko yang besar,

sering dilakukan dengan lokal anastesi. Contohnya: Insisi dan

drainase, implantasi akses vena menggunakan alat, biopsi otot.

2) Operasi Mayor, yaitu prosedur operasi dengan resiko besar,

lebih lama dan lebih luas dari prosedur minor. Contohnya :

penggantian katup mitral,transplantasi pankreas, diseksi KGB

Donna D. Ignatavicius (2010)

B. Konsep Pre operasi

1. Pengertian

Pre Operasi merupakan fase dimana perawat mempersiapkan

pasien untuk dilakukan tindakan pembedahan dengan tujuan untuk

menjamin keselamatan pasien [Link] pre operatif dimulai

ketika ada keputusan untuk dilakukanintervensi bedah dan diakhiri

ketika pasien dikirim ke meja [Link] aktivitas keperawatan

selama waktu tersebut dapatmencakup penetapan pengkajian dasar

pasien di tatanan klinikataupun rumah, wawancara pre operatif dan


menyiapkan pasienuntuk anastesi yang diberikan serta

pembedahan(Ashanti, 2015)

Pre operasi adalah tahap awal dari perawatan perioperatif yang

dimulai sejak pasien masuk di ruang terima pasien dan berakhir ketika

pasien dipindahkan ke meja operasi untuk melakukan pembedahan

(Wulandari, 2024)

2. Tindakan pre-operasi

a) Fase pre-operatif

Periode ini dimulai sejak ada keputusan dari pasien untuk

dilakukan tindakan pembedahan sampai pasien dibawa menuju unit

kamar operasi dan sebelum pasien menjalani prosedur

pembedahan, Kegiatan pada periode pre-operatif dapat dilakukan

di ruang perawatan atau di ruang persiapan/pre-medikasi untuk

kasus One Day Surgery. Persiapan pre-operatif di antaranya

meliputi puasa, mandi, pemberian marker, pemeriksaan

laboratorium, pengkajian pre- operatif, dan sebagainya.

b) Fase intra-operatif

Periode intra-operatur dimulai ketika pasien berada di meja

operasi dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke ruang pulih

sadar/PACU (Post Anaesthesia Care Unit) atau pasien pulang pada

kasus One Day Surgery, Periode di mana prosedur operasi

dilakukan. Pada periode ini harus sudah dilakukan pengecekan

prosedur, lokasi insisi dan ketepatan pasien melalui penggunaan


ceklis keselamatan pasien operasi untuk memastikan ketepatan

pasien, prosedur, dan lokasi pembedahan. Segala peralatan dan

bahan habis pakai seperti kasa, instrumen dan jarum telah dihitung

dan dicatat sebelumnya sebelum digunakan.

c) Post-operatif

Periode post-operatif adalah periode yang dimulai setelah

pasien menjalani prosedur operasi dan dipindahkan ke ruang

pemulihan sampai pasien pindah ke unit perawatan atau pulang

(one day surgery), Observasi post-operatif bisa menggunakan

Aldrete score atau brom age score untuk kriteria bahwa pasien

boleh dipindahkan ke unit perawatan jika kondisi pasien stabil atau

ke unit perawatan intensif jika memerlukan observasi lebih

lanjut(Haris Widodo, 2024)

Peran perawat dalam Sasaran Keselamatan Pasien pada fase

Sign in :

1) Perawat melakukan identifikasi pasien: apakah gelang pasien

sudah dipasang atau belum, apakah penandaan lokasi operasi

(site marking) sudah dilakukan atau belum, dan surat

persetujuan persetujuan operasi operasi dan pembiusan

pembiusan sudah dijelaskan dijelaskan dan ditandatangani oleh

pasien atau keluarga pasien atau belum.


2) Perawat menyiapkan dan melakukan pengecekkan mesin

anestesi dan obat – obat anestesi.

3) Perawat menyiapkan pulse oksimeter.

4) Perawat melakukan identifikasi pasien mengenai riwayat alergi

3. Persiapan pasien pre operasi

Untuk mengurangi faktor resiko yang disebabkan oleh

pembedahan, persiapan pasien sebelum operasi mencakup persiapan

fisik dan mental, menurut Sjamsuhidajat, Prasetyono, dan Riwanto

(2017).

a. Persiapan fisik

Keadaan umum pasien, keseimbangan cairan dan elektrolit,

status nutrisi, puasa, kebersihan pribadi, dan pengosongan kandung

kemih adalah bagian dari perawatan yang harus diberikan pada

pasien sebelum operasi.

b. Persiapan mental

Pasien harus dipersiapkan secara mental untuk pembedahan

karena mereka selalu khawatir tentang penyuntikan, nyeri luka,

anestesi, dan kemungkinan cacat atau mati. Pendidikan kesehatan

dan dukungan sosial (support system) bergantung pada hubungan

yang baik antara penderita, keluarga, dan tenaga kesehatan..

(Sjamsuhidajat & Prasetyono, 2017).


C. Konsep Teori Kecemasan

1. Pengertian

Ansietas adalah suatu perasaan khawatir yang berlebihan dan

tidak jelas, juga merupakan suatu respons terhadap stimuli eksternal

maupun internal yang menimbulkan gejala emosional, kognitif, fisik,

dan tingkah laku. Ansietas dibedakan dengan rasa takut karena pada

rasa takut objeknya diketahui dengan jelas dan objek ini mengancam

kesejahteraan orang, sedangkan pada ansietas objeknya tidak

diketahui. Ansietas adalah suatu pengalaman yang dialami semua

orang (universal) seumur hidupnya. Ansietas mempunyai fungsi yang

positif karena dapat mendorong orang untuk mengambil tindakan

yang dapat menyelesaikan masalahnya. Ansietas normal apabila

proporsional dengan situasi dan akan hilang setelah situasi

diselesaikan dengan baik. (Mary et al., 2016)

Ansietas adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar

karena adanya ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu

respons. Sumber perasaan tidak santai tersebut tidak spesifik atau

tidak diketahui oleh individu. Ansietas dapat pula diterjemahkan

sebagai suatu perasaan takut akan terjadina sesuatu yang disebabkan

oleh antisipasi bahaya dan merupakan sinyal yang membantu individu

untuk bersiap mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman.

Adanya tuntutan, persaingan, serta bencana yang terjadi dalam


kehidupan dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan

psikologi. Salah satu dampak psikologis yaitu ansietas atau kecemasan

(Sutejo, 2022a)

Kecemasan atau dalam bahasa medis sering disebut dengan

ansietas. Ansietas adalah bentuk emosi serta adanya subyektifitas

individu akan adanya bahaya yang mengancam, dan membuat

individu waspada terhadap bahaya tersebut (PPNI, 2016)

Kecemasan merupakan modal individu untuk lebih semangat

dalam mencapai tujuan hidupnya, serta dapat mengganggu kestabilan

diri dan keseimbangan hidup jika kecemasan itu dalam kondisi normal

(Hayat, 2017). Adanya sesuatu yang mengancam sehingga membuat

individu merasa tidak nyaman sering disebut dengan ansietas.

Ansietas merupakan perasaan tidak nyaman timbul karena ancaman

dimana individu tidak dapat mengidentifikasi respon yang muncul

dalam dirinya. Waspada terhadap bahaya serta mempersiapkan diri

menjadi individu yang tangguh akan adanya tanda dan gejala yang

datang (Herdman, 2018). Kecemasan artinya adanya ancaman yang

nyata tetapi tidak tahu asalnya, dan hal in menghadirkan perasaan

takut akan situasi yang sedang berlangsung (Munandar, 2024)

2. Penyebab

a) Faktor Biologis
Pada dasarnya, kecemasan adalah respons alami tubuh

terhadap ancaman atau stres. Ketika kita merasa terancam, tubuh

kita memproduksi hormon stres seperti adrenalin dan kortisol, yang

memicu respons "fight or flight". Namun, pada beberapa

individu,sistem ini bisa menjadi terlalu aktif atau terlalu sensitif,

membuat mereka lebih rentan mengalami kecemasan meski dalam

situasi yang tidak menimbulkan ancaman nyata. Penelitian

menunjukkan bahwa faktor genetik juga memainkan peran penting.

Anak-anak dari orang tua yang mengalami gangguan kecemasan

memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan kondisi serupa,

menunjukkan adanya komponen biologis yang mendasari

kecemasan. Dr. Bessel van der Kolk dalam bukunya "The Body

Keeps the Score" menjelaskan bagaimana traura mempengaruhi

otak dan tubuh, dan bagaimana ini bisa memicu kecemasan.

Namun, pada beberapa orang, alarm ini bisa berbunyi meski hanya

ada sedikit asap atau bahkan tanpa asap sama sekali. Alarm ini bisa

menjadi lebih sensitif akibat pengalaman masa lalu yang traumatis,

genetik, atau lingkungan yang terus- menerus penuh tekanan.

b) Faktor fisiologis

Trauma masa kecil sering kali menjadi akar dari banyak

masalah kecemasan di masa dewasa. Pengalaman seperti

penyiksaan, pengabaian, atau kehilangan orang yang dicintai bisa

meninggalkan bekas yang mendalam pada psikologi seseorang.


Mekanisme pertahanan yang terbentuk selama masa kecil untuk

menghadapi trauma ini sering kali terbawa hingga dewasa dan

muncul dalam bentuk kecemasan. Misalnya, seseorang yang

pernah mengalami kehilangan tiba-tiba mungkin kan selalu merasa

cemas terhadap kemungkinan kehilangan lainnya di masa depan.

Pengalaman hidup lainnya, seperti tekanan akademis, masalah

keuangan, atau tekanan dari pekerjaan, juga dapat menyebabkan

kecemasan. Tekanan ini bisa menjadi kronis dan membuat

seseorang merasa terjebak dalam lingkaran kecemasan tanpa akhir.

Dr. Gabor Maté, seorang ahli dalam bidang trauma dan kecanduan,

menyoroti bahwa banyak dari kecemasan yang kita alami

sebenarnya adalah respons terhadap lingkungan yang tidak sehat

atau penuh tekanan. la mengajak kita untuk melihat kecemasan

bukan sebagai gangguan individu semata, tetapi sebagai gejala dari

masalah yang lebih besar dalam masyarakat kita.

c) Faktor lingkungan

Lingkungan tempat kita tumbuh dan hidup memainkan

peran besar dalam menentukan tingkat kecemasan kita.

Lingkungan yang penuh tekanan, seperti hidup di daerah yang

rawan kriminalitas atau bekerja di tempat yang penuh dengan stres,

bisa meningkatkan risiko kecemasan. Selain itu, perubahan besar

dalam hidup seperti pindah ke kota baru, pernikahan, perceraian,

atau kehilangan pekerjaan juga dapat memicu kecemasan. Semua


perubahan ini menuntut individu untuk beradaptasi dengan cepat,

dan ketidakmampuan untuk melakukannya bisa menyebabkan

kecemasan. Media massa juga tidak bisa diabaikan. Paparan terus-

menerus terhadap berita negatif atau menakutkan bisa membuat

seseorang merasa dunia adalah tempat yang penuh ancaman, yang

pada gilirannya meningkatkan tingkat kecemasan. Contoh- nya,

selama pandemi COVID-19, banyak orang mengalami peningkatan

kecemasan karena terus-menerus terpapar berita tentang

meningkatnya angka kasus dan kematian.

d) Faktor sosial

Interaksi sosial dan hubungan antarpribadi menliki

pengaruh yang besar terhadap kesehatan mental kita. Rasa

kesepian, isolasi, atau hubungan yang tidak sehat bisa menjadi

sumber utama kecemasan. Dalam masyarakat yang semakin

terhubung secara digital namun terputus secara emosional, banyak

individu merasa kesulitan membangun hubungan yang mendalam

dan bermakna, yang pada akhirnya menyebabkan kecemasan

sosial. Selain itu, tekanan sosial untuk mencapai standar tertentu

dalam hal penampilan, prestasi, atau status sosial juga bisa menjadi

pemicu kecemasan. Media sosial sering kali memperkuat tekanan

ini dengan memajang kehidupan "sempurna" orang lain, yang bisa

membuat seseorang merasa tidak cukup baik. Memahami penyebab

kecemasan adalah langkah penting dalam mengatasinya. Dengan


mengetahui akar dari kecemasan, kita bisa lebih mudah mencari

cara untuk mengatasi dan mengelola perasaan ini. Kecemasan

adalah hasil dari interaksi yang kompleks antara faktor biologis,

psikologis, lingkungan, dan sosial. Oleh karena itu, pendekatan

yang komprehensif dan holistik dalam mengatasi kecemasan

sangat diperlukan. Dengan demikian, kita bisa menemukan jalan

menuju kehidupan yang lebih tenang dan bahagia. (Triharyanto,

2024)

3. Patofisiologi Kecemasan

Sistem saraf pusat menerima rangsangan dari luar dan dalam,

seperti pengalaman masa lalu, untuk menciptakan persepsi ancaman.

Rangsangan ini diterima oleh panca indra dan direspon oleh sistem

saraf pusat, yang terdiri dari jalur cortex cerebri - sistem limbic

reticular activating - ke hypothalamus. Sistem ini memicu kelenjar

hipofise untuk mengeluarkan mediator hormonal yang berfokus pada

kelenjar adrenal yang menyebabkan tubuh menghirup banyak oksigen,

tekanan arteri meningkat, detak jantung, dan emdilatasi pupil.

Akibatnya, pembuluh darah perifer menyempit karena fungsi

reproduksi dan gastrointestinal, dan glukogenolisis meningkat ke

glukosa bebas, yang memberikan nutrisi untuk saraf pusat, otot, dan

jantung. Sistem saraf parasimpatis mengembalikan keadaan tubuh

normal ketika ancaman sudah tidak ada. Setelah itu, sistem saraf

simpatis akan beraksi lagi sampai ancaman hilang (Videbeck, 2010).


4. Tanda dan gejala

Kecemasan itu sendiri ditandai dengan perubahan-perubahan

fisik seperti meningkatnya frekuensi nadi dan pernapasan, gerakan-

gerakan tangan yang tidak terkontrol, telapak tangan yang lembab,

gelisah, menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang kali, sulit

tidur dan sering berkemih (Putri & Martin, 2023).

Tanda dan gejala kecemasan (takikardi, berkeringat,

hiperventilasi) perlu dikaji untuk membantu menentukan beratnya

masalah kecemasan.(Anipah et al., 2024)

a) Ansietas ringan

Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam

hidup sehari-hari sehingga menyebabkan sese- orang menjadi

waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Ansietas

menumbuhkan motivasi belajar serta menghasilkan

pertumbuhan dan kreativitas

b) Ansietas sedang

Ansietas sedang dapat membuat seseorang untuk

memusatkan perhatian pada hal penting dan menge-

sampingkan yang lain, sehingga seseorang mengalami

perhatian yang selektif, tetapi dapat melakukan sesuatu yang

lebih terarah.

c) Ansietas berat
Ansietas ini sangat mengurangi lahan persepsi seseorang.

Adanya kecenderungan untuk memusatkan pada sesuatu yang

terinci dan spesifik serta tidak dapat berpikir tentang hal lain.

Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan.

Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat

memusatkan pada suatu hal lain.(Sutejo, 2022)

4. Tingkat kecemasan

Menurut Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), skor kecemasan

terdiri atas :

a) Kurang dari 14 tidak ada kecemasan

b) Skor 14-20 kecemasan ringan

c) Skor 21-27 kecemasan sedang

d) Skor 28-41 kecemasan berat

e) Skor 42-52 kecemasaan berat sekali

Ansietas memiliki tingkatan (Gail W. Stuart 2006, dalam Dona

2016) mengemukakan tingkat ansietas, diantaranya:

a) Kecemasan ringan

Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari,

ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan

meningkatkan pandangan persepsinya. Ansietas ini dapat


memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta

kreativitas individu.

b) Kecemasan sedang

Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting

dan mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit

pandangan persepsi individu. Dengan demikian, individu

mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat berfokus

pada banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.

c) Kecemasan berat

Sangat mengurangi pandangan persepsi individu. Individu

cenderung berfokus pada sesuatu bagian yang kecil dan spesifik

serta tidak berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan

untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan

banyak arahan untuk berfokus pada area lain.

d) Tingkat panik

Berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror.

Terpecah dari keseimbangan karena mengalami kehilangan

kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu

melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik mencakup

disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan

aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan

dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan

pemikiran yang rasional. (Rambe, 2023).


5. Cara mengukur Tingkat kecemasan

a. Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)

Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) merupakan alat ukur

untuk mengukur kecemasan. HARS telah terbukti efektif dan

cukup handaluntuk mengukur kecemasan dalam uji klinis

dengan nilai validitas danreliabilitas sebesar 0,93 dan 0,97.

Keadaan ini menunjukkan bahwamenggunakan skala HARS

untuk mengukur kecemasan akanmemperoleh hasil yang efektif

dan dapat diandalkan. Alat ukur terdiridari 14 kelompok gejala,

masing-masing kelompok gejala lebih rinci danmemiliki gejala

yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberikan

sebagai berikut (Umairo & Ayuanda, 2023) dalam (Hidayat

2007).

1) Perasaan cemas (ansietas) yang ditemui dengan gejala

perasaan cemas, ketakutan akan pikiran sendiri, memiliki

firasat buruk, dan mudah tersinggung.

2) Ketegangan yang ditemui dengan gejala merasa lesu, tegang,

istirahat tidak tenak tenang, mudah terkejut, gemetar, mudah

menangis, gelisah.

3) Ketakutan yang ditemui dengan gejala takut pada hal-hal

gelap, takut pada orang asing, takut ditinggal sendiri, takut

pada keramaian lalu lintas, takut pada kerumunan orang

banyak, takut pada binatang besar.


4) Gangguan tidur yang ditemui dengan gejala sulit untuk tidur,

terbangun pada malam hari, tidur tidak nyenyak, bangun

dengan lesu, banyak mimpi- mimpi, mimpi buruk dan mimpi

menakutkan

5) Gangguan kecerdasan yang ditemui dengan gejala sulit

berkonsentrasi, mudah lupa (daya ingat buruk).Perasaan

depresi yang ditemui dengan gejala kehilangan minat

untukmelakukan ses

6) uatu, sedih, berkurangnya kesenangan pada Mobi,bangun dini

hari, perasaan berubah sepanjang hari.

7) Gejala somatik yang ditemui dengan gejala nyeri otot,

kedutan ototkaku, gigi gemerutuk, suara tidak stabil.

8) Gejala sensorik yang ditemui dengan gejala tinitus, muka

merah dan pucat, penglihatan buram/kabur, merasa lemah,

perasaan seperti ditusuk-tusuk.

9) Gejala kardiovaskuler yang ditemui dengan gejala denyut

jantung cepat (takikardia), berdebar-debar, denyut nadi

mengeras, nyeri dada, rasa lesu/lemas seperti mau pingsan,

detak jantung menghilang atau berhenti sekejap.

10) Gejala pernapasan yang ditemui dengan gejala tertekan atau

sempit di dada, merasa napas pendek/sesak, perasaan

tercekik, dan sering menarik napas panjang.


11) Gejala gastrointestinal yang ditemui dengan gejala sulit

menelan, mual, gangguan pencernaan, perut melilit, nyeri

lambung, perut terasa panas, perut kembung atau penuh,

muntah, buang air besar lembek, sulit buang air besar

(konstipasi) dan kehilangan berat Badan

12) Gejala urogenital yang ditemui dengan gejala sering buang

air kecil, tidak dapat menahan kencing, tidak haid, darah haid

banyak/sedikit, masa haid lama/pendek, haid beberapa kali

dalam sebulan

13) Gejala otonom yang ditemui dengan gejala mulut kering,

mudah berkeringat, muka merah, sakit kepala, pusing, kepala

terasa berat,bulu bulu berdiri.

14) Perilaku sewaktu wawancara kang ditemui dengan gejala

gelisah, jari gemetar, tidak tenang, mengerutkan kening atau

dahi, tonus otot meningkat, muka tegang, napas pendek dan

cepat, dan muka terlihat marah (Umairo & Ayuanda, 2023).

6. Penatalaksanaan mengatasi kecemasan

Terdapat dua cara mengatasi kecemasan yaitu secara farmakologi

dan nonfarmakologi.

a. Farmakologi

Pasien yang mengalami kecemasan pra operasi sering

diberikan terapi farmakologi untuk menurunkan kecemasan

yang dirasakan. Obatobatan yang diberikan tidak sedikit


memberikan efek negatif pada tubuh pasien, seperti rasa kantuk

dan depresi pernapasan yang dengan hal tersebut dapat

menghambat fase pemulihan pasca operasi. Intervensi

nonfarmakologi juga dapat diberikan pada pasien yang

mengalami kecemasan pra operasi.

b. Non farmakologi

Intervensi non farmakologi dapat berupa pendidikan

kesehatan untuk menjelaskan proses yang akan terjadi sebelum

hingga setelah operasi serta memberikan teknik relaksasi untuk

dapat menurunkan kecemasan pasien. (Brand, Munroe and

Gavin, 2013 dalam Pefbrianti et al., 2018).

1) Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan

kecemasan dengan cara mengalihkan perhatian pada hal-hal

lain sehingga pasien akan lupa terhadap cemas yang

dialami. Stimulus sensori yang menyenangkan

dmenyebabkan pelepasan endorfin yang bisa menghambat

stimulus cemas yang mengakibatkan lebih sedikit stimuli

cemas yang ditransmisikan ke otak (Potter & Perry, 2005)

2) Terapi relaksasi napas dalam menggunakan teknik napas

dalam untuk mengurangi tanda dan gejala ketidaknyamanan

seperti nyeri, ketegangan otot, atau kecemasan (SPO PPNI,

2021) Terapi relaksasi yang dilakukan dapat berupa

relaksasi, meditasi, relaksasi imajinasi dan visualisasi serta


relaksasi progresif (Isaacs, 2005) Relaksasi napas dalam

adalah salah satu teknik dalam terapi perilaku yang

dikembangkan oleh Jacobson dan Wolpe untuk mengurangi

ketegangan dan kecemasan. Dari sudut pandang ilmiah

relaksasi merupakan 2 perpanjangan serabut otot skeletal,

sedangkan ketegangan merupakan kontraksi terhadap

perpindahan serabut otot (Ramadhani dan Adhiyos, 2011:1)

7. Pengaruh cemas terhadap pasien pasien pre-operasi

a. Dampak Psikologis dan Fisiologis: Kecemasan dapat

menyebabkan stres psikologis yang berlebihan, yang berpotensi

mengganggu proses pembedahan. Pasien yang mengalami

kecemasan tinggi mungkin menunjukkan reaksi fisiologis

seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, yang

dapat mempersulit tindakan medis.

b. Risiko Penundaan Operasi: Kecemasan yang tidak terkelola

dapat menyebabkan penundaan dalam jadwal operasi. Hal ini

sering kali terjadi ketika pasien merasa tidak siap secara mental

untuk menjalani prosedur. (Azizatul Baderiyah, Joko Pitoyo,

2022)
8. Komplikasi

anda dan gejala kecemasan (takikardi, berkeringat, hiperventilasi)

perlu dikaji untuk membantu menentukan beratnya masalah

kecemasan.

a) penyalahgunaan zat,

b) sulit tidur (insomnia),

c) masalah pencernaan atau usus,

d) sakit kepala,

e) menyendiri dari lingkungan sosial,

f) tidak dapat bekerja dengan baik,

g) kualitas hidup yang buruk.

h) pikiran untuk menyakiti diri sendiri (dr. Anton Tanjung, 2023)

D. Konsep terapi relaksasi napas dalam

1. Pengertian

Terapi relaksasi napas dalam merupakan suatu bentuk asuhan

keperawatan, yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien

bagaimana cara melakukan napas dalam, napas dalam(menahan

inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas

secara perlahan, selain dapat menurunkan intensitas nyeri, tehnik

relaksasi napas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan

meningkatkan oksigenasi darah.(Waluyo Joko, 2019)

2. Prosedur
Berikut prosedur terapi relaksasi napas dalam :

a. Identifikasi pasien menggunakan minimal dua identitas (nama

lengkap, tanggal lahir, dan/atau nomor rekam medis)

b. Jelaskan tujuan dan langkah-langkah prosedur

c. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan: sarung tangan bersih, jika

perlu, Kursi dengan sandaran, jika pertu dan bantal

d. Lakukan kebersihan tangan 6 largkah

e. Pasang sarung tangan, jika perlu

f. Tempatkan pasien di tempat yang tenang dan nyaman

g. Ciplakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan

pencahayaan dan suhu ruang nyama, jika memungkinkan

h. Berikan posisi yang nyaman (misal dengan duduk bersandar atau

tidur Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi

i. Latih melakukan teknik napas dalam.

1) Anjurkan tutup mata dan konsentrasi penuh

2) Ajarkan melakukan inspirasi dengan menghirup udara melalui

hidung secara perlahan

3) Ajarkan melakukan ekspirasi dengan menghembuskan udara

dengan cara mulut mencucu secara perlahanDemonstrasikan

menarik napas selama 4 detik, menahan napas selama 2 detik

dan menghembuskan napas selama 8 datik

j. Monitor respons pasien selama dilakukan prosedur

k. Rapikan pasien dan alat-alat yang digunakan


l. Lepaskan sarung tangan

m. Lakukan kebersihan tangan 5 langkah

E. Konsep asuhan keperawatan pre operasi

1. Pengkajian

Pengkajian sebagai tahap awal proses keperawatan meliputi

pengumpulan data,analisis data, dan perumusan masalah pasien. Data

yang dikumpulkan adalah data pasien secara holistik, meliputi aspek

biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Seorang perawat jiwa

diharapkan memiliki kesadaran atau kemampuan dari titik diri (self

awareness), kemampuan mengobservasi dengan akurat, berkomunikasi

secara traupetik dan kemampuan berespon secara efektif. Hubungan

saling percaya antara perawat dengan pasien akan memudahkan

perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Oleh karenanya,

dapat membantu pasien dalam menyelesaikan masalah sesuai

kemampuan yang dimilikinya(Yusuf, A.H & , R & Nihayati, 2015).

Secara lebih terstruktur pengkajian kesehatan jiwa meliputi :

a. Identitas pasien

b. Keluhan utama/alasan masuk

c. Faktor predisposisi

d. Aspek fisik/biologis

e. Aspek psikososial

f. Status mental
g. Mekanisme koping

h. Masalah psikosisial dan lingkungan

i. Pengetahuan

j. Aspek medis

2. Diagnosa Keperawatan

Ansietas (kecemasan) (D.0080) berhubungan dengan kekhawatiran

mengalami kegagalan.

3. Intervensi

Intervensi yang akan dilakukan adalah terapi relaksasi napas

dalam, dengan luaran utama tingkat ansietas menurun dan kriteria

hasil:

a. Kebingungan verbalisasi menurun

b. Verbalisasi kekhawatiran akibat kondisi yang dihadapi menurun

c. Perilaku gelisah menurun

d. Perilaku tegang menurun

e. Fokus pada peningkatan

f. Pola tidur membaik

4. Implementasi Keperawatan

Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang

dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status

kesehatan yang dihadapi ke status kesehatan yang baik yang


menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Ns. Sutejo, [Link].,

2018).

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian

proses keperawatan yang berguna untuk mengetahui apakah tujuan

dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau perlu

pendekatan lain. Evaluasi keperawatan mengukur keberhasilan dari

rencana dan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan dalam

memenuhi kebutuhan pasien. (Dinarti, 2017) Evaluasi keperawatan

menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dengan skor 14-

20 kecemasan ringan, skor 21-27 kecemasan sedang, skor 28-41

kecemasan berat dan skor 42-52 kecemasaan berat sekali


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis/desain/rancangan/studi kasus

Metode penelitian ini menggunakan studi kasus general yaitu

untuk implementasi relaksasi napas dalam terhadap tingkat kecemasan

pada pasien pre-operasi

B. Subjek penelitian

Subjek dalam penelitian ini adalah seorang pasien yang

direncanakan dilakukan operasi di Ruang Edelweis RSUD Mokopido

Tolitoli

C. Fokus studi
Fokus studi kasus dalam penelitian ini yaitu implementasi relaksasi

napas dalam untuk mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre-

operasi yaitu kecemasan ringan, sedang dan berat di Ruang Edelweis

RSUD Mokopido Tolitoli

D. Definisi operasional

Definisi operasional dalam penelitian ini adalah melakukan asuhan

keperawatan pada pasien pre operasi pada tahap pengkajian, diagnosa

keperawatan, intervensi, implementasi serta evaluasi keperawatan sebagai

berikut :

1. Pengkajian

Pengkajian keperawatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

melaksanakan pengkajian pada pasien cemas dengan menggunakan

skala pada pasien pre operasi di ruangan Edelweis RSUD Mokopido

Tolitoli menggunakan pengkajian terfokus.

2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah

merumuskan diagnosa keperawatan yaitu ansietas (kecemasan) ringan

sampai pasien pre operasi.

3. Intervensi

Intervensi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah implementasi

terapi relaksasi napas dalam pada pasien pre operasi yang mengalami

kecemasan.

4. Implementasi
Implementasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah melakukan

terapi relaksasi napas dalam pada pasien pre operasi untuk

menurunkan kecemasan.

5. Evaluasi

Evaluasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengevaluasi

Tindakan menurunkan kecemasan dengan terapi relaksasi napas dalam

dan diukur kembali menggunakan HARS.

E. Instrumen studi kasus

Instrumen yang digunakan dalam studi kasus ini adalah format

kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang terdiri dari 14 item

yaitu perasaan cemas (ansietas), ketegangan, kekuatan, gangguan tidur,

gangguan kecerdasan, perasaan depresi, gejala somatik, fisik/sensorik,

gejala kardiovaskular, gejala respiratorik, gejala gastrointestinal, gejala

urogenetalia, gejala otonom, dan tingkah laku saat wawancara. Skor akhir

pada format kuesioner diklasifikasikan dengan skor kurang dari 14 tidak

ada kecemasan, skor 14-20 kecemasan ringan, skor 21-27 kecemasan

sedang, skor 28-41 kecemasan berat, dan skor 42-52 kecemasaan berat

sekali.

F. Metode pengumpulan data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam studi kasus ini yaitu

dengan cara :

1. Wawancara, dilakukan untuk mendapatkan data mengenai identitas

pasien, keluhan utama dan riwayat penyakit sekarang.


2. Observasi yang dilakukan pada penelitian ini meliputi keadaan umum,

tanda-tanda vital (TTV) yang terdiri dari pengukuran tekanan darah,

nadi, pernapasan dan suhu tubuh.

G. Langkah-langkah Pelaksanaan Studi Kasus

Adapun langkah-langkah studi kasus yang akan di teliti yaitu sebagai

berikut:

1. Mengurus permohonan izin penelitian ke Direktur Poltekkes

Kemenkes Palu

2. Mengurus surat permintaan data awal ke RSUD Mokopido Tolitol

3. Pengajuan Informed consent kepada pasien pre operasi dengan

kecemasan

4. Pengumpulan data awal (pengkajian terfokus) mengenai data

responden pre operasi

5. Perumusan diagnosa sesuai data yang di dapatkan dari pengkajian

terfokus

6. Penyusunan intervensi sesuai dengan diagnose yang muncul

7. Memberikan implementasi terapi relaksasi napas dalam di ruangan

Edelweis bersama perawat Rumah Sakit yang bertugas saat itu

8. Melakukan evaluasi setelah pemberian terapi relaksasi napas dalam

H. Lokasi dan pelaksaan studi kasus

Penelitian ini akan laksanakan di Ruangan Edelweis RSUD

Mokopido Tolitoli pada bulan Januari sampai Februari 2025.

I. Analisa data dan penyajian data


Dalam penelitian ini, data dianalisa menggunakan asuhan keperawatan

dengan pendekatan PES khusus tingkat kecemasan pada pasien pre operasi

menggunakan HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale)

J. Etika studi kasus

1. Tidak membahayakan atau mengganggu kenyamanan.

Penelitian harus memperhatikan tentang hal-hal yang dapat

membahayakan atau mengganggu kenyamanan pasien maupun peneliti

itu sendiri.

2. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human

dignity). Peneliti menjaga hak responden untuk merasakan informasi

terkait dengan penelitian bebas dari paksaan dan berpartisipasi secara

sukarela dengan menandatangani lembar persetujuan responden.

Penelitian ini tidak memaksa responden untuk berpartisipasi dalam

studi kasus ini dan menjamin kerahasian informasi

[Link] responden menggunakan inisial

3. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek penelitian (respect for

privacy and confidentiality).

Peneliti akan memberikan akibat terbukanya informasi individu,

termasuk informasi yang bersifat pribadi. Tidak semua orang

menginginkan informasınya diketahui orang lain, sehingga peneliti

perlu memperhatikan privasi dan kebebasan. Peneliti tidak boleh.

menampikan identitas responden, baik nama maupun alamat, dalam


kuisioner peneliti menggunakan koding/inisial atau nomor identitas

klien.

DAFTAR PUSTAKA

Anipah, A., Azhari, N. K., Anggarawati, T., Febrianti, D., Kusumawati, H.,
Sukamti, N., Suratmiti, N. N., Tatisina, C. M., Widodo, Y. P., & Wibowo, N.
Y. (2024). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. PT. Sonpedia Publishing
Indonesia. [Link]
Ashanti, kartika arum. (2015). Estimasi perhitungan biaya satuan pada prosedur
pelayanan persalinan metode sectio caesarea studi kasus RSUD
panembangan Senopati Bantul Tahun 2015. 1–23.
Asmadi, 2013. (1967). Manajemen Non Farmakologis Terhadap Penurunan
Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi : Literature Review.
Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 5–24.
Azizatul Baderiyah, Joko Pitoyo, A. S. (2022). Pengaruh Hand Massage
Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Pada Pembedahan
Elektif. [Link]
MASSAGE-TERHADAP-TINGKAT-KECEMASAN-Baderiyah-Pitoyo/
75790847654094bfd722744e986ef0 6c56dba4c3
dr. Anton Tanjung, N. V. L. (2023). 41 Penyakit Yang Perlu Kita Kenali Sebelum
Menemui Dokter. Elex Media Komputindo.
[Link]
Haris Widodo, S. K. N. M. K. (2024). MANAJEMEN DASAR KAMAR OPERASI:
dengan Pendekatan Evidence Based Practice. Penerbit Andi.
[Link]
Hasanah N. (2017). Hubungan Pengetahuan Pasien Tentang Informasi Pre
Operasi Dengan Kecemasan Pasien Pre Operasi. Jurnal Ilmiah Kesehatan,
6(1), 48–54. [Link]
Mary, B., Mari, D. wilfried, & Anastasia, M. (2016). No Title kesehatan mental
psikiatri.
Mastuty, A., Yulandasari, V., Asmawariza, L. H., Wiresanta, L., & Suhamdani, H.
(2022). Pengaruh Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi di
Ruang IBS (Instalasi Bedah Sentral) RSUD Praya. Jurnal Kesehatan
Qamarul Huda, 10(1), 123–127.
[Link]
Mokopido, profil rumah sakit. (2024). No Title. 1.
Munandar, A. (2024). No Title keperawatan psikologis dan jiwa.
PPNI, T. P. S. D. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SDKI).
PPNI, 1 (2).
Putri, S. B., & Martin, W. (2023). Faktor Internal Dan Eksternal Yang
Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre-Operasi Mayor Di
Ruang Rawat Inap Bedah. Nan Tongga Health And Nursing, 14(1), 60–67.
[Link]
Ramadhan, D., Faizal, K. M., & Fitri, N. (2023). Pengaruh Konseling dengan
Pendekatan, Thinking, Feeling dan Acting (TFA) terhadap Tekanan Darah
pada Pasien Pre Operasi. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 5(2), 637–
644. [Link]
Rambe, M. I. T. O. (2023). Efektivitas terapi hipnosis lima jari terhadap ansietas
klien hipertensi di desa gunungtua julu kabupaten padang lawas utara.
Sari, I. Y. K., Sriningsih, N., & Pratiwi, A. (2022). Pengaruh Relaksasi Benson
Terhadap Pasien Pre Operasi Di RSUD Kab Tangerang. Jurnal Ilmu
Kedokteran Dan Kesehatan Indonesia, 2(2), 45–54.
[Link]
Setiani, D. (2017). Identifikasi Tingkat Kecemasan Pre Operasi Pasien Fraktur di
Ruang Aster dan Cempaka RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
Jurnal Ilmu Kesehatan, 5(2), 83–87. [Link]
Sjamsuhidajat, R., & Prasetyono, T. O. H. (2017). Buku Ajar Ilmu Bedah
Sjamsuhidajat-de Jong: Masalah, Pertimbangan Klinis Bedah, dan Metode
Pembedahan Vol. 1. EGC Penerbit Buku Kedokteran.
Sulastri, S., Trilianto, A. E., & Ermaneti, Y. (2019). Pengaruh Komunikasi
Terapeutik Perawat terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi.
Jurnal Keperawatan Profesional, 7(1). [Link]
Sutejo. (2022a). No Title keperawatan jiwa.
Sutejo. (2022b). No Title Keperawatan Jiwa.
Sutinah. (2019). Pengaruh Tehnik Distraksi Auditori Terhadap Tingkat
Kecemasan KlienPreoperasi Appendisitis. Jurnal Kesehatan Indonesia (The
Indonesian Journal of Health), Vol. X, No(Appendixitis, Anxiety Level,
Distraction), 11–16.
Triharyanto, B. (2024). Bebas dari Cemas: Mengubah Kecemasan Menjadi
Kebahagiaan. Kreatifa Prima. [Link]
id=18UZEQAAQBAJ
Videbeck, S. L. (2010). Psychiatric-mental health nursing. Lippincott Williams &
Wilkins.
Waluyo Joko, S. S. (2019). Pengaruh Teknik Relaksasi Napas Dalam Terhadap
Perubahan Sala Nyeri Sedang Pada Pasien Gastritis. Hilos Tensados, 1, 1–
476.
Wulandari. (2024). Keperawatan Medikal Bedah. Media Nusa Creative (MNC
Publishing). [Link]

Lampiran 1

SURAT PENGANTAR PERMINTAAN DATA AWAL


Lampiran 2

BUKTI PERMINTAAN DATA AWAL (RSUD MOKOPIDO TOLITOLI)


Lampiran 3

INFORMED CONSENT
Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa saya telah mendapat
penjelasan secara rinci dan telah mengerti mengenai penelitian yang akan
dilakukan oleh MUHAMMAD SAPRI [Link] dengan judul “Implementasi
Penerapan Terapi Relaksasi Napas Dalam Terhadap Kecemasan Pada Pasien Pre-
Oprasi di ruangan Edelweis RSUD Mokopido Tolitoli”. Saya memutuskan setuju
untuk ikut berpartisipasi pada penelitian ini secara sukarela tanpa paksaan. Bila
selama penelitian ini saya menginginkan untuk mengundurkan diri, maka saya
dapat mengundurkan sewaktu-waktu tanpa sanksi apapun.

…….,………….2024 …….,………….2024
Saksi Yang memberikan persetujuan

(………………………) (………………………)

Mengetahui
Peneliti

MUHAMMAD SAPRI [Link]


PO7247322036

Lampiran 4

PENGKAJIAN TERFOKUS
Tanggal Masuk RS : ………… Jam Masuk : ………………

Tanggal Pengkajian : ……………No. Register : ………………

Jam Pengkajian : …………………………..

IDENTITAS PASIEN

1. Nama : …………………………..

2. Umur : …………………………..

3. Suku/bangsa : …………………………..

4. Agama : …………………………..

5. Pendidikan : …………………………..

6. Pekerjaan : …………………………..

7. Alamat : …………………………..

8. Sumber biaya : …………………………..

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

Keluhan Utama :

………………………………………………………………………………………

………

Riwayat Penyakit Sekarang :

………………………………………………………………………………………

………

OBSERVASI
Keadaan Umum :

………………………………………………………………………………………

………

TTV :

TD : SB : RR: HR :

Pengukuran tingkat kecemasan menurut Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)

No Gejala kecemasan skor Kode


1 2 3 4
1 Perasaan cemas (ansietas)
Cemas

Firasat buruk

Takut akan pikiran sendiri

Mudah tersinggung
2 Ketegangan

Merasa tegang

Lesu

Tidak dapat beristirahat dengan tenang

Mudah terkejut

Mudah menangis

Gemetar

Gelisah

3 Ketakutan

Pada gelap

Pada orang asing

Ditinggal sendiri

Pada binatang besar

Pada keramaian lalu lintas

Pada kerumunan orang banyak


4 Gangguan tidur

Sukar mulai tidur

Terbangun malam hari

Tidur tidak nyenyak

Bangun dengan lesu

Banyak mimpi

Mimpi buruk

Mimpi menakutkan
5 Gangguan kecerdasan

Sukar berkonsentrasi
Daya ingat menurun

Daya ingat buruk


6 Perasaan depresi

Hilangnya minat

Berkurangnya kesenangan pada

hobi

Sedih

Bangun dini hari

Perasaan berubah-ubah sepan-

jang siang hari


7 Gejala somatik

Sakit dan nyeri otot

Kaku

Kedutan otot

Gigi gemeretuk

Suara tidak stabil


8 Gejala somatik (fisik/sensorik)

Tinitus/telinga berdenging

Penglihatan kabur

Muka merah/pucat

Merasa lelah

Perasaan ditusuk-tusuk
9 Gejala kardiovaskular

Takikardia

Berdebar-debar

Nyeri dada

* Denyut nadi mengeras

* Rasa lesu atau lemas seperti mau pingsan

Detak jantung terasa berhenti se- kejap


10 Gejala respiratori
Rasa tertekan di dada

Rasa tercekik

Sering menarik napas

Napas pendek/sesak
11 Gejala gastrointestinal

Sulit menelan

Perut melilit

Gangguan pencernaan

Nyeri sebelum dan sesudah ma- kan

Perasaan terbakar di perut

Rasa penuh/kembung

Mual

Muntah

BAB lembek

Sukar BAB (konstipasi)

Penurunan berat badan


12 Gejala urogenitalia

Sering BAK

Tidak dapat menahan kencing

Tidak haid

Darah haid berlebihan

Masa haid panjang

Masa haid pendek

Haid beberapa kali dalam sebulan

Frigid

Ejakulasi dini

Ereksi melemah

Ereksi hilang

Impotensi
13 Gejala otonom

1234

Mulut kering

Muka merah

Mudah berkeringat

Kepala pusing

Kepala terasa berat

Kepala terasa sakit

Bulu roma berdiri


14 Tingkah laku saat wawancara

Gelisah

Tidak tenang

Gemetar

Mengerutkan kening

Muka tegang

Otot tegang atau mengeras

Napas pendek dan cepat

Muka merah
Total skor
Sumber : Pedoman Riset Praktis untuk profesi perawat oleh Ns. Wasis, [Link].,
[Link]

Lampiran 6

LEMBAR KONSUL PROPOSAL

Anda mungkin juga menyukai