No :
PROSEDUR Tgl Terbit :
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENIALAIAN DAN
Revisi :
PENGENDALIAN RISIKO
Halaman :
ISI
1. TUJUAN
2. RUANG LINGKUP
3. DEFINISI
4. TANGGUNG JAWAB
5. DIAGRAM ALIR
6. URAIAN
7. DOKUMEN TERKAIT
8. REFERENSI
RIWAYAT REVISI
No Revisi Tanggal Revisi Penjelasan Perubahan
Kolom Pengesahan,
Diperiksa Oleh, Disetujui Oleh, Diketahui Oleh,
No :
PROSEDUR Tgl Terbit :
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENIALAIAN DAN
Revisi :
PENGENDALIAN RISIKO
Halaman :
1. TUJUAN
Prosedur ini disusun untuk mengidentifikasi bahaya dan menyediakan suatu model standar untuk
mengidentifikasi bahaya serta menilai risiko tersebut. Prosedur ini memenuhi kewajiban pekerja
terhadap persyaratan K3 dalam mengidentifikasi bahaya yang berhubungan dengan aktivitas kerja
perusahaan, lingkungan pekerjaan dan penggunaan peralatan serta menilai tingkat risiko dan
sebagai alat penentuan kontrol yang diperlukan terhadap risiko yang ada.
2. RUANG LINGKUP
Prosedur ini berlaku untuk pengidentifikasian bahaya dan penilaian risiko terhadap suatu
pekerjaan di seluruh wilayah PT. Elnara Christo Mining (ECM) dan kontraktor/sub kontraktor yang
bekerja dan berada dalam pengawasan PT. ECM.
3. DEFINISI
3.1. Bahaya (Hazard), adalah sumber energi, situasi, atau tindakan yang berpotensi
menyebabkan cidera atau penyakit akibat kerja (PAK) atau property damage.
3.2. Risiko, adalah Kombinasi antara;
3.3. Kemungkinan terjadinya insiden atau dampak yang mengakibatkan cidera, PAK, kerusakan
harta benda atau dampak lingkungan yang merugikan yang disebabkan oleh suatu kejadian
berbahaya atau paparan bahaya atau aspek tersebut (probability),
3.4. Keseringan kejadian berbahaya atau paparan bahaya atau aspek (frekuensi),
3.5. Keparahan dari cidera, PAK, kerusakan harta benda atau dampak lingkungan yang
merugikan yang disebabkan oleh suatu kejadian berbahaya atau paparan bahaya atau
aspek tersebut (severity).
3.6. Aspek Lingkungan adalah bagian dari suatu kegiatan atau produk atau jasa dari organisasi
yang dapat berinteraksi dengan lingkungan (tanah, air, udara, flora, fauna, manusia).
3.7. Dampak Lingkungan adalah setiap perubahan terhadap lingkungan, baik yang merugikan
maupun menguntungkan, seluruh atau sebagian yang diakibatkan oleh aspek lingkungan
dan suatu organisasi.
3.8. Frekuensi adalah keseringan terjadinya kejadian berbahaya atau terpapar bahaya
3.9. Probability adalah kemungkinan terjadinya insiden atau dampak yang mengakibatkan
cidera, PAK, kerusakan harta benda atau dampak lingkungan yang merugikan yang
disebabkan oleh suatu kejadian berbahaya atau paparan bahaya atau aspek tsb.
3.10. Severity adalah keparahan dari cidera, PAK, kerusakan harta benda atau dampak lingkungan
yang merugikan yang disebabkan oleh suatu kejadian berbahaya atau paparan bahaya atau
aspek tersebut.
3.11. Aktivitas rutin adalah aktivitas yang dilakukan sehari-hari, terjadwal atau memiliki interval
waktu tertentu
3.12. Aktivitas non rutin adalah aktivitas yang tidak terjadwal atau tidak dapat diprediksi interval
waktunya.
3.13. Kondisi normal adalah kondisi operasional yang sesuai dengan aturan dan persyaratan
operasional perusahaan yang berlaku.
3.14. Kondisi abnormal adalah kondisi atau keadaan tidak normal, bak terencana maupun tidak
terencana dan masih terkendali.
3.15. Kondisi emergency adalah kondisi keadaan yang terjadi secara tiba-tiba dan dapat
mengakibatkan dampak atau risiko negatif terhadap lingkungan, peralatan dan manusia
yang tidak dapat dikendalikan.
3.16. Nilai risiko yang dapat diterima (Acceptable Risk) adalah risiko yang masuk ke dalam kriteria
3.17. low atau medium.
No :
PROSEDUR Tgl Terbit :
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENIALAIAN DAN
Revisi :
PENGENDALIAN RISIKO
Halaman :
3.18. Nilai risiko yang tidak dapat diterima (Non Acceptable Risk) adalah risiko yang tidak sesual
dengan peraturan perundangan atau kebijakan perusahaan atau masuk ke dalam kriteria
very high atau high.
3.19. Nilai risiko saat ini adalah nilai yang diukur dengan mempertimbangkan pengendalian yang
ada saat ini
3.20. Nilai risiko residual adalah nilai yang diukur setelah dilakukan pengendalian lanjutan
3.21. Register tindakan perbaikan adalah formulir yang digunakan untuk membuat daftar bahaya
yang tidak dapat diterima dan rencana tindakan perbaikan yang akan dilakukan.
3.22. Pengendalian risiko adalah upaya menurunkan tingkat risiko yang timbul akibat adanya
bahaya/aspek.
3.23. Insiden adalah kejadian yang berkaitan atau berhubungan dengan pekerjaan yang
mengakibatkan cidera pada karyawan, sakit akibat kerja, fatality pada karyawan
perusahaan, Kerusakan harta benda perusahaan, kejadian berbahaya termasuk dalam hal
ini adalah kecelakaan lingkungan atau kejadian yang apabila sedikit saja berbeda dapat
mengakibatkan cedera, sakit akibat kerja, fatality pada karyawan, kerusakan harta benda
perusahaan, kecelakaan lingkungan (atau sering disebut near miss).
3.24. Sakit kronis adalah penyakit yang timbul akibat pisaran bahaya jangka panjang, parah dan
berlangsung sangat lama
3.25. Sakit akut adalah penyakit yang diidap secara mendadak dan berkelanjutan, singkat dan
parah.
3.26. Penyakit Akibat Kerja adalah setiap penyakit yang cisebabkan oleh pekerjaan atau
lingkungan kerja
3.27. First Aid adalah kecelakaan yang menyebabkan korban hanya mendapatkan bantuan first
aid (P3K) saja dan langsung dapat bekerja kembali seperti semula.
3.28. MTC (Medical Treatment Case) adalah kecelakaan yang menyebabkan korban harus dirawat
atau mendapat perlakuan medik lain diluar pertolongan pertama (P3K) dan dapat kembali
bekerja seperti semula.
3.29. RWDI (Restricted Work Duty Injury) adalah kecelakaan yang mengakibatkan karyawan
harus drawat atau mendapat perlakuan medik serius/berat dan dapat kembali bekerja
tetapi tidak mampu mengerjakan semua tugas-tugasnya secara normal sesuai dengan
deskripsi kerja atau karyawan tersebut diberikan tugas lain sementara waktu karena
kecederaan/penyakitnya tersebut atau karyawan ditugaskan ke pekerjaan lain secara
sementara, atau bekerja secara permanen kurang dan waktu penuh atau bekerja secara
permanen dalam pekerjaan yang diberikan terapi tidak dapat melaksanakan tugasnya
secara normal
3.30. LTI (Loss Time Injury) adalah kecelakaan yang menyebabkan cidera pada pekerja sehingga
pekerja tersebut tidak dapat masuk kerja pada shift/hari berikutnya
3.31. Management Representative adalah orang yang ditunjuk sebagai perwakilan manajemen
dalam hal Sistem Manajemen Terpadu (IMS).
3.32. Department Head merupakan penanggung jawab untuk departemen di project
3.33. Tim IBPPR adalah tim yang terdiri dari 2 orang atau lebih yang bertanggung jawab membuat
identifikasi Bahaya Penilaian Risiko dan Register Tindakan Perbaikan/Pencegahan.
3.34. Penanggung Jawab Area Kerja merupakan penanggung jawab di luar project.
4. TANGGUNG JAWAB
4.1. Department Head/Penanggung Jawab Area Kerja
No :
PROSEDUR Tgl Terbit :
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENIALAIAN DAN
Revisi :
PENGENDALIAN RISIKO
Halaman :
4.1.1. Menunjuk Tim IBPPR dan memastikan anggotanya sesuai dengan kompetensi yang di
tetapkan.
4.1.2. Memastikan OBPPR dibuat dan dilakukan pembaharuan (update).
4.1.3. Memastikan bahwa identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendalian risiko yang
menjadi tanggung jawabnya dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang berlaku.
4.1.4. Memastikan kecukupan dan validitas hasil identifikasi bahaya dan penilaian risiko dan
pengendalian risiko K3L
4.1.5. Memastikan tindakan pengendalian yang terdapat dalam register tindakan perbaikan
ditindaklanjuti
4.1.6. Memastikan setiap rekomendasi/rencana tindakan perbaikan dilakukan dengan baik
dan benar sesuai dengan perencanaan yang telah disetujui.
4.1.7. Melaksanakan dan memantau rencana tindakan perbaikan/pencegahan yang
menjadi tanggung jawabnya.
4.1.8. Memastikan efektifitas tindakan pengendalian yang dilakukan.
4.2. Tim IBPPR
4.2.1. Melakukan identifikasi bahaya dan penilaian risiko sesuai dengan prosedur yang
berlaku bersama dengan narasumber yang terkait.
4.2.2. Membuat usulan tindakan perbaikan (form Register Tindakan
Perbaikan/Pencagahan)
4.2.3. Melakukan update IBPPR
4.2.4. Mendokuntasikan dokumen identifikasi bahaya dan penilaian risikonya serta
dokumen pendukung lainnya.
4.3. Departemen SHE
4.3.1. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan sosialisasi dan pelatihan dasar IBPPR.
4.3.2. Melakukan review IBPPR.
4.3.3. Memonitor dan melakukan verifikasi tindakan pengendalian yang dilakukan.
4.3.4. Mendokumentasikan Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko, RTP dan dokumen
pendukung lainnya dari tiap-tiap departemen.
4.3.5. Memastikan keefektifan
4.4. KTT / Mine Head dan Management Representative (MR)
4.4.1. Menyutujui penunjukkan Tim IBPPR dari masing-masing departemen
4.4.2. Mengetahui Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko (HIRA) yang telah dibuat dan
mengesahkannya.
4.4.3. Memeriksa dan menyetujui tindakan pengendalian yang dilakukan oleh departemen
terkait.
4.4.4. Memberikan masukan untuk keefektifan dan keefisienan tindakan pengendalian.
4.4.5. Memastikan ketersediaan sumber daya yang dibutuhkan untuk pelaksanaan IBPPR.
No :
PROSEDUR Tgl Terbit :
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENIALAIAN DAN
Revisi :
PENGENDALIAN RISIKO
Halaman :
5. DIAGRAM ALIR
Identifikasi Bahaya & Penilaian Resiko
SHE Penanggung Jawab Tim IBPR KTT & MR Dokumen
Area Kerja
Mulai
Menunjuk tim IBPR Surat
penunjukan
Mengidentifikasi Identifikasi
bahaya dan resiko bahaya
penilaian resiko
Mereview IBPR Identifikasi
bahaya
penilaian resiko
Sesuai Tidak
Pengesahan
IBPR
Identifikasi
bahaya
Buat registar
penilaian resiko
Tindakan perbaikan
Identifikasi
Review KTP bahaya
Tidak
penilaian resiko
Sesuai Tidak
Tidak
Register tindakan
perbaikan
Setuju
Memonitor dan Register tindakan
melakukan Tindakan perbaikan
perbaikan
Register tindakan
Verifikasi Tindakan perbaikan
perbaikan
Register tindakan
Update IBPR perbaikan
Revisi
Selesai
No :
PROSEDUR Tgl Terbit :
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENIALAIAN DAN
Revisi :
PENGENDALIAN RISIKO
Halaman :
6. URAIAN
6.1. Dept Head di cite harus membentuk tim untuk membuat dokumen IBPPR di dept masing-
masing dengan penunjukkan resmi yang disetujui oleh Kepala Teknik Tambang / Mine Head,
dan Management Representative (MR).
6.1.1. Anggota tim IBPPR harus mengetahui proses yang terkait dengan IBPPR yang disusun
dan mempunyai kompetensi dalam pembuatan IBPPR, minimal sudah pernah
mengikuti pelatihan pembuatan IBPPR yang dilaksanakan oleh suatu lembaga
pelatihan yang dilakukan internal oleh perusahaan.
6.1.2. Jika pelatihan IBPPR dilakukan secara internal perusahaan maka Pelatih yang
memberikan pelatihan IBPPR adalah orang yang sudah pernah mengikuti pelatihan
internal auditor OHSAS 18001/ISO 14001 oleh lembaga yang terakreditasi atau
seorang Ahli K3.
6.2. Tim IBPPR bersama narasumber (orang yang memahami aktivitas terkait) mengidentifikasi
bahaya dan menilai risiko.
6.2.1. Identifikasi bahaya/aspek K3L dilakukan dengan cara membagi seluruh kegiatan
operasi/pekerjaan menjadi beberapa aktivitas serta mempertimbangkan hal-hal
dalam point 2.2.
6.2.2. Setiap Bahaya/Aspek yang telah diidentifikasi dicatat dalam form Identifikasi Bahaya
Dan Penilaian Risiko (form HIRA).
6.2.3. Nilai risiko saat ini, dilakukan berdasarkan situasi nyata yang terjadi setelah dilakukan
tindakan pengendalian (form HIRA).
6.2.4. Dalam melakukan penilaian risiko harus memperhatikan aspek peraturan
perundangan dalam bidang K3L serta peraturan lainnya dalam bidang K3L sesuai
dengan potensi bahaya dari aktivitas yang dinilai risikonya.
6.2.5. Penilaian risiko dilakukan dengan menggunakan formula:
Risiko = Probability X Frequency X Severity atau R = P x F x S
PROBABILITY NILAI
Tidak Mungkin Terjadi 1
Kecil Kemungkinan Terjadi 2
Kemungkinan Terjadi Rata-Rata 3
Besar Kemungkinan Terjadi 4
Pasti Terjadi 5
FREKUENSI NILAI
Sekali dalam setahun 1
Sekali dalam sebulan 2
Sekali dalam seminggu 3
Sekali sehari 4
Berkali-kali dalam sehari 5
SEVERRITY
Injury PD Health Environment Community Nilai
No :
PROSEDUR Tgl Terbit :
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENIALAIAN DAN
Revisi :
PENGENDALIAN RISIKO
Halaman :
First <US$ 100 Tidak ada Tidak ada peraturan Tidak terjadi 1
Aid gangguan yang berlaku atau complain dari
berdampak pada area masyarakat sekitar
terbatas perusahaan.
MTC US$ 100 - Ada Tidak ada peraturan Terjadi complain 2
US$ 1.000 gangguan yang berlaku atau dari masyarakat
tapi masih berdampak ke sekitar
dapat lingkungan perusahaan.
bekerja
RWDI US$ 1.001- Ada Sesuai dengan baku Terjadi complain 3
US$ 5.000 gangguan mutu/peraturan dari pemerintah
tapi tidak perundangan atau daerah atau
dapat berdampak ke Lembaga swadaya
masuk masyarakat disekitar masyarakat sekitar
kerja area kerja perusahaan
LTI US$ 5.001- Sakit dan Tidak sesuai baku Terjadi complain 25
US$ 10.000 rawat inap/ mutu/peraturan dari pemerintah
kronis/PAK perundangan dan daerah atau
mendapatkan Lembaga swadaya
peringatan keras dari masyarakat
pemerintah, regional
penghentian
operasioanl perusahaan
sementara atau
berdampak ke
masyarakat yang lebih
luas
Fatality > US$ Sakit akut/ Tidak sesuai baku Terjadi complain 30
10.000 meninggal mutu/peraturan dari pemerintah
perundangan dan pusat atau
mendapatkan ancaman Lembaga swadaya
denda atau pidana, masyarakat
penutupan permanen nasional
perusahaan atau
berdampak ke
masyarakat nasional.
[Link]. Jika risiko (keparahan) tinggi maka severity-nya tinggi.
Contoh aktivitas mengoperasikan Dump Truck bahaya terkait “tabrakan”,
potensial insiden “LTI atau fatal → maka severity “25” atau “30”
[Link]. Jika risiko tidak diterima (contoh very high) walaupun kontrol tambahan dalam
penilaian sudah dilakukan → maka risiko-nya tidak langsung turun ke “medium”
atau “low” tetapi tetap dengan nilai “high”
[Link]. Jika pada pengendalian tambahan nilai risiko-nya tetap “high” atau “very high”
→ maka aktivitas masuk kedalam kondisi emergency dan harus ada dalam
emergency respon plan.
[Link]. Jika ada management of change (MOC) → maka harus dimasukkan ke dalam
Identifikasi Bahaya dan Risiko (HIRA).
No :
PROSEDUR Tgl Terbit :
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENIALAIAN DAN
Revisi :
PENGENDALIAN RISIKO
Halaman :
6.2.6. Penggolongan nilai risiko dan tindak lanjutnya sebagai berikut :
Nilai Tingkat Kriteria Risiko Tindak Lanjut Tindakan Perbaikan
Risiko Risiko Langsung
≥ 125 Very High Tidak dapat Dimasukkan ke register Stop & perbaiki segera
25 – 124 High diterima Tindakan perbaikan Perbaiki dalam 12 jam
10 – 24 Medium Dapat Menggunakan kontrol Perbaiki dalam 3 hari
< 10 Low diterima yang sudah ada Perbaiki jika dapat
6.3. SHE Departemen dan Departemen Head memeriksa Identifikasi Bahays Penilaian Risiko
(HIRA) yang telah dibuat dari tiap departemen. Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko (HIRA)
yang belum sesual pengisiannya, maka akan dikembalikan kepada Tim IBPPR departemen
terkait untuk diperbaiki.
6.4. Identifikasi Bahaya Penilaian Risko (HIRA) yang sudah dreview oleh SHE Departemen dan
Departemen Head akan disahkan oleh KTT / Mine Head dan Management Representative
(MR).
6.5. Tim IBPPR membuat Register Tindakan Perbaikan (form Register Tindakan
Perbaikan/Pencegahan) dari hasil Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko (HIRA) yang sudah
direview oleh SHE Departemen sebagai rencana pengendalian untuk risiko yang tidak dapat
diterima.
6.5.1. Rencana Tindakan pengendalian yang dilakukan harus dapat dipastikan akan dapat
menurunkan nilai risiko menjadi nilai risiko yang dapat diterima.
6.5.2. Rencana tindakan pengendalian yang disusun merupakan salah satu dasar dalam
penyusunan Objective, Target dan Program K3L sekaligus dijadikan sebagai bagian
dari tindakan pengendalian terhadap semua kegaiatan operasional sesuai dengan
hasil pemetaan proses bisnis perusahaan.
6.5.3. Rencana Tindakan pengendalian yang akan dilakukan harus menggunakan prinsip
hirarki pengendalian risiko yang meliputi Eliminasi, Subtitusi, Pengendalian
Engineering Pengendalian Administratif, dan Alat Pelindung Diri yang dilakukan
secara berurutan sesuai dengan urutan pengendalian risiko.
6.5.4. Rencana Tindakan pengendalian yang dilakukan harus memperhatikan adanya
kemungkinan timbulnya bahaya lainnya yang memiliki nilai risiko yang lebih besar
atau sama.
6.5.5. Jika diperlukan suatu analisa lanjutan untuk memastikan agar rencana Tindakan
pengendalian yang dilakukan tidak menimbulkan bahaya lainnya dengan risiko yang
lebih besar atau sama maka tim IBPPR dapat meminta bantuan kepada badan atau
orang yang memiliki keahlian yang sesuai misalnya welder yang bersertifikat, ahli K3
KTT dan lain-lain.
6.6. SHE Departemen dan Departemen Head terkait memeriksa Register Tindakan Perbaikan yang
sudah dibuat. Register Tindakan Perbaikan yang belum sesuai akan dikembalikan ke Tim
IBPPR untuk diperbaiki.
6.7. Register Tindakan Perbaikan yang sudah sesuai, diserahkan kepada KTT/Mine Head dan
Management Representative (MR) untuk direview dan diminta persetujuannya.
6.7.1. Jika tindakan perbaikan yang diusulkan memerlukan keputusan dari management
paca level yang lebih tinggi sesuai dengan peraturan perusahaan maka harus
dikonsultasikan terlebih dahulu kepada atasan- atasannya hingga mendapatkan
persetujuan atau alternative Tindakan perbaikan lainnya.
No :
PROSEDUR Tgl Terbit :
IDENTIFIKASI BAHAYA, PENIALAIAN DAN
Revisi :
PENGENDALIAN RISIKO
Halaman :
6.7.2. Jika tindakan perbaikan yang diusulkan memerlukan keputusan dari pemilik konses
pertambangan atau customer maka harus dikonsultasikan dan dikomunikasikan
kepada pemilik konsesi dalam hal ini adalah Kepala Teknik Tambang atau customer
hingga mendapatkan persetujuan atau mendapatkan alternative tindakan perbaikan
lainnya.
6.8. Masing-masing Departemen Head, menindak lanjuti hasil tindakan perbaikan kepada
penanggung jawab pelaksanaan perbaikan serta memberikan salinan Register Tindakan
Perbaikan (RTP) ke departemen SHE.
6.9. Departemen SHE memverifikasi tindak lanjut hasil perbaikan.
6.10. Tim IBPPR melakukan update Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko (HIRA) pada kondisi:
6.10.1. Non periodik, dilakukan pada saat;
[Link]. Kondisi bahaya, tingkat risiko, dan tindakan pengendalian sudah tidak sesuai
lagi.
[Link]. Terjadi Insiden yang mempengaruhi penilaian risiko
[Link]. Terjadi perubahan baik dalam proses, modifikasi peralatan, material atau
peraturan perundangan K3L yang terkait,
[Link]. Dilakukan pembelian peralatan dengan spesifikasi baru yang dioperasikan di
site.
[Link]. Adanya tuntutan dari peraturan perundangan dan peraturan K3L lainnya yang
harus diterapkan.
[Link]. Adanya temuan dari hasil Audit internal atupun External
6.10.2. Periodik dilakukan setiap enam bulan sekali
[Link]. Penilaian risiko residual dilakukan setelah adanya tindakan pengendalian
lanjutan (form HIRA).
[Link]. Hasil analisa bahaya yang dilaporkan melalui Hazard Report, Inspeksi, PTL P2T
dan media lainnya digunakan sebagai bahan untuk melakukan tinjauan ulang
terhadap hasi Identifikasi Bahaya Penilaian Risiko (HIRA) yang telah disusun.
7. DOKUMEN TERKAIT
7.1. Form Identifikasi Bahaya Dan Penilaian Risiko/HIRA
7.2. Form Register Tindakan Perbaikan/Pencegahan
7.3. Dokumen surat penunjukkan Tim IBPPR
8. REFERENSI
8.1. ISO 14001; klausal 4.1, 4.6
8.2. OHSAS 18001; klausal 4.3.1
8.3. AS/NZS 4360
8.4. Permenakertrans No Per.05/Men/1996 tentang SMK3
8.5. Kepmen ESDM RI No 1827 Tentang Pedoman Pelaksanaan Kaidah Teknik Pertambangan yang
Baik.
8.6. Permen ESDM No 26 Tahun 2018 Tentang Pelaksanaan Kaidah Pertambangan yang Baik dan
Pengawasan Pertambangan Mineral dan Batubara.
8.7. Safety, Health, Environment and Quality Management by Germain, Arnold, Rowan.