0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan6 halaman

Konflik di Masjid: Pelajaran Ramadhan

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan6 halaman

Konflik di Masjid: Pelajaran Ramadhan

Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 11

Si Cacat dari Desa Terlaknat

"Sesungguhnya Rasulullah saw. memegang tangan seorang penderita kusta, kemudian


memasukannya bersama tangan Beliau ke dalam piring. Kemudian Beliau mengatakan:
"makanlah dengan nama Allah, dengan percaya serta tawakal kepada-Nya" (HR at-turmudzi).

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya” (HR at-
turmudzi)

Hari ini jum`at terakhir di bulan ramadhan, biasanya di desa terlaknat semua orang akan hadir ke
masjid untuk shalat jum`at sejak pagi-pagi buta, entah di masjid mereka melakukan apa saja
mulai dari beribadah baca Al-Qur`an, berdzikir atau sekedar tidur-tiduran di masjid sambil
menunggu datangnya waktu shalat jum`at, begitulah kebiasaan yang sering dilakukan setiap
menjelang detik-detik akhir bulan suci ramadhan.

Aku duduk di shaf paling depan, dibelakang imam itulah kebiasaanku, jadi pada saat imam yang
tak lain abahku berhalangan, aku dengan leluasa bisa langsung menggantikannya, begitupun juga
dengan orang-orang yang akan bertindak sebagai khatib, sebagai muadzin, dan lainnya juga
duduk di shaf paling depan di belakang tempat imam shalat, suasana khusyu` dan penuh
penghayatan meliputi seisi masjid darul fitnah, disana sini tampak orang-orang beribadah
sembari menunggu kumandang adzan shalat jum`at, jam di dingding masjid menunjukan pukul
10:20 wib takmir masjid si ifran yang dipasrahi oleh abah menjaga masjid mulai menyetel kaset
rekaman murattal al-qur`an yang di kumandangkan oleh qari internasional [Link] za dan
[Link], suaranya mendayu-dayu seakan-akan mengajak diri ini untuk sejenak
mengheningkan cipta, menghayati bait-bait kalam ilahi yang menciptakan segala makhluk di
muka bumi ini dengan kuasanya, mengasihi hamba-hambanya yang pendosa sekalipun dosa itu
meliputi langit dan bumi beserta seisinya pastilah ia akan ampuni asal datang menghadapnya
untuk meminta ampunan dan kasih karunianya. Oh betapa indahnya ajaran islam ini, semakin
dihayati semakin didalami maka yang tampak hanyalah kasih karunia Allah semata, tak akan ada
yang namanya murka dan siksanya, itulah jika kita sudah betul-betul menikmati intisari ajaran
ilahi, melihat manusia sebagai hamba Allah ciptaan Allah, yang sama-sama diciptakan olehnya
dari setetes air yang hina.

Semua orang yang terhanyut dalam ke khusyu`an di dalam masjid ini tiba-tiba saja dikagetkan
oleh suara pukulan dan tendangan bertubi-tubi

“kedebak… kedebuk.. kedebuk…”

Nampaknya suara itu berasal dari shaf paling belakang, semua jamaah masjid menoleh serentak
melihat ke arah sumber suara itu,
“hentikan.. oiy.. hentikan sir!!!”

“hentikan cong, kasihan…”

“hentikan ..!!!”

Suara para jamaah serentak emosi, adapula yang berdiri dan melangkah ke arah keributan itu,
rupanya dibelakang telah terjadi perkelahian antar jamaah masjid darul fitnah, si nasir memukuli
si mat lepi, akupun ikut menghampiri keduanya untuk melerai mereka :

“hei.. jangan pegang tanganku.” Bentak nasir padaku yang memegangi tangannya

“biarkan aku memukul dia, dia tidak pantas berada disini, membuat kenyamanan dan
kekhusyu`an jamaah terganggu.” Nasir mengoceh

“dia tidak pantas ditempat suci ini, dia najis, dia menjijikan, dia pengen aku bunuh saja,
memalukan keluarga…” sambil melepas tangannya dari genggaman kami nasir seraya akan
melanjutkan hantaman tangannya pada wajah mat lepi

“eee… jangan.. jangan …” serentak orang yang melerai nasir berteriak

“sir… jangan begitulah, kalian berdua kan sudah tua, sudah punya anak istri, kalau ada masalah
lebih baiknya diselesaikan bersama dengan cara musyawarah untuk mencapai kemufakatan
bersama, tidak begini caranya, kalau kayak gini kan seperti anak kecil, anak ingusan!” bentak
salah seorang jamaah masjid

“emang ada apa ini, ada apa?!” tiba-tiba saja abah yang baru datang berteriak melihat keadaan
masjid yang sudah tidak kondusif

Orang-orang yang ada disana terhenyak mendengar teriakan abah, semuanya diam tanpa sepatah
katapun, nasir yang daritadi mengamuk pun terdiam, sedangkan mat lepi yang daritadi tak
berkata-kata hanya diam, duduk lemas.

“ini jie… si nasi dan mat lepi saling adu jotos.” Jawab salah seorang jamaah memecah kebisuan
itu

“loh, kenapa bertengkar di tempat yang suci ini? Ini masjid tempat ibadah, rumah Allah SWT.!
di bulan suci ramadhan lagi, bukannya khusyu` menjalankan rutinitas ibadah, kok justru saling
adu jotos, kalian ini orang islam apa bukan sih!” bentak abah pada semua orang yang berada
disitu

“ini lagi nasir, kamu kan sepupuan sama si lepi, lagian sudah tua-tua, sudah punya anak dan istri
ngapain masih bertingkah seperti anak kecil seperti in.!” kata abah menatap tajam pada mata
nasir yang sedang melotot pada si lepi
“ayo semua duduk, ayo kita bahas apa yang sebenarnya terjadi antara nasi dan lepi ini.”kata
ayahku sambil menyuruh semua jamaah duduk

lalu serta merta semua jamaah yang ada disitu duduk bersila diatas sajadah masing-masing

“ada apa sir, ayo cerita apa yang sebenarnya terjadi kenapa kamu tiba-tiba memukuli lepi?”
tanya abah memulai obrolannya

“gini jie…. si lepi inikan sudah saya samperin ke rumahnya, saya suruh dia tidak dtang ke masjid
lagi, baik untuk shalat tarawih ataupun shalat jum`at”terang nasir

“lah.. kenapa begitu sir!”tanya abah

“ya.. karena kemaren malam aku didatangi beberapa orang warga desa terlaknat ini, katanya
mereka menemukan bercak darah di tempat sujud mereka di masjid ini, setelah ditanyakan sama
yang lain ternyata sebelumnya si lepi inilah yang menempati tempat sujud warga itu.”terang
nasir sekali lagi

“makanya mereka mendatangiku, karena bagi mereka si lepi ini masih ada pertalian darah
denganku.” lagi-lagi nasir menjelaskan alasannya

“makanya aku larang dia ke masjid, karena kan kita tau anak ini mempunyai penyakit cacat,
seluruh tubuhnya kan mengerut dan seperti ada boroknya di setiap ujung jari-jari kaki dan
tangannya, bahkan mengeluarkan darah, maka bisa dipastikan dialah yang mengotori tempat
sujud warga itu dengan darah yang mengalir dari ujung jari kakinya.”

“dan diakan masih saudara sepupuku, jadi sebagai orang madura tepatnya desa terlaknat
bukankah pantang bagi kita menahan malu karena ulah saudara sendiri, lebih baik aku yang
mempermalukan dia, daripada orang lain, aku sudah kasih tau dia baik-baik di rumahnya, dan
diapun juga berjanji sama aku akan mengikuti apa nasehatku, tapi dia malah sekarang masih ada
datang ke masjid, kan ini berarti mempermalukan aku!” jelas nasir sekali lagi dengan tampak
menahan emosinya

“iya betul itu alasan kamu sir.. tapi cara yang kamu pakai untuk memperingatkannya itu salah.
Sedangkan nabi kita saja rasulullah Muhammad SAW ketika melihat orang badui arab kencing
di masjid, justru mengasihi orang itu dan melarang sahabatnya umar bin khatab untuk
membunuh orang yang kencing di masjid itu.” Abah mulai menasehati si nasir

“kita sebagai manusia tidak berhak langsung menghakimi seseorang seperti itu, ada banyak
pertimbangan yang harus kita lakukan sebelum menasehati seseorang, ada tahapan-tahapannya,
apalagi si lepi ini juga manusia sama seperti kita, walaupun memang dia menderita penyakit
yang sangat menjijikan di mata manusia normal seperti kita.”terang abah

“yasudah ayo saling bermaaf-maafan, ayo saling bersalam-salaman.” Abah menyuruh mereka
bermaafan
“iya, saya mengaku salah, tolong maafkan saya kak nasir.”tiba-tiba saja si lepi yang sedaritadi
diam berucap sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan nasir

namun bukannya si nasir memaafkan dan mengulurkan tangannya justru dia pergi ngeloyor
sambil menepis uluran tangan lepi seraya berkata :

“ih.. jijik, ngapain aku harus bersalaman dengan orang yang kena penyakit menjijikan ini, nanti
aku ditularin lagi.”

abahku yang sedaritadi diam penuh karisma, melihat hal itu hanya mengelus dada sambil berkata
:
“yasudah, kalau dia tidak bisa memaafkanmu, nggak apa-apa yang penting kamu sudah
mengulurkan tangan dan meminta maaf, insyaallah Allah SWT mengasihimu dan
memaafkanmu.”jelas abah

“yaudah ayo.. ayo… semuanya kembali ke shaf shalatnya lagi, kita akan melaksanakan ibadah
shalat jum`at, ayo irfan kalau sudah masuk waktunya adzan silahkan dikumandangkan.” Kata
abah sambil meminta irfan untuk adzan

lantunan adzan shalat jum`at di kumandangkan dengan sangat merdu oleh irfan dengan nada
jaharkah yang sangat syahdu, para jamaahpun mendengar lantunan adzan dengan sangat
khusyu`, sementara aku masih saja menoleh ke arah shaf belakang dimana si lepi duduk disana,

lepi pemuda setengah baya yang mengalami penyakit semacam kusta atau lepra, cuma karena
warga desa terlaknat kurangnya pendidikan dan pemahaman tentang hal seperti itu, maka mereka
berkeykinan jika penyakit yang dialami oleh si lepi adalah penyakit kutukan, penyakit cacat,
bahkan ada yang menyangka jika si lepi adalah keturunan siluman, memang harus diakui orang
tua dari si lepi tepatnya ibunya adalah wanita yang terkenal nakal dan sering bergota-ganti
pasangan, sudah lama sejak zamannya kakekku ibu si lepi sudah menjadi bahan gunjingan
masyarakat desa terlaknat. namun begitu disamping semua keburukan dan kekurangan yang
dimiliki lepi, banyak juga kelebihannya seperti dia di percaya warga sebagai pawing hujan disaat
ada acara-acara besar seperti acara pernikahan, acara walimahan, acara sunatan, dan acara-acara
besar lainnya, bahkan ada sebagian orang yang pecaya jika ia mempunyai ilmu pellet, ilmu
pengasihan yang bisa membuat lawan jenis menjadi kepincut tergila-gila padanya, dia juga
bukan orang penakut, berjalan di kegelapan malam, berjalan di tempat-tempat angker sendirian
tanpa ada rasa takut sedikitpun. adapun si nasir adalah laki-laki berbadan besar yang menjadi
kaki tangan bajingan di kampung terlaknat ini, bukan sekali dua kali saja nasir membuat masalah
di kampung ini, beberapa kali dia membuat masalah di kampung ini mulai dari memukuli orang
tak bersalah, mencuri ternak warga dan lainnya, dia sebenarnya sudah berdiam lama di malaysia
sebagai TKI, namun beberapa minggu ini dia pulang ke desa terlaknat karena katanya di
malaysia dia mempunyai masalah dengan beberapa orang warga desa sebelah, dia terlibat
pembunuhan berantai pada warga desa sebelah yang mana masalah itu dipicu oleh
perselingkuhan istri dari salah seorang saudara si nasir, sehingga membuat si nasir naik darah
dan membunuh warga desa sebelah itu bersama-sama saudaranya, sekarang dia menjadi buronan
dari warga desa sebelah, karena tradisi di kampung ini nyawa harus dibayar dengan nawa, dan
perselingkuhan istri harus dibayar dengan nyawa.

Pelarangan pergi ke masjid atau berdiam di masjid sebenarnya sudah beberapa kali menimpa si
lepi, aku masih ingat beberapa tahun yang lalu lepi dipukuli orang tak di kenal memakai penutup
kepala setelah sebelumnya dia pulang dari masjid untuk membangunkan sahur warga desa
terlaknat memakai TOA masjid, karena kebiasaan di desa terlaknat warga harus dibangunkan
dengan memakai TOA setiap kali waktu sahur tiba, memang perlu diakui jika lepi sangat lucu
dengan suara khasnya membangunkan warga

“sahur…. sahur…. saurrrrrr……”

“sahur…. sahur…… sauurrrrrrr….”

“sahur…… sahur….. sauurrrrrr…….”

“ayo semua warga desa terlaknat yang saya cintai, bangun… bangun…. waktu sahur telah tiba,
jangan sampai duluan ayamnya yang bangun.. ayo bangun.. bangun…” jerit lepi

“bapak malotos, bapak sidin, bapak salamun, ibu manisam, ibu suryati, ayo bangun… bangun,”

“bapak samaun, ayoo bangun… jangan pelukan melulu dengan istrinya, waktunya sahur.. ayo
sahur dulu jangan cuman sahur donat yang berlubang saja, ayo.. bangun.. bangun… tak iye”

kamipun setiap bangun sahur terkekeh-kekeh mendengar suara saur dari lepi. sangat menghibur,
membuat mata yang masih ngantuk langsung melek mendengar suara dari lepi yang kecil seperti
suara wanita tapi nyaring seperti suara laki-laki, namun setelah insiden pemukulan itu lepi tidak
pernah lagi datang ke masjid untuk membangunkan orang-orang bersantap sahur, masjid serasa
sepi tanpa kehadirannya, walaupun diganti oleh beberapa orang lain yang biasa membangunkan
sahur, tapi lepi tetap tidak bisa tergantikan di kuping kami para penikmat suaranya.

adapun mengenai siapa yang memukulinya dan apa maksud pemukuluan itu, usut punya usut
ternyata yang memukulinya ialah salah seorang warga desa terlaknat yang masih sepupuan
dengannya dan dengan alasan yang hampir sama dengan si nasir, yakni lepi dituduh mengotori
microphone masjid yang biasa digunakan untuk adzan dan memanggil warga untuk bersantap
sahur, menurut mereka segala sesuatu yang lepi pegang akan menulari orang lain, maka mereka
sangat antipati dan jijik pada barang yang lepi pegang. seakan-akan lepi adalah makhluk ternajis
yang ada di desa terlaknat.

“mas… mas…ayo berdiri ”irfan menyentuh pundakku yang sedaritadi duduk menoleh ke arah
lepi

sesaat aku aku menoleh dan menjawab irfan


“iya, fan ini aku udah berdiri.”

ternyata khutbah jum`at sudah selesai daritadi, sementara aku sibuk melamun memikirkan lepi
mungkin sekitar setengah jam aku melamun dengan sangat khusyu` hingga aku tidak sadarkan
diri jika khutbah selesai dan shalat akan segera di mulai, bahkan aku baru tersadar setelah
dikagetkan irfan.

Akupun mulai berdiri mengikuti orang-orang disekitarku yang rupanya sudah lama berdiri
bersiap untuk shalat.

“allahu akbar..”

“bismillahirrahmanirrahim..”

tampak imam telah memulai shalatnya, akupun ikut melaksanakan ritual ibadah shalat dengan
khusyu`.

Anda mungkin juga menyukai