IMPLEMENTASI PENERAPAN TERAPI RELAKSASI NAPAS
DALAM TERHADAP KECEMASAN PADA PASIEN PRE-
OPERASI DI RUANG EDELWEIS RSUD MOKOPIDO
TOLITOLI
PROPOSAL PENELITIAN
Oleh
Muhammad Sapri [Link]
PO7247322036
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALU
JURUSAN KEPERAWATAN PRODI D-III
KEPERAWATAN TOLITOLI
2024
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
Proposal ini telah diperiksa dan disetujui oleh Pembimbing Poltekkes Kemenkes
Palu Prodi D-III Keperawatan Tolitoli
Nama : Muhammad Sapri [Link]
NIM : PO7247322036
Tolitoli, Desember 2024
Pembimbing I,
Dwi Yogyo, [Link]., Ns., [Link].
NIP. 19680205 199101 1 003
Tolitoli, Desember 2024
Pembimbing II,
Saman, [Link]., Ns., [Link].
NIP. 197010201991031008
Mengetahui,
Kaprodi D-III Keperawatan Tolitoli
Sova Evie Darame, [Link]., Ns., [Link].
NIP. 19790923 199903 2 001
LEMBAR PENGESAHAN TIM PENGUJI
Proposal ini telah diperiksa dan disetujui oleh Tim penguji Poltekkes
Kemenkes Palu
Nama :MUHAMMAD APRI [Link]
NIM : PO7247322036
Tolitoli, Desember 2024
. Penguji I
NIP.
Tolitoli, Desember 2024
Penguji II
NIP.
Tolitoli, Desember 2024
. Penguji III
NIP.
Mengetahui,
Plt. Direktur Poltekkes
Kemenkes Palu
Nurjaya, [Link], [Link].
NIP. 19710716 199403 2 002
Menyetujui,
Ketua Jurusan Keperawatan
Dr. Andi Fatmawati, Syamsu, [Link].,
Ns., Sp., [Link].
NIP. 19660424 198903 1 002
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat tuhan yang maha pengasih lagi maha
penyayang yang telah memberikan kita rahmat serta hidayah berupa nikmat iman
dan Kesehatan sehingga penulisan masih di berikan Kesempatan untuk
menyelesaikan proposal yang berjudul: “implementasiakan penerapan terapi
relaksasi napas dalam terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre-operasi di
Ruangan Edelweis RSUD Mokopido Tolitoli.” Sebagai salah satu pensyaratan
yang harus di penuhi dan tugas akhir dalam menyelesaikan Pendidikan di
poltekkes kemenkes palu prodi DIII keperawatan tolitoli
Pada kesempatan ini penulisan hendak menyampaikan upacara
terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dan motivasi.
Khususnya teruntuk kedua orang tua. Bapak Abdullah T. Yusup dan Ibu Ismani
[Link] yang telah memberikan banyak dukungan dan selalu mendoakan
dengan segala upaya dan pengorbanan sehingga penulisan sampai di tahap ini.
Penulis juga mengucapkan terimasih yang sebesar besarnya kepada
1. Ibu Nurjaya, [Link].,[Link] Plt. Direktur Poltekkes Kemenkespalu yang
telah memberikan kesempatan untuk menuntut ilmu di Poltekkes
Kemenkes Palu Prodi D3 Keperawatan Tolitoli
2. Ibu Dr. Andi Fatmawati [Link]., Ns.,[Link].,An ketua jurusan Poltekkes
Kemenkes Palu yang telah memberikan kesempatan untuk menuntut ilmu
di Poltekkes Kemenkes Palu jurusan keperawatan Prodi D3 Keperawatan
Tolitoli
3. Ibu Ns Sova Evie D. [Link].,M. Kep kaprodi yang telah memberikan izin
kepada penulisan utuk mengikuti Pendidikan di poltekkes kemenkes palu
prodi D3 keperawatan tolitoli
4. Bapak Dwi Yogyo. S,Kep .,NS.,M,Kep pembimbing I dan Bapak Saman
S,Kep.,Ns.,M,Kep selaku pembimbing II yang telah banyak membantu
memberikan saran dan mengarahkan penulisan dalam penyusunan
proposal penelitian ini
5. Seluruh dosen dan staf Poltekkes Kemenkes Palu prodi D3 Keperawatan
Tolitoli yang telah banyak membantu dalam proses perkuliahan
6. Kepada seluruh teman teman saya yang sudah banyak memberikan
dukungan dan motivasi agar menyelesaikan proposal penelitian ini tepat
waktu
7. Seluru teman teman Poltekkes Kemenkes Palu Prodi D3 Keperawatan
Tolitoli telah banyak membantu dan memberikan dukungan kepada saya
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan proposal ini banyak kekurangan dan
jauh dari kesempurnaan. Baik dari segi penulisan maupun dari tata bahasnya.
Maka dari segala kerendahan hati penulisan mengharapkan saran dan kritik
sertamasukan dari semua pihak demi kesempurnaan proposal ini
Tolitoli Desember 2024
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembedahan adalah tindakan medis dengan prosedur invasif yang
dilakukan untuk mencegah komplikasi atau menyelamatkan nyawa pasien.
Semua tindakan pengobatan yang menggunakan prosedur invasif dengan
tahapan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang ditangani disebut
Pembedahan atau operasi. (Asmadi, 1967). Tindakan pembedahan
merupakan salah satu bentuk upaya terapi yang dapat mendatangkan
ancaman integritas tubuh dan jiwa seseorang. Pembedahan yang
direncanakan dapat menimbulkan respon fisiologis maupun psikologi pada
pasien. Respon psikologis yang biasanya terjadi pada pasien pre-operasi
adalah kecemasan.(Hasanah N., 2017).
Berdasarkan direncanakan atau tidaknya, pembedaahan terbagi
menjadi 2, yaitu pembedahan elektif dan darurat. Pembedahan elektif
adalah pembedahan yang terencana dengan persiapan matang dimana
operasi dilakukan dengan kondisi umum pasien yang baik, dan melewati
proses penjadwalan terlebih dahulu. Sedangkan pembedahan darurat
adalah pembedahan yang memerlukan perawatan segera (Rosdahl, 2012).
Menurut tingkat pembedahannya, dibedakan menjadi 2, yaitu bedah minor
dan bedah mayor. Bedah minor adalah operasi yang dilakukan tanpa risiko
yang besar dengan lokasi yang lebih kecil (Asmadi, 1967) sedangkan
operasi yang memasuki dan menunjukkan semua rongga tubuh, seperti
pembedahan tengkorak atau tulang, atau kerusakan yang signifikan pada
anatomi atau fungsi faal, disebut pembedahan mayor atau operasi besar.
(Asmadi, 1967). Tindakan pembedahan akan menimbulkan reaksi fisik
dan psikis, reaksi psikis salah satunya adalah kecemasan atau ketakutan.
(Sutinah, 2019). Kecemasan biasanya berhubungan dengan segala macam
prosedur asing yang harus dijalani pasien dan juga ancaman terhadap
keselamatan jiwa akibat prosedur pembedahan dan tindakan pembiusan.
(Sulastri et al., 2019). Kondisi emosional pasien akan mempengaruhi
fungsi tubuh pasien pre-operasi, kecemasan harus mendapat perhatian dan
intervensi keperawatan segera. Jika tidak ditangani dengan cepat,
kecemasan akan menyebabkan masalah dan mengganggu proses operasi
atau mungkin gagal (Sari et al., 2022).
World Health Organization (WHO), tahun 2020 menyatakan
bahwa jumlah klien yang menjalani tindakan operasi meningkat secara
signifikan setiap tahun sekitar 165 juta operasi dilakukan di seluruh dunia
setiap tahun. (Ramadhan et al., 2023). Rumah Sakit di seluruh dunia
tercatat menerima 140 juta pasien pada tahun 2017 Namun pada tahun
2019, jumlah tersebut meningkat menjadi 148 juta pasien, dengan 1,2 juta
pasien di Indonesia. Menurut data dari Rekam Medik RSUD Undata
Provinsi Sulawesi Tengah, kasus stenosis ureter terjadi pada tahun 2021
sebanyak 39 kasus, dan pada tahun 2022 sebanyak 64 kasus. Namun, pada
tahun 2023, selama 7 bulan terakhir, dari Januari hingga Juli, terjadi
penurunan kasus stenosis ureter sebanyak 29 kasus. Dari data di Rumah
Sakit Umum Mokopido Tolitoli mendapatkan bahwa pada tahun 2021
terdapat 385 kasus bedah, dari 385 kasus bedah 1 oprasi khusus, 308
oprasi besar dan 76 oprasi sedang. Pada tahun 2022 terdapat 546 kasus
bedah, dari 546 kasus bedah 460 oprasi besar dan 86 oprasi sedang. Pada
tahun 2023 terdapat 625 kasus bedah dari 625 kasus bedah 342 oprasi
besar, 266 oprasi sedang dan 17 oprasi kecil. (Mokopido, 2024). Setelah di
lakukan wawancara oleh peneliti kepada salah 1 perawat dan juga ke 5
pasien dan keluarga pasien yang berada di ruangan edelweis, di dapatkan
bahwa kelimanya mengalami kecemasan pada saat sebelum operasi, dan
pernah di lakukan upaya teknik relaksasi napas dalam namun tidak sesuai
SOP (RSUD Mokopido Tolitoli,2024).
Ansietas merupakan perasaan khawatir yang berlebihan terhadap
bahaya yang mengancam dan disebabkan factor biologis,fisiologis,
lingkungan dan [Link] saraf pusat menerima rangsangan dari luar
dan dalam menuju hipotalamus yang berfokus pada kelenjar adrenal yang
menghasilkan hormone [Link] ini menyebabkan tubuh
mengalami kondisi seperti tekanan darah dan nadi meningkat, sehingga
timbul kewaspadaan yang berujung pada ansietas atau kecemasan
(Videbeck,2010).
Untuk mengatasi kecemasan, dapat diberikan tindakan medis dan
perawat. Menurut (PPNI, 2018) peran perawat untuk membantu pasien
sebelum dan setelah operasi yaitu dengan melakukan relaksasi, distraksi,
meditasi, dan imajinasi. Teknik relaksasi napas dalam adalah teknik
relaksasi yang paling populer untuk mengurangi kecemasan pasien pre-
operasi karena lebih mudah dipelajari dan digunakan oleh pasien nantinya.
Selain itu, terapi napas dalam memiliki banyak keuntungan, termasuk
waktu dan biaya yang lebih sedikit yang dihabiskan untuk
menggunakannya dibandingkan dengan metode relaksasi lainnya. Dalam
menghadapi ketakutan dan kecemasan pasien pre dan post operasi,
kepercayaan spiritual memiliki peranan penting dengan ditingkatkannya
pemberian mutu pelayanan kesehatan terutama dalam pemberian asuhan
keperawatan pada aspek spiritual merupakan upaya untuk menurunkan
tingkat kecemasan pada pasien dirumah sakit(Mastuty et al., 2022).
Menurut penelitian yang dilakukan Setiani (2017), bahwa kecemasan
setelah terapi relaksasi napas dalam berbeda pada pasien yang menjalani
oprasi abdomen. Penelitian lain dilakukan oleh Setiani, (2017)
menunjukkan bahwa terapi relaksasi napas dalam menurunkan tingkat
kecemasan pasien sebelum operasi bedah abdomen di Ruang Bedah
RSUD Jendral Ahmad Yani Metro.
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk
melakukan penelitian dengan judul”Implementasi Penerapan Terapi
Relaksasi Napas Dalam Terhadap Kecemasan Pada Pasien Pre-Oprasi Di
Ruang Edelweis RSUD Mokopido Tolitoli”.
B. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang di atas maka rumusan masalah
penelitian ini yaitu “mengimplementasiakan penerapan terapi relaksasi
napas dalam terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre-operasi di
Ruangan Edelweis RSUD Mokopido Tolitoli”
C. Tujuan penelitian
Untuk mengimplementasiakan penerapan terapi relaksasi napas
dalam terhadap tingkat kecemasan pada pasien pre-operasi di Ruangan
Edelweis RSUD Mokopido Tolitoli
D. Manfaat penelitian
1. Bagi pelayanan
Hasil penelitian ini dapat di tujukan salah satu reverensi bagi
petugas kesehatan yang ada di RSUD Mokopido Tolitoli
khususnya yang ada di Ruang Edelweis dalam peng
implementasian latihan batuk efektif Sebagai proses penyembuhan
pasien
2. Bagi institusi
Sebagai bahan informasi serta referensi bagi Prodi DIII
keperawatan Tolitoli untik menambah wawasan serta untuk
mengembangkan ilmu bagi pembaca
3. Bagi peneliti
Untuk menambah pengetahuan serta pengalaman penelitian dalam
menerapkan ilmu selama mengikuti pendidikan akademi
keperawatan
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Pembedahan
1. Pengertian
Pembedahan atau operasi adalah semua tindak pengobatan dengan
menggunakan prosedur invasif, dengan tahapan membuka atau
menampilkan bagian tubuh yang ditangani. Pembukaan bagian tubuh
yang dilakukan tindakan pembedahan pada umumnya dilakukan
dengan membuat sayatan, setelah yang ditangani tampak, maka akan
dilakukan perbaikan dengan penutupan serta penjahitan luka
(Sjamsuhidayat & Jong, 2016)
2. Klasifikasi pembedahan
a. Menurut urgensinya, terdiri dari :
1) Emergency, yaitu operasi yang tidak direncanakan, dan harus
segera dilakukan untuk menyelematkan nyawa atau bagian
tubuh. Indikasi dilakukan pembedahan tanpa ditunda.
2) Urgen, yaitu operasi pada pasien tidak direncanakan,
memerlukan Tindakan segera agar intervensi tepat waktu untuk
menyelamatkan pasien yang membutuhkan perhatian segera
tetapi pembedahan dapat dilakukan dalam waktu 24-30 jam.
3) Diperlukan, yaitu operasi diperlukan pada saat tertentu.
4) Elektif, yaitu operasi yang terencana dengan persiapan yang
matang dan dilakukan dalam kondisi umum pasien yang baik.
b. Menurut tingkat operasinya, terdiri dari :
1) Operasi Minor, yaitu prosedur operasi tanpa resiko yang besar,
sering dilakukan dengan lokal anastesi. Contohnya: Insisi dan
drainase, implantasi akses vena menggunakan alat, biopsi otot.
2) Operasi Mayor, yaitu prosedur operasi dengan resiko besar,
lebih lama dan lebih luas dari prosedur minor. Contohnya :
penggantian katup mitral,transplantasi pankreas, diseksi KGB
Donna D. Ignatavicius (2010)
B. Konsep Pre operasi
1. Pengertian
Pre Operasi merupakan fase dimana perawat mempersiapkan
pasien untuk dilakukan tindakan pembedahan dengan tujuan untuk
menjamin keselamatan pasien [Link] pre operatif dimulai
ketika ada keputusan untuk dilakukanintervensi bedah dan diakhiri
ketika pasien dikirim ke meja [Link] aktivitas keperawatan
selama waktu tersebut dapatmencakup penetapan pengkajian dasar
pasien di tatanan klinikataupun rumah, wawancara pre operatif dan
menyiapkan pasienuntuk anastesi yang diberikan serta
pembedahan(Ashanti, 2015)
Pre operasi adalah tahap awal dari perawatan perioperatif yang
dimulai sejak pasien masuk di ruang terima pasien dan berakhir ketika
pasien dipindahkan ke meja operasi untuk melakukan pembedahan
(Wulandari, 2024)
2. Tindakan pre-operasi
a) Fase pre-operatif
Periode ini dimulai sejak ada keputusan dari pasien untuk
dilakukan tindakan pembedahan sampai pasien dibawa menuju unit
kamar operasi dan sebelum pasien menjalani prosedur
pembedahan, Kegiatan pada periode pre-operatif dapat dilakukan
di ruang perawatan atau di ruang persiapan/pre-medikasi untuk
kasus One Day Surgery. Persiapan pre-operatif di antaranya
meliputi puasa, mandi, pemberian marker, pemeriksaan
laboratorium, pengkajian pre- operatif, dan sebagainya.
b) Fase intra-operatif
Periode intra-operatur dimulai ketika pasien berada di meja
operasi dan berakhir ketika pasien dipindahkan ke ruang pulih
sadar/PACU (Post Anaesthesia Care Unit) atau pasien pulang pada
kasus One Day Surgery, Periode di mana prosedur operasi
dilakukan. Pada periode ini harus sudah dilakukan pengecekan
prosedur, lokasi insisi dan ketepatan pasien melalui penggunaan
ceklis keselamatan pasien operasi untuk memastikan ketepatan
pasien, prosedur, dan lokasi pembedahan. Segala peralatan dan
bahan habis pakai seperti kasa, instrumen dan jarum telah dihitung
dan dicatat sebelumnya sebelum digunakan.
c) Post-operatif
Periode post-operatif adalah periode yang dimulai setelah
pasien menjalani prosedur operasi dan dipindahkan ke ruang
pemulihan sampai pasien pindah ke unit perawatan atau pulang
(one day surgery), Observasi post-operatif bisa menggunakan
Aldrete score atau brom age score untuk kriteria bahwa pasien
boleh dipindahkan ke unit perawatan jika kondisi pasien stabil atau
ke unit perawatan intensif jika memerlukan observasi lebih
lanjut(Haris Widodo, 2024)
Peran perawat dalam Sasaran Keselamatan Pasien pada fase
Sign in :
1) Perawat melakukan identifikasi pasien: apakah gelang pasien
sudah dipasang atau belum, apakah penandaan lokasi operasi
(site marking) sudah dilakukan atau belum, dan surat
persetujuan persetujuan operasi operasi dan pembiusan
pembiusan sudah dijelaskan dijelaskan dan ditandatangani oleh
pasien atau keluarga pasien atau belum.
2) Perawat menyiapkan dan melakukan pengecekkan mesin
anestesi dan obat – obat anestesi.
3) Perawat menyiapkan pulse oksimeter.
4) Perawat melakukan identifikasi pasien mengenai riwayat alergi
3. Persiapan pasien pre operasi
Untuk mengurangi faktor resiko yang disebabkan oleh
pembedahan, persiapan pasien sebelum operasi mencakup persiapan
fisik dan mental, menurut Sjamsuhidajat, Prasetyono, dan Riwanto
(2017).
a. Persiapan fisik
Keadaan umum pasien, keseimbangan cairan dan elektrolit,
status nutrisi, puasa, kebersihan pribadi, dan pengosongan kandung
kemih adalah bagian dari perawatan yang harus diberikan pada
pasien sebelum operasi.
b. Persiapan mental
Pasien harus dipersiapkan secara mental untuk pembedahan
karena mereka selalu khawatir tentang penyuntikan, nyeri luka,
anestesi, dan kemungkinan cacat atau mati. Pendidikan kesehatan
dan dukungan sosial (support system) bergantung pada hubungan
yang baik antara penderita, keluarga, dan tenaga kesehatan..
(Sjamsuhidajat & Prasetyono, 2017).
C. Konsep Teori Kecemasan
1. Pengertian
Ansietas adalah suatu perasaan khawatir yang berlebihan dan
tidak jelas, juga merupakan suatu respons terhadap stimuli eksternal
maupun internal yang menimbulkan gejala emosional, kognitif, fisik,
dan tingkah laku. Ansietas dibedakan dengan rasa takut karena pada
rasa takut objeknya diketahui dengan jelas dan objek ini mengancam
kesejahteraan orang, sedangkan pada ansietas objeknya tidak
diketahui. Ansietas adalah suatu pengalaman yang dialami semua
orang (universal) seumur hidupnya. Ansietas mempunyai fungsi yang
positif karena dapat mendorong orang untuk mengambil tindakan
yang dapat menyelesaikan masalahnya. Ansietas normal apabila
proporsional dengan situasi dan akan hilang setelah situasi
diselesaikan dengan baik. (Mary et al., 2016)
Ansietas adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar
karena adanya ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu
respons. Sumber perasaan tidak santai tersebut tidak spesifik atau
tidak diketahui oleh individu. Ansietas dapat pula diterjemahkan
sebagai suatu perasaan takut akan terjadina sesuatu yang disebabkan
oleh antisipasi bahaya dan merupakan sinyal yang membantu individu
untuk bersiap mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman.
Adanya tuntutan, persaingan, serta bencana yang terjadi dalam
kehidupan dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan
psikologi. Salah satu dampak psikologis yaitu ansietas atau kecemasan
(Sutejo, 2022a)
Kecemasan atau dalam bahasa medis sering disebut dengan
ansietas. Ansietas adalah bentuk emosi serta adanya subyektifitas
individu akan adanya bahaya yang mengancam, dan membuat
individu waspada terhadap bahaya tersebut (PPNI, 2016)
Kecemasan merupakan modal individu untuk lebih semangat
dalam mencapai tujuan hidupnya, serta dapat mengganggu kestabilan
diri dan keseimbangan hidup jika kecemasan itu dalam kondisi normal
(Hayat, 2017). Adanya sesuatu yang mengancam sehingga membuat
individu merasa tidak nyaman sering disebut dengan ansietas.
Ansietas merupakan perasaan tidak nyaman timbul karena ancaman
dimana individu tidak dapat mengidentifikasi respon yang muncul
dalam dirinya. Waspada terhadap bahaya serta mempersiapkan diri
menjadi individu yang tangguh akan adanya tanda dan gejala yang
datang (Herdman, 2018). Kecemasan artinya adanya ancaman yang
nyata tetapi tidak tahu asalnya, dan hal in menghadirkan perasaan
takut akan situasi yang sedang berlangsung (Munandar, 2024)
2. Penyebab
a) Faktor Biologis
Pada dasarnya, kecemasan adalah respons alami tubuh
terhadap ancaman atau stres. Ketika kita merasa terancam, tubuh
kita memproduksi hormon stres seperti adrenalin dan kortisol, yang
memicu respons "fight or flight". Namun, pada beberapa
individu,sistem ini bisa menjadi terlalu aktif atau terlalu sensitif,
membuat mereka lebih rentan mengalami kecemasan meski dalam
situasi yang tidak menimbulkan ancaman nyata. Penelitian
menunjukkan bahwa faktor genetik juga memainkan peran penting.
Anak-anak dari orang tua yang mengalami gangguan kecemasan
memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan kondisi serupa,
menunjukkan adanya komponen biologis yang mendasari
kecemasan. Dr. Bessel van der Kolk dalam bukunya "The Body
Keeps the Score" menjelaskan bagaimana traura mempengaruhi
otak dan tubuh, dan bagaimana ini bisa memicu kecemasan.
Namun, pada beberapa orang, alarm ini bisa berbunyi meski hanya
ada sedikit asap atau bahkan tanpa asap sama sekali. Alarm ini bisa
menjadi lebih sensitif akibat pengalaman masa lalu yang traumatis,
genetik, atau lingkungan yang terus- menerus penuh tekanan.
b) Faktor fisiologis
Trauma masa kecil sering kali menjadi akar dari banyak
masalah kecemasan di masa dewasa. Pengalaman seperti
penyiksaan, pengabaian, atau kehilangan orang yang dicintai bisa
meninggalkan bekas yang mendalam pada psikologi seseorang.
Mekanisme pertahanan yang terbentuk selama masa kecil untuk
menghadapi trauma ini sering kali terbawa hingga dewasa dan
muncul dalam bentuk kecemasan. Misalnya, seseorang yang
pernah mengalami kehilangan tiba-tiba mungkin kan selalu merasa
cemas terhadap kemungkinan kehilangan lainnya di masa depan.
Pengalaman hidup lainnya, seperti tekanan akademis, masalah
keuangan, atau tekanan dari pekerjaan, juga dapat menyebabkan
kecemasan. Tekanan ini bisa menjadi kronis dan membuat
seseorang merasa terjebak dalam lingkaran kecemasan tanpa akhir.
Dr. Gabor Maté, seorang ahli dalam bidang trauma dan kecanduan,
menyoroti bahwa banyak dari kecemasan yang kita alami
sebenarnya adalah respons terhadap lingkungan yang tidak sehat
atau penuh tekanan. la mengajak kita untuk melihat kecemasan
bukan sebagai gangguan individu semata, tetapi sebagai gejala dari
masalah yang lebih besar dalam masyarakat kita.
c) Faktor lingkungan
Lingkungan tempat kita tumbuh dan hidup memainkan
peran besar dalam menentukan tingkat kecemasan kita.
Lingkungan yang penuh tekanan, seperti hidup di daerah yang
rawan kriminalitas atau bekerja di tempat yang penuh dengan stres,
bisa meningkatkan risiko kecemasan. Selain itu, perubahan besar
dalam hidup seperti pindah ke kota baru, pernikahan, perceraian,
atau kehilangan pekerjaan juga dapat memicu kecemasan. Semua
perubahan ini menuntut individu untuk beradaptasi dengan cepat,
dan ketidakmampuan untuk melakukannya bisa menyebabkan
kecemasan. Media massa juga tidak bisa diabaikan. Paparan terus-
menerus terhadap berita negatif atau menakutkan bisa membuat
seseorang merasa dunia adalah tempat yang penuh ancaman, yang
pada gilirannya meningkatkan tingkat kecemasan. Contoh- nya,
selama pandemi COVID-19, banyak orang mengalami peningkatan
kecemasan karena terus-menerus terpapar berita tentang
meningkatnya angka kasus dan kematian.
d) Faktor sosial
Interaksi sosial dan hubungan antarpribadi menliki
pengaruh yang besar terhadap kesehatan mental kita. Rasa
kesepian, isolasi, atau hubungan yang tidak sehat bisa menjadi
sumber utama kecemasan. Dalam masyarakat yang semakin
terhubung secara digital namun terputus secara emosional, banyak
individu merasa kesulitan membangun hubungan yang mendalam
dan bermakna, yang pada akhirnya menyebabkan kecemasan
sosial. Selain itu, tekanan sosial untuk mencapai standar tertentu
dalam hal penampilan, prestasi, atau status sosial juga bisa menjadi
pemicu kecemasan. Media sosial sering kali memperkuat tekanan
ini dengan memajang kehidupan "sempurna" orang lain, yang bisa
membuat seseorang merasa tidak cukup baik. Memahami penyebab
kecemasan adalah langkah penting dalam mengatasinya. Dengan
mengetahui akar dari kecemasan, kita bisa lebih mudah mencari
cara untuk mengatasi dan mengelola perasaan ini. Kecemasan
adalah hasil dari interaksi yang kompleks antara faktor biologis,
psikologis, lingkungan, dan sosial. Oleh karena itu, pendekatan
yang komprehensif dan holistik dalam mengatasi kecemasan
sangat diperlukan. Dengan demikian, kita bisa menemukan jalan
menuju kehidupan yang lebih tenang dan bahagia. (Triharyanto,
2024)
3. Patofisiologi Kecemasan
Sistem saraf pusat menerima rangsangan dari luar dan dalam,
seperti pengalaman masa lalu, untuk menciptakan persepsi ancaman.
Rangsangan ini diterima oleh panca indra dan direspon oleh sistem
saraf pusat, yang terdiri dari jalur cortex cerebri - sistem limbic
reticular activating - ke hypothalamus. Sistem ini memicu kelenjar
hipofise untuk mengeluarkan mediator hormonal yang berfokus pada
kelenjar adrenal yang menyebabkan tubuh menghirup banyak oksigen,
tekanan arteri meningkat, detak jantung, dan emdilatasi pupil.
Akibatnya, pembuluh darah perifer menyempit karena fungsi
reproduksi dan gastrointestinal, dan glukogenolisis meningkat ke
glukosa bebas, yang memberikan nutrisi untuk saraf pusat, otot, dan
jantung. Sistem saraf parasimpatis mengembalikan keadaan tubuh
normal ketika ancaman sudah tidak ada. Setelah itu, sistem saraf
simpatis akan beraksi lagi sampai ancaman hilang (Videbeck, 2010).
4. Tanda dan gejala
Kecemasan itu sendiri ditandai dengan perubahan-perubahan
fisik seperti meningkatnya frekuensi nadi dan pernapasan, gerakan-
gerakan tangan yang tidak terkontrol, telapak tangan yang lembab,
gelisah, menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang kali, sulit
tidur dan sering berkemih (Putri & Martin, 2023).
Tanda dan gejala kecemasan (takikardi, berkeringat,
hiperventilasi) perlu dikaji untuk membantu menentukan beratnya
masalah kecemasan.(Anipah et al., 2024)
a) Ansietas ringan
Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam
hidup sehari-hari sehingga menyebabkan sese- orang menjadi
waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Ansietas
menumbuhkan motivasi belajar serta menghasilkan
pertumbuhan dan kreativitas
b) Ansietas sedang
Ansietas sedang dapat membuat seseorang untuk
memusatkan perhatian pada hal penting dan menge-
sampingkan yang lain, sehingga seseorang mengalami
perhatian yang selektif, tetapi dapat melakukan sesuatu yang
lebih terarah.
c) Ansietas berat
Ansietas ini sangat mengurangi lahan persepsi seseorang.
Adanya kecenderungan untuk memusatkan pada sesuatu yang
terinci dan spesifik serta tidak dapat berpikir tentang hal lain.
Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan.
Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat
memusatkan pada suatu hal lain.(Sutejo, 2022)
4. Tingkat kecemasan
Menurut Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS), skor kecemasan
terdiri atas :
a) Kurang dari 14 tidak ada kecemasan
b) Skor 14-20 kecemasan ringan
c) Skor 21-27 kecemasan sedang
d) Skor 28-41 kecemasan berat
e) Skor 42-52 kecemasaan berat sekali
Ansietas memiliki tingkatan (Gail W. Stuart 2006, dalam Dona
2016) mengemukakan tingkat ansietas, diantaranya:
a) Kecemasan ringan
Berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari,
ansietas ini menyebabkan individu menjadi waspada dan
meningkatkan pandangan persepsinya. Ansietas ini dapat
memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan serta
kreativitas individu.
b) Kecemasan sedang
Memungkinkan individu untuk berfokus pada hal yang penting
dan mengesampingkan yang lain. Ansietas ini mempersempit
pandangan persepsi individu. Dengan demikian, individu
mengalami tidak perhatian yang selektif namun dapat berfokus
pada banyak area jika diarahkan untuk melakukannya.
c) Kecemasan berat
Sangat mengurangi pandangan persepsi individu. Individu
cenderung berfokus pada sesuatu bagian yang kecil dan spesifik
serta tidak berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan
untuk mengurangi ketegangan. Individu tersebut memerlukan
banyak arahan untuk berfokus pada area lain.
d) Tingkat panik
Berhubungan dengan terperangah, ketakutan, dan teror.
Terpecah dari keseimbangan karena mengalami kehilangan
kendali, individu yang mengalami panik tidak mampu
melakukan sesuatu walaupun dengan arahan. Panik mencakup
disorganisasi kepribadian dan menimbulkan peningkatan
aktivitas motorik, menurunnya kemampuan untuk berhubungan
dengan orang lain, persepsi yang menyimpang, dan kehilangan
pemikiran yang rasional. (Rambe, 2023).
5. Cara mengukur Tingkat kecemasan
a. Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)
Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) merupakan alat ukur
untuk mengukur kecemasan. HARS telah terbukti efektif dan
cukup handaluntuk mengukur kecemasan dalam uji klinis
dengan nilai validitas danreliabilitas sebesar 0,93 dan 0,97.
Keadaan ini menunjukkan bahwamenggunakan skala HARS
untuk mengukur kecemasan akanmemperoleh hasil yang efektif
dan dapat diandalkan. Alat ukur terdiridari 14 kelompok gejala,
masing-masing kelompok gejala lebih rinci danmemiliki gejala
yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberikan
sebagai berikut (Umairo & Ayuanda, 2023) dalam (Hidayat
2007).
1) Perasaan cemas (ansietas) yang ditemui dengan gejala
perasaan cemas, ketakutan akan pikiran sendiri, memiliki
firasat buruk, dan mudah tersinggung.
2) Ketegangan yang ditemui dengan gejala merasa lesu, tegang,
istirahat tidak tenak tenang, mudah terkejut, gemetar, mudah
menangis, gelisah.
3) Ketakutan yang ditemui dengan gejala takut pada hal-hal
gelap, takut pada orang asing, takut ditinggal sendiri, takut
pada keramaian lalu lintas, takut pada kerumunan orang
banyak, takut pada binatang besar.
4) Gangguan tidur yang ditemui dengan gejala sulit untuk tidur,
terbangun pada malam hari, tidur tidak nyenyak, bangun
dengan lesu, banyak mimpi- mimpi, mimpi buruk dan mimpi
menakutkan
5) Gangguan kecerdasan yang ditemui dengan gejala sulit
berkonsentrasi, mudah lupa (daya ingat buruk).Perasaan
depresi yang ditemui dengan gejala kehilangan minat
untukmelakukan ses
6) uatu, sedih, berkurangnya kesenangan pada Mobi,bangun dini
hari, perasaan berubah sepanjang hari.
7) Gejala somatik yang ditemui dengan gejala nyeri otot,
kedutan ototkaku, gigi gemerutuk, suara tidak stabil.
8) Gejala sensorik yang ditemui dengan gejala tinitus, muka
merah dan pucat, penglihatan buram/kabur, merasa lemah,
perasaan seperti ditusuk-tusuk.
9) Gejala kardiovaskuler yang ditemui dengan gejala denyut
jantung cepat (takikardia), berdebar-debar, denyut nadi
mengeras, nyeri dada, rasa lesu/lemas seperti mau pingsan,
detak jantung menghilang atau berhenti sekejap.
10) Gejala pernapasan yang ditemui dengan gejala tertekan atau
sempit di dada, merasa napas pendek/sesak, perasaan
tercekik, dan sering menarik napas panjang.
11) Gejala gastrointestinal yang ditemui dengan gejala sulit
menelan, mual, gangguan pencernaan, perut melilit, nyeri
lambung, perut terasa panas, perut kembung atau penuh,
muntah, buang air besar lembek, sulit buang air besar
(konstipasi) dan kehilangan berat Badan
12) Gejala urogenital yang ditemui dengan gejala sering buang
air kecil, tidak dapat menahan kencing, tidak haid, darah haid
banyak/sedikit, masa haid lama/pendek, haid beberapa kali
dalam sebulan
13) Gejala otonom yang ditemui dengan gejala mulut kering,
mudah berkeringat, muka merah, sakit kepala, pusing, kepala
terasa berat,bulu bulu berdiri.
14) Perilaku sewaktu wawancara kang ditemui dengan gejala
gelisah, jari gemetar, tidak tenang, mengerutkan kening atau
dahi, tonus otot meningkat, muka tegang, napas pendek dan
cepat, dan muka terlihat marah (Umairo & Ayuanda, 2023).
6. Penatalaksanaan mengatasi kecemasan
Terdapat dua cara mengatasi kecemasan yaitu secara farmakologi
dan nonfarmakologi.
a. Farmakologi
Pasien yang mengalami kecemasan pra operasi sering
diberikan terapi farmakologi untuk menurunkan kecemasan
yang dirasakan. Obatobatan yang diberikan tidak sedikit
memberikan efek negatif pada tubuh pasien, seperti rasa kantuk
dan depresi pernapasan yang dengan hal tersebut dapat
menghambat fase pemulihan pasca operasi. Intervensi
nonfarmakologi juga dapat diberikan pada pasien yang
mengalami kecemasan pra operasi.
b. Non farmakologi
Intervensi non farmakologi dapat berupa pendidikan
kesehatan untuk menjelaskan proses yang akan terjadi sebelum
hingga setelah operasi serta memberikan teknik relaksasi untuk
dapat menurunkan kecemasan pasien. (Brand, Munroe and
Gavin, 2013 dalam Pefbrianti et al., 2018).
1) Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan
kecemasan dengan cara mengalihkan perhatian pada hal-hal
lain sehingga pasien akan lupa terhadap cemas yang
dialami. Stimulus sensori yang menyenangkan
dmenyebabkan pelepasan endorfin yang bisa menghambat
stimulus cemas yang mengakibatkan lebih sedikit stimuli
cemas yang ditransmisikan ke otak (Potter & Perry, 2005)
2) Terapi relaksasi napas dalam menggunakan teknik napas
dalam untuk mengurangi tanda dan gejala ketidaknyamanan
seperti nyeri, ketegangan otot, atau kecemasan (SPO PPNI,
2021) Terapi relaksasi yang dilakukan dapat berupa
relaksasi, meditasi, relaksasi imajinasi dan visualisasi serta
relaksasi progresif (Isaacs, 2005) Relaksasi napas dalam
adalah salah satu teknik dalam terapi perilaku yang
dikembangkan oleh Jacobson dan Wolpe untuk mengurangi
ketegangan dan kecemasan. Dari sudut pandang ilmiah
relaksasi merupakan 2 perpanjangan serabut otot skeletal,
sedangkan ketegangan merupakan kontraksi terhadap
perpindahan serabut otot (Ramadhani dan Adhiyos, 2011:1)
7. Pengaruh cemas terhadap pasien pasien pre-operasi
a. Dampak Psikologis dan Fisiologis: Kecemasan dapat
menyebabkan stres psikologis yang berlebihan, yang berpotensi
mengganggu proses pembedahan. Pasien yang mengalami
kecemasan tinggi mungkin menunjukkan reaksi fisiologis
seperti peningkatan denyut jantung dan tekanan darah, yang
dapat mempersulit tindakan medis.
b. Risiko Penundaan Operasi: Kecemasan yang tidak terkelola
dapat menyebabkan penundaan dalam jadwal operasi. Hal ini
sering kali terjadi ketika pasien merasa tidak siap secara mental
untuk menjalani prosedur. (Azizatul Baderiyah, Joko Pitoyo,
2022)
8. Komplikasi
anda dan gejala kecemasan (takikardi, berkeringat, hiperventilasi)
perlu dikaji untuk membantu menentukan beratnya masalah
kecemasan.
a) penyalahgunaan zat,
b) sulit tidur (insomnia),
c) masalah pencernaan atau usus,
d) sakit kepala,
e) menyendiri dari lingkungan sosial,
f) tidak dapat bekerja dengan baik,
g) kualitas hidup yang buruk.
h) pikiran untuk menyakiti diri sendiri (dr. Anton Tanjung, 2023)
D. Konsep terapi relaksasi napas dalam
1. Pengertian
Terapi relaksasi napas dalam merupakan suatu bentuk asuhan
keperawatan, yang dalam hal ini perawat mengajarkan kepada klien
bagaimana cara melakukan napas dalam, napas dalam(menahan
inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas
secara perlahan, selain dapat menurunkan intensitas nyeri, tehnik
relaksasi napas dalam juga dapat meningkatkan ventilasi paru dan
meningkatkan oksigenasi darah.(Waluyo Joko, 2019)
2. Prosedur
Berikut prosedur terapi relaksasi napas dalam :
a. Identifikasi pasien menggunakan minimal dua identitas (nama
lengkap, tanggal lahir, dan/atau nomor rekam medis)
b. Jelaskan tujuan dan langkah-langkah prosedur
c. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan: sarung tangan bersih, jika
perlu, Kursi dengan sandaran, jika pertu dan bantal
d. Lakukan kebersihan tangan 6 largkah
e. Pasang sarung tangan, jika perlu
f. Tempatkan pasien di tempat yang tenang dan nyaman
g. Ciplakan lingkungan tenang dan tanpa gangguan dengan
pencahayaan dan suhu ruang nyama, jika memungkinkan
h. Berikan posisi yang nyaman (misal dengan duduk bersandar atau
tidur Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
i. Latih melakukan teknik napas dalam.
1) Anjurkan tutup mata dan konsentrasi penuh
2) Ajarkan melakukan inspirasi dengan menghirup udara melalui
hidung secara perlahan
3) Ajarkan melakukan ekspirasi dengan menghembuskan udara
dengan cara mulut mencucu secara perlahanDemonstrasikan
menarik napas selama 4 detik, menahan napas selama 2 detik
dan menghembuskan napas selama 8 datik
j. Monitor respons pasien selama dilakukan prosedur
k. Rapikan pasien dan alat-alat yang digunakan
l. Lepaskan sarung tangan
m. Lakukan kebersihan tangan 5 langkah
E. Konsep asuhan keperawatan pre operasi
1. Pengkajian
Pengkajian sebagai tahap awal proses keperawatan meliputi
pengumpulan data,analisis data, dan perumusan masalah pasien. Data
yang dikumpulkan adalah data pasien secara holistik, meliputi aspek
biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Seorang perawat jiwa
diharapkan memiliki kesadaran atau kemampuan dari titik diri (self
awareness), kemampuan mengobservasi dengan akurat, berkomunikasi
secara traupetik dan kemampuan berespon secara efektif. Hubungan
saling percaya antara perawat dengan pasien akan memudahkan
perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. Oleh karenanya,
dapat membantu pasien dalam menyelesaikan masalah sesuai
kemampuan yang dimilikinya(Yusuf, A.H & , R & Nihayati, 2015).
Secara lebih terstruktur pengkajian kesehatan jiwa meliputi :
a. Identitas pasien
b. Keluhan utama/alasan masuk
c. Faktor predisposisi
d. Aspek fisik/biologis
e. Aspek psikososial
f. Status mental
g. Mekanisme koping
h. Masalah psikosisial dan lingkungan
i. Pengetahuan
j. Aspek medis
2. Diagnosa Keperawatan
Ansietas (kecemasan) (D.0080) berhubungan dengan kekhawatiran
mengalami kegagalan.
3. Intervensi
Intervensi yang akan dilakukan adalah terapi relaksasi napas
dalam, dengan luaran utama tingkat ansietas menurun dan kriteria
hasil:
a. Kebingungan verbalisasi menurun
b. Verbalisasi kekhawatiran akibat kondisi yang dihadapi menurun
c. Perilaku gelisah menurun
d. Perilaku tegang menurun
e. Fokus pada peningkatan
f. Pola tidur membaik
4. Implementasi Keperawatan
Implementasi keperawatan adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan oleh perawat untuk membantu klien dari masalah status
kesehatan yang dihadapi ke status kesehatan yang baik yang
menggambarkan kriteria hasil yang diharapkan (Ns. Sutejo, [Link].,
2018).
5. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan merupakan tahap akhir dari rangkaian
proses keperawatan yang berguna untuk mengetahui apakah tujuan
dari tindakan keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau perlu
pendekatan lain. Evaluasi keperawatan mengukur keberhasilan dari
rencana dan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan dalam
memenuhi kebutuhan pasien. (Dinarti, 2017) Evaluasi keperawatan
menggunakan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dengan skor 14-
20 kecemasan ringan, skor 21-27 kecemasan sedang, skor 28-41
kecemasan berat dan skor 42-52 kecemasaan berat sekali
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis/desain/rancangan/studi kasus
Metode penelitian ini menggunakan studi kasus general yaitu
untuk implementasi relaksasi napas dalam terhadap tingkat kecemasan
pada pasien pre-operasi
B. Subjek penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah seorang pasien yang
direncanakan dilakukan operasi di Ruang Edelweis RSUD Mokopido
Tolitoli
C. Fokus studi
Fokus studi kasus dalam penelitian ini yaitu implementasi relaksasi
napas dalam untuk mengurangi tingkat kecemasan pada pasien pre-
operasi yaitu kecemasan ringan, sedang dan berat di Ruang Edelweis
RSUD Mokopido Tolitoli
D. Definisi operasional
Definisi operasional dalam penelitian ini adalah melakukan asuhan
keperawatan pada pasien pre operasi pada tahap pengkajian, diagnosa
keperawatan, intervensi, implementasi serta evaluasi keperawatan sebagai
berikut :
1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
melaksanakan pengkajian pada pasien cemas dengan menggunakan
skala pada pasien pre operasi di ruangan Edelweis RSUD Mokopido
Tolitoli menggunakan pengkajian terfokus.
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
merumuskan diagnosa keperawatan yaitu ansietas (kecemasan) ringan
sampai pasien pre operasi.
3. Intervensi
Intervensi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah implementasi
terapi relaksasi napas dalam pada pasien pre operasi yang mengalami
kecemasan.
4. Implementasi
Implementasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah melakukan
terapi relaksasi napas dalam pada pasien pre operasi untuk
menurunkan kecemasan.
5. Evaluasi
Evaluasi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah mengevaluasi
Tindakan menurunkan kecemasan dengan terapi relaksasi napas dalam
dan diukur kembali menggunakan HARS.
E. Instrumen studi kasus
Instrumen yang digunakan dalam studi kasus ini adalah format
kuesioner Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) yang terdiri dari 14 item
yaitu perasaan cemas (ansietas), ketegangan, kekuatan, gangguan tidur,
gangguan kecerdasan, perasaan depresi, gejala somatik, fisik/sensorik,
gejala kardiovaskular, gejala respiratorik, gejala gastrointestinal, gejala
urogenetalia, gejala otonom, dan tingkah laku saat wawancara. Skor akhir
pada format kuesioner diklasifikasikan dengan skor kurang dari 14 tidak
ada kecemasan, skor 14-20 kecemasan ringan, skor 21-27 kecemasan
sedang, skor 28-41 kecemasan berat, dan skor 42-52 kecemasaan berat
sekali.
F. Metode pengumpulan data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam studi kasus ini yaitu
dengan cara :
1. Wawancara, dilakukan untuk mendapatkan data mengenai identitas
pasien, keluhan utama dan riwayat penyakit sekarang.
2. Observasi yang dilakukan pada penelitian ini meliputi keadaan umum,
tanda-tanda vital (TTV) yang terdiri dari pengukuran tekanan darah,
nadi, pernapasan dan suhu tubuh.
G. Langkah-langkah Pelaksanaan Studi Kasus
Adapun langkah-langkah studi kasus yang akan di teliti yaitu sebagai
berikut:
1. Mengurus permohonan izin penelitian ke Direktur Poltekkes
Kemenkes Palu
2. Mengurus surat permintaan data awal ke RSUD Mokopido Tolitol
3. Pengajuan Informed consent kepada pasien pre operasi dengan
kecemasan
4. Pengumpulan data awal (pengkajian terfokus) mengenai data
responden pre operasi
5. Perumusan diagnosa sesuai data yang di dapatkan dari pengkajian
terfokus
6. Penyusunan intervensi sesuai dengan diagnose yang muncul
7. Memberikan implementasi terapi relaksasi napas dalam di ruangan
Edelweis bersama perawat Rumah Sakit yang bertugas saat itu
8. Melakukan evaluasi setelah pemberian terapi relaksasi napas dalam
H. Lokasi dan pelaksaan studi kasus
Penelitian ini akan laksanakan di Ruangan Edelweis RSUD
Mokopido Tolitoli pada bulan Januari sampai Februari 2025.
I. Analisa data dan penyajian data
Dalam penelitian ini, data dianalisa menggunakan asuhan keperawatan
dengan pendekatan PES khusus tingkat kecemasan pada pasien pre operasi
menggunakan HARS (Hamilton Anxiety Rating Scale)
J. Etika studi kasus
1. Tidak membahayakan atau mengganggu kenyamanan.
Penelitian harus memperhatikan tentang hal-hal yang dapat
membahayakan atau mengganggu kenyamanan pasien maupun peneliti
itu sendiri.
2. Menghormati harkat dan martabat manusia (respect for human
dignity). Peneliti menjaga hak responden untuk merasakan informasi
terkait dengan penelitian bebas dari paksaan dan berpartisipasi secara
sukarela dengan menandatangani lembar persetujuan responden.
Penelitian ini tidak memaksa responden untuk berpartisipasi dalam
studi kasus ini dan menjamin kerahasian informasi
[Link] responden menggunakan inisial
3. Menghormati privasi dan kerahasiaan subjek penelitian (respect for
privacy and confidentiality).
Peneliti akan memberikan akibat terbukanya informasi individu,
termasuk informasi yang bersifat pribadi. Tidak semua orang
menginginkan informasınya diketahui orang lain, sehingga peneliti
perlu memperhatikan privasi dan kebebasan. Peneliti tidak boleh.
menampikan identitas responden, baik nama maupun alamat, dalam
kuisioner peneliti menggunakan koding/inisial atau nomor identitas
klien.
DAFTAR PUSTAKA
Anipah, A., Azhari, N. K., Anggarawati, T., Febrianti, D., Kusumawati, H.,
Sukamti, N., Suratmiti, N. N., Tatisina, C. M., Widodo, Y. P., & Wibowo, N.
Y. (2024). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. PT. Sonpedia Publishing
Indonesia. [Link]
Ashanti, kartika arum. (2015). Estimasi perhitungan biaya satuan pada prosedur
pelayanan persalinan metode sectio caesarea studi kasus RSUD
panembangan Senopati Bantul Tahun 2015. 1–23.
Asmadi, 2013. (1967). Manajemen Non Farmakologis Terhadap Penurunan
Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi : Literature Review.
Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952., 5–24.
Azizatul Baderiyah, Joko Pitoyo, A. S. (2022). Pengaruh Hand Massage
Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Pada Pembedahan
Elektif. [Link]
MASSAGE-TERHADAP-TINGKAT-KECEMASAN-Baderiyah-Pitoyo/
75790847654094bfd722744e986ef0 6c56dba4c3
dr. Anton Tanjung, N. V. L. (2023). 41 Penyakit Yang Perlu Kita Kenali Sebelum
Menemui Dokter. Elex Media Komputindo.
[Link]
Haris Widodo, S. K. N. M. K. (2024). MANAJEMEN DASAR KAMAR OPERASI:
dengan Pendekatan Evidence Based Practice. Penerbit Andi.
[Link]
Hasanah N. (2017). Hubungan Pengetahuan Pasien Tentang Informasi Pre
Operasi Dengan Kecemasan Pasien Pre Operasi. Jurnal Ilmiah Kesehatan,
6(1), 48–54. [Link]
Mary, B., Mari, D. wilfried, & Anastasia, M. (2016). No Title kesehatan mental
psikiatri.
Mastuty, A., Yulandasari, V., Asmawariza, L. H., Wiresanta, L., & Suhamdani, H.
(2022). Pengaruh Dzikir Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi di
Ruang IBS (Instalasi Bedah Sentral) RSUD Praya. Jurnal Kesehatan
Qamarul Huda, 10(1), 123–127.
[Link]
Mokopido, profil rumah sakit. (2024). No Title. 1.
Munandar, A. (2024). No Title keperawatan psikologis dan jiwa.
PPNI, T. P. S. D. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SDKI).
PPNI, 1 (2).
Putri, S. B., & Martin, W. (2023). Faktor Internal Dan Eksternal Yang
Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Pasien Pre-Operasi Mayor Di
Ruang Rawat Inap Bedah. Nan Tongga Health And Nursing, 14(1), 60–67.
[Link]
Ramadhan, D., Faizal, K. M., & Fitri, N. (2023). Pengaruh Konseling dengan
Pendekatan, Thinking, Feeling dan Acting (TFA) terhadap Tekanan Darah
pada Pasien Pre Operasi. Jurnal Penelitian Perawat Profesional, 5(2), 637–
644. [Link]
Rambe, M. I. T. O. (2023). Efektivitas terapi hipnosis lima jari terhadap ansietas
klien hipertensi di desa gunungtua julu kabupaten padang lawas utara.
Sari, I. Y. K., Sriningsih, N., & Pratiwi, A. (2022). Pengaruh Relaksasi Benson
Terhadap Pasien Pre Operasi Di RSUD Kab Tangerang. Jurnal Ilmu
Kedokteran Dan Kesehatan Indonesia, 2(2), 45–54.
[Link]
Setiani, D. (2017). Identifikasi Tingkat Kecemasan Pre Operasi Pasien Fraktur di
Ruang Aster dan Cempaka RSUD Abdul Wahab Sjahranie Samarinda.
Jurnal Ilmu Kesehatan, 5(2), 83–87. [Link]
Sjamsuhidajat, R., & Prasetyono, T. O. H. (2017). Buku Ajar Ilmu Bedah
Sjamsuhidajat-de Jong: Masalah, Pertimbangan Klinis Bedah, dan Metode
Pembedahan Vol. 1. EGC Penerbit Buku Kedokteran.
Sulastri, S., Trilianto, A. E., & Ermaneti, Y. (2019). Pengaruh Komunikasi
Terapeutik Perawat terhadap Tingkat Kecemasan pada Pasien Pre Operasi.
Jurnal Keperawatan Profesional, 7(1). [Link]
Sutejo. (2022a). No Title keperawatan jiwa.
Sutejo. (2022b). No Title Keperawatan Jiwa.
Sutinah. (2019). Pengaruh Tehnik Distraksi Auditori Terhadap Tingkat
Kecemasan KlienPreoperasi Appendisitis. Jurnal Kesehatan Indonesia (The
Indonesian Journal of Health), Vol. X, No(Appendixitis, Anxiety Level,
Distraction), 11–16.
Triharyanto, B. (2024). Bebas dari Cemas: Mengubah Kecemasan Menjadi
Kebahagiaan. Kreatifa Prima. [Link]
id=18UZEQAAQBAJ
Videbeck, S. L. (2010). Psychiatric-mental health nursing. Lippincott Williams &
Wilkins.
Waluyo Joko, S. S. (2019). Pengaruh Teknik Relaksasi Napas Dalam Terhadap
Perubahan Sala Nyeri Sedang Pada Pasien Gastritis. Hilos Tensados, 1, 1–
476.
Wulandari. (2024). Keperawatan Medikal Bedah. Media Nusa Creative (MNC
Publishing). [Link]
Lampiran 1
SURAT PENGANTAR PERMINTAAN DATA AWAL
Lampiran 2
BUKTI PERMINTAAN DATA AWAL (RSUD MOKOPIDO TOLITOLI)
Lampiran 3
INFORMED CONSENT
Saya yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa saya telah mendapat
penjelasan secara rinci dan telah mengerti mengenai penelitian yang akan
dilakukan oleh MUHAMMAD SAPRI [Link] dengan judul “Implementasi
Penerapan Terapi Relaksasi Napas Dalam Terhadap Kecemasan Pada Pasien Pre-
Oprasi di ruangan Edelweis RSUD Mokopido Tolitoli”. Saya memutuskan setuju
untuk ikut berpartisipasi pada penelitian ini secara sukarela tanpa paksaan. Bila
selama penelitian ini saya menginginkan untuk mengundurkan diri, maka saya
dapat mengundurkan sewaktu-waktu tanpa sanksi apapun.
…….,………….2024 …….,………….2024
Saksi Yang memberikan persetujuan
(………………………) (………………………)
Mengetahui
Peneliti
MUHAMMAD SAPRI [Link]
PO7247322036
Lampiran 4
PENGKAJIAN TERFOKUS
Tanggal Masuk RS : ………… Jam Masuk : ………………
Tanggal Pengkajian : ……………No. Register : ………………
Jam Pengkajian : …………………………..
IDENTITAS PASIEN
1. Nama : …………………………..
2. Umur : …………………………..
3. Suku/bangsa : …………………………..
4. Agama : …………………………..
5. Pendidikan : …………………………..
6. Pekerjaan : …………………………..
7. Alamat : …………………………..
8. Sumber biaya : …………………………..
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Keluhan Utama :
………………………………………………………………………………………
………
Riwayat Penyakit Sekarang :
………………………………………………………………………………………
………
OBSERVASI
Keadaan Umum :
………………………………………………………………………………………
………
TTV :
TD : SB : RR: HR :
Pengukuran tingkat kecemasan menurut Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS)
No Gejala kecemasan skor Kode
1 2 3 4
1 Perasaan cemas (ansietas)
Cemas
Firasat buruk
Takut akan pikiran sendiri
Mudah tersinggung
2 Ketegangan
Merasa tegang
Lesu
Tidak dapat beristirahat dengan tenang
Mudah terkejut
Mudah menangis
Gemetar
Gelisah
3 Ketakutan
Pada gelap
Pada orang asing
Ditinggal sendiri
Pada binatang besar
Pada keramaian lalu lintas
Pada kerumunan orang banyak
4 Gangguan tidur
Sukar mulai tidur
Terbangun malam hari
Tidur tidak nyenyak
Bangun dengan lesu
Banyak mimpi
Mimpi buruk
Mimpi menakutkan
5 Gangguan kecerdasan
Sukar berkonsentrasi
Daya ingat menurun
Daya ingat buruk
6 Perasaan depresi
Hilangnya minat
Berkurangnya kesenangan pada
hobi
Sedih
Bangun dini hari
Perasaan berubah-ubah sepan-
jang siang hari
7 Gejala somatik
Sakit dan nyeri otot
Kaku
Kedutan otot
Gigi gemeretuk
Suara tidak stabil
8 Gejala somatik (fisik/sensorik)
Tinitus/telinga berdenging
Penglihatan kabur
Muka merah/pucat
Merasa lelah
Perasaan ditusuk-tusuk
9 Gejala kardiovaskular
Takikardia
Berdebar-debar
Nyeri dada
* Denyut nadi mengeras
* Rasa lesu atau lemas seperti mau pingsan
Detak jantung terasa berhenti se- kejap
10 Gejala respiratori
Rasa tertekan di dada
Rasa tercekik
Sering menarik napas
Napas pendek/sesak
11 Gejala gastrointestinal
Sulit menelan
Perut melilit
Gangguan pencernaan
Nyeri sebelum dan sesudah ma- kan
Perasaan terbakar di perut
Rasa penuh/kembung
Mual
Muntah
BAB lembek
Sukar BAB (konstipasi)
Penurunan berat badan
12 Gejala urogenitalia
Sering BAK
Tidak dapat menahan kencing
Tidak haid
Darah haid berlebihan
Masa haid panjang
Masa haid pendek
Haid beberapa kali dalam sebulan
Frigid
Ejakulasi dini
Ereksi melemah
Ereksi hilang
Impotensi
13 Gejala otonom
1234
Mulut kering
Muka merah
Mudah berkeringat
Kepala pusing
Kepala terasa berat
Kepala terasa sakit
Bulu roma berdiri
14 Tingkah laku saat wawancara
Gelisah
Tidak tenang
Gemetar
Mengerutkan kening
Muka tegang
Otot tegang atau mengeras
Napas pendek dan cepat
Muka merah
Total skor
Sumber : Pedoman Riset Praktis untuk profesi perawat oleh Ns. Wasis, [Link].,
[Link]
Lampiran 6
LEMBAR KONSUL PROPOSAL