Refleksi kesejahteraan: mengatasi citra tubuh,
kekurangan energi kronis, dan asupan gizi di kalangan
remaja perkotaan dan pedesaan
Latar Belakang: Pertumbuhan dan perkembangan remaja merupakan
masa dengan masalah gizi yang sangat spesifik. Akibat pertumbuhan
dan perkembangan yang kurang baik, 36,3% remaja di Indonesia
berisiko mengalami KEK. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui gambaran citra tubuh, kejadian Kekurangan Energi Kronis
(KEK), dan asupan gizi pada remaja di perkotaan dan pedesaan.
Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif
dengan rancangan cross-sectional study yang dilakukan di Bandung
dan Sumedang terhadap 387 remaja berusia 13–15 tahun. Instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner citra tubuh
metode Figure Rating Scale (FRS), food recall 2x24 jam, dan
antropometri untuk mengukur lingkar lengan atas (LILA).
Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lebih dari separuh
remaja di perkotaan (54,0%) dan pedesaan (61,7%) berisiko
mengalami KEK, memiliki persepsi citra tubuh negatif di perkotaan
(69,1%) dan pedesaan (62,3%), serta kurangnya konsumsi zat gizi
makro baik pada remaja perkotaan maupun remaja pedesaan.
Kesimpulan: Sebagian besar remaja di daerah perkotaan dan
pedesaan masih mengonsumsi lebih sedikit energi, karbohidrat, dan
protein. Citra tubuh yang dipersepsikan dan asupan gizi berkontribusi
terhadap kejadian KEK pada remaja.
1 Pendahuluan
Masa pertumbuhan pada remaja merupakan masa dengan masalah
gizi yang sangat spesifik. Pertumbuhan dan perkembangan pubertas,
pertumbuhan linear, serta terjadinya perubahan neurodevelopment
sangat dipengaruhi oleh asupan gizi yang memenuhi kebutuhan
remaja ( 1 ). Kecukupan asupan zat gizi seperti karbohidrat, protein,
zat besi, kalsium dan zat gizi mikro lainnya akan meningkat pada
masa remaja dan sangat dipengaruhi oleh pola makan. Tidak
terpenuhinya zat gizi akan menghambat pertumbuhan dan
perkembangan yang optimal serta menimbulkan masalah gizi pada
remaja ( 2 ). Masalah gizi sering terjadi akibat asupan zat gizi yang
tidak seimbang dan dapat menyebabkan terjadinya Kekurangan
Energi Kronis (KEK) serta anemia akibat kekurangan zat besi ( 3 ).
Kekurangan energi kronik (KEK) merupakan suatu kondisi dimana
seorang remaja putri atau wanita menderita kekurangan gizi (energi
dan protein) yang terjadi dalam jangka waktu yang lama bahkan
bertahun-tahun ( 4 ). Seseorang didiagnosis berisiko mengalami KEK
apabila Lingkar Lengan Atas (LILA) <23,5 cm. Remaja yang mengalami
KEK sering kali disebabkan oleh rendahnya asupan makronutrien,
terutama energi dan protein, yang dapat pula berkontribusi terhadap
rendahnya asupan mikronutrien. Pada kasus remaja putri yang
menderita KEK, apabila tidak ditangani dengan baik akan berlangsung
secara berkelanjutan dan berujung pada rendahnya prestasi belajar.
Malnutrisi merupakan faktor penyumbang utama rendahnya prestasi
belajar dan pendaftaran sekolah ( 5 ). Selain itu, KEK juga berdampak
pada kehamilan yang dapat memicu timbulnya penyakit lain seperti
anemia, persalinan prematur, lahirnya bayi berat badan rendah
(BBLR), melahirkan anak terhambat pertumbuhannya ( 6 ).
Prevalensi Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada remaja putri (usia
15–19 tahun) di Indonesia tahun 2020 mengalami peningkatan dari
tahun 2018 yaitu sebesar 33,5% menjadi 36,3% ( 7 ). Berdasarkan
prevalensi tersebut, diperkirakan sebanyak 7,5 juta jiwa atau 3–4 dari
10 remaja putri di Indonesia menderita anemia. Dampak lain KEK
pada remaja adalah terhambatnya pertumbuhan dan perkembangan,
kemampuan kognitif, serta kerentanan terhadap penyakit infeksi ( 8 ).
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya KEK pada
remaja, yaitu faktor langsung dan faktor tidak langsung. Faktor
langsung adalah penyakit infeksi dan usia sedangkan faktor tidak
langsung adalah pengetahuan gizi dan aktivitas fisik remaja ( 9 ). Di
negara berkembang, faktor yang paling mempengaruhi adalah
penyakit infeksi yang disebabkan oleh pola makan dan asupan gizi
yang buruk.
Pada masa remaja terjadi peningkatan kesadaran akan penampilan
(body image) tergantung pada pendapat orang lain dan lingkungan.
Ketidakpuasan terhadap penampilannya terjadi jika bentuk tubuhnya
terlihat lebih gemuk atau terasa terlalu kurus dari biasanya, sehingga
menyebabkan remaja lebih cenderung membatasi pola makannya
( 10 , 11 ). Body image pada remaja sangat mempengaruhi pola
makannya, meliputi pemilihan bahan makanan, frekuensi makan, dan
asupan gizi ( 12 ). Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana
gambaran body image, KEK, dan asupan gizi pada remaja di
perkotaan dan pedesaan.
Masalah kesehatan pada fase remaja perlu mendapat perhatian lebih
karena banyaknya faktor yang dapat mempengaruhi
kesejahteraannya. Meningkatnya prevalensi KEK remaja di Indonesia
mengindikasikan perlunya penanganan yang lebih serius untuk
mencegah masalah kesehatan jangka panjang. Pada usia ini, remaja
mulai memilih makanan yang dikonsumsinya dan memperhatikan
bentuk tubuhnya sesuai dengan persepsi diri dan lingkungan
sosialnya ( 13 ). Remaja yang memiliki persepsi tubuh yang negatif
cenderung melakukan pola makan yang salah dan berujung pada
kekurangan gizi ( 14 ). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk:
1. Menganalisis persepsi citra tubuh pada remaja di perkotaan dan
pedesaan
2. Menganalisis status gizi dan prevalensi KEK pada remaja di wilayah
perkotaan dan perdesaan.
3. Menganalisis asupan zat gizi makro pada remaja di perkotaan dan
pedesaan
2 Bahan dan Metode
2.1 Populasi penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMP di 5 sekolah di
perkotaan dan 5 sekolah di pedesaan. Lokasi penelitian ditentukan
berdasarkan kriteria dan klaster sekolah di masing-masing wilayah
perkotaan dan pedesaan. Untuk menggambarkan heterogenitas
responden, sekolah ditentukan berdasarkan status ekonomi, lokasi
sekolah, dan jenis sekolah, baik negeri maupun swasta. Status
ekonomi menjadi salah satu kriteria karena dapat mempengaruhi
pola makan orang dewasa dan juga mempengaruhi pola makan anak-
anaknya. Berdasarkan penelitian, hal ini dapat mengindikasikan
bahwa orang yang lebih mampu dapat mengkonsumsi makanan yang
lebih sehat dan beragam sehingga mempengaruhi status gizi. Proses
pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling, dengan
kriteria inklusi remaja berusia 13-15 tahun dan bersedia mengikuti
seluruh program penelitian dengan mengisi informed consent.
Pengambilan sampel ini menggunakan rumus Slovin dengan tingkat
kesalahan 5%. Berdasarkan hasil pengambilan sampel dan keadaan
sebenarnya di lokasi, diperoleh 387 siswa sebagai responden dalam
penelitian ini ( Gambar 1 ).
2.2 Kebijakan dan etika publikasi
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus–September 2023, dan
telah memiliki kode etik publikasi dengan Nomor
LB.01.03/6/317/2023 dari Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan Politeknik Kesehatan
Mataram.
2.3 Pengukuran dan Definisi
Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan
pendekatan cross-sectional dengan fokus penelitian untuk
mengetahui gambaran citra tubuh, KEK, dan asupan zat gizi makro
pada remaja di daerah perkotaan dan pedesaan. Instrumen
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner citra
tubuh metode Figure Rating Scale (FRS), food recall 2x24 jam, dan
antropometri untuk mengetahui usia, status gizi, dan LILA. Hasil data
diuji secara statistik untuk menggambarkan frekuensi masing-masing
variabel. Berikut langkah-langkah penelitian dalam penelitian ini:
2.3.1 Penyusunan instrumen penelitian
Penelitian ini menggunakan berbagai jenis instrumen yang dapat
mencakup hasil data yang dibutuhkan.
[Link] Skala penilaian gambar
Figure Rating Scale (FRS) merupakan instrumen penilaian psikologis
yang digunakan untuk mengukur persepsi keindahan tubuh dan citra
tubuh, serta dapat digunakan dalam penelitian terkait citra tubuh,
harga diri, dan gangguan. Instrumen ini terdiri dari gambar ilustrasi
berbagai bentuk ukuran tubuh pria dan wanita yang dilengkapi
dengan 11 pertanyaan terkait persepsi tubuh ideal. Dalam penelitian
ini, instrumen tersebut digunakan untuk menilai bagaimana remaja
berusia 13–15 tahun mempersepsikan citra tubuh mereka.
[Link] Penarikan kembali makanan 2 × 24 jam
Food recall merupakan instrumen penilaian yang digunakan untuk
mengumpulkan informasi melalui wawancara tentang makanan yang
dikonsumsi individu selama kurun waktu tertentu. Dalam penelitian
ini, instrumen food recall berisi waktu makan, makanan dan
minuman yang dikonsumsi, termasuk jumlah dan jenis makanan.
Instrumen ini digunakan untuk melihat bagaimana asupan gizi,
terutama zat gizi makro, pada remaja usia 13–15 tahun. Penelitian ini
menggunakan instrumen food recall 2x24 jam pada hari kerja dan
akhir pekan, agar dapat merepresentasikan asupan gizi secara
keseluruhan dan data yang dihasilkan lebih berkualitas.
[Link] Antropometri
Instrumen ini disusun untuk mengetahui status gizi responden yang
meliputi jenis kelamin, usia, berat badan, tinggi badan, dan lingkar
lengan atas (LILA). LILA merupakan salah satu indikator antropometri
yang digunakan untuk menilai status gizi kekurangan energi kronis
(KEK) pada remaja. Peralatan yang digunakan untuk mengukur
antropometri adalah stadiometer SAGA untuk mengukur tinggi
badan, Bioelectrical Impedance Analysis (BIA) Omron HBF-375 untuk
mengukur komposisi tubuh, khususnya berat badan, dan meteran
otomatis untuk mengukur lingkar lengan atas.
2.3.2 Uji coba instrumen
Hasil penyusunan instrumen yang dilakukan oleh tim peneliti
kemudian diujicobakan kepada remaja usia 13–15 tahun. Proses
pengujian instrumen dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
berapa lama waktu yang dibutuhkan dalam melakukan proses
wawancara dan antropometri kepada responden, serta untuk
mengetahui apakah instrumen yang disusun telah mewakili data yang
dibutuhkan oleh tim peneliti. Uji coba instrumen dilakukan di satu
sekolah dengan jumlah remaja yang menjadi sampel uji coba
sebanyak 8 orang. Hasil dari uji coba instrumen adalah perlunya
dilakukan perbaikan pada prosedur wawancara dan proses
pengukuran antropometri, karena pada saat uji coba membutuhkan
waktu yang cukup lama dan kurang efisien. Karena instrumen disusun
berdasarkan berbagai penelitian sebelumnya, maka instrumen
tersebut sesuai dengan tujuan penelitian ini.
2.3.3 Kerjasama dengan sekolah
Berdasarkan lokasi penelitian yang telah ditentukan, tim peneliti
melakukan pertemuan dengan pihak sekolah dan menyampaikan
tujuan penelitian. Tim peneliti menyampaikan keseluruhan proses
penelitian dan metode yang digunakan, membahas tempat dan
waktu pengambilan data, serta administrasi yang diperlukan.
Dokumen perizinan pun telah dilengkapi sepenuhnya oleh tim
peneliti sehingga proses kerja sama berjalan dengan baik.
2.3.4 Memberikan persetujuan berdasarkan informasi
Penelitian ini memerlukan persetujuan dari orang tua remaja yang
menjadi sampel penelitian. Persetujuan tersebut diberikan dan
diserahkan kepada siswa melalui kantor sekolah. Siswa yang menjadi
sampel diharuskan membawa persetujuan tersebut pada saat proses
pengumpulan data agar dapat dipastikan bahwa mereka dapat
mengikuti seluruh proses penelitian.
2.3.5 Proses pengumpulan data
Pengumpulan data dilakukan oleh enumerator yang memiliki latar
belakang pendidikan gizi dan telah mengikuti pelatihan atau proses
uji coba sebelum pengumpulan data, sehingga mampu memahami
dan menguasai instrumen yang digunakan. Instrumen yang
digunakan ada yang berbentuk kertas dan ada juga yang berbentuk
digital menggunakan google form. Seluruh siswa yang menjadi
sampel diminta untuk mengisi instrumen Figure Rating Scale (FRS)
melalui smartphone masing-masing, dilanjutkan dengan proses
antropometri dan wawancara food recall secara langsung dengan
masing-masing sampel. Proses wawancara food recall dilakukan
sebanyak dua kali sesuai dengan data yang dibutuhkan.
2.3.6 Proses pembersihan data
Data yang telah terkumpul diinput menggunakan Microsoft Excel dan
dilakukan proses pembersihan untuk mengetahui apakah terdapat
kesalahan atau kesalahan input pada saat proses pengumpulan data.
Hal ini juga bertujuan untuk memudahkan proses analisis.
2.3.7 Proses analisis data
Proses analisis data dilakukan dengan bantuan tenaga profesional
yang dianalisis menggunakan perangkat lunak IBM SPSS Statistics 27.
Analisis data meliputi frekuensi usia, jenis kelamin, status gizi,
klasifikasi persepsi citra tubuh, dan nilai rata-rata konsumsi zat gizi
makro (median) remaja usia 13–15 tahun.
3 Hasil
3.1 Karakteristik dan status gizi
Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak
menuju masa dewasa, dimulai pada usia 10–13 tahun dan berakhir
pada usia 18–22 tahun ( 15 ). Tabel 1 menunjukkan bahwa di daerah
perkotaan, persentase responden penelitian adalah laki-laki (48,5%)
dan perempuan (51,5%), sedangkan di daerah pedesaan responden
penelitian adalah laki-laki (46,8%) dan perempuan (53,2%).
Responden daerah perkotaan berusia 13 tahun (36,9%), 14 tahun
(42,1%), 15 tahun (21,0%) dan di daerah pedesaan responden
berusia 13 tahun (48,7%), 14 tahun (41,6%), 15 tahun (9,7%).
Perbandingan berdasarkan hasil analisis data, lebih dari separuh
responden perempuan berusia 14 tahun di daerah perkotaan dan 13
tahun di daerah pedesaan. Klasifikasi status ekonomi ditentukan
dengan mengacu pada pendapatan rata-rata di daerah perkotaan dan
pedesaan. Berdasarkan status ekonomi, orangtua remaja di daerah
perkotaan memiliki pendapatan ≤3.500.000 (50,6%) dan di daerah
pedesaan (62,3%). Tabel 1 menunjukkan bahwa persentase remaja
yang berisiko mengalami KEK lebih tinggi di daerah pedesaan (61,7%)
dan daerah perkotaan (54,0%).
Tabel 1
Tabel 1. Karakteristik sosiodemografi dan status gizi ( n = 387 ).
3.2 Persepsi citra tubuh
Persepsi citra tubuh diklasifikasikan menjadi dua kategori, yaitu
persepsi positif dan negatif. Citra tubuh positif berhubungan dengan
kepuasan dan penerimaan terhadap tubuh, sedangkan citra tubuh
negatif berhubungan dengan ketidakbahagiaan dan keinginan agar
tubuh seseorang berubah ( 16 ). Berdasarkan Tabel 2 , remaja di
daerah perkotaan memiliki citra tubuh negatif (69,1%) dan citra
tubuh positif (30,9%). Di daerah pedesaan, remaja yang memiliki
citra tubuh negatif (62,3%) dan positif (37,7%). Hasil penelitian ini
sejalan dengan penelitian Fitria et al. ( 17 ) yang menyatakan bahwa
sebanyak 73,63% remaja di Yogyakarta memiliki citra tubuh negatif.
Berbeda dengan penelitian di Italia, laki-laki dan perempuan
menunjukkan persepsi yang baik terhadap tubuh mereka, dan
menunjukkan sedikit kecenderungan untuk melebih-lebihkan status
berat badan seseorang ( p = 0,073) ( 18 ).
Tabel 2
Tabel 2. Persepsi citra tubuh ( n = 387 ).
3.3 Asupan nutrisi
Asupan zat gizi yang dianalisis dalam penelitian ini adalah zat gizi
makro meliputi asupan energi, protein, lemak dan karbohidrat. Angka
Kecukupan Gizi (AKG) diklasifikasikan berdasarkan ketentuan yang
ditetapkan oleh menteri kesehatan RI, dalam peraturan menteri
kesehatan Republik Indonesia No. 28 Tahun 2019. Remaja laki-laki
usia 13–15 tahun harus mengonsumsi energi yang cukup (2.400 kkal),
protein (70 g), lemak (80 g) dan karbohidrat (350 g). Remaja
perempuan usia 13–15 tahun harus mengonsumsi energi yang cukup
(2.050 kkal), protein (65 g), lemak (70 g) dan karbohidrat (300 g).
Remaja dianggap terpenuhi jika mencapai AKG. Berdasarkan Tabel 3 ,
asupan energi di wilayah perkotaan ditemukan kurang dari
kebutuhan berdasarkan AKG, dengan persentase kurang (89,3%) dan
cukup (10,7%). Begitu pula di perdesaan, asupan energi remaja
tergolong kurang (80,5%) dan cukup (19,5%). Asupan protein remaja
di perkotaan tergolong kurang (87,6%), cukup (12,4%), dan di
perdesaan dengan persentase kurang (82,5%) dan cukup (17,5%).
Asupan lemak tergolong kurang dengan persentase remaja di
perkotaan (69,0%) dan perdesaan (79,9%). Konsumsi asupan
karbohidrat remaja juga tergolong kurang dengan persentase di
perkotaan (91,8%) dan perdesaan (85,7%).
Tabel 3
Tabel 3. Asupan Makronutrien ( N = 387 ).
3.4 Korelasi antara status gizi dan variabel yang mempengaruhi
Berdasarkan Tabel 4 , hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat
korelasi yang signifikan antar variabel. Ditemukan bahwa remaja di
wilayah perkotaan yang memiliki persepsi citra tubuh negatif
memiliki persentase CED tertinggi (50,5%). Di wilayah pedesaan,
remaja yang memiliki citra tubuh negatif dan terdiagnosis CED
memiliki persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan remaja di
wilayah perkotaan (60,6%). Meskipun tidak terdapat korelasi antar
variabel, namun data pada Tabel 4 menunjukkan bahwa baik di
wilayah perkotaan maupun di wilayah pedesaan, remaja yang
memiliki persepsi citra tubuh negatif dan juga kurang mengonsumsi
zat gizi makro lebih banyak terkena CED secara signifikan.
Tabel 4
Tabel 4. Korelasi antar variabel ( N = 387 ).
4 Diskusi
Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak
menuju masa dewasa, dimulai pada usia 10–13 tahun dan berakhir
pada usia 18–22 tahun ( 15 ). Masa remaja merupakan masa
perkembangan yang kritis terkait persepsi bentuk atau ukuran tubuh
( 19 ). Berdasarkan hasil analisis, lebih dari separuh responden
perempuan berusia 14 tahun di perkotaan dan 13 tahun di pedesaan.
Lingkar Lengan Atas (LILA) merupakan pengukuran lingkar lengan atas
yang terletak di antara ujung siku dan ujung bahu yang berpotensi
sebagai alternatif sederhana untuk menilai gizi pada remaja ( 20 ).
Menurut Kementerian Kesehatan RI, ukuran LILA yang berisiko
mengalami KEK adalah <23,5 cm dan Indeks Massa Tubuh (IMT)
<18,5 kg/m2 ( 2 , 21 ). KEK didefinisikan sebagai masalah gizi kronis
yang diakibatkan oleh rendahnya asupan energi selama bertahun-
tahun ( 22 ). Terlihat pada Tabel 1 , persentase remaja yang berisiko
mengalami KEK di daerah perdesaan lebih besar, yaitu di daerah
perkotaan (54,0%) dan daerah perdesaan (61,7%). Jika didefinisikan
lebih lanjut, angka ini cukup lebih tinggi dibandingkan penelitian
Rahmadi yang menyebutkan sebanyak 44,9% remaja di daerah
perdesaan berisiko mengalami KEK ( 2 ). Penelitian Wardhani juga
menyebutkan bahwa sebanyak 55,0% remaja di perkotaan berisiko
mengalami KEK ( 23 ). Menurut Purba et al., KEK dapat disebabkan
oleh berbagai faktor seperti kurangnya asupan energi, asupan protein
dan juga pendapatan keluarga ( 24 ) ( Gambar 1 ).
Gambar 1
Gambar 1. Populasi dan sampel penelitian.
Citra tubuh mengacu pada cara individu melihat dan merasakan
tentang penampilan fisik mereka sendiri. Karena tubuh remaja
mengalami banyak perubahan selama pertumbuhan, persepsi citra
tubuh dapat memiliki dampak yang signifikan pada kesejahteraan
mental dan emosional mereka ( 25 ). Dalam penelitian ini, remaja di
daerah perkotaan dan pedesaan memiliki persepsi negatif tentang
tubuh mereka. Di Indonesia, persepsi citra tubuh remaja sering
dipengaruhi oleh budaya dan norma sosial yang berlaku. Budaya
Indonesia memiliki pandangan yang beragam tentang kecantikan dan
idealisasi tubuh yang dapat memengaruhi bagaimana remaja melihat
diri mereka sendiri. Selain itu, faktor fisiologis, kognitif dan
sosiokultural mengenai ukuran tubuh ideal juga dapat memengaruhi
persepsi citra tubuh ( 26 , 27 ). Remaja mungkin merasakan tekanan
untuk mencapai standar tubuh yang dianggap ideal oleh masyarakat,
terkadang dengan cara yang tidak sehat seperti diet berlebihan ( 28 ).
Di era digital, remaja terpapar pada citra tubuh yang “sempurna”
melalui platform media sosial ( 29 ). Hal ini dapat menciptakan
perasaan tidak puas dengan penampilan fisik mereka dan
meningkatkan keinginan untuk mencapai standar yang seringkali
tidak realistis ( 1 ). Selain itu, keluarga, teman sebaya dan media
sosial berkontribusi terhadap ketidakpuasan bentuk atau ukuran
tubuh ( 30 ). Citra tubuh yang dipersepsikan dan status gizi memiliki
hubungan yang kuat dalam kesehatan fisik dan psikologis seseorang
( 27 , 31 ). Citra tubuh mengacu pada cara individu melihat dan
merasakan tentang penampilan fisik mereka, sementara status gizi
mencerminkan kesehatan tubuh berdasarkan asupan nutrisi dan
berat badan. Kedua aspek ini saling memengaruhi dan memiliki
dampak yang signifikan satu sama lain. Persepsi citra tubuh yang
negatif dapat memengaruhi status gizi seseorang. Seseorang yang
tidak puas dengan penampilan fisiknya cenderung mengambil
tindakan ekstrem, seperti diet yang tidak sehat, untuk mencapai
standar kecantikan yang tidak realistis. Hal ini dapat berdampak
negatif pada asupan nutrisi dan status gizi mereka. Dalam penelitian
Hoseini disebutkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan ( p =
0,023) antara persepsi citra tubuh dengan pola makan sehat ( 32 ).
Selain itu, gangguan makan seperti anoreksia nervosa dan bulimia
nervosa sering kali berkaitan erat dengan persepsi citra tubuh yang
negatif. Individu dengan gangguan makan ini cenderung memiliki
ketidakpuasan yang mendalam terhadap penampilan fisiknya dan
berupaya mengendalikan berat badannya dengan cara yang tidak
sehat, yang dapat berujung pada masalah gizi yang serius ( 33 ).
Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa konsumsi
zat gizi makro remaja masih relatif rendah dibandingkan dengan AKG
yang telah ditetapkan. Di daerah perkotaan, remaja cenderung
kurang mengonsumsi zat gizi makro terutama energi dan karbohidrat.
Sedangkan di daerah pedesaan, remaja cenderung kurang
mengonsumsi asupan lemak dibandingkan dengan asupan zat gizi
lainnya. Sejalan dengan penelitian Vilhar et al., hanya 75% remaja
yang mengonsumsi karbohidrat dan protein, 44% mengonsumsi
lemak dan hanya 10% remaja yang konsumsinya mendekati
kebutuhan gizi yang dianjurkan ( 34 ).
Remaja akan mengalami banyak perubahan, misalnya pada
perubahan fisik dan tubuh terdapat peningkatan massa otot, dan
peningkatan jaringan lemak dalam tubuh, serta perubahan
hormonal. Perubahan tersebut berdampak pada meningkatnya
kebutuhan gizi mereka. Terjadinya ketidakseimbangan antara
kebutuhan gizi dengan asupan akan menimbulkan masalah gizi, baik
masalah gizi lebih maupun gizi kurang ( 24 ). Pertumbuhan dan
perkembangan remaja memerlukan zat gizi makro dan mikro yang
lengkap disertai peningkatan aktivitas fisik ( 35 ). Kurangnya konsumsi
asupan zat gizi terutama asupan energi dan protein dapat
meningkatkan risiko terjadinya masalah gizi KEK pada remaja ( 34 ).
Pernyataan ketersediaan data
Kontribusi asli yang disajikan dalam penelitian disertakan dalam
artikel/materi tambahan, pertanyaan lebih lanjut dapat ditujukan
kepada penulis terkait.
Pernyataan etika
Penelitian yang melibatkan manusia telah disetujui oleh Politeknik
Kesehatan Mataram, Direktorat Jenderal Tenaga Kesehatan,
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (LB.01.03/6/317/2023).
Penelitian dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
dan persyaratan kelembagaan setempat. Persetujuan tertulis untuk
berpartisipasi dalam penelitian ini diberikan oleh wali sah/keluarga
terdekat peserta. Persetujuan tertulis diperoleh dari individu, dan
wali sah/keluarga terdekat anak di bawah umur, untuk publikasi
gambar atau data yang berpotensi dapat diidentifikasi yang
disertakan dalam artikel ini.
Kontribusi penulis
CY: Konseptualisasi, Akuisisi pendanaan, Investigasi, Metodologi,
Penulisan – draf asli, Penulisan – tinjauan & penyuntingan. DR:
Konseptualisasi, Kurasi data, Investigasi, Penulisan – draf asli. MM:
Konseptualisasi, Kurasi data, Analisis formal, Perangkat lunak,
Penulisan – tinjauan & penyuntingan. DS: Investigasi, Penulisan – draf
asli.
Pendanaan
Penulis menyatakan telah menerima dukungan finansial untuk
penelitian, kepenulisan, dan/atau penerbitan artikel ini. Penelitian
saat ini didanai oleh hibah dari Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, dan Penelitian dengan nomor hibah:
1234/[Link]/PT.01.03/2023.
Konflik kepentingan
Penulis menyatakan bahwa penelitian ini dilakukan tanpa adanya
hubungan komersial atau keuangan apa pun yang dapat ditafsirkan
sebagai potensi konflik kepentingan.
Catatan penerbit
Semua klaim yang diungkapkan dalam artikel ini sepenuhnya
merupakan klaim penulis dan tidak selalu mewakili klaim organisasi
afiliasinya, atau klaim penerbit, editor, dan pengulas. Produk apa pun
yang mungkin dievaluasi dalam artikel ini, atau klaim yang mungkin
dibuat oleh produsennya, tidak dijamin atau didukung oleh penerbit.
Referensi
1. Chae, H. Faktor-faktor yang berhubungan dengan persepsi citra
tubuh pada remaja. Acta Psychol (Amst) . (2022) 227:103620. doi:
10.1016/[Link].2022.103620
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
2. Rahmad, AH, dan Kesehatan Kemenkes Aceh, P. Sedentari Sebagai
Faktor Kelebihan Berat Badan Remaja Agus Hendra Al Rahmad.
(2019). Tersedia
dari: [Link]
Google Cendekia
3. Waryana, W, Sitasari, A, dan Febritasanti, DW. Intervensi media
video berpengaruh pada pengetahuan dan sikap remaja putri dalam
mencegah kurang energi kronik. Aksi: Aceh. Nutrisi J. (2019) 4:58.
doi: 10.30867/action.v4i1.154
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
4. Zaki, I, dan Sari, HP. Edukasi gizi berbasis media sosial
meningkatkan pengetahuan dan asupan energi-protein remaja putri
dengan kurang energi kronik (kek). Gizi indonesia . (2019) 42:111.
doi: 10.36457/gizindo.v42i2.469
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
5. Zerga, AA, Tadesse, SE, Ayele, FY, dan Ayele, SZ. Dampak
kekurangan gizi terhadap prestasi akademik anak sekolah di Ethiopia:
Tinjauan sistematis dan meta-analisis. SAGE Open Med . (2022)
10:205031212211223. doi: 10.1177/20503121221122398
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
6. Suarjana, IM, Nursanyoto, H, Nyoman, N, Dewi, A, Gizi, J, dan
Kesehatan, Denpasar P. Kurang Energi Kronik (Kek) Remaja Putri
Pelajar Smu/Smk di Kabupaten Karangasem Propinsi Bali. Jurnal
Sehat Mandiri. (2020); 15. Diakses
dari: [Link]
Google Cendekia
7. Kementerian Kesehatan. Laporan Kinerja Direktorat Kesehatan
Masyarakat Tahun 2021. (2021) 31.
Google Cendekia
8. Ridwan, M, Fibrila, F, dan Kemenkes, TP. Edukasi Anemia dan
Kekurangan Energi Kronik (KEK) Pada Remaja Putri di Kota. Metro .
(2022) 1:33–8.
Google Cendekia
9. Hidayati, A, Noor Prastia, T, and Anggraini, S. Faktor-Faktor yang
Berhubungan dengan Kejadian Kurang Energi Kronik (KEK) pada
Remaja Putri di SMPN 01 Pagedangan Tahun 2021. Promot Dent .
(2023) 6:104–7. doi: 10.32832/pro.v6i2.207
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
10. Nyoman, N, Dwi Astini, A, dan Gozali, W. Body Image Sebagai
Faktor Penentu dalam Meningkatkan Status Gizi Remaja
Putri. Insinyur Ilmu Pengetahuan Alam Int J. (2021) 5:1–7. doi:
10.23887/ijnse.v5i1.31382
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
11. Septriani Saragih, I, Rante Rupang, E, dan Siallagan, A. Suryani
Purba Program Studi Sarjana Keperawatan Hubungan kebiasaan
makan dengan body image pada remaja kelas. Persatuan Perawat
Nasional Indonesia . (2022) 5:10. doi: 10.32419/jppni.v5i1.205
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
12. Setyaningrum, M, Budiati, E, dan Arisandi, W. Pendidikan Gizi
Dalam Peningkatan Pengetahuan Dan Sikap Pola Makan Serta Body
Image Pada Siswa Remaja Di SMK Hampar Baiduri. Jurnal Kreativitas
Pengabdian Kepada MasyarakAT (PKM) . (2022) 5:1126–36. doi:
10.33024/jkpm.v5i4.4937
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
13. Rossi, CE, da Silva, KP, Feio Costa, LC, Barboza, BP, dan de
Vasconcelos, FAG. Citra tubuh dan kaitannya dengan BMI, serta
perilaku pencahar untuk mengendalikan berat badan pada remaja
berusia 11-14 tahun. Br J Nutr . (2023) 129:1095–104. doi:
10.1017/S0007114522001994
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
14. Kapoor, A, Upadhyay, MK, dan Saini, NK. Hubungan perilaku
makan dan harga diri dengan persepsi citra tubuh dan faktor-faktor
lain di kalangan mahasiswi Universitas Delhi. J Educ Health Promot .
(2022) 11:80. doi: 10.4103/jehp.jehp_855_21
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
15. Vransisca, V. Hubungan antara dukungan sosial teman sebaya dan
identitas diri pada remaja di SMA Penabur Harapan Indah. European J
Psycholog Res . (2022) 9
Google Cendekia
16. Tort-Nasarre, G, Pollina-Pocallet, M, Ferrer Suquet, Y, Ortega
Bravo, M, Vilafranca Cartagena, M, dan Artigues-Barberà, E. Citra
tubuh positif: studi kualitatif tentang pengalaman sukses remaja,
guru dan orang tua. Kesejahteraan Kesehatan Int J Qual Stud . (2023)
18:7–13. doi: 10.1080/17482631.2023.2170007
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
17. Fitria, Meiyani E, dan Rachmawati, R. Pengaruh media sosial
terhadap body image. urlal Ilmiah Psikologi Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta . (2021) 7:145–56.
Google Cendekia
18. Gualdi-russo, E, Rinaldo, N, Masotti, S, Bramanti, B, dan Zaccagni,
L. Perbedaan jenis kelamin dalam persepsi dan cita-cita citra tubuh:
analisis kemungkinan faktor penentu. Kesehatan Masyarakat
Lingkungan Int J. (2022) [Link]: 10.3390/ijerph19052745
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
19. de Araujo, TS, Barbosa Filho, VC, Gubert, F, de Almeida, PC,
Martins, MC, Carvalho, QGS, dkk. Faktor-faktor yang terkait dengan
persepsi citra tubuh di kalangan siswa Brasil dari daerah dengan
indeks pembangunan manusia rendah. Perawat sekolah . (2018)
34:449–57. doi: 10.1177/1059840517718249
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
20. Lillie, M, Lema, I, Kaaya, S, Steinberg, D, dan Baumgartner, JN.
Status gizi di kalangan remaja muda yang bersekolah di sekolah dasar
di Tanzania: kontribusi lingkar lengan atas (LILA) untuk penilaian
remaja. BMC Public Health . (2019) 19:1582. doi: 10.1186/s12889-
019-7897-4
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
21. Astuti, C, Majid, R, dan Prasetya, F. Kekurangan energi kronis pada
perempuan di Kabupaten Muna: Hubungan dengan citra tubuh dan
pengetahuan. Diversity: Dis Preven Res Integrity . (2022):76–83. doi:
10.24252/diversity.v2i2.21442
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
22. Dagne, S, Menber, Y, Wassihun, Y, Dires, G, Abera, A, Adane, S,
dkk. Kekurangan energi kronis dan faktor penentunya pada orang
dewasa berusia 18-59 tahun di Ethiopia: studi cross-sectional. J Nutr
Metab . (2021) 2021:1–8. doi: 10.1155/2021/8850241
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
23. Wardhani . Hubungan Body Image dan Pola Makan dengan
Kekurangan Energi Kronis (KEK) pada remaja putri di SMAN 6
BOGOR . Jurnal Universitas Airlangga (2020). Tersedia di: doi:
10.20473/jphrecode.v3i2.14527
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
24. Purba, RB, Rumagit, FA, dan Laoh, JM Elfira Sineke Jurusan Gizi
Politeknik Kesehatan Kemenkes Manado M. Asupan Zat Gizi dan
Pendapatan Keluarga dengan Kejadian Kurang Energi Kronik (Kek)
pada Siswa Putri di SMA N 1 Belang asupan gizi dan keluarga
pendapatan dengan kejadian kekurangan energi kronik pada remaja
putri siswi di SMA N 1 Belang . (2022).
Google Cendekia
25. Ramos, P, Moreno-Maldonado, C, Moreno, C, dan Rivera, F. Peran
citra tubuh dalam menginternalisasi masalah kesehatan mental pada
remaja Spanyol: analisis menurut jenis kelamin, usia, dan status sosial
ekonomi. Front Psychol . (2019) 10:01952. doi:
10.3389/fpsyg.2019.01952
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
26. Irvine, KR, McCarty, K, McKenzie, KJ, Pollet, TV, Cornelissen, KK,
Tovée, MJ, dkk. Citra tubuh yang terdistorsi memengaruhi skema
tubuh pada individu dengan sikap tubuh yang
negatif. Neuropsychologia . (2019) 122:38–50. doi:
10.1016/[Link].2018.11.015
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
27. Hong, D, Tang, C, Barnhart, WR, Cui, S, dan He, J. Menguji
hubungan antara cisgenderisme yang terinternalisasi, objektifikasi
diri, rasa malu terhadap tubuh, dan korelasi kesehatan mental dalam
kerangka model dehumanisasi panteoretis: sebuah studi pada orang
dewasa transgender Tiongkok. Citra Tubuh . (2023) 46:62–72. doi:
10.1016/[Link].2023.05.003
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
28. Kakar, V, Fardouly, J, Rapee, RM, Guo, M, Arman, S, dan Niazi, E.
Menjelajahi model pengaruh tripartit citra tubuh dan gangguan pola
makan di kalangan remaja putri yang tinggal di Australia, Tiongkok,
India, dan Iran. Body Image . (2023) 47:101633. doi:
10.1016/[Link].2023.101633
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
29. Wu, Y, Harford, J, Petersen, J, dan Prichard, I. “Makan sehat,
berlatihlah dengan sungguh-sungguh, dapatkan tubuh ramping”:
citra tubuh dan perilaku kesehatan wanita yang terlibat dalam
inspirasi kebugaran dan citra makan sehat di Instagram. Body Image .
(2022) 42:25–31. doi: 10.1016/[Link].2022.05.003
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
30. Roberts, SR, Maheux, AJ, Hunt, RA, Ladd, BA, dan Choukas-
Bradley, S. Menggabungkan media sosial dan internalisasi ideal otot
ke dalam model pengaruh tripartit citra tubuh: menuju pemahaman
modern tentang ketidakpuasan tubuh gadis remaja. Citra Tubuh .
(2022) 41:239–47. doi: 10.1016/[Link].2022.03.002
Abstrak PubMed | Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
31. Linardon, J, Anderson, C, dan McClure, Z. Apresiasi tubuh
memprediksi kesehatan mental dan kesejahteraan yang lebih baik.
Sebuah studi prospektif jangka pendek. Citra Tubuh . (2023) 45:20–4.
doi: 10.1016/[Link].2023.02.001
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
32. Hoseini, FS, Djazayery, A, dan Movahed, A. Hubungan antara
keinginan makan dan citra tubuh dengan indeks makan sehat pada
remaja putri. Nutrisi . (2023) 111:112037. doi:
10.1016/[Link].2023.112037
Teks Lengkap CrossRef | Google Scholar
33. Hurtado, MM, Rivada, ÁM, Quintero Alemán, C, Pilar, M,
Alcantara, R, Fariña, YR, dkk. Perubahan komposisi tubuh dan status
gizi pada remaja penderita anoreksia nervosa palabras clave. Jil. 99,
Anales de Pediatría. (2023). Tersedia
dari: [Link]